EXISTENCE OF MINANGKABAU CUSTOM CRIMINAL LAW ABOUT ADULTARY
(The case of study, Tanah Datar Regency)
Sahrul Ujud1, Yanzalzisatry1, Yetisma Saini,1
The Training of the Law Department, The Faculty of Law of Bung Hatta University E-mail: [email protected]
ABSTRACT
Adultary is regulated in the Criminal Code and Minangkabau customary law. According to the customary law, adultary is a copulation that is done between man and woman do not married. Do not depend on the people who are not married or married. The solutions of the case of criminal customary about adultary is done by customary justice. The fornication is done by a pair of young people who have not a relationship or unmarried. The problems of talked in this thesis are (1) Existence of Minangkabau customary criminal law about adultary. (2) How is the solutions of the case of the customary criminal law about adultary. (3) What is the sanction that is enforced by customary law. This researh is conducted by sociological juridical. The sources of the data are primary data and secondary data. Technique of collecting the data were interviewa and study document. The technique of analyzing the data was qualitative technique. The conclusions of the result of the research are (1) The violation of the customary law is known by society. (2) The completion is done in the Kerapatan Adat Nagari office at the customary justice. (3) The sanction that is enforced fines as well as the apology to the society, because their residences have dirtied by the offender.
Key words : Law, Custom, Minagkabau, Adultary
Pendahuluan
Di dalam kehidupan bermasyarakat banyak perbuatan-perbuatan dilarang, baik menurut undang-undang, maupun menurut hukum adat. Khusus di
Minangkabau perbuatan yang dilarang diantaranya yaitu perbuatan zina. Zina adalah, suatu perbuatan yang dilarang oleh undang-undang dan hukum adat itu sendiri. Walaupun perbuatan zina itu adalah perbuatan yang dilarang namun
masih sering terjadi dalam masyarakat di Minangkabau. Zina menurut hukum adat adalah suatu perbuatan persetubuhan yang tidak disahkan dengan nikah sebelumnya, tidaklah diperhitungkan antara kedua belah pihak suka atau tidak suka, yang jelas zina menurut hukum adat merupakan perbuatan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri. Sedangkan dalam KUHP yang dimaksud zina adalah perbuatan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat perkawinan yang dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam status bersuami atau beristri.
Bila dibandingkan antara pengertian zina menurut hukum adat dan hukum pidana di atas, dapat lihat bahwa pengertian zina lebih luas diatur dalam hukum adat Minangkabau dibandingkan KUHP itu sendiri, karena pengaturan tindak pidana tentang zina menurut regulasinya yang tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Menurut Ahmad Bahiej, perzinahan dalam hukum adat tidak hanya dilakukan oleh orang yang sudah kawin, perzinahan juga dapat dilakukan oleh orang-orang yang belum kawin. Pengertian zina menurut hukum adat
adalah perbuatan persetubuhan dilakukan orang yang telah kawin terikat dengan perkawinan atau juga persetubuhan dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang belum terikat perkawinan. Dalam hukum adat Minangkabau perbuatan zina adalah juga hal yang sangat dihindari sehingga bagi pelaku akan diberikan sanksi yang berat.
