1 BAB I
PENDAHULUAN
1
1.1. Latar Belakang Penelitian
Kota Yogyakarta merupakan daerah pusat pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota ini memiliki luas wilayah 32,5 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2015, sebanyak 412.704 jiwa yang tersebar di 14 kecamatan. Ditinjau dari beberapa aspek, kota ini sebenarnya memiliki banyak potensi baik dari letak wilayah, pariwisata, maupun sosial ekonomi.
Ditinjau dari letak wilayahnya, Kota Yogyakarta dapat dikatakan daerah yang cukup strategis karena terletak pada pusat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, serta menghubungkan daerah antar provinsi. Tingginya tingkat konektivitas di daerah ini memudahkan arus pergerakan sosial maupun ekonomi baik dari dalam maupun luar daerah. Hal ini tentunya akan memicu perkembangan di Kota Yogyakarta baik dalam peningkatan upaya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya maupun peningkatan perekenomian daerah. Selain sebagai kota tujuan pendidikan, daerah ini juga menjadi daerah tujuan wisata yang selalu dipadati pengunjung baik dari dalam maupun luar daerah. Dengan demikian, Kota Yogyakarta merupakan daerah yang memiliki arus pergerakan yang cukup tinggi dan selalu mengalami peningkatan.
Tingginya arus pergerakan yang ada di Kota Yogyakarta tersebut menimbulkan adanya peningkatan jumlah kendaraan bermotor baik dari para penglaju maupun wisatawan. Berdasarkan data dari Kantor Pelayanan Pajak Provinsi DIY, jumlah kendaraan bermotor di daerah ini mengalami peningkatan di sepanjang tahun 2014 hingga 2015. Berikut ini adalah data jumlah kendaraan bermotor di Kota Jogja,
2 Tabel 1.1. Jumlah Kendaraan Kota Yogyakarta
Jenis Kendaraan Tahun 2014 Tahun 2015
Mobil Penumpang 51.737 54.546 Bus 2.213 2.233 Mobil Beban 13.433 13.875 Kendaraan Khusus 259 273 Sepeda Motor 391.770 399.615 Jumlah 459.412 470.542
Sumber : Statistik Daerah – Kota Yogyakarta Tahun 2015
Adanya peningkatan jumlah kendaraan bermotor tersebut, akan berdampak pada peningkatan jumlah konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Yogyakarta. Secara umum, konsumsi Bahan Bakar Minyak harian rerata untuk Provinsi DIY di tahun 2016 adalah 840 Kiloliter untuk Premium, Pertamax 350 Kiloliter, dan Pertalite 1200 Kiloliter, dengan jumlah total 2300 Kiloliter per hari. (Communication and Relation Officer Pertamina, 2016) Sehingga banyak para investor yang menanamkan modal dengan membuka beberapa SPBU baru di beberapa titik Kota Yogyakarta. Perkembangan dalam pembanguna SPBU baru di Kota Yogyakarta dapat dikatakan cukup pesat seiring dengan pemanfaatan lahan yang pesat pula. Hingga tahun 2016, Kota Yogyakarta memiliki tujuh belas belas SPBU. Namun, persebaran SPBU yang ada cenderung mengelompok dan berdekatan pada pusat wilayah. Akibatnya, masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pinggiran kota akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan BBM karena letak SPBU yang kurang terjangkau. Letak SPBU yang kurang sesuai dan terlalu berdekatan, tentunya akan berdampak buruk pada kemacetan lalu lintas dan pemasukan SPBU itu sendiri, karena persaingan bisnis yang terlalu ketat.
3 Perlu dilakukan suatu upaya untuk mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak dan membantu para investor untuk memaksimalkan pemasukan SPBU dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan lingkungan. Permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan adanya upaya untuk mengevaluasi lokasi SPBU yang sudah ada di Kota Yogyakarta. Penempaatan SPBU yang baik tentunya harus memperhatikan aspek lokasi yang memenuhi kriteria baik dari faktor fisik, sosial, maupun ekonomi. Faktor fisik berkaitan dengan kondisi fisik lahan untuk pembangunan SPBU seperti topografi lahan, bentuk lahan, maupun daya dukung lahan. Aspek sosial dapat ditinjau dari aktvitas maupun keberadaan masyarakat di sekitar lokasi SPBU. Sedangkan aspek ekonomi, dikaji dengan mempertimbangkan lokasi yang memungkinkan adanya daya tarik bagi konsumen untuk melakukan pengisian BBM di SPBU tersebut.
Upaya untuk menunjang kegiatan tersebut, diperlukan suatu metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi lokasi SPBU di Kota Yogyakarta. Evaluasi lokasi untuk SPBU dapat dilakukan dengan mengkaji parameter penentu lokasi SPBU yang mencakup aspek fisik, sosial, dan ekonomi. Dengan mengkaji besarnya bobot dari beberapa parameter penentu, dapat diambil keputusan mengenai lokasi yang memenuhi kriteria untuk pembangunan SPBU. Mengingat permasalahan ini sangat berkaitan dengan aspek lokasi dalam lingkup yang luas, perlu digunakan suatu metode yang dapat memberikan informasi mengenai lokasi yang sesuai untuk pembangunan SPBU dalam lingkup yang luas dan posisi yang absolut. Sehingga investor dapat dengan mudah mengetahui di manakah lokasi yang sesuai untuk pembangunan SPBU secara efisien. Terkait dengan aspek lokasi, metode yang digunakan harus mempunyai kemampuan untuk mengolah dan menyajikan data-data permukaan Bumi (spasial). Metode yang paling cocok pada kasus ini adalah Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis, karena metode ini memiliki kemampuan untuk menemukenali, mengumpulkan, mengolah, memanipulasi, dan menyajikan informasi yang ada di permukaan Bumi beserta atributnya, secara efisien.
4 Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini, yaitu :
1. Kesesuaian lokasi penempatan SPBU eksisting di Kota Yogyakarta belum diketahui, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengevaluasi lokasi SPBU tersebut, dengan memanfaatkan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis.
2. Perlu diberikan suatu informasi spasial yang bertujuan untuk memberikan rekomendasi mengenai persebaran lokasi-lokasi yang sesuai untuk penempatan SPBU.
1.2. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa pertanyaan penelitian, yaitu : 1. Bagaimanakah hasil evaluasi lokasi SPBU eksisting di Kota Yogyakarta menggunakan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis ?
2. Di manakah lokasi-lokasi yang direkomendasikan untuk penempatan SPBU berdasarkan pengolahan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis ?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Melakukan evaluasi lokasi SPBU eksisting di Kota Yogyakarta secara spasial, menggunakan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis.
2. Memberikan informasi spasial yang merekomendasikan lokasi-lokasi yang sesuai untuk penempatan SPBU berdasarkan pengolahan pada Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis.
5 1.4. Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini antara lain adalah :
1. Mengevaluasi lokasi SPBU eksisting di Kota Yogyakarta menggunakan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis, untuk memaksimalkan pemasukan SPBU dan mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Mesin, berdasarkan aspek lingkungan dan ekonomi.
2. Memberikan rekomendasi lokasi-lokasi yang sesuai untuk penempatan SPBU, dengan memanfaatkan pengolahan pada Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis.
1.5. Tinjauan Pustaka
1.5.1. Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis adalah kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografis dan personil yang dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, mengupdate, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi geografi. (Esri dalam Prahasta, 2011) Menurut Aronoff, Sistem Informasi Geografis adalah sistem yang berbasiskan komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi – informasi geografi. Sistem Informasi Geografis memiliki peran yang penting dalam kegiatan pengumpulan, penyimpanan, dan analisis obyek dan fenomena geografis. (Prahasta, 2011) Dalam menangani data yang bereferensi geografi, SIG memiliki empat kemampuan sistem komputer yang mampu menangani data tersebut baik dalam hal : (a) masukan, (b) manajemen data, (c) analisis dan manipulasi data, (d) keluaran. Secara umum, dalam SIG terdapat tiga hal yang terdiri dari system, informasi, dan geografis. Berdasarkan uraian dari tiga hal tersebut, SIG dapat diartikan sebagai suatu kesatuan komponen atau variabel yang terorganisir, yang memiliki kemampuan untuk memasukkan, memanajemen, menganalisis, dan memanipulasi suatu data
6 yang memiliki aspek lokasi, ruang, dan waktu, dengan keluaran (output) yang bereferensikan geografi.
Subsistem SIG
Sistem Informasi Geografis terdiri dari beberapa subsistem, yaitu : 1. Data Input (masukan data)
Fungsi dari subsistem ini adalah mengumpulkan data spasial dan data atribut dari sumber terkait, sekaligus mengkonversi atau mentransformasikan data yang sudah terkumpul ke dalam format tertentu yang digunakan dalam pengolahan SIG.
2. Data Management (Pengelolaan Data)
Subsistem ini bergungsi untuk mengelola data baik spasial maupun atribut ke dalam suatu basis data sehingga memudahkan untuk kegiatan pengolahan secara lebih lanjut. Subsistem ini dapat melakukan suatu evaluasi terhadap data yang dianggap kurang baik melalui proses perbaikan, penambahan, atau pengurangan dalam basis data.
3. Data Manipulation dan Analysis ( Manipulasi dan Analisis Data) Subsistem ini terdiri dari proses pengolahan data seperti manipulasi dan pemodelan, untuk menghasilkan suatu informasi spasial sesuai dengan tujuan. Pengolahan data menjadi suatu informasi memerlukan teknik – teknik tertentu dalam SIG.
4. Data Output (Keluaran)
Berfungsi untuk menyajikan informasi hasil pengolahan data menggunakan SIG sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh pengguna. Penyajian data dalam keluaran dalam subsistem ini dapat berupa tabel, grafik, deskripsi, atau peta.
7 Subsistem ini secara sederhana dapat diwujudkan dalam skema sebagai berikut :
Gambar 1.5.1.1. Subsistem dalam SIG (Prahasta, 2011)
Pengelolaan SIG terdapat hal penting yang terdiri dari aspek pengelolaan peta digital dan pengelolaan database yang dikandungnya yang terdiri dari atribut peta. SIG dapat menyerap dan mengolah data dari berbagai macam sumber yang memiliki skala dan struktur yang berbeda. Selain itu, SIG dapat melakukan operasi data-data keruangan yang bersifat kompleks. Aplikasi SIG dapat digunakan untuk menjawab salah satu atau lebih dari lima pertanyaan mendasar yang meliputi,
a. Lokasi, dapat dipergunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai lokasi tertentu
b. Kondisi, dapat dipergunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai kondisi dari suatu lokasi
c. Tren, untuk melihat arah dari suatu perkembangan
d. Pola, dapat dipergunakan untuk membaca gejala-gejala alam dan mempelajarinya
e. Pemodelan, dapat digunakan untuk menyimpan kondisi-kondisi tertentu dan mempergunakannya untuk memprediksi keadaan di masa yang akan datang maupun memperkirakan apa yang terjadi pada masa lalu.
8 Model Data dalam Sistem Informasi Geografis
Sumber-sumber data geografis (data geospasial) diperoleh melalui beberapa cara seperti foto udara, citra satelit, GPS, survey terrestrial, maupun peta-peta yang sudah tersedia. Data digital geografis diorganisir menjadi dua bagian, yaitu data spasial dan data atribut/tabular.
a. Data spasial, yang menyimpan kenampakan-kenampakan permukaan Bumi, seperti jalan, sungai, permukiman, penggunaan lahan, jenis tanah, dan lain-lain. Model data spasial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu model data vektor dan model data raster. Model data vektor diwakili oleh simbol-simbol atau fitur, seperti titik, garis, dan area. Data tersebut tersimpan dalam komputer sebagai koordinat kartesius.
- Data titik
Merupakan sepasang koordinat (x,y) tanpa dimensi (tidak mempunyai panjang dan luas serta tinggi)
- Data garis
Merupakan pasangan-pasangan koordinat yang mempunyai titik awal dan titik akhir (x1, y1 ; x2, y2)
- Data luasan / area
Merupakan kumpulan pasangan-pasangan koordinat dimana titik awal sama dengan titik akhir (x1, y1 = xn, yn)
- Data permukaan
Merupakan suatu area dengan besaran (x,y,z). disebut berdimensi tiga, mempunyai ukuran panjang, luas, dan ketinggian
9 Gambar 1.5.1.2. Model Data Vektor (Riyanto, 2009)
Sedangkan model data raster merupakan data dimana setiap informasi disimpan dalam petak-petak bujursangkar (grid), yang membentuk suatu bidang. Petak-petak bujur sangkar tersebut disebut dengan piksel (picture element). Posisi sebuah piksel dinyatakan dengan baris ke-m dan kolom ke-n. Data yang disimpan dalam format ini data hasil scanning, seperti gambar digital (citra dengan format BMP, JPG, dan RAW). (Riyanto, 2009)
10 Gambar 1.5.1.4. Struktur Data Raster (Riyanto, 2009)
b. Data atribut merupakan data yang berisikan penjelasan dari setiap fenomena yang terdapat di permukaan Bumi yang berisikan penjabaran lebih detail dari data spasial. Data atribut berfungsi untuk menggambarkan suatu gejala yang memiliki aspek deskriptif dan kualitatif. Oleh karena itu, data atribut sangat penting dalam menjelaskan seluruh objek geografi karena tidak semua penjelasan dalam objek mampu dijelaskan secara spasial.
1.5.2. Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh adalah ilmu atau seni untuk mengumpulkan informasi tentang objek, daerah, gejala, dengan cara menganalisis data yang diperoleh atau gejala yang akan dikaji. (Lillesand dan Kiefer, 1990) Penginderaan jauh juga merupakan teknik yang dikembangkan untuk memperoleh dan menganalisis tentang bumi. Informasi itu berbentuk radiasi elektromagnetik yang dipantulkan atau dipancarkan oleh permukaan bumi. (Lindgren, 1985) Produk utama yang digunakan dalam penginderaan jauh adalah citra. Citra merupakan representasi dua dimensi dari suatu objek di dunia nyata. Dalam penginderaan jauh, citra merupakan gambaran permukaan bumi sebagaimana terlihat dari ruang angkasa (satelit) atau dari foto udara (pesawat terbang). (Prahasta, 2008)
11 Sedangkan interpretasi citra merupakan suatu kegiatan yang melalui proses identifikasi dan penilaian terhadap suatu objek yang tampak pada citra. Interpretasi dapat dikatakan suatu proses menemukenali suatu objek pada gambar yang mewakili kenampakan di permukaan bumi. Tahapan kegiatan yang dilakukan dalam proses interpretasi citra meliputi,
1. Deteksi, yaitu mengenali objek berdasarkan karakteristiknya terhadap sensor satelit yang digunakan.
2. Identifikasi, mengkaji ciri-ciri objek berdasarkan data rujukan. 3. Analisis untuk memperoleh informasi secara rinci.
Dalam kegiatan pengenalan objek pada citra perlu diketahui identitas dan jenis objek tersebut agar dapat digunakan untuk analisis pemecahan masalah. Pengenalan objek dalam interpretasi citra dapat dilakukan dengan berdasar pada unsur interpretasi. Unsur interpretasi tersebut antara lain adalah,
1. Rona dan warna, merupakan unsur pengenal utama atau primer dalam kegiatan interpretasi citra. Rona merupakan tingkat kecerahan objek pada citra, sedangkan warna adalah wujud yang tampak berdasarkan spektrum.
2. Bentuk, merupakan variabel kualitatif yang memberikan informasi mengenai konfigurasi atau kerangka suatu objek.
3. Ukuran, merupakan ciri objek yang berupa jarak, luas, tinggi, dan volume.
4. Tekstur, merupakan frekuensi perubahan rona pada citra. Dinyatakan dalam ukuran kasar, sedang, dan halus.
5. Pola, merupakan susunan keruangan yang menunjukkan banyaknya objek bentukan manusia dan objek alamiah.
12 6. Bayangan, merupakan penanda penting bagi suatu obyek yang
terbangun secara vertikal seperti gedung pencakar langit dan menara. 7. Situs, merupakan letak suatu objek terhadap objek lain di sekitarnya. 8. Asosiasi, merupakan keterkaitan antara suatu objek dengan objek yang
lainnya. (Sutanto, 1995)
1.5.3. Citra Satelit Quickbird
Citra ini diluncurkan melalui satelit Quickbird yang menghasilkan citra dengan resolusi spasial yang tinggi. Satelit Quicbird diluncurkan pada bulan Oktober 2001 dengan berat 2100 pounds dan panjang 3,04 meter. Satelit Quickbird memiliki dua macam sensor yaitu sensor pankromatik dengan resolusi spasial 0,6 meter dan sensor multispektral dengan resolusi spasial 2,44 meter. Dengan resolusi spasial yang tinggi, citra Quickbird memiliki keunggulan untuk pengkajian mengenai objek di permukaan bumi secara detail, sehingga biasa digunakan dalam kegiatan penelitian yang berkaitan dengan perencanaan kota.
Satelit ini memiliki orbit polar sunsynchronus, yaitu memiliki orbit yang akan melewati tempat-tempat yang terletak pada lintang yang sama dan dalam waktu lokal yang sama pula. Satelit ini akan melewati tempat yang sama dalam waktu sekitar 1-3 hari. Periode orbit satelit ini adalah 93,4 menit dengan sudut inklinasi 980, dengan ketinggian terbang 450 km di atas permukaan bumi. Area minimum yang terliput oleh satelit ini adalah 8x8 km2. Berikut ini adalah karakteristrik spektral yang dimiliki oleh citra Quickbird,
13 Tabel 1.5.3. Karakteristik Spektral Citra Quickbird
Kanal (Band) Panjang Gelombang (µm)
1 0,45 – 0,52 (biru)
2 0,52 – 0,60 (hijau)
3 0,63 – 0,69 (merah)
4 0,76 – 0,89 (IR dekat)
PAN 0,45 – 0,90 (PAN)
Sumber : Digital Globe, 2004
Tingkat pemrosesan level produk pada Citra Quickbird dibagi menjadi tiga, yaitu : Basic Imagery, Standart Imagery, dan Orthorectified Imagery.
- Basic Imagery, merupakan citra mentah yang belum terkoreksi sama sekali.
- Standart Imagery, merupakan produk citra yang secara tingkat pemrosesannya sudah terkoreksi radiometri, geometri, dan memiliki koordinat proyeksi.
- Orthorectified Imagery, merupakan produk citra yang sudah terkoreksi secara radiometri, geometri, memiliki koordinat proyeksi, dan terkoreksi secara topografik.
Pilihan Produk yang disediakan oleh Digital Globe berdasarkan tingkat salurannya, terdiri dari lima produk, yang meliputi :
- Black & White, terdiri dari saluran pankromatik dengan julat panjang gelombang 0,45 – 0,90 µm.
- Multispectral, terdiri dari saluran visible dan inframerah dekat.
- Bundle, yang terdiri dari saluran pankromatik (black & white) dan multispektral
- Color, terdiri dari tiga band natural color ( biru, hijau, dan merah ) atau color infrared ( hijau, merah, inframerah dekat )
14 - Pan-sharpened, yang terdiri dari empat band kombinasi dari saluran
multispektral dan pankromatik.
Citra Quickbird yang digunakan dalam penelitian ini memiliki Level Produk Standart Imagery yang sudah terkoreksi baik secara radiometri maupun geometri, serta sudah terdapat koordinat proyeksi. Pilihan produk yang digunakan adalah Color Product ( 3 natural color bands ). Pemilihan produk ini disesuaikan dengan penelitian yang dalam hal ini memanfaatkan citra penginderaan jauh untuk interpretasi penggunaan lahan kota secara visual. Analisis menekankan pada klasifikasi penggunaan lahan secara visual dan analisis geometrik. Sehingga tidak memerlukan analisis secara spektral maupun topografik.
1.5.4. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU)
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) merupakan sarana yang berfungsi untuk melayani pemenuhan kebutuhan akan bahan bakar bagi kendaraan bermotor masyarakat umum. Manajemen pemasaran dari SPBU ini ditangani oleh pemerintah melalui Undang – Undang. SPBU merupakan suatu sarana yang berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat, karena bahan bakar merupakan kebutuhan pokok yang menjadi faktor utama dalam usaha pemenuhan kebutuhan masyarakat. Seiring dengan adanya kebijakan pemerintah mengenai pasar bebas dan otonomi daerah, memicu adanya pertumbuhan pembangunan SPBU di berbagai wilayah secara pesat yang dilakukan oleh pihak swasta. Adanya keterbukaan tersebut diharapakan mampu memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat umum yang selalu mengalami peningkatan. Pembangunan SPBU harus dilakukan oleh investor yang berbadan usaha, serta memiliki ijin yang telah disetujui oleh Pertamina dan Pemerintah setempat. Pembangunan SPBU mencakup beberapa faktor yang terdiri dari faktor fisik, sosial, dan ekonomi. Faktor fisik lahan, merupakan faktor yang berkaitan langsung dengan dampak lingkungan fisik lahan seperti tingkat kerawanan bencana, keberadaannya terhadap ruang terbuka hijau, dan kepadatan bangunan di sekitarnya. Faktor sosial berkaitan dengan tingkat kepadatan penduduk, sebaran penduduk, jarak SPBU terhadap pusat kegiatan, serta
15 jarak antar SPBU pesaing. Faktor ekonomi berkaitan dengan potensi lokasi penempatan suatu SPBU terhadap tinggi rendahnya konsumen pada suatu wilayah. Pemilihan lokasi SPBU tentunya harus dapat mendukung peningkatan pemasukan bagi SPBU tersebut. Hal ini berkaitan dengan tingkat kepadatan lalu lintas yang berada pada jalan di mana SPBU tersebut dibangun. Jalan dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi merupakan lokasi yang dianggap memiliki potensi untuk meningkatkan pemasukan suatu SPBU.
Berkaitan dengan penelitian ini, penentuan parameter evaluasi lokasi untuk SPBU diturunkan dari hasil wawancara dengan Service Quality di Pertamina Yogyakarta. Berikut ini adalah syarat pembangunan SPBU yang diperoleh dari Pertamina Kota Yogyakarta, yang akan digunakan sebagai dasar dalam kegiatan evaluasi lokasi SPBU di Kota Yogyakarta.
1. Jarak antar SPBU pada jalan searah paling sedikit adalah 5000 m 2. Koefisien Dasar Bangunan paling banyak adalah 90 % dengan
penyesuaian terhadap lingkungannya
3. Koefisien Dasar Hijau paling sedikit adalah 10 % dengan penyesuaian terhadap lingkungannya
4. Terletak pada lokasi yang memiliki kepadatan penduduk tinggi 5. Terletak pada lokasi yang memiliki kepadatan lalu lintas tinggi
6. Lokasi penempatan SPBU dimungkinkan pada semua peruntukan lahan kecuali pada peruntukan penyempurna, marga, dan jalur hijau
7. Jarak aman SPBU terhadap sungai bertanggul adalah 3 meter, sedangkan sungai tidak bertanggul adalah 10 meter
16 1.5.5. Jaringan Jalan
Jalan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam penentuan lokasi strategis untuk pembangunan SPBU. Jalan berperan dalam menghubungkan aktivitas manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Tingginya aktivitas yang terjadi pada suatu jaringan jalan inilah yang akan menjadi prioritas utama dalam pemilihan lokasi SPBU. Lokasi yang strategis untuk pembangunan SPBU dapat dikaji melalui tingkat kepadatan lalu lintas yang terjadi pada suatu ruas jalan.
Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kerata api, jalan lori, dan jalan kabel (PP No.32 Tahun 2011 dan UU No.38 Tahun 2004). Berdasarkan fungsinya, jalan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelas yang terdiri dari,
1. Jalan Utama / Jalan Arteri Primer
Jalan utama merupakan ruas jalan yang menghubungkan kota tingkat pertama yang berdampingan dengan tingkatan yang sama, atau menghubungan suatu kota dengan kota lain yang memiliki tingkatan di bawahnya atau masih di pengaruhi oleh aktivitas dari kota tersebut. Jalan Arteri Primer memiliki kriteria sebagai berikut :
- Jalan arteri primer dalam kota merupakan terusan arteri luar kota - Melewati atau menghubungkan kawasan primer
- Dirancang dengan kecepatan rencana minimal 60 km/jam - Lebar jalan tidak kurang 8 meter
- Terdiri dari lalu lintas regional
- Dapat dilalui kendaraan dengan berat > 10 ton
- Jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien, jarak antara jalan masuk / akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 500 meter
17 - Persimpangan diatur sesuai volume lalu lintas
- Mempunyai kapasitas harian rata-rata lebih besar dari fungsi jalan yang lain
- Mempunyai lalu lintas harian rata-rata lebih besar dari jalan yang lain
- Tidak diijinkan untuk lokasi parker atau berhenti pada badan jalan - Memiliki jalur khusus untuk sepeda dan kendaraan lambat lainnya 2. Jalan Sekunder / Jalan Kolektor Primer
Jalan Kolektor Primer adalah ruas jalan yang menghubungkan antar kota tingkat kedua atau menghubungkan kota tingkat kedua dengan kota tingkat ketiga yang masih di bawah pengaruhnya. Atau dengan kata lain, ruas jalan ini menghubungkan lalu lintas dari luar ke dalam kota atau sebaliknya. Kriteria dari Jalan Kolektor Primer antara lain adalah :
- Merupakan terusan jalan kolektor primer luar kota - Menuju kawasan primer atau jalur arteri primer - Dirancang dengan kecepatan rencana 40 km/jam - Lebar badan jalan tidak kurang dari 7 meter
- Jumlah jalan masuk dibatasi secara efisien dengan jarak lebih dari 400 meter
- Kendaraan angkutan berat dan bus diijinkan memalui jalan ini - Persimpangan diatur sesuai dengan volume lalu lintasnya
- Kapasitasnya sama atau lebih besar dari volume lalu lintas harian rerata
- Lokasi berhenti dan parker sangat dibatasi dan tidak diijinkan pada jam sibuk
- Dilengkapi dengan perlengkapan jalan yang cukup
- Memiliki lalu lintas harian rata-rata yang lebih rendah dari jalan arteri primer
- Disediakan jalur khusus untuk pesepeda atau kendaraan lambat lainnya
18 3. Jalan Penghubung / Jalan Lokal
Jalan Lokal adalah ruas jalan yang menyalurkan lalu lintas antar wilayah kota, atau antar lingkungan, atau arus dari lingkungan sekitar ke jalan utama kota. Fungsi jalan ini adalah untuk menghubungkan aktivitas lokal dari masyarakat setempat menuju ke pusat kegiatan. Kriteria dari jalan ini adalah :
- Merupakan terusan jalan lokal primer luar kota - Menuju kawasan primer atau jalan sekunder lainnya - Dirancang memiliki kecepatan rencana 20 km/jam
- Kendaraan angkutan barang dan bus diijinkan melalui jalan ini - Lebar jalan tidak kurang dari 6 meter
- Besarnya lalu lintas harian rata-rata paling rendah pada system primer
- Banyak memiliki persimpangna jalan dan titik simpul sebagi pusat kegiatan masyarakat
(Adisasmita, 2011)
Dalam penelitian ini, kelas fungsi jalan yang digunakan adalah Jalan Kolektor Primer, karena jalan ini merupakan ruas jalan yang memiliki tingkatan tertinggi di Kota Yogyakarta. Dari fungsi jalan tersebut akan diturunkan ke dalam perhitungan volume lalu lintas harian rata-rata untuk mengetahui volume kendaraan yang melewati dalam kurun waktu tertentu pada setiap ruas Jalan Kolektor Primer. Volume kendaraan dalam setiap Jalur Kolektor Primer akan menentukan sesuai atau tidaknya penempatan suatu SPBU di Kota Yogyakarta.
19 1.5.6. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan merupakan salah satu parameter penentu lokasi strategis untuk SPBU di suatu wilayah. Keberadaan penggunaan lahan pada suatu wilayah digunakan sebagai dasar pemilihan lokasi, agar lokasi SPBU yang dipilih tidak mengalami tumpang tindih dengan penggunaan lahan yang ada, sehingga tidak perlu ada proses konversi lahan dalam pembangunan SPBU tersebut. Penggunaan lahan juga dijadikan dasar untuk melihat potensi dari suatu lokasi. Apabila keterdapatan penggunaan lahan yang ada pada suatu unit memungkinkan adanya aktivitas yang mendukung peningkatan daya tarik konsumen, maka lokasi tersebut dapat dikatakan strategis untuk pendirian lokasi SPBU.
Penggunaan lahan merupakan setiap bentuk campur tangan manusia terhadap sumberdaya lahan, baik yang sifatnya tetap (permanen) atau merupakan daur (cyclic) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya, baik baik kebendaaan maupun kejiwaan (spiritual) (Virk dalam Sitorus, 1989.) Penggunaan lahan merupakan hasil dari upaya manusia yang berkesinambungan dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terhadap sumberdaya lahan yang tersedia. Maka dari itu, penggunaan lahan dapat dikatakan memiliki sifat yang dinamis seiring dengan perkembangan kehidupan manusia.
Berikut ini merupakan penjelasan beberapa jenis penggunaan lahan berdasarkan pedoman survai yang digunakan oleh Direktorat Tata Guna Tanah Departemen Dalam Negeri (Sitorus, 1989) :
1. Hutan : Areal yang ditumbuhi berbagai jenis pepohonan besar dan kecil dengan tingkat pertumbuhan yang maksimum, dapat meliputi hutan heterogen yang merupakan hutan alam atau hutan homogen yang ditumbuhi pepohonan dengan didominasi oleh satu jenis saja.
2. Perkebunan : Areal yang ditanami jenis tanaman keras atau tanaman tahunan, baik untuk usaha perkebunan besar maupun perkebunan rakyat.
20 3. Kebun Campuran : Areal yang ditanami berbagai macam tanaman, jenis tanaman keras, atau kombinasi tanaman keras dan tanaman semusim yang tidak jelas jenis mana yang lebih dominan.
4. Tegalan : Areal pertanian lahan kering, biasanya tanaman yang diusahakan adalah tanaman berumur pendek.
5. Sawah : Areal pertanian lahan basah yang secara periodik atau terus-menerus ditanami padi.
6. Areal Pertanian Tanaman Kering Semusim : Areal pertanian yang tidak pernah diairi dan hanya ditanami dengan jenis tanaman berumur pendek, meliputi tegalan, ladang, dan kebun sayur.
7. Danau : Areal penggenangan permanen yang dalam dan terjadi secara alami.
8. Rawa : Areal dengan penggenangan permanen yang dangkal tetapi belum cukup dangkal untuk dapat ditumbuhi tumbuhan besar, sehingga pada umumnya ditumbuhi rerumputan rawa.
9. Perkampungan atau Pemukiman : Bagian dari permukaan bumi yang dihuni oleh manusia, meliputi segala (sarana dan prasarana) yang menunjang kehidupan penduduk.
21 1.5.7. Analisis Pola Spasial SPBU Eksisting di Kota Yogyakarta
Pola spasial atau spatial pattern merupakan sesuatu yang menunjukkan penempatan atau susunan benda – benda di permukaan Bumi. (Lee & Wong, 2001) Pola spasial akan menunjukkan distribusi suatu fenomena geografis dan perbandingannya dengan fenomena lain. Bentuk pola spasial dikelompokkan menjadi tiga, yaitu berpola acak (random), berkerumun (clustered), dan seragam (uniform).
Gambar 1.5.7.1. Bentuk pola spasial
Pola spasial dapat dideteksi dengan menggunakan beberapa metode yang terdiri dari :
- Quadran Analysis
Metode ini digunakan untuk merepresentasikan sebuah pengelompokan dengan cara membandingkan jumlah kejadian yang ada pada suatu wilayah secara acak. Titik kejadian dikelompokkan ke dalam beberapa hirarki berdasarkan kepadatannya, menggunakan beberapa lingkaran elips.
22 - Kernel Density Estimation (K Means)
Kernel Density merupakan fungsi matematika yang kemudian dikembangkan dalam fungsi spasial untuk mengukur persebaran intensitas suatu titik dalam suatu bidang dengan radius tertentu. (Kloog, 2009) Metode ini dilakukan dengan mengestimasi kerapatan titik menggunakan kernel. Setiap kernel akan mengestimasi tiap titik dalam sebuah grid yang ditumpangsusunkan pada pola persebaran titik. Formula dasar dalam untuk mengestimasi kepadatan dalam metode ini adalah :
P(x) = 𝑘
𝑁𝑉 ……….. (1)
Dimana :
V = volume di sekitar x N = total sampel
K = total sampel dalam radius V
Hasil perhitungan kernel density akan menghasilkan gambaran persebaran kepadatan di sekitar titik kejadian. Semakin jauh dari titik, maka nilai kepadatan akan semakin berkurang dan pada jarak tertentu akan mencapai nilai 0.
- Average Nearest Neighbor (ANN)
Metode ini dilakukan dengan menghitung nilai rata-rata jarak antar kejadian terhadap kejadian terdekatnya, dengan mempertimbangkan jumlah kejadian dan luas wilayah kajian. Penentuan pola spasial dalam metode ini menggunakan formula sebagai berikut :
23 ……… (2) Dimana :
D0 = rata – rata jarak observasi antara masing – masing kejadian dengan
tetangga terdekatnya DE = expected ANN
di = jarak antara kejadian i dengan kejadian tetangga terdekatnya
m = jumlah kejadian A = luas daerah
Nilai Average Nearest Neighbor diklasifikasikan sebagai berikut, - ANN = 1, kejadian berpola acak (random)
- ANN < 1, kejadian berkerumun (clustered) - ANN > 1, kejadian menyebar (dispersed)
Perhitungan pola spasial dalam penelitian ini, digunakan metode Average Nearest Neighbor karena mempertimbangkan kedekatan jarak antar SPBU dan luas wilayah kajian. Jarak antar titik dan luas wilayah perlu dipertimbangkan karena hal ini berkaitan dengan tingkat pelayanan dan aturan pembangunan SPBU yang telah ditetapkan oleh Pertamina. Pola spasial dari pnempatan SPBU pada suatu wilayah, dapat dikatakan baik apabila memiliki pola yang menyebar pada seluruh area kajian. Hal ini berhubungan dengan tingkat pelayanan SPBU dalam memenuhi
24 kebutuhan Bahan Bakar Minyak bagi masyarakat di sekitarnya. Pola spasial SPBU yang menyebar di seluruh penjuru wilayah, tentunya akan mempermudah masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak, karena keterdapatan lokasi SPBU dapat dijangkau di seluruh wilayah kajian.
1.5.8. Perbandingan Penelitian Sebelumnya
Penelitian terkait penggunaan Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh untuk Lokasi SPBU telah banyak digunakan. Terdapat empat penelitian terdahulu yang dikaji oleh penulis sebagai sumber acuan dalam penelitian ini. Penelitian yang pertama dilakukan oleh Giri (2008) dengan judul Penentuan Pendirian Lokasi Potensial SPBU se Bandung Raya dengan menggunakan GIS. Penentuan lokasi SPBU dalam penelitian ini didasarkan jarak atau radius antar SPBU serta tingkat pelayanan SPBU kepada konsumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa SPBU yang terdapat di Kota Bandung masih banyak yang belum bisa memaksimalkan profitnya. Penelitian ini juga memberikan rekomendasi mengenai lokasi yang strategis untuk pembangunan SPBU.
Penelitian yang kedua dilakukan oleh Nurdiansyah (2010) dengan judul Sistem Informasi Geografis untuk Penentuan SPBU baru di Surabaya. Peneliti menggunakan data spasial dan non spasial yang diolah menggunakan metode AHP untuk menyusun rekomendasi lokasi SPBU baru. Dalam penelitian ini SIG hanya digunakan untuk visualisasi hasil. Lokasi yang direkomendasikan untuk pembangunan SPBU dalam penelitian ini adalah lokasi yang terdapat banyak perumahan di sekitar ruas jalan, banyak industri, rendahnya harga lahan, dan sedikitnya jumlah SPBU kompetitor.
Penelitian yang ketiga dilakukan oleh Alesheikh dengan judul GIS Application in Optimum Site Selection for Gas Station. Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan yang terjadi akibat pembangunan SPBU di Kota Mashhad, Iran. Penentuan lokasi didasarkan pada faktor jarak SPBU terhadap pusat kota, arah lalu lintas, dan wilayah yang berpotensi terhadap polusi. Hasil
25 penelitian ini menunjukkan rangking dari wilayah yang berpotensi untuk pembangunan SPBU.
Penelitian yang keempat dilakukan oleh Mas Sukoco (2002) dengan judul Evaluasi Peta Distribusi Stasiun Pelayanan Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi SPBU yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta secara deskriptif dengan melihat distribusi SPBU yang ada di seluruh daerah pemasaran dengan pendekatan analisis peta distribusi SPBU dan mengevaluasi pola persebaran SPBU tersebut. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pola persebaran SPBU yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta dianggap kurang merata. Pengelompokan paling menonjol terdapat di Kotamadya Yogyakarta terutama di bagian utara yang lokasinya relatif mendekati pusat-pusat pelayanan. Omzet yang didapat pada SPBU secara keseluruhan sudah dianggap cukup. Penambahan jumlah SPBU masih dapat dilakukan, tetapi perlu memperhatikan masalah penyebaran yang relatif merata secara proporsional.
Penelitian yang kelima dilakukan oleh Fitria (2010) dengan judul Sistem Informasi Geografis Berbasis Web untuk Penentuan SPBU baru menggunakan AHP. Penelitian ini dilakukan dengan merancang suatu program yang digunakan untuk pengambilan keputusan dalam hal penentuan lokasi SPBU. Program yang dirancang dalam penelitian ini mampu menunjukkan informasi mengenai lokasi strategis untuk pembangunan SPBU baru, dimana pengambilan keputusan dalam program tersebut dilakukan menggunakan AHP.
Penelitian yang keenam dilakukan oleh Gilang (2016) dengan judul Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Evaluasi Lokasi SPBU Eksisting di Kota Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi lokasi SPBU Eksisting di Kota Yogyakarta dengan memanfaatkan Citra Penginderaan Jauh untuk mengekstraksi data parameter evaluasi lokasi SPBU Eksisting. Parameter yang digunakan untuk evaluasi diperoleh dari syarat pembangunan SPBU yang telah ditetapkan oleh Pertamina
26 yang meliputi faktor fisik (keberadaan sungai, kerawanan bencana, kepadatan bangunan sekitar SPBU, keberadaannya terhadap ruang terbuka hijau) sosial (jarak terhadap SPBU terdekat), dan ekonomi (kepadatan lalu lintas). Evaluasi lokasi SPBU Eksisting dilakukan menggunakan model indeks dalam Sistem Informasi Geografis berdasarkan skor lokasi SPBU terhadap parameter pembentuknya. Hasil evaluasi menunjukkan kelas kesesuaian lokasi SPBU eksisting yang dibagi ke dalam empat kelas yang terdiri dari kelas Sangat Sesuai, Sesuai, Cukup Sesuai, dan Tidak Sesuai. Rekomendasi lokasi yang lebih berpotensi untuk pendirian SPBU juga dipaparkan dalam penelitian ini, untuk memberikan informasi kepada para investor yang akan memindahkan SPBUnya ke lokasi yang lebih berpotensi untuk meningkatkan pemasukan SPBU.
27 Tabel 1.5.8. Tabel Perbandingan Penelitian Sebelumnya
Judul / Peneliti Tujuan Metode Hasil
Penentuan Pendirian Lokasi Potensial SPBU Se Bandung Raya dengan menggunakan GIS
(Giri, 2008)
1. Menentukan lokasi potensial untuk SPBU di Kota Bandung dengan GIS
2. Menentukan initial fee sesuai dengan ketentuan Pertamina
1. Pengumpulan data (Seksi Pelayanan Informasi Rencana Tata Kota Dinas Tata Kota Bandung, Seksi Jaringan Transportasi Jalan Dinas Perhubungan Kota
Bandung, Bagian
Pemasaran Pertamina wilayah III Kota Bandung) 2. Mengambil titik koordinat
lokasi SPBU yang ada di Kota Bandung
3. Menginput data hasil survey ke dalam software spatcom 4. Menentukan jarak dan
radius SPBU dengan buffer
1. Terdapat banyak SPBU di Kota Bandung yang belum bisa masuk ke dalam kategori karena faktor pemilihan tempat, jarak atau radius antar SPBU terlalu dekat, dan pelayanan kepada konsumen.
2. Wilayah yang
direkomendasikan untuk pendirian SPBU baru adalah Cipageran, Cimahi Utara, Batujajar Barat, Darwati, Melong, Cibeureum, Veteran (dalam kota), Asia Afrika (dalam kota),
28 5. Membuat daftar kategori
SPBU berdasarkan initial fee dari Pertamina
Margahayu Kencana (Jln.H.Wahid Hasyim) Kopo
Sistem Informasi Geografis untuk Penentuan Lokasi SPBU Baru di Surabaya
(Nurdiansyah,dkk, 2010 )
1. Memberikan informasi secara lengkap dan aktual khususnya mengenai SPBU kepada semua pihak yang terkait di wilayah Surabaya. 2. Mendukung pengambilan
keputusan / DSS (Decision Support System) dengan metode AHP untuk
penentuan lokasi
pembukaan SPBU baru yang memenuhi kriteria.
1. Pengumpulan data
2. Input data spasial dan non spasial
3. Penentuan rekomendasi lokasi SPBU menggunakan metode Analytical Hierarchy Process.
4. Visualisasi hasil
Hasil menunjukkan bahwa yang paling dominan adalah Jalan Raya Rungkut Industri dan Jalan Mengganti. Karena dari kedua jalan tersebut memiliki data yang lebih menonjol dalam hal banyak perumahan disekitar ruas jalan, banyak industri, rendahnya harga lahan di ruas jalan dan sedikitnya SPBU kompetitor.
GIS Application in Optimum Site Selection for Gas Station
Menentukan lokasi optimum untuk SPBU di Kota Mashhad.
1. Pengumpulan data ( Peta Topografik Digital Daerah
1. GIS dapat digunakan sebagai alat yang efektif
29
(Alesheikh) Mashhad dan Data
kemacetan lalu lintas kota) 2. Input data ke dalam
software Arcview
3. Analisis jarak pusat kota terhadap SPBU, arah lalu lintas, dan wilayah yang berpotensi terhadap polusi
untuk menentukan lokasi SPBU.
2. Penelitian ini menghasilkan ranking dari wilayah berdasarkan kepadatan populasi dan akses menuju SPBU.
Sistem Informasi Geografis Berbasis Web untuk Pentuan SPBU baru menggunakan Metode AHP
(Fitria, 2010)
Merancang Sistem Informasi Geografis untuk penentuan
lokasi SPBU guna
mempermudah pengusaha dalam mendapatkan informasi.
1. Merancang sistem untuk analisis
2. Melakukan pengolahan AHP
3. Membuat program sesuai rancangan sistem
4. Melakukan pengujian terhadap program yang telah dibuat
1. SIG dapat membantu dalam pemilihan lokasi SPBU 2. Pemilihan prioritas kriteria
skala AHP berpengaruh dalam hasil perhitungan 3. Sistem yang telah dibuat
dapat membantu dalam pengambilan keputusan untuk penentuan lokasi SPBU baru
30 Evaluasi Peta Distribusi
Stasiun Pelayanan Bahan
Bakar Umum (SPBU)
Pertamina Daerah Istimewa Yogyakarta
(Mas Sukoco, 2002)
1. Membuat peta lokasi distribusi SPBU di DIY dengan skala yang memadai 2. Analisis peta pola distribusi
SPBU, yang akan
dihubungkan dengan pusat-pusat kegiatan utama untuk
melihat potensi
pengembangan SPBU
1. Pengumpulan data sekunder dan data observasi lapangan. Pengumpulan data terkait dengan data pokok, seperti kapasitas per SPBU, data jumlah dan data kepadatan penduduk
2. Analisis distribusi SPBU pada peta terutama dalam mengevaluasi pola perseban.
1. Terdapat pola persebaran yang kurang merata
2. Dapat dimungkinkan adanya penambahan jumlah SPBU,
namun harus
memperhatikan persebaran secara proporsional.
Pemanfaatan Citra
Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk
Evaluasi Lokasi SPBU
Eksisting di Kota Yogyakarta (Gilang Tomaskumoro, 2016)
1. Melakukan evaluasi lokasi SPBU eksisting di Kota Yogyakarta secara spasial, menggunakan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis. 2. Memberikan informasi
spasial yang
1. Interpretasi Citra Quickbird untuk ekstraksi parameter evaluasi lokasi SPBU eksisting
2. Skoring parameter dengan metode indeks
1. Terdapat satu SPBU yang
memenuhi seluruh
parameter evaluasi SPBU 2. Terdapat tiga SPBU yang
penempatannya tidak sesuai berdasarkan syarat penempatan lokasi SPBU
31 merekomendasikan
lokasi-lokasi yang sesuai untuk
penempatan SPBU
berdasarkan pengolahan pada Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis.
3. Overlay parameter dan pengkelasan kesesuaian lokasi SPBU Eksisting 4. Evaluasi lokasi dan
penentuan rekomendasi lokasi untuk pemindahan SPBU
3. SPBU Eksisting di Kota Yogyakarta memiliki pola spasial menyebar di seluruh wilayah kajian
32 1.5.9. Kerangka Pemikiran
Permasalahan yang diangkat dari penelitian ini adalah terjadinya peningkatan jumlah kendaraan bermotor di Kota Yogyakarta yang mengakibatkan peningkatan konsumsi Bahan Bakar Minyak, namun hal tersebut tidak dapat didukung karena kurang meratanya persebaran lokasi SPBU yang dapat menimbulkan pengguna kendaraan bermotor kurang mendapat pelayanan yang maksimal dalam memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak. Penempatan posisi SPBU yang kurang sesuai dapat menyebabkan ketimpangan jumlah konsumen pada masing - masing SPBU. Dari permasalahan yang ada tersebut, dapat dilakukan langkah penyelesaian melalui pemanfaatan pada Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk menghasilkan suatu informasi spasial yang dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk mengevaluasi lokasi SPBU eksisting di Kota Yogyakarta. Metode yang digunakan tersebut, melibatkan beberapa parameter yang mendukung untuk evaluasi lokasi SPBU. Parameter yang dianggap mampu menyelesaikan permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini antara lain adalah jarak antar SPBU eksisting, sempadan sungai, jarak terhadap permukiman sekitar dan pusat kegiatan, kepadatan lalu lintas, nilai koefisien dasar bangunan, dan nilai koefisien dasar hijau pada suatu lahan perencanaan. Penyelesaian melalui metode dan parameter yang diangkat tersebut akan menghasilkan informasi spasial mengenai kesesuaian lokasi yang digunakan sebagai dasar untuk evaluasi lokasi SPBU yang sudah ada di Kota Yogyakarta. Adapun diagram kerangka pemikiran pada penelitian ini digambarkan sebagai berikut,
33 Gambar 1.5.9. Diagram Kerangka Pemikiran
Peningkatan jumlah kendaraan Peningkatan konsumsi BBM Peningkatan jumlah SPBU di Kota Yogyakarta dengan persebaran dan kesesuaian lokasi yang perlu dievaluasi.
Evaluasi lokasi SPBU eksisting berdasarkan faktor fisik, sosial, dan ekonomi, sesuai dengan aturan Pertamina
Pemanfaatan Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis
Evaluasi dan rekomendasi lokasi SPBU di Kota Yogyakarta
34 1.6. Batasan Istilah
1. Sistem Informasi Geografis, adalah kumpulan yang terorganisir dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografis dan personil yang dirancang secara efisien untuk memperoleh, menyimpan, mengupdate, memanipulasi, menganalisis, dan menampilkan semua bentuk informasi yang bereferensi geografi. (Esri dalam Prahasta, 2011)
2. Data spasial, yang menyimpan kenampakan-kenampakan permukaan Bumi, seperti jalan, sungai, permukiman, penggunaan lahan, jenis tanah, dan lain-lain. Model data spasial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu model data vektor dan model data raster. (Riyanto, 2009)
3. Penginderaan jauh, adalah ilmu atau seni untuk mengumpulkan informasi tentang objek, daerah, gejala, dengan cara menganalisis data yang diperoleh atau gejala yang akan dikaji. (Lillesand dan Kiefer, 1990)
4. Interpretasi citra, merupakan suatu kegiatan yang melalui proses identifikasi dan penilaian terhadap suatu objek yang tampak pada citra. 5. Data atribut, merupakan data yang berisikan penjelasan dari setiap
fenomena yang terdapat di permukaan Bumi yang berisikan penjabaran lebih detail dari data spasial. Data atribut berfungsi untuk menggambarkan suatu gejala yang memiliki aspek deskriptif dan kualitatif. (Riyanto, 2009)
6. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), merupakan sarana yang berfungsi untuk melayani pemenuhan kebutuhan akan bahan bakar bagi kendaraan bermotor masyarakat umum. Manajemen pemasaran dari SPBU ini ditangani oleh pemerintah melalui Undang – Undang. (Pertamina) 7. Jalan, merupakan prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian
jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kerata api, jalan lori, dan jalan kabel (PP No.32 Tahun 2011 dan UU No.38 Tahun 2004).
35 8. Jalan utama, merupakan ruas jalan yang menghubungkan kota tingkat pertama yang berdampingan dengan tingkatan yang sama, atau menghubungan suatu kota dengan kota lain yang memiliki tingkatan di bawahnya atau masih di pengaruhi oleh aktivitas dari kota tersebut. (Adisasmita, 2011)
9. Jalan Kolektor Primer, adalah ruas jalan yang menghubungkan antar kota tingkat kedua atau menghubungkan kota tingkat kedua dengan kota tingkat ketiga yang masih di bawah pengaruhnya. (Adisasmita, 2011)
10. Jalan Lokal, adalah ruas jalan yang menyalurkan lalu lintas antar wilayah kota, atau antar lingkungan, atau arus dari lingkungan sekitar ke jalan utama kota. (Adisasmita, 2011)
11. Penggunaan lahan, merupakan setiap bentuk campur tangan manusia terhadap sumberdaya lahan, baik yang sifatnya tetap (permanen) atau merupakan daur (cyclic) yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhannya, baik baik kebendaaan maupun kejiwaan (spiritual) (Virk dalam Sitorus, 1989.)
12. Pola spasial atau spatial pattern merupakan sesuatu yang menunjukkan penempatan atau susunan benda – benda di permukaan Bumi. (Lee & Wong, 2001)
13. Quadran analysis, metode yang digunakan untuk merepresentasikan sebuah pengelompokan dengan cara membandingkan jumlah kejadian yang ada pada suatu wilayah secara acak.
14. Kernel Density merupakan fungsi matematika yang kemudian dikembangkan dalam fungsi spasial untuk mengukur persebaran intensitas suatu titik dalam suatu bidang dengan radius tertentu. (Kloog, 2009) 15. Average Nearest Neighbour, metode yang dilakukan dengan menghitung
nilai rata-rata jarak antar kejadian terhadap kejadian terdekatnya, dengan mempertimbangkan jumlah kejadian dan luas wilayah kajian