Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 7 0 1 1 2 2 3 3 4 q -t-q (%) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 y-o-y (%) q tq yoy qtq 2,6 0,87 0,74 0,2 2,37 2,16 2,4 1,6 1,29 1,79 1,71 0,78 2,1 1 3,19 1,96 2,23 0,97 yoy 8,07 7,36 5,99 4,47 4,24 5,59 7,34 8,85 7,67 7,27 6,55 5,69 6,53 5,71 7,24 8,5 8,63 8,6 T w.I-04 T w.II-04 T w.III-04 T w.IV-04 T w.I-05 T w.II-05 T w.III-05 T w.IV-05 T w.I-06 T w.II-06 T w.III-06 T w.IV-06 T w.I-07 T w.II-07 T w.III-07 T w.IV-07 T w.I-08 T w.II-08 Sumber : BPS *) angka sementara
Grafik 1.1 - Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau
Bab 1
Perkembangan Ekonomi Makro
1.1. KONDISI UMUM
Kondisi perekonomian provinsi Kepulauan Riau triwulan II-2008 relatif menurun dibanding triwulan sebelumnya. Data perubahan
terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan laju pertumbuhan yang berkontraksi dari 8,63% pada tw.I-2008 menjadi 8,6% di triwulan laporan (y-o-y). Tinjauan secara triwulan (q-t-q) memperlihatkan perlambatan yang lebih agresif, dari 2,23% di tw.IV-2007 menjadi 0,97%. pada tw.I-2008. Dari sisi permintaan, melambatnya laju pertumbuhan ekonomi dominan dipengaruhi oleh turunnya kinerja ekspor yang disertai dengan peningkatan impor barang dan jasa. Kenaikan harga BBM pada 23 Mei 2008 telah menunjukkan pengaruhnya terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga, lembaga swasta nirlaba dan pemerintah, meski belum berdampak pada iklim investasi di Kepulauan Riau.
Di sisi penawaran, respon kenaikan harga BBM ditunjukkan dengan melambatnya laju pertumbuhan hampir di setiap sektor ekonomi, terutama sektor pertanian dan pengangkutan. Meningkatnya impor dan investasi PMTB memberi kontribusi positif bagi sektor industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan (y-o-y) 6,35%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan tw.I-2008 sebesar 5,56%.
Tabel 1.1 - Laju Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau (berdasarkan harga konstan 2000)
1.2. SISI PERMINTAAN
Di sisi permintaan, penurunan laju pertumbuhan terbesar terjadi pada komponen konsumsi rumah tangga. Meski investasi PMTB menunjukkan kenaikan yang signifikan, turunnya laju pertumbuhan ekspor yang disertai meningkatnya impor ke wilayah Kepulauan Riau semakin mengkonfirmasi perlambatan yang terjadi pada triwulan II-2008.
Komponen 2006 2007 2008
Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II
1. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 9.00 8.74 9.22 4.55 4.41 10.32 16.03 19.58 23.04 17.48
a. Makanan 15.52 14.94 13.95 7.36 1.51 5.90 12.79 16.48 24.10 21.84
b. Non Makanan 4.87 4.86 6.20 2.74 6.43 13.35 18.24 21.67 22.34 14.68
2. Pengeluaran Konsumsi Lemb. Swasta Nirlaba 7.71 2.35 2.61 0.61 2.52 8.53 11.29 15.26 16.74 10.47
3. Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 11.05 13.27 11.44 12.13 8.13 11.50 16.07 20.67 18.06 13.30
4. Pembentukan Modal Tetap Bruto -0.13 12.05 30.07 25.11 67.98 28.42 9.94 17.96 26.50 71.10
5. Perubahan Stok 237.27 5.08 -301.77 -252.80 81.40 -44.16 -155.61 -14.84 38.85 70.66 6. Ekspor 16.56 5.53 -59.05 56.65 13.78 -6.40 157.09 -0.50 7.07 5.88 a. Antar Negara 15.64 5.50 -60.23 60.46 13.38 -6.95 164.40 -1.00 6.76 5.86 b. Antar Pulau 96.85 7.50 -8.20 -26.45 34.39 22.80 21.52 22.86 20.58 6.58 7. Impor 7.58 7.35 -1.56 -3.09 20.04 18.22 15.55 13.06 12.95 15.59 a. Antar Negara 2.56 42.66 -11.47 -19.45 -14.84 -37.20 -35.57 -1.25 4.25 7.59 b. Antar Pulau 7.69 6.64 -1.28 -2.78 20.77 19.70 16.85 13.28 13.08 15.71
Produk Domestik Regional Bruto 7.67 7.27 6.55 5.69 6.53 5.71 7.24 8.50 8.63 8.60
a. Konsumsi
Pengurangan subsidi BBM rata-rata 28,7% pada bulan Mei 2008 cukup memukul daya beli masyarakat sehingga laju pertumbuhan konsumsi baik rumah tangga maupun swasta pada tw.II-2008 diperkirakan melambat (yoy) dibanding triwulan sebelumnya.
Pengeluaran konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 17,48%, turun dibanding laju pertumbuhan tw.I-2008 sebesar 23,04%. Meningkatnya inflasi pasca kenaikan harga BBM sangat mempengaruhi preferensi dan pola konsumsi rumah tangga terutama untuk komoditas non-makanan, dimana pada tw.II-2008 hanya tumbuh sebesar 10,47%.
Konsumsi lembaga swasta nirlaba juga mencatat penurunan yang cukup besar akibat meningkatnya harga-harga secara umum.
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 9 Laju pertumbuhan komponen sisi penerimaan ini tercatat menurun dari 16,74% di triwulan I-2008 menjadi 10,47%. Sementara itu penurunan pada komponen pengeluaran konsumsi pemerintah masih berlanjut sejak akhir tahun 2007, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 13,30% di triwulan laporan.
Melambatnya laju konsumsi belum terlihat pada beberapa indikator antara lain konsumsi listrik, volume penjualan semen, volume penjualan kendaraan bermotor baru untuk roda dua dan roda empat dimana pertumbuhan pada tw.II-2008 masih lebih atraktif dibanding triwulan sebelumnya. Sejalan dengan tren pertumbuhan beberapa indikator tersebut, penyaluran kredit konsumsi perbankan di wilayah Kepulauan Riau juga meningkat dibanding tw.I-2008.
Grafik 1.4 –Volume Kendaraan Roda 4 Baru
Sumber : Dipenda Kepri
Grafik 1.5 –Volume Kendaraan Roda 2
Sumber : Dipenda Kepri
Grafik 1.3 – Volume Penjualan Semen
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia
Grafik 1.2 – Laju Pertumbuhan Konsumsi
Penurunan laju pertumbuhan yang terjadi pada komponen konsumsi pemerintah juga belum dapat dikonfirmasi oleh indikator pos-pos pengeluaran utama pemerintah provinsi Kepulauan Riau justru tumbuh signifikan selama tw.II-2008. Hal yang sama di sisi pembiayaan memperlihatkan tren pertumbuhan meningkat dibanding tw.I-2007. Penyaluran kredit konsumsi pada bulan Juni 2008 mengalami peningkatan 41,1% dibanding bulan Juni 2007 sehingga menjadi Rp 4 triliun, lebih tinggi dibanding peningkatan yang terjadi pada bulan Maret 2008 yang tercatat sebesar 36,5%.
b. Investasi
Investasi barang modal pada tw.II-2008 mengalami laju pertumbuhan yang signifikan sebesar 71,1% dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 26,5%. Pertumbuhan investasi Pembentukan
Modal Tetap Bruto (PMTB) searah dengan meningkatnya investasi PMA di Kepulauan Riau, baik persetujuan rencana maupun realisasi investasi.
Persetujuan rencana investasi PMA selama tw.II-2008 tercatat sebesar US$ 59,3 juta atau meningkat 106,6% dibanding periode yang sama tahun 2007. Pertumbuhan ini sangat signifikan jika dibandingkan dengan periode tw.I-2008 dimana aplikasi
Grafik 1.7 – Penyaluran Kredit Konsumsi
Sumber : BI Batam
Grafik 1.6 –Pengeluaran Utama Pemerintah
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 11 investasi yang disetujui sebesar 30,85%, menurun 78,8% dibanding nilai persetujuan pada tw.I-2007.
Adapun relaisasi investasi yang terjadi sepanjang periode tw.II-2008 senilai US$ 15,7 juta atau meningkat 189,4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan realisasi investasi PMA ini juga tercatat sangat akseleratif dibading relaisasi periode tw.I-2008 yang tumbuh negatif 8,61% dengan nilai proyek sebesar 78,8%.
Berdasarkan jumlah proyeknya, rencana investasi yang disetujui selama tw.II-2008 sebanyak 22 proyek atau naik 37,5% dibanding tw.I-2007. Realisasi proyek investasi selama triwulan laporan juga mengalami laju pertumbuhan meningkat dari -7,69% pada triwulan sebelumnya menjadi 10% atau sebanyak 11 proyek.
Aplikasi PMA selama semester I-2008 berasal dari beberapa negara, antara lain Singapura, Malaysia, British Virgin Island, Hongkong, RRC, Belanda, Inggris dan Korea Selatan. Bidang usaha tersebar di beberapa industri, antara lain pembenihan biota laut 1 proyek, industri pembuatan dan perbaikan kapal 4 proyek, jasa akomodasi/hotel 3 proyek, industri percetakan 2 proyek, industri kemasan dan plastik 1 proyek, perdagangan besar ekspor/impor sebanyak 7 proyek, pekerjaan khusus logam 2 proyek, jasa konstruksi khusus untuk kapal 1 proyek, serta sisanya pada industri dan jasa lainnya.
Sumber : Otorita Batam
Grafik 1.8 – Perkemb.Nilai Investasi PMA Grafik 1.9 – Perkemb.Proyek Investasi PMA
Peningkatan yang terjadi pada komponen Investasi barang modal juga tercermin dari meningkatnya impor barang-barang modal/capital goods selama bulan April dan Mei 2008. Namun di sisi pembiayaan, laju pertumbuhan penyaluran kredit investasi oleh perbankan di wilayah Kepulauan Riau belum mampu mengkonfirmasi pertumbuhan yang terjadi di komponen penting pembentukan PDRB ini, dimana tren pertumbuhan terlihat relatif flat dan belum memperlihatkan adanya tren meningkat.
c. Ekspor-Impor
Aktivitas perdagangan luar negeri (ekspor-impor) berperan sangat penting dalam pembentukan PDRB provinsi Kepulauan Riau.
Sebagai daerah industri, hampir seluruh PMA yang berfungsi sebagai tempat manufacturing akan melakukan kegiatan ekspor-impor baik dalam bentuk barang modal (capital goods) maupun barang olahan (intermediate goods). Di samping itu, faktor lokasi yang berdekatan dengan Singapura dan Malaysia juga mempengaruhi pola konsumsi masyarakat Kepulauan Riau sehingga barang-barang konsumsi (consumers goods) impor tidak jarang ditemui di wilayah ini, khususnya kota Batam. Di samping industri skala besar, aktivitas ekspor-impor juga dilakukan oleh industri menengah dan kecil yang mayoritas berada di luar kawasan industri.
Grafik 1.10–Perkembangan Nilai Impor Kepri
Berdasarkan BEC Sumber : BI - DSM 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2006 2007 2008 0 40 80 120 160 200 Capital Goods (LHS) Intermediate Goods (RHS) Consumer Goods (RHS
(dalam US$ juta)
Sumber : BI Batam
Grafik 1.11–Perkembangan Penyaluran Kredit Investasi Perbankan Kepri
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 13 Pada tw.II-2008, angka sementara BPS menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekspor Kepulauan Riau menurun dari 7,07% di tw.I-2008 menjadi 5,88%. Sebaliknya, impor di tw.II-2008 tercatat meningkat dari 12,95% menjadi 15,59%. Kondisi ini menjadi pemicu terbesar melambatnya laju pertumbuhan ekonomi di tw.II-2008. Sementara itu, data Bank Indonesia yang menghitung seluruh aktivitas ekpor-impor termasuk di kawasan berikat cukup mengkonfirmasi menurunnya kinerja neraca perdagangan Kepulauan Riau.
Laju ekspor barang-barang capital goods dan consumer goods mengalami peningkatan di tw.II-2008. Sementara barang
intermediate justru mengalami tren menurun. Keadaan ini diduga
0 200 400 600 800 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2006 2007 2008 0 40 80 120 160 200 Capital Goods (LHS) Intermediate Goods (RHS) Consumer Goods (RHS
(dalam US$ juta)
0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1112 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 2006 2007 2008 0 40 80 120 160 200 Capital Go o ds (LHS) Intermediate Go o ds (RHS) Consumer Go o ds (RHS ( da la m US$ jut a)
Grafik 1.13–Perkembangan Ekspor Kepri Grafik 1.14–Perkembangan Impor Kepri
Sumber: BI - DSM Sumber: BI - DSM
Impor
Grafik 1.12 – Perkembangan Nilai & Volume Ekspor - Impor Kepri
Sumber : BI - DSM
Grafik 1.15–Pertumbuhan Ekspor Produk Utama Grafik 1.16–Pertumbuhan Impor Produk Utama
Sumber : BI - DSM Sumber : BI - DSM
tidak terlepas dari pengaruh perlambatan ekonomi global yang juga cukup mempengaruhi permintaan Singapura sebagai negara tujuan ekspor terbesar. Sementara itu, impor barang-barang modal, barang penolong dan barang konsumsi memperlihatkan laju pertumbuhan yang meningkat.
Pada posisi Mei 2008, barang-barang impor utama antara lain produk radio, TV dan alat komunikasi sebesar 22,53%, diikuti logam dasar (16,87%), mesin-mesin dan perlengkapan lainnya (16,73%), perlengkapan kantor (8,69%), serta mesin-mesin elektrik (8,35%. Hampir seluruh produk tersebut juga merupakan komoditi ekspor utama provinsi Kepulauan Riau. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa proses manufacturing yang dilakukan industri di Kepulauan Riau lebih kepada proses coating tanpa memberi value added yang signifikan terhadap nilai produk. Dengan demikian multiplier effect-nya terhadap struktur perekonomian daerah belum optimal karena baru sebatas upah tenaga kerja dan konsumsi rumah tangga.
Melambatnya laju pertumbuhan ekspor pada tw.II-2008 sebagian besar disebabkan oleh penurunan kinerja ekspor produk-produk manufaktur, seperti perangkat elektronik radio, tv dan alat komunikasi, peralatan kantor, mesin-mesin elektrik, serta
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 15 peralatan medis. Di samping itu, ekspor produk perikanan juga tercatat mengalami penurunan meski dalam nilai yang relatif kecil.
Di lain pihak, impor beberapa produk manufaktur justru mengalami laju pertumbuhan yang meningkat. Antara lain pada produk logam dasar, mesin-mesin elektrik, peralatan kantor, truk trailer, kayu dan kertas. Dalam konsteks industri manufaktur di kawasan berikat, situasi ini diduga terkait dengan proses produksi yang belum selesai masa pengerjaannya, sehingga belum tercatat kembali sebagai ekspor.
Memasuki tahun 2008, peran Singapura semakin menentukan dalam aktivitas perdagangan provinsi Kepulauan Riau. Selama semester I-2008, lebih dari 70% aktivitas ekpor ditujukan ke Singapura, diikuti Jepang (5,2%), Eropa (4,8%), Hongkong (3,39%) dan Amerika (3,15%). Merespon adanya perlambatan ekonomi global yang lebih dirasakan oleh negara-negara maju, pangsa ekspor ke
intraregional Asia semakin besar mengkompensir turunnya ekspor
ke negara-negara G3.
Di sisi permintaan, impor dari intraregional Asia juga semakin berperan dalam memenuhi kebutuhan industri dan masyarakat Kepulauan Riau. Ketergantungan impor terhadap Singapura terlihat semakin besar pada tahun 2008, sedangkan dari negara-negara G3 seperti Eropa dan Jepang relatif mengalami penurunan. Adapun aktivitas perdagangan dengan negara Malaysia semakin intens dari tahun ke tahun seperti yang diperlihatkan pada grafik 1.18 di bawah ini.
Grafik 1.17 memperlihatkan dampak langsung perlambatan ekonomi Amerika Serikat terhadap kinerja ekspor Kepulauan Riau yang semakin hilang, dimana tren ekspor ke negara tersebut mulai meningkat memasuki tw.II-2008. Namun demikian, menurunnya kerjasama ekspor ke negara Jepang yang disinyalir masih merupakan efek tidak langsung perlambatan ekonomi secara global perlu dicermati oleh pelaku perdagangan internasional di wilayah Kepulauan Riau.
Kekhawatiran terhadap kelesuan ekonomi yang mulai dirasakan Singapura sejauh ini belum berdampak terhadap kinerja perdagangan provinsi Kepulauan Riau. Walaupun sangat penting untuk selalu mencermati kondisi terkini negara tetangga tersebut karena keterkaitannya cukup besar dengan Amerika Serikat dalam kerjasama Singapore-America Free Trade Agreement (FTA).
Negara 2001 2004 2007 Mei'08 G3 AS 4.44 3.95 4.53 3.15 Euro 5.68 5.21 5.08 4.85 Japan 10.18 8.36 4.85 5.23 Intra regional ASEAN 75.30 77.14 70.36 76.17 Singapore 68.00 70.29 65.98 73.06 Hongkong 0.89 1.50 2.39 3.39 China 0.94 0.94 2.31 2.80 India 0.16 0.20 0.74 0.02 Negara 2001 2004 2007 Mei-08 G3 AS 0.23 1.89 3.17 4.48 Euro 1.50 5.81 3.80 3.32 Japan 7.28 6.39 4.43 2.95 Intra regional ASEAN 67.61 81.76 84.52 85.72 Singapore 66.85 75.92 80.31 81.16 Hongkong 0.00 0.13 0.51 0.72 China 0.82 2.30 1.60 0.89 India 0.08 0.23 0.25 0.08 Sumber : BI - DSM
Tabel 1.2-Pangsa Ekspor ke Beberapa Negara Tabel 1.3-Pangsa Impor dari Beberapa Negara
Sumber : BI - DSM
Grafik 1.17–Perkembangan Ekspor ke Negara G3
Sumber : BI - DSM
Grafik 1.18–Perkembangan Ekspor ke Intraregional
Sumber : BI - DSM Japan
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 17
1.3. SISI PENAWARAN
Di sisi penawaran, respon sektoral di tw.II-2008 menunjukkan laju pertumbuhan yang melambat hampir di setiap sektor ekonomi.
Data sementara BPS mencatat bahwa sektor Industri Pengolahan sebagai satu-satunya sektor yang mengalami akselerasi dibanding triwulan sebelumnya. Sebagai daerah industri, sektor Industri Pengolahan sangat berkontribusi terhadap pembentukan PDRB Kepulauan Riau. Di samping itu, keunggulan komparatif faktor lokasi yang berdekatan dengan negara Singapura dan Malaysia menjadikan sektor Perdagangan dan Jasa-jasa berperan penting dalam penguatan ekonomi daerah.
Secara sektoral, struktur perekonomian provinsi Kepuluan Riau pada tw.II-2008 masih didominasi oleh sektor Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Pertambangan. Namun demikian, kontribusi sektor
Lapangan Usaha 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Tw.I-2008 Tw.II-2008
Pertanian 4.32 4.74 5.14 5.42 5.49 5.32 5.13 5.04 4.93 4.86 Pertambangan & Penggalian 20.17 13.62 9.83 8.34 9.68 9.95 10.53 9.76 9.41 9.52 Industri Pengolahan 56.97 62.90 64.51 63.01 61.18 46.32 47.36 46.70 45.53 45.27 Listrik, Gas & Air Bersih 0.20 0.24 0.27 0.35 0.32 0.31 0.54 0.55 0.56 0.55 Bangunan 2.31 2.59 2.94 3.23 3.64 3.77 4.15 5.12 5.89 6.26 Perdagangan, Hotel & Restoran 6.84 7.21 7.76 7.85 8.45 22.71 20.50 20.52 20.79 20.80 Pengangkutan & Komunikasi 2.73 3.00 3.35 4.47 3.77 3.84 4.01 4.27 4.56 4.49 Keuangan, Persewaan&Jasa P'an 4.78 3.81 4.16 5.24 5.31 5.51 5.45 5.51 5.57 5.54 Jasa-jasa 1.68 1.88 2.05 2.09 2.15 2.26 2.33 2.54 2.76 2.71
Lapangan Usaha 2006 2007 2008
Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II
Pertanian 6.02 7.99 3.98 3.81 3.13 4.81 6.77 10.44 8.37 5.78 Pertambangan & Penggalian 1.14 2.43 0.72 2.65 1.33 0.25 -2.28 -2.91 -1.89 -2.99 Industri Pengolahan 8.70 7.50 7.16 4.14 6.63 4.53 5.86 6.35 5.56 6.35 Listrik, Gas & Air Bersih 145.77 143.55 150.21 142.98 4.36 3.36 6.07 9.06 13.49 12.34 Bangunan 11.32 13.58 10.04 9.76 17.54 19.59 32.31 46.12 45.93 42.58 Perdagangan, Hotel & Restoran 5.10 4.56 4.52 7.80 6.39 6.93 8.60 9.07 10.52 10.37 Pengangkutan & Komunikasi 15.25 13.98 10.52 9.19 8.54 9.50 11.36 15.32 18.56 16.34 Keuangan, Persewaan&Jasa P'an 6.71 9.82 8.82 7.17 7.54 8.63 10.12 11.51 11.69 10.69 Jasa-jasa 4.27 5.05 6.56 7.61 10.78 11.97 13.81 20.07 20.57 17.47
PDRB 7.67 7.27 6.55 5.69 6.53 5.71 7.24 8.50 8.63 8.60
Tabel 1.5 – Sumbangan Ekonomi Sektoral (harga berlaku)
Tabel 1.4 – Laju Pertumbuhan Ekonomi Tahunan Kepulauan Riau (harga konstan 2000)
Industri Pengolahan dan Pertambangan dalam pembentukan PDRB semakin kecil. Di lain pihak, peran sektor Perdagangan semakin penting terhadap pembentukan PDRB Kepulauan Riau, di samping sektor Pertambangan dan Bangunan. Perkembangan yang signifikan di sektor Perdagangan telah menumbuhkan sektor Jasa-jasa meski perannya masih dalam persentase yang relatif kecil. Bisnis properti masih cukup berprospek dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi dan kontribusi ekonomi yang semakin besar setiap tahunnya.
a. Sektor Industri Pengolahan
Sektor Industri Pengolahan diperkirakan tumbuh sebesar 6,35% (yoy) pada tw.II-2008, naik dibanding triwulan sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 5,56%. Meningkatnya laju
pertumbuhan didorong oleh kinerja positif sub-sektor industri pengolahan Pupuk, Kimia dan Barang dari Karet dari tingkat pertumbuhan (yoy) 9,39% pada tw.I-2008 meningkat menjadi 15,18% di triwulan laporan. Tumbuhnya sektor ini tidak terlepas dari meningkatnya investasi terutama investasi PMA yang mengalir ke wilayah Kepulauan Riau.
Industri pengolahan Barang-barang dari Kayu juga memberi kontribusi pertumbuhan yang berarti dimana laju pertumbuhan di tw.II-2008 tercatat meningkat dari 14,09% menjadi 17,58%. Di
Grafik 1.19 – Pertumbuhan Sektoral Tw.II-2008 (y-o-y)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 19 samping itu, output yang dihasilkan oleh industri Kertas dan Barang Cetakan juga meningkat, meski secara kontribusi yang diberikan tidak terlalu signifikan. Sektor Industri Pengolahan masih menjadi sektor dominan dalam pembentukan PDRB Provinsi Kepulauan Riau dengan share sebesar 45,27%.
Pertumbuhan negatif sub-sektor Alat Angkutan, Mesin dan Peralatannya sebesar 0,3% (yoy) sangat mempengaruhi perlambatan sektor Industri, mengingat kontribusinya bagi sektor Industri Pengolahan mencapai 62%. Seperti yang digambarkan pada grafik 1.14 sebelumnya bahwa terjadi penurunan kinerja 5 produk ekspor utama pada bulan Januari dan Februari 2008, dimana selain produk logam dasar adalah bagian dari sub-sektor dimaksud.
Menurunnya kinerja sub-sektor Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki dikonfirmasi oleh penurunan kinerja ekspor dan impor produk-produk tersebut. Seperti yang terlihat pada grafik 1.22, impor Tekstil, Barang Kulit dan Alas Kaki turun signifikan pada bulan Januari dan Februari 2008.
Grafik 1.20 – Pertumbuhan Sub-Sektor Industri Pengolahan Tw.II-2008
Dari sisi pembiayaan perbankan, industri skala besar cenderung memperoleh fasilitas kredit dari luar negeri atau negara asal perusahaan. Sedangkan kebutuhan pembiayaan industri lokal (IKM/UKM) cenderung menggunakan jasa perbankan daerah. Meski porsi pembiayaan bank lokal terhadap sektor industri pengolahan secara keseluruhan relatif kecil, tumbuhnya pembiayaan perbankan kepada sektor ini bergerak searah dengan peningkatan nilai tambah yang dihasilkan terhadap perekonomian daerah.
Grafik 1.21 – Pertumbuhan Ekspor Beberapa Produk Industri Pengolahan
Sumber : BI - DSM Sumber : BI - DSM
Grafik 1.22 – Pertumbuhan Impor Beberapa Produk Industri Pengolahan
Grafik 1.23 – Penyaluran Kredit kepada Sektor Industri
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 21
b. Sektor Bangunan
Sektor Bangunan masih mencatat pertumbuhan tertinggi sejak tahun 2007 meski pada tw.II-2008 diperkirakan relatif melambat dari 45,93% menjadi 42,58%. Tingginya pertumbuhan sektor
bangunan dalam satu tahun terakhir disebabkan oleh tingginya permintaan pada industri properti residensial terutama perumahan skala kecil-menengah dan rumah toko (ruko), serta proyek-proyek konstruksi baik swasta maupun pemerintah. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan semakin berkembangnya aktivitas perekonomian di Kepulauan Riau. Setelah pada tw.I-2008 mengalami perlambatan akibat terhambatnya penyelesaian beberapa proyek pemerintah dan kendala distribusi semen, pertumbuhan sektor ini diperkirakan kembali terkoreksi diduga merupakan efek awal menurunnnya daya beli konsumen menghadapi kenaikan harga BBM pada akhir Mei 2008.
Meski data BPS menunjukkan terjadinya kembali koreksi pertumbuhan pada sektor ini, namun beberapa indikator terkait belum mampu mengkonfirmasi gejala penurunan yang terjadi. Dimana indikator penjualan semen, impor beberapa material pendukung serta penyaluran kredit sektor konstruksi dan konsumsi (KPR/KPA) justru menunjukkan tren meningkat sepanjang periode tw.II-2008, seperti yang terlihat berikut ini.
Indikator lainnya yang menggambarkan melambatnya aktivitas sektor bangunan adalah penurunan impor produk logam dasar seperti besi dan baja, produk kayu, serta perabotan seperti yang terlihat pada grafik 1.28 berikut ini. Komponen bangunan, terutama besi dan baja merupakan produk yang paling banyak diimpor dari luar negeri khususnya Singapura.
Dari sisi pembiayaan, perbankan di wilayah Kepulauan Riau mulai kembali melirik pembiayaan sektor properti dengan tingginya demand properti terutama untuk skala kecil sampai dengan tipe-70. Pembiayaan kredit kepemilikan rumah (KPR) terbesar diberikan oleh Bank BTN dengan pangsa mencapai 55,6% dari total penyaluran kredit properti sebesar Rp 2,4 triliun, kemudian diikuti oleh Bank Niaga (9,4%) dan Bank NISP (6,5%). Di samping itu, berkembangnya proyek-proyek konstruksi pemerintah dan swasta berkorelasi terhadap peningkatan pembiayaan perbankan terhadap sektor konstruksi, seperti yang dikonfirmasi oleh gambar di bawah ini.
Grafik 1.24–Perkembangan Penjualan Semen
Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Sumber : BI - DSM
Grafik 1.25 – Perkembangan Impor Kayu,
Keramik, Furniture, Baja & Baja
Sumber : BI Batam
Grafik 1.27 – Perkembangan KPR
Sumber : BI Batam
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 23 Meningkatnya indikator pembiayaan perbankan untuk membiayai kepemilikan rumah terutama tipe-70 ke bawah sejalan dengan hasil survei Bank Indonesia Batam bekerjasama dengan Politeknik Batam terhadap properti residensial kota Batam, yang menunjukkan adanya peningkatan indeks terutama pada properti residensial skala kecil dan menengah.
c. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran
Meski menghadapi tekanan di sisi permintaan, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran masih memiliki tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi, dimana pada tw.II diperkirakan tumbuh sebesar 10,37% relatif menurun dibanding laju pertumbuhan tw.I-2008 sebesar 10,53% . Data sementara BPS memperlihatkan
kinerja sub-sektor Hotel dan Restoran relatif menurun dibanding triwulan sebelumnya. Sedangkan aktivitas perdagangan masih atraktif dengan laju pertumbuhan meningkat dari 7,56% menjadi 7,95% pada triwulan laporan.
