Upaya Mengembangkan Aspek Fisik Motorik Halus
Anak (Meniru Melipat Kertas Origami 1-7 Lipatan)
Melalui Media Gambar Dengan Kombinasi Model
Explicit Instruction dan Metode Pemberian Tugas
Metroyadi
*Program Pendidikan Gurus Pra Sekolah dan Dasar Universitas Lambung Mangkurat
Terima: 15-04-2017 Revisi: 10-05-2017 Daring: 25-06-2017
Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas guru, aktifitas anak dan hasil capaian perkembangan pada Aspek Fisik Motorik Halus (Meniru Melipat Kertas Origami 1-7 Lipatan ) Sesuai Dengan Media Gambar Menggunakan Kombinasi Model Explicit Instruction Dan Metode Pemberian tugas pada kelompok B di Tk Al Munawwarah Jln. HKSN Gang Kencana RT 17 Banjarmasin pada tahun ajaran 2016/2017. Jumlah anak yang menjadi subjek penelitian adalah 16 orang terdiri dari 7 orang anak laki-laki dan 9 orang anak perempuan. Penelitian ini menggunaka pendekatan kualitatif, Teknik analisis data dilakukan menggunakan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi aktivitas guru dan anak, serta data kuantitatif di peroleh dari lembar hasil capaian perkembangan anak. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan pembelajaran dengan menggunakan kombinasi model Explicit Intruction dan Metode Pemberian Tugas dapat memperbaiki aktifitas guru dengan kategori sangat baik, aktifitas siswa menjadi sangat aktif dan perkembangan aspek fisik motorik halus mencapai dengan berkembang sangat baik.© 2017 j-PPras. All rights reserved
Kata kunci: Fisik motorik halus, media gambar, dan pemberian tugas
———
A. Pendahuluan
Pendidikan Anak Usia Dini upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak agar memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakkan dasar kearah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosial emosional (sikap dan perilaku serta beragama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini (Sujiono, 2012:6).
Pendidikan anak usia dini khususnya taman-taman kanak-kanak bertujuan untuk memberikan pengalaman dan mengarahkan kepada pertumbuhan batin, sehingga dengan pertumbuhan batin ini, pengalaman menjadi dasar dalam pertumbuhan dan upaya memicu pertumbuhan anak yang sesuai dengan potensi dan kebutuhannya masing-masing (Suriansyah, 2011:2).
Pertumbuhan pada anak usia dini merupakan individu yang berbeda, unik, dan memiliki karakteristik tersendiri sesuai dengan tahapan usianya pada masa ini, stimulasi seluruh aspek perkembangan memiliki peran penting untuk tugas perkembangan selanjutnya (Mulyasa, 2012:20).
Setiap aspek perkembangan kecerdasan anak, baik motorik kasar, motorik halus, dan kemampuan spriritualnya dapat berkembang secara pesat apabila memperoleh stimulasi lingkungan yang memadai. Hal ini penting, karena perkembangan yang terjadi pada masa ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya. Pada pendidikan anak usia dini dituntut untuk meningkatkan perhatiannya terhadap anak-anak, bukan sekedar tuntutan masyarakat atau orang tua. Kurikulum dan pembelajaran dikembangkan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan perkembangan anak, demikian halnya para pendidiknya harus memiliki mindset yang luas tentang anak-anak dan dunianya,
serta memahami berbagai keunikan anak (Mulyasa, 2012:37).
Perkembangan fisik motorik akan mempengaruhi kehidupan anak baik secara langsung maupun tidak langsung, perkembangan fisik akan menentukan kemampuan dalam bergerak secara tidak langsung pertumbuhan dan perkembangan. Perkembangan fisik meliputi perkembangan motorik kasar berhubungan dengan gerakan dasar yang terkoordinasi dengan otak seperti berlari, berdiri, berjalan, melompat, memukul, dan menarik. Sedangkan motorik halus berfungsi untuk melakukan gerakan yang lebih spesifik seperti melipat, menulis, menggunting, mengancingkan baju, mengikat sepatu dan sebagainya (Montolalu, 2009:4.6).
Perkembangan gerak motorik halus adalah meningkatnya pengkoordinasian gerak tubuh yang melibatkan otot dan syaraf yang jauh lebih kecil atau detail. Kelompok otot dan syaraf inilah yang nantinya mampu mengembangkan gerak motorik halus, seperti melipat, meremas kertas, merobek, menggambar, menulis, dan lain sebagainya (Suyadi, 2010:69). Dengan demikian perkembangan anak merupakan suatu perkembangan yang berhubungan langsung dengan gerakan otot dan syaraf. inilah yang nantinya mampu mengembangkan gerak motorik halus, seperti melipat, meremas kertas, merobek, menggambar, menulis, dan lain sebagainya.
Terkait permasalahan yang terjadi disekolah terletak pada lemahnya model dan metode yang digunakan dalam melakukan kegiatan melipat kertas yang lebih melibatkan guru dibandingkan dengan anak. Meskipun pada kegiatan melipat itu sangat membutuhkan banyak keterlibatkan guru tetapi juga perlu keseimbangan dengan keterlibatan anak sehingga kemampuan motorik anak dapat tercapai. Selain itu juga jarang dilakukannya kegiatan melipat kertas dalam pembelajaran yang dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan motorik halus anak melakukan gerakan yang rumit untuk dapat berkembang.
Berdasarkan pengamatan pada kelompok B di Tk Al Munawwarah Jln. HKSN Gang Kencana RT 17 Banjarmasin. Pada tahun ajaran 2016/2017, kemampuan motorik halus anak, untuk melakukan gerakan yang rumit khususnya dalam kegiatan meniru melipat kertas origami (1-7 lipatan) masih terlihat kurang. Kegiatan untuk mengembangkan kemampuan motorik halus dalam meniru melipat
kertas origami (1-7 lipatan) pada anak kelompok B di TK Al Munawwarah Jln. HKSN Gang Kencana RT 17 Banjarmasin, masih sangat jarang dilakukan. Hal ini menyebabkan kemampuan motorik halus anak rendah, sehingga tingkat pencapaiannya dari 16 orang anak belum tercapai, dimana 9 orang anak yang memiliki kemampuan motorik halus dalam meniru melipat kertas origami masih belum berkembang dengan nilai bintang satu ( ). 4 orang anak yang kemampuan motorik halusnya dalam meniru melipat kertas origami mulai berkembang dengan nilai bintang dua ( ). 2 orang anak yang kemampuan motorik halusnya dalam meniru melipat kertas origami berkembang sesuai harapan dengan nilai bintang tiga ( ). 1 orang anak yang kemampuan motorik halusnya dalam meniru melipat kertas origami berkembang sangat baik dengan nilai bintang 4 ( ). Dari hasil tersebut, terlihat bahwa sebagian besar anak belum mampu mengembangkan motorik halusnya yang apabila hal ini terus dibiarkan dan tidak diatasi maka akan memberikan akibat pada perkembangan kemampuan yang lainnya dalam diri anak.
Rendahnya kemampuan motorik halus anak dalam melakukan gerakan yang rumit seperti meniru melipat kertas origami (1-7 lipatan ) disebabkan oleh proses belajar mengajar yang cenderung berorientasi pada pengetahuan. Pendidik juga sangat jarang melakukan kegiatan melipat kertas, sehingga motorik halus anak untuk melakukan gerakan yang rumit tidak berkembang . selain itu, karena penggunaan model dan metode yang terasa monoton dan kurang bervariatif sehingga anak menjadi jenuh dan kurang tertarik dalam mengikuti kegiatan melipat. Pada saat melakukan kegiatan melipat anak mengalami kebingungan, merasa kesulitan dalam mengikuti kegiatan yang diarahkan pendidik karena terlalu cepat dalam menjelaskan kegiatan, sehingga menyebabkan anak menjadi gelisah dan tidak mau melanjutkan tugasnya atau pada akhirnya berujung pada anak yang meminta bantuan, bahkan yang lebih parahnya meminta buatkan pada gurunya.
B. Metodologi
Metodologi merupakan pedoman dalam mencapai tujuan penelitian (Dalle, 2010). Penelitian ini menggunaka pendekatan kualitatif, untuk melihat
bagaimana aktifitas guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran, Teknik analisis data dilakukan dalam penelitian ini menggunakan data kualitatif diperoleh dari lembar observasi aktivitas guru dan anak, serta data kuantitatif di peroleh dari lembar hasil belajar yang di kumpulkan kemudian disajikan dalam bentuk tabel persentasi. Data kualitatif diperoleh dari lembar observasi tersebut diolah dengan cara: data tentang aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran melalui model explicit instruction dan metode pemberian tugas di peroleh dengan memberikan penilaian berupa skor pada setiap aspek yang diobservasi.
Penelitian ini dilaksanakan dua siklus dengan empat kali pertemuan setiap akhir pertemuan dilakukan refliksi untuk perbaikan selanjutnya, pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas dilakukan dengan empat Tahap; (a) Menyusun Rencana Tindakan, (b) Pelaksanaan Tindakan, (c) Pengamatan, dan (d) Refleksi
Penelitian ini dilaksanakan di kelompok B Tk B Al Munawarah tahun pelajaran 2016/2017. Jumlah anak yang menjadi subjek penelitian adalah 16 orang terdiri dari 7 orang anak laki-laki dan 9 orang anak perempuan. Penelitian dilakukan pada bidang pengembangan motorik halus dengan tingkat pencapaian melipat sesuai dengan yang dicontohkan oleh gurunya, dengan penggunaan model pembelajaran explicit instruction metode pemberian tugas.
C. Hasil dan Pembahasan
Peningkatan aktivitas guru dikarenakan adanya refleksi yang dilakukan pada setiap akhir pertemuan. Refleksi dilakukan berupa perenungan kembali apa saja yang telah dikerjakan oleh guru didalam kelas atau pada saat pembelajaran berlangsung, setelah direnungkan kemudian diperbaiki oleh guru sendiri pada pertemuan selanjutnya. pada siklus 1 pertemuan 1 aktifitas guru memperoleh skor 18 dengan kategore cukup baik, pada pertemuan 2 terjadi peningkatan dengan mendapat skor 20 kategore cukup baik, sedangkan pada siklus 2 pada pertemuan 1 mendapat skor 22 kategore baik dan pada pertemuan 2 terjadi peningkatan lagi mencapai indikator keberhasilan mendapat skor 23 dengan kategore sangat baik.
Tercapainya indikator keberhasilan dalam penelitian ini guru dalam menjalankan tugasnya selalu memperbaiki langkah-langkah model explicit instruction dan metode pemberian tugas dalam pembelajaran disertai dengan penuh kesabaran, membimbing anak secara terus menerus. Apabila ada anak yang memerlukan bimbingan dalam menyelesaikan tugasnya, misalnya ada anak kesulitan dalam melipat kertas origami dengan bentuk alat komunikasi yang dianggap anak susah untuk dibedakan, guru sabar dalam membimbing sampai anak bisa dan benar melipatnya atau ketika ada anak mengalami kesulitan dalam memahami pembelajaran guru membimbing dan memberikan pemahaman atau perumpamaan yang mudah dimengerti.
Hal diatas sesuai dengan pendapat Arikunto (2012:115) yang menyatakan bahwa tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang utama menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas. Untuk itu, antar pendidik/guru perlu memiliki komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran secara terus menerus. Jika dalam penerapan suatu tindakan yang dipilih tidak/kurang berhasil maka ia harus tetap berusaha mencari alternative lain. Pendidik juga harus menggunakan pertimbangan dan tanggung jawab profesionalnya dalam mengupayakan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran.
Yamin dan Sanan (2010:69) menyatakan bahwa salah satu tugas guru adalah memberikan motivasi kepada anak didiknya untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik mungkin secara efektif dan produktif. Guru juga bertanggung jawab melaksanakan sistem pembelajaran agar berhasil dengan baik. Keberhasilan tergantung pada upaya guru membangkitkan motivasi belajar siswanya.
Metode pembelajaran digunakan guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. Sehubungan dengan hal itu kegiatan pembelajaran explicit instruction dan metode pemberian tugas dengan media gambar dan kertas origami, dapat mewujudkan suasana belajar yang membuat anak aktif dan
meningkatkan keantusiasan anak untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Model pembelajaran explicit instruction. Menurut kardi (dalam Uno dan Nurdin, 2013:118), Merupakan salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar anak. Strategi ini berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur dan dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. dapat berbentuk “ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktik”. Strategi ini juga dapat digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada anak (Huda, 2014:186).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa model explicit instruction merupakan pembelajaran yang diberikan kepada anak tentang pengetahuan yang dapat dimengerti anak dengan pembelajaran selangkah demi selangkah dan memberikan kesempatan kepada anak untuk latihan lanjutan yang dipimpin oleh guru.
Sedangkan Metode pemberian tugas merupakan metode yang diberikan kepada anak semata-mata untuk melatih persepsi pendengaran, meningkatkan kemampuan bahasa reseptif anak, memusatkan perhatian, dan mebangun motivasi anak, bukan melihat hasilnya. Oleh karena itu, sebaiknya dihindari pemberian tugas yang bersifat memaksa, mendikte, membatasi kreativitas anak terus menerus dalam bentuk pekerjaan rumah atau tugas-tugas lain yang membuat anak justru merasa tertekan, terpaksa, membuat anak bosan, bahkan mungkin sampai pada tingkat frustasi. Dan berikan tugas-tugas yang dapat meningkatkan kreativitas anak, menigkatkan imajinasi anak, melatih motorik, membuat anak lebih bergairah, lebih bersemangat, merasa senang, nyaman, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi belajar, dan tugas-tugas lain membuat anak merasa nyaman dan aman ketika belajar dilembaga PAUD.
Dengan demikian, tugas yang diberikan dapat mendorong anak-anak untuk lebih tertarik dan betah berada di lembaga PAUD, bukan sebaliknya, misalnya, tugas untuk menggambar bebas, mewarna, menempel, meronce, menggunting, dan melipat (Wiyani, 2012:143).
Meningkatnya aktivitas guru ini terjadi karena pada siklus II guru sudah mampu menerapkan langkah-langkah model explicit instruction dan
metode pemberian tugas dengan media gambar dan kertas origami dengan baik, penggunaan waktu yang lebih efektif, mampu menguasai kelas, mampu membimbing anak yang mengalami kesulitan.
Menurut kardi (dalam Uno dan Nurdin, 2013:118), Merupakan salah satu pendekatan mengajar yang dirancang khusus untuk menunjang proses belajar anak. Strategi ini berkaitan dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan procedural yang terstruktur dan dapat diajarkan dengan pola kegiatan yang bertahap, selangkah demi selangkah. dapat berbentuk “ceramah, demonstrasi, pelatihan atau praktik”. Strategi ini juga dapat digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan langsung oleh guru kepada anak.
Keberhasilan penelitian model explicit instruction
dan metode pemberian tugas dengan media gambar dan kertas origami ini didukung oleh beberapa penelitian terdahulu yang menunjukkan keefektifan seperti yang dilakukan oleh :
Sari (2015) yang berjudul Upaya Mengembangkan Aspek Motorik Halus Meniru Bentuk Melalui Kegiatan Menganyam Menggunakan Kombinasi Metode Demonstrasi Dan Metode Pemberian Tugas Pada Kelompok B Di TK Barunawati Banjarmasin Barat hal ini dapat dilihat pada aktivitas guru setiap pertemuan mengalami perbaikan dari siklus I ke siklus II hingga mendapat skor 34 dengan mencapai kriteria sangat baik.
Mira (2015) dengan judul Upaya Mengembangkan Aspek Motorik Halus (Menjiplak Bentuk) Menggunakan Media Spon Berpola Geometri Melalui Metode Demonstrasi dan pemberian tugas Pada Kelompok A Di TK Amalia Banjarmasin hal ini dapat dilihat pada aktivitas guru setiap pertemuan mengalami perbaikan dari siklus I ke siklus II hingga mendapat skor 36 dengan mencapai kriteria sangat baik.
Norhayati (2015) dengan judul Upaya Mengembangkan Aspek Motorik Halus Dalam Menggambar (finger painting) sesuai gagasannya menggunakan kombinasi model explicit instruction
dan metode bermain pada kelompok B1 dapat dilihat pada aktivitas guru setiap pertemuan mengalami perbaikan dari siklus I ke siklus II hingga mendapat skor 33 dengan mencapai kriteria sangat baik.
Mufidah (2015) yang berjudul Upaya Mengembangkan Aspek Motorik Halus (Mengkoordinasikan Mata Dan Tangan Untuk Melakukan Gerakan Yang Rumit) Menggunakan
Origami Melalui Metode Demonstrasi Dan Metode Pemberian Tugas Pada Kelompok A dapat dilihat pada aktivitas guru setiap pertemuan mengalami perbaikan dari siklus I ke siklus II hingga mendapat skor 26 dengan mencapai kriteria sangat baik.
Aktifitas anak dari setiap pertemuan dalam pembelajaran sebanyak dua siklus empat kali pertemuan selalu terjadi peningkatan aktivitas, keberhasil penelitian ini keaktifan anak mencapai indikator yang ditetapkan aktif dan sangat aktif minimal mencapai 85%. Secara klasikal keaktifan anak pada siklus I pertemuan 1 cukup aktif 88% dan kurang aktif 12% pada pertemuan 2 terjadi peningkatan cukup aktif 37% dan aktif 63%, setelah dilakukan refleksi pada setiap akhir pertemuan pada siklus 2 dilakukan perbaikan keaktifan anak pada pertemuan 1 aktif 63% sangat aktif 37% pada pertemuan 2 aktif 6% sangat 94%, sehingga pencapaian target pada indikator keaktifan anak yang ditetapkan dikatakan telah berhasil.
Peningkatan aktifitas siswa ini terjadi karena guru memperbanyak motivasi dan mulai membiasakan anak bekerjasama dengan teman seperti dikatakan oleh Ramadhan (2008) mengatakan bahwa motivasi yang kuat erat hubungannya dengan peningkatan keaktifan anak yang dilakukan dengan strategi tertentu dan motivasi belajar dapat diarahkan pada kegiatan-kegiatan tertentu. M. Solehuddin (2007) menyatakan anak merasa aman secara psikologis serta kebutuhan-kebutuhan fisiknya terpenuhi, anak membangun pengetahuan, anak beajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan anak lainnya, anak belajar melalui bermain, minat dan kebutuhan anak untuk mengetahui terpenuhi dan unsur perbedaan anak diperhatikan.
Menurut Natawidjaya dan HA. Moien Moesa (Soegeng Santoso, 2005) Belajar adalah proses perubahan yang terus menerus terjadi dalam diri individu yang tidak ditentukan oleh keturunan tetapi lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor dari luar. Perubahan itu terjadi dalam pandangan hidup, perilaku, keterampilan, persepsi, motivasi atau gabungan dari unsur tersebut. Berikut adalah hasil penelitian yang mendukung peningkatan aktivitas belajar anak dengan menggunakan model explicit instruction dan metode pemberian tugas dengan media gambar dan kertas origami yang dilakukan oleh :
Norhayati (2015) dengan judul Upaya Mengembangkan Aspek Motorik Halus Dalam Menggambar (finger painting) sesuai gagasannya menggunakan kombinasi model explicit instruction
dan metode bermain pada kelompok B1 dapat dilihat pada aktivitas anak dalam menggambar (finger painting) sesuai gagasannya dari 50% pada siklus 1 dan menjadi 80%.
Mufidah (2015) yang berjudul Upaya Mengembangkan Aspek Motorik Halus (Mengkoordinasikan Mata Dan Tangan Untuk Melakukan Gerakan Yang Rumit) Menggunakan Origami Melalui Metode Demonstrasi Dan Metode Pemberian Tugas Pada Kelompok A menyatakan bahwa pengembangan kemampuan motorik halus anak meningkat dan mencapai indikator keberhasilan yaitu pada siklus 1 memperoleh 21,43% dan pada akhir pertemuan di siklus 2 memperoleh 85%.
Milawati (2014) yang berjudul Upaya Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Anak Dalam Meniru Bentuk Menggunakan Metode Demonstrasi Pada Kelompok B1 menyatakan bahwa pengembangan kemampuan motorik halus anak meningkat dan mencapai indikator keberhasilan yaitu pada siklus I pertemuan I hanya 33%, pertemuan 2 meningkat menjadi 58%, pada siklus II pertemuan 1 menjadi 75% dan pertemuan 2 mencapai 92%.
Sari (2015) yang berjudul Upaya Mengembangkan Aspek Motorik Halus Meniru Bentuk Melalui Kegiatan Menganyam Menggunakan Kombinasi Metode Demonstrasi Dan Metode Pemberian Tugas Pada Kelompok B Di TK Barunawati Banjarmasin Barat hal ini dapat dilihat pada aktivitas anak Menganyam yang meningkat dari 47,29% pada siklus 1 dan menjadi 90,41% pada siklus 2.
Syamsiah (2014) dengan judul Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Dalam Menggunting Sesuai Pola Melalui Metode Demonstrasi Pada Kelompok B Di TK Negeri Pembina Banua Anyar Banjarmasin hal ini dapat dilihat pada aktivitas anak Menggunting Sesuai Pola yang meningkat dari 55% pada siklus 1 dan menjadi 90% pada siklus 2.
Hasil pencapai perkembangan motorik halus anak setiap kali pertemuan mengalami peningkatan, pada siklus 1 pertemuan 1 anak yang mendapatkan (mulai berkembang) sangat tinggi mencapai 94% sebanyak 15 orang sedangkan yang mendapat
(Berkembang Sesuai Harapan) 6% sebanyak 1 orang, pada pertemuan 2 terjadi peningkatan
Mulai Berkembang (MB) 75% sebanyak 12 orang mendapatkan bintang Berkembang Sesuai Harapan (BSH) 25% sebanyak 4 orang.
Setiap akhir pertemuan siklus 1 dilakukan refleksi dianalisis apa saja dilakukan perbaikan pada siklus 2. Setelah dilakukan perbaikan terjadi peningkatan pencapaian perkembangan motorik halus pada pertemuan 1 anak yang mendapatkan bintang mulai berkembang semakin berkurang 6% sebanyak 1 orang, bintang Berkembang Sesuai Harapan 56% sebanyak 9 orang dan Berkembang Sangat Baik (BSB) 38% se banyak 6 orang, pada pertemuan 2 siklus 2 ini terjadi lagi peningkatan anak yang mendapatkan Berkembang Sesuai Harapan 12% sebanyak 2 orang sedangkan yang mendapat Berkembang Sangat Baik 88% sebanyak 14 orang. Dengan hasil pencapaian perkembangan anak Berkembang Sesuai Harapan 12% dan BSB 88% = 100% berarti telah mencapai target indikator keberhasilan yang telah ditetapkan yaitu ≥90% dengan kategori minimal Berkembang Sesuai Harapan (BSH).
Meningkatnya perkembangan fisik motorik halus anak ini disebabkan suasana pembelajaran dalam model pembelajaran explicit instruction dan metode pemberian tugas dengan media gambar dan kertas origami sangat asyik dan mempraktekkan langsung kegiatan melipat kertas origami menggunakan media gambar dan kertas origami dengan berbagai macam warna, melihat gambar dan anak mampu menyebutkan tentang alat komunikasi apa yang mereka lipat/bentuk gambar tersebut sehinggaa terjadi interaksi dan komunikasi yang baik antara guru dan anak.
Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menfasilitasi dan meningkatkan interaksi dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Pembelajaran harus menghasilkan belajar tapi tidak semua proses belajar terjadi karena pembelajaran. Proses terjadi juga dalam konteks interaksi sosial dalam lingkungan masyarakat. Berdasarkan uraian diatas diambil suatu kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran
explicit instruction dan metode pemberian tugas dengan media gambar dan kertas origami dapat mengembangkan aspek fisik motorik halus anak dalam meniru melipat kertas origami (1-7 lipatan) sesuai dengan media gambar.
D. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan pada siklus I dan siklus II menunjukan aktifitas guru, aktifitas anak dan hasil pencapai perkembangan motorik halus anak telah mampu mencapai indikator yang telah ditetapkan. Jadi dengan menggunakan kombinasi model pembelajaran explicit instruction dan metode pemberian tugas di Kelompok B TK Al Munawarah Banjarmasin penelitian ini dikatakan berhasil karena dapat mengembangkan Aspek Motorik Halus anak (Melipat Kertas Sederhana 1-7 Lipatan).
Kombinasi model pembelajaran explicit instruction dan metode pemberian tugas disarankan dapat menjadi alternatif pemelihan model dan metode dengan menggunakan kertas origami untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif. Sehingga tercipta pembelajaran yang aktif dan menyenangkan tentunya dapat meningkat kualitas hasil pembelajaran
Daftar Rujukan
Arikunto, S. (2014). Penelitian tindakan kelas. Jakarta:PT. Bumi Aksara.
Dalle, J. (2010). Metodologi umum penyelidikan reka bentuk bertokok penilaian dalaman dan luaran: Kajian kes sistem pendaftaran siswa Indonesia. Thesis PhD Universiti Utara Malaysia.
Huda, M. (2014). Model-model pengajaran dan pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Montolalu. (2008). Bermain dan permainan anak. Jakarta: Universitas Terbuka.
Mulyasa. E. (2012). Manajemen PAUD. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sujiono, B.. (2005). Metode pengembangan fisik. Jakarta: Universitas Terbuka.
Suriansyah, A. (2011). Landasan pendidikan. Banjarmasin: Comdes.
Suriansyah, A. (2013). Panduan penulisan karya ilmiah. Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat.
Suyadi. (2010). Psikologi Belajar PAUD. Yogyakarta: pedagogia. Wiyani, A. N. (2012). Format PAUD. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Wiyani, A. N. (2014). Psikologi perkembangan anak usia dini.
Yogyakarta: Gava Media
Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 & Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2014. Bandung: Citra Umbara.
Mufidah, (2015). Upaya mengembangkan aspek motorik halus (mengkoordinasikan mata dan tangan untuk melakukan gerakan yang rumit). Banjarmasin: S1 PG-PAUD Banjarmasin.
Mira, (2015). Upaya mengembangkan aspek motorik halus (menjiplak bentuk). Banjarmasin: S1 PG-PAUD Banjarmasin.