• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 4.1.1. Sejarah Singkat Toyota Astra Motor

Toyota Astra Motor atau yang biasa disingkat dengan TAM merupakan agen tunggal pemegang merek (ATPM) atas mobil Toyota dan Lexus di Indonesia. TAM merupakan perusahaan joint venture antara PT. Astra International Tbk dengan Toyota Motor Corporation Jepang. TAM diresmikan pada 12 April 1971. Peranan TAM semula hanya sebagai importir kendaraan Toyota, tetapi setahun kemudian TAM sudah berfungsi sebagai distributor, dan pada 31 Desember 1989 TAM melakukan merger bersama tiga perusahaan diantaranya adalah PT. Multi Astra yang merupakan pabrik perakitan yang berdiri pada tahun 1973; PT. Toyota Mobilindo yang merupakan pabrik komponen bodi yang berdiri pada tahun 1976; dan PT. Toyota Engine Indonesia yang merupakan pabrik mesin yang berdiri pada tahun 1982. Gabungan atas tiga perusahaan kemudian diberi nama PT. Toyota Astra Motor.

Salah satu alasan merger tersebut adalah untuk menyatukan langkah dan efisiensi perusahaan dalam menjawab tuntutan atas kualitas, dan menghadapi ketatnya persaingan di dunia otomotif. Selama kurang lebih dari tigapuluh tahun, TAM berperan penting dalam pengembangan industri otomotif di Indonesia, dan membuka lapangan pekerjaan termasuk dalam industri pendukungnya. TAM sudah memiliki pabrik produksi seperti stamping, casting, engine dan assembly di area industri Sunter Jakarta. Kemudian untuk meningkatkan kualitas produk dan kemampuan dalam berproduksi, pada tahun 1998 diresmikan pabrik di Karawang dengan menggunakan teknologi terbaru di Indonesia.

Pada 15 Juli 2003, TAM direstrukturisasi menjadi dua perusahaan yaitu PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang merupakan perakit produk Toyota dan eksportir kendaraan dan suku cadang Toyota, dan PT. Toyota Astra Motor sebagai agen penjualan, importir dan distributor produk Toyota di Indonesia. Dalam mendukung penjualan dan layanan purna jual, TAM dibantu

(2)

Indonesia, diantaranya adalah Auto 2000 yang merupakan dealer utama Toyota di wilayah Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Bali, Kalimantan dan sebagian Sumatera; PT. New Ratna Motor yang merupakan dealer utama Toyota di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta; NV Hadji Kalla Trd Co yang merupakan dealer utama Toyota di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara; PT. Hasjrat Abadi yang merupakan dealer utama Toyota di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Maluku, Ternate dan Papua; dan PT. Agung Automall yang merupakan dealer utama Toyota di wilayah Bali, Riau, Jambi, Bengkulu, Tanjungpinang dan Batam.

Beberapa produk TAM yang dijual di Indonesia diantaranya adalah jenis Sedan seperti Starlet (sudah tidak produksi), Yaris, Soluna (sudah tidak produksi), Vios, Corona (sudah tidak produksi), Corolla, Camry, Cressida (sudah tidak produksi), Crown (sudah tidak produksi); jenis Kendaraan Penumpang type SUV dan MPV seperti Fortuner, Kijang Innova, Kijang (sudah tidak produksi), Avanza, Hiace (sudah tidak produksi), Toyota Land Cruiser, dan Previa; dan jenis Truk dan Kendaraan Niaga seperti Dyna, Hilux, Kijang Pick up (sudah tidak produksi).

Beberapa penghargaan yang diperoleh TAM diantaranya adalah Superbrands Award dari Superbrands Organization pada tahun 2004 dan 2005. Indonesia Best Brand Award dari majalah SWA dan Mars pada tahun 2001-2004. Golden Brand Award dan Indonesia’s Most Admired Company (IMAC) pada tahun 2003 dan 2005 dari majalah Business Week dan Frontier. Indonesian Customer Satisfaction Award untuk produk Kijang pada tahun 2001-2005 dari majalah SWA dan Frontier. IMI Award dari IMI pada tahun 2004. Pada tahun 2011, TAM berhasil memperoleh The Best in Building and Managing Corporate Image yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga survey Frontier Consulting Group. Kemudian pada tahun 2013 berhasil meraih sukses sebagai perusahaan peraih reputasi terbaik versi Corporate Image Award 2013. TAM dinilai sebagai perusahaan yang mampu membangun dan mengelola reputasi perusahaan yang sangat baik.

Dalam kegiatan operasionalnya, TAM selalu bermuara pada filosofi Toyota Way yang merupakan nilai luhur Toyota. Toyota Way diantaranya ditopang oleh adanya prinsip yaitu Continuous Improvement (Kaizen) dan Respect

(3)

for People. Toyota selalu berupaya untuk mencari dan melakukan perbaikan dalam mengembangkan kinerja perusahaan, dan menghargai orang-orang di sekelilingnya. Hal tersebut oleh Toyota merupakan kunci sukses yang terletak pada kerjasama tim yang baik, dan individu-individu yang berada didalamnya. Nilai-nilai tersebut kemudian di implementasikan melalui Toyota Business Practices dalam aktivitas sehari-hari.

