BAB II TINJAUAN PUSTAKA

16 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Belajar dan Pembelajaran 1.1.1. Belajar

1. Pengertian Belajar

Menurut Ngalim Purwanto (1996: 24) hakikat belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan dengan membaca dan menggunakan pengalaman sebagai pengetahuan yang memandu perilaku pada masa yang akan datang. Pakar psikologi melihat perilaku belajar sebagai proses psikologis dalam interaksinya dengan lingkungan secara alami, sedangkan pakar pendidikan melihat perilaku belajar sebagai proses psikologis-pedagogis yang ditandai dengan adanya interaksi individu dengan lingkungan belajar yang sengaja diciptakan.

Sedangkan menurut pendapat yang dikutip S. Nasution (2000: 34) dalam bukunya Didaktis Asasasas Mengajar dikemukakan bahwa: .Belajar adalah penambahan pengetahuan1. Pendapat ini sangat sempit cakupannya, karena hanya menekankan pada menambah dan mengumpulkan pengetahuan, tidak memandang untuk apa pengetahuan tersebut.

Sementara menurut pendapat yang dikutip oleh Sardiman (2004: 20-21) dalam bukunya Interaksi dan Motivasi Belajar

(2)

Mengajar., mengatakan bahwa belajar adalah usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju tercapainya kepribadian seutuhnya. Pendapat ini lebih luas dari pendapat pertama, dengan upaya yang dilakukannya untuk menguasai ilmu pengetahuan, dengan harapan kepribadian seseorang akan terbentuk setelah mempelajari dan menguasai ilmu pengetahuan.

Disamping itu, Morgan (dalam Ngalim Purwanto, 1996: 84) dalam bukunya Psikologi Pendidikan., mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dan tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman3.. Menurut pendapat ini, belajar membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya pada jumlah pengetahuan, melainkan juga berbentuk kecakapan, kebiasaan, penghargaan, minat, penyesuaian diri, pendekatan mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang.

Pemahaman di atas dikuatkan Gagne dalam Udin S. Winataputra (2007) yang menyatakan “Learning is change in human disposition or capability that persists over a period of time and is not simply ascribable” yang berarti bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam kemampuan yang bertahan lama dan bukan berasal dari proses pertumbuhan.

(3)

Dari definisi di atas dapat diambil pemahaman bahwa belajar adalah suatu perubahan yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies (kemampuan), skills (ketrampilan), dan attitudes (sikap) dengan ditandai dengan adanya interaksi individu dengan lingkungan belajar yang sengaja diciptakan.

2. Faktor – faktor Belajar

Prinsip-prinsip belajar yang hanya memberikan petunjuk umum tentang belajar. Tetapi prinsip-prinsip itu tidak dapat dijadikan hukum belajar yang bersifat mutlak, kalau tujuan belajar berbeda maka dengan sendirinya cara belajar juga harus berbeda, contoh: belajar untuk memperoleh sifat berbeda dengan belajar untuk mengembangkan kebiasaan dan sebagainya. Karena itu, belajar yang efektif sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor kondisional yang ada.

Oemar Hamalik (2008: 32-33) menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar sebagai berikut:

a. Faktor kegiatan, penggunaan dan ulangan; siswa yang belajar melakukan banyak kegiatan baik kegiatan neural system, seperti melihat, mendengar, merasakan, berpikir, kegiatan motoris, dan sebagainya maupun kegiatan-kegiatan lainnya yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, sikap, kebiasaan, dan minat. Apa yang telah dipelajari perlu digunakan secara praktis dan diadakan ulangan secara kontinu di bawah kondisi yang serasi, sehingga penguasaan hasil belajar menjadi lebih mantap.

b. Belajar memerlukan latihan, dengan jalan: relearning, recalling, dan reviewing agar pelajaran yang terlupakan

(4)

dapat dikuasai kembali dan pelajaran yang belum dikuasai akan dapat lebih mudah dipahami.

c. Belajar siswa lebih berhasil, belajar akan lebih berhasil jika siswa merasa berhasil dan mendapatkan kepuasannya. Belajar hendaknya dilakukan dalam suasana yang menyenangkan.

d. Siswa yang belajar perlu mengetahui apakah ia berhasil atau gagal dalam belajarnya. Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan dan mendorong belajar lebih baik, sedangkan kegagalan akan menimbulkan frustrasi.

e. Faktor asosiasi besar manfaatnya dalam belajar, karena semua pengalaman belajar antara yang lama dengan yang baru, secara berurutan diasosiasikan, sehingga menjadi satu kesatuan pengalaman.

f. Pengalaman masa lampau (bahan apersepsi) dan pengertian-pengertian yang telah dimiliki oleh siswa, besar perananya dalam proses belajar. Pengalaman dan pengertian itu menjadi dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru dan pengertian-pengertian baru.

g. Faktor kesiapan belajar. Murid yang telah siap belajar akan dapat melakukan kegiatan belajar lebih mudah dan lebih berhasil. Faktor kesiapan ini erat hubungannya dengan masalah kematangan, minat, kebutuhan, dan tugas-tugas perkembangan.

h. Faktor minat dan usaha. Belajar dengan minat akan mendorong siswa belajar lebih baik daripada belajar tanpa minat. Minat ini timbul apabila murid tertarik akan sesuatu karena sesuai dengan kebutuhannya atau merasa bahwa sesuatu yang akan dipelajari dirasakan bermakna bagi dirinya. Namun demikian, minat tanpa adanya usaha yang baik maka belajar juga sulit untuk berhasil.

i. Faktor-faktor fisiologis. Kondisi badan siswa yang belajar sangat berpengaruh dalam proses belajar. Badan yang lemah, lelah akan menyebabkan perhatian tak mungkin akan melakukan kegiatan belajar yang sempurna. Karena itu faktor fisiologis sangat menentukan berhasil atau tidaknya murid yang belajar.

j. Faktor intelegensi. Murid yang cerdas akan lebih berhasil dalam kegiatan belajar, karena ia lebih mudah menangkap dan memahami pelajaran dan lebih mudah mengingat-ingatnya. Anak yang cerdas akan lebih mudah berpikir kreatif dan lebih cepat mengambil keputusan. Hal ini berbeda dengan siswa yang kurang cerdas, para siswa yang lamban.

(5)

3. Teori Belajar

Menurut Udin S. Winataputra (2007: 20) terdapat beberapa teori belajar sebagai berikut:

a. Teori Belajar Menurut Bruner

Jarome Bruner dalam teorinya menyatakan bahwa belajar matematika akan lebih berhasil jika proses pengajarannya diarahkan pada konsep-konsep dan struktur-struktur. Bruner dalam teorinya mengemukakan bahwa dalam proses belajar sebaiknya peserta didik diberi kesempatan untuk melihat secara langsung keteraturan yang terdapat pada benda atau obyek yang dipelajari melalui gambar.

b. Teori Belajar Menurut Edward L. Thorndike

Dalam hukum belajar menurut Edward yang dikenal dengan sebutan Law of Effect, belajar akan lebih berhasil bila respons peserta didik terhadap stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan. Kepuasan peserta didik akan lahir atau timbul jika dalam diri peserta didik timbul kecenderungan untuk malakukan tindakan atau kegiatan tertentu dan segera malakukan tindakan tersebut.

1.1.2. Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses atau cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar (Poerwadarminta, 2002: 17). Dalam

(6)

proses belajar mengajar, guru sebagai pengajar dan peserta didik sebagai subyeknya dituntut adanya profil kualifikasi tertentu dalam hal pengetahuan, kemampuan, sikap dan tata nilai agar proses itu dapat berlangsung dengan efektif dan efisien.

Pasaribu dalam Udin S Winataputra (2008: 12) mengatakan bahwa pembelajaran adalah proses perubahan kegiatan reaksi terhadap lingkungan. Dengan kata lain pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam rangka membimbing dan mendorong siswa untuk memperoleh pengalaman yang berguna bagi perkembangan dari seluruh potensi (kemampuan) yang dimilikinya semaksimal mungkin.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diperoleh pemahaman bahwa pembelajaran adalah sebuah upaya guru untuk menciptakan suatu sistem atau cara yang terencana sehingga memungkinkan terjadi suatu proses belajar siswa dalam rangka mengembangkan semua aspek dalam dirinya ditandai adanya interaksi seseorang dengan lingkungannya untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.

1.2. Hasil Belajar

Menurut Dimyati dan Mujiono (1994: 24) bahwa “hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak mengajar atau tindak belajar”. sedangkan menurut Karti Soeharto (1984: 40) menyatakan bahwa “hasil belajar ditandai oleh ciri-ciri yaitu : (a) disengaja dan bertujuan, (b) tahan

(7)

lama, (c) bukan karena kebetulan, dan (d) bukan karena kematangan dan pertumbuhan”.

Gagne (dalam Sayiful Sagala, 2009: 15) mengemukakan bahwa ada lima kemampuan hasil belajar yaitu :

1. Ketrampilan-ketrampilan intelektual karena ketrampilan itu merupakan penampilan yang ditunjukan oleh siswa tentang operasi intelektual yang dapat dilakukannya.

2. Penggunan strategi kognitif, karena siswa perlu menunjukan penampilan yang baru.

3. Berhubungan dengan sikap-sikap yang dapat ditunjukan oleh perilaku yang mencerminkan pilihan tindakan terhadap kegiatan-kegiatan TIK. 4. Dari hasil belajar adalah informasi verbal.

5. Keterampilan motorik.

Nana Sudjana (1990: 3) menyatakan bahwa hasil belajar dinilai dari perubahan-perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, psikomotorik, dan afektif. Penelitian proses belajar merupakan upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran, oleh sebab itu penelitian hasil belajar dan proses belajar saling berkaitan satu dengan yang lainnya sebab hasil merupaka sebab dari proses.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat dipahamai bahwa hasil belajar adalah merupakan hasil dari suatu interaksi tindak mengajar atau tindak belajar yang ditandai dari perubahan-perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, psikomotorik, dan afektif. Hasil belajar seseorang merupakan hasil interaksi antar berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam diri maupun dari luar diri seseorang, yaitu siswa sebagai subyek pembelajaran yang harus aktif, kreatif dan mampu berfikir kritis. Peran guru sebagai

(8)

pembimbing dan fasilitator bagi siswa, guru juga harus bertindak secara profesional. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dasar (kompetensi) antara lain sebagai berikut :

Dalam proses belajar mengajar, khususnya upaya meningkatkan hasil belajar siswa, guru dituntut untuk memiliki kemampuan.

1. Memanfaatkan berbagai sumber belajar. 2. Memahami cara berfikir siswa.

3. Memahami cara siswa belajar

4. Memilih dan menggunakan media secara tepat 5. Memilih dan menggunakan media secara tepat

6. Menguasai bahan / materi pelajaran yang disampaikan kepada para siswa (Depdikbud: 1998: 10)

1.3. Pendidikan Kewarganegaraan

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Menurut Sumantri (1976: 3) pendidikan kewarganegaraan merupakan usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dasar berkenaan dengan hubungan warga negara dengan negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara

Menurut Ruminiati (2008: 25) Pendidikan Kewarganegaraan yaitu pendidikan yang menyangkut status formal warga negara yang pada awalnya diatur dalaam Undang-Undang No.2 tahun 1949. Undang – Undang ini berisi tentang diri kewarganegaraan dan peraturan tentang naturalisasi atau pemerolehan status sebagai warga negara Indonesia (Winaputra, 1995 dalam Ruminiati, 2008: 25).

Di Indonesia Pendidikan Kewarganegaraan diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang memiliki komitmen

(9)

kuat dan konsisten untuk mempertimbangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hakekat Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara pembentukan yang didasarkan pada semangat kebangsaan atau nasionalisme di bawah satu negara yang sama walaupun warga masyarakat tersebut berbeda-beda agama, ras, etnis atau golongannya.

Pendidikan Kewarganegaraan sebagai mata pelajaran mempunyai kedudukan strategis dalam membina sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan sila-sila dari Pancasila yang diarahkan secara manusiawi pribadi dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

1.4. Metode Take And Give

1.4.1. Pengertian Metode Take and Give

Metode Take and Give yang diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah “memberi dan menerima” adalah metode mengajar menggunakan kartu-kartu yang berisi materi pembelajaran.

1.4.2. Langkah langkah Metode Take and Give :

Adapun langkah – langkah metode pembelajaran Take and Give seperti uraikan oleh Suprijono (2009: ) berikut ini.

1. Apersepsi

2. Guru menjelaskan materi sesuai kompetensi yang ingin dicapai 3. Untuk memantapkan penguasaan setiap siswa diberi masing-

(10)

4. Semua siswa disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasi. Setiap siswa harus mencatat nama pasangannya pada kartu contoh.

5. Demikian seterusnya samapai setiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing (take and give).

6. Untuk mengevaluasi keberhasilan, siswa diberi pertanyaan yang tidak sesuai dengan kartunya (kartu orang lain/pasangannya). 7. Kesimpulan

8. Evaluasi / penutup.

1.4.3. Kebaikan dan Kelemahan/Kekurangan Metode Take And Give 1. Kebaikan Metode Take and Give

a. Siswa menjadi sangat aktif dalam proses pembelajaran b. Siswa mempunyai kebebasan dalam mencari pasangan

se-hingga tidak akan canggung dalam menyampaikan informasi c. Siswa akan lebih komunikatif terutama dengan pasangannya. 2. Kelemahan / kekurangan Metode Take and Give

a. Situasi kelas bisa menjadi gaduh

b. Tidak semua materi bisa disajikan dengan metode Take And Give.

(11)

1.5. Kompetensi Dasar Menyebutkan Contoh Organisasi di Sekolah dan Masyarakat

1.5.1. Bentuk Organisasi di Sekolah

Setiati W., dan Fajar R. (2008: 61-64) menyatakan bahwa organisasi sekolah mencakup organisasi yang ruang lingkupnya berada di sekolah. Adapun organisasi yang ada di sekolah yaitu:

1. Pramuka

Salah satu organisasi di sekolah yang menyenangkan adalah pramuka. Selain menyenangkan, pramuka juga banyak manfaatnya. Dengan mengikuti kegiatan pramuka, siswa akan mendapat banyak ketrampilan hidup.

Secara umum dalam organisasi kepramukaan terdiri dari: pembina Gugus Depan, Ketua Gugus depan, Bendahara, sekretaris, anggota penggalan, dan anggota siaga.

Lebih lanjut Tayeb H.M.S dkk (2006: 65) menjabarkan bahwa gerakan pramuka digolongkan kedalam beberapa kelompok yaitu:

a. Pramuka siaga : untuk usia 7 s/d 10 tahun b. Pramuka penggalang : untuk usia 11 s/d 15 tahun

c. Pramuka penegak : untuk usia 16 s/d 20 tahun d. Pramuka pandega : untuk usia 21 s/d 26 tahun e. Orang dewasa disebut pembina

(12)

2. Koperasi Sekolah

Koperasi sekolah adalah koperasi yang didirikan di lingkungan sekolah. Anggotanya terdiri atas siswa sekolah. Koperasi sekolah dapat didirikan di semua jenjang pendidikan. Misalnya koperasi sekolah dasar di sekolah kalian. Kekuasaan tertinggi organisasi sekolah terdapat di rapat anggota. Yakni rapat yang diikuti oleh seluruh angoota. Pada awal berdiri, jumlah anggota koperasi paling sedikit dua puluh orang. Mereka mengadakan rapat anggota untuk memilih pengurus dan pengawas koperasi. Pengurus dan pengawas koperasi bertugas menjalankan koperasi. Sementara sumber dana koperasi dapat berasal dari simpanan pokok, simpanan wajib, dana cadangan, dan hibah. Koperasi sekolah bertujuan mensejahterakan anggotanya. Selain itu, koperasi sekolah juga melatih siswa melakukan kegiatan ekonomi.

Agar koperasi dapat berjalan dengan baik dibutuhkan sumber dana, berikut penjelasan mengenai pendanaan dalam koperasi:

a. Simpanan Pokok

Simpanan pokok adalah sejumlah uang yang wajib dibayar oleh anggota kepada koperasi.

(13)

b. Simpanan Wajib

Simpanan wajib adalah jumlah simpanan yang harus dibayar oleh anggota kepada koperasi dalam waktu tertentu. c. Dana Cadangan

Dana cadangan adalah sejumlah uang yang diperoleh dari sisa hasil usaha (SHU).

d. Hibah

Hibah adalah sejumlah uang atau barang yang diterima dari pihak lain yang tidak mengikat.

1.5.2. Bentuk–bentuk Organisasi di Masyarakat 1. Organisasi Kemasyarakatan

Salah satu organisasi yang paling banyak jenisnya adalah organisasi kemasyarakatan. Oleh karena itu, organisasi kemasyarakatan mudah sekali kita temukan. Contohnya organisasi ibu-ibu PKK, organisasi pemuda karang taruna, organisasi kesenian, dan sebagainya Organisasi-organisasi jenis ini semata-mata bergerak di bidang kemasyarakatan. Jenis kegiatannya antara lain arisan, olahraga, kesenian, penyuluhan kesehatan, membentuk koperasi, mendirikan sekolah, dan sejenisnya.

Selain organisasi-organisasi di atas, ada pula organisasi kemasyarakatan yang bercorak keagamaan. Organisasi kemasyarakatan jenis ini pun amat mudah kita temukan. Setiap

(14)

rumah ibadah suatu agama pasti memiliki organisasi kemasyarakatan yang bercorak keagamaan. Di Masjid, ada organisasi jamaah Masjid, di gereja ada kumpulan jemaat gereja. Demikian pula di tempat-tempat ibadah lain.

Sebuah agama pada hakikatnya juga sebuah organisasi. Selain bertujuan keagamaan, organisasi keagamaan biasanya juga memiliki tujuan sosial kemasyarakatan. Misalnya, mendirikan sekolah atau menggalang dana bantuan sosial.

2. Organisasi Pemerintahan

Organisasi jenis lain di sekitar kita adalah organisasi pemerintahan yang meliputi organisasi pemerintahan kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota. Di kota besar, organisasi pemerintahan provinsi, sementara di ibu kota organisasi pemerintahan pusat.

Organisasi pemerintahan lebih rumit dibanding organisasi kemasyarakatan. Sebab, selain mengurus pemerintahan organisasi pemerintahan juga mengurus masalah kemasyarakatan.

Pemimpin organisasi pemerintahan adalah kepala pemerintahan. Organisasi pemerintahan desa dipimpin oleh kepala desa. Organisasi pemerintahan kecamatan dipimpin oleh camat, dan seterusnya hingga presiden.

(15)

3. Organisasi Politik

Organisasi politik lahir baik di kota besar maupun kecil bahkan hingga pelosok desa. Organisasi politik terbentuk untuk meraih tujuan. Tujuan tersebut adalah menempatkan anggotanya di organisasi pemerintahan. Contoh dari organisasi politik adalah partai politik seperti Golkar, PDIP, PAN, Demokrat, dan lain sebagainya.

4. Organisasi Ekonomi

Organisasi ekonomi adalah organisasi yang memiliki tujuan untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Organisasi ekonomi biasanya berada di kota-kota. Namun, organisasi ekonomi juga ada di desa-desa. Contoh organisasi ekonomi adalah perusahan. Perusahaan terdiri atas beberapa orang, mereka berkumpul untuk bekerja bersama-sama. Mereka mempunyai tujuan yang sama. Tujuannya adalah untuk memperoleh penghasilan. Dalam bekerja, mereka juga memakai aturan. Dengan demikian, perusahaan termasuk organisasi.

Di desa, contoh organisasi ekonomi antara lain kelompok tani. Sedangkan di daerah sekitar pantai, para nelayan biasanya juga membentuk organisasi sendiri. Melalui organisasi-organisasi ini, mereka dapat saling bekerja sama dan saling membantu.

Pada dasarnya, struktur berbagai macam organisasi di masyarakat hampir sama. Organisasi di masyarakat dipimpin oleh

(16)

seorang ketua. Ketua tersebut dibantu oleh wakil ketua, sekretaris, dan bendahara. Dalam melaksanakan tugas, ketua dapat melimpahkan tugasnya kepada seksi-seksi. Misalnya seksi umum, seksi pendidikan, seksi kepemudaan, seksi olahraga, seksi keagamaan, dan lain-lain.

1.6. Hipotesis

Hipotesis penelitian ini yaitu “Penerapan metode Pembelajaran Take and Gave dapat meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan pada kompetensi dasar menyebutkan contoh organisasi di sekolah dan masyarakat di kelas V Sekolah Dasar Negeri Pesanggrahan 02 tahun pelajaran 2009/2010?”.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :