17 BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Produksi
1. Pengertian Produksi
Istilah Produksi sering digunakan dalam term membuat sesuatu. Secara khusus, produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah suatu barang atau jasa. Dalam istilah yang lebih luas dan lebih fundamental, produksi dapat diartikan sebagai berikut: pengubahan bahan-bahan dari sumber-sumber menjadi hasil yang diinginkan oleh konsumen. Hasil itu dapat berupa barang atau jasa.1
Dalam pengertian sederhana, produksi berarti menghasilkan barang atau jasa. Menurut ilmu ekonomi, pengertian produksi adalah kegiatan menghasilkan barang maupun jasa atau kegiatan menambah nilai keguanaan atau manfaat suatu barang.2
Dalam ekonomi islam menurut siddiqi, berpendapat :
Produksi adalah penyediaan barang dan jasa dengan memperhatikan nilai-nilai keadilan dan kebijakan atau manfaat (mashlahah) bagi masyarakat. Dalam pandangannya, sepanjang produsen telah bertindak adil dan membawa kebijakan bagi masyarakat maka ia telah bertindak Islami.3
Dalam suatu negara mencetak uang sebanyak-banyaknya, tetapi bila hal itu bukan merupakan refleksi pesatnya pertumbuhan sektor produksi (baik barang maupun jasa), uang yang melimpah itu tidak ada nilainya. Sektor produksilah
1 Abdul Aziz, Ekonomi Islam Analisis Mikro dan Makro (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2008), 56.
2 Eko Suprayitno, Ekonomi Mikro Perspektif Islam (Yogyakarta : UIN-Malang Press.
2008) 157
3 Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam (Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada. 2008) 231
18 yang menjadi motor pembangunan, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan kerja, dan menimbulkan permintaan atas faktor produksi lainnya.4
Menurut sugiarto, mengemukakan bahwasannya produksi adalah:
“Produksi adalah suatu kegiatan yang mengubah input menjadi output. Kegiatan tersebut dalam ekonomi biasa dinyatakan dalam fungsi produk, Fungsi produk menunjukan jumlah maksimum output yang dapat dihasilkan dari pemakaian sejumlah input dengan menggunakan teknogi tertentu”.5
Islam menganjurkan umatnya untuk memproduksi dan berperan dalam berbagai bentuk aktivitas ekonomi antara lain : pertanian, perkebunan, perikanan, perindustrian, dan perdagangan. Islam memberkahi pekerjaan dunia dan menjadikannya bagian dari ibadah dan jihad, jika sang pekerja bersikap konsisten terhadap peraturan Allah, suci niatnya, dan tidak melupakan-Nya. Dari jabir bahwa diriwayatkan oleh Baihaqi bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Kejahatan yang paling bahaya di muka bumi ini ialah pengangguran”. Pada masa Rasulullah SAW, beliau tidak pernah menyuruh seorang sahabat pun untuk meninggalkan keterampilannya. Karena pada dasarnya, pekerjaan duniawi tidak hanya bermanfaat bagi individu pelakunya, tetapi juga penting untuk mencapai kemaslahatan masyarakat secara umum.
Menurut al-Ghazali menyebutkan bahwa beberapa faktor produksi antar lain6 : a. Tanah, dengan segala potensinya sebagai barang yang tidak akan pernah
bisa dipisahkan dari bahasan tentang produksi.
Tanah menjadi faktor terpenting dalam hal ini, penekanan pada penggunaan tanah-tanah yang mati menunjukan perhatian Rasulullah SAW dalam penggunaan sumber daya bagi kemakmuran rakyat. Islam
4 Adiwarman Karim. Ekonomi Mikro Islam, (Jakarta : IIIT Idonesia Wism Nugrasantana, 2002). 79
5 Sugiarto dkk, Ekonomi Mikro Sebuah Kajian Komprehensif (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. 2002) 202
6 Ika Yunia Fauzia dan Abdul Kadir Riyadi. Prinsip Dasar Ekonomi Islam Perspektif maqashid al-Syariah. Jakarta : KENCANA (PRENADAMEDIA GROUP), 2014. 118-121
19 mempunyai komitmen untuk melaksanakan keadilan dalam hal pertanahan.
b. Tenaga kerja, karena kualitas dan kuantitas produksi sangat ditentukan oleh tenaga kerja.
Ini merupakan human capital bagi suatu perusahaan dan juga aset bagi keberhasilan perusahaan. Kesuksesan suatu produksi terletak pada kinerja sumber manusia yang ada di dalamnya, termasuk diantaranya kinerja pada tenaga kerja. Secara umum diantara ahli ekonomi ada yang menyatakan bahwa tenaga kerja dalah satu-satunya produsen dan pangkal produktivitas dari semua faktor misalnya : tanah, modal manajerial yang baik tidak akan bisa menghasilkan suatu barang/jasa tanpa adanya tenaga kerja.
c. Modal, objek material yang digunakan untuk memproduksi suatu kekayaan ataupun jasa ekonomi.
Modal adalah sejumlah kekayaan yang bisa berupa aset yang bisa digunakan untuk menghasilkan suatu kekayaan. Dalam islam modal suatu usaha haruslah bebas dari riba. Dalam beberapa cara perolehan modal, Islam mengatur suatu sistem yang lebih baik, dengan cara kerja sama mudharabah atau musharakah. Hal ini untuk menjaga hak produsen dan juga hak pemilik modal, agar tercapai suatu kebaikan dalam suatu aktivitas produksi yang akhirnya akan berimplikasi pada adanya suatu Mashlahah dalam suatu kerjasama yang dilakukan oleh masing-masing pihak.
d. Manajemen produksi / orang menjalankannya, untuk mendapatkan kualitas produksi yang baik diperlukan manajemen yang baik juga. Beberapa faktor produksi di antara semua faktor tidak akan mengahasilkan suatu profit (keuntungan) yang baik ketika tidak ada manajemen yang baik, karena tanah, tenaga kerja, modal dan lain sebagainya tidak akan bisa berdiri dengan sendirinya.
20 2. Tujuan Produksi
Tujuan kegiatan produksi adalah meningkatkan kemaslahatan yang bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk di antaranya7
1. Pemenuhan kebutuhan manusia pada tingkat moderat
Tujuan produksi yang pertama sangat jelas, yaitu pemenuhan kebutuhan manusia pada tingkatan moderat. Hal ini akan menimbulkan dua implikasi yaitu pertama produsen hanya menghasilkan barang dan jasa yang menjadi kebutuhan, meskipun belum tentu keinginan konsumen karena keinginan manusia sifatnya tidak terbatas sehingga sering kali mengakibatkan ketidakjelasan antara keinginan dan apa yang benar-benar menjadi kebutuhan hidupnya. Barang dan jasa yang dihasilkan harus memiliki manfaat riil bagi kehidupan bukan sekedar memberikan kepuasan maksimum saja. Dalam konsep maslahah, salah satu formulanya adalah harus memenuhi unsur manfaat. Kedua, kuantitas produk yang diproduksi tidak akan berlebihan, tetapi hanya sebatas kebutuhan yang wajar.
2. Menemukan kebutuhan masyarakat dan pemenuhannya
Meskipun produsen hanya menyediakan sarana kebutuhan manusia, namun hal ini bukan berarti produsen bersifat pasif dan reaksi terhadap kebutuhan manusia, yang mau memproduksi hanya berdasarkan permintaan konsumen.
Produsen harus mampu menjadi sosok yang kreatif, proaktif, dan inovatif dalam menemukan barang dan jasa apa yang menjadi kebutuhan manusia dan kemudian memenuhi kebutuhan tersebut. Sikap proaktif ini juga harus berorientasi ke depan dalam artian : pertama, harus mampu menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat bagi kehidupan dimasa mendatang. Sehingga seorang produsen dalam kerangka islami tidak akan mau memproduksi barang-barang yang bertentangan dengan syariat, maupun barang yang tidak memiliki manfaat rill kepada umat.