4.1.2. Toyota Avanza

Toyota Avanza adalah mobil yang diproduksi di Indonesia oleh pabrikan Daihatsu yang dipasarkan dalam dua merek yaitu Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Generasi pertama mobil ini diluncurkan ketika Gaikindo Auto Expo 2003, dan terjual sebanyak 100.000 unit selama tahun 2003.

Avanza berasal dari bahasa Italia yaitu Avanzato yang berarti peningkatan atau maju. Pada tahun 2006 diluncurkan New Avanza S (1.5 S VVT-i) yang merupakan versi terlengkap dengan mesin berkapasitas 1.500 cc VVT-i, sensor parkir belakang, teknologi rem ABS, dan pelek aluminium 15” dengan dua pilihan transmisi yaitu manual dan otomatis. Perubahan secara keseluruhan (full model change) dilakukan pada tahun 2011 dengan ditandai dengan mulainya generasi kedua. Varian baru Veloz yang berasal dari bahasa Inggris Velocity yang berarti kecepatan menjadi varian teratas (top of the line) yang juga menjadi pembeda dengan generasi sebelumnya.

Lahirnya Toyota Avanza berasal dari niatan TAM dalam menghadirkan mobil yang mampu menjawab keinginan masyarakat yang menyukai Toyota Kijang, dengan harga yang lebih murah, sehingga pada tahun 2004 lahirlah Toyota Avanza yang memiliki cita rasa Kijang dengan harga yang bukan Kijang, dan ternyata berhasil menjadi tulang punggung penjualan Toyota dengan jangka waktu yang sangat singkat.

Toyota Avanza dipasarkan disejumlah negara Asia Pasifik seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina serta dipasarkan juga di Afrika Selatan dan Meksiko. Toyota Avanza menggunakan basis casis dan bodi yang diproduksi oleh Astra Daihatsu dibawah Supervisi Toyota Astra Motor (TAM). Toyota Avanza

(4)

merupakan varian resmi yang dijual untuk pasar Indonesia dengan varian, performa, asesoris dan kelengkapan yang berbeda di setiap negara.

Inovasi Toyota Avanza terus mengalami keberlanjutan, dengan melakukan development yang kontinyu, Toyota Avanza terus bertransformasi menjadi kendaraan keluarga paling diminati di Indonesia. Perkembangannya mencakup pada penampilannya yang selalu mengalami pembaharuan yang mengikuti trend yang ada pada masanya. Pengaplikasian fitur terbaru dan paling modern demi kenyamanan hingga performa kendaraan yang kian di tingkatkan. Semua inovasi tersebut tetap mempertahankan basis kendaraan yang merupakan mobil serbaguna dan ekonomis, baik dari segi harga, perawatan sampai tingkat efisiensi bahan bakar.

Toyota Avanza semakin menunjukkan kesuksesannya di seluruh dealer resmi Toyota di Indonesia, dan Toyota Avanza berhasil menjadi mobil dengan tingkat penjualan terbanyak di Indonesia selama tiga tahun berturut-turut yaitu pada tahun 2006-2008. Saat ini all new Toyota Avanza yang merupakan varian terbaru Avanza dengan perubahan yang mencakup desain eksterior dan interior yang lebih stylish. Avanza generasi terbaru juga lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar. Hal demikian membawa Toyota Avanza meraih penghargaan Best Mini MPV, Best of The Best MPV dan Best Car of The Year 2012 di ajang Indonesia Otomotif Awards pada 21 Maret 2012.

4.2. Demografi Responden

4.2.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Responden dalam penelitian ini adalah para pengguna otomotif Toyota Avanza yang berada di Surabaya. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, peneliti mengolah dan mengkategorikan responden menurut jenis kelamin adalah sebagai berikut:

(5)

Tabel 4.1 Persentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Jumlah Persentase

Laki-laki 57 57,0

Perempuan 43 43,0

Total 100 100,0

Berdasarkan tabel diatas dapat diperhatikan bahwa dari 100 data responden yang diperoleh peneliti menunjukkan mayoritas responden adalah laki-laki dengan persentase sebesar 57%, kemudian untuk responden dengan jenis kelamin perempuan dengan persentase sebesar 43% dari total responden.

4.2.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

Kategori responden berdasarkan pada usia pada penelitian ini dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu batasan usia 25-30 tahun, 31-35 tahun, 36-40 tahun, 41-45 tahun dan 46-50 tahun dapat diperhatikan pada tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2 Persentase Responden Berdasarkan Usia

Jumlah Persentase 25-30 27 27,0 31-35 23 23,0 36-40 28 28,0 41-45 14 14,0 46-50 8 8,0 Total 100 100,0

Berdasarkan pada tabel 4.2 tersebut diatas dapat diketahui bahwa responden pada penelitian ini menunjukkan pada batasan usia 36-40 adalah kategori batasan usia yang terbanyak yaitu sebesar 28%, kemudian batasan usia 25-30 sebanyak 27%, berikutnya batasan usia 31-35 sebanyak 23%, sedangkan untuk batasan usia 41-45 dan 46-50 sebesar 14% dan 8% dari total responden yang ditentukan.

