• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Nila-Nilai Sosial 1. Pengertian Nilai

Nilai adalah sesuatu yang baik yang selalu diinginkan, dicita- citakan dan dianggap penting oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat, karena itu sesuatu dikatakan memiliki nilai apabila berguna dan berharga (nilai kebenaran, indah (nilai estetika), baik (nilai moral atau etis), religius (nilai agama) (Setiadi, 2006:31).

Nilai dikatakan juga sebagai ukuran sikap dan perasaan seseorang atau kelompok yang berhubungan dengan keadaan baik, buruk, benar salah atau suka tidak suka terhadap suatu objek, baik material maupun non material (Syani, 2002:49).Dengan demikian dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa nilai secara umum ukuran tentang baik-buruk, tentang tingkah laku yang telah mendalam dalam kehidupan masyarakat.Nilai merupakan pencerminan budaya suatu kelompok masyarakat.

Dalam Ensiklopedi Indonesia dinyatakan bahwa pembicaraan tentang nilai dalam filsafat sering dihubungkan dengan kebaikan. “value”

berasal dari kata “valere” yang berarti bernilai atau berharga, yaitu kualitas sesuatu yang membuatnya didambakan atau diidamkan orang.

Dengan ungkapan lain apabila sesuatu dipandang baik, dirasakan bermanfaat untuk dimiliki, bermanfaat untuk dikerjakan atau bermanfaat untuk dicapai seseeorang, maka akan menjadi idaman orang. Jadi sesuatu itu bernilai. Biasanya nilai berada dalam bidang etika atau estetika (Saka, 2008:44).

(2)

Nilai merupakan perwujudan diri. Perwujudan diri (selfactualization) di sini adalah perwujudan potensi-potensi diri menjadi nyata (Latif, 2007:69).

Demikian luasnya implikasi konsep nilai ketika dihubungkan dengan konsep lainnya, ataupun dikaitkan dengan sebuah statement.

Konsep nilai ketika dihubungkan dengan logika menjadi benar-salah, ketika dihubungkan dengan estetika menjadi indah-jelek, dan ketika dihubungkan dengan etika menjadi baik-buruk. Tapi yang pasti bahwa nilai menyatakan sebuah kualitas. Pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai pada diri seseorang atau sebagai bantuan terhadap peserta didik agar menyadari dan mengalami nilai-nilai serta menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidupnya (Elmubarok, 2008:12).

2. Urgensi Pendidikan Nilai

Pendidikan nilai meneliti, menelaah dan menemukan kaidah kebermanfatan ilmu pengetahuan bagi umat manusia. Dalam kanal pendidikan, istilah pendidikan nilai mengacu pada aksiologi pendidikan, sejauh mana pendidikan itu memunculkan dan menerapkan nilai/moral kepada peserta didik (Elmubarok, 2009:12). Di sisi lain pendidikan nilai bisa berarti educare yang berati membimbing, menuntun, dan memimpin. Filosofi pendidikan yang tidak terjebak pada banyaknya materi yang di paksakan kepada peserta didik dan harus dikuasai. Proses pendidikan educare lebih merupakan aktivitas hidup untuk menyertai, mengantar, mendampingi, membimbing, memampukan peserta didik sehingga tumbuh berkembang sampai pada tujuan pendidikan yang sangat dicita-citakan (Elmubarok, 2009:14).

Salah satu konsep filosofi dasar pendidikan nilai menurut Thodore Bramelt adalah pendidikan harus mampu menjadi agen atau

(3)

perantara yang menanamkan nilai-nilai yang ada dalam jiwa stake holder (Barnadib, 1990: 26).

Penanaman nilai-nilai kehidupan kepada anak didik membutuhkan keteladanan dari guru, orang tua, dan masyarakat.

Penanaman nilai tersebut tidak hanya berkangsung disekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat.

3. Nilai Sosial

a) Pengertian Nilai Sosial

Secara sederhana, nilai sosial dapat diartikan sebagai sesuatu yang baik, diinginkan, diharapkan, dan dianggap penting oleh masyarakat.Hal-hal tersebut menjadi acuan warga masyarakat dalam bertindak.Jadi, nilai sosial mengarahkan tindakan manusia.Wujud nilai dalam kehidupan itu merupakan sesuatu yang berharga sebab dapat membedakan yang benar dan yang salah, yang indah dan yang tidak indah, dan yang baik dan yang buruk.Wujud nilai dalam masyarakat berupa penghargaan, hukuman, pujian, dan sebagainya.Nilai sosial adalah nilai yang diakui bersama sebagai hasil konsensus, erat kaitannya dengan pandangan terhadap harapan kesejahteraan bersama dalam hidup bermasyarakat (Syani, 2002:52).

b) Jenis-jenis Nilai Sosial

Menurut Notonagoro (2001:63), nilai dapat dibagi atas tiga jenis sebagai berikut:Pertama,Nilai material, yaitu segala benda yang berguna bagi manusia. Kedua,Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat hidup dan mengadakan kegiatan.Ketiga,Nilai spiritual, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia.

4. Sumber Nilai Sosial

(4)

Zubaedi (2009:13) menyatkan bahwa Nilai-nilai sosial terdiri atas beberapa sub nilai antara lain:

a) Loves (Kasih sayang) yang terdiri atas:

1) Pengabdian

Memilih diantara dua alternatif yaitu merefleksikan sifat- sifat Tuhan yang mengarah menjadi pengabdi-pihak-lain (Ar- Rahman dan Ar-Rahim) atau pengabdi-diri-sendiri. Pengabdi- Pihak-Lain, bukan berarti tidak ada perhatian sama sekali terhadap diri sendiri, sehingga misalnya tidak makan sama sekali yang berarti bunuh diri. Tapi senantiasa berusaha mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri. Perhatiannya sama besar baik terhadap diri sendiri maupun pihak lain. Apa yang tidak patut diperlakukan terhadap dirinya tidak patut pula diperlakukan terhadap pihak lain. Senantiasa memberi dengan kecintaan tanpa pamrih dan membalas kebaikan pihak lain dengan yang lebih baik hanya karena kecintaan.

2) Tolong Menolong

Firman Allah swt dalam Q.S. Al-Maidah Surat ke 5 ayat 2, sebagai berikut:













(5)

Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya(Q.S. Al- Maidaah: 2).

Ayat ini sebagai dalil yang jelas akan wajibnya tolong menolong dalam kebaikan dan takwa serta dilarang tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Dalam ayat ini Allah Ta'ala memerintahkan seluruh manusia agar tolong menolong dalam mengerjakan kebaikan dan takwa yakni sebagiankita menolong sebagian yang lainnya dalam mengerjakan 3) Kekeluargaan

Istilah keluarga dalam sosiologi menjadi salah satu bagian dari ikon yang mendapat perhatian khusus. Keluarga dianggap penting sebagai bagian dari masyarakat secara umum. Individu terbentuk karena adanya keluarga dan dari keluarga pada akhirnya akan membentuk masyarakat (Latif, 2009:19)

4) Kesetiaan

Sebagai kesetiaan kita dan kepasrahan diri kita seutuhnya kepada Allah SWT.Setia dan rela hanya Allah lah Tuhan kita.Dengan begitu kita sudah menyatakan kepatuhan segalanya untuk Allah semata, betapa setianya kita setiap kali itu diucapkan dalam sholat.Kesetiaan sekaligus perwujudan kepasrahan kepada Allah.Hanya Allah lah yang berhak mengatur kita, hanya Allah lah yang berhak dan wajib disembahdan ditaati segala perintah dan larangan-Nya. Sebagai seorang muslim yang berusaha untuk taat dan bertaqwa, kita senantiasa dituntut untuk berbuat yang benar dan baik dalam hidup ini.

5) Kepedulian

(6)

Kepedulian sosial dalam Islam terdapat dalam bidang akidah dan keimanan, tertuang jelas dalam syari’at serta jadi tolak ukur dalam akhlak seseorang mukmin.Konsep kepedulian sosial dalam Islam sungguh cukup jelas dan tegas. Bila diperhatikan dengan seksama, dengan sangat mudah ditemui dan masalah kepedulian sosial dalam Islam terdapat bidang akidah dan keimanan.

b) Responsibility (tanggung jawab) yang terdiri atas:

1) Nilai Rasa Memiliki

Pendidikan nilai membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang tau sopan santun, memiliki cita rasa, dan mampu menghargai diri sendiri dan orang lain, bersikap hormat terhadap keluhuran martabat manusia, memiliki cita rasa moral dan rohani.

2) Disiplin

Disiplin dimaksudkan sebagai cara mengajarkan kepada siswa tentang perilaku moral yang dapat diterima kelompok.

Tujuan utamanya adalah memberitahu dan menanamkan pengertian dalam diri siswa tentang perilaku mana yang baik dan mana yang buruk, dan untuk mendorongnya memiliki perilaku sesuai dengan standar ini.Dalam disiplin ada tiga unsur yang penting, yaitu hukum atau peraturan yang berfungsi sebagai pedoman penilaian, sanksi atau hukuman bagi pelanggaran peraturan itu, dan hadiah untuk perilaku atau usaha yang baik.

Untuk anak yang masih dalam usia sekolah harus ditekankan adalah aspek pendidikan dan pengertian dalam disiplin. Seorang anak diberi hukuman jika memang terbukti bahwa ia sebenarnya mengerti apa yang diharapkan dan terlebih bila ia memang sengaja melanggarnya. Sebaliknya bila saat ia berperilaku sosial yang baik, maka ia diberikan hadiah. Maka

(7)

biasanya ini akan meningkatkan keinginannya untuk lebih banyak belajar berperilaku baik.

3) Empati

Empati merupakan identitas dengan, atau pengalaman yang seolah-olah terjadi dalam keadaan orang lain. Empati memampukan kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan masuk ke dalam diri orang lain (Lickona, 1992:94).

c) Life Harmony (Keserasian hidup) terdiri atas:

1) Nilai Keadilan

Keadilan adalah membagi sama banyak, atau memberikan hak yang sama kepada orang-orang atau kelompok dengan status yang sama. Keadilan dapat diartikan memberikan hak seimbang dengan kewajiban atau memberi seseorang sesuai dengan kebutuhannya (Ilyas, 2007:235).

2) Toleransi

Toleransi artinya menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan berhati lapang terhadap orang-orang yang memiliki pendapat berbeda.Sikap toleran tidak berarti membenarkan pandangan yang dibiarkan itu, tetapi mengakui kebebasan serta hak-hak asasi.

3) Kerjasama

Semangat kerjasama ini haruslah diajarkan secara berkesinambungan.Jangan melakukan aktifitas-aktifitas yang mendorong adanya semangat kompetisi.Tapi gunakan bentukbentuk aktifitas dan permainan yang bersifat saling membantu. Tunjukkan bahwa usaha-usaha setiap individu ‘fit’

dalam kehidupan ini. Tapi perlu untuk diingat bahwa kita perlu berkotbah melawan kompetisi.

(8)

4) Demokrasi

Demokrasi adalah komunitas warga yang menghirup udara kebebasan dan bersifat egalitarian, sebuah masyarakat dimana individu seseorang amat dihargai dan diakui dan suatu masyarakat yang tidak terbatas oleh perbedaan-perbedaan keturunan, kekayaan, atau bahkan kekuasaan yang tinggi (Muhamad, 2006:106). Salah satu ciri penting demokrasi sejati adalah adanya jaminan terhadap hak memilih dan kebebasan untuk menentukan pilihan.

Sementara itu dalam sumber lain dijelaskan bahwa nilai sosial dalam masyarakat bersumber pada tiga hal yaitu dari tuhan, masyarakat, dan individu.

a. Nilai yang Bersumber dari Tuhan

Sumber nilai sosial berasal dari Tuhan biasanya diketahui melalui ajaran agama yang ditulis dalam kitab suci.Dalam ajaran agama, terdapat nilai yang dapat memberikan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku terhadap sesamanya.Sebagai contoh, adanya nilai kasih sayang, ketaatan, kejujuran, hidup sederhana, dan lainlain.Nilai yang bersumber dari Tuhan sering disebut nilai theonom.

b. Nilai yang Bersumber dari Masyarakat

Masyarakat menyepakati sesuatu hal yang dianggap baik dan luhur, kemudian menjadikannya sebagai suatu pedoman dalam bertingkah laku.Sebagai contohnya, kesopanan dan kesantunan terhadap orang tua.Nilai yang berasal dari hasil kesepakatan banyak orang disebut nilai heteronom.

c. Nilai yang Bersumber dari Individu

Pada dasarnya, setiap individu memiliki sesuatu hal yang baik, luhur, dan penting.Sebagai contohnya, kegigihan dalam bekerja yang dimiliki

(9)

oleh seseorang.Seseorang beranggapan bahwa kerja keras adalah sesuatu yang penting untuk mencapai suatu kesuksesan/ keberhasilan. Lambat laun nilai ini diikuti oleh orang lain yang pada akhirnya akan menjadikan nilai tersebut milik bersama. Dalam kenyataannya, nilai sosial yang berasal dari individu sering ditularkan dengan cara memberi contoh perilaku yang sesuai dengan nilai yang dimaksud. Nilai yangberasal dari individu disebut nilai otonom(http://www.zonasiswa.com/2014/07/nilai- sosial-pengertian-jenis-sumber.html).

5. Ciri-ciri Nilai Sosial

Setiadi (2006:24) menjelaskan bahwa ciri-ciri Nilai-nilai sosial ialah sebagai berikut:

1) Merupakan konstruksi masyarakat sebagai hasil interaksi antarwarga masyarakat.2) Disebarkan diantarawarga masyarakat (bukan bawaan lahir). 3)Terbentuk melalui sosialisasi (proses belajar). 4) Merupakan bagian dari usaha pemenuhan kebutuhan dan kepuasan sosial manusia. 5) Bervariasi antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain. 6) Dapat mempengaruhi pengembangan diri sosial. 7) Memiliki pengaruh yang berbeda antarwarga masyarakat. 8) Cenderung berkaitan satu sama lain. 9) Melibatkan emosi atau perasaan seseorang. 10) Merupakan asumsi-asumsi abstrak dari berbagai obyek dalam masyarakat.

Jadi, ciri-ciri nilai sosial di atas, mengandung pengertian bahwa nilai sosial itu merupakan patokan (standar) perilaku sosial yang melambangkan baik-buruk, benar-salahnya suatu obyek dalam hidup bermasyarakat.

B. Karakter

1. Pengertian Karakter

(10)

Karakter adalah potret diri seseorang yang sesungguhnya.Setiap orang memiliki karakter dan itu bisa menggambarkan diri seseorang yang sebenarnya apakah baik atau buruk. Karakter merupakan apa yang dilakukan seseorang ketika tidak ada yang memperhatikan orang tersebut. Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya (Samani,2011:41).

Secara bahasa karakter berasal dari bahasa Yunani “Charassein”

yang artinya “mengukir”.Sebuah pola, baik itu pikiran, sikap maupun tindakan yang melekat pada diri seseorang dengan sangat kuat dan sulit dihilangkan disebut sebagai karakter (Munir 2010:2). Secara umum karakter diartikan sebagai perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai berdasarkan norma agama, kebudayaan, hukum/ konstitusi, adat istiadat, dan estetika.

Lickona (1992:82) mengemukakan bahwa karakter mempunyai tiga bagian yang saling berhubungan yaitu: pengetahuan moral, perasaan moral dan perilaku moral. Karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik, kebiasaan dalam berfikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan.

Dalam pandangan Islam karakter itu sama dengan akhlak.

Akhlak dalam pandangan islam adalah kepribadian. Komponen kepribadian itu ada tiga yaitu tahu (pengetahuan) sikap dan perilaku (Majid, 2012:4).

(11)

Dalam kamus psikologi dinyatakan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis dan moral, misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai sifat-sifat yang relatif tepat. Menurut Suyanto, karakter adalah cara berpikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat (Ma’mur, 2013: 18).

Jati diri manusia sebagai makhluk sempurna terletak pada pembentukan karakternya berdasarkan keseimbangan antara unsur-unsur kejadianya, yang tercapai melalui pengembangan daya-daya yang dianugrahkan Tuhan. Jati diri yang kuat serta sesuai dengan kemanusiaan manusia terbentuk melalui jiwa yang kuat dan konsisten, serta memiliki integritas, dedikasi dan loyalitas terhadap Tuhan dan sesama makhluk (Muslich Mansur, 2011: 35).

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena kualitas karakter bangsa menentukan kemajuan suatu bangsa.

Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang.

Karena kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk kepribadian yang bermasalah di masa dewasa kelak (Muslich Mansur, 2011: 36).

Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial, peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah teridentifikasi butir-butir nilai yang dikelompokkan menjadi lima nilai utama, yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan serta kebangsaan (Rosyid, 2012:19).

(12)

Karakter tidak berfungsi dalam ruang hampa, karakter berfungsi dalam lingkungan sosial. Sering kali lingkungan tersebut menindas perhatian moral. Terkadang karakter itu bersifat demikian rupa sehingga banyak orang atau bahkan sebagian besar orang merasa bodoh dengan melakukan “Hal yang bermoral” (Lickona, 1992:100).

Demikian juga dengan lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam ikut membentuk karakter.Di sekitar lingkungan sosial yang keras seperti Harlem New York, remaja cenderung berperilaku antisosial, keras, tega, suka bermusuhan, dan sebagainya.Sementara itu di lingkungan yang gersang, panas dan tandus, penduduknya cenderung bersifat keras, dan berani mati (Samani, 2011:34).

2. Proses Pembentukan Karakter

Karakter yang kuat biasanya dibentuk oleh penanaman nilai yang menekankan tentang baik dan buruk.Nilai ini dibangun melalui penghayatan dan pengalaman, membangkitkan rasa ingin dan bukan menyibukan diri dengan pengetahuan (Adhim,2006:272).

Menurut Annis Matta dalam bukunya yang berjudul “Membentuk Karakter Muslim” (2003:67-70) menyebutkan beberapa kaidah tentang pembentukan karakter, yaitu:

1) Kaidah kebertahapan, artinya proses perubahan, perbaikan, dan pengembangan harus dilakukan secara bertahap. Seorang anak dalam hal ini tidak bisa dituntut untuk berubah sesuai yang diinginkan secara tiba-tiba dan instan, namun ada tahapan-tahapan yang harus dilalui dengan sabar dan tidak terburu-buru. Adapun orientasi dari kegiatan ini ialah terletak pada proses, bukan pada hasil. Sebab proses pendidikan itu tidak langsung dapat diketahui hasilnya, akan

(13)

tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga hasilnya nanti akan paten.

2) Kaidah kesinambungan, artinya perlu adanya latihan yang dilakukan secara terus-menerus. Seberapapun kecilnya porsi latihan, yang penting latihan itu berkesinambungan. Sebab proses yang berkesinambungan inilah yang nantinya membentuk rasa dan warna berfikir seseorang yang lama-lama akan menjadi karakter anak yang khas dan kuat.

3) Kaidah momentum, artinya mempergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalnya menggunakan momentum bulan ramadhan untuk mengembangkan atau melatih sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawanan, dan lain-lain.

4) Kaidah motivasi intrinsik, artinya karakter anak terbentuk secara kuat dan sempurna jika didorong oleh keinginan sendiri, bukan karena paksaan dari orang lain. Jadi proses merasakan sendiri dan melakukansendiri adalah penting. Hal ini sesuai dengan kaidah umum bahwa mencoba sesuatu akan berbeda hasilnya antara yang dilakukan sendiri dengan yang hanya dilihat atau diperdengarkan saja. Oleh karena itu pendidikan harus menanamkan motivasi yang kuat dan lurus serta melibatkan aksi fisik yang kuat, ini karena kedudukan seorang guru selain untuk memantau dan mengevaluasi perkembangan anak-anak, juga berfungsi sebagai unsur perekat, tempat curhat, dan sarana tukar pikiran bagi anak didiknya.

5) Kaidah pembimbing, artinya perlunya bantuan orang lain untuk mencapai hasil yang lebih baik daripada dilakukan seorang diri.

Pembentukan karakter ini tidak bisa dilakukan tanpa seorang guru atau pembimbing.

(14)

Selain dari pada itu pembentukan karakter juga tidak lepas dari penanaman nilai-nilai guna terbentuknya karakter yang berkualitas.

Seperti yang dikemukakan oleh Thomas Lickona (1992:101) bahwa rasa hormat, tanggung jawab, dan turunannya merupakan nilai-nilai yang dapat diajarkan secara legitimasi oleh sekolah. Pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral dalam manifestasinya merupakan kualitas karakter yang membuat nilai-nilai moral menjadi realitas yang hidup.

3. Pentingnya PembentukanKarakter dalam Membentuk Watak Bangsa

Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional.Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa salah satu tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.Secara jelas, arah kebijakan pembangunan nasional 2010-2014 adalah pada pembentukan akhlak mulia dan karakter bangsa.Terjadinya degradasi moral dan menurunnya nilai kebanggaan berbangsa dan bernegara dipandang sebagai gejala belum efektifnya implementasi pendidikan. Di tengah kebangkrutan moral bangsa, maraknya tindak kekerasan, inkoherensi politisi atas retorika politik, dan perilaku keseharian, pendidikan karakter model FW. Foerster (1869-1966) yang menekankan dimensi etis-religius menjadi relevan untuk diterapkan.

Makna pentingnya karakter bagi kehidupan manusia dewasa ini dapat dikutip pernyataan seorang Hakim Agung di Amerika, Antonin Scalia, yang pernah mengatakan, “bear in mind that brains and learning, like muscle and phsysical skills, are articles of commerce, they are bought and sold. You can hire them by the hour. The only thing in teh word NOT FOR SALE IS CHARAKTER. And if that does not govern

(15)

and direct your brains and learning, they will do you and the word more harm than good”. Scalia menunjukan dengan tepat bagaimana karakter harus menjadi pondasi bagi kecerdasan dan pngetahuan (brains and learning). Sebab kecerdasan dan pengetahuan (termasuk informasi) itu sendiri memang dapat diperjualbelikan (Elmubarok, 2009:103).

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni:intelligence plus character that is the goal oftrue education (kecerdasan yang berkarakteradalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, peserta didik akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting bagi peserta didik dalam mempersiapkan masa depan, karena seseorang akanlebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis (Kuntoro, 2010:8).

C. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dimaksudkan untuk mengetahui sejumlah karya ilmiah sebelumnya yang memiliki relevansi dan dinilai penting terkait dengan penelitian yang akan dilakukan penulis. Penelitian terdahulu bertujuan memastikan sejauhmana penelitian yang akan dilakukan pernah atau belum pernah diteliti oleh orang lain. Adapun penelitian terdahulu terkait dengan penelitian sekarang yaitu:

1. Karya Hamjadid (2008) dalam skripsinya yang berjudul “Nilai-nilai Sosial dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta”.

Penelitian ini datang dari latar belakang masalah sosial yang sering terjadi di kalangan siswa SMA. Hal ini terlihat dari banyaknya perilaku yang menyimpang dalam diri siswa yang mengakibatkan

(16)

masyarakatlah yang kemudian menjadikorban dari perilaku siswa yang menyimpang tersebut. Terbukti dengan banyaknya aksi tawuran, perkelahian, kenakalan di jalan raya dan tindak negatif lainnya.

