• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Kecemasan - Adi Kusuma Yudha BAB II

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Kecemasan - Adi Kusuma Yudha BAB II"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Kecemasan

Kecemasan atau dalam Bahasa Ingris anxiety berasal dari Bahasa Latin

angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik (Trismiati, 2004).

Kecemasan merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan sesuatu di luar dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam mengatasi permasalahan (Asmadi, 2008). Suliswati (2005) mengatakan bahwa kecemasan sebagai respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan adalah kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya.

(2)

alat peringatan internal yang memberikan tanda bahaya kepada individu (Videbeck, 2008).

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan pengertian dari kecemasan adalah keadaan dimana seorang mahasiswa mengalami khawatir dan gelisah dalam merespon ancaman yang tidak jelas dan tidak spesifik yang dihubungkan dengan perasaan tidak menentu.

B. Teori Kecemasan

Menurut Stuart (2006) ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai kecemasan. Teori tersebut antara lain:

a. Teori psikoanalitik, kecemasan adalah konflik emosional yangterjadi antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitive, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

b. Teori interpersonal, kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu. Individu dengan harga diri rendah terutama rentan mengalami kecemasan yang berat.

(3)

yang diinginkan. Ahli teori perilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk menghindari kepedihan.

d. Teori keluarga menunjukkan bahwa ganguan kecemasan biasanya terjadi dalam keluarga. Gangguan kecemasan juga tumpang tindih antara gangguan kecemasan dan depresi.

e. Teori biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam

gama-aminobitirat (GABA), yang berperan penting dalam biologis yang

berhubungan dengan kecemasan.

C. Cemas yang dialami mahasiswa dalam menyusun skripsi

Skripsi adalah sarana karya ilmiah yang berbentuk tulisan untuk diajukan tentang penelitian yang akan diteliti. Skripsi adalah karya ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis diperguruan tinggi (Poerwadarminta, 1983). Mahasiswa yang sedang menyusun skripsi melakukan proses belajar secara individual. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan kondisi dimana mahasiswa masih melakukan kegiatan perkuliahan dan mengerjakan tugas-tugas mata kuliah biasa. Mahasiswa yang sedang menyusun skripsi mengalami cemas ketika mahasiswa merasakan ketidakmampuan dalam menghadapi permasalahan-permasalahan atau masalah yang ada ketika menysusun skripsi.

(4)

kampus dan salah satu stresor terberat ataupun sumber kecemasan terberat bagi mahasiswa adalah menyusun skripsi, selain itu cemas yang dialami mahasiswa bisa berupa masalah kehidupan sehari-hari sebagai anak kos yang jauh dari orang tua, keuangan dan sebagainya yang tidak terhindar dari kehidupan mahasiswa. Tuntutan tersebut adalah sebagai sarana untuk lebih mandiri dan mampu mengambil keputusan sendiri, karena mahasiswa adalah manusia dalam masa dewasa muda. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya tenggung jawab baru yang harus dihadapi oleh mahasiswa, contohnya adalah dalam menyusun skripsi yang sudah ditentukan batas temponya.

(5)

D. Faktor Yang Mempengaruhi Kecemasan

Menurut Suliswati, 2005 ada 2 faktor yang mempengaruhi kecemasan yaitu: a. Faktor predisposisi yang meliputi:

1) Peristiwa traumatik yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional.

2) Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik. Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada individu.

3) Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir secara realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan.

4) Frustasi akan menimbulkan ketidakberdayaan untuk mengambil keputusan yang berdampak terhadap ego.

5) Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu.

6) Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani kecemasan akan mempengaruhi individu dalam berespons terhadap konflik yang dialami karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga.

(6)

8) Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang mengandung benzodiazepin, karena benzodiazepine dapat menekan neurotransmiter gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan.

b. Faktor presipitasi meliputi:

1) Ancaman terhadap integritas fisik, ketegangan yang mengancam integritas fisik meliputi:

a) Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologi system imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal.

b) Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal.

2) Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal. a) Sumber internal, meliputi kesulitan dalam berhubungan

interpersonal di rumah dan di tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri.

b) Sumber eksternal, meliputi kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, social budaya

(7)

ketika bimbingan dengan pembimbing merasa gagal dan salah terus sehingga mereka merasa putus asa dan tidak percaya diri untuk dapat menyusun skripsi lebih lanjut. Hal ini juga membuat seorang mahasiswa merasa takut untuk bimbingan dengan dosen pembimbing karena mereka merasa khawatir tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pembimbing ketika bimbingan.

E. Gejala-Gejala Kecemasan

Menurut Stuart (2006), respon/gejala kecemasan ditandai pada empat

aspek, yaitu:

a. Respon fisiologi terhadap kecemasan meliputi gangguan jantung berdebar,

tekanan darah meninggi, rasa mau pingsan, pingsan, tekanan darah menurun,

denyut nadi menurun, napas cepat, napas pendek, tekanan pada dada, napas

dangkal, pembengkakan pada tenggorok, sensasi tercekik, terengah-engah,

reflek meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor,

rigiditas, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, kaki goyah, gerakan yang

janggal, kehilangan nafsu makan, menolak makanan, rasa tidak nyaman pada

abdomen, mual, rasa terbakar pada jantung, diare, tidak dapat menahan

kencing sering berkemih, wajah kemerahan, berkeringat setempat, gatal, rasa

panas dan dingin pada kulit, wajah pucat, berkeringat seluruh tubuh.

b. Respon prilaku: Gelisah, ketegangan, tremor, gugup, bicara cepat, kurang

koordinasi, cenderung mendapat cedera, menarik diri dari hubungan

interpersonal, menghalangi, melarikan diri dari masalah, menghindari,

hiperventilasi.

c. Kognitif: perhatian terganggu, konsentrasi buruk, pelupa, salah dalam

(8)

menurun, kreativitas menurun, produktivitas menurun, bingung, sangat

waspada, kesadaran diri meningkat, kehilangan objektivitas, takut kehilangan

kontrol, takut pada gambaran visual, takut cedera atau kematian.

d. Afektif: Mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, nervus, ketakutan,

terror, gugup, gelisah.

Linayaningsih (2007) menambahkan dalam penelitianya menyatakan

bahwa gejala yang dialami oleh mahasiswa yang cemas sedang menghadapi

skripsi yaitu gejala yang bersfat psikis antara lain merasa takut, tidak bisa

memusatkan perhatian, rendah diri, hilang kepercayaan diri dll. Kecemasan pada

mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi muncul karena mereka merasa

apakah mereka mampu untuk mengerajakan skripsi dengan lancar dan tepat

waktu. Banyak dari mahasiswa yang merasa takut untuk bertemu dengan dosen

pembimbing skripsi mereka karena kurang percaya diri ketika ditanya tidak bias

menjawab sehingga menyebabkan mahasiswa terhambat dalam penyusunan

skripsi.

F. Cara Mengukur Kecemasan

(9)

adalah nilai 0: tidak ada gejala, 1: gejala ringan, 2: gejala sedang, 3: gejala berat, 4: gejala berat sekali. Masing-masing nilai angka (score) dari 14 kelompok tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang yaitu kurang dari 14 tidak ada kecemasan, skor 14-20 kecemasan ringan, skor 21-27 kecemasan sedang, skor 28-41 kecemasan berat, dan skor 42-56 kecemasan berat sekali (Hidayat, 2008).

G. Tingkat Kecemasan

Menurut Asmadi (2008) ada empat tingkat kecemasan yang dialami individu yaitu ringan, sedang, berat, dan panik. Tiap tingkatan kecemasan mempunyai karakteristik atau manifestasi yang berbeda satu sama lain. Manifestasi kecemasan yang terjadi bergantung pada kematangan pribadi, pemahaman dalam menghadapi ketegangan, harga diri, dan mekanisme koping yang digunakannya.

(10)

dapat duduk tenang, tremor halus pada tangan, dan suara kadang- kadang meninggi.

b. Ansietas sedang : respon fisiologi: sering napas pendek, nadi ekstra sistol dan tekanan darah meningkat, mulut kering, anoreksia, diare/konstipasi, sakit

kepala, sering berkemih, dan letih. Respon kognitif : memusatkan

perhatiannya pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, lapang

persepsi menyempit, dan rangsangan dari luar tidak mampu diterima. Respon

perilaku dan emosi : gerakan tersentak- sentak, terlihat lebih tegang, bicara

banyak dan lebih cepat, susah tidur, dan perasaan tidak aman.

c. Ansietas berat : individu cenderung memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain. Respon fisiologi : napas pendek, nadi dan tekanan

darah naik, berkeringat dan sakit kepala, penglihatan berkabut, serta tampak

tegang. Respon kognitif : tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan

banyak pengarahan/tuntunan, serta lapang persepsi menyempit. Respon

perilaku dan emosi : perasaan terancam meningkat dan komunikasi menjadi

terganggu.

d. Panik : respon fisiologi napas pendek, rasa tercekik dan palpitasi, sakit dada, pucat, hipotensi, serta rendahnya koordinasi motorik. Respon kognitif :

gangguan realitas, tidak dapat berfikir logis, persepsi terhadap lingkungan

mengalami distorsi, dan ketidakmampuan memahami situasi. Respon perilaku

dan emosi: agitasi, mengamuk dan marah, ketakutan, berteriak- teriak,

kehilangan kendali/kontrol diri, perasaan terancam, serta dapat berbuat

(11)

H. Dampak Kecemasan

Yustinus Semiun (2006) membagi beberapa dampak dari kecemasan kedalam beberapa simtom, antara lain :

a. Simtom suasana hati

Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya hukuman dan bencana yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang tidak diketahui. Orang yang mengalami kecemasan tidak bisa tidur, dan dengan demikian dapat menyebabkan sifat mudah marah.

b. Simtom kognitif

Kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Individu tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga individu sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan menjadi lebih merasa cemas.

c. Simtom motor

(12)

I. Mekanisme Koping (Coping)

Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dari perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam (Kelliat, 1999).

Menurut Suliswati dkk (2005) dan Stuart (1998), individu dapat menanggulangi stres dan kecemasan dengan menggunakan sumber koping dari lingkungan baik dari sosial, intrapersonal dan interpersonal. Sumber tersebut adalah aset ekonomi, kemampuan memecahakan masalah, dukungan sosial, dan keyakinan budaya. Dengan sumber tersebut individu dapat mengambil strategi koping yang efektif. Apabila individu sedang mengalami kecemasan ia akan mencoba menetralisasi, mengingkari atau meniadakan kecemasan dengan mengembangkan pola koping. Pada kecemasan ringan, mekanisme koping yang digunakan yaitu menangis, tidur, makan, tertawa, berkhayal, memaki, merokok, olahraga, mengurangi kontak mata dengan orang lain, membatasi diri dengan orang lain. Mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan sedang, berat dan panik ada dua yaitu:

a. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari, dan berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi stres denagan cara perilaku menyerang, perilaku menarik diri, perilaku kompromi.

(13)

Menurut Kozier (2004) mekanisme koping dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:

1. Mekanisme coping berfokus pada masalah (problem focus coping), meliputi usaha untuk memperbaiki suatu situasi dengan membuat perubahan atau mengambil beberapa tindakandan usaha segera untuk mengatasi ancaman pada dirinya. Contohnya : negosiasi, konfrontasi dan meminta nasehat.

2. Mekanisme coping berfokus pada emosi (emotional focused coping), meliputi usaha-usaha dan gagasan untuk mengurangi distress emosional. Mekanisme coping berfokus pada emosi tidak memperbaiki situasi tetapi seseorang sering merasa lebih baik.

Sedangkan metode koping menurut Folkman & Lazarus; Folkman at all, dalam afidarti (2006) adalah :

1. Planfull problem solving (problem-focused)

Individu berusaha menganalisa situasi dan memperoleh solusi dan kemudian mengambil tindakan langsung untuk menyelesaikan masalah. 2. Confrontative coping (problem-focused)

Individu mengambil tindakan asertif yang sering melibatkan kemarahan dan mengambil resiko untuk merubah situasi.

3. Seeking social support (problem or emotion-focused)

Usaha individu untuk memperoleh dukungan emosional atau dukungan informasional.

(14)

Usaha kognitif untuk menjauhkan diri sendiri dari situasi atau menciptakan pandangan yang positif terhadap masalah yang dihadapi.

5. Escape-Avoidanceting (emosion-focused)

Menghindari masalah dengan cara berkhayal atau berfikir dengan penuh harapan tentang situasi yang dihadapi atau mengambil tindakan untuk menjauhi masalah yang dihadapi.

6. Self control (emotion-focused)

Usaha indvidu untuk menyesuaikan diri dengan perasaan ataupun tindakan dalam hubunganya dengan masalah.

7. Accepting responcbility (emotion-focused)

Mengakui peran diri sendiri dalam masalah dan berusaha untuk memperbaikinya.

8. Positive reappraisal (emotion-focused)

Usaha individu untuk menciptakan diri yang positif dari situasi yang dihadapi.

J. Penggunaan media online: Facebook sebagai koping kecemasan

(15)

Facebook. Facebook merupakan situs jejaring sosial yang diciptakan oleh Mark Zuckerberg (saat itu mahasiswa semester II Harvard university) pada tahun 2004. Facebook adalah layanan jaringan sosial dan situs web, agar semua orang bisa membuat profil pribadi yang bertujuan mencari teman, keluarga yang tidak pernah kita jumpai atau bertemu. Facebook juga menambahkan pengguna lain sebagai teman dan bertukar pesan dan pemikiran. Pengguna dapat bergabung dengan group pengguna yang memiiki tujuan tertentu, diurutkan berdasarkan tempat kerja, sekolah, perguruan tinggi, ataupun kerakteristik lainya Facebook berfungsi untuk menjalin komunikasi antar individu, baik teman, kerabat, keluarga maupun orang-orang yang sekiranya berhubungan didalamnya.

1. Penggunaan Facebook sebagai coping mengatasi masalah

Didalam Facebook terdapat bagian atau area menulis untuk mengungkapkan perasaan pengguna atau pemilik akun Facebook tesebut yang biasa disebut “status”. Saat pemilik akun Facebook membuat status, itulah isi hati atau emosi yang dikeluarkan dari pemilik akun Facebook

tersebut (Marulitua, 2010). Hal ini sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan Yulaehah (2012) bahwa status Facebook biasanya berupa ungkapan perasaan hati penggunanya, baik itu berupa ungkapan kebahagiaan, kesedihan, kekesalan, gurauan atau berupa berita yang ingin disampaikan dengan kerabat atau pengguna Facebok yang lain. Status

(16)

keadaan pembuat status. Dengan menulis status di Facebook mahasiswa juga berharap akan mendapatkan suatu pemecahan masalah yang sedang dialami atau dirasakanya selama menyusun skripsi.

Pemilik akun Facebook dapat memperbaharui atau mengupdate status tanpa dibatasi waktu dan ada pula yang menarik adalah dengan adanya status tersebut akan menciptakan komunikasi yang menghubungkan anatar para penggunanya. Dalam hal ini yang berkomunikasi dengan pemilik status adalah pengomentar status. Adapun yang dinamakan pengomentar yaitu seseorang yang mengomentari status

Facebook seseorang, sehingga akan memunculkan umpan balik dari pengguna Facebook kepada status milik penulis status. Dengan kata lain pada penggunaan media online: Facebook ini manghasilkan komunikasi antar pengguna Facebook yang terdiri dari keluarga, dosen teman, sahabat jauh maupun kerabat yang sama-sama menggunakan Facebook.

Seperti halnya pernyataan dari Kozier (2004) mekanisme koping terdiri dari dua macam yaitu mekanisme coping berfokus pada masalah (problem focus coping) yaitu usaha memperbaiki situasi dengan membuat perubahan dengan contoh meminta nasehat. Berhubungan dengan penggunaan media sosial: Facebook adalah didalam Facebook kita bisa membuat status dan meminta nasehat maupun masukan kepada pengguna

(17)

berkomunikasi dengan pengguna lain bercerita masalah dalam penyusunan skripsi, meminta alamat webset untuk penambahan literatur (seperti alamat jurnal, data-data statistis mengenai permasalahan terkait dalam penyusunan statustik, perputakaan online dll.), bersenda gurau, dan yang lainya. Hal ini menunjukan bahwa Facebook dapat dijadikan sebagai mekanisme koping untuk mengatasi masalah yang meliputi usaha-usaha untuk mengurangi disstres emosional, walaupun koping ini tidak memperbaiki situasi, tetapi koping ini efektif untuk membuat individu bisa merasa lebih baik. Berikut ini adalah salah satu fasilitas ada di Facebook

(18)
(19)

Gambar 2.1 Fasilitas Facebook K. Kerangka Teori

Menurut Sekaran (2003) yang dimaksud dengan kerangka kerja teoritis adalah model konseptual yang menggambarkan hubungan bebagai macam faktor yang telah diidentifikasi sebagai suatu hal yang penting dari suatu masalah. Melalui pengembangan kerja konseptual, memungkinkan kita untuk menguji hubungan antar variable, sehingga kita dapat mempunyai pemahaman yang komprehensif atas masalah yang sedang kita teliti.

(20)

Gambar 2.2 Kerangka Teori

Sumber: Hardjana (1994), Koizer (2004), Shenoy (2001), Coper & Straw (1995), Sarafino (1994), Andri (2010), Suliswati dkk (2005) dan Stuart dan Sundeen

(1997),

Mekanisme Koping cemas pada mahasiswa :

- Melakukan Hobi

- Makan

- Mendengarkan music

- Melakukan hal

negative ( minum minuman keras, merokok, mengamuk dll)

- Melakukan komunikasi

dengan orang lain

- Penggunaan media

online : facebook, twitter, google+, dll.

- Dan banyak lagi sesuai

karakteristik individu

Cemas menghadapi skripsi Cara mengatasi cemas :

menggunakansumber

koping dari lingkungan baik dari sosial, intrapersonal dan

interpersonal

Mekanisme Koping :

- Problem focus coping

- Emotional focus coping

Tingkatan cemas:

- Tidak ada cemas

- Cemas ringan

- Cemas sedang

(21)

L. Kerangka Konsep

Kerangka konsep peneliian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2002).

Berdasarkan latar belakang masalah, tinjauan pustaka dan kerangka teori yang telah dijlaskan sebelumnya, maka disusunlah kerangka konsep penelitian sebagai berikut :

Gambar 2.3 Kerangka konsep

M. Hipotesa

Hipotesa atau hipotesis adalah sebuah pernyataan tentang sesuatu yang diduga atau hubungan yang diharapkan dari dua variabel atau lebih yang dapat diuji secara empiris. Hipotesis penelitian adalah jawaban semantara penelitian yang kebenaranya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut (Notoatmodjo, 2010).

Dalam penelitian kali ini, peneliti ingin menarik sebuah hipotesa atau dugaan sementara, yaitu :

Ha = Ada hubungan antara kecemasan mahasiswa menghadapi skripsi dengan penggunaan media online: Facebook.

Faktor independen Faktor dependen

Kecemasan menghadapi skripsi

Penggunaan media online: Facebook

Gambar

Gambar 2.1 Fasilitas Facebook
Gambar 2.2 Kerangka Teori
Gambar 2.3 Kerangka konsep

Referensi

Dokumen terkait

Adalah bagian otak besar yang berfungsi mengontrol atau mengendalikan.. pergerakan tubuh bagian kiri, fungsinya

ISO 9001:2000 adalah suatu standar internasional untuk system manajemen kualitas yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses pelayanan terhadap kebutuhan persyaratan yang

posyandu apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut :.. Dapat membaca dan menulis. Berjiwa sosial dan mau bekerja secara relawan. Mengetahui adat istiadat serta kebiasaan

Lambung terletak di bagian kiri atas abdomen tepat di bawah diafragma. Dalam keadaan kosong, lambung berbentuk tabung J dan bila penuh akan tampak seperti buah

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Cilacap adalah Rumah Sakit milik Pemerintah Kabupaten Cilacap yang telah memenuhi persyaratan peningkatan kelas Rumah Sakit menjadi

Bahwa Pengolahan Koleksi Karya Ilmiah (TA) di UPT Perpustakaan Institut Seni Indonesia Yogyakarta sudah sesuai dan memenuhi persyaratan umum dan teori yang

Obat herbal terstandar juga harus memenuhi kriteria diantaranya : Aman sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah/ pra klinik,

Beberapa keadaan dapat terjadi pada ibu dalam persalinan, terutama bagi ibu yang pertama kali melahirkan, perubahan-perubahan yang dimaksud adalah: 1 Perasaan tidak enak 2 Takut dan