• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III UPAYA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN DALAM MENGATASI PROBLEMATIKA BACA TULIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III UPAYA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN DALAM MENGATASI PROBLEMATIKA BACA TULIS"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

37

AL-QUR’AN PADA MAHASISWA JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

A. Gambaran Umum

1. STAIN Pekalongan

a. Visi, Misi dan Tujuan STAIN Pekalongan.

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan merupakan lembaga pendidikan tinggi yang berasal dari

pengembangan Fakultas Syariah IAIN Walisongo di

Pekalongan.1 Dalam upaya memberikan arah, motivasi dan

kekuatan gerak langkah segenap civitas akademika, STAIN Pekalongan memiliki visi, misi dan tujuan sebagaimana layaknya sebuah lembaga pendidikan.

Adapun visi STAIN Pekalongan saat ini adalah sebagai pelopor perguruan tinggi agama Islam berbasis riset menuju kampus

rahmatan lil 'alamin.

Misi STAIN Pekalongan adalah sebagai berikut

1) Menyelenggarakan pendidikan Islam berbasis riset untuk

mewujudkan perubahan sosial yang berkeadilan.

1 STAIN Pekalongan Press, Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Tinggi

(2)

2) Menyelenggarakan penelitian, pengembangan ilmu, teknologi, seni dan budaya untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri, berkualitas dan bermartabat.

3) Berperan aktif dalam penguatan dan pemberdayaan

masyarakat.

STAIN Pekalongan sebagai lembaga perguruan tinggi negeri memiliki beberapa tujuan, antara lain:

1) Terimplementasinya budaya riset dalam seluruh program

akademik dan non akademik.

2) Pengembangan ma'had sebagai bagian integral dalam

pengembangan Perguruan Tinggi berbasis riset.

3) Meningkatnya kompetensi bahasa asing melalui program

bilingual (Bahasa Ingris dan Arab).

4) Meningkatnya kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia

5) Meningkatnya peran sosial dan keagamaan Perguruan Tinggi

melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.

6) Meningkatnya sistem manajemen berbasis Teknologi

Informasi.

7) Meningkatnya pengakuan dan reputasi Perguruan Tinggi

pada level Internasional secara bertahap.

(3)

9) Meningkatnya sumber-sumber pendanaan Perguruan Tinggi.2

b. Struktur Organisasi STAIN Pekalongan

Pada tahun 2015 ini STAIN Pekalongan mengalami pergantian jabatan. Susunan pejabat Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan pada periode 2015-2019 seperti berikut.

SUSUNAN PEJABAT SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN

PERIODE 2015-2019 1) Ketua

Dr. H. Ade Dedi Rohayana, M.Ag.

2) Wakil Ketua Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga

Drs. Moh. Muslih, Ph.D.

3) Wakil Ketua Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan

H. Zaenal Mustakim, M.Ag.

4) Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama Drs. H.Muslih Husein, M.Ag.

5) Direktur Pascasarjana Dr. H. Muhlisin, M.Ag.

6) Asisten Direktur Pascasarjana

2http://www.stain-pekalongan.ac.id/en/profil/tentang-stain/visi-misi-dan-tujuan.html

(4)

Dr. H. Imam Khanafi al-Jauhari, M.Ag.

7) Ketua Jurusan Syari’ah dan Ekonomi Islam Drs. H. A. Tubagus Surur, M.Ag.

8) Sekretaris Jurusan Syari,ah dan Ekonomi Islam Agus Fakhrina, M.S.I.

9) Ketua Jurusan Tarbiyah

Dr. M. Sugeng Sholehuddin, M.Ag. 10)Sekretaris Jurusan Tarbiyah

Dr. Sopiah, M.Ag.

11)Ketua Jurusan Ushuluddin dan Dakwah Amat Zuhri, M.Ag.

12)Sekretaris Jurusan Ushuluddin dan Dakwah Hasan Su’aidi, M.S.I.

13)Kepala Pusat Penjaminan Mutu Dr. H. Makrum Kholil, M.Ag.

14)Sekretaris Pusat Penjaminan Mutu Nailim, M.Si.

15)Kepala Perpustakaan

Dr. Shinta Dewi Rismawati, S.H., M.H. 16)Kepala Pengembangan Bahasa

Abdul Aziz, M.Ag.

17)Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

(5)

Maghfur, M.Ag.

18)Sekretaris Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Musoffa Basyir, M.A.

19)Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data Ali Amin Isfandiar, M.Ag.

20)Kepala Bagian Administrasi Umum Akademik dan Keuangan

Irham Baihaqi Thoha, S.E., M.M. 21)Kasubbag Administrasi Umum

Ferida Rahmawati, S.E., M.Si.

22)Kasubbag Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Muhtar Ali Ahmadi, S.Ag.

23)Kasubbag Perencanaan, Keuangan , dan Akuntansi

Ida Isnawati, S.E., M.S.I.3

2. Program BTQ di STAIN Pekalongan

Program BTQ atau kelas matrikulasi BTQ diperuntukkan bagi mahasiswa yang dinyatakan tidak lulus/remidi pada saat tes BTQ ujian masuk STAIN Pekalongan. Bagi mahasiswa baru yang tidak lulus tes/remidi maka akan masuk dalam kelas matrikulasi BTQ pada semester I. Jika pada semester I belum dinyatakan lulus, maka

3

http://www.stain-pekalongan.ac.id/en/profil/tentang-stain/susunan-pejabat-stain.html diakses 1 oktober 2015 pukul 10.02 WIB

(6)

mahasiswa yang bersangkutan wajib mengulang pada semester II

begitu seterusnya.4

Pelaksanaan program BTQ di STAIN Pekalongan berada di bawah pengawasan dan tanggung jawab Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga Drs. Moh. Muslih, Ph.D yang dibantu oleh Kasubbag Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni Muhtar Ali

Ahmadi, S.Ag. Program BTQ ini bukan menjadi urusan jurusan,5

sehingga dalam pelaksanaan Program BTQ di tiap kelas antar mahasiswa Jurusan Tarbiyah dengan Jurusan Syariah ataupun Jurusan Ushuluddin tergabung menjadi satu. Beberapa dosen BTQ yang diwawancarai mengaku bahwa menganggap mahasiswa yang diremidi adalah sama. Dosen BTQ tidak mengenal jelas mana mahasiswa Jurusan Tarbiyah dan mana mahasiswa bukan Jurusan Tarbiyah sehingga dalam hal ini penulis merasa kesulitan menganalisa problematika baca tulis Al-Qur’an yang dihadapi mahasiswa Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam. Oleh sebab itu, dalam melakukan penelitian kali ini penulis memfokuskan kepada upaya STAIN Pekalongan pada tahun akademik 2015/2016. Adapun mengenai informasi tentang bentuk-bentuk problematika baca tulis Al-Qur’an yang dihadapi mahasiswa Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam, penulis dapatkan dari wawancara dengan

4 Fatkhurrohman, Staf Akademik STAIN Pekalongan, Wawancara Dadakan, Gedung

Rektorat Lt. I bagian Akademik, 15 September 2015

5 Sugeng Sholehuddin, Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Pekalongan, Wawancara singkat, Ruang Ketua Jurusan Tarbiyah, 3 September 2015

(7)

dosen-dosen BTQ yang mengetahui kemampuan mahasiswa secara keseluruhan termasuk di dalamnya adalah mahasiswa Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam.

a. Kegiatan Perkuliahan BTQ

BTQ adalah matakuliah yang memiliki bobot mengajar 2 SKS setara dengan minimal 100 menit setiap pertemuan tatap muka dengan jumlah pertemuan pekuliahan selama satu semester sebanyak 12 kali tatap muka dan 2 kali pertemuan untuk kegiatan

UTS dan UAS.6 Rincian kegiatannya adalah seperti pada tabel

berikut: Tatap muka

Kompetensi dasar

I Membedakan masing-masing huruf hijaiyah dan

pembelajaran makharijul huruf.

II Mengenal dan memahami hukum nun sukun/tanwin dan

mim sukun.

III Mengenal dan memahami macam-macam bacaan

qalqalah dan lam ta’rif.

IV Mengenal dan memahami bacaan tafkhim dan tarqiq

serta bacaan idgham.

V Mengenal dan memahami ahkamul mad

6 Surat Kebijakan Perkuliiahan Baca Tulis Al-Qur’an STAIN Pekalongan Semester

(8)

VI Mengenal dan memahami tanda waqaf dan tanda

washal.

VII UTS

VIII Mengenal dan memahami bacaan ghorib/musykilat

IX Mengenal dan memahami bacaan ghorib/musykilat

X Mengenal dan memahami bacaan ghorib/musykilat

XI Mengenal dan memahami bacaan ghorib/musykilat

XII Mengenal dan memahami bacaan ghorib/musykilat

XIII Mengenal dan memahami bacaan ghorib/musykilat

XIV UAS

Dari matakuliah BTQ ini diharapkan mahasiswa mampu membaca Al-Qur’an secara tartil sesuai kaidah ilmu tajwid, mampu memahami hukum bacaan Al-Qur’an dengan baik dan benar, dan mampu menulis ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Adapun mengenai metode pembelajaran yang digunakan adalah klasikal, individual, dan latihan. Sedangkan untuk sumber belajar dikelompokkan menjadi buku pegangan wajib dan buku pegangan penunjang. Buku wajib meliputi Al-Qur’an, Kitab Hidayatu Ash-Shibyan, Kitab Qiroati Gharibul Qur’an karya KH. Dachlan Salim Zarkasyi, dan buku Panduan BTQ STAIN

(9)

Pekalongan.7 Lain halnya dengan buku pegangan penunjang yagng tidak ditetapkan, akan tetapi diserahkan kepada dosen kelas BTQ masing-masing.

b. Dosen BTQ

Dosen-dosen yang mengajar BTQ untuk semester ganjil tahun akademik 2015/2016 berjumlah 15 orang, antara lain:

1) M. Ainu Rifqi Dina, S.Pd.I.

2) H. Abdul Ghoni, S.Ag.

3) Lailatul Badriyah, S.Pd.I.

4) Nur Hidayah, S.Pd.I.

5) Husni Mubarok, S.pd.I.

6) Arifatun Mutmainnah, S.Pd.I.

7) Nur Azizah, S.Pd.I.

8) Nurji, S.H.I.

9) Ulfa Mazidah, S.Pd.I.

10) M. Syarifuddin, S.Pd.I

11) Bambang Triyono, S. Pd.I.

12) Abdul Azim, S.Pd.I.

13) Irfandi, S.H.I.

14) Umi Salamah, S.Pd.I.

15) Slamet Thohirin, S.Pd.I.8

7 Silabus Matrikulasi BTQ STAIN Pekalongan Tahun Akademik 2015/2016

8 Dokumentasi Jadwal Perkuliahan Matrikulasi BTQ Semester Ganjil Tahun Akademik

(10)

Dari ke-lima belas dosen tersebut, berdasarkan observasi penulis saat mengikuti rapat kordinasi antar dosen BTQ STAIN Pekalongan sekitar jam 15.30 WIB pada Jumat, 11 September 2015 diputuskan Bapak M. Ainu Rifqi Dina sebagai koordinator dosen

BTQ STAIN Pekalongan.9 Hal ini merupakan permintaan pihak

STAIN Pekalongan agar lebih mudah berkomunikasi dengan para dosen BTQ. Diakui oleh Bapak Fathurrohman selaku staf bagian akademik yang menangani BTQ bahwa koordinasi antara dosen

BTQ dengan STAIN memang kurang sering.10

c. Jumlah Mahasiswa

Jumlah mahasiswa STAIN Pekalongan yang mengikuti kelas matrikulasi BTQ pada semester ganjil tahun akademik 2015/2016 jumlahnya ada sekitar 567 mahasiswa. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa pada tahun 2015 tercatat dari 1.003 mahasiswa yang mengikuti tes BTQ pada bulan Agustus 2015, ada 436 dinyatakan lulus dan 567 remidi, dengan klasifikasi sebagai berikut: No Nama Prodi Jumlah Mahasiswa Lulus Jumlah Mahasiswa Remidi 1 HKI 30 19 2 PS D3 13 108

9 Observasi pada Rapat Koordinasi Antar Dosen BTQ di Gedung Rektorat Lt. II, 11

September 2015

10 Fatkhurrohman, Staf Akademik STAIN Pekalongan, Wawancara Dadakan, ruang

(11)

3 AS 84 128 4 HES 20 45 5 PAI 104 85 6 PBA 41 17 7 PGMI 60 76 8 PGRA 10 23 9 IQT 13 3 10 AT 4 3 11 IH 8 2 12 BKI 38 47 13 KPI 11 11 Jumlah 436 56711

Tiap kelas diisi oleh 25 mahasiswa.12 Akan tetapi, setelah

dilakukan observasi ke beberapa kelas, jumlah mahasiswa yang ada tidak sesuai dengan jumlah yang disebutkan. Ada beberapa kelas diisi oleh lebih dari 25 mahasiswa bahkan ada juga yang kurang dari itu. Seperti yang penulis amati saat pembelajaran BTQ di

ruang C6, ada 9 mahasiswa yang masuk saat itu.13 Bertolak

belakang dengan apa yang terlihat di ruang yang sama dengan kelas yang berbeda, ada lebih dari 30 mahasiswa yang mengikuti

11 Dokumentasi daftar nilai placement test BTQ STAIN Pekalongan Agustus 2015 12 Moh. Muslih, Wakil Ketua I STAIN Pekalongan, Wawancara Pribadi, Ruang Kantor

Wakil Ketua I Gedung Rektorat Lt. II, 11 September 2015

(12)

pembelajaran BTQ.14 Informasi yang didapat dari salah seorang dosen BTQ yakni Ibu Arifatun Mutmainnah adalah bahwa hal ini terjadi karena jadwal BTQ sering bentrok dengan jadwal matakuliah lain. Jadi karena itu juga mahasiswa sering pindah kelas

sehingga jumlah mahasiswa yan hadir tidak tentu.15

B. Upaya STAIN Pekalongan dalam Mengatasi Problematika Baca Tulis Al-Qur’an pada Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam

Program BTQ atau kelas Matrikulasi BTQ merupakan suatu bentuk upaya STAIN Pekalongan dalam mengatasi problematika baca tulis

Al-Qur’an. 16

Akan tetapi, sehubungan dengan periode yang baru ini, pada tahun akademik 2015/2016 Waket I Bapak Moh. Muslih telah menyusun langkah-langkah strategis sebagai inovasi agar upaya terebut berjalan lebih efektif. Adapun langkah-langkah strategis tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menyusun kebijakan

Langkah yag pertama kali dilakukan oleh pihak STAIN Pekalongan adalah mengeluarkan kebijakan tentang perkuliahan BTQ semester ganjil tahun akademik 2015/2016. Adapun mengenai isi dari kebijakan yang dikeluarkan itu berisi 9 butir kebijakan yakni:

14

Observasi kegiatan pembelajaran BTQ di ruang C6 pada 10 Oktober 2015

15 Arifatun Mutmainnah,Dosen BTQ STAIN Pekalongan, Wawancara Pribadi, Ruang C6,

13 Oktober 2015

16 Moh. Muslih, Wakil Ketua I STAIN Pekalongan, Wawancara Pribadi, Ruang Kantor

(13)

a. Jumlah pertemuan perkuliahan selama 1 semester sebanyak 12x tatap muka dan 2x pertemuan untuk kegiatan UTS dan UAS.

b. Bobot mengajar BTQ 2 SKS setara dengan minimal 100 menit

setiap pertemuan tatap muka.

c. Dosen membuat silabus dan SAP.

d. Dosen mengisi jurnal pembelajaran BTQ setiap selesai mengajar.

e. Dosen mengisi jurnal kehadiran mengajar di ruang AKMA

setelah selesai mengajar.

f. Mahasiswa memiliki buku wajib perkuliahan BTQ yakni

Al-Qur’an, buku tata cara membaca dan menulis Al-Al-Qur’an, buku bacaan Ghorib, dan buku catatan perkembangan diri tentang BTQ.

g. Dosen mengisi buku catatan perkembangan membaca dan

menulis Al-Qur’an setiap mahasiswa yang telah disediakan bidang akademik.

h. Mendorong mahasiswa untuk belajar membaca dan menulis

Al-Qur’an di luar kelas bersama ustadz/ustadzah di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

i. Dosen melakukan monitoring pembelajaran BTQ di buku catatan

perkembangan BTQ yang dimiliki mahasiswa (Portofolio BTQ

mahasiswa).17

17 Surat Kebijakan Perkuliiahan Baca Tulis Al-Qur’an STAIN Pekalongan Semester

(14)

2. Menerbitkan buku perkembangan BTQ

Pada periode yang baru ini, sebagai inovasi dalam upaya mengatasi problematika baca tulis Al-Qur’an, beliau menerbitkan sebuah buku perkembangan BTQ yang diperuntukkan bagi dosen dan mahasiswa. Semua dosen BTQ dan mahasiswa yang masuk kelas matrikulasi BTQ harus memiliki buku ini.

Di dalam buku perkembangan pembelajaran BTQ ini berisi lembaran-lembaran hasil evaluasi kemampuan membaca dan menulis mahasiswa. Tiap satu halaman untuk satu mahasiswa. Pada lembar bagian atas yang tersedia diisikan nama mahasiswa, NIM dan kelas. Selanjutnya, terdapat kolom penilaian yang meliputi: penilaian tajwid, tartil, makharijul huruf, dan penilaian menulis. Sistem penilaian menggunakan SB untuk kategori Sangat Baik, B untuk kategori Baik,

C untuk kategori Cukup, dan D untuk kategori Kurang.18

Berikut pernyataan langsung Bapak Moh. Muslih.

“Per April ini sedang pemetaan dosen. Siapa saja dosennya? Ada berapa kompetensiya seperti apa? Untuk tndak lanjut dari buku ini, para dosen BTQ sudah dikumpukan tiga kali, diajak refleksi. Buku yang digunakan apa? masalah apa? dan solusinya bagaimana? BTQ sangat penting. Upaya apa sehingga mahasiswa memiliki kompetensi-kompetensi BTQ. BTQ harusya sudah selesai di tingkat SLTA, tapi kenyataannya dari 1800 anak yang dites, dieksplor kemampuannya, ada 900 berapa tidak standar, bacanya gak standar, karena gak standar maka dia harus mengikuti BTQ”. Ungkap beliau lagi,

18 Dokumentasi Buku Perkembangan Pembelajaran BTQ Semester ganjil Tahun

(15)

“Kami memang belum bisa berbuat banyak tapi komitmen kami untuk melakukan perubahan ada, makanya kami ketemu dosen terus, makanya dengan adanya buku ini kami ingin mengkontrol detail apa-apa yang dimiliki dosen. Mahasiswa juga harus punya buku itu. Saya membaca Al-Qur’an dengan siapa di rumah? surat apa? Makanya saya buat kebijakan untuk para mahaiswa. mahasiswa harus punya guru di lingkungannya masing-masing. Karena gak mungkin mahasiswa bisa pandai hanya ketemu 12 kali. Pokoknya harapan kami dosen harus bisa kontrol mahasiswa, “punya guru tidak?” kalau tidak, didorong agar punya guru di

lingkungan masnig-masing., dan kegiatannya seperti apa?”19

Untuk mengetahui cara penggunaan buku baru ini oleh para dosen dan mahasiswa, maka penulis juga telah melakukan observasi sekaligus mengadakan wawancara ke beberapa kelas BTQ. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, diketahui bahwa penggunaaan buku ini oleh dosen BTQ belum optimal. Pasalnya, belum semua dosen menggunakan buku ini dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. mahasiswa pun belum memiliki buku perkembangan diri seperti yang diharapka Bapak Moh. Muslih.

Diketahui dari hasil observasi saat kegiatan belajar mengajar, dosen tidak menggunakan buku itu sebagai bahan untuk mengevaluasi

saat mahasiswa diminta untu membaca.20 Konfirmasi yang didapatkan

dari beliau adalah buku itu tidak dibawa, untuk evaluasi nanti saya salin di rumah. Atas unsur ketidaksengajaan juga, penulis mengetahui saat meminjam buku evaluasi kepada salah satu dosen yang lain,

19 Moh.Muslih, loc.cit.

(16)

didapati oleh penulis bahwa buku ini masih kosong, belum ada catatan

terkait perkembangan BTQ mahasiswa yang ditulis.21

Dari pengalaman yang terjadi, penulis menyimpulkan para dosen BTQ belum terlalu siap untuk mengubah cara lama ke cara yang baru. Beberapa dosen masih menggunakan cara lama dengan menggunakan catatan-catatan pribadi yang mereka punyai. Bahwa benar apa yang dikatakan Bapak Wakil Ketua I bahwa ini masih awal, jadi kami akan

terus mengawal.22

3. Dosen Membuat Silabus dan SAP

Diterangkan oleh Waket I bahwa dosen harus memiliki silabus dan SAP. Adanya Silabus dan SAP diadakan agar pembelajaran terkontrol. “Sekarang dosen ada silabus dan SAP. Dulu belum pernah ada. Dulu

gak terkontrol.” ,23

jelas beliau. Dari pernyataan tesebut jelas diketahui bahwa Silabus dan SAP merupakan suatu inovasi yang akan diterapkan.

4. Mendorong mahasiswa memiliki guru ngaji di rumah

Dari 9 poin kebijakan yang telah dikeluarkan, bapak Moh. Muslih sangat menekankan agar mahasiswa yang mengikuti kelas matrikulasi BTQ memiliki guru ngaji di rumah. Beliau menyadari waktu 12 kali pertemuan tidak akan mungkin dapat memberikan hasil yang

21

Observasi kegiatan pembelajaran BTQ di ruang A2 pada 16 Oktober 2015

22

Moh. Muslih, Wakil Ketua I STAIN Pekalongan, Wawancara Pribadi, Ruang Kantor Wakil Ketua I Gedung Rektorat Lt. II, 21 September 2015

(17)

memuaskan terhadap peningkatan kemampuan BTQ mahasiswa jika tidak didukung dari lingkungan mahasiswa masing-masing.

Hasil wawancara dengan Bapak Moh. Muslih,

“Mahasiswa harus punya guru ngaji di rumah dan dosen harus mendorong mahasiswa agar mau mengaji di lingkungan rumahnya, mahasiswa harus punya. Makanya saya buat kebijakan untuk para mahasiswa. Mahasiswa harus punya guru di lingkungannya masing-masing. Karena gak mungkin mahasiswa bisa pandai hanya ketemu 2 sks 12 kali. Pokoknya harapa kami dosen harus bisa kontrol mahasiswa, “punya guru tidak?” kalau tidak, didorong agar punya guru di lingkungan masing-masing. Dan kegiatannya seperti apa? Karena saya sadar 12 kali pertemuan itu tidak bisa menghantarkan

mahasiswa, itupun kalau masuk 100%, kalau tidak? Saya sadar itu”24

C. Faktor Penghambat dan Faktor Pendukung Pelaksanaan Upaya STAIN Pekalongan dalam Mengatasi Problematika Baca Tulis Al-Qur’an Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam

1. Faktor penghambat

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa dosen BTQ dan Staf akademik yang menangani BTQ didapatkan informasi bahwa kendala-kendala atau penghambat-penghambat pelaksanaan program BTQ sebagai upaya STAIN Pekalongan dalam mengatasi problematika baca tulis Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

a. Tidak adanya penetapan tempat atau ruang kelas yang jelas

untuk kelas matrikulasi BTQ.

Diakui oleh salah seorang dosen BTQ Ibu Arifatun Mutmainnah bahwa kendala utama yakni tentang ruang.

(18)

Karena BTQ tidak ditetapkan ruangnya, akhirnya susah. Sudah membuat janji dengan mahasiswa, semua sanggup, namun ketika dilihat, ternyata ruangannya dipakai. Kita memang harus

bersabar untuk mendapatkan kelas yang kosong.25 Diperkuat

dengan pernyataan dari Bapak Ainu Rifqi Dina yang mengungkapkan bahwa para dosen sering bersusah payah

mencari ruang kelas yang tepat.26 Dalam hal ini pihak STAIN

Pekalongan yang diwakili oleh Bapak Fatkhurrahman mengatakan bahwa untuk kelas BTQ memang belum ada penetapan ruang. Akan tetapi, dari pihak STAIN telah memberikan alternatif di beberapa tempat, yakni lab. Micro Teaching kampus I, Ruang sidang Ushuluddin lantai 2,

musholla kampus I dan musholla pasca sarjana di kampus II.27

b. Kurangnya koordinasi antara Pihak STAIN Pekalongan dan

dosen BTQ.

Hasil wawancara dengan Bapak Fathurrohman selaku staf bagian akademik yang menangani BTQ bahwa koordinasi

antara dosen BTQ dengan STAIN memang kurang sering.28

25

Arifatun Mutmainnah, loc.cit.

26 Ainu Rifqi Dina, Dosen BTQ STAN Pekalongan, Wawancara Pribadi, Ruang A2, 1

Oktober 2015

27 Fatkhurrohman, Staf Akademik STAIN Pekalongan, Wawancara Singkat, Gedung

Rektorat Lt. I bagian Akademik, 13 Oktober 2015

28 Fatkhurrohman, Staf Akademik STAIN Pekalongan, Wawancara Dadakan, ruang

(19)

Akhirnya, jadwal dan penetapan ruang kelas dan pelayanan BTQ belum optimal.

2. Faktor pendukung

Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa dosen BTQ STAIN dan mahasiswa Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam STAIN Pekalongan didapatkan hasil bahwa faktor-faktor yang mendukung pelaksanaan BTQ adalah sebagai berikut:

a. Kesungguhan Mahasiswa dalam pembelajaran BTQ

Beberapa dari mahasiswa yang telah mengikuti kelas

matrikulasi BTQ pada semester satu mengulang

pembelajarannya lagi pada semester dua. Hal ini disebabkan mahasiswa yang bersangkutan belum dinyatakan lulus ujian BTQ pada semester satu. Mahasiswa sering absen saat pembelajaran, belum ada kesungguhan dalam belajar BTQ. Petikan hasil wawancara dengan Bapak Abdul Ghoni selaku dosen BTQ mngungkapkan bahwa Kalau dideteksi, lisan mereka memiliki kemampuan membaca dengan baik, asal mau

sungguh-sungguh.29 NA sebagai mahasiswa Jurusan Tarbiyah

Program Studi Pedidikan Agama Islam mengaku bahwa ktelatenan sangat penting, mahasiswa harus bisa telaten dan bersungguh-sungguh dalam belajar, karena sulit si, panjang

29 Abdul Ghoni, Dosen BTQ STAIN Pekalongan, Wawancara Pribadi, Ruang Sidang

(20)

pendek huruf nya harus juga diperhatikan.30 SM juga mengungkapkan bahwa dirinya sangat lemah dalam menulis ayat Al-Qur’an. Ungkap SM saat wawancara, “saya itu kalau disuruh nulis tanpa melihat susah, mbak. Maklum saya dulu sekolahnya Negeri, SD neger, MTs, kemudian SMA. TPQ aja gak sampai lulus, jadi kalau imla’susah. Memang butuh sabar

dan latihan sungguh-sungguh, mbak”.31

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kesungguhan mahasiswa dalam belajar BTQ adalah sangat penting, sangat dibutuhkan demi upaya pelaksanaan pogram BTQ yang dijalankan berjalan lancar.

b. Dedikasi tinggi dosen BTQ

Dosen BTQ yang berjumlah 15 orang itu telah tercatat sebagai dosen BTQ STAIN Pekalongan sejak tahun 2007 yakni sejak program BTQ mulai dijalankan. Lamanya mengajar adalah bukti keseriusan para dosen BTQ dalam mengarahkan dan membimbing mahasiswa agar berkemampuan baik. Dedikasi tinggi yang ditunjukkan oleh dosen-dosen BTQ tidak terbatas pada itu saja. Kerelaan mereka mencari ruang kelas untuk tempat pembelajaran yang bukan sekali atau dua kali dilakukan, menuggu hadirnya mahasiswa di kelas yang kosong

30NA, Mahasiswa Jurusan Tarbyah Prodi PAI STAIN Pekalongan, wawancara Pribadi,

Depan tempat Parkir Kampus II, 2 November 2015

31 SM, Mahasiswa Jurusan Tarbiyah Prodi PAI STAIN Pekalongan, Wawancara Pribadi,

(21)

hingga seperempat jam ditunggu satu mahasiswa baru hadir,32 semua itu adalah bukti dedikasi dosen BTQ yang tinggi terhadap mata kuliah BTQ.

2http://www.stain-pekalongan.ac.id/en/profil/tentang-stain/visi-misi-dan-tujuan.html 3

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Jurusan Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tulungagung. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh

2811123011, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung, dengan judul “ Upaya Sekolah Dalam

Al lami'ah belum mempunyai gedung sendiri, sampai menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang telah memiliki gedung megah untuk proses dalam kegiatan

Selain hasil dari data di atas, diketahui bahwa pembelajaran Sejarah Peradaban Islam yang dipelajari di STAIN Pekalongan merupakan mata kuliah yang wajib diambil oleh

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG.. 2017.. PERI\IYATAAI\T

saudari WA ODE SALEHA Nim: 08010101 098 , Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam pada Jurusan Tarbiyah STAIN Sultan Qaimuddin Kendari, telah diuji dan

Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Tanjung Redeb Posisi Agama Islam di Antara Agama-Agama di Dunia.. Makalah Metodologi

Berikut akan disajikan kutipan hasil penelitian yang lalu yang terkait dengan judul yang penulis ambil, dari Sri Suningsih mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam STAIN Jurai Siwo