• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS INDEKS KEBERLANJUTAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI KABUPATEN BOGOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS INDEKS KEBERLANJUTAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI KABUPATEN BOGOR"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS INDEKS KEBERLANJUTAN INDUSTRI KECIL

DAN MENENGAH DI KABUPATEN BOGOR

Oleh :

Sigit Pranoto F34104048

2008

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)

ANALISIS INDEKS KEBERLANJUTAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI KABUPATEN BOGOR

Oleh :

Sigit Pranoto F34104048

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Indusri Pertanian

Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

2008

(3)

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

ANALISIS INDEKS KEBERLANJUTAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI KABUPATEN BOGOR

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Indusri Pertanian

Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh :

SIGIT PRANOTO F34104048

Dilahirkan di Bandung pada tanggal 8 Mei 1986 Tanggal lulus : 15 September 2008

Menyetujui, Bogor, September 2008

Dr. Ir. Hartrisari H., DEA Dosen Pembimbing

(4)

SIGIT PRANOTO. F34104048. Analisis Indeks Keberlanjutan Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Bogor. Di bawah bimbingan Hartisari Hardjomidjojo. 2008.

RINGKASAN

Kabupaten Bogor adalah salah satu kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Jawa Barat (2.301,95 Km2). Kabupaten Bogor memiliki 40 Kecamatan dengan berbagai potensi sumberdaya alam yang ada di dalamnya. Pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kegiatan industri kecil dan menengah (IKM) dalam rangka memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Bogor. Pengelolaan industri kecil dan menengah perlu dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha tersebut. Paradigma pengelolaan pun perlu disesuaikan dengan paradigma pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya semata memperhatikan aspek ekonomi saja, melainkan juga memperhatikan keberlanjutan pada aspek ekologi, sosial, teknologi serta kemitraan.

Analisis keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah dilakukan menggunakan teknik Rapid Appraisal Analysis (RAP). Secara umum, metode analisis RAP akan dimulai dengan mengidentifikasi atribut-atribut dan mendefinisikan sumberdaya yang akan dianalisis melalui studi literatur dan pengamatan di lapangan. Dalam metode RAP, analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu (1) tahap penentuan atribut dari lima dimensi (ekonomi, ekologi, sosial, teknologi dan kemitraan); (2) tahap penilaian setiap atribut berdasarkan penilaian pakar atas kriteria keberlanjutan untuk setiap dimensi; (3) tahap analisis ordinasi indeks keberlanjutan dilakukan dengan metode multi variabel non parametrik; (4) analisis leverage untuk menentukan aspek anomali dari atribut yang dianalisis (Mersyah, 2004).

Hasil analisis RAP menggambarkan kondisi faktual mengenai keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor. Dimensi dengan nilai indeks keberlanjutan terbaik adalah dimensi sosial dengan skor 78,71. Berdasarkan nilai tersebut, dimensi sosial dapat dikatakan sebagai dimensi yang sustainable dengan status keberlanjutan yang dapat dikategorikan “baik” (75,00-100). Keberadaan industri kecil dan menengah di tengah masyarakat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat dengan menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar, sehingga tercipta pola hubungan yang saling menguntungkan antara industri dan masyarakat sekitarnya.

Nilai indeks keberlanjutan di peringkat selanjutnya adalah dimensi kemitraan, ekologi serta ekonomi dengan nilai indeks berturut-turut 73,33; 61,98 dan 58,36. ketiga dimensi ini memiliki status yang sustainable dengan kategori “cukup” (50,00-74,99). Pada dimensi kemitraan, adanya kemitraan antara para pengusaha industri kecil dan menengah dengan para pemasok bahan baku dan investor telah mempermudah berjalannya proses produksi serta proses penyediaan modal. Kerjasama dengan industri lain pun (lintas sektor) telah dilakukan untuk mempermudah berjalannya kegiatan perusahaan.

(5)

Pada dimensi ekonomi, indeks keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah memiliki status yang sustainable meskipun hanya sedikit lebih tinggi dari batas indeks sutainabilitas 50%. Rendahnya nilai keberlanjutan ini disebabkan oleh manajemen perusahaan yang masih bersifat tradisional, keterbatasan pasar produk, tidak adanya analisis kelayakan usaha serta harga produk yang kurang prospektif.

Dimensi terakhir yang memiliki nilai keberlanjutan terendah adalah dimensi teknologi (27,18). Dimensi ini menjadi satu-satunya dimensi yang memiliki status kurang berkelanjutan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor masih menerapkan teknologi sederhana yang berimplikasi pada rendahnya efisiensi kinerja. Status kurang berkelanjutan ini juga didukung oleh tidak adanya penerapan sertifikasi dan standarisasi produk, ketidaktersediaan teknologi informasi serta teknologi pengolahan yang masih rendah. Analisis leverage untuk atribut pada dimensi teknologi memperlihatkan bahwa atribut yang sensitif dalam mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan dimensi ini adalah atribut efisiensi kinerja IKM, penerapan sertifikasi produk serta penerapan teknologi informasi di industri. Oleh karena itu, untuk tercapainya pembangunan industri kecil menengah yang berkelanjutan, maka perlu dilakukan perbaikan pada dimensi teknologi, terutama pada aspek efisiensi kinerja industri, penerapan sertifikasi produk serta peningkatan pada aspek teknologi informasi.

(6)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kabupaten Bogor sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota Indonesia mempunyai peran yang strategis sebagai daerah penyangga bagi Jakarta, seperti tumbuhnya daerah pemukiman baru sebagai tempat tinggal permanen bagi masyarakat yang bekerja di ibu kota. Kondisi ini memiliki dampak positif dalam mengurangi kepadatan penduduk ibu kota. Bersamaan dengan itu tumbuh kegiatan-kegiatan usaha yang tidak memerlukan modal besar dan keterampilan tinggi, seperti kerajinan, perbengkelan serta perdagangan yang semuanya tergolong home industry. Hal ini membantu proses peningkatan kualitas perekonomian warga di Kabupaten Bogor.

Kabupaten Bogor memiliki potensi untuk pengembangan industri kecil dan menengah, terutama dalam bidang agro (makanan dan minuman) dan hasil hutan. Data kuantitatif dari Badan Pusat Stasistik (2006) memberikan gambaran bahwa kemampuan penyerapan tenaga kerja pada industri kecil dan menengah memiliki jumlah lebih besar jika dibandingkan dengan industri besar.

Kabupaten Bogor memiliki potensi pengembangan industri kecil dan menengah yang baik. Pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kegiatan industri kecil dan menengah telah dilakukan dengan optimal. Saat ini, pemanfaatan sumberdaya alam melalui kegiatan ekonomi industri kecil dan menengah memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Bogor.

Pada beberapa daerah Kabupaten dan kota di Jawa Barat, pemanfaatan sumberdaya alam secara tepat dan optimal dapat meningkatkan pendapatan daerah, namun di lain pihak, penyimpangan pengelolaan pun kerap terjadi. Target untuk memenuhi pendapatan daerah kerap memicu terjadinya eksplorasi sumberdaya alam yang berlebihan dan tanpa kontrol. Hal tersebut menjadi permasalahan baru yang dihadapi pemerintah. Pengurasan sumberdaya alam yang diikuti oleh kerusakan alam bertentangan dengan konsep pembangunan berkelanjutan dan akan menjadi penghambat dalam proses pembangunan jangka panjang, karena sumberdaya alam merupakan modal pembangunan yang harus

(7)

Dalam proses pembangunan jangka panjang, sumberdaya alam perlu dikelola dengan baik sehingga tidak hanya digunakan oleh generasi masa kini, namun juga oleh generasi yang akan datang. Dalam rangka mewujudkan konsep tersebut, maka diperlukan paradigma pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kecukupan kebutuhan generasi mendatang (Marten, 2001). Salim (2004) menyatakan bahwa prasyarat bagi tercapainya pembangunan berkelanjutan adalah bahwa setiap proses pembangunan mencakup tiga aspek utama yaitu ekologi, ekonomi dan sosial. Tiga aspek tersebut dalam pembangunan harus berada dalam sebuah keseimbangan tanpa saling mendominasi.

Konsep pembangunan berkelanjutan ini mulai dikenal pada tahun 1987 dengan dipublikasikannya sebuah laporan dari World Commission on

Environment and Development. Laporan ini mengungkapkan sebuah kebutuhan

akan konsep pembangunan yang berkelanjutan dimana faktor utamanya adalah “pembangunan untuk memenuhi kebutuhan umat manusia saat ini, tanpa menurunkan atau menghancurkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya”. Lima tahun kemudian, konsep pembangunan berkelanjutan dipromosikan dalam Konferensi Dunia Rio de Janeiro pada tahun 1992. Earth Summit yang dilaksanakan oleh United Nations Conference on

Environment and Development (UNCED) ini memuat pembahasan Agenda 21

dengan mempromosikan program Sustainable Agricultural and Rural

Development (SARD). SARD membawa sebuah pesan kepada dunia bahwa “without better environmental stewardship, development will be undermined”.

Beberapa agenda penting yang termasuk dalam pembahasan pada konferensi tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Menjaga kontinuitas produksi dan keuntungan usaha di bidang pertanian dalam arti yang luas (pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan) untuk jangka panjang, bagi kelangsungan kehidupan manusia.

2. Melakukan perawatan dan peningkatan sumber daya alam yang berbasis pertanian.

(8)

3. Meminimalkan dampak negatif aktivitas usaha pertanian yang dapat merugikan bagi kesuburan lahan dan kesehatan manusia.

4. Mewujudkan keadilan sosial antardesa dan antar sektor dengan pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan.

(Salikin, 2003)

Konferensi ini telah mengubah paradigma pembangunan di sebagian besar negara di dunia. Konsep pembangunan dalam sustainable development didasarkan atas keberlanjutan pembangunan dalam lima dimensi, yaitu dimensi ekonomi, dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi teknologi dan kelembagaan (Marhayudi, 2006).

Konsep pembangunan yang berkelanjutan, diharapkan dapat diterapkan untuk pengelolaan industri kecil dan menengah. Analisis indeks keberlanjutan terhadap industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor dilakukan untuk mengetahui secara umum kondisi faktual pengelolaan IKM di daerah tersebut. Analisis ini akan memberikan gambaran mengenai kondisi keberlanjutan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor saat ini. Hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi pengambilan keputusan dan penentuan prioritas kebijakan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor.

B. Tujuan

Penelitian ini dilakukan untuk menilai aspek keberlanjutan dalam pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor melalui penilaian terhadap dimensi ekonomi, dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi kemitraan dan dimensi teknologi.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah :

(9)

Agroindustri di Kabupaten Bogor mencakup industri dalam bidang agro dan hasil hutan.

2. Aspek yang dikaji disesuaikan dengan konsep pembangunan berkelanjutan, dan terdiri dari lima dimensi, yaitu dimensi ekonomi, dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi teknologi serta dimensi kemitraan.

(10)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Industri Kecil dan Menengah

Industri adalah kegiatan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi yang lebih tinggi nilainya (Rhodant,1983). Winardi (1994) mendefinisikan industri kecil sebagai usaha produktif, terutama dalam bidang produksi atau bidang jasa-jasa misalnya transportasi, atau jasa perhubungan yang menggunakan modal dan tenaga kerja dalam jumlah yang relatif kecil. Batasan normatif menurut SK. Menperindag Nomor 254 Tahun 1997, industri kecil diartikan sebagai suatu kegiatan usaha industri yang memiliki nilai investasi sampai dengan 200 juta rupiah, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.

Industri Kecil Menengah (IKM) adalah suatu kegiatan usaha industri yang memiliki asset sampai dengan 5 miliar rupiah di luar tanah dan bangunan serta beromzet sampai dengan 25 miliar rupiah per tahun (Mayer, 1986). Menurut Deperindag bersama dengan Badan Pusat Statistik (2002) industri kecil dan menengah adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan yang bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial, dengan kekayaan bersih paling banyak 200 juta rupiah dan mempunyai nilai penjualan pertahun sebesar 1 miliar rupiah atau kurang.

Berdasarkan definisi yang digunakan pada data BPS Kabupaten Bogor tahun 2006 (Kabupaten Bogor dalam Angka), pada sektor industri di Kabupaten Bogor, kegiatan industri digolongkan pada tiga kelompok yaitu industri besar, industri kecil dan industri menengah. Industri besar adalah industri memiliki jumlah tenaga kerja di atas 99 orang, sedangkan industri menengah yang memiliki jumlah tenaga kerja antara 20–99 orang dan industri kecil yang memiliki jumlah tenaga kerja 5-19 orang.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis ordinasi RAP-FISH dengan metode MDS dalam kajian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu (1) penentuan atribut, (2) penilaian atribut dalam skala

Hasil analisis data, dimensi ekologi, biologi, ekonomi, sosial dan teknologi merupakan lima komponen dasar yang menjadi acuan tingkat keberlanjutan pengelolaan

Berdasarkan hasil analisis leverage sebagaimana ditampilkan pada Gambar 46, ada empat atribut yang paling sensitif mempengaruhi besarnya nilai indeks keberlanjutan dimensi ekologi

Kesimpulan dari penelitian ini, yaitu (a) indikator keberlanjutan usahatani dikelompokkan ke dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan yang terdiri dari 60

Hasil analisis data, dimensi ekologi, biologi, ekonomi, sosial dan teknologi merupakan lima komponen dasar yang menjadi acuan tingkat keberlanjutan pengelolaan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis status keberlanjutan wilayah pesisir dengan lima dimensi keberlanjutan yaitu dimensi ekologi, dimensi ekonomi, dimensi

Dari hasil analisis laverage keberlanjutan dimensi ekologi pada Gambar 1 dapat diketahui bahwa dari delapan atribut yang dianalisis, ada lima atribut yang sensitif mempengaruhi sistem

Penilaian terhadap status keberlanjutan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor dilakukan dengan menggunakan metode Rapid Appraisal Analysis. Metode Rapid