BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS Konsep Percaya Diri dan Ciri-ciri Percaya Diri

Teks penuh

(1)

BAB II

KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Teoritis

2.1.1 Konsep Percaya Diri dan Ciri-ciri Percaya Diri a. Konsep Percaya Diri

Percaya diri merupakan suatu keyakinan untuk menjalani kehidupan, mempertimbangkan pilihan dan membuat keputusan pada diri sendiri bahwa ia mampu untuk melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan dari orang lain. Sejalan dengan pendapat Branden (dalam Hamdan, 2009:9) kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang pada kemampuan yang ada pada dirinya. Bandura (dalam Hamdan, 2009:9) juga mendefinisikan kepercayaan diri sebagai suatu perasaan yang berisi kekuatan, kemampuan dan keterampilan untuk melakukan atau menghasilkan sesuatu yang dilandasi oleh keinginan untuk sukses. Lain halnya Hartinah (2011:98) mengartikan kepercayaan diri adalah keyakinan terhadap diri sendiri bahwa ia memiliki kemampuan dan kelemahan, dan dengan kemampuan tersebut ia merasa optimis dan yakin akan mampu menghadapi masalahnya dengan baik.

Menurut Ubaedy (2011:8) percaya diri adalah kepercayaan pada kemampuan diri yang muncul sebagai akibat dari adanya dinamika atau proses yang positif di dalam diri seseorang. Dinamika yang menghasilkan kepercayaan pada diri itu adalah sebagai berikut.

Keimanan yang kuat pada ajaran Tuhan, pendirian hidup yang kuat terhadap nilai-nilai atau prinsip-prinsip, pengalaman masa lalu yang dijadikan guru atau dicerna, pengetahuan baru, penguasaan terhadap keahlian atau keadaan, penglihatan terhadap bukti,

(2)

perbandingan yang positif, dorongan yang kuat untuk mencapai sesuatu, pertimbangan yang matang, dan pengasuhan dan pembinaan yang mendorong/memberdayakan.

Spencer dalam bukunya Competency At Work (dalam Ubaedy, 2011:10-11), mendefinisikan bahwa self-confidence atau percaya diri adalah keyakinan seseorang atas kapasitasnya dalam menjalankan tugas. Ini termasuk antara lain ekspresi keyakinannya dalam menghadapi tantangan atau masalah, keputusannya dalam merealisasikan idea atau gagasan, dan ketangguhannya dalam menangani kegagalan. Menurut Neil (dalam Ubaedy, 2011:11) munculnya percaya diri adalah gabungan dari self-esteem dan self-efficacy.

Self-esteem adalah perasaan seseorang terhadap dirinya atau biasa disebut

dengan harga diri. Setiap orang pasti punya perasaan tertentu pada dirinya. Bedanya ada perasaan negatif dan ada perasaan yang positif. Agar seseorang bisa percaya diri, persyaratan yang harus dipenuhi adalah memiliki perasaan yang positif terhadap dirinya, misalnya bersyukur bahagia, optimis, atau merasa dirinya bisa berbuat sesuatu. Tidak mungkin orang bisa percaya diri jika jiwanya dipenuhi perasaan negatif, misalnya mengeluh, pesimis, dan seterusnya. Sedangkan

self-efficacy adalah keyakinan seseorang atas kapasitasnya untuk bisa menjalankan

tugas atau menangani persoalan dengan hasil yang bagus (to succeed).

Berdasarkan uraian di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa percaya diri adalah keyakinan positif seseorang pada diri sendiri maupun orang lain yang terwujud dalam tingkah laku, emosi dan spiritualnya untuk mampu melakukan segala sesuatu sesuai dengan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan hidup agar lebih bermakna.

