PENGARUH SIZE, RETURN ON ASSETS DAN FINANCIAL LEVERAGE TERHADAP TINGKAT UNDERPRICING PENAWARAN SAHAM
PERDANA DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2011 - 2016
Oleh :
Kiki Dwi Jayanti B12.2012.02227
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi
Universitas Dian Nuswantoro Semarang
Email : [email protected]
ABSTRACT
This research aims to understand the influence of size, return on assets (ROA), and financial leverage on the level of underpricing .The company data obtained from Indonesia Stock Exchange (IDX) by using the research object is companies that conduct an initial public offering (IPO) over the period 2011 to 2016.
The research method in this research using multiple regression analysis method. A sampling method using purposive sampling that obtain 70 companies that conduct an initial public offering(IPO)over the period 2011 to 2016 .This research using secondary data firm covering of offering price , closing price , total assets , total debt , total equity and net profit .
The result of this research shows that variable of financial leverage have a significant effect on underpricing level, while variable of size and return on assets have no significant impact on underpricing level.
PENDAHULUAN
Penawaran saham perdana atau Initial Publicc Offering(IPO) merupakan
penjualan saham perusahaan pertama kalinya ke publik yang dilakukan dipasar perdana kemudian saham tersebut diperdagangkan kembali di Bursa Efek atau sering disebut pasar sekunder. Perkalian antara jumlah saham yang ditawarkan dengan per harga saham adalah jumlah dana yang diterima oleh emiten, sehingga semakin
tingginya harga perr saham maka dana yang diperoleh akan semakin besar.
Underpricing adalah ketika harga saham dipasar perdana cenderung lebih rendah apabila dibandingkan dengan harga saham di pasar sekunder. Perusahaan tidak
diuntungkan jika terjadi underpricing karena tidak dapat menghimpun dana secara
maksimal. Maka dari itu, seorang investor harus teliti, dan penuh dengan pertimbangan dalam menganalisa laporan keuangan dan memilih perusahaan yang tepat.Dalam mengambil keputusan berinvestasi yang tepat bagi investor diperlukan informasi yang banyak mengenai perusahaan yang menjual saham dan faktor-faktor
yang mempengaruhi underpricing. Informasi tersebut diantranya adalah size, return
on asset dan financial laverage. Para investor membutuhkan informasi tersebut untuk memperkirakan penghasilan dividen di masa mendatang pada saham yang akan dibeli oleh investor.
TINJAUAN PUSTAKA
Teori Sinyal (Signalling Theory)
Signaling teori merupakan suatu tindakan yang di ambil oleh manajemen suatu perusahaan yang memberikan arahan bagi investor mengenai bagaimana suatu manajemen memperkirakan prospek perusahaan (Brigham dan Houston, 2014).
Informasi apapun mengenai perusahaann merupakan suatu signal bagi investor,
dalam membuat keputusan untuk berinvestasi. Data berupa financial atau non
financial mengenai perusahaan dapat dijadikan suatu informasi penting untuk menilai prospek suatu perusahaan dimasa yang akan datang. Apabila keadaan financial atau non-financial dari suatu perusahaan dirasa menguntungkan bagi investor, maka investor tersebut akan menanggapinya dengan menawarkan harga yang cukup tinggi atas saham perdananya bahkan di atas harga di pasar perdana, sehingga saat diperjualbelikan dipasar sekunder harga sahamnya mengalami
peningkatan dan terjadi Underpricing (Bachtiar, 2012).
Teori Asimetri Informasi
Fenomena Underpricing terjadi disebabkan adanya kesalahan dalam
memperkirakan harga saham suatu perusahaan di pasar perdana merupakan suatu
pertanda tidak seimbangannya informasi antara pihak penjamin emisi (Underwriter)
dengann perusahaan (emiten). Dalam sebuah literatur keuangan, hal tersebut dikenal
dengan information asimetry (Suhardjo, 2015).
Suhardjo (2015) menyatakan bahwa untuk menjelaskan asimetri informasi
menggolongkan investor dalam dua kelompok, yaitu: pertama adalah informed
perusahaannya di massa mendatang. Informed investors melakukan iinvestasi pada
penawaran suatu saham yang memiliki peluang meraih kesuksesan atau Informed
investors akan membeli saham yang mengalami undervalued dan menjauhi saham
yang mengalami overvalue. Kedua adalah uninformed investors yang memiliki
informasi kurang bagus mengenai prospek suatu perusahaan dimasa mendatang.
Uninformed investors cenderung membeli saham perdana secara sembarang sehingga
kelompok investor ini kemungkinan besar membeli saham yang overpriced.
Pembelian saham yang mengalami overpriced akan mengakibatkan harga saham
perdana secara umum menjadi Underpricing
Laporan Keuangan
Laporan Keuangan menurut PSAK No. 1 Paragaraf ke 7 tahun 2015, “merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Sebuah laporan keuangan yang lengkap meliputi laporan laba rugi, neraca, laporan perubahan posisi keuangan (yang disajikan dalam berbagai cara, sebagai contoh, sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari sebuah laporan keuangan”.
Pasar Modal
Secara umum, pasar modall merupakan suatu tempat bertemunya pembeli dan
penjual dengan risiko untung ataupun rugi. Pasar modal adalah jembatan bagi suatu perusahaan untuk meningkatkan kebutuhan ekonomi perusahaan dalam jangka yang panjang melalui penjualan saham ataupun mengeluarkan obligasi.
Menurut UU No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal didefinisikan sebagai
kegiatan yang bersangkutann dengan suatu penawaran umum dan perdagangan
eefek, perusahaan public yang berhubungan dengan efek yang telah diterbitkan, dan
lembaga ataupun profesi yang terkait dengan efek.
Menurut Husnan (2006) secara umum suatu pasar modal bisa diartikan dengan pasar berbagai instrumen keuangan berjangka panjang yang bisa diperdagangkan, baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik diterbitkan pemerintah maupun diterbitkan oleh perusahaan swasta.
Saham
Menurut Brigham dan Houston (2014) saham adalah tanda kepemilikan perusahaan, kepemilikan saham biasanya dilambangkan dengan saham biasa (common stock). Keuntungan yang didapatkan jika memiliki suatu saham pada perusahaan adalah :
1) Dividen, merupakan bagian dari keuntungan pperusahaan yang di bagikan untuk pemilik saham.
2) Capital Gain, merupakan suatu keuntungan yang didapatkan dari harga saat menjual dikurangi dengan harga saat membeli saham.
3) Manfaat non-financial, adalah suatu kebanggaan dan kekuasaan, mendapatkan hak suaranya atas penentuan jalannya perusahaan.
Initial Public Offering
Penawaran umum adalah suatu langkah yang dilakukan oleh perusahaan
untuk pertamakalinya perusahaann menawarkan sahamnya pada masyarakat
umum(public) dipasar modal. Menurut Kristiantari (2013) Initial Public Offering (IPO) merupakan cara perusahaan untuk mengumpulkan dana secara lebih maksimal yang termudah dan termurah yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Secara
mudahnya dapat di katakan bahwa go public merupakan suatu langkahh pertama
didalam pertumbuhan perusahaan untuk mampu bersaing dan dapat lebih berkembang. Dalam kenyataannya tidak setiap perusahaan yang besar yang
melakukan go public yang berarti bahwa go public merupakan suatu pilihan bukan
suatu keharusan.
Size
Ukuran perusahaann didefinisikan sebagai besar atau kecilnya suatu
perusahaan yang di lihat dari seberapa besarnya ekuitas (aset), nilai dari perusahaan
maupun hasil dari nilai total aktivaa dari suatu perusahaan.
Return On Assets (ROA)
Return On Assets (ROA) menurut Hanafi (2014) adalah rasio pengukur kemampuan
suatu perusahaan dalam menghasilkan laba (profit) dengan menggunakan besarnya total asset (kekayaan) yang dipunyai oleh perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya – biaya dalam membiayai asset tersebut.
Indikator dari kemampuan suatu unit usaha untuk mendapatkan profit dari
sejumlah asset yang dipunyai oleh unit usaha tersebutt disebut dengan ROA. Return
On Assets mengukurr kinerja operasii yang menggambarkan sejauh mana aktiva
diberdayakan. Rasio inilah yang mengukur seberapa efektifnya perusahaan ddalam
memberdayakan sumber ekonominya yang tersedia untuk memperoleh laba.
Financial Leverage
Financial laverage merupakan rasio pengukur kemampuan suatu perusahaan
untuk melunasi hutang – hutang perusahaannya menggunakan ekuitas dari
perusahaan. Apabila tingkat dari financial leverage suatu perusahaan tinggi maka
akan mempunyai risiko yang tinggi juga disebabkan jumlah hutang suatu perusahaan tersebut juga akan lebih besar bila dibandingkan tingkat ekuitasnya.
METODE PENELITIAN
Variabel Penelitian
Variabel dependen (Y) yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel independen adalah :
Y = Underpricing
Variabel independen (X) adalah variabel yang mempengaruhi Y yaitu : X1 = Size
X2 = Return On Assets (ROA) X3 = Financial Leverage
Populasi dan Sampel
Perusahaan yangg melakukann penawaran saham perdananya dan terdaftar
diBursa Efek Indonesia (BEI) periode tahunn 2011 sampai tahun 2016 dijadikan
pupulasi dalam penelitian ini. Sedangkan sample didalam penelitian ini diambil
dengan mmenggunakan metode ppurposive samplingg adalah pengambilan sampel
dengan dasar kesesuaian karakteristik sebuah sampel dengan tujuan penelitian.
Sample yyang diambil yaitu perusahaann yang melakukan penawaran saham perdana
yang terdaftar di Bursaa eEfek iIndonesia (BEI) periode 2011-2016.
Metode Analisis Data
Metode analisis diperlukan untuk memproses hasil dari penelitian yang telah dilakukan sehingga hasil yang didapat bisa untuk disimpulkan. Data diolah dengan menggunakan SPSS yaitu dengan ujii statistik ddeskriptif, uji asumsii klasik yang terbagi menjadi uji nnormalitas, uji multikolinieritas, uji autokorelasii dan uuji
heterokedastisitas. Serta uji regresi linier berganda ddan uji hipotesiss yang meliputi
ujii F, uji t, ujii koefisien determinasi (R2).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Setelah dilakukannya analisis data dengan menggunakan program SPSS, didapatkan hasil berikut ini :
2. Uji Normalitas
Menurut tabel diatas dapat dijelaskan untuk nilai Kolmogorov-smirnov Test
sebesar 0,975 dan memiliki tingkat signifikansi 0,298 > 0,05 dan dapat disimpulkana data telah berdistribusi normal dan dapat dilakukan penelitian lebih lanjut.
3. Uji Multikolinieritas
Dapat diketahui nilai Tolerance dari variabel size, return on assets dan
financial leverage semuanya > 0,1. Untuk nilai VIF dari size, return on assets dan financial leverage semuanya < 10. Sehingga tidak terjadi masalah multikolinieritas.
4. Uji Autokorelasi
Hasil yang diperoleh yaitu DW bernilai sebesar 1,840. berdasarkan tabel DW (n=70, k=3) diperoleh nilai dl 1,5245, du 1,7028, nilai 4-du sebesar 2,2972 dan nilai
4-dl sebesar 2,4755. Dari informasi tersebut dapat di ketahui bahwa nilaii DW
beradaa di antara du dan 4-du (1,7028 < 1,840 < 2,2972 ), sehingga idapat
disimpulkani bahwa tidak terdapat gejala autokorelasii pada model regresii atau tidak
adai autokorelasii positif ataupun negatif.
5. Uji Heteroskedastisitas (Uji Glejser)
Berdasarkan hasil tabel diatas menggunakan uji glejser diperoleh nilai signifikansi variabel size sebesar 0,075 > 0,05. Variabeli ROA sebesari 0,151 > 0,005
dan variable financial leverage sebesar 0.052 > 0,005 maka dikatakan bebas
6. Uji Regresi Linier Berganda
Setelah dilakukan pengujian maka dapat dibuat persamaanya, yaitu:
Y = 1,237 - 0,047X1 - 0,974X2 - 0,415X3 + e
7. Uji Simultan (Uji F)
Hasil yang diketahui nilaii F hitungi sebesar 3,224 dengan tingkat signifikansi
0,028 < 0,05. Sehingga dapat ditarik simpulkan bahwa variabel size, returni on assets
dan financial laverage berpengaruh secara simultan pada uunderpricing.
8. Uji Parsial (Uji t)
a. Nilai t hitung size yaitu -1,458 dengan signifikansinya 0,150 > 0,05. Dan
dapat ditarik kesimpulan bahwa secarai parsial size tidak berpengaruh terhadapi
b. Nilai t hitung return on assets (ROA) yaitu -1,452 dengan signifikansinya
sebesar 0,151 > 0,05. Dan dapat disimpulkan bahwa secara parsial return on assets
(ROA) tidak berpengaruh terhadap underpricing.
c. Nilai t hitung financial leverage yaitu -2,408 dengan signifikansinya sebesar
0,019 < 0,05. Dan dapat disimpulkan bahwa secara parsial financial leverage
berpengaruh terhadap underpricing.
9. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Nilai dari koefisien determinasi yang dilihat dari nilai adjusted R square
adalah 0,088 dengan demikian variabel independen size, return on assets dan
financial leverage dapat menjelaskan variabeli dependent underpricing sebesar 8,8% sehingga sisanya dijelaskan oleh faktor lain-lain yang tidak diamati oleh peneliti didalam penelitiani ini.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian atau analisis yang telah dilakukan, dengan ini penelitian bisa disimpulkan sebagai berikut :
Kesimpulan
1. Secara simultan size, return on assetsi (ROA) dan financiali leverage
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap underpricing. Hal itu telah
dibuktikan secara statistik dengan melakukan Uji F. Sedangkan secara parsial
hanya financial leverage yang mempunyai pengaruh terhadap underpricing, hal
ini telah dibuktikan secara statistik dengan melakukan Uji t.
2. Secara parsiali (uji t) hasil pengujian pengaruh size terhadap underpricing
diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,150 > 0,05. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa hipotesis size mempunyai pengaruh terhadap harga saham
ditolak.
3. Secara parsial (uji t) hasil pengujian pengaruh return on assets (ROA) terhadap
demikian bisa disimpulkan bahwa hipotesis size mempunyai pengaruh terhadap underpricing ditolak
Secara parsial (uji t) hasil pengujian pengaruh Efinancial leverage terhadap
underpricing diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,0019< 0,05. Dengan
demikian bisa Husnan, Saud. 2006. “Dasar-Dasar Manajemen Keuangan”.
Edisi Kedua. Yogyakarta: AMP YKPN.
4. disimpulkan bahwa financial leverage mempunyai pengaruh terhadap
underpricing, diterima. Dengan adanya pengaruh yang signifikan
mengindikasikan bahwa besarnya nilai financial leverage dapat mempengaruhi
menurunkan tingkat underpricing.
Saran
Setelah dilakukan analisis terhadap penelitian ini terdapat beberapa sarani yang
dapat dijadikan pertimbangan bagi para penelitii yang akan mengkaji ulangi tentang
faktor-faktor yang mempengaruhii underpricing pada masa yang akan datang. Saran
tersebut antara lain :
1. Bagi perusahaan hendaknya mempertimbangkan rasio keuangan yang
menjadi tolak ukur kinerja keuangan yang menjadikan investor lebih tertarik untuk membeli saham perusahaan yang memperoleh laba yang maksimal.
2. Bagi investor sebaiknya lebih selektif dalam menentukan perusahaan yang
memperhatikan rasio keuangannya agar ketika berinvestasi saham dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak
3. Bagi peneliti selanjutnya agar memperbanyak variabel yang akan dianalisis
guna mendapatkan hasil penelitian yang lebih akurat dan memperluas populasi penelitian supaya tidak hanya pada satu sektor saja.
DAFTAR PUSTAKA
Ardiyansah, Misnen. 2014. “Pengaruh Variabel Keuangan Terhadap Return Awal
dan Return 15 Hari Setelah IPO Serta Moderasi Besaran Perusahaan Terhadap Hubungan Antara Variabel Keuangan dengan Return Awal dan Reyturn 15 Hari Setelah IPO di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.7, No. 2, Mei, Hlm 125-153.
Bachtiar, Akbar Wahyu. 2012. “Analisis Variabel-Variabel yang Mempengaruhi
Underpricing Pada Saat IPO di B ursa Efek Indonesia”. Jurnal Ekonomi Dan
Bisnis, Vol 5, No 1: 35-50.
Brigham, E.F & Houston, J.F. 2011. “Dasar-dasar Manajemen Keuangan” . Jakarta :
Erlangga
Hanafi, M. 2012. “Manajemen Keuangan”. Yogyakarta. BPFE.
Husnan, Saud. 2006. “Dasar-Dasar Manajemen Keuangan”. Edisi Kedua.
Yogyakarta: AMP YKPN.
Kristiantari, I Dewa Ayu. 2013. “Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Underpricing Saham Perdana di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Ilmiah Akuntansi, Vol 2, No 2 ISSN 2089 3310.
Kurniawati, Vivi. 2009. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Underpricing Pada Penawaran Umum Perdana di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Ilmiah
Akuntansi, Vol 3, No 2, Juli.
Offering di BEI”. Diponegoro Journal Of Accounting, Vol. 3, No. 1, Hlm 35-42.
Putra dan I G.A Eka Damayanti. 2013. “Pengaruh Size, Return On Assets dan
Financial Leverage Pada Tingkat Underpricing Penawaran Saham di Bursa Efek Indonesia”. E-Jurnal Akuntansi, Hlm. 128-140 ISSN 2302-8556.
Retnowati, Eka. 2013. “Penyebab Underpricing Pada Penawaran Saham Perdana di
Indonesia”. Accounting Analisis Jurnal.
Suhardjo, Ferry. 2015. “Analisis Mengenai Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Tingkat Underpricing di Bursa Efek Indonesiai”. Media Bisnis, Vol. 7, No.1, Maret, Hlm 56-65 ISSN 2085-3106.
Wahyusari, Ayu. 2013. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Underpricing
Saham saat IPO di BEI”. Accounting Analisis Journal.
Yusticia, Natali. 2012. “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing
Saham Perdana Pada Perusahaan Non-Keuangan Go Public, Media Riset Akuntansi”, Vol. 2, No. 2 ISSN 2088-2106.