No. 41/07/36/Th.XI, 17 Juli 2017
T
INGKAT
K
ETIMPANGAN
P
ENGELUARAN
K
ONSUMSI
M
ARET
2017
GINI RATIO PROVINSI BANTEN MARET 2017 MENURUN
1.
Perkembangan Gini Ratio Tahun 2010-Maret 2017
Salah satu ukuran ketimpangan yang sering digunakan adalah Gini Ratio. Nilai Gini Ratio berkisar antara 0 -1 . Semakin tinggi nilai Gini Ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi. Pada tahun 2 0 1 0 Gini Ratio Banten tercatat sebesar 0 ,4 1 9 . Angka ini terus bergerak turun hingga September 2 0 1 2 yaitu sebesar 0 ,3 8 4 . Pada September 2 0 1 4 nilai Gini Ratio mencapai angka tertinggi yaitu sebesar 0 ,4 2 4 . Kemudian pada periode Maret 2 0 1 5 -Maret 2 0 1 7 nilai Gini Ratio menunjukkan kecenderungan menurun hingga mencapai angka 0 ,3 8 2 pada Maret 2 0 1 7 .
Nilai Gini Ratio di perdesaan lebih kecil dibandingkan di perkotaan. Untuk daerah perdesaan Gini Ratio Maret 2 0 1 7 tercatat sebesar 0 ,2 6 7 . Sementara di perkotaan sebesar 0 ,3 8 1 . Artinya ketimpangan pengeluaran penduduk di perdesaan lebih rendah. Gini Ratio perkotaan ini turun sebesar 0 ,0 1 8 poin dibanding Gini Ratio September 2 0 1 6 yang sebesar 0 ,3 9 9 dan turun 0 ,0 2 1 poin dibanding Gini Ratio Maret 2 0 1 6 yang sebesar 0 ,4 0 2 . Sedangkan di perdesaan, Gini Ratio
Pada Maret 2017, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Banten yang diukur oleh Gini Ratio tercatat sebesar 0,382. Angka ini turun 0,010 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,392.
Ketimpangan pengeluaran konsumsi penduduk perkotaan lebih tinggi dibanding di perdesaan, ditunjukkan dengan perbandingan Gini Ratio yang 0,381 berbanding 0,267. Gini Ratio di daerah perkotaan pada Maret 2017 sebesar 0,381 menurun dibanding Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,399. Sedangkan Gini Ratio di daerah perdesaan justru meningkat dari 0,248 pada September 2016 menjadi 0,267 pada Maret 2017.
Pada Maret 2017, distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 17,50 persen. Artinya pengeluaran penduduk masih berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah. Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 17,17 persen dan di daerah perdesaan sebesar 22,91. Persen.
Gambar 1.
Perkembangan Gini Ratio Banten, 2010
–
September 20162.
Perkembangan Distribusi Pengeluaran September 2016-Maret 2017
Selain Gini Ratio ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 4 0 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran ketimpangan Bank Dunia. Berdasarkan ukuran ini tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 4 0 persen terbawah angkanya di bawah 1 2 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 1 2 -1 7 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada di atas 1 7 persen. Pada Maret 2 0 1 7 , persentase pengeluaran pada kelompok 4 0 persen terbawah adalah sebesar 1 7 , 5 0 persen yang berarti Banten berada pada kategori ketimpangan rendah. Persentase pengeluaran pada kelompok 4 0 persen terbawah pada bulan Maret 2 0 1 7 ini naik 0 ,0 9 poin jika dibandingkan dengan kondisi September 2 0 1 6 (1 7 ,4 1 persen).
Sejalan dengan informasi yang diperoleh dari Gini Ratio, ukuran ketimpangan Bank Dunia pun mencatat hal yang sama yaitu ketimpangan di perkotaan lebih terlihat dibandingkan dengan ketimpangan di perdesaan. Persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 4 0 persen terbawah di daerah perkotaan pada Maret 2 0 1 7 adalah sebesar 1 7 ,1 7 persen sementara persentase pengeluaran kelompok penduduk 4 0 persen terbawah di daerah perdesaan sebesar 2 2 ,9 1 persen. Walaupun keduanya masih berada pada kategori ketimpangan rendah, tetapi di daerah perkotaan sudah mendekati kategori ketimpangan sedang (1 2 -1 7 persen).
0,419 0,404 0,388 0,387 0,381 0,402 0,376 0,401 0,435 0,411 0,390 0,402 0,399 0,381 0,289 0,295 0,321 0,303 0,308 0,287 0,276 0,280 0,294 0,269 0,261 0,264 0,248 0,267 0,419 0,404 0,394 0,387 0,384 0,399 0,380 0,395 0,424 0,401 0,386 0,394 0,392 0,382 0,240 0,280 0,320 0,360 0,400 0,440 2010 Maret 2011 Sept 2011 Maret 2012 Sept 2012 Maret 2013 Sept 2013 Maret 2014 Sept 2014 Maret 2015 Sept 2015 Maret 2016 Sept 2016 Maret 2017 Perkotaan Perdesaan Perkotaan + Perdesaan
Gambar 2.
Persentase Pengeluaran Kelompok Penduduk 40 Persen Terbawah Maret 2016, September 2016 dan Maret 2017
Tabel 1
Distribusi Pengeluaran Penduduk di Banten
Maret 2016, September 2016 & Maret 2017 (Persentase)
Daerah/Tahun Penduduk 40
persen Terbawah
Penduduk 40
persen Menengah Penduduk 20 persen Atas Jumlah
(1) (2) (3) (4) (5) Perkotaan Maret 2016 16,87 35,66 47,47 100 September 2016 16,77 36,90 46,33 100 Maret 2017 17,17 37,97 44,86 100 Perdesaan Maret 2016 23,62 39,99 36,39 100 September 2016 23,81 41,75 34,44 100 Maret 2017 22,91 41,53 35,56 100 Perkotaan+Perdesaan Maret 2016 17,55 35,34 47,11 100 September 2016 17,41 36,08 46,51 100 Maret 2017 17,50 36,83 45,67 100 16,87 16,77 17,17 23,62 23,81 22,91 17,55 17,41 17,50 0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00
Maret 2016 Sept 2016 Maret 2016
3.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perbaikan Tingkat Ketimpangan
Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap perbaikan tingkat ketimpangan pengeluaran selama periode September 2 0 1 6 -Maret 2 0 1 7 diantaranya adalah:
a. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), tercatat bahwa pengeluaran perkapita per bulan penduduk kelompok 4 0 persen terbawah mengalami peningkatan (0 ,0 9 persen) sementara pengeluaran per kapita per bulan penduduk kelompok 2 0 persen teratas justru berkurang (-0 ,8 4 persen).
b. Menguatnya perekonomian penduduk kelas menengah (kelompok 4 0 persen menengah). Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk bekerja dengan status berusaha sendiri/ dibantu pekerja tidak tetap yang merupakan kelompok terbesar pada kelas menengah sebagai dampak dari lebih kondusifnya pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasarkan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) terjadi peningkatan jumlah pekerja yang berusaha sendiri/ dibantu pekerja tidak dibayar dari 1 .0 8 2 ribu (Agustus 2 0 1 6 ) menjadi 1 .4 8 2 ribu (Maret 2 0 1 7 ) atau naik sekitar 3 6 ,9 7 persen.
4.
Gini Ratio Menurut Provinsi pada Maret 2017
Pada Maret 2 0 1 7 , provinsi yang mempunyai nilai Gini Ratio tertinggi tercatat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu sebesar 0 ,4 3 2 sementara yang terendah tercatat di Provinsi Bangka Belitung dengan Gini Ratio sebesar 0 ,2 8 2 (Gambar 3 ). Sedangkan nilai Gini Ratio Provinsi Banten sebesar 0 ,3 8 2 lebih rendah dibanding Gini Ratio nasional.
Gambar 3.
Gini Ratio menurut Provinsi Maret 2017
0,282 0,382 0,393 0,432 B an g k a B eli tu n g Ka li m a n tan Uta ra S u m ater a Uta ra M alu k u Uta ra S u m ater a B ar at R iau Ka li m a n tan B ar at Ac eh Ka li m a n tan T im u r L am p u n g Ke p u lau an R iau Ja m b i Ka li m a n tan T en g ah M alu k u K alim a n ta n Se la ta n B en g k u lu S u law es i B ar at S u law es i T en g ah Nu sa T en g g ar a T im u r S u m ater a S elata n Ja wa T en g ah Nu sa T en g g ar a B ar a t B an ten Bali P ap u a B ar a t In d o n es ia S u law es i T en g g a ra S u law es i Uta ra Ja wa T im u r P ap u a Ja wa B ar at S u law es i S e la tan DK I Ja k ar ta Go ro n talo DI Yo g y ak ar ta
Informasi lebih lanjut hubungi:
Ir. Agoes Soebeno, M.Si Kepala BPS Provinsi Banten
Telepon: 0254-267027
E-mail : [email protected]; [email protected] Website : banten.bps.go.id