• Tidak ada hasil yang ditemukan

CALL FOR PAPER TEMU ILMIAH REGIONAL JAWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "CALL FOR PAPER TEMU ILMIAH REGIONAL JAWA"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

i

CALL FOR PAPER

TEMU ILMIAH REGIONAL JAWA TIMUR

FoSSEI

Pengoptimalan Aset Wakaf melalui Sukuk Sebagai Pembangunan Pusat

Layanan Sarana Wisata Syariah Terpadu guna medukung Pengembangan

Pariwisata Syariah di Pulau Lombok

oleh

Muhammad Said Hannaf

145020501111025

Ilham Juney Rahman

1

45020100111014

Alfian Tanjung

145020101111031

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya

(2)

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Pengoptimalan Aset Wakaf melalui Sukuk Sebagai Pembangunan Pusat Layanan Sarana Wisata Syariah Terpadu guna medukung Pengembangan Pariwisata Syariah di Pulau Lombok”

Hari : Rabu

Tanggal : 20 Januari 2016

Nama Ketua : Muhammad Said Hannaf

Tempat Tanggal Lahir : Bekasi 2 September 1996

Fakultas dan Angkatan : Ekonomi dan Bisnis / 2014

Malang, 20 Januari 2016

Pembimbing,

Dr. ASFI MANZILATI, SE., ME NIP. 19680911 199103 2 003 Ketua Kelompok

(3)

iii

SURAT PERNYATAAN CALL FOR PAPER

TEMILREG JATIM 2016

UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

Yang bertandatangan dibawah ini :

Nama : Muhammad Said Hannaf

Fakultas / Perguruan Tinggi : Ekonomi dan Bisnis/ Univesitas Brawijaya

Dengan ini menyatakan bahwa karya paper dengan judul

“Pengoptimalan Aset Wakaf melalui Sukuk Sebagai Pembangunan Pusat Layanan Sarana Wisata Syariah Terpadu guna medukung Pengembangan Pariwisata Syariah di Pulau Lombok”

belum pernah dipublikasikan pada jurnal dan belum pernah menjuarai perlombaan di tingkat

nasional/internasional sebelumnya serta tidak mengundang unsur plagiat di dalamnya.

Demikian pernyataan ini dibuat dalam keadaan sadar dan tanpa ada unsur dari siapapun. Jika

kemudian hari ditemukan ketidakbenaran informasi, maka saya bersedia didiskualifikasi

ataupun dibatalkan dari status juara dalam perlombaan ini.

(4)

iv ABSTRAK

Wisata halal/syariah merupakan tren yang tinggi dan digemari oleh masyarakat dunia dalam dekade ini. Perkembangan wisata Syariah terus meningkat sepanjang tahunnya, destinasi wisata Syariah diminati oleh berbagai kalangan baik muslim maupun nun muslim. Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbesar didunia, menjadi peluang bagi Indonesia untuk menjadi salah satu negara utama destinasi wisata halal/syariah. Untuk mensukseskan tujuan tersebut pemerintah Indonesia telah menetapkan tiga daerah yang menjadi tujuan utama destinasi wisata syariah yakni Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Salah satu provinsi yang unggul dalam wisata syariah/halal tingkat dunia adalah provinsi Nusa Tenggara Barat, karena meraih pengargaan internasional yakni World’s Best Halal Travel Summit (ajang kompetisi pariwisata halal) di Abu Dhabi, Uni Emirate Arab (UEA). Pertumbuhan wisatawan tentunya perlu ditingkatkan ditunjang oleh infrastruktur dan informasi wisata yang komperhensif. Pulau Lombok sebagai destinasi utama wisata syariah/halal di Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki peluang pengembangan investasi wisata syariah. Dengan banyaknya tanah wakaf di Pulau Lombok dan tahun 2015-2019 merupakan tahun utama arah gerak pengembangan pasar modal syariah. Dengan demikian sangat tepat untuk mengembangkan infrastruktur wisata syariah dengan pasar modal dalam hal ini instrumen Sukuk sebagai instrumen pasar modal yang digunakan. Melalui pengembanagn model sukuk intifa yang diterapkan di Arab Saudi, maka penulis memberi sebuah solusi yaitu Pengoptimalan Aset Wakaf melalui Sukuk Sebagai Pembangunan Pusat Layanan Sarana Wisata Syariah Terpadu guna medukung Pengembangan Pariwisata Syariah di Pulau Lombok. Pusat wisata syariah terpadu untuk mempermudah wisatawatan memperoleh informasi dan layanan jasa yang telah terstandariasi oleh Kementerian Pariwisata dan Majelis Ulama Indonesia. Kolaborasi antara sukuk dan wakaf memiliki beberapa keunggulan, Pertama mampu menciptakan produktivitas aset-aset wakaf dan pemberdayaan masyarakat. Kedua meningkatan pangsa keuangan syariah melalui sektor non-perbankan yang selama ini belum signifikan dan Ketiga sukuk yang di terbitkan merupakan model sukuk yang prioritas investornya lokal baik itu skala provinsi NTB maupun nasional.

(5)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah yang Tuhan yang Maha Kuasa, karena berkat

pertolongan melalui doa kepada-Nya kita serta usaha dapat menyelesaikan Paper yang

berjudul Pengoptimalan Aset Wakaf melalui Sukuk Sebagai Pembangunan Pusat Layanan

Sarana Wisata Syariah Terpadu guna medukung Pengembangan Pariwisata Syariah di Pulau

Lombok.

Kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan kerja tim dan Mas Azzuhri Tri Ahara

dan Dosen Pembimbing kami Ibu Asfi Manzilati atas saran-sarannya pada paper kami ini

sKemudian pihak-pihak yang telah berperan membantu kami dalam menyelesaikan Paper ini

ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini membutuhkan saran dan kritik yang membangun

untuk meningkatkan kualitas paper ini. Akhir kata Semoga paper yang kami buat dapat

bermanfaat bagi kita semua.

Malang, 20 Januari 2015

(6)

vi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PENGESAHAN ii

PERNYATAAN ORISINALITAS iii

ABSTRAK iv

KATA PENGANTAR v

DAFTAR ISI iv

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR ix

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 4

1.3 Tujuan Penulisan 4

1.4 Manfaat Penulisan 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1.Definisi Wakaf dan Potensi di Pulau Lombok 5

2.2.Pendayagunaan Tanah Wakaf dalam Sejarah Islam 6

2.3.Definisi Sukuk dan Potensinya terhadap Wakaf 8

2.4.Pengembangan SukukIntifa di Negara Arab Saudi 10

2.5.Pariwisata Syariah 11

2.6.Sarana Wisata Syariah 12

BAB III METODE PENULISAN

3.1. Jenis Penulisan 14

3.2. Teknik Penulisan 14

3.3. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data 15

(7)

vii BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Optimalisasi tanah wakaf melalui sukukintifa untuk pembangunan pusat pariwisata

syariah terpadu 17

4.2. Konsep Pusat Layanan Sarana Wisata Syariah terpadu 18

4.3. Efek ganda perekonomian daerah dengan menggunakan sukuk intifa pada aset wakaf 20

4.4. Analisis BOCR penerbitan sukuk wakaf 21

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan 24

5.2. Rekomendasi 24

DAFTAR PUSTAKA 25

(8)

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1 dan 2 Jumlah Aset Tanah Wakaf di Pulau Lombok 5

Tabel 3 Perbedaan Sukuk dan Obligasi 9

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Penggunaan Aset Wakaf 2

Gambar 2 Model Sukuk Intifa 10

Gambar 3 Layanan Wisata Syariah Terpadu 18

(10)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Wisata Syariah merupakan tren yang tinggi dan digemari oleh masyarakat dunia dalam

dekade ini. Perkembangan wisata Syariah terus meningkat sepanjang tahunnya, destinasi

wisata Syariah diminati oleh berbagai kalangan baik muslim maupun nun muslim.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh MasterCard & CrescentRating tentang ‘‘Global

Muslim Travel Index 2015’, tersaji data bahwa di tahun 2014 terdapat 108 juta Muslim yang

telah melakukan perjalanan dengan menghabiskan biaya U$145 miliar. Angka ini

merepresentasikan sekitar 10% dari total ekonomi wisata global. Pada tahun 2020 para

wisatawan Muslim diprediksi akan meningkat menjadi 150 juta dengan biaya yang

dikeluarkan sebesar U$200 miliar. Kedepan, wisatawan Muslim akan terus meningkat dan

menjadi salah satu sektor pariwisata yang yang berkembang pesat di dunia.

