BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.

Teks penuh

(1)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif (qualitative research) adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok (Syaodih 2007:60). Tentunya hal ini terkait dengan yang penulis teliti yakni ingin mendeskripsikan dan menganlisis tentang fenomena masyarakat suku Nuaulu, baik itu peristiwa-peristiwa sejarah masa lampau (sejarah suku), aktifitas sosial, kepercayaan (termaktub dalam 7 unsur kebudayaan), juga persepsi masyarakat suku Nuaulu terkait hal tersebut di atas, baik secara individu maupun kelompok.

Koentjaraningrat (2002:329) melihat penelitian kualitatif ini sebagai penelitian yang bersifat Etnografi yaitu suatu deskripsi mengenai kebudayaan suatu bangsa dengan pendekatan Antropologi. Hal inipun dibenarkan oleh Fathoni (2005:98) Karena bahan mengenai kesatuan kebudayaan suku bangsa di suatu komunitas dari suatu daerah tertentu menjadi pokok deskripsi sebuah karangan etnografi, maka dibagi ke dalam bab-bab tentang unsur-unsur kebudayaan menurut suatu tata urut yang sudah baku. Susunan tata urut itu disebut sebagai kerangka etnografi. Seperti yang telah disebutkan oleh Koentjaraningrat dan Futhori mengenai

(2)

penelitian etnografi, penulis juga melakukan penelitian ini dengan menggunakan pendekatan etnografi, disebabkan bahan yang diteliti adalah mengenai kesatuan kebudayaan suku bangsa/ras di suatu komunitas dari suatu daerah tertentu yaitu menyangkut ritual daur hidup (life cycles) masyarakat suku Nuaulu di Pulau Seram, yang dimulai dari masa kehamilan Sembilan bulan, sampai titik akhir kehidupan yakni kematian yang akan dideskripsikan, dianalisis dan diinterpretasi oleh penulis.

Untuk memperinci unsur-unsur dari suatu kebudayaan, sebaiknya dipakai daftar unsur kebudayaan universal. Kerena unsur kebudayaan itu bersifat universal maka dapat diperkirakan bahwa kebudayaan suku bangsa yang menjadi pokok perhatian Antroplogi pasti juga mengandung aktivitas adat istiadat (ritual-ritual), pranata sosial dan benda-benda kebudayaan yang dapat digolongkan ke dalam salah satu dari tujuh unsur kebudayaan.

Sebagamana yang diungkpakan oleh Creswell (1998:493)

Ethnographic research is a Qualitative design for describing, analyzing and interpreting the patterns of a culture-sharing group. Culture is a broad term used to encompass all human behavior and beliefs. Typically, it includes study of language, rituals, structures, life stages, interactions and communication. Ethnographers visit the “field” collect extensive data through such procedures as observation and interviewing and write up a cultural portrait of the group within its setting

Dalam penelitian ini peneliti langsung berinteraksi dengan masyarakat suku Nuaulu setempat sehingga segala permasalahan yang terkait dengan budaya masyarakat setempat dapat diketahui, dipahami oleh peneliti secara jelas. Ciri umum yang ditampilkan dalam penelitian kualitatif sebagaimana dikemukakan diatas oleh Creswell ialah bahwa: Desain Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang

(3)

dihasilkan data deskriptif dan analisis serta interpretasi berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

Dengan demikian, lebih memusatkan pada ucapan dan tindakan subjek penelitian, serta situasi yang dialami dan dihayatinya, dengan berpegang pada kekuatan data hasil wawancara. Sejalan dengan ciri-ciri tersebut, Bogdan dan Biklen (1982:27-29) secara terperinci menjabarkan karakteristik penelitian kualitatif, diantaranya :

1. peneliti sendiri sebagai instrument utama untuk mendatangi secara langsung sumber data

2. mengimplementasikan data yang dikumpulkan dalam penelitian ini lebih cenderung kata-kata daripada angka

3. menjelaskan bahwa hasil penelitian lebih menekankan kepada proses tidak semata-mata kepada hasil

4. melalui analisis induktif, peneliti mengungkapkan makna dari keadaan yang terjadi

5. mengungkapkan makna sebagai hal yang esensial dari pendekatan kualitatif.

