Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo | ii
HIU PAUS DI PANTAI BOTUBARANI, GORONTALO
Penanggung Jawab :
Ir.R. Andry Indryasworo Sukmoputro,M.M.
Penulis:
Kris Handoko, Mahardika R. Himawan, Casandra Tania, Urif Syarifuddin, Munandar Jakasukmana, Hawis Maduppa, Beginer Subhan
Buku ini tersusun atas inisiatif BPSPL Makassar dan didanai oleh COREMAP-CTI Desain sampul dan isi:
Mahardika R. Himawan, Kris Handoko
Editor:
Sheyka N. Fadela, Nesha K. Ichida
ISBN : 978-602-61485-0-6
Copyright ©2017 Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Makassar Diterbitkan oleh
Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Makassar Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129 Maros, 90511
E-mail : [email protected]
Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak karya tulis ini Dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa ijin dari penerbit.
iii | Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo
Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo | iv
KATA SAMBUTAN
DIREKTUR JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Perairan Indonesia merupakan jalur migrasi dan habitat beberapa jenis ikan langka dan terancam punah, diantaranya adalah hiu paus yang merupakan jenis biota laut terbesar di dunia. Sebagai respon terhadap upaya pelestarian dan untuk menjaga populasi hiu paus di perairan Indonesia, sejak 20 Mei 2013 hiu paus telah dilindungi penuh di seluruh wilayah perairan Indonesia, berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 18/Kepmen-KP/2013. Hal ini berarti segala bentuk pemanfaatan yang bersifat ekstraktif terhadap hiu tersebut termasuk pemanfaatan bagian-bagian tubuhnya telah dilarang secara hukum. Namun peluang pemanfaatan jasa dari aktivitas hiu paus masih dapat dilakukan sebagai aktivitas pariwisata berkelanjutan.
Isu pemanfaatan atau eksploitasi hiu paus secara langsung masih tinggi karena belum tersosialisasinya tentang profil hiu paus tersebut. Oleh karenanya edukasi bagi masyarakat sangat penting, diantaranya dengan adanya Buku Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo ini, yang berisikan banyak hal terkait biologi dan aspek pemanfaatan yang bisa dijadikan model pengelolaan konservasinya ke depan di daerah lainnya. Penggunaan perangkat seperti yang digunakan oleh BPSPL Makassar berupa accoustic transmitter tag dan accoustic receiver sangat diapresiasi mengingat hal ini termasuk hal yang baru di Indonesia. Harapannya database yang dihasilkan bisa merepresentasikan keberadaan Hiu Paus yang ada di Botubarani, Gorontalo dengan kaidah keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan untuk pengambilan kebijakan konservasi dan wisata yang berkelanjutan ke depannya.
Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan aktif terhadap konservasi Hiu Paus di Indonesia. Semoga Konservasi Hiu Paus bisa terus dilakukan oleh semua pihak.
Jakarta, Desember 2016 Direktur Jenderal,
v | Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo
KATA SAMBUTAN
KEPALA BPSPL Makassar
Puji dan syukur Kami panjatkan kepadaAllah Subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga BUKU HIU PAUS DI PANTAI BOTUBARANI, DESA KABILA BONE, KABUPATEN BONE BOLANGO, PROVINSI GORONTALO” ini berhasil diselesaikan. Kegiatan ini dilakukan atas dasar berkembangnya kegiatan wisata minat khusus di Pantai Botubarani, akibat kemunculan Hiu Paus yang distimulasi oleh pemberian makanan. Makanan yang diberikan merupakan limbah dari perusahaan pengolahan Udang Vaname
yang beroperasi tepat di Pantai Botubarani. Mudahnya akses menuju Pantai Botubarani, membuat wisata ini menjadi massal yang tidak dapat dihindari. Aktivitas wisata yang tidak ramah pun terjadi yang dapat berdampak luka pada tubuh Hiu Paus.
Kurangnya informasi mengenai keberadaan Hiu Paus di Pantai Botubarani menjadi hambatan dalam arah kebijakan yang diaplikasikan. Informasi seberapa lama Hiu Paus tinggal, faktor apa yang mempengaruhi keberadaan Hiu Paus serta dampak dari aktivitas di Pantai Botubarani masih minim. Oleh karena itu, kegiatan ini dilakukan agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui pendekatan penelitian sebagai landasan penentuan regulasi dan kebijakan di Pantai Botubarani baik dari segi konservasi maupun wisata.
Demikian buku ini dibuat sebagai langkah awal dalam upaya mengharmoniskan kegiatan konservasi dan wisata minat khusus di Pantai Botubarani. Perlu dukungan secara aktif oleh semua pihak agar kegiatan ini dapat terlaksana sesuai harapan.
Makassar, Desember 2016 Kepala BPSPL Makassar,
Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo | vi
SEKAPUR SIRIH
KEPALA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
PROVINSI GORONTALO
Alhamdulillah puji syukur Kami panjatkan ke Hadirat Allah Subhanalahu wa ta’alaa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga buku Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo ini berhasil disusun melalui proses yang cukup panjang. Dimulai dari adanya “booming” berita dari sosial media yang memberitakan tentang obyek wisata Hiu Paus di bulan April sampai pertengahan Agustus 2016, maka kedatangan rombongan Hiu Paus ke Gorontalo dalam beberapa bulan membawa dampak yang luar biasa bagi segenap masyarakat dan aparatur pemerintah di Provinsi Gorontalo.
Kedatangan Hiu Paus yang menjadi objek wisata, menjadikan magnet bagi turis lokal dan manca negara, pejabat dan masyarakat biasapun berbondong-bondong ingin menyaksikan langsung dari dekat ikan raksasa yang jinak ini. Jumlah pengunjung dari tanggal 1 Mei 2016 hingga minggu ke 3 bulan Mei 2016 yaitu 6.000 orang yang tercatat. Lebih lengkap lagi hingga akhir Juli 2016, wisatawan lokal dan luar negeri yang datang berkunjung terdiri atas wisata watching di atas perahu 32.043 orang, wisata snorkeling 573 orang, dan wisata diving 197 orang yang tercatat di buku Kelompok Sadar Wisata Botubarani. Angka yang fantastik untuk sebuat objek wisata baru.
Dampak sangat terasa ketika Hiu Paus mulai menghilang dari Pantai Botubarani mulai tanggal 12 Agustus hingga awal Oktober 2016. Pemberitaan di media sosial dan media cetak / elektronik gencar karena kekecewaan masyarakat Botubarani dan wisatawan yang berkunjung tidak menjumpai lagi Hiu Paus. Sehingga muncullah banyak pertanyaan ke pemerintah dan para peneliti atau pakar terkait fenomena ini. Masih minimnya data terkait keberadaan Hiu Paus di Gorontalo sehingga pertanyaan-pertanyaan berbagai pihak belum bisa terjawab.
Semoga dengan adanya informasi seputar kegiatan dan keberadaan Hiu Paus di Buku ini, hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Gorontalo, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, WWF Indonesia dan Whale Shark Indonesia Project beserta stakeholder terkait lainnya bisa bermanfaat bagi para pembaca semuanya.
Gorontalo, Desember 2016
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo
vii | Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo
Kata Pengantar
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan ke Hadirat Allah Subhanalahu wa ta’alaa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga buku Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo ini berhasil disusun melalui proses yang cukup panjang. Dimulai dari adanya “boming” berita dari sosial media yang memberitakan tentang obyek wisata Hiu Paus di bulan April sampai pertengahan Agustus 2016, maka kedatangan rombongan Hiu Paus ke Gorontalo dalam beberapa bulan membawa dampak yang luar biasa bagi segenap masyarakat dan aparatur pemerintah di Provinsi Gorontalo.
Kedatangan Hiu Paus yang menjadi obyek wisata, menjadikan magnet bagi turis lokal dan manca negara, pejabat dan masyarakat biasapun berbondong-bondong ingin menyaksikan langsung dari dekat ikan raksasa yang jinak ini. Jumlah pengunjung dari tanggal 1 Mei 2016 hingga minggu ke 3 bulan Mei 2016 yaitu 6.000 orang yang tercatat. Lebih lengkap lagi hingga akhir Juli 2016 data tercatat, wisatawan lokal dan luar negeri yang datang berkunjung terdiri atas wisata watching di atas perahu 32.043 orang, wisata snorkeling 573 orang, dan wisata diving 197 orang yang tercatat di buku Kelompok Sadar Wisata Botubarani. Angka yang fantastik untuk sebuat obyek wisata baru. Bandingkan obyek wisata Hiu Paus di Teluk Cendrawasih, Provinsi Papua Barat, pada tahun 2015 tercatat 5.722 pengunjung dengan PNBP Rp.586.160.000 (Sumber : Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih, 2016).
Dampak sangat terasa ketika Hiu Paus mulai menghilang dari Pantai Botubarani mulai tanggal 12 Agustus hingga awal Oktober 2016. Pemberitaan di media sosial dan media cetak / elektronik gencar karena kekecewaan masyarakat Botubarani dan wisatawan yang berkunjung tidak menjumpai lagi Hiu Paus. Sehingga muncullah banyak pertanyaan ke pemerintah dan para peneliti atau pakar terkait fenomena ini.
Untungnya, Whale Shark Indonesia (WSID) yang dimotori oleh Sdr. Mahardika Rizki Himawan, selama kurang lebih 18 hari (12 – 30 April 2016) telah melakukan riset menggunakan metode Photo ID untuk mengetahui jumlah populasi dan melakukan identifikasi tiap individu Hiu Paus yang hadir beserta pola tingkah lakunya di Pantai Botubarani dan aspek lainnya. Dilanjutkan dengan kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Unit Pelaksana Teknisnya Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar, WSID, WWF Indonesia dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo bersama-sama melakukan Lokakarya Hiu Paus pada tanggal 26 Mei 2016, yang membahas terkait rencana pengelolaan Wisata Hiu Paus ke depan.
Kegiatan lanjutan dari Lokakarya Hiu Paus tersebut, yaitu BPSPL Makassar melakukan kegiatan Bimbingan Teknis Pemandu Wisata Selam dan Sosialisasi Pengenalan Sistem Informasi Database Ikan Dilindungi (SIDIDI) 11-14 Mei 2016. Selain itu pula, pada tanggal 23-25 Agustus 2016 dilakukan Bimbingan Teknis Identifikasi dan Monitoring Populasi Hiu Paus untuk kelompok masyarakat dan aparatur pemerintah serta stake holder terkait agar ketika Hiu Paus ada di Gorontalo, para peserta Bimtek ini sudah bisa untuk melakukan pendataan sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Semoga dengan adanya informasi seputar kegiatan dan keberadaan Hiu Paus di Buku ini, bisa bermanfaat bagi para pembaca semuanya.
Makassar, Desember 2016
Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo | viii
Photo by : Wawan ©BPSPL Makassar
ix | Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN DIRJEN PENGELOLAAN RUANG LAUT iv
KATA SAMBUTAN KEPALA BPSPL MAKASSAR v
SEKAPUR SIRIH KEPALA DKP PROVINSI GORONTALO vi
KATA PENGANTAR vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR TABEL xiii
I. PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 2
II. FAKTA UMUM HIU PAUS 3
Awal Mula Nama “Hiu Paus” 3
Ciri-ciri Morfologi 4
Distribusi 5
Makanan dan Cara Makan 6
Reproduksi dan Siklus Hidup 7
