• Tidak ada hasil yang ditemukan

Veterinaria Medika Vol. 7, No. 3, Nopember 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Veterinaria Medika Vol. 7, No. 3, Nopember 2014"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Perbandingan Kualitas Spermatozoa Hasil Pemisahan Kromosom X dan Y Antara Metode Kolom Albumin dan Metode Electric Separating Sperm (ESS)

pada Domba Ekor Gemuk

Comparison of Sperm Quality After Separation X and Y Chromosome Between Column Albumin Method and Electric Separating Sperm (ESS) Method

on Ekor Gemuk Sheep

1

Ragil Angga Prastiya, 1Amung Logam Saputro, 1Sitti Zainab,

2

Herry Agoes Hermadi 1

Mahasiswa Magister Ilmu Biologi Reproduksi Universitas Airlangga

2

Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Kampus C, Jl. Mulyorejo Surabaya 60115

Tlp. (031)5992785 Fax. (031)5991530 Email : [email protected]

Abstract

This aims of this study was to determine quality of the sperm (motiltias, vitality, and integrity of membranes) spermatozoa and the size of the sperm head after undergoing a process of separation of sheep chromosome X and Y with two different methods, namely albumin column method using blood serum and Bovine Serum Albumin sheep (BSA) and electric separating sperm (ESS) methods. The study consisted of 6 treatments, namely P0, P1, P2, P3, P4, P5 and each treatment consisted of ten replicates. Data obtained on the quality and size of the sperm head of sheep were analyzed and statistically tested using ANOVA followed by Tukey 5% significance. The results showed that the blood serum of sheep and BSA did not significantly affect the quality of spermatozoa sheep, the most tangible result is shown by the control treatment. Size X and Y spermatozoa head on P1 and P2 showed significant differences to the P0, P1 ratio on chromosome X and Y spermatozoa was 28%: 72% and 32% in comparison P2: 68%. In the second method, namely electric separating sperm (ESS), the results showed that the quality of the sperm cells in test microscopic observation of motility in all treatment groups showed no significant differences, while the power of life and abnormalities observation results show that the results between the P3 and P4 control do not have significant differences but significantly different from P5.

Keywords: Sperm separation, Column albumin method, Electric Separating Sperm (ESS), Sperm quality, Size of head sperm

––––––––––––––––––––––––––––––––––– Pendahuluan

Pembinaan daya produksi ternak mutlak memerlukan adanya perbaikan dari mutu genetik, melalui usaha penyediaan dan penyebarluasan bibit unggul ternak, utamanya dengan penggunaan pejantan–

pejantan unggul. Akibat dari keterbatasan kemampuan yang ada, dalam rangka perbaikan mutu genetik dan produktivitas ternak di Indonesia, pemerintah telah mengambil kebijakan dengan menyebarluaskan penggunaan teknik inseminasi buatan

(2)

dengan menggunakan semen beku yang berasal dari ternak unggul yang diimpor maupun yang berasal dari ternak lokal yang telah diketahui memiliki kualitas yang tinggi, baik spermatozoanya maupun juga prestasi produktivitasnya (Hafez, 2000).

Program inseminasi buatan saat ini belum dapat memenuhi keinginan dari peternak yang menghendaki jenis kelamin tertentu dari ternaknya. Pejantan pada mamalia menentukan terjadinya generasi betina atau pejantan yang dilahirkan. Bioteknologi reproduksi berkembang sangat pesat, para ahli telah memasuki tahap molekuler sebagai perkembangan bioteknologi yang telah lama ada di Indonesia (Irawan, 2000). Pemisahan spermatozoa kromosom X dan Y adalah salah satu bioteknologi molekuler yang dikembangkan di dunia selama lebih dari 60 tahun dengan menghasilkan kemajuan yang cukup berarti.Teknik pemisahan spermatozoa kromosom X dan Y yang pernah dikembangkan adalah sentrifuse, elektroforesis, pemilihan ukuran sel, perbedaan tekanan, perbedaan pH, dan viskositas (Priatmoko, 2008).

Usaha yang telah lama dilakukan untuk memisahkan spermatozoa kromosom X dan Y secara elektris, tampaknya perlu dipertimbangkan adanya teori bahwa kedua tipe spermatozoa tersebut memiliki muatan yang berbeda sehingga memungkinkan pengembangan suatu teknik pemisahan dengan menggunakan aliran listrik (Nalbandov, 1990).

Menurut Hafs and Boyd (1986) menggambarkan secara detail pergerakan spermatozoa selama adanya aliran listrik pada larutan dengan ion lemah dengan ditemukannya dua tipe spermatozoa yaitu spermatozoa kepala anoda yang bergerak menuju anoda (terminal positif) dan spermatozoa ekor anoda yang bergerak ke katoda (terminal negatif). Berdasarkan penelitian Shirai et al., (1989) spermatozoa

yang terkumpul pada anoda diduga memiliki kromosom seks Y sedang yang berada di katoda memiliki kromosom seks X.

Dasar pemisahan spermatozoa kromosom X dan Y dengan metode kolom albumin yaitu semen yang diletakkan di atas kolom albumin mengalami pergerakan motilitas sehingga spermatozoa berkromosom Y yang mempunyai motilitas tinggi mampu menembus lapisan albumin. Metode ini dapat menghasilkan spermatozoa yang telah terseleksi sebelum dilakukan pembekuan (Hafez, 2000).

Berdasarkan penelitian terdahulu maka penelitian ini akan membandingkan dua metode yaitu metode kolom albumin dengan menggunakan serum darah domba dan BSA dan metode electric separating sperm (ESS) untuk memisahkan dan mengambil spermatozoa yang berkromosom seks Y dengan harapan mengetahui tingkat keberhasilan dan kualitas spermatozoa setelah di pisahkan kromosom X dan Ynya. Parameter penelitian ini yaitu kualitas dan besar kepala spermatozoa setelah mengalami proses pemisahan kromosom seks X dan Y. Penelitian terhadap kualitas spermatozoa terdiri dari motilitas, daya hidup spermatozoa, dan keutuhan membran spermatozoa, besar kepala spermatozoa domba kromosom X dan Y juga diteliti sebagai dasar keberhasilan pemisahan kromosom ini.

Materi dan Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan 2 ekor Domba Ekor Gemuk Jantan (DEG) betina umur 2 – 3 tahun. Semen domba diambil menggunakan vagina buatan 2 kali dalam seminggu lalu diperiksa kelayakannya, setelah itu sampel spermatozoa siap untuk di separasi menggunakan metode kolom albumin dan metode electric separating sperm (ESS). Jumlah ulangan setiap perlakuan yaitu 10 ulangan.

(3)

Persiapan awal perlu dilakukan pada separasi spermatozoa. Semen yang sudah ditampung kemudian dicuci dengan media BO (Bracketts and Olophant) dan disentrifugasi dengan kecepatan 1600 rpm selama 10 menit untuk mendapatkan pelet spermatozoa. Standar jumlah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 10 juta jumlah spermatozoanya. Sampel spermatozoa dibagi secara acak dan diberi perlakuan:

1. P0 : 0,5 ml spermatozoa (10 juta) dipipet dan dimasukkan kedasar tabung ukur, kemudian secara perlahan dibuat lapisan diatas spermatozoa dengan menambahkan 1 ml BO secara perlahan lewat dinding tabung reaksi

2. P1 : 0,5 ml spermatozoa (10 juta) dipipet dan dimasukkan kedasar tabung ukur, kemudian secara perlahan dibuat lapisan diatas spermatozoa dengan menambahkan 1 ml BSA secara perlahan lewat dinding tabung reaksi

3. P2 : 0,5 ml spermatozoa (10 juta) dipipet dan dimasukkan kedasar tabung ukur, kemudian secara perlahan dibuat lapisan diatas spermatozoa dengan menambahkan 1 ml serum darah domba secara perlahan lewat dinding tabung reaksi.

