BAB III ANALISIS KOMPOSISI

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB III

ANALISIS KOMPOSISI

A. Pembukaan

Karya ini dibuka dengan musik instrumental oleh piano yang didalamnya berisi beberapa cuplikan dari keempat episode. Karya ini disusun dalam tonalitas C mayor (bir. 1-21) bermodulasi ke A mayor (bir 22-35). Birama 1-8 adalah cuplikan melodi dari episode I yang dinyanyikan paduan suara saat mengenalkan tokoh, suasana dan kegiatan.

Gambar 3.1 Cuplikan episode I

Kemudian birama 11-14 merupakan cuplikan melodi dari episode II yang mengisahkan tentang pemberian warisan oleh ayahnya kepada si Bungsu. Melodi diambil dari melodi paduan suara (sopran) yang berperan sebagai narator. Penggunaan dinamika mezzoforte bertujuan untuk menambah intensitas suara menjadi agak keras dan untuk menghantarkan ke bagian berikutnya.

Gambar 3.2 Cuplikan episode II

Bagian berikutnya adalah cuplikan dari episode III dan IV yang ada di birama 15-21. Bagian ini mengambil dari pengakuan si Bungsu kepada ayahnya karena perbuatannya. Dinamika forte dan aksen digunakan untuk meningkatkan suasana karena bagian ini merupakan sebuah krisis dimana si si Bungsu menyadari kesalahannya.

(2)

Gambar 3.3 Cuplikan episode III dan IV

Selanjutnya adalah bagian penutup. Bagian ini dimulai dalam tangga nada A mayor dalam tempo moderato dengan ritme yang lincah dengan intensitas suara dan harmoni penuh sebagai klimaks dalam pembukaan ini.

Gambar 3.4 Penutup

B. Gambaran Narasi dan Elemen Musik Pendukung Episode I

Perikop ini menggambarkan kehidupan sebuah keluarga yang terdiri dari ayah dan dua anak. Alkitab tidak menceritakan mengenai kisah ini, tetapi dapat dipastikan kehidupan harmonis terjadi. Berdasarkan hal tersebut maka dibuatlah pengembangan cerita yang menggambarkan suatu kehidupan berjalan harmonis. Bagian ini merupakan eksposisi yang memaparkan tempat, kegiatan, tokoh, dan suasana. Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah dan dua anaknya hidup di sebuah desa. Dekat rumahnya terdapat ladang luas dan di ladang itulah mereka bekerja bersama-sama.

Episode I diawali dengan suasana desa di pagi hari yang tenang. Musik yang dipakai untuk mewujudkan suasana tersebut adalah instumen piano dengan tempo andante, dinamika lembut, wilayah nada atas. Penggunaan akor tonika untuk menggambarkan awal hari di desa dan arpeggio wilayah nada G4-C5 memberikan makna sinar matahari.

(3)

Gambar 3.5 Intro piano (bir. 1-3)

Pengenalan tokoh dan lokasi yang ada dalam perikop ini dijelaskan oleh paduan suara yang berperan sebagai narator.

Gambar 3.6 Paduan suara sebagai narator (bir. 8-24)

Ayah yang membangunkan kedua anaknya di pagi hari digambarkan dengan perubahan tempo menjadi lebih lambat dan dibuka dengan solo ayah dalam dinamika piano. Penggunaan tonalitas mayor serta intensitas suara iringan tidak terlalu keras untuk mempertahankan suasana pagi hari.

(4)

Gambar 3.7 Ayah membangunkan anaknya (bir. 26 – 34)

Perjalanan si Sulung dan si Bungsu ke sawah digambarkan dengan interlude piano dengan pola ritme yang lebih lincah, intensitas suara yang keras dan tempo cepat sebagai gambaran semangat serta keceriaan dan penggunaan nada interval oktaf untuk menggambarkan derap langkah mereka.

Gambar 3.8Interlude piano (bir 47-54)

Ketika telah tiba di ladang ketiga tokoh tersebut berdialog. Dialog digambarkan dengan trio, dinyanyikan bersahutan diakhiri bersama-sama secara homofoni.

(5)

Gambar 3.9 Nyanyian bersahutan

Gambar 3.10 Nyanyian homofoni

C. Gambaran Narasi dan Elemen Musik Pendukung Episode II

Si Bungsu meminta warisan dari ayahnya untuk pergi berfoya-foya. Kakaknya kecewa dan ayahnya sedih karena anaknya harus pergi namun sang ayah tetap memberikan apa yang telah menjadi bagiannya. Walaupun si Bungsu pergi, ayahnya tetap akan menunggunya kembali. Bagian ini merupakan pertengahan cerita dimana komplikasi, ketegangan dan konflik muncul. Komplikasi muncul disaat si Bungsu meminta warisan kepada ayahnya yang akan menciptakan ketengangan karena ia meminta saat ayahnya masih hidup dan hal tersebut akan menciptakan sebuah konflik antara si Bungsu dan si Sulung.

(6)

Bagian ini dimulai dengan gambaran peristiwa dan perasaan si si Bungsu. Si Bungsu mengetahui bahwa ia memiliki warisan dari ayahnya. Ia merasa gelisah karena hal tersebut dan ayahnya mengetahui. Kegelisahan tersebut digambarkan dengan penggunaan tangga nada minor.

Gambar 3.11 Narasi paduan suara (bir 9-16)

Setelah sang ayah mengetahui kegelisahan si Bungsu, ia bertanya kepadanya apa yang membuat si Bungsu gelisah. Tempo lambat dengan penggunaan nada 1/2-1/8 untuk menunjukkan rasa penasaran ayah kepada anaknya.

Gambar 3.12 ayah mengetahui kegelisahan si Bungsu (bir 17-19)

Bagian berikutnya adalah si Bungsu mengutarakan keinginannya yaitu warisan berupa harta dari ayahnya. Bagian ini dinyanyikan seperti berbicara, maka solo yang diperankan oleh si Bungsu dibuat resitatif dan menggunakan iringan arpeggio dengan perubahan register dari close harmony ke open harmony yang memberikan efek harmoni penuh untuk mengekspresikan si Bungsu sangat menginginkan memiliki harta tersebut.

(7)

Gambar 3.13 Resitatif si Bungsu dan perbahan register suara di piano (bir 20-28)

Si Sulung marah karena adiknya tidak bersyukur dengan apa yang telah diberikan ayahnya kepada sang adik. Pemilihan nada atas dan nada 1/8 hingga 1/16 banyak digunakan untuk menunjukkan kemarahan si Sulung kepada si Bungsu. Pola iringan arpeggio dan dinamika yang perlahan-lahan mengeras digunakan untuk menghantarkan suasana konflik si Sulung dan si Bungsu.

Gambar 3.14 Kemarahan si Sulung (bir. 36-43)

Si Bungsu telah terlena dengan kekayaannya dan ia merasa bahwa ia lebih membutuhkan harta warisannya daripada cinta dari ayahnya. Mendengar hal itu, si Sulung sangat marah dan membiarkan si Bungsu pergi. Intensitas suara bertambah untuk menunjukkan kemarahan dan kekesalan si Bungsu sedangkan si Sulung mendaraskan syair “Ayah! Biarkan ia pergi!” di C4

(8)

Gambar 3.15 kemarahan si Bungsu (bir. 43-46)

Gambar 3.16 Si Sulung mendaraskan syair (bir 46-47)

Ayahnya tetap memberikan bagian si Bungsu, berpesan agar menggunakan harta tersebut dengan bijaksana dan ia tetap menunggu kembalinya si Bungsu walaupun telah disia-siakan. Tempo kembali lambat dalam dinamika piano karena kerelaan ayahnya memberikan warisannya saat itu juga dan tetap menunggu si Bungsu kembali walaupun si Bungsu merasa tidak membutuhkan keluarganya lagi.

Gambar 3.17 Pesan ayah kepada si Bungsu (bir 48-52) D. Gambaran Narasi dan Elemen Musik Pendukung Episode III

Episode III mengisahkan tentang kesedihan ayahnya karena kepergian si Bungsu dan ia rindu kepada anaknya. Ia mengingat-ingat kembali betapa bahagianya ketika si Bungsu masih bersama dengan mereka. Namun, si Sulung meminta untuk melupakan si Bungsu karena perbuatannya. Kemudian, terjadi bencana kelaparan di tempat si Bungsu berada. Menyadari keadaannya ia ingin kembali kepada bapanya sebagai seorang pekerja. Bagian ini menimbulkan krisis. Krisis atau titik balik tindakan terjadi ketika si Bungsu menyadari bahwa ia telah berdosa.

(9)

dengan tempo largo dan intensitas suara yang lemah dalam tangga nada e minor.

Gambar 3.18 Curahan hati ayah (bir 3-6)

Bagian berikutnya adalah kerinduan ayah kepada anaknya. Kerinduan tersebut digambarkan menggunakan pola iringan arpeggio nilai nada 1/16 untuk menciptakan suasana yang dramatis.

Gambar 3.19 Ayah mencari si Bungsu (bir. 7-14)

Paduan suara menyanyikan kata “kembalilah” untuk menekankan keinginan sang ayah agar dapat bertemu si Bungsu kembali. Aksen digunakan untuk mempertegas keinginan tersebut.

(10)

Gambar 3.21 Si Sulung menenangkan ayahnya (bir 19-26)

Kemudian paduan suara mengisi untuk meningkatkan suasana menjadi lebih meriah agar si Sulung dapat meyakinkan untuk melupakan si Bungsu dan si Sulung masih tetap berada di sisi ayahnya.

Gambar 3.22 Si Sulung meminta untuk melupakan si Bungsu (bir 27-34)

Adegan selanjutnya, bencana kelaparan datang di tempat si Bungsu berada. Kesusahan melanda si Bungsu akibat perbuatannya. Penggambaran suasana tersebut dimainkan dengan piano, tempo yang lebih cepat dari bagian sebelumnya dan kembali ke dalam suasana e minor, dan penggunaan aksen pada iringan untuk menekankan terjadi bencana.

(11)

Gambar 3.23 Kesusahan akibat bencana kelaparan (bir 35-38)

Bagian selanjutnya adalah penyesalan si Bungsu. Akibat perbuatannya ia dihadapkan pada situasi yang sulit. Menyadari hal itu ia menyesal. Si Bungsu yang kelaparan namun tidak mampu membeli makanan. Penyesalan ini digambarkan dengan tempo yang lambat dan intensitas suara menurun.

Gambar 3.24 Penyesalan Si Bungsu (bir 39-46)

Kemudian timbulah niat dalam diri si Bungsu untuk bangkit dan memohon pengampunan kepada ayahnya. Tempo lebih cepat untuk menujukkan adanya niat dalam diri si Bungsu untuk bangkit dan mohon ampun. Ritardando dan iringan tremolo untuk menghantarkan ke frase berikutnya yaitu pengakuan si Bungsu bahwa ia telah berdosa.

(12)

Lalu si Bungsu akan mengaku atas kesalahannya dan meminta agar ia diterima kembali bukan sebagai anak namun sebagai pekerja ayahnya. Paduan suara bernyanyi untuk memberikan efek gema dan iringan glissando agar terlihat dramatis. Iringan block chord dalam dinamika forte digunakan untuk mendukung suasana penyesalan yang sangat dalam dari si Bungsu karena ia telah berdosa. Kemudian decrescendo untuk menggambarkan ketulusan niatnya untuk kembali kepada bapanya.

Gambar 3.26 Pengakuan Si Bungsu (bir 54-58)

Akibat perbuatannya, si Bungsu merasa tidak layak menjadi anak ayahnya. Intensitas suara menurun dan melambat untuk menggambarkan

kerendahannya di hadapan ayahnya.

(13)

Episode IV mengisahkan tentang ayah masih merindukan si Bungsu. Kemudian dari kejauhan ia melihat si Bungsu berlari kepada ayahnya. Ayahnya sangat bersyukur bahwa si Bungsu telah kembali. Si Bungsu memohon ampun. Namun ayahnya memberikan jubah yang terbaik, cincin dan sepatu untuk dipakaikan ke anaknya kemudian mengadakan pesta sebagai ucapan syukur kembalinya si si Bungsu.

Setelah selesai bekerja, si Sulung kembali ke rumah. Ia melihat suasana meriah di dalam rumahnya. Si Sulung bertanya-tanya apa yang terjadi kepada seorang yang hadir di sana dan ia berkata bahwa adiknya telah kembali. Marahlah anak si Sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia bahwa mereka patut bersukacita karena adiknya yang hilang telah kembali (jatuh dalam dosa dan menyadari akan kesalahannya) Penerimaan ayah terhadap si Bungsu dan si Sulung yang marah karena ayahnya menerima si Bungsu merupakan klimaks dari cerita ini. Kemarahan si Sulung membawa resolusi yaitu ayahnya memberi pengertian kepada si Sulung agar turut bersukacita atas kembalinya si Bungsu.

Dibuka dengan narasi oleh paduan suara. Paduan suara bernyanyi unison, dua suara kemudian empat suara untuk memberi kontras dan meningkatkan harmoni menjadi lebih berisi.

(14)

Kemudian ayah melihat si Bungsu dari kejauhan. Maka ia menghampiri si Bungsu. Ayah yang menghampiri si Bungsu digambarkan dengan iringan piano dengan motif yang sama seperti di episode I birama 47

Gambar 3.29 Derap langkah ayah menghampiri si Bungsu (bir. 14-15)

Ketika si Bungsu berada di hadapan ayahnya, ia mengakui bahwa ia telah berdosa. Pengakuan si Bungsu digambarkan dengan repetisi dari bagian III birama 54-58

Gambar 3.30 Pengakan si Bungsu (bir. 16-20)

Namun ayahnya melupakan semua itu dan bergembira karena si Bungsu kembali. Kegembiraan ayahnya digambarkan dengan iringan pola ritmik dan figur serta nilai nada yang digunakan nada 1/8 dan 1/16 dengan intensitas suara kuat

(15)

Lalu si Sulung melihat suasana meriah di dalam rumahnya maka ia bertanya kepada salah satu pekerja yang berada di dekat rumah. Rasa penasaran si Sulung digambarkan nada 1/4 dan di akhiri dengan fermata.

Gambar 3.32 Si Sulung penasaran (bir. 37-38)

Pekerja pria dinyanyikan oleh solo tenor untuk memberikan warna suara yang manis.

Gambar 3.33 Solo Tenor sebagai pekerja (bir. 40-43)

Si Sulung iri kepada si Bungsu karena selama ini telah melayani ayahnya namun belum pernah diadakan pesta semeriah penyambutan adiknya. Dinamika sangat keras serta nada 1/8 dan 1/16 dengan aksen menggambarkan kekesalan si Sulung.

Gambar 3.34 Si Sulung iri kepada adiknya (bir 43-50)

Ayah memberikan pengertian kepada si Sulung bahwa segala kepunyaannya adalah kepunyaan si Sulung juga. Sementara si Bungsu sudah dianggap “hilang” dan kini telah kembali. Maka dari itu diadakan pesta untuk ucapan syukur untuk adiknya yang telah kembali. Nada 1/2-1/8, register bawah dan tempo yang melambat menggambarkan sosok ayah yang sabar dan memberi pengertian kepada seorang anak yang sedang marah akibat perlakuan yang tidak adil.

(16)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :