• Tidak ada hasil yang ditemukan

Survey Toolbox untuk Penyakit Ternak

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Survey Toolbox untuk Penyakit Ternak"

Copied!
361
0
0

Teks penuh

(1)

Penyakit Ternak

Pedoman Praktis dan Piranti Lunak untuk

Surveillance Aktif Penyakit Ternak

di Negara Sedang Berkembang

(2)

diemban adalah membantu mengidentifikasi masalah-masalah pertanian di negara sedang berkembang dan menjadi komisi kerjasama penelitian antara peneliti Australia dan negara sedang berkembangdi bidang dimana Australia mempunyai kompetensi penelitian tertentu.

Dalam hal nama dagang digunakan, bukan berarti menyatakan atau mengusulkan ataupun diskriminasi bagi hasil siapapun oleh ACIAR.

© Australian Centre for International Agricultural Research, 1999

Cameron, A.R. 1999. Survey Toolbox for Livestock Diseases - A Practical Manual and Software Package for Active Surveillance in Developing Countries

ACIAR Monograph m 54, vii + 330 p.

ISBN 1 86320 234 X

(3)

Surveillance adalah suatu sistem atau teknik pengukuran untuck memperoleh gambaran mengenai kondisi populasi melalyui pengumpulan, analisis, dan interpretasi data dengan harapan dapat dideteksi sedini mungkin kasus penyakit atau perubahan kesehatan hewan dalam populasi. Hasil surveillance adalah arah pelaksanaan pengobatan dan/atau pencegahan kondisi penyakit dalam populasi. Kegiatan ini sangat penting dilakukan dan dalam penerapannya, ternyata banyan hal yang harus diperhatikan agar dapat diperoleh kesimpulan yang paling mendekati kenyataan sebenarnya. Buku Survey Toolbox: Pedoman Praktis dan Piranti Lunak untuck Surveillance Penyakit Ternak di Negara Sedang Berkembang ini diterjemahkan dari buku dengan judul asli: “Survey Toolbox: A Practical Manual and Software Package for Active Surveillance of Livestock Diseases in Developing Countries” oleh Dr. Angus Cameron. Buku ini merupakan bahan kuliah dalam kursus Pelatihan yang dilaksanakan dalam kerangka kerjasama Pemerintah Indonesia dan Australia. INI ANSREDEF telah memperoleh kepercayaan dan kesempatan untuck membantu pelaksanaan pelatihan tersebut dan melalui alih bahasa ini sangat diharapkan kelancaran pelaksanaan pelatihan, tanpa dibayangi kendala komunikasi. Selanjutnay diharapkan bahwa ilmu pengetahuan praktis yang diperoleh peserta dapat berkembang dikemudian hari.

Penyusun buku ini, Dr. Angus Cameron dari Australia, adalah seorang dokter hewan lulusan University of Sydney tahun 1988 yang mempunyai minat khusus dalam bidang epidemiologi, surveillance dan sistem informasi di negara berkembang. Dr. Cameron memperoleh gelar MVS dari University of Melbourne tahun 1992 dengan mendalami pengobatan dan pembedahan sapi perah, dan selanjutnya memperoleh gelar Ph.D dari University of Queensland dengan disertasi mengenai surveillance aktif dan sistem informasi geografis bidang kesehatan hewan.

Alih bahasa buku ini dikerjakan oleh suatu tim dan kendala utama yang dihadapi adalah terbatasnya istilah-istilah teknis dalam Bahasa Indonesia yang mungkin belum memasyarakat secara luas, disamping terbatasnya waktu yang tersedia, sehingga diakui masih banyan istilah yang belum baku telah digunakan. Kepada pimpinan Balai Penelitian Ternak dan Balai Penelitian Veteriner, linkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Badan Litbang Pertanian disampaikan penghargaan atas bantuan dan kerjasama baik yang diberikan.

Kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran penyusunan buku ini disampaikan penghargaan dengan disertai rasa terima kasih. Semoga apa yang telah dihasilkan dapat dimanfaatkan demi pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Tim alih bahasa:

Dr. Andi Djajanegara

Drh. Indra Tjahyono

Ir. Bambang Setiadi, MS

Dr. Soebandriyo

Drh. Agus Nurhadi, MS

(4)

epidemiologi, surveillance dan sistem informasi di negara sedang berkembang. Dia memperoleh gelar kesarjanaannya (S1) dari University of Sydney pada tahun 1988, dan bekerja di peternakan sapi perah di Victoria selama beberapa tahun. Dia melengkapi gelar Masternya (S2) di bidang ilmu pengobatan dan pembedahan sapi perah melalui University of Melbourne pada tahun 1992. Angus menjadi anggota the Australian College of Veterinary Scientists pada tahun 1993.

Angus pernah tinggal dan bekerja di Thailand dan Laos, dimana dia mengambil studi Doktornya (PhD) di bidang surveillance aktif dan sistem informasi geografik untuk kesehatan hewan. Gelar ini dianugrahkan oleh University of Queensland pada tahun 1998. Dia senang bekerja di bagian lain negara-negara Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Indonesia.

Angus saat ini tinggal di Blue Mountain, NSW, Australia, dan bekerja sebagai konsultan bidang keheewanan.

(5)

Teknik surveillance, prosedur dan piranti lunak yang dipaparkan dalam buku ini telah dikembangkan selama kursus dua proyek penelitian yang didanai oleh ACIAR. Pertama berjudul “Improve methods in diagnosis, epidemiology, economics and information management in Australia and Thailand”, dan berlangsung dari tahun 1994 hingga 1996. Yang kedua, “Development of field survey and information management techniques for animal health priority setting in the Lao People’s Democratic Republic” berlangsung dari tahun 1996 hingga 1998.

Saya ingin mengucapkan terima kasih atas dukungan yang berarti/penting dari semua pihak yang telah terlibat dalam proyek tersebut.

• ACIAR, dan khususnya, Dr John Copland

• Thai Department of Livestock Development: Dr Pornchai Chamnanpood, Head of Epidemiology Section, Northern Veterinary Research and Diagnostic Laboratory, dan staf

• Lao Department of Livestock and Fisheries: Mr Singkham Phonvisay, Director General of the Department; Dr Mahanakhone Sourinya, Head of Animal Health Division; Dr Sounthone Vonthilath, Deputy Head; Dr Siseng Khounsy, Head of Research Section; and staff

• University of Queensland: Dr Pramod Sharma, Department of Geographical Sciences and Planning; Dr Steve Harrison, Department of Economics

• Australian Animal Health Laboratory (AAHL): Dr Harvey Westbury dan Mr Stuart Blacksell

• Staf the Queensland Department of Primary Industries

• Anggota-anggota the veterinary services of Philippines, Vietnam, Cambodia, and Malaysia

• Dr Murray Maclean dari the Cambodia-Australia Agricultural Extension Project • Peternak rakyat Laos dan Thailand utara, yang berpartisipasi dalam

kegiatan-kegiatan surveillance

(6)
(7)

Carry out a livestock disease survey Learn more about active surveillance

What is active surveillance and what is it used for?

Methods for selecting a sample

Collecting information using village interviews

Restraining animals and collecting specimens

Analysing survey data Estimate disease prevalence

Estimate disease incidence

Detect disease or demonstrate freedom from disease

I'm not sure What type of information

do you want to collect?

What do you want to do?

Chapter 6 Chapter 5 Chapter 4 Chapter 3 Chapter 2 Chapter 7 Chapter 8 Chapter 9 Page 36

Using the computer programs

(8)

Bab 1: Introduksi . . . 1

Bagian II: Latarbelakang Survai Penyakit . . . 11

Bab 2: Prinsip-prinsip Umum Surveillance Penyakit Hewan . . . 13

Bab 3: Sampling . . . 39

Bab 4: Prinsip-prinsip Pengumpulan Data dan Spesimen . . . 87

Bab 5: Wawancara Pedesaan . . . 111

Bab 6: Manajemen dan Analisa Data dengan Komputer . . . 129

Bagian III: Rancangan dan Analisis Survai . . . 149

Bab 7: Survai Prevalensi . . . 155

Bab 8: Survai Laju Insiden . . . 175

Bab 9: Survai untuk Membuktikan Bebas Penyakit . . . 197

Bagian IV: Catatan untuk Pelatih . . . 217

Bab 10: Pedoman untuk Pelatih . . . 219

Bab 11: Rencana Pelajaran . . . 229

Bab 12: Lembar Kegiatan . . . 269

Bagian V: Appendices . . . 295

Appendix A: Glossary of Epidemiological Terms . . . 297

Appendix B: Persamaan Statistik . . . 307

Appendix C: Program Komputer . . . 321

(9)
(10)

Introduksi

Daftar isi Bab 1.: Introduksi

Surveillance Aktif Untuk siapa buku ini ?

Cara menggunakan buku dan piranti lunak

Bagian I: Latarbelakang Survai Penyakit

Bab 2: Prinsip-prinsip Umum Surveillance Penyakit Hewan Bab 3: Sampling

Bab 4: Prinsip-prinsip Pengumpulan Data dan Spesimen Bab 5 Wawancara Pedesaan

Bab 6: Manajemen dan Analisis Data dengan Komputer

Bagian II: Rancangan dan Analisis Survai

Bab 7: Survai Prevalensi Bab 8: Survai Laju Insiden

Bab 9: Survai untuk membuktikkan bebas penyakit

Bagian III: Catatan untuk Pelatih

Bab 10: Pedoman untuk Pelatih Bab 11: Rencana Pelajaran Bab 12: Lembar kegiatan

(11)

Penyakit ternak berdampak nyata di banyak negara berkembang. Umumnya masyarakat di negara-negara ini hidup di daerah pedesaaan, dan tergantung dari usaha pertanian untuk hidup. Budidaya ternak dapat menjadi sumber pangan seperti daging, susu dan telur: kotoran ternak untuk pupuk dan bahan bakar, bulu dan kulit untuk sandang, dan sumber tenaga kerja untuk pertanian dan transport. Ternak juga berfungsi sebagai tabungan, yang dapat dijadikan tunai melalui penjualan ternak bila diperlukan. Disamping keuntungan bagi pemilik ternak sendiri, industri usaha ternak tradisional dan intensif juga memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional, terutama di negara berkembang dengan terbatasnya industri utama lainnya. Penyakit ternak dapat menyebabkan kerugian yang besar, untuk pemilik ternak maupun negara secara keseluruhan. Di banyak negara berkembang, mewabahnya penyakit ternak utama sering terjadi, dan kurang diawasi, dengan berakibat kematian ternak dalam jumlah yang besar. Penyakit ternak kronis atau sub-klinis kurang spektakuler juga berdampak kerugian yang besar melalui rendahnya tingkat fertilitas, penurunan bobot badan, inefisiensi penggunaan pakan, atau ketidak mampuan ternak untuk bekerja. Penyakit zoonosis (penyakit yang menyerang manusia dan ternak) memberikan dampak penting bagi kesehatan masyarakat.

Pihak-pihak yang berwenang dalam bidang veteriner di banyak negara berkembang menghadapi masalah. Masalah penyakit hewan yang dihadapi lebih besar dan menyebabkan kerugian yang besar dibandingkan rekan-rekannya di negara maju, tetapi sarana yang dimiliki untuk mengatasi maslahnya sering terbatas.. Pengendalian penyakit ternak utama yang umumnya timbul di masyarakat pedesaan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin. Modal dan sumber daya lainnya sangat terbatas, sehingga program pengendalian penyakit di negara berkembang harus menggunakan sumber daya yang ada secara efisien. Teknologi yang berhasil di negara maju sering sangat mahal atau tidak praktis untuk digunakan di negera berkembang.

Jadi ada kebutuhan akan teknik-teknik yang praktis dan efisien untuk mengatasi penyakit ternak yang secara khusus dikembangkan dengan memperhatikan kendala yang dihadapi negara berkembang. Buku ini bertujuan untuk menunjukkan beberapa hal yang dibutuhkan itu melalui peningkatan pengumpulan informasi.

Satu cara untuk mengendalikan penyakit secara lebih efisien adalah menggunakan pendekatan “unggulan” atau strategis. Misalnya, daripada menggunakan pendekatan “blanket” yang mahal untuk vaksinasi dimana diusahakan setiap hewan divaksinasi, suatu pemahaman mengenai penyebaran penyakit dalam populasi akan merupakan pendekatan yang lebih murah.

Example: Bayangkan suatu negara dengan wilayah pusat pengembangan sapi. Wilayah ini mengirimkan sapi ke usaha kecil yang kurang intensif di bagian-bagian lainnya. Bilamana penyebaran penyakit di wilayah ini tinggi, ini akan menyebar keseluruh negeri. Vaksinasi yang ditargetkan di pusat pengembangan sapi yang kecil akan memberikan dampak nyata yang sangat luas bagi kasus penyakit di seluruh negara, karena wilayah ini merupakan sumber infeksi utama.

Walaupun pola penyebaran penyakit jarang sesederhana seperti digambarkan dalam contoh, hal itu mendemonstrasikan suatu butir yang penting. Untuk mengendalikan penyakit secara efisien, sangat penting untuk lebih dahulu mengetahui distribusi penyakit. Dalam contoh diatas, harus diketahui (1) dimana

Pengendalian penyakit strategis Pentingnya penyakit ternak

(12)

usaha ternak sapi intensif dan tradional berada, (2) tingkat penyakit di wilayah yang berbeda dan (3) pola penyebaran sapi antar wilayah. Dengan informasi ini, dapat dikembangkan strategi pengendalian yang lebih efisien - hanya vaksinasi dengan target usaha intensif. Ini akan melibatkan hanya memvaksinasi sejumlah kecil ternak, disamping biaya distribusi vaksin yang lebih murah (karena infrastruktur transportasi seyogyanya lebih baik di wilayah intensif). Strategi ini mungkin juga menurunkan tingkat penyakit seluruh negara sampai tidak menimbulkan kerugian nyata lagi atau dapat pula seluruhnya dibasmi (stamping out = penyembelihan seluruh ternak yang terkena wabah).

Buku ini mencakup beberapa teknik untuk mengumpulkan informasi kesehatan hewan di negara berkembang. Teknik-teknik telah dikembangkan untuk memberikan informasi kualitas tinggi dengan biaya minim, dengan memperhatikan infrastruktur dan kendala lainnya. Informasi yang diperoleh akan memberikan pengetahuan akan pola penyakit, dan pada gilirannya dapat digunakan untuk mengembangkan program pengendalian penyakit hewan yang unggul dan efisien, disamping upaya lain sebagaimana dibahas dalam Bab 2.

Informasi ini digunakan untuk monitoring dan surveillance. Badan dunia kesehatan hewan (OIE - Office International des Epizooties) mendefinisikan terminologi sebagai berikut:

Surveillance berarti pemeriksaan berkelanjutan dari suatu populasi untuk mendeteksi kejadian penyakit untuk tujuan pengendalian, yang dapat mencakup pengujian sebagian dari populasi.

Monitoring merupakan pelaksanaan program ditujukan untuk pendeteksian perubahan prevalensi suatu penyakit dalam satu populasi dan lingkungannya.

Surveillance Aktif

Pusat dari teknik yang digunakan dalam buku ini adalah penggunaan surveillance aktif. Sebagaimana dibahas dalam Bab 2, sistem pelaporan penyakit secara tradisional, seperti keharusan melaporkan terjadinya wabah penyakit, atau penggunaan data pengiriman ke laboratorium (dikenal sebagai surveillance pasif), mempunyai berbagai kekurangan. Laporan kurang/terbatas, pembiayaan dan laporan yang kurang mewakili merupakan beberapa kendala utama yang dihadapi. Surveillance aktif berbeda dari surveillance pasif , karena menggunakan survai pada sejumlah kecil sampel yang mewakili populasi untuk mengumpulkan informasi khusus mengenai populasi tersebut. Kunci keuntungan surveillance aktif adalah bahwa mutu informasi yang dikumpulkan umumnya lebih baik, informasi menggambarkan situasi sebenarnya dalam keseluruhan populasi, dan sering lebih cepat dan lebih murah untuk mengumpulkan dibanding metoda pasif.

Walaupun ada masalahnya, sistem pelaporan pasif merupakan sumber informasi penyakit yang penting. Sistem pelaporan penyakit pasif setidaknya dimanfaatkan disemua negara, tetapi hanya beberapa negara saja yang biasa menggunakan surveillance aktif, walaupun ada kelebihannya. Ini sebagian karena teknik yang tepat guna sebelumnya tidak tersedia, dan staf kesehatan hewan belum terlatih dengan ketrampilan yang diperlukan. Buku ini menggambarkan bagaimana teknik surveillans aktif dapat diterapkan dan memberikan ketrampilan yang dibutuhkan.

Surveillance

Monitoring

Surveillance Aktif

(13)

Untuk Siapa Buku Ini ?

Buku ini untuk mereka yang bekerja dalam bidang pengendalian kesehatan ternak di negara berkembang, terutama, tetapi tidak eksklusif, mereka yang terkait dengan pelayanan kesehatan hewan dari pemerintah. Ini dirancang untuk digunakan 3 tingkat staf yang berbeda.

Pertama adalah, buku ini ditujukan bagi ahli epidemiologi nasional atau sub-national, yang bertanggung jawab dalam perencanaan dan monitoring program pengendalian penyakit hewan dan pengumpulan dan analisis informasi penyakit ternak. Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang bekerja untuk organisasi donor internasional atau organisasi pengembangan. Buku ini memberikan semua informasi dan cara untuk merencanakan, menerapkan, dan menganalisis survai penyakit hewan, disamping bantuan pelatihan bagi staf lapangan.

Kelompok kedua, akan kegunaan buku ini adalah staf kesehatan hewan pusat atau tingkat propinsi yang bertanggung jawab dalam implementasi survai penyakit. Buku ini memberikan deskripsi rinci mengenai teknik lapangan yang diperlukan untuk keberhasilan pelaksanaan survai. Kelompok ini mungkin tidak begitu membutuhkan pemahaman rinci mengenai rancangan survai.

Ketiga, staf kesehatan hewan lokal atau kabupaten, yang bertanggungjawab atas hampir seluruh kegiatan lapangan terkait dengan survai penyakit akan dapat menemukan semua prosedur dan teknik yang diperlukan. Staf ini tidak memerlukan pengetahuan mendalam mengenai teknik rancangan survai dan analisisnya, akan tetapi membutuhkan pengetahuan mendalam mengenai pengumpulan spesimen, sampling secara random dan teknik wawancara di pedesaan.

Cara menggunakan buku ini dan piranti

lunak

Buku dilengkapi dengan satu set program pernangkat lunak, secara kesulurhan disebut “Survey Toolbox”. Buku dan piranti lunak sangat terkait dan dirancang untuk fleksibel, tergantung dari kebutuhan dan kesukaan pengguna.

Penggunaan piranti lunak

Kegunaan dari program komputer adalah untuk membantu dalam perencanaan, implementasi dan analisis survai yang dijelaskan dalam buku. Banyak prosedur survai (seperti seleksi random dari kerangka sampling, atau analisis data yang dikumpulkan dalam survai seroprevalensi dua tahap) menyita waktu atau menuntut formula yang sangat kompleks dan ketrampilan statistik khusus. Untuk memberikan staf kesehatan hewan melaksanakan dan menganalisa survai tanpa bantuan ahli statistik, semua prosedur dan formula telah diterapkan dalam satu set program komputer yang dirancang khusus untuk survai yang dijelaskan dalam buku ini.

Setiap program melaksanakan tugas yang khusus and dapat digunakan secara independen. Program tidak memberikan satu set masukan data lengkap atau cara analisis statistik. Bilamana analisis selanjutnya atau manipulasi data diperlukan, suatu database terpisah atau program statistik seperti Epi Info1 harus digunakan. Hanya prosedur khusus yang tidak tersedia dimanapun telah dimasukkan.

Penggunaan masing-masing program dalam Survey Toolbox dijelaskan dalam buku ini. Saat penggunaan salah satu program dibahas, satu icon komputer seperti yang yang disuguhkan ini akan muncul di margin kiri, dan nama program muncul

Staf Nasional

Staf Provinsi

Staf lokal atau kabupaten

(14)

dalam Bold Type. Suatu daftar nama dan penggunaan dari setiap program, termasuk

penunjukkan halaman dimana hal tersebut dibahas, diberikan dibawah ini, sedangkan deskripsi lengkap kegunaannya, input dan output data setiap program diberikan dalam Appendix C.

Nama Program (Program Name)

Kegunaan (Purpose) Hala

man Random Village Seleksi acak dari daftar desa

(Random selection from a list of villages)

50

Random Animal Seleksi acak hewan dalam desa (Random selection of animals in a village)

58

RGCS Win95 Seleksi titik geographis secara acak (Selection of random geographic points)

68

RGCS ArcView Titik Acak dengan peta antara

(Random points with map interface)

69

Prevalence Ukuran sampel dan analisis survai prevalens dua tahap

(Sample size and analysis of two-stage prevalence surveys)

160

Compare Prevalence Membandingkan hasil dua survai prevalens (Compare the results of two prevalence survey)

167

True Prevalence Merubah prevalensi semu ke sebenarnya (Convert apparent to true prevalence)

165

Survival Analisis ketahanan untuk survai penyakit mewabah

(Survival analysis for disease outbreak surveys)

177

Survival Size Ukuran sampel untuk survai penyakit mewabah

(Sample size for disease outbreak surveys)

173

CapRecap Analisis dua sampel untuk estimasi laju insiden (Two-sample analysis for incidence rate estimates)

187

FreeCalc Ukuran sampel dan analisis dari survai untuk menunjukkan bebas penyakit

(Sample size and analysis of surveys to demonstrate freedom from disease)

198

Survey Toolbox Menu utama memberikan akses ke semua program

(Main menu giving access to all programs)

5

Survey Toolbox adalah menu utama, ditunjukkan dibawah ini, dan memberikan

akses cepat dan mudah atas semua program. Ia memberikan kaitan utama antara buku dan semua program.

(15)

Yang diperlukan

Program telah ditulis untuk digunakan dengan Windows 95 dan compatible operating systems (IBM compatible computers) terbaru. Instal secara lengkap (termasuk copy elektronic dari teks ini) menempati 5 megabytes dari hard disk. Kalau hanya program saja yang di-instal maka akan menempati 2 megabytes.

Beberapa dari program ini juga tersedia dalam versi MS-DOS untuk komputer yang lebih lama (sebagaimana ditunjukkan dalam daftar Appendix C). Ini ditempatkan dalam CD dibawah direktori \MSDOS

Cara install

Bila anda menginstall dari CD atau floppy disk, masukkan disk dan click ,dan pilih Settings | Control Panel. Dari Control Panel, double click pada icon

Start

Add/Remove Programs, dan click Install. Program Windows Install akan menuntun

anda melalui langkah-langkah selanjutnya.

Untuk versi MS-DOS bagi beberap program, pindah ke \MSDOS directory (kalau menggunakan CD), atau masukkan Disk 3 (kalau menggunakan floppy disk). Buat direktori baru dalam hard disk dengan nama \ToolBox and copy semua file dalam directori tersebut.

Menjalankan

Bila menggunakan versi Windows 95, program install akan membuat entry baru dalam Start menu, dengan nama Survey Toolbox. Click pada icon iniuntuk membuka daftar dari program-program yang ada, lalu click pada program yang diinginkan. Anda mungkin ingin membuat shortcut pada Survey Toolbox menu dalam desktop

anda, untuk memudahkan akses (cari pada Windows Help cara membuat shortcut).

Menggunakan buku

Buku ini dibagi dalam 4 bagian

Bagian I, Latarbelakang Survai Penyakit memberikan informasi rinci mengenai macam-macam teknik dan prosedur terkait dengan surveillance penyakit. Epidemiologis nasional yang merancang survai harus mereview informasi ini, termasuk mereka yang terlibat dalam pelatihan tenaga lapangan Staf Kesehatan Hewan Dati Iiyang bertanggung jawab untuk pelaksanaan lapangan mungkin dapat melewati beberapa bagian, tetapi akan menemukan informasi yang berguna mengenai sampling ternak di pedesaan, hambatan, koleksi spesimen, dan wawancara di desa pada Bab 3, 4 dan 5.

Bagian II, Pedoman Melaksanakan Survai memberikan deskripsi rinci mengenai tiga tipe survai yang dijelaskan dalam buku ini. Ini bacaan sangat penting bagi epidemiologis nasional dan bagi mereka yang bertanggungjawab dalam prenecanaan dan mengorganisir survai penyakit. Staf tingkat propinsi dan pusat yang bertanggungjawab untuk implementasi survai di lapangan harus membaca Bab mengenai tipe survai yang relevan dan beberapa seksi akan sangat berguna bagi staf lapangan di tingkat Dati II.

Windows 95

(16)

Bagian III, Catatan bagi Pelatih , secara khusus ditargetkan bagi mereka yang ingin menggunakan buku ini sebagai dasar pelatihan staf survai. Isinya mengenai pedoman mengenai siapa yang harus menjadi pelatih, dan teknik-teknik pelatihan yang efektif. Selanjutnya dilanjutkan dengan suatu serial rencana pengajaran, diagi dalam tiga kursus pelatihan. Terdapat juga kumpulan daftar aktivitas untuk membantu mengorganisir aktivitas pelatihan partisipatif.

Bab IV, Appendices, mengandung informasi tambahan yang mungkin berguna untuk beberapa pembaca. Terikut adalah Glossary dari terminologi statistik dan epidemiologi yang digunakan dalam teks, daftar formula statistik yang digunakan (diterapkan dalam piranti lunak), daftar program piranti lunak komputer, contoh form koleksi data yang dapat dicopy dan digunakan, dan sebuah daftar isi CDF atau floppy disks.

Buku ini dirancang untuk memudahkan penggunaannya. Bagi mereka yang perlu pemahaman mengenai prosedur survai dan semua latarbelakang yang penting, seara mendalam, mulai dari Bagian 1 dan bacaan sampai akhir akan mendapatkan pemahaman yang mendalam. Banyak penguna akhir tidak memerlukan seluruh informasi, dan karenanya dapat memilih. Ada tiga cara untuk melakukan ini :

• Gunakan daftar isi untuk menemukan Bab yang diinginkan, atau indeks untuk mendapatkan referens khusus yang diinginkan.

• Lihat gambar flow chart berikut (juga ditampilkan di bagian dalam sampul). Ini akan menuntun anda menuju referens flow chart lainnya atau instruksi keseluruhan buku dan membantu anda menentukan informasi apa yang diperlukan dan bagaimana melaksanakan prosedur survai. Flow chart menunjuk sesuai halaman dimana anda dapat menemukan informasinya. • Gunakan tabel dibawah ini, yang mencantumkan seksi-seksi yang

direkomendasikan untuk berbagai kalngan pembaca.

Melaksanakan survai skala luas membutuhkan keterlibatan sejumlah staf lapangan. Buku ini juga dirancang untuk digunakan sebagai sumber pelatihan sebagai bagian dari kursus pelatihan. Bagian III khusus dirancang untuk pelatih, dan menyediakan catatan, latihan-latihan, dan acuan rencana pengajaran untuk kursus pelatihan. Banyak materi dalam buku ini telah dirancang untuk memudahkan di copy sebagai materi pelatihan.

Bagaimana memperoleh informasi yang anda butuhkan

(17)

Chapter / Section National Epidemiologist or Development Worker Trainer responsible for training field survey staff Provincial or State staff coordinating surveys District staff performing field survey activities 1. Introduction U U 2. Principles of Surveillance U U U 3. Sampling U U U U 4. Data Collection U U U U 5. Village Interviews U U U U 6. Data Management U U U 7. Prevalence Surveys U ° ° °

8. Incidence Rate Surveys U ° ° °

9. Freedom from Disease U ° ° °

10. Trainers Notes U

11. Lesson Plans U

12. Activity Sheets U

U Should read this section

° Read this section only if conducting the relevant survey type

What chapters should you read?

(18)

Carry out a livestock disease survey Learn more about active surveillance

What is active surveillance and what is it used for?

Methods for selecting a sample

Collecting information using village interviews

Restraining animals and collecting specimens

Analysing survey data Estimate disease prevalence

Estimate disease incidence

Detect disease or demonstrate freedom from disease

I'm not sure What type of information

do you want to collect?

What do you want to do?

Chapter 7 Chapter 8 Chapter 9 Page 36 Chapter 6 Chapter 5 Chapter 4 Chapter 3 Chapter 2

Using the computer programs

(19)

Latar belakang Survai Penyakit

Beberapa bab pada Bagian I buku ini memperkenalkan beberapa ide-ide penting dalam melakukan survei penyakit ternak. Kisaran konsep dan teknik-teknik praktis didiskusikan, yang mencakup semua aspek proses survei.

Bab 2, Prinsip-prinsip Umum Surveillance Penyakit Hewan, memperkenalkan beberapa prinsip surveillance dan kebutuhan untuk survei ternak. Beberapa konsep penting disamping survei didiskusikan, juga ukuran-ukran perbedaan dari penyakit. Bab 3 berhubungan dengan sampling survei. Menseleksi suatu sampel adalah bagian yang paling sulit dalam pelaksanaan survei yang akan menghasilkan hasil yang akurat, juga memberikan latar belakang informasi, sehingga kisaran pendekatan praktis untuk melakukan sampling didiskusikan.

Ketika sampel telah diseleksi, kerja lapang survei perlu dilakukan, dan informasi dikumpulkan. Bab 4, Prinsip-prinsip Pengumpulan Data dan Spesimen, memberikan petunjuk untuk mengumpulkan data wawancara, pengendalian hewan, dan pengumpulan spesimen.

Wawancara di desa memainkan peran kunci dalam teknik-teknik yang dipaparkan dalam buku ini. Ini dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi berkualitas baik dengan cepat dan tidak mahal. Bab 5 dicurahkan untuk suatu diskusi tentang teknik-teknik untuk melakukan wawancara desa yang berhasil.

Ketika data telah dikumpulkan, kemudian perlu dianalisa untuk menghasilkan informasi yang bermanfaat. Komputer merupakan bagian integral dari teknik-teknik yang dipaparkan dalam buku ini., sehingga mereka mampu membebaskan staf survei dari kebutuhan akan ketrampilan statistik tingkat tinggi. Bab 6, Komputerisasi Manajemen Data, memperkenalkan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk mengelola dan menganalisa data menggunakan komputer. Teknik analisa khusus untuk rancangan survei yang berbeda dicakup dalam Bagian II.

(20)
(21)

Prinsip-prinsip Umum Surveillance Penyakit

Hewan

Daftar Isi Bab 1. Introduksi

Bagian I.: LatarBelakang Survai Penyakit Hewan

Bab 2: Prinsip-prinsip Umum Surveillance Penyakit Hewan Informasi Penyakit Hewan

Survai Penyakit Tolok Ukur Penyakit Test Diagnostik

Survai yang harus dilakukan Bab 3 : Sampling

Bab 4 : Prinsip Koleksi Data dan Spesimen Bab 5 : Wawancara Pedesaan

Bab 6 : Manajemen dan Analisis Data dengan Komputer

Bagian II. : Rancangan dan Analisis Survai

Bab 7 : Survai Prevalensi Bab 8 : Survai Laju Insiden

Bab 9 : Survai untuk membuktikan bebas penyakit

Bagian III.: Catatan untuk Pelatih

Bab 10 : Pedoman untuk Pelatih Bab 11: Rencana Pelajaran Bab 12 : Lembar Kegiatan

(22)

Informasi penyakit Hewan

Informasi status penyakit hewan ternak dibutuhkan oleh berbagai individu dan organisasi, termasuk pemilik ternak, pihak yang berwenang di bidang kehewanan tingkat kabupaten, propinsi dan nasional, swasta, organisasi penelitian, organisasi Dokter Hewan regional dan internasional. Masing-masing pihak akan menggunakan informasi tsb untuk berbagai keperluan. Pembahasan difokuskan pada kebutuhan petugas kesehatan hewan tingkat nasional dan sub-nasional.

Mengapa pihak yang berwenang di bidang kehewanan

membutuhkan informasi kesehatan hewan ?

Peran pihak yang berwenang di bidang kehewanan tingkat nasional adalah mengendalikan penyakit hewan, meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak nasional, dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat. Untuk itu informasi penyakit dibutuhkan dalam

• identifikasi penyakit yang ada di suatu negara; • penentuan tingkat dan lokasi penyakit;

• penentuan kepentingan penyakit masing-masing

• penentuan prioritas penggunaan sumber daya untuk pengendalian penyakit • perencanaan, penerapan dan monitor program pengendalian penyakit hewan • tanggap terhadap menyebarnya wabah penyakit

• memenuhi persyaratan pelaporan dari organisasi internasional ( misalnya OIE) • menggambarkan status penyakit pada mitra dagang

Pengumpulan informasi kesehatan hewan

Surveillance pasif

Metode utama pengumpulan informasi penyakit ternak dewasa ini di berbagai negara adalah sistem pelaporan penyakit secara pasif. Jika hewan ditemukan sakit, pemilik menemui pihak yang berwenang di bidang kehewanan, yang selanjutnya dapat melaporkan kejadian penyakit tersebut, atau mengirimkan spesimen ke laboratorium diagnostik. Laporan-laporan dan/atau hasil pemeriksaan spesimen merupakan informasi mengenai penyakit yang timbul dalam negeri. Informasi yang dikumpulkan tidak menyangkut semua penyakit atau semua kasus penyakit yang terjadi. Di banyak negara peraturan mengharuskan melaporkan adanya penyakit untuk mendorong pelaporan penyakit hewan yang diprioritaskan, tetapi penyakit-penyakit lain tidak dilaporkan.

Sistem ini dinamakan sistem pelaporan pasif atau “surveillance pasif” karena pengguna utama informasi ini (petugas kesehatan hewan) tidak memulai pengumpulan informasi. Pemilik hewan memberikan laporan, dan pihak yang berwenang di bidang kehewanan pusat menunggu (secara pasif) sampai laporan tiba. Dalam surveillance pasif juga termasuk penggunaan informasi yang terkumpul untuk kepentingan lain, misalnya diagnosis.

Pelaporan pasip Pengguna informasi penyakit Hewan

(23)

Surveillance pasif adalah sistem dimana pihak yang berwenang di bidang kesehatan hewan tidak melaksanakan pengumpulan informasi penyakit secara aktif, dan hanya menunggu sampai laporan kejadian penyakit datang pada mereka.

Sistem pelaporan pasif memberikan informasi penting yang dibutuhkan pihak yang berwenang di bidang kehewanan. Laporan, terutama yang ditunjang laboratorium diagnostik, memberikan informasi mengenai jenis penyakit yang ada, dan di lokasi mana. Juga diperoleh informasi yang diperlukan untuk tanggap pada kemungkinan penyebaran penyakit. Tetapi surveillance pasif juga mempunyai beberapa kendala.

Masalah yang paling penting adalah “laporan terbatas/kurangnya laporan”. Walaupun peraturan mengharuskan dilaporkannya penyakit tertentu, laporan sangat tergantung dari beberapa orang: pertama pemilik harus mengetahui bahwa hewannya sakit, dan kemudian melaporkannya pada petugas. Petugas kemudian melaporkan ke pusat atau membawa spesimen ke laboratorium diagnostik. Di banyak negara, ada beberapa langkah lagi dimana misalnya laporan harus melalui kantor tingkat propinsi atau regional, akan tergantung dari lebih banyak lagi orang. Hubungan yang paling lemah dalam rantai pelaporan adalah pemilik hewan, yang mungkin tidak tahu mengenai penyakit, atau gagal melaporkannya karena berbagai alasan. Hasilnya adalah bahwa tidak semua kasus penyakit terlaporkan. Sangat kecil kemungkinan untuk menduga tingkat kurangnya pelaporan (walaupun Bab 8 menguraikan salah satu cara), jadi tidak akan mungkin menghitung jumlah total kasus penyakit.

Example: Dua kota, Dogtown, and Canineville, mencoba menanggulangi penyakit gila anjing (rabies). Keduanya mempunyai jumlah anjing yang dapat dikatakan sama. Pihak yang berwenang di bidang kehewanan di Dogtown telah sepakat untuk memulai kampanye vaksinasi rabies secara gratis pada semua anjing. Kota Canineville memutuskan untuk tetap mengenakan biaya vaksinasi rabies. Setelah satu tahun, catatan laboratorium diagnostik penyakit hewan di kedua kota diperiksa. Kota Dogtown, dengan vaksinasi gratis menghadapi 35 kasus positip rabies, dan di Caninecville 78. Apakah pelaksanaan vaksinasi gratis dapat dikatakan berhasil ?

Jumlah diagnosis yang lebih rendah di Dogtown menunjukkan bahwa kampanye telah berhasil. Akan tetapi, ada banyak kemungkian lain yang menyebabkan hasil diagnosis lebih rendah. Apabila proporsi anjing berkeliaran di Dogtown lebih tinggi dari Canineville, maka banyak anjing yang berkeliaran telah mengidap penyakit dan mungkin mati tanpa diketahui atau dilaporkan. Biaya untuk vaksinasi gratis mungkin berarti bahwa kota tersebut harus mengurangi petugas dokter hewan. Petugas yang tinggal mungkin telah bekerja melebihi batas, sehingga tidak mempunyai waktu untuk mengirimkan spesimen dugaan penyakit ke laboratorium. Sebaliknya, laboratorium mungkin menggunakan uji diagnosis rabies

(24)

yang berbeda (misalnya Stain Seller di Dogtown, dan Fluorescent Antibody Test di Caninesville) yang menyebabkan rendahnya tingkat positif di Dogtown.

Informasi dari laboratorium karenanya tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan keberhasilan penerapan vaksinasi gratis.

Sistem pelaporan pasif sering tidak dapat memberikan informasi mengenai jumlah penyakit, karena kurangnya laporan.

Masalah lain dengan sistem pelaporan pasif adalah banyaknya alasan lain yang menyebabkan laporan tidak sampai saat hewan sakit. Alasan-alasannya berbeda antar daerah dan tipe pemilik hewan.

Example: Di suatu negara berkembang, Mountania, terdapat dataran tinggi yang sangat luas dengan infrastruktur kurang baik. Beberapa usaha ternak sapi komersial berada di daerah subur dataran rendah dekat kota, tetapi umumnya ternak sapi dipelihara peternak kecil di dataran tinggi. Pemeriksaan atas catatan laporan penyakit hewan menunjukkan banyak dilaporkan kejadian penyakit mulut dan kuku (FMD) dari usaha ternak sapi intensif dekat kota, tetapi hampir tidak ada laporan dari peternak kecil di dataran tinggi. Apa yang dapat disimpulkan mengenai distribusi FMD di negara tersebut ?

Catatan tingkat kejadian FMD lebih banyak didapatkan di peternak komersial dibandingkan peternak kecil, dan lebih banyak kejadian FMD di dataran rendah daripada di dataran tinggi. Nyatanya kesimpulan ini tidak seluruhnya benar. Usaha ternak intensif dekat perkotaan lebih berpeluang untuk menghubungi petugas kesehatan hewan dan melaporkan setiap kejadian penyakit. Peternak kecil di wilayah yang sulit dijangkau mungkin tidak tahu bahwa mereka harus lapor, atau mungkin tidak dapat kontak dengan petugas untuk lapor. Pola laporan tidak menggambarkan pola penyebaran penyakit tetapi perbedaan efisiensi sistem pelaporan di daerah yang berbeda.

Pelaporan sistem pasif umumnya tidak memberikan infomasi gambaran tingkat penyakit dalam populasi, atau pola geoprafisnya. Lebih banyak laporan dapat diperoleh dari satu bagian populasi dibandingkan lainnya.

Masalah ke tiga dengan sistem pelaporan pasif adalah bahwa jumlah populasi dimana laporan kejadian penyakit disampaikan umumnya tidak diketahui. Ini menyebabkan tidak mungkin dihitung beberapa tolok ukur yang berguna dari suatu penyakit, seperti laju dan proporsi. Laju dan proporsi memungkinkan dilakukan perbandingan nilai dari populasi yang berbeda. Dua tolok ukur yang sering digunakan adalah prevalensi (suatu proporsi) dan laju insiden, dibahas dalam Tolok Ukur Penyakit (hal 26).

Laju adalah tolok ukur frekwensi kejadian dalam populasi. Proporsi diukur berdasarkan persentase

(25)

Example: Dua propinsi berdampingan, satu lebih luas dengan jumlah desa pemeliharaan sapi lebih tinggi, mencoba mengatasi penyakit haemorrhagic

septicaemia (HS). Laporan dari lapangan selama tahun sebelumnya menunjukkan menyebarnya penyakit HS di 36 desa propinsi yang lebih luas dan 24 kejadian dipropinsi yang lebih kecil. Propinsi mana yang mempunyai tingkat penyakit yang lebih tinggi ?.

Walaupun lebih banyak kejadian penyakit di propinsi yang lebih luas, juga didapatkan lebih banyak desa dengan sapi yang diduga menderita penyakit tersebut, sehingga dapat diduga penyebaran penyakit akan berlanjut. Dalam membandingkan antar propinsi, perlu diketahui jumlah desa setiap propinsi. Permasalahannya adalah beberapa desa tidak melaporkan, walaupun terjadi penyebaran penyakit (mungkin karena mereka tidak dapat dihubungi, atau mungkin kepala desa pernah berselisih paham dengan petugas kesehatan hewan setempat dan menolak untuk berbicara dengannya). Ke 36 laporan adalah dari propinsi yang lebih luas yang diterima dari desa yang melaporkan penyebaran penyakit. Jumlah desa yang melaporkan (tetapi tidak mengalaminya) juga diperlukan untuk menghitung laju insidennya, tetapi nilai ini tidak diketahui.

Laporan pasif kejadian penyakit mempunyai tingkat kepercayaan rendah untuk menghitung laju kejadian penyakit atau proporsi.

Masalah ini dengan sistem pelaporan pasif membatasi nilai informasi yang dikumpulkan. Walaupun demikian, informasi yang ada dapat digunakan untuk : • identifikasi jenis penyakit yang ada di suatu negara (tetapi bukan membuktikan bahwa beberapa penyakit tidak ada), bilamana penyakit terdiagnosa secara tepat.

• identifikasi lokasi kejadian penyakit (tetapi bukan menunjukkan dimana kejadian penyakit tidak ada).

• tanggap pada kejadian penyebaran penyakit.

• memenuhi persyaratan dasar pelaporan penyakit oleh OIE

Sebaliknya, informasi yang terkumpul secara pasif, tidak dapt digunakan untuk :

• menentukan tingkat dan pola penyebaran geographis dari penyakit • menentukan penting tidaknya penyakit tersebut

• menentukan prioritas penggunaan sumberdaya untuk aktifitas pemberantasan penyakit

• merencanakan, penerapan, dan monitor program pemberantasan penyakit, atau menggambarkan status penyakit pada mitra dagang

Surveillance Aktif

Dalam surveillance aktif, pengguna utama informasi (umumnya pihak yang berwenang di bidang kehewanan) membuat langkah aktif untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Berbeda dengan surveillance pasif, alasan utama untuk mengumpulkan informasi adalah surveillance. Karena pengumpulan informasi

Kegunaan sistem pelaporan pasif

Keterbatasan sistem pelaporan pasif

(26)

diawasi pengguna, sangat dimungkinkan untuk meyakinkan bahwa mutu informasi yang diberikan tepat.

Untuk mengatasi masalah surveillance pasif, surveillance aktif harus dapat :

• Menghindari masalah lemahnya pelaporan

• mengumpulkan informasi yang benar-benar mewakili situasi penyakit yang benar dalam populasi, dan

• didapatkan dari populasi yang diketahui jumlahnya untuk memungkinkan penghitungan laju dan proporsi.

Cara yang paling praktis untuk mencapai ini adalah melalui survai penyakit yang tersusun rapi. Survai mempunyai dua nilai tambah : dapat dengan cepat diterapkan, dan relatif murah (dibandingkan dengan pelaksanaan sistem pelaporan pasif yang efektif).

Surveillance aktif menggunakan survai penyakit terstruktur untuk mengumpulkan informasi penyakit yang bermutu tinggi secara cepat dan murah.

Survai Penyakit

Untuk menghasilkan laporan lengkap (dengan tolok ukur frekuensi penyakit yang tepat), sistem pelaporan penyakit pasif perlu mengumpulkan informsi mengenai setiap kasus penyakit penting dalam negara. Untuk mencapai ini, setiap hewan harus diperiksa secara teratur. Tipe koleksi data ini dikenal sebagai sensus, dimana setiap anggota populasi harus di uji. Karena pelayanan kesehatan hewan tidak mampu melaksanakan ini, maka hal ini menjadi tanggung jawab pemilik hewan, yang sedikit atau tidak meperoleh latihan diagnosa penyakit. Karenanya beberapa pemilik gagal untuk mengenali penyakit.

Sensus memeriksa setiap anggota populasi. Survai hanya memeriksa sebagian kecil dari populasi

Populasi, unit perhatian dan sampel

Ini mengenalkan dua buah konsep yang penting.: populasi dan sampel. Populasi adalah semuanya dalam suatu segi tertentu yang ingin diketahui. Populasi umumnya adalah hewan, tetapi dapat mencakup segi-segi lain (desa, petani dan pemilik ternak). Hal-hal yang menyusun populasi disebut : unit perhatian (units of interest).

Sensus

(27)

Example: Kita ingin lebih banyak tahu mengenai pox pada kambing (goat pox) dan memutuskan dilaksanakannya survai nasional untuk menentukan tingkat penyebaran penyakit. Tujuan survai adalah untuk memperkirakan prevalensi kambing dalam negeri yang mengalami cacar kambing (goat pox). Populasi yang menjadi perhatian adalah semua kambing yang ada. Unit perhatian adalah hewan (kambing).

Example: Survai dirancang untuk mengkaji dampak ekonomi mastitis. Tujuannya adalah menduga prevalensi sapi yang menderita mastitis. Untuk menentukan tingkat penyakit, tolok ukur perhatian terletak pada populasi yang terdiri dari semua sapi perah laktasi. Unit perhatian adalah hewan (sapi perah laktasi).

Example: Kita mempelajari kejadian penyakit Classical Swine Fever (CSF) dalam sekumpulan babi di pedesaan. Kita ingin menghitung prevalensi pedesaan yang terjangkit penyebaran penyakit tahun lalu. Populasi yang diperhatikan adalah semua desa yang mempunyai babi. Unit perhatian adalah desa.

(28)

Sampel adalah kelompok kecil dari unit perhatian (hewan, manusia, desa) yang telah dipilih dari populasi. Setiap elemen dalam sampel diperiksa untuk mendapatkan informasi penyakit.

Suatu survai mencakup pemeriksaan sekelompok kecil (sampel) dari elemen (atau unit perhatian) yang diambil dari semua elemen yang menjadi perhatian (populasi).

Ada satu masalah dengan survai. Sekali kita telah memeriksa setiap elemen dalam sampel, kita tahu dengan pasti status penyakit dari sampel. Akan tetapi, kita tidak tahu apa-apa mengenai populasi sisanya yang tidak diperiksa.

Example: Suatu kampanye vaksinasi nasional telah dimulai untuk mengatasi penyakit Aujeszky (Pseudotabies) pada babi. Kita ingin memonitor efektivitas kampanye dan melakukan survai untuk menentukan prevalensi babi yang mempunyai antibodi pencegahan tehadap penyakit tersebut. Terdapat 8 juta babi dalam populasi. Daripada memeriksa seluruh babi, hanya diambil contoh 200 ekor babi, yang diambil darahnya dan diperiksa kadar antibodi. Ditemukan bahwa 164 ekor babi(82 % dari jumlah babi yang diperiksa) mengandung antibodi pencegah penyakit. Berapa proporsi dari populasi yang memiliki antibodi pencegahan

Tidak ada cara untuk mengetahui situasi penyakit dalam populasi karena 7.999.800 ekor babi sisanya tidak diperiksa. Sangat mungkin (tetapi sulit dicapai) bahwa tidak ada satupun dari hewan-hewan tersebut telah divaksinasi dan dalam sampel 200 ekor yang diambil, kita telah menguji hanya 164 ekor babi yang telah divaksinasi di seluruh negeri.

Pendugaan (Inferensi)

Bilamana survai menunjukkan banyak hal dari sejumlah kecil hewan, tetapi tidak mengenai sisa populasi, maka apa nilai kegunaanya? Bagaimana kita dapat menggunakan hasil survai untuk mempelajari sesuatu mengenai hewan yang tidak diperiksa ?

Jawabnya adalah inferensi (pendugaan). Pendugaan adalah proses memperkirakan nilai yang benar dari status penyakit dalam populasi, berdasarkan hasil observasi dalam sampel. Dalam sampel diatas, kita dapat menggunakan Pendugaan untuk menganggap bahwa hewan-hewan yang tidak diperiksa adalah sama dengan hewan yang diperiksa. Karenanya dianggap bahwa proporsi populasi dengan antibody pencegahan adalah kira-kira sama dengan 82 %. Ini adalah perbedaan yang kritis antara sampel dan populasi. Bilamana survai telah selesai, kita akan mengetahui dengan pasti status penyakit dari sampel, tetapi kita hanya dapat menduga status penyakit dari populasi.

(29)

Pendugaan (inferensi) adalah proses perkiraan bahwa status penyakit populasi adalah sama dengan status penyakit dalam sampel.

Bahaya dari pendugaan adalah bahwa perkiraan yang digunakan salah. Kalau hanya diperiksa 200 ekor babi sebagai sampel, maka sangat besar kemungkinan bahwa sisa babi lainnya sangat berbeda. Proporsi sebenarnya dalam populasi mungkin tidak 82 % tetapi sangat berbeda.

Walaupun Pendugaan selalu menghadapi resiko kesalahan, kita dapat meminimumkan resiko, dengan memastikan bahwa sampel yang diambil sedapat mungkin sama dengan sisa lainnya dalam populasi. Bilamana sampel dan populasi secara hakiki adalah sama (dari segi karakteristik yang diperhatikan, atau penyakit yang diukur) maka sampel dikatakan sebagai sampel representatif.

Example: Mari kita teruskan contoh diatas.Hampir seluruh babi yang ada (7 juta) dipelihara dalam sistem skala kecil sebagai babi pedesaan berkeliaran. Hanya ada sekitar satu juta babi yang dipelihara dalam usaha babi intensif. Kalau semua 200 babi dalam sampel diambil dari usaha babi intensif, mereka tidak akan mungkin sama dengan babi pedesaan. Sampel tidak akan mewakili populasi nasional dengan benar. Suatu sampel yang lebih representatif adalah sampel yang hampir seluruhnya terdiri dari babi pedesaan dengan sejumlah kecil babi yang dipelihara secara intensif. Sebagai contoh, suatu sampel yang terdiri dari 175 babi pedesaan (7/8) dan 25 babi yang dipelihara secara intensif (1/8) akan merupakan sampel representatif yang lebih baik.

Sampel yang representatif adalah sampel yang sama dengan populasi. Pendugaan hanya absah bila sampel representatif dipilih

Bilamana, secara rata-rata, perkiraan dari sampel berbeda dari nilai sebenarnya dalam populasi, maka perkiraan tersebut dinamakan bias. Perkiraan tunggal dari suatu survai biasanya sedikit berbeda dari nilai sebenarnya, karena adanya peluang.Akan tetapi, apabila survai yang sama diulang berkali-kali, dan hasil rata-rata dari banyak survai berbeda dari nilai sebenarnya, teknik survai dikatakan memberikan hasil bias. Bias dapat terjadi karena berbagai masalah dalam survai, yang umumnya dapat dihindari melalui rancangan survai yang disusun hati-hati.

Bias disebabkan karena kesalahan yang sistematik. Kesalahan sistematik adalah kesalahan yang dapat diduga menyebabkan tipe kesalahan yang sama dalam setiap observasi. Sebagai contoh, saat menimbang ayam, bilamana timbangan yang digunakan tidak tepat, maka timbul kesalahan sistematik pada hasilnya, dan perkiraan rataan bobot akan bias. Ini adalah contoh dari Bias pengukuran. Satu sumber bias yang penting adalah Bias seleksi, dimana sampel yang diambil tidak representatif, karena seleksi hewan yang secara sistematik berbeda dari hewan sisanya dalam populasi .

Sampel representatif

(30)

Bias adalah perbedaan dari rataan perkiraan dari survai dan nilai sebenarnya dalam populasi, karena kesalahan sistematik

Memilih sampel yang representatif adalah adalah satu tugas yang paling sulit dalam setiap survai penyakit ternak. Suatu situasi umum bermasalah adalah memilih sampel representatif dari hewan yang ada di pedesaan.

Example: Kerbau dipedesaan disurvai untuk mengkaji status antibodi terhadap FMD untuk memonitor efektivitas program vaksinasi. Terdapat 42 pemilik kerbau dengan jumlah todal 215 kerbau. Kebanyakan peternak memiliki 2 ekor ternak, akan tetapi beberapa peternak memiliki lebih dari 25 ekor kerbau. Peternak yang memiliki 2 ekor kerbau umumnya tinggal di pusat pedesaan, sedangkan yang meiliki jumlah yang lebih banyak berada didaerah pinggir atau agak jauh diluar desa. Bagaimana cara memilih sampel 10 ekor yang representatif dari populasi sebanyak 215 ekor ?

Ada beberapa cara yang sering digunakan dalam situasi seperti itu:

Sampel A: Setibanya di desa, kepala desa atau kepala dinas peternakan dihubungi. Tim survai kemudian akan diberikan 10 ekor ternak

Sampel B : Tim survai mengunjungi pusat desa, dan bergerak dari rumah ke rumah, mengambil darah dari setiap kerbau sapai terkumpul 10 spesimen. • Sampel C : Tim survai pergi ke salah satu kelompok ternak skala besar dan

mengambil darah dari 10 ekor hewan dalam kelompok tersebut.

Sampel D : Tim survai berkeliaran di desa dan memilik beberapa hewan dari kelompok ternak yang besar dan beberapa dari kelompok ternak skala kecil.

Setiap pendekatan ini sederhana dan praktis, akan tetapi dalam setiap kasus sampel yang terpilih tidak akan representatif and hasil survai besar kemungkinan akan bias.

Dalam Sampel A, tim survai tidak tahu bagaimana kepala desa memilih ternak. Besar kemungkinan bahwa merea pergi ke teman-teman atau pemilikan kooperatif terdekat. Bila sejumlah kerbau tidak divaksinasi saat vaksinasi terakhir, maka sangat besar kemungkinannya kerbau yang divaksinasi adalah ternak milik teman-teman kepala desa, dan tinggal di pusat pedesaan. Pemilik ternak yang tinggal diluar desa, atau bukan teman kepala desa, sangat mungkin tidak mendapatkan vaksinasi atau terpilih selama survai. Hasilnya adalah bahwa sampel yang diambil tidak sama dengan populasi yang ada, dan hasilnya mungkin bias.

Sampel B dan C menghadapi masalah yang sama. Sampel B tidak representatif sebab kelompok ternak skala besar di pinggiran desa tidak terwakili sama sekali. Sampel C adalah masalah sebaliknya - hanya satu keloompok ternak skala besar yang terwakili dan tidak ada dari ternak-ternak lainnya. Sangat mungkin bahwa

(31)

pemilik ternak tidak mau ternaknya divaksinasi, padahal kerbau lainnya di desa tervaksinasi. Hasil survai akan menunjukkan bahwa tidak satupun ternak contoh mempunyai antibodi, sedangkan proporsi sebenarnya dalam desa tersebut adalah 70 %.

Sampel D lebih mendekati kebenaran, sebab semua ternak dari pinggiran desa dan pusat desa akan terwakili. Akan tetapi tetap masih menghadapi bahaya bias yang serius. Hal ini terjadi karena walaupun dicoba untuk representatif, orang memilih seekor hewan dengan berbagai alasan. Sebagai contoh, tim survai mungkin secara tidak sadar memilih kebanyakan anak kerbau dan induk yang kecil, dan menghindari pejantan yang besar. Ini karena lebih mudah dalam penangannnya dan pengambilan sampel darah pada hewan yang lebih kecil. Masalahnya adalah bahwa hewan yang muda sangat mungkin memiliki tingkat antibodi yang lebih rendah dibandingkan hewan dewasa, dan karenanya tidak mewakili populasi. Hasil survai akan bias, kurang menggambarkan proporsi hewan dengan antibodi yang sebenarnya.

Hanya ada satu cara untuk yakin bahwa sampel yang terpilih mewakili populasi. Untuk memilih sampel representatif, haruslah dipastikan bahwa setiap hewan (unit perhatian) dalam populasi diberikan kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel, tanpa tergantung dari kepemilikan, lokasi, skala usaha atau karakteristik lainnya. Teknik pengambilan sampel ini dikenal sebagai Pengambilan Sampel secara Acak (sampling random). Sampling random mempunyai berbagai kelebihan yang penting dan dibahas secara rinci dalam Bab 3.

Sampling random berarti bahwa setiap elemen (unit perhatian) dari populasi mempunyai kesempatan sama untuk dipilih sebagai sampel. Sampling random adalah satu-satunya cara terpercaya untuk memilih contoh yang representatif

________________________

2 Untuk lebih tepatnya, pengambilan contoh secara acak sederhana, dimana setiap elemen mempunyai peluang yang sama untuk dipilih, hanyalah salah satu cara dalam kelompok teknik pengambilan contoh. Ini didasarkan bahwa setiap elemen dalam populasi mempunyai kesempatan dipilih yang telah diketahui, tidak kosong (non-zero - tetapi tidak harus sama). Kemungkian pengambilan contoh adalah satu-satunya cara terpercaya untuk menghindari bias seleksi, dan diperlukan bila nilai perkiraan populasi ingin dijamin. Contoh terpilih dengan pengambilan contoh kemungkinan (probability sampling) mungkins saja tetap tidak mewakili karena kesempatan, tetapi secara rataan, akan lebih mendekati populasi dari berbagai sudut.

Perkiraan

Tujuan dari survai adalah untuk menentukan beberapa karakteristik populasi (sebagai sampel, proporsi ternak yang mempunyai antibodi terhadap penyakit, atau rataan jumlah babi di pedesaan). Karena hanya sampel populasi yang diperiksa, dan pendugaan digunakan untuk memperkirakan sisa populasi, maka mungkin nilai yang diukur dari sampel tidak akan sama dengan nilai sebenarnya dalam seluruh populasi. Pengambilan sampel secara acak digunakan untuk mengurangi resiko. Karena kita tidak dapat mengetahui nilai sebenarnya dalam populasi, maka digunakan pedugaan untuk memperkirakannya.

Example: Sebuah desa mempunyai 4.500 ayam. Suatu survai yang dirancang untuk mengukur proporsi ayam yang telah divaksinasi

(32)

terhadap Fowl Cholera, didasarkan atas 20 ayam contoh secara acak yang diambil darahnya dan diukur tingkat antibodinya. Limabelas ekor dari 20 ayam (75%) menunjukkan antibodi positif terhadap Fowl Cholera. Karenanya diperkirakan bahwa proporsi ayam di desa tersebut yang mempunyai antibodi adalah 75 %.

Memperhatikan hasil survai seperti ini, sangat penting untuk mengetahui seberapa jauh kebenaran nilai perkiraan tersebut. Jumlah ternak yang dipilih sebagai sampel (besaran sampel) adalah salah satu faktor penting yang menentukan kedekatan perkiraan yang diperoleh dari nilai populasi sebenarnya. Dalam sampel diatas, 20 ekor dipilih. Seandainya 2.000 ekor dipilih dari 4.500 ekor yang ada di desa, nyata bahwa perkiraan proporsi akan lebih mendekati kebenaran. Sebaliknya, apabila hanya 4 ekor yang dipilih untuk di survai, maka kita tidak akan mempunyai keyakinan bahwa hasilnya cukup tepat.

Survai dengan jumlah sampel besar menghasilkan perkiraan yang lebih tepat.

Bilamana kita memperhatikan ke tiga kemungkinan survai ayam di pedesaan, dengan 3 besaran sampel yang berbeda 4, 20, dan 2.000, masih besar kemugkinan untuk setiap survai menghasilkan perkiraan sebesar 75%. Akan tetapi, kita akan lebih yakin bahwa nilai populasi sebenarnya akan mendekati 75 % seandainya kita gunakan besaran sampel 2.000 daripada 4.

Dalam menyimpulkan hasil survai, sangat diperlukan ukuran seberapa besar ketepatan perkiraan tersebut. Ini akan memberikan kepada kita tingkat keyakinan terhadap hasil yang dipeoleh. Bilamana kita menggunakan sampling random, sangat dimungkinkan untuk menghitung ukuran tersebut, yang dinamakan selang kepercayaan (confidence interval). Selang kepercayaan menunjukkan kedekatan perkiraan kita dari nilai populasi sebenarnya. Semua perkiraan dari survai harus dilaporkan dengan selang kepercayaan, agar pengguna mengetahui seberapa jauh kebenarannya.

Selang kepercayaan dari proporsi adalah selang nilai dimana kita yakin beradanya nilai populasi sebenarnya. Sebagai contoh, dalam survai dengan 20 ekor ayam, dengan perkiraan prevalensi sebesar 75 %, selang kepercayaan 95 % adalah antara 51 - 91 %. Ini berarti bahwa perkiraan prevalensi yang benar adalah 75 %, akan tetapi kita 95 % yakin bahwa seandainya kita salah, nilai sebenarnya akan terletak antara 51 - 91 %. Nilai sebenarnya mungkin sekitar 75%. Besar kemungkinan, tetapi sangat kecil terjadi, bahwa nilai sebenarnya berada dekat 51 % atau 91 %. Keyakinan 95 % berarti bahwa kalau kita melakukan survai yang sama 100 kali, walaupun kita akan mendapat nilai perkiraan yang berbeda setiap kali, nilai keberaran akan terletak

Selang kepercayaan 95 kali dari 100 3. Selang kepercayaan ini sangat lebar.

Walaupun kita duga bahwa nilainya berada sekitar 75% sangat mungkin didapatkan sangat rendah sampai 51 %, yang berarti perbedaan yang sangat besar.

Anggap bahwa survai yang sama, menggunakan besaran contoh 2.000 dan bukan 20. Bila kita perhatikan 1.500 ekor ayam dengan titer, perkiraan kita masih tetap

(33)

merupakan proporsi dari 75%. Akan tetapi dengan selang kepercayaan 95 % akan menunjukkan antara 73-77%, yang berarti bahwa kita 95% yakin bahwa nilai sebenarnya berada antara 73-77 %. Kita dapat memberikan kepercayaan lebih dalam survai kedua dibandingkan yang pertama karena perkiraan kita lebih tepat. Hal ini ditunjukkan dibawah ini.

Berdasarkan kesepakatan, ketepatan perkiraan umumnya dinyatakan sebagai selang kepercayaan 95 %. Masih dimungkinkan untuk menghitung selang kepercayaan dengan tingkat kepercayaan yang berbeda, seperti 90 % atau 99 %, tetapi ini agak jarang digunakan.

Selang kepercayaan menunjukkan tingkat kepercayaan kita bahwa perkiraan kita benar. Kita dapat 95 % yakin bahwa nilai populasi sebenarnya terletak diantara selang kepercayaan 95%. Makin sempit selang kepercayaan, makin baik survai.

Ketepatan survai.

Secara ringkas, ketepatan perkiraan dari suatu survai ditentukan oleh 2 faktor -ketelitian dan bias.

Bilamana survai yang sama dilakukan dalam suatu populasi beberapa kali, jawaban yang diperoleh akan sedikit berbeda setiap kali dilakukan. Perbedaan ini disebut kesalahan random, dan ditunjukkan sebagai jarak selang kepercayaan. Bila perbedaan antara survai kecil, maka terjadi kesalahan random yang rendah, dan hasil survai dikatakan tepat Suatu survai yang dilakukan dengan besaran contoh yang besar akan mempunyai kesalahan acak yang lebih kecil dan hasilnya lebih tepat.

Bila survai dilakukan berulang kali, dan hasilnya selalu berbeda dari nilai sebenarnya dengan kisaran yang sama kearah yang sama, ini disebutkan sebagai kesalahan sistematik. Kesalahan sistematik menyebabkan hasil yang bias, dan ini diamankan terutama melalui rancangan survai yang baik.

____________________________

3 Kemungkinan interpretasi dengan 95 % selang kepercayaan adalah sebagai berikut. Bilamana survai menggunakan metodologi dan strategi pengambilan contoh yang sama untuk mempelajari populasi beberapa kali, dan selang kepercayaan dihitung dengan cara yang sama didasarkan tas hasil setiap survai, nilai parameter populasi sebenarnya akan berada pada nilai selang kepercayaan sebesar 95%.

Example: Melaksanakan survai untuk penperkirakan niali suatu populasi

laksana menembakkan senapan kearah sasaran. Kalau anda bukan penembak yang jitu, tembakan anda akan mengena dimana saja sekitar sasaran. Tembakan anda tidak tepat, karena sangat banyaknya kesalahan acak. Untuk mengatasi kesalahan acak, anda perlu menggunakan banyak

(34)

sekali tembakan (menggunakan besaran contoh yang besar) sebelum anda dapat mendekati pusat sasaran. Kalau anda sangat baik, semua tembakan akan selalu jatuh dekat sasaran yang sama. Akan terjadi kesalahan acak yang sangat kecil, dan hasil perkiraan akan lebih tepat. Akan tetapi, anda dapat mengenai pusat sasaran, hanya apabila sudut pandang senapan baik. Bilamana sudut pandang senapan tidak lurus, maka bilamana anda membidik pusat sasaran, anda akan mengenai samping sasaran dan hasilnya akan bias. Bila tidak ada bias, maka anda akan mengenai pusat sasaran. Ini digambarkan dalam gambar dibawah ini.

Nilai populasi sebenarnya yang akan kita perkirakan adalah pusat sasaran. Dalam setiap survai (atau tembakan senapan) kita akan mendapatkan hasil yang mungkin dekat dengan nilai sebenarnya atau sangat jauh dari sasaran. Bilamana rataan dari semua hasil survai (bagian tengah dari pola sasaran tembakan) mendekati nilai sebenarnya (pusat sasaran) maka tidak terjadi bias, sebagaimana ditunjukkan dalam 2 gambar terbawah. Akan tetapi, bilamana rataan hasil survai terpusat jauh dari pusat sasaran sebenarnya (gambar atas) terjadi bias, disebabkan oleh kesalahan sistematik (misalnya, sudut pandang senapan yang tidak tepat).

Bilama terjadi simpangan perbedaan hasil yang besar dari berbagai survai yang berbeda, itu disebabkan karena kesalahan random, sebagaimana ditunjukkan gambar-gambar sebelah kiri. Tembakan yang baik akan mempunyai kesalahan random yang kecil dan hasil yang lebih tepat, sebagaimana ditunjukkan gambar kanan bawah

(35)

Pr evalens= 56 = 1857 3%

Tolok Ukur Penyakit

Untuk mengendalikan penyakit secara efektif, kita harus memahami distribusi penyakit; berapa macam penyakit yang ada, dimana terjangkit, hewan apa, dan sebagainya. Survai penyakit didasarkan atas penghitungan jumlah hewan yang menderita penyakit dan jumlah yang tidak sakit. Nilai-nilai ini dapat digunakan untuk menghitung berbagai tolok ukur penyakit, masing-masing menunjukkan laju penyakit menurut cara yang berbeda. Dua tolok ukur penyakit yang penting untuk melaksanakan surveillance aktif adalah prevalensi dan laju insiden.

Prevalensi

Prevalensi (kadang-kadang disebut titik prevalensi) adalah jumlah hewan yang terkena penyakit tertentu dalam satu satuan waktu tertentu, sebagai proporsi dari jumlah hewan dalam populasi.

Example: Satu usaha ayam kecil dengan jumlah ayam 2.000 ekor mengalami

penyebaran penyakit Newcastle Disease (ND). Ayam-ayam pertama kali terkena penyakit tanggal 3 Maret. Pda tanggal 5 Maret banyak ayam yang mati. Pemilik ayam menghubungi petugas Dinas Peternakan lokal yang mengunjungi tanggal 6 Maret. Pada hari tersebut, petugas menghitung 56 ekor yang menunjukkan gejala penyakit, dan pemilik melaporkan bahwa 143 ekor telah mati, dan 28 ekor telah sakit tetapi sembuh. Terdapat 1.801 ekor sisanya yang ternyata sehat . Berapa prevalensi ND di peternakan tersebut tanggal 6 Maret ?

Jumlah ternak yang menderita adalah 56 ekor. Jumlah ternak ayam dalam populasi adalah 1.857 ekor (2.000 - 143 ekor yang telah mati). Prevalensi tanggal 6 Maret adalah :

Gambar dibawah ini menggambarkan gagasan prevalensi menggunakan sebagian dari populasi selang waktu tertentu. Setiap garis menunjukkan seekor ayam yang terkena penyakit. Garis simulai saat hewan mulai sakit, dan berhenti saat mati atau sembuh kembali.

(36)

Insiden=

×

Jumlah kasus baru penyakit dalam kurun waktu tertentu Rataan jumlah hewan ber - resiko kurun waktu

Prevalens

Jumlah kasus pada suatu saat

ber - resiko saat yang sama

=

Populasi

Dalam gambar tersebut, prevalensi diukur saat T. Pada saat itu, jumlah hewan yang sakit dihitung, berjumlah 5 ekor. Kalau ada 16 ekor dalam populasi saat To dan 6 ekor mati sebelum To, sisa populasi hanyalah 10 ekor. Jadi prevalensi adalah 5/10 atau 50 %. Ingat bahwa prevalensi dihitung pada saat tertentu, dan tidak ada selang waktu tertentu yang digunakan dalam perhitungan.

Prevalensi = Jumlah hewan yang sakit pada satu saat sebagai proporsi dari jumlah populasi yang ber-resiko saat itu.

Laju insiden

Laju insiden (terutama kejadian sebenarnya atau laju kepekatan kejadian) adalah tolok ukur dari kecepatan rata-rata penyebaran penyakit4. Laju kejadian adalah

jumlah kasus penyakit baru dibagi selang waktu saat setiap hewan dalam populasi ber-resiko ternak penyakit. Secara ringkas ini dapat dihiutng sebagai berikut :

(37)

Insiden

=

×

=

=

=

227 kasus baru penyakit

1886.5 ber - resiko

4 hari

kasus per ekor per hari

kasus per 100 ayam ber - resiko

kasus per 100 ayam per minggu

0 03

21

21

.

Dalam contoh penyebaran penyakit ND di peternakan ayam, dapat digunakan nilai untuk menghitung laju kejadian atau laju penyebaran penyakit. Kalau digunakan jangka waktu saat awal penyebaran (3 Maret) sampai saat dikunjungi (6 Maret) maka jangka waktu adalah 4 hari ( keseluruhan). Jumlah kasus baru penyakit selama 4 hari adalah :

• Jumlah ternak yang mati adalah 143 ekor • ditambah 28 ekor yang sakit tetapi sembuh • ditambah 56 ekor yang sakit saat kunjungan

memberikan nilai 227 kasus baru penyakit ND. Jumlah ternak yang ber-resiko diperhitungkan dengan mengambil rata-rata saat awal jangka waktu yang digunakan dan akhir selama jangka waktu yang sama. Saat awal (3 Maret) kejadian ada 2.000 ekor. Saat akhir (6 Maret) kejadian 227 ekor mati, atau telah terkena penyakit, dan ber-resiko untuk terkena penyakit lagi. Jadi poulasi ber-resiko adalah 2.000 - 227 = 1.773. Rataan populasi ber-resiko adalah (2.000 + 1773)/2 - 1.886,5 ekor. Jadi laju kejadian dapat dihitung menurut beberapa cara :

:

Apa arti nilai-nilai tersebut ?. Yang pertama, 0,03 kasus per ayam per hari berarti kalau kita mengabil seekor ayam selama satu hari, maka rata-rata akan didapatkan 0,03 kasus penyakit. Ini jelas tidak ada artinya bila kita berbicara mengenai satu ekor hewan. Nilai laju kejadian dapat dikalikan jumlah ternak yang lebih besar atau jangka waktu yang lebih lama untuk memudahkan pengertian. Nilai kedua, 21 kasus per 100 ayam--minggu, ,enunjukkan bahwa bila kita mempunyai 100 keor ayam, maka diperkirakan 21 akan sakit dalam jangka waktu satu minggu

______________________

4. Tolok ukur laju kejadian yang juga sering digunakan adalah kejadian kumulatif, yang menunjukkan

jumlah kasus baru penyakit sebagai proporsi dari dari seluruh jumlah ber-resiko terkena penyakit. Laju kejadian dan laju kejadian kumulatif tergantung pada jumlah kasus penyakit pada jangka waktu tertentu, sebagaimana dibahas dalam Bab 8. Bahasan hanya menyangkut laju kejadian, tetapi laju kejadian kumulatif dapat dihitung bila dikehendaki.

Bilamana laju penyebaran penyakit tetap sama seperti saat 4 hari awal kejadian penyebaran penyakit.

Kita dapat menggunakan diagram diatas untuk melihat bagaimana laju kejadian berbeda dengan prevalensi. Untuk menghitung laju insiden, kita harus menghitung semua kasus penyakit yang baru terjadi pada satuan waktu yang ditentukan. Jumlah kasus baru antara To dan T1 adalah 13 kasus. Beberapa ternak dalam kasus telah mati, beberapa sembuh, dan beberapa masih sakit saat T1, tetapi kita hanya tertarik

(38)

Insiden=

×

13 kasus baru penyakit 22 ber - resiko 1 bulan = kasus per ekor - bulan = kasus per 100 ekor per bulan

0 59 59

.

pada jumlah kasus baru, dan tidak pada apa yang terjadi pada mereka. Bila dalam populasi terdapat 26 ekor ayam saat To dan tinggal 20 saat T1 (dua diantaranya telah terinfeksi dan sembuh, jadi tidak ber-resiko), maka rata-rata jumlah ternak ber-resiko dalam jangk waktu tersebut adalah (26+(20-2))/2 = 22. Bila jangka waktu antara To dan T1 adalah satu bulan, maka laju insiden adalah

Laju insiden mengukur jumlah kasus penyakit yang baru selama jangka waktu tertentu

Prevalensi versus laju insiden

Banyak tolok ukur lain dari penyakit, tetapi prevalensi dan laju insiden adalah yang paling berguna. Keduanya saling terkait, sesuai dengan lama penyakit. Suatu penyakit dengan laju insiden yang tinggi tetapi jangka waktu pendek akan menunjukkan prevalensi yang relatif rendah. Penyakit dengan laju insiden rendah dan jangka waktu lama akan menunjukkan prevalensi tinggi.

Example: Satu studi dengan sapi perah berproduksi tinggi, di wilayah dengan peluang beranak sepanjang tahun, untuk menguji kejadian sub-klinis kandungan rendah kalsium dalam darah sekitar saat beranak. Populasi ternak yang distudi terdiri atas semua sapi betina didaerah tersebut. Selama jangka waktu satu tahun, didapatkan bahwa laju insiden penyakit sangat tinggi, dengan 85 kasus per 100 ekor sapi per tahun. Akan tetapi, lama berjangkitnya penyakit sangat singkat, sekitar satu hari. Pada setiap saat, prevalensi (proporsi sapi betina dengan kandungan rendah kalsium dalam darah) adalah sangat rendah sekitar 0,3 %.

Example: Kita tertarik untuk mengkaji pengaruh cacing hati pada kerbau di daerah padi irigasi. Hampir semua ternak terinfeksi saat masih muda, dan tetap mempertahankan tingkat yang rendah seumur hidupnya. Laju insiden (jumlah infeksi baru) relatif rendah pada 8 kasus baru per 100 ekor sapi per tahun, karena hampir semua ternak pernah terinfeksi dan hanya hewan muda yang peka terhadap infeksi baru. Sebab lama penyakit dapat dikatakan seumur hidup, maka prevalensi sangat tinggi, sekitar 79 %.

Alasan mengapa rpevalensi dan laju insiden dapat begitu berbeda adalah karena mereka menunjukkan aspek penyakit yang berbeda. Kalau jumlah populasi tidak berubah, dan tingkat penyakit tetap sama, maka dapat diperkirakan prevalensi, kalau diketahui laju insiden dan rataan lama penyakit.

Hubungan antara laju insiden dan prevalensi

(39)

Pada kondisi khusus tertentu saat prevalensi rendah (< 10%) maka prevalensi - laju insiden x lama berjangkitnya penyakit

Example: Kelumpuhan pada sapi karena foot-rot telah menjadi masalah di pedesaan di saat basah yang tidak biasa. Laju insiden dari penyakit ini adalah 5 kasus per 100 ekor sapi per bulan. Sapi terinfeksi biasanya sembuh dalam 1 bulan (lama penyakit). Jadi prevalensi penyakit adalah 5 kasus per 100 ekor sapi per bulan kali 1 bulan atau 5 %.

Saat merencanakan survai, kita harus menentukan tolok ukur mana yang paling berguna untuk tujuan tertentu. Ini didasarkan atas tipe informasi yang dikumpulkan dan pertimbangan praktis.

Example: Suatu program nasional vaksinasi yang besar untuk sapi, kerbau, dan babi telah diterapkan di satu negara, Vaccineland, untuk mengendalikan penyakit mulut dan kuku (FMD). Arahnya adalah untuk memvaksinasi setiap hewan dua kali setahun. Petugas kesehatan hewan ingin memonitor program tersebut untuk mengetahui apakah tujuannya tercapai. Mereka harus menentukan apakah akan menggunakan prevalensi atau laju insiden sebagai tolok ukur.

Dalam contoh ini, tujuan program adalah memastikan bahwa semua hewan di negara tersebut terproteksi terhadap infeksi FMD. Ini dapat dicapai melalui vaksinasi untuk memberikan antibodi/kekebalan. Petugas kesehatan hewan memutuskan bahwa tolok ukur terbaik untuk mengkaji program tersebut adalah prevalensi hewan dengan antibodi ketahanan terhadap FMD. Daripada tolok ukur proporsi hewan yang divaksinasi, mereka memutuskan ingin tahu proporsi yang berhasil di vaksinasi. Ini memberikan kesempatan pada mereka untuk mengevaluasi pengaruh ganda dari berbagai masalah dengan program vaksinasi (sebagai contoh, cakupan vaksinasi yang rendah atau pelaksanaan vaksinasi yang kurang baik akibat penggunaan vaksin kadaluarsa atau inaktif). Bila prevalensi sangat tinggi, itu berarti bahwa hampir semua ternak terproteksi, dan akan kecil sekali kemungkinan wabah FMD. Kalau prevalensi ketahanan antibodi rendah, maka banyak ternak yang biasanya peka terhadap infeksi, dan program tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Karenanya mereka melaksanakan survai nasional pada sapi, kerbau dan babi, mengumpulkan sampel darah dan testing terhadap kadar antibodi. Menentukan prevalensi hewan dengan titer antibodi ketahanan terhadap FMD.

Example: Melanjutkan contoh terdahulu, survai dilaksanakan dan hasilnya dianalissis. Secara nasional, 62 % ternak mempunyai titer antibodi ketahanan terhadap FMD. Yang berwenang menyimpulkan bahwa program belum seluruhnya efektif, tetapi menunjukkan perkembangan yang nyata, dan memutuskan untuk melanjutkan program sebagaimana semula. Untuk mendapatkan kontrol yang efektif, suatu organisasi regional telah dibentuk untuk meningkatkan komunikasi dan koordinasi kegiatan pengamanan antar negara tetangga. Sebagai bagian dari proses ini, satu negara tetangga, Diseaseland,

Gambaran survai laju insiden dan prevalensi

Gambar

Tabel nomor acak cukup mudah digunakan sebagai sumber nomor-nomor acak.
Tabel nomor acak atau komputer dapat digunakan untuk mendapatkan nomor-nomor acak, dan ini digunakan untuk mengidentifikasi anggota-anggota dari populasi.
Tabel nomor acak
Tabel dua arah, atau tabulasi silang (cross tabulation) dapat dipergunakan untuk memeriksa dua peubah berkategori juga

Referensi

Dokumen terkait

Kemunculan gejala penyakit busuk pangkal batang lada setelah sebagian besar akar dan pangkal batang membusuk sehingga tanaman layu dan mati dalam waktu singkat dan

harzianum pada berbagai media formulasi dan waktu penyimpanan untuk mengendalikan penyakit antraknosa pada tanaman cabai besar yang dibandingkan dengan fungisida kimia..

bebas untuk menampilkan perilaku alaminya (freedom to express natural behaviour). Secara umum, kelompok tani ternak Desa Mata Lombu memiliki potensi pada ketiga bidang

Penyakit layu Fusarium yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum , termasuk dalam kelompok penyakit tular tanah, yang dapat bertahan dalam waktu yang... Patogen ini,