• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB V

PENUTUP

Bab terakhir ini akan menjelaskan kesimpulan hasil penelitian yang sudah dilakukan dan dianalis. Bab ini juga memberikan saran terkait dengan masalah yang diteliti untuk pengembangan selanjutnya untuk pengembangan ilmu komunikasi, bidang strategi public relations, serta untuk pengembangan strategi komunikasi dalam implementasi ke depan di Biro Humas dan KSI BPK RI. Hasil penelitian yang diperoleh memberikan gambaran yang komprehensif dan relevan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini yaitu Bagaimana strategi public relations yang dilakukan oleh Biro Humas dan Kerjasama Internasional atas publik Internal dan Eksternal dalam kebijakan Keterbukaan Informasi Publik.

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian serta analisis yang telah dilakukan sebelumnya, maka pada bab ini peneliti akan menjabarkan mengenai kesimpulan yang didapatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi public relations apa saja yang digunakan oleh Biro Humas dan KSI BPK RI dalam kebijakan keterbukaan informasi publik. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah:

Strategi Komunikasi Public Relations yang dilakukan dalam Program Kebijakan Keterbukaan Informasi Publik di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia terdiri dari Tiga (3) Tahapan Yaitu : 1). Fase Riset Formatif yang di dalamnya berisi (analisa situasi, analisa organisasi dan analisa publik); 2). Fase Strategis yang di dalamnya berisi (Bagaimana Biro Humas dan KSI BPK RI menentukan Tujuannya, Bagaimana Aksi dan Strategis yang dilakukan Biro Humas dan KSI BPK RI, dan bagaimana menggunakan komunikasi yang efektif terhadap sasaran komunikasinya); dan 3). Fase Taktik yang di dalamnya berisi (Bagaimana Taktik Komunikasi yang dilakukan, dengan media apa strategi dilakukan, bagaimana pendekatan komunikasinya, bagaimana implementasi

(2)

2 anggaran dan personelnya dan bagaimana evaluasi yang dilakukan apakah strategi yang dilakukan sudah tepat menyasar dan berhasil guna)

Pada dasarnya strategi komunikasi yang telah dilakukan sudah melalui ketiga tahap kegiatan tersebut, dan dapat dikatakan optimal dalam meraih tujuan yang diinginkan. Namun masih ada beberapa hal yang dapat dikatakan belum optimal dalam pelaksanaannya.

Beberapa hal yang dapat disimpulkan berkaitan dengan tahapan kegiatan Keterbukaan Informasi Publik yang telah dilakukan oleh Biro Humas dan KSI BPK RI adalah sebagai berikut :

1. Fase Formatif a. Analisis Situasi.

Masih ada keterbatasan kekurang pahaman akan program keterbukaan informasi publik di kalangan pegawai kantor pusat BPK RI. Latar belakang pelaksanaan program Keterbukaan Informasi, visi dan misi Keterbukaan Informasi serta tujuan yang akan dicapai dalam pelaksanaan program. Beberapa pegawai sudah memahami program keterbukaan informasi ini dengan baik namun sebagian pegawai lainnya masih mempunyai pemahaman yang sempit tentang makna keterbukaan informasi. Hal ini ditemukan pada pegawai pusat yang menjadi target survey peneliti.

Di lingkungan Biro Humas sendiri, aliran informasi kegiatan keterbukaan informasi publik sampai ke struktur bawah organisasi yaitu staff, namun pada pegawai yang berada di luar Biro Humas dan KSSI BPK RI, aliran informasi masih belum merata dari tingkat pembuat kebijakan atau pimpinan sampai ke level staf. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan keterbatasan pemahaman pegawai akan program kegiatan keterbukaan informasi publik.

b. Analisis Publik

Dari analisa organisasi yang dilakukan, Biro Humas dan KSI BPK RI telah melakukan pemetaan atas Strenght (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), dan Opportunity (Peluang) dan Threat (Ancaman),

(3)

3 pemetaan SWOT tersebut berguna untuk memetakan strategi yang tepat dalam program keterbukaan informasi publik, ada hal yang menarik adalah bahwa Biro Humas dan KSI tidak merasa bahwa lembaganya memiliki ancaman, tetapi yang dilakukan oleh Biro Humas dan KSI BPK RI adalah sinergi dengan lembaga publik lain, karena keterbukaan informasi publik akan berdampak besar jika berhasil dilakukan sehingga BPK RI lebih merasa bahwa mereka tidak menganalisa ancaman yang datang kepada lembaganya

c. Analisis Organisasi

Dari analisa organisasi yang dilakukan, Biro Humas dan KSI BPK telah melakukan langkah dalam mengenal publiknya dalam program keterbukaan informasi publik dengan membaginya ke dalam prioritas publiknya, yaitu ke dalam warga negara, badan publik, komisi informasi, serta seluruh unsur yang ada di BPK RI, hal ini sesuai dengan pernyataan Ronald D. Smith bahwa penting bagi suatu lembaga untuk membatasi dan mengenali khalayaknya, pihak Biro Humas dan KSI BPK RI pun telah melakukan hal itu.

2. Fase Formatif

a. Menentukan Sasaran Komunikasi dan Tujuan Public Relations

Biro Humas dan KSI telah menentukan sasaran komunikasinya, yang mana berarti pemetaan sasaran komunikasi ini adalah tools yang digunakan oleh Biro Humas dan KSI BPK RI untuk bertindak, bagaimana taktik komunikasi yang dilakukan dan dengan media apa saja hal itu dilakukan. Biro Humas juga menentukan tujuan dilakukannya Strategi PR.

b. Memformulasikan Aksi dan Respon Strategis (Formulating Action

and Response Strategies) dengan Menggunakan Komunikasi yang

Efektif

Biro Humas dan KSI memformulasikan aksi dan respon strategisnya berdasarkan pendekatan sasaran komunikasinya. Serta dalam merespon audiens nya juga dilakukan pendekatan sasaran komunikasi yang telah

(4)

4 dilakukan yaitu, berdasarkan Stakeholders nya, Pemohon Informasi dan Humas Kantor Perwakilan.

Biro Humas dan KSI BPK RI dalam merespon aksi dan strategisnya lebih banyak melakukan pendekatan proaktif, dimana lebih banyak dalam menjalankan aksinya, bagi pemohon informasi yang datang; pendekatan aksi dan respon tidak reaktif jika ada berita yang kurang mengenakkan datang “menyerang” BPK RI secara lembaga, BPK RI cenderung untuk tidak langsung reaktif jika ada pemberitaan buruk yang datang menimpa BPK RI dan lebih cenderung “wait and see” dan sebisa mungkin defensif dan diarahkan sesuai dengan peraturan, karena dengan bersikap tidak reaktif atas permasalahan maka hubungan baik dengan stakeholders nya akan selalu tetap terjaga; dan untuk internalnya, teknik yang dilakukan oleh Biro Humas dan KSI dalam menyampaikan pesan komunikasi internalnya tidak hanya informatif saja, tetapi bervariasi pada teknik instruktif dan juga persuasif.

3. Fase Taktik

a. Memilih Taktik Komunikasi

Biro Humas dan KSI BPK RI memilih taktik komunikasinya dengan membuka semua kanal media informasinya termasuk dengan membuka kanal media baru untuk memudahkan proses implementasi kebijakan keterbukaan informasi publik itu sehingga diterima semua publiknya dengan sangat baik, yaitu untuk pemohon informasi, untuk publik serta untuk humas internal, sejauh ini, penggunaan media-media tersebut berjalan dengan baik, walaupun pada perjalanannya masih ada ditemukan ketidaksiapan media yang digunakan dan memerlukan penyempurnaan lebih lanjut agar media yang digunakan menjadi lebih baik dan dapat dijangkau dengan mudah oleh khalayaknya. Banyaknya pilihan media komunikasi yang digunakan dalam implementasi KIP dapat memberikan beberapa keuntungan bagi Biro Humas dan KSI BPK RI, yaitu :Meningkatkan daya tarik serta kredibilitas Humas Biro Humas dan KSI BPK RI sebagai komunikator; Meningkatkan pelayanan serta keterbukaan

(5)

5 informasi yang dijalankan; dan Memudahkan Humas Biro Humas dan KSI BPK RI untuk menjangkau seluruh sasaran komunikasinya yaitu pemohon informasi, publik serta Humas di seluruh Kantor Perwakilan BPK RI di seluruh Indonesia.

b. Mengimplementasikan Perencanaan Strategis

Dari sisi anggaran. Anggaran yang disediakan pada dasarnya dialokasikan setiap tahun, dan dialokasikan ke dalam akun anggaran Publikasi Biro Humas dan KSI BPK RI. Anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan keterbukaan informasi publik lebih difokuskan untuk kegiatan Public Awareness Campaign serta juga untuk kegiatan lain yang berkaitan dengan Keterbukaan Informasi Publik lain seperti pencetakan banner,spanduk, poster sampai dengan sosialisasi dengan Humas Kantor Perwakilan dan pegawai serta dengan publiknya.

Dari sisi personel/staff. Personel yang ada di Biro Humas dan KSI BPK RI sudah memahami tugas dan fungsinya masing-masing, dan pada tahun 2015, personel yang ada sudah dapat dikatakan memenuhi harapan Biro Humas dan KSI BPK RI, karena perbandingan personel yang beraal murni dari bukan pemeriksa lebih banyak dari yang berasal dari pemeriksa.

c. Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan oleh Biro Humas adalah dengan membaginya ke dalam Evaluasi dari sasaran komunikan internal dan eksternal.

Evaluasi Internalnya adalah peran Biro Humas dan KSI dalam implementasi KIP perlu ditingkatkan kembali dengan melakukan cara-cara pengkomunikasian yang lebih efektif dalam penyampaian dan mensosialisasikan pedoman implementasi yaitu Peraturan BPK RI Nomor 3 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Informasi Publik pada BPK RI, serta Keputusan Sekjen BPK RI No. 3 tentang Daftar Informasi Publik Yang Dikecualikan di Lingkungan BPK RI.

(6)

6 Evaluasi Eksternal adalah Secara menyeluruh proses Strategi Komunikasi Public Relations yang dilakukan dalam program Keterbukaan Informasi Publik di BPK RI melalui tahapan-tahapan yang telah peneliti sampaikan di atas merupakan usaha yang dijalankan oleh pihak Biro Humas dan KSI BPK RI adalah sesuai dengan outcome yang telah diraih oleh BPK RI tersebut.

B. SARAN

Berdasarkan pada kesimpulan yang telah disimpulkan peneliti, maka pada sub bab ini peneliti akan memberikan saran-saran yang semoga dapat memberikan kontribusi yang baik bagi Biro Humas dan KSI BPK RI dalam program kebijakan Keterbukaan Informasi Publik ke depannya. Saran-saran tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

Pertama, dalam komunikasi internal, Biro Humas dan KSI diharapkan membuat forum media elektronik maupun pertemuan secara berkala karena pertemuan melalui rapat koordinasi yang selama ini hanya setahun sekali masih dirasa kurang cukup. Sudah seharusnya seluruh unsur internal di Humas BPK RI, baik Biro Humas dan KSI mupun Humas Kantor Perwakilan hendaknya menggunakan e-mail lembaga yang menggunakan domain @bpkri.go.id untuk melakukan komunikasi dengan internalnya, karena selain untuk memudahkan proses komunikasi juga akan membuat komunikasi lebih terjaga kerahasiannya.

Kedua, dalam hal komunikasi internal, sebaiknya Biro Humas dan KSI BPK RI, membuat mekanisme tertentu untuk memonitoring pelaksanaan KIP di setiap Humas Kantor Perwakilan, sehingga standar pelayanan informasi publik sama di setiap satuan kerja.

Ketiga, dalam hal komunikasi eksternal, sebaiknya BPK RI memanfaatkan media baru dan mengadaptasinya dengan segera, di tengah penetrasi internet yang sangat cepat, kebutuhan penggunaan media baru sangat diperlukan untuk berkomunikasi antara publik eksternal dengan pihak BPK RI, menilik penggunaan media baru yang dilakukan BPK RI masih dibilang minim sedangkan pihak BPK RI juga fokus kesana dan juga memiliki akun di media sosial namun penggunaannya masih sangat minin, diharapkan dengan cepatnya SOP yang

(7)

7 sedang dibuat dapat segera dijadikan pedoman, sehingga publik BPK RI semakin lebih luas dan semakin membuat BPK RI mengimplementasikan keterbukaan informasi yang dimiliki serta diharapkan SOP yang sedang disusun ini juga mengatur komunikasi dua arah di media baru tersebut dan juga mengatur seorang admin yang memang mumpuni pengetahuannya tentang BPK RI.

Keempat, sasaran komunikasi eksternal pihak Biro Humas dan KSI dalam Keterbukaan Informasi Publik termasuk di dalamnya publik di luar negeri, tetapi ini tidak tercantum dalam Peraturan BPK RI Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Informasi Publik, diharapkan ada perbaikan peraturan mengenai hal ini. Karena hal ini harus di akomodir juga dalam peraturan yang mengatur.

Keempat, dalam hal penggunaan website, peneliti belum menemukan daftar informasi yang dikecualikan ada di website www.bpk.go.id , sebaiknya hal itu juga di upload agar publik mengetahui lebih awal, daftar informasi mana saja yang memang tertutup untuk publik sehingga publik lebih aware.

Kelima, dalam hal penggunaan majalah Warta BPK, peneliti menemukan bahwa Majalah Warta kurang banyak berita tentang keterbukaan informasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh BPK RI, yaitu transparansi dan akuntabilitas.

Keenam, penelitian ini hanya terfokus pada strategi public relations yang dilakukan dalam kebijakan atas Keterbukaan Informasi Publik dengan menggunakan penelitian deskriptif pada metodologinya, ke depan penelitian dapat digunakan dengan metode studi kasus antar lembaga publik atau lembaga publik dengan sektor private (swasta) sehingga akan terlihat bagaimana seharusnya strategi yang tepat dilakukan untuk menyempurnakan teori yang digunakan.

Ketujuh, dalam penelitian selanjutnya, peneliti berharap dapat dilakukan strategi komunikasi yang lain di instansi lembaga publik yang lain, sehingga dapat diperoleh bahwa Teori Strategi Public Relations ini cocok digunakan dalam lembaga publik, karena peneliti masih melihat bahwa teori ini lebih cocok digunakan di lembaga swasta/perusahaan yang bergerak di bidang profit.

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi yang berjudul : Pengaruh Kegiatan Keagamaan Terhadap Akhlakul Karimah Siswa Madrasah Aliyah Negeri 4 Barito Kuala.. Ditulis oleh :

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2020 memuat informasi tentang Penyelenggaraan Pemerintahan, Pelaksanaan Kebijakan Program dan Kegiatan, serta Pencapaian

Fotocopy Kartu BPMKS Gold atau Platinum rangkap 2 (dua) yang disahkan Kepala Kelurahan, disertai dengan menunjukkan Kartu Gold atau Platinum yang asli;.. Seluruh berkas

Transmit Diversity terdiri dari de-multiplexing dan modulasi data ke dalam dua sinyal orthogonal, masing-masing dari transmisi sinyal orthogonal dari antena yang

Mengetahui apakah senyawa golongan antrakuinon yang terdapat pada ekstrak etanol daun pacar air yang terdeteksi pada uji KLT yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap

Untuk itu, pemerintah juga perlu menerapkan kebijakan pembatasan lalu lintas, terutama pada area yang layanan angkutan umum dan fasilitas kendaraan tidak bermotornya sudah

Hasil kajian mendapati terdapat lima latihan yang diperlukan oleh sukarelawan bencana banjir iaitu latihan rawatan asas kecemasan, latihan psikologi, latihan fizikal,

bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 12 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa Yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, sebagaimana