• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mini Project Waru Timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Mini Project Waru Timur"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

Pengaruh Intervensi Pengetahuan dan

Perilaku Ibu Terhadap Cakupan Program

Imunisasi Di Desa Waru Timur

Disusun Oleh :

dr. Feri Sulistya

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA

ANGKATAN IX

PERIODE NOVEMBER-MARET

2014

(2)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan mini proyek yang berjudul “ Pengaruh Intervensi Pengetahuan dan Perilaku Ibu Terhadap Cakupan Program Imunisasi Di Desa Waru Timur

untuk memenuhi sebagian persyaratan Program Internship Dokter Indonesia.

Dalam penyusunan mini proyek ini, penulis tidak dapat menyelesaikannya tanpa bantuan pihak lain. Penulis adalah makhluk sosial yang memiliki banyak keterbatasan. Penulis mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak untuk dapat menyelesaikan mini proyek ini. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. dr. Achmad Marsuki, MM selaku Kepala Puskesmas Waru sebagai dokter pembimbing.

2. Ibu-ibu Posyandu desa Waru Timur atas kesediaannya menjadi responden.

3. Staf puskesmas dan bidan desa yang telah ikut bersedia membantu mini proyek ini. 4. Orang tua penulis dan sahabat-sahabat internship seperjuangan.

5. Semua pihak yang terkait yang telah memberikan bantuan serta dukungan.

Semoga semua bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa mini proyek ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan masukan dan saran yang membangun. Mudah-mudahan mini proyek ini bermanfaat. Amin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Waru, Maret 2014 Penulis

(3)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam melaksanakan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang sangat efektif dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita sehingga pelaksanaannya tidak dapat ditunda. Hal ini berkaitan erat dengan usaha peningkatan mutu sumber daya manusia pada masa yang akan datang. Generasi muda membutuhkan asuhan dan perlindungan terhadap penyakit yang mungkin dapat menghambat tumbuh kembangnya menuju dewasa yang berkualitas tinggi guna meneruskan pembangunan nasional dengan masyarakat yang sehat, sejahtera, dan bahagia.

Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten Pamekasan, angka Cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization adalah 65,61% yaitu 124 desa dari 189 desa. Berdasarkan data sekunder Dinas Kesehatan Pamekasan tahun 2011 jumlah kasus Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) sebagai berikut:

Tabel 1.1 Kasus PD3I Kab. Pamekasan 2011

Kab. Pamekasan Wil. Kerja Puskesmas Waru

Difteri 13 1 Pertusis 0 0 Tetanus 0 0 Campak 278 61 Polio 0 0 Hep B 0 0 Angka kematian akibat PD3I 0 0

Sekitar 1,7 juta kematian yang terjadi pada anak atau 5% pada balita di Indonesia disebabkan oleh Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) seperti TBC, difteri, pertusis, campak, tetanus, polio dan hepatitis B. PD3I merupakan salah satu penyebab kematian anak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, oleh karena itu cakupan imunisasi harus dipertahankan lebih tinggi dan merata sampai mencapai tingkat Population Immunity (kekebalan masyarakat), sementara kegagalan untuk

(4)

menjaga tingkat cakupan imunisasi yang tinggi dan merata akan dapat menimbulkan Kejadian Luar Biasa PD3I seperti kejadian Polio (Depkes, 2007).

Menurut para pakar imunisasi dunia, sedikitnya sebanyak 10 juta jiwa dapat diselamatkan pada tahun 2006 melalui kegiatan imunisasi (Depkes, 2006). Untuk mencapai perlindungan yang optimal terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, seorang anak harus menerima semua imunisasi sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan (Sadoh, A.E., and Eregie, C.O., 2009). Jika imunisasi dilaksanakan dengan baik dan teratur dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian 80-90%.

Kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi harus tetap terjaga, sebab bila tidak dapat mengakibatkan turunnya angka cakupan imunisasi. Perlu ditekankan bahwa pemberian imunisasi pada bayi dan anak tidak hanya memberikan pencegahan terhadap anak tersebut tetapi akan memberikan dampak yang jauh lebih luas karena akan mencegah terjadinya penularan yang luas dengan adanya peningkatan tingkat imunitas secara umum di masyarakat.

Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Beberapa studi menemukan bahwa usia ibu, ras, pendidikan, dan statussosial ekonomi berhubungan dengan cakupan imunisasi, dan opini orang tua tentang vaksin berhubungan dengan status imunisasi anak mereka.

Pada program imunisasi anak, ibu sebagai sasaran primer merupakan pihak yang paling menentukan karena mereka yang berhubungan langsung dengan kesejahteraan anak balita. Ibu adalah orang yang mengambil keputusan dalam pengasuhan anak selama 24 jam termasuk dalam menentukan anaknya akan mendapat imunisasi atau tidak. Penghalang utama untuk keberhasilan imunisasi bayi dan anak dalam perawatan kesehatan yaitu rendahnya kesadaran dan kebutuhan masyarakat akan imunisasi, mengabaikan peluang untuk pemberian vaksin yang adekuat untuk kesehatan masyarakat dan program pencegahan (Adhistiani, 2006).

Semua hal diatas masih sangat tampak pada kehidupan masyarakat di Kabupaten Pamekasan. Pemikiran, pengetahuan dan perilaku ibu masih kurang sekali sehingga program imunisasi pemerintah terkadang mengalami kesulitan dan hanya berjalan di tempat. Adanya keraguan akan halalnya vaksin, kesadaran, isu tentang penyakit akibat vaksinasi masih sangat melekat. Ketidaktahuan ibu akan bahayanya penyakit yang kelak akan diderita juga memberikan dampak mortalitas dan morbiditas pada anak di kemudian hari.

(5)

orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah,yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Berdasarkan ayat tersebut maka tugas orang tua untuk menjaga kesehatan anak salah satunya dengan tidak lupa untuk memberi imunisasi pada anak. Partisipasi dalam pelaksanaan imunisasi khususnya kesediaan ibu-ibu untuk membawa anak ke tempat pelayanan imunisasi terutama puskesmas sangat berarti.

B. Rumusan Masalah

Apakah ada pengaruh intervensi pengetahuan dan perilaku ibu dengan cakupan program imunisasi di desa Waru Timur?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

-Meningkatkan cakupan imunisasi di desa Waru Timur.

-Berkurangnya angka kejadian Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

2. Tujuan khusus

- Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran ibu dalam partisipasi imunisasi

-Adanya perubahan perilaku ibu sehingga imunisasi anak dapat terlaksana minimal imunisasi dasar

D. Manfaat

1. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan sebagai pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

2. Bagi Pengembangan Ilmu

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam upaya pengembangan penelitian khususnya yang berkaitan dengan masalah program imunisasi.

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN IMUNISASI 1.Definisi:

Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu atigen, sehingga bila kelak terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit (Behrman, et al., 2000). Menurut Muammalah (2006), kekebalan aktif yaitu kekebalan yang diperoleh, dimana tubuh orang tersebut aktif membuat zat anti sendiri. Kekebalan aktif dibagi dua yaitu kekebalan aktif alami (naturally acquired immuninity)

dan kekebalan aktif disengaja (artifially induced active immunity). Kekebalan aktif alami (naturally acquired immuninity) yaituorang ini menjadi kebal setelah menderita penyakit sedangkan kekebalan aktif disengaja (artifially induced active immunity) yaitu kekebalan yang diperoleh setelah orang mendapatkan vaksinasi.

Imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah kepada semua bayi (usia 0-11 bulan) adalah BCG untuk mencegah penyakit tuberculosis, DPT untuk mencegah penyakit diphteri, pertusis dan tetanus, imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak, imunisasi polio untuk mencegah penyakit polio, ditambah Hepatitis B untuk mencegah penyakit Hepatitis B (penyakit hati). Hasil penelitian dari sisi epidemiologis membuktikan manfaat perlunya imunisasi dasar untuk bayi. Hal ini telah tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang program imunisasi tersebut. Menurut badan kesehatan dunia (WHO), kelima jenis vaksin tersebut diwajibkan karena dampak dari penyakit tersebut bisa menimbulkan kematian dan kecacatan. (Depkes RI,2009) .

Lima Imunisasi Dasar Lengkap (LIL) adalah apabila seorang anak telah mendapatkan lima imunisasi dasar yaitu BCG , DPT, Polio, Campak, dan Hepatitis B sebelum berusia 1 tahun. Berikut adalah penjelasan mengenai lima imunisasi dasar :

a. Imunisasi BCG

Imunisasi BCG termasuk salah satu dari 5 imunisasi yang diwajibkan. Ketahanan terhadap penyakit TB (Tuberkulosis) berkaitan dengan keberadaan bakteri Tubercel bacilli yang hidup di dalam darah. Itulah mengapa agar memiliki kekebalan aktif dimasukkanlah jenis basil tidak berbahaya ke dalam tubuh, atau vaksinasi BCG (Bacillus Callmete Guerin).

(7)

Imunisasi BCG wajib diberikan seperti diketahui di Indonesia termasuk negara endemis TB dan salah satu negara dengan penderita TB tertinggi di dunia. TB disebabkan kuman Mycrobacterium tuberculosis, dan mudah sekali menular melalui droplet, yaitu butiran air di udara yang terbawa keluar saat penderita batuk, bernapas ataupun bersin. Gejalanya antara lain berat badan anak susah bertambah, sulit makan, mudah sakit, batuk berulang, demam, berkeringat di malam hari, juga diare persisten. Masa inkubasi TB rata-rata berlangsung antara 8-12 minggu.

Jumlah pemberian vaksin BCG cukup 1 kali saja tak perlu diulang (booster). Sebab vaksin BCG berisi kuman hidup sehingga antibodi yang dihasilkannya tinggi terus. Berbeda dengan vaksin berisi kuman mati, sehingga memerlukan pengulangan. Imunisasi BCG diberikan dibawah usia 2 bulan. Jika baru diberikan setelah usia 2 bulan, disarankan tes Mantoux (tuberkulin) dahulu untuk mengetahui apakah si bayi sudah kemasukan kuman Mycrobacterium tuberculosis atau belum. Vaksinasi dilakukan bila hasil tesnya negatif. Jika ada penderita TB yang tinggal serumah atau sering bertandang ke rumah, segera setelah lahir si kecil diimunisasikan BCG. Imunisaisi BCG biasa disuntikan di lengan kanan atas, sesuai anjuran WHO. Meski ada juga petugas medis yang melakukan penyuntikan di paha.

Biasanya apabila imunisasi BCG ini berhasil maka akan timbul bisul kecil dan bernanah di daerah bekas suntikan setelah 4-6 minggu. Tidak menimbulkan nyeri dan tidak diiringi panas. Bisul akan sembuh sendiri dan meninggalkan luka parut. Efek samping umumnya tidak ada. Namun pada beberapa anak timbul pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak atau leher bagian bawah (atau selangkangan bila penyuntikan dilakukan di paha). Biasanya akan sembuh sendiri. Imunisasi BCG tak dapat diberikan pada anak berpenyakit TB atau menunjukkan Mantoux positif.

b. Imunisasi Hepatitis B

Imunisasi ini merupakan langkah efektif untuk mencegah masuknya virus hepatitis B (VHB), yaitu virus penyebab penyakit hepatitis B. Hepatitis B dapat menyebabkan sirosis atau pengerutan hati, bahkan lebih buruk lagi mengakibatkan kanker hati. Imunisasi Hepatitis B diberikan sebanyak 3 kali, dengan interval 1 bulan antara suntikan pertama dan kedua (saat bayi berusia 1 bulan). HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir. Untuk mendapatkan respon imun yang optimal interval suntikan kedua dan ketiga minimal 2 bulan , tebaik 5 bulan. Maka suntikan yang ketiga diberikan 2-5 bulan setelah suntikan yang kedua yaitu pada umur 3-6 bulan.

(8)

Tingkat kekebalan imunisasi Hepatitis B cukup tinggi antara 94-96 %. Umumnya setelah 3 kali suntikan, lebih 95 % bayi mengalami respon imun yang cukup. Kejadian ikutan paska imunisasi hepatitis B jarang terjadi. Segera setelah imunisasi dapat timbul demam yang tidak tinggi, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan, pembengkakan, nyeri, rasa mual dan nyeri sendi. Imunisasi hepatitis B tidak dapat diberikan kepada anak yang sedang sakit sedang atau berat, dengan ataupun tanpa demam.

c. Imunisasi Polio

Belum ada pengobatan efektif untuk membasmi polio. Penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan ini disebabkan virus poliomyelitis yang sangat menular. Penularannya bisa lewat makanan/minuman yang tercemar virus polio. Bisa juga lewat percikan ludah/air liur penderita polio yang masuk ke mulut orang sehat. Virus polio berkembang biak dalam tenggorokan dan saluran pencernaan atau usus, lalu masuk ke aliran darah dan akhirnya ke sumsum tulang belakang hingga bisa menyebabkan kelumpuhan otot tangan dan kaki. Bila mengenai otot pernapasan, penderita akan kesulitan bernapas dan bisa meninggal.

Masa inkubasi virus antara 6-10 hari. Setelah demam 2-5 hari, umumnya akan mengalami kelumpuhan mendadak pada salah satu anggota gerak. Namun tak semua orang yang terkena virus polio akan mengalami kelumpuhan, tergantung keganasan virus polio yang menyerang dan daya tahan tubuh anak. Imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio.

Vaksin polio dapat diberikan dengan 2 cara yaitu bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV), atau lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). Di Indonesia yang digunakan adalah OPV. Vaksin polio-0 diberikan saat bayi lahir, karena Indonesia merupakan daerah endemik polio maka sesuai pedoman program imunisasi nasional untuk mendapatkan program imunisasi yang lebih tinggi diperlukan tambahan imunisasi polio yang diberikan setelah lahir. Mengingat OPV berisi virus polio hidup maka dianjurkan diberikan saat bayi meninggalkan rumah sakit agar tidak mencemari bayi lain karena virus polio vaksin dapat dieskskresi melalui tinja. Untuk keperluan ini IPV dapat menjadi alternatif. Polio 1,2,3 pada usia usia 2, 4, 6 bulan. Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun.