4. P3 : 0,5 ml spermatozoa (10 juta) dipipet dan dimasukkan kedasar tabung U, kemudian ditambahkan 1 ml BO secara perlahan lewat dinding tabung reaksi, setelah itu dialiri listrik searah 1,5 volt selama 3 menit dan diambil pada bagian anoda.

5. P4 : 0,5 ml spermatozoa (10 juta) dipipet dan dimasukkan kedasar tabung U, kemudian ditambahkan 1 ml BO secara perlahan lewat dinding tabung reaksi, setelah itu dialiri listrik searah 1,5 volt

selama 7 menit dan diambil pada bagian anoda.

6. P5 : 0,5 ml spermatozoa (10 juta) dipipet dan dimasukkan kedasar tabung U, kemudian ditambahkan 1 ml BO secara perlahan lewat dinding tabung reaksi, setelah itu dialiri listrik searah 1,5 volt selama 10 menit dan diambil pada bagian anoda.

Tiga tabung ukur yang telah diberi spermatozoa dan media seperti diatas lalu diinkubasikan pada suhu 50 C selama 20 menit di cool tub, selanjutnya dipisahkan fraksi atas dan fraksi bawah. Pada fraksi atas, spermatozoa diperiksa secara mikroskopis terhadap kualitas spermatozoa dan ukuran kepala spermatozoa yang diduga banyak mengandung spermatozoa berkromosom seks Y (Hidayah, 2005).

Setelah proses ESS (Electric Separating Sperm) spermatozoa diambil dengan pipet Pasteur, yaitu spermatozoa yang terdekat dengan ujung kabel terminal positif (anoda) adalah dominan seks Y dan yang terdekat dengan ujung kabel terminal negatif (katoda) adalah dominan seks X (Saputro dan Hermadi, 2011).

Hasil dan Pembahasan

Ukuran Kepala Spermatozoa Kromosom X dan Y

Tabel 1. Ukuran Kepala Spermatozoa pada Fraksi Bawah (Kaya Spermatozoa Pembawa kromosom X) Perlakuan Ulangan Ukuran (pxl) Kepala Spermatozoa (%) (rerata ± standar deviasi) P0 10 48,80a ± 6,052 P1 10 28,30b ± 9,673 P2 10 32,40b ± 4,427

(4)

Tabel 2. Ukuran Kepala Spermatozoa pada Fraksi Atas (Kaya Spermatozoa Pembawa kromosom Y) Perlakuan Ulangan Ukuran (pxl) Kepala Spermatozoa (%) (rerata ± standar deviasi) P0 10 51,20b ± 6,052 P1 10 71,70a ± 9,673 P2 10 67,60a ± 4,427

Penentuan kromosom seks didasarkan atas ukuran kepala spermatozoa, jika dari 100 hitungan dipengamatan mikroskopis okuler (mikrometer) perbesaran 400X dan dengan pewarnaan eosin negrosin didapatkan spermatozoa dengan ukuran panjang dan lebar (pxl) ≥ rataan maka diklasifikasikan kromosom X dan apabila lebih kecil dari

rataan maka diklasifikasikan kromosom Y (Mahaputra dkk., 2002).

Hasil penelitian menunjukkan ukuran kepala spermatozoa termasuk kecil banyak didapatkan pada P1 dan P2 pada pengamatan fraksi atas dimana P1 proporsi spermatozoa berkromosom Y didapatkan sebanyak 71,70 ± 9,673 sedangkan pada P2 proporsi spermatozoa berkromosom Y didapatkan sebanyak 67,60 ± 4,427, hal ini menunjukkan bahwa teknik kolom albumin ini bisa menghasilkan spermatozoa dengan krosomom Y spermatozoa lebih banyak didapat. Pengamatan ukuran kepala spermatozoa pada fraksi bawah banyak didapatkan spermatozoa pembawa kromosom X. P2 yang menggunakan bahan baru yaitu serum albumin, menunjukkan tidak ada perbedaan nyata yang tampak jika dibandingkan dengan P1.

Gambar 1. Diagram Batang Perbandingan Ukuran Kepala Spermatozoa Domba Berkromosom X dan Y

(5)

Kualitas Spermatozoa Motilitas Spermatozoa

Tabel 3. Motilitas Spermatozoa

Perlakuan Ulangan Motilitas Spermatozoa (%) (rerata ± standar deviasi) P0 10 73,00a ± 2,582 P1 10 70,50a ± 7,619 P2 10 67,50a ± 5,893

Hasil data penelitian menunjukkan terjadinya penurunan motilitas dari spermatozoa setelah dilakukan pemisahan kromosom X dan Y dengan BSA dan perlakuan (P2) yaitu pemisahan kromosom X dan Y dengan serum darah domba yang dapat dilihat dari perbandingan antara kontrol (P0) dengan P1 dan P2. Pada P0 ternyata BO yang digunakan sebagai media pengencer atau pembanding jumlah ml perlakuan menunjukkan hasil yang paling nyata dimana motilitasnya kurang lebih 73%, yang membuktikan bahwa media BO adalah media yang dapat meningkatkan motilitas spermatozoa. Diantara P1 dan P2 tidak terjadi perbedaan yang signifikan pada motilitas spermatozoa, hal ini membuktikan bahwa serum albumin bisa digunakan untuk media pemisah kromosom X dan Y pada spermatozoa domba ekor gemuk walaupun tingkat motilitasnya sedikit lebih rendah daripada menggunakan bahan pemisah BSA (Sugiarti dkk., 2004). Daya Hidup Spermatozoa

Tabel 4. Daya Hidup Spermatozoa

Perlakuan Ulangan Spermatozoa Hidup (%) (rerata ± standar deviasi) P0 10 87,90a ± 4,122 P1 10 58,60b ± 9,180 P2 10 58,20b ± 8,690

Setelah dilakukan analisis stastistik Anova yang diteruskan dengan uji Tukey terhadap rataan persentase hidup spermatozoa menunjukkan terdapat perbedaan yang nyata (p>0,05) pada persentase hidup spermatozoa antara kontrol dengan P1 dan P2. P1 dan P2 tidak terdapat perbedaan nyata dan P0 memberikan pengaruh yang paling tinggi terhadap daya hidup spermatozoa. Penurunan daya hidup spermatozoa pada P1 dan P2 dikarenakan serangkaian proses penelitian ini yang berakibat spermatozoa banyak yang mati, karena spermatozoa tidak dapat bertahan dengan waktu yang cukup lama untuk hidup di suhu ruangan biasa.

Keutuhan Membran Spermatozoa

Tabel 5. Keutuhan Membran Spermatozoa

Perlakuan Ulangan Integritas Membran Spermatozoa (%) (rerata ± standar deviasi) P0 10 40,90a ± 9,492 P1 10 32,90b ± 6,574 P2 10 31,30b ± 3,199

Pada hasil penelitian yang dilakukan dapat dilihat bahwa keutuhan membran pada P1 yaitu 32,90 ± 6,574 dan P2 yaitu 31,30 ± 3,199 tidak terjadi perbedaan yang signifikan tetapi terjadi sedikit penurunan dan P2. P0 yang dibandingkan dengan P1 dan P2, terjadi penurunan pada P1 dan P2 yang diakibatkan oleh lama waktu dan kecepatan sentrifugasi yang digunakan mempengaruhi tingkat produksi Reactive Oxygen Species (ROS). ROS ini akan bereaksi dengan asam lemak tak jenuh majemuk (polyunsaturated) tinggi yang terdapat dalam membran melalui reaksi

(6)

oksidasi yaitu peroksidasi lipid. Stress oksidatif dan stress terhadap ROS dapat mengakibatkan penurunana motilitas, penetrasi zona free-hamster ovum dan merusak keutuhan membran (Henkel, 2004).

Setelah dilakukan analisis stastistik ANOVA terhadap rataan persentase spermatozoa yang hidup menunjukkan tidak terdapat perbedaan (p>0,05) pada persentase hidup spermatozoa antara P0, P3 dan P4, tetapi antara P0 (kontrol) terdapat perbedaan terhadap P5 (p<0,05).

Sedangkan P3 dan P4 tidak terdapat perbedaan terhadap P5.

Abnormalitas spermatozoa pada sisi anoda setelah dilakukan pemisahan dengan teknik ESS (Electric Separating Sperm)

menunjukkan tidak terdapat perbedaan (p>0,05) pada persentase hidup spermatozoa. P0, P3 dan P4 tidak terdapat perbedaan, Tetapi antara P0 (kontrol) terdapat perbedaan terhadap P5 (p<0,05). Sedangkan P3 dan P4 tidak terdapat perbedaan terhadap P5.

Tabel 6. Rerata dan Simpangan Baku Motilitas, Daya Hidup, dan Abnormalitas Spermatozoa Domba Merino Setelah Pemisahan dengan Teknik ESS (Electric Separating Sperm)

Perlakuan Motilitas Spermatozoa (rerata ± simpangan baku) Daya hidup Spermatozoa (rerata ± simpangan baku) Abnormalitas Spermatozoa (rerata ± simpangan baku) Tanpa proses pemisahan (P0) 52,40 a +1,661 64,40a+2,315 4,60 a + 1,435 3 menit (P3) 51,40 a+2,337 60,20 ab+2,653 7,00 ab +1,304 7 menit (P4) 50,40 a+1,778 56,00 ab+2,302 11,00 ab +2,345 10 menit (P5) 48,00 a+1,000 54,20 b+2,746 11,40 b +1,030

Berdasarkan tabel diatas, diagram persentase Motilitas, Daya hidup, dan

Abnormalitas spermatozoa setelah perlakuan dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 2. Diagram Persentase Motilitas, Daya Hidup, dan Abnormalitas Spermatozoa Setelah Pemberian Teknik ESS (Electric Separating Sperm) pada Sisi Anoda.

(7)

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan metode kolom albumin sebagai media pemisah spermatozoa pembawa kromosom X dan Y pada domba jantan berpengaruh terhadap perbandingan ukuran kepala karena pada pemeriksaan mikroskopis didapatkan perbandingan yang nyata terhadap ukuran kepala spermatozoa antara fraksi atas dan bawah. Pemisahan Spermatozoa kromosom X dan Y dapat dilakukan dengan menggunakan teknik ESS (Electric Separating Sperm), dimana spermatozoa yang dialiri listrik pada sisi anoda dominan menghasilkan spermatozoa dengan kromosom Y. Waktu yang terbaik untuk pemisahan spermatozoa dengan teknik ESS (Electric Separating Sperm) pada sisi anoda adalah 3 menit (P3), karena menghasilkan kualitas spermatozoa yang terbaik dibandingkan kelompok perlakuan P4 dan P5.

Daftar Pustaka

Hafez, E.S.E. 2000. Reproduction in farm animal. 7th Ed. Lea Febriger. Philadelphia. 165-168.

Hafs, H.D and L.D. Boyd. 1986. Galvanic separation of x and y chromosome bearing spermatozoa. In SE Hafez (ed). Reproduction in farm animals. 5th edition. By Lea and Febiger. Philadelphia.498-500.

Henkel Ralf, P.D. 2004. Spermatozoa functional assays. Fertilization reproduction magazine. 1-3.

Hermadi, H.A. 2002. Penggunaan privasis sebagai alternatif sinkronisasi birahi secara masal. Fakultas Kedokteran

Hewan dan Lembaga Penelitian, Universitas Airlanggga. Surabaya. Hidayah, N. 2005. Pengaruh pencucian

spermatozoa domba pada medium BO ditambah BSA dan kafein terhadap persentase motilitas dan jumlah spermatozoa hidup. Skripsi. FKH Universitas Airlangga. 26. Irawan, D. 2000. Pemisahan sel spermatozoa

sapi madura kromosom seks X dan Y dengan teknik sentrifugasi menggunakan kolom percoll. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya. 23-30.

Mahaputra, L. dan I. Mustofa. 2002. Pemisahan sel sperma pembawa kromosom kelamin dan perkembangan embrio hasil fertilisasi in vitro pada sapi madura. Media Kedokteran Hewan. 18(1) : 8-10.

Nalbandov, A.V. 1990. Fisiologi reproduksi pada mamalia dan unggas. Reproductive Physiology of Mammals and Birds. Diterjemahkan oleh Keman, S. Edisi ketiga.Universitas Indonesia Press. Jakarta.5.

Priatmoko, E. 2008. Motilitas dan daya hidup serta abnormalitas spermatozoa sapi friesian holstein setelah pemisahan dengan teknik column albumin menggunakan putih telur. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya. Shirai, M., M.S. Matsuda and Mitsuhawa.

1989. Electrophoresisi separation of X and Y chromosome bearing sperm in human sperm. Dalam N. Isnaini. 1994. Pemisahan spermatozoa X dan Y pada sapi FH dengan sentrifugasi. 121-129.

(8)

Sugiarti,T., E. Triwulanningsih, P. Situmorang, R.G. Sianturidan, dan D. A. Kusumaningrum. 2004. Penggunaan katalase dalam produksi semen dingin sapi. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor. 4-5 Agustus 2004. Puslitbang Peternakan, Bogor. 195-205.

Gambar

Gambar 1. Diagram Batang Perbandingan Ukuran Kepala Spermatozoa   Domba  Berkromosom X dan Y
Gambar 2.  Diagram  Persentase  Motilitas,  Daya  Hidup,  dan  Abnormalitas  Spermatozoa  Setelah Pemberian Teknik ESS (Electric Separating Sperm) pada Sisi Anoda

Referensi

Dokumen terkait

Prospektus Final, Formulir Pemesanan Pembelian Saham Tambahan (“FPPS Tambahan”) dan formulir lainnya tersedia dan dapat diperoleh pemegang saham di kantor BAE, yaitu PT

Antibiotika terhadap kuman Salmonella segera diberikan disertai obat- obatan lainnya untuk mengurangi keluhan penderita, misalnya antikejang (Soedarto, 2007). Antibiotik yang

Bagi perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa, analisis servuction model sangat baik untuk digunakan dalam mengukur faktor-faktor yang dapat meningkatkan jasa pelayanan

Penggunaan dual server di penerima mampu menghasilkan prosentase packet loss yang kecil dan throughput link yang besar dengan delay pengiriman yang lebih kecil, bahkan untuk

Untuk mengisi kuisioner atau angket dengan model skala Likert, jawaban telah disediakan dan responden dapat memilih salah satu jawaban yang sesuai.Setiap item jawaban bernilai

Level interaksi obat dengan persentase paling besar yaitu level significant sebanyak 72 kejadian (52,17%) dan potensi interaksi serious 54 kejadian (39,13%).Kejadian

yang diajukan peserta/Rumah sakit Provider yang tidak memahami prosedur klaim asuransi dengan baik, sehingga apabila salah satu persyaratan dalam pengajuan dokumen klaim ada

Tujuan dari penelitian eksploratif ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi para online seller di Yogyakarta untuk memilih situs