(6)

4.2.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Karakteristik responden berdasarkan pada pekerjaan, oleh peneliti dikategorikan menjadi empat, yaitu mahasiswa, pegawai kantor, ibu rumah tangga dan wiraswasta. Hasil dari pengolahan data seperti pada tabel 4.3 berikut:

Tabel 4.3 Persentase Responden Berdasarkan Pekerjaan

Jumlah Persentase

Mahasiswa 4 4,0

Pegawai Kantor 40 40,0

Ibu Rumah Tangga 20 20,0

Wiraswasta 36 36,0

Total 100 100,0

Berdasarkan pada tabel 4.3 diatas dapat diperhatikan bahwa untuk responden dengan berdasarkan pekerjaan pada penelitian ini adalah mayoritas pegawai kantor dengan persentase sebesar 40%, wiraswasta sebesar 36%, kemudian ibu rumah tangga sebesar 20% dan berikutnya mahasiswa hanya sebesar 4% dari total responden sebanyak 100 orang.

4.2.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Status

Responden dengan karakteristik yang berdasarkan pada status dalam penelitian ini dapat diperhatikan pada tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4 Persentase Responden Berdasarkan Status

Jumlah Persentase

Menikah 80 80,0

Belum Menikah 20 20,0

(7)

Berdasarkan tabel 4.4 diatas dapat diketahui bahwa responden pada penelitian ini adalah 80% dengan status menikah, dan 20% adalah dengan status belum menikah.

4.2.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Rata-rata KM Penggunaan Karakteristik responden dalam menggunakan kendaraan bermotor pada penelitian ini dengan berdasarkan pada rata-rata KM penggunaan/hari dapat dilihat pada tabel 4.5:

Tabel 4.5 Persentase Responden Berdasarkan Rata-rata KM Penggunaan

Jumlah Persentase 100 26 26,0 150 26 26,0 175 1 1,0 200 18 18,0 250 17 17,0 300 5 5,0 350 4 4,0 400 2 2,0 450 1 1,0 Total 100 100,0

Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa rata-rata KM penggunaan/hari pada responden adalah KM 100 dan 150 menunjukkan persentase yang sama, yaitu masing-masing 26%, KM 200 menunjukkan persentase sebesar 18%, KM 250 dengan persentase sebesar 17%, dan pada KM 300, KM 350, KM 400 masing-masing dengan persentase sebesar 5%, 4%, dan 2%. Sedangkan pada KM 175 dan KM 450 masing-masing menunjukkan persentase 1%.

4.2.6. Karakteristik Responden Berdasarkan Penggunaan Bahan Bakar Pada perilaku pengguna kendaraan bermotor terhadap penggunaan bahan bakar, karakteristik responden pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.6:

(8)

Tabel 4.6 Persentase Responden Berdasarkan Penggunaan Bahan Bakar

Jumlah Persentase

Subsidi 72 72,0

Non Subsidi 28 28,0

Total 100 100,0

Pada tabel 4.6 diatas dapat diketahui bahwa persentase perilaku pengguna kendaraan bermotor pada responden berdasarkan penggunaan bahan bakar adalah mayoritas menggunakan bahan bakar bensin bersubsidi dengan persentase sebesar 72%, dan non subsidi dengan persentase sebesar 28%.

4.2.7. Karakteristik Responden Berdasarkan Bengkel Perawatan

Karakteristik responden perihal perilaku pengguna kendaraan bermotor dalam kaitannya dengan bengkel perawatan dapat dilihat pada tabel 4.7:

Tabel 4.7 Persentase Responden Berdasarkan Bengkel Perawatan Jumlah Persentase

Auto2000 (Resmi) 78 78,0

Tidak Resmi 22 22,0

Total 100 100,0

Pada tabel 4.7 diketahui bahwa persentase sebesar 78% merupakan perilaku pengguna kendaraan bermotor dengan menggunakan jasa bengkel perawatan Auto 2000 (resmi), dan 22% adalah penggunaan jasa bengkel perawatan tidak resmi.

4.2.8. Karakteristik Responden Berdasarkan Pembelian Sparepart

Responden dengan karakteristik berdasarkan perilaku pengguna kendaraan bermotor dalam hal pembelian sparepart adalah sebagai berikut:

(9)

Tabel 4.8 Persentase Responden Berdasarkan Pembelian Sparepart Jumlah Persentase

Auto2000 (Resmi) 74 74,0

Tidak Resmi 26 26,0

Total 100 100,0

Berdasarkan pada tabel 4.8 dapat diketahui bahwa perilaku responden dalam hal pembelian sparepart menunjukkan persentase sebesar 74% menggunakan jasa Auto 2000 (resmi), dan 26% adalah pembelian sparepart tidak resmi.

