• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PEMUPUKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PEMUPUKAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

I.

I. PEPENDNDAHAHULULUAUANN

I.1

I.1.. LaLatar tar BeBelaklakangang Kola

Kolam m yanyang g serisering ng dijadijadikadikan n kegkegiatan budidaiatan budidaya ya tidatidak k dapdapat at leplepas as daridari keb

keberaderadaan aan air air sebsebagaagai i medmedia ia dan juga dan juga tantanah, ah, dimadimana na di di daladalamnya mnya terdterdapaapatt uns

unsur-unur-unsur sur hara hara makmakro ro dan dan mikmikro. ro. KareKarena na unsunsur-unur-unsur sur terstersebut ebut dipedipengangaruhiruhi oleh berbagai faktor lingkungan, sehingga mengakibatkan nilai-nilai unsur mikro oleh berbagai faktor lingkungan, sehingga mengakibatkan nilai-nilai unsur mikro dan makro di perairan tidak konstan dan stabil. Oleh karena itu perlu adanya dan makro di perairan tidak konstan dan stabil. Oleh karena itu perlu adanya pe

pengngeloelolaalaan n kokolamlam. . PePengngelelolaolaan an kolkolam am memeruprupakaakan n fakfaktor tor pepentinting ng seseteltelahah penentua

penentuan n kesesuakesesuaian lahan ian lahan budidaya kolam dalam rangka pengembangan ilmubudidaya kolam dalam rangka pengembangan ilmu pen

pengetagetahuan huan dan dan budibudidaya daya kolakolam m berberkelakelanjutnjutan an (Ka(Karthikrthik eet t al al , , 20200505 dalamdalam Ra

Ratnatnawawati ti dkdkk, k, 20201010). ). SaSalah lah sasatu tu dardari i kekegiagiatan tan pepengngeloelolaalaan n kolkolam am adaadalahlah pe

pemumupupukankan. . MeMenurnurut ut AmAmin in dadan n PaPantjntjara ara (2(200002), 2), pepemupmupukaukan n dimdimaksaksudkudkanan sebagai usaha pemberian nutrient ke dalam tanah atau di kolam dengan tujuan sebagai usaha pemberian nutrient ke dalam tanah atau di kolam dengan tujuan untuk meningkatkan daya dukung perairan guna menghasilkan makanan alami untuk meningkatkan daya dukung perairan guna menghasilkan makanan alami ba

bagi gi mimikrkroooorgrgananisismeme. . LeLebibih h lalanjnjut ut diditetegagaskskan an ololeh eh HHueuet t (1(197978)8), , babahwhwaa pemupu

pemupukan kan merupamerupakan kan usaha untuk usaha untuk meningmeningkatkan katkan kesuburakesuburan n perairanperairan. . DengaDengann menambah unsur hara secara periodik melalui pemupukan dalam jumlah tertentu menambah unsur hara secara periodik melalui pemupukan dalam jumlah tertentu ke

ke dadalam lam peperarairairan n akakan an memeranrangsgsang ang peperturtumbmbuhauhan n fitfitoploplananktokton n sesehinhinggggaa mempengaruhi kesuburan perairan.

mempengaruhi kesuburan perairan. Pemupuk

Pemupukan an adalah untuk memelihara atau adalah untuk memelihara atau memperbmemperbaiki kesuburan tanahaiki kesuburan tanah dan air dengan memberikan unsur atau zat hara kedalam tanah yang secara dan air dengan memberikan unsur atau zat hara kedalam tanah yang secara langsun

langsung atau g atau tidak langsuntidak langsung dapat menyumbag dapat menyumbang bahan makanan pada algng bahan makanan pada algae.ae. Di

Disamsampinping g itu itu pepemumupupukan kan jujuga ga akakan an memempmperberbaikaiki i pH pH tatanah nah ataatau u aiair r dadann m

meemmppererbbaaikiki i lliinnggkkununggan an aair ir bbaaggi i tteemmppaat t hhiidudup p ddaan n tutummbbuuh h aalglgaaee (Subarijanti,2000).

(2)

Bu

Budididadaya ya ikikan an di di kokolalam m iaialalah h kekeggiaiatatan n ususahaha a pepememelilihahararaan an aatatauu pem

pembesabesaran ran ikaikan n di di kolkolam am mulmulai ai dari ukuran benih dari ukuran benih (juve(juvenil) nil) samsampai pai menmenjadijadi ukuran yang layak untuk dikonsumsi. Budidaya ikan laut sudah sejak seabad ukuran yang layak untuk dikonsumsi. Budidaya ikan laut sudah sejak seabad yang lalu dipraktekkan di banyak negara di Asia, termasuk indonesia. Sampai yang lalu dipraktekkan di banyak negara di Asia, termasuk indonesia. Sampai da

dasasawawarsrsa a yayang ng lalalu lu kokomomodiditi ti ikikan an umumumumnynya a didigogololongngkakan n sesebabagagai i hahasisill sam

sampingpingan an di di kolakolam, m, karekarena na kolkolam am itu itu teruterutama tama digdigunakunakan an untuntuk uk memmemeliheliharaara ika

ikan n banbandengdeng. . BeniBenih h ikaikan n secsecara alami ara alami masmasuk uk ke dalam ke dalam kolakolam m berbersama air sama air  pasang yang mengaliri kolam itu. Budidaya ikan intensif dilakukan dengan telnik pasang yang mengaliri kolam itu. Budidaya ikan intensif dilakukan dengan telnik ya

yang ng cacangnggigih h dan dan memememerlurlukan kan mamasuksukan an (in(inputput) ) bibiayaya a yayang ng bebesarsar, , sebsebagagaiai imbangan dari masukan yang tinggi maka dapat dicapai volume produksi yang imbangan dari masukan yang tinggi maka dapat dicapai volume produksi yang sangat tinggi pula (Ahmad, 2006

sangat tinggi pula (Ahmad, 2006 dalamdalam Alwi, 2011).Alwi, 2011).

I.2.

I.2. Maksud dan TujuanMaksud dan Tujuan

Mak

Maksud sud dardari i pempembuatbuatan an makmakalah alah ini ini adaadalah lah untuuntuk k menmenambaambah h wawwawasanasan me

mengngenenai ai pepengngaruaruh h pupupupuk k teterharhadap dap pepeninningkgkataatan n kekesubsuburauran n peperairairan ran dadann pertumbuhan plankton sebagai pakan alami dalam perairan.

pertumbuhan plankton sebagai pakan alami dalam perairan. Tu

Tujuajuan n dadari ri mamakakalah lah inini i adadalaalah h ununtuk tuk memengngetaetahui hui pepengngaruh aruh pupupupukk terhadap peningkatan kesuburan perairan dan

terhadap peningkatan kesuburan perairan dan pertumbupertumbuhan han plankton sebagaiplankton sebagai pakan alami dalam perairan.

pakan alami dalam perairan.

I.3

I.3.. TeTempmpat dat dan an WaWaktuktu Pr

Praktaktikuikum m inini i didilaklaksansanakaakan n didi UPUPR R SSumumbeber r MMinina a LLesestatari ri DeDesasa S

Sumumbebersrsekekar ar KeKec. c. DDAU AU KKabab. . MaMalalangng, , JaJawa wa TiTimmurur. . PePelalaksksananaaaannnnyaya dila

dilaksanksanakan akan padpada a hari Sabtu hari Sabtu tangtanggal gal 17 17 DesDesembember er 2011 Pukul 2011 Pukul 10.010.00-120-12.00.00 WIB.

(3)

I.4. Kegunaan

Kegunaan dari makalah ini adalah agar dapat dijadikan bahan rujukan mengenai pemupukan pada tanah kolam.

(4)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pemupukan

Pemupukan adalah proses pemberian pupuk pada kolam. Setelah dilakukan tahap – tahap sebelumnya, air dikolam harus dipupuk dengan pupuk NPK dosis 4 – 5 ppm dan penambahan pupuk organik (kotoran ayam) dosis 0,1 ppm. Gunanya, untuk menyuburkan pertumbuhan plankton setelah plankton mati karena aplikasi klorin. Bila plankton sama sekali tidak tumbuh maka harus dimasukkan bibit plankton yang diperoleh dari laboratorium yang membuat kultur  tersebut. Bila plankton tidak dibenarkan diambil dari kolam lain karena kekhawatiran akan tertular penyakit (Suyanto,2009 dalam Alwi 2011).

2.2. Jenis – jenis Pupuk

Pupuk dibagi menjadi 2 yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik merupakan salah satu jenis pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah mengingat sifat pupuk organic yang sangat menonjol yaitu mengandung unsure hara makro dan mikro (Amin, 2010). Pupuk organik merupakan pupuk yang digunakan untuk maksud memperbaiki struktur  tanah, daya meresapkan air hujan, daya mengikat air, ketahanan terhadap erosi. Selanjutnya dikatakan bahwa terbentuknya humus, pupuk organic juga memperbaiki kehidupan biologi tanah dan mineral (unsure hara) dan hasil proses mineralisasi humus (Setyamidjaya, 1986 dalam Amin, 2010).

2.2.1. Pupuk organik

Menurut Syarief (1985) dalam Amin (2010), mengemukakan bahwa pupuk organik memiliki kesanggupan melepaskan zat hara secara berangsur-angsur 

(5)

sesuai dengan tingkat perombakannya sehingga kelestarian zat hara dalam perairan dapat terjaga.

Pupuk organik mengandung unsur hara makro dan mikro secara lengkap, namun dalam jumlah sedikit dan lambat tersedia, karena memerlukan proses mineralisasi agak lama. Selain itu, pupuk organik juga mengandung asam-asam organik, hormon, dan zat perangsang tumbuh yang sangat dibutuhkan tanaman dan tidak dimiliki oleh pupuk anorganik. Penggunaan pupuk organik lebih berperan dalam memperbaiki kesuburan tanah dan kualitas tanaman dibandingkan sebagai pensuplai unsur hara (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2010).

Menurut Lukitaningsih (2008), pupuk organik: pupuk yang sebagian besar  atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat dibentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.

2.2.2. Pupuk Anorganik

Menurut Lukitaningsih (2008), pupuk anorganik: Pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisik dan atau biologis dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk.

2.3. Faktor-Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemupukan a. Jenis pupuk

Pupuk dibagi atas 2 golongan yaitu pupuk alam yang meliputi pupuk hijau, pupuk kandang, dan kompos yang seringkali disebut juga pupuk organik. Sedangkan yang kedua ialah pupuk buatan yang biasa disebut pupuk anorganik, pupuk ini jenisnya lebih banyak (Subarijanti, 2000).

(6)

Jenis pupuk anorganik yang biasa digunakan dalam kegiatan budidaya adalah urea (NH2CONH2) dan TSP (Ca(H2PO4)), sedangkan pupuk organik yang

biasa digunakan adalah fermentasi saponin dan fermentasi pakan rusak. Fungsi dan dosis yang digunakan dari masing-masing jenis pupuk tersebut relatif  berbeda tergantung dari kondisi perairan dan tingkat kebutuhannya berdasarkan pengamatan yang dilakukan di lapang (Marinda, 2008).

b. Dosis pupuk

Pupuk buatan atau anorganik yang dipergunakan untuk perikanan biasanya urea dan TSP. Dosis yang digunakan 40 – 50 kg/ha dan 15 – 50 kg/ha. Pupuk diberikan 12 – 14 hari sebelum penebaran benih, sebagai pupuk dasar  sebanyak setengah dari dosis seluruhnya (Subarijanti,2000).

c. Cara pemupukan

Menurut Subarijanti (2000), penggunaan pupuk organik biasanya dengan cara mengonggokkan pupuk di pelataran dan membenamkannya ke dalam tanah sebelum kolam/kolam diairi, dengan dosis tertentu tergantung jenis pupuk yang digunakan. Untuk pupuk anorganik, pupuk diberikan 12-14 hari sebelum penebaran benih, sebagai pupuk dasar sebanyak setengah dari dosis seluruhnya. Pada waktu pemupukan pintu pemasukan dan pengeluaran harus ditutup, air dalam kolam diusahakan macak-macak sampai 2-3 hari. Pupuk ditebarkan merata pada dasar kolam/kolam, kemudian air dimasukkan sampai setinggi ± 5 cm. Bila kelekap mulai tumbuh, air dimasukkan lagi sampai mencapai ketinggian kurang lebih 15 cm, kemudian air berangsur-angsur  dinaikkan sampai mencapai ketinggian ± 80 cm.

(7)

Pemupukan pada umumnya dilakukan pada waktu musim kemarau. Hal ini dikarenakan membantu proses pengeringan lahan selain itu agar pupuk yang ditebar tidak mengalami pencuian oleh air hujan.

2.4. Hubungan Kesuburan Tanah Dengan Kesuburan Perairan

Tanah yang banyak mengandung bahan organik dikatakan sebagai pemasok zat hara N dan P yang dapat mempercepat pertumbuhan alga di kolam atau kolam. Sedangkan keberadaan alga merupakan indikator kesuburan perairan. Dari beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa tingginya kesuburan tanah diikuti tingginya kesuburan air. Tanah kolam yang bersifat alkalis yaitu pH nya 6 -7, kaya akan garam–garam natrium, menyebabkan pertumbuhan kelekap menjadi baik sehingga kolam tersebut dikatakan memiliki perairan yang subur  (Suyanto, 1984 dalam Subarijanti, 2000).

(8)

III. MATERI DAN METODE

3.1 Materi Praktek Kerja Lapang

Materi praktikum mencakup segala alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum. Alat dan bahannya berhubungan dengan kegiatan pengamatan dan analisa kualitas air.

1. Persiapan alat dan bahan

3. Pengukuran dan analisa parameter kualitas air 

3.2 Metode Pengambilan Data

Metode yang digunakan dalam Praktikum ini adalah metode observasi , yaitu metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sesuai yang disaksikan, dengan mengandalkan penglihatan dan pendengaran, memulai interaksi, menyelesaikan tugas lapang (Gulo, 2002). Tujuan dari pelaksanaan metode observasi adalah untuk mendapatkan data berdasarkan pengamatan secara langsung dengan menggunakan alat indra, faktual dan akurat mengenai data-data kegiatan pengamatan dan analisa kualitas air kolam Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus).

3.3 Teknik Pengambilan Data

Teknik yang digunakan dalam pengambilan data pada Praktikum ini menggunakan dua macam data, yakni Data Primer dan Data Sekunder. Data Primer dilihat hanya dari observasi sedangkan Data Sekunder didapatkan di lapangan secara langsung dan tidak langsung.

3.3.1 Data Primer 

Metode pengambilan data dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya adalah Observasi yang merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui pengamatan dan pencatatan

(9)

terhadap gejala-gejala yang diteliti (Usman dan Akbar, 1995). Observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik untuk fenomena-fenomena yang diselidiki. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengamatan tidak langsung misalnya melalui quisioner  dan test (Hadie, 1981).

Observasi dilakukan mengenai proses pengambilan sampel air kolam, pengamatan dan analisa kualitas air kolam tersebut.

3.3.2 Data Sekunder 

Data sekunder adalah data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti misalnya dari Biro Statistik, majalah, keterangan-keterangan, atau publikasi lainnya. Jadi data sekunder berasal dari tangan kedua, ketiga dan seterusnya, artinya melewati satu atau lebih pihak yang bukan peneliti sendiri. Karena itu perlu adanya pemeriksaan ketelitian. Bukan berarti bahwa data sekunder kalah bermutu dibandingkan dengan data primer, bahkan kalau Kepentingan data sekunder adalah untuk membuat (a) latar belakang masalah penelitian (b) informasi alternatip yang dapat dibandingkan dengan informasi primer, sehingga diperoleh ’pemahaman’ baru bagi periset. Sehingga laporan penelitian lebih memiliki dukungan data yang dapat memperkuat citra akademis (c) data sekunder dapat dijadikan sumber rujukan utama ketika peneliti hendak menginformasikan hal-hal yang bersifat makro (d) untuk jenis penelitian kepustakaan dan studi kajian buku (referensi), maka data sekunder merupakan informasi utama (Marzuki,1989 dan Salim, 2009).

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari pihak lain secara tidak langsung diperoleh dari subyek yang diteliti (Azwar, 1998). Data sekunder dapat diperoleh dari studi-studi sebelumnya yang dikumpulkan dan disatukan atau yang

(10)

diterbitkan oleh beberapa instansi lain misalnya majalah, keterangan-keterangan atau publikasi lainnya (Suparmoko, 1999).

Data sekunder dalam Praktikum ini diperoleh melalui laporan-laporan, pustaka yang menunjang yang terkait dengan pengamatan dan analisa kualitas air kolam Budidaya Ikan Nila (Oreochromis niloticus).

3.4 Alat-alat Praktek Kerja Lapang

Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan Praktikum ini adalah peralatan yang biasa digunakan dalam pengambilan sampel dan pengamatan kualitas air, yaitu : 3.4.1 DO • Buret (1) • Botol DO (8) • Statif (1) • Pipet tetes (6) • Pipet Volume (1) • Bola Hisap (1) • Cool Box (1) • Corong (1) 3.4.2 CO2 • Buret (1) • Botol (8) • Statif (1) • Pipet tetes (6) • Pipet Volume (1) • Bola Hisap (1) • Cool Box (1) • Corong (1) 3.4.3 Nitrat • Cuvet (8) • Spektrofotometer  • Cawan porselin (8) • Spatula (8) • Gelas ukur 50ml (8) • Breaker glass (8)

(11)

• Hot Plate (2) • Bola hisap (1) • Pipet volume (1) • Pipet tetes (1) 3.4.4 Phospat • Cuvet (8) • Spektrofotometer  • Cawan porselin (8) • Spatula (8) • Gelas ukur 50ml (8) • Breaker glass (8) • Hot Plate (2) • Pipet tetes (2) 3.4.5 TOM • Buret (1) • Statif (1) • Corong (1) • Thermometer (8) • Spatula (8) • Gelas ukur 50ml (8) • Erlenmeyer 50ml (8) • Hot Plate (2) • Bola hisap (1) • Pipet volume (1) • Pipet tetes (2) 3.4.6 Plankton • Plankton net (4) • Pipet tetes (1) • Botol film (8)

3.5 Bahan Praktek Kerja Lapang

Bahan-bahan yang digunakan dalam pelaksanaan Praktikum ini antara lain : 3.5.1 DO • NaOH + KI (50ml) • MnSO4 (50ml) •  Amilum (25ml) • H2SO4 (50ml) • Na2S2O3 0.025N (150ml) •  Aquades

(12)

3.5.2 CO2

3.5.3 Nitrat

•  Asam fenol disulfonik (25ml)

• NH4OH 1:1 (100ml) • Kertas saring • aquades 3.5.4 Phospat • SNCl2 (5ml) •  Amonium molybdat (25ml) •  Aquades 3.5.5 TOM • KMNO4 0.01N (150ml) • H2SO4 1:4 (50ml) • Na oxalate (75ml) •  Aquades 3.5.6 Plankton • Lugol •  Air Kolam

3.7 Pengukuran dan Analisa Parameter Kualitas Air 

Dalam Praktek Kerja Lapang ini dilakukan pengukuran dan analisis kualitas air dengan parameter fisika yakni suhu dan cahaya. Sedangkan untuk parameter  kimia yaitu pH,N,P,TOM,DO,CO2, dan yang semuanya dapat mempengaruhi keberadaan dan kehidupan fitoplankton.

3.7.1 Karbondioksida (CO2)

Menurut Effendi (2003), langkah-langkah untuk mengukur kadar  karbondioksida terlarut adalah sebagai berikut :

• Ukur 25 ml air sampel dan masukan ke dalam erlenmeyer, kemudian tambahkan 1-2 tetes indikator PP. Bila air berwarna merah berarti air  tersebut tidak mengandung CO2 bebas Bila air tetap tidak berwarna,

cepat titrasi dengan Na2CO3 0,0454N sampai warna menjadi merah (pink)

(13)

• Catat volume titran yang digunakan

• Hitung dengan rumus :

CO2(mg/l) =

Vairsampel   Ntitran

Vtitran* *22*1000

• Dan didapatkan hasil

3.7.2 pH (Yuli dan Kusriani, 2005)

 Menyiapkan pH paper atau pH pen.

 Memasukkan pH paper ke dalam sampel air sekitar 3 menit, kemudian

dicocokkan perubahan warna pada pH paper dengan kotak standar.

 Menstandarisasi terlebih dahulu pH pen sebelum digunakan dengan

aquades.

 Masukkan pH pen ke dalam air dan kemudian lihat angka pada layar pH

pen. Setelah dipakai segera standarisasi kembali.

3.7.3 Suhu (Yuli dan Kusriani, 2005)

Langkah-langkah untuk mengukur suhu adalah sebagai berikut :

• Memasukkan Thermometer Hg ke dalam perairan dan ditunggu beberapa saat sampai air raksa di dalam Thermometer Hg menunjukkan skala tertentu.

• Mencatat skala yang ditunjukkan oleh thermometer Hg dalam satuan 0C.

• Membaca skala pada Thermometer Hg saat masih berada di dalam perairan dan jangan sampai tangan menyentuh bagian tubuh Thermometer.

3.7.4 Phospat (Tim Asisten Praktikum Limnologi, 2008)

(14)

• Reagen ammonium molibdat 25 gr 

• Dilarutkan dalam 175 ml aquadest • Ditambahkan 280 ml H2SO4pekat

• Dilarutkan sampai 1 liter 

• Hasil

• SnCl2dilarutkan sebanyak 2,5 gr 

• Dilarutkan dalam 100 ml gliserol

• Larutan Standart Phospat

• Timbang 0,2195 gr KH2PO4

• Dilarutkan dalam 1 liter aquadest

•  Ambil 50 ml yang dilarutkan dalam 500 ml aquadest (mengandung 5 mg/L H2PO4).

• Diukur dan dituangkan air sampel ke dalam Erlenmeyer sebanyak 25 ml

• Ditambahkan 1 ml ammonium molybdate dan dikocok hingga homogeny • Ditambahkan 3 tetes SnCl2 dan dihomogenkan

• Masukan ke dalam cuvet dan dianalisa dengan spektrofotometer sebagai nilai y dan kadar ortofosfatnya dihitung dengan menggunakan rumus y = a+bx

• Hasil

3.7.5 Nitrat (Tim Asisten Praktikum Limnologi, 2008)

(15)

• Disaring air sampel sebanyak 25 ml dan masukkan ke dalam cawan porselin.

• Lalu uapkan di atas hot plate sampai kering (terbentuk kerak)

• Ditunggu hingga dingin dan kemudian ditambahkan 0,5 Asam Fenol Disulfonik dan diaduk dengan spatula sampai kerak larut

• Tambahkan aquadest sebanyak 2,5 ml

• Tambahkan NH4OH sampai terbentuk warna

• Masukkan dalam cuvet dan menganalisa di spektrofotometer sebagai nilai y dan nilai nitratnya dihitung dengan menggunakan rumus y = a+bx

3.7.6 Kelimpahan Fitoplankton (Bloom, 1998)

- Mengambil sampel air sebanyak 10 liter kemudian disaring dengan menggunakan plankton net no. 25.

- Menetesi sampel dengan Lugol sebanyak 3-4 tetes dan diberi label.

- Mengamati sampel air dengan mikroskop dengan minimal 5 lapang pandang.

- Menghitung dengan menggunakan rumus :

Keterangan :

N : Jumlah plankton (sel/ml)

C : Jumlah individu plankton dalam lapang pandang  At : Luas cover glass (mm2)

 As : Luas lapang pandang (mm2)

V : Volume tetesan(ml) S : Jumlah lapang pandang

C x At

As x S x V

 N=

(16)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Umum Lokasi

4.1.1 Letak Geografis dan Keadaan Sekitar 

UPR (Unit Pembenihan Rakyat) Sumber Mina Lestari terletak di Dusun Banjar tengah Desa Sumbersekar Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Dusun Banjar tengah merupakan salah satu dusun yang berada di Desa Sumbersekar  kecamatan Dau dengan luas wilayah ± 53 ha dan pada ketinggian daratan 760 m dpl. Suhu minimum 16 - 18ºC dan suhu maksimum 26 - 28°C dan curah hujan rata-rata 875 - 3000 mm per tahun.

Desa Sumber Sekar Kecamatan Dau Kabupaten Malang dengan batas-batas :

Sebelah Utara : berbatasan dengan Desa Dadaprejo Sebelah Selatan : berbatasan dengan Desa Gading Kulon Sebelah Timur : berbatasan dengan Desa Mulyo Agung Sebelah Barat : berbatasan dengan Kecamatan Junrejo Jarak kecamatan DAU dari pusat kota malang ± 10 km ke arah

4.2Manajemen Kualitas Air  4.2.1 Suhu

(17)

Suhu merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam ekosistem perairan. Perubahan suhu sangat berpengaruh terhadap proses fisika, kimia dan biologi badan air (Effendi, 2003).

Suhu air merupakan faktor yang sangat banyak mendapat perhatian dalam pengkajian – pengkajian kelautan. Data suhu air dapat dimanfaatkan bukan saja untuk mempelajari gejala – gejala fisika di dalam laut tetapi juga dalam kaitannya dengan kehidupan hewan dan tumbuhan (Nontji, 2005).

Hasil pengukuran suhu yang telah dilakukan pada kolam ikan Nila semi permanen di Sumber Mina Lestari adalah 31,5ºC. Suhu ini merupakan suhu yang kurang optimal bagi kehidupan fitoplankton sebagai pakan alami. Menurut Tambaru (2003), suhu yang sesuai untuk kehidupan fitoplankton berkisar antara 20 – 300C. Suhu berpengaruh langsung terhadap tumbuhan dan hewan, yakni

pada laju fotosintesis tumbuh – tumbuhan dan proses fisiologi hewan khususnya derajat metabolisme dan siklus reproduksinya.

4.2.2 pH

Dari hasil data yang diperoleh pada perhitungan pH didapatkan nilai pH pada kolam ikan Nila semi alami adalah 8,78. Ini berarti kondisi pH dilokasi perairan tersebut cenderung basa, keadaan tersebut masih sesuai untuk biota akuatik.

Hal ini didukung oleh pendapat Djatmika (1986), menyatakan bahwa derajat keasaman ditentukan oleh konsentrasi ion H+ air kolam dikatakan bersifat

asam dan dikatakan bersifat basa bila pH-nya lebih besar dari 7. pH 6,5-9 berarti ikan mengalami pertumbuhan optimal.

Menurut (Kordi dan Tancung,2007) pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik. Pada perairan asam ikan kurang produktif. Pada pH rendah kandungan oksigen terlarut akan

(18)

berkurang,sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun,aktivitas pernafasan naik dan selera makan berkurang. Hal yang sebaliknya terjadi pada suasana basa. Atas dasar ini,maka budidaya perairan akan optimal dengan kisaran pH 7,5-8,7 dan akan berhasil baik pada pH 6,5-9,0.

4.2.3 DO (Dissolved Oxygent)

Oksigen terlarut merupakan salah satu penunjang utama kehidupan di laut. Sumber utama oksigen dalam air laut adalah udara melalui proses difusi dan dari proses fotosintetis fitoplankton. Oksigen terlarut dalam laut dimanfaatkan oleh organisme perairan untuk respirasi dan penguraian zat-zat organik oleh mikroorganisme (Simanjuntak, 2004).

Kecepatan difusi oksigen ke dalam air sangat lambat Oleh karena itu, Fitoplankton merupakan sumber utama dalam penyediaan oksigen terlarut dalam perairan (Mulyanto, 2002).

Hasil pengukuran DO yang telah dilakukan pada kolam di Sumber Mina Lestari adalah 15,52 mg/liter pada kolam pertama dan 19,47 mg/liter pada kolam kedua. Kandungan oksigen dalam air yang ideal adalah antara 3-7 ppm (Subarijanti, 1990).

4.2.4 CO2

Gas karbondioksida (CO2) memegang peranan penting sebagai sumber 

makanan bagi semua tumbuhan hijau, yang mampu berfotosintesis baik tumbuh-tumbuhan renik seperti fitoplankton maupun tumbuh-tumbuhan tingkat tinggi (Soeseno, 1974).

Gas karbondioksida (CO2) yang terdapat di perairan dapat berasal dari

(19)

perairan, air yang melewati tanah organik, respirasi tumbuhan, hewan dan bakteri aerob dan anaerob (Effendi, 2003).

Hasil pengukuran yang telah dilakukan pada kolam ikan Nila semi permanen di Sumber Mina Lestari tidak terdapat CO2 bebas. Menurut Subarijanti

(1990), CO2dalam perairan sangat dipengaruhi oleh nilai pH perairan. Pada pH <

6.5 maka CO2 dalam perairan akan didominasi oleh CO2bebas, pada pH berkisar 

6 – 8.3 maka CO2 bebas akan berubah bentuk menjadi ion bikarbonat, dan pada

pH > 8.3 bentuk ion bikarbonat akan berubah bentuk menjadi ion karbonat. Sebaliknya apabila perairan pH perairan turun maka ion bikarbonat akan berubah kembali menjadi bikarbonat dan akhirnya berubah kembali menjadi CO2bebas.

Reaksi yang terjadi adalah

CO2 + H2O H2CO3

H2CO3 H++ HCO3

-HCO3- H++ CO3

2- Andayani (2005) mengatakan pada siang hari fitoplankton mengubah karbondioksida lebih cepat. Selama karbondioksida diubah, karbonat terkumpul dan terhidrolisasi yang menyebabkan pH bertambah. Dalam kondisi pH diatas 8.3 fitoplankton menggunakan ion bikarbonat untuk melakukan proses fotosintesis.

4.2.5 Nitrat

Nitrat merupakan hasil dari reaksi biologi yaitu nitrogen organik. Limbah industri dan domestik akan mengandung nitrat dan akan menjadi polusi untuk permikaan air. Nitrat merupakan elemen esensial atau sebagian nutrien dalam proses eutrofikasi, pada perairan alami mineral nitratr hanya sedikit. Soda nitrat (NaNO3) merupakan komponen utama pada endapan. Penambahan nitrat pada perairan dapat berasal dari pupuk yang tercuci dari tanah pertanian. Residu dari

(20)

limbah perternakan, juga mengandung nitrogen organik dan apabila teroksidasi  juga akan menjadi nitrat. Bahan ini juga dapat digunakan sebagai elektron

aseptor oleh beberapa mokrobia (Arfiati, 2001).

Dari hasil dan data perhitungan nitrat nitrogen pada kolam ikan Nila semi alami dengan spektrofotometer diperoleh hasil y = 0,076 sehingga diperoleh hasil akhir 0,77 mg/L. Keadaan tersebut termasuk terlalu subur atau eutrofik. Hal ini dapat disebabkan oleh sumber air yang digunakan dalam kolam-kolam ini melewati lahan pertanian dimana terdapat unsur-unsur anorganik yang dapat langsung terbawa larut oleh air dan masuk ke dalam kolam. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Effendi (2003), kadar nitrogen yang lebih dari 0,2 mg/L dapat mengakibatkan terjadinya eutrofikasi (pengayaan) perairan yang selanjutnya menstimulir pertumbuhan algae dan tumbuhan air secara pesat (blooming). Nitrat dapat digunakan untuk mengelompokan tingkat kesuburan perairan oligotropik memiliki kadar nitrogen antar 0-1 mg/L, perairan mesotropik memiliki kadar nitrat 1-5 mg/L dan perairan eutropik memiliki kadar nitrat yang berkisar antara 5-50 mg/L.

Dengan nilai hasil fosfat yang ditemukan tersebut maka dapat disimpulkan nilai tersebut sangat besar baik untuk perairan karena tidak menurunkan kapasitas dan untuk mengikat oksigen.

4.2.6 Fosfat

Unsur fosfor selain jumlahnya sedikit juga sering kali tidak seimbang dengan unsur nitrogen, sehingga unsur ini seringkali dikatakan sebagai faktor  pembatas, terutama pembatas pertumbuhan fitoplankton. Sumber fosfor dalam perairan umum, berasal dari limbah rumah tangga dan sisa–sisa pupuk dari persawahan disekitarnya yang masuk melalui air (Subarijanti, 2005).

(21)

Fosfor di dalam perairan terdiri dari dua komponen, yaitu : (1) fosfor yang dapat larut (P terlarut) adalah dalam bentuk fosfat seringkali disebut Orthofosfat, (2) fosfat organik yaitu yang terdapat dalam organisme-organisme plankton dan bahan-bahan organik lainnya dalam air. Fosfat organik (Orthoposfat) dalam bentuk unsur P yang efektif bagi pertumbuhan fitoplankton, dimana ketersediaannya ditentukan oleh faktor lingkungan, seperti alkalinitas, pH dan kandungan bahan organik serta keanekaragaman unsur-unsur lain misalnya kalsium (Ca), besi (Fe), dan alumunium (Al) (Subarijanti, 1990).

Dari hasil dan data perhitungan ortofosfat di kolam ikan Nila semi alami dengan spektrofotometer diperoleh hasil y = 0,094 sehingga diperoleh nilai kadar  ortofosfat adalah 0,11 mg/L. Perairan ini terlalu subur (eutrofik) bagi biota perairan. Hal ini dikarenakan sumber air yang digunakan dalam kolam-kolam ini melewati lahan pertanian dimana terdapat unsur-unsur anorganik yang langsung terbawa oleh air dan masuk ke dalam kolam. Menurut Andayani (2005), konsentrasi fosfor dalam air sangat rendah, konsentrasi ostofosfat yang biasanya tidak lebih dari 5-20 mg/L dan jarang melebihi 1000mg/L dalam kolam ikan subur  di Albana, ortofosfat larut rata-rata 20mg/L dan total fosfat 10 mg/L.

Menurut Effendi (2003), kadar fosfat pada perairan alami berkisar antara 0,005-0,02 mg/L P-PO4, sedangkan pada air tanah biasanya sekitar 0,02mg/L

P-PO4. Kadar fosfat dalam ortofosfat (P-PO4) jarang melebihi 0,1 mg/L meskipun

pada perairan eutotrof kadar fosfat total pada perairan jarang melebihi 1mg/L . Menurut Arfiati (2001), perairan dengan kadar ortofosfat kurang dari 0,001 mg/L merupakan perairan subur (oligotrofik), 0,01 – 0,05 mg/L merupakan perairan agak subur (mesotrofik), Dan lebih dari 0,1 mg/L termasuk perairan yang subur (eutrofik).

(22)

……….. 4.4 Plankton

4.4.1 Jenis dan Komposisi Fitoplankton

Dari hasil pengamatan jenis fitoplankton yang ditemukan di kolam benih terdiri dari 3 filum yaitu (1) Chlorophyta terdiri dari 4 genus yaitu Chlorella, Pediastrum, Ulotrix, Selenastrum dan Scenedesmus; (2) Chrysophyta terdiri dari 3 genus yaitu Diatoma, Navicula dan Nitzchia; (3) Euglenophyta terdiri dari dari 1 genus yaitu Phacus.

Hasil pengamatan sampel air di kolam benih dan kolam induk ditemukan  jenis fitoplankton sebagai berikut:

a. Phyllum Chrysophyta

Sachlan (1972) menyatakan phyllum ini terbagi menjadi 3 sub phyllum Xanthophyceae, Chrysophyceae dan Bacilariophyceae dan memiliki ciri umum :

- Dinding sel terdiri dari bahan silikat - Sel terdiri dari 2 bagian

- Memiliki pigmen xanthopil dan karotin - Pada umumnya berflagel (Heterokontae)

Phyllum Chrysophyta yang ditemukan selama pengamatan pada kolam semipermanen antara lain Diatoma, Navicula dan Nitzchia.

b. Phyllum Chlorophyta

Dalam evolusi alga, phyllum Chlorophyta (alga hijau) dianggap langsung berasal dari alga biru. Chlorophyta merupakan phyllum yang paling penting di perairan tawar dan phyllum ini memberi warna hijau dalam perairan (Sachlan, 1972). Alga hijau akan tumbuh dengan baik apabila intensitas cahaya matahari cukup tersedia (Subarijanti, 1990).

Chlorophyta mempunyai sifat-sifat umum yaitu :

(23)

- Memiliki pigmen klorofil a, b karotene dan xanthopil - Memiliki dinding sel selulosa

Phyllum Chlorophyta yang ditemukan selama pengamatan pada kolam semipermanen antara lain Chlorella, Pediastrum, Scenedesmus, Selenatrum dan Ulotrix .

c. Phyllum Euglenophyta

Phyllum ini hidup 90% dalam air tawar. Pada perairan yang tergenang, beberapa genus dari golongan Euglenophyta, dapat membentuk cysta yang menutupi seluruh permukaan perairan dan berwarna merah, hijau, kuning atau campuran dari warna-warna tersebut (Sachlan, 1972).

Sifat umum lainnya yang dimiliki oleh phyllum ini adalah

- Mempunyai titik merah bagian anterion dalam tubuhnya yang sensitif 

terhadap sinar dan dianggap sebagai matanya

- Mempunyai cadangan makanan

- Mempunyai pigmen chlorofil a dan b carotine, sedang warna merah yang

ada dalam badannya disebabkan oleh adanya haematochroon.

Phyllum Euglenophyta yang ditemukan selama pengamatan pada kolam semipermanen yaitu Phacus.

(24)

IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari hasil uraian di atas, maka dapat diambil kesimpulan antara lain:

1. Komposisi fitoplankton yang diperoleh didominasi oleh kelaBacillariophyceae dan zooplankton didominasi oleh kelas Crustaceae

2. Salah satu usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kesuburan kolam adalah dengan cara pemupukan.

4.2 Saran

Sebaiknya dalam pemupukan harus memperhatikan kondisi dan jenis tanah kolam yang akan dipupuk.

(25)

DAFTAR PUSTAKA

 Alwi, 2011. Dasar-Dasar Akuakultur. www.scribd.com/boc/21752501/bab-II-dasqul.

 Amin, M. 2010. Dinamika Plankton Pada Budidaya Ikan Windu (Penaeus monodon FABRICUS) Yang Menggunakan Jenis Pupuk Organik Di Kolam. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur hal.837-844.  Amin, M, dan Pantjara, B. 2002. Penggunaan berbagai pupuk organik terhadap

kelimpahan plankton pada bak terkontrol. Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Tepat Guna Berorientasi Agribisnis Untuk Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pembangunan Pertanian Wilayah. Balitbang Pertanian, hlm: 263-269.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2010. Peta Potensi Penghematan Pupuk Anorganik dan Pengembangan Pupuk Organik Pada Lahan Sawah Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian.

Huet, M. 1978. Texbook of fish culture: Breeding and Cultivation of Fish. Fishing Press. Inc. Cueson City, Philippines, 436 pp.

Lukitaningsih. 2008. Jenis – jenis Pupuk. www.lukitaningsih.blogspot.com.

Marinda, 2008. Pemupukan Air Kolam. http://marindro-ina.blogspot.com/2008/07/pemupukan-air-kolam-02-jenis-dan.html. Ratnawati, E., A. Mustafa, Anugriati. 2010. Faktor Pengelolaan yang

Mempengaruhi Produksi Ikan Bandeng (Chanos chanos) di Kolam Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur hal. 151-159.

Subarijanti, H. U. 2000. Pemupukan dan Kesuburan Perairan. Universitas Brawijaya Malang.

(26)

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan beberapa teori jadi kesimpulannya pola komunikasi sebagai aksi anatara guru dan siswa dalam proses pembelajaran sosiologi pada

Penulis mencoba mengadopsi whistleblowing intention menjadi variabel pemoderasi antara variabel tekanan waktu dengan kinerja auditor karena diperkirakan dengan adanya

Gerakan ekologi yang berlangsung di kedua pesantren ini, juga merupakan gerakan aksi bersama yang bertujuan mendapatkan keuntungan baik dari sisi ekologi atau

Anak di dalam penelitian ini adalah pihak konsumen karena anak mengkonsumsi cerita pendek, pengertian konsumen menurut Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun

kepada polisi karena telah mengamputasi kaki yang salah dari seorang pasien pada suatu prosedur emergensi. Hal lain yang sempat menjadi perhatian peneliti mengenai

Biogeografi Alga Makro (Rumput) Laut di Kawasan Pesisir Indonesia.. A Field Guide to the British Seaweeds as Required for Assistance in the Classification of Water Bodies

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah : daun anggur (Vitis vinifera L) yang diperoleh dari kota Kartasura; bakteri Staphylococcus aureus yang diperoleh dari

Dari hasil jawaban responden untuk variabel Rekrutmen (X1) masih banyak responden yang menjawab ragu-ragu dengan total 49 responden untuk pernyataan “Proses