• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAYA DUKUNG PERAIRAN PULAU HARI SEBAGAI OBYEK EKOWISATA BAHARI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAYA DUKUNG PERAIRAN PULAU HARI SEBAGAI OBYEK EKOWISATA BAHARI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

DAYA DUKUNG PERAIRAN PULAU HARI SEBAGAI OBYEK EKOWISATA BAHARI

Romy Ketjulan1)

1) Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK Universitas Haluoleo, Kendari 93231

ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji tentang daya dukung kawasan wisata bahari Pulau Hari dalam menerima sejumlah wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah maksimum wisatawan yang dapat berkunjung, tanpa menimbulkan gangguan terhadap sumberdaya yang ada. Berdasarkan hasil penelitian dan interpretasi data citra satelit, luas area yang dapat digunakan untuk wisata snorkling sebesar 12,83 ha, dan dapat menampung sejumlah wisatawan secara lestari sebesar 513 orang/trip. Luas area yang dapat digunakan untuk wisata selam sebesar 11,82 ha, dan dapat menampung wisatawan sebesar 472 orang/trip. Dengan demikian total luas area yang dapat digunakan untuk kedua jenis kegiatan wisata tersebut sebesar 24,65 ha, dan dapat menampung sejumlah wisatawan sebesar 985 orang/trip.

Kata Kunci: daya dukung

ABSTRACT

This study examines the carrying capacity of marine tourism in the Hari island received a number of tourists. This study aims to determine the maximum number of tourists who can visit, without causing disruption to existing resources. Based on the research and interpretation of satellite image data, the total area to be used for snorkeling tours of 12.83 ha, and can accommodate a number of tourists in a sustainable manner for 513 person / trip. The area that can be used for dive tourism amounted to 11.82 ha, and can accommodate tourists amounted to 472 person / trip. Thus the total area that can be used for both types of tourism activities in the amount of 24.65 ha, and can accommodate a number of tourists amounted to 985 person / trip.

Keyword: carrying capacity

1. Pendahuluan

Sebagai salah satu wilayah di Kawasan Timur Indonesia (KTI), Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan ekowisata bahari. Potensi tersebut berupa laut yang memiliki luas ± 114.876 km2, dengan panjang garis pantai 1.740 km, dan terdapat 124 buah pulau-pulau kecil. Diantara pulau-pulau kecil tersebut, Pulau Hari merupakan salah satu pulau kecil yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obyek wisata dengan konsep ekowisata. Ekowisata bahari merupakan bentuk pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang dikembangkan dengan pendekatan konservasi. Konsep ekowisata tidak mengedepankan faktor pertumbuhan

(2)

ekonomi, melainkan menjaga keseimbangan antara kegiatan pemanfaatan dan kelestarian sumberdaya [1].

Salah satu ciri dalam pengembangan ekowisata adalah pembatasan jumlah pengunjung atau wisatawan sesuai dengan daya dukung (carrying capacity) kawasan. Pembatasan jumlah pengunjung dilakukan karena terjadinya kerusakan lingkungan dan sumberdaya, salah satunya disebabkan oleh banyaknya jumlah wisatawan yang melebihi daya dukung kawasan. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hawkins and Roberts [2] bahwa peningkatan jumlah wisatawan (penyelam) dalam kegiatan wisatadivingsecara eksponensial meningkatkan persentase kerusakan ekosistem terumbu karang.

Daya dukung (carrying capacity) lingkungan secara umum dapat diartikan sebagai kemampuan lingkungan (alam) untuk mendukung kehidupan manusia atau benda hidup lainnya. Menurut Clark [3] daya dukung adalah suatu cara untuk menyatakan batas-batas penggunaan terhadap sumberdaya. Analisis daya dukung merupakan salah satu pendekatan bahwa alam mempunyai batas maksimum untuk menerima aktivitas yang dilakukan oleh manusia dalam kurun waktu tertentu.

Kajian daya dukung wisata bahari bertujuan untuk menentukan jumlah maksimum pengujung wisata yang masih ditolerir suatu kawasan wisata. Hal ini dilakukan karena dalam ekowisata, pengembangan kegiatan wisata bahari tidak bersifat mass tourism, mudah rusak dan ruang untuk pengunjung sangat terbatas. Dengan demikian untuk mengembangkan ekowisata bahari di kawasan pesisir perlu penentuan daya dukung agar kegiatan wisata yang dilakukan dapat berlangsung secara terus menerus (sustainable).

Kegiatan wisata selam dan wisata snorkling yang dilakukan di perairan Pulau Hari pada dasarnya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tetapi disisi lain, kegiatan wisata tersebut juga memberikan dampak negatif terhadap kelestarian sumberdaya alam, khususnya terumbu karang. Dampak negatif dapat terjadi akibat tingginya jumlah pengguna sumberdaya yang melebihi daya dukung lingkungan untuk menerima tekanan yang ditimbulkan.

(3)

ekowisata bahari, khususnya wisata selam dan wisata snorkling. Disisi lain, perairan pulau ini tentuya memiliki batas maksimum dalam menerima tekanan yang ditimbulkan oleh aktivitas wisata yang dilakukan. Untuk mengurangi dampak negatif kegiatan wisata terhadap kelestarian terumbu karang di periaran Pulau Hari, tentunya diperlukan pembatasan jumlah pengunjung sesuai dengan daya dukung kawasan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah maksimum wisatawan yang secara lestari dapat ditolerir perairan Pulau Hari. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe Selatan dalam rangka pengelolaan Pulau Hari sebagai obyek wisata bahari.

2. Metode Penelitian

a. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di perairan Pulau Hari Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi penelitian ditentukan dengan alasan bahwa perairan Pulau Hari memiliki hamparan ekosistem terumbu karang, dan telah dijadikan sebagai obyek wisata oleh masyarakat Kota Kendari. Penelitian ini berlangsung pada bulan Mei – Juni 2009.

b. Penentuan Stasiun Penelitian

Penentuan stasiun penelitian didasarkan pada pengamatan kualitatif observasi lapangan yang dilakukan berdasarkan hasil klasifikasi data citra satelit. Pengambilan data komunitas karang dan ikan karang ditentukan secara purposif sebanyak 7 titik, yang kemudian koordinat titik tersebut ditetapkan dengan bantuan GPS (global position system). Sebelum menentukan titik sampling, dilakukan surveymanta towuntuk melihat gambaran secara umum kondisi komunitas karang. Penentuan titik sampling dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain luas hamparan komunitas karang, keragaman lifeform, dan kondisi baik buruknya komunitas terumbu. Penentuan titik sampel dimaksudkan sebagai ground chek data yang diperoleh melalui interpretasi citra satelit dengan kondisi lapangan.

(4)

c. Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data tutupan komunitas karang, bentuk pertumbuhan karang (lifeform), jenis ikan karang, kedalaman perairan, kecepatan arus perairan, kecerahan perairan dan Citra Landsat 7 ETM + 2005. Jenis data yang dibutuhkan dan peralatan yang digunakan selama proses penelitian disajikan pada Tabel berikut.

Tabel 1 Jenis data yang dibutuhkan, metode pengumpulan, peralatan yang digunakan dan sumber data dalam penelitian.

Komponen Data Metode Pengumpulan Data Alat/bahan yang digunakan

1 2 4

1. Tutupan komunitas karang 2. Jumlahlifeform

3. Jenis ikan karang 4. Kedalaman perairan 5. Kecepatan arus 6. Kecerahan perairan

Survey dan interpretasi citra Visual sensus Visual sensus Pengukuran di lapangan Pengukuran di lapangan Pengukuran di lapangan

SCUBA set, Data Satelit SCUBA set SCUBA set Meter, GPS Current meter Sechhi disk d. Analisis Data

Persentase penutapan komunitas karang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Ø

Dengan demikian, dapat diketahui tingkat kerusakan berdasarkan persentase penutupan komunitas karang hidup. Kriteria persentase tutupan komunitas karang yang digunakan, berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 2001 tentang kriteria baku kerusakan terumbu karang dengan kategori sebagai berikut:

1. persentase penutupan : 0 – 24.9 % (kategori rusak) 2. persentase penutupan : 25 – 49.9 % (kategori sedang) 3. persentase penutupan : 50 – 74.9 % (kategori baik) 4. persentase penutupan : 75 – 100 % (kategori baik sekali)

(5)

karena biasanya karang tumbuh dengan baik dan keragaman jenis karang tinggi pada kedalaman tersebut.

Data dari setiap parameter biofisik akan di petakan menjadi peta tematik dengan bantuan data citra satelit. Setelah diperoleh peta tematik setiap parameter, selanjutnya dilakukan overlay sehingga membetuk peta spasial yang dapat menghitung luas kawasan yang dijadikan sebagai obyek wisata. Dengan demikian daya dukung kawasan Pulau Hari sebagai obyek wisata selam dan snorkling dapat diketahui.

Metode yang diperkenalkan untuk menghitung daya dukung pengembangan ekowisata, menggunakan konsep Daya Dukung Kawasan (DDK). Daya Dukung Kawasan adalah jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan manusia. Daya Dukung Kawasan dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut [1] :

Ô Ô

dimana : DDK = daya dukung kawasan

K = maksimum wisatawan per satuan unit area

Lp = luas area atau panjang area yang dapat dimanfaatkan

Lt = unit area untuk kategori tertentu

Wt = waktu yang disediakan oleh kawasan untuk kegiatan wisata dalam satu hari

Wp = waktu yang dihabiskan oleh pengunjung untuk setiap kegiatan tertentu

Potensi ekologis pengunjung (K) ditentukan oleh kondisi sumberdaya dan jenis kegiatan yang akan dikembangkan. Luas suatu area yang dapat digunakan oleh pengunjung mempertimbangkan kemampuan alam mentolerir pengunjung sehingga sumberdaya tetap terjaga. Berikut disajikan potensi ekologis pengunjung dan luas area masing-masing kegiatan wisata.

(6)

Tabel 2. Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt) Jenis Kegiatan ( Pengunjung)K Unit Area

(Lt) Keterangan

Selam 2 2000 m2 setiap 2 orang dalam 200 m x 10 m

Snorkeling 1 500 m2 setiap 1 orang dalam 100 m x 5 m

Wisata Lamun 1 500 m2 setiap 1 orang dalam 100 m x 5 m

Wisata Mangrove 1 50 m dihitung panjang track, setiap 1 orang

sepanjang 50 m Rekreasi

Pantai

1 50 m 1 orang setiap 50 m panjang pantai

Wisata Olah Raga

1 50 m 1 orang setiap 50 m panjang pantai

Sumber : Yulianda [1]

Sementara itu rata-rata perkiraan waktu yang dibutuhkan oleh setiap wisatawan atau pengunjung untuk setiap kegiatan wisata, disajikan pada Tabel sebagai berikut.

Tabel 3. Waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan wisata

No Kegiatan Waktu yang dibutuhkan

Wp-(jam)

Total waktu 1 hari Wt-(jam) 1. Selam 2 8 2. Snorkeling 3 6 3. Berjemur 2 4 4. Rekreasi pantai 3 6 5. Wisata mangrove 2 8 6. Wisata lamun 2 4 7. Memancing 3 6 Sumber : Yulianda [1]

3. Hasil dan Pembahasan

Kondisi biofisik perairan Pulau Hari secara umum tergolong cukup sesuai untuk dikembangan sebagai obyek wisata khususnya wisata selam dan wisata snorkling. Berdasarkan hasil pengukuran kecerahan perairan di lokasi penelitian menunjukan bahwa

(7)

kedalaman 3 meter maupun pada kedalaman 10 meter dibawah permukaan laut. Kecerahan perairan tersebut melebihi kedalaman keberadaan terumbu karang yang dipersyaratkan untuk kedua jenis kegiatan wisata. Kecepatan arus perairan mencapai rata-rata 7,3 cm/dtk, dan juga tergolong sangat sesuai untuk kegiatan wisata.

Persentase tutupan komunitas karang diperairan Pulau Hari rata-rata mencapai 59,09 % di kedalaman 3 meter, dan 52,38 % pada kedalaman 10 meter. Secara keseluruhan jumlah lifeform yang ditemukan di perairan Pulau Hari berjumlah 22 lifeform. Pada kedalaman 3 meter terdapat 18lifeform, sedangkan pada kedalaman 10 meter tedapat 21

lifeform. Keanekaragaman bentuk pertumbuhan (lifeform) karang yang berhasil di identifikasi sebanyak 10 lifeform karang keras (Hard Coral), yakni Acropora Branching (ACB), Acropora Encrusting (ACE), Acropora Digitatae (ACD), Coral Branching (CB), Coral Encrusting (CE), Coral Foliose (CF), Coral Heliopora (CHL), Coral Masive (CM), Coral Millepora (CME), dan Coral Mushrom (CMR). Jenislifeformkarang lainnya yang merupakan penyusun ekosistem terumbu karang adalah Soft Coral (SC), Anemon, Alga Assemblage (AA), Asteroidea, Coralin Alga (CA), Crinoidea (CRI), Gorgonian (GOR), Turf Alga (TA), Macro Alga (MA), Sponge (SP), dan Zoanthids (Zo). Jenis ikan karang yang ditemukan sebanyak 97 jenis, yang terdiri dari 20 famili dan 3434 individu. Keseluruhan data data biofisik dari hasil penelitian ini telah dianalisa secara spasial dalam bentuk peta kesesuaian untuk wisata selam dan wisata snorkling.

Daya Dukung Kawasan (DDK) perairan Pulau Hari tergolong cukup besar dalam menerima sejumlah wisatawan. Berdasarkan hasil survey lapangan dan klasifikasi data citra satelit Landsat ETM+ 2005 di perairan Pulau Hari, luas area yang dapat digunakan untuk jenis kegiatan wisata selam sebesar 14.29 ha. Luas tersebut dapat mendukung kegiatan penyelaman dengan jumlah penyelam yang dapat diterima secara lestari 568 orang/trip. Sementara itu untuk wisata snorkling luas area yang dapat digunakan 13.73 ha, dan diperkirakan jumlah wisatawan yang dapat diterima secara lestari sebesar 550 orang/trip. Dengan demikian, total luas area yang dapat digunakan untuk pengembangan kegiatan wisata selam dan wisata snorkling di perairan Pulau Hari seluas 28.03 ha, dan dapat menampung jumlah wisatawan secara lestari sebesar 1118 orang/trip. Luas area

(8)

tersebut merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk kedua jenis wisata tanpa mempertimbangkan zona inti sebagai penyedia plasma nutfa.

Atas pertimbangan keberlanjutan pemanfaatan dan kelestarian sumberdaya, dan berdasarkan kondisi biofisik, stasiun II dapat diusulkan sebagai zona inti yang berfungsi sebagai penyedia plasma nutfa. Dengan demikian luas area yang dapat digunakan untuk kegiatan wisata selam berkurang menjadi sebesar 11.82 ha, dan dapat menampung sejumlah wisatawan sebesar 472 orang/trip. Sedangkan untuk pengembangan wisata snorkling, luas area yang dapat digunakan sebesar 12.83 ha, dan dapat menampung sejumlah wisatawan secara lestari sebesar 513 orang/trip. Luas area yang dapat diusulkan sebagai zona inti tersebut sebesar 3.38 ha, dimana luas area untuk wisata selam berkurang sebesar 2.47 ha, dan luas area wisata snorkling berkurang sebesar 0.91 ha, sehingga luas area yang dapat digunakan untuk pengembangan kedua jenis wisata berkurang, dan menjadi 24.65 ha. Dengan berkurangnya luas area yang dapat dimanfaatkan, maka jumlah wisatawan secara lestari juga berkurang menjadi 985 orang/trip.

Pembatasan jumlah pengunjung dimaksudkan untuk meminimalisir dampak kerusakan komunitas karang akibat kegiatan wisata. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Gossling et all [4] dan Dinerstein et all. [5] bahwa konsep ekowisata dapat melindungi keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem dan juga mendukung upaya konservasi. Pengukuran daya dukung lingkungan didasarkan pada pemikiran bahwa lingkungan memiliki kapasitas maksimum untuk mendukung pertumbuhan organisme yang hidup di sekitarnya [6] Jika jumlah pengunjug wisata tidak dibatasi, diduga akan mengancam kelestarian terumbu karang, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hawkins

and Roberts [2] yang menyatakan bahwa peningkatan jumlah penyelam secara eksponensial meningkatkan tingkat kerusakan terumbu karang. Dari analisis data citra satelit dan survey yang dilakukan, diperoleh peta kesesuaian wisata sebagaimana yang ditampilkan pada Gambar 1. Berdasarkan analisis tersebut, luas area untuk wisata selam yang ditampilkan pada peta berwarna hijau, sedangkan untuk wisata snorkling berwarna merah.

(9)

P. H ari # Y 474800 475000 475200 475400 475600 474800 475000 475200 475400 475600 9 5 5 3 6 0 0 9 5 5 3 8 0 0 9 5 5 4 0 0 0 9 5 5 4 2 0 0 9 5 5 4 4 0 0 9 5 5 3 6 0 0 9 5 5 3 8 0 0 9 5 5 4 0 0 0 9 5 5 4 2 0 0 9 5 5 4 4 0 0

P eta K ese su aian W isata B aha ri Pu lau H ar i Ka b. Ko naw e S elata n

N E W S 50 0 50 m Sk ala 1 : 5 000 # Y Kota Ke nda ri P. W aw on ii Tg . P e ro pa Pe ta I nde ks : Su mber : 1. C it ra S atelit L andsat E TM+ 20 05 2. S urve y Lapang an 200 9 3. A na lisis 2009 Ro m y K etjulan C 252 070 03 1

Su mbe rda ya Pesisir dan Lautan S ek ola h Pascasarjana IPB

2009

Pu lau Ha ri Garis P an tai Area S norke ling Area S elam 10 - 15 meter 15 - 20 meter 20 - 30 meter 5 - 10 m eter > 30 met er 0 - 5 m eter Ke dala m an : Ke tera nga n :

Gambar 1. Peta Kesesuaian Wisata Bahari Perairan Pulau Hari

4. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, daya dukung perairan Pulau Hari untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata bahari sebesar 472 orang/trip untuk wisata selam, dan wisata snorkling 513 orang/trip. Dengan demikian daya dukung kawasan perairan pulau tersebut sebesar 985 orang/trip.

Daftar Pustaka

[1] Yulianda, F. 2007. Ekowisata Bahari Sebagai Alternatif Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Berbasis Konservasi. Makalah Disampaikan dalam Seminar Sains Pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Institut Pertanian Bogor.

[2] Hawkins, J. P and Roberts C. M. 1997. Estimating the Carrying Capacity of Coral Reefs Symp for Scuba Diving.Proc 8th Int Coral Reef Symp 2: 1923-1926.

[3] Clark, J. R. 1996. Coastal Zone Managemet. Handbook. Boca, Raton, Boston, London, New York, Washington D.C: Lewis Publishers.

[4] Gossling, S. 1999. Ecological Economics Analysis. Ecotourism : A Means to Safeguard Biodiversity and Ecosistem Function. Human Ecology Division, Lund University, Finngatan 16, 223 62 Lund, Sweden.

(10)

[5] Dinerstein E, Arun Rijal, Hank Cauley, and Arup Rajouria. 1998. Ecotourism’s Support of Biodiversity Conservation. Nepal Conservation Research and Training Centre, P.O. Bachhauli, Sauraha, Chitwan District, Nepal.

[6] Busby, P. J.,Wainwright, T.C., Bryant,G.J., Lierheimer, L.J.,Waples,R.S., Waknitz, F.W., and Lagomarsino, I.V. 1996.Status review of West Coast Steelhead from Washington, Idaho, Oregon, and California. NOAA Technical Memorandum NMFS-NWFSC-27.

Gambar

Tabel 1 Jenis data yang dibutuhkan, metode pengumpulan, peralatan yang digunakan dan sumber data dalam penelitian.
Tabel 2. Potensi ekologis pengunjung (K) dan luas area kegiatan (Lt) Jenis Kegiatan K
Gambar 1. Peta Kesesuaian Wisata Bahari Perairan Pulau Hari

Referensi

Dokumen terkait

4.4 Potensi Pulau Mursala sebagai Obyek dan Daya Tarik Wisata Bahari di Kabupaten Tapanuli Tengah. Pulau – pulau kecilmerupakan kumpulan pulau-pulau (gugusan

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengkaji potensi dan tingkat kesesuaian wisata (wisata pantai, selam, dan snorkeling) berdasarkan sumberdaya alam yang

Mencermati berbagai aktifitas wisata yang ada di Pulau Matakus yang kecil ini serta mengingat kegiatan ekowisata pesisir dan bahari biasanya mempunyai kekhususan sifat

Mencermati berbagai aktifitas wisata yang ada di Pulau Matakus yang kecil ini serta mengingat kegiatan ekowisata pesisir dan bahari biasanya mempunyai kekhususan sifat

Hasil dari analisis daya dukung kawasan (DDK) di Pulau Sebesi diperoleh bahwa kegiatan ekowisata bahari kategori diving yaitu 2.394 orang/hari dan ekowisata bahari

Wilayah Kepulauan Seribu terdiri dari 110 pulau dan memiliki perairan laut seluas 699.750 Ha, dari seratus lebih pulau tersebut hanya sekitar sepuluh pulau yang

Pulau Mansinam memiliki potensi sumberdaya alam dengan ekosistem teresterial dan akuatik yang beraneka ragam flora, fauna, dan keindahan alam. Potensi ini belum

Pemetaan kawasan perairan Pulau Panjang yang memiliki kategori sesuai untuk kegiatan ekowisata selam tersebar pada stasiun 3, stasiun 4, stasiun 5 dan stasiun