• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Infrastruktur di Kawasan Pa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perkembangan Infrastruktur di Kawasan Pa"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

Kuliah Lapangan Politik di Kota

Semester Ganjil 2016-2017

Perkembangan Infrastruktur di Kawasan Pariwisata Sanur:

Analisa Kondisi Lingkungan, Ekonomi-Sosio Kultural

Masyarakat

Oleh

Koordinator : Tis’ah Harashta Dina

071411331013

Anggota

: VanyFitria

071411331004

Nur Qomariyah

071411331039

Lucky Dwi Nahar

071411333012

Radityo Akbar

071411333019

Program Studi Ilmu Politik

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Airlangga

Surabaya

201

(2)

Saya yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya gunakan tanpa

menyebutkan sumbernya.

Materi ini belum pernah digunakan sebagai bahan untuk tugas pada mata ajaran lain kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa saya menyatakan menggunakannya.

Saya memahami bahwa tugas yang saya kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.”

Koordinator : Tis’ah Harashta Dina NIM : 071411331013 Mata Ajaran : Politik di Kota

Judul Tugas : Perkembangan Infrastruktur di Kawasan Pariwisata Sanur: Analisa Kondisi Lingkungan, Pertumbuhan Ekonomi, serta Kesejahteraan Masyarakat Dosen : Wisnu Pramutanto

Ucu Martanto .

Surabaya, 23 Desember 2016

(Tis’ah Harashta Dina)

(3)

Kota Pariwisata memiliki dimensi pembangunan yang kompleks didalamnya. Fokus pembangunan dan perkembangan pariwisata yakni terletak di Kawasan Pantai Sanur. Konstruksi tata ruang menjadi salah satu fokus utama dalam konteks pembangunan infrastruktur serta monitoring spasial di Kawasan Pantai Sanur yang identik dengan Pariwisata di Urban Areas. Upaya penataan ruang kota tersebut nampaknya tidak bisa terlepas dari agenda politis dan dampak secara empirik pada tiga dimensi lainnya seperti ekonomi, sosio-kultural, dan lingkungan. Kawasan Pantai Sanur tidak hanya dinilai sebagai bentuk seaside dan urban tourism, namun juga cultural-tourism. Pembangunan infrastruktur tidak hanya ditinjau dari segi ekonomi, namun juga bagaimana bisa dinilai sebagai simbol

local wisdom masyarakat setempat dan memberikan pekerjaan kepada masyarakat lokal, sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan kualitas hidup. Realitas pembangunan Kawasan Pariwisata yang kompleks tentunya juga dapat memberikan konsekuensi logis bagi masuknya investasi dan bantuan dari luar negeri (foreign aid). Program Denpasar Sewerage Development Project (DSDP) merupakan satu contoh ketika dampak perkembangan infrastruktur menyebabkan terganggungnya saluran limbah. Program DSDP merupakan proyek jaringan limbah cair yang digagas oleh Jepang bersama Dinas PU. Dalam perjalanannya, proyek ini memberikan banyak manfaat untuk masyarakat melalui pengelolaan limbah yang terintegrasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara ke stake-holders yang terkait. Data-data yang diperoleh juga merupakan data primer hasil pengamatan dan wawancara serta data sekunder dari internet maupun studi literatur.

Keywords: Pariwisata, Infrastruktur, Ekonomi-Sosio Kultural, Lingkungan.

(4)

Statement of Authorship ... .1

III.1 Pola Pembangunan Infrastruktur Pariwisata di Kawasan Sanur...29

III.2 Dampak Pembangunan Infrastruktur Pariwisata Terhadap Kondisi Ekonomi dan Sosio Kultural Masyarakat Denpasar...45

III.2.1 Analisa The Big Push Theory...48

III.2.2 Analisa Growth Machine...50

III.3 Dampak Pembangunan Infrastruktur Pariwisata Terhadap Kondisi Lingkungan...54

III.3.1 DSDP Sebagai Upaya Penanganan Permasalahan Lingkungan...57

III.3.2 Analisis Politik Lingkungan...61

(5)

Lampiran

(6)

Gambar 1. Peta Kota Denpasar...19

(7)

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat, hidayah dan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan laporan kuliah lapangan mata kuliah Politik di Kota ini. Dalam praktik kuliah lapangan mata kuliah Politik di Kota ini, penulis mengambil judul “Perkembagan Infrastruktur di Kawasan Pariwisata Sanur: Analisa Kondisi Lingkungan, Ekonomi-Sosio Kultural Masyarakat”. Praktik kuliah lapangan mata kuliah Politik di Kota dilakukan di Kota Denpasar, Provinsi Bali.

Dalam proses pelaksanaan praktik kuliah lapangan hingga terbentuknya laporan penelitian kuliah lapangan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

 Orang tua penulis yang selalu mendukung segala kegiatan perkuliahan dan akademik.  Kedua dosen pembimbing mata kuliah Politik di Kota, yakni Bapak Wisnu

Pramurtanto dan Bapak Ucu Martanto yang telah memberikan pendalaman materi mata kuliah Politik di Kota, dukungan, serta bimbingan saat pelaksanaan praktik kuliah lapangan di Kota Denpasar

 Teman – teman peserta mata kuliah Politik di Kota yang saling membantu, bekerjasama dan solid dalam kegiatan perkuliahan maupun praktik kuliah lapangan mata kuliah Politik di Kota. Penulis ucapkan terima kasih atas kerja sama dan koordinasi yang baik dalam pembagian tugas ini.

(8)

LPD: Lembaga Perkreditan Desa

Tri Hita Karana: Motto/falsafah kehidupan yang dianut masyarakat Bali KSN: Kawasan Strategis Nasional

RTH: Ruang Terbuka Hijau

RDTR: Rencana Detail Tata Ruang

RDTRK: Rencana Detail Tata Ruang Kota DAS: Daerah Aliran Sungai

(9)

1.1 Latar Belakang Penelitian

Menjamurnya semangat globalisasi dalam semua dimensi kehidupan menjadikan konstelasi politik di Negara Berkembang menuju Quo Vadiz rezim. Tuntutan demokratisasi memunculkan inisiatif adanya bentuk pengakomodasian kreasi seluruh lapisan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam kompleksitas agenda pembangunan. Proses semacam ini tak terhindarkan dari demokrasi politik yang menghendaki adanya perluasan partisipasi dan pemberian otonomi bagi masyarakat lokal.1 Undang-undang tentang Pemerintahan Daerah

No. 22 Tahun 1999 menjadi saksi awal bahwa penyelenggaraan Politik Desentralisasi dianggap esensial sebagai bentuk penekanan pada pola prinsip-prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, pemerataan dan keadilaan, serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.2 Tak terkecuali pada pola perkembangan kota yang saat ini menjadi salah satu titik

fokus pelaksanaan agenda pembangunan. Pembaharuan atas design politik desentralisasi terus dilakukan untuk mewujudkan pemerataan pembangunan yang holistik dan partisipasi masyarakat yang otonom (socio-cultural approach) dalam pembuatan kebijakan daerah termasuk dalam pengelolaan kawasan potensi pariwisata. Penjelasan awal kerangka desentralisasi adalah uraian dari beberapa pendekatan yang empirik dalam pola pengembangan kawasan pariwisata juga merujuk pada resolusi kebijakan dalam memberikan keluasan bagi daerah untuk menaruh perhatian pada ciri khas lokal (local wisdom).

Asumsi dasar dijalankannya pembaharuan atas politik desentralisasi dan praktik otonomi daerah dari tiap rezim pasca-reformasi menjadi agenda utama pembangunan khususnya kawasan potensial pariwisata bagi tiap daerah serta melakukan konstruksi masyarakat yang otonom dan terintegrasi. Indonesia adalah Negara Kesatuan, bentuk politik desentralisasi dimaknai sebagai wujud konkrit pembagian wewenang antara pusat-daerah.

1 Lihat, Vedi R Hadiz, Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia: A Southeast Asia Perspective

(California, USA: Standford University Press, 2010).

(10)

Pada awalnya, wajah desentralisasi bermaksud menciptakan pemerintahan yang baik (good governance) ditingkat lokal. Kehadirannya memang disokong oleh lembaga-lembaga supranasional (neo-institusionalisme) seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank. Wilayah ini mendapatkan fungsi untuk mengimplementasikan Desentralisasi Fiskal,

supporting program dengan tujuan mempercepat kualitas progress ekonomi tiap daerah, pengembangan potensi wilayah, dan terwujudnya kesejahteraan masyarakat sekitar secara merata. Secara teknis, proporsi pembiayaan tiap daerah menjadi adil, rata, dan demokratis. Adanya perspektif kedekatan masyarakat dengan pemimpinnya, interaksi bisa berpola top-down maupun bottom-up.

Secara positif, masyarakat dan pemerintah daerah akan membentuk lingkaran konsensi (concession circle). Politik desentralisasi secara tidak langsung dapat memacu semangat masyarakat lokal untuk berkreasi dalam mengelola sumber daya kawasan pariwisata. Partisipasi demokratis warga telah membiakkan komitmen warga yang luas maupun hubungan-hubungan horizontal seperti halnya kepercayaan (trust), toleransi, kerjasama, dan solidaritas yang membentuk apa yang disebut Putnam sebagai komunitas sipil (civic community).3 Indikator-indikator civic engagement adalah adanya solidaritas sosial dan

partisipasi massal yang merentang pada gilirannya berkorelasi tinggi dengan kinerja pembangunan ekonomi sektor pariwisata dan kualitas kehidupan yang demokratis. Jika dilihat dari bawah, otonomi daerah berarti ruang dan kapasitas daerah melakukan akses terhadap proses kebijakan di tingkat pusat, supaya kebijakan pusat mempunyai basis yang

legitimate di hadapan masyarakat lokal.

(11)

Pembahasan utama dalam tulisan ini akan meninjau desain tata ruang Kota Denpasar memberikan ruang yang luas pada pertumbuhan kapital dan maksimalisasi aktivitas ekonomi didalamnya. Hadirnya agenda dalam mewujudkan kemajuan pariwisata yang identik dengan pembangunan, tidak serta merta hanya melibatkan peran Pemerintah secara holistik. Akan tetapi juga memerlukan berbagai pertimbangan untuk mengembangkan infrastruktur kota, diantaranya kerjasama serta kemitraan yang dibangun dapat memberikan dampak yang signifikan bagi wilayah pariwisata tersebut. Dalam rangka menjangkau fenomena terkait penataan ruang dan perkembangan infrastruktur kota yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi kota wisata, sosio-kultural, dan analisis dampak lingkungan, harus ada uraian mengenai rencana strategis dalam memberikan keputusan politik yang absah. Kewenangan atau otoritas Pemerintah menjadi kunci utama bagaimana keputusan politik tersebut direncanakan, diformulasikan, dan diimplementasikan.

Kawasan Pariwisata Pantai Sanur menjadi fokus dan scope kajian mengenai pendekatan aksiologis Pemerintah dalam melakukan desain tata ruang fisik, yakni pembangunan infrastruktur. Asumsi dasarnya, pembangunan infrastruktur yang tepat guna dapat menjadi salah satu mekanisme penggerak roda perekonomian dan pariwisata di wilayah Pantai Sanur. Selain itu pertimbangan lainnya juga mengenai hubungan yang horizontal (sosio-kultural) masyarakat kawasan strategis pariwisata, dan analisis dampak maupun regulasi terhadap lingkungan sekitarnya. Perkembangan infrastruktur ditinjau secara fisik dan regulatif, serta respon-respon dari masyarakat sekitarnya. Harapan yang baik mengenai adanya pembangunan infrastruktur adalah dapat memberikan pertumbuhan ekonomi yang pesat, lapangan pekerjaan yang luas, arus ekonomi lancar dan juga kesejahteraan yang merata merupakan goals Kota Denpasar dan pembangunan di daerah kota pariwisata.

(12)

masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Secara administrati, semenjak era Otonomi Daerah, hal-hal yang bersifat semangat kedaerahan kembali dimunculkan dalam formulasi kebijakan nasional. Asumsinya, agar nilai-nilai kearifan lokal tersebut tidak luntur apabila telah disahkan dalam legal formal. Sehingga, perubahan sosial yang ada dalam setiap tahun berikutnya tidak menimbulkan kekhawatiran yang berarti. Otonomi Daerah menjadi solusi yang kolaboratif untuk mengakomodasi basic needs masyarakat tanpa harus menyeragamkannya dengan kebudayaan lain. Pembangunan yang ada di Pantai Sanur telah didesain sedemikian rupa tanpa mengurangi nilai-nilai budaya dan filosofis masyarakatnya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah pola pembangunan infrastruktur pariwisata di kawasan sanur?

2. Bagaimanakah dampak pembangunan infrastruktur pariwisata di Kawasan Sanur terhadap kondisi lingkungan Kawasan Sanur?

3. Bagaimanakah pembangunan infrastruktur di kawasan Pantai Sanur dapat berdampak pada perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat (aspek sosio-kultural) di Kawasan Sanur?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pola pembangunan infrastruktur pariwisata di Kawasan Sanur. 2. Untuk mengetahui dampak pembangunan infrastruktur pariwisata di Kawasan Sanur

terhadap kondisi lingkungan Kawasan Sanur.

3. Untuk mengetahui bagaimana pembangunan infrastruktur di Kawasan Sanur dapat berdampak pada perkembangan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat (aspek sosio-kultural) di Kawasan Sanur.

1.4 Manfaat Penelitian

(13)

a) Untuk melatih kemampuan analisis penulis dalam melihat fenomena politik perkotaan, khususnya dalam kerangka tata ruang perkotaan.

b) Untuk memberikan gambaran peneliti bagaimana pembangunan infrastruktur pariwisata di Kawasan Sanur dapat berdampak pada kondisi lingkungan, perkembangan ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat Kawasan Sanur.

2) Bagi Mahasiswa

a) Untuk memberikan gambaran bagaimana fenomena politik perkotaan di Kawasan Sanur, Kota Denpasar, khususnya dilihat dalam kerangka tata ruang perkotaan. b) Untuk memberikan informasi bagaimana perkembangan pembangunan

infrastruktur pariwisata di Kawasan Sanur dapat berdampak pada kondisi lingkungan, perkembangan ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat Kawasan Sanur.

3) Bagi Masyarakat Umum

a) Untuk memberikan informasi terkait dinamika politik perkotaan dengan perspektif tata ruang.

b) Untuk memberikan informasi bagaimana pembangunan infrastruktur pariwisata dapat berpengaruh dalam beberapa aspek kehidupan, yakni lingkungan, perkembangan ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat.

1.5 Kerangka Teori

(14)

di atas, peneliti menggunakan keranga teori yang relevan untuk memahami dan menganalisis data yang ditemukan di lapangan.

Kajian Teori Politik Lingkungan

Kajian mengenai Politik Lingkungan merupakan kajian dengan melihat persoalan sumberdaya alam sebagai persoalan sosial-politik, oleh karenanya teori ini berupaya untuk melihat bagaimana perubahan lingkungan yang terjadi, akibat dari penguasaan, penggunaan kekuasaan dan kepentingan manusia, khususnya dalam konteks sosial-politik. Teori ini pada dasarnya juga hadir untuk merespon berbagai teori sosial yang telah ada sebelumnya, namun masih belum menempatkan alam dan lingkungan hidup sebagai variabel yang mempengaruhi kehidupan manusia. Alam dikesampingkan eksistensinya dan oleh karenanya eksploitasi dan perusakan lingkungan hidup menjadi hal yang tidak dapat dihindarkan. Dalam teori politik lingkungan, asumsi bahwa lingkungan hidup dan alam yang kian tereksploitasi dan rusak akibat kepentingan kehidupan manusia menyebabkan perubahan lingkungan yang tidak bersifat netral. Ketidaknetralan perubahan lingkungan tersebut merupakan dampak politik lingkungan yang melibatkan aktor-aktor yang berkepentingan, baik aktor dalam scope lokal, regional, maupun internasional.

Kajian The Big Push Theory

Pola pertumbuhan ekonomi yang ada di dalam suatu kawasan menjadikan salah satu sumber

(resources) yang dominan terhadap sirkulasi ekonomi yang ada. Rodenstein Rodan dalam teorinya menjelaskan tentang bagaimana leading sector mempunyai peranan yang vital dalam kebutuhan ekonomi berkelanjutan. Pengelolaan sektor utama ini harus bertujuan untuk menjaga keseimbangan sirkulasi kapital dan menghindari bentuk economic backwardness.

(15)

cukup signifikan. Pada taraf output, nantinya sektor ini akan mempunyai daya tarik investasi, sehingga dapat menunjang perkembangan dibeberapa sektor tambahan lainnya.

Kajian Teori Mesin Pertumbuhan (Growth Machine)

Kajian mengenai teori mesin pertumbuhan pada dasarnya adalah kajian yang melihat bagaimana dinamika pertumbuhan perkotaan, disebabkan oleh mesin pertumbuhan dalam perkotaan tersebut. Mesin pertumbuhan yang berada pada entitas kota tersebutlah yang hadir dalam menciptakan perputaran kegiatan ekonomi yang berdampak pada pertumbuhan perkotaan. Tesis mesin pertumbuhan lebih berfokus pada isu pembangunan perkotaan yang sangat spesifik. Dalam kajiannya yang lebih komprehensif, kajian mengenaimesin pertumbuhan tidak concern terhadap pertanyaan yang meliputi “siapa yang berkuasa?”, tetapi lebih concern terhadap siapa yang memiliki pengaruh lebih besar terhadap restrukturasi fisik atas tata ruang, kenapa, serta dengan dampak yang seperti apa. Dengan kehadiran pihak-pihak private yang cukup penting dan berpengaruh, maka konsekuensi logisnya adalah bahwa terdapat hubungan penting antara pembuat keputusan lokal dan non-lokal, selayaknya harmonisasi antara kapital parokial, dan metropolitan.

(16)

GAMBARAN UMUM

2.1 Sejarah Singkat Kota Denpasar

Sejarah perkembangan pariwisata di Bali yang tercatat dalam sejarah untuk pertama kalinya adalah pada tahun 1579, yakni ketika Cornellis de Houtman melakukan ekspedisi untuk mengelilingi dunia, dalam rangka menemukan daerah penghasil rempah-rempah yang baru. Kedatangan mereka yang ternyata tidak berhasil dalam menemukan sumber rempah-rempaah baru, justru menemukan kondisi serta situasi kehidupan masyarakat yang unik, dengan kondisi yang tak pernah dijumpai sebelumnya dengan daerah lain, serta memiliki daya tarik alam yang indah. Hal tersebutlah yang akhirnya menjadi laporan perjalanan ekspedisi mereka di Bali kepada raja Belanda. Dari titik tersebut lalu perkembangan pariwisata di Bali kembali diperkuat dengan kedatangan kapal dagang Belanda KMP (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) ke Kota Denpasar, bersama dengan tamu-tamu dari Eropa pada tahun 1920. Kedatangan kapal dagang Belanda tersebut selain bertujuan untuk mencari rempah-rempah, juga sekaligus agar mendapat penumpang dalam perjalanan ke Indonesia, dimana pada kala itu Bali diperkenalkan sebagai The Island of God. Banyak penumpang yang berasal dari Eropa tersebut berlatar belakang sebagai seorang seniman, yang ketika mereka kembali ke negaranya masing-masing, cerita dan eksotika Bali tersimpan dalam berbagai karya yang mereka ciptakan. Sehingga dari titik tersebutlah, kepopuleran Bali mulai tersebar secara luas ke mancanegara.

(17)

Beach ini didirikan pada tahun 1963, dan diresmikan pada tahun 1966, dan merupakan satu-satunya hotel berlantai sembilan dengan ketinggian lebih dari 15 meter di Bali. Jumlah kedatangan wisatawan di Bali terus meningkat dari tahun ke tahun, dimana peningkatan kedatangan wisatawan tersebut tidak hanya berasal dari kategori wisatawan lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara.

Kota Denpasar adalah salah satu destinasi wisata unggulan yang ada di Indonesia dan berlokasi di Provinsi Bali. Dengan penawaran kekayaan alam, budaya, serta karakteristik masyarakat yang unik, hal tersebut menjadikan Provinsi Bali dan Kota Denpasar sebagai obyek pariwisata berkelas dunia, dan mendatangkan gelombang wisatawan yang cukup besar, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh Kota Denpasar dibandingkan dengan daerah lainnya di Provinsi Bali adalah karena Kota Denpasar hadir sebagai “first image” dari pada Bali.4 Maksud daripada first

image tersebut merupakan gambaran yang diberikan pada Kota Denpasar sebagai wajah terdepan sekaligus miniatur Bali oleh orang-orang secara umum ketika mendengar nama Bali. Hal ini menjadi identitas serta keuntungan tersendiri bagi Kota Denpasar. Selain sebagai first image, keunggulan lainnya yang turut dimiliki oleh Kota Denpasar, yakni berdekatan dengan lokasi bandara udara utama di Bali. Dengan adanya pintu masuk bandara udara yang berlokasi tak jauh dari Kota Denpasar, maka bertambah pula nilai tawar Kota Denpasar sebagai wajah Provinsi Bali. Hal ini menjadikan Pemerintah, baik pusat maupun daerah cukup concern terhadap kondisi dan perkembangan yang ada di Kota Denpasar.

Kota Denpasar sebagai kota otonom sekaligus juga merupakan ibukota Provinsi Bali, dan pusat pelayanan wilayah Bali bagian selatan dengan fungsi sebagai Kota Pusat Pemerintahan, Pusat Pelayanan Barang dan Jasa, Pusat pelayanan Pendidikan Tinggi, pusat permukiman yang memiliki pengaruh langsung yang kuat kepada wilayah sekitarnya. Selain

(18)

itu sebagai salah satu tujuan wisata internasional, Pulau Bali yang telah beberapa kali mendapat julukan Pulau Terindah di dunia, dengan ibukotanya (Provinsi Bali) yaitu Kota Denpasar sekaligus juga merupakan tujuan perjalanan internasional sehingga Kota Denpasar juga merupakan Kota Internasional yang harus mampu mengakomodasi kebutuhan sarana dan prasarana penunjang standar internasional dengan tetap menjaga jatidiri kota yang bernuansa budaya Bali

Sejarah terbentuknya kota Denpasar sendiri berawal dari kabupaten Badung, bahwa sejak tahun 1980 Denpasar mulai membentuk kota administratif dalam kabupaten Badung.5

Selanjutnya pada sekitar 1991 mulai memisahkan diri dari Kabupaten Badung, sehingga menjadi kotamadya yang sudah mulai dirintis ketika tahun 1980 sebagai kota adminstratif. Pada tanggal 27 Februari 1992 melalui UU. No. 1 Tahun 1992 Denpasar diresmikan dengan status Daerah Kota. Pada awal pembentukannya Kota Denpasar memiliki Luas wilayah 12.398 Ha, dengan jumlah penduduk 335.196 jiwa yang tersebar pada 3 wilayah kecamatan. Selanjutnya pada tahun 1998, terjadi segmentasi dari ketiga kecamatan, hingga akhirnya terbentuk wilayah kecamatan yang baru lagi yakni kecamatan Denpasar Utara.

Perkembangan wilayah administratif kota Denpasar sendiri hingga sekarang terbagi menjadi 4 wilayah administratif yang disesuaikan dengan empat arah mata angin, yaitu barat, timur, utara dan selatan. Menjelang 15 tahun setelah pembentukannya, Kota Denpasar telah tumbuh menjadi Kota Besar dengan pertambahan jumlah penduduk yang pesat, pertumbuhan perekonomian dan pola ruang kota yang semakin padat. Pada tahun 2007 jumlah penduduk Kota Denpasar telah berkembang menjadi 608.595 jiwa. Di sisi lain jumlah sediaan ruang Kota Denpasar adalah tetap, kecuali adanya tambahan ruang reklamasi Pulau Serangan sehingga luas wilayah bertambah sejak tahun 1999 menjadi 12.778 Ha. Secara geografis wilayah Kota Denpasar berada antara 08035’31“-08044’49“LS dan 115010’23“-115016’27“ BT dengan luas wilayah 127,78 Km² dengan batas-batas sebagai berikut :

(19)

a. Sebelah Utara : Kecamatan Mengwi dan Abiansemal (Kabupaten Badung) b. Sebelah Timur: : Kecamatan Sukawati (Kabupaten Gianyar) dan Selat Badung c. Sebelah Selatan : Kecamatan Kuta Selatan (Kabupaten Badung) dan Teluk Benoa d. Sebelah Barat : Kecamatan Kuta Utara dan Kuta (Kabupaten Badung)

Sedangkan secara administrasi, Kota Denpasar terdiri dari 4 wilayah kecamatan yang terbagi menjadi 27 desa dan 16 kelurahan sebagai berikut.

No Kecamatan Desa Kelurahan Dauh Puri Kauh, Dauh Puri Klod, Dauh Puri Kangin, Tegal Harum, Tegal Kertha, Padang Sambian Kaja

Dauh Puri, Pemecutan, Padang Sambian

(20)
(21)

2.2Keadaan dan Perkembangan Penduduk Kota Denpasar

(22)

Berdasarkan angka statistik, jumlah penduduk Kota Denpasar dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Laju perkembangan penduduk yang diakibatkan migrasi penduduk. Sedangkan distribusi penduduk Kota Denpasar sendiri adalah sebagai berikut.

No Uraian Distribusi Penduduk Tahun kepadatan penduduk yang ada di Kota Denpasar. Kepadatan penduduk itu sendiri adalah banyaknya penduduk per kilometer persegi yang merupakan perbandingan jumlah penduduk dan luas wilayah. Kepadatan penduduk di Kota Denpasar pada tahun 2012 telah mencapai 680.919 jiwa /km2. Kepadatan untuk masing-masing kecamatan di Kota Denpasar adlaah sebagai berikut.

a. Kecamatan Denpasar Barat sebesar 8.711 jiwa/km2 b. Kecamatan Denpasar Timur sebesar 6.117 jiwa/km2 c. Kecamatan Denpasar Utara sebesar 5.862 jiwa/km2 d. Kecamatan Denpasar Selatan sebesar 3.970 jiwa/km2

Status pertumbuhan penduduk Kota Denpasar dapat dinilai cukup tinggi. Menurut data Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Bali tahun 2010 oleh Pemerintah Provinsi Bali, angka kepadatan penduduk di Kota Denpasar menempati posisi tertinggi dengan nilai 6.170 jiwa/km2, dan dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 4,00%. Angka tersebut

(23)

Denpasar tersebut dikarenakan perbandingan antara luas kota dengan jumlah penduduk yang ada di Kota Denpasar sangat besar perbandingannya, dibandingkan dengan daerah lain. Sehingga, dengan luas daerah sebesar 127.78 km2, dan dengan jumlah penduduk sebanyak

788,445 jiwa, maka tingkat kepadatan penduduk yang ada di Kota Denpasar sangat tinggi. Hingga pada akhirnya, dengan perbandingan luas daerah dengan jumlah penduduk yang sedemikian rupa, sekitar 6.170 jiwa penduduk Kota Denpasar tinggal per kmpersegi.

(24)

2010-2015, yakni sebesar 0,01% dari tahun 2010 yang sebesar 4,63% menjadi 4,64%. Dalam perbandingan tersebut, laju pertumbuhan di Kota Denpasar lebih cepat sebesar 0,01% dalam rentan tahun 2010-2015 dibandingkan dengan Kabupaten Badung.

2.3Keadaan dan Perkembangan Ekonomi Kota Denpasar

Kota Denpasar selain sebagai first image Bali, juga merupakan kota terpadat seperti yang telah dijelaskan pada bagian atas. Lebih jauh lagi, Kota Denpasar merupakan kota yang memiliki Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita tertinggi kedua di Provinsi Bali. Perkembangan ekonomi Kota Denpasar dipengaruhi oleh situasi dan kondisi perekonomian nasional maupun global. Pembangunan yang telah dilaksanakan memberikan dampak positif terhadap perekonomian Kota Denpasar. Kegiatan kepariwisataan di Bali memiliki peranan sebagai penarik dan pendorong tumbuhnya sektor/lapangan usaha perekonomian tersebut. Untuk mengukur tingkat kemajuan pembangunan ekonomi di suatu daerah, salah satu indikator penting yang dapat digunakan adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi sendiri dapat diukur berdasarkan nilai PDRB ( Produk Domestik Regional Bruto) dan PDRB perkapita. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, secara umum perekonomian Kota Denpasar terus mengalami peningkatan. Selain besaran pertumbuhan per sektor di Kota Denpasar pada tahun 2012 dapat pula dilihat sumber pertumbuhan yang memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi Kota Denpasar tahun 2012. Pertumbuhan PDRB Kota Denpasar sebesar 7,18 persen pada tahun 2012 disumbangkan dari sektor tersier sebesar 5,73 persen, sektor sekunder adalah penyumbang sumber pertumbuhan berikutnya yaitu sebesar 1,27 persen, sedangkan pertumbuhan yang terkecil disumbangkan dari sektor primer sebesar 0,19 persen.

(25)

dimana hal ini diwujudkan dengan menggalakkan penggunaan ruang terbuka hijau seperti Lapangan Puputan untuk berbagai kegiatan masyarakat, disamping pembinaan kesenian tradisional. Pendapatan primer daripada masyarakat Kota Denpasar tetap bertumpu pada pertanian, disamping sektor pariwisata dan jasa. Namun dengan perkembangan pembangunan pariwisata di Bali dan Denpasar yang gencar dilakukan Pemerintah, maka sektor industri pariwisata khususnya di Kota Denpasar juga semakin gencar dilakukan oleh masyarakat. potensi pariwisata Kota Denpasar dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai lahan bisnis. Indikator perkembangan industri pariwisata tersebut dapat dilihat melalui kuantitas wisatawan yang berkunjung

(26)

2011 2012 2013 2014 2015

Grafik Perkembangan Kedatangan Wisatawan Mancanegara Ke Bali Tahun 2011-2015

Ga mbar 2. Grafik Perkembangan Kedatangan Wisatawan Mancanegara Ke Bali Tahun

2011-2015

Sumber: Dinas Pariwisata Kota Denpasar

Peningkatan secara signifikan atas kedatangan wisatawan ke Bali juga tentunya berdampak pada peningkatan kedatangan wisatawan di Kota Denpasar, sebagai first image

(27)

tahun 2015, yakni sejumlah 580.450 orang, dengan jumlah wisatawan mancanegara sejumlah 495.414 orang dan wisatawan domestik sejumlah 85.036 orang. Walaupun pada tahun 2015 tersebut adalah tahun dimana wisatawan paling banyak berkunjung, namun peningkatan tersebut lebih signifikan terjadi paa wisatawan yang berasal dari mancanegara dibandingkan dengan wisatawan domestik. Penurunan jumlah wisatawan domestik paling rendah terhadi pada tahun 2015, dimana pada tahun yang sama tersebut juga terjadi kenaikan jumlah wisatawan mancanegara tertinggi.

2011 2012 2013 2014 2015

0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000

Grafik Perkembangan Wisatawan Yang Menginap di Kota Denpasar Tahun 2011-2015

Ga mbar 3. Grafik Perkembangan Wisatawan Yang Menginap di Kota Denpasar Tahun

2011-2015

Sumber: Dinas Pariwisata Kota Denpasar

(28)

495.414 orang. Kondisi tersebut disikapi dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Denpasar bekerjasama dengan pelaku pariwisata seperti membangun pencitraan dengan inovasi (pembuatan event pariwisata), pelaksanaan promosi terpadu melalui media cetak maupun elektronik, menyebarluaskan materi promosi dalam bentuk brosur-brosur (Denpasar Info, Pesona Denpasar, Discover Denpasar, Denpasar To Day,Map of Denpasar dan lain-lain), VCD, mengikuti promosi dan roadshow, pemanfaatan teknologi melalui website.6 Dengan terus meningkatnya kunjungan wisatawan baik mancanegara

maupun lokal di Kota Denpasar, pada dasarnya berdampak secara positif terhadap pergerakan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya pada sektor industri pariwisata.

Eksistensi sebuah pariwisata tidak hanya diukur dari kuantitas pengunjung, akan tetapi juga laju perkembangan insrastruktur dan kondisi sosio-kultural masyarakat yang ada di daerah itu. Pengelolaan Sumber Daya Alam juga sangat penting untuk memastikan tidak ada dominasi local strongman. Disisi lain, dalam menerapkan pola manajerial yang baik, harus ada Sumber Daya Manusia yang memadai. Hal ini tentunya menjadi peluang bagi masyarakat sekitar untuk terus memajukan pariwisata tanpa menghilangkan kearifan lokalnya

(local wisdom).

Sebagai Kota yang menjadi tujuan Wisata baik Mancanegara maupun Nusantara, Kota Denpasar banyak memiliki potensi dan produk unggulan yang mendukung pengembangan Sektor Wisata. Pariwisata sebagai salah Potensi Unggulan daerah di Kota Denpasar meliputi obyek wisata kota, daya tarik wisata dan atraksi wisata. Obyek Wisata Kota ini tersebar di seluruh wilayah Kota Denpasar meliputi tempat-tempat yang dapat memikat kedatangan wisatawan ke Kota Denpasar. Sedangkan daya tarik pariwisata, sebagaimana halnya dengan daya tarik Pulau Dewata lebih disebabkan karena keunikan dan budaya masyarakat. Hal inilah yang memberikan nuansa pada berbagai atraksi wisata yang ada di kota Denpasar. Atraksi tersebut berupa tari-tarian sakral, even-even nasional dan

(29)

internasional yang dilaksanakan di Kota Denpasar, permainan tradisional dan sebagainya. Berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kota dalam rangka menata potensi obyek-obyek wisata kota, dalam perjalanannya telah diikuti pula oleh penataan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten lainnya. Penataan ini disatu pihak dapat memberikan nilai tambah pada pariwisata Kota, tetapi dapat pula menjadi penyebab beralihnya kunjungan wisatawan ke obyek wisata di luar Kota Denpasar.

BAB III

TEMUAN DAN ANALISIS DATA

(30)

Denpasar sebagai ibukota Provinsi Bali sekaligus menjadi destinasi pariwisata nasional yang sangat penting dan menjadi perhatian dunia. Dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, berita dan permasalahan yang muncul di Kota Denpasar sudah dapat tersebar di berbagai media nasional maupun internasional. Sebagai first image Bali, serta sebagai salah satu potensi wisata unggulan Indonesia, Denpasar memiliki posisi yang sangat strategis dan memberikan dampak yang sangat luas bagi pembangunan di kota Denpasar. Selain berdampak secara positif terhadap pembangunan, hal ini juga menjadi tantangan besar bagi masyarakatnya, khususnya dalam melihat bagaimana prospek di masa depan. Terlepas dari begitu banyaknya persoalan yang dihadapi, tantangan yang pertama dapat dirasakan adalah tampilan visual atau wajah kota dengan segala aktifitas didalamnya. Sebagaimana manusia, tampilan fisiknya paling tidak mencerminkan kepribadiannya, demikian juga sebuah kota, tampilan visualnya paling tidak mencerminkan budaya masyarakatnya.7

Untuk melihat pola pembangunan infrastruktur pariwisata di Kawasan Sanur, Denpasar, maka fokus pola pembangunannya bertumpu pada Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Denpasar (RTRW). Kota Denpasar dinilai memiliki peluang pengembangan wilayah yang pesat. Namun pembangunan yang dilakukan di Kota Denpasar berbeda dengan pembangunan yang ada di kota lain, karena visi pembangunan Kota Denpasar bertumpu pada perwujudan Denpasar Kota Berbudaya dilandasi Tri Hita Karana, sehingga membutuhkan kearifan dalam konsep penataan ruang, yang memberi ruang kepada peningkatan kegiatan perekonomian dengan tetap memelihara kelestarian budaya dan lingkungan wilayah Kota Denpasar. Berdasarkan Perda Kota Denpasar No. 27 Tahun 2011, RTRW didasarkan atas azas Tri Hita Karana, keterpaduan, keserasian-keselarasan-keseimbangan, keberlanjutan, keberdayagunaan-keberhasilgunaan, keterbukaan, kebersamaan-kemitraan, perlindungan kepentingan umum, kepastian hukum dan keadilan, serta akuntabilitas.

(31)

Proses perumusan dan penyusunan RTRW Kota Denpasar melalui tahapn yang panjang, karena penyusunan dan peresmiannya sendiri tertunda selama 3 tahun dengan alasan RTRW Provinsi Bali yang masih belum selesai. Karena memang pada dasarnya bahwa peraturan legal formal, pada konteks ini adalah RTRW haruslah bersifat hierarkis agar peraturan yang berada dibawahnya searah dengan peraturan yang lebih tinggi. Selanjutnya problem perencanaan RTRW Kota Denpasar juga ikut dipengaruhi dengan masuknya perencanaan Kawasan Strategis Nasional (KSN) SARBAGITA, yang memerlukan penyesuaian-penyesuaian materi teknis. Didalam RTRW Kota Denpasar, kawasan RTH dipertahankan sebesar 36,84% dengan rincian RTH Publik 21,84% dan RTH Privat 15%, suatu hal yang patut di apresiasi dimana lahan pertanian dapat diajukan menjadi RTH Publik dengan fungsi eko wisata, selaras dengan filosofi kehidupan masyarakat Bali yakni selaras dengan alam. RTRW Kota Denpasar terdiri dari 5 Wilayah Pengembangan yang memerlukan RDTRK, sejauh ini telah disusun 3 RDTRK dan masih menyisakan 2 RDTRK. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan, seluruh RDTRK harus disahkan melalui Peraturan Daerah. Sampai saat ini ke tiga RDTRK yang telah disusun belum mendapatkan pengesahan, demikian pula 2 RDTRK belum juga disusun. Dengan demikian masih terjadi ‘kekosongan’ dasar hukum dalam mengaplikasikan Rencana Tata Ruang Kota Denpasar. Kesenjangan ini kedepan akan berdampak terhadap pengelolaan dan pengendalian tata ruang di kota Denpasar.8

3.1.1 Pengembangan Wilayah, Tata Ruang dan Lingkungan Hidup

Permasalahan pembangunan di bidang tata ruang dapat disampaikan sebagai berikut:

1. Pengembangan wilayah ke depan diarahkan pada pengembangan untuk mengakomodasikan sektor-sektor unggulan dengan mempertimbangkan keberadaan

(32)

dan tingkat kepentingan antar sektor terhadap wilayah dalam hal potensi dengan permasalahan-permasalahan terkait dengan ketersediaan sarana-prasarana untuk mendukung pengembangan wilayah.

2. Permasalahan yang ada pada pengelolaan sumber daya alam, baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dengan memperhatikan daya tampung dan daya dukungnya melalui peran serta aktif masyarakat adalah semakin banyaknya sampah yang diproduksi masyarakat dengan kemampuan pengadaan armada angkutan yang terbatas. Permasalahan lainnya adalah terjadinya alih fungsi lahan pertanian yang luar biasa, sehingga dikhawatirkan daya dukung alam semakin menurun yang berakibat pada kekurangharmonisan alam.

3. Penyusunan data dan informasi untuk perencanaan pembangunan sesuai amanat pasal 152 Undang-undang No. 32 Th. 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang pada dasarnya harus dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional belum dapat direalisasikan dan keterkaitan serta konsistensi antara perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan belum memenuhi harapan. Proyeksi hambatan dibidang perencanaan dan pengendalian pembangunan antara lain: (1) Keterbatasan SDM yang memiliki kemampuan profesi di bidang planologi; (2) Ketersediaan data base untuk perencanaan pembangunan yang terintegrasi; (3) Ketidaktaatan antara produk rencana dengan penganggaran program/kegiatan; dan (4) kompleksitas kebutuhan dan kepentingan masyarakat akar rumput yang perlu diakomodasi dalam perencanaan pada kondisi anggaran pemerintah yang terbatas.

4. Prediksi kondisi sumber daya alam kedepan tidak jauh berbeda dengan kondisi saat ini apabila tidak ada upaya konservasi dalam pengelolaan sumber daya alam yang

(33)

tidak menimbulkan adanya kerusakan terhadap lingkungan, bahkan sebaliknya agar

terwujudnya suatu proses pengelolaan secara berkelanjutan dan sumber daya alam

yang dikelola agar dapat menunjang pengembangan perekonomian masyarakat

daerah, memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi ditingkat konsumen dan

pasar lokal, regional, nasional maupun internasional.

5. Pengelolaan sumber daya alam harus dapat dilakukan secara optimal dan berkualitas untuk memenuhi kebutuhan dari generasi kegenerasi secara berkelanjutan seperti:

hutan, pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan dan perairan dapat

dikembangkan sesuai perkembangan teknologi dan peraturan perundang-undangan

yang berlaku, kondisinya dapat dipertahankan dan tetap mampu memberikan manfaat

yang tinggi bagi pemenuhan hidup masyarakat. Terhadap pemanfaatan sumber daya

alam antara daratan dan lautan agar terjadi keseimbangan dan pemanfaatan sumber

daya alam laut agar secara intensif dan berkelanjutan. Disamping itu sumber daya

hayati dan air yang dimiliki selalu dapat terlindungi dari upaya pengerusakan dan

pencemaran serta dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan daya dukung

lingkungannya.

6. Dalam pengelolaan hutan mangrove adalah dengan merubah paradigma berfikir masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas perambahan, alih fungsi lahan dan yang

lebih penting adalah melakukan langkah-langkah konservasi bersama masyarakat,

dikaitkan dengan pengembangan iptek sesuai perkembangan jaman.

7. Untuk menjamin ketersediaan sumber air secara berkesinambungan diperlukan upaya-upaya pengelolaan sumber daya air yang handal melalui pendekatan ekosistem yang

mencakup pentingnya konservasi tanah, dan pengelolaan sumber daya air yang

(34)

8. Persoalan pencemaran (air, tanah dan udara) menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya ketidakseimbangan sistem lingkungan secara keseluruhan dalam

menyangga kehidupan manusia dan keberlanjutan pembangunan dalam jangka

panjang, rendahnya kesadaran masyarakat, lemahnya pengawasan serta penegakan

hukum lingkungan terhadap si pelaku pencemaran (air, tanah dan udara), serta belum

optimalnya pemanfaatan teknologi dan pola penanganan sampah dan limbah yang

tepat dan terpadu.

3.1.2. Sarana dan Prasarana

Permasalahan pembangunan di bidang peningkatan sarana dan prasarana lima tahun mendatang telah dirumuskan oleh Pemerintah sebagai berikut:

1. Penanganan sanitasi yang akan dihadapi adalah konsistensi implementasi sistem penanganan limbah rumah tangga, limbah industri termasuk limbah rumah sakit dan B3 yang dihadapkan masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap betapa pentingnya penanganan limbah secara terkonsentrasi untuk terwujudnya lingkungan sehat.

2. Pengelolaan persampahan dimana volume sampah yang semakin hari semakin meningkat pesat seiring peningkatan jumlah penduduk masih terkendala dengan keterbatasan penanganan sampah ke lokasi TPA sehingga berdampak terhadap ancaman pencemaran lingkungan.

(35)

Kerangka penjelasan diatas dapat dijelaskan kembali pada ranah implementatif. Pasca kejadian bom Bali, baik Pemerintah maupun masyarakat Bali melakukan refleksi kritis terkait kejadian ini. Masalah keamanan menjadi salah satu hal utama yang perlu dibenahi dan diformulasikan kembali. Adanya ketakutan para wisatawan juga menjadi ancaman bagi eksistensi pariwisata di Bali, termasuk Denpasar.

3.1.4 RTRW dan Filosofi Tri Hita Karana Sebagai Dasar Pembangunan Infrastruktur

Pariwisata

Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Nasional (RTRWN), yang selanjutnya diakomodasi dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Bali 2009-2029, menegaskan bahwa Kota Denpasar yang terintegrasi dalam Kawasan Perkotaan Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan dalam sistem perkotaan nasional ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Selanjutnya Perkotaan Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan juga sekaligus ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dari pertimbangan sudut kepentingan ekonomi nasional, dengan nama Kawasan Metropolitan Sarbagita. Selanjutnya telah pula ditetapkan bahwa Kota Denpasar beserta Kawasan Perkotaan Kuta merupakan Kota Inti dari Kawasan Metropolitan Sarbagita yang didukung beberapa pengembangan Kota Satelit seperti Kawasan Perkotaan Badung (Mangupura), Gianyar, Tabanan, Ubud dan Jimbaran, serta kawasan perkotaan pendukung lainnya.

(36)

Pertumbuhan Kota Denpasar di samping telah menghasilkan kemajuan-kemajuan dalam berbagai bidang penghidupan dan kehidupan perkotaan, juga telah menimbulkan masalah pembangunan dan perkembangan perkotaan yang tidak kecil. Permasalahan yang langsung dapat dirasakan adalah meningkatnya kebutuhan lahan permukiman, makin tingginya kecenderungan alih fungsi lahan sawah, kemacetan lalu lintas, menurunnya tingkat pelayanan sarana dan prasarana perkotaan, masalah sosial kependudukan dan lapangan kerja.

Permasalahan-permasalahan tersebut jika tidak segera ditangani pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kawasan perkotaan. Konsekuensi dari Kawasan Metropolitan yang telah terjadi, bagi Kota Denpasar sebagai Kota Inti, selain untuk memenuhi kebutuhan pelayanan sarana dan prasarana wilayahnya sendiri, namun juga dibutuhkan pelayanan terhadap penduduk komuter (ulang alik) dari kawasan sekitar sehingga koordinasi penanganan infrastruktur perkotaan lintas wilayah sangat dibutuhkan, karena pergerakan dan pola aktivitas masyarakat pada kawasan tersebut sudah menyatu dan saling terkait.

Dalam hal ini semua penjelasan mengenai bagaimana pertimbangan keputusan atas Peraturan Daerah Kota Denpasar No. 27 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Denpasar tahun 2011-2031. Sebenarnya tidak terlepas dari berbagai keputusan yang dibuat negara atas kepentingan nasional dan pertimbangan kesejahteraan, yang dalam hal ini tidak begitu saja berjalan dengan mudah. Banyak masalah dan tantangan yang terus dihadapi oleh implementasi peraturan RTRW yang telah dibuat. Banyak sekali kendala umum maupun khusus yang terus menjadi bendungan pemerintah kota Denpasar untuk memperjuangkan kepentingan daerah sebagai daerah yang otonom.

(37)

sendiri tidak terlepas dari filsafah hidup dari masyarakat Bali sendiri. Kondisi ini menjadi tantangan berat bagi Pemerintah dan Masyarakat Kota Denpasar, terkait dengan Visi Pembangunan yang telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Denpasar 2005-2025 yaitu: ”Denpasar Kota Berbudaya, Dilandasi Tri Hita Karana” visi yang merupakan impian yang akan diwujudkan mengandung 2 kata kunci: berbudaya dan Tri Hita Karana.

Berbudaya diartikan sebagai landasan, sebagai pemberi identitas, dan sebagai kendaraan untuk menuju kemajuan di segala bidang. Tri Hita Karana adalah tiga unsur keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan manusia (pawongan), dan manusia dengan lingkungannya (palemahan), yang dapat mendatangkan kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia. Dengan begitu, pembangunan infrastruktur dan segala bentuk perkembangan daerah kota Denpasar tidak akan pernah melepaskan Tri Hita Karana sebagai landasan hidup masyarakat Bali.9

Upaya untuk menjadikan Denpasar sebagai Kota berbudaya dilandasi Tri Hita Karana bukanlah persoalan yang mudah dan sederhana. Hal tersebut berdasarkan struktur sistem sosial inti masyarakat Bali dan Denpasar yang pada dasarnya masih tradisional dan konservatif, namun harus bertabrakan dengan kebijakan pembangunan yang condong ke arah

Urban Development. Karena kita semua mengetahui dalam perkembangan kota Denpasar khususnya, kota ini pasti dibentuk dari desa yang awalnya tradisional yang di dalamnya memiliki pusat yaitu kerajaan. Kemudian jika kita berfikir sejenak mengenai transformasi bahwa hal tersebut akan merubah konsepsi tentang bagaimana sejarah kota itu terbentuk. Yang mana jika dalam kasus tradisional maka konsep berfikir pembangunan hanya pada aspek bagaimana proses itu dapat berjalan dan masyarakat berjalan harmonis sesuai falsafah

(38)

hidup mereka. Namun, disisi lain transformasi dari tradisional ke bagaimana bentuk pembangunan saat ini lebih cenderung ke Urban Development yang mana secara tidak langsung titik fokus pembangunan akan berubah dratis.

Dari yang awalnya hanya menyesuaikan yang sudah ada dan terus memiliharanya dengan baik karena alam akan memberikan sesuatu yang baik jika kita juga merawatnya. Disatu sisi aspek Urban Development akan berpedoman pada ketersediaan sarana dan prasarana yang tentunya aspek yang dipertimbangkan adalah cenderung bagaimana pembangunan sebuah kota dapat mengakomodasi kepentingan masyarakat untuk kemajuan dan kepentingan bersama. Sehingga dalam hal ini khususnya perencanaan tata ruang akan lebih mempertimbangkan fungsi kegunaannya dan kurang memperhatikan resistensi atau daya tahan sekaligus dalam hal ini representasi budaya Bali sendiri kadang dikesampingkan. Sehingga dalam hal ini aspek kehidupan falsafah masyarakat Bali akan terus mengalami penyimpangan khususnya dalam hal pembangunan infrastruktur dan pembangunan penunjang kota.

Selain itu terkait tata ruang dan pembangunan infrastruktur kota sangat memerlukan penanganan yang sangat serius selain kajian tentang Tri Hita Karana yang tidak boleh dilepaskan sebagai falsafah, kegagalan satu hubungan terkait dengan pembangunan infrastuktur akan berdampak sangat negatif terhadap aspek kehidupan lainnya. Karena bagi masyarakat Bali, serta khususnya Denpasar, ada falsafah hidup yang sangat mereka percayai, yakni adanya keharusan utuk menciptakan keharmonisan antara manusia dengan Hyang (Sang Pencipta).10 Hal tersebut menyangkut desain tata ruang yang mengharuskan adanya

kawasan suci, yang merupakan tempat mereka beribadah dan berkomunikasi dengan Hyang sebagai sasaran investasi maupun untuk perkembangan infrastruktur. Selain itu hubungan antara manusia dengan manusia yang mereka sebut dengan pawongan disitu nantinya akan terjadi sebuah pembenaran atas segala kepentingan investor sebagai pribadi yang terkadang

(39)

hanya memikirkan profit saja dengan kepentingan dari masyarakat bali yang mana mereka sebagai pribadi yang akan terus berusaha menjaga agar budaya yang sudah mereka miliki tetap mereka pertahankan.

Dengan kepercayaan atas falsafah hidup sedemikian rupa, masyarakat Bali dan Denpasar meyakini apabila salah satu bagian luput daripada aspek Tri Hita Karana, maka akan terjadi kekacauan dan berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat, meksipun dampak tersebut tidak terjadi secara langsung. Maka dari itu jika berbicara soal aspek pertimbangan perencanaan pembangunan infrastruktur kota, yang turut mempengaruhi pola pembangunan infrastruktur, maka hal tersebut tentu sangat berkaitan dengan ideologi dan falsafah hidup orang Bali (Tri Hata Karana). Dengan dimensi ideologi itu, maka keputusan dan kebijakan politik Pemerintah dalam upaya pembangunan infrastruktur turut dipengaruhi falsafah hidup masyarakat Bali.

Seperti yang telah dijelaskan pada bagian atas, Tata Ruang

merupakan sebuah wujud dari struktur ruang sebagaimana yang

dimaksudkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007, yang

menghadirkan Perencanaan Tata Ruang. Lebih jauh lagi, pada dasarnya

perencanaan tersebut merupakan sebuah bentuk upaya yang dilakukan

agar dapat mewujudkan ruang yang nyaman, produktif dan berkelanjutan

dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menciptakan

keseimbangan antar wilayah. Untuk perkembangan pembangunan

infrastuktur pariwisata di kawasan sanur, Pemerintah Kota Denpasar

melakukan pembanngunan infrastruktur pariwisata yang dimulai dari

penataan wilayah pesisir, yaitu pantai sanur dan sekitarnya. Hal tersebut

dikarenakan banyaknya sejumlah pantai potensial-pariwisata yang berada

(40)

Sanur, Sindu, Pengembah, dan Serangan. Melalui titik-titik tersebut,

pembangunan infrastruktur pariwisata terfokus dan berjalan. Alasan

pemilihan titik-titik tersebut sebagai tumpuan pembangunan infrastruktur

pariwisata di kawasan Sanur berdasarkan atas pertimbangan bahwa

pesisir pantai merupakan magnet daya tarik wisatawan ke Sanur. Sebagai

magnet daya tarik, maka dari wilayah tersebutlah aktivitas perekonomian

dapat berjalan dan menciptakan roda perekonomian kota. Sebagai titik

episentrum, di kawasan pesisir pantailah pembangunan infrastruktur

pariwisata difokuskan. Implikasi pembangunan pada titik episentrum

tersebut nantinya akan berdampak secara luas pada Kota Denpasar

sebagai titik hiposentrum. Namun pertimbangan utama pembangunan

infrastruktur pariwisata Sanur maupun Kota Denpasar, haruslah selalu

diselaraskan dengan kegiatan pelestarian lingkungan, sesuai dengan visi

pembangunan Kota Denpasar, yakni Denpasar Kota Berbudaya dilandasi

Tri Hita Karana.

(41)

Data yang di dapat bersumber dari dinas tata ruang dan perumahan untuk menggambarkan bagaimana implementasi RTRW Kota Denpasar berjalan, khususnya pada bagian komposisi RTH kota publik dan private. Dalam kunjungan kami di dinas tata ruang dan perumahan yang bertemu dengan kabid tata ruang mengungkapkan bahwa dalam Pengimplementasian RTRW masih sesuai dengan fungsi kawasan yang diperuntukkan. Namun, kata beliau pelanggaran juga masih terjadi khususnya pada jalur atau zona hijau, dimana zona hijau sendiri ini masih masuk bagian dari tanah milik pribadi. Secara prinsip tanah itu tidak di izinkan mendirikan bangunan karena bertentangan dengan RTRW yang sudah dibuat, namun hal tersebut berlawanan dengan kenyataan bahwa masyarakat telah menempati serta mengolah lahan tersebut terlebih dahulu. Pelanggaran lainnya yang banyak terjadi adalah pada jalur sempadan.

(42)
(43)

Selain bagaimana kesesuaian RTRW ini dapat berjalan dapat dilihat dari sisi lain bahwa dalam perjalanan pembangunan khususnya infrastruktur dan kebutuhan pembangunan lainnya banyak sekali kendala teknis yang selalu menghambat dan kadang menjadi tantangan yang dapat menggoyahkan satu aspek pembangunan. Jika dilihat kendala yang dialami dari pembangunan infrastruktur tegas dikatakan oleh kabid tata ruang bahwa ada 4 permasalahan utama. Permasalahan tersebut, yaitu : menyangkut dana yang mana dana ini tidak semata-mata ada karena proses yang harus dijalankan untuk menurunkan dana anggaran maka terkadang ketidaktersediaan anggaran akan menghambat sebuah proses pembangunan. Selanjutnya asset, telah dijelaskan diatas bahwa dalam proses pembangunan infrastruktur terkadang halangan aset kepemilikan antara pihak pemerintah dan individu selalu menemui titik buntu yang mana kadang pihak individu tidak mau memberikan tanah miliknya untuk kepentingan umum.

(44)

proyek hasil yang di dapatkan itu dapat dilihat pada tahun depan, dengan arti bahwa kesesuaian proyek yang berjalan ini kadang tidak sesuai dengan apa yang direncanakan diawal. Yang terakhir yaitu masalah sosial dan budaya, dalam hal ini pemerintah sebagai pelaksana pembangunan infrastruktur kota dihadapkan dengan realitas masyarakat Bali yang masih mempertahankan kebudayaan dan falsafah hidup untuk selalu selaras dan tidak menyelewengkan sebuah kebijakan diluar segalanya. Maka dari itu ketika kebijakan akan dibuat jika hal itu bertentangan dengan nilai sosial dan budaya masyarakat Bali hal itu akan menjadi sebuah konflik kepentingan antara manusia dengan manusia lainnya.

Dalam proses pembangunan RTRW sangatlah menjadi pedoman yang dipakai oleh pemerintah kota Denpasar untuk mengembangkan infrastruktur yang ada di kota Denpasar. Dalam pasal 5 RTRW tahun 2011-2031 di ungkapkan bahwa tujuan penataan ruang beserta fungsi peruntukannya. Jika dilihat adapun fungsi tersebut dibagi menjadi 3 yaitu :

1. Sebagai dasar memformulasikan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah. 2. Memberi arah penyusunan indikasi program utama wilayah.

3. Sebagai dasar ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah.

Selain itu setelah mengetahui fungsi yang ada maka masuk pada tujuan sebenarnya penataan tata ruang sebagai instrument pembangunan infrastruktur kota Denpasar. Tujuan tersebut dirumuskan dalam visi dan misi pembangunan wilayah kota, karakteristik wilayah kota, isu strategis dan kondisi obyektif yang diinginkan. Dalam hal ini dapat kita liat fungsi bahwa dalam pembangunan infrastruktur kota Denpasar memiliki indikasi yang mana di dalam penyusunan programnya diformulasikan, disusun dan dikendalikan dengan strategi penataan ruang berdasar indikasi ruang wilayah bagian mana yang akan dikembangkan.

(45)

bahwa potensi terbesar di kota Denpasar adalah kawasan Denpasar Selatan yang memiliki potensi pariwisata yang besar. Sehingga ada satu RDTR yang mana di Denpasar Selatan dengan potensi pariwisata sendiri, kawasan tersebut memiliki fungsi kawasan yang cukup banyak. Yang mana kawasan Denpasar Selatan sendiri sebagai kawasan strategis kota, kawasan strategis provinsi dan kawasan strategis nasional, dalam hal ini terlihat sekali jika hal tersebut menimbulkan banyak sekali masalah tarik ulur berkaitan dengan pembangunan infrastruktur yang ada di Denpasar Selatan akibat dalam zona tersebut di akui juga sebagai kawasan provinsi juga kawasan nasional. Yang secara otomatis perencanaan, pembuatan kebijakan, pengimplementasian dan evaluasi beserta pendapatan akan di distribusikan dan tarik ulurnya sangat bervariasi.

3.1.5 Tarik Ulur Pemerintah dengan Masyarakat Adat Terkait dengan Pembangunan

Infrastruktur

(46)

Kemudian jika dilihat dari bagaimana proses pembangunan yang ada apakah adat menjadi penghambat itu tidak ada masalah terlihat ketika pembangunan telah berlangsung dan telah menjadi infrastruktur maka yang menggunakan adalah masyarakat adat, untuk kepentingan adat juga secara tidak langsung jika hal itu tidak didukung maka prasarana dan sarana pendukung untuk acara adat dan lain sebagainya tidak terakomodasi.

3.2 Dampak Pembangunan Infrastruktur Pariwisata Terhadap Kondisi Ekonomi dan

Sosio Kultural Masyarakat Denpasar

Denpasar mempunyai dua tipe desa, yaitu desa adat dan juga desa dinas. Di dalam desa adat, masyarakat mempunyai “hukum sendiri” dalam mengatur berkehidupan, dimana desa adat tidak dapat di intervensi sedikitpun oleh pemerintah. Sedangkan desa dinas adalah desa yang dapat di intervensi oleh pemerintah, dan juga lebih banyak menerima program-program pemerintah. Sehingga dapat kita ketahui bahwa desa adat mempunyai hukumnya, dimana dalam hukum tersebut biasanya yang sama adalah organisasi adatnya. Untuk hukum-hukum di bagian lainnya belum kami temukan kesamaan antara satu dan lainnya, sedangkan untuk desa dinas mempunyai kesamaan karena memang dirancang untuk pemerintah.

Desa dinas sendiri pertama kali berasal dari kata diens, dan berlanjut menjadi dinas. Desa dinas ini berdiri sejak zaman terdahulu, dimana memang desa dinas ini berhubungan dengan pemerintah kolonial Belanda yang mana selanjutnya berhubungan dengan pemerintah Republik Indonesia. Pengurusan dari administrasi kenegaraan sendiri diserahkan seluruhnya kepada desa dinas, seperti pembuatan KTP, Akta Kelahiran, dan lainnya namun tetap dibawah pengawasan desa adat dimana yang mewakili desa adat disini hanya sebagai saksi pembuatan dari administrasi tersebut.

(47)

dari gubernur Made Mangku Pastika, dimana Lembaga Perkeditan Desa ini digunakan untuk memutar roda perekonomian masyarakat Bali. Dalam Lembaga Perkreditan Desa ini, uang yang digunakan selain untuk uang pinjaman masyarakat adat juga digunakan untuk upacara-upacara adat, yang selanjutnya Lembaga Perkreditan Desa ini diurus dan dikembalikan kepada desa.11

Lembaga Perkreditan Desa ini berdiri dengan atas nama masing-masing desa, dimana masing-masing desa diarahkan oleh gubernur Made Mangku Pastika untuk memutar roda masyarakat. Banyak permasalahan pun terjadi, seperti kredit macet, sulit untuk membayar, hingga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lembaga Perkreditan Desa Desa Pakraman Sanur adalah salah satu Lembaga Perkreditan Desa yang bisa dibilang sukses dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga simpan pinjam.

Dikatakan sukses sebagai lembaga simpan pinjam karena masih tetap bisa berdiri dengan konsep yang sama, dengan di support oleh masyarakat adat dari desa adat itu sendiri, dan mempunyai kelancaran dana yang sedemikian rupa. Walaupun, kendala-kendala dalam melaksanakan fungsi Lembaga Perkreditan Desa masih tetap ada, namun kendala-kendala tersebut bisa diatasi dengan cara sedemikian rupanya. Dengan struktur kepemimpinan yang memang langsung dari masyarakat itu sendiri, Lembaga Perkreditan Desa menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat desa adat di Bali.

Lembaga Perkreditan Desa selanjutnya diharapkan modelnya seperti Bank Perkreditan Rakyat di daerah-daerah lain, dimana tidak terlalu mencekik masyarakat namun masyarakat tetap mempunyai dana dalam pengelolaan aset-asetnya, dengan menggunakan jaminan yang memang tidak terlalu memberatkan pula. Terutama untuk masyarakat adat yang mempunyai kebutuhan cukup tinggi, sehingga amat sangat tidak memberatkan dan tetap bisa

(48)

mempunyai uang. Selain untuk kebutuhan Desa ataupun masyarakat desa adat sendiri, Lembaga Perkreditan Desa mempunyai fungsi untuk melayani upacara adat. Memang hal tersebut masuk ke dalam kebutuhan desa, namun upacara adat mempunyai arti penting bagi seluruh masyarakat desa yang ada di dalamnya.

Kebutuhan upacara adat yang semakin tinggi membuat masyarakat harus bisa mengakomodasi kebutuhan upacara adat tersebut, yang mana setelahnya menjadikan mereka harus mempunyai uang yang banyak. Esensi dari upacara adat tersebut adalah selain melestarikan adat istiadat dari masyarakat, juga melaksanakan sebuah kepercayaan yang di punyainya. Percaya pada sesuatu hal memang menyangkut pemikiran dan bangunan yang telah ada, yang mana dengan bangunan pemikiran yang telah ada dan pondasi yang kuat maka kepercayaan mau tidak mau memang akan ada.

Support Dari Lembaga Perkreditan Desa sendiri tidak hanya berupa uang. Karena personil yang di punyai oleh Lembaga Perkreditan Desa adalah “pejabat” dari desa tersebut, maka mereka amat sangat mengerti kebutuhan mengenai desa adat tersebut, sehingga akomodasi kepentingan dari masyarakat adat lebih bisa dilakukan dengan baik dan benar.Dengan keuntungan yang ada, maka dapat dikatakan bahwa Lembaga Perkreditan Desa mempunyai andil yang cukup besar bagi masyarakat adat. Ini terlihat dari bagaimana masyarakat desa dilayani oleh dua orang semacam teller, namun substansi mereka bekerja untuk melayani masyarakat adat sudah cukup baik.

(49)

contohnya adalah Sanur Beach Festival. Sanur Beach Festival ini adalah acara tahunan yang diadakan oleh Yayasan Pembangunan Sanur, dengan support.12

Dengan hal-hal tersebut, maka dapat diketahui bahwa Yayasan Pembangunan Sanur disini adalah sebagai representasi dari masyarakat desa adat yang ada di Denpasar daerah pantai Sanur, dan pintu pertama menuju masyarakat adat pantai Sanur adalah Yayasan Pembangunan Sanur ini. Maka jelaslah hal ini menyebabkan Yayasan Pembangunan Sanur mempunyai andil besar dalam pembangunan di Pantai Sanur. Dalam hal ini, yang amat sangat mendapat perhatian untuk menuju ke masyarakat desa adat adalah mengenai keuangan. Yayasan Pembangunan Sanur dan Lembaga Perkreditan Desa. Dengan kedua lembaga tersebut, maka masyarakat adat di Sanur mempunyai perekonomian yang cukup kuat. Dengan Lembaga Perkreditan Desa yang di support langsung oleh pemerintah Provinsi, hal tersebut menyebabkan Lembaga Perkreditan Desa bisa menjadikan titik kekuatan perekonomian baru di desa.

3.2.1 Analisa The Big Push Theory

Menurut Rosenstein-Rodan, kalau negara berkembang mau memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan, maka perlu ada “investasi berskala besar” di sektor industri (big push). Investasi dalam skala besar ini akan menciptakan interaksi yang sinergis diantara berbagai sektor. Namun hal ini sulit sekali dilakukan dalam suatu frame pasar alami. Para wirausahawan akan berpikir matang untuk menerapkan konsep big push ini berdasarkan kalkulasi untung-ruginya. Karenanya, sektor-sektor produksi yang potensial tidak dapat “digarap” oleh pasar (privat) karena keraguan pasar untuk membuat keputusan investasi. Apalagi untuk menjalankan konsep big push ini, diperlukan

(50)

dukungan infrastruktur sosial seperti: jalan, jembatan, pelabuhan, sistem komunikasi, rumah sakit, sekolah, irigasi, dan sebagainya.

Bertempat di wilayah Kecamatan Denpasar Selatan, Kawasan Pantai Sanur menjadi salah satu area komodifikasi wisata yang potensial. Implikasinya, peluang ini memberikan celah bagi pihak swasta untuk ikut menjadi aktor penting yang bekerjasama dengan pemerintah dan lembaga adat dalam menyelenggarakan agenda pembangunan. Output berupa banyaknya jumlah hotel, restoran, dan markets adalah bagian dari mesin pertumbuhan. Banyak sektor dan aktor yang menjadi motor atau penggerak perekonomian masyarakat sekitar. Jika dipahami dalam perspektif teori pembangunan, terdapat hubungan yang relasional antara perkembangan infrastruktur dan dimensi ekonomi.13 Singkatnya, dalam

berbagai sektor yang ada, pariwisata harus memberikan pekerjaan kepada masyarakat lokal, sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan kualitas hidup.14

Rosenstein-Rodan mengklaim bahwa ia telah membuat beberapa inovasi. Pertama, terkait dengan pengangguran terselubung (disguised unemployment) khususnya dalam sektor non-pariwisata seperti pertanian akan mengalami peningkatan output total mengingat dukungan infrastruktur sosial menjadi penting dalam pembangunan. Kedua, investasi berskala besar berpotensi memberikan dampak bagi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di luar dari yang diprediksi. Ketiga, investasi berskala besar dapat menghasilkan tenaga-tenaga terlatih dan profesional.

Selain itu, pola manjerial Kawasan Pantai Sanur dapat dikatakan sangat komprehensif mengingat banyaknya aktor yang berperan didalamnya. Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kota

13 Mahbub Ul Haq, “Employment in the 1970’s: A New Perspective”, dalam Charles K Wilber (ed.),The Political Economy of Development and Underdevelopment (New York: Random House, 1973), hal. 266-272.

14 Lihat, Walter Jamieson dan Alix Noble, A Manual for Sustainable Tourism Destination Management

(51)

melakukan monitoring dan peninjauan terhadap peraturan perundang-undangan melalui beberapa birokrasi yang ada. Dari pihak adat juga terdapat beberapa organisasi resmi seperti Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) dan Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Keduanya merupakan representasi dari kepentingan adat, dimana fokus utamanya adalah untuk mempertahankan Kawasan Sanur menjadi destinasi pariwisata budaya. Sedangkan peran swasta disini adalah sebagai additional services dan juga penyedia modal dalam melakukan pembangunan infrastruktur. Dana Corporate Social Responsibility (CSR) juga bermanfaat untuk menunjang aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

3.2.2 Analisa Growth Machine

Teori Growth Machine adalah salah satu teori dalam pertumbuhan ekonomi di perkotaan, yang melihat perlunya kerjasama antara elit dalam pemerintahan, serta bisnis lokal (swasta) untuk dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi di kota15. Growth machine memfokuskan

kajiannya pada pilihan oleh elit perkotaan dalam upaya mewujudkan kepentingannya yang berfokus pada upaya peningkatan kapital, terkait dengan perkembangan perkotaan. Harvey Luskin Moltoch dan Serena Vicari mengatakan bahwa teori Growth Machine ini lebih condong kepada teori Max Weber pendekatan administrasi, daripada Karl Marx pendekatan produksi16. Studi kasus yang diadakan oleh Moltoch adalah di Milan, berfokus pada studi

proyek transportasi17. Dalam studinya tersebut, Vicari dan Moltoch menemukan bahwa

berbagai partai politik dan pejabat memiliki pengaruh besar atas pembangunan perkotaan, selain para pebisnis (swasta). Dengan hal tersebut, growth machine yang ada dalam

15 Erik Solevad Nielsen, “Santa Barbara Smart Growth Machines : The Political Economy of Sustainable Place A Dissertation Submitted in Partial Satisfaction of the Requirements for the Degree Doctor of Philosophy in Sociology by Erik Solevad Nielsen Committee in Charge : Professor,” Dissertation Submitted in partial satisfaction of the requirements for the degree Doctor of Philosophy, September (2014).

16Ibid.

17 Harvey Moltoch dan Vicari dalam Erik Solevad Nielsen, “Santa Barbara Smart Growth Machines : The Political Economy of Sustainable Place A Dissertation Submitted in Partial Satisfaction of the Requirements for the Degree Doctor of Philosophy in Sociology by Erik Solevad Nielsen Committee in Charge : Professor,”

(52)

masyarakat, berwujud pada adanya upaya kerjasama antara swasta, pemerintah, dan juga masyarakat dalam mengembangkan perekonomian masyarakat. Hal tersebut utamanya berdasarkan studi growth machine di Amerika yang dilakukan oleh Moltoch, dimana dalam aktivitas perekonomian yang menggerakkan pembangunan kota, terdapat tarik menarik kekuasaan antara masyarakat, pemerintah, dan swasta.

Dengan kerangka berpikir demikian, kita dapat memotret fenomena yang terjadi di kawasan Sanur, khususnya dalam hal pembangunan infrastruktur pariwisata sebagai bagian dari grwoth machine. Dalam pembangunan di kawasan Pantai Sanur, pemerintah dan masyarakat mempunyai andil dalam penentuan arah pembangunan kawasan Sanur, yang mana dalam hal ini swasta sebagai pengembang haruslah mengikuti aturan yang diberikan oleh pemerintah ataupun juga dengan masyarakat. Masyarakat disini diwakili oleh Yayasan Pembangunan Sanur, dan juga pemerintah diwakili oleh dinas terkait pembangunan daerah. Cross Check tim melihat bahwa pembangunan yang ada di Pantai Sanur pun ditentukan oleh masyarakat adat agar tidak menyalahi aturan yang ada.

(53)

pembangunan Sanur dan disupport oleh Dinas Pariwisata. Sehingga dalam hal ini Pemerintah mengakui dan juga bekerja sama dengan yayasan pembangunan Sanur untuk mengembangkan Pantai Sanur kedepannya, khsusnya dalam kerangka pengembangan perekonomian.

Melalui teori mesin pertumbuhan, tupoksi antara pemerintah dengan masyarakat adalah saling bekerjasama untuk membangun Pantai Sanur kedepannya. Dana CSR ataupun dana dana bantuan lainnya yang berasal dari swasta selain diserahkan kepada pihak yang terkait juga diselenggarakan pada Yayasan Pantai Sanur untuk pengelolaan Pantai Sanur. Melalui hal tersebut diharapkan masyarakat adat dapat ternaungi kepentingannya dan juga mempunyai tempat yang dihargai oleh swasta ataupun pemerintah melalui Yayasan pembangunan pantai sanur.

Gambar

Gambar 1. Peta Kota Denpasar skala 1: 30.000
Tabel 2. Distribusi Penduduk Kota Denpasar
Tabel 3. Data Statistik Provinsi Bali
Grafik Perkembangan Kedatangan Wisatawan Mancanegara Ke Bali Tahun 2011-2015
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi prasarana dan sarana di Kecamatan Modayag sudah memenuhi syarat sebagai Kawasan Agropolitan.Metode

Hasil analisis rekapitulasi kategori ketersediaan prasarana sarana kebutuhan pada kawasan Minapolitan di Kecamatan Tatapaan dapat diketahui bahwa tingkat ketersediaan

Untuk potensi dari segi fisik lingkungan yaitu kondisi sarana dan prasarana pendukung disekitar kawasan bersejarah dilihat beberapa indikator maka pelayanan air

Berdasarkan hasil analisis untuk menghitung indeks komposit dimensi ekonomi, sosial budaya, lingkungan, sarana prasarana dan kelembagaan kawasan Transmigrasi Parit

Rencana struktur ruang Kawasan Perbatasan Negara ditetapkan dengan tujuan meningkatkan pelayanan pusat kegiatan, kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana, serta

Obyek rancangan Kawasan Wisata Pantai Libuo di Kabupaten Pohuwato ini hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat atas sarana dan fasilitas pelayanan rekreasi dan

Pembangunan Kawasan Solo Baru sebagai kota mandiri yang dikonsep dengan. adanya pemukiman dan ketersediaan fasilitas penunjang kehidupan, seperti

Perwujuda n sarana prasarana pendukung kegiatan pariwisata Kawasan Pariwisata Provinsi NTT APBD Prov, APBD Kab/Kota Bappeda, BLHD, Dinas Pariwisata Prov dan Kab/Kota