(3)

b. Ciri-ciri Percaya Diri

Di bawah ini dijelaskan beberapa ciri-ciri percaya diri menurut para ahli, yaitu:

Fatimah (2010:149-150) menyebutkan beberapa ciri individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proposional, yaitu:

1) percaya akan kompetensi/kemampuan diri hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, ataupun hormat dari orang lain; 2) tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok; 3) berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain/berani menjadi diri sendiri; 4) punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil); 5) memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, bergantung pada usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak bergantung/mengharapkan bantuan orang lain); 6) mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan situasi di luar dirinya; dan 7) memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.

Spencer dalam bukunya Competency At Work (dalam Ubaedy, 2011:28), juga menyebutkan ada sejumlah istilah yang dipilih untuk menggambarkan kepercayaan diri yang bagus pada diri seseorang. Beberapa istilah itu antara lain sebagai berikut.

1) decisiveness, yaitu orang yang percaya dirinya bagus biasanya mempunyai keputusan hidup yang mantap, tidak plin-plan, tidak ragu-ragu, dan seterusnya; 2) ego strength, yaitu orang yang percaya dirinya bagus biasanya mempunyai power personal yang kuat, kharismatik, disegani, dan semisalnya; 3) independence, yaitu orang yang percaya dirinya bagus biasanya relatif lebih terbebas dari berbagai rasa terancam atau rasa tertekan, baik itu oleh keadaan atau lingkungan; 4) strong-self concept, yaitu orang yang percaya dirinya bagus biasanya mempunyai jati diri yang jauh lebih kuat dan jelas; dan 5) willing to take responsibility, yaitu orang yang percaya dirinya bagus biasanya mempunyai komitmen yang kuat untuk maju atau mempunyai kesadaran tanggung jawab yang lebih tinggi.

(4)

Selanjutnya, menurut Maslow (dalam Ubaedy, 2011:44), dari hasil kajiannya selama bertahun-tahun, orang-orang yang mempunyai tradisi mengaktualisasikan potensi dirinya (The Actual Me) itu punya ciri-ciri sebagai berikut.

1) mereka mempunyai persepsi yang akurat terhadap realitas; 2) mereka bisa menerima dirinya dan orang lain; mereka tidak menganut budaya konformis (ikut-ikutan); 3) mereka lebih mementingkan keinginan (prestasi) ketimbang kekesalan; 4) mereka mempunyai privasi tetapi tidak merasa kesepian; 5) mereka mempunyai otonomi atas dirinya: bisa memerintah dan melarang dirinya untuk berkembang; 6) mereka mempunyai kemampuan yang bagus dalam menghargai kehidupan dan alam; 7) mereka mempunyai pengalaman ketuhanan/spiritual (mystic experience) yang berkualitas (mencerahkan); 8) mereka bisa menempatkan orang lain menurut tata karma kesopanan; 9) mereka mempunyai hubungan personal yang unik; 10) mereka mempunyai karakter yang demokratis; 11) Mereka bisa membedakan antara jalan dan tujuan (means & ends); 12) mereka suka humor yang filosofis; 13) mereka mempunyai gaya hidup yang kreatif; dan 14) mereka menghormati budaya tetapi tidak keracunan budaya (warisan/ tradisi).

De Angelis (dalam Rifki, 2008:35-36), mengemukakan percaya diri berkenaan dengan tiga aspek, yaitu:

1) Percaya diri dalam bertingkah laku; mampu bertindak dan melakukan segala sesuatu sendiri, meliputi: keyakinan diri, sikap penerimaan, dan sikap optimis. 2) Percaya diri dalam emosi; mampu dan yakin menguasai emosi, meliputi:

penilaian diri, ekspresi emosi, dan sikap positif.

3) Percaya diri dalam spiritual; bagian terpenting dalam mengembangkan percaya diri, meliputi: meyakini takdir Tuhan.

R.C Savin Wiliam dan D.H Demo (dalam Santrock, 2003:338) menyebutkan indikator-indikator dari percaya diri positif adalah sebagai berikut.

