• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. oleh agama. Kaitan antara hukum adat dan agama sebenarnya pernah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. oleh agama. Kaitan antara hukum adat dan agama sebenarnya pernah"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kehidupan masyarakat di Bali sudah sangat terkenal sekali akan kentalnya adat mereka. Setiap perbuatan atau perilaku yang mereka lakukan sudah ada aturan adat yang mengatur. Kehidupan dan budaya di Bali seperti yang kita ketahui sangat erat sekali hubungan dengan sifat nya yang religius. Karena hukum adat disana sangat berhubungan sekali dengan Agama Hindu atau yang mungkin mudah kita pahami adalah hukum adat disana selalu berlandaskan oleh agama. Kaitan antara hukum adat dan agama sebenarnya pernah dikemukakan oleh Van Vollenhoven, bahwa “hukum adat dan agama Hindu di Bali merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan sebagai akibat pengaruh agama Hindu demikian kuatnya ke dalam adat istiadat”. Keterkaitan antara adat dengan agama di Bali nampak jelas dari pola penerapan sanksi adatnya selalu dikaitkan dengan pelaksanaan ritual keagamaan, dalam arti bahwa ketaatan masyarakat adat di Bali pada hukum adatnya tidak hanya dikokohkan oleh sanksi yang bersifat lahiriah, tetapi juga sanksi yang bersifat batiniah.1

Masyarakat hukum adat Bali dalam kesehariannya diatur dengan hukum adat yang mayoritasnya menganut Agama Hindu. Hukum adat Bali adalah hukum

1Van Vollenhoven, 1981, Penemuan Hukum Adat (De Ontdekking Van Het Adatrecht),

(2)

yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat hukum adat Bali yang berlandaskan pada ajaran agama (agama Hindu) dan tumbuh berkembang mengikuti kebiasaan serta rasa kepatutan dalam masyarakat hukum adat Bali itu sendiri. Sehingga di dalam masyarakat hukum adat Bali, antara adat dan agama tidak dapat dipisahkan. Tidak dapat dipisahkannya antara agama dan adat di dalam masyarakat hukum adat Bali, dikarenakan hukum adat itu bersumber dari ajaran agama. Keterkaitan antara hukum adat dan agama dalam penjatuhan “sanksi adat” untuk delik-delik adat tertentu yang pelaksanaannya banyak berupa kewajiban untuk melaksanakan ritual adat keagamaan tertentu. Semua ini tentunya dilandasi dan berhubungan pula dengan nilai dasar filosofis reaksi adat, yakni untuk mengembalikan keseimbangan masyarakat karena perasaan kotor (leteh).2

Hukum adat atau sanksi adat yang berlaku di sebuah lingkungan atau yang sering disebut di bali adalah Desa Pakraman. Hukum adat merupakan hukum yang tumbuh dan berkembang di masyarakat secara turun temurun yang perlu dilestarikan atau yang perlu dilaksanakan sesuai yang diwariskan oleh nenek moyang. Sedangkan yang disebut dengan sanksi adat adalah suatu reaksi yang ditimbulkan oleh masyarakat atas sebuah kejadian atau perbuatan menyimpang atau melanggar hukum adat tersebut. Adapun yang disebut dengan Desa Pakraman yang disebut dalam Pasal 1 Angka 4 Peraturan daerah

2I Gusti Ketut Ariawan, 1992, Eksistensi Delik Hukum Adat Bali Dalam Rangka Pembentukan

Hukum Pidana Nasional, Tesis, Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Hukum Universitas Udayana, Denpasar, hal. 10.

(3)

Propinsi Bali No. 3 tahun 2001 tentang Desa Pakraman adalah “kesatuan masyarakat hukum adat di Provinsi Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu secara turun temurun. Dalam ikatan kahyangan tiga atau kahyangan desa yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Desa pakraman memiliki peran dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul di desa pakraman. Warga desa yang terbukti melakukan pelanggaran adat, akan tetapi bersikukuh dengan pendiriannya, tidak bersedia mentaati keputusan rapat, dapat dijatuhi sanksi oleh desa. Reaksi adat atau yang kita sering sebut dengan Sanksi Adat merupakan tindakan-tindakan guna berfungsi sebagai mengembalikan keadaan atau kondisi masyarakat guna menetralisisr keadaan yang awalnya kacau dikarenakan sebuah tindak kejahatan sehingga menjadi stabil seperti semula menjaga keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat, sanksi adat atau reaksi adat juga memiliki fungsi atau tujuan sebagai pengikat dan memberikan efek rasa takut rasa tidak ingin melakukan pelanggaran atau kejahatan tersebut lagi. Sanksi di dalam Hukum Adat dan Sanksi yang ada di dalam Hukum Nasional kita juga tujuannya juga sangat tidak berbeda selain berguna untuk mengontrol perilaku masyarakat serta memberi rasa takut tentunya sanksi ada ini juga diterapkan sesuai kebudayaan dari masyarakat itu sendiri.

Adapun yang dimaksud dengan diadakannya penelitian ini seperti yang sudah tersebut di atas adalah untuk mengetahui seberapa berpengaruh sanksi adat ini dan bagaimana kah keberadaan sebuah Sanksi Adat ini di dalam

(4)

sebuah desa pakraman yang masyarakat nya yang melakukan sebuah pelanggaran adat.3 Dan juga karena begitu banyaknya sanksi sanksi yang

diterapkan selalu dikaitkan dengan upacara keagamaan seperti yang diatur dalam Awig-awig dan Perarem Desa Pakraman dan bagaimana peranan atau kedudukan sebuah sanksi pidana atau sanksi adat ini menumbuhkan rasa sadar terhadap masyarakat yang ada di Desa pakraman tersebut. Bahkan mengenai penerapan sanksi adat Kasepekang yang dari dulu hingga saat ini sedang banyak dibicarakan, sanksi Kasepekang ini adalah salah satu sanksi adat yang terdapat di Bali yang banyak mengalami pro dan kontra di masyarakat , bahkan kadang penerapan sanksi ini membuat permasalahan berakhir di meja hijau dalam hal ini penulis ingin mengetahui tentang bagaimana penjatuhan sanksi, dan apakah sanksi adat ini masih berlaku atau tidak di jaman yang semakin modern ini apakah dan bagaimanakah keberadaan sanksi adat tersebut di dalam sebuah desa pakraman tersebut. karena Sanksi Adat Kasepekang ini termasuk sanksi adat untuk menghukum pelanggar aturan adat atau melakukan Delik adat yang cukup serius atau Delik Adat berat, seharusnya sanksi adat ini diberlakukan dengan sebaik-baiknya menginggat untuk mengembalikan keharmonisan yang terdapat dalam Desa Pakraman tersebut. Seperti hal nya di desa Penglipuran ini sering terjadi Pelanggaran Adat & Tindakan Kriminal ,dan beberapa waktu terakhir ini masyarakat disana dihebohkan dengan kasus Pembunuhan. Maka dari itu,

3P. Wayan Windia, 2010, Dari Bali Mawacara Menuju Bali Santi, Udayana University Press,

(5)

penulis ingin mengetahui lebih lanjut bagaimana para prajuru adat atau pengurus bahkan yang menegakkan sanksi adat di desa pakraman tersebut apakah mereka menerapkan sanksi adat yang seharusnya ataukah mereka membawa kasus tersebut ke ranah hukum , seperti hal nya yang kita tahu Bali merupakan wilayah yang adatnya masih sangat kental seharusnya dalam menghadapi hal ini para prajuru atau pengurus desa pakraman tersebut melakukan tindakan lebih jauh dan menerapkan sanksi yang sesuai dengan yang ada dalam awig-awig tersebut. disinilah maksud penulis untuk mengetahui dan meninjau seperti apa keberadaan sanksi adat & penerapannya tersebut dalam masyarakat & lingkungan Desa pakraman itu sendiri serta agar desa adat atau Desa Pakraman tersebut aman dan tertib. Dalam pemaparan yang sudah dijelaskan di atas maka saya sebagai penulis menarik sebuah garis besar atau mengambil sebuah judul penelitian yaitu “EKSISTENSI SANKSI ADAT & PENERAPAN SANKSI ADAT DI DALAM DESA PAKRAMAN (studi kasus : Desa Pakraman Penglipuran Bangli, Prov. Bali)” dan masalah dari dasar yang telah ada di atas adalah sebagai berikut : 1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Penerapan Sanksi Adat dalam Kasus pelanggaran adat & tindakan Kriminal di Desa Pakraman Penglipuran,Bangli,Bali ?

2. Bagaimana mengenai Eksistensi Sanksi Adat dalam Desa Pakraman Penglipuran Bangli, Bali ?

(6)

Ruang Lingkup yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah bagaimana eksistensi dan penerapan sebuah Sanksi Adat di desa Pakraman di Bali khsusunya untuk tindakan Kriminalitas di sebuah wilayah Desa Pakraman yang penulis memilih Lokasi di Desa Pakraman Penglipuran Kab,Bangli , Bali. Penelitian ini dibatasi dari masalah-masalah yang menyangkut atau mengenai sanksi-sanksi adat yang ada di dalam awig-awig Desa Pakraman khususnya Sanksi Kasepekang.

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan sanksi adat di dalam desa Pakraman tersebut

2. Untuk mengetahui seberapa efektif penerapan sanksi adat dalam membangun kesadaran masyarakat yang ada di dalam desa Pakraman tersebut

3. Untuk mengetahui keberadaan Sanksi Adat di dalam Desa Pakraman di jaman yang modern ini

1.5 Manfaat penelitian

Dari penulisan dan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Bagi Penulis

Manfaat yang penulis dapatkan dari penelitian ini adalah agar penulis sendiri mendapatkan informasi serta wawasan yang lebih mengenai

(7)

bagaimana penerapan sebuah sanksi adat dan keberadaan sanksi adat di wilayah tersebut.

2. Bagi Masyarakat

Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi sarana membaca atau memeperoleh informasi kepada para pembaca terkait dengan penerapan sanksi adat dan eksistensi sanksi adat untuk saat sekarang ini di Bali.

3. Bagi Pemerintah

Hasil penelitian ini diharapkan untuk memberikan informasi sekaligus kontribusi kepada khalayak instansi terkait sebuah pelaksanaan beserta bagaimana keberadaan sebuah sanksi adat yang ada di Bali

1.6 Metode Penelitian

1. Metode Pendekatan

Dalam penulisan Hukum ini penulis memakai metode pendekatan yaitu yuridis sosiologis yang dimana penulis akan terjun langsung ke lapangan untuk melihat bagaimana kenyataan yang ada dalam masyarakat bagaimana hukum itu berlaku atau diterapkan dalam masyarakat serta bagaimana melihat hukum sebagai perilaku manusia dalam masyarakat yang dimana jika kondisi hukum adat dalam lokasi atau wilayah tersebut bermasalah maka perilaku masyarakatnya pun akan terpengaruh. Dalam hal ini penulis akan mewawancarai langsung narasumber serta melakukan survey pada lokasi penelitian ini dengan menuju kepada Bendesa

(8)

adat ( pengurus desa) yang ada disana untuk mendapatkan data ataupun informasi mengenai hal ini.

2. Lokasi Penelitian

Dalam hal ini penulis melakukan penelitian di Desa Pakraman Penglipuran,Bangli yang gerada di Provinsi Bali. Desa Pakraman ini merupakan pusat wisata yang ada di wilayah tersebut tempat ini memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Bali juga merupakan pulau atau daerah yang kental akan budaya begitupun adatnya maka kenapa penulis mengambil lokasi ini karena penulis menemukan kejanggalan bahkan tidak jarang hukum adat atau sanksi adat ini diabaikan begitu saja dan disini penulis ingin mengetahui lebih lanjut mengenai keberadaan sebuah hukum adat bahkan sanksi adat yang ada atau diterapkan di Desa pakraman ini apakah sudah sesuai diterapkan ataukah masih belum sesuai. Dan apakah hukum adat ini masih sangat berada di mata masyarakat desa pakraman pada jaman yang sudah modern ini apa akan terus eksis atau bahkan surut di makan waktu dan jaman dengan tingkat kriminalitas yang tinggi pada saat ini.

3. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

a. Data Primer ,yaitu data berupa dokumen tertulis,file,rekaman,informasi yang di dapat dari narasumber. Sumber data yang pertama ini akan penulis dapatkan dengan

(9)

cara mewawancarai narasumber untuk mendapatkan rekaman dan data tertulis tersebut diatas

b. Data Sekunder , yaitu data yang berupa dokumen tertulis,file,informasi atau pendapat-pendapat lain yang diperoleh dari sumber, dalam hal ini penulis juga memakai Buku mengenai hukum adat khususnya ,jurnal ataupun yang lainnya sebagai rujukan atau sebagai bahan penulisan dalam bab pemabahasan nantinya.

c. Data Tersier, yaitu jenis data mengenai pengertian baku,istilah baku yang diperoleh dari kamus, ensiklopedia dll.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data menggunakan : a. Observasi

Observasi ini akan penulis lakukan di Desa Pakraman Panglipuran Bangli,Bali yang dimana telah terjadinnya kejanggalan dan menjadi obyek bagi penulis untuk mengetahui bagaimana keberadaan sebuah hukum dan sanksi adat yang ada saat sekarang ini.

b. Wawancara

Dalam hal penulis mengumpulkan data adalah dengan wawancara. Wawancara akan dilakukan kepada subyek penelitian yaitu kepada Saudata I Wayan Supat yang salah satunya atau yang berperan atau sebagai Kelian Adat ( Kepala adat ) atau bagian dari Bendesa Adat

(10)

( Pengurus Desa ) yang ada di desa Pakraman Penglipuran. Wawancara ini dilakukan bertujuan & untuk bertanya serta menggali informasi untuk mendapatkan data , dokumen tertulis ataupun informasi-informasi mengenai bagaimana keberadaan sebuah Hukum adat beserta Sanksi Adat yang ada di wilayah tersebut & tentang bagaimana Desa Pakraman tersebut menghadapi tindakan kriminal yang ada di wilayah itu sendiri dengan menggunakan hukum adat.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara Analisis Deskriptif Kualitatif, yakni mendeksirpsikan , menceritakan dan menuangkan serta menggambarkan kejadian dari apa yang dilihat atau di dapat pada saat melakukan penelitian di lapangan. Yang dimana teknik ini merupakan semacam pemahaman guna mencari pendapat-pendapat dari para narasumber serta alasan-alasan mengapa masalah tersebut terjadi atau alasan mengenai keberadaan Hukum maupun Sanksi adat itu sendiri serta alasan mengenai penerapan tersebut sudah terlaksana dengan baik atau bahkan sebaliknya.

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika Penulisan Penelitian Hukum ini sendiri terdiri dari 4 BAB yang disusun secara berurutan,seperti klasifikasi berikut :

(11)

Di dalam Bab ini penulis menguraikan hal-hal yang melatar belakangi penelitian yang akan penulis lakukan. Dalam bab ini terdapat juga alasan mengapa penulis melakukan penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah yang akan di angkat. Di dalam bab 1 ini juga teruraikan metode apa yang akan penulis gunakan untuk mendapatkan hasil dari penelitiannya.

BAB II : Kerangka teori

Dalam Bab ini berisikan mengenai Teori atau doktrin-doktrin bahkan pendapat para ahli mengenai hal-hal yang akan penulis jadikan bahan pada Penulisan Hukum ini

BAB III : Pembahasan

Pada Bab ini lah penulis menuangkan hasil yang penulis dapatkan dari penelitian mengenai penerapan sanksi adat dan eksistensi sanksi adat yang terdapat di Bali khususnya di Desa Pakraman Penglipuran.

BAB IV : Penutup

Pada Bab terakhir ini berisikan Kesimpulan dari tulisan atau penelitian hukum yang telah dilakukan.

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah yang dikemukakan dalam skripsi ini adalah : Pertama , mengenai kedudukan hukum istri dalam perkawinan nyeburin menurut hukum adat Bali; Kedua ,

Penentuan lokasi penelitian ini didasarkan pada beberapa pertimbangan, yakni: (1) Desa Adat Penglipuran merupakan salah satu Desa Bali Aga yang memiliki keunikan baik dari

Penulis bermaksud untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai penerapan sanksi pidana dan penangan KDRT, karena sepengetahuan penulis belum ada pembahasan mengenai

Maka langkah penerapan sanksi pertamanya ialah ada pada pemandu, maksudnya adalah, jika terdapat pelanggaran adat yang terjadi dan dilakukan oleh pengunjung,

Sebagai salah satu usaha dalam memenangkan persaingan, strategi engagement ini mulai marak dibicarakan sebagai salah satu strategi efektif karena seperti yang telah dibahas

Buku perkuliahan ini disusun sebagai salah satu sarana pembelajaran pada mata kuliah Hukum Adat yang berjudul Ilmu Hukum Adat. Secara rinci buku ini memuat

Dari tabel di atas jelas bahwa di antara sesama suku Daya dan sesama suku Melayu terdapat perbedaan atau variasi dalam hal sanksi adat terhadap suatu

Penelitian mengenai penamaan gelar adat ini perlu dilakukan karena gelar adat merupakan salah satu kebudayaan yang perlu diwariskan kepada masyarakat Melayu Jambi