• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1. LANDASAN TEORI

2.1. Signaling Theory

Informasi merupakan hal yang sangat krusial bagi investor dalam memperkecil perbedaan informasi atau asimetri informasi. Informasi baik dari masa lalu, sekarang hingga masa yang akan datang sangatlah penting bagi calon investor untuk proses pengambilan keputusan. Informasi tersebut diharapkan dapat diterima investor secara lengkap dan akurat. Signaling theory berperan untuk memberikan penekanan akan pentingnya informasi yang diberikan oleh perusahaan terhadap calon investor diluar perusahaan tersebut. Informasi yang dapat diberikan oleh perusahaan terhadap calon investor adalah laporan tahunan (Connelly, Certo, Ireland, & Reutzel, 2011).

Laporan tahunan perusahaan berisi berbagai macam informasi yang dapat membantu investor-investor untuk melakukan investasi didalam perusahaan tersebut. Informasi-informasi seperti kondisi keuangan perusahaan, opini auditor terhadap perusahaan tersebut apakah perusahaan tersebut menerbitkan laporan keuangan yang wajar atau tidak, adakah praktik-praktik manajemen laba, modal intelektual dan lain sebagainya. Informasi tersebut sangatlah membantu investor untuk memberikan penilaian apakah layak atau tidak perusahaan tersebut diberikan sebuah investasi.

Secara fundamental, teori signal berfokus pada menurunkan information asymmetry antara dua pihak yaitu perusahaan dan investor. Signaling theory berguna untuk mendeskripsikan perilaku dua belah pihak yang memiliki informasi yang berbeda (Connelly, Certo, Ireland, & Reutzel, 2011). Satu pihak yang mengirimkan dan satu yang menerima informasi tersebut. Biasanya, satu belah pihak yang menjadi pengirim informasi harus memilih bagaimana cara mengkomunikasikan informasi yang dimiliki dan satu pihak yang lain sebagai penerima informasi harus memilih bagaimana menginterpretasi informasi yang diterima dari pengirim (Connelly, Certo, Ireland, & Reutzel, 2011).

(2)

2.1.1. Earning Management

Signaling theory memandang earning management sebagai sebuah alat yang memberikan sinyal informasi secara tersendiri mengenai kinerja keuangan perusahaan pada masa yang akan datang pada pasar modal (Mahjoub & Miloudi, 2015). Perspektif ini memberikan arti bahwa earning management merupakan segala keputusan yang masuk akal, legal dan sesuai yang diambil oleh manajemen yang mampu memberikan nilai bagi pemangku kepentingan. (Mahjoub & Miloudi, 2015). Mahjoub & Milaudi (2015) juga mengatakan bahwa ketika manajemen laba telah diterapkan pada seluruh langkah-langkah yang diterapkan manajemen maka manajemen laba akan membantu perusahaan untuk mencapai objektifnya.

Earning Management terjadi ketika manajer menggunakan penilaiannya sendiri dalam pelaporan keuangan dan juga penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan menjadi yang mampu menyesatkan pemangku kepentingan mengenai performa ekonomi suatu perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil- hasil dari kontrak yang sudah terjalin yang terkait erat dengan angka-angka akuntansi (Ghazali, Shafie, & Sanusi, 2015). Selain itu Ghazali, Shafie & Sanusi (2015) mendefinisikan Earning management sebagai sebuah intervensi yang bertujuan dalam proses pelaporan keuangan secara eksternal dengan tujuan untuk memperolah keuntungan pribadi. Earning management diukur menggunakan modified Jones Model (Dechow, Sloan, & Sweeny, 1995) sebagai berikut;

(2.2) (2.1)

(3)

2.1.2. Financial Perfomance

Selain earning management, signaling theory memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengambilan keputusan investor dalam menilai kinerja keuangan perusahaan. Signaling theory membantu investor untuk mendapatkan informasi keuangan seper dari perusahaan dengan lengkap, akurat, dan benar. Tidak ada suatu pengukuran yang mampu menjelaskan kinerja keuangan secara keseluruhan. Kinerja keuangan hanya mampu diukur dengan berbagai dimensi.

Kinerja keuangan merupakan hasil dari keputusan-keputusan yang diambil oleh manajemen dan implementasinya oleh seluruh anggota perusahaan tersebut (Hatane, 2015). Kinerja keuangan juga dapat di definisikan sebagai penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu perushaan dalam menghasilkan laba (Sucipto, 2003).

Hatane (2015) berpendapat bahwa data keuangan perusahaan merupakan data yang sensitif, sehingga mengakibatkan pengukuran kinerja keuangan perusahan secara optimal menjadi sebuah tantangan. Lopez, Peon, dan Ordas (2005) mengungkapkan bahwa data kinerja keuangan dapat diambil dengan cara tidak langsung / indirect approach dengan cara mengukur presepsi keuangan dari manajemen. Bukan berarti dengan menanyakan langsung pada responden mengenai kinerja keuangan perusahaan melainkan responden diminta untuk mengukur tingkat kepuasan kinerja perusahaan dari sisi profitabilitas, pertumbuhan penjualan, pertumbuhan keuntungan, marjin penjualan dan juga pertumbuhan pasar. Financial Performance adalah ukuran yang digunakan untuk mengukur kinerja sebuah perusahaan (Richard, Devinney, Yip, & Johnson, 2009). Richard, Devinney, Yip

(4)

dan Johnson (2009) mengatakan bahwa pengukuran umum yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan adalah Return on Asset. Return on Asset (ROA) adalah rasio antara net income terhadap total aset perusahaan.

2.2. Resource-Based View

Resource based view merupakan seluruh sumber daya seperti aset, proses- proses organisasi, informasi perusahaan, pengetahuan yang dikontrol oleh perusahaan yang dapat menerapkan strategi yang meningkatkan baik efektifitas dan efisiensi perusahaan (Barney, 1991). Resource based view mengusulkan bahwa semua sumber daya yang dimiliki perusahaan merupakan sebuah determinan utama bagi kinerja perusahaan terhadap keunggulan kompetitif dan pertumbuhan perusahaan secara berlanjut. Resource based view didasarkan pada dua asumsi yaitu resource diversity dan resource immobility (Barney, 1991). Resource diversity berfokus pada apakah sumber daya yang dimiliki perusahaan dimiliki oleh pesaingnya, sehingga bila perusahaan pesaing memiliki sumber daya tersebut dapat dikatakan bahwa sumber daya tersebut tidak memberikan keunggulan bersaing bagi perusahaan. Resource immobility berfokus pada sumber daya yang sulit diperoleh perusahaan pesaing akibat biaya perolehan yang tinggi, pengembangan atau penggunaan sumber daya yang terlalu tinggi (Barney, 1991).

Clarke, Seng, dan Whiting (2011) memandang bahwa Intellectual capital merupakan sumber daya strategis yang dimanfaatkan perusahaan untuk mendapatkan keunggulan bersaing. Perusahaan menggunakan intellectual capital untuk meningkatkan performa perusahaannya. Selain Clarke, Seng, dan Whiting (2011), Bontis, Ciambotti, Palazzi, & Sgro (2018) juga mendukung hal ini yaitu intellectual captial dapat menciptakan nilai dan meningkatkan performa organisasi dengan menurukan biaya, meningkatkan benefit untuk pelanggan atau dengan mengkombinasikan keduanya. Hal ini sesuai dengan penjelasan resource-based view dimana intellectual capital merupakan sumber daya yang strategis yang mampu memberikan keunggulan bersaing yang sulit didapatkan oleh pesaing.

Belkaoui (2003) menjelaskan bahwa baik aset berwujud dan tak berwujud seperti intellectual capital merupakan aset strategis yang memiliki potensi untuk meningkatkan daya saing dan performa keuangan perusahaan. Resource based view

(5)

mulai mendapatkan perhatian didalam akuntansi, ekonomi dan literature manajemen strategis diikuti dengan hasil yang positif antara hubungan sumber daya perusahaan dengan perhitungan performa perusahaan dan pertumbuhan perusahaan.

2.2.1. Intellectual Capital

Wang & Chen (2013) mengemukakan bahwa Intellectual Capital atau IC merupakan kemampuan, pengetahuan, informasi, pengalaman, kemampuan untuk memecahkan masalah dan kebijksanaan secara keseluruhan yang dikemukakan oleh sebuah perusahaan dan dicetuskan dalam 3 hal yaitu human capital, structural capital dan relationship capital. IC secara garis besar dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang non moneter, dan sesuatu sumber daya yang non fisik atau bukan fisik yang mampu memberikan nilai tambah atau value added bagi perusahaan dan juga sebuah nilai yang didapat melalui pengetahuan yang tidak dimiliki oleh individu- individu saja namun pengetahuan tersebut tertuang dalam sebuah database perusahaan, proses bisnis dan juga system serta relasi dari perusahaan tersebut.

IC terbagi atas human capital, structural capital, external capital dan financial performance. Human capital terdiri dari employee turnover rate, kepuasan karyawan, jumlah produk atau ide baru, dan recommended quantity of delivery. Structural Capital terdiri dari turnover rate of operating capital, rasio dari jumlah karyawan penjualan dengan karyawan administratif dan umum, waktu yang dibutuhkan untuk meluncurkan produk baru. External capital adalah customer persistence, kepuasaan pelanggan dan indicator kualitas pemasok dan yang terakhir adalah financial performance terdiri atas penjumlahan Economic Value Added, piutang 90 hari dan nilai tambah dari setiap karyawan (Knight, 1999).

Satu ukuran kuantitatif dan relatif mudah untuk mengukur IC adalah Value Added Intellectual Coefficient (VAIC) (Clarke, Seng, & Whiting, 2011). VAIC mulai dikembangkan oleh Pulic pada tahun 1998 (Pulic, 1998). VAIC index terdiri dari penjumlahan dari 3 komponen rasio antara lain human capital efficiency (HCE), structural capital efficiency (SCE, dimana rasio ini termasuk internal dan relational capital efficiency), dan capital employed efficiency (CEE, terdiri dari efisiensi capital secara fisik dan finansial) (Nazari & Herremans, 2007).

(6)

Dalam menghitung VAIC, kemampuan perusahaan dalam menambahkan sebuah nilai atau Value Added (VA), terhadap semua pemangku kepentingan (stakeholders) harus terlebih dahulu dikalkulasikan. Secara sederhana VA adalah perbedaan antara input dan ouput (Clarke, Seng, & Whiting, 2011). Output menunjukkan net sales revenues dan input menunjukkan seluruh expense yang terjadi didalam mendapatkan revenue kecuali labour cost. Output merupakan total penjualan dan pendapatan lainnya, sedangkan untuk Input adalah untuk beban penjualan dan biaya-biaya lain (selain biaya karyawan) Value Added merupakan selisih antara output dan input.

Human Capital Efficiency (HCE) diperoleh dengan pembagian antara value added perusahaan dengan Human Capital (HC). HC menunjukkan kemampuan, pengalaman, produktifitas dan kemampuan karyawan didalam lingkungan pekerjaan. Didalam model VAIC, HC di definisikan sebagai salaries dan wages di dalam suatu waktu. Semakin tinggi wages, semakin tinggi juga kemampuan pekerja tersebut didalam usahanya meningkatkan nilai perusahaan. HCE menunjukkan seberapa besar VA setiap uang yang dikeluarkan untuk HC. Jika gaji yang dikeluarkan perusahaan adalah rendah dan nilai VA dari perusahaan tersebut tinggi, maka bisa dikatakan bahwa perushaan menggunakan HC secara efisien. Begitu pula sebaliknya, bila VA rendah sedangkan HC tinggi maka perusahaan kurang efisien dalam mengelola HC.

Structural Capital Efficiency (SCE) diperoleh dari pembagian antara Structural Capital (SC) dengan value added. Menurut Pulic (1998) SC dapat dikalkulasikan dengan cara pengurangan antara value added dengan human capital.

Structural capital apabila dibagi dengan value added maka akan menghasilkan SCE.

Pembagian ini menunjukkan seberapa besar efisiensi struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan. Kalkulasi memberikan kesimpulan bahwa SCE adalah nilai SC didalam perusahaan untuk tiap nilai tambah yang dihasilkan oleh perusahaan.

Capital Employed Efficiency (CEE) diperoleh dengan cara membagi value added perusahaan dengan capital employed. CEE menunjukkan tingkat efisiensi yang tidak mampu ditangkap atau dikalkulasikan baik oleh SCE dan HCE. Pulic 1998, menjelaskan bahwa IC tidak dapat membuat nilainya sendiri sehingga harus

(7)

dipadukan dengan capital (physical and financial) employed (CE). CEE menunjukan seberapa besar VA yang diciptakan tiap uang yang dikeluarkan dalam CE.

Value Added Intellectual Capital (VAIC) merupakan gabungan dari ketika perhitungan tersebut menjadi satu kesatuan. Seiring perushaan menggunakan human, structural, physical dan financial capital, maka nilai perusahaan akan bertambah. Semakin efisien capital tersebut digunakan maka semakin bertambah pula nilai perusahaan, dan juga semakin bertambah pula nilai daripada VAIC.

2.2.2. Sustainable Growth Rate

Sustainable growth rate (SGR) mendeskipsikan pertumbuhan optimal dari perspektif financial dengan asumsi bahwa strategi yang diberikan memiliki kerangka pemikiran dan kondisi-kondisi finansial yang jelas (Higgins, 1977).

Secara sederhana SGR merupakan nilai maksimal dari sebuah perusahaan dimana perusahaan tersebut dapat menggunakan dana internal yang dimilikinya untuk mencapai pertumbuhan tanpa pinjaman-pinjaman dari bank ataupun dari institusi keuangan lainnya. Perusahaan yang mampu mempertahankan dan mengelola SGR dapat terhindar dari pemaksaan dalam penggunaan sumber daya keuangan perusahaan dan juga overextending financial leverage perusahaan (Xu & Wang, 2018). SGR merupakan sebuah konsistensi dari pertumbuhan target perusahaan dengan kebijakan keuangan seperti target struktur modal dan mempertahankan kebijakan deviden serta tidak menjual ekuitas baru (Higgins, 1977). Jika pertumbuhan perusahaan lebih besar dari target ekspektasi maka perusahaan akan mencetuskan serangkaian kebijakan, begitupula bila pertumbuhan penjualan lebih kecil dari ekspektasi, maka perusahaan akan meningkatkan pembayaran deviden, menurunkan hutang atau meningkatkan aset-aset yang sifatnya liquid (Utami, Sulastri, Muthia, & Thamrin, 2018).

Sustainable Growth Rate diukur menggunakan penelitian yang berdasar pada Higgins (1977) yaitu dengan perkalian antara retention rate maupun return on equity. Retention rate berasal dari pembagian antara retained earnings dengan net income. Sedangkan untuk return on equity berasal dari pembagian antara net income dengan shareholder’s equity.

(8)

2.3. Hubungan Antar Konsep

2.3.1. Pengaruh Intellectual Capital terhadap Sustainable Growth Rate Sustainable Growth Rate memiliki tujuan untuk membantu pengambil keputusan untuk melihat apakah target dari pertumbuhan perusahaan dan juga kebijakan-kebijakan perusahaan dapat satu sama lain tercapai. Dengan melakukan kalkulasi SGR, manajemen dapat melihat campuran startegi manakah yang cocok untuk pertumbuhan perusahaan dan keuangan perusahaan. (Higgins, 1977).

Dalam konteks industry 4.0, structural capital dapat memberikan jaminan lingkungan tempat perusahaan akan bertumbuh. Selain itu semakin dekat hubungan perusahaan dengan stakeholders maka akan semakin besar dampak relational capital terhadap perilaku pasar yang dimiliki oleh shareholders. Untuk perusahaan manufaktur, human capital dan juga structural capital merupakan sumber daya yang sulit untuk ditiru oleh kompetitor. Maka dari itu intellectual capital merupakan pendorong utama perusahaan untuk mencapai sustainable growth dari perusahaan-perusahaan manufaktur (Xu & Wang, 2018).

Jin & Wu (2008) melakukan penelitian mengenai pengaruh intellectual capital terhadap sustainable growth perusahaan. Penelitian dilakukan dengan cara mengambil sampel dari 699 perusahaan yang berada pada bursa efek China. Hasil dari penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan dan positif antara capital employed dan human capital terhadap sustainable growth. Sedangkan untuk structural capital terhadap sustainable growth tidak signifikan. Hal ini dikarenakan banyak perusahaan di China yang struktur organisasinya kurang dinamis terhadap perubahan. Struktur perusahaan pyramid perlu di ubah agar dapat membentuk sebuah budaya organisasi yang dapat memimpin dan menginspirasi perilaku karyawan dan membentuk suatu hubungan simbioisi dengan pelanggan agar dapat mengembangkan kualitas produk. Selain itu, Xu & Wang (2018) melakukan penelitian mengenai intellectual capital, financial performance dan companies’

(9)

sustainable growth menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara intellectual capital dan sustainable growth rate. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode regresi berganda dengan data yang diambil dari 390 perusahaan manufaktur yang berada di Korea.

2.3.2. Earning Management sebagai mediasi pada pengaruh Intellectual Capital terhadap Sustainable Growth Rate

Kemampuan karyawan merupakan salah satu aspek dari intellectual capital. Kemampuan karyawan sendiri sangat berkaitan erat dengan kemampuan perusahaan untuk melakukan aktivitas pengelolaan laba.

Vakilifard & Rasouli (2013) mengatakan bahwa salah satu aspek dari earning management adalah income smoothing dimana laba dikelola sehingga tampak tidak sefluktuatif seperti sesungguhnya. Untuk melakukan ini dibutuhkan kemampuan karyawan perusahaan itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa intellectual capital juga memiliki peranan dalam kegiatan yang dilakukan perusahana yaitu earning management. Penelitian yang dilakukan oleh Vakilifard & Rasouli (2013) menjelaskan hubungan intellectual capital dan income smoothing. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara intellectual capital dan income smoothing. Wato (2016) mencoba meneliti pengaruh modal intelektual terhadap manajemen laba riil. Penelitiannya dilakukan pada perusahaan manufaktur dan periode pengamtannya pada rentang tahun 2007-2013.

Penelitian Wato (2016) memberikan hasil yang positif dan signifikan antara intellectual capital dengan earning management.

Dengan adanya pengelolaan laba atau earning management, hal ini tentu akan berpengaruh pada tingkat keberlanjutan suatu perusahaan.

Seperti yang ktia ketahui dengan adanya pengelolaan laba yang dilakukan oleh perusahaan, tentu informasi yang diberikan kepada calon-calon investor akan bersifat manipulative dan ini akan mempengaruhi tingkat keberlanjutan perusahaan (Madhogarhia,

(10)

adanya pertumbuhan yang sifatnya berlanjut dengan melakukan pembiayaan pada research & development lalu mengadakan training, hal tersebut membuat manager-manager pada perusahaan itu untuk melakukan manipulasi pada informasi yang ada dalam laporan keuangan untuk mendapatkan perhatian pada calon-calon investor baru ataupun memuaskan investor lama (Weiming, Qian, & Jun, 2017).

Lee, Li & Yue (2006) melakukan penelitian mengenai performance, growth dan earnings management. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara manajemen laba dengan pertumbuhan perusahaan.

Madhogarhia, Sutton, & Kohers (2009) meneliti mengenai earnings management practices dalam perusahaan yang sedang bertumbuh.

Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang positif dan signifikan antara earnings management dan juga growth.

2.3.3. Financial Performance sebagai mediasi pada pengaruh Intellectual Capital terhadap Sustainable Growth Rate

Intellectual capital juga memiliki keterkaitan yang erat dengan kinerja keuangan perusahaan. Intellectual capital pada zaman sekarang merupakan salah satu sumber daya yang mampu menciptakan keunggulan bersaing yang mampu memberikan perusahaan sebuah kekayaan ekonomi. (Mushref, 2014).

Keunggulan bersaing tersebut akan meningkatkan kinerja perusahaan. Intellectual capital didefinisikan sebagai sesuatu yang abstrak namun bila perusahaan dapat mengutilisasikan dengan baik maka akan menjadi sumber daya yang efektif agar dapat bersaing di pasar.

Banyak peneliti berpendapat bahwa intellectual capital memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan (Bontis, Keow, &

Richardson, 2000; Belkaoui, 2003; Alipour, 2012; Zhining, Nianxin, &

Huigang, 2014; Bontis, Ciambotti, Palazzi, & Sgro, 2018). Bontis, Keow, & Richardson (2000) melakukan penelitian mengenai intellectual capital dan business performance. Penelitian dilakukan

(11)

dengan cara membagikan kuisioner dengan jumlah 107 responden.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara intellectual capital dan business performance.

Belkaoui (2003) melakukan penelitian mengenai intellectual capital dan firm performance. Penelitian dilakukan di Amerika Serikat dengan mengeksplorasi berbagai penentu daripada intellectual capital dan pengaruhanya terhadap kinerja keuangan perusahaan yang berada dalam sektor manufaktur dan jasa di Amerika yang termasuk dalam list di majalah forbes sebagai 100 perusahaan jasa dan manufaktur multinasional Amerika. Sampel dari penelitian ini berasal dari list majalah forbes pada tahun 1991-1996. Terdapat 81 perusahaan multinasional yang terletak di America yang masuk dalam kriteria tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa 81 perusahaan multinasional di Amerika Serikat, mengerti seberapa penting penggunaan IC dalam memberikan dampak pada kinerja keuangan perusahaan. Penelitian ini memberikan hasil bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara intellectual capital dan firm performance.

Alipour (2012) melakukan sebuah penelitian mengenai pengaruh intellectual capital terhadap firm performance di Iran. Periode penelitiannya adalah tahun 2005-2007 dengan populasi perusahaan asuransi yang terletak di Iran milik pemerintah maupun non- pemerintah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara intellectual capital dan financial performance.

Zhining, Nianxin, & Huigang (2014) melakukan penelitian mengenai knowledge sharing, intellectual capital dan firm performance. Tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah untuk melakukan investigasi mengenai pengaruh knowledge sharing terhadap firm performance dan intellectual capital sebagai peran mediasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan dan positif antara intellectual capital dan financial performance.

(12)

Bontis, Ciambotti, Palazzi, & Sgro (2018) melakukan penelitian kembali yang berkaitan dengan Intellectual Capital dan mengemukakan pendapat bahwa intellectual capital merupakan sebuah sumber daya yang kritikal yang perlu dikembangkan dalam rangka implementasi strategi perusahaan yang efektif, mendapat dan mempertahankan keunggulan bersaing serta memperbaiki performa korporat. Penelitian ini dilakukan di Italia dengan sampel sebanyak 151 perusahaan. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan positif antara intellectual capital dan financial performance.

SGR bersandar pada perubahan dari tingkat ekuitas dalam tahun keuangan dibagi dengan opening equity tanpa tambahan ekuitas pada tahun tersebut. Hal tersebut hanya mungkin melalui retained earning maka dari itu dana yang dihasilkan melalui retained earnings akan meningkatkan net worth dari perusahaan tersebut dan dengan meningkatnya net worth perusahaan dapat meminjam dana lagi untuk meningkatkan asetnya (Amouzesh, Moenifar, & Mousavi, 2011).

Amouzesh, Moenifar, & Mousavi (2011) melakukan penelitian mengenai sustainable growth rate dan firm performance. Penelitian dilakukan dengan sampel 54 perusahaan yang terdaftar pada Iran Financial Market pada periode 2006-2009. Penelitian ini memberikan hasil yang signifikan dan positif antara sustainable growth rate dengan firm performance.

Kombinasi dari elemen-elemen operasi perusahaan seperti marjin keuntungan dan tingkat efisiensi aset dan juga elemen-elemen keuangan seperti struktur modal dan juga retention ratio menjadi satu kesatuan elemen pengukuran akan memberikan informasi kinerja keuangan perusahaan yang sangat berharga bagi manajemen dan juga bagi seluruh perusahaan (Rahim, 2017). Rahim (2017) melakukan penelitian mengenai sustainable growth rate dengan firm performance.

Berbeda dengan Amouzesh, Moenifar, Mousavi (2011), Rahim

(13)

Penelitian dilakukan dengan sampel 226 perusahaan dari seluruh sektor yang terdaftar pada Bursa Malaysia dari 2005-2015. Penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hasil yang signifikan dan positif antara sustainable growth rate dengan firm performance.

2.4. Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Pengaruh Intellectual Capital terhadap Sustainable Growth Rate melalui Earning Management dan Financial

Performance sebagai Variabel Mediating

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesa dalam penelitian ini adalah:

1. Intellectual Capital berpengaruh positif terhadap Sustainable Growth Rate 2. Earning Management memediasi Intellectual Capital terhadap Sustainable

Growth Rate

3. Financial Performance memediasi Intellectual Capital terhadap Sustainable Growth Rate

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Pengaruh Intellectual Capital terhadap  Sustainable Growth Rate melalui Earning Management dan Financial

Referensi

Dokumen terkait

 Sel mikroba secara kontinyu berpropagasi menggunakan media segar yang masuk, dan pada saat yang bersamaan produk, produk samping metabolisme dan sel dikeluarkan dari

Dari gejala Gn, sistem akan memberikan pertanyaan gejala (Pn) yang harus dijawab oleh user, jika user menjawab [Ya] maka solusi (Sn) untuk memecahkan masalah troubleshooting

Penelitian tentang Pola Asuh Anak Dalam Keluarga Di Lingkungan Lokalisasi Padang Bulan ini, menggunakan 7 (tujuh) informan pokok orang tua yaitu para mucikari yang memiliki anak

Ketika kita bersatu dengan Kristus, Roti Hidup yang dipecah-pecahkan bagi dunia ini, kitapun dipersatukan dalam kematian dan kebangkitan Kristus.. Dipersatukan

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penilaian konsumen terhadap pelaksanaan bauran pemasaran dan implikasi strateginya pada masa yang akan datang di Bali

Jika kondisi lazim yang menentukan AIDS tidak muncul, pedoman CDC yang digunakan saat ini menentukan bahwa seseorang yang terinfeksi HIV dengan jumlah sel CD4+ kurang atau

Meskipun menggambarkan relasi, representasi dengan graf juga dapat menggambarkan tingkat urgensi kebutuhan manusia dengan teknik pewarnaan simpul. Penulis tidak menggunakan

mempengaruhi bagaimana mereka mempersepsikan mengenai model pembelajaran blended learning yang mereka jalankan, yang mana persepsi didefinisikan oleh Atkinson (2000)