Penyelidikan Geologi Dan Geokimia Di Daerah Panas Bumi Taliabu-Mangole, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara
Oleh: Herry Sundhoro, Andri E.A.W, dan Yuano Rezky Kelompok Penyelidikan Panas Bumi
Kata kunci: Geologi dan Geokimia, Daerah panas bumi Taliabu-Mangole, Kabupaten Kepulauan Sula.
SARI
Daerah pembahasan panas bumi Taliabu-Mangole ini terletak di Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, berada pada posisi geografis antara 123°00'00" - 126°30'00" bujur timur dan 01°00'00" - 02°30'00" lintang selatan atau
650000 mE - 830000 mE dan 9775000 mN - 9820000 mN pada koordinat UTM
Kehadiran manifestasi panas berupa lima kelompok mata air panas di dua wilayah, yaitu di pulau Taliabu dan di pulau Mangole. Manifestasi di pulau Taliabu terdiri dari mata air panas Losseng, Kramat dan Air Madi, sedangkan manifestasi di Pulau Mangole berupa mata air panas Auponia dan mata air panas Bruokol
Stratigrafi daerah penyelidikan Taliabu – Mangole terdiri dari lima daerah potensi panas bumi yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kelima daerah panas bumi tersebut yaitu, di Desa Losseng Kecamatan Taliabu Timur Selatan dinamakan daerah panas bumi Losseng, di Desa Kramat Kecamatan Taliabu Barat dinamakan daerah panas bumi Karma, di wilayah Desa Air Madi Kecamatan Taliabu Utara dinamakan daerah panas bumi Air Madi, di Desa Auponia Kecamatan Mangole Selatan dinamakan daerah panasb bumi Auponia dan di wilayah Desa Bruokol Kecamatan Mangole dinamakan daerah panas bumi Braukol.
Di daerah Lossengada empat jenis batuan teridentifikasi, Urutan stratigrafi dari tua ke muda terdiri dari granit Banggai, serpih sisipan batupasir Formasi Buya, batugamping koral, dan endapan permukaan, aluvium.
Di daerah Kramat teridentifikasi ada tiga jenis batuan. Urutan stratigrafi dari tua ke muda terdiri dari batu sabak Formasi Menanga, batupasir Kuarsa Formasi Buya dan endapan permukaan, aluvium.
Di daerah Air Madi dijumpai tiga satuan batuan. Urutan stratigrafi dari tua ke muda terdiri dari perselingan konglomerat dan serpih bersisipan lignit Formasi Bobong, serpih Formasi Buya, dan endapan permukaan, alluvium dan endapan gambut.
Di daerah Auponia dijumpai lima satuan batuan. Urutan stratigrafi dari tua ke muda terdiri dari ; granit, batugamping kristalin Formasi Nofanini, batupasir Formasi Buya, serpih Formasi Buya dan endapan permukaan, aluvium
Di daerah Bruokol. dijumpai tiga satuan batuan. Urutan stratigrafi dari tua ke muda terdiri dari breksi gunungapi, Formasi Batuan gunungapi Mangole, batugamping kristalin Formasi Batugamping Nofanini dan endapan permukaan, alluvium.
timur yang membentuk perlipatan dan sesar normal, arah utara – selatan yang membentuk sesar sesar mendatar dan sesar normal dan arah baratdaya – timurlaut dan baratlaut-tenggara yang terdiri dari sesar normal.
Karakteristik geokimia air panas berdasarkan diagram segi tiga Cl-SO4-HCO3,
Na-K-Mg dan Cl-Li-B Giggenbach, 1988 menunjukkan bahwa air panas di pulau Taliabu dan pulau Mangole umumnya bertipe air panas Klorida, sedangkan air panas Auponia mempunyai tipe air panas Sulfat-bikarbonat. Pengeplotan air panas di dalam diagram segitiga Na-K-Mg menunjukkan bahwa mata air panas di pulau Taliabu dan pulau Mangole berada di zona immature water, sedangkan mata air panas Air Madi dan Losseng 3 terletak di zona partial equilibrium dan merupakan contoh yang representatif yang berasal dari kedalaman Hasil pengeplotan di diagram segitiga Cl-Li-B menunjukkan bahwa semua mata air panas berada di zona Cl.
Perkiraan temperatur geotermometer SiO2 rata-rata berkisar antara 71 – 127°
C, yang termasuk kedalam temperatur panas bumi entalphi rendah, sedangkan geotermometer Na/K Giggenbach rata-rata berkisar antara 161 - 233° C yang menunjukkan temperatur cukup tinggi.
PENDAHULUAN
Latar belakang penyelidikan panas bumi di daerah Taliabu-Mangole karena berdasarkan informasi penduduk dan dari informasi terdahulu diketahui bahwa di daerah ini terdapat manifestasi panas bumi berupa mata air panas. Kelima daerah panas bumi yaitu: di Desa Losseng Kecamatan Taliabu Timur Selatan, di Desa Kramat Kecamatan Taliabu Barat, di wilayah Desa Air Madi Kecamatan Taliabu Utara, di Desa Auponia Kecamatan Mangole Selatan dan di wilayah Desa Bruokol Kecamatan Mangole.
Penyelidikan ini juga berkaitan dengan program pemerintah yang mentargetkan bahwa pada tahun 2015 akan dikembangkan energy listrik sebesar 10.000 Mwe yang akan dihasilkan dari potensi energy panas bumi. Selain itu diharapkan akan bermanfaat bagi pengembangan daerah dalam hal peningkatan produksi dan nilai tambah di sektor energi yang berasal dari energi panas bumi, sehingga mampu mempercepat peningkatan kesejahteraan ekonomi bagi daerah
pulau Taliabu dan pulau Mangole, Kabupaten Sula.
Lokasi penyelidikan geologi dan geokimia ini berada di dua pulau yang berdampingan, yaitu pulau Taliabu di bagian barat dan pulau Mangole di bagian timur.. Secara administratif kedua pulau termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara. Secara geografis daerah penyelidikan ini berada pada posisi 123°00'00" - 126°30'00" bujur timur dan 01°00'00" - 02°30'00" lintang selatan atau 650000 mE - 830000 mE dan 9775000 mN - 9820000 mN pada koordinat sistem UTM (Gambar 1.1).
Bruokol Kecamatan Mangole dinamakan daerah panas bumi Braukol.
Maksud penyelidikan adalah untuk mengetahui karakteristik geologi dan karakteristik geokimia yang berkaitan dengan aspek kepanas bumian di pulau Taliabu dan pulau Mangole.
Target penyelidikan adalah untuk mengetahui daerah prospek dan besarnya potensi kelas Sumber Daya Spekulatif masing-masing daerah panas bumi di dua pulau tersebut.
HASIL PENYELIDIKAN
Manifestasi Panas Bumi
Indikasi hadirnya energi panas bumi di Kabupaten Kepulauan Sula berupa adanya pemunculan lima kelompok mata air panas di pulau Taliabu dan di pulau Mangole. Manifestasi di pulau Taliabu berupa tiga kelompok, mata air panas yaitu, Losseng, Kramat dan Air Madi, sedangkan manifestasi di pulau Mangole berupa mata air panas Auponia dan Bruokol. Karakteristik pemunculan lima air panas tersebut, sebagai berikut, 1) Mata Air Panas Losseng di desa
Losseng, Kec. Taliabu Timur Selatan, terdapat tiga mata air panas, yaitu; Mata air panas Losseng 1, pada koordinat 723817 mT dan 9787945 mU. Temperatur
air panas 45,2° C dan temperatur udara 34,2° C. Pemunculannya terdapat di dekat\\
aliran sungai kecil sebagai pemandian warga.
Mata air panas Losseng 2 pada koordinat 724011 mT dan 9789902 mU. Temperatur air panas 77,4° C dan temperatur udara 32,7° C. Air panas muncul dari celah batuan di pinggir laut.
Mata air panas Losseng 3 pada koordinat 723698 mT dan 9789651 mU. Temperatur air panas 73,2° C dan temperatur udara sebesar 31,7°
C, rasa agak asin, berbau H2S. Air
panas Losseng umumnya mempunyai pH netral (6,82 – 7,32) dengan debit antara 5 – 6 lt/dt.
2) Mata air panas Kramat terletak di desa Kramat, Kecamatan Taliabu Barat dengan koordinat 649496 mT dan 9789596 mU. Temperatur air panas sebesar 39,2° C dan temperatur udara 33.8° C, pH netral (7,1).Terdapat 3 pemunculan air panas pada tempat berdekatan dan keluar dari celah batuan, air panas berwarna jernih dan tidak berbau H2S.
3) Mata air panas Air Madi terletak di desa Air Madi, Kecamatan Taliabu Utara pada koordinat 719964 mT dan 9805107 mU. Temperatur air panas 89,9° C dan temperatur udara 31.8° C, mempunyai pH netral (7,13); berbau H2S dan muncul pada aliran
sungai Air Madi.
4) Mata Air Panas Auponia terletak di desa Auponia Kec. Mangole Selatan, berupa 3 mata air panas.
Mata air panas Auponia 1 terletak pada koordinat 776646 mT dan 9788004 mU. Temperatur air panas 45,8° C dan temperatur udara 32,4° C. Pemunculannya melalui celah=celah batuan. di aliran sungai Auponia.
Mata air panas Auponia 2 terletak pada koordinat 777385 mT dan 9787706 mU. Temperatur air panas sebesar 56° C dan temperatur udara 26,8° C. Air panas keluar dari pinggir sungai Babalai dan berbau H2S.
Mata air panas Auponia 3 terletak pada koordinat 777002 mT dan 9788010 mU. Temperatur air panas sebesar 42,9° C dan temperatur udara sebesar 28,5° C. Air panas. muncul di pinggir sungai dan berbau H2S. Air panas Auponia umumnya
5) Mata Air Panas Bruokol terletak di desa Bruokol, Kecamatan Mangole dengan koordinat 805561 mT dan 9787899 mU. Muncul di rawa-rawa dengan temperatur air panas 49,4 – 31,5° C dan temperatur udara 31,5 – 32,1° C.
Geologi
Distribusi dan urutan batuan di setiap daerah panas bumi di pulau Taliabu dan di pulau Mongole berbeda. Urutan batuan itu adalah.
Di daerah Losseng ada empat batuan teridentifikasi, Urutan satuan batuan dari tua ke muda terdiri dari granit Banggai, serpih sisipan batupasir formasi Buya, batugamping koral dan endapan aluvium (Gambar 1.2).
Di daerah Kramat teridentifikasi ada tiga jenis batuan. Urutan satuan batuan dari tua ke muda terdiri dari batu sabak formasi Menanga, batupasir kuarsa formasi Buya dan endapan, aluvium. (Gambar 1.3).
Di daerah Air Madi dijumpai tiga satuan batuan. Urutan satuan batuan dari tua ke muda terdiri dari perselingan konglomerat dan serpih bersisipan lignit Formasi Bobong, serpih formasi Buya, endapan aluvium dan endapan gambut.( (Gambar 1.4).
Di daerah Bruokol. dijumpai tiga satuan batuan. Urutan satuan batuan dari tua ke muda terdiri dari breksi gunungapi, Formasi batuan gunungapi Mangole, Batugamping kristalin Formasi batugamping Nofanini dan endapan aluvium (Gambar 1.6).
Di daerah Auponia dijumpai lima satuan batuan. Urutan satuan batuan dari tua ke muda terdiri dari; granit, batugamping kristalin Formasi Nofanini, batupasir Formasi Buya, serpih Formasi Buya dan endapan aluvium (Gambar 1.5).
Struktur geologi daerah Taliabu – Mongole yang didasarkan dari hasil analisis citra ASTER GDEM, hasil penyelidikan di lapangan, dari peta topografi dan terhadap gejala-gejala struktur di permukaan berupa pemunculan mata air panas, kelurusan lembah dan punggungan, kekar-kekar, bidang sesar dan zona hancuran batuan, menunjukkan adanya pola struktur yang berkembang, terdiri dari tiga pola utama, yaitu struktur :arah barat – timur membentuk perlipatan dan sesar normal, struktur arah utara – selatan membentuk sesar sesar mendatar dan juga sesar normal dan struktur arah baratdaya – timurlaut dan baratlaut-tenggara yang membentuk sesar normal (Gambar 1.7),
Geokimia
Karakteristik dan Tipe Air Panas.
Untuk mengetahui karakteristik dan tipe air panas daerah penyelidikan, telah dilakukan plotting komposisi kimia kandungan ion, kation hasil analisis laboratorium air ke diagram segitiga Cl- SO4 -HCO3, Na-K-Mg, dan Cl-Li-B dari
Giggenbach. 1988. Tujuannya adalah agar diperoleh tipe air panas, asal pemunculan manifestasi, lingkungan pemunculan mata air panas dan perkiraan temperatur di bawah permukaan (reservoir).
Komposisi dan konsentrasi air panas di pulau Taliabu dan pulau Mangole di diagram segitiga Cl-SO4
-HCO3 memperlihatkan tipe air panasnya
mencerminkan adanya pengaruh aktifitas vulkanik.
Tipe air panas sangat dipengaruhi oleh komposisi, kondisi air panas, pemunculan dan pengaruh kontaminasi atau pengenceran air permukaan serta fluida uap yang berasal dari bawah permukaan. Fluida panas dari dalam selanjutnya mengalami pendinginan. Sehingga gas CO2 dan
sulfur dari fluida uap yang naik berinteraksi dengan batuan membentuk ion karbonat dan sulfat. Melihat konsentrasi Boron yang relatif tinggi, menginformasi bahwa air panas yang muncul di permukaan berkemungkinan besar telah melewati suatu batuan dasar sedimen. Demikian juga konsentrasi kimiawi yang tinggi mengindikasikan bahwa fluida panas tersebut berasal langsung dari kedalaman dengan temperatur dan tekanan tinggi yang menyebabkan senyawa kimia terlarut hasil dari interaksi fluida panas dengan batuan yang dilewatinya di kedalaman. Pengeplotan air panas dalam diagram segitiga Na/1000-K/100-√Mg menunjukkan bahwa air panas di pulau Taliabu dan pulau Mangole berada di zona immature water (Gambar 1.9). Hal ini mengindikasikan bahwa pemunculan air panas telah mengalami kontaminasi dan terencerkan air permukaan. Sedangkan air panas Air Madi dan Losseng 3 yang ada di zona
partial equilibrium merupakan contoh
representatif mengidentifikasikan fluida panas berasal langsung dari kedalaman dan hanya sedikit terpengaruh oleh air permukaan atau pengenceran air meteorik.
Hasil pengeplotan dalam diagram segitiga Cl-Li-B, menunjukkan bahwa semua air panas berada di zona Cl -(Gambar 1.10) yang mengindikasikan ada pengaruh air laut terhadap pemunculan air panas sangat besar.
Sedangkan air panas Air Madi yang ada
di zona partial equilibrium
berkemungkinan besar terpengaruhi oleh aktivitas magmatik.
Pendugaan Temperatur Bawah Permukaan
Geotermometri SiO2
conductive-cooling dan Na/K (Giggenbach, 1988)
lajim dipergunakan bagi air panas pH normal. Hasil estimasi temperatur bawah permukaan di pulau Taliabu dan pulau Mangole ditunjukkan dalam Tabel 1.
Perkiraan geotermometer SiO2
berkisar antara 71 – 127° C (entalfi rendah), sedangkan geotermometer Na/K Giggenbach menunjukkan kisaran nilai antara 161 - 233° C.
Melihat karakteristik kimia air panas Air Madi yang berada di zona partial equilibrium dan air panas Auponia yang bertipe sulfat-bikarbonat, pH normal dan suhu permukaan cukup tinggi. Maka geotermometer Na/K Giggenbach untuk air panas Air Madi adalah 173° C dan air panas Auponia adalah 186° C yang disimpulkan sebagai temperatur bawah permukaan bagi kedua daerah tersebut. Sedangkan geotermometer Na-K untuk air panas Losseng, Kramat dan Bruokol disimpulkan tidak layak, karena posisi pada segitiga Na/1000-K/100-√Mg berada di zona immature water. Estimasi geotermometri silika untuk ketiga air panas bawah permukaan daerah Losseng adalah 127° C, daerah Kramat 121° C dan daerah Bruokol 102° C.
Isotop 18O dan 2H
Hasil analisis isotop 18O dan Deuterium sampel air panas di pulau Taliabu dan pulau Mangole yang diplotkan pada diagram Oksigen-18 dan Deuterium, menunjukkan posisinya menjauhi garis air meteorik (meteoric
mengindikasikan telah terjadi pengkayaan 18O akibat dari interaksi fluida panas dengan batuan yang dilalui, mencerminkan bahwa mata air panas yang dianalisis tersebut berasal dari dalaman, sedangkan pengaruh pengenceran dari air meteorik kecil.
Analisis Gas
Sampel gas dari hembusan gas yang diambil dari air panas Auponia telah dianalisis. Kandungan gas sangat didominasi oleh gas CO2, H2S dan
sedikit N2, sedang kandungan gas-gas
yang lain relatif kecil (Tabel. 2).
Konsentrasi gas N2/Ar
menunjukkan sekitar 6 % mol
menandakan kontaminasi udara luar sedikit pada sampel gas yang diambil. Ini akibat kecilnya tekanan gas dari air panas Auponia yang berakibat udara luar bisa masuk ke dalam tabung. Kandungan CO2 yang cukup tinggi
menandakan reaksi yang berlangsung di kedalaman telah menghasilkan konsentrasi HCO3 yang tinggi di dalam
fluida air panas. Indikasi gas-gas tersebut dicerminkan oleh komposisi kimiawi mata air panas Auponia yang berupa tingginya kandungan ion karbonat. Hal ini mencerminkan fluida uap bertemperatur tinggi yang naik dari kedalaman mengalami proses pendinginan akibat penurunan temperatur. Sedangkan gas CO2 sisa
dalam uap yang naik berinteraksi dengan batuan membentuk ion karbonat. Kandungan H2S yang tinggi
diperkirakan bukan dari aktivitas magmatik, melainkan dari meteoric water, terlihat dari hasil plotting Grafik
origin of gases (Norman dan
Moore,1999 (Gambar 1.12). Yang menunjukkan bahwa gas daerah Auponia berasal dari meteoric water. Analisis Sampel Tanah dan Udara Tanah
Pengambilan 87 dan 80 sampel Hg tanah dan CO2 udara tanah dilakukan
secara random sekitar mata air panas. Hasil analisis sampel tanah dan udara tanah diperoleh nilai pH tanah 6,14–8,57, temperatur udara tanah di kedalaman 1 meter 24,8 – 42,7° C, konsentrasi Hg 15,15–169,75 ppb dan konsentrasi CO2
antara 0,5–14,45 %.
1) Daerah Panas Bumi di Pulau Taliabu (Losseng, Kramat dan Air Madi) Kandungan Hg tanah, CO2 udara
tanah, pH tanah dan temperatur tanah pada Tabel 3. selanjutnya dibuat peta kontur (Gambar 1.13 - 1.22),
Penghitungan nilai ambang (background value) Hg tanah dan CO2 berdasarkan
metode distribusi dan populasi, menunjukkan nilai anomali Hg tanah diatas 100 ppb untuk Losseng, 110 ppb untuk Kramat dan 80 ppb untuk Air Madi dan anomali kandungan CO2 bernilai
diatas 3 % (v/v) untuk Losseng dan 7 % (v/v) untuk Kramat.
Secara umum sebaran Hg di Losseng, Kramat dan Air Madi menunjukkan pola anomali yang tidak berarti karena konsentrasinya relatif merata. Sedang sebaran CO2 udara
tanah menunjukkan anomaly terfokus di sekitar manifestasi. Sebaran temperatur dan pH tanah tidak memperlihatkan adanya pola anomali karena temperatur dan pH tanah nilainya relatif normal dan sama.
2) Daerah Panas Bumi Pulau Mangole (Auponia dan Bruokol)
Data temperatur dan pH tanah di daerah panas bumi pulau Mangole relatif seragam tidak mengindikasikan adanya perbedaan berarti. Besarnya nilai ambang (background value) Hg tanah dan CO2 memakai metode distribusi dan
daerah Auponia dan 2 % (v/v) bagi daerah Bruokol.
Kandungan Hg diatas nilai ambang batas dijumpai terfokus di manifestasi Auponia. Pola sebaran Hg terkonsentrasi di sekitar mata air panas Auponia, membuka ke utara dari mata air panas. Untuk daerah Bruokol tidak dijumpai adanya anomali Hg.
Pola sebaran CO2 udara tanah,
temperatur dan pH tanah tidak memperlihatkan anomali, harga CO2
udara tanah, temperatur dan pH tanah relatif normal dengan nilai relatif sama. Sedikit anomali CO2 dijumpai yaitu di
sekitar mata air panas Auponia. Data menunjukkan bahwa anomali Hg dan CO2 daerah Auponia dijumpai di sekitar
mata air panas Auponia dengan pola sebaran ke utara. Diperkirakan daerah tersebut merupakan zona-zona lemah dari struktur yang muncul di tempat tersebut.
ASPEK LINGKUNGAN
Parameter umum sifat fisika dan sifat kimia air panas di pulau Taliabu dan pulau Mangole yang dikaitkan dengan peruntukan air minum yang mengacu pada standar persyaratan Kepmenkes RI Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang: Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, telah dianalisis.
Hasil analisis menunjukkan bahwa air panas di pulau Taliabu dan pulau Mangole tidak layak untuk dipergunakan bagi air minum karena konsentrasi senyawa kimia Boron, Na, Cl, Ca, SO4
sangat tinggi dan melebihi batas maksimum yang diperbolehkan. Nilai daya hantar listrik (DHL) sangat tinggi diatas 1.000 μS/cm, bahkan untuk air panas Losseng nilainya diatas 10.000
μS/cm yang menandakan banyak ion-ion terlarut di dalam air panas tersebut.
Konsentrasi gas dari air panas di pulau Taliabu dan pulau Mangole di ukur dengan detektor gas, menunjukkan nilainya di bawah ambang batas konsentrasi gas di udara. Di daerah Losseng konsentrasi gas CO2 10 ppm,
H2S 2 ppm, SO2 sebesar 0,005 ppm dan
CO tidak terdeteksi, Di Auponia konsentrasi CO2 150 ppm, H2S 3 ppm,
SO2 dan CO tidak terdeteksi. Dari hasil
tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat pencemaran udara dari air panas di pulau Taliabu dan di pulau Mangole.
POTENSI PANAS BUMI DI PULAU TALIABUDAN DI PULAU MANGOLE
Potensi panas bumi dihitung berdasarkan kepada luas daerah prospek dan temperatur fluida bawah permukaan.
Temperatur bawah permukaan dipergunakan untuk mengasumsikan nilai rapat daya (MWe/km2), sedangkan luas daerah prospek diperkirakan dari sebaran manifestasi permukaan dan lamparan struktur geologi.
Geotermometri Na-K dipergunakan untuk air panas Air Madi yang bertipe klorida, pH netral, di zona partial equilibrium, sedikit sekali terpengaruh oleh pengenceran air meteorik, yang mencerminkan air panas dominan berasal dari kedalaman.
Daerah Kramat dan Losseng lebih sesuai apabila menggunakan geotermometri SiO2 karena air panas
berada di zona immature water yang menunjukkan pengaruh air permukaan cukup dominan.
Daerah Air Madi dengan geotermometer 173° C dan Losseng 127° C (entalfi sedang).. dijadikan satu
prospek Losseng 2 km2 dengan rapat daya 5 MWe/km2 sehingga jumlah potensi keduanya sebesar 30 MWe.
Daerah Kramat mempunyai suhu bawah permukaan 120 °C (entalfi rendah) dengan rapat daya 5 MWe/km2 dan luas daerah prospek 2 km2, maka potensi kelas Sumber Daya Spekulatif sebesar 10 MWe.
Daerah panas bumi Auponia dengan geotermometer 186° C (entalpi sedang) dengan rapat daya 10 MWe/km2 dan luas daerah prospek 2 km2. didapatkan potensi kelas Sumber Daya Spekulatif sebesar 20 MWe.
Daerah Bruokol mempunyai suhu bawah permukaan 102° C (entalpi rendah) dengan rapat daya 5 MWe/km2 dan luas daerah prospek 1 km2, didapatkan potensi kelas sumber daya spekulatif adalah 5 MWe.
LOKASI PROSPEK PANAS BUMI
Berdasarkan karakteristik geologi, kimia air panas dan lokasi manifestasinya , daerah prospek panas bumi di pulau Taliabu dan pulau Mangole dibagi menjadi empat daerah, yaitu Losseng – Air Madi dengan potensi 30 Mwe, Auponia dengan potensi 20 Mwe, Kramat dengan potensi 10 Mwe dan Bruokol dengan potensi 5 Mwe (Gambar 1.16 dan 1.17)
KESIMPULAN
Energi panas bumi di pulau Taliabu dan di pulau Mangole berasosiasi dengan pembentukan aktivitas magmatik baru yang tidak tersingkap di permukaan, yang menjadi sumber panas
(heat sources) dan juga berhubungan
dengan aktivitas tektonik yang sedang berproses. Pulau Taliabu dan pulau Mangole dibentuk oleh dua sistem panas bumi yang berbeda. Sistem panas bumi
di pulau Taliabu berasosiasi dengan batuan plutonik, sedangkan sistem panas bumi di pulau Mangole berasosiasi dengan batuan vulkanik dan plutonik.
Pola struktur yang berkembang di pulau Taliabu terdiri dari tiga pola r, yaitu, arah barat – timur yang membentuk perlipatan dan sesar normal, arah Utara – selatan yang membentuk sesar sesar mendatar dan normal dan arah baratlaut-tenggara yang membentuk sesar normal.
Energi panas yang hilang (heat loss) di daerah panas bumi pulau Taliabu dan pulau Mangole adalah sebesar ± 2709.03 kWth atau 2,7 MWth.
Temperatur bawah permukaan daerah Taliabu sekitar 120 - 173o C dan daerah Mangole sekitar 100 - 186o C dengan potensi Sumber Daya Spekulatif untuk daerah Lossseng-Air Madi sebesar 30 MWe, daerah Kramat 10 MWe, daerah Auponia 20 MWe dan daerah Bruokol 5 MWe.
Berdasarkan karakteristik geologi, kimia air panas dan lokasi manifestasi, daerah prospek panas bumi di pulau Taliabu dan pulau Mangole dibagi menjadi empat daerah, terdiri dari potensi di daerah Losseng – Air Madi sebesar 30 Mwe, di Auponia sebesar 20 Mwe,di Kramat sebesar 10 Mwe dan di Bruokol sebesar 5 Mwe.
SARAN
Gambar 1.1. Lokasi penyelidikan Daerah penyelidikan
\
Gambar 1.3 Peta Geologi daerah Kramat, Taliabu, MalukuUtara.
G
Ga
Ga
Gambar 1.7.
ambar 1.5 Pet
ambar 1.6. P
Pola struktur
ta Geologi da
eta Geologi d
di pulau Tali
aerah Auponia
daerah Bruoko
iabu dan di pu
a, Mangole, M
ol, Mangole,
ulau Mangole
Maluku Utara
Maluku Utar
e, Maluku Uta a.
ra.
Gambar 1.8. Diagram segitiga Cl-SO4-HCO3
Gambar 1.9. Diagram segitiga Na-K-Mg
Tabel 1. Konsentrasi kimiawi dan geotermometri air panas daerah Taliabu Mangole
Kode Air Panas APBG APAP2 APAP3 APLS1 APLS3 APKR APBR
Temp 89,9 56 42,9 45,2 77,4 39,2 56,2
pH 7,13 7 7 7,32 6,82 7,1 7
SiO2 74,38 65,28 70,12 24,17 83,17 73,19 49,11
Na 491,2 161,4 156,3 1588 2542,00 936,54 814,43
K 21,14 8,56 9,48 56,00 257,00 69,33 53,46
T SiO2 (cc) 121 115 118 71 127 121 101
T SiO2 (ac) 119 114 117 76 124 119 102
T NaK (G) 173 186 195 161 233 210 201
Gambar 1.11. Grafik isotop δ18O terhadap δ2H (Deuterium)
Tabel. 2 Hasil analisis kimia gas daerah Auponia, P. Mangole
Gas Auponia (% Mole)
H2 0,0000
O2 1,7933
Ar 0,1298
N2 5,0113
CH4 0,0056
CO2 33,1755
SO2 0.0000
H2S 59,8847
HCl 0.0000
NH3 0.0000
Gammbar 1.12. Gr
Gambar 1.1
rafik origin of
13. Peta sebar
of gases (Norm
ran CO2 tanah
man and Moo
h daerah Kram ore,1999)
Gambar 1.14. Peta sebaran CO2 tanah daerah Auponia
390 Prosiding Hasil Kegiatan Pusat Sumber Daya Geologi