BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Umum Tentang Pajak 1. Pengertian Pajak
Beberapa teori dan definisi pajak telah di paparkan menurut para ahli, diantaranya sebagai berikut:
Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemirto, SH : pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umun.1
Sedangkan menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani : pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksa) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran umum berhubungan dengan tugas Negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.2
Menurut Dr. Soeparman Soemahamidjaja dalam disertasinya yang berjudul “Pajak berdasarkan asas gotong royong” Universitas Padjajaran, Bandung, 1964 menyatakan bahwa pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutupi biaya produksi dan jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.3
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unusur-unsur berikut:
a. Iuran dari rakyat kepada Negara
Yang berhak memungut pajak hanyalah Negara (baik pemerintahan daerah maupun pemerintah pusat), iuran tersebut berupa uang (bukan barang).
1 Mardiasmo. Perpajakan Edisi Revisi 2011. (Yogyakarta; Andi, 2011). 1
2 R. Santoso Brotodihardjo. Pengantar Ilmu Hukum Pajak. (Bandung; PT Eresco, 1998). 2
3 Purnomo Herry. Dasar-Dasar Perpajakan & Akutansi Pajak. Jakarta; Erlangga. 2010, 6.
b. Berdasarkan undang-undang
Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta peraturan pelaksanaannya.
c. Tanpa jasa timbal atau kontra prestasi dari Negara yang secara langsug dapat ditunjukan.
Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontraprestasi individual dari pemerintah.
d. Digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara, yakni pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
e. Sifat pajak bisa dipaksakan, dikarnakan pada suatu kondisi, kejadian, keadaan dan perbuatan yang memberikan suatu kedudukan tertentu kepada seseorang.
Pentingnya pajak sebagai sumber pembiayaan pembangunan telah ditetapkan dalam berbagai produk perundang-undangan pemerintah, penerimaan negara yang berasal dari pajak sebagai mana telah ditetapkan dalam perundang-undangan sudah menjadi kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia serta pajak bukan hanya kewajiban tetapi hak bagi setiap warga negara untuk ikut berpartisipasi dalam bentuk peran serta terhadap pembiayaan negara dan pembangunan nasional.
Pencantuman definisi pajak juga dicantumkan dalam undang-undang No. 28 tahun 2007 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan (KUP) UU ini mendefinisikan bahwa:
“Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.” 4
Dalam definisi ini ditekankan bahwa pajak adalah “kontribusi” rakyat kepada negara, bukan lagi sekedar “iuran pajak” bisa dipaksakan dalam pemungutannya.
2. Fungsi Pajak dan Tujuan Pajak
Pajak memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena fungsinya. Secara umum, pajak memiliki dua fungsi yaitu:
a. Fungsi Anggaran (Budgetair)
Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya.
Biasanya, penerimaan pajak sebagai pelaksanaan fungsi anggaran tercermin dalam APBN.
4 Undang-undang No 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
b. Fungsi Mengatur (Regulered)
Selain mengemban fungsi penerimaan negara, pajak juga berfungsi sebagai alat kebijakan ekonomi politik yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi atau tingkat konsumsi masyarakat. Sebagai contoh untuk melindungi produk dalam negri, negara dapat menerapkan tarif bea masuk agar daya beli rakyat yang berpenghasilan rendah terjaga, negara dapat memberikan fasilitas berupa pajak ditanggung oleh pemerintah dan sebagainya.
Pajak dengan berbagai fasilitas dan keringanan yang ditawarkan juga menjadi sarana efektif untuk menjaga stabilitas dan menjadi alat redistribusi pendapatan yang baik. Sistem pemungutan pajak yang baik, aturan perpajakan yang adil dan dukungan aparatur yang professional adalah pilar agar pajak sebagai alat kontribusi pendapatan dapat berdaya guna.
Pajak yang dikelola dengan baik dan bertanggungjawab merupakan sarana menuju kebaikan dan kesejahteraan bersama.
Selain itu, pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.
Contoh :
1) Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras untuk mengurangi konsumsi minuman keras.
2) Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah untuk mengurangi gaya hidup yang konsumtif.
3) Tarif pajak untuk ekspor sebesar 0% untuk mendorong ekspor produk Indonesia di pasaran dunia.5
c. Fungsi Pemerataan
Pajak memiliki fungsi pemerataan maksudnya bias digunakan untuk menyesuaikan dan menyeimbangkan antara pembagian pendapatan dengan kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat.
d. Fungsi Stabilitas
Pajak bisa digunakan untuk menstabilkan kondisi dan keadaan ekonomi, contohnya dengan menetapkan pajak yang tinggi, pemerintah dapat mengendalikan inflasi sebab jumlah uang
5 Mardiasmo. Perpajakan Edisi Revisi 2011………….. 2
yang beredar dapat dikurangi. Serta untuk mengatasi kelesuan ekonomi atau deflasi pemerintah dapat menurunkan pajak, selain itu dengan menurunkan pajak jumlah uang yang beredar bisa ditambah sehingga deflasi bias diatasi.
Selain pajak secara fungsi, pajak juga memiliki tujuan yang dapat dicapai dari diberlakukannya pajak adalah untuk mencapai kondisi meningkatnya ekonomi suatu negara yaitu:
1) Untuk membatasi konsumsi dan dengan demikian mentransfer sumber dari konsumsi ke investasi.
2) Untuk mendorong tabungan dan menanam modal.
3) Untuk mentransfer sumber dana dari tangan masyarakat ke pemerintah sehingga memungkinkan adanya investasi pemerintah.
4) Untuk memodifikasi pola investasi.
5) Untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dan 6) Untuk memobilisasi surplus ekonomi.
Untuk mencapai tujuan, pemerintah perlu memegang asas-asas pemungutan dalam memilih alternatif pemungutannya, sehingga didapat keserasian pemungutan pajak dengan tujuan dan asas asas yang pajak yang baik sebagaimana dikemukakan oleh adam smith (suparmoko, 1986) didasarkan pada:
a) Prinsip Kesamaan / Keadilan
Beban pajak harus sesuai dengan kemampuan relatif dari setiap wajib pajak, artinya orang yang penghasilannya sama harus dikenakan pajak yang sama.
b) Prinsip Kepastian
Pajak dikenakan berdasarkan kepastian hukum yang bersifat tegas, jelas dan pasti bagi wajib pajak maupun aparatur perpajakan.
c) Prinsip Kecocokan / Kelayakan
Pajak hendaknya dikenakan pada saat wajib pajak merasa senang hati membayarkannya kepada pemerintah karena pajak yang dibayarnya layak dan tidak memberatkan, misalnya pada saat mempunyai uang.
d) Prinsip Ekonomi
Dalam memungut pajak hendaknya tidak menimbulkan biaya yeng lebih besar dari pada jumlah penerimaan pajaknya.