Pergerakan dan Tingkah Laku 8
Status Konservasi 8
III. SEKILAS TENTANG BOTUBARANI 10
Sekilas Tentang Desa Botubarani 11
Struktur Biotik dan Abiotik Perairan Botubarani 12
IV. GORONTALO, BOTUBARANI DAN HIU PAUS 15
Cerita Lama Masyarakat Nelayan 16
Pertemuaan Penyelam dengan Hiu Paus 17 Hiu Paus & pabrik pengepakan udang Botubarani 18
V. RISET-RISET HIU PAUS DI BOTUBARANI 21 Mulainya Hiu Paus di Botubarani Diteliti 21 Sekilas Riset dari Hubbs-SeaWorld Research Institute 23 Beberapa Riset Hiu Paus di Botubarani 24 Komposisi Hiu Paus Berdasarkan Jenis Kelamin dan Ukuran serta Hubungan Kemunculannya terhadap Aktivitas Wisata 26 Monitoring Hiu Paus Di Perairan Botubarani Oleh Tim
Monitoring Hiu Paus Gorontalo 34
Pola Tinggal Hiu Paus dalam Hubungannya dengan Aktivitas Pemberian Makan Melalui kegiatan Wisata 38
VI. DINAMIKA WISATA HIU PAUS DI PANTAI BOTUBARANI 49
Viralnya Wisata Hiu Paus Botubarani 50 Hiu Paus, Ikon Kuat Penarik Wisatawan 51 Ramainya Wisata Hiu Paus DI Botubarani 52 Tiga Jenis Wisata di Pantai Botubarani 53
Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo | x Padatnya Botubarani di Maret-Agustus 2016 54
Meningkatnya Ekonomi Masyarakat Setempat 55 Dampak Lain yang Muncul Akibat Wiata Massal 57 Menghilangnya Hiu Paus di Agustus-Oktober 2016 61 Kembalinya Hiu Paus di Oktober-November 2016 62 Pembelajaran dari Dinamika Wisata yang Terjadi 63
VII. STRATEGI PENGELOLAAN WISATA BOTUBARANI 65
Pembentukan Kelompok Sadar Wisata 66
Skenario Wisata Hiu Paus Botubarani 68
Bantuan Fasilitas Wisata 71
Pengawasan Kegiatan Wisata 73
VIII. STRATEGI KONSERVASI HIU PAUS BOTUBARANI 75
Bahu Membahu dalam Konservasi 76
Pengaturan Zona Interaksi Hiu Paus 76
Pembatasan Kegiatan di Zona Interaksi 77 Pengaturan Tata Cara Berinteraksi Wisata 78
Lokakarya Hiu Paus Gorontalo 80
Peningkatan Kapasitas Sdm Dibidang Konservasi 81 Pembentukan Tinelo Deheto Dan Tim Monitoring 84 Sosialisasi Upaya Konservasi di Pantai Botubarani 85
IX. REKOMENDASI PENATAAN ZONASI 87 Tujuan Penataan dan Penetapan Zonasi 88
Proses Penyusunan Desain Zonasi 89
Skema Zonasi Ekowisata Pemanfaatan Hiu Paus 91
Model Pengelolaan 93
Rencana Pengembangan 101
DAFTAR PUSTAKA 118
SUMBER BUKU NON PENULIS 119
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Hiu Paus dengan karakter tubuh keabu-abuan dan bertotol putih 4
Gambar 2. Distribusi Hiu Paus secara global 5
Gambar 3. Cara makan Hiu Paus 6
Gambar 4. Sebanyak 300 embrio Hiu Paus dari rahim seekor individu Hiu Paus yang tertangkap di Taiwan (Joung et al., 1996) 7 Gambar 5. Mata pencaharian sebagian besar penduduk Desa Botubarani
adalah sebagai nelayan tradisional 11
Gambar 6. Kondisi dasar perairan Pantai Botubarani yang curam 12 Gambar 7. Terumbu karang dengan beberapa bentuk pertumbuhan yang
masih cukup mudah untuk ditemukan 13
xi | Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo
Gambar 8. Nelayan menangkap ikan nike dengan menggunakan lampu
petromaks 16
Gambar 9. Sungai Bone yang berada di Gorontalo 17
Gambar 10. Ikan Nike 17
Gambar 11. perusahan yang berdiri tepat di pinggir Pantai Botubarani 18
Gambar 12. PT Sinar Ponula Deheto 18
Gambar 13. Keberadaan pabrik dengan kulit dan kepala udang sebagai sisa
yang dihasilkan 19
Gambar 14. Pemberian makan kepada Hiu Paus dilakukan dari atas kapal
wisata 20
Gambar 15. Hasil yang didapatkan dari pemasangan penanda satelit pada hiu
paus di Filipina 23
Gambar 16. Kolaborasi aktif dalam melakukan penelitian Hiu Paus di Pantai
Botubarani 24
Gambar 17. Pola totol-totol pada tubuh Hiu Paus yang berbeda setiap
individunya 26
Gambar 18. Hiu Paus jantan memiliki klasper pada sirip perut sedangkan betina tidak memilikinya (Himawan et al., 2015) 27 Gambar 19. Kemunculan beberapa individu yang menunjukkan bahwa terdapat
keberadaan populasi Hiu Paus di Perairan Botubarani 28 Gambar 20. Panjang total individu Hiu Paus yang teridentifikasi di Pantai
Botubarani (Himawan, 2017) 29
Gambar 21. Jumlah wisatawan yang cenderung meningkat akan mempengaruhi semakin banyaknya jumlah makanan yang diberikan 31 Gambar 22. Wisatawan yang berkunjung selama monitoring 36 Gambar 23. Peralatan yang digunakan dalam pemasangan penanda akustik
pada tubuh Hiu Paus 39
Gambar 24. Lapisan kulit Hiu Paus pada daerah dibawah sirip punggung cukup
tebal dan kuat 40
Gambar 25. Pemasangan alat VR2W Receiver 69 KHz pada kedalaman 12-15
meter 41
Gambar 26. Pemasangan penerima akustik di Perairan Botubarani dan Leato 42 Gambar 27. Kemunculan Hiu Paus dengan karakteristik yang sama seperti riset
dan monitoring sebelumnya 44
Gambar 28. Data hasil perekaman penerima akustik yang dipasang pada
Perairan Botubarani 45
Gambar 29. Data hasil perekaman penerima akustik yang dipasang pada
Perairan Leato 47
Gambar 30. ID GT_04 terdeteksi keluar dari Perairan Botubarani dan terekam
di Perairan Leato 47
Gambar 31. Pantai Botubarani yang sebelumnya sepi, hanya ada aktifitas normal nelayan, berubah menjadi sangat ramai 50
Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo | xii Gambar 32. Foto mengenai aktivitas wisata Hiu Paus yang bertebaran di sosial
media 51
Gambar 33. Faktor yang mempengaruhi ramainya wisata Hiu Paus di Pantai
Botubarani 52
Gambar 34. Tiga jenis wisata di Pantai Botubarani: a. wisata melihat,
b. berenang permukaan, c. menyelam 53
Gambar 35. Wisatawan baik dengan menggunakan kapal, berenang atau
menyelam bercampur menjadi satu dalam satu waktu 54 Gambar 36. Wisata Hiu Paus Pantai Botubarani dikelola sepenuhnya oleh
masyarakat setempat melalui Pemerintah Desa 55 Gambar 37. Masyarakat setempat menjual-belikan makanan Hiu Paus yang
berupa kulit dan kepala udang 56
Gambar 38. Warung-warung di pinggir pantai mulai dibangun dengan
menjajakan berbagai macam makanan 57
Gambar 39. Luka-luka tubuh Hiu Paus yang dihasilkan akibat aktifitas wisata
terutama benturan dengan badan kapal 58
Gambar 40. Wisatawan yang berenang dan menyelam sangat bebas dalam
memegang dan bahkan menunggangi Hiu Paus 59 Gambar 41. Cedera yang dapat timbul dari menyentuh atau menunggangi Hiu
Paus paus 59
Gambar 42. Terjatuhnya beberapa barang milik wisatawan ke laut kerap terjadi melalui akvifitas wisata akibat tidak hati-hati 60 Gambar 43. Perairan Botubarani penuh sampah plastik 61 Gambar 44. Hingar bingar pantai dengan banyaknya pengunjung datang
seketika berubah sepi seperti sedia kala 62 Gambar 45. Dengan jenis wisata yang hampir sama, jumlah wisatawan jauh
lebih sedikit bila dibandingkan dengan sebelumnya 63 Gambar 46. Disetiap lorong terdapat tempat-tempat parkir kendaraan baik
motor, mobil atau alat transportasi lain 69 Gambar 47. Bagi wisatawan dengan perahu, baju pelampung selanjutnya
dibagikan dan diarahkan kepada pemandu perahu 70 Gambar 48. Dokumentasi pemberian bantuan Menteri Kelautan dan Perikanan
berupa peralatan alat snorkling 71
Gambar 49. (a) Pelatihan Pemandu Wisata Selam; (b) Bantuan Alat Snorkeling; (c & d) Bantuan Kompresor dan Alat Scuba 72 Gambar 50. Pembangunan fasilitas wisata berupa pos pengawasan, tempat
tunggu dan panggung oleh Dinas Pariwisata Kab. Bone Bolango 73 Gambar 51. DKP Provinsi Gorontalo menyusun pelampung secara persegi
untuk zona interaksi Hiu Paus 76
Gambar 52. Kail dan tali pancing yang dapat menyangkut pada tubuh Hiu Paus 77 Gambar 53. Aturan umum berinteraksi dengan Hiu Paus 78 Gambar 54. Aturan berinteraksi dalam bentuk sticker yang diproduksi BPSPL
Makassar 80
Gambar 55. Bimtek Pemandu Wisata Selam dan Sosialisasi Pengenalan Sistem Informasi Database Ikan Dilindungi (SIDIDI) di Provinsi Gorontalo 82
xiii | Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo
Gambar 56. Bimbingan Teknis Identifikasi dan Monitoring Populasi Hiu Paus 83 Gambar 57. Terbentuknya tim monitoring Hiu Paus gorontalo Hiu Paus 84 Gambar 58. Sosialisasi upaya-upaya konservasi yang telah dilakukan kepada
masyarakat Desa Botubarani 85
Gambar 59. Kalender musim kemunculan Hiu Paus dalam bentuk spanduk yang dipasang pada panggung wisata di Pantai Botubarani 86 Gambar 60. Filosofi atau visi ke depan dibutuhkan untuk memandu skema
zonasi Pantai Botubarani 89
Gambar 61. Ilustrasi ruang lingkup zonasi di Desa Botubarani 90 Gambar 62. Skema Rencana Zonasi Ekowisata Hiu Paus di Botubarani 91 Gambar 63. Pengaturan aktivitas pada setiap zona 93 Gambar 64. Model Pengelolaan Ekowisata Hiu Paus di Botubarani 99 Gambar 65. Skema tinjauan proses penyusunan rencana pengembangan
kawasan ekowisata Hiu Paus di Botubarani 101
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Kemunculan individu Hiu Paus setiap harinya selama waktu riset
(Himawan, 2017) 30
Tabel 2. Peningkatan jumlah makanan yang diberikan kepada Hiu Paus dari pagi hingga sore hari akibat peningkatan jumlah pengunjung 32 Tabel 3. Dua Individu Hiu Paus yang teridentifikasi selama monitoring 34 Tabel 4. Kemunculan individu Hiu Paus setiap harinya selama waktu monitoring 35 Tabel 5. Jumlah makanan yang diberikan kepada Hiu Paus dari pagi hingga sore
dan jumlah pengunjung selama monitoring 36
Tabel 6. Identitias empat individu Hiu Paus yang telah terpasang alat penanda
akustik 43
Tabel 7. Jumlah pemberian makan pada Hiu Paus dan jumlah wisatawan
selama riset 46
Tabel 8. Hasil identifikasi pemangku kepentingan 95 Tabel 9. Tingkat ketergantungan dan kepentingan masing-masing pemangku 97 Tabel 10 Kebutuhan pengembangan prasarana dan pelayanan ekowisata di
Botubarani 105
Tabel 11 Kebutuhan pengembangan permintaan pasar di kawasan ekowisata
Botubarani 106
Tabel 12 Kebutuhan dalam pengembangan suplai dan daya saing di kawasan
ekowisata Botubarani 107
Tabel 13 kebutuhan yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan
kualitas sumberdaya manusia di kawasan ekowisata Botubarani 108 Tabel 14 Keterkaitan Potensi Permasalahan dengan Rencana Pengembangan
Model Pemanfaatan Ekowisata Hiu Paus 111
Tabel 15 Rencana Pengembangan Model Pemanfaatan Ekowisata Hiu Paus (Rhincodon typus) di Botubarani Provinsi Gorontalo 117
Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo | xi1
I. PENDAHULUAN
Hiu Paus (Rhincodon typus) adalah spesies ikan berukuran terbesar di dunia. Habitat Hiu Paus terbentang dari perairan tropis hingga subtropis, sehingga satwa ini mudah ditemukan di perairan Indonesia, termasuk di perairan desa Botubarani, Gorontalo.Hiu Paus di Pantai Botubarani, Gorontalo | 2
LATAR BELAKANG
Hiu Paus (Rhincodon typus) merupakan spesies ikan terbesar di dunia yang dilindungi secara penuh melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI nomor 18 Tahun 2013. Habitat Hiu Paus yang terbentang pada perairan tropis hingga subtropis (Compagno, 2001), membuat spesies ini cukup mudah ditemukan di perairan Indonesia. Beberapa daerah dengan kemunculan teratur setiap tahunnya adalah di Perairan Teluk Cenderawasih (Papua), Talisayan (Kalimantan Timur), Probolinggo (Jawa Timur) dan Botubarani (Gorontalo).
Perairan Botubarani, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, adalah salah satu kawasan perairan dimana Hiu Paus diduga muncul setiap hari. Menurut masyarakat nelayan, kemunculan Hiu Paus di perairan tersebut utamanya adalah saat mereka sedang menjaring ikan nike (Awaous melancephalus). Sementara itu, dugaan lain menyebutkan bahwa kemunculan Hiu Paus di perairan Botubarani adalah akibat dari pemberian makan secara sengaja berupa kepala dan kulit udang vaname (Litopenaeus vannamei) melalui aktivitas wisata.
Perilaku beberapa individu Hiu Paus telah diamati dan didata secara berkala. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah satwa tersebut memiliki kecenderungan bertahan di perairan Botubarani dalam waktu yang lama. Selain pengamatan terhadap perilaku, pemasangan penanda akustik (acoustic tag) pada beberapa Hiu Paus di perairan Botubarani juga telah dilakukan untuk mengetahui pola tinggal suatu individu dalam satuan waktu. Pada naluri alaminya, Hiu Paus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari makan dan melanjutkan siklus hidupnya. Hasil dari penanda akustik dapat menunjukkan pengaruh dari pemberian makan secara sengaja di perairan Botubarani pada pola pergerakan alami dari Hiu Paus. Berbagai hasil penelitian yang dihimpun akan menjadi dasar dari pengaturan aktivitas wisata di perairan Botubarani dan upaya penerbitan kebijakan untuk penetapan kawasan perairan tersebut sebagai kawasan konservasi.
Aktivitas wisata yang berkembang begitu cepat di perairan Botubarani dapat meningkatkan jumlah interaksi pengunjung dan operator kapal wisata dengan Hiu Paus yang dapat berdampak negatif atau merusak. Lalu lintas kapal wisata dan pemberian makan secara sengaja oleh para wisatawan dapat meningkatkan kemungkinan Hiu Paus terluka. Untuk meminimalisir dampak negatif dari aktivitas wisata terhadap Hiu Paus, keterlibatan secara aktif dari para pemangku kepentingan (stakeholders) di Perairan Botubarani telah terjalin melalui kegiatan-kegiatan yang berfokus pada konservasi, salah satunya pembentukan tim pemantau (monitoring).
Dalam buku ini, dijabarkan hasil-hasil penelitian, upaya konservasi dan opini berupa rekomendasi terkait pelestarian Hiu Paus di Perairan Botubarani, Gorontalo. Dengan diterbitkannya buku ini, aktivitas wisata dan konservasi Hiu Paus di Perairan Botubarani diharapkan dapat menjadi barometer pengelolaan yang baik dan berkelanjutan di Indonesia.