Dalam penelitian ini terdapat beberapa karakteristik yang ditonjolkan ; pertama, peneliti bertindak sebagai alat peneliti utama (key instrument) dengan melakukan wawancara sendiri para informan dan pengumpulan bahan yang berkaitan dengan objek penelitian dan peneliti terlibat aktif dalam proses penelitian. Kedua, peneliti mengumpulkan dan mencatat data-data dengan rinci yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Ketiga, melakukan triangulasi atau konfirmasi data.

(4)

B. Subjek Penelitian dan Lokasi Penelitian a. Subjek Penelitian

Dalam penelitian ini, sumber data dipilih secara purposive dan bersifat snowball sampling. Sumber data pada tahap awal memasuki lapangan dipilih orang yang memiliki power dan otoritas pada situsi sosial atau objek yang diteliti, sehingga mampu “membuka pintu” kemana saja peneliti akan melakukan pengumpulan data mereka tergolong gatekeepers (penjaga gawang) dan (knowledgeable informant) informan yang cerdas (Sugiono 2008:56)

Mengacu pada hal di atas, maka mula-mula yang menjadi informan kunci (gatekeepers) dalam penelitian ini adalah bapak ma’atoke, setelah itu beliau memberikan informasi tentang para informan lainnya yang punya kapasitas penting terhadap masalah yang peneliti sedang teliti, akhirnya dianjurkan menuju ke tua-tua adat yang ada (kepala suku, kapitan solaweno, kapitan weleuru, tuan tanah) karena merasa keterangan yang diberikan menyangkut ritual kelahiran dan masa dewasa belum terlalu dalam dan lengkap maka informan selanjutnya adalah mama biang dan seorang gadis muda yang baru saja menyelesaikan ritual pinamou yang lebih mengetahui tentang ritual tersebut, setelah itu menyangkut ritual kematian data diambil dari pendeta adat. Sedangkan untuk masalah keterkaitan menyangkut gambaran umum lokasi penelitian, data diperoleh di kantor desa negeri Tamilou (kepala urusan pembangunan) bapak Taher Pawae. Untuk gambaran umum kabupaten dan kecamatan diperoleh di kantor kecamatan Amahai (kepala kecamatan)

(5)

bapak Philip Halatu. Oleh Karena itu dalam penelitian ini bersifat snowball sampling maka informan ditetapkan oleh peneliti sebagai berikut ;

Tabel 01 Subjek Penelitian

Informan pangkal Informan pokok/kunci

1. Tokoh adat : yang meliputi raja, kepala suku, tuan tanah, kapitan dan ma’atoke 2. Tokoh agama : Ulama, pendeta dan

pendeta adat serta mama biang

3. Tokoh masyarakat yang terdiri dari : Kepala kecamatan Amahai, guru SMA negeri Tamilou 1. Komunitas masyarakat Islam 2. Komunitas masyarakat Kristen 3. Komunitas masyarakat Agama Suku b. Lokasi Penelitian

Tempat atau lokasi dalam penelitian adalah sebuah Desa di Pulau Seram bagian Timur yaitu Desa Tamilou Dusun Jalahatan. Peneliti tertarik untuk meneliti di Pulau Seram karena di wilayah ini masih banyak adat istiadat dan budaya yang belum terkuak dan dikenal oleh masyarakat Maluku pada khususnya dan Indonesia pada umumnya yang sangat menarik bila dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia.

(6)

C. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen utama adalah peneliti itu sendiri. Peneliti kualitatif, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data dan menganalisis data juga menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas semuanya. Nasution (2003:61) menyatakan :

Dalam penelitian kualitatif tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan bahkan hasil yang diharapkan itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya.

Dalam kaitannya peneliti sendiri adalah human instrument, dapat dibuktikan ketika di lapangan peneliti menetapkan fokus penelitian pada masyarakat suku Nuaulu, yaitu ketika di lapangan hal pertama yang peneliti lakukan tidaklah langsung menanyakan tentang ritual-ritual masyarakat tersebut, akan tetapi yang pertama peneliti mengobservasi lokasi penelitian berupa kegiatan masyarakat sehari-hari, kemudian menyangkut karakteristik masyarakat suku Nuaulu dimana pokok pertama adalah yang dilakukan adalah berusaha memahami bahasa Nuaulu setelah itu baru memfokuskan pada ritual daur hidup (life cycles) tentunya, setelah peneliti mampu berkomunikasi dengan baik para informan.

Para informan kemudian di tetapkan sendiri oleh peneliti, dengan bantuan gatekeepers yang pertama (bapak ma’atoke). Cara penentuan yang peneliti lakukan

(7)

adalah dengan jalan menanyakan kepada bapak ma’atoke tentang fungsi dari masing-masing tua adat yang ada, siapa saja nyang punya peran penting dalam setiap upacara-upacara adat yag dilaksanakan. Setelah keterangan didapat maka langkah selanjutnya adalah menuju rumah setiap informan yang akan dimintai keterangan menyangkut dengan masalah penelitian. Setelah data terkumpul peneliti kemudian melakukan analisis dan menafsirkan setiap data yang diperoleh serta membuat kesimpulan.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa menguasai teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standard yang ditetapkan.

Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan di dalam “natural setting” (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi, wawancara mendalam (in depth interviuw) dan dokumentasi.

1. Observasi

Nasution (2003:67) menyatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui obeservasi. Sedangkan Menurut Marshall (1995:75) “ Through observation, the research learn about behavior and

(8)

the meaning attached to those behavior”, yakni melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku dan makna dari perilaku tersebut.

Alwasilah (2009:154-155) menambahkan bahwa dengan menggunakan teknik observasi ini memungkinkan peneliti menarik inferensi (kesimpulan) ihwal makna dan sudut pandang informan, kejadian, peristiwa atau proses yang diamati. Dengan adanya observasi, peneliti akan melihat sendiri pemahaman yang tidak terucapkan (tacit undertanding) juga sudut pandang informan yang mungkin tidak tercungkil lewat wawancara.

Terkait dengan penelitian ini, peneliti datang ke lokasi atau tempat tinggal masyarakat suku Nuaulu di Pulau Seram untuk mengamati situasi (pada waktu siang dan malam) dalam aktivitas masyarakat setempat (berkebun, meramu sagu, mengolah tepung sagu menjadi sagu dan papeda, mencuci, nelayan, membelah kayu untuk dijadikan kayu kabar, dll). Dengan obervasi, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Jorgensen (1989:23) bahwa :

Methodology observation is appropriate for a wide range of scholarly problems pertinent to human exictence. It focuses on human interaction and meaning viewed from the insiders’ viewpoint in everyday life situation and setting. Its aims to generate practical and theoretical truths formulated as interpretative theories

Dalam hal ini, peneliti dalam melakukan pengumpulan data, terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Secara praktik di lapangan peneliti selalu menyimak apa yang

(9)

dilakukan oleh masyarakat suku Nuaulu setiap harinya, dengan pengamatan peneliti mampu melihat hal-hal yang tidak mampu diungapkan oleh masyarakat suku Nuaulu, misalnya ketika malam itu laki-laki suku Nuaulu yang ingin melaut biasanya akan menentukan pergi tidaknya mereka dengan tanda bulan, atau ketika anak dari bapak ma’atoke yang sakit dibungkus dengan daun jarak, ketika besoknya bangun pagi ia sudah tidak demam lagi. Hal ini tidak peneliti peroleh ketika berwawancara, (karena keterbatasan pengetahuan mereka akan bahasa Indonesia) itulah mengapa observasi dangat penting dalam penelitian kualitatif ini.

2. Wawancara

Estenberg (2002:98) mendefinisikan interview sebagai berikut. “A meeting of two person to exchange information and idea through questions and responses, resulting in communication and joint construction of meaning about a particular topic”. Dalam penelitian kualitatif, sering menggabungkan teknik observasi dengan wawancara mendalam. Selama melakukan observasi, peneliti juga melakukan interview kepada orang-orang yang ada didalamnya. Terkait dengan hal tersebut, maka dalam penelitian ini, peneliti di samping melakukan observasi terhadap masyarakat asli Pulau Seram, juga di selingi dengan memberikan pertanyaan (wawancara) yang berhubungan dengan masalah-masalah adat/budaya atau tradisi.

Dalam wawancara dengan informan, peneiliti memberikan keleluasaan kepada mereka untuk menjawab segala pertanyaan, sehingga memperkuat data-data melalui pengamatan. Wawancara dilakukan secara tidak berstruktur dan memakai

(10)

pedoman wawancara. Nasution (2003:69) mengemukakan bahwa “observasi saja tanpa wawancara tak memadai dalam melakukan penelitian, itu sebabnya observasi harus dilengkapi dengan wawancara”.

Wawancara sangat penting dalam penelitian ini, karena keterbatsan bahasa maka wawancara yang dilakukan menggunakan ahasa Melayu Ambon dengan tujuan mempermudah para informan untuk mengerti/mencerna maksud dan tujuan dari pertanyaan yang ada (pedoman wawancara). Informan memberikan keseluruhan informasi yang mereka punya, tentang proses ritual yang biasanya mereka laksanakan. Pada awalnya data yang diambil dimulai dari bapak ma’atoke kemudian menuju kepala suku dari kepala suku ke kapitan solaweno, kapitan weleuru, tuan tanah, ke pendeta adat. Akan tetapi menyangkut ritual kelahiran dan pinamou peneliti merasa agak membingungkan, dan merasa keterangan yang diberikan kurang jelas akhirnya peneliti menanyakan kepada bapak ma’atoke adakah orang yang bertugas untuk melaksankan ritual tersebut. Akhirnya didapatilah seorang nara sumber (mama biang) yang memang mempunyai andil penting dalam ritual tersebut, sehingga data yang diperoleh sangat melengkapi penelitian ini. Selanjutnya dari mama biang peneliti menuju ke mama ma’atoke, si gadis yang juga baru selesai dengan upacara Pinamou dan meminta kesediaannya untuk diambil foto/gambar.

3. Studi Dokumenter

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dalam penelitian di Pulau Seram ini dokumen yang penulis butuhkan adalah berupa tulisan-tulisan

(11)

tentang suku Seram, gambar-gambar aktifitas masyarakat asli pulau Seram, catatan sejarah tentang pulau Seram dan masyarakat aslinya. Namun karena masyarakat suku Nuaulu sendiri baru mengenal dunia pendidikan sekarang sekarang ini, maka dokumen-dokumen yang diperlukan tidak peneliti peroleh., yang peneliti peroleh di suku ini hanyalah dokumen yang berbentuk gambar yaitu tiga buah foto yang menggambarkan tentang: 1) pelaksanaan ritual daur hidup masa dewasa (pinamou) ketika melakukan proses pengusapan minyak di dada bapak ma’atoke, 2) ritual daur hidup masa dewasa bagi laki-laki (pataheri) pada saat tiba di depan baeleo dan setelah pemakaian cawat dan kain berang.

Studi dokumen ini merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hal ini juga dimaksudkan untuk menjaga tingkat validitas data yang nantinya akan dikumpulkan oleh peneliti.