Turunnya laju pertumbuhan sub-sektor Hotel dari 27,19% menjadi 23,37% serta sub-sektor Restoran dari 28,72% mejadi 24,85% diperkirakan sebagai efek kenaikan harga minyak dunia yang berimbas pada kenaikan harga bahan bakar minyak di hampir semua negara, terutama Singapura dan Malaysia yang mengalami kenaikan harga BBM lebih tinggi dibanding Indonesia. Tekanan daya beli yang dialami baik oleh penduduk lokal, wisatawan domestik, maupun wisatawan mancanegara secara langsung telah mempengaruhi pertumbuhan industri restoran dan hotel di wilayah Kepulauan Riau, terutama kota Batam yang dicanangkan pemerintah sebagai kawasan MICE (Meeting, Invitation, Conference and Exhibition) International.
Meski occupancy rate (tingkat hunian) pada hotel-hotel berbintang pada bulan April 2008 mengalami tren meningkat dibanding periode triwulan sebelumnya, penurunan jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Batam pada periode Mei 2008 diduga sangat mempengaruhi nilai tambah yang dihasilkan sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran pada tw.II-2008.
Kebangsaan Mei-07 Apr-08 Mei-08
Singapura 73,526 64,924 77,681 Malaysia 20,806 20,653 22,791 Korea Selatan 8,625 8,102 9,231 India 3,206 2,887 4,894 China 1,875 1,961 2,126 Jepang 3,973 3,108 3,502 Inggris 2,555 2,701 3,021 Amerika Serikat 1,639 1,524 1,891 Australia 1,751 1,949 2,168 Taiwan 964 879 851 Jerman 807 716 996 Belanda 470 477 604 Lainnya 12,089 9,897 10,277 Total Wisman 132,286 119,778 140,033
Tekanan daya beli yang terjadi pada masyarakat akibat kenaikan harga BBM dapat dikonfirmasi oleh penurunan outstanding kredit di tingkat perdagangan eceran. Di samping itu, relatif meningkatnya total kunjungan wisatawan mancanegara pada bulan Mei-2008 dibanding tahun sebelumnya tercermin dari pertumbuhan penyaluran kredit kepada sub-sektor hotel dan restoran.
Grafik 1.28 – Pertumbuhan Sub-sektor Perdagangan, Hotel & Restoran
Sumber : BPS Sumber : BPS
Grafik 1.29–Tingkat Hunian Hotel Berbintang di Kepulauan Riau
Tabel 1.6 – Jumlah Wisman Berdasarkan Pintu Masuk (orang)
Sumber : BPS
Tabel 1.7 – Jumlah Wisman Berdasarkan Negara/Kebangsaan
Sumber : BPS
Pintu masuk
Mei-2007 Apr-2008 Mei-2008
y-o-y
Batam
87,728
78,838
87,079 -0.74%
Tanjung Pinang
9,994
8,915
12,001 20.08%
Bintan
23,886
20,358
26,674 11.67%
Karimun
10,678
11,667
14,279 33.72%
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 25
d. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
Pertumbuhan sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan diperkirakan menurun dari 11,69% menjadi 10,69% yang terjadi pada setiap sub-sektor baik Bank dan Lembaga Keuangan non Bank maupun Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan. Laju
penurunan sebagian besar disumbangkan oleh sub-sektor Bank yang tumbuh 11,91% dibanding triwulan sebelumnya sebesar 12,95%. Adapun sub-sektor Perbankan memiliki pangsa dominan terhadap pembentukan PDRB sektor ini, dimana pada tw.II-2008 kontribusi nilai tambah yang diberikan sebesar 67,59%, diikuti sub-sektor Sewa Bangunan (28,05%), Lembaga Keuangan non Bank (3,65%) serta Jasa Perusahaan (0,71%).
Sumber : BI Batam
Grafik 1.30 – Pertumbuhan Penyaluran Kredit Sub-sektor Distribusi, Perdagangan Eceran, Hotel & Restoran
-10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2007 2008 Distribusi P erdagangan Eceran Resto ro ran & Ho tel
Sumber : BI Batam
Grafik 1.32 – Pertumbuhan Aset,DPK & Kredit Perbankan Kepulauan Riau
Sumber : BPS, diolah
Grafik 1.31 – Pertumbuhan per Sub-Sektor
0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 9 12 3 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Asset DPK Kredit
Pertumbuhan industri perbankan yang relatif melambat di tw.II-2008 dikonfirmasi oleh penurunan laju pertumbuhan asset dan dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan di wilayah Kepulauan Riau dibanding triwulan sebelumnya. Meski demikian, penyaluran kredit yang ekspansif dan penurunan rasio kredit bermasalah (NPL) menggambarkan fungsi intermediasi perbankan masih berjalan dengan sangat baik. Sedangkan laju pertumbuhan sub-sektor Jasa Perusahaan yang menurun cukup signifikan di triwulan laporan diperkirakan sebagian besar terjadi pada jasa-jasa penunjang real estate, seperti yang terlihat pada indikator pertumbuhan sub-sektor Jasa Dunia Usaha di atas. Sedangkan aktivitas jasa-jasa penunjang dunia usaha lainnya seperti jasa pengurusan administrasi dan notaris diperkirakan meningkat sejalan dengan meningkatnya penyaluran kredit secara keseluruhan.
e. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi
Bisnis Pengangkutan merupakan sektor yang paling terpukul oleh kenaikan harga BBM akibat naiknya biaya operasional rutin, sedangkan kenaikan tarif yang disetujui pemerintah tidak mampu menutup peningkatan biaya secara proporsional. Laju pertumbuhan
Sumber : BI Batam
Grafik 1.34 – Pertumbuhan Kredit
Sub-sektor Jasa Dunia Usaha
Sumber : BI Batam
Grafik 1.33 – Perkembangan LDR & NPL Perbankan Kepulauan Riau
-20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 120% 140% 160% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2007 2008
Jasa Real Estate Jasa Dunia Usaha Lainnya
0% 1% 2% 3% 4% 5% 6% 7% 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 9 12 3 6 2003 2004 2005 2006 2007 2008 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% LD R ( R HS) N PL ( LHS)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 27 sektor pengangkutan dan komunikasi tercatat mengalami penurunan dari 18,56% menjadi 16,34% di triwulan laporan.
Kenaikan tarif yang disepakati pemerintah daerah dan kalangan pengusaha angkutan berkisar 15%-25%, belum mampu mendorong perbaikan kinerja industri angkutan, baik angkutan jalan raya maupun angkutan laut. Angkutan laut memegang peranan yang sangat penting dalam bagi masyarakat Kepulauan Riau karena lokasi geografis antar kabupaten/kota terpisah dalam wilayah kepulauan.
Dari sisi pembiayaan, tekanan harga BBM terhadap biaya operasional sektor transportasi dapat tercermin pada laju pertumbuhan kredit sub-sektor transportasi umum yang menurun signifikan di tw.II-2008. Di samping itu, berkurangnya pembiayaan perbankan kepada sektor komunikasi konvergen dengan perlambatan yang terjadi di sektor Komunikasi.
f. Sektor Pertanian dan Pertambangan
Data sementara BPS memperlihatkan bahwa laju pertumbuhan sektor Pertanian pada tw.II-2008 kembali tertekan menjadi 5,78%, setelah pada tw.I-2008 juga mengalami perlambatan
Sumber : BPS Kepulauan Riau
Grafik 1.35 - Pertumbuhan Sub-sektor Transportasi & Komunikasi
-40% -20% 0% 20% 40% 60% 80% 100% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2007 2008 Transportasi Umum Biro Perjalanan & Pergudangan Komunikasi
Grafik 1.36 - Pertumbuhan Kredit Sub-sektor Transportasi & Komunikasi
menjadi 8,37%. Berdasarkan kontribusi ekonominya, nilai tambah
yang diberikan sub-sektor perikanan menyumbang 73% terhadap PDRB sektor Pertanian, dimana pertumbuhan pada tw.II-2008 tercatat menurun dari 10,53% menjadi 6,49%. Meski provinsi Kepulauan Riau merupakan wilayah perairan, namun share yang diberikan oleh industri perikanan hanya sebesar 3,4% terhadap pembentukan PDRB secara keseluruhan.
Turunnya kinerja sub-sektor perikanan dapat terlihat melalui pendekatan nilai ekspor ikan, udang dan kepiting sebagai komoditas perikanan provinsi Kepulauan Riau yang berorientasi ekspor, dimana pertumbuhannya sepanjang tw.II-2008 memperlihatkan tren menurun dibanding triwulan sebelumnya.
Sedangkan laju pertumbuhan sub-sektor Tanaman Bahan Makanan, Perkebunan dan Kehutanan relatif meningkat dibanding tw.I-2008. Kondisi tersebut dikonfirmasi oleh sejumlah indikator hasil pertanian terutama di sub-sektor tanaman bahan makanan seperti jagung, kacang tanah dan ubi-ubian berikut ini. Meski masih menggunakan angka ramalan dari BPS, pola musim panen beberapa komoditas pertanian di Kepulauan Riau jatuh pada semester-II setiap tahunnya. Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa produksi sub-sektor tanaman bahan makanan cukup berpotensi mulai tumbuh di tw.II-2008 dan triwulan selanjutnya.
Grafik 1.37–Pertumbuhan Sub-Sektor Pertanian
Sumber : BPS -20% -10% 0% 10% 20% 30% 40% 50% I II III IV I II III IV I II 2006 2007 2008
Tanaman Bahan M akanan Tanaman Perkebunan Peternakan dan Hasil-hasilnya Kehutanan
Perikanan
Grafik 1.38 – Perkembangan Ekspor Ikan, Udang dan Kepiting
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 29 Sementara di sisi pembiayaan belum mampu menggambarkan kinerja sektor Pertanian, dimana pertumbuhan kredit untuk Pertanian cenderung turun. Resistensi perbankan dalam melakukan pembiayaan ke sektor ini tampaknya masih berlanjut disebabkan ketergantungannya yang sangat tinggi terhadap faktor alam, di samping pengelolaannya sebagian besar masih bersifat tradisional.
Grafik 1.40–Luas Panen&Produksi Kacang Tanah
Sumber : BPS Ket. *) data sementara **) data ramalan
Grafik 1.39 – Luas Panen & Produksi Jagung
Laju pertumbuhan negatif sektor Pertambangan dan Penggalian masih berlanjut di 2008, dimana pada tw.II-2008 tercatat turun 2,99% dibanding periode yang sama tahun
sebelumnya. Kondisi ini terkait erat dengan permasalahan
kelistrikan yang terjadi di kota Batam akibat berkurangnya pasokan gas dari Perusahaan Gas Negara (PGN) Batam kepada PT. PLN Batam. Kelangkaan pasokan gas alam disebabkan berkurangnya jatah gas alam yang disediakan oleh Conoco Phillips dari jalur pipa gas dari Grissik ke Singapura yang melewati Pulau Batam.
Pada tw.II-2008, sub-sektor pertambangan Minyak dan Gas Bumi berkontribusi 82,81% terhadap pembentukan PDRB sektor Pertambangan dan Penggalian, sedangkan sub-sektor Pertambangan Non-Migas memberi sumbangan nilai tambah sebesar 10,25% dan sisanya berasal dari sub-sektor Penggalian. Kedua sub-sektor terakhir mengalami laju pertumbuhan yang meningkat di triwulan laporan.
Daerah yang memberikan kontribusi penerimaan daerah yang berasal dari bagi hasil pengelolaan tambang migas adalah Kabupaten Natuna. Di sebelah barat terdapat tambang Gas Alam yang sangat besar yang dikelola oleh Conoco Philips dan Star Energy, sedangkan di sebelah timur terdapat potensi minyak bumi yang akan dieksplorasi oleh Pertamina.
-40% 0% 40% 80% 120% 160% 200% 240% 280% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2007 2008 Tanaman Pangan Tanaman Perkebunan Perikanan Peternakan
Grafik 1.43 –Pertumbuhan Kredit Sub-sektor Pertanian
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 31 Tinjauan di sisi pembiayaan, turunnya outstanding kredit sektor Pertambangan terutama pada sub-sektor pertambangan minyak dan gas bumi mampu mengkonfirmasi melambatnya kinerja sub-sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi akibat permasalahan listrik yang pernah dialami kota Batam. Sementara itu, meningkatnya laju pertumbuhan sub sektor pertambangan tanpa migas dan penggalian juga dapat dicerminkan oleh tren pertumbuhan positif penyaluran kredit kepada sub-sektor Pertambangan Bijih Logam dan Pertambangan Lainnya.
g. Sektor Jasa - Jasa
Pertumbuhan sektor Jasa-jasa di tw.II-2008 diperkirakan mengalami laju menurun dibanding tw.I-2008, dari 20,57% menjadi
17,47%. Kondisi ini merupakan pengaruh langsung dari
melambatnya kinerja pertumbuhan sektor-sektor ekonomi lainnya, terutama pada sektor Pengangkutan, Perdagangan, Hotel dan Restoran. Pencanangan tahun pariwisata dengan menjadikan Batam sebagai koa MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition) ternyata belum mampu mengangkat pertumbuhan
Grafik 1.45 – Perkembangan Kredit Sub-sektor Pertambangan Sumber : BI Batam -100% -50% 0% 50% 100% 150% 200% 250% 300% 350% 400% 450% 500% 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2007 2008
M inyak & Gas B umi B ijih Lo gam P ertambangan Lainnya -10% -5% 0% 5% 10% 15% 20% 25% 30% 35% I II III IV I II III IV I II 2006 2007 2008
M inyak dan Gas Bumi Pertambangan tanpa M igas Penggalian
Grafik 1.44 – Pertumbuhan Sub-sektor Pertambangan & Penggalian
industri jasa-jasa sebagai sarana penunjang aktivitas bisnis lainnya.
Upaya pemerintah daerah kota Batam untuk memaksimalkan sumber-sumber penerimaan publiknya melalui pajak bandara dan pelabuhan laut memberi kontribusi positif terhadap kinerja Jasa Pemerintahan Umum dan menahan efek penurunan yang lebih jauh akibat tertekannya daya beli masyarakat secara keseluruhan. Pada tw.II-2008, laju pertumbuhan sub-sektor Jasa Pemerintahan Umum tercatat menurun dibanding triwulan sebelumnya, dari 26,95% menjadi 22,52%.
Belum optimalnya kontribusi nilai tambah yang dihasilkan oleh sarana publik milik pemerintah daerah diduga terkait kondisi infrastruktur yang kurang memadai dalam mendukung peningkatan aktivitas masyarakat dan perusahaan. Kondisi tersebut antara lain dapat terlihat dari keluhan kalangan pengusaha terhadap kapasitas pelabuhan Batu Ampar-Batam yang kurang memadai untuk menampung arus keluar-masuk barang saat ini yang disinyalir menghambat kelancaran proses bongkar muat barang di pelabuhan sehingga menyebabkan kenaikan biaya yang harus ditanggung pengusaha. Adapun permasalahan ini sudah
Grafik 1.46 – Pertumbuhan Sub-sektor Jasa Pemerintahan & Swasta
Sumber : BPS
Grafik 1.47 – Pertumbuhan Kredit Sub-sektor Jasa Hiburan dan Jasa Sosial Lainnya
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 33
menjadi concern pemerintah daerah untuk segera dilakukan
perluasan dan pengelolaan sarana pelabuhan yang memadai dengan melakukan kerjasama dengan pihak asing, namun masih menemui beberapa kendala hingga saat ini.
Sedangkan nilai tambah yang dihasilkan industri jasa swasta meliputi jasa sosial kemasyarakatan, jasa hiburan dan rekreasi, serta jasa perorangan selama triwulan laporan masih mampu tumbuh 11,78% dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, laju pertumbuhan tercatat menurun dibanding tw.I-2008 yang tumbuh sebesar 16,88%. Sejalan dengan itu, indikator penyaluran kredit kepada sektor hiburan mengalami menurunan drastis pada periode tw.II-2008 sekaligus mengkonfirmasi perlambatan yang terjadi pada sektor jasa-jasa swasta.
h. Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih
Permasalahan kelistrikan yang terjadi di kota Batam pada bulan Mei dan Juni 2008 akibat berkurangnya pasokan gas memperlambat laju pertumbuhan sektor ini, dari 13,49% pada tw.I-2008 menjadi 12,34%. Sumbangan terbesar diberikan oleh
sub-sektor Gas dengan penurunan laju pertumbuhan sebesar 1,11% menjadi 13,08%. Selanjutnya diikuti oleh sub-sektor Listrik yang hanya tumbuh 12,05% pada tw.II-2008, menurun dibanding tingkat pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 13,53%.
Pada bulan Mei 2008, Batam mengalami pemadaman listrik secara bergilir akibat berkurangnya pasokan gas dari PGN kepada PT. PLN Batam, dimana sekitar 85% pembangkit listrik Batam menggunakan bahan bakar gas. Kondisi ini disebabkan menurunnya pasokan dari Conoco Phillips yang diklaim karena keterbatasan kapasitas pipa. Pasokan gas berkurang menjadi 46,2 mmbtud, sementara kebutuhan gas saat ini sebesar 60-64 mmbtud. Adapun jalur pipa gas Conoco dari Grissik ke Singapura melewati Pulau Batam, dengan kesepakatan PGN mendapatkan kontrak firm sebesar 30 mmbtud, sedangkan sisanya merupakan kontrak interuptable yang hanya akan dipenuhi jika kapasitas memungkinkan.
Dengan adanya upaya intensif dari berbagai unsur pemerintahan daerah dan asosiasi pengusaha, pada bulan Juni 2008 Batam memperoleh jaminan dari Menteri ESDM untuk mendapat kelancaran pasokan gas sesuai dengan kebutuhan PT. PLN Batam. Meski demikian masih dibutuhkan upaya pemerintah dan PGN untuk memberi jaminan terpenuhinya pasokan gas bagi sebagian industri yang menggunakan pembangkit listrik sendiri, dimana kebutuhan akan bahan bakar gas dilakukan melalui kontrak langsung dengan PGN Batam.
Permasalahan listrik sebenarnya bukan hanya terjadi di kota Batam, tetapi kota Tanjungpinang saat ini juga mengalami kondisi krisis akibat kerusakan mesin pembangkit yang dimiliki oleh PLN Tanjungpinang. Namun akibat tingginya aktivitas perekonomian di kota Batam dibanding daerah lainnya di provinsi Kepulauan Riau, penurunan kinerja PT. PLN Batam mampu mengkonfirmasi perlambatan yang terjadi di sektor kelistrikan provinsi ini, seperti yang diperlihatkan gambar di atas.
Khusus di kota Batam, sistem pengelolaan sarana Listrik sejak awal tahun 2006 dilakukan melalui kerja sama jual-beli tenaga listrik antara PT. PLN Batam dengan Independend Power
Plant (IPP) yang dikelola swasta, dimana saat ini komposisi Sumber : BPS
Grafik 1.48 – Pertumbuhan Sub-Sektor Listrik, Gas & Air Bersih
0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16% I II III IV I II III IV I II 2006 2007 2008 Listrik Gas Air Bersih
Sumber : PT. PLN Batam, diolah
Grafik 1.49 – Perkembangan Penjualan Listrik PT. PLN Batam 60,000 70,000 80,000 90,000 100,000 110,000 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 2007 2008 0% 5% 10% 15% 20% 25% Penjualan M WH Pertumbuhan y-o-y
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 35
Sumber : BI Batam
Grafik 1.50 – Perkembangan Penyaluran Kredit Sektor Listrik, Gas & Air Bersih
0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 9 12 3 6 2003 2004 2005 2006 2007 2008 ( R p j ut a) -500 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 ( %) Kredit Listrik, Gas & A ir B ersih (juta)
P ertumbuhan (%)
supply mesin pembangkit PT. PLN Batam sebesar 27% dengan menggunakan energi diesel, sedangkan sisanya dipenuhi oleh IPP yang menggunakan bahan bakar gas. Besarnya kontribusi penggunaan gas dalam menjamin kelancaran pasokan listrik di kota Batam menyebabkan arah pertumbuhan sub-sektor Gas relatif konvergen dengan sub-sektor Listrik.
Sementara itu, kebutuhan masyarakat kota Batam terhadap air bersih dikelola secara independen oleh PT. Adhya Tirta Batam mengalami laju pertumbuhan yang meningkat dari 7,92% menjadi 8,26%. Meningkatnya kinerja sub-sektor Air Bersih tidak terlepas dari perkembangan industri properti yang cukup ekspansif sejak tahun 2007.
Dari sisi pembiayaan, turunnya laju pertumbuhan kredit kepada sektor Listrik, Gas dan Air Bersih mampu mengkonfirmasi perlambatan yang terjadi di sektor ini. Adapun outstanding kredit pada bulan Juni 2008 (triwulan II) tercatat sebesar Rp 23 milyar atau tumbuh 29,8% dibanding bulan Juni 2007. Pertumbuhan ini menurun drastis jika dibandingkan posisi bulan Maret 2008 (triwulan I) yang tumbuh 452% dibanding bulan yan sama tahun 2007.
Bab 2
Perkembangan Inflasi Regional
2.1.
Inflasi Kota Batam
2.1.1. Kondisi Umum
Laju inflasi Kota Batam pada tw.II-2008 mengalami peningkatan. Laju inflasi sampai dengan Juni 2008 tercatat sebesar 5,94% (ytd), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2007 yang hanya 1,06% (ytd). Sedangkan inflasi tahunan tercatat sebesar
8,93% (yoy) juga lebih tinggi dibanding tingkat inflasi pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sebesar 5,41%. Meskipun demikian laju inflasi tahunan bulan Juni (yoy) masih lebih rendah dibandingkan angka inflasi nasional yang tercatat sebesar 11,03% (yoy).
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 37
2.1.2. Inflasi Triwulanan
Secara triwulanan, laju inflasi Kota Batam juga mengalami peningkatan pada tw.II-2008 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Jika pada tw.I-2008 laju inflasi kota Batam tercatat
2,89% (qtq) maka pada tw.II-2008 laju inflasi Kota Batam tercatat sebesar 3,43% (qtq). Dampak kenaikan BBM yang terjadi pada minggu 4 setelah pemerintah mengumumkan kenaikan BBM mulai tanggal 24 Mei 2008, merupakan pemicu utama terjadinya inflasi (kenaikan harga-harga barang) pada semua 66 kota IHK di Indonesia termasuk Kota Batam. Dengan terjadinya inflasi Bulan Juni, berarti selama kurun waktu 13 bulan terakhir (sejak Bulan Juni 2007 sampai dengan Juni 2008) Kota Batam selalu mengalami inflasi.
Berdasarkan kontribusinya pada tw.II-2008 kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan merupakan penyumbang utama dalam pembentukan angka inflasi yang tercatat sebesar 1,23%. Sementara itu kelompok lain memberikan sumbangan inflasi secara total sebesar 2,20%, dimana kontributor utama lain adalah bahan makanan (0,91%) dan perumahan, air, listrik dan bahan bakar (0,82%).
2.1.3. Inflasi Berdasarkan Kelompok Barang 2.1.3.1. Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan pada triwulan II 2008 mengalami inflasi sebesar 3,33% (qtq) yang berasal dari sebelas sub kelompok yang semuanya mengalami inflasi. Sub kelompok padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya sebesar 1,19% (qtq); sub kelompok daging dan hasil-hasilnya 8,90% (qtq); sub kelompok ikan segar 0,65% (qtq); sub kelompok ikan diawetkan 2,96% (qtq); sub kelompok telur, susu dan hasil-hasilnya 2,36 % (qtq); sub kelompok sayur-sayuran 0,92% (qtq); sub kelompok kacang-kacangan 5,50% (qtq); sub kelompok buah-buahan 8,68% (qtq); sub kelompok bumbu-bumbuan 5,98% (qtq); sub kelompok lemak dan minyak 2,32% (qtq) dan sub kelompok bahan makanan lainnya 0,95% (qtq).
2.1.3.2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau
Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada triwulan II 2008 inflasi sebesar 2,18% (qtq) yang berasal dari tiga sub kelompoknya yang mengalami inflasi. Sub kelompok makanan jadi mengalami inflasi tertinggi sebesar 3,48% (qtq); diikuti sub kelompok minuman yang tidak beralkohol mengalami inflasi sebesar
KELOMPOK Tw.IV-2007 Tw.I -2008 Tw.II -2008
Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan Inflasi Sumbangan
I. Bahan Makanan 3,16 0,88 6,74 1,85 3,33 0,91
II. Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,10 0,01 0,78 0,14 2,18 0,35 III. Perumahan, Air, Listrik & Bahan Bakar 0,91 0,22 1,82 0,45 3,34 0,82
IV. Sandang 6,67 0,29 3,98 0,18 0,23 0,02
V. Kesehatan 0,64 0,02 4,39 0,13 2,79 0,01
VI. Pendidikan, Rekreasi & Olahraga 0,23 0,01 0,75 0,03 0,00 0,00
VII. Transpor, Komunikasi & Jasa Keuangan 0,54 0,09 0,15 0,03 6,19 1,23
INFLASI 1,56 2,89 3,43
Sumber : BPS (diolah)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 39 1,52% (qtq); dan sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol mengalami inflasi sebesar 0,06% (qtq).
2.1.3.3. Kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar
Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada triwulan laporan mengalami kenaikan harga sebesar 0,34% (qtq) yang berasal dari empat sub kelompoknya yang mengalami inflasi. Inflasi tertinggi dialami oleh sub kelompok bahan bakar, penerangan dan air yang mengalami inflasi sebesar 7,35% (qtq), diikuti sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga yang mengalami inflasi sebesar 4,03% (qtq), sub kelompok biaya tempat tinggal yang mengalami inflasi sebesar 1,34% (qtq) dan perlengakapan rumah tangga yang mengalami kenaikan harga sebesar 0,21% (qtq).
2.1.3.4. Kelompok Sandang
Kelompok sandang pada triwulan II 2008 mengalami inflasi sebesar 0,23% (qtq) yang berasal dari sub kelompok sandang wanita yang mengalami kenaikan harga sebesar 1,72% (qtq). Sub kelompok sandang laki-laki dan sub kelompok sandang anak-anak pada triwulan II 2008 tidak mengalami kenaikan harga. Sedangkan sub kelompok sandang pribadi dan sandang lainnya justru mengalami penurunan harga sebesar 1,27% (qtq).
2.1.3.5. Kelompok Kesehatan
Kelompok sandang pada triwulan laporan mengalami inflasi sebesar 2,88% (qtq) yang berasal dari sub kelompok obat-obatan yang mengalami inflasi sebesar 3,37% (qtq) dan sub kelompok perawatan jasmani dan kosmetika yang mengalami inflasi sebesar 4,94% (qtq). Sementara itu sub kelompok jasa kesehatan dan jasa perawatan jasmani pada triwulan II 2008 tidak mengalami inflasi.
2.1.3.6. Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga
Indeks harga kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada selama triwulan II 2008 tidak mengalami perubahan (stabil) dibanding dengan indeks pada triwulan sebelumnya sehingga kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga tidak mengalami inflasi dan sama sekali tidak memberikan andil terhadap terjadinya inflasi di Kota Batam.
2.1.3.7. Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan
Kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan pada triwulan II 2008 mengalami inflasi sebesar 6,19% (qtq) yang berasal dari inflasi sub kelompok transportasi sebesar 12,86% (qtq). Sub kelompok sarana penunjang transportasi dan sub kelompok jasa keuangan pada triwulan ini tidak mengalami kenikan harga. Sedangkan sub kelompok komunikasi dan pengiriman pada triwulan laporan mengalami deflasi sebesar 12,22% (qtq).
2.2. Inflasi Kota Tanjung Pinang
2.2.1. Kondisi UmumSejak bulan Juni 2008, BPS Provinsi Kepulauan Riau mulai mengumumkan laju inflasi Kota Tanjung Pinang yang merupakan ibukota Provinsi Kepulauan Riau. Dari penghitungan yang dilakukan oleh BPS sampai dengan Juni 2008 Indeks Harga Konsumen Kota Tanjung Pinang tercatat sebesar 111,63 yang berarti daerah ini mengalami inflasi sebesar 2,45% (mtm) atau lebih tinggi dibandingkan dengan Kota Batam yang tercatat sebesar 2,29% (mtm).