Kemudian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai sosial apa saja yang terkandung dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XI di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta, dan bagaimana metode yang digunakan guru dalam mentransformasikan nilai-nilai sosial tersebut melalui pembelajaran SKI Kelas XI di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan mengambil latar SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan wawancara biasa, obesrvasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan memberikan makna terhadap data yang berhasil dikumpulkan, dan dari makna itulah ditarik hasil atau kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan (1) Nilai sosial yang terkandung dalam materi pembelajaran SKI kelas XI di SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta adalah sikap toleransi yaitu terdapat pada materi perkembangan Islam di India. Kedua, sikap bekerjasama yaitu terdapat pada materi perkembangan Islam di Brunai Darrussalam, dan Ketiga sikap harga menghargai yang terdapat pada materi perkembangan Islam di Thailand dan perkembangan Islam di Filipina. (2) Metode yang digunakan guru bidang studi SKI dalam mentransformasikan nilai-nilai sosial melalui pembelajaran SKI khususnya kelas XI adalah melalui metode cerita, pemberian nasehat dan penekanan pada materi yang mempunyai aspek sosial.

2. Karya Zakiyah Kholidah (2009) dalam Skripsinya yang berjudul

“Pendidikan Nilai-nilai Sosial Bagi Anak dalam Keluarga Muslim”.

Latarbelakang penelitian ini adalah bahwa Dukuh Papringan terletak di tengah kotaPropinsi DIY dengan penduduknya yang memiliki tingkat perekonomian yang memadai dan memiliki tingkat pendidikan

(17)

SLTA keatas membawa konsekuensi terhadap kehidupan sosial masyarakatnya, terutama dapat terlihat pada nilai-nilai sosial anak.

Anak-anak mempunyai solidaritas yang tinggi dalam berteman, mereka belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, dan keserasian hidup kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.Namun tidak semua anak bisa berinteraksi secara mudah.Berdasarkan keadaan yang demikian mendorong penyusun untuk mengadakan penelitian yang terkaitan dengan pendidikan nilai-nilai sosial. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: nilai-nilai sosial apa saja yang ditanamkan bagi anak dalam keluarga Muslim, bagaimana pelaksanaan pendidikan nilai-nilai sosial bagi anak dalam keluarga Muslim, dan apa faktor pendukung dan penghambat dalam pendidikan nilai-nilai sosial bagi anak dalam keluarga Muslim.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang pendidikan nilai-nilai sosial bagi anak dalam keluarga Muslim di RT 09 Dukuh Papringan Catur Tunggal Depok Sleman Yogyakarta. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai evaluasi atas pengembangan pendidikan dan mampu menghasilkan anak didik yang berkualitas serta memiliki kemampuan dalam menghadapi masa depan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan mengambil objek penelitian yaitu Pendidikan Nilai-nilai Sosial bagi Anak dalam Keluarga Muslim, Pengambilan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Nilai-nilai sosial yang ditanamkan pada anak dalam keluarga Muslim RT 09 Papringan yaitu pertama, Nilai kasih sayang terdiri dari; Pengabdian, tolong menolong, kekeluargaan, dan kepedulian.Kedua, Nilai tanggung jawab berupa disiplin. Dan ketiga, Nilai keserasian hidup terdiri dari toleransi dan kerja sama. (2) Orang tua menanamkan pada diri anak tentang nilai-nilai

(18)

sosial dengan cara membiasakan anak untuk mengabdi pada Allah, membantu orang tua, disiplin dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, toleransi terhadap orang lain, menjalin silaturrahim, peduli terhadap semua orang, dan gotong rotong untuk menjalin sifat kebersamaan. (3) faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pendidikan nilai-nilai sosial yaitu pertama, faktor pendukung; taman pendidikan Al-Qur’an, pendidikan formal, teman sepermainan, dan lingkungan positif. Dan kedua, faktor penghambat; anak terlalu banyak waktu bermain, dan kurang pengawasaan.

3. Karya Ismadi (2013) dalam penelitiannya yang berjudul“Pembentukan Karakter Siswa di MTs Ibtidaiyah Sultan Agung Depok Sleman Melalui System Full day School”.

Latar belakang penelitian ini adalah perilaku anak diera globalisasi ini semakin buruk dikarenakan pergaulan yang semakin bebas dan tak terkontrol, sehingga diperlukan pendidikan yang dapat dijadikan wadah bagi pembentukan karakter siswa dan sebagai sarana pendidikan formal yang menitikberatkan pada pendidikan. Sekolah sistem full day school merupakan sekolah yang menerapkan sistem satu hari penuh dimana sekolah ini memulai kegiatan pada pukul 06.30 dan berahir pada pukul 15.30 Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dilakukan dengan metode pengumpulan data, mereduksi data sehingga bisa ditarik sebuah kesimpulan. Dalam penelitian yang pertama peneliti meneliti tentang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang menerapkan sistem full day school, selanjutnya meneliti berbagai kegiatan yang berhubungan dengan penanaman karakter bagi siswa Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang pendidikan sistem full day school dalam rangka pembentukan karakter siswa.Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, dengan pendekatan deskriptif kualitatif.Pengumpulan data dengan menggunakan observasi,

(19)

wawancara mendalam dan dokumentasi.Metode analisis data, penyajian data dan menyimpulkan.Pemeriksaan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data, dan menambah referensi.Hasil penelitian ini menunjukan pembentukan karakter siswa di Madrasah Ibtidaiyah Sultan Agung Depok Sleman relatif tinggi dalam pengembangan 18 nilai karakter melalui beberapa kegiatan.Kegiatan belajar mengajar intrakulikuler, ekstrakurikuler, pembiasaan dan keteladaan yang dilakukan oleh guru dalam rangka pembentukan karakter siswa dalam kegiatan intrakulikuler.

Penanaman karakter siswa, dilaksanakan pada kegiatan belajar mengajar dibangun melalui pembelajaran interaktif, dan diskusi. Dalam kegiatan ekstrakurikuler ditekan pada penanaman18 nilai karakter sebagai kegiatantambahan dalam proses pendidikan sistem full day school. Dalam kegiatan pembiasaan dan keteladanan kepala madrasah dan dan guru memberikan contoh tentang penanaman karakter bagi siswa untuk dijadikan contoh dan teladan bagi para siswa.Faktor kelebihan diantaranya ialah semangat sumber daya manusia baik dari orang tua siswa maupun guru.Sedangkan kelemahan dalam pelaksanaan pendididikan sistem full day school ialah tenaga guru dan siswa yang terforsir, serta untuk memberikan fasilitas yang maksimal baik fisik maupun non fisik.

Berdasarkan berbagai temuan literatur yang penulis ketahui, Sejauh ini, belum ada yang secara khusus penelitian yang membahas Implikasi Nilai-nilai Sosial untuk Membentuk Karakter siswa.

D. Kerangka Pikir

Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 pasal 1 butir 1, pendidikan adalah: “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

(20)

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara” (Salahudin Anas, 2013: 41).

Sistem pendidikan yang sesuai untuk menghasilkan kualitas masyarakat yang cerdas dan berakhlak mulia (berkarakter baik) adalah yang bersifat humanis, yang memposisikan subjek didik sebagai pribadi dan anggota masyarakat yang perlu dibantu dan didorong agar memilki kebiasaan efektif, perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan keinginan.Perpaduan ketiganya secara harmonis menyebabkan seseorang atau suatu komunitas

meninggalkan ketergantungan (dependen) menuju

kemandirian(ndependence),dansaling ketergantungan(interdependence).

Saling ketergantungan sangat diperlukan dalam kehidupan modern karena kehidupan yang semakin kompleks hanya dapat diatasi secara kolaborotif (Darmiyati, 2010: 142).

Dewasa ini dunia pendidikan kita mengalami degradasi yang sangat memprihatinkan khususnya pada tataran Afektif.Tak dapat dipungkiri bahwa terjadinya dekadensi moral dan etika pada remaja kita tidak terlepas dari pergeseran nilai yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.Gambaran sederhana tampak pada tatacara bergaul dan berpakaian remaja pada umumnya. Pada tahun 80an bergandengan tangan di tengah jalan apalagi berpelukan sementara masih beratribut sekolah merupakan hal yang langka bahkan tabu bagi sebagian besar orang dewasa Tetapi sekarang fenomena seperti itu menjadi trend.

Guru adalah anggota masyarakat yang paling sering disebut memiliki andil sangat vital dalam diskursus pergeseran nilai dan dekadensi moral di kalangan remaja usia sekolah. Memang posisi guru cukup dilematis karena mereka adalah tokoh central yang menjadi parameter dalam pola Etika dan Moral bagi remaja tersebut.Padahal jika kita lihat dari sisi waktu (30%

sehari) yang digunakan oleh GURU untuk mendidik anak di sekolah tentu

(21)

tidaklah arif jika kita mencoba menimpakan secara sepihak kemerosotan moral remaja kita saat ini kepada guru semata.Walaupun demikian, guru tidak boleh serta merta mengelak dari tuduhan itu.

Mereka bahkan dituntut untuk mencitrakan dirinya sebagai pribadi yang memiliki integritas, mandiri dan beretika tinggi sehingga pantas menjadi acuan atau tauladan baik terhadap anak didiknya maupun dalam keluarga dan lingkungannya. Bukan sebaliknya sebagaimana sering dilansir lewat media massa di mana Guru sering terlibat berbagai tindakan kriminal. Bukan pula mereka yang menjadikan sekolah sebagai lahan bisnis demi terwujudnya impian materialisnya. Dengan demikian Guru harus tetap pada rel yang benar dalam rangka menjadi pola anutan dan contoh yang baik bagi remaja sehingga tetap pantas untuk menyandang predikat nan mulia di gugu dan ditiru. (http://yenz-orchid.blogspot.com/2011/12/pergeseran-nilai-dan- dekadensi-moral.html) dikutip tanggal 11 november 2014 pukul 21:11 WIB.

Memperbaiki kualitas pendidikan diperlukannya peran aktif dari guru yang profesional untuk bisa meningkatkan kualitas mutu pendidikan itu sendiri.Menurut Agus F Tamyong yang dikutip oleh Moh.Uzer Usman (1995: 15) yang dimaksud dengan guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melakukan tugas dan fungsi sebagai guru dan kemampuan maksimal, atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta mamiliki pengalaman yang kaya dibidangnya.

Melalui penanaman nilai-nilai sosial oleh guru merupakan salah satu alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan.Dengan menanamkan nilai- nilai sosial mengkolaborasikan dalam strategi pembalajaran yang dilakukan guru dikelas diharapkan dapat terciptanya suasana pembelajaran siswa yang kondusif.

Nilai-nilai sosial memberikan pedoman bagi warga masyarakat untuk hidup berkasih sayang dengan sesama manusia, hidup harmonis, hidup

(22)

disiplin, hidup berdemokrasi, dan hidup bertanggung jawab. Sebaliknya, tanpa nilai-nilai sosial suatu masyarakat dan negara tidak akan memperoleh kehidupan yang harmonis dan demokratis. Dengan demikian, nilai-nilai sosial tersebut mempunyai kedudukan yang sangat penting bagi masyarakat, bangsa, dan negara (Zubaedi 2006 :6).

Penerapan Nilai-nilai sosial salah satu cara yang perlu ditanamkan kepada peserta didik karena nilai-nilai sosial berfungsi sebagai acuan bertingkah laku dalam berinteraksi dengan sesama sehingn ga keberadaannya dapat diterima tidak hanya di lingkungan sekolah akan tetapi di masyarakat.

Melalui penanaman nilai-nilai sosial diharapkan siswa dapat menjadi pribadi yang berkarkter budi pekerti luhur dan bisa saling menjaga keharmonisan sosial di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah seperti diagram dibawah ini

PENDIDIKAN

DEKADENSI MORAL

UPAYA PENANAMAN

NILAI-NILAI SOSIAL

KARAKTER SISWA

SOPAN SANTUN DISIPLIN

JUJUR

SALING MENGHORMATI PEDULI SESAMA TOLONG MENOLONG

KERJASAMA TOLERANSI SALING MENGHARGAI

(23)

Bagan No. 1 Kerangka Pikir

Bagan diatas dapat dijelaskan bahwa dalam pendidikan di Indonesia terutama tertanamnya nilai-nilai sosial agar mampu hidup dengan menjadi manusia yang berkarakter, agar dalam suatu ruang lingkup pendidikan tidak hanya mempriotaskan ke arah kognitif saja akan tetapi nilai-nilai etika, sopan santun, dan saling menghargai dapat tertanam dalam jiwa anak didik. Sehingga output yang dicapai adalah peserta didik yang memiliki etika yang baik, sikap sopan santun yang luhur serta rasa saling menghargai antar sesama terjalin harmonis.

Referensi

Dokumen terkait

Rekayasa ulang proses bisnis (Business Process Reengineering – selanjutnya disebut BPR) dimulai dengan kata-kata rekayasa ulang yang artinya adalah “pemikiran ulang secara

Tahap pendukung atau pemeliharaan dapat mengulangi proses pengembangan mulai dari analisis spesifikasi untuk perubahan perangkat lunak yang sudah ada, tapi tidak untuk

Tahap-tahap yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan inspeksi adalah tahap pesiapan, pelaksanaan, pengembangan upaya perbaikan, tindakan korektif dan laporan (Tarwaka, 2008)

(4) Air mutaghayar, yakni air mutlaq yang sudah berubah salah satu dari bau, rasa atau warnanya. Perubahan tersebut terkadang berubah karena bercampur dengan benda

Pengembangan model pembelajaran kooperatif tipe Time Token oleh Arends disebut bentuk dari pembelajaran yang dinamis di sekolah. Artinya subjek dalam proses

Dengan demikian prototype adalah suatu metode dalam pengembangan sistem menggunakan pendekatan untuk membuat suatu program dengan cepat dan bertahap sehingga dapat

Manajemen perusahaan harus memastikan bahwa sistem kendali internal perusahaan bekerja dengan baik, artinya dapat mendukung proses bisnis perusahaan yang secara jelas

Jadi dapat disimpulkan bahwa perbaikan proses bisnis adalah dengan melakukan pemeriksaan secara sistematis pada suatu proses bisnis dengan menentukan tools dan material yang