• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pengembangan Enterprise Resource Planning (ERP) pada Industri Pengolahan Baja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Model Pengembangan Enterprise Resource Planning (ERP) pada Industri Pengolahan Baja"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Model Pengembangan Enterprise Resource Planning (ERP) pada Industri Pengolahan Baja

Muhammad Bayu Prasetyo Aji1, Muhammad Arif Wibisono2

1,2 Departemen Teknik Mesin dan Industri, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

1[email protected], 2[email protected]

Abstrak— Teknologi informasi yang berkembang dengan pesat mendorong perusahaan untuk dapat beradaptasi dengan sistem baru, pemanfaatkan teknologi infotmasi tersebut dapat meningkatkan daya saing dan juga efektivitas informasi, pemanfaatan tersebut dapat dilakukan dengan integrasi data antar departemen perusahaan untuk menjalankan proses bisnisnya yang dikenal dengan sistem Enterprise Resource Planning (ERP). Namun sayangnya, saat ini masih banyak industri kecil menengah yang belum menggunakan sistem informasi tersebut karena terkendala dari perancangan model bisnis yang dapat dikembangkan dalam sistem tersebut. Penelitian ini akan dilakukan perancangan model untuk mengembangkan sistem ERP yang dapat diterapkan oleh industri kecil menengah khususnya pada bidang pengolahan baja di sentra pengecoran logam di daerah Ceper Klaten menggunakan analisis proses bisnis.

Perancangan model tersebut akan digambarkan dalam bentuk Business Process Modeling and Notation (BPMN) serta pengambaran aliran data yang digambarkan dalam Data Flow Diagram (DFD). Dari kedua diagram tersebut akan didapatkan informasi mengenai alur proses bisnis perusahaan, alur informasi perusahaan yang kemudian akan didapatkan kebutuhan data yang akan dikembangkan ke dalam sistem ERP perusahaan. Modul yang diperlukan untuk mengembangkan sistem ERP berdasarkan analisis BPMN antara lain modul sales, produksi, purchasing, warehouse, dan accounting, dan database yang diperlukan untuk menunjang sistem tersebut berdasarkan analisis DFD adalah database order, production, customer, dan supplier.

Kata Kunci— Sistem Informasi, Proses Bisnis, BPMN, DFD

I.PENDAHULUAN

Pengembangan bisnis usaha saat ini dapat dilakukan dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat.

Pemanfaatan teknologi tersebut dapat dilakukan dengan memaksimalkan integrasi data antar departemen perusahaan untuk menjalankan proses bisnisnya dengan menerapkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP), ERP sendiri merupakan penggabungan antara sistem Manufacturing Resource Planning (MRP II) dengan sistem akuntansi dan keuangan, sistem ERP tersebut dapat mengintegrasikan proses bisnis perusahaan antara lain penjualan dan distribusi, manajemen material, proses produksi, finansial, hingga sumber daya manusia, hingga hubungan ke customer yang tergabung dalam sebuah sistem tunggal sehingga arus informasi akan dengan mudah didapatkan.

Pengimplementasian sistem informasi berbasis Enterprise Resource Planning (ERP) memiliki berbagai manfaat, penelitian [1] telah membahas bahwa post implementasi dari ERP dapat mencegah perluasan ruang lingkup, jadwal dan biaya proyek, serta meningkatkan kepuasan kerja. Sistem ERP bermanfaat pada pengelolaan manajemen keuangan yang lebih baik, mudah melakukan konfigurasi untuk memenuhi kebutuhan bisnis, dan mengurangi biaya operasional perusahaan [2]. Sistem ERP menjadi andalan perusahaan untuk dapat meningkatkan efisiensi pekerjaan dan juga mengurangi biaya operasionalnya.

• Penerapan sistem ERP pada perusahaan manufaktur saat ini banyak dilakukan pada industri-industri besar, sementara pada industri kecil menengah masih memiliki beberapa halangan yang perlu dilalui antara lain, biaya investasi yang dikeluarkan sangat besar, kesiapan manajemen perusahaan dalam bertransformasi dari sistem tradisional maupun semi modern menjadi sistem yang saling berintegrasi, serta kecakapan sumber daya manusia yang belum mumpuni.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistika (BPS) tahun 2021, kelompok usaha industri non migas menjadi penyumbang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia kedua setelah industri penggolahan migas. Industri besi dan baja termasuk dalam industri non migas pada kelompok industri baja dasar yang merupakan bagian dari industri strategis Indonesia. Sektor ini berperan dalam pengadaan bahan baku untuk dimanfaatkan dalam berbagai lini bisnis. Peningkatan konsumsi baja dalam negeri yang dijelaskan Gambar 1 dibawah ini akan berdampak pada industri baja kelas menengah untuk dapat memanfaatkan peluang dari kondisi tersebut, namun daya saing yang masih rendah berakibat pada terhambatnya berkembangnya industri tersebut salah satunya dikarenakan teknologi produksi serta teknologi informasi yang diterapkan masih tradisional. Saat ini perusahaan tersebut memiliki 3 lokasi produksi, dimana lokasi tersebut diharapkan dapat berjalanan beriringan untuk dapat menyelesaikan pesanan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan saat ini perusahaan mengalami masalah dalam mengelola pesanan konsumen serta melakukan

(2)

penjadwalan produksi untuk mencapai target harian yang sesuai. Tidak terintegrasinya data-data tersebut berakibat pada kurang efektifnya pengelolaan selama proses bisnis perusahaan dalam memenuhi pesanan konsumen, selain itu data-data yang tidak terkelola dengan baik akan mempengaruhi owner perusahaan dalam mengambil keputusan selanjutnya.

Gambar 4. Konsumsi baja nasional (Juta ton), IISIA 2021

Untuk dapat memanfaatkan peluang tersebut, perlu adanya pengembangan alur bisnis perusahaan IKM baja yang dimana perusahaan tersebut memiliki berbagai konsumen yang memesan produk dari hasil olahan peleburan baja oleh karena itu core industry atau IKM baja harus dapat menyediakan produk pesanan konsumen tersebut sesuai dengan waktu yang terlah disetujui berdasarkan data order, sebagai industri fabrikasi maka perusahaan memerlukan bahan baku yang dipasok oleh berbagai supplier berbeda seperti baja bekas, kebutuhan molding serta alat penunjang lainnya. Penerapan sistem ERP akan mempermudah industri kecil menengah dalam memfasilitasi interaksi antar bagian kegiatan usaha yang dimiliki perusahaan tersebut, selain itu juga dapat membantu untuk memahami bagaimana proses bisnis berjalan dan saling berinteraksi sama lain.

Penelitian ini akan berfokus dalam memodelkan sebuah sistem ERP dari sebuah perusahaan berdasarkan proses bisnis perusahaan, usulan sistem yang diberikan akan digambarkan melalui Business Process Model Notation (BPMN) untuk menggambarkan alur proses perushaan yang dengan standar yang telah banyak digunakan oleh berbagai bidang, serta penggambaran alur informasi yang mengalir sepanjang proses bisnis perusahaan Data Flow Diagram (DFD) Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam shifting dari sistem konvensional menjadi sistem informasi manajemen yang dapat bermanfaat dalam mengembangkan perusahaan berdasarkan data yang dapat ditampilkan oleh sistem tersebut, selain ini diharapkan pula model penelitian ini dapat diterapkan dengan melakukan penyesuaian dengan industri pengolahan baja lainnya sehingga akan tercipta suatu sistem integrasi antar perusahaan kecil yang dikelola oleh koperasi.

II. LINJAUAN PUSTAKA 2.1. Enterprise Resource Planning (ERP)

Enterprise Resource Planning merupakan sistem informasi yang berguna untuk menjalankan proses bisnis perusahaan secara otomatisasi dengan mengintegrasikan seluruh proses bisnis utama perusahaan. ERP tersusun dari beberapa modul yang saling berintegrasi untuk membantu memenuhi kebutuhan informasi perusahan terkait proses bisnis yang dijalankan. Aktivitas bisnis yang dapat dikelola oleh sistem ERP sampai saat ini antara lain aktivtias pengelolaan keuangan, pengadaan material, produksi, inventory, sumber daya manusia, pengelolaan proyek dan lain sebagainya [3]

2.2. SAP Activate

SAP Activate merupakan salah satu metode pengembangan yang digunakan oleh SAP bagi perusahaan yang akan mencoba mengimplementasikan sistem ERP. Ada beberapa skenario yang dapat diterapkan dalam mengimplementasikan sistem menggunakan SAP Activate seperti implementasi baru, konversi sistem, dan transformasi lanskap. Metode SAP Activate terdiri dari beberapa proses mulai dari discover, prepare, explore, realize, deploy, hingga run [4].

+ 2.3. Odoo Software

6.6 7.9

10 10.9

13

6.9 7.1 7.6 8.4

5.6

0.8 1.3 2.6 3.3 3.6

12.7 13.6 15.1 15.9

15.1

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

2016 2017 2018 2019 2020

Juta Ton

Tahun

Produksi Import Eksport Konsumsi

(3)

Odoo merupakan open-source software ERP yang dikembangkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan perusahaan dalam mengelola proses bisnis dalam bentuk sistem informasi terintegrasi. Software tersebut dapat digunakan dalam jenis web base maupun mobile apps dan seluruh data tersimpan dalam satu database terpusat. Odoo menyediakan berbagai macam aplikasi yang dapat dimanfaatkan dalam membantu proses bisnis perusahaan seperti finance, sales, inventory & MRP, human resource, marketing, services, productivity, dan website.

2.4. Open-Source ERP

Open-source software merupakan perangkat lunak dengan kode program dan distribusikan secara terbuka sehingga dapat dipelajari, diadaptasikan sesuai keinginan, dan dikembangkan oleh seluruh pengguna perangkat lunak tersebut [5]. Pengembangan open-source software dilakukan oleh berbagai organisasi dengan mengalokasikan waktu dan sumber daya mereka, bahkan bidang pendidikan dan pemerintahan juga telah mengembangkan sejak awal.

2.5. Odoo ERP pada Manufaktur

Penelitian [6] mendapatkan hasil implmentasi sistem ERP pada proses bisnis pembelian bahan baku, dimana sebelumnya, proses tersebut dijalankan secara manual dan beresiko terjadi kesalahan pada laporan keuangan perusahaan. Hasil yang diberikan pada penelitian [7] berupa dashboard dari hasil pengembangan sistem informasi pada sales, purchase, inventory dan accounting.

Perbedaan hasil dari kedua penelitian ini dikarenakan, penelitian [6] hanya memberikan usulan mengenai proses bisnis yang akan menerapkan sistem ERP, sementara penelitian [7] juga mengembangkan dashboard dari berdasarkan proses bisnis perusahaan yang dapat memberikan informasi labih dari proses bisnis perusahaan secara real time.

Pengembangan dashboard tersebut juga dapat mempermudah kominikasi diperusahaan dan meningkatkan efisiensi pada sub unit di perusahaan yang didukung oleh penelitian [8], penelitian tersebut berfokus pada pengembangan dashboard antara penjualan dan warehouse. Penelitian [9] juga mengembangkan sistem ERP menggunakan SAP Activate pada sistem Green ERP penelitian ini mengembangkan sistem ERP pada proses produksi kulit, yang tentunya dikonfigurasi sesuai dengan green KPI untuk merealisasikan industri hijau yang dapat diintegrasikan dengan green procurement, green sales, and reverse logistics modules. Rancangan sistem informasi terintegrasi berbasis ERP juga dilakukan oleh penelitian [10], dengan metode kualitatif dimana peneliti melakukan identifikasi permasalahan pada proses bisnis penjualan, persediaan bahan baku, proses produksi, pelaporan keuangan.

Penelitianan [11] melakukan implementasi sistem ERP di perusahaan besi, sistem ERP dicoba diterapkan dengan beberpa konfigursi yang cocok dengan perusahaan tersebut. Pengembangan sistem ERP difokuskan pada modul manufaktur, dimana terdapat beberapa fitur yang dapat digunakan oleh perusahaan tersebut seperti bill of material, order planning, manufacturing order, work centres, dan routing.

2.6. Odoo ERP pada Perusahaan Jasa

Penelitian [12] menggunakan metode yang sama yaitu Accelerate SAP namun obyek penelitian ini dilakukan pada perusahaan distributor spare part, modul yang diperlukan pada perusahaan tersebut adalah warehouse dan purchase. Modul tersebut diperlukan karena proses bisnis perusahaan yang berfokus mengenai perawatan mobil seperti spare parts sales, car service, body repair. Dalam mengimpelemntasikannya juga dilakukan pengujian sistem untuk menyesuaikan dengan kebutuhan yang seharusnya diperlukan user dalam menjalankan sistemnya.

2.7. Odoo ERP pada Retail

Penelitian [13], mengambil obyek pada unit usaha karyawan atau koperasi karyawan, pengembangan sistem ERP tersebut dikarenakan adanya ketidak jelasan informasi antar departemen keuangan. Metode yang digunakan adalah Accelerate SAP dan fokus penelitian pada modul keuangan, tahap pengembangan dilakukan dengan tiga tahap yang terbagi menjadi tahap persiapan proyek, identifikasi bisnis proses, dan realisasi perancangan sistem kedalam software Odoo.

Berdasarkan hasil studi literatur yang telah dilakukan, pengunaan sistem ERP berbasis open source berhasil dilakukan dalam berbagai bidang usaha, pengembangan sistem tersebut dapat menyesuaikan kebutuhan perusahaan sehingga akan memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya, dan pemanfaatan sistem ERP tersebut berdampak cukup baik dalam meningkatkan integrasi data perusahaan, maka model pengembangan yang akan dilakukan untuk memperbaiki sistem teknologi informasi perusahaan dengan melakukan analisis proses bisnis menuggunakan diagram BPMN dan Data Flow Diagram. Hasil analisis tersebut akan digunakan dalam mengembangkan sistem ERP yang bermanfaat bagi sektor industri pengecoran logam khususnya CV XYZ tersebut. Penggunaan SAP Active sebagai acuan dalam menentukan langkah yang digunakan dalam mengembangkan sistem ERP tersebut.

(4)

III.METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian

Objek dari penelitian adalah merancang sistem ERP dengan menggunakan data proses bisnis perusahaan pengecoran baja dari CV.

XZY dimana perusahaan tersebut masuk dalam kategori industri menengah sesuai dengan peraturan menteri 64/M- IND/PER/7/2016. Perusahaan yang diteliti menjalankan model bisnis B2B atau Business to Business dimana produk yang diproduksi dijual ke satu bisnis lain bukan kepada konsumen. Perusahaan tersebut memiliki produk-produk unggulan dari pengecoran baja, produk yang dikasilkan antara lain komponen mesin dengan total lebih dari 150 jenis seperti pully, bushing dan juga rangka mesin jahit. Perusahaan tersebut telah memproduksi olahan baja dan didistribusikan untuk memenuhi permintaan pasar ke berbagai daerah di Indonesia.

3.2. Tahap Penelitian

Adapun tahapan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Persiapan alat dan bahan

Alat dan bahan seperti laptop, handphone, dan software dipersiapkan untuk melakukan tahapan selanjutnya yaitu perancangan sistem.

2. Tinjauan Pustaka

Pada langkah ini, informasi digali untuk mendapatkan wawasan yang mendasari penelitian ini. Tinjauan pustaka dilakukan terhadap buku dan kajian yang telah dilakukan sebelumnya untuk memperoleh referensi berupa konsep, teori, metode, model, dan informasi lain yang dapat mendukung dalam melakukan penelitian.

3. Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama, dan data sekunder diperoleh dari media lain disamping sumber utama. Data primer diperoleh dengan cara wawancara dan brainstorming untuk mengetahui bidang usaha perusahaan yang sedang dijalani serta kendala yang dihadapi dalam mengelola informasi

4. Analisis Proses Bisnis

Proses bisnis perusahaan akan digambarkan menggunakan Business Process Model Notation (BPMN) yang merupakan flowchart berbasis notasi untuk mendefinisikan dan menggambarkan logika dari langkah-langkah dalam proses bisnis yang dikeluarkan oleh Open Management Group guna mempermudah dalam menyampaikan alur proses bisnis mencakup seluruh bagian dari perusahaan. Data Flow Diagram (DFD) atau Diagram Alir Data (DAD) akan dibangun pula yang merupakan suatu diagram menggunakan notasi-notasi untuk mendeskripsikan arus menurut data dalam suatu sistem atau menjelaskan alur proses kerja suatu sistem, yang penggunaannya sangat membantu dalam memahami sistem secara logika, terstruktur dan jelas.

IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

Proses bisnis perusahaan yang menerapkan sistem make to order memiliki strategi dalam memenuhi kebutuhan customer, perusahaan akan memulai proses produksi apabila pesanan sudah diberikan oleh customer. Sistem produksi tersebut berpengaruh terhadap alur proses bisnis perusahaan, untuk mencapai Key Performance Indicator (KPI) berupa pesanan diterima oleh customer tepat pada waktunya banyak faktor yang perlu diperhatikan seperti waktu pemesanan, jumlah pesanan, batas waktu pengiriman hingga ketersediaan bahan baku produksi.

4.1. Alur proses bisnis perusahaan

Proses bisnis perusahaan dimulai dari adanya pesanan produk dari customer kepada bagian sales, sales menerima data produk yang dipesan customer kemudian melanjutkan pembuatan quotation untuk dikirimkan kembali ke customer. Quotation yang telah diterima dan disetujui oleh customer akan dilanjutkan proses PO, dan penjadwalan produksi, bagian produksi akan melakukan perhitungan jumlah bahan baku yang diperlukan, apabila bahan baku cukup maka dilanjutkan ke proses produksi, sedangkan apabila bahan baku tidak cukup maka akan ada permintaan pembelian bahan baku. Pengajuan pembelian bahan baku dilakukan oleh bagian akuntansi kepada suplier dengan menerbitkan surat pesan, surat pesan diterima oleh suplier yang kemudian akan diproses dan dikirimkan tagihan ke bagian akuntansi dan bahan baku ke bagian produksi. Bagian produksi akan melakukan proses produksi hingga tahap quality control dan pengemasan produk. Bagian akuntansi akan melakukan pembayaran tagihan bahan baku ke supplier. Produk yang sudah dikemas akan dilakukan pengiriman oleh bagian warehouse sekaligus bagian sales mengirimkan

(5)

selesai. Analisis proses bisnis pada perusahaan tersebut digambarkan dalam diagram Business Process Modeling and Notation seperti Gambar 2 dibawah ini.

Gambar 5. BPMN perusahaan

Hasil pengambaran proses bisnis menggunakan BPMN diketahui bahwa proses bisnis perusahaan memiliki 3 pool yaitu, pool customer, pool industri manufaktur, dan pool suplier. Pada pool industri manufaktur terbagi menjadi 5 lane yang masing-masing menggambarkan bagian dari perusahaan tersebut, yaitu sales, produksi, purchasing, warehouse, dan accounting.

4.2. Perancangan Data Flow Diagram (DFD)

Aliran informasi yang terdapat pada proses bisnis tersebut disajikan dalam bentuk diagram alir data atau Data Flow Diagram (DFD), diagram digambarkan dalam 2 level yaitu level 0 yang berisi aliran informasi dari 1 proses (industri manufaktur) dengan 2 entitasnya (customer dan supplier). DFD level 0 sistem informasi manajemen yang disajikan pada Gambar 3 di bawah ini terdiri dari 2 entitas eksternal yaitu customer dan suplier serta 1 proses (industri manufaktur) yang masing-masing memiliki 5 data flow yang berbeda yang berasal dan mengarah ke proses (industri manufaktur).

(6)

Gambar 6. DFD level 0

DFD kemudian dikembangkan kembali ke level 1seperti pada Gambar 4 di bawah ini yang menjelaskan lebih rinci lagi proses di dalamnya. Terdapat 5 proses didalam industri yang terbagi menjadi proses sales, warehouse, production, purchasing, dan accounting manufaktur 4 database yang digunakan di dalam proses yaitu customer data, order, proction, dan material supplier.

Gambar 7. DFD level 1

4.3. Implementasi Odoo

Berdasarkan hasil analisis proses bisnis dan juga diagram alir data maka akan dilakukan implementasi ke dalam sistem ERP berbasis Odoo, dari penggambaran diagram BPMN diketahui bahwa perusahaan memiliki 5 bagian penting dalam menjalankan usahanya yaitu sales, produksi, purchasing, warehouse, dan accounting, dari kelima bagian tersebut akan dikembangkan dalam sistem Odoo.

Sistem Odoo tersendiri terbagi menjadi beberapa bagian proses bisnis yang didalamnya terdapat bermacam-macam modul, modul tersebut akan dipilih sesuai dengan proses bisnis perusahaan ini, dari data BPMN tersebut maka modul yang digunakan dalam Odoo adalah modul sales, invoicing, accounting, inventory, purchase,dan manufacture. Sementara berdasarkan hasil DFD yang menjelaskan bahwa perusahaan memerlukan 4 database dalam menjalankan sistem informasinya, database customer data berada dalam modul sales, database order berada dalam modul sales, invoicing dan accounting, database production berada dalam modul inventory dan manufacture, dan database material supplier ada dalam modul purchasing.

(7)

Gambar 8 Modul dalam sales

Gambar 9 Modul dalam operasional

Gambar 10 Modul dalam manufaktur

V.KESIMPULAN

Model pengembangan sistem ERP pada perusahaan XYZ telah dilakukan hingga tahap analisis proses bisnis dan juga analisis aliran informasi yang terdapat pada proses bisnis perusahaan, dari model tersebut dapat diketahui bagaimana interaksi antara perusahaan dengan customer dan supplier. Dengan menggunakan analisis proses bisnis BPMN, diketahui bahwa modul yang diperlukan dalam mengembangkan sistem ERP adalah modul sales, produksi, purchasing, warehouse, dan accounting. Kelima modul tersebut akan diintegrasikan untuk mempermudah aliran informasi perusahaan, dalam hasil penelitian ini juga dibangun diagram alir data atau DFD, dari hasil DFD level 1 didapatkan jumlah database yang dibutuhkan untuk menampung seluruh informasi bisnis seperti database order, production, customer, dan supplier.

Model pengembangan sistem Odoo berdasarkan hasil BPMN dan DFD diketahui bahwa modul yang diperlukan perusahaan dalam menjalankan sistem informasinya antara lain modul sales, invoicing, accounting, inventory, purchase,dan manufacture.

Keenam modul tersebut akan dilakukan kostumisasi agar sesuai dengan kondisi yang ideal di lapangan.

Saran dari penelitian ini adalah untuk memudahkan dan meningkatkan efektifitas, perusahan baja mulai bisa menggunakan bantuan teknologi untuk mengelola proses bisnis perusahaan. Sedangkan saran yang dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya adalah dengan melakukan penelitian lebih lanjut mengenai menguji usabilitas maupun efektifitas dari sistem yang telah dirancang.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Hietala, H., & Päivärinta, T. (2021). Benefits realisation in post-implementation development of ERP systems: A case study. Procedia Computer Science, 181(2020), 419–426. https://doi.org/10.1016/j.procs.2021.01.186

(8)

[2] Trinoverly, Y., Handayani, P. W., & Azzahro, F. (2018). Analyzing The Benefit of ERP Implementation in Developing Country: A State Owned Company Case Study. 2018 International Conference on Information Management and Technology (ICIMTech), September, 1–9.

[3] Hall, J. A. (2011). Accounting Information Systems, Seventh Edition: South Western. http://avaxhome.ws/blogs/ChrisRedfield

[4] Arifin, H. S., Ridwan, A. Y., & Saputra, M. (2020). Design of green ERP system reverse logistic module based on odoo in leather tanning industry. 2020 International Conference on Computer Science and Its Application in Agriculture, ICOSICA 2020.

https://doi.org/10.1109/ICOSICA49951.2020.9243234 [5] Sneller, L. (2014). A Guide to ERP. In Bookboon.

[6] Limantara, N., & Jingga, F. (2018). Open source ERP: ODOO implementation at micro small medium enterprises. Proceedings of 2017 International Conference on Information Management and Technology, ICIMTech 2017, 2018-Janua(November), 340–344.

[7] Wu, J. Y., & Chen, L. T. (2020). Odoo ERP with Business Intelligence Tool for a Small-Medium Enterprise: A Scenario Case Study. ACM International Conference Proceeding Series, 323–327. https://doi.org/10.1145/3377571.3377607

[8] Hardjono, C. (2017). Perancangan Dan Implementasi Erp ( Enterprise Resource Planning ) Modul Sales and Warehouse Management Pada Cv . Brada.

EProceedings of Engineering, 4(3), 4983–4993.

[9] Ikhsan, I., Ridwan, A. Y., & Saputra, M. (2020). Green Production Using ERP: Case Study in the Leather Tanning Industry. 2020 8th International Conference on Information and Communication Technology, ICoICT 2020. https://doi.org/10.1109/ICoICT49345.2020.9166338

[10] Prastyo, A., Rispianda, R., & Nugraha, C. (2016). Rancangan Sistem Informasi Terintegrasi Di PT. Mte Berbasis Sistem Enterprise Resource Planning Menggunakan Software Odoo. Reka Integra, 4(1), 134–145. http://jurnalonline.itenas.ac.id/index.php/rekaintegra/article/view/1060

[11] Terminanto, A., Hidayanto, A. N., & Maulana, B. (2019). Development, configuration and implementation open source ERP in manufacturing modul with accelerated Sap method. International Journal of Management, 10(3), 77–98. https://doi.org/10.34218/IJM.10.3.2019.009

[12] Terminanto, A., Hidayanto, A. N., & Utomo, F. B. (2020). Implementation open source system resource planning in sustainable supply chain management of small and medium enterprise. International Journal of Supply Chain Management, 9(3), 472–495.

[13] Terminanto, A., & Hidayanto, A. N. (2017). Identifying characteristics and configurations in open source ERP in accounting using ASAP: A case study on SME. Proceedings - 2017 International Conference on Soft Computing, Intelligent System and Information Technology: Building Intelligence Through IOT and Big Data, ICSIIT 2017, 2018-Janua, 227–232. https://doi.org/10.1109/ICSIIT.2017.47

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi proses bisnis yang berjalan pada sistem ERP (Enterprise Resource Planning), terutama pada departemen terkait yang berhubungan dengan

Mengidentifikasi informasi perusahaan terkait proses bisnis dan analisis kebutuhan yang akan digunakan sebagai acuan dalam penerapan sistem ERP dengan software Odoo..

ERP dibutuhkan oleh perusahaan tergantung pada kompleksitas proses bisnis (best practice) perusahaan dengan biaya dan tim implementasi dari orang-orang yang tepat

Hal terpenting dalam proses yang merupakan acuan utama dalam melakukan implementasi sistem ERP adalah sebelum mengambil keputusarv menggunakan sistem ERP, maka

ERP dibutuhkan oleh perusahaan tergantung pada kompleksitas proses bisnis (best practice) perusahaan dengan biaya dan tim implementasi dari orang-orang yang tepat

Konsep Utama ERP Fungsi-fungsi perusahaan yang harus dilibatkan dalam suatu proses ERP meliputi perencanaan bisnis visi, misi, dan perencanaan strategis, peramalan, proses MRP II

Analisa sistem dan pemilihan implementasi ERP tidak berpengaruh signifikan terhadap kebehasilan Implementasi ERP dalam keberhasilan implementasi ERP IMPLIKASI Penelitian ini

Garuda Food Suatu perusahaan yang besar pastinya akan sulit untuk dikelola, maka dari itu dibutuhkanlah sistem ERP supaya mempermudah pekerjaan dalam perusahaan, sistem ERP ini