52
Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia, maka metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam
melakukan penelitian.66
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya kecuali itu juga diadakan pelaksanaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang
bersangkutan.67 Terdapat berbagai upaya yang dapat dilakukan oleh
seseorang untuk memperoleh pengetahuan. Pertama-tama yang dapat dilakukan adalah bertanya kepada orang lain yang dianggapnya lebih tahu tentang sesuatu (memiliki otoritas). Suatu penelitian secara ilmiah dilakukan oleh manusia untuk menyalurkan hasrat ingin tahunya yang telah mencapai taraf ilmiah, yang disertai dengan suatu keyakinan bahwa setiap gejala akan ditelaah dan dicari hubungan sebab akibatnya, atau kecenderungan-kecenderungan yang timbul. Ilmu, penelitian dan kebenaran adalah tiga hal yang dapat dibedakan tetapi sebenarnya tidak
terpisahkan satu sama lain.68
Di dalam suatu penelitian, metode penelitian merupakan suatu faktor yang penting dalam proses penyelesaian suatu permasalahan yang akan dibahas, dimana metode merupakan cara utama yang akan digunakan
66 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986, hlm 6 67 Ibid hlm.43
68 Bambang Sunggono,Metodologi Penelitian Hukum, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta,2007,
untuk mencapai tingkat ketelitian jumlah dan jenis data yang dihadapi. Sehubungan dengan hal tersebut, metode penelitian yang akan digunakan penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
A. Jenis Penelitian
Mengacu pada judul dan perumusan masalah, maka penelitian ini termasuk jenis penelitian hukum doktrinal atau normatif. Penelitian hukum, dalam konsepnya yang klasik pada dasarnya adalah suatu upaya pencarian jawaban atas pertanyaan apakah putusan hukum yang harus diambil untuk menghukumi suatu perkara tertentu. Selama hukum ini dibilangkan sebagai norma entah yang telah dibentuk dan memiliki wujud yang positif (ius
constitutum) entah pula yang belum dipositifkan (ius
constiuendum) maka selama itu pula penelitian hukum ini harus
pula dibilang sebagai penelitian hukum normatif. Sementara itu apabila penelitian yang dikerjakan itu tidak hanya berupa penelusuran ke dan berhenti pada ditemukannya norma-norma hukumnya saja tetapi juga berlanjut sampai ditemukannya ajaran-ajaran dasarnya, maka penelitian hukum ini acap disebut sebagai
penelitian doktrinal.69 Dengan cara menyoroti hukum tentang
warisan, terutama hukum waris Islam tentang anak luar kawin. Penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah penelitian terhadap identifikasi hukum mengenai proses pewarisan terhadap anak luar kawin menurut hukum waris Islam, tentang hak dan kedudukan anak luar kawin terhadap harta benda yang dimiliki oleh ayah kandungnya berpegang pada ketentuan yang normatif.
B. Metode Pendekatan Kasus
Dalam menggunakan pendekatan kasus, yang perlu dipahami oleh peneliti adalah ratio decidendi yaitu alasan-alasan hukum yang digunakan oleh hakim untuk sampai kepada keputusannya.
Menurut Goodheart, ratio decidendi dapat dikemukakan dengan memperhatikan fakta materiil. Fakta-fakta tersebut berupa orang, tempat, waktu dan segala yang menyertainya asalkan tidak terbukti sebaliknya. Perlunya fakta materiil tersebut diperhatikan karena baik hakim maupun para pihak akan mencari aturan hukum yang tepat untuk dapat diterapkan kepada fakta tersebut. Ratio decidendi inilah yang menunjukan bahwa ilmu hukum merupakan ilmu yang
bersifat preskriptif bukan deskriptif.70 Dalam penulisan ini akan
melakukan pendekatan tentang Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor: 46/PUU-VII/2010, bagaimana putusan ini memandang tentang anak luar kawin dipandang dari waris Islam.
C. Sifat Penelitian
Penelitian ini melakukan analisis hanya sampai pada taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan
disimpulkan.71 Dikatakan deskriptif maksudnya dari penelitian ini
diharapkan dapat diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang proses pewarisan terhadap anak luar kawin berdasarkan hukum Islam. Sedangkan analisis dilakukan terhadap berbagai aspek hukum yang mengatur tentang hak, kedudukan anak luar kawin dalam proses pewarisan berdasarkan hukum Islam.
D. Jenis dan Sumber Data Penelitian.
Kepustakaan pengantar ilmu hukum orang mendefinisikan sumber hukum sebagai seluruh koleksi bahan-bahan hukum yang
ditata secara kategorikal guna memudahkan kerja-kerja
penelusuran dan penemuannya kembali. Ada dua macam sumber
70 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta, Premadamedia Group, 2014, hlm 158 71
Altheron & Klemmack dalam Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik
hukum yang dikenal sumber hukum materiil dan sumber hukum formil. Perlu diperhatikan bahwa kualifikasi formil dan materiil merujuk ke sumber hukumnya dan hukumnya. Bahan-bahan hukum yang terhimpun dalam sumber hukum formil disebut bahan-bahan hukum primer. Sedangkan bahan-bahan hukum yang terhimpun dalam sumber hukum yang materiil disebut
bahan-bahan hukum sekunder.72
a. Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer adalah semua aturan hukum yang dibentuk dan/atau dibuat secara resmi oleh suatu lembaga negara, dan/atau badan-badan pemerintahan yang demi tegaknya akan diupayakan berdasarkan daya paksa yang dilakukan secara resmi pula oleh aparat negara. Secara rinci yang termasuk bahan hukum primer adalah :
1) Seluruh produk badan legislatif, ialah produk hukum yang disebut undang-undang, dan peraturan lain dalam bentuk keputusan eksekutif baik yang ditingkat pusat maupun yang diputuskan oleh para pejabat eksekutif di tingkat daerah.
2) Keputusan-keputusan komisi negara atau komisi nasional, ialah komisi-komisi yang dibentuk
berdasarkan undang-undang atau
keputusan-keputusan pemerintah.
3) Seluruh amar putusan badan yudisial. Inilah produk berbagai badan pengadilan dari yang tingkat pertama sampai ke tingkat yang lebih tinggi, dari yang berstatus pangadilan umum, sampai ke yang status pengadilan khusus yaitu pengadilan agama,
pengadilan tata usaha negara dan pengadilan militer.73
Bahan hukum primer yang dipakai adalah sebagai berikut :
1) Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam
2) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata)
3) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) 4) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975
tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
5) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan
6) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan
7) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak
8) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
9) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
10) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan
11) Putusan Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia Nomor: 46/PUU-VII/2010
12) Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 11 tahun 2012 tentang Kedudukan Anak Hasil Zina dan Perlakuan Terhadapnya.
13) Alquran dan Hadits
b. Bahan Hukum Sekunder
Bahan-bahan hukum sekunder adalah juga seluruh informasi tentang hukum yang berlaku atau yang pernah berlaku di suatu negeri. Namun berbeda dengan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder secara formal tidak dapat disebut sebagai hukum positif. Bahan hukum sekunder antara lain adalah buku-buku teks, laporan penelitian hukum (baik yang doktrinal maupun yang non doktrinal), berbagai jurnal hukum yang memuat tulisan-tulisan kritik para ahli dan para akademisi terhadap berbagai produk hukum perundang-undangan dan putusan pengadilan, notulen-notulen seminar hukum, memori-memori yang memuat opini hukum, buletin-buletin atau terbitan-terbitan yang memuat debat-debat dan hasil dengar pendapat di parlemen. Dalam era elektronik bahan-bahan hukum sekunder ini dapat ditelusuri lewat situs-situs
internet ke koleksi-koleksi yang berada di dunia maya.74
c. Bahan Hukum Tertier
Bahan hukum tertier, adalah bahan-bahan yang termuat dalam kamus-kamus hukum, berbagai terbitan yang memuat indeks hukum dan semacamnya. Akan tetatpi banyak pula yang menyatakan bahwa apa yang disebut bahan hukum tertier itu sebenarnya bukan bahan hukum dalam arti yang sebenarnya, karena bahan-bahan yang
termuat di situ tidaklah berhakikat sebagai bahan hukum yang akan berfungsi sebagai dasar pembenar setiap putusan
hukum.75
E. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam suatu penelitian merupakan hal yang sangat penting demi kelancaran kesimpulan yang akan ditarik dalam penelitian. Berdasarkan jenis penelitian yang merupakan penelitian normatif. Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan tentang anak luar kawin yang diperoleh dari data bahan hukum primer dan bahan sekunder.
F. Teknik Analisis Data
Agar data yang terkumpul dapat dipertanggungjawabkan dan dapat menghasilkan jawaban yang tepat dari suatu permasalahan, maka perlu suatu teknik analisis data yang tepat. Analisis data merupakan langkah selanjutnya untuk mengolah hasil penelitian
menjadi suatu laporan. Analisis data adalah proses
pengorganisasian dan pengurutan data dalam pola, kategori dan uraian dasar, sehingga akan dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.
Pada penelitian hukum normatif, pengolahan data hakikatnya kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis. Sistematisasi berarti membuat klasifikasi tehadap bahan-bahan hukum tertulis tersebut untuk memudahkan pekerjaan
analisis dan kontruksi.76 Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam
analisis data, yaitu :
75
Ibid hlm.84
a. Memilih pasal-pasal yang berisi kaidah-kaidah hukum yang mengatur masalah tentang hukum waris baik dari Alquran, Hadits maupun badan hukum lainnya.
b. Membuat sistematik dari pasal-pasal dan kaidah-kaidah hukum yang selaras dengan anak luar kawin dalam proses pewarisan menurut hukum Islam.
c. Data-data yang diperoleh dianalisis secara induktif kualitatif.