ANALISIS INDEKS KEBERLANJUTAN INDUSTRI KECIL
DAN MENENGAH DI KABUPATEN BOGOR
Oleh :
Sigit Pranoto F34104048
2008
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
ANALISIS INDEKS KEBERLANJUTAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI KABUPATEN BOGOR
Oleh :
Sigit Pranoto F34104048
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Indusri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
2008
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
ANALISIS INDEKS KEBERLANJUTAN INDUSTRI KECIL DAN MENENGAH DI KABUPATEN BOGOR
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Indusri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh :
SIGIT PRANOTO F34104048
Dilahirkan di Bandung pada tanggal 8 Mei 1986 Tanggal lulus : 15 September 2008
Menyetujui, Bogor, September 2008
Dr. Ir. Hartrisari H., DEA
SIGIT PRANOTO. F34104048. Analisis Indeks Keberlanjutan Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Bogor. Di bawah bimbingan Hartisari Hardjomidjojo. 2008.
RINGKASAN
Kabupaten Bogor adalah salah satu kabupaten dengan wilayah terluas di Provinsi Jawa Barat (2.301,95 Km2). Kabupaten Bogor memiliki 40 Kecamatan dengan berbagai potensi sumberdaya alam yang ada di dalamnya. Pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kegiatan industri kecil dan menengah (IKM) dalam rangka memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Bogor. Pengelolaan industri kecil dan menengah perlu dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha tersebut. Paradigma pengelolaan pun perlu disesuaikan dengan paradigma pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya semata memperhatikan aspek ekonomi saja, melainkan juga memperhatikan keberlanjutan pada aspek ekologi, sosial, teknologi serta kemitraan.
Analisis keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah dilakukan menggunakan teknik Rapid Appraisal Analysis (RAP). Secara umum, metode analisis RAP akan dimulai dengan mengidentifikasi atribut-atribut dan mendefinisikan sumberdaya yang akan dianalisis melalui studi literatur dan pengamatan di lapangan. Dalam metode RAP, analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu (1) tahap penentuan atribut dari lima dimensi (ekonomi, ekologi, sosial, teknologi dan kemitraan); (2) tahap penilaian setiap atribut berdasarkan penilaian pakar atas kriteria keberlanjutan untuk setiap dimensi; (3) tahap analisis ordinasi indeks keberlanjutan dilakukan dengan metode multi variabel non parametrik; (4) analisis leverage untuk menentukan aspek anomali dari atribut yang dianalisis (Mersyah, 2004).
Hasil analisis RAP menggambarkan kondisi faktual mengenai keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor. Dimensi dengan nilai indeks keberlanjutan terbaik adalah dimensi sosial dengan skor 78,71. Berdasarkan nilai tersebut, dimensi sosial dapat dikatakan sebagai dimensi yang sustainable dengan status keberlanjutan yang dapat dikategorikan “baik” (75,00-100). Keberadaan industri kecil dan menengah di tengah masyarakat menjadi sarana pemberdayaan masyarakat dengan menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar, sehingga tercipta pola hubungan yang saling menguntungkan antara industri dan masyarakat sekitarnya.
Nilai indeks keberlanjutan di peringkat selanjutnya adalah dimensi kemitraan, ekologi serta ekonomi dengan nilai indeks berturut-turut 73,33; 61,98 dan 58,36. ketiga dimensi ini memiliki status yang sustainable dengan kategori “cukup” (50,00-74,99). Pada dimensi kemitraan, adanya kemitraan antara para pengusaha industri kecil dan menengah dengan para pemasok bahan baku dan investor telah mempermudah berjalannya proses produksi serta proses penyediaan modal. Kerjasama dengan industri lain pun (lintas sektor) telah dilakukan untuk mempermudah berjalannya kegiatan perusahaan.
Pada dimensi ekologi, kondisi saat ini menunjukkan bahwa industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor memiliki status yang sustainable. Dari sisi pasokan bahan baku, eksistensi industri kecil dan menengah masih dapat bertahan karena ketersediaan bahan baku di alam masih relatif tinggi.
Pada dimensi ekonomi, indeks keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah memiliki status yang sustainable meskipun hanya sedikit lebih tinggi dari batas indeks sutainabilitas 50%. Rendahnya nilai keberlanjutan ini disebabkan oleh manajemen perusahaan yang masih bersifat tradisional, keterbatasan pasar produk, tidak adanya analisis kelayakan usaha serta harga produk yang kurang prospektif.
Dimensi terakhir yang memiliki nilai keberlanjutan terendah adalah dimensi teknologi (27,18). Dimensi ini menjadi satu-satunya dimensi yang memiliki status kurang berkelanjutan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor masih menerapkan teknologi sederhana yang berimplikasi pada rendahnya efisiensi kinerja. Status kurang berkelanjutan ini juga didukung oleh tidak adanya penerapan sertifikasi dan standarisasi produk, ketidaktersediaan teknologi informasi serta teknologi pengolahan yang masih rendah. Analisis leverage untuk atribut pada dimensi teknologi memperlihatkan bahwa atribut yang sensitif dalam mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan dimensi ini adalah atribut efisiensi kinerja IKM, penerapan sertifikasi produk serta penerapan teknologi informasi di industri. Oleh karena itu, untuk tercapainya pembangunan industri kecil menengah yang berkelanjutan, maka perlu dilakukan perbaikan pada dimensi teknologi, terutama pada aspek efisiensi kinerja industri, penerapan sertifikasi produk serta peningkatan pada aspek teknologi informasi.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kabupaten Bogor sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota Indonesia mempunyai peran yang strategis sebagai daerah penyangga bagi Jakarta, seperti tumbuhnya daerah pemukiman baru sebagai tempat tinggal permanen bagi masyarakat yang bekerja di ibu kota. Kondisi ini memiliki dampak positif dalam mengurangi kepadatan penduduk ibu kota. Bersamaan dengan itu tumbuh kegiatan-kegiatan usaha yang tidak memerlukan modal besar dan keterampilan tinggi, seperti kerajinan, perbengkelan serta perdagangan yang semuanya tergolong home industry. Hal ini membantu proses peningkatan kualitas perekonomian warga di Kabupaten Bogor.
Kabupaten Bogor memiliki potensi untuk pengembangan industri kecil dan menengah, terutama dalam bidang agro (makanan dan minuman) dan hasil hutan. Data kuantitatif dari Badan Pusat Stasistik (2006) memberikan gambaran bahwa kemampuan penyerapan tenaga kerja pada industri kecil dan menengah memiliki jumlah lebih besar jika dibandingkan dengan industri besar.
Kabupaten Bogor memiliki potensi pengembangan industri kecil dan menengah yang baik. Pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kegiatan industri kecil dan menengah telah dilakukan dengan optimal. Saat ini, pemanfaatan sumberdaya alam melalui kegiatan ekonomi industri kecil dan menengah memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Bogor.
Pada beberapa daerah Kabupaten dan kota di Jawa Barat, pemanfaatan sumberdaya alam secara tepat dan optimal dapat meningkatkan pendapatan daerah, namun di lain pihak, penyimpangan pengelolaan pun kerap terjadi. Target untuk memenuhi pendapatan daerah kerap memicu terjadinya eksplorasi sumberdaya alam yang berlebihan dan tanpa kontrol. Hal tersebut menjadi permasalahan baru yang dihadapi pemerintah. Pengurasan sumberdaya alam yang diikuti oleh kerusakan alam bertentangan dengan konsep pembangunan berkelanjutan dan akan menjadi penghambat dalam proses pembangunan jangka panjang, karena sumberdaya alam merupakan modal pembangunan yang harus dikelola sejalan dengan program pembangunan (Salikin, 2003).
Dalam proses pembangunan jangka panjang, sumberdaya alam perlu dikelola dengan baik sehingga tidak hanya digunakan oleh generasi masa kini, namun juga oleh generasi yang akan datang. Dalam rangka mewujudkan konsep tersebut, maka diperlukan paradigma pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kecukupan kebutuhan generasi mendatang (Marten, 2001). Salim (2004) menyatakan bahwa prasyarat bagi tercapainya pembangunan berkelanjutan adalah bahwa setiap proses pembangunan mencakup tiga aspek utama yaitu ekologi, ekonomi dan sosial. Tiga aspek tersebut dalam pembangunan harus berada dalam sebuah keseimbangan tanpa saling mendominasi.
Konsep pembangunan berkelanjutan ini mulai dikenal pada tahun 1987 dengan dipublikasikannya sebuah laporan dari World Commission on Environment and Development. Laporan ini mengungkapkan sebuah kebutuhan akan konsep pembangunan yang berkelanjutan dimana faktor utamanya adalah “pembangunan untuk memenuhi kebutuhan umat manusia saat ini, tanpa menurunkan atau menghancurkan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya”. Lima tahun kemudian, konsep pembangunan berkelanjutan dipromosikan dalam Konferensi Dunia Rio de Janeiro pada tahun 1992. Earth Summit yang dilaksanakan oleh United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) ini memuat pembahasan Agenda 21 dengan mempromosikan program Sustainable Agricultural and Rural Development (SARD). SARD membawa sebuah pesan kepada dunia bahwa “without better environmental stewardship, development will be undermined”. Beberapa agenda penting yang termasuk dalam pembahasan pada konferensi tersebut antara lain sebagai berikut :
1. Menjaga kontinuitas produksi dan keuntungan usaha di bidang pertanian dalam arti yang luas (pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan) untuk jangka panjang, bagi kelangsungan kehidupan manusia.
2. Melakukan perawatan dan peningkatan sumber daya alam yang berbasis pertanian.
3. Meminimalkan dampak negatif aktivitas usaha pertanian yang dapat merugikan bagi kesuburan lahan dan kesehatan manusia.
4. Mewujudkan keadilan sosial antardesa dan antar sektor dengan pendekatan pembangunan pertanian berkelanjutan.
(Salikin, 2003)
Konferensi ini telah mengubah paradigma pembangunan di sebagian besar negara di dunia. Konsep pembangunan dalam sustainable development didasarkan atas keberlanjutan pembangunan dalam lima dimensi, yaitu dimensi ekonomi, dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi teknologi dan kelembagaan (Marhayudi, 2006).
Konsep pembangunan yang berkelanjutan, diharapkan dapat diterapkan untuk pengelolaan industri kecil dan menengah. Analisis indeks keberlanjutan terhadap industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor dilakukan untuk mengetahui secara umum kondisi faktual pengelolaan IKM di daerah tersebut. Analisis ini akan memberikan gambaran mengenai kondisi keberlanjutan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor saat ini. Hasil analisis ini diharapkan dapat menjadi salah satu pertimbangan bagi pengambilan keputusan dan penentuan prioritas kebijakan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor.
B. Tujuan
Penelitian ini dilakukan untuk menilai aspek keberlanjutan dalam pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor melalui penilaian terhadap dimensi ekonomi, dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi kemitraan dan dimensi teknologi.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah :
1. Jenis industri kecil dan menengah yang dikaji adalah agroindustri. Menurut Austin (1992), agroindustri yaitu suatu perusahaan yang mengolah bahan baku yang berasal dari tanaman atau hewan.
Agroindustri di Kabupaten Bogor mencakup industri dalam bidang agro dan hasil hutan.
2. Aspek yang dikaji disesuaikan dengan konsep pembangunan berkelanjutan, dan terdiri dari lima dimensi, yaitu dimensi ekonomi, dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi teknologi serta dimensi kemitraan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Kecil dan Menengah
Industri adalah kegiatan untuk mengubah bahan baku menjadi barang jadi yang lebih tinggi nilainya (Rhodant,1983). Winardi (1994) mendefinisikan industri kecil sebagai usaha produktif, terutama dalam bidang produksi atau bidang jasa-jasa misalnya transportasi, atau jasa perhubungan yang menggunakan modal dan tenaga kerja dalam jumlah yang relatif kecil. Batasan normatif menurut SK. Menperindag Nomor 254 Tahun 1997, industri kecil diartikan sebagai suatu kegiatan usaha industri yang memiliki nilai investasi sampai dengan 200 juta rupiah, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha.
Industri Kecil Menengah (IKM) adalah suatu kegiatan usaha industri yang memiliki asset sampai dengan 5 miliar rupiah di luar tanah dan bangunan serta beromzet sampai dengan 25 miliar rupiah per tahun (Mayer, 1986). Menurut Deperindag bersama dengan Badan Pusat Statistik (2002) industri kecil dan menengah adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan yang bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial, dengan kekayaan bersih paling banyak 200 juta rupiah dan mempunyai nilai penjualan pertahun sebesar 1 miliar rupiah atau kurang.
Berdasarkan definisi yang digunakan pada data BPS Kabupaten Bogor tahun 2006 (Kabupaten Bogor dalam Angka), pada sektor industri di Kabupaten Bogor, kegiatan industri digolongkan pada tiga kelompok yaitu industri besar, industri kecil dan industri menengah. Industri besar adalah industri memiliki jumlah tenaga kerja di atas 99 orang, sedangkan industri menengah yang memiliki jumlah tenaga kerja antara 20–99 orang dan industri kecil yang memiliki jumlah tenaga kerja 5-19 orang.
B. Pembangunan Berkelanjutan
Konsep pembangunan berkelanjutan sudah menjadi konsep pembangunan yang diterima oleh seluruh negara di dunia. Menurut Munasinghe (1993), pembangunan berkelanjutan dilambangkan dengan keseimbangan pembangunan
dalam tiga dimensi, yaitu : ekonomi, ekologi dan sosial. Pembangunan dikatakan berkelanjutan jika memenuhi ketiga dimensi tersebut, yaitu : secara ekonomi layak dan efisien, secara ekologi lestari (ramah lingkungan) dan secara sosial berkeadilan. Makna dari pembangunan berkelanjutan dari dimensi ekologi memberikan penekanan pada pentingnya menjamin dan meneruskan kepada generasi mendatang sejumlah kuantitas modal alam yang dapat menyediakan suatu hasil berkelanjutan secara ekonomis dan jasa lingkungan termasuk keindahan alam. Jadi tujuan pembangunan ekonomi dan sosial harus diupayakan dengan keberlanjutan.
Bond et al. (2001) menyatakan bahwa istilah keberlanjutan didefinisikan sebagai pembangunan dari kesepakatan multidimensional untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik untuk semua orang. Marten (2001) memberikan sebuah pemahaman mengenai pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan dapat didefinisikan sebagai pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kecukupan kebutuhan generasi mendatang. Salim (2004) menyatakan bahwa prasyarat bagi tercapainya pembangunan berkelanjutan adalah bahwasannya setiap proses pembangunan mencakup tiga aspek utama, yaitu ekologi, ekonomi dan sosial. Tiga aspek utama tersebut dalam pembangunan harus berada pada sebuah keseimbangan tanpa saling mendominasi.
Pemahaman lain mengenai konsep keberlanjutan dikemukakan oleh Roderic et all. (1997), bahwa berkelanjutan memerlukan pengelolaan tentang skala keberlanjutan ekonomi terhadap dukungan sistem ekologi, pembagian distribusi sumber daya dan kesempatan antara generasi sekarang dan yang akan datang secara berimbang serta adil dan efisien dalam pengalokasian sumber daya.
Menurut Mitchell (1997), ada dua prinsip keberlanjutan yaitu :
a) Prinsip ekologi : pertama melindungi sistem penunjang kehidupan, kedua, memelihara integritas ekosistem dan, ketiga, mengembangkan dan menerapkan strategi preventif dan adaptif untuk menghadapi ancaman perubahan lingkungan global.
b) Prinsip sosial politik : pertama, mempertahankan skala fisik dari kegiatan manusia dibawah daya dukung atmosfer, kedua, mengenali biaya lingkungan dari kegiatan manusia dan, ketiga, meyakinkan
adanya kesamaan sosial, politik dan ekonomi dalam transisi menuju masyarakat berkelanjutan.
Konsep pembangunan berkelanjutan adalah konsep kegamangan terhadap pola pembangunan industri yang memuja efisiensi dan pengembangan besar-besaran modal, tanpa memperhitungkan atau hanya sedikit sekali mempertimbangkan kerusakan alam (Setiadi, 2004).
Fauzi dan Anna (2005) menyatakan bahwa konsep pembangunan sumber daya yang berkelanjutan mengandung aspek :
a. Keberlanjutan dimensi ekologi, dalam pandangan ini pemanfaatan sumber daya hendaknya tidak melewati batas daya dukungnya. Peningkatan kapasitas dan kualitas ekosistem menjadi hal yang utama. b. Keberlanjutan dimensi sosial ekonomi. Konsep ini mengandung makna
bahwa pembangunan perlu memperhatikan keberlanjutan dari kesejahteraan pemanfaatan sumber daya pada tingkat individu.
c. Keberlanjutan dimensi teknologi, mengandung makna bahwa keberlanjutan pembangunan sumber daya perlu ditunjang dengan penggunaan teknologi yang memadai.
d. Keberlanjutan dimensi kemitraan, mengandung makna bahwa keberlanjutan dalam aspek kerjasama antar kelembagaan perlu menjadi perhatian dalam pembangunan dan pengembangan sumber daya alam yang berkelanjutan.
C. Rapid Appraisal Analysis dalam Analisis Indeks Keberlanjutan Pengelolaan Industri Kecil dan Menengah
Rapid Appraisal (RAP) adalah suatu metode multidisiplin untuk mengevaluasi comparative sustainability berdasarkan sejumlah indikator yang mudah untuk di skoring. Rapid appraisal analysis, adalah metode yang dikembangkan oleh University of British Columbia Canada untuk sumberdaya perikanan, untuk mengevaluasi keberlanjutan sumberdaya perikanan secara multidisipliner yang dikenal dengan nama RAPFISH (The Rapid Appraisal of the Status of Fisheries).. Metode ini relatif sederhana dan fleksibel yang menampung kreativitas dalam pendekatannya terhadap suatu masalah. Metode ini memasukkan
pertimbangan-pertimbangan melalui penentuan atribut yang akhirnya menghasilkan suatu skala prioritas (Fauzi dan Anna, 2005). Menurut Susilo (2003), atribut-atribut pembangunan berkelanjutan dari setiap dimensi tersebut dapat dianalisis dan digunakan untuk menilai secara cepat status keberlanjutan pembangunan sektor tertentu dengan menggunakan metode multi variabel yang disebut multidimensional scaling (MDS).
Dalam rapid appraisal analysis, sumberdaya dapat saja didefinisikan sebagai suatu entitas dalam lingkup yang luas, atau dalam lingkup yang sempit. Sejumlah atribut sumberdaya dapat dibandingkan, atau bahkan trajektori waktu dari individual sumberdaya dapat di plot. Atribut dari setiap dimensi yang akan dievaluasi dapat dipilih untuk merefleksikan keberlanjutan, serta dapat diperbaiki atau dapat diganti ketika informasi terbaru diperoleh. (Fauzi dan Anna, 2005)
Secara umum, metode analisis RAP akan dimulai dengan mengidentifikasi atribut-atribut dan mendefinisikan sumberdaya yang akan dianalisis melalui studi literatur dan pengamatan di lapangan. Tahap selanjutnya adalah pemberian skor yang didasarkan pada ketentuan yang sudah diterapkan dalam analisis RAP. Setelah didapatkan hasil skoring, maka setiap atribut dianalisis dengan menggunakan MDS guna menentukan posisi relatif dari sumberdaya terhadap ordinasi good dan bad (Marhayudi, 2006).
Dalam Rapid Apraisal Analysis, analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu (1) tahap penentuan atribut deskriptor yang mencakup lima dimensi (ekonomi, ekologi, sosial, teknologi dan kemitraan); (2) tahap penilaian setiap atribut dalam skala ordinal berdasarkan kriteria keberlanjutan setiap dimensi; (3) tahap analisis ordinasi indeks keberlanjutan dilakukan dengan metode multi variabel non parametrik. Selanjutnya analisis monte carlo untuk mengukur sensitivitas yang telah dipadukan menjadi satu dalam perangkat lunak tersebut, serta analisis leverage untuk menentukan aspek anomali dari atribut yang dianalisis (Fauzi dan Anna, 2005).
Fauzi dan Anna (2005) menyatakan bahwa prosedur RAP indeks status keberlanjutan sumberdaya dilakukan melalui lima tahapan yaitu,
1. Analisis terhadap data sektor yang diteliti melalui data statistik dan studi literatur serta pengamatan lapangan,
2. melakukan skoring dengan mengacu pada literatur dengan menggunakan Excell,
3. Melakukan analisis MDS dengan software SPSS untuk menentukan ordinasi dan nilai “stress” melalui ALSCAL Algoritma,
4. Menentukan posisi sumberdaya pada ordinasi bad dan good dengan Excell dan Visual Basic,
5. Melakukan sensitivity analysis (leverage analysis) dan monte carlo analysis untuk memperhitungkan aspek ketidakpastian.
Hasil proses analisis dengan metode RAP akan ditampilkan dalam sebuah diagram layang. Diagram layang ini menampilkan nilai keberlanjutan setiap aspek yang dinilai.
Berdasarkan penggunaan rapid appraisal analysis yang mencakup aspek dimensi ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan kemitraan, akan diperoleh gambaran yang jelas dan komprehensif mengenai kondisi sumberdaya di wilayah penelitian, sehingga akhirnya dapat dijadikan bahan untuk menentukan kebijakan yang tepat untuk mencapai pembangunan industri kecil dan menengah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Skala indeks keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah mempunyai rentang 0%-100%. Jika dimensi yang dinilai memiliki nilai indeks lebih dari 50%, maka dimensi tersebut dikategorikan sustainable, dan sebaliknya, jika nilainya kurang dari 50%, maka dimensi tersebut digolongkan belum
sustainable (Marhayudi, 2006). Dalam penelitian ini disusun empat kategori status keberlanjutan berdasarkan skala dasar (0-100) sebagaimana disajikan pada tabel berikut.
Tabel 1 . Kategori status keberlanjutan pengelolaan industri kecil menengah
Nilai Indeks Kategori
0-24,99 Buruk
25-49,99 Kurang
50-74,99 Cukup
75-100 Baik
BAB III METODOLOGI A. Kerangka Pemikiran
Kabupaten Bogor memiliki potensi wilayah yang luas, mencakup 40 kecamatan dengan luas wilayah 2.301,95 Km2. Dengan luas wilayah yang relatif luas, Kabupaten Bogor memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat beragam. Kawasan puncak, taman buah dan taman safari misalnya, merupakan bagian wilayah Bogor dalam pengembangan potensi pariwisata. Beberapa daerah lainnya memiliki industri khusus yang menjadi ciri khas kecamatannya. Cibinong dan sekitarnya, terkenal memiliki kerajinan khas meubel bambu, sedangkan kecamatan Dramaga cukup popular dengan kerajinan manisan pala, serta potensi-potensi lainnya di kecamatan lain (Kabupaten Bogor dalam Angka, 2006).
Potensi setiap daerah di Kabupaten Bogor dapat dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas hidup penduduknya. Potensi alam yang melimpah merupakan asset pembangunan daerah, namun jika tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan ketidakberlanjutan proses pembangunan. Untuk itu, diperlukan perubahan paradigma dalam pengelolaan sumberdaya alam. Pengelolaan sumberdaya alam dalam kegiatan industri kecil dan menengah perlu didasarkan pada konsep pembangunan berkelanjutan, dimana keberlanjutan tidak hanya dinilai dengan keuntungan secara ekonomi semata. Kegiatan industri kecil dan menengah juga perlu dirancang agar secara ekologi ramah lingkungan dan berkelanjutan dari aspek sosial, teknologi serta kemitraan.
Penelitian ini dilakukan untuk menilai status keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor, melalui penilaian terhadap dimensi ekonomi, dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi teknologi serta dimensi kemitraan.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Maret sampai dengan Juli 2008 di wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Studi pustaka tentang kondisi umum perindustrian Kabupaten Bogor yang berkaitan dengan aspek ekonomi, ekologi serta sosial. Data yang diperoleh digolongkan sebagai data sekunder. Pengertian data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan kepada masyarakat pengguna (Kuncoro, 2003). Data sekunder diperlukan sebagai pendukung data primer hasil survei lapangan. Data sekunder bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan lembaga pemerintahan.
2. Survei lapangan untuk mengumpulkan data primer dengan penyebaran kuisioner kepada responden dibantu dengan proses wawancara. Data primer dapat didefinisikan sebagai data yang dikumpulkan dari sumber-sumber asli (Kuncoro, 2003). Pengumpulan data primer dilakukan melalui survei lapangan dan wawancara. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling (Sekaran, 2003). Berdasarkan metode tersebut, kemudian dilakukan wawancara terhadap pemilik atau pengelola industri kecil dan menengah yang terpilih menjadi responden. Wawancara didasarkan pada kuesioner atau daftar pertanyaan yang telah disiapkan. Survei lapangan dilakukan dengan memberikan kuisioner kepada 33 industri kecil dan menengah. Jumlah tersebut adalah sejumlah 10 % dari keseluruhan jumlah sentra industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor.