4. Triangulasi Data

Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek validitas dan kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data sebagai sumber data. Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan observasi,

(12)

wawancara, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama.

Sugiono (2007:85) mengatakan bahwa “Nilai dari teknik pengumpulan data dengan triangulasi adalah untuk mengetahui data yang diperoleh convergent (meluas), tidak konsisten dan kontradiksi. Karena itu dengan menggunakan teknik triangulasi dalam pengumpuan data, maka data yang diperoleh akan lebih konsisten, tuntas dan pasti”. Lebih lanjut Sugiono menggambarkan proses triangulasi sebagai berikut :

Gambar 02

Proses Teknik Triangulasi

Sumber Data; bapak ma’atoke,

kepala suku, kapitan solaweno,

kapitan weleuru, mama biang, tuan

tanah, pendeta adat, mama biang, mama

ma’atoke Observasi (situasi; pada waktu siang

maupun malam serta aktivitas apa saja yang biasanya dilakukan oleh

masyarakat suku Nuaulu) Wawancara mendalam mengenai

ritual daur hidup (mengandung 9 bulan,kelahiran,dewasa; pinamou dan pataheri, perkawinan, kematian

)

Dokumentasi ; berupa 3 foto; 2 foto ritual pataheri, 1 foto

(13)

Gambar 03

Proses Triangulasi sumber

(sumber : Sugiono 2008:84)

Proses triangulasi data seperti yang telah digambarkan pada bagan di atas adalah, merupakan salah satu bentuk pengecekan terhadap sumber-sumber hasil wawancara, yang dilakukan oleh peneliti, agar tetap menjunjung tinggi tingkat keakuratan data yang diperoleh peneliti.

E. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di lapangan dan setelah di lapangan dalam hal ini Sugiono (2008:90) menyatakan bahwa: “analisis telah mulai sejak dirumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan terus berlanjut sampai penulisan hasil penelitian“.

Wawancara mendalam

A

B

(14)

Dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data. Lincoln dan Guba (1985:345) mengatakan bahwa :

Langkah pertama dalam reduksi data ke dalam unit analisis satuan ialah peneliti hendaknya membaca dan mempelajari secara teliti seluruh jenis data yang sudah terkumpul. Setelah itu usahakan agar satuan-satuan itu diindentifikasi. Peneliti memasukan ke dalam kartu indeks. Penyusunan satuan dan pemasukan ke dalam kartu indeks hendaknya dapat dipahami oleh orang lain. Pada tahap ini analisis hendaknya jangan dulu membuang satuan yang ada walaupun mungkin dianggap tidak relevan.

Tujuan analisis data yang dilakukan oleh peneliti yakni proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Analisis data dilakukan dengan mengoraganisir data, menjabarkan kedalam unit-unit analisis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain. Menurut Spradley (Creswell 1998:487) adapun langkah-langkah dalam penelitian etnografi adalah sebagai berikut ;

(15)

Gambar 04

Langkah-langkah penelitian Etnografi

3Making an ethnographic record 2 Interviewing an informant

1Location in information Sumber : Creswell J (1998:497)

Bertolak dari konsep di atas, maka untuk memudahkan peneliti dalam proses menganalisis data dalam penelitian ini, maka peneliti menggunakan alur analisis sebagai berikut :

12 writing the etnography

11 Discovering cultural themes

10 making a componential analysis

9 Asking contrast questions

8 making a taxonomic analysis

7 asking structural questions

6 making a domain analysis

5 analyzing ethnographic interviews

(16)

1. Analisis sebelum di lapangan

Penelitian kualitatif telah melakukan analisis data sebelum memasuki lapangan. Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menemukan focus penelitian. Maka, peneliti telah melakukan analisis terhadap sebuah buku dan beberapa artikel tentang suku Nuaulu. Diharapkan analisis ini dapat memberikan sedikit gambaran tentang masalah yang akan dikaji oleh peneliti.