Bentuk hukum pidana adat Minangkabau ditemukan dalam:
Undang-undang Nan Duo Puluah
Dalam undang-undang tersebut yang mengatur tentang persoalan hukum pidana, yang terbagi dalam dua bagian, bagian pertama disebut
Undang-undang Nan Selapan yang
berkaitan dengan bentuk kejahatan kedua dan Undang-undang Nan Duo
Belas yang berkaitan dengan
pembuktian. Dalam Undang-undang
Nan Salapan diatur tentang
bentuk-bentuk kejahatan yaitu: (1), Tikam
bunuah (tikam bunuh), (2) Upeh racun
(upas racun), (3) Samun saka (samun sakar),(4) Sia bakar (siar bakar), (5)
Maliang curi (maling curi), (6) Dago dagi (daga dagi), (7) Kicuah kicang
(kicuh kicang), (8) Sumbang salah (sumbang salah). Dalam Undang-undang Duo Belas, mencantumkan dua
belas pasal, yang dapat menjadi alasan untuk menangkap dan menghukum seseorang. Undang-undang ini terdiri dari dua bagian, yang masing-masing mempunyai enam pasal. Bagian pertamadisebut bagian tuduh. Enam pasal lainnya dari bagian dari Undang-undang nan duo baleh apa yang dinamakan Cemo (cemar). Setiap orang merupakan anggota komunenya, yang dalam hal ini disebut kaum atau suku. Kaum atau suku mempunyai tanggung jawab terhadap tingkah laku anggotanya oleh karena itu, kalau seseorang yang melakukan kejahatan yang patut dihukum, maka yang akan memikul hukuman itu adalah kaum atau sukunya. Sedangkan terhadap pelaku kejahatan itu sendiri, kaum atau sukunyalah yang memberikan hukumannya. Salah satu bentuk kejahatan yng diatur
Undang-undang Nan Salapan sebagaimana
disebut di atas adalah sumbang salah yang dimaksud dengan sumbang salah menurut Adat Minangkabau. (1)
“Tasuntiang dibungo kambang”
maksudnya berbuat tidak senonoh dengan istri orang.. (2) "Takuruang
dibilik dalam maksudnya berduaan
dalam satu rumah dengan istri orang. (3)’Sumbang salah laku parangai”
adalah sumbang maksudnya kelakuan
yang salah terhadap perempuan lain atau perempuan yang tidak selayaknya berdua-duaan yang tidak mempunyai hubungan muhrim. Salah, yaitu tertangkap basah berzina dengan perempuan lain, malahan kadang-kadang sampai menghasilkan (buah) bayi. Pelaku terhadap sumbang salah itu akan diberi sanksi dibuang sapanjang adat yang berlaku. Penelitian ini ingin melihat bagaimana keberadaan hukum pidana adat tentang zina tersebut dalam prakteknya sekarang di Minangkabau.
Perumusan Masalah
Untuk lebih fokus dengan judul yang telah penulis kemukakan di atas, penulis memberikan batasan masalah agar tidak menyimpang dari apa yang menjadi pokok bahasan. Mengacu kepada latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan ini adalah:
1. Bagaimanakah eksistensi hukum pidana adat Minangkabau tentang zina di Minangkabau sekarang. 2. Bagaimanakah penyelesaian perkara
hukum pidana adat tentang zina 3. Sanksi apa yang diberlakukan oleh
Tujuan Penelitian Peneliti ini bertujuan:
1. Untuk mengetahui eksistensi hukum pidana adat zina di Minangkabau dalam praktek sekarang.
2. Untuk mengetahui penyelesaian perkara hukum pidana adat tentang zina
3. Untuk mengetahui Sanksi apa yang diberlakukan oleh hukum adat
Metode Penelitian
Untuk mendapatkan data sesuai dengan masalah maka dilakukan penelitian dengan metode sebagai berikut. 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian hukum sosiologis yang data utamanya diperoleh di lapangan Bapak Melbendri Dt.Rangkayo Batuah, selaku ketua KAN guna memperoleh data primer. 2. Sumber Data
a. Data primer
Data primer yaitu data yang diperoleh di lapangan dengan melakukan wawancara Bapak Melbendri Dt.Rangkayo Batuah, selaku ketua KAN di Batipuh Ateh, Bapak Irsal Veri Idrus Dt. Lelo Sampono ketua LKAAM di Kabupaten Tanah Datar,
Bapak Ajisman Dt. Alam Nan Putiah selaku wali nagari di Batipuah Ateh, Bapak Sabar Dt. Amputiah pemuka agama di Batipuah Ateh.
b. Data sekunder
Data sekunder yaitu data yang di peroleh dari buku-buku dan data-data yang diperoleh dari kantor Nagari, Kerapatan Adat Nagari (KAN) di Nagari Batipuh Ateh dan data di Lembaga Kerapatan Adat Minangkabau (LKAAM), berupa perkara zina yang dilaporkan masyarakat Tahun 2010 – 2013.
3. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara
Wawancara yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab secara langsung. Dalam melakukan wawancara ini peneliti menggunakan daftar pertanyaan sebagai alat pengumpul data. Daftar pertanyaan tersebut telah disusun secara semi terstruktur yaitu pertanyaan yang telah dipersiapkan bisa dikembangkan pada saat wawancara sedang terjadi.
Studi dokumen yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari literatur-literatur yang berkaitan dengan hukum adat tentang zina.
4. Analisis Data
Data primer maupun data sekunder, dianalisis secara kualitatif dengan mengelompokkan data sesuai dengan masalah yang diteliti kemudian akan ditarik kesimpulan dan diuraikan dalam bentuk kalimat.
Hasil penelitian dan pembahasan Dari hasil penelitian penili yang lakukan dan disertai wawancara dengan bapak Melbendri Dt.Rangkayo Batuah yang menjabat sebagai ketua KAN di nagari batipuah ateh, sampai saat ini hukum pidana adat masih dipakai dan ditaati olah masyarakat, meskipun sebagian dari pidana adat tersebut telah diatur oleh undang-undang. Salah satu perbuatan pidana adat yang masih berlaku sampai sekarang adalah dalam masalah zina, setiap perbuatan zina yang dilakukan oleh anggota masyarakat akan diberikan sanksi
oleh masyarakat adat tidak ada perbedaan apakah pelakunya terikat perkawinan dengan orang lain atau tidak.
Hukum pidana adat tersebut keberadaannya baru dapat ditegakkan secara utuh melalui peradilan adat. Salah satu contoh kasus zina yang diselesaikan menurut hukum adat adalah perbuatan zina yang dilakukan oleh sepasang remaja laki-laki yang bernama Buyuang (nama samaran) dan perempuan Upik (nama samaran) yang berumur sekitar 19 tahun dimana remaja ini keduanya masyarakat Batipuh Ateh. Perbuatan zina itu dilakukan kedua belah pihak di wilayah hukum adat Batipuah Ateh, terhadap kasus tersebut diadili berdasarkan hukum adat melalui peradilan adat di kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Batipuah Ateh. Berdasarkan perbuatan zina yang dilakukan maka si pelaku dengan keluarganya diberi sanksi dengan meminta maaf kepada masyarakat nagari. Untuk acara permintaan maaf itu maka kepada pelaku diminta untuk menyembelih hewan berkaki empat dalam hal ini menyembelih kambing untuk menjamu masyarakat. Pada waktu perjamuan itu pelaku di perintahkan
untuk meminta maaf kepada masyarakat nagari.
Dalam hasil peneliatian yang dilakukan oleh penulis, hukum adat atau hukum pidana adat tentang zina pada masa sekarang masih dipakai dan ditaati oleh masyarakat meskipun perbuatan zina telah diatur oleh hukum positif (KUHP), kerena perbuatan zina yang diatur oleh hukum positif tidak semuanya diatur sebagaimana telah di atur oleh hukum adat, hal-hal yang diatur oleh KUHP tentang zina yaitu: perbuatan asusila yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang salah satunya terikat perkawinan dengan orang lain. Tapi lain halnya yang diatur oleh hukum adat tentang zina, zina menurut hukum adat merupakan perbuatan persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri, jadi aturan hukum adat tentang zina lebih luas pengertiannya dari pada hukum positif, maka oleh itu demi keamanan dalam bermasyarakat, masyarakat lebih menggutamakan hukum adat terhadap pelaku zina karena perbuatan zina sangat dilarang oleh hukum islam dan hukum adat karena masyarakat menganggap tempat tinggalnya telah dikotori
Penyelesaian perkara hukum adat
tentang zinamenurut Bapak Melbendri Dt.Rangkayo Batuah sebagai ketua KAN Batipuh Ateh, walaupun perbuatan zina itu sekarang pada akhir-akhir ini banyak terjadi namun di daerah Batipuah Ateh baru satu kasus perbuatan zina yang terjadi dan diselesaikan menurut hukum adat. Kasus yang telah terjadi di nagari Batipuah Ateh dimana kejadian ini terjadi pada malam Minggu sekitar pukul 21.00 WIB di saat acara pemuda yang diadakan di Nagari Batipuah Ateh, pada malam itu perbuatan zina dilakukan oleh sepasang remaja laki-laki yang bernama Buyuang (nama samaran) dan perempuan Upik (nama samaran). Keduanya dipergoki atau tertangkap basah saat dalam keadaan setengah telanjang pada sebuah rumah kosong atau tidak dihuni lagi, sehingga diperkirakan atau diduga telah melakukan perbuatan zina atau perzinaan, oleh sebab itu masyarakat langsung membawa keduanya keposko pemuda. Ketika diwawancarai mereka mengakui telah melakukan perbuatan perzinaan, setelah peristiwa penangkapan terjadi dan pelaku mengakui perbuatan