Sementara itu, tingkat inflasi kalender Kota Tanjung Pinang sampai dengan Juni 2008 tercatat sebesar 7,02% (ytd). Sedangkan tingkat inflasi tahunan di Kota Tanjung Pinang tercatat sebesar 13,80% (yoy)
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 41
2.2.2. Penyebab Inflasi
Inflasi Kota Tanjung Pinang terjadi karena adanya kenaikan harga kebutuhan masyarakat yang ditunjukkan oleh naiknya indeks harga pada lima kelompok barang dan jasa sebagai berikut: kelompok bahan makanan sebesar 3,12% (mtm); kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 1,91% (mtm); kelompok kesehatan sebesar 0,82% (mtm); kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,02% (mtm) dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 7,97% (mtm). Sebaliknya kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar serta kelompok sandang indeks harganya justru mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,17% (mtm) dan 0,74% (mtm).
Tabel 2.2 - Inflasi IHK dan Sumbangan Inflasi Kota Tanjung Pinang bulan Juni 2008
Kelompok Komoditi (%) Inflasi n (%) Sumbanga
Umum 2,45 2,45
Bahan Makanan 3,12 0,80
Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 1,91 0,41
Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan bakar -0,17 -0,04
Sandang -0,74 -0,04
Kesehatan 0,82 0,03
Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0,02 0,00
Tabel 2.2 – Perkembangan IHK dan Inflasi Kota Tanjung Pinang I H K J u n i % P e r u b a h a n 2 0 0 8 T h d . M e i 2 0 0 8 2 3 U M U M 1 1 1 , 6 3 2 , 4 5 I . B A H A N M A K A N A N 1 1 7 , 3 1 3 , 1 2 1 . P a d i ‐ p a d i a n , U m b i ‐ u m b i a n d a n H a s i l n y a 1 1 2 , 5 7 0 , 4 2 2 . D a g i n g d a n h a s i l ‐ h a s i l n y a 1 2 9 , 2 0 1 , 4 3 3 . I k a n s e g a r 1 0 6 , 6 5 7 , 9 9 4 . I k a n d i a w e t k a n 1 3 6 , 8 6 6 , 9 0 5 . T e l u r , s u s u d a n h a s i l ‐ h a s i l n y a 1 2 1 , 2 4 3 , 8 2 6 . S a y u r ‐ s a y u r a n 9 5 , 9 3 1 , 4 8 7 . K a c a n g ‐ k a c a n g a n 1 1 0 , 3 2 ‐ 0 , 5 1 8 . B u a h ‐ b u a h a n 1 2 0 , 0 5 3 , 3 3 9 . B u m b u ‐ b u m b u a n 1 2 5 , 1 3 6 , 3 2 1 0 . L e m a k d a n m i n y a k 1 4 2 , 6 4 ‐ 0 , 2 7 1 1 . B a h a n m a k a n a n l a i n n y a 1 1 1 , 4 8 1 , 0 9 I I . M A K A N A N J A D I , M I N U M A N , R O K O K & T E M B A K A U 1 1 5 , 3 0 1 , 9 1 1 . M a k a n a n j a d i 1 1 5 , 9 8 2 , 8 3 2 . M i n u m a n y a n g t i d a k b e r a l k o h o l 1 2 1 , 8 2 0 , 3 2 3 . T e m b a k a u d a n m i n u m a n b e r a l k o h o l 1 0 9 , 6 2 0 , 7 1 I I I . P E R U M A H A N , A I R , L I S T R I K , G A S & B A H A N B A K A R 1 0 2 , 3 3 ‐ 0 , 1 7 1 . B i a y a t e m p a t t i n g g a l 1 0 2 , 3 0 ‐ 0 , 2 4 2 . B a h a n b a k a r , p e n e r a n g a n d a n a i r 1 0 0 , 0 0 0 , 0 1 3 . P e r l e n g k a p a n r u m a h t a n g g a 1 0 3 , 4 3 ‐ 0 , 2 9 4 . P e n y e l e n g g a r a a n r u m a h t a n g g a 1 0 9 , 4 7 ‐ 0 , 0 5 I V . S A N D A N G 1 0 9 , 5 7 ‐ 0 , 7 4 1 . S a n d a n g l a k i ‐ l a k i 1 0 4 , 7 3 0 , 1 8 2 . S a n d a n g w a n i t a 1 0 4 , 3 4 ‐ 0 , 5 1 3 . S a n d a n g a n a k ‐ a n a k 1 0 4 , 3 6 0 , 0 2 4 . B a r a n g p r i b a d i d a n s a n d a n g l a i n 1 2 4 , 5 3 ‐ 2 , 2 8 V . K E S E H A T A N 1 0 5 , 4 6 0 , 8 2 1 . J a s a k e s e h a t a n 1 0 0 , 1 9 0 , 0 0 2 . O b a t ‐ o b a t a n 1 1 5 , 1 7 2 , 8 9 3 . J a s a p e r a w a t j a s m a n i 1 0 2 , 4 2 0 , 0 0 4 . P e r a w a t a n j a s m a n i d a n k o s m e t i k a 1 0 6 , 8 7 0 , 8 9 V I . P E N D I D I K A N , R E K R E A S I , D A N O L A H R A G A 1 0 2 , 1 7 0 , 0 2 1 . J a s a p e n d i d i k a n 1 0 0 , 4 5 0 , 0 0 2 . K u r s u s ‐ k u r s u s / p e l a t i h a n 1 0 8 , 9 2 0 , 0 0 3 . P e r l e n g k a p a n / p e r a l a t a n p e n d i d i k a n 1 0 5 , 5 1 0 , 0 0 4 . R e k r e a s i 1 0 0 , 2 4 0 , 0 9 5 . O l a h r a g a 1 0 4 , 0 7 0 , 0 0 V I I . T R A N S P O R , K O M U N I K A S I & J A S A K E U A N G A N 1 1 7 , 0 0 7 , 9 7 1 . T r a n s p o r 1 2 6 , 3 8 1 2 , 3 9 2 . K o m u n i k a s i d a n p e n g i r i m a n 9 9 , 6 7 ‐ 0 , 3 5 3 . S a r a n a d a n p e n u n j a n g t r a n s p o r 1 0 9 , 0 6 0 , 0 0 4 . J a s a k e u a n g a n 1 0 2 , 9 2 0 , 0 0 S u m b e r : B P S P r o v . K e p r i J u n i K e l o m p o k / s u b K e l o m p o k 1
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 43
Bab 3
Perkembangan Perbankan Regional
3.1. Kondisi Umum
Kondisi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2008 menunjukkan peningkatan yang cukup stabil terhadap periode sebelumnya. Beberapa indikator-indikator perbankan, seperti total
aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit oleh perbankan terus mengalami pertumbuhan.
Jumlah jaringan kantor cabang bank umum di wilayah Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebanyak 45 kantor cabang di triwulan awal 2008, tidak mengalami pertambahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Jumlah kantor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sampai dengan triwulan II 2008 tercatat ada 15 kantor BPR dan 2 kantor cabang BPR.
Total asset, DPK dan total kredit yang diberikan oleh
perbankan menunjukkan trend peningkatan jika dibanding triwulan I 2008. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap perbankan semakin meningkat. Kinerja perbankan Provinsi Kepulauan Riau untuk tahun 2008 sampai dengan triwulan II terhitung baik, dimana asset, DPK, kredit dan rasio LDR menunjukkan peningkatan. Sedangkan angka Non Performing Loans (NPLs) mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya namun masih di bawah persayaratan yang ditetapkan Bank Indonesia. Pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih besar daripada penghimpunan dana menunjukkan sudah membaiknya fungsi intermediasi oleh perbankan.
3.2. Total Asset Bank Umum
Kondisi industri perbankan menunjukkan pertumbuhan, seperti tercermin pada pertumbuhan total asset bank umum yang berada di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Batam yang didukung oleh pertumbuhan aktiva produktif, termasuk kredit. Sampai dengan
triliun atau mengalami peningkatan sebesar 4,01% dibanding triwulan I 2008 yang tercatat sebesar Rp. 16,07 triliun, sedangkan secara tahunan terdapat peningkatan sebesar Rp.1,6 triliun (10,61%) terhadap triwulan yang sama di tahun sebelumnya.
Tabel 3.1 – Perkembangan Indikator Bank Umum
Indikator
Periode
2007 2008
Tw. II Tw. III Tw.IV Tw.I Tw.II
1. Jaringan BU 41 44 44 45 45 a. Batam 27 28 28 29 29 b. Tj. Pinang 11 13 13 13 13 c. Karimun 2 2 2 2 2 d. Natuna 1 1 1 1 1 2. Total Asset 15.106.938 15.851.731 16.000.135 16.065.809 16.709.890 a. Batam 10.478.486 11.155.797 11.404.510 11.821.641 12.319.472 b. Tj. Pinang 3.730.356 3.897.759 3.787.352 3.586.531 3.619.643 c. Dati II lain 898.096 798.175 492.979 657.637 770.775 3. Total DPK 12.795.065 13.497.036 13.586.189 13.442.509 14.071.918 a. Batam 8.323.007 8.951.957 9.210.896 9.389.470 9.873.065 b. Tj. Pinang 3.562.510 3.726.971 3.597.598 3.421.781 3.442.043 c. Dati II lain 909.548 818.108 101.417 631.258 756.810 4. Total Kredit 7.228.680 7.726.078 8.215.755 8.583.889 9.291.399 a. Batam 6.025.843 6.374.627 6.817.304 7.100.350 7.623.089 b. Tj. Pinang 985.475 1.111.212 1.139.982 1.193.191 1.319.883 c. Dati II lain 217.362 240.239 185.294 290.348 348.427 5. LDR (%) 56,5 57,24 60,47 63,86 66,03 a. Batam 72,4 71,21 74,01 75,62 77,21 b. Tj. Pinang 27,66 29,82 31,69 34,87 38,35 c. Karimun 36,62 35,16 38,24 41,57 41,65 d. Natuna 11,75 20,58 24,96 62,4 59,59 6. NPLs (%) 4,28 3,47 2,6 1,57 2,33 a. Batam 4,01 3,16 2,37 1,4 2,14 b. Tj. Pinang 5,87 5,18 3,72 2,93 3,21 c. Karimun 6,28 8,48 5,43 0,57 4,84 d. Natuna 0,07 0,06 0 0 0
Sumber : Bank Indonesia (dalam jutaan rupiah)
Berdasarkan Dati II, kegiatan perekonomian dan perbankan masih terkonsentrasi di Kota Batam, dimana jumlah total asset perbankan sebagian besar masih tetap terhimpun di Kota Batam. Total asset perbankan yang ada di Kota Batam pada triwulan II 2008 sebesar Rp.12,32 triliun atau 73,73% dari seluruh total asset
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 45 perbankan di Kepulauan Riau. Sedangkan total asset yang berhasil dihimpun oleh perbankan di Tanjung Pinang sebesar Rp.3,62 triliun atau 21,66% dari seluruh total asset perbankan di Kepulauan Riau. Sementara itu total asset perbankan di wilayah Kepulauan Riau (Tanjung Uban, Tanjung Balai Karimun, dan Natuna) sebesar Rp.770 miliar (4,61%).
Tabel 3.2 – Perkembangan Total Asset Perbankan
LOKASI 2007 2008
Tw. II Tw. III Tw.IV Tw.I Tw.II
Batam 10.478.486 11.155.797 11.404.510 11.821.641 12.319.472
Tj. Pinang 3.730.356 3.897.759 3.787.352 3.586.531 3.619.643
Dati II lain 898.096 798.175 492.979 657.637 770.775
Total 15.106.938 15.851.731 16.000.135 16.065.809 16.709.890 Sumber : Bank Indonesia (dalam jutaan rupiah)
*) wilayah Kepulauan Riau meliputi Tj.Uban,. Tanjung Balai Karimun dan Kab. Natuna
Total asset perbankan di Kota Batam mengalami peningkatan sebesar 4,21% secara triwulanan (qtq) sedangkan secara tahunan mengalami peningkatan sebesar 17,57%. Sedangkan untuk total asset perbankan di wilayah Kota Tanjung Pinang mengalami penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 0,92%, namun secara tahunan mengalami penurunan sebesar 2,91%. Untuk perbankan di wilayah Kepulauan Riau yang meliputi Tanjung Uban, Tanjung Balai Karimun dan Natuna, total asset perbankan di wilayah tersebut mengalami peningkatan secara triwulanan sebesar 17,20% namun secara tahunan menurun sebesar 14,18%.
3.3. Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Umum
Pada triwulan II 2008, jumlah dana masyarakat yang dihimpun oleh bank umum mengalami peningkatan, setelah pada triwulan I 2008 mengalami penurunan. Pada triwulan II 2008 jumlah dana masyarakat
mencapai Rp14,07 triliun atau meningkat sebesar Rp629 milyar (4,68%) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp13,44 triliun.
Peningkatan DPK bank umum sebagian besar disumbangkan oleh peningkatan simpanan dalam bentuk giro yang naik 7,45% (Rp413 miliar). Sedangkan simpanan dalam bentuk tabungan mengalami
pertumbuhan sebesar 5,04% (Rp251 miliar). Sementara itu simpanan dalam bentuk deposito turun sebesar 1,23% (Rp35 miliar) terhadap triwulan sebelumnya.
Tabel 3.3 – Perkembangan DPK Bank Umum
Keterangan 2007 2008
Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II
- Giro 5.602.987 6.061.732 5.765.020 5.552.335 5.965.930 - Tabungan 3.999.732 4.303.432 4.980.529 4.991.700 5.243.137 - Deposito 3.196.346 3.131.872 2.840.640 2.898.474 2.862.851
Total 12.795.065 13.497.036 13.586.189 13.442.509 14.071.918 Sumber : Bank Indonesia (dalam jutaan rupiah)
Secara nominal porsi simpanan giro masih merupakan jenis simpanan terbesar (42,40%) diantara dua jenis simpanan lain. Porsi
simpanan jenis tabungan tercatat sebesar Rp5,24 triliun (37,26%). Sedangkan simpanan dalam bentuk deposito tercatat sebesar Rp2,86 triliun (20,34%). Dominasi sektor industri dan sektor perdagangan pada perekonomian Kota Batam turut mempengaruhi jenis transaksi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau. Kebutuhan masyarakat akan dana likuid serta transaksi ekonomi yang membutuhkan waktu singkat menyebabkan simpanan berbentuk giro memiliki porsi terbesar terhadap total simpanan masyarakat di perbankan.
3.4. Kredit Bank Umum
Jumlah kredit yang disalurkan oleh bank umum di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Batam pada triwulan II 2008 meningkat sebesar Rp707 miliar atau tumbuh sebesar 8,24% dibandingkan posisi akhir tahun 2007. Peningkatan jumlah kredit dan penurunan DPK
Gambar 3.1 – Perbandingan Total DPK Bank Umum Tw.II-2008
42.40% 37.26%
20.34%
Kajian Ekonomi Regional Provinsi Kepulauan Riau 47 mengakibatkan tingkat LDR (Loan to Deposit Ratio) bank umum di Provinsi Kepulauan Riau meningkat menjadi 66,03% dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 63,86%.
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit yang disalurkan di wilayah kerja KBI Batam sebagian besar digunakan untuk kredit konsumsi sebesar Rp3,71 triliun atau 39,88% dari total kredit yang diberikan. Sedangkan kredit untuk modal kerja dan investasi masing-masing sebesar Rp3,34 triliun (35,95%) dan Rp2,24 triliun (24,17%).
Dari segi pertumbuhan, peningkatan jumlah kredit terbesar pada triwulan II 2008 terdapat pada kredit untuk konsumsi yang meningkat sebesar Rp368 miliar atau 11,04% terhadap triwulan I 2008. Sementara itu kredit konsumsi modal kerja meningkat sebesar Rp285 miliar (9,35%). Sedangkan kredit investasi meningkat sebesar Rp53 miliar (2,44%).
Tabel 3.4 – Perkembangan Penyaluran Kredit Bank Umum
KETERANGAN 2007 2008
Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II
- Modal kerja 2.486.151 2.656.218 2.928.587 3.055.083 3.340.585 - Investasi 1.894.140 2.072.646 2.155.566 2.191.784 2.245.342 - Konsumsi 2.848.389 2.997.214 3.131.602 3.337.022 3.705.472
Total 7.228.680 7.726.078 8.215.755 8.583.889 9.291.399 Sumber : Bank Indonesia (dalam jutaan rupiah)
NPL bank umum di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2008 menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya meskipun demikian masih berada di bawah persyaratan Bank Indonesia sebesar 5%. NPL bank umum meningkat dari 1,57% pada triwulan I 2008 menjadi 2,33% pada triwulan laporan. Secara nominal NPL bank umum juga mengalami penurunan sebesar Rp.6,05 miliar.
Tabel 3.5 – Perkembangan Kolektibilitas Kredit
KETERANGAN 2007 2008
Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II
Total 7.228.680 7.726.078 8.215.755 8.583.889 9.291.399
- Lancar 6.179.304 6.616.103 7.242.850 7.574.135 8.338.561
- Dalam Perhatian Khusus 739.891 841.514 759.171 799.132 736.161 - Kurang Lancar 91.848 41.766 25.161 32.220 28.737 - Diragukan 46.772 34.427 25.540 28.311 35.279
- Macet 170.865 192.268 163.033 150.091 152.661
>> NPL (Nominal) 309.485 268.461 213.734 210.622 216.677
>> NPL (%) 4.28 3,47 2,60 1,57 2,33
Sumber : Bank Indonesia (dalam jutaan rupiah)
3.5. Total Asset dan DPK Bank Perkreditan Rakyat
Total asset BPR yang berada di wilayah kerja Kantor Bank Indonesia Batam mengalami peningkatan. Sampai dengan triwulan II
2008, total asset BPR mengalami peningkatan sebesar Rp38,26 miliar (5,96%) menjadi sebesar Rp680,64 miliar dibanding triwulan I 2008 yang tercatat sebesar Rp642,37 miliar.
Tabel 3.6 – Perkembangan Total Asset dan DPK BPR
KETERANGAN 2007 2008
Tw. II Tw. III Tw.IV Tw.I Tw.II
1. TOTAL ASSET 498.558 593.383 628.812 642.366 680.641
2. TOTAL DANA 410.714 461.030 476.104 498.168 504.879
a. Tabungan 30.792 35.791 38.577 40.902 44.805
b. Deposito 379.922 425.239 437.528 457.266 460.073
Sumber : Bank Indonesia (dalam jutaan rupiah)
Total dana yang berhasil dihimpun oleh BPR pada triwulan laporan meningkat dengan triwulan sebelumnya. Jika pada triwulan I
2008 total dana yang dihimpun BPR tercatat sebesar Rp498,16 miliar, maka pada triwulan II 2008 meningkat menjadi Rp504,88 miliar atau naik sebesar Rp6,71 miliar (1,35%). Sebagian besar dana masyarakat yang dihimpun oleh BPR disimpan dalam bentuk deposito yaitu sebesar Rp460,07 miliar atau 91,13% dari seluruh total DPK BPR. Sedangkan 8,87% disimpan dalam bentuk tabungan sebesar Rp44,81 miliar.