D. Atribut Keberlanjutan IKM
Atribut keberlanjutan IKM berdasarkan lima dimensi dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Dimensi dan Atribut Indeks Keberlanjutan
DIMENSI DAN ATRIBUT
Skor Satuan Baik Buruk Keterangan
DIMENSI EKONOMI Tingkat pengembalian investasi 0;1;2 ordinal 2 0 (0) rendah, (1) sedang; (2) tinggi Kontribusi terhadap PAD 0;1;2 ordinal 2 0 (0) rendah, (1) sedang; (2) tinggi Pasar produk 0;1;2 ordinal 2 0 (0) lokal,
(1) nasional; (2) internasional Ketergantungan konsumen 0;1;2 ordinal 2 0 (0) rendah, (1) sedang; (2) tinggi Harga komoditi 0;1;2 ordinal 2 0 (0) rendah,
(1) sedang; (2) tinggi Kelayakan usaha 0;1;2;3 ordinal 3 0 (0) rugi; (1) kembali modal; (2) keuntungan marjinal; (3) untung besar Pendapatan masyarakat sekitar 0;1;2 ordinal 2 0 (0) rendah, (1) sedang; (2) tinggi DIMENSI EKOLOGI Pengolahan limbah
0;1 ordinal 1 0 (0) tidak dilakukan; (1) dilakukan Pembuangan
limbah
0;1 ordinal 1 0 (0) di buang langsung ke perairan;
(1) disalurkan ke tempat khusus
Pengaruh thd lingkungan
0;1;2 ordinal 2 0 (0) terjadi pencemaran berat; (1) pencemaran ringan; (2) tidak mencemari Ketersediaan bahan baku 0;1;2 ordinal 2 0 (0) rendah, (1) sedang; (2) tinggi DIMENSI SOSIAL Penyerapan tenaga kerja 0;1;2 ordinal 2 0 (0) rendah, (1) sedang; (2) tinggi
Hubungan dengan lingkungan
0;1 ordinal 1 0 (0) tidak saling menguntungkan; (1) saling menguntungkan Pendidikan
masyarakat sekitar
0;1;2 ordinal 2 0 (0) di bawah rata-rata Kabupaten,
(1) sama dengan rata-rata Kabupaten;
(2) lebih tinggi dari rata-rata Kabupaten Pemberdayaan
masyarakat
0;1;2;3 ordinal 3 0 (0) tidak ada,
(1) ada, tidak berjalan; (2) kurang optimal; (3) berjalan optimal DIMENSI TEKNOLOGI Tingkat efisiensi 0;1;2 ordinal 2 0 (0) rendah, (1) sedang; (2) tinggi Teknologi informasi
0;1;2;3 ordinal 3 0 (0) tidak ada, (1) cukup tersedia; (2) tersedia memadai; (3) tersedia dengan teknologi tinggi. Teknologi pengolahan 0;1;2 ordinal 2 0 (0) teknologi sederhana, (1) teknologi sedang; (2) teknologi tinggi. Standarisasi mutu
0;1;2 ordinal 2 0 (0) belum diterapkan, (1) diterapkan pada
beberapa produk saja; (2) diterapkan pada semua
jenis produk. Sertifikasi
produk
0;1;2 ordinal 2 0 (0) belum diterapkan, (1) diterapkan pada
beberapa produk saja; (2) diterapkan pada semua
jenis produk.
DIMENSI KEMITRAAN
Kemitraan dengan investor
0;1 ordinal 1 0 (0) tidak ada, (1) ada. Kemitraan
dengan
pemasok bahan
0;1 ordinal 1 0 (0) tidak ada, (1) ada. Kerjasama
dengan distributor
0;1 ordinal 1 0 (0) tidak ada, (1) ada. Kerjasama
lintas sektor
0;1 ordinal 1 0 (0) tidak ada, (1) ada.
E. Metode Analisis Data
Metode analisis keberlanjutan dengan Rapid Apraisal Analysis dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu : 1) penentuan atribut dari setiap dimensi yang mencakup beberapa dimensi yang dianalisis (ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan kemitraan); 2) penilaian atribut dalam skala ordinal berdasarkan kondisi di lapangan dengan bantuan pakar; 3) analisis indeks keberlanjutan dengan menggunakan metode multi variabel non-parametrik yang disebut multidimensional scaling (MDS); 4) menentukan posisi sumberdaya pada good dan bad dengan excell, serta 5) sensitivity analysis dan Monte Carlo Analysis untuk memperhitungkan aspek ketidakpastian (Fauzi dan Anna, 2005).
Pemilihan MDS dalam analisis Rapfish, dilakukan mengingat metode multi-variate analysis yang lain seperti factor analysis dan Multi-Attribute Utility Theory (MAUT), terbukti tidak menghasilkan hasil yang stabil (Pitcher dan Preikshot, 2001).
Gambar 2. Model pelaksanaan analisis Rapfish untuk IKM (Alder, et. al., 2000).
Menurut Fauzi dan Anna (2005), dalam implementasinya, Rapfish menggunakan teknik yang disebut Multi Dimensional Scaling atau MDS. Objek
Mulai
Penentuan atribut sebagai kriteria
penilaian Kondisi pengelolaan
IKM saat ini
Analisis Monte Carlo Analisis Sensitivitas MDS (ordinasi setiap atribut)
Penilaian terhadap atribut
atau titik yang diamati dipetakan ke dalam ruang dua atau tiga dimensi, sehingga objek atau titik tersebut diupayakan sedekat mungkin terhadap titik asal. Dengan kata lain, dua titik atau objek yang sama dipetakan dalam satu titik yang saling berdekatan satu sama lain. Sebaliknya, objek atau titik yang tidak sama digambarkan dengan titik-titik yang berjauhan. Teknik ordinasi (penentuan jarak) di dalam MDS didasarkan pada Euclidian Distance dalam ruang yang berdimensi n dapat ditulis sebagai berikut :
... 2 2 1 2 2 1 2 2 1 x y y z z x d
Konfigurasi atau ordinasi dari suatu objek atau titik di dalam MDS kemudian diaproksimasi dengan meregresikan jarak Euclidian (dij) dari titik i ke j
dengan titik asal (dij) dituliskan dalam persamaan berikut :
dij = a + bdij + e
Umumnya ada tiga teknik yang digunakan untuk meregresikan persamaan di atas yakni metode least square (KRYST), metoda least squared bergantian yang didasarkan pada akar dari Euclidian distance (squared distance) atau disebut metoda ALSCAL, dan metode yang didasarkan Maximum Likelihood. Dari ketiga metode tersebut, Algoritma ALSCAL merupakan metode yang paling sesuai untuk Rapfish dan mudah tersedia pada hampir setiap software statistika (SPSS dan SAS) (Alder et.al, 2000). Fauzi dan Anna (2005), menyatakan bahwa metode ALSCAL mengoptimisasi jarak kuadrat (squared distance = dijk ) terhadap data kuadrat (titik asal = Oijk ), yang dalam tiga dimensi ditulis dalam formula yang disebut S-Stress sebagai berikut :
Dimana jarak kuadrat merupakan jarak Euclidian yang dibobot, atau ditulis :
Perangkat lunak Rapfish adalah merupakan pengembangan MDS yang terdapat dalam perangkat lunak SPSS, untuk proses rotasi, kebalikan posisi, dan beberapa analisis sensitivitas yang telah dipadukan menjadi satu perangkat lunak.
F. Interpretasi Data
Hasil pengolahan data berbentuk grafik dan diagram layang. Hasil tersebut menggambarkan kondisi keberlanjutan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor, yang akan diinterpretasikan berdasarkan atribut dari setiap dimensi yang dianalisis. Berdasarkan interpretasi tersebut diharapkan dapat dihasilkan rekomendasi bagi IKM untuk pencapaian sustainable development.
BAB IV PEMBAHASAN
A. Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan ibu kota Indonesia. Kabupaten Bogor secara geografis mempunyai luas sekitar 2.301,95 Km2 terletak antara 6.190-6.470 Lintang Selatan dan 1060 1’-1070103’ Bujur Timur. Wilayah ini berbatasan dengan beberapa wilayah kabupaten/kota, diantaranya :
Sebelah Utara : Kota Depok Sebelah Barat : Kabupaten Lebak Sebelah Barat Daya : Kabupaten Tangerang Sebelah Timur : Kabupaten Purwakarta Sebelah Timur Laut : Kabupaten Bekasi Sebelah Selatan : Kabupaten Sukabumi Sebelah Tenggara : Kabupaten Cianjur
Pada tahun 2006 Kabupaten Bogor memiliki 40 Kecamatan, 427 desa/kelurahan, 3.516 RW dan 13.603 RT. Dari jumlah desa tersebut mayoritas mempunyai ketinggian sekitar kurang dari 500 m terhadap permukaan laut, yakni 234 desa sekitar lebih dari 500 m dari permukaan laut. Sebagian besar desa di Kabupaten Bogor terklasifikasi sebagai desa swakarya yakni 350 desa, lainnya 77 desa merupakan desa swasembada, dan tidak ada desa swadaya. Berdasarkan klasifikasi daerah, yang dilihat dari aspek potensi lapangan usaha, kepadatan penduduk dan sosial terdapat kategori desa perkotaan sebanyak 199 dan desa pedesaan sebanyak 228 desa (Kabupaten Bogor dalam Angka, 2006).
Gambar 3. Peta Administrasi Kabupaten Bogor
Hasil sensus Daerah Tahun 2006 jumlah penduduk Kabupaten Bogor tercatat 4.215.436 jiwa, jumlah ini merupakan jumlah terbesar diantara jumlah penduduk kabupaten/kota di Jawa Barat. Tahun 2005 tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Kabupaten Bogor untuk laki-laki 74,60% , perempuan 33,96% dan secara total 54,85%. Jumlah penduduk yang bekerja laki-laki 1.012.906 orang dan 376.724 orang perempuan, dengan jumlah total Kabupaten Bogor 1.389.630 orang. Jumlah pengangguran laki-laki 176.879 orang dan perempuan 135.242 orang dari total 312.121 orang di seluruh Kabupaten Bogor (Kabupaten Bogor dalam Angka, 2006).
Tabel 3. IPM Kabupaten Bogor dan Komponennya Tahun 2002 – 2005
Komponen 2002 2003 2004 2005
(1) (2) (3) (4) (5)
1. Angka Harapan Hidup (AHAH) 66,8 66,82 66,94 67,10 2. Angka Melek Huruf (AMH) 92,80 92,80 93,22 93,91 3. Rata-rata Lama Sekolah 6,10 6,18 6,26 6,69
ANGKA IPM 67,70 67,80 68,10 68,99
Sumber : BPS, Kabupaten Bogor dalam Angka Tahun 2006
Tabel IPM Kabupaten Bogor menunjukkan peningkatan kualitas hidup penduduknya. Angka harapan hidup meningkat dari 66,8 pada tahun 2002, menjadi 67,10 pada tahun 2005. Demikian halnya dengan angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Keseluruhan peningkatan tersebut meningkatkan angka IPM dari angka 67,70 pada tahun 2002 menjadi 68,99 pada tahun 2005.
B. Profil Ekonomi
1. Laju Pertumbuhan Ekonomi
Peran serta masyarakat terutama masyarakat dunia usaha telah mampu mendorong berkembangnya pembangunan ekonomi Kabupaten Bogor. Keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi memberikan dukungan dan dorongan terhadap pembangunan di berbagai sektor lainnya. Hal ini juga menjadi peluang bagi perluasan kesempatan kerja yang turut mendukung peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah. Hal ini dapat dilihat dari berkurangnya jumlah penduduk miskin dan meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat dari tahun ke tahun.
Kualitas perekonomian suatu wilayah dapat diindikasikan dengan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB). Pendapatan Daerah merupakan kekuatan utama perekonomian daerah yang sangat penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bogor. Tingkat pendapatan Kabupaten Bogor dapat diukur antara lain dari pendapatan perkapita, penerimaan pajak bumi dan bangunan (PBB), pendapatan asli daerah (PAD) serta gambaran kualitatif
tentang keadaan sandang, pangan dan perumahan masyarakat. PAD tahun 2005, Kabupaten Bogor adalah lebih kurang sebesar Rp. 250 milyar, penerimaan dari PBB sebesar Rp. 46 milyar dan rata-rata pendapatan perkapita adalah Rp. 3.270.000., sedangkan nilai UMR yang berlaku adalah Rp. 638.138 (Dirjen IKM, 2007).
Tabel 4. PDRB dan Pendapatan Daerah
Wilbang Tahun 2002 2003 2004 2005 PDRB Kontri (%) PDRB Kontri (%) PDRB Kontri (%) PDRB Kontri (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Barat 2,353.69 10.43 2,555.60 10.07 2,764.04 9.59 3,147.48 8.77 Tengah 10,991.69 48.71 12,447.75 49.07 14,180.02 49.18 17,800.17 49.59 Timur 9,221.50 40.86 10,366.12 40.86 11,888.37 41.23 14,945.57 41.64 Kab.Bogor 22,566.87 100 25,369.47 100 28,832.44 100 35,893.22 100
Sumber : PDRB Kab Bogor 2006
Mata pencaharian penduduk di sektor pertanian, perburuhan, dan perikanan sebanyak 2.758.821 orang; di sektor pertambangan dan penggalian sebanyak 197.059 orang; di sektor industri pengolahan sebanyak 39.412 orang; sektor listrik, gas dan air sebanyak 3.941 orang; sektor bangunan sebanyak 236.470 orang; sektor perdagangan 394.117 orang; sekotr jasa dan lainnya 114.294 orang (Kabupaten Bogor dalam Angka, 2006).
2. Industri
Pembangunan industri juga telah mampu mendorong peningkatan laju pertumbuhan ekonomi serta menjadi penggerak perkembangan pembangunan daerah. Hal ini juga membuka peluang perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat. Pesatnya pertumbuhan industri ini tercapai berkat peran serta masyarakat dunia usaha. Kemajuan ini juga turut mendukung pertumbuhan sektor-sektor lainnya seperti peningkatan agrobisnis dan agroindustri.
Berdasarkan data dinas perindustrian dan perdagangan Kabupaten Bogor (2006), laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bogor mengalami peningkatan, yaitu dari 5,01% pada tahun 2004 menjadi 5,28% pada tahun 2005, dengan nilai PDRB berlaku pada tahun 2004 sebesar Rp. 28,689 trilyun dan sebesar Rp. 34,625 trilyun pada tahun 2005. PDRB per kapita menurut harga berlaku pada tahun 2004 sebesar Rp. 7.091.120,91 meningkat menjadi Rp. 8.257.374,71 pada tahun 2005.
Dilihat dari sektor pembentuk PDRB pada tahun 2005, tiga sektor terbesar penyumbang PDRB adalah sektor industri pengolahan (51,07%), sektor perdagangan, hotel restoran (16,76%) dan sektor pertanian (9,31%). Begitu juga dengan potensi industri Kabupaten Bogor selama kurun waktu 5 tahun mengalami peningkatan. Nilai Investasi pada tahun 2001 sebesar Rp. 1.601.477.936.000 sedangkan tahun 2005 meningkat menjadi Rp. 2.151.193.861.415. Jumlah unit usaha di sektor industri hingga tahun 2005 sebesar 1.783 buah terdiri dari 538 buah usaha menengah dan besar serta 1.245 unit usaha kecil (Kabupaten Bogor dalam Angka, 2006).
C. Nilai Indeks Keberlanjutan Pengelolaan Industri Kecil dan Menengah di Kabupaten Bogor
Penilaian terhadap status keberlanjutan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor dilakukan dengan menggunakan metode Rapid Appraisal Analysis. Metode Rapid Appraisal Analysis menghasilkan nilai indeks status keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah pada masing-masing dimensi yang diukur, yaitu dimensi ekonomi, dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi teknologi serta dimensi kemitraan. Setiap dimensi memiliki atribut yang mencerminkan status keberlanjutan dari dimensi yang bersangkutan. Nilai yang dihasilkan merupakan gambaran kondisi pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor pada saat ini. Nilai tersebut ditentukan oleh nilai skoring dari masing-masing atribut pada setiap dimensi yang dikaji. Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah mempunyai rentang 0%-100%. Dimensi yang dinilai akan dinyatakan sebagi dimensi yang sustainable, jika memiliki nilai indeks lebih dari 50%, dan sebaliknya, sebuah dimensi yang diukur akan dinyatakan tidak sustainable jika memiliki indeks hasil pengukuran dengan nilai
kurang dari 50%. Nilai status indeks keberlanjutan dikategorikan ke dalam 4 status keberlanjutan, yaitu :
a) buruk, jika memiliki nilai indeks keberlanjutan pada rentang nilai 0,00 s.d. 24,99;
b) kurang, jika memiliki nilai indeks keberlanjutan pada rentang nilai 25,00 s.d. 49,99;
c) cukup, jika memiliki nilai indeks keberlanjutan pada rentang nilai 50,00 s.d. 74,99; dan
d) baik, jika memiliki nilai indeks keberlanjutan pada rentang nilai 75,00 s.d. 100.
Gambaran keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor hasil analisis dengan teknik Rapid Appraisal Analysis disajikan dalam bentuk diagram layang yang menampilkan nilai status keberlanjutan dari setiap dimensi yang telah dinilai. Hasil analisis tersebut akan dilengkapi dengan hasil analisis sensitivitas. Analisis sensitivitas (leverage) dilakukan untuk mengidentifikasi atribut yang sensitif dalam memberikan kontribusi terhadap nilai indeks yang dihasilkan. Pengaruh dari setiap atribut dilihat dalam bentuk perubahan “root mean square” (RMS) ordinasi, khususnya pada sumbu-x atau skala sustainabilitas (Marhayudi, 2006). Semakin besar nilai perubahan RMS akibat hilangnya suatu atribut tertentu, maka semakin besar pula peranan atribut tersebut dalam pembentukan nilai keberlanjutan sebuah dimensi, pada skala sustainabilitas; atau dengan kata lain semakin sensitif atribut tersebut dalam keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah di lokasi penelitian.
Dimensi dan Atribut yang Dinilai
Analisis multidimensional dilakukan terhadap lima dimensi yang telah ditetapkan, yaitu dimensi ekonomi, dimensi ekologi, dimensi sosial, dimensi teknologi serta dimensi kemitraan. Setiap dimensi memiliki atribut yang dapat menggambarkan kondisi keberlanjutan pada dimensi tersebut.
1. Dimensi Ekonomi
Tingkat pengembalian dana investasi Kontribusi terhadap pendapatan daerah
Pasar produk dari IKM
Ketergantungan konsumen terhadap produk IKM Harga komoditi yang dipasarkan
Kelayakan usaha IKM
Pendapatan masyarakat sekitar 2. Dimensi Ekologi
Apakah dilakukan pengolahan limbah Sistem pembuangan limbah
Pengaruh terhadap lingkungan
Ketersediaan Bahan baku Industri di alam 3. Dimensi Sosial
Tingkat penyerapan tenaga kerja
Pola hubungan IKM dengan lingkungan sekitar Tingkat pendidikan masyarakat sekitar
Pemberdayaan masyarakat sekitar 4. Dimensi Teknologi
Tingkat efisiensi IKM
Ketersediaan teknologi informasi
Ketersediaan teknologi pengolahan di IKM Standarisasi mutu produk
Penerapan sertifikasi produk 5. Dimensi Kemitraan
Kemitraan dengan investor
Kemitraan dengan pemasok bahan baku
Kerjasama dengan distributor atau pemasar produk
58,36 73,33 78,71 61,98 27,18 0, 00 10, 00 20, 00 30, 00 40, 00 50, 00 60, 00 70, 00 80, 00 90, 00 100, 00 E konomi K emitraan S os ial E kologi Teknologi
Gambar 4. Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor.
Diagram layang tersebut menggambarkan kondisi faktual mengenai keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor. Dimensi dengan nilai indeks keberlanjutan terbaik adalah dimensi sosial dengan skor 78,71. Dengan nilai tersebut, dimensi sosial dapat dikatakan sebagai dimensi yang sustainable dengan status keberlanjutan yang dapat dikategorikan “baik” (75,00-100). Nilai tersebut mencerminkan bahwa pembangunan industri kecil dan menengah telah berjalan sesuai dengan pengembangan kondisi sosial di Kabupaten Bogor. Keberadaan industri kecil dan menengah di tengah masyarakat juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat dengan menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Dengan demikian, tercipta pola hubungan yang saling menguntungkan antara industri dan masyarakat sekitarnya. Pola interaksi tersebut pada akhirnya memacu peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga kualitas pendidikan masyarakat sekitar industri pun relatif lebih baik dan lebih tinggi dari rata-rata kabupaten.
Nilai indeks keberlanjutan di peringkat selanjutnya adalah dimensi kemitraan, ekologi serta ekonomi dengan nilai indeks berturut-turut 73,33; 61,98 dan 58,36. Ketiga dimensi ini memiliki status yang sustainable dengan kategori “cukup”. Pada dimensi kemitraan, adanya kemitraan antara para pengusaha industri kecil dan menengah dengan para pemasok bahan baku dan investor telah mempermudah pelaksanaan proses produksi serta proses penyediaan modal.
Kerjasama dengan industri lain pun (lintas sektor) telah dilakukan untuk mempermudah berjalannya kegiatan perusahaan. Kerjasama lintas sektor tersebut dilakukan baik dengan pemasok bahan baku, pemasar barang serta dengan distributor produk.
Pada dimensi ekologi, kondisi saat ini menunjukkan bahwa industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor memiliki status yang sustainable (61,98) meskipun sebagian industri kecil dan menengah tersebut belum menerapkan sistem pengolahan limbah. Industri kecil dan menengah yang ada saat ini pada umumnya belum memiliki sistem pengolahan limbah, namun mereka membuang limbah sisa proses produksi di tempat tertentu sehingga tidak mencemari lingkungan. Kondisi ini juga menjadi semakin tidak kentara karena sebagian besar industri tersebut berbahan baku barang hasil hutan dan bahan makanan atau minuman sehingga limbah dapat terurai meskipun tidak diberi perlakuan khusus sebelum dibuang. Dari sisi pasokan bahan baku, eksistensi industri kecil dan menengah masih dapat bertahan karena ketersediaan bahan baku di alam masih relatif tinggi.
Pada dimensi ekonomi, indeks keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah memiliki status yang sustainable (58,36) meskipun hanya sedikit lebih tinggi dari batas indeks sustainabilitas 50%. Rendahnya nilai keberlanjutan ini disebabkan oleh manajemen perusahaan yang masih bersifat tradisional, keterbatasan pasar produk, tidak adanya analisis kelayakan usaha serta harga produk yang kurang prospektif.
Dimensi terakhir yang memiliki nilai keberlanjutan terendah adalah dimensi teknologi. Dimensi ini menjadi satu-satunya dimensi yang memiliki status kurang berkelanjutan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor masih menerapkan teknologi sederhana yang beimplikasi pada rendahnya efisiensi kinerja. Status kurang berkelanjutan ini juga didukung oleh tidak adanya penerapan sertifikasi dan standarisasi produk, ketidaktersediaan teknologi informasi serta teknologi pengolahan yang masih rendah.
Beberapa parameter statistik yang diperoleh dari analisis metode rapid appraisal dengan menggunakan metode MDS berfungsi sebagai standar untuk
menentukan kelayakan terhadap hasil kajian yang dilakukan di wilayah studi. Dalam hasil ordinasi terdapat nilai “stress” dan R2 untuk setiap dimensi. Nilai tersebut berfungsi untuk menentukan perlu tidaknya penambahan atribut untuk mencerminkan dimensi yang dikaji secara akurat (mendekati kondisi sebenarnya) (Edwarsyah, 2008).
Tabel 5. Hasil analisis Rapfish untuk beberapa parameter statistik
Nilai Statistik Ekonomi Ekologi Sosial Teknologi Kemitraan
stress 0.22 0.24 0.25 0.23 0.17
R2 0.91 0.84 0.94 0.93 0.90
iterasi 3.00 3.00 3.00 3.00 3.00
Berdasarkan tabel 5 setiap dimensi memiliki nilai “stress” kurang dari atau sama dengan 0,25. Nilai ini berada pada range ketetapan yang menyatakan bahwa nilai “stress” pada analisis dengan metode MDS sudah cukup memadai jika diperoleh nilai 25%. Karena semakin kecil nilai “stress” yang diperoleh berarti semakin baik kualitas hasil analisis yang dilakukan. Berbeda dengan koefisien determinasi (R2), kualitas hasil analisis semakin baik jika nilai koefisien determinasi semakin besar (Mendekati 1) (Edwarsyah, 2008). Dengan demikian dari kedua parameter (nilai “stress” dan R2) menunjukkan bahwa seluruh atribut yang digunakan pada analisis keberlanjutan pengelolaan IKM di Kabupaten Bogor sudah cukup baik dalam menerangkan kelima dimensi pembangunan yang dianalisis.
Untuk menguji tingkat kepercayaan nilai indeks digunakan analisis Monte Carlo. Analisis ini merupakan analisis berbasis komputer yang dikembangkan pada tahun 1994 dengan menggunakan teknik random number berdasarkan teori statistik untuk mendapatkan peluang suatu solusi persamaan atau model matematis. Mekanisme untukmendapatkan solusi tersebut mencakup perhitungan yang berulang-ulang. Oleh karena itu, proses perhitungan akan lebih cepat dan efisien jika menggunakan komputer (Bielajew, 2001).
Analisis Monte Carlo sangat membantu dalam analisis Rapfish untuk melihat pengaruh kesalahan pembuatan skor pada setiap atribut pada masing-masing dimensi yang disebabkan oleh kesalahan prosedur atau pemahaman
terhadap atribut, variasi pemberian skor karena perbedaan opini atau penilaian oleh peneliti yang berbeda, stabilitas proses analisis MDS, kesalahan memasukkan data atau penilaian atau ada data yang hilang (missing data), dan nilai “stress” yang terlalu tinggi (Edwarsyah, 2008).
Hasil analisis Monte Carlo dilakukan dengan beberapa kali pengulangan ternyata mengandung kesalahan yang tidak banyak mengubah nilai indeks setiap dimensi. Berdasarkan tabel 6 dapat dilihat bahwa nilai status keberlanjutan pengelolaan IKM pada masing-masing dimensi, tidak mengalami banyak perbedaan antara hasil MDS dengan analisis Monte Carlo. Kecilnya perbedaan nilai indeks antara hasil MDS dengan analisis Monte Carlo mengindikasikan hal-hal sebagai berikut : 1) kesalahan dalam pembuatan skor setiap atribut relatif kecil, 2) proses analisis yang dilakukan berulang-ulang stabil, serta 3) kesalahan memasukkan data dan data yang hilang dapat dihindari.
Tabel 6. Hasil analisis Monte Carlo untuk nilai indeks dan masing-masing nilai indeks dimensi IKM
Status indeks Hasil MDS Hasil Monte Carlo Selisih
Ekonomi 58.36 57.70 0.66
Ekologi 61.98 61.63 0.35
Sosial 78.71 77.33 1.38
Teknologi 27.18 28.27 -1.09
Kemitraan 73.33 71.99 1.35
Perbedaan hasil analisis yang relatif kecil sebagaimana disajikan pada tabel 7 menunjukkan bahwa analisis keberlanjutan IKM di Kabupaten Bogor dengan menggunakan metode MDS memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dan sekaligus dapat disimpulkan bahwa analisis indeks keberlanjutan ini dapat dijadikan salah satu alat evaluasi untuk penilaian cepat kondisi keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor.
1. Dimensi Ekonomi
Nilai keberlanjutan dimensi ekonomi berdasarkan hasil ordinasi rapfish adalah 58,36. Nilai tersebut terkategorikan sebagai nilai angka indeks yang cukup berkelanjutan. Untuk melihat nilai sensitivitas yang dimiliki setiap atribut yang
dinilai dalam penyusunan nilai indeks tersebut, maka rapfish melakukan analisis leverage pada setiap atribut. Grafik hasil analisis tersebut memuat nilai “root means square” yang digambarkan pada garis horizontal. Semakin tinggi nilai RMS sebuah atribut, maka semakin sensitif pengaruh sebuah atribut terhadap perubahan indeks status keberlanjutan pada dimensi tersebut.
Leverage of Attributes 2,291180688 3,072400906 5,552257778 5,571793354 4,079859835 4,778997902 2,99925238 0 1 2 3 4 5 6 Tingkat pengembalian investasi Kontribusi terhadap PAD Pasar produk Ketergantungan konsumen Harga komoditi Kelayakan usaha Pendapatan masyarakat sekitar A tt ri bu te
Gambar 5. Grafik analisis leverage untuk dimensi ekonomi.
Berdasarkan hasil analisis leverage di atas, atribut yang paling sensitif dalam mempengaruhi dimensi ekonomi adalah luasan/cakupan pasar produk, ketergantungan konsumen terhadap produk yang dihasilkan industri dan aspek kelayakan usaha. Ketergantungan konsumen terhadap produk industri kecil menengah saat ini masih belum begitu tinggi. Hal ini disebabkan karena ada beberapa industri yang bergerak dalam bidang yang sama, sehingga konsumen memiliki beragam pilihan untuk produk-produk industri kecil dan menengah yang akan dikonsumsinya.
Pada aspek pasar produk industri kecil dan menengah, saat ini sebagian besar hanya mencakup daerah lokal Kabupaten Bogor saja, karena sebagian besar industri tersebut berproduksi dengan kapasitas rendah, sehingga hanya mampu untuk memenuhi pasar lokal. Hanya sebagian kecil industri yang mampu memperluas pasar hingga ke luar negeri. Industri yang mampu memperluas pasar
seperti ini pada umumnya adalah industri menengah yang pemasaran produknya dikoordinir oleh eksportir atau pemerintah daerah.
Kemampuan industri untuk bertahan dalam persaingan juga ditentukan oleh kelayakan usaha. Kondisi indeks keberlanjutan dimensi ekonomi industri kecil dan menengah saat ini masih sedikit di atas batas ketidakberlanjutan. Pada industri kecil dan menengah yang masih dikelola secara tradisional, tidak ada analisis kelayakan usaha yang dilakukan seperti seharusnya. Bagi beberapa pengelola industri, usaha mereka dianggap layak selama masih ada keuntungan yang diperoleh, tanpa menganalisis kelayakan usahanya secara benar.
2. Dimensi Ekologi
Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi ekologi adalah 61,96. Nilai indeks tersebut termasuk ke dalam status sustainable dengan kategori cukup berkelanjutan. Atribut-atribut yang mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan ekologi dtampilkan dalam grafik hasil analisis leverage berikut ini.
Leverage of Attributes 15,32205899 21,54596011 11,4768525 10,04266467 0 5 10 15 20 25 Pengolahan limbah Pembuangan limbah Pengaruh thd lingkungan Ketersediaan bahan baku A tt ri bu te
Gambar 6. Grafik analisis leverage untuk dimensi ekologi.
Atribut yang paling sensitif mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan adalah atribut pembuangan limbah, pengolahan limbah dan pengaruh limbah terhadap lingkungan. Atribut pertama menilai kondisi pengelolaan industri pada
aspek pembuangan limbah yang ada saat ini. Nilai analisis leverage untuk atribut ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan atribut lainnya. Dengan demikian, atribut ini adalah atribut yang paling sensitf dalam mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi ekologi. Untuk meningkatkan status keberlanjutan dimensi ekologi, maka aspek pembuangan limbah menjadi prioritas utama dalam perbaikan dimensi ini. Saat ini, pembuangan limbah dari sebagian besar industri kecil dan menengah pada umumnya langsung dibuang ke perairan, belum ada tempat khusus yang disediakan oleh industri untuk menampung limbah yang mereka hasilkan. Akibat yang ditimbulkannya adalah pencemaran tanah dan air. Oleh karena itu, aspek ini menjadi prioritas utama dalam perbaikan dimensi ekologi. Proses pembuangan limbah seperti ini diperparah dengan tidak tersedianya teknologi pengolahan limbah, sehingga limbah sisa proses dibuang ke lingkungan tanpa ada proses pengolahan terlebih dahulu. Hal ini perlu diperbaiki meskipun saat ini, dengan pola seperti itu, kegiatan industri belum menyebabkan pencemaran berat di lingkungannya.
3. Dimensi Sosial
Nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi sosial adalah 78,71; nilai tersebut adalah nilai indeks tertinggi dibandingkan dengan keempat dimensi lainnya. Dimensi sosial juga menjadi satu-satunya dimensi yang memiliki status berkelanjutan yang terkategorikan baik. Nilai indeks ini menggambarkan bahwasannya proses pengembangan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor sudah sejalan dengan dimensi sosial. Terutama dalam aspek pemberdayaan masyarakat dan proses penyerapan tenaga kerja dari lingkungan sekitar industri, sehingga menimbulkan pola hubungan industri dan masyarakat yang saling menguntungkan.
Dimensi sosial memiliki beberapa atribut yang sensitif terhadap nilai indeks keberlanjutan tersebut. Beberapa atribut yang sensitif ditampilkan dalam grafik di bawah ini,
Leverage of Attributes 4,888654649 7,274750653 8,355862509 4,427467745 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Penyerapan tenaga kerja Hubungan dengan lingkungan Pendidikan masyarakat sekitar Pemberdayaan masyarakat A tt ri bu te
Gambar 7. Grafik analisis leverage untuk dimensi sosial.
Atribut yang paling sensitif dalam dimensi sosial adalah tingkat pendidikan masyarakat sekitar, hubungan industri kecil dan menengah dengan lingkungannya serta penyerapan tenaga kerja. Dari hasil survei yang dilakukan selama penelitian, pada umumnya tingkat pendidikan masyarakat sekitar industri berada pada level yang lebih tinggi dari rata-rata pendidikan di Kabupaten. Meski demikian, pengaruh keberadaan industri terhadap naiknya tingkat pendidikan warga masih bisa dioptimalkan untuk lebih meningkatkan pembangunan dimensi sosial.
Atribut lain yang cukup sensitif mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi sosial adalah hubungan antara industri dengan masyarakat sekitar serta proses penyerapan tenaga kerja. Pada beberapa industri kecil dan menengah hubungan yang terjadi antara masyarakat dan industri tidak saling menguntungkan. Ada penduduk sekitar yang tidak merasakan perbaikan dengan adanya industri itu di sekitar pemukiman mereka. Bahkan dalam beberapa industri, ada warga yang merasa terganggu dengan aktivitas produksi industri. Pola hubungan yang tidak saling menguntungkan juga dapat disebabkan oleh minimnya penyerapan tenaga kerja dari warga sekitar. Kemampuan warga sekitar yang mungkin tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan, menjadi salah satu faktor penyebabnya, sehingga
industri lebih memilih untuk mendatangkan pekerja yang lebih terampil dari tempat lain.
4. Dimensi Teknologi
Dimensi selanjutnya, yang dinilai dalam penelitian ini adalah dimensi teknologi. Nilai indeks keberlanjutan dimensi teknologi adalah 27,18. Nilai indeks ini menunjukkan bahwa dimensi teknologi masih kurang sustainable, bahkan nilainya mendekati kategori buruk. Teknologi yang digunakan pada industri kecil dan menengah masih sangat rendah. Sebagian besar industri masih menggunakan teknologi tradisional dalam proses pengolahannya. Ada beberapa industri yang telah menggunakan teknologi pengolahan yang lebih modern, namun jumlahnya tidak signifikan jika dibandingkan dengan jumlah industri dengan teknologi tradisional. Untuk mengetahui atribut-atribut yang sensitif dalam mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi teknologi, maka dilakukan analisis leverage pada setiap atribut yang dinilai.
Leverage of Attributes 7,393514645 5,23485924 4,974994067 4,596729452 5,591434669 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Tingkat efisiensi Teknologi informasi Teknologi pengolahan Penerapan standarisasi mutu Penerapan sertifikasi produk A tt ri bu te
Gambar 8. Grafik analisis leverage untuk dimensi teknologi.
Atribut paling sensitif dalam mempengaruhi nilai keberlanjutan dimensi teknologi adalah efisiensi kinerja, penerapan sertifikasi produk dan ketersediaan
teknologi informasi. Proses pengolahan yang masih tradisional menjadi salah satu penyebab utama rendahnya efisiensi kinerja industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi kinerja industri adalah prioritas utama dalam perbaikan kualitas dimensi teknologi.
Atribut selanjutnya yang menjadi prioritas adalah penerapan sertifikasi produk dan ketersediaan teknologi informasi sebagai penunjang kemajuan dimensi teknologi. Atribut-atribut yang dipakai dalam penilaian dimensi teknologi, disusun berdasarkan kriteria keberlanjutan industri kecil dan menengah secara umum. Pada beberapa industri yang sudah mapan, kriteria ini dapat dipenuhi dengan cukup baik, namun pada sebagian besar industri kecil dan menengah yang masih tradisional, kriteria ini menjadi sangat jauh dan sulit dicapai dengan kondisi yang ada saat ini.
5. Dimensi Kemitraan
Dimensi terakhir yang dinilai adalah dimensi kemitraan. Dimensi ini menilai keberlanjutan sebuah industri berdasarkan adanya jalinan kerjasama yang dilakukan industri baik dengan pemasok, investor, distributor atau pemasar barang, maupun dengan industri di sektor lain (kerjasama lintas sektor). Nilai indeks keberlanjutan dimensi ini adalah 73,33. Nilai tersebut berada pada kategori cukup berkelanjutan, bahkan mendekati kategori baik.
Leverage of Attributes 11,4550824 11,08219696 17,55563144 14,27157655 0 5 10 15 20 Kemitraan dengan investor Kemitraan dengan pemasok bahan Kerjasama dengan distributor Kerjasama lintas sektor A tt ri bu te
Atribut yang paling sensitif dalam mempengaruhi indeks keberlanjutan dimensi kemitraan adalah kerjasama dengan distributor, kerjasama lintas sektor dan kemitraan dengan investor. Kondisi yang ada saat ini masih dapat dioptimalkan dengan peningkatan pada ketiga dimensi tersebut. Kerjasama dengan distributor menjadi atribut utama yang perlu diprioritaskan dalam peningkatan status keberlanjutan dimensi ini. Saat ini, baru sebagian industri kecil dan menengah sudah menjalin kerjasama dengan distributor dan para pemasar produk mereka.
Kerjasama lintas sektor dan kemitraan dengan investor pun perlu menjadi perhatian para pengelola industri kecil dan menengah. Kedua faktor tersebut dapat mempermudah proses penyediaan faktor produksi dan penyediaan modal. Kerjasama lintas sektor juga perlu dilakukan untuk memperkuat eksistensi masing-masing industri yang bekerjasama.
D. Indeks Keberlanjutan pada Empat Dimensi Ekonomi, Ekologi, Sosial dan Kemitraan
Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa nilai indeks keberlanjutan yang terkecil adalah pada dimensi teknologi. Kondisi hasil penilaian di lapangan memperlihatkan bahwa nilai dimensi teknologi jauh berada di bawah keempat dimensi lainnya. Oleh karena itu, dalam pembahasan subbab ini akan disimulasikan penyusunan nilai indeks keberlanjutan dengan menggunakan empat dimensi yang memiliki nilai yang relatif seimbang. Gambar diagram layang berikut ini hanya akan menampilkan hasil analisis yang memuat empat dimensi yaitu ekonomi, ekologi, sosial dan kemitraan.
58,36 73,33 78,71 61,98 0, 00 10, 00 20, 00 30, 00 40, 00 50, 00 60, 00 70, 00 80, 00 90, 00 100, 00 E konomi K emitraan S os ial E kologi
Gambar 10. Nilai indeks keberlanjutan industri kecil dan menengah dengan empat dimensi (ekonomi, ekologi, sosial dan kemitraan)
Penghilangan dimensi teknologi berpengaruh pada bentuk diagram layang. Dengan empat dimensi yang ada (ekonomi, ekologi, sosial dan kemitraan), maka kondisi pengelolaan industri kecil dan menengah berada dalam kondisi yang baik. Keseimbangan antara keempat dimensi menggambarkan bahwa pengelolaan pengembangan IKM dapat berjalan dengan baik, seimbang antar setiap dimensi yang dinilai. Berdasarkan nilai indeks, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan IKM d Kabupaten Bogor sudah berkelanjutan karena secara ekonomi layak dan menguntungkan dan secara ekologi ramah lingkungan. Demikian juga dengan dimensi sosial dan kemitraan, kedua dimensi tersebut berada dalam kondisi yang berkelanjutan. Hal itu dapat disebabkan oleh keberhasilan IKM dalam proses penyerapan tenaga kerja dari lingkungan sekitar, serta keberhasilan dalam proses pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan analisis pada empat dimensi tersebut, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa pengelolaan IKM di Kabupaten Bogor asudah berkelanjutan.
E. Upaya untuk Meningkatkan Dimensi Teknologi
Dalam proses perbaikan menyeluruh dalam pengelolaan IKM di Kabupaten Bogor, maka hasil penilaian untuk setiap dimensi memiliki peranan penting sebagai pengidentifikasi gambaran kondisi faktual di lapangan. Gambaran
ini dapat memberikan informasi nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap dimensi, sehingga dapat diambil prioritas-prioritas dalam pengembangan proses pengelolaan IKM yang berkelanjutan.
Dimensi teknologi adalah dimensi dengan nilai indeks keberlanjutan terendah. Status keberlanjutannya masih berada pada status yang kurang berkelanjutan, karenanya perbaikan pada dimensi ini harus menjadi prioritas dalam pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor. Prioritas perbaikan juga ditentukan oleh nilai hasil analisis leverage. Atribut dengan nilai tertinggi pada analisis leverage, menjadi atribut pertama yang harus di perbaiki. Berikut ini hasil analisis dari perbaikan yang dilakukan dengan memaksimalkan beberapa atribut yang masih perlu ditingkatkan.
1. Memaksimalkan Efisiensi Kinerja IKM
Efisiensi kinerja merupakan faktor yang paling sensitif dalam penilaian keberlanjutan dimensi teknologi. Oleh karena itu, dalam analisis selanjutnya, akan dilihat pengaruh yang diakibatkan oleh perbaikan (maksimalisasi) atribut efisiensi kinerja industri terhadap performa dimensi teknologi.
Hasil pengolahan data menunjukkan nilai status keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah yang baru. Status ini disusun dengan memaksimalkan nilai efisiensi kinerja industri. Nilai indeks keberlanjutan dimensi berubah naik, dari nilai awal sebesar 27,18 menjadi 32,33. Akan tetapi, kenaikan tersebut masih belum meningkatkan status keberlanjutan dimensi ini.
58,36 73,33 78,71 61,98 32,17 0, 00 10, 00 20, 00 30, 00 40, 00 50, 00 60, 00 70, 00 80, 00 90, 00 100, 00 E konomi K emitraan S os ial E kologi Teknologi
Gambar 11. Nilai indeks keberlanjutan pengelolaan industri kecil dan menengah di Kabupaten Bogor dengan memaksimalkan atribut efisiensi kinerja pada dimensi teknologi.
Dimensi teknologi masih berada pada kategori kurang sustainable. Peningkatan yang tidak begitu besar ini disebabkan oleh sensitifitas ketiga faktor (yang paling sensitif) yang tidak berbeda jauh nilainya dalam analisis leverage. Oleh karena nilai indeks keberlanjutannya masih belum berada pada status sustainable, maka untuk meningkatkan status tersebut, perlu ditingkatkan kualitas atribut berikutnya yang memiliki sensitifitas tertinggi.
2. Memaksimalkan Penerapan Sertifikasi Produk
Setelah efisiensi kinerja dimaksimalkan, maka dalam analisis selanjutnya akan dianalisis kondisi keberlanjutan dimensi teknologi dengan memaksimalkan atribut yang berada pada urutan kedua dari daftar atribut yang paling sensitif.