Imunisasi polio hampir tidak ada efek samping hanya sebagian kecil saja yang mengalami pusing, diare ringan, sakit otot dan kasusnya sangat jarang. Imunisasi ini tidak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi (diatas 38°C),

(9)

muntah atau diare, penyakit kanker atau keganasan, HIV/AIDS, sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum, serta anak dengan mekanisme kekebalan terganggu.

d. Imunisasi DPT

Manfaat pemberian imunisasi DPT adalah untuk menimbulkan kekebalan positif dalam waktu yang bersamaan terhadap penyakit difteria, pertusis, dan tetanus. Di Indonesia vaksin terhadap 3 penyakit ini dipasarkan dalam 3 jenis kemasan, yaitu dalam bentuk kemasan tunggal khusus bagi tetanus dalam bentuk kombinasi DT (difteri dan tetanus) dan kombinasi DPT dikenal pula sebagai vaksin tripel. Cara imunisasi dasar DPT yaitu diberikan tiga kali, sejak bayi berumur 2 bulan dengan selang waktu antara dua penyuntikan minimal 4 minggu. Untuk imunisasi massal tetap harus diberikan 3 kali karena suntikan pertama tidak memberikan perlindungan apa-apa dan baru akan memberikan perlindungan terhadap serangan apabila telah mendapat vaksin DPT sebanyak 3 kali.

Daya proteksi atau daya lindung vaksin difteri cukup baik sebesar 80-90% dan daya proteksi tetanus sangat baik yaitu 90-95% sedangkan daya proteksi vaksin pertusis masih sangat rendah yaitu 50-60 %.Oleh karena itu tidak jarang anak yang telah mendapatkan imunisasi pertusis masih terjangkit batuk rejan, tetapi dalam bentuk yang lebih ringan. Reaksi imunisasi yang mungkin terjadi biasanya demam ringan, pembengkakan dan rasa nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari.

e. Imunisasi campak

Imunisasi campak diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit campak secara aktif. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin campak yang beredar di Indonesia dapat diperoleh dalam bentuk kemasan kering tunggal atau dalam kemasan kering dikombinasikan dengan vaksin gondong dan rubella.

Campak diberikan sebayak 2 kali yaitu 1 kali pada usia 9 bulan dan yang kedua pada usia 9 tahun. Dianjurkan pemberian campak yang pertama sesuai dengan jadwal. Karena pada usia 9 bulan antibodi dari ibu sudah menurun dan penyakit campak biasanya menyerang pada usia balita. Jika pada usia 12 bulan belum mendapat campak maka pada usia 12 bulan harus sudah imunisasi MMR (Measles Mump Rubella). Efek samping imunisasi campak umunya tidak ada. Pada beberapa anak, bisa menyebabkan demam dan diare,

(10)

namun kasusnya sangat kecil. Biasanya demam berlangsung seminggu. Kadang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari.

Tabel 2.1. Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Anak

Sumber : Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) periode 2012

2.Imunisasi Tertunda

Pada keadaan tertentu imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai jadwal yang sudah disepakati. Keadaan ini tidak merupakan hambatan untuk melanjutkan imunisasi. Vaksin yang sudah diterima oleh anak tidak akan jadi hilang manfaatnya tetapi tetap sudah menghasilkan respon imunologis sebagaimana yang diharapkan tetapi belum mencapai hasil yang optimal. Dengan perkataan lain anak belum mempunyai antibodi yang optimal karena belum mendapat imunisasi yang lengkap, sehingga kadar antibodi yang dihasilkan masih dibawah kadar ambang pelindung (protective level) atau belum mencapai kadar antibodi yang bisa memberikan perlindungan untuk kurun waktu yang panjang (life long immunity) sebagaimana bila imunisasinya lengkap. Dengan demikian kita harus

(11)

menyelesaikan jadwal imunisasi dengan melanjutkan imunisasi yang belum selesai (Ranuh, dkk., 2005).

Tabel 2.2 Jadwal Untuk Vaksinasi Tidak Teratur Vaksin Rekomendasi bila imunisasi terlambat

BCG Umur <12 bulan, boleh diberikan kapan saja. Umur >12 bulan, imunisasi kapan saja namun sebaiknya dilakukan terlebih dahulu uji tuberculin apabila negative berikan BCG dengan dosis 0,1 ml intrakutan.

DPT(DTwP atau DTaP

Bila dimulai dengan DTwP boleh dilanjutkan dengan DTaP. Berikan dT pada anak ≥ 7 tahun, jangan DTwP atau DTaP apabila vaksin tersedia. Bila terlambat, jangan mengulang pemberian dari awal, tetapi lanjutkan dan lengkapi imunisasi seperti jadwal tidak peduli berapapun jarak waktu/interval keterlambatan dari pemberian sebelumnya. Bila belum pernah imunisasi dasar pada usia < 12 bulan, imunisasi diberikan sesuai imunisasi dasar baik jumlah maupun intervalnya. Bila pemberian keempat sebelum ulang tahun keempat, maka pemberian ke 5 secepat-cepatnya 6 bulan sesudahnya. Bila pemberian ke-4 setelah umur 4 tahun, maka pemberian ke-5 tidak perlu lagi.

Vaksin Rekomendasi bila imunisasi terlambat

Polio Oral Bila terlambat jangan mengulang pemberian dari awal tetapi lanjutkan dan lengkapi imunisasi seperti jadwal, tidak peduli berapapun jarak waktu/interval keterlambatan dari pemberian sebelumnya.

Campak Umur antara 9-12 bulan,berikan kapan saja saat bertemu. Umur anak 1 tahun/lebih,berikan MMR

MMR Bila sampai dengan umur 12 bulan belum dapat vaksin campak, MMR bisa diberikan kapan saja setelah berumur 1 tahun.

Hepatitis B Bila terlambat,jangan mengulang pemberian dari awal, tetapi lanjutkan dan lengkapi imunisasi seperti jadwal, tidak peduli berapapun jarak waktu/interval dari pemberian sebelumnya. Anak dan remaja belum pernah imunisasi hepatitis B pada masa bayi, bisa mendapat serial imunisasi hepatitis B kapan saja saat berkunjung.

(12)

3.Bahaya Tidak Diimunisasi

Kalau anak tidak diberikan imunisasi dasar lengkap, maka tubuhnya tidak mempunyai kekebalan yang spesifik terhadap penyakit tersebut. Bila kuman berbahaya yang masuk cukup banyak maka tubuhnya tidak mampu melawan kuman tersebut sehingga bisa menyebabkan sakit berat, cacat atau meninggal (Soedjatmiko, 2008). Diperkirakan 1,7 juta kematian pada anak atau 5 % pada balita di Indonesia adalah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), seperti TBC, dipteri, pertusis (penyakit pernapasan), campak, tetanus, polio dan hepatitis B (Susanto, 2007). Balita yang tidak diimunisasi lengkap mempunyai kemungkinan meninggal 14 kali dibandingkan balita yang telah diimunisasi. Sedangkan bila anak sama sekali tidak diimunisasi tentu tingkat kekebalannya lebih rendah lagi (Ibrahim, 1991).

Menurut penelitian yang dilakukan Kartono, et al., (2008) seorang anak dengan status imunisasi DPT dan DT yang tidak lengkap mempunyai risiko menderita difteri 46,403 kali dibandingkan seorang anak dengan status imunisasi DPT dan DT lengkap.