perzinaan maka pada malam itu mereka disuruh pulang dan pada esok harinya mereka diminta datang ke kantor KAN untuk menyelesaikan perbuatan mereka tersebut
Menurut Bapak Ajisman Dt. Alam Nan Putiah, selaku Wali Nagari Batipuah Ateh. Dalam cara penyelesaian hukum adat Minangkabau, maka di undanglah ketua KAN oleh Wali Nagari dan ketua pemuda beserta masyarakat sebagai pengunjung dalam hal ini untuk menyelenggarakan proses persidangan peradilan adat yang bertempat di Kantor Kerapatan Adat Nagari. Selain itu Wali Nagari juga memangil mamak atau penghulu dan diiringi oleh orang tua dan kakak serta famili terdekatnya dari kedua pelaku. Dalam proses persidangan ketua KAN menjabat sebagai hakim adat dan wali nagari sebagai penuntut adat dan ketua pemuda menjadi saksi terhadap peristiwa kejadian.
Berdasarkan fakta yang diperoleh dalam persidangan dimana hakim mendengar keterangan dari masyarakat pada waktu kejadian dan pengakuan dari tersangka, maka menimbang hukuman yang akan
dijatuhkan terhadap pelaku zina dan kemudian pelaku dan keluarganya dikenakan sanksi menurut hukum adat, dengan alasan kesalahan yang dilakukan oleh keoponakannya maka mamak atau penhulunya ikut serta menanggung beban, karena malu keponakan termasuk malu mamaknya juga oleh karena itu si pelaku dengan keluarganya atau mamak dan penghulu diberi sanksi hukum buang yaitu dibuang sepanjang adat atau dikucilkan. Artinya apapun acara yang dilakukan oleh masyarakat menyangkut adat maka orang tersebut tidak boleh diikutsertakan dan tidak dibawa lagi
baiyo ba molah atau tidak lagi tagak samo tinggi duduak samo randah
dalam kehidupan bermasyarakat biasanya. Dari putusan sidang tersebut mamak tersangka meminta maaf atas perbuatan kemenakannya kepada masyarakat, mamak atau penghulu tersangka tersebut meminta diringankan hukuman atau diganti dengan sanksi lain. Permohonan tersebut diterima, kemudian dipertimbangkan lagi oleh hakim sehingga akhirnya memutuskan memberi sanksi berupa kewajiban kepada pelaku dan keluarganya
termasuk penghulu untuk meminta maaf kepada masyarakat nagari. Untuk melakukan upacara permintaan maaf itu maka kepada pelaku diwajibkan menyembelih hewan berkaki empat, untuk menjamu masyarakat nagari pada waktu itulah pelaku dan seluruh keluarganya meminta maaf kepada masyarakat.
Proses pelaksanaan sanksi adat Berdasarkan wawancara dengan Bapak Sabar Datuak Amputiah selaku mamak oleh pelaku diketahui bahwa berdasarkan putusan hakim Kerapatan Adat Nagari itu, berundinglah antara mamak dan penghulu kedua belah pihak untuk mencari jalan atau langkah- langkah yang akan diadakan untuk pembayaran denda yang diputuskan oleh hakim. Perundingan itu bertujuan untuk mencari dimana acara adat dilaksanakan dan dari mana dana yang akan diambil. Berdasarkan perundingan kedua pelaku disepakati, dana tersebut dibagi sama banyak oleh keluarga kedua belah pihak dan dilakukan di rumah perempuan, yaitu dengan menjamu masyarakat nagari dengan cara menyembelih hewan dalam hal
ini seekor kambing, karena nagari mereka telah dikotori dan dianggap mengundang bencana yang biasa disebut mengundang bala dalam kampung. Setelah acara upacara adat selesai maka kedua keluarga sepakat menikahkan kedua keponakan tersebut.
Keputusan ini tanpa ada paksaan dari pihak mana pun tapi kebijakan yang diambil oleh mamak-mamak mereka karena perbuatan itu telah terlanjur jauh hubungannya yang dilakukan oleh keponakan dan mempererat hubungan silaturahmi kedua belah pihak dan pelaku perbuatanzina tersebut akhir menjadi suamiistri.
Dalam proses pelaksanaan sanksi yang mengundang orang dalamkampung dilakukan oleh kerabat atau keluarga tersangka untuk menghadiri upacara adat. Pada intinya upacara tersebut untuk mengungkapkan perbuatan dan penyesalan terhadap kejadian yang telah terjadi proses permintaan maaf ini dilakukan oleh kedua pelaku dan keluarga atau mamak tersangka supaya tidak ada lagi rasa untuk membenci, mengucilkan karena ingin memulihkan keadaan seperti
semula sebagaimana biasanya dalam kehidupan sehari-hari dan dapat melakukan aktifitas apapun yang dilakukan oleh acara adat
Simpulan
1. Eksistensi hukum pidana adat minangkabau tentang zina salah satu perbuatan pidana adat yang masih terjadi sampai sekarang adalah masalah zina, setiap perbuatan zina yang dilakukan oleh anggota masyarakat akan diberikan sanksi oleh masyarakat adat tidak ada perbedaan apakah pelakunya terikat perkawinan dengan orang lain atau tidak, hukum pidana adat keberadaannya baru dapat ditegakkan secara utuh dengan peradilan adat, dari kasus yang telah terjadi di nagari Batipuah Ateh dan diselesaikan dengan hukum adat dengan prinsip tibo dimato indak
dipiciangkan, tibo di paruik indak dikampihan untuk mencari keadilan
dan kebenarannya.
2. Penyelesaian secara adat Minangkabau penyelesaian dilakukan di peradilan adat yang dihadiri oleh ketua KAN sebagai hakim, Wali Nagari sebagai penuntut dan ketua pemuda sebagai saksi. Dalam penyelesaian perkara itu si pelaku
yang datang didampingi oleh mamak (penghulu) keluarga terdekat, sanksi yang diberlakukan adalah minta maaf dengan mengadakan perjamuan.
3. Pada hari yang telah ditentukan, diadakanlah jamuan dengan mengundang masyarakat nagari dan pada waktu itu, pelaku, niniak mamak kedua belah pihak, minta maaf kepada pada masyarakat nagari.
Daftar pustaka
A.A.Navis, 1984, Alam Takambang
Jadi Guru, Jakarta.
Andi Hamzah, 2008. Asas-asas hukum
pidana, Rineka Cipta.
A.Z. Abidi, 1987. Asas-asas hukum
pidana Bagian Pertama,
Bandung.
Datoek Toeah, 1985. Tambo Alam
Minangkabau. CV Pustaka
Indonesia Bukittinggi.
D. Hazewinkel-Suringa, 1983.Inleiding
tot de studie van het Nederlandse Strafrect, bewerk door J. Remmelink.Groningen: H.D. Tjeenk Willink B. V,
Gauzali Syaidam, 2004, Kamus Lengkap Bahasa Minang (Minang Indonesia) bagian pertama, Padang, Pusat Pengkajian Islam Dan Minangkabau (PPIM).
Idrus Hakimi, 2004, Dt. Rajo Penghulu,
Pokok-pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau, Bandung,
PT. Rosdakarya.
Iman Sudiyat, 1981, Hukum Adat, Liberty,Yokyakarta.
_______1987. Asas-asas huku adat, Liberty, yogyakarta
Moeljatno, 1987. Azaz-asas hukum
pidana,Rineka Cipta
______1993. Asas-asas Hukum Pidana: Jakarta, PT.Rineka Cipta.
Yan Pramadia Puspa, 1997, Kamus
Hukum Lengkap Bahasa
Belanda Indonesia Inggris ,Semarang, Aneka Ilmu.
Sudarsono, 2007, Kamus Hukum,
Rineka Cipta, Jakarta
Soepomo, 1982. Bab-bab tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita,
Jakarta.