• Tidak ada hasil yang ditemukan

APLIKASI COMMODITY SYSTEM ASSESSMENT METHOD (CSAM) DALAM DISTRIBUSI KUBIS (Brassica Oleracea Var Capitata) DARI PETANI DI KECAMATAN PETANG KE PENGECER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "APLIKASI COMMODITY SYSTEM ASSESSMENT METHOD (CSAM) DALAM DISTRIBUSI KUBIS (Brassica Oleracea Var Capitata) DARI PETANI DI KECAMATAN PETANG KE PENGECER"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

ii

APLIKASI

COMMODITY SYSTEM ASSESSMENT METHOD

(CSAM) DALAM DISTRIBUSI KUBIS

(Brassica Oleracea Var

Capitata)

DARI PETANI DI KECAMATAN PETANG KE

PENGECER

S K R I P S I

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Teknologi Pertanian pada Fakultas Teknologi Pertanian

Universitas Udayana

Oleh:

I GEDE BUDIASTRA 1211205044

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS UDAYANA 2016

(2)

iii

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul: “Aplikasi Commodity System Assessment Method (CSAM) Dalam Distribusi Kubis

(Brassica Oleracea Var Capitata) Dari Petani Di Kecamatan Petang Ke Pengecer” adalah karya saya dengan memperoleh arahan dari pembimbing skripsi

saya dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun ke perguruan tinggi lain dan belum pernah dipublikasikan. Semua sumber data dan informasi yang dikutip dalam tulisan ini telah disebutkan dalam naskah dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka secara jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.

Jimbaran, September 2016

NAMA : I GEDE BUDIASTRA NIM : 1211205044

(3)
(4)

v

RIWAYAT HIDUP

I GEDE BUDIASTRA dilahirkan di Nungnung pada tanggal 17 Agustus 1994. Penulis merupakan putra tunggal dari pasangan I Ketut Suarjana dan Ni Luh Budiasih. Penulis memulai pendidikan di SD N 3 Pelaga pada tahun 2000 dan menyelesaikannya pada tahun 2006, lalu melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Petang dan menyelesaikannya pada tahun 2009. Pada tahun 2012 penulis menyelesaikan pendidikan di SMAN 1 Petang. Sejak tahun 2012 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana. Selama menjalani perkuliahan, penulis aktif sebagai panitia pelaksana maupun panitia pengarah pada kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, Fungsionaris HMJ TIP periode 2014-2015 Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana.

(5)

vi

I Gede Budiastra. 1211205044. 2016. Aplikasi Commodity System Assessment Method dalam distribusi kubis (Brassica oleraceae var capitata) dari petani di Kecamatan Petang ke pengecer. Dibawah bimbingan I.G.A Lani Triani, S.TP, M.Si. dan Ir. Amna Hartiati. MP.

ABSTRAK

Tujuan dari penilitian ini adalah untuk mengetahui jumlah jalur distribusi kubis (Brassica Oleracea Var Capitata), jenis jalur distribusi dan penanganan pascapanen kubis, serta dampak kehilangan pascapanen dan nilai kerusakan dari petani di Kecamatan Petang ke pengecer.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan aplikasi Commodity System Assessment Method berupa kuisioner yang disebarkan pada petani, pengepul, pedagang besar, suplier dan pengecer kubis.

Dalam pendistribusian kubis, terdapat 4 jalur yaitu, jalur 1 petani  pengecer, jalur II petani pengepul  pengecer, jalur III petani  pengepul  pedagang besar  pengecer, dan jalur IV petani  pengepul  pedagang besar  supplier  pengecer. Penanganan pascapanen di tingkat petani meliputi pemanenan, sortasi dan pembersihan, pengemasan, dan pengangkutan. Penanganan pascapanen di tingkat pengepul, pedagang besar dan suplier meliputi penimbangan, sortasi, dan pengangkutan, penanganan pascapanen di tingkat pengecer meliputi pemeriksaan, pengemasan, dan pemajangan, penanganan pascapanen di tingkat supplier meliputi penimbangan, sortasi, pengemasan, dan pengangkutan, penanganan pascapanen di tingkat swalayan meliputi penimbangan, pemeriksaan, dan pemajangan. Dampak terhadap kehilangan pascapanen kubis di tingkat petani yaitu pada pemanenan mencapai 7,57 % (signifikan), di tingkat pengepul pada proses pengangkutan mencapai 2,68 % (tidak signifikan), di tingkat pedagang besar saat pengangkutan mencapai 3,8 % (tidak signifikan), di tingkat pengecer pada sortasi tidak sidak signifikan mencapai 2,38 %, di tingkat suplier pada sortasi mencapai 11,8 % (signifikan).

(6)

vii

I Gede Budiastra. 1211205044. 2016. Application Commodity System Assessment Method in the distribution cabage (Brassica oleraceae var. capitata) of farmers in Petang District to retailers. Supervised by I.G.A Lani Triani, S.TP, M.Si. and Ir. Amna Hartiati. MP.

ABSTRACT

The purpose of this research was to determine the number of distribution lines cabbage (Brassica oleracea Var Capitata), the type of distribution lines and postharvest handling of cabbage, and the impact of postharvest losses and the value of the damage of farmers to retailers Petang district. The method used in this research is survey method with the application of the Commodity Systems Assessment Method in the form of questionnaires distributed to farmers, collectors, wholesalers, suppliers and retailers of cabbage. In the distribution of cabbage, there are four lines, namely, lanes I farmers  retailers, lane II farmers  collectors  retailers, lane III farmers  collectors  wholesalers  retailers, lines IV farmers  collectors  wholesalers  suppliers  supermarkets. Post-harvest handling at the farm level include Post-harvesting, sorting and cleaning, packaging and transportation. Post-harvest handling at the level of collectors, and wholesalers include weighing, sorting, and transporting, postharvest handling at the retail level covering inspection, packaging, and display, postharvest handling at the level of suppliers includes weighing, sorting, packaging and transportation, postharvest handling level includes supermarkets weighing, inspection, and display. Impact on cabbage postharvest losses at the farm level, namely the harvest reached 7.57% (significant), at the level of the collectors in the transport process is reached 2.68% (insignificant), at the level of big traders when transporting reached 3.8% (insignificant), at the retail level in sorting reached 2.38% (insignificant), in the sorting supplier level of 11.8% (significant).

(7)

viii

RINGKASAN

Sayuran merupakan salah satu komoditi yang sangat popular di kalangan masyarakat, sayuran juga berperan sangat penting dalam pemenuhan gizi bagi manusia, mengkonsumsi sayuran dapat membantu menjaga kesehatan karena sayuran memiliki kandungan vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Salah satu sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat adalah kubis (Brassica Oleracea Var Capitata). Kubis sangat popular di masyarakat luas karena mudah diperoleh baik di pasar tradisional maupun swalayan dan juga harganya yang terjangkau.

Kandungan gizi yang terkandung dalam kubis cukup tinggi seperti vitamin, serat dan kalsium. Kandungan antioksidan yang terkandung dalam kubis juga cukup tinggi yang berperan sangat penting dalam menangkal radikal bebas agar tubuh terhindar dari berbagai macam penyakit. Kubis sangat mudah dijumpai di pasaran serta harganya juga relatif murah, yaitu Rp. 4.000/kg. Kebutuhan pasar akan kubis mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah penduduk di Provinsi Bali yaitu pada tahun 2013 4.056.300 jiwa dan pada tahun 2014 4.104.900 jiwa (Anon, 2014b), selain untuk dikonsumsi sendiri, banyak konsumen yang membeli kubis untuk dijual kembali menjadi produk olahan, selain diolah kubis juga sering dikonsumsi langsung oleh konsumen sebagai lalapan.

Kecamatan Petang merupakan penghasil kubis terbesar di Kabupaten Badung dengan jumlah produksi tahun 2014 sebesar 6.450 kuintal dengan luas produksi 32 Ha. Di kecamatan Petang ada dua desa yang menjadi penghasil kubis yaitu Desa Pelaga dan Desa Belok – Sidan ( Anon., 2014 ). Kubis yang dihasilkan

(8)

ix

oleh petani di kecamatan Petang mengalami beberapa jalur distribusi sebelum mencapai ke tangan konsumen seperti pengepul, pedagang besar, dan pengecer. Mutu dari kubis tergantung pada panjang atau pendeknya jalur distribusi yang dilalui oleh kubis tersebut dari petani sebagai produsen sampai kepada konsumen. Disamping itu penanganan pascapanen seperti sortasi, grading, pencucian, pengemasan dan penyimpanan juga mempengaruhi kondisi dan mutu kubis selama pendistribusian. Dengan semakin panjangnya jalur distribusi, maka semakin banyak variasi penanganan yang dialami sehingga makin besar pula tingkat kerusakannya (Harsojuwono, 2008).

Penelitian sebelumnya oleh ( Suwarjana, dkk, 2015 ) menunjukkan bahwa metode CSAM dapat menentukan dampak penanganan pasca panen di setiap jalur distribusi pada komoditi sawi packcoy (Brassica Rapa L). Penelitian lain yang menggunakan metode yang sama ( Putera,.dkk., 2016) juga dapat menunjukkan bahwa metode CSAM dapat menentukan dampak penanganan pasca panen di setiap jalur distribusi pada komoditi sawi hijau.

Pengawasan mutu kubis penanganan dengan benar sehingga dihasilkan komoditi yang siap dipasarkan dengan mutu yang baik. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian pascapanen kubis, untuk mengetahui penanganannya digunakan metode Commodity System Assessment Method (CSAM). Dengan metode CSAM penanganan pascapanen kubis sejak awal sampai pemasarannya bisa dipantau, dan dapat mengetahuai dampak penanganan pascapanen pada setiap jalur distribusi. Penerapan CSAM dan dengan diperkuat rantai distribusi akan dapat diperoleh produk-produk hortikultura bermutu yang mampu bersaing di pasaran.

(9)

x

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah jalur distribusi kubis, mengetahui jenis jalur distribusi dan penanganan pascapanen kubis, serta mengetahui dampak kehilangan pascapanen dan nilai kerusakan dari petani ke pengecer di Kecamatan Petang.

Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Petang, Kecamatan Baturiti dan Kota Denpasar. Kecamatan Petang merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Badung. Waktu Penelitian bulan April sampai September 2016..

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 jalur distribusi kubis dari petani ke pengecer di Kecamatan Petang yaitu jalur I (Petani  Pengecer), jalur II (Petani  Pengepul  Pengecer), jalur III (Petani  Pengepul  Pedagang besar  Pengecer), jalur IV (Petani  Pengepul  Pedagang besar  Suplier  Swalayan). Penanganan pascapanen di tingkat petani meliputi pemanenan, sortasi, pengemasan. Penanganan pascapanen di tingkat pengepul dan pedagang besar meliputi penimbangan dan pengangkutan, sedangkan penanganan pascapanen di tingkat pengecer meliputi sortasi, dan pemajangan, penanganan pascapanen di tingkat supplier meliputi penimbangan, sortasi, pengemasan, dan pengangkutan. Dampak penanganan selama distribusi terhadap kehilangan pascapanen kubis di tingkat petani yaitu pada sortasi signifikan mencapai 7,57%. Pada tingkat pengepul yaitu pada pengangkutan adalah tidak signifikan 2,68%. Pada pedagang besar yaitu pada pengangkutan adalah tidak signifikan 3,8%. Dampak kehilangan pada suplier yaitu pada sortasi adalah signifikan 11,8% Dampak kehilangan pada pengecer yaitu pada sortasi adalah tidak signifikan 2,38%.

(10)

xi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Aplikasi Commodity System Assessment Method (CSAM) dalam

distribusi kubis (Brassica oleraceae var.capitata) dari petani di Kecamatan Petang ke pengecer”. Penulisan skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Teknologi Pertanian di Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana.

Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setulus-tulusnya kepada:

1. Ibu I Gst. Ayu Lani Triani, S.TP., M.Si., selaku dosen pembimbing I dan Ibu Ir. Amna Hartiati. MP., selaku dosen pembimbing II serta selaku Ketua Jurusan Teknologi Industri pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana yang tidak pernah lelah memberikan bimbingan, arahan dan solusi dalam penyelesaian skripsi ini.

2. Bapak Dr. Ir. Dewa Gde Mayun Permana, M.S., selaku Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, atas bantuan moral dan bimbingan yang diberikan.

3. Bapak/Ibu dosen beserta pegawai di lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, atas fasilitas dan dukungan selama menempuh kuliah hingga penyusunan skripsi ini.

(11)

xii

4. Keluarga besar yang tercinta, Bapak, Ibu, Kakek, Nenek, beserta keluarga besar yang telah mendukung untuk menyelesaikan pendidikan dan tugas akhir ini.

5. Ni Luh Putu Suarmini yang selalu memberikan semangat dan dukungan dalam pembuatan skripsi ini.

6. Kawan-kawan seperjuangan Dode, Agus, Anton, Ferry, Dodik, Yoga, Ananta, Dull 1, Dull 2, Angga, Dio, Robin, Pande.

7. Kawan-kawan 2011, Eka, Ketut, Dona, Punia, Irma, Teja, Kayana,

8. Seluruh teman-teman angkatan 2012 yang selalu saling mendukung satu sama lain untuk mencapai cita-cita dan impian masing-masing.

Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa membalas semua budi baik ini dengan balasan yang lebih baik. Penulis telah berupaya optimal untuk menyelesaikan tugas akhir dengan baik, namun dengan terbuka penulis sangat menghargai segala saran dan kritik yang membangun dalam rangka penyempurnaannya. Penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca.

Bukit Jimbaran, Agustus 2016

(12)

xiii

DAFTAR ISI

JUDUL ... i

HALAMAN PERSYARATAN ... ii

SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

RIWAYAT HIDUP ... vii

RNGKASAN ... ix

KATA PENGANTAR ... xii

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... …xvii

DAFTAR GAMBAR ... .xviii

DAFTAR LAMPIRAN ………...xix

I. PENDAHULUAN ... 1

1. 1. Latar Belakang ... 1

1. 2. Rumusan Masalah ... 3

1. 3. Tujuan Penelitian ... 3

1. 4. Manfaat Penelitian ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2. 1. Kubis ... 5

2. 2. Penerapan Commodity System Assessment Method (CSAM) ... 7

2. 3. Penanganan pascapanen kubis ... 8

2. 4. Jalur Distribusi ... 9

III. METODE PENELITIAN ... 12

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ... 12

3.2. Alat dan Bahan ... 12

3.3. Metode Penelitian ... 12

3.4. Penentuan Lokasi Penelitian ... 12

(13)

xiv

3.6. Faktor- faktor yang diamati ... 14

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 18

4.1. Jalur distribusi kubis dari petani sampai ke pengecer di Kecamatan Petang. ... 18

4.2. Penanganan pascapanen kubis pada jalur distribusi dari petani di Kecamatan Baturiti ke pengecer. ... 19

4.3. Identifikasi faktor-faktor penanganan pascapanen kubis ... 27

4.4. Dampak penanganan selama distribusi terhadap kehilangan pascapanen kubis dari petani ke pengecer di Kecamatan Petang. ... 31

4.5. Perbandingan kubis pada setiap jalur distribusi dengan color chart kubis. ... 36 V. PENUTUP ... 39 5.1. Kesimpulan ... 39 5.2. Saran ... 40 DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN ………..47

(14)

xv

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1. Kandungan gizi setiap kubis ... 6 2. Sampel petani di kecamatan Petang ... 12

3. Sistem penanganan pascapanen dalam segmen distribusi ... 14 4. Identifikasi pelaku penanganan dan aktivitas yang dilakukan

dalam segmen distribusi ... 15 5. Dampak penanganan terhadap kehilangan pascapanen ... 15 6. Color Chart kubis ... 16 7. Diagram alir sistem pascapanen kubisdari petani ke pengecer

di Kecamatan Petang. ... 25 8. Identifikasi pelaku penanganan dan aktivitas yang dilakukan

dalam segmen distribusi ... 31. 9. Hasil pembelian, kehilangan susut bobot, dan penjualan

di tingkat petani ... 36 10. Hasil pembelian, kehilangan susut bobot, dan penjualan

di tingkat pengepul ... . 37 11. Hasil pembelian, kehilangan susut bobot, dan penjualan

di tingkat pedagang besar ... 38 12. Hasil pembelian, kehilangan susut bobot, dan penjualan

di tingkat suplier ... 38 13. Hasil pembelian, kehilangan susut bobot, dan penjualan

di tingkat pengecer ... 39 14. Presentase dampak penanganan terhadap kehilangan

(15)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1. Sayur kubis (Brassica oleraceae var. capitata) ... 5

2. Diagram alir pelaksanaan penelitian ... 18

3. Perbandingan kubis pada jalur I dengan color chart………... .. 41

4. Perbandingan kubis pada jalur II dengan color chart ... 42

5. Perbandingan kubis pada jalur III dengan color chart ... 42

(16)

xvii

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Daftar pertanyaan kuisioner ... 48 2. Data petani kubis di Kecamatan Petang ... 55 3. Pengelompokan jalur distribusi ... 56

(17)

1

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

Sayuran merupakan salah satu komoditi yang dewasa ini sangat popular di kalangan masyarakat, sayuran juga berperan sangat penting dalam pemenuhan gizi bagi manusia, mengkonsumsi sayuran dapat membantu menjaga kesehatan karena sayuran memiliki kandungan vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Salah satu sayuran yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat adalah kubis (Brassica Oleracea Var Capitata). Kubis sangat popular di masyarakat luas karena mudah diperoleh baik di pasar tradisional maupun swalayan dan juga harganya yang terjangkau.

Kandungan gizi yang terkandung dalam kubis cukup tinggi seperti vitamin, serat dan kalsium. Kandungan antioksidan yang terkandung dalam kubis juga cukup tinggi yang berperan sangat penting dalam menangkal radikal bebas agar tubuh terhindar dari berbagai macam penyakit. Kubis sangat mudah dijumpai di pasaran serta harganya juga relatif murah, yaitu Rp. 4.000/kg. Kebutuhan pasar akan kubis mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah penduduk terlihat di Provinsi Bali dengan jumlah penduduk tahun 2013 sebesar 4.056.300 dan tahun 2014 sebesar 4.104.900 jiwa pada tahun 2014 (Anon, 2014a), kubis selain untuk untuk dikonsumsi sendiri, banyak konsumen yang membeli kubis untuk dijual kembali menjadi produk olahan, selain diolah kubis juga sering dikonsumsi langsung oleh konsumen sebagai lalapan.

Kecamatan Petang merupakan penghasil kubis terbesar di Kabupaten Badung dengan jumlah produksi tahun 2014 sebesar 6.450 kuintal dengan luas

(18)

2

lahan produksi 32 Ha. Di kecamatan Petang ada dua desa yang menjadi penghasil kubis yaitu Desa Pelaga dan Desa Belok – Sidan ( Anon., 2014b). Kubis yang dihasilkan oleh petani di kecamatan Petang mengalami beberapa jalur distribusi sebelum mencapai ke tangan konsumen seperti pengepul, pedagang besar, dan pengecer. Mutu dari kubis tergantung pada panjang atau pendeknya jalur distribusi yang dilalui oleh kubis tersebut dari petani sebagai produsen sampai kepada konsumen. Disamping itu penanganan pascapanen seperti sortasi, grading, pencucian, pengemasan dan penyimpanan juga mempengaruhi kondisi dan mutu kubis selama pendistribusian. Dengan semakin panjangnya jalur distribusi, maka semakin banyak variasi penanganan yang dialami sehingga makin besar pula tingkat kerusakannya (Harsojuwono, 2008).

Penelitian sebelumnya oleh ( Suwarjana, dkk., 2015 ) menunjukkan bahwa metode CSAM dapat menentukan dampak penanganan pasca panen di setiap jalur distribusi pada komoditi sawi packcoy (Brassica Rapa L). Penelitian lain yang menggunakan metode yang sama ( Putera,.dkk., 2016) juga dapat menunjukkan bahwa metode CSAM dapat menentukan dampak penanganan pasca panen di setiap jalur distribusi pada komoditi sawi hijau.

Pengawasan mutu kubis dengan penanganan yang benar dapat menghasilkan komoditi yang siap dipasarkan dengan mutu yang baik. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan penelitian pascapanen kubis, untuk mengetahui penanganannya digunakan metode Commodity System Assessment Method (CSAM). Dengan metode CSAM penanganan pascapanen kubis sejak awal sampai pemasarannya bisa dipantau, dan dapat mengetahuai dampak penanganan pascapanen pada setiap jalur distribusi. Penerapan CSAM dan dengan

(19)

3

diperkuat rantai distribusi akan dapat diperoleh produk-produk hortikultura bermutu yang mampu bersaing di pasaran.

1. 2. Rumusan Masalah

1. Berapakah jalur distribusi kubis dari petani di Kecamatan Petang hingga ke pengecer?

2. Bagaimanakah penanganan pasca panen kubis pada setiap jalur distribusi dari petani di Kecamatan Petang ke pengecer?

3. Bagaimanakah dampak penanganan selama distribusi terhadap kehilangan pasca panen dan kerusakan kubis dari petani di Kecamatan Petang ke pengecer? .

1. 3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui jumlah jalur distribusi kubis (Brassica Oleracea Var Capitata) dari petani di Kecamatan Petang ke pengecer.

2. Mengetahui penanganan pasca panen kubis pada setiap jalur distribusi dari petani di Kecamatan Petang ke pengecer?

3. Mengetahui dampak kehilangan pascapanen dan nilai kerusakan dari petani di Kecamatan Petang ke pengecer.

1. 4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai distribusi dan penanganan pasca panen kubis dari produsen di Kecamatan Petang sampai ke pengecer, dampak kehilangan pascapanen dan nilai

(20)

4

kerusakan kubis pada setiap jalur distribusi dari kecamatan Petang sampai ke pengecer.

Referensi

Dokumen terkait

Keterbatasan penelitian juga tidak terkait dengan jumlah sampel atau variabel penelitian karena hal ini telah ditentukan sebelumnya ( by design ). Untuk

Karakteristik peternak yang bekerja sama dengan TTP sebagian besar dalam usia produktif, dengan pendidikan formal yang rendah, sudah berpengalaman lebih dari 10

Judul Artikel : Tinjauan ketidaklengkapan persyaratan BPJS pada pengeklaiman dokumen rekam medis yang mengakibatkan kerugian di Rumah Sakit Tugurejo Semarang pada periode

Distribusi frekuensi faal paru berdasarkan masa kerja didapat hasil uji statistik sebanyak 3 responden atau sebesar 13,00% mempunyai status faal paru tidak normal dari total

Bagi setiap Klinik kecantikan yang di wilayah kota Mataram apabila pernah terjadi kasus atau pun sengketa dengan pasien (konsumen) untuk tidak menutup-nutupi apabila ada

Pada gambar di atas terdapat dua buah text box yaitu text box untuk menentukan lokasi file text yang berisi jumlah record yang akan dimasukkan kedalam tabel yang ada di dalam

Hemoroid internal yang prolaps dalam stadium awal masih dapat masuk ke dalam rektum sendiri; jika stadiumnya meningkat, maka seringkali penderita perlu memasukkan

Dengan kondisi sekarang, maka setiap pengguna internet dimungkinkan untuk melakukan penyerangan ke jaringan Intranet STM IK Amikom, padahal jaringan intranet menjadi