Lebih lanjut dalam penelitian ini dinyatakan bahwa populasi Muslim di dunia terus

berkembang dengan pesat. Pada tahun 2030 populasi Muslim diprediksi mewakili 26,5%

populasi dunia. Mayoritas populasi Muslim berasal dari negara yang ekonominya sedang

berkembang seperti Indonesia, Turki, dan Negara-negara Teluk. Oleh karena itu, Muslim

merupakan konsumen penting dalam semua sektor bisnis, termasuk bisnis pariwisata. Dalam

melakukan perjalanan, keyakinan (faith) turut memengaruhi wisatawan Muslim dalam

memutuskan tempat wisata yang akan mereka tuju. Mereka tentu akan mencari dan

membutuhkan produk-produk dan layanan-layanan yang sesuai dengan keyakinan mereka.

Hal ini terlihat dengan semakin pesatnya Pertumbuhan perbankan dan keuangan syariah,

pangan halal (halal food), dan lain-lain di dunia.

Melihat potensi tersebut, jika dilihat dengan potensi wisata syariah di Indonesia

ternyata negara zamrud khatulistiwa ini memiliki cukup banyak destinasi ramah bagi

wisatawan Muslim tidak terkecuali di Nusa Tenggara Barat, khususnya Lombok. Di Pulau

Lombok terdapat lima ribu lebih masjid dimana di setiap dusun dan lingkungan terdapat lebih

dari satu masjid besar dan megah yang sebagian besar memiliki arsitektur Timur Tengah.

Meski mayoritas Muslim, bahwa keunggulan NTB sebagai tujuan wisata syariah bukan hanya

karena memiliki banyak masjid namun juga karena wisata syariah merupakan bagian dari

kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. "Aktivitas apapun yang menjadi wisata syariah

adalah bagian dari rutinitas masyarakat Lombok, termasuk saat turis menginap di pondok

(11)

2 Kemudian dukungan dalam bentuks penghargaan sebagai destinasi wisata Syariah di

Pulau Lombok menjadi nilai tambah sebagai destinasi wisata syariah di Indonesia. Dikatakan

gubernur, wisata syariah merupakan salah satu potensi yang sangat mungkin untuk

dikembangkan di Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia,

ataupun untuk Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu provinsi dengan mayoritas penduduk

muslim, yang pada saat yang sama juga dikaruniakan keindahan alam, keragaman budaya dan

potensi-potensi tempat wisata lain yang bisa dikembangkan. Potensi wisata syariah atau

wisata keluarga di Nusa Tenggara Barat itu sangat besar. Bukan hanya karena mayoritas

penduduk islam, tapi karena potensi alam dan budaya yang menarik para wisatawan cukup

banyak di daerah kita. Dikatakan oleh gubernur NTB, wisata syariah sebagai wisata yang

mengadopsi nilai-nilai islam, dimana dalam hal tersebut ada aspek kehalalan dalam makanan

dan beberapa hal lainnya yang menjadi perhatian para Muslim Travellers ke mana pun

mereka pergi.

Untuk mendukung pengembangan wisata syariah di Pulau Lombok diperlukan

pembangunan infrastruktur dan saran pendukung lainnya untuk meningkatkan minat

wisatawan melancong. Tanah merupakan sumber daya utama yang dibutuhkan oleh karena

itu melihat bahwa berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Wilayah Kementerian Agama

Kabupaten Lombok Barat, jumlah tanah wakaf di Kabupaten Lombok barat mencapai

3.284.185 meter persegi. Sayangnya, tanah wakaf tersebut sebagian besar baru dimanfaatkan

untuk kesejahteraan masjid, kuburan, panti asuhan, dan sarana pendidikan. Dan hanya

sebagian kecil yang dikelola ke arah lebih produktif. Untuk meningkatkan produktivitas

wakaf tersebut salah satunya adalah memberikan celah pengembangan aset wakaf untuk

kegiatan perekonomian. Penelitian itu menunjukkan, harta wakaf lebih banyak bersifat diam

(77%) dari pada yang menghasilkan atau produktif (23%). Berarti, tanah wakaf yang

demikian besar itu tentunya belum memberikan manfaat produktif, tapi masih dipergunakan

untuk kepentingan yang bersifat konsumtif.

(12)

3 Berdasarkan chart diatas secara nasional pemanfaatan wakaf terbagi atas lima hal

tersebut. Tentunya benefit nilai ekonominya rendah dan pemberdayaan masyarakat juga

terbatas. Nilai tambah yang dihasilkan oleh wakaf tersebut belum dapat dinikmati dampaknya

dalam pembangunan ekonomi nasional. Jika kita bandingkan dengan negara Singapura dan

Malaysia nilai tambah yang dihasilkan oleh aset wakaf mereka sangat besar.

Untuk mewujudkan wakaf yang produktif salah satu strateginya adalah membuka kran

investasi yang aman dan komprehensif dampaknya berkelanjutan bagi iklim bisnis dan

pembangunan daerah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh M Maulana Hamzah

(2015) bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat menduduki peringkat ke-20 dari 33 provinsi

sebagai daerah berpotensi sukuk. Hal tersebut menunjukkan investor-investor lokal maupun

kesiapan pemerintah harus terus ditingkatkan dalam membuka investasi tersebut. Hal tersebut

menjadi peluang dan tantangan dalam mengembangkan minat investor untuk membangun

infrastruktur wisata khususnya di Pulau Lombok.

Berkaitan dengan skema pendanaan baru dalam pasar modal syariah yang mulai

digunakan oleh pemerintah, yaitu Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan

underlying asset proyek atau project based sukuk (PBS) yang dijelaskan secara terperinci dalam Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 24/PMK.05/2014. Peningkatan nilai tambah

wakaf melalui investasi pasar modal sangat besar, namun ada beberapa aset yang idle . Jika

aset wakaf bisa menjadi underlying aset sukuk, dari sana bisa menghasilkan dana yang bisa

digunakan untuk investasi ke sektor mikro syariah, di tengah krisis keuangan global beberapa

waktu lalu, lembaga keuangan mikro syariah, seperti Baitul Maal wat Tamwil (BMT), sangat

menjanjikan karena memiliki return on equity (ROE) hingga 32 persen. Jika dana dari sukuk

diinvestasikan di sana, returnya akan tinggi. Keuangan mikro juga berdampak besar untuk

memberdayakan perekonomian masyarakat miskin. Dengan menggunakan wakaf sebagai

underlying, maka tenor sukuk pun bisa menjadi lebih panjang.

Skema pendanaan ini bisa menjadi solusi penghubung permasalahan kurangnya

modal dalam pembangunan Wisata Syariah Terpadu melalui pengoptimalan potensi tanah

wakaf di Indonesia. Lebih lanjutpendanaan dengan sukuk “Al-Intifa‟ yang menggunakan

lahan sebagai underlying asset dapat menciptakan kemaslahatan yang luas ketika digunakan

untuk mendukung pengembangan gedung-gedung dan sarana prasarana penunjang Wisata

(13)

4

1.2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana konsep lokalisasi wisata Syariah terpadu di pulau Lombok?

b. Bagaimana skema pembiayaan infrastruktur wisata Syariah terpadu menggunakan

sukuk Intifa ?

c. Bagaimana efek berganda bagi perekonomian daerah dengan menggunakan suku

intifa pada aset wakaf?

1.3. Tujuan pembuatan karya tulis

Mengacu pada rumusan masalah diatas tujuan dari karya tulis ini adalah

a. Pengoptimalan aset wakaf melalui sukuk sebagai underlying aset bagi

pembangunan wisata Syariah di Pulau Lombok

b. Sebagai alternatif sumber permodalan lokalisasi wisata Syariah terpadu di pulau

Lombok.

1.4. Manfaat Penulisan

a. Manfaat akademis

Masyarakat (investor dan penduduk lokal) mendapatkan informasi mengenai variasi

sumber permodalan sehingga menjadi alternatif penyelesaian masalah bagi

masyarakat dalam meningkatkan output jasa daerah

b. Manfaat Praktis

Sebagai sumber informasi mengenai potensi wakaf di Pulau Lombok sebagai

(14)

5

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Definisi Wakaf dan Potensi di Pulau Lombok

Wakaf secara etimologi adalah al habs (menahan). Wakaf merupakan kata yang

berbentuk masdar (gerund) dari ungkapan waqfu la syai yang pada dasarnya berarti

menahan sesuatu. Dengan demikian, pengertian wakaf secara bahasa adalah menyerahkan

tanah untuk orang-orang miskin untuk ditahan. Diartikan demikian karena barang milik itu

dipegang dan ditahan orang lain, seperti menahan hewan ternak, tanah dan segala sesuatu.

Dalam Al Quran terdapat beberapa ayat yang didasarkan sebagai landasan perintah

wakaf, dalam Quran Surat Al Baqarah ayat 261 yang artinya. Dan ayat Al Quran lain

dalam Ali Imran ayat 92. Terdapat empat rukun wakaf yang harus dipenuhi 1). orang yang

berwakaf (al waqif) 2). benda yang diwakafkan (la mauquf) 3). orang yang menerima

wakaf (mauquf alaih) 4) lafaz atau ikrar wakaf. Dalam undang-undang No. 41 tahun 2004

tentang wakaf terdapat dua tambahan hal yang harus dipenuhi, yaitu Peruntukan harta

wakaf dan jangka waktu wakaf. Dalam rangka mencapai tujuan dan fungsi wakaf menurut

UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf, harta wakaf hanya diinvestasikan hanya

diperuntukkan lima macam hal , yaitu: (a) sarana dan kegiatan ibadah (2) sarana dan

kegiatan pendidikan dan kesehatan (3) bantuan kepada a fakir dan miskin, anak terlantar,

yatim piatu, beasiswa (4) kemajuan dan peningkatan ekonomi umat, dan/atau kemajuan

kesejahteraan umum yang tidak bertentangan dengan Syariah dan peraturan

perundang-undangan.

Jika dihubungkan dengan potensi wakaf di Pulau Lombok yang memiliki jumlah

penduduk sebanyak 3.105.841 juta jiwa dengan jumlah penduduk Muslim mencapai

3.082.747 juta jiwa. Dominasi penduduk muslim di Pulau Lombok menjadi peluang dalam

pengembangan wisata Syariah. Berdasarkan data siwak kementrian agama.

Sumber : siwak.kemenag.go.id Kabupaten/Kota Luas

Kabupaten Lombok Barat

Kabupaten Lombok Timur

Kabupaten Lombok Tengah

Kabupaten Lombok Utara

Kota Mataram

Kabupaten Lombok Timur

Kabupaten Lombok Tengah

Kabupaten Lombok Utara

(15)

6 Data diatas menunjukkan pulau Lombok merupakan jumlah lokasi dan luas wilayah

tanah wakaf sebagian besar berlokasi di Lombok Barat. Berdasarkan data tersebut jumlah

tanah yang diwakafkan di pulau Lombok mencapai 5.000.000+/- km2 . namun berdasarkan

data yang diterbitkan oleh kanwil kementrian agama kabupaten Lombok Barat, hanya 30%

aset wakaf yang digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang produktif. Sedangkan sisanya

hanya digunakan untuk kegiatan konsumtif saja.

2.2. Pendayagunaan Tanah Wakaf dalam Sejarah I slam

Institusi atau pranata wakaf memiliki peranan dalam perjalanan sejarah danperadaban

umat Islam. Berbagai lembaga wakaf telah berfungsi sebagai tempatpenyebaran ilmu dan

budaya, dan memberikan ruang bagi ulama, para ahli fikihdan budayawan untuk

mengembangkan keilmuan dan keahliannya. Di antaralembaga-lembaga wakaf yang

memiliki fungsi tersebut sebagai berikut:

Pertama, untuk tempat ibadah (masjid). Masjid wakaf yang pertama kaliberdiri adalah

masjid Quba, yang didirikan oleh Rasulullah SAW saat pertama kalimenginjakkan kakinya di

Madinah, kemudian Masjid Nabawi yang didirikan tahunpertama Hijriah, kemudian bermunculan masjid-masjid wakaf pada masa Khulafā`al-Rasyidin, Bani Umayyah dan Bani al-‘Abbas. Ibnu Bathutah menggambarkanaktivitas ilmu yang terjadi di masjid pada masa itu,

di mana masjid-masjidmengadakan halaqah-halaqah yang mengajarkan bermacam-macam

ilmupengetahuan. Para ahli hadits membacakan hadits di atas bangku yang tinggi,

danmembaca al-Qur’an dengan bacaan yang bagus setiap pagi dan sore. Beberapakelompok

guru mentalqinkan bacaan al-Qur’an kepada anak-anak kecil, merekatidak menulis al-Qur’an

di papan tulis karena takut merusak citra al-Qur’an.Pengajar ilmu menulis, mengajarkan cara

menulis syair, sehingga anak-anak setelahbelajar membaca, mereka kemudian belajar

menulis.Bersamaan dengan peranan masjid sebagai pusat pengajaran dan dakwahIslam, di

sekitar masjid berdiri asrama-asrama yang menampung orang-orangmiskin ataupun penuntut

Ilmu yang berasal dari tempat yang jauh,yang dikenaldengan istilah Rubath,Khaniqah,

Zawayah dan Khalawy.

Kedua, untuk al-Katatib (Pusat Baca Tulis). Al-Kuttab atau al-maktab merupakan

tempat bagi anak- anak usia dini ataupun pemula yang ingin belajarmembaca dan menulis,

belajar al-Qur’an, dan dasar-dasar ilmu-ilmu agama. Padamasa bani Umayyah, al-katatib,

diperuntukkan bagi anak-anak khalifah dankeluarga istana serta orang kaya, akan tetapi

(16)

7 anak-anak yatim, anakanakmiskin. Ibnu Huql mencatat dalam satu kota seperti Sicilia berdiri

300 alkatatib,yang dalam satu al-kuttab menampung ratusan bahkan ribuan siswa.

Ketiga, untuk Madrasah (Sekolah). Madrasah yang dibiayai dengan hartawakaf yang

terkenal dalam sejarah Islam adalah madrasah al-Nizhamiyah diBaghdad yang didirikan oleh

Bani Saljuk Turki tahun 459 H. Tujuan pendirianmadrasah ini menurut Nizham al-Mulk

untuk mencetak pemuda-pemuda calonpemimpin bangsa yang memiliki ilmu atas dasar

akidah ahlus-sunnah. Kemunculanmadrasah al- Nizhamiyah yang didanai dengan dana wakaf

diikuti denganberdirinya madrasah-madrasah yang lain diberbagai negara Islam, seperti

madrasahwakaf al-Nuriyah di Suriah, yang didirikan oleh Nuruddin al-Zanki, madrasahwakaf

Zhahiriyah yang didirikan oleh Zhahir Beybers di Kairo tahun 626 H,Madrasah

al-Shalihiyyah yang merupakan wakaf raja al-Shalih Najm al-Din Ayyubdi Mesir tahun 641 H,

Madrasah al-Mas’udiyah yang didirikan oleh Mas’ud al-Syafi’i di Baghdad. Madrasah ini

mengajarkan fikih empat madzhab disampingilmu-ilmu umum dan kedokteran. Lalu ada

madrasah al-Shalahiyah di Halb yangdidirikan Amir Shalahuddin Yusuf al-Dawadar,

madrasah al-Ghiyats atau madrasahal-Malik Manshur di Mekkah, yang didirikan al- Manshur

Ghiyats al-Din tahun 813H. Ada juga madrasah- madrasah lain yang dibangun dan dibiayai

operasionalnyadengan dana wakaf, seperti madrasah al-Mustanshiriyah di Baghdad,

madrasahSulthan Hasan, Jami’ al-Azhar di Mesir, al-Zaitunah di Tunis, al-Qurawiyyin di

FesMaroko. Al-Jami’ al-Azhar merupakan masjid sekaligus lembaga pendidikan

yangdidirikan oleh Jauhar al-Shaqily (panglima pasukan Mu’izli Dinillah al-Fathimy)pada

tahun 359 H. Nama al-Azhar diambil dari Fatimah al-Zahra.

Keempat, untuk Maktabah (Perpustakaan). Lembaga berbasis wakaf lain yangmemiliki peran dalam pembentukan intelektual umat Islam adalah maktabah atauperpustakaan.

Maktabah memiliki nama lain seperti khizanah kutub,bait alhikmah,dar ilm,dar al-kutub. Maktabah tersebar hampir di seluruh penjurudunia Islam sejak abad ke-4. Maktabah menjadi kiblat bagi penuntut ilmu, karenamembantu mereka dalam memperoleh ilmu

pengetahuan lewat buku-buku dengangratis. Maktabah yang didanai dengan harta wakaf

yang terkenal dalam sejarahIslam diantaranya adalah : 1). Dar al-’Ilm di Mosul (abad ke-4

(17)

8

2.3. Definisi Sukuk dan Potensinya terhadap Wakaf

Sukuk adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab yaitu dari kata Sakk dengan bentuk

jamaknya adalah suku, yang berarti dokumen atau sertifikat. Dalam pasar modal Islam

menyerupai obligasi yang terdapat di pasar modal, yaitu surat atau sertifikat dari pihak yang

membutuhkan dana.

Berdasarkan The Accounting and Auditing Organizaton for Islamic Financial

Institution (AAOIFI) Sharia Standards No. 17 tentang Investment Sukuk (Sukuk Investasi),

Sukuk didefinisikan sebagai sertifikat bernilai sama dengan yang merupakan bukti atas

bagian kepemilikan yang tak terbagi terhadap suatu aset, hak manfaat dan jasa-jasa atau atas

kepemilikan proyek atau kegiatan investasi tertentu.

Investment sukuk are certificate of aqual value representing undivided shares in ownership of tangible asset, usufruct and Services or (in The ownership of) the asset of particuler projects or special investment activity.

Berdasarkan keputusan ketua Badan Pengawas dan Pasar Modal dan Lembaga

Keuangan BAPEPAM_LK No. KEP-181/BL/2009, suku didefinisikan sebagai efek Syariah

berupa sertifikat atau tanda bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang

tidak tertentu (tidak dipisahkan atau tidak terbagi) atas 1. Aset berwujud tertentu; 2. Nilai

manfaat atas aset berwujud tertentu baik yang sudah ada maupun yang akan ada; 3. Jasa yang

sudah ada maupun yang akan ada; 4. Aset proyek tertentu dan/atau; 5. Jasa atas aset tertentu

atau aktivitas investasi tertentu; atau 6. Kegiatan investasi yang telah ditentukan.

Lebih lanjut berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia

(DSN_MUI) tentang Obligasi Syariah, Sukuk didefinisikan sebagai surat berharga jangka

panjang berdasarkan prinsip Syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang obligasi

Syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi

Syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh

tempo. Dan fatwa dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia No.

69/DSN-MUI/VI/2008 Tentang Surat Berharga Syariah Negara yang diterbitkan beradasarkan prinsip

Syariah sebagai bukti atas bagian kepemilikan aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah

maupun valuta asing.

Sukuk obligasi Syariah memiliki beberapa karakteristik, antara lain: (1) merupakan

(18)

9 yang diberikan berupa imbalan, margin, bagi hasil, sesuai dengan jeniss akad yang digunakan

dalam penerbitannya; (3) terbebas dari unsur riba, gharar, dan maysir; (4) memerlukan

adanya underlying Asset penerbitan ; (5) penggunaan dana hasil penerbitan suku (proceeds)

harus sesuai dengan prinsip Syariah.

Adapun perbedaan yang mencolok antara suku (obligasi Syariah) dengan obligasi

konvensional sebagaimana dijelaskan dalam tabel 3 di bawah ini :

Sukuk Obligasi Konvensional

Prinsip Dasar Surat berharga yang

diterbitkan berdasarkan

prinsip Syariah, sebagai

bukti

kepemilikan/penyertaan

terhadap suatu Asset yang

menjadi dasar penerbitan

sukuk

Penyertaan utang tanpa

syarat dari penerbit dan

tidak berdasarkan prinsip

Syariah

Underlying Asset Memerlukan underlying Asset sebagai dasar penerbitan

Tidak ada

Fatwa/Opini syariah Memerlukan Fatwa/Opini

Syariah untuk menjamin

kesesuaian suku dengan

prinsip syariah

Tidak ada

Penggunaan Dana Tidak dapat digunakan

untuk hal yang bertentangan

dengan prinsip syariah

Bebas

(19)

10 Berdasarkan publikasi Departemen Keuangan, Pembiayaan infrastruktur melalui penerbitan

obligasi mampu menyediakan dana dalam jumlah besar karena melibatkan banyak pihak.

Apabila likuiditas obligasi dapat dilaksanakan dengan baik dan tingkat bunganya lebih

kompetitif dibandingkan dengan bunga deposito, minat pemilik dana untuk memiliki obligasi

akan semakin membesar sehingga obligasi atau surat utang merupakan alternatif yang baik

sebagai sumber pembiayaan dalam rangka pembangunan daerah terutama untuk percepatan

pembangunan dalam hal ini infrastruktur dan dipersempit dalam sektor pariwisata Syariah

2.4 Pengembangan Sukuk Intifa di Negara Arab Saudi

Negara Arab Saudi juga merupakan salah satu negara yang giatmengembangkan aset

wakafnya menggunakan instrumen sukuk seperti proyekpembangunan menara hotel Zamzam

di Mekah . Manajemen aset wakafdi Arab Saudi telah ditempatkan di bawah satu

kementerian yaitu KementerianUrusan Islam , Wakaf , Dakwah dan Nasihat. Semua aset

wakaf yang ada di Arab Saudi diatur oleh Kementerian tersebut.

Gambar 2 : Ilustrasi oleh penulis

1. Lembaga wakaf Arab Saudi telah mengidentifikasi sebidang tanah wakaf yang

berpontensi milik Sultan Abd. Aziz untuk dimajukan. Institusi wakaf telah

menyewakan tanah tersebut kepada perusahaan Bin Laden Group untuk periode

28 tahun dengan menggunakan kontrak ijarah. Perusahaan Bin Laden Group akan

mengembangkan tanah wakaf tersebut dengan menggunakan metode BOT

(build-operate-transfer).

2. Bin Laden Group akan membayar jumlah sewa tanah tersebut kepada lembaga

(20)

11 3. Bin Laden Group telah mengarahkan Munshaat Real Estate Project untuk

menerbitkan sukuk al-intifa 'sebesar USD 390 juta untuk tujuan pembangunan

sebuah menara hotel Zamzam di atas beberapa buah lot tanah wakaf.

4. Munshaat Real Estate Project menawarkan terbitan sukuk al-intifa ' (time share

basis bond) kepada investor sebagai bukti kepemilikan manfaat terhadap menara

hotel Zamzam.

5. Sejumlah USD 390 juta telah berhasil dikumpulkan dalam waktu 2minggu

penerbitannya.

6. Jumlah langganan sukuk al-intifa 'tersebut akan diberikan kepada Bin Laden

Group untuk dijadikan modal pembangunan menara hotel Zamzam.

7. Konstruksi menara hotel Zamzam telah memakan waktu selama 3 tahun dimulai

pada pertengahan tahun 2003 dan selesai pada pertengahan 2006. Setelah menara

Zamzam tersebut siap digunakan, investor memiliki hak manfaat (usufruct)

terhadap bangunan tersebut selama 24 tahun. Ruang dan kamar yang siap

(terletak di menara hotel Zamzam) akan diberi sewa secara harian atau mingguan

kepada pengerja ibadah haji dan umrah. Setelah berakhirnya sewa tanah wakaf

selama 28 tahun, Bin Laden Group akan mengembalikan kepemilikan

keseluruhan menara Zamzam kepada lembaga wakaf Arab Saudi.75

2.5 Pariwisata Syariah

Pengertian pariwisata berdasarkan WTO (World Toursm Organitation) dalam Duman

(2011) merupakan kegiatan berpergian sesorang diluar kegiatan kesehariannya untuk

menikmati waktu luang, bisnis dan kegiatan lainnya serta tidak berhubungan dengan kegiatan

amal sukarela. Sementara, penegertian pariwisata menurut UU No. 10 Tahun 2010 tentang

kepariwisataan merupakan segala aktivitas wisata yang didukung oleh fasilitas dimana

masyarakat, pemerintah dan pengusaha sebagai penyediannya. Sedangkan pariwisata syriah

merupakan jenis pariwisata dimana adanya menjunjung nilai-nilai islami dalam melakukan

kegiatan wisata serta dapat juga dikatakan semua kegiatan wisata boleh dilakukan namun

tidak bertentangan secara syariah. Sebagaimana Syakiri (2007) dalam (Duman, 2011)

menyatakan bahwa konsep pariwisata syariah tidak hanya sebatas wisata yang bersifat religi,

tetapi mengandung seluruh jenis pariwisata selama hal ini tidak bertentangan dengan prinsip

syariah. Berdasarkan (Chukaew, 2015) pariwisata syriah memiliki beberapa

(21)

12 1) Memiliki kaidah-kaidah yang sesuai prinsip muslim dalam segi pelayanan.

2) Pemandu wisata dan staf memegang teguh prinsip muslim.

3) Memastikan segala kegiatan tidak bertentangan dengan prinsip islam.

4) Memiliki tipe bangunan yang tidak bertentangan dengan ketentuan islam.

5) Adanya standarisasi halal pada restauran.

6) Menjamin sistem keamanan terhadap transportasi yang digunakan.

7) Tersedianya tempat bagi para wisatawan muslim melakukan kegiatan ibadah

8) Destinasi wisata tidak bertentangan dengan prinsip islam.

2.6 Sarana Wisata Syariah

Berdasarkan Warpani (2006) dalam Dwiputra (2013) sarana wisata merupakan bentuk

pelayanan terhadap wisatawan sesuai kebutuhannya dalam rangka menikmati kegiatan wisata

yang dilakukan. Bentuk pelayanan wisata terhadap wisatawan tentunya disesuaikan dengan

kebutuhan wisatawan. Secara umum, sarana wisata dapat berupa hotel atau penginapan,

restoran dan rumah makan, biro perjalanan, serta alat transportasi (Dwiputra, 2013).

Didalam aspek sarana wisata dapat meliputi tiga hal, yakni akomodasi, tempat makan,

dan temapat belanja (Dwiputra, 2013). Pengadaan akomodasi merupakan hal yang penting

dilakukan karena ketika wisatawan hendak menuju objek wisata yang ditunju diperlukan

sarana yang bersifat menampung dan memindahkan yakni hotel/penginapan dan transportasi.

Selain itu, adanya tempat makan adalah hal yang harus dilakukan dalam rangka

mempermudah wisatawan memenuhi kebutuhan utamanya. Sedangkan, tempat belanja

sebagai pelengkap dari layanan sarana wisata sebagai buah tangan dan lainya sesuai

keinginan wisatawan. Sementara itu, penambahan unsur syariah di dalam sarana wisata

membuat adanya perbedaan dibandingkan dengan umumnya. Perbedaan ini terletak pada

prosedur opersional masing-masing jenis sarana wisata seperti adanya hotel syriah,

restoran/food court bersertifikasi halal, biro perjalanan sesuai prinsip syriah. Sebagaimana,

(Chukaew, 2015) dalam penjabarannya terdapat empat aspek sarana wisata dikatakan

(22)

13

No. Aspek Penjelasan

1. Lokasi Lokasi wisata yang dipilih merupakan yang dibolehkan dalam

kaidah islam dan dapat meningkatan nilai-nilai spiritual wisatawan.

2. Transportasi Penerapan sistem sepeti pemisahan tempat duduk antara laki-laki

dan wanita yang bukan mahram sehingga tetap berjalannya syariat

islam dan terjaganya kenyamanan wisatawan (Utomo,2014).

3. Konsumsi Berdasarkan QS. Al-Maidah ayat 3 islam sangat memperhatikan

tingkat kehalalan produk baik dari segi sifatnya, perolehannya

maupun pengolahannya. Selain itu, suatu penelitian menunjukkan

bahwa minat wisatawan dalam makanan memainkan peran sentral

dalam memilih tujuan wisata (Moura, 2012)

4. Hotel Segala proses operasional baik kerja maupun fasilitas yang

disediakan berjalan sesuai dengan prinsip syariah (Utomo, 2009).

Namun, pelayanan disini tidak hanya sebatas dalam lingkup

makanan dan minuman, melainkan fasilitas yang ditawarkan seperti

spa, gym, kolam renang, ruang tamu serta fungsional laki-laki dan

(23)

14

BAB III

METODE PENULISAN

3.1. Jenis Penulisan

Karya tulis ini dibuat menggunakan jenis penulisan deskriptif denganpendekatan

kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah prosedur penulisan yangmenghasilkan data deskriptif

berupa kata-kata tertulis dari objek (orang danperilaku) yang diamati dengan didukung oleh

studi literatur atau studikepustakaan berdasarkan pendalaman kajian pustaka berupa data dan

angka,sehingga gambaran lapangan dapat dipahami dengan baik (Moloeng, 1990:5).Menurut

Sugiyono (2005:21) menyatakan bahwa metode deskriptif adalah suatumetode yang

digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasilpenelitian, namun tidak

digunakan untuk pengambilan kesimpulan yang lebihluas, fokus pada rumusan masalah yang

diangkat. Sedangkan Whitney (1960:160) menyatakan bahwa metode deskriptif sebagai

penggunaan intrepretasi yangtepat dalam mencari fakta atas objek yang diamati.

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan mengklarifikasi suatufenomena

yang terjadi melalui deskripsi terhadap sejumlah variabel yangberkaitan dengan masalah atau

objek yang diamati (Faisal, 1999:20). Dalammelakukan analisis permasalahan, penulis

melakukan proses analisis yangmendalam dan luas terhadap permasalahan yang terjadi.

Kemudian dikaitkandengan keadaan dan kondisi lapangan yang berhubungan langsung

dengan pokokpermasalahan. Setelah menemukan benang merah antara permasalahan

yangdiamati dengan kondisi objek di lapangan, penulis kemudian menganalisis solusiyang

dapat di lakukan, salah satunya melalui gagasan unik dan kreatif.

3.2. Teknik Penulisan

Penulisan dilakukan dengan memahami, mendalami, dan mengeksplorasibeberapa data

terutama data yang berupa angka yang berisi perbandingan data daritahun ke tahun, demikian

pula untuk data deskripsi. Sesuai dengan jenispenulisan yang digunakan, maka penulisan

karya ilmiah ini menggunakan teknikpenulisan kualitatif, dengan mendeskripsikan,

menjabarkan dan merangkaivariabel-variabel yang diteliti menjadi objek penting yang

kemudiandikembangkan dalam setiap bagian pembahasan. Setiap objek yang

(24)

15 menunjukkan apa dan mengapa menggunakan objek tersebut, beserta solusiyang kemudian

ditawarkan dalam Bab pembahasan.

3.3 Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah datasekunder. Data

sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung olehpengumpul data (Sugiono:

2008, 402). Data sekunder ini merupakan data berasaldari studi literatur yang dapat

dipertanggungjawabkan, seperti buku-buku, jurnal,skripsi, website resmi dan bacaan lain

yang absah tentang industri halal, Badan Wakaf Indonesia dan sukuk selaku objek. Teknik

pengumpulan data adalah studiliteratur, yaitu mencari sumber data sekunder yang

mendukungpenulisan/penelitian, juga untuk mencari perkembangan ilmu pengetahuan

terkaityang tengah berkembang hingga pada kesimpulan dan generalisasi yang pernahdibuat

(Nazir: 2005, 93). Data yang telah diperolah, dianalisis dan dilakukandiskusi serta

perbandingan alternatif yang lain untuk memperkuat argumen danpermahaman terhadap

permasalahan yang diangkat.

3.4. Metode Analisis Data

Bertolak dari permasalahan yang di ungkapkan dalam rumusan masalahdan pendekatan

penulisan, penulis melakukan analisis terhadap data-datakualitatif yang diperoleh dengan

metode analisis deskriptif kualitatif. Dalam halini data yang diperoleh kemudian disusun

secara terstruktur sesuai denganmasalah yang dikaji sehingga dapat memberikan gambaran

dalam alurpembahasan. Data-data yang menunjukkan keadaan permasalahan akandihadapkan

dan dibandingkan dengan potensi penyelesaian berdasarkan kondisi dilapangan. Dengan

demikian, arah dan gambaran pembahasan bisa lebih jelas dansaling terkait satu sama

lain.Proses analisa data yang digunakan dalam penulisan ini yaitu secara bolakbalikdan

interaktif. Analisa yang dilakukan terdiri dari: (1) pengumpulan data(data collection), yaitu

mengumpulkan semua data yang mempunyai relevansisebagai sumber pembahasan. (2)

reduksi data (data reduction), data yang telahdikumpul kemudian diseleksi sesuai dengan

rumusan masalah dan kriteria gagasan yang diinginkan untuk memudahkan arah dalam alur

pembahasan.

Dalamreduksi data, dilakukan diskusi, yaitu bertukar pikiran dengan orang yang

memiliki kompetensi dalam bidang perbankan syariah dan pembiayaan. Data yangdigunakan

(25)

16 intuitif subjektif penulis juga dilibatkan, karena alurgagasan penulis tentang masalah yang

dibahas patut dilibatkan, (3) penyajian data(data display), data yang telah diseleksi/direduksi

kemudiann disajikan dalambentuk tulisan maupun gambar. Dalam hal ini dari data yang ada

juga, penulisanmemberikan gambaran arah dan skema kerja gagasan yang ditawarkan, dan

(4)pemaparan dan penegasan kesimpulan (conclution drawing and verification),yaitu data

disajikan dengan memaparkan solusi secara jelas dan rinci yangkemudian dapat disimpulkan

(26)

17

BAB IV PEMBAHASAN

4.1. Optimalisasi tanah wakaf melalui sukuk intifa untuk pembangunan pusat pariwisata syariah terpadu

Pulau Lombok merupakan salah satu pulau penting yang berperan dalam pembangunan

Provinsi Nusa Tenggara Barat. Potensi wisata Pulau Lombok merupakan salah satu sektor

yang menunjang pendapatan pemerintah daerah. Lombok menjadi daerah wisata yang

strategis berbasis wisata Syariah. Tentunya terdapat faktor-faktor yang mendukung Pulau

Lombok agar dapat menjadi pusat wisata Syariah di Indonesia secara umum dan Provinsi

Nusa Tenggara Barat secara khusus, pertama populasi penduduk muslim di Pulau Lombok

mencapai 99,02 persen. Kedua dukungan yang diberikan oleh pemerintah daerah juga tinggi

dalam pengembangan Pariwisata Syariah di Lombok. Ketiga lingkungan budaya Islami yang

telah ada sejak dahulu di Pulau Lombok mendukung Pengembangan wisata Syariah.

Tentunya dalam pengembangan wisata Syariah diperlukan kemantapan berbagai hal

mulai dari infrastruktur, pelayanan wisata yang optimal sesuai dengan standar yang

ditetapkan oleh kementrian pariwisata. Perkembangan wisata Syariah didukung dengan aspek

permodalan yang optimal Dengan adanya investasi yang tinggi. Peluang investasi dalam

sektor pariwisata Syariah sangat penting untuk pengembangan sarana fisik yang diperlukan.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Maulana Hamzah yang berjudul Prospek

Pembangunan Green Municipal Islamic Bonds pada daerah berpotensi suku di Indonesia

menunjukkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat menduduki peringkat ke dua puluh dari

33 Provinsi yang diperingkat, berdasarkan analisis terhadap kemampuan keuangan daerah,

kemampuan pinjaman dari total maksimal pinjaman dan tingkat akuntabilitas LKPD.

Meskipun Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak termasuk dalam kategori unggul dalam

penerbitan sukuk, tetapi melihat peluang investasi yang tinggi oleh karena itu pengembangan

sukuk dapat menjadi alternatif sumber investasi sehingga dapat meningkatkan peran pasar

modal melalui Sukuk-sukuk yang diterbitkan oleh daerah nusa tenggara barat.

Penerbitan sukuk di fokuskan untuk pembangunan infrastruktur pulau Lombok sebagai

daerah yang dipersiapkan sebagai pusat wisata Syariah terpadu. Pulau Lombok memiliki

potensi underlying aset sukuk yang berasal dari tanah-tanah wakaf yang tidak produktif.

(27)

18 sebagai underlying aset tentunya dapat meningkatkan nilai tambah yang dihasilkan oleh tanah

wakaf yang dimanfaatkan dalam kegiatan produktif tersebut.

4.2. Konsep Pusat Layanan Sarana Wisata Syariah terpadu

Pusat layanan sarana wisata sayriah terpadu merupakan pemusatan operasional usaha

antara usaha-usaha layanan sarana wisata seperti hotel/penginapan, restoran dan tempat

makan, tempat belanja, serta biro perjalanan. Pemusatan ini dilakukan pada satu tempat yang

memanfaatkan tanah wakaf. Selain itu, pada konsepsi ini melibatkan usaha layanan sarana

wisata lokal yang telah ada. usaha layanan jasa ini memiliki nilai peningkatan dalam

kuantitas usahanya. Berdasarkan data perhitungan yang dilakukan BPS, sepanjang tahun

2012 dan 2013 meningkat dari 2.305 menjadi 2.450 usaha.Namun, dalam hal ini terdapat

prinsip syariah yang harus diterapkan pada sistem operasional masing-masing elemen sarana

wisata. Artinya pusat layanan sarana wisata ini terdapat seperti hotel syariah, restoran/food

court bersertifikasi halal, biro perjalanan sesuai prinsip syriah.

Gambar. Konsepsi Pusat Layanan Wisata Syariah Terpadu

Sumber : Ilustrasi Penulis

Secara konseptual, konsep pusat layanan wisata syariah terpadu ini sangat mungkin

untuk diimplemetasikan. Rasionalisasinya adalah konsep ini akan mempermudah wisatawan

(28)

19 Lombok. Selain itu, konsep ini dapat mengakomodir segala aktivitas wisatawan muslim

dengan prinsip syriah sehingga tetap menumbuhkan nilai-nilai spiritual wisatawan muslim.

Skema Sukuk Wakaf Pusat Layanan Wisata Syariah Terpadu

Skema pembiayaan sukuk wakaf diatas merupakan pengembangan dari sukuk intifa dalam

BWI

1. BWI menyewakan tanah wakaf kepada perusahaan pengembang

2. Untuk membiayai usaha di atas tanah wakaf tersebut, kemudian perusahaan

pengembang menerbitkan sukuk.

3. SPV sebagai agen menjual suku tersebut kepada masing-masing layanan wisata lokal

Syariah yang direkomendasikan oleh BWI

4. Pengusaha layanan wisata lokal menyerahkan dana investasi suku tersebut kepada

perusahaan pengembang

5. Perusahaan pengembang membayar sewa kepada BWI berupa bangunan diatas tanah

(29)

20 Pengembangan Sukuk dilakukan dengan sistem pembagian proporsional dimana open

tender suku dilakukan dengan memerhatikan tingkat proporsional jenis jasa usaha wisata

dimana dalam pembangunan gedung tersebut developer membuat perencanaan yang tepat

agar gedung-gedung yang dibangun memenuhi seluruh kriteria lima jenis jasa usaha wisata

Syariah tersebut. Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan sukuk wakaf, dalam

seleksi investor dikontrol oleh BWI secara langsung. Diprioritaskan bagi investasi yang

dilakukan oleh masyarakat lokal. Sehingga masyarakat lokal memiliki peluang untuk

mengenal pasar modal Syariah yang lebih jauh sistem ini yang tidak diterapkan dalam model

sukuk intifa di Arab Saudi sehingga dalam pembangunan zam-zam tower investor asing lebih

banyak porsi investasinya dibandingkan masyarakat lokal.

Dalam pengembangan sukuk wakaf peran perbankan syariah penting dalam menujang

pangsa pasar sukuk. Seprti halnya sukuk ritel negara yang dijual melalui bank-bank yang

ditunjuk oleh pemerintah. Pemerintah daerah dapat menggunakan kewenangannya untuk

menjual sukuk-sukuk wakaf melaui bank yang ditunjuk oleh daerah. Dalam pembelian sukuk

wakaf ini perlu diciptakan sistem yang menjamin investor dengan modal yang kecil untuk

lebih besar peluangnya dalam membeli sukuk wakaf. Hal ini bermanfaat sebagai salah alat

kontrol pemerintah daerah di Pulau Lombok dalam hal ini Provinsi NTB untuk meningkatkan

nilai investasi yang risikonya rendah dan memberi kesempatan bagi penduduk NTB untuk

berinvestasi dalam pembangunan kawasan wisata syariah terpadu.

4.3. Efek ganda perekonomian daerah dengan menggunakan sukuk intifa pada aset wakaf

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh M Maulana Hamzah tentang potensi

daerah yang menerbitkan sukuk, bahwa jika dirangking ditingkat provinsi se-nasional potensi

penerbitan sukuk daerah di provinsi Nusa Tenggara Barat tidak masuk dalam lima besar

provinsi tingkat nasional. Pengembangan sukuk daerah yang dikolaborasi dengan sukuk

wakaf merupakan instrumen turunan sukuk yang kompetitif dalam menciptakan pasar modal

syariah yang kuat di NTB, dimana peran dinas-dinas atau departemen yang terkait saling

berkoordinasi untuk meningkatkan nilai wisata syariah di Pulau Lombok.

Pertama sukuk wakaf meningkatkan aspek kemampuan permodalan yang mandiri bagi

pemerintah daerah, sehingga PAD yang tinggi nantinya dapat dialokasikan dalam

(30)

21 sukuknya tinggi menciptakan kepercayaan terhadap iklim investasi yang terus menerus. Efek

jangka panjangny adalah pendapatan daerah nantinya akan didominasi oleh sukuk sehingga

permasalahan pemerintah yang terbiasa saling pinjam-meminjam akan berkurang. Ketiga

sukuk wakaf dalam nilai keislamannya sangatlah tinggi kemaslahatannya bagi masyarakat

selama konsekuensi dari maqashid syariah diperhatikan dan diterapkan dengan hati hati hal

tersebut terbukti dengan keberhasilan nilai tambah yang dihasilkan oleh aset-aset wakaf yang

dikelola secara produktif di negara-negara lain contohya Singapura. Keempat pertumbuhan

aset wakaf nantinya menciptakan kepedulian dan keinginan masyarakat daerah untuk ikut

berkontribusi dalam wakaf baik itu sebagai pengelola maupun pemberi wakaf.

4.4. Analisis BOCR penerbitan sukuk wakaf

Dalam penerbitan suku wakaf ini terdapat benefit, opportunity, cost dan risk bagi penerbit

sukuk maupun investor suku wakaf itu sendiri.

A. Benefit

Keuntungan yang akan diperoleh penerbit dan investor sukuk wakaf. Benefit penerbita

adalah keuntungan yang akan diperoleh penerbit dari penerbitan suku wakaf. Benefit investor

adalah keuntungan yang akan diperoleh investor jika berinvestasi pada suku wakaf tersebut.

Penerbit

• Memperoleh pembiayaan untuk mengembangkan aset wakaf. Selama ini pengembangan aset wakaf terkendali minimnya sumber pembiayaan, sehingga dengan penerbitan suku

wakaf ini menjadi sumber pembiayaan bagi pengembangan aset wakaf da menjadikannya

produktif

• Mengembangkan instrumen keuangan Islam. Dengan adanya suku wakaf ini menjadi inovasi bagi instrumen keuangan Islam dan dapat mengembangkan keuangan Islam itu

sendiri. Sukuk wakaf dalam Beik (2015) adalah instrumen keuangan yang berpotensi

untuk mensejahterakan umat

• Meningkatkan kesejahteraan umat. Badan Wakaf Indonesia akan memperoleh keuntungan dari pengembangan aset wakaf. Menurut Shodiq (2010) nantinya profit tersebut juga dapat

digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan umat seperti penyaluran bantuan pada

(31)

22 Investor

• Instrumen investasi yang sesuai dengan Syariah. Dengan adanya suku wakaf ini investor

dapat berinvestasi pada instrumen keuangan yang sesuai dengan Syariah Islam.

• Imbal Hasil yang kompetitif. Imbal hasil sukuk di pasar Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi konvensional, sehingga dapat dipastikan gimbal hasil yang

nantinya diberikan suku wakaf tidak jauh berbeda dari gimbal hasil suku di Indonesia.

Seperti yang diungkapkan oleh Helbianto (2009) gimbal hasil suku di Indonesia yang

cukup tinggi berkisar antara 8-10%, menjadi daya tarik bagi Investor.

B. Opportunity

Segala Aspek yang berpeluang memberi keuntungan bagi penerbit suku dan investor suku

waqf. Opportunity penerbit adalah aspek yang berpeluang memberi keuntungan bagi penerbit

sukuk wakaf. Opportunity investor adalah aspek yang berpeluang memberi keuntungan bagi

investor jika berinvestasi pada suku wakaf tersebut.

Penerbit sukuk

• Membangun kemandirian umat. Dengan adanya pengembangan aset wakaf produktif sehingga nantinya BWI dapat menyalurkan profit aset wakaf untuk pembangunan sarana

yang dapat meningkatkan pariwisata Syariah untuk dapat meningkatkan perekonomian. • Mencegah terjadinya Capital Outflow. Suku wakaf sudah berkembang dibeberapa negara

seperti Singapura, Arab Saudi, dan Malaysia. Dengan adanya suku wakaf yang diterbitkan

oleh BWI akan mencegah terjadinya Capital outflow.

Investor

• Berperan memajukan umat Islam. Wakaf merupakan saran dalam Islam yang ditujukan untuk keadilan sosial ekonomi. Sehingga Investor suku wakaf secara tidak langsung akan

berperan memajukan ekonomi umat melalui pengembangan aset wakaf tersebut.

C. Cost

Segala aspek yang dapat mengakibatkan beban dalam jangka pendek kepada penerbit suku

maupun Investor. Cost penerbit suku yakni aspek yang dapat menagakibatkan beban dalam

jangka pendek. Cost Investor yakni aspek yang dapat mengakibatkan beban dalam jangka

(32)

23 Penerbit Sukuk

• Penerbitan suku wakaf yang masih mahal. Suku sebagai instrumen keuangan Islam selama

ini belum banyak diketahui orang terlebih lagi suku wakaf merupakan instrumen baru.

Benjamin (2013) mengatakan bahwa masyarakat banyak yang belum mengetahui tentang

sukuk. Sehingga dibutuhkan sosialisasi yang masif untuk meningkatkan minat investor

terhadap sukuk wakaf.

Investor

• Kurang likuidnya sukuk. Menurut Satriani (2014) sukuk di Indonesia belum likuid. Sukuk selama ini belum banyak beredar di masyarakat dan pasokan sukuk juga masih terbatas.

Selain itu investor yang berinvestasi pada sukuk cenderung memegang sukuk sampai jatuh

tempo sehingga menyebabkan sukuk kurang likuid dipasar sekunder.

D. Risiko

Segala aspek yang berpeluang memberkan kerugian jangka panjang kepada penerbit

maupun investor. Risiko penerbit sukuk adalah segala aspek yang berpeluang memberikan

kerugian jangka panjang kepada penerbit sukuk. Risiko investor adalah segala aspek yang

berpeluang memberikan kerugian jangka panjang kepada investor.

Penerbit Sukuk

• Risiko default. Risiko terkait dengan gagalnya pengembangan aset wakaf sehingga tidak dapat memberikan keuntungan kepada penerbit sukuk wakaf.

Investor

• Risiko gagal bayar. Risiko ini sama seperti sukuk secara umum, Hariyanto (2012) mengatakan salah satu risiko sukuk adalah gagal bayar. Risiko gagal bayar sukuk wakaf

terkait gagalnya pengembangan aset wakaf dan pihak penerbit mengalami kerugian

sehingga tidak dapat memberikan gimbal hasil dan redemption kepada investor.

• Risiko pasar. Risiko ini terkait dengan turunnya harga sukuk dipasar sekunder seperti yang dikatakan oleh Hariyanto (2012). Risiko pasar sukuk wakaf adalah apabila harga sukuk

wakaf dipasar sekunder lebih rendah dibandingkan pembelian awal.

(33)

24

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Potensi yang dimiliki Pulau Lombok sebagai pusat pariwisata Syariah terpadu memiliki

dampak positif terhadap pembangunan daerah. Namun kendala dalam penerbitan sukuk

wakaf yakni minimnya dana. Sehingga penerbitan sukuk wakaf merupakan aset solusi dari

rendahnya sumber dana untuk pengembangan aset wakaf produktif. Beberapa hal yang harus

disiapkan oleh BWI untuk penerbitan sukuk wakaf adalah SDM, Regulasi, kesiapan aset

wakaf, kerja sama atau linkage yang berkelanjutan. Penerbitan sukuk wakaf dapat

memberikan keuntungan bagi perekonomian Indonesia khusunya umat Islam. Selain itu

sukuk wakaf juga memiliki beberapa risiko seperti risiko gagal bayar dan inflasi. Namun

manajemen yang baik akan mencegah adanya default dari pengembangan aset wakaf

produktif

5.2. Rekomendasi

Terdapat beberapa rekomendasi penulis untuk pihak terkait dengan adanya penerbitan sukuk

wakaf

• Badan Wakaf Indonesia : Untuk mengkaji peluang penerbitan sukuk untuk membiayai aset wakaf menjadi aset yang produktif dan meningkatkan kinerja pengelolaan terhadap aset

wakaf.

(34)

25

DAFTAR PUSTAKA

BPS, 2015. Banyaknya Usaha Pariwisata Menurut Kabupaten / Kota Provinsi Nusa Tenggara

Barat 2012-2013. http://ntb.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/39. Diakses pada 13

Januari 2016 pkl 16.45

Chukaeuw, S., dkk. 2015. Increasing Halal Tourism Potential at Andaman Gulf in. Journal of

Economics, Bussines and Management, III.(7), 277-279

Duman, teoman. 2011. Value of Islam Tourism offering: Prespective From The Turkish

Experience. World Islmic Tourism Forum, Kuala Lumpur, Malaysia.

http://iais.org.my/e/attach/ppts/12-13JUl2011-. Diakses pada 14 januari 2015 pkl 14.36

Dwisaputra, Roby. 2013. Preferensi Wisatawan Terhadap Sarana Wisata di Kawasan Wisata

Alam Erupsi Merapi. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, Vol. 24 No. 1, April

2013, hal 35-48

Hashim Omar, Hydzulkifli. Ab Rahman, Asmak. Aplikasi Sukuk Dalam Usaha Melestarikan

Aset Wakaf: Pengalaman Pemegang Amanah Wakaf Terpilih. Jurnal Syariah Vol. 21, No. 2 (2013) 89-116

Kumpulan Paper Terbaik Forum Riset Ekonomi dan Keuangan Syariah IV di Universitas

Brawijaya 2015

Nazir. (2003). Metodologi Penelitian, Cetakan Kelima. Jakarta: Ghalia Indonesia

---. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2003 Tentang Kepariwisataan.

(35)

26

BIODATA PENULIS

NAMA : MUHAMMAD SAID HANNAF

TEMPAT TANGGAL LAHIR : BEKASI, 02 SEPTEMBER 1996

ALAMAT : JALAN MT. HARYONO GANG 11 NO. 338B

DEKAT PABRIK KERAMIK DINOYO 65144

NO HP/EMAIL : 081219999795/[email protected]

MOTTO HIDUP : Sebaik baik menjadi manusia bermanfaat dan akhlak

yang baik mengalahkan kecerdasan

RIWAYAT PENDIDIKAN FORMAL

2014- sekarang Sedang menempuh Sarjana (Prodi Ekonomi Islam) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang

2011-2014 SMAN 9 Jakarta Studi IPS

2008-2011 SMP Angkasa Jakarta

2002-2008 SD Islam Asyafi’iyah Jatiwaringin Bekasi

2001-2002 TK Miftahul Amal Bekasi

RIWAYAT PENDIDIKAN NON-FORMAL

2014 Bimbingan Belajar Nurul Fikri Molek Jakarta Timur

2014-2010 Lembaga Tahfidz Quran Iqro Bekasi

2010-2011 Bimbingan Belajar Primagama Jatiwaringin Bekasi

2001-2006 Taman Pendidikan Alquran Al Hikmah Bekasi

PRESTASI

2016 30 Peserta Konferensi Paper Nasional SECOND Fakultas Ekonomi dam

Bisnis Universitas Indonesia

2015 Finalis 10 besar Paper Tingkat Nasional IQTISHODUNA Universitas

Airlangga

2015 Delegasi Olimpiade Ekonomi Islam Temu Ilmiah Regional Jawa Timur di

Universitas Airlangga

2015 Delegasi Olimpiade Ekonomi Islam Temu Ilmiah Nasional di Universitas

Diponegoro

2015 Finalis 5 besar Olimpiade Ekonomi Islam Nasional GSENT Universitas

Gunadarma

2013 Meraih medali perak dalam penelitian Olimpiade Penelitian Siswa Nasional

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(36)

27

BIODATA PENULIS

NAMA : ALFIAN TANJUNG

JURUSAN / ANGKATAN : ILMU EKONOMI (Ekonomi Pembangunan) / 2014

TTL : LUMAJANG, 19 Oktober 1995

Alamat : JalanWatuGilang no 40 B KetawangGede

, Lowokwaru, Malang

Alamat di Lumajang : RT 8 RW 3 DusunPondokRejo, DesaKedungrejo, KecamatanRowokangkung, Kabupaten lumajang

NO HP/EMAIL : 082301278029/[email protected]

RIWAYAT SEKOLAH :

SDN Kedungrejo 03, DesaKedungrejo, KecamatanRowokangkung, KabupatenLumajang

SMPN 1 Yosowilangun, Lumajang

SMAN 3 Lumajang.

(37)

28

BIODATA PENULIS

NAMA : ILHAM JUNEY RAHMAN

JURUSAN / ANGKATAN : ILMU EKONOMI (Ekonomi Pembangunan) / 2014

TTL : Sumberpucung, 01 Juni 1995.

ALAMAT : Perum Oma Campus Blok A6/17 Dau,Kab. Malang

NO HP/EMAIL :083129751091/[email protected]

RIWAYAT SEKOLAH :

SMAN 1 Mataram SMPN 2 Mataram

SDN 6 Sumberpucung dan SDN 1 Mataram

Gambar

Gambar 1 Sumber : siwak.kemenag.go.id
Gambar 2 : Ilustrasi oleh penulis
Gambar. Konsepsi Pusat Layanan Wisata Syariah Terpadu

Referensi

Dokumen terkait