3. Syarat Pemungutan Pajak
Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan maka pemungutan pajak harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Pemungutan pajak harus adil
Sesuai dengan tujuan pajak yakni mencapai keadilan, undang-undang dan pelaksanaan pemungutan harus adil. Adil dalam perundang-undangan diantaranya mengenakan pajak secara umum dan merata, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Sedangkan adil dalam pelaksanaanya yakni dengan memberikan hak bagi wajib pajak untuk mengajukan keberatan, penundaan dalam membayar dan mengajukan banding kepada majlis pertimbangan pajak.
b. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang
Di Indonesia, pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 2 yang menyatakan bahwa segala macam pajak untuk keperluan negara berdasarkan undang-undang6. Hal ini memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, baik bagi negara maupun warganya.
c. Tidak mengganggu perekonomian
Pemungutan tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produksi maupun perdagangan, sehingga tidak menimbulkan kelesuaan perekonomian masyarakat.
d. Pemungutan pajak harus efisien
Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus dapat ditekankan sehingga lebih rendah dari hasil pemungutan.
e. Sistem pemungutan pajak harus sederhana
Sistem pemungutan yang sederhana akan memudahkan dan mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Syarat ini telah dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru.7
Contohnya;
1) Bea Meterai disederhanakan dari 167 macam tarif menjadi 2 macam tarif.
2) Tarif PPN yang beragam disederhanakan menjadi hanya satu tarif, yaitu 10%.
6 Undang-undang tahun 1945 pasal 23 ayat 2.
7 Mardiasmo. Perpajakan Edisi Revisi 2011. …………. 3.
3) Pajak perseroan untuk badan dan pajak pendapatan untuk perseorangan disederhanakan menjadi pajak penghasilan (PPh) yang berlaku bagi badan maupun perseorangan (orang pribadi).
Adapun sistem pemungutan pajak di Indonesia ada 3 (tiga), yaitu:
a) Self Assessment Sistem.
Sistem ini digunakan dalam memungut pajak pusat/ pajak negara arti dari sistem ini adalah wajib pajak diberi kepercayaan untuk menghitung, memperhitungkan, menyetor dan melaporkan sendiri kewajiban pajaknya.
Sistem ini tercermin dalam penghitungan PPh diakhir tahun. Keberhasilan sistem ini sangat tergantung dari kesadaran masyarakat, kejelasan Undang-undang dan profesiaonalisme aparat.
b) Official Assessment System.
Sistem ini masih digunakan dalam memungut pajak daerah. Dalam sistem ini yang menentukan besarnya pajak adalah aparat pajak (fiscus), wajib pajak pasif, keberhasilan sistem ini sangat tergantung dari keaktifan dan profesionalisme aparat.
c) Withholding System.
Sistem ini masih digunakan dalam pemungutan pajak pusat maupun pajak daerah.
Pengertian sistem ini adalah dalam pemungutan dan penyetoran pajak melibatkan wajib pajak yang lain.
Contoh:
1. Pemerintahan Daerah memungut pajak reklame melalui pengusaha reklame.
2. Pemerintah Pusat memungut PPh21 melalui pemberi kerja.8
Dalam pemungutan pajak tidaklah semuanya lancar adakalanya hambatan terhadap pemungutan pajak dapat dikelompokan menjadi:
8 Jeni Susyanti dan Ahmad Dahlan. Perpajakan Untuk Praktisi dan Akademisi. Malang; Empatdua Media. 5.
1) Perlawanan Pasif
Masyarakat enggan membayar pajak, yang dapat disebabkan antara lain:
a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat.
b. Sistem perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat.
c. Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik.9 2) Perlawanan Aktif
Yang meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara langsung ditunjukan terhadap fiskus dengan tujuan menghindari pajak meliputi:
a. Penghindaran diri dari pajak.
b. Mengelakan diri dari pajak.
c. Melalaikan pajak.10
4. Teori yang mendukung pemungutan pajak
Atas dasar apakah negara mempunyai hak untuk memungut pajak, terdapat beberapa teori yang menjelaskan atau memberikan justifikasi pemberian hak kepada negara untuk memungut pajak. Teori-teori tersebut antara lain adalah:
a. Teori Asumsi
Negara melindungi keselamatan jiwa, harta benda dan hak-hak rakyatnya, oleh karena itu rakyat harus membayar pajak yang diibaratkan sebagai suatu premi asuransi karena memperoleh jaminan perlindungan tersebut.
b. Teori Kepentingan
9 Mardiasmo. Perpajakan Edisi Revisi 2011. …………... 8.
10 Purnomo Herry. Dasar-Dasar Perpajakan & Akutansi Pajak. …………. 10.
Pembagian beban pajak kepada rakyat didasarkan pada kepentingan (misalnya perlindungan) masing-masing orang. Semakin besar kepentingan seseorang terhadap negara maka makin tinggi pajak yang harus dibayar.
c. Teori Bakti
Dasar keadilan pemungutan pajak terletak pada hubungan rakyat dengan negaranya. Sebagai warga negara yang berbakti, rakyat harus menyadari bahwa pembayaran pajak adalah sebagai suatu kewajiban.
d. Teori Asas Daya Beli
Dasar keadilan terletak pada akibat pemungutan pajak. Maksudnya memungut pajak berarti menarik daya beli dari rumah tangga masyarakat untuk rumah tangga negara. Selanjutnya, negara akan menyalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk pemeliharaan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, kepentingan seluruh masyarakat lebih diutamakan.11
e. Teori Asas Gaya Pikul
Pokok dari teori ini adalah asas keadilan yaitu beban pajak harus sama beratnya bagi setiap orang berdasarkan gaya pikul masing-masing. Prof . W.J de Lengen mendefinisikan gaya pikul sebagai kekuatan seseorang untuk dapat mencapai pemuasan kebutuhan setinggi-tingginya, setelah dikurangi dengan mutlak untuk kebutuhan primernya. Gaya pikul tersebut diukur dari penghasilan dan kekayaan serta pengeluaran atau pembelanjaan seseorang. Hingga kini, teori ini masih dipertahankan meskipun kerap kali terjadi salah paham mengenai seluk-beluknya terutama oleh keluasan makna gaya pikul itu sendiri dihubungkan dengan jumlah pajak yang harus dibebankan.12
5. Pengelompokan Pajak
Banyak sekali jenis pajak yang ada dinegara ini, namun secara garis besar pajak dapat dikelompokan sebagai berikut:
11 Mardiasmo. Perpajakan Edisi Revisi 2011. ………….. 4.
12 Purnomo Herry. Dasar-Dasar Perpajakan & Akutansi Pajak. …………. 5.
a. Pajak Pusat (Pajak Negara)
Pajak ini dipungut oleh pemerintah pusat sehingga hasilnya masuk ke kas negara, dasarnya undang-undang dan peraturan pelaksanaannya. Pengelolanya adalah Direktorat Jendral Pajak dan Direktorat Jendral Bea Cukai dan dipungut dengan sistem pemungutan Self Assessment System dan Witholding System.
Contoh pajak pusat:
1) PPh (Pajak Penghasilan)
2) PPN dan PPnBM (Pajak Pertambahan Nilai & Pajak Penjualan atas Barang Mewah) 3) BM ( Bea Materai)
4) Fiskal Luar Negeri 5) Pajak Ekspor 6) Dan lain-lain.
Penggolongan Pajak Administrasi dan Pembebanan :
a) Pajak Langsung, pengertian pajak langsung secara Administrasi dan Ekonomis adalah sebagai berikut :
Administrasi : Berkohir (Surat Ketetapan Pajak) dan dikenakan secara berkala (berulang pada waktu tertentu, misalnya setiap tahun).
Ekonomis : beban pajak harus ditanggung sendiri dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang orang lain.
Contoh : Pajak Penghasilan (PPh).
b) Pajak Tidak Langsung, pengertian pajak tidak langsung secara Administrasi dan Ekonomis adalah sebagai berikut :
Administrasi : Berkohir (Surat Ketetapan Pajak) dan dikenakan secara berkala (berulang pada waktu tertentu, misalnya setiap tahun).
Ekonomis : beban pajak dapat dilimpahkan kepada orang orang lain.
Contoh : Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).
Berdasarkan Sasaran :
a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang memperhatikan pertama-tama keadaaan pribadi wajib pajak. Contoh : Pajak Penghasilan.
b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang memperhatikan pertama-tama Objek (benda, peristiwa, perbuatan atau keadaan) yang menyebabkan timbulnya kewajiban membayar pajak.
Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.
b . Pajak Daerah
Pajak ini dipungut oleh Pemerintah Daerah (Provinsi, Kabupaten / Kota) sehingga hasilnya masuk ke kas daerah. Dasarnya adalah UU dan pelaksanaanya diatur dalam peraturan daerah, pengelolaannya oleh Dinas Pendapatan Daerah, dengan sistem pemungutan Official Assessment System dan Witholding System.
Contoh Pajak Daerah : 1) Pajak Provinsi
a) Pajak Kendaraan Bermotor & Kendaraan Diatas Air (PKB-KAA)
b) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Diatas Air (PKB-KAA).
c) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PB-BKB)
d) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan (P3BT dan AP) dan
e) Pajak Rokok.
2) Pajak Kabupaten/Kota
a) Pajak Hotel 10% (Sepuluh Persen).
b) Pajak Restoran 10% (Sepuluh Persen).
c) Pajak Hiburan 35% (Tiga Puluh Lima Persen).
d) Pajak Reklame 25% (Dua Puluh Lima Persen).
e) Pajak Penerangan Jalan 10% (Sepuluh Persen).
f) Pajak Mineral Bukan Logam Dan Batuan 20% (Dua Puluh Persen).
g) Pajak Parkiran 20% (Dua Puluh Persen).
h) Pajak Air Tanah 20% (Dua Puluh Persen).
i) Pajak Sarang Burung Walet 10% (Sepuluh Persen).
Hal itu sesuai dengan undang-undang nomor 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.13 Selain itu, adanya pajak daerah maka pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi dapat meningkatkan kemandirian daerah dan mengurangi ketergantungan fiskal terhadap pemerintah pusat, dengan kemandirian daerah maka daerah mampu mengelola pendapatan daerahnya semakin tinggi kemampuan daerah dalam menghasilkan pendapatan asli daerah maka pertumbuhan ekonomi daerah pun cepat menjadi maju yanga berdampak pada kesejahteraan daerah tersebut.
B. Hukum Pajak Menurut Prespektif Syariah 1. Pengertian Pajak Menurut Syariat
Ada tiga ulama yang memberikan definisi tetntang pajak, yaitu Yusuf Qardhawi dalam kitabnya fiqih az-zakah, Gazy Inayah dalam kitabnya Al-iqtishad al-islami az-zakah wa ad- dharibah dan Abdul Qadim Zallum dalam kitabnya Al-amwal fi Daulah Al-khilafah, ringkasannya sebagai berikut:
a. Yusuf Qardhawi berpendapat:
Pajak adalah kewajiban yang ditetapkan terhadap wajib pajak yang harus disetorkan kepada Negara sesuai dengan ketentuan, tanpa mendapat prestasi kembali dari negara dan hasilnya untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum di satu pihak dan untuk merealisasikan sebagai tujuan ekonomi, sosial, politik dan tujuan-tujuan lainnya yang ingin dicapai oleh negara.
b. Gazy Inayah berpendapat:
13 Jeni Susyanti dan Ahmad Dahlan. Perpajakan Untuk Praktisi dan Akademisi. ……….. 2-4.
Pajak adalah kewajiban untuk membayar tunai yang ditentukan oleh pemerintah atau pejabat berwenang yang bersifat mengikat tanpa adanya imbalan tertentu. Ketentuan pemerintah ini sesuai dengan kemampuan si pemilik harta dan dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan pangan secara umum dan untuk memenuhi tuntutan politik keuangan bagi pemerintah.
c. Abdul Qadim Zallum berpendapat:
Pajak adalah harta yang diwajibkan Allah Swt. Kepada kaum muslim untuk membiayai berbagai kebutuhan dan pos-pos pengeluaran yang memang diwajibkan atas mereka, pada kondisi Baitul Mal tidak ada uang/harta.14
Secara etimologi pajak dalam bahasa arab disebut dengan istilah dharibah yang artinya: mewajibkan, menetapkan, menentukan, memukul, menerangkan atau membebankan dan lain-lain atau dapat diartikan juga sebagai pungutan yang ditarik dari rakyat oleh para penarik pajak. Secara bahasa maupun tradisi, dharibah dalam penggunaannya memang mempunyai banyak arti, namun para ulama dominan memakai ungkapan dharibah untuk menyebut harta yang dipungut sebagai kewajiban. Hal ini tampak jelas dalam ungkapan bahwa jizyah dan kharaj dipungut secara dharibah, yakni secara wajib. Bahkan sebagian ulama menyebut kharaj merupakan dharibah, jadi dharibah adalah harta yang dipungut secara wajib oleh negara untuk selain jizyah dan kharaj, sekalipun keduanya biasa dikategorikan dharibah.
Walaupun kebanyakan dari para ahli fikih berpendapat, bahwa zakat adalah satu-satunya kewajiban atas harta. Barang siapa telah zakat maka bersihlah hartanya dan bebaslah kewajibannya dan ia pun tidak punya kewajiban lagi, kecuali sedekah sunat karena mengharap pahala yang besar dari allah. Inilah pendapat yang termahsyur dikalangan ahli fikih periode muta’akhirin sehingga hamper tidak mengenal pendapat yang lain.
2. Pajak sebagai ibadah
Kaum muslimin sebagai pembayar pajak harus mempunyai batasan pemahaman (definisi) yang jelas tentang pajak menurut pemahaman islam, sehingga apa-apa yang dibayar memang termasuk hal-hal yang memang diperintahkan oleh Allah Swt. Bagi petugas zakat (amil) perbuatan memungut dan mendistribusikan zakat sudah sangat jelas dasar perintahnya, sehingga seluruh amal perbuatan mereka pasti bernilai kebajikan yang akan mendapatkan
14 Gusfahmi. Pajak Menurut Syariah. Jakarta; PT. RajaGrafindo Persada. 2011, 31.
ganjaran pahala di sisis Allah Swt. Sebagaimana hadis Rasulullah saw yang artinya: “ orang- orang yang bekerja mengambil zakat dengan kebenaran adalah seperti orang yang perang di jalan Allah sampai ia kembali ke rumahnya”. ( HR Tirmidzi dari Rafi bin Khudaj ) hadis ini disahihkan oleh Al-Albani.
Demikian pula hendaknya bagi petugas pajak, jika hukum pajak itu dibuat sesuai syariat, maka perbuatan memungut dan mendistribusikan pajak tentu akan dapat bernilai ibadah bagi pemungutnya (fiskus) maupun bagi wajib pajak sebagai jihad harta. Sekecil apa pun perbuatan ( kebaikan atau keburukan ) pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt dan akan mendapatkan balasan.
Sebaliknya, terhadap orang-orang yang memungut pajak tanpa dasar yang sah maka rasulullah melarang keras dan mengecam mereka dengan neraka, sebagaimana hadis beliau yang artinya: “ Tidak akan masuk surga petugas pajak (yang zalim)” ( HR Abu Daud ).
3. Kata Pajak dalam Al-Quran
Dari 74.499 kata atau 325.345 suku kata yang terdapat dalam al-quran tidak ada satu pun terdapat kata pajak karena pajak memag bukan berasal dari kata bahasa arab. Namun, sebagai terjemahan dari kata yang ada dalam al-quran terdapat kata pajak yaitu pada terjemahan QS Al-Taubah ayat 29 Allah berfirman:
اىُلِتاَق َييِذَّلا
َىىٌُِه ْؤُي لا َِّللّاِت
ِمْىَيْلاِت لاَو ِزِخلآا
لاَو َىىُهِّزَحُي اَه
َمَّزَح َُّاللّ
ُهُلىُسَرَو لاَو
َىىٌُيِدَي َييِد
ِّقَحْلا َيِه َييِذَّلا اىُتوُأ َباَتِكْلا ىَّتَح
اىُطْعُي َةَي ْشِجْلا
ْيَع دَي ْنُهَو َىوُزِغاَص
( ٩٢ )
15
Artinya :
“ Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul- Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang
15Al-quran Nul Karim, Al-quran Terjemahan & Asbabun Nuzul. Surakarta; PT. Indiva Kreasi Media. 2009, 191.
diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk”. (Q.S At-Taubah: 29).16
Maksud dari ayat tersebut menurut tafsir Alkaz yang ditulis oleh Bactiar Surin adalah:
1. Semacam pajak yang dipungut dari orang-orang yahudi dan nasrani oleh pemerintah islam sebagai imbalan atas jaminan keamanan dan perlindungan terhadap jiwa dan harta bendanya.
2. Tunduk kepada pemerintah islam dan hukum yang berlaku dalam Negara islam. Dengan ini, terbukalah jalan untuk menunjuki mereka kepada ajaran islam bila mereka telah mematuhi hukum yang berlaku dalam Negara islam dan membayar upeti maka pemerintah islam wajib menjamin keamanan mereka, melindungi dan membela dari serangan musuh dan memberikan kemerdekaan dalam menjalankan agamanya serta mempergaulinya dengan baik berdasarkan keadilan dan persamaan sama seperti memperlakukan kaum musilimin sendiri sekalipun mereka bukan agama islam.17
Adapun dalil Al-Quran lain yang dikaitkan mengenai pajak yaitu surat Ash-safah ayat 11 yang berbunyi:
ْنِهِتْفَتْساَف ْنُهَأ
دَشَأ اًقْلَخ ْمَأ ْيَه اٌَْقَلَخ اًَِّإ ْنُهاٌَْقَلَخ ْيِه
ييِط بِسلا (
١١ )
18
Artinya:
“(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (Q.S Ash-Safah: 11).
Serta surat Al-Baqarah ayat 195 yang berbunyi:
اىُقِفًَْأَو ِليِثَس يِف
َِّاللّ
لاَو اىُقْلُت ْنُكيِدْيَأِت ىَلِإ
ِةَكُلْهَّتلا اىٌُِس ْحَأَو
َّىِإ ََّاللّ
ةِحُي َييٌِِس ْحُوْلا
( ١٢١ )
19
16 Gusfahmi. Pajak Menurut Syariah…………. , 27.
17 Surin Bachtiar. Tafsir Alkanz Terjemah & Tafsir Al-quran. Bandung; Offset Angkasa. 2002, 618.
18 Al-quran Nul Karim, Al-quran Terjemahan & Asbabun Nuzul…………., 502.
19Al-quran Nul Karim, Al-quran Terjemahan & Asbabun Nuzul…………., 30
Artinya:
“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang- orang yang berbuat baik” (Q.S Al-baqarah: 11).
Dengan demikian, salah satu hak penguasa (pemimpin atau pemerintah) adalah menetapkan berapa besaran beban berjihad dengan harta kepada setiap orang yang mampu.
4. Pendapat Ulama Tentang Pajak
Ada kaum muslimin lain sejak zaman sahabat sampai masa tabi’in yang berpendapat bahwa dalam harta kekayaan ada kewajiban lain selain zakat. Pendapat tersebut dating dari Umar, Ali, Abu Dzar, A’isyah, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Hasan bin Ali dan Fatimah binti Qais.
Ibnu Hazm berpendapat bahwa “ Apabila dana zakat tidak mencukupi bagi pemenuhan kebutuhan orang-orang miskin dalam suatu daerah atau negara, maka menjadi tanggung jawab warga yang mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka , apabila mereka tidak melakukan itu semuanya berdosa”. Banyak juga para ulama berpendapat bahwa ada kewajiban lain atas harta selain zakat, antara lain:
a. Qadhi Abu Bakr bin Al-Arabi seseorang ahli fiqih golongan maliki berkata dalam Ahkam Al-quran, bahwa: “Pada harta tidak ada kewajiban selain zakat, apabila telah diselesaikan kemudian sesudah itu datang kebutuhan mendesak, maka wajib bagi orang kaya mengeluarkan hartanya untuk keperluan tersebut”.
b. Imam Malik dalam Ahkam Al-quran berkata: “Wajib kepada seluruh kaum muslimin menebus tawanan mereka, meskipun harta mereka akan habis karenanya. Demikian pula apabila pemerintah menolak membagikan zakat kepada para mustahik setelah dilakukan pemungutan, apakah orang kaya wajib membantu orang miskin. Sudah barang tentu masalah demikian perlu dipikirkan. Menurut pendapat saya yang paling tepat ialah wajib menolong”.
c. Imam Syatibi dalam al-I’tisham berkata: “Apabila harta kosong, kemudian keperluan biaya militer meningkat, maka hendaklah membebankan biaya itu kepada mereka yang kaya sekiranya dapat mencukupi keperluan tersebut, sehingga baitul mal terisi kembali”.
d. Mahmud Syaltut dalam Al Fatwa berkata: “Apabila pemerintah atau pemimpin rakyat tidak mendapat dana untuk menunjang kemaslahatan umum, seperti pembangunan sarana pendidikan, balai pengobatan, perbaikan jalan dan saluran air, serta mendirikan industri alat pertahanan negara, sedangkan kaum hartawan masih diam membelenggu tangannya, maka bolehlah dan adakalanya wajib bagi pemerintah untuk memungut pajak dari kaum hartawan untuk meringankan pelaksanaan rencana pembangunan itu”.
e. Adapun menurut K. H. Aminuddin Aziz selaku pengasuh pondok pesantren Raudlatul Mubtadi’in yang beralamat di Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka menyatakan bahwa hukum pajak itu boleh dikarenakan pada dasarnya pajak itu sendiri diperuntukan untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat karena negara ini adalah negara demokrasi yang pada intinya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat dalil yang menjadikan boleh yaitu surat an-nisa ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul (nya) dan ulil amri diantara kamu…..”. Sehingga sebagai masyarakat atau rakyat yang taat akan peraturan negara harus patuh terhadap pemimpinnya.
20
Apabila hasil zakat dan pendapatan-pendapatan negara lainnya mencukupi kebutuhan mereka, maka allah tidak menuntut hak yang lain dari orang mukmin untuk para fakir miskin.
Tapi apabila pendapatan itu tidak mencukupi untuk menanggulangi kemiskinan, maka wajib kepada mereka yang kaya dan mampu untuk menjaminkebutuhan mereka baik dalan hubungan kerabat dekat, tetangga dan hubungan-hubungan lainnya.
Untuk memenuhi kebutuhan negara akan berbagai hal, seperti menaggulangi kemiskinan, menggaji tentara atau pegawai negeri, pembangunan infrastruktur dan lain-lain yang tidak terpenuhi dari zakat dan sedekah maka harus muncul alternatif sumber baru. Dalam kebijakan fiskal itu terdapat dua pilihan yaitu pajak atau utang, selama hutang mengandung konsekuensi riba maka pajak adalah pilihan yang lebih baik dan utama. Pilihan kewajiban pajak
20Wawancara dengan K. H. Aminuddin Aziz.
ini sebagai solusi, akan tetapi terdapat perdebatan di kalangan fuqaha dan ekonom islam, ada yang menyatakan bahwa pajak itu boleh da nada juga sebaliknya, sejumlah fuqaha dan ekonom islam yang menyatakan bahwa pajak itu boleh antara lain:
1) Abu Yusuf, dalam kitabnya al- kharaj menyebutkan bahwa: “Semua khulafaurrasyidin terutama Umar, Ali dan Umar bin Abdul Aziz dilaporkan bahwa telah menekankan bahwa pajak harus dikumpulkan dengan keadilan dan kemurahan, tidak diperbolehkan dengan melebihi kemampuan rakyat untuk membayar, juga jangan sampai membuat mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka sehari-hari.”
2) Marginani dalam kitabnya al-Hidayah berpendapat bahwa: “Jika sumber-sumber daya negara tidak mencukupi, Negara harus menghimpun dana dari rakyat untuk memenuhi kepentingan umum. Jika manfaat itu memang di nikmati rakyat, kewajiban mereka membayar ongkosnya.”
3) Hasan al-Banna dalam bukunya Majmuatur-Rasa’il mengatakan: “Melihat tujuan keadilan sosial dan distribusi pendapatan yang merata, maka sistem perpajakan progresif tampaknya seirama dengan saasaran-sasaran islam.”
4) Ibnu Taimiyah dalam Majmatul Fatwa mengatakan: “Larangan penghindaran pajak sekalipun itu tidak adil berdasarkan argument bahwa tidak membayar pajak oleh mereka yang berkewajiban akan mengakibatkan beban yang lebih besar bagi kelompok lain”.21
Jika kita ikuti pendapat ulama yang membolehkan, maka pajak saat ini memang merupakan sudah menjadi kewajiban warga negara dalam sebuah negara muslim atau Negara Indonesia, dengan alasan dana pemerintah tidak mencukupi untuk membiayai berbagai
“keperluan” yang mana jika pengeluaran itu tidak dibiayai, maka timbulah ke mudharatan sedangkan mencegah kemudharatan itu adalah wajib, sebagaimana kaidah usul fiqh menyatakan:
هَف ِهِب َّلَ
ِ ا ُب ِجاَوْلا ُّمـِتــُي َلَ اَم ُـ
ُب ِجاَوْلا َو
Artinya:
21 Gusfahmi. Pajak Menurut Syariah………….., 153-157.
“Segala sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan demi terlaksananya kewajiban selain harus dengannya, maka sesuatu itu pun menjadi wajib hukumnya.”
Oleh karena itu, pajak itu tidak boleh dipungut dengan cara memaksa dan kekuasaan semata, melainkan karena adanya kewajiban kaum musilmin yang dipikulkan kepada negara, sepertu memberikan rasa aman, pengobatan dan pendidikan dengan pengeluaran seperti gajih (nafkah) untuk para tentara, para pegawai negeri, guru, hakim dan sejenisnya atau kejadian- kejadian yang tiba-tiba seperti kelaparan, banjir, gempa bumi dan sejenisnya. Karena negara memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan primer rakyatnya secara keseluruhan secara langsung, maka negara wajib mengambil hutang untuk diinfaqkan kepada mereka yang dikhawatirkan tertimpa bahaya. Sebagaimana hadis Rasullulah SAW yang artinya: “Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyata) dan dia akan diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.” (HR. Muslim).
Dalam kamus bahasa Indonesia hukum diartikan sebagai: peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah, undang- undang, peraturan dan lain sebagainya, hukum adalah seperangkat kaidah atau aturan yang tersusun dalam satu sistem, yang menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh manusia sebagai warga masyarakat. Menyimak pengertian hukum dalam konteks hukum islam selain akan lebih variatif juga mencakup kemungkinan pemaknaan yang lebih luas, hukum dalam konteks islam berarti mencegah atau menolak. Hukum islam harus mencegah ketidak adilan, kezaliman dan segala bentuk penganiayaan dan kekerasan.22
Jizyah berasal dari kata jaza yang berarti imbalan atau kompensasi, jizyah adalah pajak yang dikenakan oleh negara islam atas warganya yang non-muslim sebagai imbalan bagi perlindungan atas harta dan jiwa mereka. Jizyah dipungut berdasarkan ketetapan Al-Qur’an surat at-taubah ayat 29.23 Melihat dari sejarah islam pajak bukan hanya diperuntukan bagi mereka yang beragama non islam tetapi tinggal di negara yang dikuasai oleh pemimpin islam, sebenarnya sudah digunakan oleh para sahabat setelah nabi wafat seperti pada masa Khalifah Umar memberlakuakan pajak impor bagi semua barang dagangan yang diimpor ke negara islam, Abu Al-Asy’ari Gubernur Irak mengabarkan kepada khalifah umar bahwa pemerintah
22Hamid Arifin, Membumikan Ekonomi Syariah Di Indonesia. Jakarta; Elsa. 2008. 38-39.
23Sharif Chaudry Muhammad. Sistem Ekonomi Islam. Jakarta; Kencana Prenada Media Group. 2011 265.
Roma dan Persia menetapkan pajak impor kepada para pedagang muslim yang memasuki negara mereka untuk menjual barang dagangannya. Maka negara islam juga menetapkan pajak sebesar 10% atas barang-barang yang dibawa ke wilayah islam oleh para pedagang harbi sebagai imbangannya. Pada masa berikutnya juga pajak ini dikenakan kepada para pedagang dzimmi dan muslim masing-masing sebesar 5% dan 2,5% pajak impor ini disebut oleh para Fukaha muslim ‘usyur’ dan di dunia modern pajak impor disebut import duties atau custom duties.24
Abu Yusuf merupakan tokoh yang terkenal dimulai pada masa Harun Al Rasyid (113H- 182H/ 731M-798M) sampai dengan sekarang karena karyanya salah satunya adalah kitab al kharaj, kitab ini merupakan kitab yang terpopuler dari karya-karyanya didalam kitab ini ia menuangkan pemikiran fiqihnya dalam berbagai aspek seperti keuangan negara, pajak tanah, pemerintahan dan musyawarah. Kekuatan utama pemikiran abu yusuf adalah masalah keuangan publik terlepas dari prinsip-prinsip perpajakan dan pertanggungjawaban negara islam terhadap kesejahteraan rakyatnya. 25 Sebuah studi perbandingan menunjukan bahwa beberapa abad sebelum keuangan publik di pelajari secara sistematis di barat, abu yusuf telah berbicara tentang kemampuan untuk membayar pajak dan kenyamanan dalam membayar pajak.
Kontribusi lain adalah dengan menunjukan keunggulan sistem pajak proposional (muqasamah) menggantikan sistem pajak tetap (misahahl wazifah) pada tanah dan beliau juga memekankan pentingnya pengawasan petugas pengumpul pajak untuk mencegah korupsi dan menghilangkan penindasan. Kitab al-kharaj padaawalnya merupakan panduan dalam pengelolaan keuangan publik pada masa pemerintahan kha;ifah Harun Ar-Rasyid yang mana tugasa utama penguasa adalah mewujudkan serta menjamin kesejahteraan rakyatnya. Prinsip-prinsip umum keuangan publik sebagai salah satu aktivitas ekonomi penting bagi negara telah dibahas dalam Al-quran, walaupun tidak dijelaskan secara terperinci mengenai kebijakan fiskal akan tetapi ada beberapa pelajaran dan petunjuk yang dapat dijadikan sebagai pedoman.26 Dasar pemikiran abu yusuf tentang ekonomi adalah bahwa semua kekayaan yang dikumpulkan dan dikelola oleh khalifah adalah amanah dari Allah yang akan diminta pertanggungjawaban, semua kebijakan negara harus mengedepankan aspek kepentingan rakyat seluas-luasnya. Secara umum penerimaan
24Sharif Chaudry Muhammad. Sistem Ekonomi Islam. ………….. 267.
25Karim Adiwarnan . Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta; PT. Pustaka Pelajar. 2002. 13.
26Amalia Euis. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Depok; Gramata Publishing. 2005. 118.
negara dalam daulah islamiyah yang ditulis oleh beliau diklasifikasikan dalam tiga kategori yaitu segala sesuatu yang dikuasai oleh kaum muslim dar harta orang-orang kafir melalui peperangan (Ganimah), segala sesuatu yang dikuasi oleh kaum muslim dari harta orang kafir tanpa peperangan (Fay’) dan sadaqah.27
Ibnu Hazm (184H- 244H/ 994M-1064M) memiliki 400 karya yang terdiri dari 80.000 lembar, karyanya meliputi bidang hukum, logika, sejarah, etika, perbandingan agama, ekonomi dan teologi. Dalam bidang ekonomi khususnya pajak ibnu hazm sangat focus terhadap keadilan dalam sistem pajak, menurutnya sebelum segala sesuatu diatur hasrat orang untuk mengeluarkan kewajiban pajak harus dipertimbangkan secara cermat karena apapun kebutuhan seseorang terhadap apa yang dikeluarkannya akan berpengaruh pada sistem dan jumlah pajak yang akan dikumpulkan.28 Serta Nizham Al-Mulk (308H/1017M) tokoh islam yang hidup pada masa Daulah Abbasiyah, nizam al-mulk berpendapat bahwa tidak ada yang dapat menyangkal pada suatu sistem pajak yang baik maka basis keuangan akan menjadi sehat.29
Seiring berjalannya waktu pajak bukan hanya dikenakan kepada mereka yang non- muslim yang hidup di negara islam sebagai jaminan akan jiwa dan hartanya, tetapi menjadi sistem di beberapa negara sebagai sumber pendapatan negara yang mewajibkan rakyatnya baik itu perseorangan maupun badan prusahaan untuk membayar pajak tentu memiliki tujuan mengalokasikan dana pajak tersebut untuk kesejahteraan masyarakat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam hal ini tidak memberikan fatwa mengenai hukum pajak itu seperti apa dan tidak memberikan fatwa seperti halnya permasalahan-permasalahan yang ada di negara ini akan tetapi Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharapkan hendaknya pemerintah menerapkan pemungutan pajak yang adil dan seringan mungkin terhadap masyarakat yang berpendapatan rendah dengan tidak membebani tarif pajak yang bertumpuk dan pembebasan tarif pajak bagi yang usahanya belum menghasilkan keuntungan.30 Jika dicermati secara seksama zakat dan pajak sebetulnya hamper sama dari sisi aspek manfaat yaitu berusaha mengoptimalkan kekayaan melalui proses pemerataan kepada masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, adapun pada zaman ini banyak macam-macam pajak yang harus dibayar
27Amalia Euis. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam ………. 121.
28Amalia Euis. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam……….. 194.
29Amalia Euis. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam……….. 203.
30www.Baznas.or.id.
oleh badan maupun perseorangan itu hanyalah bagian dari kemajuan zaman baik dalam pemanfaatan teknologi maupun perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, pajak memang merupakan kewajiban warga negara tetapi negara berkewajiban pula untuk memenuhi dua kondisi syarat:
1) Penerimaan hasil-hasil pajak harus dipandang sebagai amanah dan dibelanjakan secara jujur dan efisien untuk merealisasikan tujuan-tujuan pajak.
2) Pemerintah harus mendistribusikan beban pajak secara merata di antara mereka yang wajib membayarnya.
Dari berbagai pendapat diatas dapat penulis simpulkan, bahwa para ulama dan ekonom islam membolehkan pajak karena adanya kondisi tertentu dan juga sistem tertentu, misalnya harus adil, merata, tidak membebani rakyat dan lain-lain.
C. Pengertian Pajak Daerah
Pajak merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan di semua negara, dasar hukum pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah adalah Undang-undang No 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah, beberapa pengertian atau istilah yang terkait dengan pajak daerah antara lain:
1. Daerah Otonom, selanjutnya disebut Daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batasan-batasan wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakasa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Repubilk Indonesia (NKRI).
2. Pajak Daerah, yang selanjutnya disebut pajak adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
3. Badan, adalah sekumpulan orang dan / atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakuakan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer dan perseroan lainnya, badan usaha milik negara (BUMN) atau badan
usaha milik daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, koprasi, dana pensiunan, persekutuan, yayasan, organisasi masa / sosial politik atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk badan usaha tetap.
4. Subjek Pajak, adalah orang pribadi atau badan yang dapat dikenakan pajak.
5. Wajib Pajak, adalah orang pribadi atau badan yang meliputi pembayaran pajak, pemotongan pajak dan pemungutan pajak yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. 31
Menurut keputusan pemerintah tentang pajak daerah bab 1 ketentuan umum pasal 1 yang menyatakan bahwa “ pajak daerah yang selanjutnya disebut pajak adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan undang-undang yang berlaku yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah”.
Selain pemerintahan daerah yang memiliki kewajiban untuk mengambil iuran pajak kepada perorangan atau badan berdasarkan undang-undang tetapi memang pemerintah daerah juga memiliki istilah retribusi daerah dimana retribusi daerah ini memiliki peranan yang penting demi terciptanya masyarakat yang sejahtera karena retribusi daerah juga menurut penulis dapat diartikan sebagai sumber ekonomi.
Retribusi adalah pemungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberi izin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Wajib retribusi adalah orang pribadi atau badan menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungutan atau pemotongan retribusi tertentu. Besarnya retribusi tergantung pada yang terutang oleh pribadi atau badan yang menggunakan jasa atau perizinan tertentu dihitung dengan cara mengalihkan tarif retribusi dengan penggunaan jasa (pasal 1 undang-undang nomor 28 tahun 2009). 32
31 Mardiasmo. Perpajakan Edisi Revisi 2011………….., 2011. 12-13.
32 Jeni Susyanti dan Ahmad Dahlan. Perpajakan Untuk Praktisi dan Akademisi………... 266.
Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, objek retribusi ada tiga yaitu:
a. Retribusi Jasa Umum
Jasa adalah kegiatan pemerintah daerah berupa usaha dan pelayanan yang menyebabkan barang, fasilitas, atau kemanfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh orang pribadi maupun badan.
Jasa umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi maupun badan.
Wajib retribusi jasa umum adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungutan atau pemotong retribusi jasa umum. Subjek retribusi jasa umum adalaah orang pribadi atau badan yang menggunakan atau meniknati pelayanan jasa umum yang bersangkutan.
Objek retribusi jasa umum adaalah pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan manfaat umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi maupun badan. Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi jasa umum didasarkan pada kebijakan daerah dengan memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat, dan aspek keadilan. Terdapat penambahan empat jenis retribusi daerah, yaitu Retribusi Tera Ulang, Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi, Retribusi Pelayanan Pendidikan dan Retribusi Izin Usaha Perikanan. Jenis-jenis retribusi jasa umum yang diatur dalam peraturan daerah adalah:
1) Retribusi Pelayanan Kesehatan.
2) Retribusi Pekayanan Persampahan atau Kebersihan.
3) Retribusi Penggantian Biaya cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil.
4) Retribusi Pemakaman dan Pengabuan.
5) Retribusi Pelayanan Parkir ditepi jalan umum.
6) Retribusi Pelayanan Pasar.
7) Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor.
8) Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran.
9) Retribusi Pengolahan Limbah Cairan.
10) Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.
11) Retribusi Pelayanan Tera atau Tera Ulang.
Jenis retribusi ini dapat tidak dipungut apabila potensi penerimaannya kecil atau atas kebijakan nasional / daerah untuk memberikan pelayanan secara cuma-cuma. 33
b. Retribusi Jasa Usaha
Jasa Usaha adalah jasa yang disedihkan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip-prinsip komersial karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh swasta. Wajib retribusi jasa usaha adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang- undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan retribusi untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk pemungut atau pemotong retribusi jasa usaha.
Subjek retribusi jasa usaha adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan atau menikmati pelayanan jasa usaha yang bersangkutan. Dalam pasal 126 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 “ objek retribusi jasa usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut pada prinsip komersial yang meliputi:”
1) Pelayanan dengan menggunakan atau memanfaatkan kekayaan daerah yang belum dimanfaatkan secara komersial.
2) Pelayanan oleh pemerintah daerah sepanjang belum disediakan secara memadai oleh pihak swasta.
Jenis retribusi jasa usaha yang diatur dalam peraturan pemerintah daerah meliputi:
a) Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah.
b) Retribusi Terminal.
33 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 pasal 110.
c) Retribusi Tempat Rekreasi dan Olah Raga.
d) Retribusi Tempat Khusus Parkir.
Prinsip dan sasaran dalam penetapan beasrnya tarif retribusi jasa usaha didasarkan pada tujuan untuk memperoleh keuntungan yang layak sebagaimana keuntungan yang pantas diterima oleh pengusaha swasta sejenis yang beroperasi secara efisien dan berorientasi pada harga pasar.
c. Retribusi Perizinan Tertentu
Menurut pasal 140 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah, objekretribusi perizinan tertentu adalah pelayanan perizinan tertentu oleh pemerintah daerah kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
Prinsip dan sasaran dalam penetapan tarif retribusi perizinan tertentu didasarkan pada tujuan untuk menutup sebagian atau seluruhnya biaya penyelenggaraan pemberian izin yang bersangkutan. Biaya penyelenggaraan izin ini meliputi penerbitan dokumen izin, pengawasan di lapangan, penegakan hukum, penatausahaan dan biaya dampak negatif dari pemberian izin tersebut.
Menurut pasal 141 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak dan daerah jenis retribusi perizinan tertentu adalah:
1. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan.
2. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol.
3. Retribusi Izin Gangguan.
4. Retribusi Izin Trayek.
5. Retribusi Izin Usaha Perikanan. 34
Pada saat retribusi daerah dapat dikelola dengan baik, serta retribusi tersebut ada secara banyak disuatu daerah baik itu kabupaten maupun kota sehingga dampak dari retribusi daerah itu dapat meningkatkan pendapatan asli daerah yang mampu membuat daerah tersebut lebih sejahtera masyarakatnya. Berdasarkan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah pasal 1 ayat 18 disebutkan bahwa pendapatan asli daerah adalah “ Pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.”35
Sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam pasal 6 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 sebagai berikut:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari:
a. Pajak Daerah.
b. Retribusi Daerah.
c. Hasil Pengelolaan Kekayaan daerah yang dipisahkan, dan d. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.
Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat 1 huruf (d) meliputi:
1) Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan.
2) Jasa giro.
3) Pendapatan bunga.
4) Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan
5) Komisi, pemotongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dana atau pengadaan barang dan jasa oleh daerah.
34 Jeni Susyanti dan Ahmad Dahlan. Perpajakan Untuk Praktisi dan Akademis…………... 267-275.
35 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 1 Ayat 18.
2. Dana Perimbangan
Dana perimbangan yaitu dana yang bersumber dari pendapatan APBN, yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. 36
Manfaat dari pendapatan asil daerah menurut Undang-undang Nomor 34 Tahun 2006 adalah:
a. Untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah b. Untuk membiayai rumah tangga daerah
c. Pengembangan ekomoni daerah
d. Penyelenggaraan pemerintah daerah khususnya belanja administrasi umum (biaya pemeliharaan fasilitas publik).
3. Transfer Pemerintah Pusat a. Bagi hasil pajak.
b. Bagi hasil sumber daya alam.
c. Dana alokasi umum.
d. Dana alokasi khusus.
e. Dana otonomi khusus.
f. Dana penyesuaian.
4. Transfer Pemerintah Provinsi a. Bagi hasil pajak.
b. Bagi hasil sumber daya alam.
c. Bagi hasil lainnya.37
36 Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 6.
Salah satu retribusi daerah atau pajak daerah yang dapat dilakukan pemungutan secara peraturan perundang-undangan untuk meningkatkan pendapatan asli daerah adalah pajak reklame.
D. Pajak Reklame
Bagi pemerintah daerah, terutama pemerintah kota pajak reklame merupakan pajak yang cukup potensial. Pajak reklame sebagai pajak daerah juga memiliki beberapa keunggulan antara lain lokasi objek pajak jelas dan mudah di identifikasi, cukup mengambang (buoyant), relatif mudah untuk di implementasikan dan pertumbuhannya relatif stabil. Namum disamping memiliki keunggulan, pajak reklame juga mengandung beberapa kelemahan, misalnya tarif pajak dan dasar pengenaan pajaknya cukup kompleks yaitu dihitung berdasarkan jenis, ukuran, lokasi dan lama tampilnya. 38
Manajemen pajak reklame yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengoptimalkan penerimaan pajak ini antara lain melakukan sinkronisasi antara Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) dengan Tata Ruang Reklame (TRR). Hal itu supaya keberadaan papan reklame tidak menggangu pemandangan dan keindahan kota.
Reklame adalah benda, alat, perbuatan atau media yang menurut bentuk dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan dan mempromosikan untuk menarik perhatian umum terhadap barang, jasa, orang atau badan yang dapat dilihat, dibaca, didengar, dirasakan dan dinikmati oleh umum kecuali yang dilakukan oleh pemerintah.
Dalam hal reklame yang diselenggarakan oleh pihak ketiga nilai sewa reklame ditentukan berdasarkan jumlah pembayaran untuk masa pajak atau masa penyelenggaraan reklame dengan mempertimbangkan biaya pemasangan, pemeliharaan, lama pemasangan, nilai strategis lokasi reklame, jenis reklame, ketinggian reklame dan ukuran media. Pajak reklame adalah salah satu pajak daerah dan salah satu sumber pendapatan asli daerah yang menunjukan posisi strategis dalam hal pendanaan pembiayaan daerah adapun objek pajak reklame adalah semua penyelenggaraan reklame yang meliputi:
37 Mahmudi. Manajemen Keuangan Daerah. Jakarta; Erlangga. 2009, 17.
38 Mahmudi. Manajemen Keuangan Daerah. ……….., 24.
1. Reklame papan/billboard/videotron dan sejenisnya.
Yaitu reklame yang terbuat dari kayu, papan termasuk seng atau bahan sejenisnya yang dipasang atau di gantung atau dibuat pada bangunan tembok, dinding, pagar, pohon dan tiang yang baik yang bersinar maupun yang disinari. Sedangkan videotron biasanya menggunakan layar monitor besar berupa program yang berupa gambar atau tulisan berwarna yang dapat berubah-ubah terprogram dan dialiri listrik.
2. Reklame kain.
Yaitu reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan bahan kain termasuk kertas, plastik, karet atau bahan lain yang sejenisnya itu.
3. Reklame stiker.
Yaitu reklame yang berbentuk lembaran kertas, diselenggarakan dengan cara disebarkan, dipasang, digantung pada suatu benda dengan ketentuan luasnya tidak lebih dari dari 200 cm2 perlembar.
4. Reklame selebaran
Yaitu reklame yang berbentuk lembaran lepas diselenggarakan dengan cara disebarkan, diberikan atau dapat diminta dengan ketentuan tidak untuk ditempelkan, diletakan, dipasang atau digantungkan pada suatu benda yang lain.
5. Reklame berjalan termasuk pada kendaraan.
Yaitu reklame yang ditempatkan pada kendaraan yang ditempatkan pada kendaraan yang diselenggarakan dengan menggunakan kendaraan atau dengan cara dibawa orang lain.
6. Reklame udara.
Yaitu reklame yang diselenggarakan diudara dengan menggunakan gas, laser, pesawat atau alat lain yang sejenisnya.
7. Reklame suara.
Yaitu reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan kata-kata yang diucapkan atau dengan suara yang ditimbulkan dari atau oleh pelantara alat.
8. Reklame film/slide.
Yaitu reklame yang diselenggarakan dengan menggunakan klise berupa kaca atau film ataupun bahan-bahan sejenisnya sebagai alat untuk diproyeksikan dan dipancarkan pada layar atau benda lain yang ada di ruangan.
9. Reklame peragaan
Yaitu reklame yang diselenggarakan dengan cara memperagakan suatu barang dengan atau tanpa disertai suara.
Semua reklame yang dikategorikan diatas adalah objek pajak reklame. Sedangkan, yang tidak termasuk sebagai objek pajak reklame adalah:
a. Penyelenggaraan reklame melalui internet, televisi, radio, watra harian, warta mingguan, warta bulanan dan sejenisnya.
b. Label/merek produk yang melekat pada barang yang diperdagangkan yang berfungsi untuk membedakan dari produk yang sejenis lainnya.
c. Nama pengenal usaha atau profesi yang dipasang melekat pada tempat usaha atau profesi diselenggarakan sesuai dengan ketentuan yang mengatur nama pengenal usaha atau profesi tersebut.
d. Reklame yang diselenggarakan oleh pemerintah baik itu provinsi atau pun daerah, TNI/POLRI dan partai politik dengan tidak mencantumkan sponsor produk komersial.
Subjek pajak reklame adalah orang pribadi atau badan yang menggunakan reklame, wajib pajak reklame adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan reklame.39 Adapun dasar hukum pajak reklame adalah sebagai berikut:
1. Undang – undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah.
39 Jeni Susyanti dan Ahmad Dahlan. Perpajakan Untuk Praktisi dan Akademisi……….. 278-289.
2. Undang-undang nomor 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
3. Undang-undang nomor 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah.
4. Peraturan pemerintah nomor 58 tahun 2005 tentang pengelolaan keuangan daerah.
5. Peraturan daerah kabupaten majalengka nomor 2 tahun 2008 tentang urusan pemerintahan kabupaten majalengka.
6. Peraturan daerah kabupaten majalengka nomor 2 tahun 2009 tentang pokok-pokok pengelolaan keuanga daerah kabupaten majalengka.
Dari kedua definisi, jelas bagi kita bahwa disana terdapat titik persamaan antara pajak dan zakat. Titik persamaannya adalah:
1. Unsur paksaan dan kewajiban yang merupakan cara untuk menghasilkan pajak, juga terdapat dalam zakat karena keimanan dan keislamannya belum kuat maka pemerintah islam akan memaksanya bahkan memerangi mereka yang enggan membayar zakat, bila mereka memiliki kekuatan.
2. Bila pajak harus dibayarkan kepada lembaga masyarakat (Negara) puast atau daerah maka zakatpun demikian, karena pada dasarnya zakat itu harus diserahkan kepada pemerintah sebagai badan yang disebut dalam quran amil zakat (al-amilin alaiha).
3. Diantara ketentuan pajak ialah tidak ada imbalan tertentu para wajib pajak menyerahkan pajaknya selaku anggota masyarakat. Ia hanya memperoleh fasilitas untuk dapat melangsungkan kegiatan usahanya. Begitu juga dengan membayar zakat adalah selaku masyarakat islam juga menunaikan kewajibannya untuk menanggulangi kepentingan umat islam demi tegaknya agama allah dan tersebarnya dakwah kebenaran di muka bumi, tanpa mendapat kembali atas pembayaran zakat itu.
4. Apabila pajak pada zaman modern ini mempunyai tujuan ke masyarakat, ekonomi dan politik di samping tujuan keuangan maka zakat pun mempunyai tujuan yang lebih jauh dan
jangkauannya lebih luas semua itu sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat.40
40 Yusuf Qardawi. Fiqih Zakat. Jakarta; PT. Pustaka Litera AntarNusa. 1988, 999-1000.