4.Peran Orang Tua Dalam Imunisasi

Peningkatan cakupan imunisasi melalui pendidikan orang tua telah menjadi strategi populer di berbagai negara. Strategi ini berasumsi bahwa anak-anak tidak akan diimunisasi secara benar disebabkan orang tua tidak mendapat penjelasan yang baik atau karena memiliki sikap yang buruk tentang imunisasi. Program imunisasi dapat berhasil jika ada usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan pada orang-orang yang memiliki pengetahuan dan komitmen yang tinggi terhadap imunisasi.Jika suatu program intervensi preventif seperti imunisasi ingin dijalankan secara serius dalam menjawab perubahan pola penyakit dan persoalan pada anak dan remaja, maka perbaikan dalam evaluasi perilaku kesehatan masyarakat sangat diperlukan (Muhammad, 2003). Banyak literatur yang menghubungkan antara faktor orang tua dengan penggunaaan sarana kesehatan baik itu untuk tindakan pencegahan atau pengobatan penyakit, namun hanya sedikit penelitian yang secara khusus mencari hubungan antara pengetahuan orang tua dengan imunisasi anak.

Cakupan imunisasi yang rendah merupakan persoalan yang kompleks. Bukan hanya karena faktor biaya, karena ternyata vaksin gratis ternyata juga tidak menjadi jaminan bagi suksesnya imunisasi. Pada hasil penelitian Becher (1995) yang dikutip oleh Muhammad (2003) mendapatkan bahwa ibu–ibu yang yang anaknya jarang terserang penyakit adalah mereka yang lebih sering memanfaatkan sarana-sarana kesehatan

(13)

pencegahan. Mereka mengaku bahwa dengan memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap sarana pencegahan dan melakukan usaha pencegahan yang teratur, anak mereka dapat terhindar dari sakit.

5.Faktor Yang Mempengaruhi Imunisasi Anak

Menurut Sulistyowati (2005), adapun faktor yang berperan dalam model untuk memprediksi cakupan imunisasi dasar lengkap yaitu tingkat pendidikan ibu, dan status kerja ibu.

1) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan (Effendy dan Hayati, 2005) yaitu:

a) Tahu (Know)

Diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)

terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Untuk mengukur apakah orang tahu atau tidak tentang apa yang dipelajari antara lain dengan menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya

b) Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.

c) Aplikasi (Application)

Diartikan sebagai kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai

(14)

penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya pada konsep atau situasi lain.

d) Analisis (analisys)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitanya satu sama lain. Analisis ini dapat dilihat dari penggunaan penggunaan kata-kata kerja, dapat menggambarkan, dan sebagainya. e) Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, merencanakan, meringkas dan sebagainya terhadap suatu rumusan-rumusan yang telah ada. f) Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuanuntuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan kriteria-kriteria yang ditentukan sendiri atau yang telah ada.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subyek penelitian. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui disesuaikan dengan tingkat-tingkat dalam kawasan kognitif (Notoadmodjo, 2003)

Pengetahuan ibu tentang manfaat dan cara pemberian imunisasi berhubungan dengan tingkat pendidikan ibu. Walaupun demikian didapatkan hasil yang cukup mengejutkan bahwa sebagian ibu dengan tingkat pendidikan sarjana tidak mengetahui penyakit apa yang dapat dicegah oleh masing-masing jenis imunisasi yang diberikan kepada mereka (Hanum, P., et al., 2005).

2) Perilaku

Pengertian perilaku dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berfikir, bersikap, dan lain sebagainya yang merupakan refleksi dari berbagai macam aspek, baik fisik maupun non fisik. Perilaku juga diartikan sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya, reaksi yang dimaksud digolongkan menjadi 2, yakni dalam bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkrit), dan dalam bentuk aktif (dengan tindakan konkrit), sedangkan dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan atau

(15)

tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup (Soekidjo Notoatmodjo, 1987:1). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Menurut Notoatmodjo (2005), ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam bidang kesehatan yaitu:

a) Latar Belakang

Latar belakang yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam bidang kesehatan dibedakan atas: pendidikan, pekerjaan, penghasilan, norma-norma yang dimiliki dan nilai-nilai yang ada pada dirinya, serta keadaan sosial budaya yang berlaku.

b)Kepercayaan dan Kesiapan Mental

Perilaku seseorang dalam bidang kesehatan dipengaruhi oleh kepercayaan orang tersebut terhadap kesehatan serta kesiapan mental yang dipunyai. Kepercayaan tersebut setidak-tidaknya menjadi manfaat yang akan diperoleh, kerugian yang didapat, hambatan yang diterima serta kepercayaan bahwa dirinya dapat diserang penyakit.

c) Sarana

Tersedia atau tidaknya sarana yang dimanfaatkan adalah hal yang penting dalam munculnya perilaku seseorang di bidang kesehatan, betapapun positifnya latar belakang, kepercayaannya dan kesiapan mental yang dimiliki tetapi jika sarana kesehatan tidak tersedia tentu perilaku kesehatan tidak akan muncul.

d)Faktor Pencetus

Dalam bidang kesehatan peranan faktor pencetus cukup besar untuk memunculkan perilaku kesehatan yang diinginkan. Seringkali dijumpai seseorang baru berperilaku kesehatan tertentu bila sudah ada masalah kesehatan sebagai pencetus, seperti penyakit kulit.

e) Perubahan Perilaku

Perubahan perilaku berarti individu mulai menerapkan sesuatu yang baru (inovasi), lain daripada yang sebelumnya.

(16)

B. KERANGKA KONSEP

INPUT PROSES OUTPUT

OUTCOME PERJALANAN MINI PROJECT

Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Ibu

Adanya Perubahann Pengetahuan Perilaku Ibu •Peningkatan Cakupan Imunisasi

Intervensi A,B dan C •Target UCI

tercapai

C. HIPOTESIS

Adanya pengaruh intervensi pengetahuan dan perilaku ibu dengan cakupan program imunisasi di desa Waru Timur.

(17)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. JENIS DAN RANCANGAN PENELITIAN

Dalam penelitian ini digunakan metode kuantitatif dengan rancang quasi eksperimental.

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

1. Lokasi Penelitian : Desa Waru Timur, Kecamatan Waru 2. Waktu Pelaksanaan : Bulan November 2013-Februari 2014

C. SUBYEK PENELITIAN 1. Populasi Penelitian

Populasi target adalah populasi yang menjadi sasaran akhir penerapan hasil penelitian (Sastroasmoro dan Ismael, 2002). Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh ibu-ibu yang mempunyai anak dibawah satu tahun dan ibu-ibu hamil trisemester 3 pada setiap posyandu.

2. Subyek Penelitian

Subjek penelitian adalah ibu dengan anak usia dibawah 1 tahun dan ibu hamil trisemester 3. Teknik pengambilan sampling posyandu adalah convinience yaitu dengan memilih sampel tergantung kedatangan.

D. KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI Kriteria inklusi subyek penelitian:

a. Ibu yang memiliki bayi usia 1 tahun kebawah. b. Ibu hamil trisemester 3

Kriteria Eksklusi subyek penelitian:

a. Ibu yang menderita gangguan kejiwaan

b. Ibu yang menitipkan anaknya kepada pengasuh

E. VARIABEL PENELITIAN Variabel dalam penelitian ini yaitu:

a. Variabel Independent : tingkat pengetahuan ibu.

(18)

F. DEFINISI OPERASIONAL

Tingkat Pengetahuan Ibu yaitu pengetahuan tentang pengertian imunisasi, manfaat imunisasi, apa saja lima imunisasi dasar, jadwal imunisasi, tempat imunisasi, penyakit yang dapat dicegah, efek samping imunisasi, bagaimana bila imunisasi tertunda, imunisasi dasar diberikan secara gratis oleh pemerintah, pandangan ibu terhadap imunisasi.

Penilaian tingkat pengetahuan ibu dinilai dengan menggunakan kuesioner dengan skala pengukuran ordinal. Kuesioner tersebut diberi skor atau nilai jawaban masing-masing dengan sistem penilaian 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah . Pengetahuan dikategorikan menjadi 3 tingkat yaitu:

1.Pengetahuan baik jika > 80% jawaban benar 2.Pengetahuan cukup jika 60-80% jawaban benar 3.Pengetahuan kurang jika < 60% jawaban benar.

Perilaku adalah perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Penilaian tingkat perilaku ibu dinilai dengan menggunakan kuesioner dengan skala pengukuran ordinal. Kuesioner tersebut diberi skor atau nilai jawaban masing-masing dengan sistem penilaian 1 untuk jawaban Ya dan 0 untuk jawaban Tidak . Perilaku dikategorikan menjadi 3 tingkat yaitu:

1. Perilaku baik jika > 60% jawaban Ya 2.Perilaku buruk jika < 60% jawaban Tidak

G. INSTRUMEN PENELITIAN.

Alat ukur penelitian menggunakan kuesioner. Tujuan pokok pembuatan kuesioner adalah memperoleh hasil relevan dengan tujuan penelitian memperoleh informasi dengan realita dan validitas setinggi mungkin.

(19)

H. ALUR PENELITIAN Populasi sampel Intervensi A,B Assesment 1 Assesment 2 CEA kelompok Penyuluhan posyandu Promosi leaflet,poster Intervensi A,B Intervensi A,B,C C B A Kuosioner

Edukasi kader posyandu Role Model

I. JADWAL PENELITIAN

No Nama Kegiatan November

2013 Desember 2013 Januari 2014 Februari 2014 1. Pembuatan proposal penelitian X

2. Pengambilan Data X 3. Proses Intervensi Asesment 1 X 4. Proses Intervensi Asesmen 2 X 3. Proses Intervensi Asesmen 3 X

4. Menghitung dan menganalisis data

X

(20)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. PROFIL UMUM PUSKESMAS WARU

Puskesmas Waru merupakan pusat pembangunan kesehatan yang berfungsi mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk kegiatan pokok yang menyeluruh dan terpadu di wilayah kerja Puskesmas Waru. Status kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : pelayanan kesehatan masyarakat, keturunan, perilaku masyarakat (tingkah laku masyarakat dalam menanggapi masalah- masalah kesehatan) dan lingkungan yang terdiri dari fisik, biologis, ekonomi, politik, sosial / budaya dan pertahanan / keamanan. Oleh karena itu harus disadari betul bahwa untuk dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan berhasil adalah jika terdapat pula upaya- upaya peningkatan keadaan sosial dan ekonomi masyarakat

Untuk melihat keberhasilan peningkatan derajat kesehatan masyarakat di antaranya dapat dilihat dari angka kematian, pola penyakit dan keadaan gizi masyarakat. Di wilayah kerja Puskesmas Waru, Jumlah Kematian Bayi pada tahun 2013 yaitu 3 bayi, Jumlah Kematian Anak 0 anak, jumlah kematian ibu maternal 0. Pola penyakit di Puskesmas Waru pada bayi terbanyak adalah ISPA, merupakan penyakit yang mendominasi pola penyakit yang ada. Sedangkan pola penyakit pada semua golongan umur yang paling menonjol adalah ISPA yaitu 22,79 %.

Keadaan gizi pada balita di wilayah kerja Puskesmas Waru yaitu balita dengan status gizi buruk sebanyak 34 balita dan status gizi sedang sebesar 131 balita, status gizi baik 1194 balita dan status gizi lebih 3 balita.

Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Waru erat kaitannya dengan keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat.

B. FAKTOR DEMOGRAFI DAN LINGKUNGAN

Keadaan lingkungan sangat mempengaruhi derajad kesehatan, keadaan lingkungan termasuk di dalamnya yaitu lingkungan fisik/ geografi, lingkungan sosial politik, perilaku penduduk dan adat istiadat setempat.

Wilayah kerja Puskesmas Waru dengan jumlah desa sebanyak 5 desa dengan luas 44.307 Ha terdiri dari sawah tadah hujan 8,06 %, sawah irigasi 1,32 %, tanah kering/ tegalan 77,21

(21)

%, pekarangan 4,50 % dan lain- lain 8,91 %. Adapun 5 desa tersebut yaitu desa Waru Barat, desa Waru Timur, desa Teagangser Laok, desa Tlonto Ares dan desa Sana Laok yang keseluruhannya terdiri dari 36 kampung/ dusun.

Kondisi fisik jalan ke perdesaan berupa tanah diperkeras dan beraspal sehingga pada musim hujan masih dapat dilalui dengan transportasi sepeda motor atau mobil.

Lokasi Puskesmas Waru berada 1 Km ke arah barat dari pusat kota Kecamatan, dekat dengan pemukiman penduduk, mudah dijangkau dengan arus lalu lintas, transportasi mudah dan dekat dengan fasilitas umum seperti pasar, dan lain- lain. Rencana pada tahun 2011 yang lalu akan dikembangkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah tipe D, namun karena keterbatasan lahan, dan lain- lain, maka Rumah Sakit Umum Daerah Waru dibangun di lapangan Kerap Kecamatan Waru mulai tahun 2012.

Jarak dari Puskesmas Waru ke desa terjauh yaitu desa Sana Laok berjarak 18 Km, dan jarak dari Puskesmas ke pusat rujukan berikutnya yaitu Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Slamet Martodirdjo Pamekasan berjarak 35 Km dengan kondisi fisik jalan aspal.

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Waru pada tahun 2013 sebanyak 37.513 jiwa. Usia produktif antara 16 s/d 55 tahun sebanyak 16.348 jiwa atau sebesar 49,83 %. Sementara itu tingkat pendidikan penduduk masih rendah, hal ini dapat dilihat bahwa 19,32 % penduduk masih berpendidikan SD ke bawah, dan kalau dibandingkan antara penduduk laki- laki dan perempuan terlihat bahwa penduduk perempuan lebih banyak yang berpendidikan rendah dibandingkan dengan laki- laki. Tingkat pendidikan keluarga, terutama pendidikan ibu yang rendah merupakan penghambat pencapaian derajat kesehatan keluarga yang optimal.

Dengan rendahnya pendidikan penduduk dan tidak adanya sektor industri yang dapat menyerap tenaga kerja, maka sebagian besar penduduk bermatapencaharian tani dan buruh tani. Dalam kehidupan keluarga, peran ganda dan fungsi ibu kadang belum berjalan seperti yang diharapkan. Hal ini terlihat di daerah perdesaan di Waru sewaktu hamil ibu tetap melakukan pekerjaan berat membantu suami di ladang / sawah.

Tempat- tempat umum yang ada sebanyak 70 TTU dan yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 63 atau 85 %, tempat penjualan pestisida sebanyak 6 dan yang memenuhi syarat 100 % sedangkan TPM yang ada 54 dan yang memenuhi syarat 31 atau 57,4 %.

Keadaan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Waru yang hampir 100 % beragama Islam sosial masyarakatnya seperti pada umumnya di wilayah Madura yang lain yaitu peran tokoh dan ulama sangat menonjol, bahkan perintah tokoh dan Kiyai ini lebih dianut dari pada perintah aparat desa dan aparat lainnya.

(22)

Peranan perangkat desa, PKK Desa dan Kader Kesehatan masih belum seperti yang diharapkan, demikian pula partisipasi aktif masyarakat dalam menunjang kesehatan belum seperti yang diharapkan.

C. SUMBER DAYA KESEHATAN

Upaya Kesehatan merupakan salah satu faktor yang turut menentukan derajat kesehatan masyarakat terdiri dari pelayanan kesehatan dan sumber daya. Puskesmas Waru merupakan Puskesmas Rawat Inap dengan 23 Tempat Tidur dengan pelayanan selama 24 jam tiap hari.

Ketenagaan yang ada yaitu Kepala Puskesmas yang juga merangkap sebagai Dokter Umum, Kepala Tata Usaha, Dokter Umum 1 orang, Dokter Gigi 1 oran, Bidan 9 orang, Petugas Gizi 1 orang, PKL 1 orang, Perawat Umum 20 orang, Perawat Gigi 2 orang, Petugas Radiologi 1 orang, Petugas Laborat 2 orang, Petugas Obat 2 orang, Lain- lain 4 orang.

Jumlah Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Waru sebanyak 36 Posyandu, jumlah tersebut masih di bawah jumlah Posyandu minimal yang seharusnya ada di wilayah kerja Puskesmas Waru yaitu 43 Posyandu.

Jumlah Pondok Bersalin Desa sebanyak 3, yaitu Desa Waru Barat 2, Desa Sana Laok 1. Sedangkan Ponkesdes yang ada sebanyak 4 yaitu di Desa Waru Timur, Desa Waru Timur, Desa Tlonto Ares dan Desa Sana Laok masing- masing 1 Ponkesdes. Poskesdes di tiap desa belum ada.

Alat transportasi yang masih berfungsi di Puskesmas Waru yaitu Pusling 2 buah, sepeda motor Bidan 5 yaitu Bidan Induk 1, Desa Waru Barat 1, Desa Waru Barat 1, Desa Waru Timur 1, Desa Sana Laok 1. Sepeda motor program 4, terdiri dari Jamkesmas 2 (hilang 1 pada bulan Pebruari 2012), Kusta 1 dan Imunisasi 1.

D. DATA HASIL INTERVENSI

Pada penelitian ini dilakukan pada 40 responden yang merupkan wakil dari ibu bayi dan ibu hamil, Desa Waru Timur, kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, Madura. Penelitian dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner dan wawancara terhadap 40 responden, adapun informasi yang diambil dalam penelitian ini adalah berupa pendidikan dan pekerjaan dari responden dan informasi tentang pengetahuan dan perilaku pada ibu bayi dan ibu hamil tentang imunisasi pada anak.

Berikut ini merupakan distribusi responden berdasarkan pendidikan yang ditunjukkan pada tabel 4.1.

(23)

Tabel 4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Pendidikan N % Tidak Tamat SD 2 5,0 Tamat SD 20 50,0 Tamat SMP 10 25,0 Tamat SMA 8 20,0 Total 40 100.0

Tabel 4.1 menjelaskan mengenai distribusi responden berdasarkan pendidikan. Responden yang mempunyai riwayat yang tidak tamat SD sebanyak 2 orang dengan prosentase 5%, tamat SD 20 orang (50%), tamat SMP 10 orang (25,0%), tamat SMA sebanyak 8 orang (20%). Responden dengan tingkat pendidikan SD dan paling dominan.

Faktor pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan responden terhadap pentingnya imunisasi, sehingga akan mempengaruhi respon ibu dalam memberikan imunisasi yang lengkap terhadap anaknya. Data yang kedua adalah distribusi responden berdasarkan pekerjaan yang dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini.

Tabel 4.2

Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan N %

Petani 12 30

Ibu Rumah Tangga 20 50,0

Guru 1 2,5

Swasta 7 17,5

Total 40 100.0

Tabel 4.2 menunjukkan distribusi responden berdasarkan pekerjaan. Responden dengan pekerjaan petani sebanyak 12 orang (30%), ibu rumah tangga sebanyak 20 orang (50%), guru sebanyak 1 orang (2,5%), swasta sebanyak 7 orang (17,5%) dan lain-lain (0%). Responden dengan jenis pekerjaan paling dominan adalah ibu rumah tangga dengan prosentase 50%, sedangkan responden dengan jenis pekerjaan paling sedikit adalah guru.

(24)

Tabel 4.3

Distribusi Umur Responden

Umur Ibu N %

≤ 20 tahun 5 12,5

20-30 tahun 22 55,0

≥ 30 tahun 13 32,5

Total 40 100.0

Tabel 4.3 menunjukkan distribusi umur ibu dan ibu hamil yang digunakan sebagai responden, dimana ibu yang berumur ≤ 20 tahun sebanyak 12,5 %, ibu yang berumur ≥ 30 tahun sebanyak 32,5 % dan yang paling dominan pada responden adalah ibu yang berumur 20-30 tahun sebanyak 55 %.

Tabel 4.4

Pengetahuan Responden Tentang Imunisasi (Pre-Intervensi)

Tingkat Pengetahuan N % Baik Cukup 2 10 5 25 Kurang 28 70 Total 40 100.0 5% 25% 70%

Tingkat Pengetahuan Ibu (Pre-Intervensi)

Pengetahuan Baik Pengetahuan Cukup Pengetahuan Kurang

(25)

Tabel 4.4 menunjukkan pengetahuan responden tentang pentingnya imunisasi (pre-intervensi). Responden yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang imunisasi sebanyak 2 orang dengan prosentase 5%. Responden yang mempunyai pengetahuan yang cukup baik tentang imunisasi sebanyak 10 orang dengan prosentase 25 %. Responden yang mempunyai pengetahuan yang kurang sebanyak 28 orang dengan prosentase sebanyak 70%. Hasil pengambilan data ini didapatkan bahwa responden lebih banyak yang mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang tentang imunisasi.

Berikut ini adalah tabel mengenai hasil wawancara tentang perilaku ibu bayi dan ibu hamil dalam mengimunisasikan anak yang dilakukan responden.

Tabel 4.5

Jumlah responden tentang perilaku imunisasi pada anak (pre-intervensi)

Perilaku N %

Baik 34 85

Buruk 6 15

Total 40 100

Dari hasil wawancara responden tentang perilaku ibu bayi dan ibu hamil dalam menerapkan program imunisasi kebanyakan dari responden sudah berperilaku baik mau membawa anak ke posyandu dan mengimunisasikan anaknya dengan jumlah responden yang perilaku baik sebesar 85 %.

85% 15%

Perilaku Ibu (Pre-Intervensi)

Baik Buruk

(26)

Kemudian setelah dilakukan intervensi pada responden, yaitu berupa penyuluhan, pembagian leaflet, dan tanya-jawab kepada responden tentang imunisasi didapatkan data peningkatan pengetahuan dan perilaku ibu dalam mengimunisasikan anak. Berikut ini adalah tabel tingkat pengetahuan responden tentang imunisasi (post-intervensi).

Tabel 4.6

Pengetahuan Responden Tentang Imunisasi (Post-Intervensi)

Tingkat Pengetahuan N % Baik Cukup 16 14 40,0 35,0 Kurang 10 25,0 Total 40 100.0

Tabel 4.6 menunjukkan pengetahuan responden tentang pentingnya imunisasi (post-intervensi). Responden yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang imunisasi sebanyak 16 orang dengan prosentase 40%. Responden yang mempunyai pengetahuan yang cukup baik tentang imunisasi sebanyak 14 orang dengan prosentase 35%. Responden yang mempunyai pengetahuan yang kurang sebanyak 10 orang dengan prosentase sebanyak 25,0%. Hasil pengambilan data ini didapatkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan responden, lebih banyak yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang imunisasi dibandingkan sebelum dilakukan intervensi.

40%

35% 25%

Tingkat Pengetahuan Ibu (Post-Intervensi)

Pengetahuan Baik Pengetahuan Cukup Pengetahuan Kurang

(27)

Berikut ini adalah tabel mengenai hasil wawancara tentang perilaku ibu bayi dan ibu hamil dalam mengimunisasikan anak yang dilakukan responden (post-intervensi).

Tabel 4.7

Jumlah responden tentang perilaku imunisasi pada anak (post-intervensi)

Perilaku N %

Baik 38 95,0

Buruk 2 5,0

Total 40 100

Dari hasil wawancara responden tentang perilaku ibu bayi dan ibu hamil dalam menerapkan program imunisasi setelah dilakukan intervensi menunjukkan berkurangnya perilaku yang buruk dalam mengimunisasikan anaknya dengan jumlah responden yang perilaku buruk terjadi penurunan dari sebelum intervensi sebanyak 10% setelah dilakukan intervensi menurun menjadi hanya 5% saja.

Output dari mini proyek ini adalah meningkatnya jumlah balita yang diimunisasi di Waru Timur. Data ini menunjukkan prosentase balita yang telah mendapat imunisasi tiap bulan. Data di desa Waru Timur, Kecamatan Waru adalah :

95% 5%

Perilaku Ibu (Post-Intervensi)

Baik Buruk

(28)

Pada diagram diatas tampak bahwa prosentase LIL desa Waru Timur pada bulan Desember 2012- November 2013 sebanyak 88,5%, bulan Januari 2013-Desember 2013 sebesar 84,5%, sedangakan pada bulan Februari 2013 – Januari 2014 sebesar 82,3%.

E. PEMBAHASAN

Pada mini proyek ini, peneliti akan menguraikan data dan hasil penelitian tentang peningkatan pengetahuan sehingga tercipta perubahan perilaku masyarakat terhadap imunisasi. Penilaian terhadap perilaku tidak mudah dilakukan karena membutuhkan penelitian yang sifatnya berkelanjutan. Perilaku merupakan bentuk suatu hal yang bukan hanya dari pengetahuan saja, melainkan banyak hal seperti adat, kebiasaan, pola pikir, pengalaman dan lain-lain. Sedangkan pengetahuan itu sendiri merupakan hal yang dapat dipelajari dan dimodifikasi.

Hasil penelitian ini diperoleh dari data yang berupa kuesioner tentang tingkat pengetahuan ibu. Peneliti menggunakan metode ini karena tingkat pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Tingkat pengetahuan tentang imunisasi pada ibu bayi dan ibu hamil di masyarakat merupakan salah satu tolak ukur untuk mengetahui bagaimana ibu bayi dan ibu hamil menyadari pentingnya imunisasi pada anak, selain itu tingkat pengetahuan juga dapat mengetahui respon dari suatu keluarga dalam memberikan imunisasi pada anak.

Prosedur penelitian ini adalah ibu-ibu di posyandu yang memiliki anak balita dibawah 1 tahun dibagikan kuesioner untuk dijawab kemuadian hasil jawaban di skoring untuk dikategorikan ke dalam tingkat pengetahuan. Kuesioner yang digunakan merupakan kuesioner yang telah diuji validitasnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Bagi ibu

78 80 82 84 86 88 90

Des 12-Nov 13 Jan 13-Des 13 Feb 13-Jan 14

88.5

84.5

82.3 Prosentase LIL Waru timur

(29)

yang tidak dapat membaca maka pengisian kuesioner dipandu oleh dokter intersip atau petugas yang bersangkutan.

Berdasarkan data hasil penelitian sebelum dilakukan intervensi, di desa Waru Timur di dapatkan data hanya 5% ibu yang mempunyai tingkat pengetahuan baik selebihnya 70 % tingkat pengetahuan ibu kurang dan 25% cukup. Tingkat perilaku responden sudah berperilaku baik mau membawa anak ke posyandu dan mengimunisasikan anaknya dengan jumlah responden yang perilaku baik sebesar 85 %. Hal ini menandakan, kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang imunisasi di kalangan masyarakat setempat. Beberapa ibu membawa anaknya ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi tanpa tahu manfaat dan efek samping dari imunisasi itu sendiri.

Kegiatan intervensi yang dilakukan selama penelitian adalah edukasi setiap posyandu, menyebar leaflet, dan melatih kader posyandu. Tentu saja hal ini tidak mungkin dilakukan sekali atau dua kali. Setelah dilakukan intervensi pada responden, yaitu berupa penyuluhan, pembagian leaflet, dan tanya-jawab kepada responden tentang imunisasi didapatkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan perilaku ibu dalam mengimunisasikan anak. Persentase responden post intervensi yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik tentang imunisasi meningkat menjadi 40%. Sedangkan jumlah responden yang perilaku baik meningkat menjadi sebesar 95 %. Hasil pengambilan data ini didapatkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan yang baik tentang imunisasi dibandingkan sebelum dilakukan intervensi, walaupun hanya sebanyak 40% dari jumlah keseluruhan responden. Kondisi tersebut karena dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk kendala-kendala yang dialami saat proses mini proyek berlangsung. Kendala tersebut antara lain :

1. Perbedaan bahasa dan budaya

Bahasa merupakan sebuah alat komunikasi yang sangat penting dalam menyampaikan sesuatu. Keterbatasan dalam penggunaan bahasa daerah membuat penelitian ini berjalan kurang maksimal karena sebagian besar orang lebih menguasai bahasa daerah mereka dibandingkan bahasa Indonesia.

2. Keterbatasan tim

Karena terbatasnya tim mini proyek, maka penelitian tidak dapat dilakukan secara cepat. Hal ini tentu saja berpengaruh dalam keberhasilan mini proyek.

3. Keterbatasan waktu penelitian

Waktu penelitian kurang ideal karena outcome yang diinginkan adalah desa UCI. Hasil yang diperoleh seharusnya dihitung selama satu tahun. Maka harus dilakukan secara berkesinambungan.

(30)

4. Keengganan masyarakat dalam mengikuti program

Adanya masyarakat yang masih enggan mengikuti posyandu karena lebih memilih melakukan kegiatan di rumah seperti memasak, berjualan dan lain-lain. Karena beberapa posyandu kurang mendapatkan perhatian dari warga setempat, maka kegiatan mini proyek pun agak sulit didapatkan.

Sebaik apapun program yang dijalankan apabila masih ada kesalah pahaman maka tingkat kegagalan pun akan tinggi. Prosentase ini memiliki angka yang rendah, akan tetapi dapat sangat beragam. Kendala yang masih beredar di kalangan masyarakat antara lain sebelum 40 hari dilarang keluar rumah,vaksin haram, imunisasi membuat sakit, anak panas ringan tidak boleh diimunisasi, banyak keluarga yang repot dengan pekerjaannya dan takut anak menderita penyakit lain jika diimunisasi. Keadaan ini sangat erat melekat dibenak masyarakat dan harus diluruskan karena dapat membuat program imunisasi gagal. Prosentase di masyarakat memang kecil tapi hal ini dapat menyebar kepada orang lain karena kepercayaan warga desa lebih kuat dibandingkan dengan pola pikir dan pengetahuan.

Setelah intervensi dilakukan maka dilihat indikator outcome berupa desa UCI (Universal Child Immunization) dimana LIL (Lima Imunisasi Dasar Lengkap) harus mencapai target. Indikator mini proyek ini adalah desa UCI yaitu desa diamana bayi telah mendapat Lima Imunisasi Dasar Lengkap yang dihitung dalam satu tahun. Pada tahun 2013 target bayi LIL adalah 80% dilihat dari prosentase imunisasi campak. Data follow up pada prosentase LIL desa Waru Timur pada bulan Desember 2012- November 2013 sebanyak 88,5%, bulan Januari 2013-Desember 2013 sebesar 84,5%, sedangakan pada bulan Februari 2013 – Januari 2014 sebesar 82,3%. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa desa Waru Timur sudah mencapai target LIL, sehingga bisa dikategorikan dalam desa UCI (Universal Child Immunization).

(31)

BAB V

KESIMPULAN

A. KESIMPULAN

Dari mini proyek yang telah dikerjakan di Waru Timur didapatkan beberapa kesimpulan antara lain :

1. Tingkat pengetahuan ibu di Desa Waru Timur setelah dilakukan intervensi hampir setengahnya memiliki pengetahuan yang baik terhadap program imunisasi.

2. Tingkat perilaku ibu di Desa Waru Timur setelah dilakukan intervensi hampir seluruhnya memiliki perilaku yang baik terhadap program imunisasi.

3. Target LIL tahun 2013 tercapai sehingga Desa Waru Timur dikategorikan dalam desa UCI (Universal Child Immunization).

4. Tingkat perilaku sebanding dengan target LIL walaupun tingkat pengetahuan setengahnya memiliki pengetahuan yang baik terhadap program imunisasi.

B. SARAN

Saran yang dapat diberikan dalam proses mini proyek ini adalah harus diilakukan follow up secara berkesinambungan oleh puskesmas untuk meningkatkan pengetahuan ibu dan mempertahankan desa UCI.

(32)

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. (2000). Pedoman Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta: Direktorat Epidemiologi dan Imunisasi

Jakarta: Direktorat Jendral PP  PL dan Pusdiklat SDM kesehatan Departemen Kesehatan RI Djaali. (2000). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri

Jakarta

Fatmawati. (2006). Determinan Yang mempengaruhi Cakupan Imunisasi Dasar. Http://datadeni.blogspot.com/2008

Hidayat, A. (2005). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta: Salemba Medika

Idwar. (1999). Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Status Imunisasi Hepatitis B Pada Bayi (0-11 bulan) di Kabupaten Aceh Besar Propinsi Daerah Istimewa Aceh.

Perpustakaan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Http://Digilit.litbang.depkes.go.id

Lubis. (1998). Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Orangtua Tentang Imunisasi. Majalah Kedokteran Nusantara, edisi kusus. Http://library.usu.ac.id/modules.php

Notoatmodjo,S. (2005). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Masjkuri. (2003). Pengetahuan, Sikap, Bekerja dan Tidak Bekerja.

Http://library.usu.ac.id/modules.php

Seksi Imunisasi, Dinas kesehatan Provinsi Sumatera Utara. (2005). Presentasi Cakupan Suharsono. (1996). Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu-ibu Keturunan Cina Yang

Mempunyai Bayi Baru Lahir Terhadap Imunisasi Bayi di Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Propinsi sumatera Selatan. Http://library.usu.ac.id/modules.php

Sunaryo. (2004). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC

Supartini,Y. (2004). Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta:EGC Wahab, A.Samik dan Julia, M. (2002). Sistim Imun, Imunisasi dan Penyakit Imun. Jakarta:

Widya Medika.

Wiwan. (2007). Cakupan Imunisasi Bayi Dinas Kesehatan Sumatera Utara Tahun 2007. Dibuka pada website http://www.kompas.com//ver1/kes/0711.

Gambar

Tabel 1.1 Kasus PD3I Kab. Pamekasan 2011
Tabel 2.1. Jadwal Pemberian Imunisasi Dasar Anak
Tabel 4.1. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan  Pendidikan  N  %  Tidak Tamat SD  2  5,0  Tamat SD  20  50,0  Tamat SMP  10  25,0  Tamat SMA  8  20,0  Total  40  100.0
Tabel  4.3  menunjukkan  distribusi  umur  ibu  dan  ibu  hamil  yang  digunakan  sebagai  responden,  dimana  ibu  yang  berumur  ≤  20  tahun  sebanyak  12,5  %,  ibu  yang  berumur  ≥  30  tahun sebanyak 32,5  %  dan  yang paling dominan pada responden
+3

Referensi

Dokumen terkait

Pembuatan hiasan dari batu dilakukan dengan cara, pertama batu dipukul-pukul sampai menjadi bentuk gepeng. Setelah itu kedua sisi yang rata dicekungkan dengan cara

Dengan menggunakan cause and effect diagram atau diagram sebab akibat, kita akan mencari akar dari setiap masalah yang ada.. Alat bantu tersebut dirancang untuk

Dari hasil pengujuan koefisien absorpsi suara dari ke tiga variasi berat kain menghasilkan nilai α &gt; 0, sehingga campuran serat sabut kelapa, rayon viskosa dan low

Dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1948, tentang pendaftaran dan pemberian izin kepemilikan senjata api pada Pasal 9 dinyatakan, bahwa setiap orang yang bukan anggota

Tujuan penelitian ini adalah (1) menjelaskan wujud kata dalam tuturan masyarakat Tionghoa di Gang Baru Semarang dan (2) menjelaskan proses fonologi tuturan

Cara pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner kepada responden untuk mengetahui Hubungan Dukungan Suami dan Sumber Informasi

Secara teoritis manfaat hasil dari penelitian ini adalah, dapat memberikan pengetahuan baru dan wawasan baru terhadap siswa dengan adanya model TAI berbasis masalah open

Setelah mengetahui fitur apa saja yang akan terdapat dalam aplikasi, langkah selanjutnya adalah melakukan perancangan sistem dengan menentukan kelas- kelas apa