DESAIN MODEL PEMBELAJARAN BASED LEARNING DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN KONSEP MAHASISWA SEMESTER
TIGA JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP-UHN MEDAN Adi Suarman Situmorang
Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas HKBP Nommensen.
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendisain sebuah model pembelajaran berbasis masalah yang dapat meningkatkan pemahaman konsep serta menyelidiki sejauh mana model pembelajaran tersebut dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika mahasiswa semester tiga Jurusan Pendidikan Matematika FKIP-UHN Medan. Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Pendidikan Matematika FKIP-UHN dengan populasi sebanyak 147 orang mahasiswa, melalui teknik random sampling diperoleh sebanyak 96 orang sebagai sampel yang terdiri dari 44 orang kelas kontrol dan 52 orang kelas eksperimen. Penelitian ini merupakan suatu studi eksperimen dengan desain penelitian pre-test-post-test control group design. Data diperoleh melalui nilai semester untuk kemampuan awal matematis (KAM), tes kemampuan pemahaman konsep matematika, tes kemampuan kreativitas matematis. Data dianalisis dengan uji ANAVA dua jalur. Hasil analisis data menunjukkan bahwa rata-rata tes kemampuan pemahaman konsep matematika kelas eksperimen adalah 34,64 dan kelas kontrol adalah 22,71 dengan nilai sig = 0,00 dengan 0 < α = 0,05 maka terdapat perbedaan kemampuan Pemahaman matematik siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) dengan Pendekatan Pembelajaran Konvensional, nilai signifikan sebesar 0,065, karena 0,065 > 0,05 maka tidak adanya interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan kemampuan awal siswa terhadap perbedaan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Proses penyelasaian masalah yang dibuat oleh siswa dalam menyelesaikan masalah pada Model Pembelajaran (PBL) lebih bervariasi daripada Pendekatan Pembelajaran Konvensional. Temuan penelitian merekomendasikan PBL dijadikan salah satu pendekatan pembelajaran yang digunakan di sekolah utamanya untuk mencapai pemahaman konsep yang tinggi. Kata Kunci: Desain Model Pembelajaran, Model Pembelajaran Based Learning (PBL),
Pemahaman Konsep
PENDAHULUAN
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi umat manusia, sekaligus sebagai bukti faktual-fenomenal, yang bahwasanya pendidikan itu tidak hanya akan berhenti pada satu generasi melainkan akan terus berkesinambungan mulai dari generasi lampau, generasi kini sampai generasi mendatang. Pendidikan merupakan sarana untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan
Negara, dengan pendidikan yang bermutu, akan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk menghadapi tantangan perkembangan IPTEK dalam era globalisasi saat ini diperlukan sumberdaya yang memiliki ketrampilan tinggi yang melibatkan motivasi, komitmen organisasi, kepuasan pelanggan, saling ketergantungan, kerjasama tim (Poernomo, 2006).
Matematika merupakan ilmu yang diperlukan oleh semua ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi selalu dibantu dengan peranan matematika. Melihat pentingnya peranan matematika dalam ilmu dan teknologi serta dalam kehidupan sehari-hari sehingga matematika menjadi salah satu bidang studi yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan baik dari jenjang pendidikan dasar sampai jenjang perguruan tinggi. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang diajarkan setiap jenjang pendidikan yang juga faktor pendukung untuk tercapainya mutu pendidikan yang baik. Matematika merupakan ilmu yang membahas pola atau keteraturan. matematika dapat dilihat sebagai bahasa yang menjelaskan tentang pola, baik pola di alam dan maupun pola yang ditemukan melalu pikiran. Di sisi lain, matematika merupakan salah satu disiplin ilmu dalam dunia pendidikan yang memegang peranan penting dalam perkembangan sains dan teknologi dapat digunakan dalam mengembangkan bidang ilmu lain, karena dapat mengembangkan pemikiran kritis, kreatif, sistematis, dan logis, semestinya merupakan suatu materi pembelajaran yang paling mudah dipahami oleh setiap peserta didik (Afrilianto, 2012).
Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar lulusan sekolah kurang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan maupun perkembangan teknologi, sulit untuk dilatih kembali, kurang bisa mengembangkan diri dan kurang dalam berkarya artinya tidak memiliki kreativitas
(Trianto, 2010). Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa ini disebabkan oleh siswa tidak sepenuhnya memahami konsep (Situmorang, A.S., 2013). Selain itu, kondisi pendidikan di seluruh Indonesia memperlihatkan profil yang sangat tidak sama. Ada yang bagus. Ada yang tidak begitu bagus, tapi masih memenuhi serta ada yang jelek sekali. Propil dalam hal ini bukan dalam arti fisik tetapi dalam kaitannya dengan kualitas yang tidak hanya dapat diukur dengan hal-hal yang sifatnya fisik, itu masih banyak kekurangan-kekurangannya (Semiawan, 2009).
Penyebab dari rendahnya hasil, minat dan motivasi belajar tersebut adalah suatu hal yang wajar dimana selama ini fakta di lapangan menunjukkan proses pembelajaran yang terjadi masih konvensional dan berpusat pada guru dan siswa hanya pasif, guru lebih sering hanya diberikan rumus-rumus yang siap pakai tanpa memahami makna dari rumus-rumus tersebut sehingga menghambat pemahaman dan kreativitas matematis siswa (Makmur, 2011). Merosotnya pemahaman matematik siswa di kelas karena guru sering mencontohkan pada siswa bagaimana menyelesaikan soal, siswa cenderung mendengar dan menonton guru mengerjakan persoalan matematik sedangkan guru memecahkannya sendiri, selanjutnya pada saat mengajar matematika, guru langsung menjelaskan topik yang akan dipelajari dengan pemberian contoh, dan soal untuk latihan (Antasari dalam Makmur Agus, 2011). Selama ini, banyak sekali guru matematika yang menggunakan waktu pembelajaran dengan
kegiatan membahas tugas-tugas lalu, memberi pelajaran baru, memberi tugas kepada siswa. Pembelajaran seperti di atas yang rutin dilakukan hampir tiap hari dapat dikategorikan sebagai 3M, yaitu membosankan, membahayakan, dan merusak seluruh minat siswa. Apabila pembelajaran seperti ini terus dilaksanakan maka kompetensi dasar dan indikator pembelajaran tidak akan dapat tercapai secara maksimal (Sobel dan Maletsky dalam Mansur, 2008).
Dalam pembelajaran matematika perlu ditekankan tentang pemahaman konsep. Pemahaman siswa terhadap berbagai konsep dan prinsip sangat berguna untuk dapat memecahkan masalah secara maksimal sehingga guru sebagai salah satu orang yang menekuni suatu bidang ilmu mempunyai peran dalam meningkatkan hasil belajar siswa sehingga guru perlu waspada dalam menyampaiakn suatu materi pelajaran, guru harus terbeban dalam menciptakan atau mendesain suatu model pembelajaran yang dapat membantu guru mengembangkan topik pembelajaran sehingga meningkatkan pemahaman dan kreativitas matematis siswa (Doerr dan Thompson dalam Rajagukguk waminton, 2007). Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Slameto (2007) yaitu, guru memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas siswa dalam belajar matematika dan guru harus benar-benar memperhatikan, memikirkan dan sekaligus merencakan proses belajar mengajar yang
menarik bagi siswa, agar siswa berminat dan semangat belajar dan mau terlibat dalam proses belajar mengajar, sehingga pengajaran tersebut menjadi efektif.
Untuk penguasaan konsep yang baik dibutuhkan komitmen siswa dalam memilih belajar sebagai suatu yang bermakna, lebih dari hanya menghafal, yaitu memebutuhkan kemauan siswa mencari hubungan konseptual antara pengetahuan yang dimiliki dengan yang sedang dipelajari di dalam kelas (Dahar 1989). Salah satu cara yang dapat mendorong siswa untuk belajar secara bermakna adalah model pembelajaran berbasis masalah karena model pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan inovasi dalam pembelajaran karena dalam PBM kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan (Tan dalam Rusman, 2012: 229). Dalam model pembelajaran berbasis masalah, pebelajar tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis (Ngalimun, 2012).
Ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah (PBM) yaitu: (1) inkuiri dan ketrampilan melakukan pemecahan masalah, (2) belajar model
peraturan orang dewasa (adult role behaviors), dan (3) ketrampilan belajar mandiri (Arends, 2004). Model pembelajaran berbasis masalah (PBM) akan dapat diterapkan bila didukung lingkungan belajar yang konstruktivistik, sehingga model pembelajaran berbasis masalah sebaiknya digunakan dalam pembelajaran karena: (1) Dengan Pembelajaran Berbasis Masalah akan terjadi pembelajaran bermakna. Siswa yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Artinya belajar tersebut ada pada konteks aplikasi konsep. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika siswa berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan; (2) Dalam situasi Pembelajaran Berbasis Masalah, siswa mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Artinya, apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata bukan lagi teoritis sehingga masalah-masalah dalam aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan temukan sekaligus selama pembelajaran berlangsung; dan (3) Pembelajaran Berbasis Masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, menumbuhkan inisiatif siswa dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.
Berdasarkan masalah dan gambaran umum yang telah dipaparkan di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana suatu disain model
pembelajaran berbasis masalah yang dapat meningkatkan pemahaman konsep serta seberapa besar peningkatan yang diberikan model tersebut terhadap kemampuan pemahaman konsep mahasiswa semester tiga jurusan pendidikan matematika FKIP-UHN Medan?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui disain model yang baik yang dapat meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa semester tiga jurusan pendidikan matematika FKIP-UHN Medan.
METODOLOGI PENELITIAN
Secara umum metodologi penelitian yang direncanakan ini adalah menggunakan pendekatan empiris (empirical approach) yang menekankan pada pengumpulan dan analisis data. Metode yang digunakan adalah metode komprehensif, yaitu gabungan metode survey dan metode intervensi melalui field experiment. Metode survey digunakan untuk memperoleh gambaran kemampuan dosen dalam proses pembelajaran dan teknik penilaian yang dipakai untuk menggalakkan kemampuan kreativitas matematis siswa. Metode intervensi dilakukan untuk mengembangkan kemampuan mengajar dosen dengan mengunakan model pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan media pempelajaran. Perguruan tinggi yang terlibat dalam penelitian ini dilakukan Universitas HKBP Nommensen Medan. Sampel perguruan tinggi dipilih berdasarkan teknik stratifikasi random sampling. Dosen yang menjadi sampel penelitian mewakili dosen Pendiudikan Matematika UHN. Langkah-langkah untuk
menghasilkan data penelitian ini diperlihatkan pada Gambar 3.1
Gambar 3.1. Rancangan penelitian meliputi kemampuan dosen, ketrampilan siswa, pembelajaran inovatif, dan hasil penelitian
Penelitian direncanakan akan dilakukan di Universitas HKBP Nommensen pada tahun 2013, dan yang menjadi objek penelitian adalah mahasiswa yang mengikuti mata kuliah himpunan dan logika. Sebagai populasi adalah mahasiswa yang mengikuti mata kuliah himpunan dan logika di Universitas HKBP Nommensen. Sampel perguruan tinggi dipilih berdasarkan teknik stratifikasi random sampling. Sedangkan untuk intervensi pembelajaran sampel penelitian adalah Mahasiswa yang dipilih secara purposif, kemudian maha siswa dikelompokkan berdasarkan tingkat kemampuan dasar akademik siswa yang dilihat dari pencapaian indeks prestasi kumulatif (IPK), sehingga siswa dikelompokkan menjadi (a) siswa dengan kemampuan akademik tinggi (KT) apabila memiliki nilai IPK relatif tinggi, dan (b) siswa dengan kemampuan akademik tinggi (KR) apabila memiliki nilai IPK relatif rendah. Teknik pengambilan sampel yang akan dijadikan menjadi data penelitian adalah disesuaikan dengan tujuan penelitian, akan
tetapi perlakuan pengajaran dilakukan secara murni tanpa diskriminasi di dalam kelas. Untuk selanjutnya pengolahan data diawali dengan menguji persyaratan statistik yang diperlukan sebagai dasar dalam pengujian hipotesis antara lain uji normalitas dan homogenitas, selanjutnya dilakukan ANOVA 2 jalur untuk menguji hipotesis yang disesuaikan dengan permasalahannya. Seluruh perhitungan statistik menggunakan bantuan komputer yakni program SPSS 17.
PEMBAHASAN
Analisis Statistik ANOVA Dua Jalur
hipotesis statistik yang akan diuji adalah. H0 :μ1= μ2
H1 :μ1> μ2
μ1= Peningkatan kemampuan Pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran model based learning
μ1= Peningkatan kemampuan Pemahaman konsep matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional Secara Deskriptif Hasil perhitungan dari uji signifikansi peningkatan KPM kedua kelompok pembelajaran dengan menggunakan uji-t tunggal dapat dilihat pada sebagai berikut. Tabel 1. Uji Signifikansi Peningkatan
Kemampuan Kreativitas Matematis Siswa untuk Kelompok PBL dan Kelompok Konvensional
Dari tabel 1 di ats terlihat bahwa hasil perhitungan nilai t untuk semua indikator pemahaman konsep matematika untuk PBL berturut-turut adalah (28,561, 32,553, 28,528, 30,260) dan Konvensional untuk masing-masing indikator adalah (10,570, 10,570, 19,287, 13,835). Dari tabel 4.11. juga terlihat perbedaaan rata-rata peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika, dimana nilai rata-rata peningkatan pemahaman konsep matematika untuk masing-masing indikator kelas pembelajaran PBL adalah (0,6319, 0,6330, 0,6303, 0,6197) lebih besar dari rata-rata peningkatan pemahaman konsep matematika untuk masing-masing indikator kelas pembelajaran konvensional (0,3115, 0,3115, 0,3396, 0,3209), sehingga kalau dihitung selisih perbedaannya untuk masing-masing indikator dan kumulatif pkemampuan pemahaman konsep matematika adalah (0,3204, 0,3215, 0,2907, 0,2988). Sekarang makin jelas terlihat bahwa nilai significant (sig) untuk semua indikator pemahaman konsep matematika dan kumulatif pemahaman konsep matematika lebih kecil dari nilai = 0,05 dan juga diperoleh bahwa nilai μ1 > μ2, hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak yang berarti bahwa ada peningkatan kemampuan kreativitas matematis berdasarkan pembelajaran PBL, konvensional dan secara keseluruhan.
Dari segi ketuntasan atau siswa yang mencapai skor 65 atau lebih sesuai dengan ketetapan yang berlaku di sekolah tempat penelitian ditemukan bahwa siswa yang
memeproleh pembelajaran PBL ada sebesar 75% (30 orang dari 40 orang) yang telah tuntas belajar untuk indikator translasi, 75% (30 orang dari 40 orang) yang telah tuntas belajar untuk indikator interpretasi, 75% (30 orang dari 40 orang) yang telah tuntas belajar untuk indikator ekstrapolasi, dan 75% (30 orang dari 40 orang) yang telah tuntas belajar untuk kumulatif indikator. Hal ini lebih banyak daripada pembelajaran biasa sebesar 32,5% (13 orang dari 40 orang) untuk indikator translasi, 32,5% (13 orang dari 40 orang) untuk indikator interpretasi, 35% (14 orang dari 40 orang) untuk indikator ekstrapolasi dan 30% (12 orang dari 40 orang) untuk kumulatif indikator. Hal ini menunjukkan bahwa model based learning dan pembelajaran biasa efektif untuk digunakan dan ketuntasan belajar dengan menggunakan model based learning (PBL) lebih tinggi dibanding dengan ketuntasan dengan pembelajaran biasa.
Analisis Interaksi Antara Faktor Pembelajaran dan KAM Siswa Terhadap Pemahaman konsep matematika
Hipotesis H0 yang diuji adalah sebagai berikut:
H0:µppxKAM (pemahaman konsep matematika) = 0 Ha:µppxKAM (pemahaman konsep matematika)≠0 Keterangan:
H0: µppxKAM adalah interaksi antara proses pembelajaran dengan KAM terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika Kriteria pengujian adalah
- Jika nilai sig. > 0,05, H0 diterima, artinya tidak terdapat interkasi antara model
pembelajaran (PBL,PK) dengan KAM (Tinggi, Sedang, Rendah) terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika - Jika nilai sig. < 0,05, H0 ditolak artinya
terdapat interkasi antara model pembelajaran (PBL,PK) dengan KAM (Tinggi, Sedang, Rendah) terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika
Tabel 3 Anova Dua Jalur Kemampuan Pemahaman konsep matematika.
Dari Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa nilai significance (sig.) untuk level kelas yaitu 0,065 lebih besar dari 0,05 yang berarti H0 diterima, yang berarti tidak terdapat interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Secara grafik disajikan dalam gambar 4.16 berikut.
Berdasarkan gambar 4.16 diatas terlihat bahwa tidak ada interaksi antara pembelajaran dengan KAM (tinggi, sedang dan rendah) terhadap peningkatan kumulatif kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Dari
rata-rata gain ternormalisasi terlihat bahwa kemampuan pemahaman konsep matematika siswa yang menggunakan PBL yaitu: kemampuan tinggi (0,6331), kemampuan sedang (0,5903) dan kemampuan rendah (0,6591) lebih besar jika dibandingkan dengan siswa yang menggunakan PK yaitu, kemampuan tinggi (0,3187), kemampuan sedang (0,3533) dan kemampuan rendah (0,3473). Selanjutnya, selisih rata-rata gain kemampuan kemampuan pemahaman konsep matematika antara siswa yang diberi PBL (KKA) dan PK (KKB) berturut-turut untuk siswa berkemampuan tinggi sebesar 0,3144, kemampuan sedang sebesar 0,2370 dan kemampuan tinggi sebesar 0,3118.
Berdasarkan selisih rata-rata tersebut, tampak siswa dengan kategori KAM tinggi mendapat “ keuntungan lebih besar” yaitu dengan selisih skor 0,3144 sementara itu selisih skor untuk siswa berkategori KAM tinggi 0,3118 dan berkategori KAM sedang 0,2370. Hal ini, berarti bahwa tidak terdapat peningkatan secara bersamaan yang disumbangkan oleh pembelajaran dan KAM dan kemampuan awal matematika siswa terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika siswa. Dengan melihat selisihnya, ternyata dengan menggunakan PBL sangat peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa untuk kategori rendah.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan hal-hal berikut:
1. Peningkatan pemahaman konsep matematika siswa yang diajarkan dengan Model based learning (PBL) lebih tinggi dari pada peningkatan pemahaman konsep matematika yang diajarkan dengan Pembelajaran Konvensional (PK) dengan selisih rata-rata peningkatan untuk translasi adalah 0,3204, interpretsi adalah 0,3215, ekstrapolasi adalah 0,2907. Sehingga jelas bahwa selisih rata-rata peningkatan pemahaman konsep matematika lebih tinggi untuk indikator interpretasi.
2. Tidak terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran pendekatan PBL dan PK dan kemampuan awal matematika siswa (tinggi, sedang dan rendah) terhadap pemahaman konsep matematika matematik. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa interaksi pembelajaran dengan menggunakan PBL sangat mempengaruhi peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa untuk kategori rendah.
SARAN
Penelitian mengenai penerapan pembelajaran dengan Pendekatan PBL ini, masih merupakan langkah awal dari upaya meningkatkan kompetensi dari guru, maupun kompetensi siswa. Oleh karena itu, berkaitan dengan temuan dan kesimpulan dari studi ini dipandang perlu agar rekomendasi-rekomendasi berikutnya dilaksanakan oleh guru matematika SMA, lembaga dan peneliti lain yang berminat. 1. Kepada Guru
Pembelajaran Model based learning (PBL) pada kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dapat diterapkan
pada semua kategori KAM. Oleh karena itu hendaknya model pembelajaran ini terus dikembangkan di lapangan sehingga siswa terlatih membangun konsep dasar matematis untuk meningkatkan
kemampuan pemahaman konsep
matematika sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan matematis. Peran guru sebagai fasilitator perlu didukung oleh sejumlah kemampuan antara lain kemampuan memandu diskusi di kelas, serta kemampuan dalam menyimpulkan. Di samping itu kemampuan menguasai bahan ajar sebagai syarat mutlak yang harus dimiliki guru. Untuk menunjang keberhasilan implementasi pendekatan PBL diperlukan bahan ajar yang lebih menarik dirancang berdasarkan proses belajar induktif dan bermakna sehingga pembelajaran terasa bermakna dan tidak membosankan.
2. Kepada lembaga terkait
Pembelajaran dengan model pembelajaran (PBL), masih sangat asing bagi guru dan siswa terutama pada guru dan siswa di daerah, oleh karena itu perlu disosialisasikan oleh sekolah dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa, khususnya meningkatkan
kemampuan pemahaman konsep
matematika siswa yang tentunya akan berimplikasi pada meningkatnya prestasi siswa dalam penguasaan materi matematika.
3. Kepada peneliti yang berminat
Berdasarhan hasil analisis penelitian ditemukan bahwa proses pembelajaran dengan menggunakan model based
learning efektif untuk meningkatan kreativitas matematis ditinjau dari segi ketuntasan belajar. Untuk penelitian lebih lanjut hendaknya mengkaji apakah model pembelajaran ini efektif meningkatkan kreativitas matematis siswa untuk materi lain dan apakah model pembelajaran ini efektif untuk meningkatkan kemampuan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Afrilianto, M. (2012). Peningkatan Pemahaman Konsep Dan Kompetensi Strategis Matematis Siswa Smp Dengan Pendekatan Metaphorical Thinking. INFINITY Jurnal Ilmiah Program Studi Matematika STKIP Siliwangi Bandung. Bandung: 1(1): (1–125).
Dahar, R.W., (1996), Teori-teori Belajar, Jakarta: P2LPTK.
Makmur, Agus. (2011). Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Dan Kreativitas Siswa SMP Dengan Menerapkan Model based learning. Thesis tidak diterbitkan, Medan: PPS-UNIMED
Mansur. 2008. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.
Ngalimun. 2013. Strategi dan Model Pembelajaran. Penerbit Aswaja Pressindo. Yogyakarta.
Poernomo, Eddy. (2006). Pengaruh Kreativitas dan Kerjasama Tim Terhadap Kinerja Manajer pada PT. Jesslyn K Cakes Indonesia Cabang Surabaya. Jurnal Ilmu-Ilmu Ekonomi, Surabaya, 1(2):(102-108). Rajagukguk, waminton dkk. (2007). Inovasi
Pembelajaran Matematika Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMP. Medan, Penelitian Hibah Bersaiang UNIMED.
Semiawan, Conny R. (2009). Kreativitas keberbakatan. Jakarta: PT. Macana Jaya Cemerlang.
Situmorang, A.S., (2013), Peningkatan Kemampuan Pemahaman dan Kreativitas Matematis Siswa dengan Menggunakan Model Pencapaian Konsep, Jurnala Penelitian Bidang Pendidikan Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan, Medan, 19(1): (52-59).
Trianto, (2010), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana