Pengaruh Komite Audit, Spesialisasi Auditor, dan Audit Tenure Terhadap Manajemen Laba
Reza Oktariska Putri1*, Eni Wuryani2
12Departemen Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, 60231, Indonesia
ABSTRACT
This research uses quantitative research methods with multiple regression analysis techniques. The research population was companies in the consumer goods and mining sector for the period 2016-2018 which were determined using purposive sampling technique and produced 67 research samples. The results showed that the audit committee, auditor specialization and audit tenure did not affect earnings management. This is because the proportion of company committees is less balanced and the objects of earnings management are different. In the resultthe audit committee does not affect earnings management because the number of the board of commissioners is larger as the party that oversees the company's internal activities. Audit tenure does not affect earnings management due to the length of the assignment or not if it is accompanied by a lack of auditor expertise in identifying earnings management, the length of the assignment is not important
Keywords: Audit Committee; Auditor Specialization; Audit Tenur; Earnings Management PENDAHULUAN
Keterangan serta data-data penting yang dibutuhkan oleh pihak luar terutama pemodal dan (investor) dan pemberi pinjaman (kreditor) mengenai kondisi finansial perusahaan selama periode akuntansi tertentu dapat diketahui melalui laporan keuangannya (Lestari & Murtanto, 2017). Kondisi tersebut dapat diketahui berdasarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga laba perusahaan dapat dijadikan tolok ukur yg penting. Akan tetapi, hal tersebut dapat memicu penyalahgunaan informasi laba perusahaan yang dilakukan oleh manajer untuk menguntungkan dirinya sendiri (Shaferi & Handayani, 2017). Hal tersebut dapat dikatakan sebagai manajemen laba.
Menurut Sulistyanto (2008:44-47) terdapat enam motif manajemen laba, yakni memperoleh bonus, terdapat perjanjian hutang oleh perusahaan, biaya politik, penghindaran pajak, transisi dewan direksi dan pendongkrak reputasi perusahaan di penawaran saham perdana bagi perusahaan Go Publik.
Generally Accepted Accounting Principle (GAAP) memberikan fleksibilitias dan keleluasaan manajer dalam menentukam standar penyusunan laporan keuangan, sehingga manajer dapat mengatur informasi laba untuk menarik investor dan kreditor. Akan tetapi, hal tersebut berdampak negatif terhadap investor dan kreditor. Salah satu kasus menajemen laba terjadi pada perusaahan manufaktur sektor consumer goods menurut berita yang dikutip oleh Wareza (2019) pada web page CNCB Indonesia yaitu kasus PT.
Tiga Pilar Sejahtera Tbk yang melakukan penggelembungan sebesar 4T pada laporan keuangan tahun 2017 pada akun persediaan, aset tetap, dan piutang usaha sebesar 662 M dan penggelembungan laba sebelum pajak, amortisasi, serta depresiasi sebesar 329 M. Tidak hanya itu, terdapat temuan lain berupa hubungan dan kesepakatan antara perusahaan dengan pihak lain yang telah menjalin kerjasama namun tidak diungkapkan dengan baik kepada para pemilik entitas, sehingga laporan keuangan pada tahun 2017 ditolak oleh investor dan dilakukan RUPSLB untuk mengganti manajemen perusahaan. Berikut daftar perusahaan manufaktur sektor consumer goods yang menunjukan nilai manajemen laba tertinggi pada tahun 2018.
Tabel 1. Daftar 10 Perusahaan Manufaktur Sektor Consumer Goods dengan Manajemen Laba Tertinggi Tahun 2018
No. Nama Perusahaan Manajemen Laba
1. PT. Delta Djakarta Tbk 0,1805
2 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2001
2. PT. Mayora Indah Tbk 0,1623
3. PT. Indofarma Tbk 0,1165
4. PT. Wilmar Cahaya Indonesia Tbk 0,1088
5. PT. Sekar Laut Tbk 0,1038
6. PT. Kalbe Farma Tbk 0,0890
7. PT. Hm Sampoerna Tbk 0,0701
8. PT. Merck Tbk 0,0633
9. PT. Multi Bintang Indo Tbk 0,0560
10. PT. Bantoel Internasional Tbk 0,0478 Sumber: data olahan peneliti
Menurut Kristiani et al. (2014), manajemen laba menunjukkan lemahnya penerapan tata kelola perusahaan, maka dibentuk komite audit sebagai pengawas pelaporan keuangan. Dengan terbentuknya komite audit tersebut diharapkan tindakan manajemen laba tersebut dapat dikurangi.
Kualitas pengawasan dari komite audit dalam ditunjukkan dengan besarnya persentase komite audit, spesialisasi auditor, dan audit tenure. Besarnya ukuran komite audit menambah kualitas pengawasan.
Sebaliknya, jika persentase komite audit lebih rendah menunjukkan ukuran komite audit kecil, sehingga kualitas pengawasannya turut rendah. Selain itu, kualitas auditor juga dapat dilihat dari spesialisasi auditor dan audit tenure mengarah pada kualitas laba yang lebih tinggi (Soliman & Ragab, 2014). Penggunaan auditor spesialis dianggap lebih cepat dalam mendeteksi ditemukannya kecurangan pada laporan keuangan karena paham dengan kondisi perusahaan dalam melaksanakan berbagai prosedur audit (Pramaswaradana & Astika, 2017). Panjaitan & Chariri (2014) menyampaikan bahwa spesialisasi industri auditor menggambarkan tingkat pengalaman dan keahlian auditor eksternal pada industri tertentu. Jasa auditor spesialis lebih sigap mendeteksi kecurangan laporan keuangan yang diaudit (Pramaswaradana & Astika, 2017). Pengetahuan auditor spesialis industri tertentu didapatkan dari melakukan pengembangan pengalaman audit yang lebih luas, training, dan menerapkan kemajuan IPTEK dalam praktik auditnya. Seorang auditor spesialis yang berpengetahuan dalam dunia industri akan mampu menghasilkan layanan audit berkualitas kepada klien dengan membatasi diskresi manajemen. Oleh karena itu, spesialisasi industi adalah cara terpenting dimana perusahaan dapat membedakan diri dari pesaing (Zgarni, Hliooui, & Zehri, 2012).
Sedangkan menurut hasil penelitian Dinuka & Zulaikha (2014); Kurniawansyah (2016) dan Yasser &
Soliman (2018) kualitas audit juga dipengaruhi oleh audit tenure yaitu penugasan auditor untuk melakukan jasa audit. Semakin lama keterikatan auditor, semakin tinggi kebebasan klien memilih metode akuntansi yang menyesatkan stakeholders (Kurniawansyah, 2016). Lamanya waktu perikatan auditor independen diatur Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 13/PJOK.03/ 2017 membatasi penggunaan jasa audit dari KAP serupa paling lama 3 tahun buku berturut-turut. Jika dikaitkan dengan teori sinyal, kualitas audit yang baik dapat dijadikan sebagai perimbangan perusahaan untuk memberitahu para pemodal dalam memahami perspektif manajemen terhadap keberlangsungan perusahaan. Dengan demikian dapat kita ketuahi bahwa petujunjuk (sinyal) merupakan salah satu hal paling penting yang telah dilaksanakan oleh manajemen dalam mencapai tujuan yang diinginkan pemilik perusahaan.
Berdasarkan Klein (2002) dalam Sanjaya (2008) menyatakan bahwa ada hubungan negatif antara komite audit yang independen dengan akrual tidak normal sebagai proksi manajemen laba. Xie et al. (2003) membukukan bahwa dewan komisaris independen dan komite audit yang aktif serta berpengetahuan di bidang keuangan menjadi faktor penting untuk mencegah kecenderungan manajer untuk melakukan manajemen laba, sedangkan menurut Vafeas (2005) dalam Sanjaya (2008) menemukan bahwa ketika komite audit lebih banyak melakukan pertemuan dan lebih independen, manajer kemungkinan tidak menaikkan laba. Dengan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan pertemuan dan pengamatan secara langsung, komite audit diharapkan mampu untuk mengurangi tingkat manajemen laba. Sebagaimana studi terdahulu yang dilakukan oleh Zgarni et al. (2016); Naimi et al, (2010) dan Alqatamin (2018) menunjukkan hubungan komite audit dan
manajemen laba adalah negatif. Berbeda dengan penelitian oleh Lestari & Murtanto (2017), Taco &
Ilat (2016); Widiastuty (2016); Ambarita & Nuswantara (2009) menyatakan komite audit tidak memengaruhi manajemen laba, dikarenakan komite audit belum menjadi suatu mekanisme yang terpadu untuk mengurangi praktik manajemen laba. Selain itu, Pupperhart (2012) tingginya kualitas audit tidak signifikan terkait dengan meningkatnya kualitas laba. Berdasarkan studi terdahulu yang dilakukan oleh Gerayli et al. (2011); Kurniawansyah (2016); Saleem & Alzoubi (2017); dan Zgarni et al.(2016) spesialisasi auditor berhubungan negatif dengan manajemen laba. Sedangkan menurut Hasil penelitian Ulina et al. (2018); Kristiani et al. (2014); Nihlati & Meiranto (2014); dan Yasser & Soliman (2018) menunjukkan spesialisasi auditor tidak signifikan dengan manajemen laba, auditor spesialis tidak dapat mendeteksi aktivitas manajemen laba. Selain itu, pada penelitian Kono & Yuyetta (2013);
Hasanuddin (2015); Nihlati & Meiranto, (2014); Puspitasari & Nugrahanti (2016); Putri (2012); dan Zgarni, et al. (2012) menyatakan bahwa audit tenure tidak memengaruhi manjemen laba. Adanya pembatasan masa tugas auditor mencegah auditor semakin akrab dengan klien sehingga tingkat independensi tetap terjaga.
Mengacu uraian mengenai fenomena dan beberapa temuan penelitian terkait manajemen laba, masih diperlukan kajian lebih dalam tentang manajemen laba dan diharapkan menjadi pengetahuan bagi para akademisi, investor maupun pemerintah sebagai bukti empiris untuk dijadikan pedoman bagi perusahaan menentukan langkah strategis aktivitas bisnisnya untuk keputusan yang efektif.
KAJIAN PUSTAKA Agency Theory
Suatu bentuk perjanjian pemilik (principal) dengan penyewa (agen) berawal dari agency conflict dan mapu diminimalisasi penerapan pengawasan komite audit terhadap pelaporan keuangan, sistem pengendalian internal, pelaksanaan proses audit yang dilakukan, serta memastikan perusahaan tersbut patuh perundangan yang berlaku dinamakan sebagai teori keagenan (Agency Theory) (Jensen &
Meckling, 1976). Tujuan dari pendirian komite audit adalah agar pihak manajemen dan eksekutif perusahaan dibatasi dalam melakukan aktivitas yang dapat mendatangkan kerugian bagi stakeholders.
Penelitian Permata (2013) menemukan bahwa audit tenure berpengaruh negatif pada penyampaian informasi laporan keuangan. Semakin lama masa penugasan antara KAP dengan perusahaan klien yang memberikan penugasan, maka memungkinkan auditor untuk mengenali industri klien sehingga akan memperpendek masa penyelesaian audit dan dapat menyelesaikan laporan keuangan auditan secara tepat waktu.
Praktik manajemen laba muncul didorong oleh beberapa motivasi seperti debt covenant (meminimalisasi perbuatan melanggar perjanjian hutang yang dapat terjadi di antara perusahaan dengan kreditur), bonus plan (mengejar atau melampaui target kinerja dengan mengatur besaran angka laba), dan political cost (mengurangi biaya politik karena adanya peraturan Jurnal Ekonomi dan Bisnis, Volume 23 No. 2 Oktober 2020, 225 - 242 227 perundangan intervensi pemerintah) (Scott, 2011).
Signaling Theory
Connelly et al. (2011) mengungkapkan bahwa signalling theory berfungsi merepresentasikan perilaku pihak yang memmpunyai akses terhadap informasi yang tidak sama, yang mana pengirim diharuskan untuk sinyal yang terbagi atas pemberi sinyal, sinyal, penerima dan umpan balik. Kualitas audit yang terdiri dari spesialisasi auditor dan audit tenure merupakan bentuk sinyal bagi stakeholders dalam mengambil keputusan. Kualitas audit adalah penilaian laporan keuangan oleh auditor independen berupa opini yang menyatakan bahwa laporan tersebut terbebas dari salah saji material.
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Laba
Komite audit ialah pengawas sistem pengendalian internal untuk mengurangi manajemen laba. Sesuai agency theory, komite audit dapat memberikan bantuan agar pekerjaan dewan komisaris mengurangi manajemen laba perusahaan. Zgarni et al. (2016); Naimi et al, (2010) dan Alqatamin (2018) menjelaskan komite audit berhubungan negatif dengan manajemen laba, ketika persentase komite
4 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2001 meninggi menunjukkan kualitas pengawasan tindakan manajemen laba lebih kecil bahkan tidak ada.
Berbeda dengan penelitian Kumaat (2013); Lestari & Murtanto (2017); Senja & Nurbaiti (2019); Ulina et al. (2018); dan Ambarita & Nuswantara (2009) menyatakan komite audit tidak memengaruhi manajemen laba karena komite audit hanya sebagai kepatuhan atas regulasi saja yang mewajibkan 3 anggota komite audit sehingga posisi komite audit belum menjadi suatu mekanisme yang terpadu untuk mengurangi praktik manajemen laba. Hipotesis pertama ialah berikut:
H1: Komite audit berpengaruh terhadap manajemen laba Pengaruh Spesialisasi Auditor terhadap Manajemen Laba
Spesialisasi auditor merupakan bagian kualitas audit sebagai sinyal berupa penilaian laporan keuangan oleh auditor independen bertujuan mendeteksi kecurangan laporan keuangan yang menghindarkan stakeholders dari kerugian sesuai dengan signalling theory. Gerayli et al. (2011); Kristiani et al. (2014); Kurniawansyah (2016); Saleem & Alzoubi (2017); dan Zgarni et al.(2016) berpendapat yakni spesialisasi auditor berhubungan negatif dengan manajemen laba. Dalam melakukan pendeteksian dan penemuan kecurangan dalam laporan keuangan dapat dilakukan dengan cepat melalui jasa auditor spesialis karena memahami kondisi perusahaan dalam melaksanakan berbagai prosedur audit (Pramaswaradana & Astika, 2017). Menurut Ulina et al. (2018); Kristiani et al. (2014); Nihlati &
Meiranto (2014); dan Yasser & Soliman (2018) spesialisasi auditor tidak memiliki pengaruh yang penting dengan manajemen laba karena auditor spesialis tidak dapat mendeteksi aktivitas manajemen laba karena item manipulasi lebih mengurangi biaya diskesi yaitu biaya iklan, R&D, dan gaji yang belum tentu melanggar standar akuntansi (Kono & Yuyetta, 2013). Hipotesis kedua ialah berikut ini:
H2: Spesialisasi industri berpengaruh terhadap manajemen laba Pengaruh Audit Tenure terhadap Manajemen Laba
Audit tenure ialah audit lamanya penugasan auditor atau jumlah tahun auditor dipertahankan oleh klien untuk melakukan jasa. Berdasarkan signalling theory, audit tenure merupakan bentuk sinyal bagi stakeholders dalam mengambil keputusan. Dinuka & Zulaikha (2014); Kurniawansyah (2016) dan Yasser & Soliman (2018) menyatakan audit tenure berhubungan positif bagi manajemen laba.
Lamanya masa penugasan menyebabkan auditor menjalin komunikasi yang lebih harmonis serta timbul rasa kekeluargaan terhadap perusahaan yang menerima jasa auditor, yang menyebabkan tingkat keindipen auditor semakin lemah yang menyebabkan kompetensi kinerja auditor semakin menurun. Auditor cenderung akan membiarkan klien memilih sendiri metode akuntansi untuk menghasilkan laporan yang menyesatkan. Menurut Kono & Yuyetta (2013); Hasanuddin (2015);
Nihlati & Meiranto, (2014); Puspitasari & Nugrahanti (2016); Putri (2012); dan Zgarni, et al. (2012) audit tenure tidak memengaruhi manjemen laba dikarenakan pembatasan masa tugas auditor mencegah auditor semakin akrab dengan klien sehingga tingkat independensi tetap terjaga, namun akan menjadikan auditor tidak lebih mengenal karakteristik perusahaan sehingga membutuhkan waktu lama untuk proses audit. Hipotesis ketiga yakni berikut:
H3: Audit Tenure berpengaruh terhadap manajemen laba METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian Dan Sumber Data
Peneliti menggunakan metode kuantitatif serta data sekunder yang berasal dari perusahaan dan didukung beberapa literatur dan situs internet berupa laporan keuangan perusahaan consumer goods dan pertambangan di BEI tahun 2016-2018.
Industri consumer goods merupakan salah satu bidang industri yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Hal tersebut dikarenakan industri consumer goods merupakan industri yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan untuk menjamin keberlangsungan hidup seluruh masyarakat di belahan dunia manapun. Industri consumer goods di Indonesia juga memperlihatkan suatu indikasi yang positif dalam pasar modal, hal ini ditunjukkan dengan seiring berjalannya waktu semakin banyak munculnya perusahaan consumer goods yang menjadi perusahaan go public (Handi Haryanto Lim, Kardinal, Ratna Juwita, 2015)
Populasi dan Sampel
Subjek yang diteliti atau populasi yang digunakan adalah perusahaan consumer goods dan pertambangan di Bursa Efek Indonesia dalam memilih sampel digunakan teknik purposive sampling yang menghasilkan total 67 perusahaan selama 2016-2018. Subjek yang dipilih merupakan consumer goods karena dilandasi oleh beberapa alasan antara lain adalah consumer goods akan menghasilkan sebuah produk yang dikonsumsi secara terus menerus, sehingga jumlah permintaan pasar akan stabil dalam jangka panjang. Selain itu perusahaan yang bergerak dalam consumer good cenderung menghasilkan margin keuntungan yang baik, hal ini akan mempengaruhi net profil yang cenderung akan meningkat pula yang dilatar belakangi oleh setiap perusahaan yang terkait dapat menentukan harga produk sendiri sesuai dengan nilai keuntungan yang akan mereka peroleh. Dengan demikian peneliti memilih untuk mengambil subhej dari perusahaan consumer goods karena dinilai perusahaan yang bergerak di bidang ini senantiasa berkembang dari waktu ke waktu dan merupakan perusahaan yang memproduksi kebutuhan pokok untuk menjamin keberlangsungan hidup sehingga sangat diperlukan oleh sebagian besar masyarakat.
Definisi Operasional Manajemen Laba
Manajemen laba ialah perilaku penyalahgunaan informasi internal dan pengalaman untuk mengubah angka laporan keuangan terutama laba bertujuan mencari keuntungan manajer (Subramanyam dan John, 2013). Discretionary accrual dalam penelitian ini yakni model Jones sebagai berikut:
Komite Audit
Komite audit ialah organisasi internal untuk membantu tugas dan fungsi dewan komisaris.
komite audit berperan mempertahankan independensi pengawasan. Pengukuran komite audit pada penelitian ini mengacu (Lestari, 2016):
Komite Audit = Total Komite Audit Total Dewan Komisaris Spesialisasi Auditor
Kemampuan untuk menghasilkan kualitas audit baik berasal dari keahlian dalam melayani klien pada industri serupa dan sering terlibat dalam proses audit industri tersebut (Saleem &
Alzoubi, 2017). Pengukuran yang digunakan untuk menjelaskan spesialisasi auditor ialah membandingkan jumlah klien dari KAP tertentu dibandingkan jumlah klien keseluruhan perusahaan, jika nilai lebih dari 15 persen pangsa pasar audit industri tertentu maka diberi kode “1”sebaliknya jika kurang dari 15 persen makan diberi kode “0”(Zgarni, et al., 2016).
Spesialisasi Industri =Jumlah klien dari KAP tertentu Jumlah klien keseluruhan Audit Tenure
Audit tenure ialah lama perikatan tugas auditor eksternal melakukan pengauditan laporan keuangan perusahaan klien. Pengukuran variabel menggunakan dummy “1” jika perikatan auditor lebih dari 3 tahun dan kode “0” jika perikatan auditor kurang dari sama dengan 3 tahun (Yasser & Soliman, 2018).
6 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2001 Teknik Pengumpulan Data
Dalam menghimpun data yang digunakan dalam penelitian, digunakan teknik dokumentasi yang dilakukan melalui laporan keuangan dan tahunan yang dipublikasikan pada periode yang telah ditentukan. Dokumentasi diperoleh dari hasil laporan net profit yang diperoleh dari perusahaan yang bergerak dalam bidang costumer good, sebagaimana contoh unilever dan lainnya.
Teknik Analisis Data
Penelitian ini memakai analisis regresi berganda. Langkah pertama yyaitu uji asumsik klasik.
Langkah kedua yakni Uji hipotesis terdiri dari koefisien determinasi (R2), uji F (simultan) dan Uji t (parsial).
HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik
Uji normalitas penelitian ini menunjukkkan data terdistribusi normal. Uji multikolinearitas penelitian telah memenuhi batas nilai tolerance > 0,1 dan VIF ≤ 10, untuk uji autokorelasi menunjukkkan data penelitiann telah terbebas autokorelasi dengan syarat du < dw < 4-du, dan berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas tidak ditemukan heteroskedastisitas dalam bentuk regresi.
Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi dapat mencerminkan variasi variabel terikat yang dijelaskan variabel bebas (Ghozali, 2016:95). Hasil koefisien determinasi digambarkan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 2. Hasil Koefisien Determinasi
Model R R Square Adjusted R
Square Std. Error of the Estimate
1 ,156a ,024 ,002 ,05539
Sumber: data diolah dengan spss
Tabel 2 memperlihatkan Adjusted R-squares 0,002 atau 0,2% artinya 0,2% manajemen laba dijelaskan oleh variabel komite audit, spesialisasi auditor dan audit tenure, dan hasil sebesar 99,8%
dijelaskan variabel lain. Artinya secara keseluruhan variabel komite audit, spesialisasi auditor dan audit tenure tidak mampu menggambarkan kondisi manajemen laba.
Uji F (Simultan)
Uji statistik F mengambarkan variabel bebas berpengaruh secara bersamaan terhadap variabel terikatnya (Ghozali 2016:96). Hasil uji F digambarkan dalam tabel dibawah ini:
Tabel 3. Hasil Uji F (Simultan)
Model Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression ,010 3 ,003 1,086 ,357b
Residual ,402 131 ,003
Total ,412 134
Sumber: data diolah dengan spss
Tabel 3 menunjukkan bahwasanya pengujian secara silmultan menghasilkan F sebesar 0,357 lebih dari tingkat signifikansi 0,05 artinya komite audit, spesialisasi auditor dan audit tenure secara bersamaan (simultan) tidak dapat memengaruhi manajemen laba. Komite audit, spesialisasi auditor dan audit tenure tidak dapat dijadikan sebagai tolok ukur tindakan manajemen laba.
Uji t (Parsial)
Pengujian statistik berfungsi mengetahui pengaruh secara individu variabel independen terhadap variabel dependen (Ghozali 2016:97). Pengujian secara parsial digambarkan melalui tabel dibawah ini, yakni:
Tabel 4. Hasil Uji t (parsial)
Model Unstandardized Coefficients T Sig.
B Std. Error
1 (Constant) -,001 ,009 -,073 ,942
X1 -,234 ,856 -,273 ,785
X2 ,048 ,034 1,406 ,162
X3 -,024 ,023 -1,027 ,306
Sumber: data diolah dengan spss
Tabel 4 menunjukkan nilai koefisien komite audit –0,234 dan nilai sig 0,785 lebih tinggi dari 0,05 artinya komite audit tidak signifikan terhadap manajemen laba. Nilai koefisien spesialisasi auditor –0,048 serta nilai sig 0,162 lebih besar dari 0,05 artinya spesialisasi auditor signifikan terhadap manajemen laba. Nilai koefisien audit tenure –0,024 dan nilai sig 0,306 lebih besar dari 0,05 artinya audit tenure tidak signifikan terhadap manajemen laba.
PEMBAHASAN
Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Laba
Pengujian satu (H1) pada tabel 4 membuktikan bahwa komite audit memengaruhi manajemen laba, artinya H1 penelitian ditolak. Komite audit perusahaan manufaktur sektor consumer goods dan pertambangan cukup rendah, dikarenakan perbandingan proporsi komite audit dan dewan komisaris berbeda. Banyaknya dewan komisaris lebih tinggi dibandingkan dengan komite audit artinya peran komite audit menjadi kurang efektif dibandingkan dewan komisaris. Berdasarkan pasal 108 ayat (1) UUPT menyatakan bahwa dewan komisaris berperan mengawasi peraturan dan jalannya pengurusan pada umumnya serta memberi nasehat kepada direksi yang bertanggung jawab penuh untuk kepentingan perusahaan dan mewakili perusahaan baik secara internal maupun eksternal. Dengan demikian, pengawasan manajemen laba dapat dilakukan oleh dewan komisaris akan lebih terkontrol.
Penelitian ini berbeda dengan Zgarni et al. (2016); Naimi et al, (2010) dan Alqatamin (2018) bahwa adanya komite audit memiliki pengaruh secara negatif pada manajemen laba. Meningkatnya proporsi komite audit perusahaan dianggap menjadi lebih berhati-hati terhadap tindakan manajemen.
Besarnya komite audit maka menunjukkan ketatnya pengawasan, cukupnya pengendalian internal dan pengetahuan dapat meminimalisasi tindakan manajemen laba. Berdasarkan agency theory, komite audit ditunjukkan sebagai pihak yang mengawasi para manajer dan direksi agar tidak memiliki ruang dalam melakukan tindakan yang merugikan bagi stakeholders, akan tetapi teori tersebut tidak mendukung penelitian ini.
Tabel 5. Perbandingan Komite Audit Perusahaan
Sumber. PT. Wilmar Cahaya Indoesia TBk. dan Indofood CBD Sukses Makmur
WILMAR CAHAYA INDONESIA INDOFOOD CBD SUKSES
MAKMUR
Tahun Komite Audit EM Tahun Komite Audit EM
2016 0,75 -0,03621 2016 0,5 0,036936
2017 1 0,010681 2017 0,5 0,041207
2018 1 0,094599 2018 0,5 0,044297
Sumber: data diolah dengan spss
8 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2001 Tabel diatas menunjukkan bahwa peningkatan proporsi komite audit PT Wilmar Cahaya Indonesia mengalami kenaikan akan tetapi nilai manajemen laba mengalami fluktuasi, begitu pula pada PT Indofood CBD Sukses Makmur proporsi komite audit stabil namun angka manajemen laba mengalami kenaikan hanya 0,3% saja. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan, komite audit hanya sebagai formalitas wujud kepatuhan terhadap regulasi yang ada, bukan bertindak sebagai pengawas operasional perusahaan untuk meminimalkan konflik keagenan yang menyebabkan tindakan manajemen laba. Namun belum menjadi pengelolaan yang terpadu untuk menunjang berkurangnya praktik manajemen laba, besarnya komite audit belum tentu memiliki latar belakang pendidikan maupun kemampuan yang sesuai sehingga keputusan dan pengawasan yang dilakukan kurang efektif.
Penelitian ini konsisten dengan Kumaat (2013); Lestari & Murtanto (2017); Senja & Nurbaiti (2019);
Ulina et al. (2018); dan Ambarita & Nuswantara (2009).
Pengaruh Spesialisasi Auditor terhadap Manajemen Laba
Pengujian dua (H2) tabel 4 menyatakan spesialisasi auditor tidak memengaruhi manajemen laba, artinya H2 penelitian ditolak. Auditor spesialis yakni salah satu komponen kualitas audit.
Keberadaan auditor spesialis industri dapat membatasi pengelolaan laba akrual memanipulasi aktivitas riil melalui biaya diskresioner bukan pelaporan keuangan. Manipulasi biaya diskresioner belum tentu melanggar standar akuntansi yang berlaku maka tidak ditemukannya perbedaan antara auditor spesialis dan non-spesialis. Penegakan hukum Indonesia yang lemah menjadi sebab motivasi auditor berkurang untuk menambah kemampuannya mendeteksi manajemen laba melalui aktivitas riil. Auditor spesialis belum mampu mengungkapkan aktivitas manajemen laba dalam proses pengurangan biaya diskresi seperti biiaya iklan, biaya R&D, dan biaya gaji belum tentu sebagai bentuk pelanggaran standar akuntansi.
Hasil penelitan ini menolak konsep dasar signalling theory yang menyatakan spesialisasi auditor merupakan bentuk sinyal bagi stakeholders dalam mengambil keputusan. Spesialisasi auditor yang digunakan dalam perusahaan tidak dilakukan berdasarkan regulasi yang berlaku. Ada atau tidaknya auditor spesialis tidak mampu untuk menarik investor melakukan investasi. Selain itu, adanya auditor spesialis dalam mendeteksi manajemen laba suatu perusahaan tidak dapat dijadikan tolok ukur bahwa perusahaan bebas dari tindakan manajemen laba, sebaliknya tanpa auditor spesialis juga tidak menjamin bahwa perusahaan melakukan manajemen laba. Ditinjau dari agency theory, spesialisasi auditor dapat dijadikan sebagai pemicu munculnya agency conflict, kemampuan auditor spesialis dapat dijadikan jalan dan motivasi manajemen melakukan manajemen laba.
Tabel 6. Perbandingan Perusahaan Dengan Spesialisasi Audior dan Tanpa Spesialisasi Audior Sumber. PT. Adaro Energy dan Gudang Garam
ADARO ENERGY GUDANG GARAM
Tahun Spesialisasi
Auditor EM Tahun Spesialisasi
Auditor EM
2016 1 0,053866 2016 0 -0,00522
2017 1 -0,05367 2017 0 0,037508
2018 1 0,13239 2018 0 0,020589
Sumber: data diolah dengan spss
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa PT Adaro Energy menggunakan auditor spesialis akan tetapi angka manajemen laba mengalami fluktuasi hal tersebut menggambarkan bahwa auditor spesialis tidak dapat dijadikan ukuran meminimalisir manajemen laba. Sebaliknya, PT Gudang Garam tidak menggunakan auditor spesialis akan tetapi angka manajemen laba mengalami fluktuasi dari tiga tahun berturut-turut tersebut menggambarkan bahwa tidak adanya auditor spesialis tidak dapat dijadikan ukuran meningkatkan manajemen laba. Penelitian ini berbeda dengan Gerayli et al.
(2011); Kristiani et al. (2014); Kurniawansyah (2016); Saleem & Alzoubi (2017); dan Zgarni et al. (2016) namun konsisten dengan hasil penelitian dari Ulina et al. (2018); Kristiani et al. (2014); Nihlati &
Meiranto (2014); dan Yasser & Soliman (2018).
Pengaruh Audit Tenure terhadap Manajemen Laba
Pengujian tiga (H3) tabel 4 membuktikan audit tenure tidak memengaruhi manajemen laba, artinya H3 penelitian ditolak. Audit tenure merupakan lamanya perikatan pihak auditor dengan perusahaan. Semakin lama penugasan auditor dalam suatu perusahaan tidak menjamin menurunkan manajemen laba dan tolok ukur informasi keseluruhan perusahaan dapat diaudit, bahkan mampu menyebabkan auditor tidak independen maka memiliki potensi menimbulkan familiarity threat. Seperti kasus skandal Enron tahun 2000 mencerminkan pengaruh buruk audit tenure. Skandal Enron ialah fraudulence bersama KAP Internasional Arthur Anderson melakukan perikatan selama 20 tahun.
Fraudulence kemudian menyebabkan pengikisan nilai independensi auditor dan mengurangi kualitas audit.
Berdasarkan peraturan OJK No. 13/PJOK.03/ 2017 penggunaaan jasa audit dari KAP sama paling lama 3 tahun berturut-turut. Terdapat dua alasan pembatasan masa penugasan audit. Pertama, terdapat jarak antara auditor dan perusahaan sedangkan untuk melakukan pemerikasaan auditor membutuhkan waktu cukup lama. Adanya audit tenure dalam waktu yang pendek maupun lama akan dimanfaatkan manajemen untuk melakukan manajemen laba. Kedua, lemahnya kemampuan auditor mengidentifikasi manajemen laba perusahaan.
Tabel 7. Perbandingan Perusahaan Dengan Audit Tenure dan Tanpa Audit Tenure Sumber PT. HM Sampoerna dan Bantoel Interbasional Investma
HM SAMPOERNA BANTOEL INTERNASIONAL
INVESTMA
Tahun Audit Tenure EM Tahun Audit Tenure EM
2016 0 0,414619 2016 1 0,05842752
2017 0 -0,34217 2017 1 0,05645104
2018 0 -0,00247 2018 1 0,06371013
Sumber: data diolah dengan spss
Berdasarkan tabel tersebut menunjukkan bahwa HM Sampoerna tidak melakukan audit tenure selama 3 tahun berturut-turut namun manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan bersifat fluktuatif tahun 2016 sebesar 0,414619, 2017 sebesar -0,34217 dan 2018 sebesar -0,00247. Hal ini sama dengan Bantoel Internasional Investma melakukan audit tenure selama 3 tahun yaitu 2016, 2017 dan 2018 namun manajemen laba justru berfluktuasi dari nilai 0,05842752 ke 0,05645104 kemudian 0,06371013. Dalam hal ini berarti bahwa ada atau tidaknya audit tenure tidak memengaruhi keputusan investasi stakeholders yang ditunjukkan oleh perubahan angka manajemen laba.
Penelitan ini tidak sejalan dengan konsep dasar signalling theory yang menyatakan audit tenure merupakan bentuk sinyal bagi stakeholders dalam mengambil keputusan karena audit tenure tidak berkaitan dengan manajemen laba sehingga tidak dapat dijadikan sebagai sinyal untuk investor. Audit tenure tidak berkaitan dengan manajemen laba jadi tidak digunakan sebagai petunjuk untuk investor menentukan keputusan investasi. Audit tenure hanya salah satu bentuk regulasi yang diciptakan untuk mengurangi tindakan fraud yang terjadi dalam perusahaan, bukan sebagai bentuk timbal balik antara perusahaan dengan investor untuk melakukan kerjasama. Jika dilihat dari segi agency theory, semakin lama perikatan dapat menimbulkan agency conflict antara manajer dengan stakeholders melalui auditor untuk melakukan kerjasama melakukan manajemen laba. Penelitian tidak selaras dengan Dinuka & Zulaikha (2014); Kurniawansyah (2016) dan Yasser & Soliman (2018) namun sejalan dengan Kono & Yuyetta (2013); Hasanuddin (2015); Nihlati & Meiranto, (2014); Puspitasari &
Nugrahanti (2016); Putri (2012); dan Zgarni et al. (2012).
10 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2001 SIMPULAN DAN SARAN
Kajian yang dilakukan dalam penelitian ini memberikan kesimpulan yaitu komite audit tidak memengaruhi manajemen laba karena jumlah dewan komisaris lebih besar sebagai pihak yang mengawasi kegiatan internal perusahaan. Spesialisasi auditor tidak memengaruhi manajemen laba sebab auditor spesialis ragu dalam memberikaan pernyataan terkait aktivitas manajemen laba dikarenakan aktivitasnya lebih pada penyelewengan biaya diskresi dibanding manipulasi terhadap laporan keuangannya. Audit tenure tidak memengaruhi manajemen laba dikarenakan lama atau tidaknya penugasan jika disertai kurangnya keahlian auditor mengidentifikasi manajemen laba maka lamanya penugasan menjadi tidak penting.
Berdasarkan hasil pengujian, peneliti menyaraknkan agar penelitian lain melakukan penambahan waktu (periode) dan penelitian sampel agar mendapatkan hasil yang maksimal, karena keterbatasan penelitian ini mengambil periode dan sampel yang sempit sehingga data kurang bervariasi yang mengakibatkan hubungan antar variabel bebas tidak memiliki pengaruh terhadap variabel bebas. Bagi investor sebaiknya menerapkan prinsip kehati-hatian ketika melakukan penilaian terhadap laporan keuangan perusahaan guna mengambil keputusan investasi besar maupun kecil.
Bagi pemerintah agar meningkatkan pengawasan penerapan tata kelola perusahaan dan tindakan manajemen laba sedangkan bagi perusahaan disarankan untuk mengevaluasi kembali terkait kebijakan strategis perusahaan yang tidak merugikan para pemangku kepentingan.
REFERENSI
Alqatamin, R. (2018). Audit Committee Effectiveness and Company Performance : Evidence from Jordan. Accounting and Fiannce Reseach, 7(2). https://doi.org/10.5430/afr.v7n2p48
Ambarita, E., & Nuswantara, D. A. (2009). Pengaruh Penerapan Mekanisme Good Corporate Governance terhadap Praktik Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Akuntansi, 1(1), 28–44.
Connelly, B. L., Certo, S. T., Ireland, R. D., & Reutzel, C. R. (2011). Signaling Theory: A Review and Assessment. Journal of Management, 37(1), 39–67. https://doi.org/10.1177/0149206310388419
Dinuka, V. K., & Zulaikha. (2014). Analisis Pengaruh Audit Tenure, Ukuran KAP, dan Diversifikasi Geografis terhadap Manajemen Laba. Diponegoro Journal of Accounting, 3(3), 1–11.
Hasanuddin. (2015). Pengaruh Audit Tenure, Ukuran Kantor Akuntan Publik, Diversifikasi Geografis, dan Leverage terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Food and Beverage yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2013). JOM-FEKOM, 2(2).
Kono, F. D. P., & Yuyetta, E. N. A. (2013). Pengaruh Arus Kas Bebas , Ukuran KAP , Spesialisasi Industri KAP , Audit Tenur dan Independensi Auditor terhadap Manajemen Laba. Diponegoro Journal of Accounting, 2(3), 1–9.
Kristiani, K. E., Sulindawati, N. L. G. E., & Herawati, N. T. (2014). Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur ysng Terdaftar di BEI. Jurnal Akuntansi Program S1, 2(1).
Kumaat, L. C. (2013). Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan terhadap Manajemen Laba.
Jurnal Keuangan Dan Perbankan, 17(1), 11–20.
Kurniawansyah, D. (2016). Pengaruh Audit Tenure, Ukuran Auditor, Spesialisasi Audit, dam Audit Capacity Stress terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Listed di BEI Tahun 2010-2015). Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis Airlangga, 1(1), 1–25.
Lestari, E., & Murtanto. (2017). Pengaruh Efektivitas Dewan Komisaris dan Komite Audit, Struktur Kepemilikan, Kualitas Audit terhadap Manajemen Laba. Jurnal Media Riset Akuntansi, Auditing Dan Informasi, 17(2).
Naimi, M. N. M., Rohami, S., & Wan-Hussin, W. N. (2010). Corporate Governance and Audit Report Lag in Malaysia. Asian Academy of Management Journal of Accounting and Finance, 57–84.
Nihlati, H., & Meiranto, W. (2014). Analisis Pengaruh Kualitas Audit terhadap Earnings Management. Diponegoro Journal of Accounting, 3(3), 1–10.
Panjaitan, C. M., & Chariri, A. (2014). Pengaruh Tenure, Ukuran KAP, dan Spesialisasi Auditor terhadap Kualitas Audit. Diponegoro Journal of Accounting, 3(3), 1–12.
Pramaswaradana, I. G. I., & Astika, I. B. P. (2017). Pengaruh Audit Tenure, Audit Fee, Rotasi Auditor, Spesialisasi Auditor, dan Umur Publikasi pada Kualitas Audit. Udayana, E-Jurnal Akuntansi Universitas, 19(1), 168–194.
Pupperhart, M. (2012). The Effect of Audit Quality on Earning Quality Provided by Dutch Public and Privat Firms.
Puspitasari, A., & Nugrahanti, Y. W. (2016). Pengaruh Hubungan Politik , Ukuran Kap , dan Audit Tenure Terhadap Manajemen Laba Riil. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 18(1), 27–43.
https://doi.org/10.9744/jak.18.1.27-43
Putri, N. E. (2012). Pengaruh Audit Partner Tenure dan Audit Firm Tenure terhadap Praktik Manajemen Laba pada Perusahaan Perbanka. Jurnal Akuntansi Kontemporer, 4(1), 35–60.
Saleem, E., & Alzoubi, S. (2017). Audit Quality, Debt Financing, and Earnings Management: Evidence from Jordania. Journal of International Accounting, Auditing and Taxation, 12(001).
https://doi.org/10.1016/j.intaccaudtax.2017.12.001
Senja, Q. R., & Nurbaiti, A. (2019). Pengaruh Good Corporate Governance, Struktur Kepemilikan, Kualitas Audit, dan Audit Tenure terhadap Manajemen Laba ( Studi Kasus pada Perusahaan Sektor Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2017). In E-Proceeding of Management (Vol. 6, pp. 3200–3207).
Shaferi, I., & Handayani, S. R. (2017). Manajemen Perbankan dan Kinerja Keuangan pada Sub Sektor Bank di Bursa Efek Indonesia. Sustainable Competitive Advantage, 7(1).
12 Volume 1 Nomor 1 Tahun 2001 Soliman, M. M., & Ragab, A. A. (2014). Audit Committee Effectiveness, Audit Quality and Earnings
Management : An Empirical Study of the Listed Companies in Egypt. Research Journal of Finance and Accounting, 5(2), 1–29.
Sulistyanto, S. (2008). Manajemen Laba Teori dan Model Empiris. Jakarta: Grasindo.
Taco, C., & Ilat, V. (2016). Pengaruh Earning Power, Komisaris Independen, Dewan Direksi, Komite Audit dan Ukuran Perusahaan terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis Dan Akuntansi, 4(4).
Ulina, R., Mulyadi, R., & Tjahjono, M. E. S. (2018). Pengaruh Kualitas Audit dan Komite Audit terhadap Manajemen Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Tercatat di Bursa Efek Indonesia.
Tirtayasa Ekonomika, 13(1), 1–26.
Wareza, M. (2019). Tiga Pilar dan Drama Penggelembungan Dana. Retrieved from https://www.cnbcindonesia.com/market/20190329075353-17-63576/tiga-pilar-dan-drama- penggelembungan-dana
Widiastuty, E. (2016). Pengaruh Karakteristik Komite Audit terhadap Manajemen Laba, 10(2).
Yasser, S., & Soliman, M. M. (2018). The Effect of Audit Quality on Earnings Management in Developing Countries: The Case of Egypt. International Research Journal of Applied Finance, 9(4), 216–
232.
Zgarni, I., Hliooui, K., & Zehri, F. (2012). Audit Quality and Earnings Management in the Tunisian Context. International Journal of Accounting and Finance Reporting, 2(2), 17–33.
https://doi.org/10.5296/ijafr.v2i2.2065
Zgarni, I., Hliooui, K., & Zehri, F. (2016). Effective Audit Committee , Audit Quality and Evidence from Tunisia. Journal of Accounting in Emerging Economies, 6(2), 138–155.
https://doi.org/10.1108/JAEE-09-2013-0048
Klein, A. 2002. Audit Committee, Board of Director Characteristics, and Earnings Management.
Journal of Accounting and Economics, Vol. 32, 375 -400
Xie, B. dan W.N. Davidson III, dan P1. Dadalt. 2003. Earnings Management and Corporate Governance: $ e Role of Board and $ e Audit Committee. Journal of Corporate Finance, Vol. 9 No. 3, 295-316
Vafeas, N. 2005. Audit Committees, Boards, and " e Quality of Reported Earnings. Contemporary Accounting Research, Vol. 22 No. 4, 10093-1122
Permata, Dinda Widya. 2013. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Audit Lag. Jurnal Ilmiah Universitas Bakrie. Vol 1, No 02.
Scott, W. . (2011). Financial Accounting Theory. Prentice-Hall
Handi Haryanto Lim, Kardinal, Ratna Juwita. 2019. Analisa Pengaruh Return On Equity (ROE) Dan Debtto Equity Ratio (DER) Terhadap Pertumbuhan Laba Perusahaan Consumer Goods Yang Terdaftar DiBursa Efek Indonesia. Jurusan Manajemen, STIE MDP, Palembang