Namun demikian focus penelitian ini masih bersifat sementara, dan akan berkembang seteleh peneliti masuk dan selama di lapangan. Sugiono (2008:90) mengibaratkan tahapan ini seperti :

Seseorang yang sedang mencari pohon jati di suatu hutan. Berdasarkan karakteristik tanah dan iklim, maka dapat diduga bahwa hutan tersebut ada pohon jatinya. Oleh karena itu peneliti dalam membuat proposal penelitian fokusnya adalah ingin menemukan pohon jati dari hutan tersebut. Berikut karakteristiknya. Setelah masuk peneliti masuk ke hutan beberapa lama ternyata hutan tersebut tidak ada pohon jatinya…… kalau fokus penelitian yang di rumuskan dalam proposal tidak ada di lapangan, maka peneliti akan merubah fokusnnya, tidak lagi mencari kayu jati di hutan, tetapi akan berubah dan mungkin setelah masuk hutan tidak tertarik lagi pada kayu jati tetapi beralih ke pohon/binatang yang ada di hutan tersebut.

Untuk hal tersebut, maka ada satu buku (hasil penelitian dan dokumentasi dari dinas pendidikan dan kebudayaan yang mengkaji tentang upacara-upacara tradisional daerah Maluku), makalah (eksistesi agama suku Nuaulu di Maluku) dan resensi disertasi (menyangkut ritual pataheri dan posone) yang peneliti gunakan, untuk menganalisis agar memberikan gambaran tentang masalah yang akan dikaji oleh peneliti.

(17)

2. Analisis selama di lapangan model Miles dan Huberman

Miles dan Huberman (1992:12) mengemukakan bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus, sampai datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data yaitu data reduction, data display dan conclusioan drawing/verivication. Langkah-langkah analisis ditunjukan pada gambar berikut ini:

Gambar 05

Periode Pengumpulan Data

Reduksi Data

Antisipasi Selama Setelah Display Data

Selama Setelah ANALISIS

Kesimpulan/verifikasi

(18)

1) Data reduction (reduksi data)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencari bila diperlukan. Reduksi data dapat dilakukan dengan menggunakan kode pada aspek-aspek tertentu.

Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan dan pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data yang muncul dari catatan-catatan lapangan. Reduksi data berlangsung secara terus menerus selama pengumpulan data berlangsung. Reduksi data merupakan bagian dari analisis menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan akhir dapat ditarik dan diverifikasi. Jadi semua catatan lapangan menyangkut masyarakat suku Naaulu, di pilah berdasarkan butir soal yang ada misalnya semua data baik wawancara dan observasi menyangkut ritual daur hidup pinamou, akan dikategorikan kedalam bagian point khusus sehingga sangat memudahkan peneliti ketika melakukan display data. Begitu juga untuk ritual lainnya, sehingga dapat dilihat perbedaan setiap data yang diambil dari masing-masing informan.

(19)

2) Data display (penyajian data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori flowchart dan sejenisnya. Dalam hal ini Miles dan Huberman (1992:17) manyatakan “The most frequent from of display data for qualititative research data in the past has been narrative text”. Yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif.

Sebagaimana halnya dengan reduksi data, penciptaan dan penggunaan penyajian data tidaklah terpisah dari analisis. Penyajian data yang peneliti lakukan adalah dengan merancang keseluruhan data berupa catatan lapangan yang telah direduksi ke dalam kolom-kolom sebuah matriks, yaitu dalam bentuk narative text (menceritakan) masing-masingnya point tersebut. Pertama penulis mencoba menceritakan/menggambarkan terlebih dahulu mengenai lokasi penelitian, kemudian kehidupan sosial budaya, pemerintahan dan pendidikan dari masyarakat suku Nuaulu, setelah itu mengenai karakteristik masyarakat dilihat dari tujuh unsur kebudayaan, barulah peneliti menceritakan tentang ritual daur hidup, makna dibalik setiap simbol yang digunakan dalam ritual tersebut serta relevansinya terhadap pendidikan IPS.

3) Conclusing drawing/verification/penarikan kesimpulan

Langkah analisis ketiga yang penting dalam penelitian kualitatif menurut Milles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dari permulaan

(20)

pengumpulan data, peneliti mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, sebab-akibat dan proposisi. Kesimpulan awal yang ditemukan mula-mula masih bersifat sementara karena belum jelas, namun dengan meminjam istilah Glaser dan Staruss (dalam Miles dan Huberman 1992:20) bahwa kemudian akan meningkat menjadi lebih rinci dan mengakar dengan kokoh, bila ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten pada saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data. Maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

Kesimpulan-kesimpulan yang ada juga kemudian diverifikasi selama penelitian ini berlangsung. Verifikasi itu berupa pemikiran kembali yang melintas dalam pikiran peneliti selama masa penulisan (penyusunan dan pengolahan data), tinjauan ulang pada catatan-catatan selama masa penelitian (di lapangan), tinjauan kembali dengan saksama berupa tukar pikiran dengan para ahli (pembimbing) untuk mengembangkan kesepakatan intersubjektif, serta membandingkan dengan salinan atau temuan dalam data-data yang lain. Beberapa cara yang dapat digunakan agar hasil penelitian ini dapat dipercaya selain dengan menggunakan teknik triangulasi data yaitu dengan melakukan pengecekan kebenaran data tertentu dengan membandingkan data yang diperoleh dari sumber lain, hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya interpretasi data yang bias. Selain itu peniliti juga menggunakan cara sebagai berikut :

(21)

1. Member Check

Tujuan dari member check adalah agar informasi yang peneliti peroleh dan digunakan dalam penulisan laporan ini sesuai dengan apa yang dimaksud oleh informan. Data yang diperoleh peneliti selanjutnya dilakukan pengujian secara ktitis melalui member check, yang dapat ditempuh dengan dua cara yaitu: 1) meminta tanggapan pada informan untuk mencek kebenaran data yang disusun. Dalam hal ini para tokoh adat yaitu kepala suku, ma’atoke, tuan tanah, kapiatan solaweno, kapitan weleuru, mama biang dan pendeta adat. jadi setelah diwawancara untuk meyakinkan peneliti, para informan dimintai untuk mendengarkan peneliti membaca kembali ulang catatan yang telah dibuat sebagai hasil wawancara, apabila ada yang keliru/salah akan dibetulkan. 2) pengecekan data ini dilakukan terus menerus dan berulang-ulang selama penelitian berlangsung. Pengecekan keakuratan data peneliti lakukan secara terus menerus kepada semua informan.

2. Audit Trail

Tahap ini merupakan tahap pemantapan, yang dimaksud untuk membuktikan kebenaran data yang disajikan dalam laporan penelitian. tahapan ini merupakan hasil analisis data tentang jenis, unsur, makna dan nilai dalam ritual daur hidup sebagai sumber pembelajaran IPS diperiksa dan diteliti kebenaran dan keakuratannya oleh peneliti rekan sejawat. Langkah ini didasarkan pada perkiraan bahwa hasil analisis data dapat diklasifikasi dengan pihak lain yang relevan. Misalnya pembimbing yang

(22)

memahami masalah dan tujuan penelitian ini sebelum ditetapkan sebagai simpulan akhir, dalam hal ini pembimbing satu (Prof. Gurniwan Kamil Pasha, M.Si) dan pembimbing dua (Prof.Rochiati Wiriaatmadja, MA)

Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori. Kesimpulan akhir tergantung pada besarnya kumpulan-kumpulan catatan lapangan, pengkodean, penyimpanan dan metode pencarian ulang yang digunakan, serta kecakapan peneliti.

Figur

Tabel 01  Subjek Penelitian

Tabel 01

Subjek Penelitian p.5

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :