• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai gambaran umum Boy’s Cake &

Bakery yang menjadi tempat penelitian dan membahas tentang teori-teori yang berkaitan dengan tema yang diambil dalam penelitian.

2.1 Profil Perusahaan

Pada subbab ini akan menjelaskan tentang profil perusahaan yang meliputi gambaran umum perusahaan, spesifikasi produk, aliran proses produksi, ukuran dan jumlah mesin yang digunakan dalam proses produksi Boy’s Cake & Bakery, serta luas lantai produksi Boy’s Cake & Bakery.

2.1.1 Gambaran Umum Perusahaan

Boy’s Cake & Bakery merupakan sebuah perusahaan (home industry) yang bergerak dalam bidang pengolahan makanan (kue tradisional dan modern).

Perusahaan yang terletak di Jalan Solo-Karang Anyar atau Jalan Solo -Tawang Mangu, Triyagan, Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah 57554, Indonesia tidak hanya memproduksi satu jenis produk saja, tetapi ada beberapa jenis produk yang diproduksi yaitu croissant, cake marmer, muffin coklat, roti abon, soes coklat, banana pie, dan lain-lain. Fokus pada penelitian ini yaitu pada produk utama yaitu croissant. Salah satu faktor pendirian perusahaan ini adalah karena kecenderungan masyarakat yang pasti membutuhkan perusahaan untuk memproduksi berbagai jenis kue dan roti serta permintaan akan kue dan roti sebagai kebutuhan berbagai kepentingan dan acara di daerah Karanganyar dan Sukoharjo yang semakin tinggi dikarenakan masih sedikit perusahaan pengolahan makanan yang berkembang di daerah tersebut. Oleh karena tingkat penjualannya yang cukup tinggi, maka perusahaan ini masih dapat bertahan sampai saat ini. Dan perusahaan ini dari tahun ke tahun dapat menambah hasil produksinya karena adanya permintaan yang semakin tinggi dari pihak konsumen. Boy’s Cake &

Bakery dapat dikatakan sebagai perusahaan yang cukup berkembang di masa sekarang ini, hal ini terbukti dengan tingkat penjualan yang semakin naik dari tahun ke tahun.

(2)

Boy’s Cake & Bakery melakukan proses produksi berdasarkan permintaan yang ada (make to order) dan menyediakan produk jadi (make to stock) pada outlet yang dimiliki Boy’s Cake & Bakery sehingga konsumen yang tidak melakukan pemesanan tetap dapat membeli produk dari Boy’s Cake & Bakery secara langsung. Berdasarkan observasi dapat diidentifikasi adanya peletakan fasilitas yang tidak beraturan dan tidak sesuai dengan aliran proses. Hal ini menyebabkan ketidakefisiensian ruangan. Peletakan fasilitas yang tidak sesuai dengan hubungan antar aktivitas menambah jarak tempuh yang harus dilalui pekerja menjadi lebih lama karena harus memutar terlebih dahulu untuk mencapai proses selanjutnya. Selain itu, produk yang telah selesai melalui proses pon dikumpulkan terlebih dahulu agar pengangkutan menjadi lebih ringkas. Hal-hal tersebut menyebabkan pekerja merasa tidak nyaman saat bekerja. Bagi perusahaan, tentu saja hal ini merupakan sebuah kerugian karena menyebabkan biaya pengangkutan (material handling) menjadi besar dan waktu produksi menjadi lebih lama dikarenakan pekerja banyak memakan waktu dalam pemindahan bahan dari proses satu ke proses yang lain.

2.1.2 Luas Lantai Produksi

Pada subbab ini berisi tentang luas lantai produksi yang ada pada Boys Bakery and Cake. Total luas bangunan dari Boys Bakery and Cake adalah 229,36 m2 Luas tempat produksi roti di Boys Bakery and Cake adalah 145,66 m2. Luas lantai produksi yang ada pada Boys Bakery and Cake dapat dilihat pada Tabel 2.1.

berikut:

Tabel 2.1 Luas Lantai Produksi Area Produksi yang Tersedia Ukuran

Luas (m2) Panjang (m) Lebar (m)

Ruang Packing 3.30 2.80 9.24

Gudang Bahan Baku 1 2.50 2.80 7.00

Gudang Bahan Baku 1 2.50 2.80 7.00

Area Percamburan Bahan 8.30 3.20 26.56

Area Pembentukan 5.80 3.40 19.72

Ruang Produksi Cake 8.10 9.40 76.14

Total 145.66

Layout dan diagram alir Boys Bakery and Cake dapat dilihat pada Gambar 2.1.

(3)

Gambar 2.1 Gambar Layout Boy’s Cake and Bakery Keterangan :

• Merah = diagram alir produksi bakery

• Hijau = diagram alir produksi cake

(4)

2.1.3 Ukuran dan Jumlah Mesin

Pada subbab ini membahas tentang ukuran dan jumlah mesin yang ada pada setiap stasiun di Boys Bakery and Cake. Ukuran dan jumlah mesin pada Boy’s Cake & Bakery tersebut pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Ukuran dan Jumlah Mesin

Mesin Jumlah Ukuran

Panjang (m) Lebar (m)

Mixer 4 0.4 0.4

Oven 2 1.0 1.3

Dough Roller 1 0.8 1.0

2.1.4 Spesifikasi Produk

Subbab ini berisi tentang spesifikasi produk yang ada pada Boy’s Cake &

Bakery. Boy’s Cake & Bakery terletak di jalan Solo-Tawangmangu, Triyagan, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia. Boy’s Cake & Bakery merupakan perusahaan yang bergerak dalam memproduksi dan menjual beragam bentuk dan olahan roti dan kue. Beberapa roti dan kue yang diproduksi dan dijual oleh Boys Bakery and Cake berupa roti cokelat, roti keju, banana cake, roti tawar, brownies, cup cake, croissant, tart dan lain-lain. Dalam melakukan produksinya, perusahaan ini membedakan proses produksi antara produk roti dan kue, hal ini dikarenakan proses yang berbeda antara kedua jenis produk tersebut. Penelitian ini berfokus pada produk roti yaitu roti croissant. Berikut ini adalah daftar bahan- bahan yang digunakan dalam pembuatan roti croissant, komposisi bahan dibawah ini digunakan untuk menghasilkan 15 croissant dengan diameter kurang lebih 12- 13 cm:

1. Tepung terigu : 500 gr 2. Ragi : 30 gr

3. Telur : 2 buah 4. Air hangat : 220 ml 5. Susu bubuk : 30 gr 6. Garam : 20 gr 7. Gula pasir : 70 gr 8. Mentega : 250 gr

(5)

Gambar 2.2. Produk Boy’s Cake and Bakery 2.1.5 Aliran Proses Produksi

Pada subbab ini menjelaskan tentang aliran proses produksi. Aliran proses produksi pada pabrik Boy’s Bakery and Cake sebagai berikut :

Flowchart proses produksi dapat dijelaskan melalui gambar berikut:

Gambar 2.3. Flowchart Proses Produksi

Langkah awal pada pembuatan roti Croissant adalah proses pencampuran bahan baku berupa tepung terigu, mentega, telur, air dan bahan pelengkap (ragi, garam, gula dan susu bubuk) dengan menggunakan mesin mixer. Jumlah bahan yang digunakan tergantung dengan jumlah croissant yang akan diproduksi.

(6)

Setelah melakukan pencampuran bahan, adonan tersebut dikembangkan selama beberapa menit di rak pengembang. Proses selanjutnya yaitu memipihkan adonan yang telah mengembang tersebut menggunakan mesin roll. Setelah adonan dipipihkan, adonan tersebut di timbang untuk dibagi-bagi dan di bentuk sesuai dengan bentuk roti croissant. Selanjutnya, adonan yang telah dibentuk tersebut diletakkan pada loyang yang kemudian akan dilakukan proses pemanggangan dengan menggunakan mesin oven. Pemangganan dilakukan dalam beberapa menit. Langkah selanjutnya yaitu roti yang telah dipanggang dikeluarkan dari oven kemudian dilakukan pendinginan pada rak pendingin. Lalu roti croissant yang telah selesai didinginkan tersebut diangkut secara manual handling ke bagian packaging untuk dilakukan proses pengepakan sedangkan sebagian lainnya diangkut ke toko untuk dijual. Peta proses operasi dari produk Boy’s Bakery &

Cake yang berupa roti croissant dapat dilihat pada Gambar 2.4.

(7)

Kegiatan Jumlah Waktu

Operasi 15 1517"

Pemeriksaan 1 58"

Total 1585"

Ringkasan

Gambar 2.4 PPO Croissant

NAMA OBYEK : ROTI CROISSANT

NOMOR PETA : 1

DIPETAKAN OLEH : -

TANGGAL DIPETAKAN : 10 April 2018

PETA PROSES OPERASI

(8)

2.2 Landasan Teori

Pada sub bab ini akan menjelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan tema penelitian.

2.2.1 Definisi Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang berada di sekitar tenaga kerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam melaksanakan tugas dan pekerjaaan yang dibebankan. Lingkungan Kerja menurut Nitisemito (2001) dalam Sasono dan Purwaningsih (2015) adalah sebagai sesuatu yang ada disekitar para pekerja dan yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. Lingkungan kerja yang kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan pegawai untuk bekerja secara optimal. Sedarmayanti (2007) mendefinisikan bahwa lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang yang diembankan. Maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja merupakan suatu lingkup atau ruang yang terdapat pada seseorang yang bekerja pada suatu tempat atau perusahaan dan mempengaruhi kondisi fisik serta mental secara langsung dalam menyelesaikan tugas dalam pekerjaannya.

2.2.2 Iklim Kerja

Menurut Permenakertrans No. PER 13/MEN/X/2011, iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannnya.

1. Suhu

Suhu tubuh manusia dipertahankan hampir menetap oleh suatu pengaturan suhu. Suhu menetap ini dapat dipertahankan akibat keseimbangan antara panas yang dihasilkan metabolisme tubuh dengan pertukaran panas di antara tubuh dengan lingkungan sekitarnya (Suma’mur, 1984 dan Priatna, 1990 dalam Tarwaka, 2004).Besarnya panas yang hilang tergantung pada besarnya perbedaan antara suhu kulit dengan media penghantar.

2. Kelembaban

Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara yang biasanya dinyatakan dalam persentase (Sedarmayanti, 2009). Pengukuran

(9)

kelembaban udara penting dilakukan karena merupakan salah satu faktor kunci dari iklim yang mempengaruhi proses perpindahan panas dari tubuh dengan lingkungan melalui evaporasi (penguapan).

Di dalam tubuh manusia, penguapan terjadi melalui pernapasan (paru-paru) dan keringat (kulit). Penguapan yang paling banyak terjadi yaitu melalui kulit.

Keringat yang keluar akan cepat menguap bila kelembaban udara rendah.

Penguapan ini terjadi dengan mengambil panas tubuh. Jadi berkeringat dapat menurunkan suhu tubuh.

3. Kecepatan Angin

Angin terjadi karena ada perbedaan tekanan udara sehingga udara bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Pergerakan udara juga dapat disebabkan oleh perbedaan suhu di antara dua tempat dimana udara mengalir dari tempat yang bersuhu rendah ke tempat yang bersuhu tinggi. Kecepatan angin berperan dalam proses pertukaran panas antara tubuh dan lingkungan khususnya melalui proses konveksi dan evaporasi.

4. Panas Radiasi

Radiasi adalah proses gelombang elektromagnetik dipindahkan tanpa pemindahan materi. Pada tubuh manusia, menerima atau kehilangan panas lewat mekanisme radiasi tergantung dari suhu benda-benda di sekitar. Pada dasarnya setiap benda maupun tubuh manusia mengeluarkan gelombang-gelombang elektromagnetik.

2.2.3 Jenis-Jenis Iklim Kerja

Kemajuan teknologi dan proses produksi di dalam industri telah menimbulkan suatu lingkungan kerja yang mempunyai iklim kerja berupa iklim kerja panas dan iklim kerja dingin.

1. Iklim Kerja Panas

Iklim kerja panas merupakan meteorologi dari lingkungan kerja yang dapat disebabkan oleh gerakan angin, kelembaban, suhu udara, suhu radiasi dan sinar matahari (Budiono, 2008). Kondisi yang disebabkan oleh iklim kerja yang terlalu tinggi adalah tekanan panas (heat stres). Faktor-faktor yang menyebabkan pertukaran panas diantara tubuh dengan lingkungan sekitar adalah konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi (Suma’mur, 1996).

(10)

a. Konduksi

Konduksi adalah transfer panas melalui kontak langsung dengan objek menuruni gradiennya dari molekul ke molekul. Molekul-molekul ini bergetar konstan dimana molekul yang lebih panas bergerak lebih cepat dibandingkan yang dingin. Ketika bersentuhan, molekul yang panas memanaskan molekul yang dingin hingga molekul kedua objek tersebut bersuhu sama. Laju dari transfer ini tergantung dari perbedaan temperatur antara kedua objek serta konduktivitas dari substansi yang terlibat. Tubuh dapat kehilangan panas melalui konduksi dengan udara. Transfer panas terjadi tergantung dari suhu udara lebih panas atau lebih dingin dari kulit.

b. Konveksi

Konveksi adalah transfer dari energi panas oleh arus udara maupun air.

Saat tubuh kehilangan panas melalui konduksi dengan udara sekitar yang lebih dingin maka udara yang bersentuhan dengan kulit menjadi hangat.

Karena udara panas lebih ringan dibandingkan udara dingin maka udara panas berpindah, udara dingin bergerak ke kulit untuk menggantikan udara panas. Pergerakan udara ini disebut arus konveksi yang membantu membawa panas dari tubuh.

c. Radiasi

Radiasi adalah emisi dari energi panas dari permukaan tubuh yang hangat dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau gelombang panas melalui udara. Ketika energi yang dipancarkan terhadap suatu objek diserap maka energi panas tersebut ditransformasi menjadi panas pada objek tersebut. Tubuh mendapat atau kehilangan panas dengan radiasi tergantung pada perbedaan temperatur permukaan kulit dan permukaan objek lain di sekitarnya karena transfer oleh radiasi selalu terjadi dari objek yang lebih panas ke objek yang lebih dingin seperti dari panas matahari ke kulit.

d. Evaporasi

Berkeringat adalah proses evaporasi dibawah kontrol nervus simpatik.

Berkeringat adalah upaya untuk pengurangan panas dari dalam tubuh.

Selama evaporasi berlangsung di permukaan kulit, panas diharuskan

(11)

mengubah air dari cairan menjadi gas yang diserap dari kulit untuk mendinginkan tubuh

2. Iklim Kerja Dingin

Jika temperatur suhu udara dingin maka terjadi perbedaan temperatur yang signifikan pada bagian kulit dari bagian dalam kulit sampai ke luar kulit.

Pengaruh suhu dingin dapat mengurangi efisiensi dengan keluhan kaku atau kurangnya koordinasi otot. Sedangkan pengaruh suhu ruangan sangat rendah terhadap kesehatan dapat mengakibatkan penyakit yang terkenal yang disebut dengan chilblains, trench foot dan frostbite.

a. Chilblains

Bagian tubuh yang terkena membengkak, merah, panas dan sakit diselingi gatal. Penyakit ini diderita akibat bekerja ditempat dingin dengan waktu lama dan akibat defisiensi besi.

b. Trench foot

Kerusakan anggota badan terutama kaki akibat kelembaban atau dingin walau suhu diatas titik beku. Stadium ini diikuti tingkat hyperthermis yaitu kaki membengkak, merah, dan sakit. Penyakit ini berakibat cacat sementara.

c. Frosbite

Akibat suhu rendah dibawah titik beku, kondisinya sama seperti trenchfoot namun stadium akhir penyakit frosbite adalah gangrene (luka yang sudah membusuk dan bisa melebar) dan bisa berakibat cacat tetap.

2.2.4 Pengukuran Iklim Kerja

Subbab ini menjelaskan pengukuran dan perhitungan pada lingkungan kerja di tempat kerja.

Sesuai Permenakertrans No. PER 13/MEN/X/2011 tentang NAB faktor fisika di tempat kerja menggunakan parameter ISBB (Indeks Suhu Basah dan Bola) dengan terminasi Inggris WBGT (Wet Bulb Globe Temperature Index) atas ketentuan sebagai berikut :

1. Iklim kerja merupakan hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya.

(12)

2. Nilai Ambang Batas (NAB) merupakan standar faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.

3. Indeks Suhu Bola Basah (ISBB) merupakan parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang merupakan hasil perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami, dan suhu bola.

4. Suhu udara kering (dry bulb temperature) merupakan suhu yang ditunjukkan oleh termometer suhu kering.

5. Suhu basah alami (natural wet bulb temperature) merupakan suhu yang ditunjukkan oleh termometer bola basah alami. Merupakan suhu penguapan air yang pada suhu yang sama menyebabkan terjadinya keseimbangan uap air di udara. Suhu ini biasanya lebih rendah dari suhu kering.

6. Suhu bola (globe temperature) merupakan suhu yang ditunjukkan oleh termometer bola. Suhu ini sebagai indikator tingkat radiasi.

2.2.5 Alat Pengukur

Subbab ini menjelaskan alat ukur yang digunakan untuk pengukuran faktor iklim kerja yang berupa temperatur di tempat kerja dan cara mengoperasikan alat ukur tersebut. Alat ukur temperatur yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4 in 1 Multi-function Environtment Meter. 4 in 1 Multi-function Environtment Meter adalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk empat macam pengukuran, yaitu :

a. Relative Humidity Meter untuk pengukuran kelembaban udara di tempat kerja.

b. Sound Level Meter untuk pengukuran kebisingan di tempat kerja.

c. Temperature Meter untuk pengukuran suhu ruangan tempat kerja.

d. Light Meter untuk pengukuran intensitas cahaya di tempat kerja.

Pengukuran dengan 4 in 1 Multi-function Environtment Meter dengan fungsi temperature meter dan humidity meter sebagai berikut:

a. Menentukan titik pengukuran.

b. Mengarahkankan tombol ke dalam satuan temperatur atau kelembaban.

c. Menghidupkan 4 in 1 Multi-function Environtment Meter dengan menekan tombol ON/OFF.

(13)

d. Mengarahkan sensor photo cell ke titik pengukuran.

e. Membaca dan mencatat hasil pengukuran pada display

Gambar 2.5 4 in 1 Multi-function Environtment Meter 2.2.6 Titik Pengukuran

Subbab ini menjelaskan cara menetukan titik pengukuran sebelum mengukur lingkungan kerja dengan alat ukur.

1. Penentuan Titik Pengukuran Iklim Kerja (SNI-16-7061-2004)

Tidak ada formula yang baku untuk menentukan berapa jumlah titik pengukuran pada suatu area yang mempunyai panas yang tinggi. Secara umum jumlah titik pengukuran dipengaruhi oleh jumlah sumber panas dan luas area yang terpajan panas yang mana terdapat aktivitas pekerja di area tersebut.

Pengukuran dilakukan pada tingkat gradien ketinggian pengukuran terdiri dari 3 titik yaitu ketinggian 0,1m; 1,1m dan 1,7m. Hal ini berdasarkan standar pengukuran ASHRAE 55. Letak titik pengukuran ditentukan pada lokasi tempat tenaga kerja melakukan pekerjaan.

Berdasarkan SNI- 16-7061-2004 tentang Pengukuran iklim kerja (panas) dengan parameter indeks suhu basah dan bola tidak dijelaskan berapa pengukuran dilakukan pada setiap titik pengukuran. SNI-16-7061-2004 hanya menyatakan bahwa pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali selama 8 jam kerja, yaitu pada awal shift, tengah shift, dan di akhir shift. Menurut OSHA Technical Manual, lama pengukuran indeks WBGT dapat dilakukan secara kontinyu (selama 8 jam kerja) atau hanya pada waktu-waktu paparan tertentu. Pengukuran seharusnya dilakukan dengan periode waktu minimal 60 menit. Sedangkan untuk pajanan yang terputus- putus minimal selama 120 menit.

(14)

2. Penentuan Titik Pengukuran dengan SNI 16-7062-2004

Pada penelitian ini penetuan titik pengukuran dilakukan sesuai dengan SNI 16-7062-2004 karena dengan aturan ini dapat memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian dengan software surfer 11. Aturan penentuan titik menurut SNI 16-7062-2004 dilakukan sebagai berikut :

a. Penerangan setempat: obyek kerja, berupa meja kerja maupun peralatan.Bila merupakan meja kerja, pengukuran dapat dilakukan di atas meja yang ada.

b. Penerangan umum: titik potong garis horizontal panjang dan lebar ruangan pada setiap jarak tertentu setinggi satu meter dari lantai. Jarak tertentu tersebut dibedakan berdasarkan luas ruangan sebagai berikut:

1) Luas ruangan kurang dari 10 meter persegi: titik potong garis horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap 1 (satu) meter. Contoh denah pengukuran intensitas penerangan umum untuk luas ruangan kurang dari 10 meter persegi seperti Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Penentuan titik pengukuran penerangan umum dengan luas kurang dari 10 m2

2) Luas ruangan antara 10 meter persegi sampai 100 meter persegi: titik potong garis horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak setiap 3 (tiga) meter.

Contoh denah pengukuran intensitas penerangan umum untuk luas ruangan antara 10 meter sampai 100 meter persegi seperti Gambar 2.7.

(15)

Gambar 2.7 Penentuan titik pengukuran penerangan umum dengan luas 10 m2-100 m2

3) Luas ruangan lebih dari 100 meter persegi: titik potong horizontal panjang dan lebar ruangan adalah pada jarak 6 meter.Contoh denah pengukuran intensitas penerangan umum untuk ruangan dengan luas lebih dari 100 meter persegi seperti Gambar 2.8.

Gambar 2.8 Penentuan titik pengukuran penerangan umum dengan luas lebih dari 100 m2

2.2.7 Nilai Ambang Batas Temperatur

Nilai ambang batas faktor iklim kerja tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/Menkes/SK/XI/200. Di dalam KepMenKesRI tersebut dicantumkan bahwa NAB dari temperatur udara suatu ruang kerja adalah sebesar 18 oC sampai dengan 28 oC.

2.2.8 Dampak Iklim Kerja Panas

Subbab ini menjelaskan dampak dan pengaruh lingkungan kerja yang buruk bagi kesehatan manusia. Menurut Gesang (2011) gangguan kesehatan akibat paparan suhu lingkungan panas yang berlebihan dapat dijelaskan sebagi berikut :

(16)

Gangguan perilaku dan performansi kerja seperti, terjadinya kelelahan, sering melakukan istirahat curian dan lain-lain.

a. Kelelahan

Orang bekerja maksimal 40 jam/minggu atau 8 jam sehari. Setelah 4 jam kerja seseorang harus istirahat karena terjadi penurunan kadar gula dalam darah. Tenaga kerja akan merasa cepat lelah karena pengaruh lingkungan kerja yang tidak nyaman akibat tekanan panas.

b. Dehidrasi

Dehidrasi merupakan kondisi kekurangan cairan tubuh karena jumlah cairan yang keluar lebih banyak daripada jumlah cairan yang masuk (Buanasita, Andriyanto dan Sulistiowati, 2015). Rasa haus saja tidak dapat menjadi patokan atas jumlah kehilangan cairan akibat bekerja secara terus menerus pada lingkungan panas, hal ini merupakan indikator buruk untuk mengetahui tingkat dehidrasi yang terjadi. Kebutuhan cairan sehari hari bagi seorang yang beraktivitas pasif hingga yang sangat aktif berkisar 2-4 liter per hari pada lingkungan yang normal dan 4-10 liter per hari pada lingkungan yang panas (Sawka, 2005).

c. Heat rash

Seperti biang keringat atau keringat buntat, gatal kulit akibat kondisi kulit terus basah.

d. Heat Fatique

Gangguan pada kemampuan motorik dalam kondisi panas. Gerakan tubuh menjadi lambat, kurang waspada terhadap tugas.

e. Heat cramps.

Merupakan kejang-kejang otot tubuh (tangan dan kaki) akibat keluarnya keringat yang menyebabkan hilangnya garam natrium dari tubuh yang kemungkinan besar disebabkan karena minum terlalu banyak dengan sedikit garam natrium.

f. Heat syncope

Keadaan yang disebabkan karena aliran darah ke otak tidak cukup karena sebagian besar aliran darah di bawah ke permukaan kulit atau perifer yang disebabkan pemaparan suhu tinggi

(17)

g. Heat exhaustion

Keadaan yang terjadi apabila tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan atau kehingan garam, dengan gejalanya: mulut kering, sangat haus, lemah, dan sangat lelah). Penderita biasanya keluar keringat banyak tetapi suhu badan normal atau subnormal, tekanan darah menurun, denyut nadi lebih cepat sehingga penderita akan merasa lemah dan mungkin pingsan (Suma’mur, 1996).

h. Heat stroke

Heat stroke adalah pengaruh panas kepada pusat pengatur panas di otak (Suma’mur, 1996). Heat stroke terjadi karena pengaruh suhu panas yang sangat hebat, sehingga suhu badan naik, kulit menjadi kering, dan panas (Budiono, 2003). Biasanya yang terkena heat stroke adalah laki-laki yang mempunyai pekerjaan berat dan belum beraklimatisasi. Gejala-gejala yang paling utama adalah suhu badan naik, kulit kering dan panas. Gejala-gejala syaraf pusat juga dapat terlihat seperti vertigo, tremor, konvulsi, dan delirium. Ketika mengalamai heat stroke maka akan terjadi kerusakan serius yang bekaitan dengan kesalahan pada pusat pengatur suhu tubuh. Pada kondisi ini mekanisme pengatur suhu tidak berfungsi lagi disertai hambatan proses penguapan secara tiba-tiba (Ramdan, 2007).

i. Multiorgan-dysfunction syndrome Continuum.

Rangkaian sindrom/gangguan yang terjadi pada lebih dari satu/sebagian anggota tubuh akibat heat stroke, trauma dan lainnya.

j. Miliaria

Kelainan kulit sebagai akibat keluarnya keringat yang berlebihan (Suma’mur, 1996).

2.2.9 Perbaikan dan Pengendalian Iklim Kerja

Subbab ini menjelaskan perbaikan dan pengendalian lingkungan kerja pada tempat kerja agar sesuai standar yang sudah ditentukan.

Upaya pengendalian kondisi termal dapat dibedakan menjadi dua yaitu pengendalian teknik secara khusu dan secara umum.

1. Pengendalian Teknik secara Khusus (Job-Spesific Controls) a. Pengendalian secara Teknik

(18)

Pengendalian secara teknis dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1) Pengadalian ventilasi umum

Pengadalian ventilasi umum diharapkan panas yang menyebar secara radiasi, konduksi dan konveksi ke seluruh ruang kerja dapat mengalir keluar dimana suhu udaranya lebih rendah serta memberikan dengan tujuan mengalirkan panas secara konveksi ke tempat dengan suhu udara yang lebih rendah (Ardyanto, 2005). Tetapi panas yang terjadi pada lingkungan kerja umumnya secara terus menerus dan kontinyu, sehingga pengadaan ventilasi umum dirasakan kurang.

2) Pemasangan fan

Fan berfungsi untuk mengalirkan panas secara konveksi ke tempat dengan suhu udara yang lebih rendah. Sebenarnya pemasangan fan dengan radiasi panas yang tinggi dapat membahayakan kesehatan tenaga kerja, karena radiasi panas dari sumber panas akan langsung terkena tenaga kerja yang dapat menyebabkan efek kesehatan bagi tenaga kerja.

3) Pemasangan Exhaust fan

Exhaust fan berfungsi untuk mengisap udara panas dari dalam ruang dan membuangnya ke luar dan pada saat bersamaan menghisap udara segar dari luar masuk ke dalam ruangan. Exhaust fan merupakan upaya buatan untuk mengoptimalkan pergantian udara dalam ruang kerja.

4) Mengurangi beban kerja 5) Menurunkan suhu udara

Apabila suhu udara di atas 40˚C, tenaga kerja mendapat tambahan panas secara nyata dari udara. Bila suhu udara dibawah 32˚C, maka ada pelepasan panas dari tubuh secara nyata. Suhu udara dapat diturunkan dengan memasang ventilasi, pendinginan secara aktif atau melakukan pemindahan sumber panas.

6) Menurunkan kelembaban udara

Menurunkan kelembaban udara dilakukan dengan menggunakan ruangan yang dingin akan menurunkan tekanan panas, hal ini

(19)

disebabkan oleh karena suhu udara dan kelembaban udara yang lebih rendah, sehingga meningkatkan kecepatan penguapan dengan pendinginan.

7) Menurunkan panas radiasi

Jika Suhu bola lebih dari 43˚C maka panas radiasi merupakan sumber tekanan panas secara nyata. Maka, digunakan lembaran logam atau permukaan benda yang dapat digunakan sebagai perisai untuk menurunkan panas radiasi.

b. Pengendalian secara Administratif

Pengendalian secara administratif yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan kesehatan berkala, poliklinik dibuka selama 7 hari/minggu, dokter perusahaan hadir paruh waktu (3 hari/minggu), paramedis hadir penuh waktu, tenaga kerja ikut menjadi peserta Jamsostek, jam kerja selama 8 jam/hari atau 40 jam/minggu, jam istirahat selama 1 jam/hari, adanya organisasi P2K3 dan SPSI, tenaga kerja mendapat makan dan minum berkaitan dengan tempat kerja yang panas, perusahaan memiliki ruang makan untuk tenaga kerja, kamar mandi (Ardyanto, 2005).

c. Pengadaan alat pelindung diri (APD)

Pengadaan alat pelindung diri (APD) berupa masker , pakaian yang sesuai dan helm. Pemberian APD hendaknya diberi konsisten dan konsekuen agar tenaga kerja terhindar dari bahaya di tempat kerja.

Pemberian pakaian kerja setiap enam bulan sekali (Ardyanto, 2005).

Untuk tekanan panas, perlindungan perorangan terutama yaitu menggunakan pakaian pendingin, yang juga merupakan pakaian yang dapat memantulkan panas radiasi yang tinggi dalam lingkungan tempat kerja panas.

2. Pengendalian Teknik secara Umum (General Controls)

a. Training (pendidikan/latihan)

Training yang dilakukan adalah pendidikan atau pelatihan bagi calon tenaga kerja sebelum ditempatkan yang dilaksanakan secara berkala.

b. Pengendalian tekanan panas melalui penerapan hygiene

Pengendalian tekanan panas melalui penerapan hygiene adalah :

(20)

1) Pengendalian cairan.

2) Aklimatisasi.

3) Self determination adalah pembatasan terhadap pajanan panas dimana tenaga kerja menghindari terhadap cuaca panas apabila ia sudah merasakan terpapar suhu panas secara berlebihan.

4) Diet dengan cara tidak menganjurkan memakan makanan yang terlalu manis atau mengandung karbohidrat berlebihan karena akan menahan cairan melalui ginjal atau keringat.

5) Gaya hidup dan status kesehatan

6) Pakaian kerja yaitu untuk lingkungan tempat kerja panas sebaiknya dari bahan yang mudah menyerap keringat seperti bahan yang terbuat dari katun sehingga penguapan mudah terjadi.

7) Menyediakan instruksi yang jelas secara verbal dan tertulis, program pelatihan rutin, serta informasi lain tentang heat stress

8) Pemberian ijin pada pekerja untuk membatasi paparan panas terhadap dirinya, dan menganjurkan teman sekerja mendeteksi tanda dan gejala heat strain.

2.2.9 Sofware Suffer

Surfer adalah salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk pembuatan peta kontur dan pemodelan tiga dimensi yang berdasarkan pada grid. Perangkat lunak ini melakukan plotting data tabular XYZ tak beraturan menjadi lembar titik- titik segi empat (grid) yang beraturan. Grid adalah serangkaian garis vertikal dan horisontal yang dalam surfer berbentuk segi empat dan digunakan sebagai dasar pembentuk kontur dan surface tiga dimensi. Garis vertikal dan horisontal ini memiliki titik-titik perpotongan. Pada titik perpotongan ini disimpan nilai Z yang berupa titik ketinggian atau kedalaman. Gridding merupakan proses pembentukan rangkaian nilai Z yang teratur dari sebuah data XYZ. Hasil dari proses gridding ini adalah file grid yang tersimpan pada file .grd.

(21)

Gambar 2.9 Sofware Surfer 11

Sistem operasi dan perangkat keras surfer tidak mensyaratkan perangkat keras ataupun sistem operasi yang tinggi. Oleh karena itu surfer relatif mudah dalam aplikasinya. Surfer bekerja pada sistem operasi Windows 9x dan Windows NT. Berikut adalah spesifikasi minimal untuk aplikasi Surfer adalah tersedia ruang untuk program minimal 4 MB, menggunakan sistem operasi Windows 9x atau Windows NT dan RAM minimal 4 MB serta monitor VGA atau SVGA. Cara pemasangan program surfer (install) yaitu dengan masukkan master program Surfer pada CD ROM atau media lain. Lalu buka melalui eksplorer dan klik dobel pada setup. Surfer menanyakan lokasi pemasangan. Jawab drive yang diinginkan.

Jawab pertanyaan selanjutnya dengan Yes. Lembar Kerja Surfer Lembar kerja Surfer terdiri dari tiga bagian, yaitu: Surface plot, Worksheet, Editor dan Overlay peta kontur.

1. Surface plot

Surface plot adalah lembar kerja yang digunakan untuk membuat peta atau file grid. Pada saat awal dibuka, lembar kerja ini berada pada kondisi yang masih kosong. Pada lembar plot ini peta dibentuk dan diolah untuk selanjutnya disajikan.

Lembar plot digunakanuntuk mengolah dan membentuk peta dalam dua dimensional, seperti peta kontur, danpeta tiga dimensional seperti bentukan muka tiga dimensi. Lembar plot ini menyerupai lembar layout di mana operator melakukan pengaturan ukuran, teks, posisi obyek, garis, dan berbagai properti lain. Pada lembar ini pula diatur ukuran kertas kerja yang nanti akan digunakan sebagai media pencetakan peta.

2. Worksheet

(22)

Worksheet merupakan lembar kerja yang digunakan untuk melakukan input data XYZ. Data XYZ adalah modal utama dalam pembuatan peta pada surfer.

Dari data XYZ ini dibentuk file grid yang selanjutnya diinterpolasikan menjadi peta-peta kontur atau peta tiga dimensi. Lembar worksheet memiliki antarmuka yang hampir mirip dengan lembar kerja MS Excel. Worksheet pada Surfer terdiri dari sel-sel yang merupakan perpotongan baris dan kolom. Data yang dimasukkan dari worksheet ini akan disimpan dalam file .dat.

3. Editor

Jendela editor adalah tempat yang digunakan untuk membuat atau mengolah file teks ASCII. Teks yang dibuat dalam jendela editor dapat dikopi dan ditempel dalam jendela plot. Kemampuan ini memungkinkan penggunaan sebuah kelompok teks yang sama untuk dipasangkan pada berbagai peta. Jendela editor juga digunakan untuk menangkap hasil perhitungan volume. Sekelompok teks hasil perhitungan volume file grid akan ditampilkan dalam sebuah jendela editor.

Jendela tersebut dapat disimpan menjadi sebuah file ASCII dengan ekstensi .txt.

4. Overlay peta kontur

Overlay peta kontur yang dimaksudkan adalah menampakkan sebuah peta kontur dengan sebuah data raster, atau sebuah peta kontur dengan model tiga dimensi. Overlay ini memudahkan analisis sebuah wilayah dalam kaitannya dengan kontur atntuk morfologi lahan setempat.

(23)

II-23 2.3 Jurnal Referensi

Bagian ini berisi paper referensi tentang masalah yang berkaitan dengan bidang permasalahan iklim kerja yang diteliti dalam penelitian di Boy’s Cake & Bakery. Paper referensi yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah.

Tabel 2.8 Tabel Jurnal Referensi

No Nama Peneliti Tahun Judul Metode Isi Hasil Kesimpulan

1. Reena Shukla dan Rajeswara Rao K. V. S.

2015 Ergonomic Analysis of Environmental Conditions in Garment Manufacturing Industries in Bengaluru, India

Kuantitatif dengan mengukur faktor lingkungan kerja

Penelitian ini membahas tentang audit lingkungan yang dilakukan di beberapa bagian industri garmen untuk melihat apakah lingkungan kerja

menguntungkan bagi pekerja. Parameter lingkungan seperti tingkat kebisingan, pencahayaan dan suhu diukur dengan menggunakan alat ukut seperti sound level meter, luxmeter dan hand held

thermometer dan dibandingkan

Analisis hasil audit mengungkapkan bahwa suhu tinggi di bagian pemotongan dan penjahitan. Ini dapat dikaitkan dengan kondisi iklim, paparan panas di tempat kerja dan desain buruk dari tata letak kerja itu sendiri. Tingkat pencahayaan buruk di hampir semua bagian dan tingkat kebisingan namun nilai ini telah berada dalam NAB yang sesuai standar OSHA. Oleh karena itu strategi intervensi yang tepat telah disarankan berdasarkan tinjauan

Pada penelitian ini didapatkan bahwa suhu di bagian pemotongan dan penjahitan. Tingkat pencahayaan juga buruk bahkan di semua bagian. Dan pada saat pengamatan didapatkan bahwa pekerja terpapar debu kapas sehingga sangat tidak aman bagi pekerja.

(24)

II-24

dengan standar OSHA

(Occupational Safety and Health

Administration).

Studi ini

mengungkapkan bahwa workstation dirancang dengan area kerja padat, pencahayaan buruk, suhu tinggi, ventilasi yang tidak tepat.

Oleh karena itu strategi intervensi yang sesuai telah disarankan untuk meningkatkan kesehatan, keselamatan dan kenyamanan orang- orang di lingkungan kerja.

pustaka yang luas yang dilakukan untuk

memperbaiki kondisi lingkungan di unit yang dipertimbangkan. Ini akan memiliki pengaruh positif pada kesehatan, keselamatan,

kenyamanan dan kinerja para karyawan.

(25)

II-25 2. Bambang

Suhardi, Sry Yohana Simanjutak, Pringgo Widyo Laksono, dan Dewanto

Herjunowibowo

2017 Work climate and work load measurement in production room of Batik Merak Manis Laweyan

Kualitatif dengan wawancara dan kuantitatif dengan

melakukan pengukuran iklim kerja dan beban kerja

Jurnal ini ingin mengetahui

bagaimana kondisi dan nilai iklim kerja di tempat produksi Merak Manis dan bagaimana beban kerja dari para pekerjanya. Dengan ini makan peneliti akan mengetahui apakah nilai iklim kerja dan beban kerja di Merak Manis sudah sesuai dengan nilai ambang batas yang telah ditentukan atau belum.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim tempat kerja dan beban kerja di delapan stasiun di ruang produksi Merak Manis tidak sesuai dengan nilai ambang batas yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, dianjurkan untuk menambahkan lebih banyak jendela pembuka untuk menambah kecepatan udara di dalam gedung sehingga kelembaban dan suhu mungkin berkurang.

Iklim kerja dan beban kerja di tempat kerja Merak Manis melebihi NAB yang ditetapkan.

3. Mufrida Meri dan Hendra Risda Eka Putra

2016 Pengendalian Tekanan Panas (Heat Stress) Lingkungan Kerja

Berdasarkan Metode ISBB

Kualitatif dengan wawancara dan kuesioner dan kuantitatif dengan

melakukan pengukuran iklim kerja dan

Jurnal ini ingin mengetahui apakah iklim kerja di industri kerupuk Palembang Jaya sudah sesuai dengan nilai ambang batas yang ditetapkan oleh Kementrian Tenaga

Dari hasil pengukuran Indeks Suhu Basah dan Bola didapati bahwa kondisi paparan tekanan panas di area ini telah melebihi NAB. Begitu pula kelembaban jauh di atas NAB serta hasil penilaian kuesioner

Dari hasil penelitian ini nilai iklim kerja dan beban kerja diatas NAB sehingga dapat disimpulkan bahwa ruang kerja tidak ergonomis.

(26)

II-26

beban kerja Kerja dan

Tansmigrasi dengan menggunakan parameter Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB) dan bagaimana upaya pengendaliannya.

terhadap 7 orang pekerja pada bagian penggorengan dan pengukusan di industri kerupuk Palembang Jaya dapat diketahui bahwa, persepsi yang dirasakan responden tentang tekanan panas dilingkungan kerjanya adalah sama dengan hasil pengukuran yang dilakukan, dimana kondisi ruangan kerja mereka kurang baik.

4. Afgan Suffan Aviv, Bambang Suhardi dan Pringgo Widyo Laksono

2017 Perbaikan Tingkat Kebisingan pada Ruang Produksi Yessy’s Collection dengan Pendekatan Ergonomi

Kuantitatif dengan melakukan pengukuran kebisingan dan beban kerja

Pada penelitian ini dilakukan

identifikasi dan analisa lingkungan kerja fisik terutama tingkat kebisingan sehingga dapat merancang

perbaikan kebisingan npada industri

kerajinan sepatu Yessy’s Collection dengan aplikasi

Dari hasil pengukuran tingkat kebisingan pada 10 stasiun di ruang Produksi Yessy’s Collection berada dibawah NAB (Nilai Ambang Batas) yang telah ditentukan kecuali pada 1 koordinat di stasiun penyesekan yang diatas NAB (Nilai Ambang Batas) yang telah ditentukan Usulan

tingkat kebisingan di 10 stasiun Yessy's Collection diatas NAB yang ditentukan sehingga nilai ISBB banyak yang sedang ke sangat berat.

(27)

II-27

surfer 11. perbaikan sebagai upaya pengendalian kebisingan yang diharapkan dapat diterapkan di Industri Kerajinan Sepatu Yessy’s Collection pada stasiun penyesekan adalah engineering control, administrative control dan penggunaan APD. Engineering control yaitu dengan mengisolasi mesin, maintenance atau memodifikasi mesin.

Administrative control yaitu dengan

mengadakan rotasi kerja. Sedangkan penggunaan APD dengan pemakaian alat pelindung telinga.

Referensi

Dokumen terkait

Melakukan revisi kedua terhadap produk (sesuai dengan data yang sudah dianalisis dari hasil uji coba kelompok kecil). Data wawancara, obeservasi dan kuesioner

Pemilihan Umum Nomor 5 Tahun 2015 tentang Sosialisasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur , Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota

Payung hukum penyandang disabilitas telah diatur di dalam Konstitusi Negara Indonesia namun pada tataran di daerah untuk pengaturan atau perda bagi penyandang disabilitas

019.01.01 Program Pengembangan SDM Industri dan Dukungan Manajemen Kementerian Perindustrian 01 Terwujudnya sistem perencanaan dan pengendalian industri yang handal.

Akuntabiltas dalam tata kelola kota menyatakan pemerintah setempat dapat melakukan pertanggung jawaban dari setiap tindakan yang dilakukan melalui kebijakan, program

No Judul Jenis Karya Penyelenggara/ Penerbit/Jurnal Tanggal/ Tahun Ketua/ Anggota Tim Sumber Dana Keterangan 1 NA NA NA NA NA NA NA GL. KEGIATAN

II terima kasih atas waktu, bimbingan dan nasihat yang telah diberikan, serta segala kebaikan dan ketulusan yang telah Ibu dan Bapak berikan kepada penulis.

Semakin jauh jarak pelanggan dari sentral, maka akan semakin kecil nilai SNR (Signal to Noise Ratio) yang dihasilkan. Hal ini membuktikan bahwa jarak berbanding