BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Medis
1. Definisi Kehamilan
Kehamilan adalah pertemuan antara sel telur dengan sel spermatozoa
(konsepsi) yang diikuti dengan perubahan fisiologis dan psikologis
(Mitayani, 2011 ; h.2)
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari
hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi menjadi 3 trimester yaitu
trimester pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, trimester kedua
dari bulan keempat sampai 6 bulan, trimester ketiga dari bulan ketujuh
sampai 9 bulan (Prawirohardjo, 2006 ; h 89).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kehamilan adalah suatu
peristiwa yang diawali dari bertemunya sel telur dengan spermatozoa
yang kemudian tumbuh di dalam rahim menjadi seorang janin selama 280
hari, disertai dengan perubahan fisiologis dan psikologis.
Menurut Mochtar 1998, pada saat kehamilan hampir seluruh tubuh
wanita mengalami perubahan, terutama pada alat kandungan dan juga
organ lainnya, yaitu :
a. Perubahan pada sistem reproduksi
1) Uterus
Uterus mengalami pembesaran akibat hipertrofi dan hiperplasti
hal ini terjadi untuk akomodasi pertumbuhan janin. Berat uterus naik
setiap bulannya sesuai dengan usia kehamilan. Pada minggu
pertama, istmus rahim mengadakan hipertrofi dan bertambah
panjang, sehingga bila diraba terasa lebih lunak (tanda hegar).
Uterus juga mengalami perubahan dalam vaskularisasinya, pembuluh
darah balik (vena) mengembang dan bertambah, serviks bertambah
vaskularisasinya dan menjadi lunak (tanda goodel), kelenjar
endoservikal membesar dan mengeluarkan banyak mukus, karena
pertambahan dan pelebaran pembuluh darah warnanya menjadi livid
(tanda chadwick).
2) Ovarium
a) Ovulasi terhenti karena pengaruh dari peningkatan hormon
estrogen
b) Masih terdapat corpus luteum graviditas sampai terbentuknya uri
yang mengambil alih pengeluaran estrogen dan progesteron.
3) Vagina dan vulva
Karena pengaruh estrogen terjadi perubahan pada vagina dan
vulva. Akibat hipervaskularisasi, vagina dan vulva terlihat lebih merah
atau kebiruan.
4) Dinding perut
Pembesaran rahim menimbulkan peregangan dan menyebabkan
robeknya serabut elastik bawah kulit, sehingga timbul striae
garavidarum. Kulit perut pada linea alba bertambah pigmentasinya
b. Perubahan pada organ dan sistem lainnya
1. Sistem sirkulasi darah
Volume darah total dan volume plasma darah naik pesat sejak
akhir trimester pertama. Volume darah akan bertambah banyak,
kira-kira 25%, dengan puncaknya pada kehamilan 32 minggu, diikuti
curah jantung yang meningkat sebanyak kurang lebih 30%. Kenaikan
plasma darah dapat mencapai 40% saat mendekati cukup bulan.
Jumlah albumin, protein dan gamaglobilin menurun dalam trimester
pertama dan meningkat secara bertahap pada akhir kehamilan.
Beta-globulin dan fibrinogen terus meningkat.
Hematokrit cenderung menurun karena kenaikan relatif volume
plasma darah. Jumlah eritrosit cenderung meningkat untuk
memenuhi kebutuhan transpor O2 yang sangat diperlukan selama
kehamilan. Konsentrasi Hb terlihat menurun, walaupun sebenarnya
lebih besar dibandingkan dengan Hb pada orang tidak hamil. Anemia
fisiologis ini disebabkan oleh volume plasma yang meningkat. Dalam
kehamilan, leukosit meningkat sampai 10.000/cc, begitu pula dengan
produksi trombosit.
Tekanan darah arteri cenderung menurun terutama selama
trimester dua dan kemudian akan naik lagi seperti pada pra-hamil.
Pompa jantung mulai naik kira-kira 30% setelah kehamilan 3 bulan
2. Sistem pernafasan
Kapasitas vital paru meningkat sedikit selama hamil. Seorang
wanita hamil selalu bernapas lebih dalam disebabkan karena usus
yang tertekan ke arah diafragma akibat pembesaran rahim.
3. Saluran pencernaan
Salivasi meningkat, dan pada trimester pertama mengeluh mual
muntah. Tonus otot-otot saluran pencernaan melemah sehingga
motilitas dan makanan akan lebih lama berada dalam saluran
makanan. Resorbsi makanan baik, namun akan menimbulkan
obstipasi.
4. Payudara
Selama kehamilan payudara bertambah besar, tegang dan berat.
Dapat teraba noduli-noduli, akibat hipertrofi kelenjar alveoli ;
bayangan vena-vena lebih membiru. Hiperpigmentasi pada puting
susu dan areola payudara. Kolostrum kadang sudah keluar.
2. Definisi Preeklampsia Berat
Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema,
dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya
terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan, namun dapat terjadi sebelumnya,
misalnya pada mola hidatidosa. (Prawirohardjo, 2006 ; h.282)
Pre-eklampsi adalah kondisi khusus dalam kehamilan, ditandai dengan
peningkatan tekanan darah dan proteinuria. Bisa berhubungan dengan
atau berlanjut menjadi kejang (eklampsia) dan gagal organ ganda pada ibu,
absurpsio plasenta/ solutio plasenta (Skenan & kapel, 2001 dalam Asuhan
Kegawatdaruratan Dalam Kebidanan, 2009 ; h.138-139)
Pre eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai
dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria
dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih (Nugroho, 2010 ;
h.80).
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pre eklampsia berat
adalah penyakit yang terjadi pada kehamilan umumnya pada usia
kehamilan 20 minggu atau lebih yang ditandai dengan gejala hipertensi (TD
160/110 mmHg atau lebih), proteinuria, dan dapat disertai dengan oedema
serta dapat berlanjut menjadi kejang (eklampsia) dan gagal organ ganda
pada ibu.
3. Etiologi
Penyebab pre eklampsia berat dan eklampsia sampai sekarang belum
diketahui secara pasti. Terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan
sebab penyakit tersebut, akan tetapi tidak ada yang dapat memberi
jawaban yang memuaskan. Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan
sebagi sebab pre-eklampsia ialah iskemia plasenta (Prawirohardjo, 2006
h.283). Pada kehamilan normal, plasentasi melibatkan invasi desidua oleh
sinsitiotrofoblas. Selama awal kehamilan, dinding otot dan endotelium arteri
spiral terkikis dan digantikan oleh trofoblas untuk memberikan lingkungan
yang optimum bagi perkembangan blastosis. Fase kedua proses invasi ini
terjadi antara gestasi minggu ke-16 dan ke-20 saat trofoblas mengikis
menyebabkan dilatasi pembuluh darah yang tidak dapat berkontraksi, oleh
karena itu, sistem tekanan rendah dan aliran darah yang tinggi ke plasenta
dihasilkan dengan perfusi plasenta yang maksimal (Sheppard & Bonnar
1998 dalam Fraser, 2006 h. 352), pada preeklampsia invasi trofoblastik
arteri spiral mengalami hambatan sehingga mengakibatkan penurunan
perfusi plasenta, yang akhirnya dapat menyebabkan hipoksia plasenta
(Fraser, 2006 h. 352).
Namun preeklampsia berat dapat terjadi karena beberapa faktor berikut:
a. Primigravida
b. Tuanya kehamilan
c. Kehamilan ganda
d. Vasospasme arteriola
e. Hidramnion
f. Mola hidatidosa
g. Grand multigravida
h. Malnutrisi berat
i. Usia ibu kurang dari 18 tahun atau lebih dari 35 tahun
j. Anemia
k. Adanya gangguan pada perubahan pada vaskulatur uterus
(Prawirohardjo, 2006 h.283 ; Marmi, dkk, 2011 h.69; Maryunani dan
4. Faktor Predisposisi
Dilihat dari penyebabnya (etiologi), preeklampsia berat lebih berpotensi
terjadi pada ibu usia < 18 tahun atau > 35 tahun (Mitayani, 2011 ; h.18),
primigravida, karena baru pertama kali terpapar jaringan janin (Bobak,
2005; h. 631), hidramnion, malnutrisi berat, multigravida, dan anemia,
selain itu peningkatan massa plasenta seperti kehamilan ganda, mola
hidatidosa, penyakit pembuluh darah kolagen, penyakit ginjal dan diabetes
melitus, membuat risiko preeklampsia menjadi lebih tinggi (Maryunani dan
Yulianingsih, 2009 h.139 ; Yulaikhah, 2009 h.96 ; Bobak, 2005 h. 634).
Preeklampsia lebih banyak terjadi pada wanita dengan golongan ekonomi
rendah, karena mereka kurang mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein dan juga kurang melakukan perawatan antenatal
yang teratur (Mitayani, 2011)
Kira-kira 85% preeklampsia terjadi pada kehamilan pertama,
preeklampsia terjadi pada 14%-20% kehamilan dengan janin lebih dari satu
dan 30% pasien mengalami anomali rahim yang berat, pada ibu penderita
hipertensi kronis atau penyakit ginjal, angka kejadian preeklampsia dapat
mencapai 25% (Bobak, 2005 ; h.630).
5. Fisiologi/patofisiologi
Patofisiologi preeklampsia setidaknya berkaitan dengan perubahan
fisiologis kehamilan. Adaptasi fisiologis kehamilan meliputi peningkatan
volume plasma darah, vasodilatasi, penurunan resistensi vaskuler sistemik,
peningkatan curah jantung, dan penurunan tekanan osmotik koloid. Pada
homokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Perubahan ini
membuat perfusi organ maternal menurun, termasuk perfusi ke unit
janin-uteroplasenta. Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ
dengan menghancurkan sel-sel darah merah, sehingga kapasitas oksigen
maternal menurun (Bobak, 2005 ;h. 630-631).
Pre eklampsia terjadi pada spasme pembuluh darah yang disertai
dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat
arteriola glomerolus. Pada beberapa kasus, lumen arteriole sedemikian
sempitnya sehingga sulit dilalui oleh suatu sel darah merah. Jadi jika
semua arteriola di dalam tubuh mengalami spasme maka tekanan darah
akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan darah perifer
agar oksigen jaringan dapat dicukupi. Sedangkan kenaikan berat badan
dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam
ruangan intestinal belum diketahui sebabnya , mungkin karena retensi air
garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga
terjadi perubahan pada glomerolus (Marmi, dkk, 2011 h.67)
Pada beberapa wanita hamil, terjadi beberapa sensitivitas vaskuler
terhadap angiotensin II. Peningkatan ini menyebabkan hipertensi dan
kerusakan vaskuler, akibatnya akan terjadi vasopasme. Vasopasme
menurunkan diameter pembuluh darah ke semua organ, fungsi-fungsi
organ seperti plasenta, ginjal, hati dan otak menurun sampai 40 – 60%.
Gangguan plasenta menimbulkan degenerasi pada plasenta dan
kemungkinan terjadi IUGR dan IUFD pada fetus. Aktifitas uterus dan
sensitifitas terhadap oksitosin meningkat. Penurunan perfusi ginjal
melalui urine, asam urat menurun, air dan garam ditahan, tekanan osmotik
plasma menurun, cairan keluar dari intravaskuler, menyebabkan
homokonsentrasi, peningkatan viskositas darah dan edema jaringan berat
dan peningkatan hematokrit. Pada pre-eklampsia berat terjadi penurunan
volume darah, oedema berat, dan berat badan naik dengan cepat.
Penurunan perfusi hati menimbulkan gangguan fungsi hati, edema hepar
dan hemorargik sub-kapsular menyebabkan ibu hamil mengalami nyeri
pada kuadran atas. Vasospasme arteriola dan penurunan aliran darah ke
retina menimbulkan symptom visual seperti skotoma (Blind spot) dan
pandangan kabur (Maryunani dan Yulianingsih, 2009 h.141).
Menurut Yulaikhah dan Leveno, preeklampsia berat dapat
menyebabkan perubahan pada beberapa organ tubuh, meliputi :
a. Otak
1) Spasme pembuluh darah arteriol otak menyebabkan anemia
jaringan otak, perdarahan dan nekrosis
2) Menimbulkan nyeri kepala yang hebat
b. Plasenta dan rahim
1) Spasme arteriol mendadak menyebabkan asfiksia berat sampai
kematian janin
2) Spasme yang berlangsung lama akan mengganggu pertumbuhan
janin
3) Terjadinya peningkatan tonus otot rahim dan kepekaannya terhadap
c. Ginjal
Pada kehamilan normal, aliran darah ginjal dan laju filtrasi
glomerulus meningkat secara bermakna. Jika terjadi preeklampsia,
perfusi ginjal dan filtrasi glomerulus berkurang. Konsentrasi asam urat
plasma biasanya meningkat, terutama pada wanita dengan penyakit
yang parah.
Pada sebagian besar ibu hamil dengan preeklampsia, penurunan
filtrasi glomerulus ringan sampai sedang tampaknya terjadi akibat
penurunan volume plasma sehingga kadar kreatinin plasma menjadi
dua kali lipat dibandingkan nilai pada kehamilan normal yang sekitar
0,5 mg/dl. Akan tetapi, pada beberapa kasus preeklampsia berat, dan
kreatinin plasma mungkin meningkat beberapa kali lipat dibandingkan
nilai normal non hamil atau hingga 2 sampai 3 mg/dl.
d. Paru
1) Dapat terjadi bronkopneumonia sampai abses
2) Menimbulkan sesak nafas sampai sianosis
e. Hati
Pada preeklampsia berat, kadang-kadang terjadi perubahan dalam
fungsi dan integritas hati. Nekrosis hemorargik periporta di bagian perifer lobulus hati kemungkinan besar merupakan penyebab
meningkatnya enzim hati dalam serum. Perdarahan dari lesi ini dapat
menyebabkan ruptur hati, atau perdarahan dapat meluas di bawah
6. Tanda dan gejala
Preeklampsia berat menyerang berbagai organ tubuh ibu, seperti otak,
jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Oleh karena itu organ tubuh ibu tersebut
dapat mengalami penurunan fungsi, sehingga munculah tanda dan gejala
seperti berikut :
a. Hipertensi dengan tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih, diukur
minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada keadaan istirahat
b. Oliguria (jumlah urine <500 cc per 24 jam)
c. Terdapat edema paru dan sianosis
d. Terdapat edema pada ekstremitas dan wajah
e. Proteinuria 5 gram/ 24 jam atau lebih, +++ atau ++++ pada
pemeriksaan kualitatif
f. Sakit kepala yang berat
g. Masalah penglihatan (pandangan kabur)
h. Nyeri epigastrium
i. Mual dan muntah
j. Emosi dan mudah marah
k. Pertumbuhan janin intrautrine terlambat
l. Adanya HELLP syndrome (H= Hemolysis, ELL= Elevated Liver
Enzyme, P= Low Platelet Count)
(Maryunani dan Yulianingsih, 2009 h.139-140 ; Marmi, dkk, 2011 h.67 ;
7. Pemeriksaan penunjang
Untuk menindaklanjuti tanda dan gejala yang terjadi, selain anamnesa
dan pemeriksaan fisik, pada kecurigaan adanya pre-eklampsi sebaiknya
dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
a. Pemeriksaan darah rutin serta kimia darah: urium-kreatinin, SGOT,
LDH, bilirubin
b. Pemeriksaan urine : protein, reduksi, bilirubin, sedimen
c. Kemungkinan adanya pertumbuhan janin terhambat dengan konfirmasi
USG (bila tersedia)
d. Kardiotokografi untuk menilai kesejahteraan janin
(Maryunani dan Yulianingsih, 2009 h.142).
8. Penatalaksanaan medis
Pre-eklampsi berat dapat ditangani secara konservatif atau aktif.
Konservatif berarti kehamilan tetap dipertahankan bersamaan dengan
pemberian pengobatan medisinal (untuk kehamilan <35 minggu tanpa
disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik).
Penanganan aktif apabila ibu memiliki 1 atau lebih kriteria berikut : ada
tanda-tanda impending eklampsia, ada HELLP syndrome, ada kegagalan
penanganan konservatif, ada tanda-tanda pertumbuhan janin terlambat,
usia kehamilan >35 minggu maka ibu harus dirawat di rumah sakit,
khususnya kamar bersalin, ibu di anjurkan untuk tidur miring kiri dan
diobservasi tanda vital serta reflek patella setiap jam, dipasang infus
dextrose 5% dimana setiap 1 liter diselingi dengan infus RL (60-125 cc/jam)
pemberian pengobatan medisinal anti kejang (diazepam 20mg IV
dilanjutkan dengan 40mg dalam dekstrose 10% selama 1-6 jam atau
MgSO4 40% 5 gram IV pelan-pelan dilanjutkan 5 gram dalam RL 500cc
untuk 6 jam), untuk pemberian MgSO4 perlu diperhatikan syaratnya seperti
produksi urin dalam 4 jam terakhir minimal 100ml (25-30 ml/ jam), refleks
patella positif, frekuensi nafas 16x/menit, tersedia antidotum yaitu calcium
gulconate. MgSO4 tidak memiliki risiko yang besar, karena meskipun Mg
dapat melewati barrier plasenta, namun hampir tidak pernah
mempengaruhi keadaan janin, kecuali terjadi hipermagnesia (> 15 mEq/L)
pada saat kala II. Melakukan terminasi kehamilan bila pasien belum
inpartu, dilakukan induksi persalinan untuk melahirkan janin sesegera
mungkin setelah matur/ imatur jika diketahui bahwa risiko janin/ ibu akan
lebih berat jika persalinan ditunda lebih lama. Persalinan SC dilakukan
apabila syarat induksi persalinan tidak terpenuhi atau ada kontraindikasi
persalinan per vaginam (Maryunani dan Yulianingsih, 2009 h. 143-144;
Nugroho, 2010 h.82).
B. Tinjauan Asuhan Kebidanan
1. Tinjauan Varney
Tinjauan asuhan kebidanan menggunakan kerangka berfikir Varney
yang terdiri dari 7 langkah yaitu pengkajian, interpretasi data (diagnose
dan masalah), diagnosa potensial dan tindakan antisipasi segera untuk
Langkah I : Pengumpulan data dasar
Pengumpulan data dasar adalah mengumpulkan data dasar yang
menyeluruh untuk mengevaluasi ibu dan bayi baru lahir. Data dasar ini
meliputi pengkajian riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan panggul
sesuai dengan indikasi, meninjau kembali proses perkembangan asuhan
kebidanan saat ini atau catatan rumah sakit sebelumnya, dan meninjau
kembali data hasil laboratorium dan laporan penelitian terkait, data dasar
yang diperlukan adalah semua data yang berasal dari sumber informasi
yang berkaitan dengan kondisi ibu dan bayi baru lahir. Bidan
mengumpulkan data dasar awal yang lengkap, bahkan jika ibu dan bayi
baru lahir mengalami komplikasi yang mengharuskan mereka
berkonsultasi dengan dokter sebagai bagian dari penatalaksanaan
kolaborasi.
Langkah II : Interpretasi Data
Data dasar yang telah diperoleh kemudian diinterpretasikan untuk
merumuskan masalah serta menentukan diagnosisnya dan juga
kebutuhan asuhan kesehatan yang diperlukan.
Langkah III : Mengidentifikasi diagnosa atau Masalah Potensial
Mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan
masalah dan diagnosis saat ini. Dalam hal ini bidan mengambil langkah
antisipasi dan melakukan tindakan kewaspadaan.
Langkah IV : Identifikasi Kebutuhan yang Memerlukan Tindakan segera
Langkah keempat mencerminkan sifat kesinambungan proses
penatalaksanaan, yang tidak hanya dilakukan selama asuhan primer atau
Mengumpulkan data baru kemudian dikaji dan dievaluasi. Bidan harus
mengambil tindakan secara cepat dan tepat untuk keselamatan ibu dan
bayi apabila terdapat data yang mengarah kepada situasi
kegawatdaruratan.
Langkah V : Merencanakan Asuhan yang Menyeluruh
Melakukan perencanaan yang menyeluruh berdasarkan pada hasil
langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan lanjutan dari masalah atau
diagnosa yang telah diidentifikasi atau di antisipasi, apabila terdapat data
yang kurang lengkap maka dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang
menyeluruh tidak hanya meliputi kondisi pasien atau masalah yang
berkaitan tetapi juga berkaitan dengan antisipasi tentang apa yang akan
terjadi selanjutnya kepada pasien, antisipasi ini meliputi pendidikan
kesehatan dan semua rujukan yang meliputi masalah sosial, ekonomi,
agama, keluarga, budaya, maupun psikologis. Dalam kata lain, semua hal
yang tentang pasien yang berkaitan dengan aspek asuhan kebidanan
dapat digunakan untuk merencanakan tindakan yang akan dilakukan.
Suatu rencana kesehatan harus menguntungkan kedua belah pihak, baik
untuk bidan maupun pasien karena pasien tersebutlah yang akan
melaksanakan perencanaan yang telah dibuat. Oleh karena itu sebaiknya
dalam menentukan rencana tindakan, bidan haruslah mendiskusikannya
bersama pasien sekaligus mengkonfirmasi persetujuan pasien sebelum
melaksanakannya.
Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan
Langkah ini merupakan pelaksanaan perencanaan secara menyeluruh.
bidan, jika bidan tidak dapat melakukannya sendiri, bidan dapat
bekerjasama dengan orang tua atau tenaga kesehatan lainnya namun
bidan tetap bertanggungjawab untuk mengarahkan pelaksanaannya agar
benar-benar dilakukan. Apabila bidan berkolaborasi dengan dokter dan
keterlibatannya dalam manajemen asuhan bagi pasien dengan
komplikasi, bidan juga bertanggungjawab terhadap terlaksananya
rencana asuhan kolaborasi yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang
efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari
asuhan tersebut.
Langkah VII : Evaluasi
Merupakan tindakan untuk memeriksa apakah rencana asuhan yang
dilakukan telah mencapai tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan ibu meliputi
identifikasi masalah, diagnosis, dan kebutuhan asuhan kesehatan.
Rencana tersebut akan menjadi efektif apabila bidan
mengimplementasikan semua tindakan dalam rencana. Langkah-langkah
proses manajemen pada umumnya merupakan pengkajian yang
memperjelas proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta
berorientasi (Varney, 2007 h.27-28).
Metode pendokumentasian secara SOAP meliputi :
S (Subyektif) : Data riwayat kesehatan yang diperoleh dari wawancara
dengan pasien
O (Obyektif) : Data yang diperoleh dari pengkajian fisik pasien
A (Assesment) : Kesimpulan dari data subyektif dan data obyektif
P (Planning) : Perencanaan asuhan yang akan dilakukan berdasarkan
2. Tinjauan Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Dengan Preeklampsia Berat
I. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah pengumpulan data tentang status kesehatan
klien dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan (PP IBI,
2006; 136).
a. Data Subyektif
1. Identitas Klien
Nama Ibu : Penulisan nama haruslah jelas dan lengkap, meliputi
nama depan, nama tengah, nama keluarga, bila perlu
nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam
memberikan penanganan (Matondang, dkk, 2009 ;h. 5)
Umur : Untuk mengetahui umur ibu, apakah beresiko tinggi
pada kehamilan. Secara umum menurut
Prawirohardjo, 2006;h. 167, umur ibu hamil normal
adalah 20-35 tahun, hal ini berarti usia < 20 tahun dan
> 35 tahun memiliki resiko yang besar pada
kehamilannya, dan lebih berpotensi terjadi
preeklampsia berat (Maryunani dan Yulianingsih, 2009,
h. 139).
Suku Bangsa : Untuk mengetahui suku bangsa ibu, karena suku
bangsa dapat mempengaruhi variasi tekanan darah,
karena setiap ras memiliki sensitifitas yang
berbeda-beda terhadap penekanan darah seperti angiotensin II
dan kemungkinan karena suatu ketidakseimbangan
yang kemudian dapat menimbulkan vasospasme
(Bobak, 2005 ; h.630-631).
Agama : Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut, karena
perilaku seseorang tentang kesehatan dan penyakit
sering berhubungan dengan agama (Matondang, 2009
;h.6).
Pendidikan : Tingkat pendidikan tidak saja mempengaruhi
kerelaan seorang pasien untuk menggunakan fasilitas
kesehatan tapi juga dalam pemilihan suatu metode.
Seseorang yang berpendidikan tinggi akan lebih
memilih metode yang aman dan sehat (Handayani,
2010 ; h.17).
Dalam asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan
preeklampsia, pendidikan akan mempengaruhi
pengambilan keputusan.
Pekerjaan : Preeklampsia berat lebih banyak terjadi pada wanita
dan golongan ekonomi rendah, karena mereka kurang
mengonsumsi makanan yang mengandung protein dan
juga kurang melakukan perawatan antenatal yang
teratur, sehingga sulit untuk mendeteksi secara dini
terjadinya preeklampsia berat dan kemungkinan
keterlambatan penanganan lebih besar (Mitayani, 2011
Alamat : Alamat ditulis dengan jelas dan lengkap. Ditanyakan
untuk mempermudah melakukan kunjungan rumah bila
diperlukan (Matondang, dkk, 2009 ;h.6).
2. Alasan Datang : Untuk mengetahui alasan pasien datang ke petugas
kesehatan (Davey, 2005 ;h.5), ibu hamil dengan
preeklampsia berat biasanya datang ingin
memeriksakan keadaannya.
3. Keluhan Utama : Ibu hamil dengan preeklampsia biasanya mengeluh
pusing yang hebat, hal ini disebabkan karena adanya
edema serebral dan hemorargik serta peningkatan
susunan saraf pusat, pandangan mata kabur yang
disebabkan oleh vasospasme arteriola dan penurunan
aliran darah ke retina, dan adanya tekanan pada
kapsula hepar dapat menimbulkan nyeri pada ulu hati,
serta edema pada ekstremitas dan wajah yang
disebabkan karena penimbunan air yang berlebihan
dalam ruangan intestinal namun hal ini belum diketahui
sebab pastinya , mungkin karena retensi air garam
(Sinclair, 2010 h.111 ; Maryunani, 2009 h.141 ;
Mitayani, 2011 h.16 ; Marmi, dkk, 2011 h.67).
4. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat kesehatan dahulu
Untuk menilai kemungkinan ibu menderita penyakit hipertensi
sebelum hamil karena penyakit ini dapat timbul kembali saat
riwayat preeklampsia pada kehamilan terdahulu, obesitas, dan
kemungkinan ibu pernah menderita penyakit ginjal kronis
(Mitayani, 2011 ; h.17), diabetes melitus dan anemia (Maryunani
dan Yulianingsih, 2009 ;h. 139 ; Yulaikhah, 2009 ;h. 96).
b) Riwayat kesehatan sekarang
Penyakit anemia, diabetes melitus, penyakit tyroid, hipertensi
kronik dan penyakit ginjal dapat memacu timbulnya preeklampsia
berat (Yulaikhah, 2009 h. 96; Prawirohardjo, 2006). Diabetes
melitus dapat menyebabkan preeklampsia karena glukosa dapat
berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga
kadarnya dalam darah janin menyerupai kadar darah ibu, namun
insulin ibu tidak dapat mencapai janin sehingga kadar gula ibu
yang mempengaruhi kadar pada janin, pengendalian kadar gula
dipengaruhi oleh insulin dan hormon-hormon seperti : estrogen,
steroid dan plasenta laktogen (Marmi, 2011;h.31), penyakit ginjal
lebih beresiko karena pada penyakit ginjal terjadi autoregulasi dan
aliran darah ginjal dapat terganggu, setiap peningkatan TD lebih
cenderung untuk menaikan tekanan glomelurus (Horison, 1999).
c) Riwayat kesehatan keluarga
Dengan adanya riwayat keturunan kembar maka pasien
berpotensi mengalami kehamilan dengan janin ganda dan hal ini
merupakan faktor predisposisi terjadinya preeklampsia berat, atau
dalam keluarga pasien pernah ada yang mengalami preeklampsia
maka pasien kemungkinan akan mengalami preeklampsia pula
Riwayat penyakit diabetes melitus dalam keluarga juga dapat
mendukung ibu mengalami preeklampsia (Yulaikhah, 2009 ;h. 96).
5. Riwayat Obstetri
a) Riwayat Haid
Untuk mengetahui menarche, siklus haid, lama serta
banyaknya haid, terjadi dismenorhea dan fluor albus, dan
mengetahui hari pertama haid terakhir guna menghitung umur
kehamilan. Preeklampsia berat terjadi pada usia kehamilan > 20
minggu (Nugroho, 2010 h.80), serta memperkirakan hari lahir
bayinya dan mendukung indikasi dilakukannya terminasi
kehamilan jika usia kehamilan sudah cukup bulan.
b) Riwayat Kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
Untuk menilai kemungkinan ibu menderita penyakit hipertensi
sebelum hamil karena penyakit ini dapat timbul kembali saat
kehamilan dan dapat berlanjut menjadi preeklampsia berat, dan
riwayat preeklampsia pada kehamilan terdahulu (Mitayani, 2011 ;
h.17).
c) Riwayat kehamilan sekarang
Untuk mengetahui berapa kali ibu melakukan kunjungan
antenatal, obat apa saja yang telah ibu dapat, pendidikan
kesehatan apa saja yang telah diberikan oleh petugas kesehatan,
serta mendeteksi secara dini adanya tanda-tanda preeklampsia
berat seperti sakit kepala, nyeri ulu hati, penglihatan mata kabur,
mual muntah, serta tidak nafsu makan (Mitayani, 2011 ; h.17).
tanda-tanda preeklampsia pada usia kehamilan > 20 minggu
(Nugroho, 2010 h.80).
6. Riwayat Pernikahan
Preeklampsia biasanya terjadi pada wanita yang menikah di bawah
usia 20 tahun atau di atas 35 tahun, karena umur seorang ibu untuk
hamil normal adalah 20-35 tahun, hal ini berarti usia < 20 tahun dan >
35 tahun memiliki resiko yang besar pada kehamilannya, dan lebih
berpotensi terjadi preeklampsia berat (Maryunani dan Yulianingsih,
2009, h. 139).
7. Riwayat Kontrasepsi
Untuk mengetahui jenis kontrasepsi yang pernah digunakan oleh
pasien. Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada
janin, ibu, atau keduanya. Pada ibu dengan hipertensi tidak disarankan
menggunakan KB hormonal karena akan memperparah penyakitnya,
jika pasien pernah menggunakan KB hormonal dan menderita
hipertensi, maka kemungkinan hipertensi tersebut muncul kembali
sangatlah besar dan kemudian dapat menjadi semakin parah karena
kehamilan kemudian berlanjut menjadi preeklampsia berat (Mitayani,
2011 ; h.3).
8. Pola Kebutuhan Sehari-hari
a) Pola Nutrisi
Mengetahui pola makan dan minum ibu serta apa saja jenis
makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi ibu sehari-hari
selama kehamilan, adakah pertambahan porsi makan yang
nutrisi maka akan menyebabkan terjadinya malnutrisi, kemudian
berlanjut menjadi malnutrisi berat yang dapat mempredisposisi
terjadinya preeklampsia berat (Maryunani dan Yulianingsih, 2009
h.139). Menilai apakah ibu kurang mengkonsumsi makanan yang
mengandung protein atau tidak, karena jika ibu kekurangan
protein dapat mempengaruhi terjadinya preeklampsia berat
(Mitayani, 2011 ; h.19).
b) Pola eliminasi
Untuk melihat frekuensi dan konsistensi feases ibu, serta
melihat frekuensi BAK, pada ibu dengan preeklampsia berat
biasanya terjadi oliguria (jumlah urine <500cc/ 24 jam) (Nugroho,
2010; h.80), oliguria dapat terjadi disebabkan karena aliran darah
ginjal dan filtrasi glomerulus menurun (Bobak, 2005; h.632).
c) Pola aktivitas
Untuk mengetahui aktivitas ibu selama kehamilan, pada ibu
dengan preeklampsia apabila tekanan darahnya mulai naik maka
ibu sebaiknya berhenti bekerja jika ibu bekerja (Morgan, 2009 ;
h.366).
d) Pola istirahat
Menilai apakah pola aktivitas ibu seimbang dengan pola
istirahatnya. Jika tekanan darah ibu semakin tinggi, ibu
sebaiknya disarankan untuk memperbanyak istirahat kurang
e) Pola personal hygiene
Untuk mengetahui apakah ibu menjaga kebersihan dirinya
dengan baik atau tidak sehingga mempengaruhi kesehatan ibu
(Varney, 2007 ;h.646). Pada preeklampsia berat, pola personal
hygiene tidak berpengaruh.
9. Data psikososial, kultural, spiritual
Menilai respon ibu dan keluarga terhadap kehamilan dan mengkaji
ketaatan ibu dalam beribadah serta budaya yang ada di lingkungan
masyarakat tentang kehamilan. Biasanya ibu preeklampsia berada
dalam kondisi yang labil dan mudah marah, ibu merasa khawatir akan
keadaannya dan keadaan janin dalam kandungannya, ibu merasa
takut anaknya lahir cacat atau meninggal dunia, sehingga ibu takut
untuk melahirkan (Mitayani, 2011 ; h. 19).
b. Data Obyektif
1. Keadaan Umum
Mengetahui kondisi pasien, apakah dalam keadaan baik, cukup
atau lemah. Pada ibu dengan preeklampsia biasanya keadaan
umumnya lemah karena terjadi sakit kepala yang menetap, nyeri ulu
hati, penglihatan kabur, terhuyung-huyung, bahkan mual muntah
sampai tidak nafsu makan (Mitayani, 2011 ; h.18).
2. Tingkat kesadaran
Patofisiologi preeklampsia mempengaruhi Sistem Saraf Pusat
(SSP) dengan menginduksi edema otak dan meningkatkan resistensi
otak. Komplikasi meliputi nyeri kepala, kejang dan gangguan pembuluh
nyeri kepala dan gangguan penglihatan atau perubahan keadaan
mental dan tingkat kesadaran (Bobak, 2005; h. 632).
3. Tanda-tanda vital
a) Tekanan Darah
Pada preeklampsia berat biasanya terjadi peningkatan tekanan
darah 160/110 mmHg atau lebih, diukur minimal 2 kali dengan jarak
waktu 6 jam pada keadaan istirahat (Maryunani dan Yulianingsih,
2009 ; h.139), kenaikan tekanan darah ini disebabkan karena
adanya penyempitan lumen arteriole sehingga sulit dilalui oleh
suatu sel darah merah, dan apabila semua arteriola di dalam tubuh
mengalami spasme/ penyempitan maka tekanan darah akan naik,
sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan darah perifer
agar oksigen jaringan dapat dicukupi (Marmi, dkk, 2011 h.67).
b) Nadi
Frekuensi nadi normalnya 60-90 kali per menit. Takikardi bisa
terjadi pada keadaan cemas, hipertiroid dan infeksi. Nadi diperiksa
selama satu menit penuh untuk dapat menentukan keteraturan
detak jantung. (Mitayani, 2011 ; h.5).
Pada ibu hamil dengan preeklampsia berat terjadi peningkatan
tekanan darah dan mempengaruhi frekuensi nadinya.
c) Suhu
Mengetahui suhu tubuh ibu, diukur menggunakan thermometer
yang diselipkan di ketiak. Normalnya suhu tubuh ibu adalah 36,2o
2011 ; h.5). Suhu tidak mempengaruhi terjadinya preeklampsia
berat.
d) Respirasi
Pernafasan selama hamil berkisar antara 16-24 kali per menit
(Mitayani, 2011; h.5). Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai
frekuensi pernafasan dan irama pernafasan pasien dalam batas
normal/ tidak. Apabila nafas ibu pendek/ cepat (> 24 kali per menit),
kemungkinan adanya edema paru dan ini merupakan salah satu
tanda preeklampsia (Prawirohardjo, 2006).
4. Berat badan
Dilakukan untuk melihat apakah kenaikan berat badan ibu setiap
trimesternya masih dalam batas normal/ tidak. Kenaikan berat badan
½ kg setiap minggu dalam kehamilan masih dapat dianggap normal,
tetapi bila kenaikan 1kg seminggu berturut-turut, hal ini dapat
diwaspadai adanya preeklampsia. Peningkatan berat badan
disebabkan adanya penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan
interstisial yang kemungkinan disebabkan oleh retensi air dan garam
(Prawirohardjo, 2006 ; Mitayani, 2011 h.15).
5. Tinggi badan
Pengukuran tinggi ibu hamil ini berkaitan dengan kemungkinan
panggul sempit apabila tinggi badan kurang dari 150 cm (Manuaba,
2008 ; h.30). Tinggi badan tidak berpengaruh pada preeklampsia
6. LILA
Untuk menentukan status gizi ibu, apabila gizi ibu kurang, ibu
menderita malnutrisi berat dapat berpotensi mengalami preeklampsia
berat (Maryunani dan Yulianingsih, 2009 ; h.139).
7. Status present
a) Kepala
Untuk menilai bentuk kepala, kebersihan rambut, dan adakah
rambut yang rontok/ tidak. Rambut rontok akan menunjukan status
gizi seseorang, malnutrisi merupakan salah satu faktor predisposisi
terjadinya preeklampsia berat (Maryunani, 2006; h. 139)
b) Muka
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat apakah muka pasien
terlihat pucat, dan menilai adakah edema. Biasanya ibu penderita
preeklampsia berat mengalami edema pada wajahnya (Mitayani,
2011; h,18), hal ini disebabkan karena penimbunan air yang
berlebihan dalam ruangan intestinal namun hal ini belum diketahui
sebab pastinya , mungkin karena retensi air garam (Marmi, dkk,
2011 h.67)
c) Mata
Melakukan pemeriksaan pada konjungtiva, untuk menilai adakah
tanda anemia, anemia merupakan salah satu penyebab timbulnya
preeklampsia (Anik maryunani dan Yulianingsih, 2009 ; h.139).
Menilai adanya ikterik/ tidak pada sklera, dan melihat adakah
edema pada kelopak mata, edema kelopak mata merupakan tanda
terjadi karena adanya penimbunan air yang berlebihan dalam
ruangan intestinal yang mungkin karena adanya retensi air dan
garam (Marmi, dkk, 2011 h.67),
d) Mulut
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat dan menilai kebersihan
mulut seperti kebersihan gigi, lidah dan gusi, apabila terlihat lidah
ibu kotor dan gusi epulis, maka gangguan tersebut dapat terjadi
akibat mual muntah atau hipersalivasi (Manuaba, 2007 ; h.162).
Mulut tidak mempengaruhi terjadinya preeklampsia.
e) Hidung
Untuk menilai bentuk hidung, adakah pernafasan cuping hidung,
dan menilai apakah ibu mengalami nafas cepat dan pendek, hal ini
menandai adanya edema paru (Prawirohardjo, 2006). Edema paru
disebabkan karena penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan
intestinal yang mungkin karena adanya retensi air dan garam
(Marmi, dkk, 2011 h.67),
f) Telinga
Untuk menilai keadaan telinga pasien, meliputi telinga luar,
saluran telinga, gendang telinga dan pendengaran (Prihardjo, 2006
;h.61). Pada preeklampsia berat, telinga tidak berpengaruh.
g) Leher
Menilai adakah pembesaran kelenjar tyroid, bendungan vena
jugularis, dan adakah pembesaran kelenjar limfe (Manuaba, 2007
h) Dada dan axilla
Dilakukan untuk menilai adanya edema paru, apabila terjadi
edema paru biasanya nafas ibu pendek dan cepat sehingga terlihat
adanya retraksi dinding dada (Prawirohardjo, 2006). Edema paru
terjadi karena penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan
intestinal yang mungkin karena adanya retensi air dan garam
(Marmi, dkk, 2011 h.67).
i) Abdomen
Melihat adanya pembesaran perut, adakah perut pendulum
(kemungkinan adanya DKP), terdapat hiperpigmentasi dinding
abdomen (striae gravidarum dan linea nigra), serta adakah bekas
luka operasi (bekas sectio caesaria, atau bekas operasi lainnya
yang dapat menjadi lokus minoris resistensi) (Manuaba, 2007
;h.163). abdomen tidak mempengaruhi terjadinya preeklampsia
berat.
j) Genetalia
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai adakah tanda infeksi
pada genitalia. Dengan melihat adanya pengeluaran fluor,
kondiloma akuminata, tanda chadwick dan luka episiotomi
(Manuaba, 2007 ;h.163). Pada preeklampsia berat, genetalia tidak
berpengaruh.
k) Ekstremitas
Menilai adakah edema pada ekstremitas, edema pada kaki dan
jari tangan merupakan salah satu tanda preeklampsia
(Manuaba, 2007 ;h.163). Pada ibu dengan preeklampsia berat
biasanya terdapat hiper refleksia dan klonus pada kaki (Mitayani,
2011 ; h.18).
8. Status obstetrikus
a. Muka
Melihat adanya kloasma gravidarum, konjuntiva, dan edema
kelopak mata. Kloasma gravidarum disebabkan karena adanya
Melanocyte Stimulating Hormone (MSH) yang dihasilkan hipofisis
dan hormon seks, pemeriksaan konjungtiva dilakukan untuk
melihat kadar Hb secara kasar, melihat adanya edema kelopak
mata untuk menilai adanya hiperbilirubinemia dan tanda
preeklampsia berat (Manuaba, 2007; h.162)
b. Dada
Menilai adanya hiperpigmentasi areola mamae dan papila mamae,
kelenjar montgomeri tampak lebih menonjol, pembuluh vena
tampak jelas, hal ini menunjukan tanda fisiologis kehamilan
(Manuaba, 2007; h.162). Pada preeklampsia berat, hal ini tidak
berpengaruh.
c. Abdomen
Melihat adanya linea nigra dan striae gravidarum (Manuaba,
2007;h. 163)
Palpasi Leopold :
Palpasi dilakukan untuk menentukan besarnya rahim dengan
menentukan usia kehamilan serta menentukan letak anak dalam
terjadi kemungkinan adanya kehamilan ganda atau molahidatidosa
dan ologohidramnion, hal ini dapat mendukung terjadinya
preeklampsia berat.
Leopold I :
Leopold I bertujuan untuk mengetahui usia kehamilan
dan apa yang ada dalam fundus.
Leopold II :
Leopold II bertujuan untuk menentukan letak punggung
janin dan letak bagian kecil pada janin.
Leopold III :
Leopold III bertujuan untuk menentukan bagian apa
yang terdapat di bagian bawah dan apakah bagian
bawah janin sudah atau belum masuk pintu atas
panggul
Leopold IV :
Leopold IV di gunakan untuk menentukan apa yang
menjadi bagian bawah dan seberapa masuknya
bagian bawah tersebut ke dalam rongga panggul
(Hidayat, 2008 ; h.143-145).
Mengukur Denyut Jantung Janin (DJJ) untuk menilai
kesejahteraan janin, dalam keadaan sehat frekuensi DJJ 120-140
kali per menit (Hidayat, 2008 ; h.145). Pada ibu hamil dengan
preeklampsia berat ditemukan DJJ yang tidak teratur dan lemah
dengan metode Mc.Donald untuk menentukan panjang janin dan
tafsiran berat janin (TBJ) (Manuaba, 2007 ;h. 163).
9. Pemeriksaan Penunjang
Melakukan pemeriksaan laboratorium, pada ibu yang dicurigai
preeklampsia biasanya dilakukan pemeriksaan protein urin. Proteinuria
pada ibu preeklampsia adalah 5 gram/ 24 jam atau lebih, +++ atau
++++ pada pemeriksaan kualitatif (Maryunani dan Yulianingsih, 2009;
h.139). Proteinuria timbul disebabkan karena adanya penyesuaian
untuk mengendalikan sejumlah besar darah yang berperfusi di ginjal,
kemudian terjadi reaksi vasospasme ginjal sebagai suatu mekanisme
protektif yang akhirnya menyebabkan proteinuria (Bobak, 2005; h.
631).
Selain proteinuria, pemeriksaan laboratorium yang dilakukan
meliputi hitung darah lengkap dan profil pembekuan, urea dan
elektrolit, kreatinin dan tes perfusi hati, termasuk pemeriksaan kadar
albumin, pada preeklampsia berat, sampel darah sebaiknya diperiksa
setiap 12-24 jam (Lewis & Drife 2001 dalam Fraser, 2006; h. 357)
II. INTERPRETASI DATA
A. Diagnosa Kebidanan
Ny...Umur...tahun, Usia kehamilan...minggu, G P A, janin
tunggal/ganda hidup intra uteri, punggung kanan/kiri dengan
Data dasar
Subyektif : Pada ibu hamil dengan preeklampsia berat akan di
dapatkan data subyektif sebagai berikut :
1. pusing yang hebat disebabkan karena adanya edema
serebral dan hemorargik serta peningkatan susunan saraf
pusat
2. Pandangan mata kabur yang disebabkan oleh
vasospasme arteriola dan penurunan aliran darah ke
retina
3. Adanya tekanan pada kapsula hepar dapat menimbulkan
nyeri pada ulu hati (Sinclair, 2010 h.111 ; Maryunani,
2009 h.141 ; Mitayani, 2011 h.16).
4. Bengkak pada muka, kaki dan tangan yang disebabkan
karena penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan
intestinal yang mungkin karena adanya retensi air dan
garam (Marmi, dkk, 2011 h.67)
Obyektif :Pada ibu hamil dengan preeklampsia berat akan di
dapatkan data obyektif sebagai berikut:
a. Keadaan umum dan tingkat kesadaran ibu
Pada ibu dengan preeklampsia biasanya keadaan umumnya
lemah karena adanya gangguan kesadaran (Mitayani, 2011;
h.18).
b. Hasil pemeriksaan fisik
Pada ibu hamil dengan preeklampsia ditemukan pemeriksaan
1. Pada muka biasanya ibu penderita preeklampsia berat
mengalami oedema pada wajahnya (Mitayani, 2011; h,18)
2. Pada pemeriksaan mata terlihat adanya ikterik pada sklera,
dan ada oedema pada kelopak mata, oedema kelopak mata
merupakan tanda adanya preeklampsia pada ibu hamil
(Prawirohardjo, 2006)
3. Pada ibu dengan preeklampsia biasanya ditemukan keluhan
nyeri pada ulu hati karena adanya tekanan pada kapsula
hepar (Mitayani, 2011;h.16)
4. Terdapat edema pada kaki dan jari tangan merupakan salah
satu tanda preeklampsia (Prawirohardjo, 2006)
5. Pada pengukuran TFU dapat ditemukan pembesaran uterus
yang berlebihan dapat terjadi kemungkinan adanya
kehamilan ganda atau molahidatidosa dan ologohidramnion,
hal ini dapat mendukung terjadinya preeklampsia berat
6. Pada pemeriksaan laborat ibu hamil dengan preeklampsia
berat ditemukan proteinuria adalah 5 gram/ 24 jam atau lebih,
+++ atau ++++ pada pemeriksaan kualitatif (Maryunani dan
Yulianingsih, 2009; h.139).
B. Masalah
Berisi data subyektif yang mengarah pada hal yang akan
III. DIAGNOSA POTENSIAL
Pada ibu hamil dengan preeklampsia berat akan ada kemungkinan
terjadi eklampsi. Eklampsia terjadi karena preeklampsia yang berlanjut/
tidak tertangani dengan baik (Leveno, 2009 ; h.396).
IV. IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA, KOLABORASI DAN KONSULTASI
Melakukan kolaborasi dengan dokter Sp.OG untuk penanganan awal
pada ibu hamil dengan preeklampsia berat yaitu untuk pemberian obat anti
hipertensi dan MgSO4 (Mochtar, 1998)
V. PERENCANAAN
Jika bidan mendiagnosa adanya hipertensi atau preeklampsia selama
kehamilan, yang dapat dilakukan bidan menurut Fraser 2006 adalah :
1. Anjurkan ibu beristirahat di rumah dan lakukan pemeriksaan rutin
2. Anjurkan ibu diet kaya protein, serat dan vitamin serta dapat
ditambahkan kalsium apabila ibu tinggal di komunitas yang asupan
dalam dietnya rendah
3. Lakukan pemantauan peningkatan berat badan
4. Lakukan pemantauan tekanan darah dan urinalis setiap hari
5. Lakukan pemeriksaan abdomen setiap hari
6. Lakukan pengkajian janin
7. Berikan terapi antihipertensi
(Fraser, 2006 ; h.356-357)
8. Jika terdapat komplikasi/ keadaan ibu dan janin semakin memburuk,
Menurut Rustam Mochtar, 1998, penanganan preeklampsia berat
adalah sebagai berikut :
a. Preeklampsia berat pada kehamilan <37 minggu
Apabila pada pemeriksaan telah dijumpai tanda kematangan
paru janin, maka penatalaksanaannya sama seperti kehamilan >37
minggu, namun jika janin belum menunjukan tanda-tanda
kematangan paru-paru dengan uji kocok, maka penanganannya
adalah sebagai berikut :
1) Berikan suntikan sulfas magnesikus dengan dosis 8gr
intramuskuler
2) Observasi keadaan janin dan tanda-tanda vital ibu
3) Lakukan terminasi kehamilan jika tidak ada perbaikan keadaan
ibu
b. Preeklampsia berat pada kehamilan >37 minggu
1) Anjurkan ibu untuk tirah baring
2) Berikan diit rendah garam tinggi protein
3) Berikan suntikan MgSO4 8gr intramuskuler
4) Pasang infus dekstrosa 5% dan Ringer laktat secara bergantian
5) Berikan obat anti hipertensi
VI. PELAKSANAAN
1. Menganjurkan ibu beristirahat di rumah dan melakukan pemeriksaan
rutin
2. Menganjurkan ibu diet kaya protein, serat dan vitamin serta dapat
ditambahkan kalsium apabila ibu tinggal di komunitas yang asupan
dalam dietnya rendah
3. Melakukan pemantauan peningkatan berat badan, untuk memantau
perkembangan preeklampsia
4. Melakukan pemantauan tekanan darah dan urinalis setiap hari
5. Melakukan pemeriksaan abdomen setiap hari. Adanya nyeri tekan
harus dicatat dan segera dilaporkan ke dokter karena hal ini dapat
menjadi tanda-tanda absurpsio plasenta. Nyeri abdomen atas
merupakan hal yang sangat signifikan dan merupakan indikasi sindrom
HELLP yang berhubungan dengan preeklampsia fulminasi
6. Melakukan pengkajian janin
7. Memberikan terapi antihipertensi seperti nifedipin
(Fraser, 2006 ; h.356-357)
8. Jika terdapat komplikasi/ keadaan ibu dan janin semakin memburuk,
melakukan kolaborasi dengan dokter.
Menurut Rustam Mochtar, 1998, penanganan preeklampsia berat
adalah sebagai berikut :
a. Preeklampsia berat pada kehamilan <37 minggu
1) Memberikan suntikan sulfas magnesikus dengan dosis 8gr
intramuskuler, kemudian setiap 4 jam (selama tidak ada
Memberikan sulfas magnesikus selama 24 jam apabila
keadaan ibu membaik.
2) Mengobservasi keadaan janin dan tanda-tanda vital ibu
3) Melakukan terminasi kehamilan jika tidak ada perbaikan
keadaan ibu dengan induksi partus
b. Preeklampsia berat pada kehamilan >37 minggu
1) Menganjurkan ibu untuk tirah baring
2) Memberikan diit rendah garam tinggi protein
3) Memberikan suntikan MgSO4 8gr intramuskuler, 4gr di bokong
kiri dan 4gr di bokong kanan, syarat pemberian MgSO4 adalah :
refleks patela positif, diuresis 100cc dalam 4 jam terakhir, RR
16 kali per menit, dan harus tersedia antidotumnya yaitu
kalsium glukonas 10% dalam ampul 10cc
4) Memasang infus dekstrosa 5% dan Ringer laktat secara
bergantian
5) Memberikan obat anti hipertensi, injeksi katapres 1 ampul
secara intramuskuler dan selanjutnya memberikan tablet
katapres 3 kali ½ tablet atau 2 kali ½ tablet sehari.
6) Melakukan induksi partus dengan atau tanpa amniotomi,
induksi menggunakan oksitosin 10 satuan dalam infus tetes,
VII. EVALUASI
Evaluasi yaitu umpan balik dari pelaksanaan yang telah dilakukan.
Data perkembangan I :
Subyektif : Pada ibu hamil dengan preeklampsia berat akan di
dapatkan data subyektif sebagai berikut :
1. pusing yang hebat disebabkan karena adanya edema
serebral dan hemorargik serta peningkatan susunan
saraf pusat
2. Pandangan mata kabur yang disebabkan oleh
vasospasme arteriola dan penurunan aliran darah ke
retina
3. Adanya tekanan pada kapsula hepar dapat
menimbulkan nyeri pada ulu hati (Sinclair, 2010 h.111
; Maryunani, 2009 h.141 ; Mitayani, 2011 h.16).
Obyektif : Pada ibu hamil dengan preeklampsia berat akan di
dapatkan data obyektif sebagai berikut:
a. Keadaan umum dan tingkat kesadaran ibu
Pada ibu dengan preeklampsia biasanya keadaan
umumnya lemah karena adanya gangguan kesadaran
(Mitayani, 2011 ; h.18).
b. Hasil pemeriksaan fisik
Pada ibu hamil dengan preeklampsia ditemukan
1. Pada muka biasanya ibu penderita preeklampsia berat
mengalami oedema pada wajahnya (Mitayani, 2011;
h,18)
2. Pada pemeriksaan mata terlihat adanya ikterik pada
sklera, dan ada oedema pada kelopak mata, oedema
kelopak mata merupakan tanda adanya preeklampsia
pada ibu hamil (Prawirohardjo, 2006)
3. Pada ibu dengan preeklampsia biasanya ditemukan
keluhan nyeri pada ulu hati karena adanya tekanan pada
kapsula hepar (Mitayani, 2011;h.16)
4. Terdapat edema pada kaki dan jari tangan merupakan
salah satu tanda preeklampsia (Prawirohardjo, 2006)
5. Pada pengukuran TFU dapat ditemukan pembesaran
uterus yang berlebihan dapat terjadi kemungkinan
adanya kehamilan ganda atau molahidatidosa dan
ologohidramnion, hal ini dapat mendukung terjadinya
preeklampsia berat
6. Pada pemeriksaan laborat ibu hamil dengan
preeklampsia berat ditemukan proteinuria adalah 5 gram/
24 jam atau lebih, +++ atau ++++ pada pemeriksaan
kualitatif (Maryunani dan Yulianingsih, 2009; h.139).
Assesment : Ny...Umur...tahun, Usia kehamilan...minggu, G P A ,
janin tunggal/ganda hidup intra uteri, punggung kanan/kiri
Planning :
1. Anjurkan ibu beristirahat di rumah dan lakukan pemeriksaan
rutin
2. Anjurkan ibu diet kaya protein, serat dan vitamin serta dapat
ditambahkan kalsium apabila ibu tinggal di komunitas yang
asupan dalam dietnya rendah
3. Lakukan pemantauan peningkatan berat badan
4. Lakukan pemantauan tekanan darah dan urinalis setiap hari
5. Lakukan pemeriksaan abdomen setiap hari
6. Lakukan pengkajian janin
7. Berikan terapi antihipertensi
(Fraser, 2006 ; h.356-357)
8. Jika terdapat komplikasi/ keadaan ibu dan janin semakin
memburuk, lakukan kolaborasi dengan dokter.
a. Anjurkan ibu untuk tirah baring
b. Berikan diit rendah garam tinggi protein
c. Berikan suntikan MgSO4 8gr intramuskuler
d. Pasang infus dekstrosa 5% dan Ringer laktat secara
bergantian
e. Berikan obat anti hipertensi
C. Aspek Hukum
Bidan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA)
haruslah berlandaskan hukum baik undang-undang maupun Kepmenkes.
Sesuai dengan kasus dalam karya tulis ilmiah ini, bidan seharusnya
melakukan tindakan yang sesuai dengan Kepmenkes
1464/MENKES/PER/X/2010, yaitu pada pasal 9 huruf A yang berbunyi
“Bidan dalam menjalankan praktik berwenang untuk memberikan
pelayanan kesehatan ibu” dan pada pasal 10 ayat 2 huruf B yang
berbunyi “pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud adalah
pelayanan antenatal pada kehamilan normal”, dan KEPMENKES RI
NOMOR 900/MENKES/SK/VII/2002 pasal 16 ayat 1 huruf D yang
berbunyi “pertolongan pada kehamilan abnormal yang mencakup ibu
hamil dengan abortus iminens, hiperemesis gravidarum tingkat 1,
preeklampsia ringan dan anemi ringan”, serta wewenang bidan sesuai
kasus yang diambil.
Dalam Kepmenkes 1464/MENKES/PER/X/2010 tersebut dijelaskan
bahwa bidan diperbolehkan atau berwenang memberikan pelayanan
kesehatan pada masa antenatal dan dengan kehamilan normal saja,
apabila terdapat ketidaknormalan dalam kehamilan, bidan haruslah
berkolaborasi dengan dokter (yang lebih berwenang) untuk mengatasi
kasus tersebut, terkecuali jika bidan menjalankan praktik di wilayah yang
tidak memiliki dokter maka bidan diperbolehkan melakukan pelayanan
kesehatan di luar kewenangannya sebagaimana di sebutkan pada ayat
14 Kepmenkes 1464/MENKES/PER/X/2010. Pada KEPMENKES RI
bahwa bidan hanya berwenang menangani preeklampsia ringan
saja, dalam arti bidan hanya diperbolehkan melakukan penanganan awal
dan deteksi dini pada kasus preeklampsia berat dan melakukan
kolaborasi dengan dokter untuk melakukan penanganan/ asuhan