4.3. Analisis Data 4.3.1. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui tingkat kesahihan suatu instrumen (alat ukur). Sebuah instrumen akan dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang di inginkan, sehingga dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. Instrumen dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner. Untuk mengukur validitas dalam penelitian ini digunakan korelasi product moment pearson. Apabila korelasi pearson pada masing-masing pernyataan dengan skor total menghasilkan nilai signifikansi < 0,05, maka item pernyataan dinyatakan valid. Pengujian validitas dilakukan dengan program SPSS 20.0.

Berikut adalah hasil pengujian validitas pada masing-masing pernyataan pada variabel penelitian:

(10)

Tabel 4.9 Hasil Uji Validitas

Variabel Item Koefisien

Korelasi Signifikansi Keterangan Brand Awareness (Kesadaran Merek) Pernyataan1 (KM1) 0,725 0,00 Valid Pernyataan2 (KM2) 0,550 0,00 Valid Pernyataan3 (KM3) 0,744 0,00 Valid Pernyataan4 (KM4) 0,723 0,00 Valid Perceived Quality (Persepsi Kualitas) Pernyataan1 (PK1) 0,592 0,00 Valid Pernyataan2 (PK2) 0,547 0,00 Valid Pernyataan3 (PK3) 0,503 0,00 Valid Pernyataan4 (PK4) 0,450 0,00 Valid Brand Association (Asosiasi Merek)

Pernyataan1 (AM1) 0,500 0,00 Valid Pernyataan 2 (AM2) 0,618 0,00 Valid Pernyataan 3 (AM3) 0,687 0,00 Valid Brand Loyalty

(Loyalitas Merek)

Pernyataan 1 (LM1) 0,670 0,00 Valid Pernyataan 2 (LM2) 0,442 0,00 Valid Pernyataan 3 (LM3) 0,521 0,00 Valid

Berdasarkan pada tabel 4.9 tersebut di atas, dapat diketahui bahwa semua item pernyataan pada variabel kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek dan loyalitas merek menghasilkan nilai korelasi product moment pearson > 0,05 dengan demikian item-item pernyataan yang digunakan untuk mengukur variabel penelitian dinyatakan valid.

4.3.2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kuesioner dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Untuk mengukur reliabilitas digunakan korelasi Cronbach Alpha. Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 20.0. Berikut adalah hasil uji reliabilitas pada variabel penelitian:

Tabel 4.10 Hasil Uji Reliabilitas Cronbach’s Alpha Cronbach’s Alpha Based

on Standardized Items N of Item

,859 ,893 2

Berdasarkan hasil uji reliabilitas pada penelitian ini, variabel kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek dan loyalitas merek dinyatakan reliabel, karena memiliki nilai cronbach alpha > 0,6.

(11)

4.4. Statistik Deskriptif 4.4.1. Distribusi Frekuensi

Distribusi frekuensi yang digunakan untuk menunjukkan nilai distribusi data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

4.4.1.1. Brand Awareness (Kesadaran Merek)

Tabel 4.11 Distribusi Frekuensi Kesadaran Merek (KM1) Skala Likert Frekuensi Persentase

1 2 2,0 2 12 12,0 3 41 41,0 4 20 20,0 5 25 25,0 Total 100 100,0

Tabel 4.11 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk kesadaran merek (KM1), yaitu berbicara tentang merek mobil, konsumen langsung terpikir tentang Toyota Avanza, untuk skala nilai 1 menunjukkan frekuensi 2, skala nilai 2 dengan frekuensi 12, skala nilai 3 dengan frekuensi 41, skala nilai 4 dengan frekuensi 20, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 25 dari total responden.

Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Kesadaran Merek (KM2) Skala Likert Frekuensi Persentase

2 5 5,0

3 27 27,0

4 27 27,0

5 41 41,0

Total 100 100,0

Tabel 4.12 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk kesadaran merek (KM2), yaitu merek mobil Toyota Avanza sangat terkenal di Indonesia saat ini, untuk skala nilai 2 dengan frekuensi 5, skala nilai 3 dan 4

(12)

masing-masing dengan frekuensi 27, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 41 dari total responden.

Tabel 4.13 Distribusi Frekuensi Kesadaran Merek (KM3) Skala Likert Frekuensi Persentase

2 8 8,0

3 34 34,0

4 27 27,0

5 31 31,0

Total 100 100,0

Tabel 4.13 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk kesadaran merek (KM3), yaitu konsumen sangat menyukai merek Toyota Avanza, untuk skala nilai 2 dengan frekuensi 8, skala nilai 3 dengan frekuensi 34, skala nilai 4 dengan frekuensi 27, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 31 dari total responden.

Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Kesadaran Merek (KM4) Skala Likert Frekuensi Persentase

1 3 3,0 2 9 9,0 3 30 30,0 4 34 34,0 5 24 24,0 Total 100 100,0

Tabel 4.14 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk kesadaran merek (KM4), yaitu konsumen sangat mengenal merek mobil Toyota Avanza, untuk skala nilai 1 dengan frekuensi 3, skala nilai 2 dengan frekuensi 9, skala nilai 3 dengan frekuensi 30, skala nilai 4 dengan frekuensi 34, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 24 dari total responden.

(13)

4.4.1.2. Perceived Quality (Persepsi Kualitas)

Tabel 4.15 Distribusi Frekuensi Persepsi Kualitas (PK1) Skala Likert Frekuensi Persentase

1 2 2,0 2 6 6,0 3 28 28,0 4 50 50,0 5 14 14,0 Total 100 100,0

Tabel 4.15 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk persepsi kualitas (PK1), yaitu mobil Toyota Avanza yang digunakan konsumen irit BBM, untuk skala nilai 1 dengan frekuensi 2, skala nilai 2 dengan frekuensi 6, skala nilai 3 dengan frekuensi 28, skala nilai 4 dengan frekuensi 50, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 14 dari total responden.

Tabel 4.16 Distribusi Frekuensi Persepsi Kualitas (PK2) Skala Likert Frekuensi Persentase

1 1 1,0 2 8 8,0 3 39 39,0 4 41 41,0 5 11 11,0 Total 100 100,0

Tabel 4.16 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk persepsi kualitas (PK2), yaitu mesin mobil Toyota Avanza sangat handal tidak mudah rusak, untuk skala nilai 1 dengan frekuensi 1, skala nilai 2 dengan frekuensi 8, skala nilai 3 dengan frekuensi 39, skala nilai 4 dengan frekuensi 41, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 11 dari total responden.

(14)

Tabel 4.17 Distribusi Frekuensi Persepsi Kualitas (PK3) Skala Likert Frekuensi Persentase

2 1 1,0

3 24 24,0

4 33 33,0

5 42 42,0

Total 100 100,0

Tabel 4.17 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk persepsi kualitas (PK3), yaitu mobil Toyota Avanza modelnya sangat menarik dan sesuai dengan kebutuhan keluarga konsumen, untuk skala nilai 2 dengan frekuensi 1, skala nilai 3 dengan frekuensi 24, skala nilai 4 dengan frekuensi 33, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 42 dari total responden.

Tabel 4.18 Distribusi Frekuensi Persepsi Kualitas (PK4) Skala Likert Frekuensi Persentase

2 1 1,0

3 34 34,0

4 44 44,0

5 21 21,0

Total 100 100,0

Tabel 4.18 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk persepsi kualitas (PK4), yaitu mobil Toyota Avanza mampu berakselerasi tinggi, untuk skala nilai 2 dengan frekuensi 1, skala nilai 3 dengan frekuensi 34, skala nilai 4 dengan frekuensi 44, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 21 dari total responden.

(15)

4.4.1.3. Brand Association (Asosiasi Merek)

Tabel 4.19 Distribusi Frekuensi Asosiasi Merek (AM1) Skala Likert Frekuensi Persentase

2 2 2,0

3 42 42,0

4 34 34,0

5 22 22,0

Total 100 100,0

Tabel 4.19 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk asosiasi merek (AM1), yaitu mobil Toyota Avanza memiliki teknologi tinggi, untuk skala nilai 2 dengan frekuensi 2, skala nilai 3 dengan frekuensi 42, skala nilai 4 dengan frekuensi 34, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 22 dari total responden.

Tabel 4.20 Distribusi Frekuensi Asosiasi Merek (AM2) Skala Likert Frekuensi Persentase

1 1 1,0 2 13 13,0 3 41 41,0 4 35 35,0 5 10 10,0 Total 100 100,0

Tabel 4.20 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk asosiasi merek (AM2), yaitu mobil Toyota Avanza yang digunakan konsumen termasuk produk otomotif yang berkualitas tinggi dibandingkan dengan merek mobil yang lainnya, untuk skala nilai 1 dengan frekuensi 1, skala nilai 2 dengan frekuensi 13, skala nilai 3 dengan frekuensi 41, skala nilai 4 dengan frekuensi 35, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 10 dari total responden.

(16)

Tabel 4.21 Distribusi Frekuensi Asosiasi Merek (AM3) Skala Likert Frekuensi Persentase

1 2 2,0 2 8 8,0 3 29 29,0 4 48 48,0 5 13 13,0 Total 100 100,0

Tabel 4.21 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk asosiasi merek (AM3), yaitu harga beli mobil Toyota Avanza yang dimiliki konsumen sebanding dengan kualitasnya, untuk skala nilai 1 dengan frekuensi 2, skala nilai 2 dengan frekuensi 8, skala nilai 3 dengan frekuensi 29, skala nilai 4 dengan frekuensi 48, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 13 dari total responden.

4.4.1.4. Brand Loyalty (Loyalitas Merek)

Tabel 4.22 Distribusi Frekuensi Loyalitas Merek (LM1) Skala Likert Frekuensi Persentase

1 2 2,0 2 13 13,0 3 24 24,0 4 34 34,0 5 27 27,0 Total 100 100,0

Tabel 4.22 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk loyalitas merek (LM1), yaitu merek mobil Toyota Avanza adalah satu-satunya merek mobil yang dibeli dan digunakan, untuk skala nilai 1 dengan frekuensi 2, skala nilai 2 dengan frekuensi 13, skala nilai 3 dengan frekuensi 24, skala nilai 4 dengan frekuensi 34, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 27 dari total responden.

(17)

Tabel 4.23 Distribusi Frekuensi Loyalitas Merek (LM2) Skala Likert Frekuensi Persentase

1 8 8,0 2 17 17,0 3 49 49,0 4 18 18,0 5 8 8,0 Total 100 100,0

Tabel 4.23 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk loyalitas merek (LM2), yaitu kalau hendak membeli mobil lagi, maka konsumen akan membeli dengan merek yang sama yaitu Avanza, untuk skala nilai 1 dengan frekuensi 8, skala nilai 2 dengan frekuensi 17, skala nilai 3 dengan frekuensi 49, skala nilai 4 dengan frekuensi 18, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 8 dari total responden.

Tabel 4.24 Distribusi Frekuensi Loyalitas Merek (LM3) Skala Likert Frekuensi Persentase

1 4 4,0 2 10 10,0 3 48 48,0 4 28 28,0 5 10 10,0 Total 100 100,0

Tabel 4.24 diatas dapat dilihat bahwa distribusi frekuensi untuk loyalitas merek (LM3), yaitu konsumen selalu menyarankan kepada teman/kerabat untuk membeli mobil dengan merek yang sama yaitu Avanza, untuk skala nilai 1 dengan frekuensi 4, skala nilai 2 dengan frekuensi 10, skala nilai 3 dengan frekuensi 48, skala nilai 4 dengan frekuensi 28, dan skala nilai 5 dengan frekuensi 10 dari total responden.

(18)

4.4.2. Mean

Mean yang didapat dalam penelitian ini merupakan perhitungan data tunggal dengan cara menjumlahkan semua data yang ada, kemudian dibagi dengan banyaknya data:

Tabel 4.25 Statistik Deskriptif Data Ekuitas Merek Produk Otomotif Toyota Avanza di Surabaya

N Range Mean Total Mean Std. Deviasi Brand Awareness KM1 100 4 3,54 1,058 KM2 100 3 4,04 ,942 KM3 100 3 3,81 ,971 KM4 100 4 3,67 3,76 1,035 Perceived Quality PK1 100 4 3,68 ,863 PK2 100 4 3,53 ,834 PK3 100 3 4,16 ,825 PK4 100 3 3,85 3,8 ,757 Brand Association AM1 100 3 3,76 ,818 AM2 100 4 3,40 ,876 AM3 100 4 3,62 3,59 ,885 Brand Loyalty LM1 LM2 LM3 100 100 100 4 4 4 3,71 3,01 3,30 3,34 1,066 1,000 ,927 Valid N (listwise) 100

Tabel 4.25 diatas diketahui bahwa untuk statistik deskriptif terhadap data Ekuitas Merek Produk Otomotif Toyota Avanza di Surabaya menunjukkan variabel dengan nilai total mean tertinggi yaitu sebesar 4,16 pada perceived quality (persepsi kualitas-PK3) dan brand awareness (kesadaran merek-KM2) dengan nilai total mean sebesar 4,04 sedangkan nilai total mean terendah yaitu pada brand loyalty (loyalitas merek-LM2) sebesar 3,01 dari total mean keseluruhan sebesar 51,08.

Berdasarkan pada statistik deskriptif data tersebut diatas, maka total mean yang diperoleh dapat dikelompokkan berdasarkan tiap unsur ekuitas merek sebagai berikut:

(19)

Tabel 4.26 Interval Kelas Data Ekuitas Merek Produk Otomotif Toyota Avanza di Surabaya

1 - 1,8 Sangat Tidak Puas 1,9 – 2,6 Tidak Puas

2,7 – 2,9 Netral

3,0 – 4,2 Puas

4,2 - 5 Sangat Puas

Tabel 4.26 diatas diketahui bahwa untuk total mean pada masing-masing unsur ekuitas merek yang terdapat pada produk otomotif Toyota Avanza adalah berkisar antara 3,0 – 4,2 dengan demikian interval kelas ekuitas merek produk otomotif Toyota Avanza di Surabaya menunjukkan ekuitas merek Puas.

4.4.3. Analisa Top Two Boxes – Bottom Two Boxes

Untuk mengetahui tingkat ekuitas merek produk otomotif Toyota Avanza di Surabaya, akan dihitung nilai TTB (Top Two Boxes) dan BTB (Bottom Two Boxes). Perhitungan TTB dilakukan dengan menggabungkan antara responden yang menjawab skor 4 dan skor 5, kemudian dibagi jumlah seluruh responden penelitian dan dikalikan 100%. Sedangkan perhitungan BTB dilakukan dengan menggabungkan antara responden yang menjawab skor 1 dan skor 2, kemudian dibagi jumlah seluruh responden penelitian dan dikalikan 100%.

Berikut adalah analisis Top Two Boxes-Bottom Two Boxes tingkat ekuitas merek produk otomotif Toyota Avanza di Surabaya:

(20)

Tabel 4.27 Analisa Top Two Boxes – Bottom Two Boxes Tingkat Ekuitas Merek Produk Otomotif Toyota Avanza di Surabaya

No. Item TTB (%) N (%) BTB (%)

1

Brand Awareness (Kesadaran Merek) Berbicara tentang merek mobil, saya langsung terpikir tentang Toyota Avanza.

45 41 14

2 Merek mobil Toyota Avanza sangat terkenal di Indonesia saat ini.

68 27 5 3 Anda sangat menyukai merek Toyota

Avanza.

58 34 8 4 Anda sangat mengenal merek mobil Toyota

Avanza.

58 30 12

1

Perceived Quality (Persepsi Kualitas) Mobil Toyota Avanza yang anda gunakan irit BBM.

64 28 8

2 Mesin mobil Toyota Avanza sangat handal, tidak mudah rusak.

52 39 9 3 Mobil Toyota Avanza modelnya sangat

menarik dan sesuai dengan kebutuhan keluarga anda.

75 24 1

4 Mobil Toyota Avanza mampu berakselerasi tinggi.

65 34 1

1

Brand Association (Asosiasi Merek)

Mobil Toyota Avanza memiliki teknologi tinggi.

56 42 2

2 Mobil Toyota Avanza yang anda gunakan termasuk produk otomotif yang berkualitas tinggi dibandingkan dengan merek mobil yang lainnya.

45 41 14

3 Harga beli mobil Toyota Avanza yang anda miliki sebanding dengan kualitasnya.

61 29 10

1

Brand Loyalty (Loyalitas Merek)

Merek Toyota Avanza adalah satu-satunya merek mobil yang anda beli dan anda gunakan.

61 24 15

2 Kalau hendak membeli mobil lagi, maka anda akan membeli dengan merek yang sama yaitu Avanza

26 49 25

3 Anda selalu menyarankan kepada teman/kerabat untuk membeli mobil dengan merek yang sama yaitu Avanza

38 48 5

Berdasarkan tabel 4.27 diatas diketahui bahwa untuk analisa Top Two Boxes (TTB) yang menunjukkan persentase terbesar dari brand awareness (kesadaran merek-KM2) yaitu pada pernyataan “Merek mobil Toyota Avanza sangat terkenal di Indonesia saat ini” adalah sebesar 68%. Sedangkan dari perceived quality (persepsi kualitas-PK3) adalah sebesar 75% yaitu pada pernyataan “Mobil Toyota Avanza modelnya sangat menarik dan sesuai dengan

(21)

kebutuhan keluarga”. Persentase sebesar 61% dengan pernyataan “Harga beli mobil Toyota Avanza yang dimiliki sebanding dengan kualitasnya” terdapat pada brand association (asosiasi merek-AM3), dan pada brand loyalty (loyalitas merek-LM1), persentase terbesar adalah 61% dengan pernyataan “Merek Toyota Avanza adalah satu-satunya merek mobil yang dibeli dan yang digunakan”.

4.5. Pembahasan

Responden pada penelitian ini adalah orang yang pernah membeli dan menggunakan mobil Toyota Avanza di Surabaya atau orang yang berada di Surabaya yang memiliki Toyota Avanza atau pengguna Toyota Avanza. Peneliti mengumpulkan dan mengolah data dari 100 responden. Dari pengumpulan data tersebut ditemukan 57 responden dengan jenis kelamin laki-laki dan 43 responden dengan jenis kelamin perempuan. Berdasarkan pada usia, terbagi menjadi lima kategori yaitu 25-30 tahun sebanyak 27 responden, 31-35 tahun sebanyak 23 responden, 36-40 tahun sebanyak 28 responden, 41-45 tahun sebanyak 14 responden, dan 46-50 tahun sebanyak 8 responden. Karakteristik responden dengan berdasarkan pada pekerjaan, diketahui bahwa mahasiswa sebanyak 4 responden, pegawai kantor sebanyak 40 responden, ibu rumah tangga sebanyak 20 responden, dan wiraswasta sebanyak 36 responden. Sedangkan dari segi status, diketahui yang menikah sebanyak 80 responden, dan belum menikah sebanyak 20 responden. Berdasarkan pada rata-rata KM penggunaan/hari diketahui untuk KM100 dan KM150 masing-masing sebanyak 26 responden, KM175 1 responden, KM200 sebanyak 18 responden, KM250 sebanyak 17 responden, KM300 sebanyak 5 responden, KM350 sebanyak 4 responden, KM400 dan KM450 masing-masing 2 responden dan 1 responden. Untuk perilaku pengguna kendaraan bermotor, diketahui terdapat 72 responden yang menggunakan bensin subsidi, dan 28 responden yang menggunakan bensin nonsubsidi. Perilaku pengguna kendaraan bermotor atas penggunaan bengkel perawatan diketahui 78 responden yang menggunakan jasa bengkel Auto2000, dan 22 responden lebih memilih dengan menggunakan jasa bengkel perawatan tidak resmi. Sedangkan responden yang melakukan pembelian sparepart di Auto2000 terdapat 74

(22)

responden, dan 26 responden lebih memilih melakukan pembelian sparepart yang tidak resmi.

Hasil dari uji validitas yang dilakukan oleh peneliti, diketahui bahwa semua item pernyataan pada variabel kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek dan loyalitas merek menghasilkan nilai korelasi product moment pearson > 0,05 sehingga item-item pernyataan yang digunakan untuk mengukur variabel penelitian dinyatakan valid. Sedangkan hasil uji reliabilitas pada penelitian ini, variabel kesadaran merek, persepsi kualitas, asosiasi merek dan loyalitas merek dinyatakan reliabel, karena memiliki nilai cronbach alpha > 0,6.

Pada statistik deskriptif terhadap data Ekuitas Merek Produk Otomotif Toyota Avanza di Surabaya menunjukkan variabel dengan nilai total mean tertinggi yaitu sebesar 4,16 pada perceived quality (persepsi kualitas-PK3) dan brand awareness (kesadaran merek-KM2) dengan nilai total mean sebesar 4,04 sedangkan nilai total mean terendah yaitu pada brand loyalty (loyalitas merek-LM2) sebesar 3,01 dari total mean keseluruhan sebesar 51,08. Untuk total mean yang diperoleh pada masing-masing unsur ekuitas merek yang terdapat pada produk otomotif Toyota Avanza adalah berkisar antara 3,0 – 4,2 dengan demikian interval kelas ekuitas merek produk otomotif Toyota Avanza di Surabaya menunjukkan ekuitas merek Puas.

Hasil yang didapat pada analisa Top Two Boxes (TTB) adalah yang menunjukkan persentase terbesar dari brand awareness (kesadaran merek-KM2) yaitu pada pernyataan “Merek mobil Toyota Avanza sangat terkenal di Indonesia saat ini” adalah sebesar 68%. Sedangkan dari perceived quality (persepsi kualitas-PK3) adalah sebesar 75% yaitu pada pernyataan “Mobil Toyota Avanza modelnya sangat menarik dan sesuai dengan kebutuhan keluarga”. Persentase sebesar 61% dengan pernyataan “Harga beli mobil Toyota Avanza yang dimiliki sebanding dengan kualitasnya” terdapat pada brand association (asosiasi merek-AM3), dan pada brand loyalty (loyalitas merek-LM1), persentase terbesar adalah 61% dengan pernyataan “Merek Toyota Avanza adalah satu-satunya merek mobil yang dibeli dan yang digunakan”.

Gambar

Tabel 4.1 Persentase Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.3 Persentase Responden Berdasarkan Pekerjaan
Tabel 4.5 dapat diketahui bahwa rata-rata KM penggunaan/hari pada  responden adalah KM 100 dan 150 menunjukkan persentase yang sama, yaitu  masing-masing 26%, KM 200 menunjukkan persentase sebesar 18%, KM 250  dengan persentase sebesar 17%, dan pada KM 300
Tabel 4.6 Persentase Responden Berdasarkan Penggunaan Bahan Bakar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa : Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return on Asset (ROA), Total Asset Turnover (TATO)

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP), tingkat keanekaragaman jenis dan pola penyebaran tumbuhan anggrek yang terdapat di Cagar

Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah polong bernas per tanaman berbeda antara varietas, dimana jumlah polong bernas yang dihasilkan oleh varietas Kaba dan Wilis dua kali

Dari hasil penelitian Muhib (2016:10), ada pengaruh antara pemberian latihan squat dan leg press terhadap peningkatan kekuatan otot tungkai lari jarak pendek 100

Berdasarkan hasil regresi dari ke tiga model regresi sederhana diatas di peroleh informasi ternyata tidak ada satupun model yang menghasilkan pengaruh yang

a) Standar dan sasaran dari kebijakan. Adanya standar dan sasaran yang jelas yang mengatur tahapan-tahapan Revitalisasi Kawasan Kota Lama melalui Buku Grand Design Kota Lama

Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan model persamaan struktural berbasis pada partial leas square (PLS), menggunakan PLS adalah data

Jakarta, Khazanah Jakarta, Khazanah Jakarta, Khazanah Jakarta, Khazanah Jakarta, Khazanah - Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kota Padang Amrizal