Pemenuhan sarana bagi kegiatan sosial dan ibadah kepada Allah
7M.nur rianto al arif dr. Euis amalia.Teori mikroekonomi. (Jakarta : PRENADA MEDIA GROUP , 2010 ) 152-154
21 Tujuan yang terakhir yaitu pemenuhan sarana bagi kegiatan sosial dan ibadah kepada Allah, dan inilah tujuan produksi yang tidak akan mungkin dapat tercapai dalam ekonomi konvensional yang bebas nilai. Tujuan produksi adalah mendapatkan berkah yang secara fisik belum tentu dirasakan oleh produsen itu sendiri. Tujuan ini akan membawa implikasi yang luas, sebab produksi tidak akan selalu menghasilkan keuntungan materiil, namun harus mampu pula memberikan keuntungan bagi orang lain dan agama.
Adapun tujuan produksi menurut Monzer Kahf ialah :
a. Upaya manusia untuk meningkatkan tidak hanya kondisi materialnya.
Akan tetapi juga moralnya untuk kemudian menjadi sarana mencapai tujuannya kelak diakhirat. Sehingga produk-produk yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai moralnya akan dilarang dalam Islam.
b. Aspek sosial dalam produksi, yaitu distribusi keuntungan dari produksi itu sendiri diantara sebagian besar orang dengan cara seadil-adilnya. Hal tersebut merupakan tujuan utama ekonomi masyarakat. Sistem ekonomi islam lebih terkait dengan kesejahteraan masyarakat dibandingkan dengan sistem yang lainnya.
c. Masalah ekonomi bukanlah masalah yang jarang berkaitan dengan kebutuhan hidup, akan tetapi ppermasalahan tersebut timbul karena kemalasan dan kealpaan manusia dalam usahanya untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dari anugerah Allah.
Adapun beberapa prinsip produksi dalam ekonomi islam selalu bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Dalam hal kesejahteraan masyarakat yang berkaitan dengan konteks industri antara lain8 :
1) Meningkatnya kesejahteraan buruh karena terpenuhinya hak-hak mereka.
2) Meningkatnya kesejahteraan pengelola usaha karena para buruh bersatu memajukan industri.
8 Ika Yunia Fauzia dan Abdul Kadir Riyadi. Prinsip Dasar Ekonomi Islam Perspektif maqashid al-Syariah. 127-129
22 3) Meningkatnya kesejahteraan pemodal income yang baik akibat tingginya
keuntungan.
4) Meningkatnya kesejahteraan petani atau perajin karena bahan baku di hargai dengan baik.
5) Meningkatnya kesejahteraan masyarakat konsumen karena barang bermutu.
6) Menunjang kebutuhan masyarakat konsumen karena barang/jasa terjual dengan harga yang terjangkau.
7) Meningkatnya kesejahteraan masyarakat sekitar industri karena mendapat program-program pemberdayaan masyarakat melalui dana zakat, infak, sedekah, wakaf dari perusahaan.
8) Meningkatnya kesejahteraan alam dengan selalu melakukan serangkaian aktivitas untuk menjaga kelestarian alam.
Prinsip produksi dalam Ekonomi Islam yang berkaitan dengan maqashid al-Syari’ah yaitu :
a) Kegiatan produksi harus dilandasi nilai-nilai Islam dan sesuai dengan maqashid al-syari’ah. Tidak memproduksi barang/jasa yang bertentangan dengan penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
b) Prioritas produksi harus sesuai dengan prioritas kebutuhan yaitu dharuriyat (kemaslahatan agama dan dunia), hajiyat (sesuai kebutuhan yang dipenuhi), tahsiniyat (melakukan kebiasaan yang baik dan menghindar dari yang buruk sesuai apa yang telah diketahui oelh akal sehat).
c) Kegiatan produksi harus memperhatikan aspek keadilan sosial, zakat, sedekah, infak, dan wakaf.
d) Mengelola sumber daya alam secara optimal, tidak boros, berlebihan dan merusak lingkungan.
e) Distribusi keuntungan yang adil antara pemilik dan pengelola, manajemen dan buruh.
23 Dari pengertian tersebut jelas bahwa kegiatan produksi mempunyai tujuan yang meliputi :
1. Menghasilkan barang atau jasa.
2. Meningkatkan nilai guna barang atau jasa.
3. Meningkatkan kemakmuran masyarakat.
4. Meningkatkan keuntungan.
5. Memperluas lapangan usaha.
Hal ini guna menjaga kesinambungan usaha perusahaan agar usaha yang dilakukan tetap berjalan dengan hasil yang diharapkan.
3. Fungsi produksi
Didalam ilmu ekonomi kita mengenal apa yang disebut fungsi produksi yaitu suatu fungsi yang menunjukan hubungan antara hasil fisik (output) dengan faktor-faktor produksi (input). Dalam melakukan usaha pertanian, seorang pengusaha atau seorang petani akan selalu berfikir bagaimana ia mengalokasikan input seefisien mungkin untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal. Cara pemikiran demikian adalah wajar, mengingat petani melakukan konsep bagaimana cara memaksimumkan keuntungan. Peningkatan keuntungan dapat dicapai oleh petani dengan melakukan usaha taninya secara efisien. Konsep efisien ini dikenal dengan konsep efisiensi teknis (technical efficiency), efisiensi harga (price efficiency), dan efisiensi ekonomi (economic efficiency). Bila petani mendapatkan keuntungan yang besar dari usaha taninya, misalnya karena pengaruh harga maka petani tersebut dapat dikatakan mengalokasikan faktor produksinya secara efisien harga. Cara seperti ini dapat ditempuh, misalnya dengan membeli faktor produksi pada harga yang murah, menjual hasil pada harga yang relatif tinggi, dan sebagainya. Selanjutnya, kalau petani meningkatkan hasilnya dengan menekan harga faktor produksi, dan menjual hasilnya dengan harga yang tinggi, maka petani tersebut telah melakukan efisiensi teknis dan efisiensi harga secara bersamaan. Situasi demikian sering disebut dengan istilah efisiensi ekonomi.
Dengan kata lain petani melakukan efisiensi ekonomi sekaligus efisiensi teknis
24 dan efisiensi harga. Dalam ilmu ekonomi cara berpikir demikian disebut dengan pendekatan memakimumkan keuntungan atau profit maximization.
Dilain pihak, manakala petani dihadapkan pada keterbatasan biaya dalam usaha taninya, maka mereka juga tetap mencoba bagaimana meningkatkan keuntungan dengan kendala biaya usaha tani yang terbatas. Suatu tindakan yang dapat dilakukan adalah bagaimana memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan biaya produksi yang sekecil-kecilnya atau terbatas. Pendekatan seperti ini dikenal dengan istilah meminimumkan biaya atau cost minimization. Prinsip kedua pendekatan tersebut yaitu bagaimana memaksimumkan keuntungan yang diterima petani atau seorang pengusaha pertanian. Kedua pendekatan tersebut mungkin dapat pula dikatakan pendekatan serupa tapi tak sama. Ketidaksamaan ini tentu saja kalau dilihat dari segi sifat dan perilaku petani yang bersangkutan.
Petani besar atau pengusaha besar seringkali berprinsip bagaimana memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya melalui pendekatan profit maximization karena mereka tidak dihadapkan pada keterbatasan pembiayaan. Sebaliknya untuk petani kecil sering bertindak sebaliknya yaitu bagaimana memperoleh keuntungan dengan keterbatasan yang mereka miliki.9
B. Produksi dalam Islam berkaitan dengan maslahah/kesejahteraan
Islam dalam hal produksi bertujuan untuk kemaslahatan. Apabila produksi menjadi suatu prioritas, maka kesejahteraan masyarakat akan meningkat karena segala macam kebutuhan pokok mereka telah terpenuhi. Di dalam pendahuluan bukunya yang berjudul Dhawabit al-Mashlahah fi al-Syari’ah al-Islamiyah, Muhammad Sa‟id Ramadhan al-Buthi melakukan pengidentifikasian antara mashlahah dan manfaat, karena ada perbedaan mendasar diantara keduanya.
Menurut al-Buthi tidak ada keraguan bagi seorang Muslim untuk menetapkan standar kemaslahatan itu sendiri. Baginya ukuran kemaslahatan adalah gabungan antara dunia dan akhirat, dengan memekai alat ukur lahir dan batin, materi, dan psikis. Karena kemaslahatan dunia merupakan bagian dari inti dasar agama. Buthi berpendapat bahwa mashlahah identik dengan manfaat.
9 Moehar Daniel, Pengantar Ekonomi Pertanian (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2004), 122-124.
25 Mashlahah adalah manfaat yang menjadi tujuan Tuhan (qashd al-Syari’) terhadap hamba-Nya, dalam hal menjaga agama, jiwa, akal dan keturunan, dan harta benda. Sementara manfaat adalah kenikmatan (al-ladzat) atau sesuatu yang menjadi perantara pada kenikmatan dan menolak bahaya ataupun semua yang menjadi perantaranya. Manfaat merupakan suatu standar yang berhubungan dengan kebaikan (khayr) dalam kehidupan manusia, dalam hal ini seperti yang diungkapkan oleh para ahli filsafat dan etika. Manfaat dan mashlahah yang ada dalam hukum Islam yaitu manfaat yang sesuai dengan fitrah manusia, karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah maka demikian pula dengan hukum-hukumnya. Mashlahah bisa dijadikan dalil, akan tetapi Buthi memperjelas kriteria-kriteria mashlahah tersebut, antara lain10 :
1. Dampak mashlahah dan mafsadah tidak hanya didunia, tapi juga berdampak pada kehidupan duia dan akhirat. Jadi, suatu perkerjaan yang menghasilkan sesuatu yang baik walaupun hasilnya tidak secara langsung, maka termasuk kategori amal soleh. Setiap pekerjaan yang diyakini akan membuahka hasil yang baik dimasa sekarang dan yang aka datang adalah termasuk mashlahah.
2. Mashlahah tidak dinilai dari kenikmatan materi saja, akan tetapi segala sesuatu yang menjadi kebutuhan bagi tubuh, jiwa, dan roh manusia.
3. Mashlahah agama menjadi dasar bagi mashlahah yang lain, dan posisinya harus didahulukan.
Al-Ghazali mengemukakan beberapa alasan mengapa seseorang harus melakukan aktifitas ekonomi, yaitu :
1. Untuk memenuhi kebutuhan hidup orang yang bersangkutan, seperti sandang, pangan, dan papan.
2. Untuk mensejahterakan keluarga dengan cara menikah dan membina rumah tangga.
3. Untuk membantu orang yang memerlukan.
10 Ika Yunia Fauzia dan Abdul Kadir Riyadi. Prinsip Dasar Ekonomi Islam Perspektif maqashid al-Syariah. Hal 110-112
26 Menurut al-Ghazhali sebelum menghasilkan suatu barang jadi tentulah ada proses-proses perubahan dari barang mentah sumber daya alam, yang menurut beliau ada tiga kategori, yaitu barang tambang, hasil pertanian, dan binatang ternak menjadi barang setengah jadi dan menghasilkan barang jadi atau produk siap pakai. Hal ini tentunya membutuhkan adanya pembagian tugas masing-masing individu disesuaikan dengan kemampuan dan keahliannya.11 Hal ini bertujuan untuk mempercepat produksi dan meingkatkan efisiensi waktu untuk mengahsilkan suatu produk.
Aktivitas produksi adalah menambah kegunaan suatu barang, hal ini bisa diarealisasikan apabila kegunaan suatu barang bertambah, baik dengan cara memberikan manfaat yang benar-benar baru maupun manfaat yang melebihi manfaat yang ada pada sebelumnya. Ekonomi Islam dalam hal produksi menurut Imam al-Ghazali menganggap pencarian ekonomi bagian dari ibadah individu.12 Dengan demikian kegiatan produksi dalam ilmu ekonomi diartikan sebagai kegiatan yang menciptakan manfaat (utility) baik dimasa kini maupun dimasa mendatang. Dengan pengertian yang luas tersebut, kita memahami kegitan produksi tidak terlepas dari keseharian manusia. Allah SWT telah berfirman dalam Qs. An-Nahl mengenai produksi13 ialah :
Artinya :
“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang
11 Euis Amalia. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Depok : Gramata Publishing, 2010.
Hal 179
12 Mustafa Edwin Nasution, Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam (Jakarta : Kencana, 2007) 102
13 Departemen Agama Republik Indonesia Mushaf Al-Qur‟an, CV. Madinatul Ilmi
27 demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).” Qs. An-nahl : 65
Tafsir Q.S An-Nahl : 65
Menurut Ahmad Mushtafa Al-Maroghi dalam tafsir Al-Maroghi, dalam ayat-ayat ini Allah menyajikan beberapa dalil tauhid, mengingat ia merupakan poros segala permasalahan di dalam agama Islam dan seluruh agama samawi. Maka diterangkan bahwa Dia telah menurunkan hujan dari langit agar dengan hujan itu bumi yang tadinya mati menjadi hidup.14 Maka makhluk yang ada dibumi senantiasa untuk menjaga apa-apa yang diturunkan Allah SWT.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi
faktor-faktor produksi adalah benda-benda yang disediakan oleh alam atau diciptakan oleh manusia yang dapat digunakan untuk memproduksi barang dan jasa. Faktor-faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian akan menentukan sampai dimana suatu negara dapat menghasilkan barang dan jasa,15 ialah :
1. Faktor Produksi Tanah
Pada faktor produksi tanah (lahan tanah dan beberapa sumber tanah lain) adalah bahwa penawarannya sangat inelastis karena dibatasi oleh alam. Betapa pun naik atau turunnya harga tanah, luas lahan tanah (total) tidak akan bertambah karena luas tanah yang tersedia hanya itu saja.16
Faktor produksi tanah terdiri dari beberapa faktor alam lainnya seperti air, udara, temperatur, sinar matahari, dan lainnya. Semuanya secara bersama menentukan jenis tanaman yang dapat diusahakan, atau sebaliknya jenis tanaman tertentu, untuk dapat tumbuh baik dan berproduksi tinggi menghendaki jenis tanah tertentu, air sekian banyak dengan pengaliran tertentu, temperatur udara sekian kelembapan sekian persen penyinaran dan lain-lain. Faktor produksi
14 Penerjemah Anshori Umar Sitanggal dkk. Ahmad Mushtaf Al-Maroghi.. Terjemah Tafsir Al-Maroghi. (Semarang: Tohaputra 1987.
15 Sadono Sukirno, Mikro Ekonomi Teori Pengantar, 6
16 T. Gilarso, Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro (Yogyakarta : KANISIUS, 2003), 225
28 diklasifikasikan sebagai tanah, tenaga kerja, modal ataupun yang lainnya. Istilah tanah diberi arti khusus di dalam ilmu ekonomi ini tidak hanya bermakna tanah saja seperti yang terpakai dalam pembicaraan sehari-hari, melainkan bermakna segala sumber daya alam, seperti air dan udara, pohon dan bintang, dan segala sesuatu yang diatas dan di bawah pemukaan tanah, yang menghasilkan pendapatan atau menghasilkan produk.
Menurut marshall, tanah berarti “material dam kekuatan yang diberikan oleh alam secara cuma-Cuma untuk membantu manusia, termasuk tanah dan air, udara dan cahaya, dan panas.”
Kebanyakan aktivitas ekonomi manusia tergantung secara langsung pada tanah, bahkan pada saat ini pun, sebagaimana di masa lalu, seperti berburu, mencari ikan, memberi makan binatang ternak, produksi pertanian, taman, mineral, logam, bahan mentah industry, tenaga listrik, air dan berbagai macam sumber daya alam lainnya. Islam memandang tanah sebagai salah satu faktor produksi yang terpenting.17
Oleh karena segala persoalan pertanian bersifat sementara, maka islam tidak memberi aturan yang ketat dalam setiap dan semua persoalan sehingga akan menghalangi kebebasan bertindak manusia. Sebaliknya, sebagian besar masalah yang berkenan dengan hal ini diserahkan kepada pertimbanagan akal manusia di sepanjang waktu dan tempat untuk menetapkanny, sesuai dengan situasi sosial- ekonomi yang senantiasa berubah. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa yang di terima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya. Bahwa tanah merupakan satu faktor produksi seperti halnya modal dan tenaga kerja dapat pula dibuktikan dari tinggi rendahnya balas jasa (sewa bagi hasil) yang sesuai dengan permintaan dan penawaran tanah itu dalam masyarakat dan daerah tertentu. Dalam suatu daerah yang penduduknya sangat padat di mana jumlah petani penyakap yang memerlukan tanah garapan jauh lebih besar daripada persediaan tanah yang ada, maka pemilik tanah dapat meminta syarat-syarat yang lebih berat bila dibandigkan dengan daerah yang persediaan tanah garapan nya masih lebih luas.
17 Drs. Sohari Sahrani, fikih muamalah. Dra. Ru‟fah Abdullah, Bogor : Ghalia Indonesia, 2011. Hal 30
29 Disamping adaanya kemungkinan pemilik tanah akan memilih menyakapkan tanahnya pada petani yang sanggup menawarkan bagi hasil yang lebih menarik, pemilik dapat pula memilih petani penyakap yang lebih rajin dan lebih menunjukkan kesungguhan dalam mengerjakan tanah. Sehingga keadaan yang demikian ini menyebabkan penyakap akan selalu berusaha untuk tidak mengecewakan pemilik tanah supaya tanahnya tidak dicabut kembali. Salah satu faktor yang sangat penting dalam usaha peningkatan produksi pertanian melalui panca usaha adalah pengairan. Air adalah syarat mutlak bagi kehidupan dan pertumbuhan tanaman. Air dapat datang dari hujan atau harus melalui pengairan yang diatur manusia. Keduanya harus disesuaikan agar benar-benar tanaman mendapatkan air secukupnya, tidak kurang tetapi juga tidak terlalu banyak. Ahli pertanian menyebutkan bahwa tanah merupakan medium alam tempat tempat tumbuhnya tumbuhan dan tanaman yang tersusun dari bahan-bahan padat, cair, dan gas. Bahan penyusun tanah dapat dibedakan atas partikel mineral, bahan organik, jasad hidup, air dan gas.
Untuk kehidupan tanaman, tanah mempunyai fungsi sebagai :
Tempat berdiri tegak dan bertumpunya tanaman.
Sebagai medium tumbuh yang menyediakan hara dan pertukaran hara antara tanaman dengan tanah.
Sebagai penyediaan dan gudangnya air bagi tanaman.
Klasifikasi tanah
Kemampuan tanah bagi unit agronomi ditunjukkan oleh klasifikasi tanah.
Informasi mengenai kemampuan tanah didapat dari survei tanah. Makin detail tanah survei tanah itu makin banyak informasi yang diperoleh. Informasi tanah dibuat dalam bentuk peta tanah dan peta dayaguna tanah.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam deskripsi tanah unit agronomi adalah :
a. Kedalaman top soil
30 Top soil dapat menggambarkan lama tidaknya berlangsung suatu unit agronomi. Top soil yang dangkal dapat diduga telah lanjutnya erosi. Tanah latosol mempunyai lapisan top soil yang dangkal.
Sementara itu tanah alluvial mempunyai lapisan top soil yang sangat dalam.
b. Warna top soil
Warna gelap menunjukan erosi yang belum lanjut. Semakin dalam top soil tanah diolah, makin cenderung berwarna merah dan kuning.
c. Perkembangan butiran (Granulir)
Apabila butiran terjadi proses ini menghasilkan tanah dengan drainase dalam tanah yang baik.
d. Kandungan bahan organik
Kurangnya bahan organik akan mengurangi kation-kation yang dapat dipertukarkan, oleh karena itu kesuburannya rendah. Tanah yang baru dibuka harus hati-hati supaya bahan organiknya tidak hilang, karena diperlukan untuk mempertahankan kesuburannya.
e. Kandungan oksida-oksida sesqui
Oksida-oksida besi dan aluminium menyebabkan terhalangnya penyerapan fosfat oleh tanaman. Fosfat menjadi tidak larut dalam keadaan ini, sehingga tidak terserap oleh tanaman.
Berdasarkan tipe-tipe tanah dapat diketahui kemampuan tanah (land capability) sehingga dibagi dalam kelas-kelas. Sistem ini penting artinya bagi pengelola, karena setiap jengkal tanah harus diketahui kemampuannya, dan diinventarisir faktor-faktor pembatasnya. Adapun ciri-ciri kelas kemampuan tanah,18 ialah :
1. Kelas I (Warna hijau)
18 Hasan basri jumin, Dasar-Dasar Agronomi (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2005), 27-36.
31 Sesuai untuk segala jenis penggunaan pertanian tanpa memerlukan tindakan pengawetan tanah yang khusus. Tanah datar, dalam bertekstur halus atau sedang, mudah diolah dan respons terhadap pemupukan. Tidak mempunyai faktor penghambat atau ancaman kerusakan dan oleh karenanya dapat dijadikan lahan tanaman semusim dengan aman.
2. Kelas II (Warna kuning)
Tanah sesuai dengan segala jenis penggunaan pertanian dengan sedikit faktor penghambat. Tanahnya agak berlereng landai kedalamannya dalam dan bertekstur halus sampai agak halus. Diperlukan sedikit usaha konsenvasi tanah.
3. Kelas III (Warna merah)
Sesuai untuk segala jenis penggunaan tanah pertanian dengan hambatan yang lebih besar dari kelas II, sehingga memerlukan tindakan pengawetan khusus. Tanahnya agak miring atau drainase buruk, kedalamannya sedang, atau permeabilitasnnya agak cepat.
4. Kelas IV (Warna biru)
Sesuai dengan segala jenis penggunaan pertanian dengan hambatan dan ancaman kerusakan yang lebih besar dari kelas III, sehingga memerlukan khusus dan pengawetan tanah yang lebih berat dan lebih terbatas.
5. Kelas V (Warna hijau tua)
Tanah kelas V ini tidak sesuai untuk digarap bagi tanaman semusim, tetapi lebih sesuai untuk tanaman makanan ternak secara permanen atau dihutankan.
6. Kelas VI (Warna oranye)
Tanah kelas VI tidak sesuai untuk digarap bagi usaha tani tanaman semusim, disebabkan karena terletak pada lereng yang agak curam (30%- 45%) sehingga mudah tererosi, atau kedalamannya agak dangkal atau telah mengalami erosi berat.
7. Kelas VII (Warna cokelat)
32 Tanah ini sama sekali tidak sesuai untuk digarap menjadi usaha tani tanaman semusim. Dianjurkan untuk menanam vegetasi permanen atau tanaman keras.
8. Kelas VIII (Warna putih)
Tanah kelas VIII tidak sesuai untuk usaha produksi pertanian, dan harus dibiarkan pada keadaan alami atau di bawah vegetasi alam. Tanah ini lebih cocok untuk cagar alam atau hutan lindung.
Kesuburan tanah diartikan sebagai kesanggupan tanah untuk menyediakan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman kesuburan tanah di pengaruhi oleh sifat fisik , kimia, dan biologi tanah. Tanaman dapat menghasilkan secara maksimal bila tanaman itu tumbuh dalam keadaan subur, dan faktor-faktor diluar kesuburan sekitar tanaman tersebut menunjang pertumbuhan secara optimal. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah yang terkandung dalam Qs Al-A‟raf ayat 58 ialah19 :
Artinya : “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”
Dan kesuburan tanah akan menjadi baik dengan sistem irigasi yang baik pula. Irigasi dipandang penting oleh Islam karena tanpa irigasi yang baik, produksi pertanian tidak dapat ditingkatkan. Perselisihan pendapat dalam soal irigasi diantara orang-orang yang tinggal disekitar sumber air yang sama amatlah biasa dimasa itu, sebagaimana sekarang. Oleh karena itu, Nabi SAW menetapkan aturan tertentu untuk mengatur penggunaan air bagi mereka. Semua aturan
19 Departemen Agama Republik Indonesia Mushaf Al-Qur‟an, CV. Madinatul Ilmi
33 tersebut tertuang dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda20 : “Jangan menahan sisa air, karena itu akan mencegah tumbuhnya tambahan tanaman”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Musaqah dalam pandangan Islam
Adapun secara bahasa musaqah adalah salah satu bentuk penyiraman, penduduk madinah menyebutnya dengan istilah muamalah.
Menurut Hasbi ash-Shiddieqi yang dimaksud dengan al-musaqah ialah syarikat pertanian untuk memperoleh hasil dari pepohonan.
Menurut Abdurahman al-Jaziri al-musaqah adalah akad untuk pemeliharaan pohon kurma, tanaman (pertanian) dan yang lainnya dengan syarat-syarat tertentu.
Akan tetapi musaqah menurut ulama empat madzhab ialah :
Menurut Malikiyah al-musaqah adalah sesuatu yang tumbuh di tanah, menurut Malikiyah sesuatu yang tumbuh di tanah di bagi menjadi lima macam, sebagai berikut :
1. Pohon-pohon tersebut berakar kuat (tetap) dan berbuah. Buah itu dipetik serta pohon tersebut tetap ada dengan waktu yang lama, misalnya pohon anggur dan zaitun.
2. Pohon-pohon tersebut berakar tetap, tetapi tidak berubah, seperti pohon kayu, keras, karet, dan jati.
3. Pohon-pohon tersebut tidak berakar kuat, tetapi berubah dan dapat dipetik, seperti padi dan qatsha’ah.
4. Pohon-pohon tersebut tidak berakar kuat dan tidak ada buahnya yang dapat dipetik, tetapi memiliki kembang yang bermanfaat, seperti bunga bawar.
20 Dr. Muhmmad Sharif Chaudry, M.A., LLB., Ph.D. Sistem Ekonomi Islam . (Jakarta : KENCANA, 2012) 175
34 5. Pohon-pohon yang diambil hijau dan basahnya sebagai suatu manfaat, bukan buahnya, seperti tanaman hias yang ditanam di halaman rumah dan di tempat lainnya.
Menurut Syafi‟iyah yang di maksud al-musaqah ialah memberikan pekerjaan orang yang memiliki pohon tamar, dan anggur kepada orang lain untuk kesenangan keduanya dengan menyiram, memlihara, dan menjaganya dan pekerja memperoleh bagian tertentu dari buah yang dihasilkan pohon-pohon tersebut.
Menurut Hanabilah, al-musaqah mencakup dua masalah berikut ini : 1. Pemilik menyerahkan tanah uang sudah ditanami, seperti pohon
anggur, kurma dan yang lainnya. Baginya, ada buah yang dapat dimakan sebagai bagian tertentu dari buah pohon tersebut, seperti sepertiga atau setengahnya.
2. Seseorang menyerahkan tanah dan pohon, pohon tersebut belum ditanamkan, maksudnya supaya pohon tersebut ditanam pada tanahnya, yang menanam akan memperoleh bagian tertentu dari buah pohon yang ditanamnya, yang kedua ini disebut munasabah mughasarah karena pemilik menyerahkan tanah dan pohon-pohon untuk ditanamkannya.
Menurut Syaikh Syihab al-Din al-Qalyubi dan Syaikh Umairah, al- musaqah ialah memperkerjakan manusia untuk mengurus pohon dengan menyiram dan memeliharaanya dan hasil uang dirizkikan Allah dari pohon itu untuk mereka tuhan.
Setelah mengetahui definisi-definisi yang dikemukakan oleh para ahli diatas, kiranya dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan al-musaqah ialah akad antara pemilik dan pekerja untuk memelihara pohon, sebagai upahnya adalah buah dari pohon yang diurusnya.
35 Menurut Muhammad Syafi‟i Antonio, al-musaqah adalah bentuk yang lebih sederhana dari muzara‟ah, di mana si penggarap hanya bertanggung jawab atas penyiraman dan pemeliharaan. Sebagai imbalan, si penggarap berhak atas nishab tertentu dari hasil panen.
Dasar hukum Musaqah
Asas hukum musaqah ialah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Amr ra., bahwa Rasulullah saw. Bersabda : “Memberikan tanah khaibar dengan bagian separoh dari penghasilan, baik buah-buahan maupun pertanian (tanaman). Pada riwayat lain dinyatakan, bahwa Rasul menyerahkan tanah khaibar itu kepada yahudi, untuk diolah dan modal dari hartanya, penghasilan seperuhnya untuk Nabi.”
Musaqah yang dibolehkan
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah yang di perbolehkan dalam musaqah , Imam Abu Dawud berpendapat, bahwa yang boleh di-musaqah-kan hanya kurma. Menurut Syafi‟iyah, yang boleh di musaqah- kan hanyalah kurma dan amggur saja. Sedangkan menurut Hanafiyah, semua pohon yang mempunyai akar ke dasar bumi dapat di-musaqah-kan, seperti tebu.
Menurut Imam Malik, musaqoh dibolehkan untuk semua pohon yang memiliki akar kuat, seperti delima, tin, zaitun, dan pohon-pohon yang serupa dengan itu dan dibolehkan pula untuk pohon-pohon yang berakar tidak kuat, seperti semangka dalam keadaan pemilik tidak lagi memiliki kemampuan untuk menggarapnya.
Menurut mazhab Hanbali, musaqah diperbolehkan untuk semua pohon yang buahnya dapat dimakan, dalam kitab al-Mughni, imam Malik berkata, musaqah di perbolehkan untuk pohon tadah hujan dan diperbolehkan pula untuk pohon-pohon yang perlu disiram.21
Hubungan antara hukum dan masyarakat sangat erat, keeratan tersebut dapat digambarkan seperti dua sisi mata uang, keduanya tidak dapat dipisahkan,
21Drs. Sohari Sahrani, M.M., M.H. Dra. Hj. Ru‟fah Abdullah, M.M. Fiqh Muamalah.
(Bogor : Ghalia Indonesia, maret 2011) 205-208
36 karenanya eksistensi antara keduanya sangat berkaitan. Dapat ditegaskan bahwa hukum berfungsi untuk mengatur kehidupan warga negaranya, sehingga dapat diwujudkan kesejahteraan yang bersama-sama diinginkan dan di cita-citakan.
Dengan perkataan lain, hukum berlaku secara normatif. Dengan demikian hakikatnya pertentangan dan benturan kepentingan, dapat diberikan penyelesaian dan jalan keluar dapat mengacu pada pancasila. Inilah berlakunya hukum secara filosofis. Secara sosiologis, hukum merupakan lembaga kemasyarakatan, yaitu himpunan kaidah dari segala tingkatan berkisar pada suatu kebutuhan pokok didalam kehidupan masyarakat. Hal ini disebabkan hukum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok seluruh warga masyarakat dan sebagai lembaga kemasyarakatan hukum jelas berfungsi sebagai pedoman bertingkah laku, sebagai sarana untuk menjaga kebutuhan masyarakat dan sebagai suatu sistem pengendalian sosial terhadap masyarakat. Dapat diartikan hukum berfungsi sebagai sarana untuk mengatur segala interaksi kehidupan masyarakat. Dengan demikian eksistensi hukum ditengah masyarakat adalah sangat esensial, karena fungsi hukum itu sendiri. Selain untuk menegakkan keadilan, menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, hukum dapat digunakan untuk mengatur masyarakat sehingga kebutuhan masyarakat itu dapat terpenuh. Kebijaksanaan pembangunan nasional di bidang pertanahan berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). Undang- Undang ini merupakan penjabaran dari ketentuan pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sebagai arah dan kebijaksanaan pembangunan nasional dibidang pertanahan digariskan dalam Ketetapan MPR RI Nomor II/MPR/ 1998 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) :
“Tanah mempunyai fungsi sosial dan pemanfaatannya harus dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk itu, perlu terus dikembangkan rencana tata ruang dan tata guna tanah secara nasional sehingga pemanfaatan tanah dapat terkoordinasi antara berbagai jenis penggunaan dengan tetap memelihara kelestarian alam dan lingkungan serta mencegah penggunaan tanah yang merugikan kepentingan masyarakat dan
37 kepentingan pembangunan. Disamping itu, perlu dilanjutkan penataan kembali penggunaan, penguasaan, dan pemilikan tanah termasuk pengalihan hak atas tanah”.
Adapun Undang-Undang yang juga terkait dengan tanah ialah :
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria (LN 1960-104, TLN 2043), Pasal 2, Pasal 14 dan Pasal 15.
Tanah adalah tempat manusia melaksanakan hajat hidup, baik dahulu, sekarang maupun untuk waktu yang akan datang. Dalam tiap usaha pemanfaatan tanah, hutan, tambang ada regulasi atau pengaturan. Tujuan pengaturan ialah bagi kepentingan si pemegang hak dan kepentingan negara yang bermaksud melindungi kepentingan umum.
Adapun Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 dikatakan :
“pemerintah harus membuat perencanaan umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya” untuk keperluan :
a. Negara ;
b. Peribadatan dan keperluan suci lainnya sesuai dasar Ketuhanan YME
;
c. Pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial, kebudayaan, dan kesejahteraan ;
d. Memperkembangkan produksi pertanian, peternakan, perikanan serta sejalan dengan itu ;
e. Keperluan mengembangkan industri, transmigrasi dan pertambangan.
Ketentuan tersebut harus dikaitkan dengan Pasal 15 Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 yang menyatakan bahwa siapa pun harus dan mencegah kerusakan pada tanah.22
Dengan kata lain semua orang harus mempergunakan dan mempertimbangkan penggunaan tanah sesuai kemampuan tanah tersebut. Adapun sewa-menyewa tanah dalam hukum perjanjian Islam dapat dibenarkan baik tanah untuk pertanian atau untuk bangunan atau lainya. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam hal perjanjian sewa-menyewa tanah yakni untuk apa tanah tersebut digunakan, apabila tanah tersebut digunakan untuk lahan pertanian maka dalam
22 Muchsin dan Imam Koeswahyono. Aspek Kebijaksanaan Hukum Penatagunaan Tanah dan Penataan Ruang. Jakarta : Sinar Grafika. 2008. 41-47
38 perjanjian harus diterangkan jenis apakah tanaman yang harus di tanam di tanah tesebut.23 Sebab jenis tanaman yang ditanam akan berpengaruh terhadap jangka waktu sewa menyewa. Dengan sendirinya akan berpengaruh pula pada jumlah uang sewanya.
2. Faktor Produksi Modal
Faktor produksi modal atau yang di sebut modal mengandung banyak arti, tergantung pada penggunaanya. Modal sama artinya dengan harta kekayaan seseorang yakni berupa uang, tabungan, tanah, rumah, mobil, dan lain sebagainya yang dimiliki. Modal dapat dibagi menjadi dua, yaitu modal tetap dan modal bergerak. Modal tetap adalah barang-barang yang yang digunakan dalam proses produksi yang dapat digunakan beberapa kali, meskipun akhirnya barang-barang modal ini habis juga, tetapi tidak sama sekali terisap dalam hasil. Contoh modal tetap adalah mesin, pabrik, gedung, dan lain-lain. Modal bergerak adalah barang- barang yang digunakan dalam proses produksi yang hanya bisa digunakan untuk sekali pakai, atau dengan kata lain, yaitu barang-barang yang habis digunakan dalam proses produksi, misalnya bahan mentah, pupuk, bahan bakar, dan lain-lain.
Perbedaan ini digunakan berhubungan dengan perhitungan biaya. Biaya modal bergerak harus sama sekali diperhitungkan dalam harga biaya rill, sedangkan biaya modal tetap diperhitungkan melalui penyusutan nilai.24
Islam merupakan sistem kehidupan yang bersifat komprehensif, yang mengatur semua aspek, baik dalam sosial, ekonomi, dan politik maupun kehidupan yang bersifat spiritual. Seperti yang terkandung dalam firman Allah dalam Qs. An-Nahl ayat 89,25 ialah :
2323 Suhawardi K. Lubis dan Farid Wajdi, Hukum Ekonomi Islam. (Jakarta : Sinar Grafika, 2012). 159-160
24 Moehar Daniel, Pengantar Ekonomi Pertanian, 55-56.
25 Al-Qur‟an terjemah Depag RI
39
Artinya : “(dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap- tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.
Islam adalah agama yang sempurna dan mempunyai sistem tersendiri dalam menghadapi permasalahan kehidupan, baik yang bersifat material maupun nonmaterial. Karena itu ekonomi sebagai satu aspek kehidupan, tentu juga sudah diatur oleh islam. Ini bisa dipahami, sebagai agama yang sempurna, mustahil islam tidak dilengkapi dengan sistem dan konsep ekonomi. Suatu sistem yang dapat digunakan sebagai panduan bagi manusia dalam menjalankan kegiatan ekonomi. Suatu sistem yang garis besarnya sudah diatur dalam Al-Qur‟an dan As- Sunnah.
Ekonomi islam sesungguhnya secara inheren merupakan konsekuensi logis dari kesempurnaan islam itu sendiri. Islam haruslah dipeluk secara kaffah dan komprehensif oleh umatnya. Islam menuntut kepada umatnya untuk mewujudkan keislamannya dalam seluruh aspek kehidupannya. Sangatlah tidak masuk akal, seorang muslim yang menjalankan shalat lima waktu, lalu dalam kesempatan lain ia juga melakukan transaksi keuangan yang menyimpang dari ajaran islam.
Dalam mewujudkan kehidupan ekonomi, sesungguhnya Allah telah menyediakan sumber dayanya dialam raya ini. Allah SWT mempersilahkan manusia untuk memanfaatkannya, sebagaiman firman-Nya, yaitu :
40
Artinya : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.
dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu”.
Dalam istilah ilmu fikih, dinyatakan oleh kalangan Hanafiyah bahwa harta itu adalah sesuatu yang digandrungi oleh tabiat manusia dan mungkin disimpan untuk digunakan saat dibutuhkan. Namun harta tersebut tidak akan bernilai kecuali bila dibolehkan menggunakanya secara syariat. Mereka membedakan antara materi dan nilai. Materi hanya bisa terwujud hanya ketika seluruh manusia atau sebagian diantara mereka menggunakannya sebagai materi. Tetapi nilai hanya berlaku bila di bolehkan oleh ajaran syariat.
Apabila harta tersebut merupakan hak milik Allah, sementara Allah telah menyerahkan atas harta tersebut kepada manusia, melalui izin darinya, maka perolehan seorang atas harta tersebut sama dengan kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memanfaatkan serta mengembangkan harta, yang antara lain karena menjadi hak miliknya. Sebab ketika seorang memiliki harta, maka esensinya, dia memiliki harta tersebut untuk memanfaatkannya. Sehingga dalam hal ini dia terikat dengan hukum-hukum syara’ dan bukan bebas mengelola secara mutlak. Begitu pula dia juga tidak bisa bebas mengelola zat barang tersebut secara mutlak, meskipun ia memiliki zat nya. Alasannya adalah bahwa ketika dia mengelola dalam rangka memanfaatkan harta tersebut dengan cara yang tidak sah menurut syara’, misalnya dengan menghambur-hamburkannya atau menggunakannya untuk suatu kemaksiatan, maka negara wajib mengawalnya dan melarang untuk mengelola, juga merampas wewenang yang telah diberikan negara kepadanya sehingga harta tersebut haruslah digunakan secara amanah.
Didalam syariat harta terbagi menjadi dua bagian yaitu :
41 1. Harta tetap (diam), adalah harta yang tidak mungkin dipindahkan seperti tanah yang melekat dengan tanah, seperti bangunan permanen. Menurut kalangan Hanafiyah yang termasuk harta diam ialah hanya tanah saja.
Namun menurut kalangan Malikiyah pengertian bisa meluas kepada segala yang melekat dengan tanah secara permanen, seperti tanaman dan bangunan. Karena keduanya tidak mungkin dipindahkan kecuali harus diubah sehingga bangunannya menjadi hancur berkeping-keping.
2. Harta bergerak aalah harta yang cepat dipindahkan dan dialihkan (seperti uang).
Berdasarkan klasifikasi ini muncul sejumlah hukum (Al-Mushlih dan Ash- Shawi, 2004) yang terkait dengan harta tetap harta bergerak :
a. Disahkan menjual harta diam sebelum diserahterimakan, menurut sebagian ulama, seperti Abu Hanfiah dan Abu Yusuf tidak sah menjual harta bergerak sebelum diserahterimakan, namun dalam aplikasinya ada sedikit perbedaan pendapat.
b. Mendahulukan pembersihan harta bergerak sebelum harta diam ketika seseorang dalam terlilit hutang (bangkrut).
c. Tidak dibolehkannya menjual harta diam orang yang tercekal, karena masih kecil atau karena idiot kecuali dalam kondisi darurat atau kemaslahatannya yang pasti atau karena kebutuhan mendesak. Sementara menjual harta bergerak dibolehkan untuk kemaslahatan semata.26
Terkait dengan terhadap harta dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Harta pribadi, harta ini tidak boleh diambil oleh orang lain melainkan dengan kerelaan hati dari pemilikinya.
2. Harta milik Allah, harta pada dasarnya milik Allah (hakikat kepemilikan) manusia hanya diberi kesempatan memilikinya sementara.
26 Nurul huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal Syariah. Jakarta : Kencana, 2008. hal 2-4
42 3. Harta milik bersama, konsekuensi harta ini adalah didahulukannya kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, ketika terjadi bentrokan dengan memberikan tersebut.27
Modal adalah faktor produksi adalah kekayaan yang dipakai untuk menghasilkan kekayaan lagi. Dia adalah “alat produksi yang diproduksi” atau dengan kata lain “alat produksi buatan manusia”. Modal meliputi semua barang yang diproduksi tidak untuk konsumsi, melainkan untuk produksi lebih lanjut.
Mesin, peralatan, alat-alat pengangkutan, proyek irigasi seperti kanal dan dam, persediaan bahan mentah, uang tunai yang ditanamkan di perusahaan, dan sebagainya, semua itu adalah contoh-contoh modal. Jadi modal adalah kekayaan yang didapatkan oleh manusia melalui tenaganya sendiri kemudian menggunakannya untuk menghasilkan kekayaan lebih lanjut. Makna modal yang disampaikan di atas membedakannya dari tanah dan tenaga kerja, karena baik tanah maupun tenaga kerja bukan merupakan faktor produksi yang tidak diproduksi melainkan disediakan oleh alam. Oleh karena itu, tanah dan tenaga kerja disebut faktor produksi buatan manusia atau yang diproduksi.
Modal adalah salah satu faktor produksi selain tanah, tenaga kerja dan organisasi yang digunakan untuk membantu mengeluarkan asset lain. Distribusi berskala besar dan kemajuan industri yang telah dicapai saat ini adalah akibat pengunaa modal. Ini menunujukan bahwa tenaga manusia saja (human resource) untuk mengerakan industri tidaklah cukup, sehingga harus didukung oleh faktor produksi yang lain. Modal merupakan asset yang digunakan untuk membantu distribusi asset berikutnya. Menurut Prof. Thomas, hak milik individu negara selain tanah yang digunakan dalam menghasilkan asset berikutnya disebut modal.
Dikatakan bahwa modal dapat memberikan kepuasan pribadi dan untuk membantu menghasilkan kekayaan lebih banyak, asalkan dikelola dengan benar dan tepat sasaran. Jusru karena itu menurut Mustaq Ahmad yang dikatakan bisnis yang menguntukan adalah apabila dilakukan dengan investasi modal sebaik-
27 Nurul huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi pada Pasar Modal Syariah. hal 5-6
43 baiknya, bukan sebaliknya, dilakukan dengan investasi yang jelek sehingga medatangkan kerugian.28
Pada umumnya, modal digolongkan menjadi modal tetap (fixed capital) dan modal kerja (working capital). Modal tetap mencakup barang produksi tahan lama yang digunakan lagi dan hingga tak dapat dipakai lagi. Bangunan dan mesin, peralatan, traktor dan truk, dan sebagainya, adalah contoh modal tetap. Adapun modal kerja berisi barang produksi sekali pakai seperti bahan mentah yang langsung habis sekali pakai saja. Modal tetap tidak berarti tetap ditempat. Ia disebut tetap karena uang yang dikeluarkan untuk membelinya „tetap‟ saja selama jangka waktu yang panjang , sedangkan uang pembeli bahan mentah segera kembali setelah barang yang dihasilkan dari bahan mentah tersebut terjual dipasar.
Modal melainkan peranan penting dalam produksi, karena produksi tanpa modal akan menjadi sulit dikerjakan. Jika orang tidak menggunakan alat dan mesin dalam pertanian, melainkan menambang dan melakukan pekerjaan manufaktur melulu dengan tangan mereka saja, maka produktivitas akan menjadi amat rendah.
Demikianlah manusia senantiasa menggunakan peralatan dalam kerja produktif mereka. Bahkan orang-orang primitif pun menggunakan panah untuk berburu serta pancing dan jala untuk mencari ikan. Dengan tumbuhnya ilmu teknologi, maka manusia pun menemukan mesin-mesin berat lagi kompleks untuk membantunya dalam semua bidang produksi seperti pertanian, pertambangan, manufaktur, transportasi, dan komunikasi. Menurut pengertian lainnya modal dapat diartikan barang-barang yang dihasilkan untuk digunakan selanjutnya dalam produksi barang-barang lain.29
Modal menempati posisi penting dalam proses pembangunan ekonomi maupun dalam penciptaan lapangan kerja. Selain meningkatkan produksi, employment juga akan meningkat jika barang-barang modal seperti bangunan dan mesin diproduksi dan jika kemudian digunakan untuk produksi lebih lanjut.
Demikianlah modal itu seperti darah dalam tubuh yang mengalir di segala lini
28 Muhammad Djakfar, Etika Bisnis dalam Perspektif Islam (Malang: UIN Malang Press.
2007) 37
29 Eko Suprayitno, Ekonomi Mikro Perspektif Islam. 163
44 industri serta terus berjalan demikian. Oleh karena demikian penting nya peranan modal dalam produksi ini, maka Islam telah memberi banyak perhatian kepada modal ini.Untuk mendirikan atau menjalankan suatu usaha diperlukan sejumlah modal (uang) dan tenaga (keahlian). Modal dalam bentuk uang yang diperlukan untuk membiayai segala keperluan usaha, pengurusan perizinan, biaya investasi untuk pembelian aktiva tetap, sampai dengan modal kerja. Sementara itu, modal keahlian adalah keahlian dan kemampuan seseorang untuk mengelola atau menjalankan suatu usaha.
Modal yang pertama kali dikeluarkan digunakan untuk membiayai pendirian perusahaan (prainvestasi), mulai dari persiapan yang di perlukan sampai perusahaan tersebut berdiri (memiliki badan usaha). Sebagai contoh misal biaya yang harus di keluarkan pada tahap awal adalah biaya survei lapangan, biaya pembuatan studi kelayakan, izin-izin, dan biaya prainvestasi lainnya. Selanjutnya setelah itu adalah biaya untuk membeli sejumlah aktiva (harta) tetap. Biaya ini dikeluarkan untuk mengoperasikan perusahaan sebagai tempat atau alat untuk melakukan kegiatan, seperti pembelian tanah, pendirian bangunan atau gedung dan lain-lain. Disamping itu, modal juga diperlukan untuk membiayai prosesusaha pada saat bisnis tersebut di jalankan. Jenis biaya ini misalnya biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya lainnya. Besarnya modal yang di perlukan tergantung dari jenis usaha yang di garap. Dalam kenyataan sehari-hari kita mengenal adanya usaha kecil, usaha menengah, dan usaha besar. Masing-masing memerlukan modal dalam batas tertentu. Jadi, jenis usaha yang menentukan besarnya jumlah modal yang di perlukan. Misalnya jenis usaha pabrikan berbeda dengan pertanian. Hal ini yang memengaruhi besarnya modal adalah jangka waktu usaha atau jangka waktu perusahaan menghasilkan produk yang diinginkan.
Usaha yang memerlukan jangka waktu yang lebih panjang memerlukan modal yang relative besar pula. Sementara kebutuhan akan tenaga ahli yang akan menjalankan usaha dapat diperoleh dari rekrutmen karyawan, (penarikan pegawai) dari berbagai sumber, seperti melalui iklan, dari suatu lamaran yang masuk, dari referensi (kenalan) atau perguruan tinggi. Agar usaha dapat berjalan secara
45 maksimal hal ini menjadi penting untuk keberlangsungan usaha yang akan dijalankan. Kebutuhan modal untuk menjalankan usaha terdiri dari dua jenis yaitu :
a. Modal investasi digunakan untuk jangka panjang dan dapat digunakan berulang-ulang, biasanya umurnya lebih dari satu tahun. Sementara modal kerja dan digunakan untuk jangka pendek dan beberapa kali pakai dalam satu proses produksi. Jangka waktu modal kerja biasanya tidak lebiih dari satu tahun.
Penggunaan utama modal investasi jangka panjang adalah untuk membeli aktiva tetap, seperti tanah, bangunan atau gedung, mesin-mesin, peralatan, kendaraan, serta inventaris lainnya. Modal investasi merupakan porsi terbesar dalam komponen pembiayaan suatu usaha dan biasanya dikeluarkan pada awal perusahaan didirikan atau untuk perluasan suatu usaha tersebut.
b. Modal kerja yaitu modal yang digunakan untuk membiayai operasional perusahaan atau usaha pada saat sedang beroperasi. Jenis modalnya bersifat jangka pendek, biasanya hanya digunakan untuk sekali atau beberapa kali proses produksi.30 Dan faktor produksi ini merupakan benda yang diciptakan oleh manusia untuk memproduksi barang-barang yang mereka butuhkan.31 Dengan demikian modal dapat digunakan untuk keperluan membeli bahan, membayar gaji karyawan dan biaya pemeliharaan serta biaya-biaya lainnya. Modal kerja juga dapat diperoleh dari pinjaman bank (biasanya maksimal setahun).
3. Faktor Produksi Tenaga kerja
Tenaga kerja di Indonesia dan juga sebagian besar negara-negara berkembang termasuk negara maju pada mulanya merupakan tenaga yang dicurahkan untuk usaha tani sendiri atau usaha keluarga. Keadaan ini berkembang dengan semakin meningkatnya kebutuhan manusia dan semakin majunya usaha pertanian, sehingga dibuthkan tenaga kerja dari luar keluarga yang khusus dibayar sebagai tenaga kerja upahan.
Tenaga kerja upahan ini biasanya terdapat pada usaha pertanian yang berskala luas, rutin (bukan musiman), dan memiliki administrasi dan manajemen
30 Kasmir, Kewirausahaan, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. 2009, Hal 83-86
31 Sadono Sukirno, Mikro Ekonomi Teori Penganta, 6
46 tertib dan terencana. Tetapi dewasa ini terjadi lagi perkembangan baru, ketika tenaga kerja upahan tidak lagi hanya terdapat pada usaha pertanian yang luas seperti diatas. Tetapi sudah meluas pada usaha tani kecil skala keluarga seperti usaha tani padi sawah yang tadinya hanya mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga dan tenaga tolong-menolong atau gotong-royong saja. Perkembangan ini terjadi karena terjadinya perubahan struktural, yaitu transformasi tenaga kerja dari sektor pertanian pedesaan ke sektor industri perkotaan. Hal ini dapat dipicu oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat yang diawali dengan pertumbuhan industri. Dalam ilmu ekonomi yang dimaksud tenaga kerja adalah suatu alat kekuatan fisik dan otak manusia, yang tidak dapat dipisahkan dari manusia dan ditujukan pada usaha produksi. Oleh karena itu tenaga kerja tidak bisa dipisahkan dengan manusia atau penduduk.32
Tenaga kerja dalam pengertian ini mencakup professional skill yang amat tinggi dari jenis apapun juga, hingga tenaga kerja yang tak memiliki skill. Jadi, istilah tersebut mencakup tenaga kerja tingkat tinggi seperti ilmuwan, insinyur, dokter, ahli ekonomi, guru besar, ahli hukum, hakim, akuntan, diplomat, administator, serta pekerja biasa di pabrik-pabrik, sawah, dan kantor pemerintah.
Sebagian ahli ekonomi membagi tenaga kerja produktif. Disebut produktif jika ia menambah nilai material, seperti pekerja disektor pertanian dan manufaktur. Jika tidak menambah nilai material, maka disebut tidak produktif.
Menurut Adam Smith, pekerja kasar maupun yang terhormat dimasyarakat seperti penguasa dengan semua bawahannya dalam administrasi sipil, pengadilan dan militer, mereka itu adalah pekerja tidak produktif.
Namun menurut konsepsi modern semua tenaga kerja disebut produktif asal saja pekerjaannya dilakukan untuk memperoleh pendapatan.
Sebagai konsekuensi pemikiran bahwa penduduk sebagai modal pokok pembangunan, maka beberapa konsep tentang tenaga kerja perlu ditinjau kembali.
Diantaranya adalah konsep mengenai angkatan kerja, bekerja, dll. Secara umum dikatakan bahwa yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah penduduk berumur
32 Moehar Daniel, Pengantar Ekonomi Pertanian, 55-87
47 10 tahun keatas yang bekerja, sementara tidak bekerja dan sedang mencari pekerjaan.33 Tenaga kerja merupakan semua yang bersedia dan sanggup bekerja.
Golongan ini meliputi yang bekerja untuk kepentingan sendiri, baik anggota keluarga yang tidak menerima bayaran berupa uang maupun mereka yang bekerja untuk mendapat gaji dan upah.
Menurut Mulyadi tenaga kerja atau manpower adalah :
“Penduduk dalam usia kerja (berusia 15-64 tahun) atau jumlah seluruh penduduk dalam suatu negara yang memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga mereka, dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut”.34
Adapun faktor tenaga kerja manusia dalam produksi, dimasukan oleh Ibnu Khaldun dalam rencana-rencana ekonomi bagian perusahaan. Ia memandang kepandaian menulis dan mengarang kitab serta kepandaian kebukuan, administrasi dan lainnya.35 Islam mendorong umatnya untuk bekerja dan memproduksi, bahkan menjadikannya sebagai sebuah kewajiban terhadap orang-orang yang mampu, lebih dari itu Allah akan memberi balasan yang setimpal yang sesuai dengan amal/kerja. Bekerja didalam islam adalah suatu kewajiban bagi mereka yang mampu. Tidak dibenarkan bagi seorang muslim berpangku tangan dengan alasan
“mengkhususkan waktu untuk beribadah” atau bertawakal kepadah Allah SWT Tidak dibenarkan pula bagi seorang muslin bersandar kepada orang lain sedangkan ia mampu dan memiliki kemampuan. Firman Allah dalam Quran surat An Nahl:97:
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan
33 Basir Barthos, Manajemen Sumber Daya Manusia : Suatu Pendekatan Makro, 17
34Karof Alfentino Lamia, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendapatan Nelayan Kecamatan Tumpuan, Kabupaten Minahasa Selatan (Jurnal EMBA, Vol. 1 No. 4 Desember 2013, Hal 1748-1759)
35 Abdullah Zakiy Al Kaaf, Ekonomi dalam Perspektif Islam (Bandung: CV Pustaka Setia.
2002) 82
48 Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Nabi bersabda “Tidak boleh memberi sedekah kepada orang yang kaya dan orang yang mampu bekerja”. Islam mengagungkan pekerjaan duniawi dan kadang-kadang menjadikannya sebagai ibadah, disisi lain pekerjaan dikategorikan sebagai jihad jika diniatkan dengan ikhlas dan sabar.36
Tenaga kerja sinonim dengan manusia dan merupakan faktor produksi yang amat penting. Bahkan kekayaan alam suatu negara tidak akan berguna jika tidak dimanfaatkan oleh manusianya. Alam memang amat dermawan bagi suatu negara dalam menyediakan sumber daya alam yang tak terbatas, tetapi tanpa usaha manusia, semuanya akan tetap tak terapakai. “Pakistan”, begitu dikatakan,
“adalah negeri yang amat kaya yang dihuni oleh orang-orang miskin”. Di pihak lain, Jepang adalah negeri yang dianugerahi sedikit kekayaan alam tetapi ia merupakan kekuatan ekonomi utama karena orang-orangnya yang sanggup bekerja kera, rajin dan pandai. Jadi, sumber daya manusia yang mencakup tenaga kerja yang komit, kerja keras dan patriotik, baik manual maupun intelektual, adalah suatu keharusan bagi pembangunan ekonomi suatu negara. Memandang arti pentingnya dalam penciptaan kekayaan, Islam telah menaruh perhatian yang besar terhadap tenaga kerja. Al-Qur‟an, dalam kitab suci Islam, mengajarkan prinsip mendasar mengenai tenaga kerja, ketika kitab suci itu menanyakan :
Artinya : “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm (53) : 39). Menurut ayat ini, tidak ada jalan tol atau jalan yang mudah menuju kesuksesan. Jalan menuju kemajuan dan kesuksesan didunia ini adalah melalui perjuangan dan usaha. Semakin keras orang bekerja, semakin tinggi pula imbalan yang akan mereka terima. Menurut Nabi Muhammad SAW : “Allah mencintai orang yang bekerja dan berjuang untuk
36 Yusuf Qordhawi, Norma dan Etika Ekonomi Islam, 104