(5)

1) mengarahkan/memerintah orang lain; 2) menggunakan kualitas suara yang disesuaikan dengan situasi; 3) mengekspresikan pendapat; 4) duduk dengan orang lain dalam aktivitas sosial; 5) bekerja secara koperatif dalam kelompok; 6) memandang lawan bicara ketika mengajak/diajak bicara; 7) menjaga kontak mata selama pembicaraan berlangsung; 8) memulai kontak yang ramah dengan orang lain; 9) menjaga jarak yang sesuai antar diri sendiri dan orang lain dan 10) berbicara dengan lancar, hanya mengalami sedikit keraguan.

Lindenfiel (dalam Rifki, 2008: 15-17) juga mengemukakan delapan ciri utama seseorang yang memiliki percaya diri yang sehat, yaitu: 1) cinta diri, 2) pemahaman diri, 3) tujuan yang positif, 4) pemikiran yang positif, 5) komunikasi, 6) ketegasan, 7) penampilan diri, dan 8) pengendalian perasaan.

Berdasarkan penjelasan di atas peneliti menggunakan ciri-ciri percaya diri menurut De Angelis sebagai indikator penelitian, karena menurut peneliti ciri-ciri tersebut sudah mencakup ciri-ciri dari pendapat para ahli lain. Ciri-ciri tersebut meliputi percaya diri dalam tingkah laku, emosi, dan spiritual.

2.1.2 Pentingnya Siswa Memiliki Percaya Diri

Dalam proses pendidikan, siswa dibantu untuk mengembangkan dan memfungsionalkan rohani (cipta, rasa, dan karsa) dan jasmani (panca indra dan keterampilan-keterampilan) agar meningkat wawasan pengetahuannya. Jadi, pendidikan tidak cukup terfokus pada aspek kognitif bahkan aspek non kognitif juga perlu mendapatkan perhatian karena kedua aspek ini memberi pengaruh cukup besar terhadap perkembangan siswa. Pendidikan kognitif mengembangkan aspek intelektual, sedangkan aspek non kognitif membantu mengembangkan sikap dan keterampilan termasuk kepercayaan diri.

(6)

Percaya diri merupakan modal dasar dalam mengembangkan aktualisasi diri (eksplorasi segala kemampuan dalam diri). Dengan percaya diri seseorang akan mampu mengenal dan memahami diri sendiri. Menurut Hartinah (2011:98) dengan percaya diri juga, seseorang dapat berpikir dan bertindak antisipatif, artinya apa yang dipikirkan cenderung mengarah ke masa depan. Pikiran antisipatif akan memperhitungkan sisi kelebihan dan kelemahan diri sendiri, sehingga orang yang percaya diri akan merasa siap untuk mengalami kegagalan dan akan bangkit lagi guna memperbaiki diri sehingga dapat meraih keberhasilan hidupnya. Taylor (2011:10) juga berpendapat bahwa seseorang yang membangun percaya diri akan berdampak pada keyakinan diri, kesehatan, dan kesejahteraan; hubungan dekat; keluarga; persahabatan; dan kehidupan pekerjaan. Sementara itu, kurang percaya diri dapat menghambat pengembangan potensi diri. Jadi orang yang kurang percaya diri akan menjadi seseorang yang pesimis dalam menghadapi tantangan, takut, dan ragu-ragu untuk menyampaikan gagasan, bimbang dalam menentukan pilihan dan sering membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.

Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa orang yang percaya diri adalah orang yang mandiri, yaitu mampu untuk melakukan sesuatu dengan sendiri tanpa tergantung sepenuhnya pada orang lain. Memiliki percaya diri sangat berpengaruh dalam melakukan sosialisasi karena adanya kemampuan untuk mengenal, menghadapi bermacam-macam karakter orang, menginterpretasikan dan memberikan tanggapan yang tepat terhadap berbagai situasi sosial, serta mampu memadukan kebutuhannya sendiri dengan harapan orang lain atas dirinya.

(7)

2.1.3 Faktor Yang Mempengaruhi Percaya Diri

Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi percaya diri seseorang menurut para ahli.

Menurut Fatimah (2010:150-153) ada 2 faktor yang dapat mempengaruhi percaya diri adalah pola asuh dan pola pikir negatif.

a. Pola asuh

Faktor pola asuh dan interaksi di usia dini merupakan faktor yang amat mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri. Sikap orangtua akan diterima oleh anak sesuai pada persepsinya saat itu. Orang tua yang menunjukkan perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak akan membangkitkan rasa percaya diri pada anak tersebut. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai di mata orang tuanya dan meskipun ia melakukan kesalahan, dari sikap orangtuanya, ia melihat bahwa dirinya tetaplah dihargai dan dikasihani. Anak dicintai dan dihargai bukan bergantung pada prestasi atau perbuatan baiknya, namun karena eksistensinya. Di kemudian hari, anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunyai harapan yang realistik terhadap diri seperti orang tuanya meletakkan harapan realistik terhadap dirinya.

Lain halnya dengan orang tua yang kurang memberikan perhatian pada anak, suka mengkritik, sering memarahi anak, namun kalau anak berbuat baik, mereka tidak pernah memuji, tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai oleh anak, atau menunjukkan ketidakpercayaan mereka pada kemampuan dan kemandirian anak dengan sikap overprotective yang makin meningkatkan

(8)

kebergantungan. Tindakan overprotevtive orang tua menghambat perkembangan kepercayaan diri pada anak karena anak tidak belajar mengatasi problem dan tantangannya sendiri, segala sesuatu disediakan dan dibantu orangtua. Anak akan merasa bahwa dirinya buruk, lemah, tidak dicintai, tidak dibutuhkan, selalu gagal, tidak pernah menyenangkan dan membahagiakan orang tua. Ia akan merasa rendah diri di mata saudara kandungnya yang lain atau dihadapan teman-temannya.

b. Pola pikir negatif

Dalam hidup bermasyarakat, setiap individu mengalami berbagai masalah, kejadian, bertemu orang-orang baru, dan sebagainya. Reaksi individu terhadap seseorang atau sebuah peristiwa amat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Individu dengan rasa percaya diri yang lemah, cenderung mempersepsi segala sesuatu dari sisi negatif. Ia tidak menyadari bahwa dari dalam dirinyalah, semua negativisme itu berasal.

Ormrod (2008:100-102) berpendapat setidaknya terdapat tiga faktor yang benar-benar memiliki pengaruh terhadap perasan diri siswa, yaitu: performa siswa sebelumnya, perilaku orang lain, dan keanggotaan dan prestasi dalam kelompok. Kemudian, dari perasaan diri inilah, akan mempengaruhi percaya diri seseorang. a. Performa sebelumnya.

Penilaian para siswa dipengaruhi oleh kesuksesan dan kegagalan mereka pada masa lalu. Para siswa cenderung lebih mempercayai bahwa mereka memiliki bakat matematika jika dalam kelas-kelas sebelumnya mereka meraih prestasi bagus di bidang matematika; cenderung meyakini bahwa mereka adalah individu

(9)

yang menyenangkan jika mereka sebelumnya mampu mendapatkan dan mempertahankan banyak kawan; dan cenderung menyakini bahwa mereka adalah olahragawan yang handal jika mereka sebelumnya memenangkan sejumlah kompetensi. Pengalaman-pengalaman semacam itu, para siswa memperoleh perasaan diri seberapa baik mereka mampu melakukan aktivitas.

b. Perilaku orang lain

Perilaku orang lain dapat mempengaruhi persepsi diri siswa setidaknya dalam dua cara. Pertama, cara siswa mengevaluasi dirinya sendiri bergantung pada seberapa jauh siswa tersebut membandingkan performanya dengan performa individu lain, terutama teman sebayanya. Remaja yang menganggap dirinya berprestasi lebih tinggi dibanding teman-temannya cenderung mengembangkan perasaan diri yang lebih positif dibandingkan remaja yang selalu berpikir dirinya berprestasi lebih rendah dari kawan-kawannya. Kedua, persepsi diri siswa dipengaruhi oleh perilaku orang lain terhadap diri mereka.

c. Keanggotaan dan prestasi dalam kelompok

Menjadi anggota dalam satu atau lebih kelompok (misalnya dalam satu kelompok populer) dapat juga meningkatkan perasaan diri siswa. Para siswa cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi bila mereka tergabung dalam kelompok-kelompok yang sukses. Kelompok-kelompok sekolah bukan satu-satunya kelompok penting dalam kehidupan siswa. Sejumlah kebudayaan mendorong sejumlah anak untuk turut berbangga terhadap keberhasilan keluarga.

Selanjutnya, menurut Harter (dalam Santrock, 2003:338) mengemukakan bahwa penampilan fisik secara khusus berkontribusi terhadap percaya diri pada

(10)

remaja. Pada salah satu penelitian ditemukan bahwa konsep diri remaja yang berhubungan ketertarikan fisik merupakan faktor terkuat untuk meramalkan rasa percaya diri keseluruhan dari remaja.

Berdasarkan pendapat di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi percaya diri seseorang berasal dari individu itu sendiri dan berasal dari lingkungan dimana individu itu berada.

2.1.4 Pengertian dan Tujuan Bimbingan Kelompok a. Pengertian Bimbingan Kelompok

Bimbingan kelompok adalah layanan bimbingan yang diberikan dalam suasana kelompok. Hartinah (2009:4) juga berpendapat bimbingan kelompok adalah bimbingan yang dilaksanakan secara kelompok terhadap sejumlah individu sekaligus sehingga beberapa orang atau individu sekaligus dapat menerima bimbingan yang dimaksudkan. Bimbingan kelompok ini dimaksudkan agar peserta yang berkepentingan benar-benar memperoleh sesuatu yang berharga bagi kepentingan dirinya.

Gazda (dalam Prayitno&Erman Amti) mengemukakan “bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat”. Gazda juga menyebutkan bahwa “bimbingan kelompok diselenggarakan untuk memberi informasi yang bersifat personal, vokasional, dan sosial”. Menurut McDaniel (dalam Prayitno&Erman Amti), bahwa “telah lama dikenal berbagai informasi berkenaan dengan orientasi siswa baru, pindah program, dan peta sosiometri siswa

(11)

serta bagaimana mengambangkan hubungan antarsiswa dapat disampaikan dan dibahas dalam bimbingan kelompok”.

Sukardi dan Kusmawati (2008:78) menjelaskan “pelayanan bimbingan kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan sejumlah peserta didik (konseli) secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari nara sumber tertentu (terutama dari guru pembimbing/konselor) dan/atau membahas secara bersama-sama pokok bahasan atau topik tertentu yang berguna untuk menunjang pemahaman dan kehidupan sehari-hari dan/atau untuk perkembangan dirinya baik sebagai individu maupun sebagai pelajar, dan untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan/atau tindakan tertentu.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa bimbingan kelompok adalah suatu layanan bimbingan yang dilaksanakan melalui dinamika kelompok yang membahas topik tertentu, guna menunjang pemahaman dan perkembangan kehidupan sehari-hari baik sebagai individu maupun pelajar, dan untuk pertimbangan dalam mangambil keputusan/tindakan.

b. Tujuan Bimbingan Kelompok

Dalam pelaksanaanya, bimbingan kelompok mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

Hartinah (2009:9) mengemukakan beberapa tujuan dari bimbingan kelompok adalah sebagai berikut.

1) siswa bermasalah dapat mengenal dirinya melalui teman-teman kelompok. Siswa dapat membandingkan potensi dirinya dengan

(12)

yang lain. siswa dibantu yang lain untuk menemukan dirinya dan sebaliknya, siswa dapat membantu kawannya untuk menemukan dirinya. Kecenderungan tersebut akan didorong dengan dasar bahwa siswa pada hakikatnya adalah makhluk individu dan sebagai makhluk sosial; 2) melalui kelompok, sikap-sikap positif siswa dapat dikembangkan seperti toleransi, saling menghargai, kerjasama, tanggung jawab, disiplin, kreativitas, dan sikap-sikap kelompok lainnya; 3) melalui kelompok dapat dihilangkan beban-beban moril seperti malu penakut, dan sifat-sifat egoistis, agresif, manja, dan sebagainya; 4) melalui kelompok dapat dihilangkan ketegangan-ketegangan emosi, konflik-konflik, kekecewaan-kekecewaan, curiga-mencurigai, iri hati, dan sebagainya; 5) melalui kelompok, dapat dikembangkan gairah hidup dalam melakukan tugas, suka menolong, disiplin, dan sikap-sikap sosial lainnya.

Berdasarkan pendapat di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa tujuan bimbingan kelompok adalah individu dapat mengenal kemampuan diri, dapat menghilangkan beban-beban moril dan ketegangan-ketegangan emosi, serta dapat mengembangkan sikap-sikap positif dan gairah/semangat hidup dalam melakukan tugas.

2.1.5 Teknik Bimbingan Kelompok

Dalam lingkup bimbingan dan konseling perkembangan (developmental

counseling), penggunaan bimbingan dan konseling kelompok merupakan suatu

hal yang esensial, karena sifatnya yang preventif dan edukational. Bimbingan dan konseling kelompok merupakan suatu proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan melalui suasana kelompok. Ada banyak teknik dan pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan keterampilan kelompok, salah satunya adalah melalui penggunaan latihan kelompok atau yang dikenal dengan group

(13)

Secara umum, teknik-teknik dalam bimbingan kelompok bermuara pada dua sumber, yakni pada teori kepribadian dan dinamika kelompok. Menurut Natawidjaja (dalam Rusmana, 2008:2) bahwa “teknik-teknik yang bermuara pada teori kepribadian di antaranya adalah, teknik asosiasi bebas, analisis mimpi, dan

insight and working trough (pendekatan psikoanalitik), teknik penguatan kembali

(reinforcement), kontrak kontingensi, modeling, gladi perilaku atau behavioral

rehearsal, melatih (coaching) dan penataan kembali kognisi (pendekatan

behavioral), teknik aktif direktif, membantah, membujuk, mengajar dan memberi informasi, tugas-tugas pekerjaan rumah, permainan peran dan percontohan, pengendalian operan terhadap pemikiran dan perasaan, latihan keterampilan dan

feed back (pendekatan rasional emotif)”.

Sedangkan teknik yang bermuara pada dinamika kelompok antara lain,

training group (pelatihan kelompok), encounter group (kelompok pertemuan),

T-Groups (kelompok T), Structured group (kelompok berstruktur), self-help group

(kelompok bantuan diri) dan group exercise (latihan kelompok). Pada penjelasan ini akan difokuskan pada penggunaan teknik latihan kelompok (group exercise) dalam proses bimbingan kelompok.

Istilah “latihan” mengacu pada aktivitas yang harus dilakukan kelompok untuk mencapai suatu tujuan khusus. Suatu latihan bisa saja berupa kegiatan sederhana membentuk dyad-dyad dan mendiskusikan suatu topik atau kegiatan yang sedikit rumit. Yalom, Corey, Corey, Callanan & Russel, Trotzer, dan Dyer dan Vriend (dalam Rusmana, 2008:3) menyatakan bahwa “penggunaan latihan

(14)

sangat dibutuhkan dan memandang penggunaan latihan sebagai suatu bantuan yang sangat bernilai bagi klien, anggota kelompok dan proses kelompok”.

Menurut Rusmana (2008:3) ada tujuh tujuan penggunaan latihan dalam kelompok, di antaranya: a) mengembangkan diskusi dan partisipasi; b) memfokuskan kelompok; c) mengangkat suatu fokus; d) memberi kesempatan untuk pembelajaran eksperiensial; e) memberi informasi yang berguna bagi klien; f) memberikan kesenangan dan relaksasi; dan g) meningkatkan level kenyamanan.

Rusmana (2008:4) juga berpendapat bahwa sedikitnya ada 14 jenis latihan kelompok yang dapat digunakan sebagai teknik-teknik bimbingan dan konseling kelompok: a) menulis (written); b) gerak (movement); c) lingkaran (rounds); d)

dyad dan triad; e) perangkat kreatif (creative props); f) seni dan kerajinan tangan

(arts and crafts); g) fantasi (fantasy); h) bacaan umum (common reading); i) umpan balik (feedback); j) kepercayaan (trust); k) experiential (eksperiensial); l) dilema moral (moral dillema); m) keputusan kelompok (group decisions); n) sentuhan (touching).

2.1.6 Teknik Lingkaran (Rounds) dalam Mengembangkan Percaya Diri Teknik lingkaran (rounds) merupakan latihan yang berguna, dimana pemimpin kelompok memiliki akses terhadap kelompok (Rusmana, 2009:20). Latihan ini dapat dilakukan dengan cepat dan membantu dalam mengumpulkan informasi yang berguna khususnya bagi siswa itu sendiri. Menurut Hartinah (2011:98) percaya diri dapat tumbuh dari kehidupan sosialnya. Jadi, bimbingan kelompok teknik lingkaran (rounds) ini memungkinkan siswa untuk mengaktualisasikan diri dan melatih keterampilan sosialnya dalam kelompok

(15)

sehingga dapat mengembangkan rasa percaya diri. Latihan dalam teknik ini dapat dilakukan dengan beberapa permainan singkat di antaranya: lingkaran pilihan, berbicara 2 menit, memutar botol, penghargaan, dan lain-lain.

Menurut Rusmana (2008:12) pelaksanaan latihan kelompok teknik lingkaran (rounds) menggunakan empat langkah kegiatan yaitu: Eksperientasi (Experience); Identifikasi (Identify); Analisis (Analize); Generalisasi (Generalize). a. Fase Eksperientasi (Experience) atau disebut juga fase action adalah fase

dimana konselor melaksanakan kegiatan konseling (do) yang diarahkan pada upaya memfasilitasi individu untuk mengekspresikan perasaan-perasaan yang menjadi beban psikologisnya sesuai dengan skenario yang telah ditetapkan sebelumnya

b. Fase Identifikasi (Identify) adalah fase dimana konselor melaksanakan proses identifikasi dan refleksi pengalaman selama proses latihan. Pada fase ini konseli atau anggota kelompok diminta untuk bercermin atau melihat (look) ke dalam dirinya apa kaitan antara proses permainan dengan keadaan dirinya. Pada tahap ini konseli diajak untuk mengungkapkan pikiran, perasaan yang terkait dengan proses eksperientasi. Pikiran dan perasaan yang diungkapkan oleh konseli merepresentasikan kondisi psikologis dan permasalahan yang dihadapinya. Pada fase ini konseli diajak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif apa yang terjadi pada klien (what happened) pasca melakukan proses latihan.

c. Fase Analisis (Analyze) adalah fase dimana konseli diajak untuk merefleksikan (reflection) dan memikirkan (think) kaitan antara proses

(16)

konseling dengan kondisi psikologis yang sedang dihadapinya. Sehingga dapat digunakan untuk membuat rencana perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan diri. Pada fase ini konselor mengajukan pertanyaan reflektif tentang apa yang perlu dilakukan (so what) oleh konseli untuk memperbaiki kelemahan yang dihadapinya setelah melakukan proses latihan.

d. Fase Generalisasi (Generalitation) adalah fase dimana konseli diajak untuk membuat rencana (plan) perbaikan terhadap kelemahan yang dihadapi oleh konseli. Rencana perbaikan dapat diwujudkan pada kehidupan sehari-hari setelah proses latihan selesai. Pada fase ini konselor mengajukan pertanyaan reflektif tentang rencana tindakan dan cara bagaimana konseli memperbaiki kelemahan yang dihadapinya.

Ringkasan keempat langkah pelaksanaan permainan kelompok disajikan melalui gambar berikut.

Experience Action Do “&!#?”^#@! Identify Reflection Look What Happened? Analyze Reflection Think So What? Generalize Reflection Plan Now What?

2.1.7 Penggunaan Teknik Lingkaran (Rounds) dalam Mengembangkan Percaya Diri Siswa

Penggunaan teknik lingkaran dalam bimbingan kelompok sendiri memiliki 4 (empat) tahapan yang sudah dijelaskan sebelumnya yaitu: eksperientasi, identifikasi, analisis, dan generalisasi. Dari permulaan sampai selesai kegiatan,

(17)

peserta bimbingan kelompok membentuk lingkaran. Inti dari teknik lingkaran adalah seluruh peserta melakukan simulasi singkat dengan tema percaya diri. Setelah melakukan simulasi, barulah anggota kelompok saling mengungkapkan perasaannya dan membahasnya bersama-sama. Terakhir adalah komitmen setiap peserta setelah melakukan simulasi.

Lingkaran dapat membawa kesadaran setiap individu untuk berkomunitas, memiliki dan dimiliki yang tidak ditawarkan oleh formasi lainnya. Setiap individu yang berada di dalam lingkaran adalah sama dan dimiliki oleh seluruh, karena lingkaran tidak memiliki awal atau akhir (Butler dalam Pica, 2012: 13).

Menurut Pica, Lingkaran adalah simbol kebersamaan. Bentuk lingkaran memberikan kesempatan kepada individu untuk melihat dan mendengar satu dengan yang lainnya. Untuk tetap menjadi bagian lingkaran, individu harus menerima peraturan dan peran yang diberikan. Butler (dalam Pica, 2012: 14) juga mengatakan bahwa “waktu lingkaran yang berhasil mencakup penerimaan, keterbukaan, dan ekspresi ide tanpa penghakiman”. Pengenalan akan lainnya dan komunikasi secara verbal dan non verbal dalam keterampilan sosial dapat diangkat di dalam lingkaran termasuk mengembangkan rasa percaya diri. Untuk itu teknik lingkaran dapat memfasilitasi suatu kelompok untuk mengembangkan rasa percaya diri siswa.

(18)

2.2 Kerangka Berpikir

Alur kerangka berpikir secara praktis mengenai pengaruh bimbingan kelompok teknik lingkaran (rounds) terhadap percaya diri siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Gorontalo dapat dilihat pada gambar sebagai berikut.

Kurangnya percaya diri siswa INPUT Permasalahan 1. Sulit mengeluarkan pendapat 2. Lebih suka menyendiri

3. Lebih banyak diam ketika diberi pertanyaan

4. Lebih suka bermain daripada

mengerjakan tugas 5. Sulit menyesuaikan diri dengan keadaan dan tuntutan lingkungan PROCESS Bimbingan Kelompok Teknik Lingkaran 1. Tahap Pembentukan 2. Tahap Peralihan 3. Tahap Kegiatan a. Eksperientasi b. Identifikasi c. Analisis d. Generalisasi 4. Tahap Pengakhiran OUTPUT Tingkat Percaya Diri Siswa Meningkat OUTCOME Siswa percaya diri dalam menghadapi berbagai rangsangan yang dapat mengganggu stabilitas pribadinya Penyebab

1. Takut dan ragu dalam bertindak

2. Berpikir negatif 3. Pasif terhadap

lingkungan 4. Prestasi masa lalu 5. Tidak bergabung dalam

(19)

2.3 Hipotesis

Berdasarkan kajian teori maka hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh bimbingan kelompok teknik lingkaran (rounds) terhadap percaya diri siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Gorontalo.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :