• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELATIHAN AHLI K3 KONSTRUKSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PELATIHAN AHLI K3 KONSTRUKSI"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

PELATIHAN

AHLI K3 KONSTRUKSI

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI

(2)

KATA PENGANTAR

Sistem pelatihan pada dasarnya merupakan usaha peningkatan kompetensi sumber daya perusahaan untuk memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan yang menyangkut kekurangan pengetahuan, keterampilan dan sikap/perilaku.

Sistem pelatihan merupakan siklus kegiatan yang dimulai dari penyusunan kebutuhan pelatihan (training need analysis), menentukan tujuan dan sasaran pelatihan (training objectives), menyusun rencana pelatihan (training planning), mengembangkan materi pelatihan (training materials development) dan melaksanakan pelatihan (training delivery) sampai evaluasi dan umpan balik penyelenggara pelatihan.

Tentunya sistem ini dapat disesuaikan dengan kondisi perusahaan yang pada akhirnya pelatihan tersebut harus dikelola dengan baik sehingga tujuan pelatihan dapat dicapai dengan tepat dan efisien.

Dalam pembinaan K3 Konstruksi pelatihan ini menjadi sangat penting, baik untuk tenaga ahli dan pelaksana K3 Konstruksi sendiri, maupun untuk tenaga kerja/ petugas yang terlibat dalam pekerjaan konstruksi.

Setelah tenaga kerja terlatih diterjunkan ke tempat tugas untuk selanjutnya perlu dievaluasi kinerjanya yang didalamnya termasuk evaluasi penerapan K3.

Evaluasi penerapan K3 dapat dilakukan melalui pengawasan, inspeksi dan auditing terhadap penerapan K3 dalam pelaksanaan tugas.

Dimaklumi bahwa penyusunan modul ini banyak kekurangan, maka segala saran dan masukan untuk penyempurnaan materi ini sangat diharapkan, sehingga dimasa mendatang materi ini akan lebih sempurna lagi.

(3)

LEMBAR TUJUAN

JUDUL PELATIHAN : Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi

TUJUAN UMUM PELATIHAN

Merencanakan, melaksanakan, mengembangkan dan mengevaluasi penerapan ketentuan K3 untuk mencapai tingkat efektivitas dan efisien penyelenggara konstruksi mencapai nihil kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

TUJUAN KHUSUS PELATIHAN

Setelah mengikuti pelatihan peserta mampu :

1. Menerapkan ketentuan peraturan perundang-undangan K3 Konstruksi 2. Mengkaji dokumen kontrak dan metode kerja pelaksana konstruksi 3. Merencanakan dan menyusun program K3

4. Membuat prosedur kerja dan instruksi kerja penerapan ketentuan K3

5. Melakukan sosialisasi dan pengawasan pelaksanaan program, prosedur kerja dan instruksi kerja K3

6. Melakukan evaluasi dan membuat laporan penerapan SMK3 dan pedoman teknis K3 yang mengacu peraturan perundang-undangan yang berlaku

7. Mengusulkan perbaikan metode kerja pelaksanaan konstruksi berbasis K3, jika diperlukan

8. Melakukan penanganan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja serta keadaan darurat

Seri / Judul Modul = CSE – 10 = Sosialisasi dan Inspeksi Penerapan K3

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Setelah selesai mengikuti modul ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan tentang manajemen pelatihan dan simulasi dalam melaksanakan kegiatan peningkatan kompetensi tenaga ahli/ pelaksana K3 konstruksi dan tenaga kerja serta melakukan audit terhadap penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan yang terkait dengan K3 konstruksi.

(4)

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah modul ini diajarkan, peserta mampu : 1. Menjelaskan teknik sosialisasi melalui pelatihan.

2. Menerapkan metode pelaksanaan dan evaluasi pelatihan serta simulasi dilanjutkan pembuatan laporan pelatihan

(5)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

LEMBAR TUJUAN ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR MODUL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... v

PANDUAN PEMBELAJARAN ... vi BAB 1 PENDAHULUAN ... 1-1

1.1. Sosialisasi Penerapan K3 melalui Pelatihan ... 1-1 1.2 Audit Penerapan K3 ... 1-2 BAB 2 SOSIALISASI K3 MELALUI PELATIHAN . ... 2-1 2.1 Umum ... 2-1 2.2 Kesenjangan Kompetensi ... 2-1 2.3 Sistem Pelatihan ... 2-2 2.4 Penyusunan Kebutuhan Pelatihan ... 2-3 2.5 Menentukan Tujuan dan Sasaran Pelatihan ... 2-4 2.6 Membuat Rencana Pembelajaran ... 2-5 2.7 Model Pelaksanan Pelatihan ... 2-9 BAB 3 PELAKSANAAN PELATIHAN DAN SIMULASI ... 3-1 3.1 Tujuan Pelatihan ... 3-1 3.2 Tugas Pelaksanan Pelatihan ... 3-1 3.3 Pengendalian Pelaksanaan ... 3-4 3.4 Penilaian / Evaluasi Proses Pelatihan ... 3-5 3.5 Prosedur Pembuatan Laporan Pelatihan ... 3-7 3.6 Simulasi Penerapan K3 ... 3-9 BAB 4 AUDIT PENERAPAN K3 ... 4-1

4.1 Rencana Audit ... 4-1 4.2 Tahapan Kegiatan Audit ... 4-1 4.3 Elemen Audit ... 4-5 4.4 Laporan Audit dan Statistik ... 4-19 RANGKUMAN

(6)

DESKRIPSI SINGKAT

PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN

1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja „Ahli K3 Konstruksi“ dibakukan dalam SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) yang didalamnya sudah dirumuskan uraian jabatan, unit-unit kompetensi yang harus dikuasai, elemen kompetensi lengkap dengan kriteria unjuk kerja (performance criteria) dan batasan-batasan penilaian serta variabel-variabelnya.

2. Mengacu kepada SKKNI, disusun SLK (Standar Latihan Kerja) dimana uraian jabatan dirumuskan sebagai Tujuan Umum Pelatihan dan unit-unit kompetensi dirumuskan sebagai Tujuan Khusus Pelatihan, kemudian elemen kompetensi yang dilengkapi dengan Kriteria Unjuk Kerja (KUK) dikaji dan dianalisis kompetensinya yaitu kebutuhan : pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku kerja, selanjutnya dirangkum dan dituangkan dalam suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan. 3. Untuk mendukung tercapainya tujuan pelatihan tersebut, berdasarkan rumusan

kurikulum dan silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusunlah seperangkat modul-modul pelatihan seperti tercantum dalam „DAFTAR MODUL“ dibawah ini yang dipergunakan sebagai bahan pembelajaran dalam pelatihan „Ahli K3 Konstruksi“.

DAFTAR MODUL

No. Kode Judul Modul

1. CSE – 01 UUJK, Etos Kerja dan Etika Profesi 2. CSE – 02 Manajerial dalam Penerapan K3 3. CSE – 03 Peraturan Perundang-Undangan K3 4. CSE – 04 Pengetahuan Dasar K3

5. CSE – 05 Teknik Konstruksi

6. CSE – 06 Manajemen dan Administrasi K3

7. CSE – 07 Penerapan K3 dalam Pelaksanaan Konstruksi 8. CSE – 08 Penerapan K3 dalam Pengoperasian Peralatan 9. CSE – 09 Kesiagaan dan Tanggap Darurat

10. CSE – 10 Sosialisasi dan Audit Penerapan K3

(7)

DAFTAR GAMBAR

No. No. Gambar Judul Gambar

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

(8)

PANDUAN PEMBELAJARAN

A. BATASAN

No. Item Batasan Uraian

Keterangan 1. Seri / Judul CSE – 10 : Sosialisasi dan Audit

Penerapan K3

2. Deskripsi : Materi ini terutama membahas tentang sosialisasi penerapan K3 melalui pelatihan yang meliputi sistem pelatihan, strategi instruksional/ pelatihan umum, kebutuhan pelatihan, pelaksanaan pelatihan, penilaian proses pelatihan dan prosedur pembuatan laporan pelatihan.

Selain itu dalam modul ada pembelajaran tentang inspeksi, pengawasan dan audit penerapan K3 beserta penyusunan pelaporan.

3. Tempat Kegiatan: Dalam ruang kelas dengan kapasitas paling sedikit 25 orang.

4.

(9)

B. PROSES PEMBELAJARAN

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

1. Ceramah : Pembukaan

 Menjelaskan tujuan instruksional

(TIU & TIK.).

 Merangsang motivasi peserta

dengan pertanyaan atau pengalamannya dalam

menyelenggarakan pelatihan K3 Konstruksi.

Waktu : 10 menit

 Mengikuti penjelasan TIU dan TIK dengan tekun dan aktif.

 Mengajukan

pertanyaan-pertanyaan apabila kurang jelas.

OHT1

2. Ceramah : Bab 1 Pendahuluan Tujuan pelatihan, sistem pelatihan

 Menjelaskan tujuan pelatihan

bila dihubungkan dengan K3.

 Menjelaskan sistem pelatihan.  Audit penerapan K3

 Mendiskusikan setiap pokok

bahasan tersebut. Waktu : 10 menit

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif.

 Mencatat hal-hal yang perlu.  Mengajukan pertanyaan bila perlu.

OHT2

3. Ceramah : Bab 2 Sosialisasi K3 melalui pelatihan

 Kesenjangan kompetensi  Kebutuhan pelatihan  Tujuan sasaran

 Menjelaskan metode instruksional.  Menjelaskan media instruksional.  Menjelaskan waktu yang

dibutuh-kan dibandingdibutuh-kan dengan waktu yang tersedia.

 Mendiskusikan setiap pokok

bahasan tersebut. Waktu : 30 menit

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif.

 Mencatat hal-hal yang perlu.  Mengajukan pertanyaan bila perlu.

(10)

KEGIATAN INSTRUKTUR KEGIATAN PESERTA PENDUKUNG

4. Penjelasan : Bab 3 Pelaksanaan Pelatihan

 Tujuan pelatihan

 Tugas pelaksana pelatihan  Pemantau dan evaluasi  Pengendalian pelaksanaan  Penilaian proses pelatihan  Pelaporan

 Simulasi

Waktu : 60 menit

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif.

 Mencatat hal-hal yang perlu.  Mengajukan pertanyaan bila perlu.

OHT4

5. Penjelasan Bab 4 Audit Penerapan SMK3  Rencana audit  Tahapan audit  Elemen audit  Laporan audit Waktu : 40 menit

 Mengikuti penjelasan instruktur dengan tekun dan aktif.

 Mencatat hal-hal yang perlu.  Mengajukan pertanyaan bila perlu.

OHT5

6. Penutup

 Rangkuman pembahasan modul  Diskusi

 Tanya jawab

Waktu : 30 menit

 Peserta diberi kesempatan

bertanya dan diskusi materi bahasan

(11)
(12)
(13)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Sosialisasi Penerapan K3 melalui Pelatihan 1.1.1 Umum

Pelatihan merupakan usaha peningkatan kualitas sumber daya di perusahaan dalam rangka memenuhi standar kualifikasi atau kompetensi yang telah ditetapkan untuk mencapai produktivitas perusahaan yang tinggi sesuai dengan target yang ditetapkan.

Bila dihubungkan dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), maka pelatihan tersebut ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap setiap petugas atau pekerja yang berkaitan dengan K3 agar memiliki kompetensi sesuai dengan penugasannya, sehingga dapat dicapai penerapan K3 yang baik, disiplin dan terarah untuk mewujudkan zero-accident di perusahaan/ proyek.

Pelatihan K3 dipandang sebagai kegiatan yang strategis, karena hasilnya akan nampak pada peningkatan produktivitas tenaga kerja secara individu dan produktivitas perusahaan dalam skala yang lebih luas.

1.1.2 Sistem Pelatihan

Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari setiap pelatihan yang akan dilaksanakan, maka perlu menerapkan sistem pelatihan secara konsisten, yang bertolak dari adanya kebutuhan akan pelatihan.

Analisis kebutuhan di diklat ini (training need analysis) harus mendahului kegiatan lainnya dan harus dikaji dengan teliti agar mendapatkan gambaran yang diinginkan dari pelatihan yang dimaksud.

Berbagai metode dapat digunakan untuk melakukan analisis tersebut, misalnya dengan menganalisis dan menetapkan kesenjangan kompetensi (competence gap) antara kompetensi yang dimiliki oleh SDM dengan kompetensi standar minimum (kompetensi yang diinginkan) perusahaan.

Bila langkah awal ini telah dapat ditetapkan, maka langkah selanjutnya harus berpedoman kepada hasil analisis kebutuhan diklat tersebut, misalnya

(14)

menentukan tujuan pelatihan, menyusun rencana pelatihan, mengembangkan materi pelatihan sampai kepada pelaksanaan pelatihan, diakhiri dengan evaluasi dan pelaporan.

1.2 Audit Penerapan K3 1.2.1 Pengertian Audit

Audit adalah kegiatan mengumpulkan informasi factual dan signifikan melalui interaksi (pemeriksaan, pengukuran dan berujung pada penarikan kesimpulan) secara sistimatis, objektif dan terdokumentasi yang berorientasi pada asas penggalian nilai atau manfaat.

Semua audit pada hakekatnya merupakan instrument bagi manajemen untuk mencapai visi-misi, sasaran dan tujuan organisasi.

Dari berbagai penjelasan dan definisi berbagai jenis audit terdapat beberapa esensi penting yang terkandung dalam pengertian audit sebagai berikut:

1. Audit adalah proses interaktip. 2. Audit adalah kegiatan sistematis. 3. Audit dilakukan dengan azas manfaat. 4. Audit dilakukan secara objektif.

5. Audit berpijak pada fakta dan kebenaran.

6. Audit melibatkan proses analisis/evaluasi/penilaian dan pengujian. 7. Audit bermuara pada pengambilan keputusan.

8. Audit dilaksanakan berdasarkan kriteria / standar. 9. Audit merupakan kegiatan berulang.

10. Audit menghasilkan laporan.

1.2.2 Tujuan Audit

Secara umum audit ditujukan untuk mendapatkan data dan informasi faktual, signifikan berupa data hasil analisa, penilaian, rekomendasi auditor sebagai dasar pengambilan keputusan, pengendalian manajemen perbaikan dan atau perubahan berkelanjutan.

Audit dapat membantu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi organisasi dalam perspektip manajemen (mis: mutu, K3 dll) serta untuk memastikan tercapainya tujuan organisasi secara fungsional maupun tujuan organisasi secara keseluruhan baik untuk saat sekarang maupun masa yang akan datang.

(15)

1.2.3 Jenis – Jenis Audit

Audit pihak pertama (First party audit): adalah kegiatan audit yang ditujukan untuk evaluasi internal organisasi yang dilakukan oleh auditor internal.

Audit pihak kedua (Second party audit): adalah audit yang ditujukan untuk mengevaluasi kinerja sub-kontraktor atau supplier yang dilakukan oleh auditor yang ditunjuk oleh kontraktor utama dan atau pemberi tugas.

Audit pihak ketiga (third party audit): adalah audit yang dilakukan oleh auditor eksternal dan dilakukan berkaitan dengan persyaratan sertifikasi.

Jadi pihak pihak yang selalu terkait dalam proses audit adalah Auditor dan Auditee sebagai pihak yang dijadikan obyek audit.

1.1.4 Pedoman Audit

Untuk kegiatan audit dalam aspek keselamatan dan kesehatan kerja dapat digunakan standar Audit SMK3 sesuai Permenaker no.5 / 1996 atau menggunakan standar lainnya ( misal : OHSAS 18001-1999 ).

(16)

BAB 2

SOSIALISASI K3 MELALUI PELATIHAN

2.1 Umum

Pelatihan bukan sekedar melaksanakan kursus target sekian realisasi sekian, selesai dilaksanakan, kemudian hasilnya dilaporkan sebagai pertanggung jawaban. Hal ini sering terjadi karena cita-cita pentingnya diselenggarakan pelatihan kurang dipahami dan banyak orang masih „merasa“ dapat melakukan sudah langsung berani melaksanakan tugas-tugas pelaksanaan pelatihan, dimana hasilnya secara kualitatif (kualitas) sangat abstrak sulit sekali untuk diamati atau dibuktikan. Pola pikir seperti tersebut di atas kiranya perlu segera diubah dan diarahkan sesuai cita-cita yang sebenarnya atas pentingnya diselenggarakan pelatihan.

Pada dasarnya pelatihan diselenggarakan dalam rangka peningkatan kualitas SDM. Pertanyaan mendasar : kualitas SDM seperti apa yang dicita-citakan ????.

Kiranya perlu dijawab secara jelas, lugas dan terukur.

2.2 Kesenjangan Kompetensi

Prinsip mendasar tugas Manajemen Pelatihan adalah untuk memenuhi tuntutan „Kompetensi yang diinginkan“ atau upaya memperkecil, bila perlu menghilangkan „Kesenjangan Kompetensi“ (Competency Gap) yaitu perbedaan kompetensi yang ada dengan kompetensi yang diinginkan, dalam hal ini tuntutan yang harus dicapai dinyatakan „Kompetensi Minimal“ digambarkan pada matrik sebagai berikut :

(17)

Untuk mengetahui rincian kompetensi tugas / pekerjaan suatu jabatan kerja tertentu tertuang dalam SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) dan analisis jabatan dari masing-masing jabatan kerja.

Adanya kesenjangan kompetensi inilah mengungkapkan adanya kebutuhan pelatihan yang harus dikelola dengan baik.

Yang dimaksud dengan kesenjangan kompetensi adalah kompetensi minimal yang dipersyaratkan dalam bidang tugas tertentu dikurangi kompetensi yang ada (dimiliki) pegawai atau tenaga kerja saat itu.

2.3 Sistem Pelatihan

Dengan uraian di atas sekali lagi ditegaskan, bahwa pelatihan tidak sekedar melaksanakan kursus, target sekian dan realisasi sekian, tetapi diperlukan suatu pengelolaan peningkatan kualitas SDM melalui suatu proses sebagai “Benang Merah” yang merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan maupun dilompati. Mata rantai sebagai proses pengembangan pelatihan berdasarkan kompetensi yang diterapkan digambarkan sebagai siklus sistem pelatihan seperti matrik dibawah ini.

RKK (CCD) PP (TD ) AKAD (TNA) PMP (TMD) IMP (TMC) PEU (MEF) SIMD (TMIS)

AKAD = Analisa Kesenjangan Kompetensi / Kebutuhan Akan Diklat (TNA = Training Needs Analysis)

RKK = Rancangan Kurikulum dan Kursus (CCD = Curriculum and Course Design) PMD = Pengembangan Materi Pelatihan (TMD = Training Materials Development) PP = Pelaksanaan Pelatihan (TD = Training Delivery)

PEU = Pemantauan, Evaluasi, Umpan Balik (MEF = Monitoring, Evaluation and Feed Back)

SIMD = Sistem Informasi Manajemen Diklat (TMIS = Training Management Information System)

IMP = Inti Manajemen Pelatihan (TMC = Training Management Core)

(18)

Untuk menguraikan apa yang “SEHARUSNYA” dilakukan pada unsur-unsur siklus sistem pelatihan perlu dikembangkan Pedoman-pedoman dan panduan Pelatihan (Training Guidelines and Procedures).

2.4 Penyusunan Kebutuhan Pelatihan

Seperti apakah kebutuhan diklat ? Kebutuhan pendidikan dan pelatihan adalah suatu keadaan ingin meniadakan atau memperkecil perbedaan kompetensi yang sebenarnya dengan kompetensi yang diharapkan dari sumberdaya manusia agar dapar memberikan prestasi tertentu dalam organisasi.

Perubahan yang dimaksud adalah perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan sikap sumber daya manusia guna mencapai prestasi tertentu.

Selain kebutuhan pendidikan dan latihan terdapat pula kebutuhan pengembangan. Kebutuhan pengembangan menyangkut pertumbuhan dan efektifitas dari seseorang atas hasil pendidikan dan latihan yang sudah didapatkan agar dipersiapkan untuk mengerjakan tugas yang lebih tinggi dan mengambil tanggung-jawab yang lebih besar. Hal ini tidak dibahas dalam tulisan ini.

Kebutuhan latihan timbul apabila :

 Perilaku sdm yang diharapkan ternyata ada dibawah standar atau rencana oleh sebab kekurangan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memadai, atau  Peningkatan tanggung-jawab jabatan (dalam rangka kondisi promosi).

 Peningkatan tehnik dan alat atau mesin baru (dalam rangka investasi).  Perubahan prosedur dan metode kerja dalam perusahaan.

 Pindah ke bidang baru, usaha baru atau peningkatan usaha dari kecil menjadi yang lebih besar.

Cara lain untuk menganalisa kebutuhan pelatihan adalah :

 Pelajari rencana strategi jangka panjang dan operasional perusahaan.  Periksalah keluhan utama yang disampaikan oleh pelanggan anda.

 Pelajari kekurangan yang pokok dari form hasil penilaian prestasi karyawan  Bagikan daftar pertanyaan kepada para manajeri unit.

 Pelajari hasil wawancara dengan karyawan yang mengundurkan diri.  Lakukan juga survey terhadap karyawan.

(19)

2.5 Menentukan Tujuan Dan Sasaran Pelatihan

Menentukan tujuan dan sasaran pelatihan ibarat meramalkan terlebih dahulu segala sesuatu yang bakal terjadi dari hasil sumberdaya manusia yang diharapkan. Seperti meramalkan tujuan dari perjalanan jauh menuju sebuah desa di Cianjur Selatan, otomatis kita menyusun rencana perjalanan.

Rencana tersebut meliputi perkiraan cuaca, keadaan jalan yang akan ditempuh, perkiraan jarak dan waktu yang akan ditempuh, kendaraan dan peralatan yang akan dibawa dan alternatif yang akan diambil jika rencana utama gagal.

Tujuan pelatihan adalah merubah peserta, dan secara umum dapat dikategorikan sebagai pilihan apakah untuk :

a. Merubah Pola pikir b. Merubah pola sikap

c. Merubah pola tingkah laku atau keterampilan

Yang dimaksud dengan merubah pola pikir peserta adalah suatu cara yang bisa saja dilaksanakan lewat sarana seminar dan diskusi dengan pembicara-pembicara atau narasumber yang memberikan ceramah umum dan tanya-jawab dengan peserta, intinya adalah menjelaskan dan mengajak dan mudah-mudahan berhasil merubah cara berpikir peserta sesuai dengan isi ceramah.

Dapat pula berarti merubah pola sikap peserta bahwa pelatihan K3 Konstruksi adalah suatu cara yang bisa saja dilaksanakan lewat sarana diskusi dan kerja kelompok dengan pembicara-pembicara atau narasumber yang memberikan contoh-contoh dan termasuk mempengaruhi peserta agar sikap pribadinya akan berubah sesuai yang dikehendaki materi latihan.

Dapat pula berarti merubah pola tingkah laku peserta bahwa pelatihan K3 Konstruksi adalah suatu cara yang bisa saja dilaksanakan lewat sarana percontohan dan diskusi atau dilengkapi masing-masing peserta melaksanakan tahap demi tahap kerja yang ditentukan dalam materi dengan bimbingan narasumber, intinya adalah merubah cara berpikir dan cara kerja peserta sesuai dengan isi latihan dengan hasil mampu menjalankannya dengan gerakan anggota tubuh.

Contoh dibawah ini lebih menjelaskan kepada kita mana yang dimaksud hanya merubah cara berpikir dan merubah sikap serta merubah tingkah-laku.

(20)

Tujuan yang dititik beratkan pada pengetahuan dapat berupa :

a. Mendaftar secara berurutan, langkah yang diambil dalam menggunakan safety belt– alat pelindung diri

b. Menguraikan sedikitnya 5 (lima) jenis-jenis alat pelindung diri (APD) c. Menjelaskan apa yang dimaksud P3K

Tujuan dititik beratkan pada merubah sikap dapat berupa :

a. Menjelaskan bahwa safety belt yang sesuai dengan ukuran masing-masing orang dan kapan saat dan kondisi yang tepat, bila digunakan.

b. Mengamankan dan menempatkan peralatan APD pada tempatnya.

c. Memberikan contoh pentingnya memahami kelengkapan dan peruntukan masing-masing isi Kotak P3K sesuai dengan derita pasien.

Tujuan dititik beratkan pada keterampilan dapat berupa : a. Menggunakan safety belt sesuai dengan urutan dan benar. b. Menggunakan kaca mata las secara benar.

c. Menjalankan bantuan pernafasan buatan kepada penderita.

Dengan memahami kebutuhan dan tujuan diklat akan memudahkan anda untuk memasuki tahapan menentukan program pelatihan dan dan rencana pelajaran dengan terarah.

2.6 Membuat Rencana Pembelajaran

Sebagai penanggung-jawab pelatihan anda diminta terlebih dahulu untuk membuat rencana pelajaran. Beberapa hal penting yang harus dipahami terlebih dulu adalah :  Pengertian rencana pelajaran.

 Menentukan tujuan pelajaran.

 Merencanakan kegiatan-kegiatan pelatihan.  Format rencana pelajaran.

1. Pengertian Rencana Pembelajaran

Apakah yang dimaksud dengan Rencana Pelajaran?

Misalkan anda mengerjakan sebidang tanah yang akan dibangun diatasnya sebuah rumah. Sejumlah kegiatan perlu dilangsungkan dan ini membutuhkan sebuah pengorganisasian dan perencanaan agar urutan kegiatan berjalan dengan baik. Pertama harus dibuat gambar, kemudian beton, besi dan kayu harus diangkut menuju sebidang tanah, pekerjaan fondasi dapat dilaksanakan. Demikian

(21)

seterusnya pekerjaan struktur, mekanikal dan plumbing, tukang listrik bekerja, tukang kayu dan tukang cat mulai masuk bekerja, demikian sampai selesai pekerjaan finishing.

Hal yang sama dilakukan dalam rencana pelatihan. Orang dikirim kepelatihan bukan untuk bersenang-senang dilatih, harus bermutu. Kita harus merencanakan kegiatan mana yang diperlukan untuk itu, dengan urutan yang mana kegiatan tersebut harus berlangsung, siapa yang melaksanakannya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan dan sumberdaya yang mana yang diperlukan dengan dukungan dana berapa besar?.

Istilah rencana pelajaran dapat berupa satu pelajaran tunggal atau serial pelajaran yang berkaitan dengan tujuan yang lebih besar. Setiap pelajaran mempunyai tujuan tertentu yang membantu peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan keseluruhan tujuan pelatihan.

2. Menentukan Tujuan Pembelajaran

Anggap saja tujuan diklat telah anda tetapkan dari usulan dan perintah manajemen yang telah dinyatakan pada materi pembahasan II.D. Tujuan pelajaran merupakan detil atau sub.bagian dari tujuan diklat. Ambil contoh: anda telah menetapkan Tujuan diklat adalah peserta mampu menggunakan safety belt sesuai dengan urutan dan benar.

Tujuan pelajarannya dibagi menjadi :

 Memahami jenis-jenis Safety belt yang memenuhi syarat.

 Memahami Kondisi dan keadaan yang mengharuskan penggunaan Safety belt.  Memahami bagian-bagian safety belt yang sangat menentukan.

 Memelihara dan merawat safety belt.

 Mengetahui Urutan penggunaan safety belt.  Melaksanakan Praktek menggunakan safety belt.

Dalam menentukan tujuan pelajaran dapat pula anada lakukan dengan mencoba memahami atau membayangkan apa yang seharusnya terjadi atas pelaku atau subyek peserta dan apa yang ada dan apa yang akan dilakukan terhadap obyek atau alat yang digunakan serta bagaimana situasi dan keadaan yang semestinya terjadi dan diharapkan selama pelajaran.

(22)

3. Merumuskan Tujuan Pembelajaran

Bila anda telah menentukan tujuan pelajaran secara umum, ingatlah bahwa merumuskan adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Anda harus merumuskan baik apakah anda bertujuan untuk merubah ketrampilan atau menambah pengetahuan dengan tepat agar peserta nantinya dapat melaksanakan tugas dengan baik.

Gunakanlah kata kerja tindakan. Kata kerja tindakan : menyatakan kegiatan yang dapat diamati atau dapat diukur, contoh kata kerja tindakan yang dapat digunakan seperti :  Mendaftar  Mengatakan  Menjelaskan  Menggambarkan  Memilih  Memperagakan

Hindarkan kata kerja seperti mengetahui, mengerti dan meninjau. Dengan memperhatikan kedua hal diatas baiklah anda mencoba memperbaiki apa yang telah anda tetapkan tujuan pada materi E.2 dengan penulisan sebagai berikut :

Pada akhir pelajaran, peserta mampu untuk :

 Memilih jenis-jenis safety belt yang memenuhi syarat.

 Menjelaskan kondisi dan keadaan yang mengharuskan penggunaan safety belt.  Menjelaskan bagian-bagian safety belt yang sangat menentukan.

 Menjelaskan cara memelihara dan merawat safety belt.  Mengatakan urutan penggunaan safety belt.

 Memeragakan penggunaan safety belt.

Ingat bahwa kalimat perintah yang dinyatakan sebaiknya dalam proses berjalan dapat diamati dan dapat diukur keberhasilannya.

4. Merencanakan Kegiatan – Kegiatan Pelatihan

Bagaimana menentukan kegiatan pelatihan, mana yang dijadualkan untuk pelajaran anda dan dengan urutan bagaimana? Pedoman umum yang dapat digunakan adalah :

 Lengkapi diri dengan teori, kegiatan dan refleksi kegiatan.

(23)

 Ceramah waktunya harus antara 15 – 20 menit.

 Mulailah dari yang sederhana ke yang sulit, dari bagian keseluruhan yang perlu dijadualkan.

 Mendorong interaksi antara peserta yang memungkinkan mereka belajar satu sama lain.

 Memberikan banyak variasi untuk menjaga agar belajar tetap menarik, menantang dan menyenangkan.

Pertimbangkan pula jawaban atas pertanyaan sebagai berikut :  Apakah tujuan anda?

 Siapa yang telah mendapatkan informasi?  Berapa lama anda punya waktu?

Jawaban kegiatan yang cocok untuk tujuan mendapatkan pengetahuan adalah ceramah atau peragaan atau tanya jawab.

Jawaban kegiatan yang cocok untuk tujuan mendapatkan ketrampilan adalah telaahan kasus atau instruksi pekerjaan atau latihan kelompok/perorangan atau praktek lapangan.

Jawaban kegiatan yang cocok untuk tujuan mendapatkan perubahan sikap adalah kegiatan diskusi atau permainan peran atau simulasi.

Berapa lama waktu yang anda miliki?

Bila anda memiliki waktu yang terbatas tentu ada godaan untuk mengurangi metode yang memerlukan kegiatan yang dijalankan peserta (karena memerlukan waktu banyak). Jangan sekali-kali melakukan demikian karena keterlibatan peserta adalah penting untuk belajar. Dapatkan anda memanfaatkan waktu yang pendek tetapi sasaran anda tercapai?

5. Format Rencana Pelajaran

Format atau bentuk atau kerangka dapat membantu anda dalam menyiapkan rencana pelajaran. Tulislah dengan teratur sehingga anda mudah untuk merubah dan menyempurnakannya. Persoalan terinci atau tidak sangat tergantung pada selera anda dan permintaan atasan atau pemesan jasa anda.

Yakinkanlah bahwa anda telah menulis tentang :  Tujuan

 Kegiatan

(24)

 Dengan siapa dan  Menggunakan apa  Sumber daya yang mana  Penanggung jawab  Pelaporan kegiatan

Berikut ini (lihat lampiran) diberikan sebuah contoh tentang format rencana pelajaran tentang Pelatihan mediator dan arbiter yang terdiri dari lembar :

 Materi pelatihan  Biaya Instruktur  Identitas Instruktur

 Simulasi Biaya dan Pendapatan  Check list kegiatan

Gunakanlah keahlian dan pengetahuan anda tentang K3 Konstruksi untuk mengisi format tersebut dan sempurnakanlah sesuai dengan selera anda tanpa melupakan kaidah umum yang sudah dijelaskan terdahulu.

2.7 Model Pelaksanaan Pelatihan

Panduan pelaksanaan pelatihan disusun untuk memberikan pedoman atau arahan bagi pelaku langsung pelaksanaan pelatihan. Pelaksanaan pelatihan dapat dilakukan dengan beberapa model antara lain :

(1) Model A :

Kursus singkat formal (formal short course) untuk materi pelatihan yang bersifat konseptual, kognitif atau teoritis dan aplikatif sesuai tuntutan sikap perilaku, keterampilan (psychomotoric) pelaksanaan tugas / pekerjaan.

(2) Model B :

Pelatihan dalam pekerjaan nyata yang terencana (planned on the Job Training). Dilaksanakan dalam pekerjaan sebenarnya atau sering disebut Training by doing, model ini lebih ditekankan kepada peningkatan keterampilan (psychomotoric). (3) Model C :

Pelatihan dalam Pekerjaan Nyata Khusus (Ad Hoc On-the-Job Training) begitu kebutuhan timbul, segera disiapkan dan dilaksanakan pelatihan dalam medan pekerjaan yang dipersiapkan secara khusus atau medan pekerjaan yang ada dan relevan.

(25)

(4) Model D :

Sesi Informasi (Information Session). Merupakan forum untuk penyampaian informasi dengan 3 cara :

D1 – Diseminasi Informasi untuk penyebaran informasi atau desiminasi D2 – Widya Wisata (Study Tour)

D3 – Lokakarya Terstruktur yang terencana dengan rapi (Structured Workshop). (5) Model E :

Pengembangan Profesional yaitu pengembangan intelektual melalui pendidikan spesialis.

Panduan ini disusun terbatas untuk model pelatihan kursus singkat formal dan dapat digabung dengan model Widya Wisata (Study Tour) untuk melihat atau membandingkan kenyataan dilapangan dengan teori yang diajarkan. Sedangkan khusus untuk kualifikasi keterampilan ada kegiatan pembelajaran praktek lapangan.

(26)

BAB 3

PELAKSANAAN PELATIHAN DAN SIMULASI

3.1 Tujuan Pelatihan

Sebelum melaksanakan suatu tugas hal yang wajib dipahami adalah tujuan tugas yang akan dilaksanakan. Bertitik tolak dari tujuan tugas akan dapat dilakukan analisis masalah tugas yang selanjutnya akan tampak strukturnya yang seharusnya dilakukan.

Adapun tujuan pelatihan yang akan dilaksanakan adalah : a. Tujuan Pelatihan

1. Tujuan Umum Pelatihan 2. Tujuan Khusus Pelatihan b. Tujuan Instruksional setiap modul :

1. Modul 1, Kode ……… Judul Modul ……… Waktu pembelajaran = ? JP (per JP (Jam Pelajaran)) = 45 menit. Tujuan Instruksional Umum (TIU)

………. ………. ………. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

2. Modul 2, Kode ………, Judul Modul : dan seterusnya

Sebagai panitia pelaksana pelatihan menjadi keharusan menguasai tujuan pelatihan.

3.2 Tugas Pelaksana Pelatihan

Tugas pelaksana pelatihan adalah meningkatkan kompetensi yang ada untuk mencapai minimal kompetensi yang telah ditentukan melalui suatu pengaturan kegiatan mempertemukan : instruktur atau fasilitator dengan peserta pelatihan dengan menggunakan metodologi tertentu dan dibatasi oleh kurikulum, silabus dan materi pelatihan yang ditunjang dengan prasarana, sarana dan sumber daya pelatihan lainnya.

Apabila diurai lebih lanjut, proses utama pembelajaran pelatihan akan melibatkan unsur-unsur utama yaitu :

- Tenaga Instruktur / fasilitator - Peserta pelatihan

(27)

- Materi pembelajaran, ditunjang dengan prasarana dan sarana / media pelatihan dan sumber daya lainnya.

Setelah mengetahui unsur utama dan unsur penunjang maka para pelaksana pelatihan dapat mempersiapkan dengan cermat semua unsur tersebut di atas.

Adapun unsur-unsur yang perlu dipersiapkan adalah : a. Bahan Pelatihan

Bahan pelatihan yang perlu dipersiapkan terdiri dari :

- Untuk peserta : Materi serahan, panduan pelatihan, tes awal, bahan latihan formulir isian peserta,

- Untuk instruktur : Materi serahan, hand out atau lembar OHP (transparan), panduan instruktur, bahan latihan peserta dan lembar jawaban, formulir isian instruktur.

- Untuk Pemantauan : Formulir-formulir pemantauan

b. Alat Bantu dan Fasilitas Pelatihan  Alat bantu Pelatihan

Untuk melaksanakan pelatihan ini instruktur membutuhkan berbagai alat bantu pelatihan seperti :

- Kertas ukuran koran (dan paku payung atau lakban)

- Papan tempat kertas ukuran koran, bila tidak ditempel ke dinding. - Flip chart dan kertas

- Spidol

- Board / papan tulis - OHP dan layar atau LCD

- Persediaan plastik Transparansi beserta alat tulisnya  Fasilitas Pelatihan

Sebelum mengirimkan undangan untuk peserta, lokasi dimana pelatihan akan dilaksanakan harus ditentukan.

Pemilihan lokasi pada dasarnya tidak sulit, namun penyelenggara pelatihan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

- Apakah ruangan tersebut cukup luas untuk peserta? Karena pelatihan ini pada dasarnya merupakan ceramah formal dan diskusi maka lebih baik bila ukuran ruangan cukup besar, sehingga mampu menampung 40-50 peserta. - Ingat bahwa peserta akan diminta untuk melakukan latihan – latihan diskusi,

(28)

kelompok (+ untuk 3 atau 4 kelompok @ 10 orang) lengkap dengan perlengkapannya.

- Bila instruktur merencanakan menggunakan OHP atau LCD apakah ada sumber tenaga listrik di ruangan tersebut?

- Fasilitas pengeras suara dan lain-lain  Latihan atau kunjungan di Lapangan

- Kegiatan latihan di lapangan dimaksudkan agar peserta latihan lebih memahami pelajaran teori yang diberikan di kelas, karenanya kunjungan ini harus direncanakan dengan sebaik-baiknya.

- Untuk menunjang tujuan kegiatan ini, instruktur / institusi Penyelenggara Pelatihan menetapkan lokasi yang akan dikunjungi, setelah terlebih dahulu dilakukan survai tentang kesuaiannya dengan mengutamakan sedang berlangsungnya pekerjaan yang sesuai dengan jenis pelatihan di lokasi tersebut.

- Lokasi kunjungan sebaiknya tidak terlalu jauh dari tempat pelatihan, sehingga memudahkan pengaturan transportasi dan logistic.

- Hubungilah dan bicarakanlah dengan instansi terkait, tentang rencana dan pelaksanaan kunjungan ini jauh sebelumnya (1-2 minggu).

- Penjelasan keadaan lapangan, khususnya mengenai prosedur dan teknik pelaksanaan pekerjaan serta pengendalian mutu dan pengendalian pekerjaan, sejauh mungkin dilakukan oleh petugas yang biasa menangani pekerjaan tersebut. Para instruktur sejauh mungkin membantu kelancaran pelaksanaannya.

- Persiapkanlah transportasi dan logisitk untuk menunjang pelaksanaan kunjungan serta rencana jadwal kunjungan.

c. Undangan

Mengidentifikasi peserta yang tepat adalah sangat penting. Tidaklah berguna untuk mengundang seseorang yang secara langsung tidak terlibat dalam topik yang akan diberikan / dilatihkan.

Undangan kepada peserta beserta Panduan Pelatihan hendaknya sudah diterima 2 minggu sebelum dimulainya pelatihan. Hal ini memungkinkan mereka untuk mempersiapkan diri dan dapat meninjau kembali program kerja mereka serta mengatur apakah ada hal yang dapat didelegasikan kepada bawahannya / orang lain selama mengikuti pelatihan.

Peserta dipilih oleh yang berwenang. Sebagai penyelenggara pelatihan anda bertanggung jawab tentang pemanggilan peserta.

(29)

d. Jadwal Pelatihan

Untuk pelatihan ini, jadwal perlu dibuat dan dibagikan kepada peserta pada awal pelatihan. Contoh jadwal ditunjukkan pada halaman terlampir (lampiran I). Apabila sangat diperlukan beberapa kegiatan dapat dilakukan pada malam hari atau menambah hari pelaksanaan.

Bila hari jum’at merupakan hari terakhir anda juga dapat membuat modifikasi pada jadwal untuk memungkinkan sholat jum’at.

e. Tata Tertib Peserta

Agar pelaksanaan pelatihan berjalan dengan tertib dan lancar, buatlah tata tertib dan bagikanlah kepada peserta sebelum pelatihan dimulai contoh tata tertib lampiran II.

Apabila diperlukan, selain peraturan tata tertib kegiatan pelatihan dapat pula dibuat tata tertib peserta selama tinggal dalam asrama dan ketentuan-ketentuan lainnya dalam mengikuti pelatihan ini.

Pertemuan dan Informasi tentang Instruktur

Tentang instruktur dituangkan dalam panduan instruktur per jenis pelatihan.

Perlu diadakan pertemuan antara panitia dengan para instruktur dalam rangka persiapan pelaksanaan. Hal ini dimaksudkan untuk memberi informasi dan evaluasi terhadap kesiapan instruktur untuk mengajar, antisipasi agar proses pembelajaran berjalan sesuai tujuan dan koordinasi antara penyelenggara dengan instruktur. Sementara itu semua bahan kursus harus sudah siap sebelum pelatihan dimulai.

3.3 Pemantauan dan Evaluasi

Untuk pelatihan ini ada serangkaian formulir pemantauan dan evaluasi. Penjelasan rinci serta salinan formulir ini ditunjukkan pada lampiran III.

Formulir digunakan dengan cara sebagai berikut : a. Formulir Isian Data Peserta

Formulir ini diberikan pada awal pelatihan dan harus diisi oleh peserta. b. Formulir Isian Data Instruktur

Formulir ini diberikan kepada instruktur pada saat dimulainya pelatihan. Setelah diisi agar segera dikembalian kepada panitia.

c. Formulir Penilaian (oleh Peserta)

Formulir diberikan kepada peserta setelah selesainya semua modul diberikan. Setelah selesai diisi oleh setiap peserta agar dikembalikan kepada Panitia.

(30)

Formulir ini diberikan pada akhir pelatihan untuk memperoleh komentar peserta mengenai bahan pelatihan dan pelaksanaan pelatihan. Komentar ini dapat membantu dalam penyempurnaan materi dan pelaksanaan program pelatihan dimasa yang akan datang.

e. Formulir Penilaian Materi (oleh Instruktur)

Formulir ini diberikan kepada instruktur untuk setiap modul yang mereka laksanakan secara individu. Bila mereka mengerjakan modifikasi pada materi pelatihan, sebaiknya mencantumkan fotokopi halaman yang menurut mereka perlu dimodifikasi pada masa yang akan datang.

f. Dan lain-lain apabila diperlukan.

3.4 Pengendalian Pelaksanaan

Inti dari pelaksanaan pelatihan adalah pengendalian jadwal pelaksanaan pelatihan secara tepat, ketat dan disiplin mengingatkan kembali bahwa pelatihan tidak sekedar melaksanakan kursus target sekian realisasi sekian. Tetapi suatu kegiatan peningkatan „kualitas SDM“ (Sumber Daya Manusia) yang produknya abstrak yang tidak mudah dibuktikan. apabila terjadi kerusakan atau kegagalan sulit ditelusuri penyebabnya dan mudah disangkal dengan bukti secara „kuantitas“ sekian banyak. Bertitik tolak dari sini para pelaku pelaksanaan pelatihan dituntut „profesional“.

Penyusunan jadwal untuk pelatihan yang membutuhkan waktu kurang atau lebih dari 6 (enam) hari, diusahakan awal pelatihan atau pembukaan dijatuhkan pada hari bukan „senen“ bisa hari Selasa dan seterusnya, hal ini perlu dipertimbangkan karena hari Senen, biasanya terjadi akumulasi kesibukan sebagai awal pekan untuk kegiatan seminggu kedepan. Selain itu apabila ada kekurangan dalam persiapan pelaksanaan dapat diperbaiki dalam hari Senen. Tetapi apabila lama pelatihan adalah 6 (enam) hari, seyogyanya awal pembukaan pelatihan dipilih hari Senen dengan maksud untuk mencapai efisien tidak melintasi hari Minggu.

Dengan mempertimbangkan semua kegiatan yang harus dijadwalkan termasuk pendaftaran, pembukaan, jam istirahat, penutupan dan lain-lain, maka akan muncul adanya unsur luar yang sering membuat ketergantungan.

Ketergantungan ini harus diperhatikan dan betul-betul dikendalikan karena dapat mengganggu proses pembelajaran yang tepat dan ketat, dimana dampaknya dapat mengganggu nilai-nilai yang ingin ditanamkan, misalnya yang akan membuka datang terlambat atau instruktur / fasilitatornya ada yang sibuk sehingga menunda acara tatap muka. Cukup bijaksana apabila jadwal dapat dikendalikan secara ketat dan disiplin jam per jam pelajaran, begitu akan terjadi kekosongan segera saja dicari alternatif untuk

(31)

mengisinya melalui pergeseran jadwal yang akan kosong diisi dengan acara yang relevan dan menjaga pelaksanaan tetap terpenuhi sesuai waktu yang ditetapkan. 3.4.1 Jadwal Pelaksanaan Pelatihan

Contoh pembuatan jadwal sebagai berikut : JADWAL PELAJARAN

Pelatihan : ...

No. Hari

Jam Senin Selasa Rabu Kamis Jum’at Sabtu

1. 08.00 – 08.45 2. 08.45 – 09.30 3. 09.30 – 10.15

10.15 – 10.30 Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat 4. 10.30 – 11.15 Kode Modul Kode Modul Kode Modul Kode Modul Kode Modul Kode Modul 5. 11.15 – 12.00 12.00 – 13.00 Mk. Siang Mk. Siang Mk. Siang Mk. Siang Mk. Siang Mk. Siang 6. 13.00 – 13.45 7. 13.45 – 14.30

14.30 – 14.45 Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat Istirahat 8. 14.45 – 15.30

9. 15.30 – 16.15 Acara Malam

Apabila menggunakan jadwal seperti grafik di atas diperlukan lampiran daftar modul yang didalamnya tercantum kode dan nama modul, lengkap dengan nama instruktur untuk masing-masing modul, karena yang dicantumkan dalam jadwal pelajaran „Hanya“ kode modulnya saja.

Contoh : Daftar Modul

No. Kode Modul Nama Modul Fasilitator

Contoh lain dalam pembuatan jadwal sebagai berikut : Hari ke 1.

No. Pukul Uraian Acara Fasilitator

1. 08.00 – 08.45 2. 08.45 – 09.30 3. 09.30 – 10.15

10.15 – 10.30 Istirahat Panitia 4. 10.30 – 11.15 Kode dan Nama Modul Nama Instruktur 5. 11.15 – 12.00

(32)

7. 13.45 – 14.30

14.30 – 14.45 Istirahat Panitia 8. 14.45 – 15.30

9. 15.30 – 16.15 10. Acara malam

Hari ke 2 dan seterusnya.

Dengan bentuk jadwal ini, biasanya kode dan nama modul sudah dapat ditulis dalam kolom uraian acara dan nama instruktur dapat di cantumkan dalam kolom fasilitator.

Membagikan bahan persiapan

Dalam kegiatan pelaksanaan pelatihan sehari-hari akan selalu diikuti membagikan bahan-bahan pelatihan yang akan diterima oleh peserta pelatihan. Bahan-bahan pelatihan yang sudah dipersiapkan harus dikuasai dengan penuh tanggung jawab oleh panitia dan jangan sampai ada yang terlambat untuk membagikan atau menyampaikan kepada peserta, disini ada tuntutan panitia harus teliti dan cermat.

3.5 Penilaian Proses Pelatihan 3.5.1 Umum

Evaluasi diperlukan untuk menilai apakah keseluruhan acara pelatihan berjalan sesuai rencana dan hasilnya baik atau tidak. Pokok-pokok yang harus dievaluasi adalah :

1. Peserta, apakah apa yang disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik, hasilnya secara mayoritas berada dalam komposisi baik sesuai sasaran. Berapa persen yang tidak memenuhi syarat, berapa persen yang lulus dengan posisi teratas dan berapa persen rata-rata?

2. Nara-sumber atau Instruktur apakah sesuai dengan materi yang dipesankan, apakah dapat diterima oleh peserta dengan baik dan patut sesuai yang dibutuhkan. Apakah nara-sumber bisa keberjasama dengan panitia dan diusulkan untuk dipakai pada pelatihan berikutnya?

(33)

3. Kepanitiaan Pelatihan, apakah sarana disediakan dengan baik dan proses persiapan, pelaksanaan dan penutupan berjalan sesuai rencana dan waktu serta biaya? Bagaimana kerjasama anggota kepanitiaan ?

3.5.2 Penilaian Terhadap Peserta

Tes dinyatakan sebagai suatu pertanyaan atau tugas atau pengujian yang direncanakan untuk memperoleh informasi yang berupa hasil respon dari sasaran, jika jawaban tidak didapat maka sia-sialah apa yang ditanyakan, oleh sebab itu prinsip tes adalah harus mendapatkan jawaban.

Jika Tes diajukan berupa soal tertulis bukanlah berupa sesuatu yang bersifat menjebak si penjawab karena tidak menggambarkan niat positip untuk mengangkat penjawab menuju posisi yang lebih baik. Demikian pula soal yang menyajikan pilihan jawaban pilihan, sebaiknya dalam kategori yang sejenis : seperti contoh soal :

Pilih salah satu yang paling benar dari daftar Alat Pelindung kepala dalam bekerja di konstruksi dibawah ini :

a. Helm kerja

b. Helm sepeda gunung c. Topi Baja

d. Blangkon

Pilihan jawaban blankon adalah penyajian yang tidak bersifat positip dan mendidik walaupun masih sama-sama berjenis topi, apalagi diganti dengan payung.

Disamping tes berupa praktek, tes berupa tulisan terdiri dari pilihan : jawaban obyektif-pilihan atau jawaban yang bersifat obyektif. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Hendaknya anda dapat menggabungkannya dengan baik sesuai dengan waktu yang diberikan dan tujuan serta kesiapan anda menyusun pertanyaan.

Hasil daripada tes menggambarkan beberapa hal :

 Kemampuan peserta menyerap apa yang diberikan kepadanya dengan hasil tentu saja bisa baik dan buruk.

(34)

 Hasil buruk bisa diakibatkan oleh sulitnya pertanyaan karena tidak sesuai materi atau memang peserta tidak mampu menjawabnya karena narasumber tidak berhasil dalam tugasnya.

 Secara umum dapat digambarkan dalam kurva S, jika masih dalam batas normal maka jumlah yang buruk tidak perlu dinaikkan keatas.

3.5.3 Penilaian Terhadap Panitia

Penilaian terhadap panitia termasuk sukses tidaknya menyelenggarakan pelatihan dapat dibagi menjadi 2 (dua) bagian yang penting yaitu :

 Penilaian terhadap nara-sumber

 Penilaian terhadap penyelenggaraan pelatihan

Kedua-duanya dapat dicapai dengan memberikan daftar pertanyaan yang harus diisi oleh peserta latihan dalam formulir terpisah tentunya, satu untuk nara-sumber dan satu untuk penyelenggaraan.

Jawaban untuk nara-sumber dapat digunakan untuk perbaikan nara-sumber itu sendiri dan juga kepada penyelenggara: apakah nara-sumber cocok dan dapat digunakan pada pelatihan berikutnya

Jawaban untuk penyelenggaraan dapat digunakan sebagai bahan perbaikan terhadap seluruh sumberdaya yang digunakan termasuk bagaimana pengelolaannya, untuk penyelenggaraan dimasa mendatang.

Pelaporan keseluruhan kegiatan harus dibuat sebagai bukti pertanggungjawaban anda kepada yang memberikan tugas, pada kesempatan ini tidak dibahas secara khusus dalam penulisan ini.

3.6 Prosedur Pembuatan Laporan Pelatihan 3.6.1 Umum

Laporan pelatihan merupakan hasil akhir yang harus disajikan kepada perusahaan atau kepada yang memerintahkan pelatihan. Tidak ada format baku daripada laporan pelatihan tetapi setidaknya meliputi seluruh kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan alasan penyimpangan dan penutupan. Obyek yang dilaporkan meliputi peserta, Instruktur dan Kepanitiaan dan terakhir penyajian Laporan Keuangan.

(35)

3.6.2 Bentuk Laporan

Berikut ini diberikan pola dasar yang dapat digunakan oleh pengelola pelatihan dengan urutan sebagai berikut :

1. Abtraksi

Pembukaan dihadiri oleh dan dibuka oleh Tempat Pelaksanaan dan Jam pelaksanaan Penutupan dihadiri oleh dan ditutup oleh Kesimpulan umum dan saran

2. Laporan Kegiatan

a. Peserta (Umur, pendidikan, pengalaman kerja) a. Kondisi sebelum Kegiatan (hasil Pra test) b. Kondisi setelah kegiatan (hasil Pas test) c. Partisipasi peserta

d. Daftar Hadir

e. Sertifikat (Kepersertaan, Kelulusan ) dan Peringkat

b. Waktu, Jam Pelajaran dan pola pengajaran a. Rencana Pelaksanaan dan Jumlah jam pelajaran b. Realisasi dan Jumlah jam pelajaran keseluruhan c. Perubahan dan alasan jika ada

d. Pola pengajaran (Metode dan)

c. Instruktur

1. Waktu yang digunakan (Tepat waktu, lama penggunaan waktu) 2. Penguasaan materi (Hasil dari evaluasi Peserta dan Panitia) 3. Daftar Hadir ( Absensi selama pelatihan berlangsung )

4. Evaluasi (Apakah masih direkomendasikan untuk digunakan)

3. Kepanitiaan Atau Penyelenggara A. Jumlah dan Nama panitia

B. Perlengkapan Peserta dan Panitia C. Peralatan Kerja

D. Ucapan terima kasih (Plakat, sertifikat, barang sejenisnya) E. Evaluasi kerja Panitia

(36)

4. Laporan Keuangan a. Pemasukan

1) Dari peserta

2) Dari Sumbangan atau Sponsor b. Pengeluaran

1) Untuk Peserta 2) Untuk Instruktur 3) Untuk Panitia

c. Sisa Anggaran dan perlengkapan

Laporan ini dapat digunakan sebagai bahan kajian pelatihan angkatan berikutnya ataupun dalam mengajukan program dan anggaran biaya berikutnya. Laporan ini dapat juga digunakan sebagai dasar untuk memutuskan tidak atau melanjutkan pola pelatihan dan menggunakan penyelenggara yang sama apabila dilaksanakan oleh sebuah lembaga independent atau dari luar perusahaan.

3.7 Simulasi

Simulasi merupakan metode pelatihan dengan menciptakan realita dalam kondisi yang dikehendaki (tiruan realita). Meliputi 4 bentuk : model, latihan “inbasket”, permainan bisnis dan pengajaran mikro, digunakan untuk pembelajaran keterampilan penerapan teori melalui peragaan atau dengan menggunakan perlengkapan dan peralatan sebenarnya.

Model-model simulasi dapat dilakukan dengan demonstrasi atau permainan peran. a. Demonstrasi yaitu :

 Berupa peragaan atau penggambaran suatu proses oleh instruktur

 Akan lebih efektif bila tiap peserta berkesempatyan mencoba melakukan sendiri setelah mengamati

 Lebih sesuai untuk kelompok kecil dimana tiap peserta dapat mengamati dan melakukan secara jelas dan tepat apa yang sedang berlangsung.

b. Permainan peran

 Peserta memerankan suatu simulasi atau keajaiban, diikuti analisa dan evaluasi oleh instruktur dan peserta lain.

 Memberi kesempatan kepada peserta untuk mengalami situasi hubungan antar manusia, sepenuh jiwa dan perasaannya serta mencoba memberi tanggapan, eaksi atau pemecahan.

(37)

 Terutama baik untuk melatih kemampuan interaksi peserta dengan orang lain yang diperlukan ditempat kerjanya nanti. Keterlibatan emosi sangat besar.

Sebagai konsekuensi dari metoda lagi simulasi adalah harus menyediakan peralatan dan perlengkapan yang sebenarnya paling tidak alat peraga yang dapat dioperasikan atau dipakai dalam kegiatan simulasi.

(38)

BAB 4

AUDIT PENERAPAN K3

4.1 Rencana Audit

Rencana audit dibuat meliputi seluruh kegiatan pelaksanaan audit dimulai rencana persiapan, pelaksanaan hingga resume dan pelaporan, rencana audit ini harus dibuat dan disampaikan ke auditee sebelum pelaksanaan audit dimulai, dengan maksud mendapat persetujuan dari auditee akan diselenggarakan audit yang dimaksud.

Dokumen rencana audit berisi: 1. Jadwal audit.

2. Area yang hendak diaudit termasuk jabatan fungsi yang diaudiit dan penanggung jawabnya.

3. Sistem dan dasar pelaksanaan audit mengacu ke standar yang dikehendaki sebagai dasar pelaksanaan audit.

4. Elemen – elemen audit yang hendak dituju.

Dasar pedoman rencana audit ini tentunya harus mengacu ke standar yang ditentukan berdasarkan persetujuan auditee. Standar dapat mengacu pada standar nasional seperti Peraturan Menteri Tenaga Kerja No..05 /MEN /1996 tentang, SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA, ataupun dapat menggunakan standar internasional seperti standar Occupational Health and Safety Asessment Series (OHSAS).

Sebagaimana dijelaskan diatas, dokumen rencana audit ini harus disampaikan dan dimintakan pengesahan dari auditee sebagai dasar pelaksanaan audit selanjutnya, sebelum audit dilaksanakan.

4.2 Tahapan Kegiatan Audit

Umumnya kegiatan audit dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1. Tahap persiapan / perencanaan audit.

2. Tahap pelaksanaan audit. 3. Tahap pelaporan hasil audit.

(39)

4.2.1 Persiapan audit

a. Auditor menyampaikan jadwal audit kepada auditee secara tertulis : 1) Waktu direncanakan pelaksanaan audit.

2) Objek/divisi/unit kerja yang akan di audit. 3) Materi audit/klausul yang relevan.

4) Nama-nama lead auditor & auditor yang bertugas. 5) Bahasa audit yang dipakai.

6) Akomodasi yang diperlukan Tim Auditor selama kegiatan audit. 7) Lembar konfirmasi kepada auditee atas usulan/ rencana audit.

b. Contoh rencana Audit. 1) Lingkup sasaran audit. 2) Komposisi auditor. 3) Standar/acuan. 4) Dokumen kerja.  Check list  Formulir NCR 4.2.2 Pelaksanaan Audit

Pelaksanaan Audit terdiri dari 3 (tiga) tahap sebagai berikut: a. Rapat pembukaan/ opening meeting.

b. Proses audit dokumentasi sistem manajemen K3. c. Proses audit compliance di tempat kegiatan. d. Rapat penutupan.

a. Rapat pembukaan

Hal-hal yang harus mendapat perhatian dalam melakukan Opening Meeting adalah:

- Lead auditor membuka rapat dengan kata pengantar dan dilanjutkan pembukaan oleh auditee.

- Lead auditor memperkenalkan nama-nama tim auditor yang bertugas dan sebaliknya auditee memperkenalkan para peserta rapat.

- Lead auditor menyampaikan lingkup dan sasaran audit, jadwal audit serta metode audit yang akan dilaksanakan. Selanjutnya mengklarifikasi apakah usulan Lead Auditor masih dapat dilaksanakan sebagai kegiatan Audit. - Lead auditor menyampaikan jaminan atas kerahasiaan data yang dimiliki

(40)

- Meminta kepada para Auditee untuk “terbuka” dan membuang jauh-jauh rasa ”TAKUT” selama proses audit.

- Menghimbau kepada manajemen tingkat atas untuk menjamin “kebebasan” setiap staf yang berstatus Auditee untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Auditor.

b. Audit dokumen / Adequacy Audit

Audit dokumen ini dilaksanakan dengan suatu tujuan untuk melihat apakah organisasi tersebut telah memiliki sistem manajemen K3 yang terdokumentasi dalam bentuk Manual-prosedur dan institusi-institusi kerja. Apakah dalam pembuatannya (Manual-prosedur dan instruksi kerja tersebut) telah sesuai dan mencukupi dengan ketentuan-ketentuan dalam standard.

Di dalam hal minimum kebutuhan dokumen sistem manajemen K3 telah dicukupi oleh organisasi, maka proses audit dapat dilanjutkan dan dalam hal kebutuhan minimum belum tercukupi maka Lead Auditor akan menyampaikan usulan penundaan jadwal Audit sampai terpenuhinya prosedur-prosedur/dokumen sistem manajemen K3 yang dibutuhkan.

c. Audit Kesesuaian / Complience Audit

Sebagai kelanjutan dari kegiatan audit dokumentasi maka audit kesesuaian ini dimaksudkan untuk melihat apakah semua ketentuan-ketentuan yang telah dituliskan dan dirumuskan dalam dokumen sistem manajemen K3 telah sesuai dengan pelaksanaan/kegiatan di setiap unit kerja.

Metode.teknik yang paling efektif dalam pelaksanaan compliance audit adalah melalui “Teknik Interview”.

Untuk menjamin bahwa semua elemen/sub sistem telah di audit, maka auditor menggunakan check list audit sebagai salah satu alat bantunya.

Alur pertanyaan auditor Interview kepada jajaran Manajemen pada umumnya berkisar pada hal-hal sebagai berikut:

1. Tugas dan tanggung jawab Manajemen :

a) Penjelasan / jawaban-jawaban manajemen dibandingkan dengan responsibility dalam manual K3.

b) Menilai kecukupan komitmen.

(41)

a) Meninjau tingkat pencapaian terhadap sasaran K3 yang ditetapkan pada unit kerja tersebut.

b) Melihat tindak lanjut atas masalah-masalah yang pernah terjadi sebelumnya.

3. Tindakan atas ketidak sesuaian yang terjadi :

a) Tanggapan apakah cukup memadai (dari sisi waktu dan materi). b) Apakah tindakan koreksi cukup efektif.

4. Tugas dan tanggung jawab manajemen 5. Prosedur-prosedur terdokumentasi

d. Rapat Penutupan Audit

Lead auditor berkewajiban untuk melaksanakan kegiatan penutupan Audit. Hadir dalam kegiatan tersebut adalah Tim Auditor lengkap beserta Top Manajemen dan penanggung jawab dari setiap unit kerja yang di audit (auditee). Di dalam kesempatan ini Lead Auditor akan menyajikan dan membacakan hasil Audit (satu persatu) sampai Auditee memahami benar hasil Audit yang di catat dalam NCR Form tersebut.

Lead Auditor meminta kepada Auditee untuk menyampaikan rencana tindakan koreksi atas “temuan” hasil Audit tersebut sampai pada batasan waktu yang disepakati.

Pada proses Audit sampai dengan proses penutupan Audit tidak disarankan kepada “Tim Auditor” untuk memberikan “solusi” kepada Auditee.

Dibawah ini adalah salah satu contoh dalam melaksanakan Rapat penutupan Audit:

1. Lead Auditor mengucapkan terima kasih atas keterbukaan dan kelancaran dalam pelaksanaan Audit (Lead Auditor menyampaikan kesan selama proses audit).

2. Temuan Audit tidak dapat mewakili kondisi sepenuhnya, karena hasil audit hanya bersifat sample saja.

3. Membatasi tanggung jawab dan melaksanakannya setelah pembacaan “temuan” Audit.

4. Lead Auditor menyatakan bahwa tindakan koreksi harus dilakukan oleh setiap penanggung jawab proses pada unit kerja terkait dengan target waktu yang jelas.

(42)

5. Memberikan kesempatan kepada yang hadir untuk bertanya atas hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan audit.

6. Menutup rapat.

4.2.3 Pelaporan Hasil Audit

Pelaporan hasil audit termasuk membuat statistik akan diuraikan pada butir selanjutnya.

4.3 Elemen Audit

4.3.1 Pedoman Teknis Audit Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Dalam melaksanakan audit K3, berpedoman kepada pedoman teknis audit Sistem Manajemen K3 sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.05/MEN/1996 berserta lampirannya.

1. Pembangunan dan Pemeliharaan Komitmen

a. Kebijaksanaan Keselamatan dan kesehatan Kerja

1) adanya kebijaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja yang tertulis, bertanggal dan secara jelas menyatakan tujuan-tujuan keselamatan dan kesehatan kerja dan komitmen perusahaan dalam memperbaiki kinerja keselamatan dan kesehatan kerja.

2) Kebijakan yang ditandatangani oleh pengusaha dan atau pengurus. 3) Kebijakan disusun oleh pengusaha dan atau pengurus setelah

melalui proses konsultasi dengan wakil tenaga kerja.

4) Perusahaan mengkomunikasikan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja kepada seluruh tenaga kerja, tamu, kontraktor, pelanggan dan pemasok dengan tata cara yang tepat.

5) apabila diperlukan, kebijakan khusus dibuat untuk masalah keselamatan dan kesehatan kerja yang bersifat khusus.

6) Kebujakan keselamatan dan kesehatan kerja dan kebijakan khusus lainnya ditinjau ulang secara berkala untuk menjamin bahwa kebijakan tersebut mencerminkan dengan perubahan yang terjadi dalam peraturan perundangan.

(43)

b. Tanggung jawab dan Wewenang Untuk Bertindak

1) Tanggung jawab dan wewenang untuk mengambil tindakan dan melaporkan kepada semua personil yang terkait dalam perusahaan yang telah ditetapkan harus disebarluaskan dan didokumentasikan. 2) Penunjukan penanggung jawab keselamatan dan kesehatan kerja harus

sesuai peraturan perundangan.

3) Pimpinan unit kerja dalam suatu perusahaan bertanggung jawab atas kinerja keselamatan dan kesehatan kerja pada unit kerjanya.

4) Perusahaan mendapatkan saran-saran dari ahli bidang keselamatan dan kesehatan kerja yang berasal dari dalam dan luar perusahaan. 5) Petugas yang bertanggung jawab menangani keadaan darurat

mendapatkan latihan dan diberi tanda pengenal agar diketahui oleh seluruh orang yang ada di perusahaan.

6) Kinerja keselamatan dan kesehatan kerja dimaksudkan dalam laporan tahunan perusahaan atau laporan lain yang setingkat.

7) Pimpinan unit kerja diberi informasi tentang tanggung jawab mereka terhadap tenaga kerja kontraktor dan orang lain yang memasuki tempat kerja.

8) Tanggung jawab untuk memelihara dan mendistribusikan informasi terbaru mengenai peraturan perundangan keselamatan dan kesehatan kerja telah ditetapkan.

9) Pengurus bertanggung jawab secara penuh untuk menjamin sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dilaksanakan.

c. Tinjauan Ulang dan Evaluasi

1) Pengurus harus meninjau ulang pelaksanaan Sistem manajemen K3 secara berkala untuk menilai kesesuaian dan efektivitas Sistem Manajemen K3.

2) apabila memungkinkan, hasil tinjauan ulang dimasukkan ke dalam perencanaan tindakan manajemen.

3) Hasil peninjauan ulang dicatat dan didokumentasikan.

d. Keterlibatan dan Konsultasi dengan Tenaga Kerja

1) Keterlibatan tenaga kerja dan penjadwalan konsultasi dengan wakil perusahaan yang ditunjuk didokumentasikan.

(44)

2) Dibuat prosedur yang memudahkan konsultasi mengenai perubahan-perubahan yang mempunyai implikasi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.

3) Dibuat prosedur yang memudahkan konsultasi mengenai perubahan-perubahan yang mempunyai implikasi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.

4) Ketua P2K3 adalah pengurus atau pimpinan puncak.

5) Sekretaris P2K3 adalah ahli K3 sesuai dengan peraturan perundangan. 6) P2K3 menitikberatkan kegiatan pada pengembangan kebijakan dan

prosedur untuk mengendalikan resiko.

7) P2K3 mengadakan pertemuan secara teratur dan hasilnya disebarluaskan di tempat kerja.

8) P2K3 melaporkan kegiatannya secara teratur sesuai dengan perundangan yang berlaku.

9) Apabila diperlukan, dibentuk kelompok-kelompok kerja dan dipilih wakil-wakil kerja yang ditujuk sebagai penanggung jawab atas keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerjanya dan kepadanya diberikan pelatihan yang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 10) Apabila kelompok-kelompok kerja telah terbentuk, maka tenaga kerja

diberi informasi struktur kelompok kerja tersebut.

2. Strategi Pendokumentasian

a. Perencanaan Rencana Strategi Keselamatan dan Kesehatan Kerja 1) Petugas yang berkompeten telah mengidentifikasi dan menilai

potensial bahaya dan resiko keselamatan dan kesehatan kerja yang berkaitan dengan operasi.

2) Perencanaan strategi keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan telah ditetapkan dan diterapkan untuk mengendalikan potensi bahaya dan resiko keselamatan dan kesehatan kerja yang telah teridentifikasi, yang berhubungan dengan operasi.

3) Rencana khusus yang berkaitan dengan produk, proses proyek atau tempat kerja tertentu telah dibuat.

4) Rencana didasarkan pada potensi bahaya dan insiden, serta catatan keselamatan dan kesehatan kerja sebelumnya.

5) Rencana tersebut menetapkan tujuan keselamatan dan kesehatan kerja perusahaan yang dapat diukur, menetapkan prioritas dan menyediakan sumber daya.

(45)

b. Manual Sistem Manajemen K3

1) Manual Sistem Manajemen K3 meliputi kebijakan, tujuan, rencana dan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja serta menentukan tanggung jawab keselamatan dan kesehatan kerja untuk semua tingkat dalam perusahaan.

2) Apabila diperlukan manual khusus yang berkaitan dengan produk, proses, atau tempat kerja tertentu telah dibuat.

3) Apabila diperlukan manual khusus yang berkaitan dengan produk, proses, atau tempat kerja tertentu telah dibuat.

c. Penyebar-luasan Informasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja 1) Informasi tentang kejadian dan masalah keselamatan dan kesehatan

kerja disebarkan secara sistematis kepada seluruh tenaga kerja perusahaan.

2) Catatan-catatan informasi kesehatan dan keselamatan kerja dipelihara dan disediakan untuk seluruh tenaga kerja dan orang lain yang dating ke tempat kerja.

3. Peninjauan Ulang Perancangan (Desain) dan Kontrak a. Pengendalian Perancangan

1) Prosedur yang terdokumentasi mempertimbangkan identifikasi bahaya dan penilaian resiko yang dilakukan pada tahap melakukan perancangan atau perancangan ulang.

2) Prosedur dan instruksi kerja untuk penggunaan produk, pengoperasian sarana produksi yang aman disusun selama tahap perancangan.

3) Petugas yang kompeten telah ditentukan untuk melakukan verifkasi bahwa perancangan memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja yang ditetapkan.

4) Semua perubahan dan modifikasi perancangan yang mempunyai implikasi terhadap keselamatan dan kesehatan kerja diidentifikasikan, didokumentasikan, ditinjau ulang dan disetujui oleh petugas yang berwenang sebelum pelaksanaan.

b. Peninjauan Ulang Kontrak

(46)

lingkungan dan masyarakat, dimna prosedur tersebut digunakan pada saat memasok barang dan jasa dalam suatu kontrak.

2) Identifikasi bahaya dan penilaian risiko dilakukan pada tahap tinjauan ulang kontrak oleh personel yang berkompeten.

3) Kontrak-kontrak ditijau ulang untuk menjamin bahwa pemasok dapat memenuhi persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja bagi pelanggan.

4) Catatan ditinjau ulang kontrak dipelihara dan didokumentasikan.

4. Pengendalian Dokumen

a. Persetujuan dan Pengeluaran Dokumen

1) Dokumen keselamatan dan kesehatan kerja mempunyai identifikasi status, wewenang, tanggal pengeluaran dan tanggal modifikasi. 2) Penerima distribusi dokumen tercantum dalam dokumen tersebut. 3) Dokumen keselamatan dan kesehatan kerja edisi terbaru disimpan

secara sistematis di tempat yang ditentukan.

4) Dokumen usang segera disingkirkan dari penggunanya sedangkan dokumen usang yang disimpan untuk keperluan tertentu diberi tanda khusus.

b. Perubahan dan Modifikasi Dokumen

1) Terdapat sistem untuk membuat dan menyutujui perubahan terhadap dokumen keselamatan dan kesehatan kerja.

2) Apabila memungkinkan diberikan alasan terjadinya perubahan dan tertera dalam dokumen atau lampirannya.

3) Terdapat prosedur pengendalian dokumen atau daftar seluruh dokumen yang mencantumkan status dari setiap dokumen tersebut, dalam upaya mencegah penggunaan dokumen yang usang.

5. Pembelian

a. Spesifikasi dari Pembelian Barang dan Jasa

1) Terdapat prosedur yang terdokumentasi yang dapat menjamin bahwa spesifikasi teknik dan informasi lain yangrelevan dengan keselamatan dan kesehatan kerja telah diperiksa sebelum keputusan untuk membeli.

2) Spesifikasi pembelian untuk setiap sarana produksi, zat kimia atau jasa harus dilengkapi spesifikasi yang sesuai dengan persyaratan

Referensi

Dokumen terkait

Pertama-tama perlu dibedakan adanya dua kategori pekerja konstruksi yang terlibat dalam pekerjaan di proyek, yang masing-masing juga menghadapi ancaman kecelakaan

Dalam situasi tersebut, misalnya kebakaran, diperlukan adanya suatu sistem atau prosedur kesiagaan mengatasi keadaan darurat tersebut yang dipahami oleh semua pihak yang

Ketika permasalahan itu berkaitan dengan mutu bahan dan mutu kerja (workmanship), keputusan direksi pekerjaan tersebut biasanya dapat diterima semua pihak. Namun bila beda

Program yang dimaksudkan disini adalah, program umum didalamnya memuat strategi pencapaian penerapan SMK3, secara detail program dapat di aplikasikan dalam bentuk

a) Berkas pengesahan perakitan dan atau data teknik pembuatan sebagaimana diuraikan di atas dan dokumen teknik yang terkait dengan fondasi, pemipaan, dan lain-lain. b)

Kesempatan untuk menjadi ahli K3 salah satunya adalah dengan mengikuti pelatihan Ahli K3 umum kemenaker

power point presentase dalam pengurusan sertifikat tenaga ahli k3

Laporan kegiatan K3 untuk periode September - November 2023 dari Ahli K3 bernama Ulwan Nafis untuk PT Prima Layanan Nasional