15
Kebijakan Redaksi Metro TV dalam Memproduksi Tayangan Breaking News (Studi Kasus Pemberitaan Covid-19), Rahma Amelia Wiharti, Universitas Multimedia Nusantara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian
Saat ini dunia disibukkan dengan masalah yang sama yaitu penyebaran virus Covid-19 yang hingga saat ini angka penyebarannya masih mengalami kenaikan setiap harinya. Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang merupakan virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia (Kemkes.go.id, 2020).
Ada dua jenis virus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Tanda dan gejala umum infeksi
Covid-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada kasus Covid-19 yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian (Dinkes.bantulkab.go.id, 2020).
Kota Wuhan, Tiongkok adalah tempat pertama penyebaran kasus Covid- 19 yang ditandai dengan gejala mirip dengan pneumonia yang tidak diketahui etiologinya. Virus tersebut menyebarkan melalui kontak langsung dan udara. Pada 30 Januari 2020 World Health Organization (WHO) menetapkan kejadian tersebut sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia
16
Kebijakan Redaksi Metro TV dalam Memproduksi Tayangan Breaking News (Studi Kasus Pemberitaan Covid-19), Rahma Amelia Wiharti, Universitas Multimedia Nusantara
(KKMMD) atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) dan pada 11 Maret 2020, WHO sudah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020). Indonesia juga menjadi salah satu negara positif virus Covid-19, kasus pertama yang terjadi di Indonesia menimpa dua warga Depok, Jawa Barat pada 2 Maret 2020. Hal tersebut diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan (Kompas.com, 2020, para. 2).
Pemberitaan Covid-19 muncul diberbagai media nasional maupun internasional karena pemberitaan tersebut memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam pemberitaan terkait Covid-19 sebelum disebarluaskan, data harus valid sesuai data yang sebenarnya tanpa diubah sedikit pun sehingga masyarakat menerima berita terkait Covid-19 dari segi latar belakang virus, cara mencegah, dan data angka kasus dengan benar. Saat ini penambahan kasus di Indonesia, hingga 28 maret 2021 angka kasus positif Covid- 19 di Indonesia mencapai 1.496.085 dengan kenaikan kasus sebanyak 4.083 dalam sehari. (Kompas.com, 2021).
Meskipun telah ditetapkan sebagai suatu bencana nasional, sebagian besar masyarakat Indonesia masih bersikap apatis terhadap penyebaran Covid-19 ini.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Indonesia, Letjen TNI Doni Monardo mengatakan, berdasarkan penelitian atau survei yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) Pusat medio 7-14 September 2020, sekitar 44 juta jiwa penduduk
17
Kebijakan Redaksi Metro TV dalam Memproduksi Tayangan Breaking News (Studi Kasus Pemberitaan Covid-19), Rahma Amelia Wiharti, Universitas Multimedia Nusantara
Indonesia tidak percaya Covid-19 dan tidak yakin dirinya bisa tertular Covid-19.
Jumlah penduduk Indonesia yang tidak percaya Covid-19 tersebut mencapai 16%
dari sekitar 268 juta jiwa penduduk Indonesia saat ini. Sikap apatis tentang bahaya Covid-19 tersebut membuat orang enggan mematuhi protokol kesehatan Covid- 19. Ketidak-pedulian warga masyarakat terhadap 3M dan melakukan isolasi mandiri membuat potensi penularan Covid-19 di masyarakat akan tetap tinggi seperti terjadi di beberapa negara besar. (Beritasatu.com, 2020).
Dalam rangka menggugah kesadaran masyarakat terhadap penyebaran Covid-19, diperlukan adanya penyampaian informasi yang akurat dan dapat dipercaya kepada publik melalui sumber yang terpercaya, serta diperlukan adanya pencegahan penyebaran informasi yang tidak sesuai secara efektif. Oleh karena itu, diperlukan berbagai sumber terpercaya termasuk World Health Organization (WHO) dan organisasi lainnya dibawah Persatuan Bangsa-Bangsa bersamaan dengan pemerintah untuk dapat menyediakan informasi terbaru secara rutin dan informasi lainnya yang diperlukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 melalui berbagai media penyebaran (Alanezi, et. al, 2020).
Berangkat dari teori mengenai agenda setting dengan pernyataan bahwa media mampu memberi pengaruh kepada khalayak luas dengan menyampaikan berita dan menambahkan isu-isu yang dapat dianggap penting oleh publik atau khalayak luas, dengan cara ini agenda setting bisa dikatakan memiliki efek media massa yang paling populer dan paling banyak terjadi pada kebanyakan pemberitaan yang disampaikan oleh banyak media (Morissan, 2013, p. 494).
18
Kebijakan Redaksi Metro TV dalam Memproduksi Tayangan Breaking News (Studi Kasus Pemberitaan Covid-19), Rahma Amelia Wiharti, Universitas Multimedia Nusantara
Teori agenda setting sendiri dikemukakan oleh Walter Lipmann untuk pertama kalinya pada tahun 1965 melalui konsep “The World Outside and The Picture in Our Head”, hal ini disampaikan oleh Lipmann sebagai bentuk
penguatan pernyataan yang dikeluarkan oleh Bernard Cohen yang menyatakan
“The mass media may not be successful in telling us what to think, but they are stunningly successful in telling us what to think about”.
Gambaran realitas yang diberitakan oleh media hanya merupakan sedikit cuplikan dari besarnya realitas atau kejadian yang sebenarnya terjadi. Pada akhirnya, yang dianggap dan dinilai penting dan yang diberitakan oleh kebanyakan media akan juga dianggap sebagai hal yang penting pula oleh banyak khalayak atau publik yang sedikit demi sedikit terpapar oleh pemberitaan tersebut.
(Morissan, 2013, p. 497).
Everett Rogers dan James Dearing dalam (Morissan, 2013, p. 498) menyatakan bahwa proses agenda setting adalah sebuah proses dengan model linear atau satu arah yang didalamnya terdiri dari tiga proses dan tahapan yang saling mempengaruhi satu sama lainnya. tahapan tersebut diantaranya adalah tahapan agenda media (media agenda), tahapan agenda publik (public agenda) dan terakhir tahapan agenda kebijakan (policy agenda).
Awal tahun 2020, dunia diguncang dengan wabah virus corona yang menyebar sangat cepat termasuk Indonesia. Hal tersebut mendorong pemerintah Indonesia untuk membuat kebijakan upaya penanganan virus corona. Langkah ini diambil dengan berbagai pertimbangan untuk memutus rantai penularan Covid-
19
Kebijakan Redaksi Metro TV dalam Memproduksi Tayangan Breaking News (Studi Kasus Pemberitaan Covid-19), Rahma Amelia Wiharti, Universitas Multimedia Nusantara
19, Presiden Jokowi menetapkan peraturan tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 tahun 2020 dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 dan mulai berlaku sejak 1 April 2020 (Gitiyarko, 2020).
DKI Jakarta menjadi provinsi pertama yang mengajukan PSBB dikarenakan terdampak wilayah corona tertinggi di Indonesia. Pemberlakuan PSBB DKI Jakarta berlangsung selama 14 hari mulai 10 April 2020 hingga 24 April 2020. Kemudian, diikuti Tangerang, Depok, Bogor, dan Bekasi. Dengan adanya PSBB, pemerintah berharap pencegahan penularan Covid-19 lebih efektif diadakan sanksi tegas untuk yang melanggar (Gitiyarko, 2020).
Memasuki Mei 2020, terjadi tantangan besar untuk penanganan Covid-19.
Pada 24-25 Mei 2020 merupakan Hari Raya Idul Fitri dan masyarakat mempunyai adat untuk melakukan mudik. Sedangkan, peraturan PSBB di beberapa daerah masih diberlakukan karena kasus positif Covid-19 belum menunjukan penurunan.
Untuk mengantisipasi lonjakan yang beresiko memperbesar penyebaran atau penularan, Presiden Jokowi segera melakukan rapat terbatas tentang pelarangan mudik (Gitiyarko, 2020).
Upaya mencegah situasi ekonomi yang semakin tidak kondusif, pemerintah mulai melihat kemungkinan untuk melakukan relaksasi pembatasan sosial. Kebijakan pemerintah demi memperkuat pedoman bagaimana masyarakat dalam situasi normal baru diharapkan masyarakat mempunyai kesadaran untuk tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat sebab Covid-19 belum sepenuhnya
20
Kebijakan Redaksi Metro TV dalam Memproduksi Tayangan Breaking News (Studi Kasus Pemberitaan Covid-19), Rahma Amelia Wiharti, Universitas Multimedia Nusantara
hilang. Untuk petugas medis, cara mencegah dan mengatasi pasien yaitu pentingnya memakai pelindung lengkap saat menangani pasien yang terjangkit atau terinfeksi virus (Gitiyarko, 2020).
Dalam penelitian ini, penulis memilih media televisi yaitu Metro TV karena Metro TV merupakan televisi berita pertama di Indonesia pada 25 November 2000 dan dilihat dari budaya Metro TV sendiri berkomitmen untuk mengurangi tayangan-tayangan hiburan dan akan lebih mengedepankan pemberitaan peristiwa yang terjadi di dunia khususnya Indonesia. Selain itu, Metro TV secara khusus membuat program-program acara yang berkaitan dengan berita, salah satunya program Breaking News. Dalam program tersebut yang dibuat, Metro TV akan mengangkat nilai-nilai berita sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Metro TV juga akan mengangkat tentang budaya Indonesia sebagai bagian dari misi Metro TV untuk membangkitkan dan mempromosikan kemajuan Bangsa dan Negara dari segi etika, tayangan pornografi, kesadisan, identitas anak pelaku kejahatan, pemberitaan tidak berimbang, dan campur aduk fakta dan opini.
Sebagai salah satu stasiun televisi yang mengedepankan program pemberitaan dalam acaranya, Metro TV memiliki beberapa program berita yang disajikan kepada para audiens, salah satunya adalah program Breaking News. Terkait dengan Breaking News hampir semua stasiun televisi berita khususnya Metro TV menggunakan istilah ini sebagai berita sela atau berita terkini yang kemudian bisa menghentikan tayangan lain.
21
Kebijakan Redaksi Metro TV dalam Memproduksi Tayangan Breaking News (Studi Kasus Pemberitaan Covid-19), Rahma Amelia Wiharti, Universitas Multimedia Nusantara
Breaking News adalah program berita tercepat dan terbaru saat sebuah
kejadian atau peristiwa penting terjadi. Setiap program yang sedang berjalan akan dihentikan sementara untuk pemberitaan program Breaking News. Program berita ini termasuk salah satu program acara unggulan dari Metro TV. Media massa sebagai sarana informasi menjadi bagian terpenting dalam kehidupan manusia.
Media massa adalah media komunikasi yang melakukan penyebaran informasi secara massal atau menyalur (Bungin, 2008).
Penulis tertarik untuk mengetahui kebijakan redaksi Metro TV dalam memproduksi tayangan Breaking News dan memberitakan Covid-19. Penulis memilih Metro TV karena salah satu TV berita yang aktual dan cepat mengemas berita terbaru.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pembahasan yang sudah ada di latar belakang, rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana kebijakan redaksi Metro TV dalam memproduksi tayangan Breaking News dengan mengambil studi kasus pada pemberitaan Covid-19?
1.3 Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana proses produksi berita dalam program Breaking News tentang pemberitaan Covid-19?
2. Bagaimana redaksi Metro TV menjalankan agenda setting dalam penanganan pandemi Covid-19?
22
Kebijakan Redaksi Metro TV dalam Memproduksi Tayangan Breaking News (Studi Kasus Pemberitaan Covid-19), Rahma Amelia Wiharti, Universitas Multimedia Nusantara
1.4 Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui proses produksi berita dalam program breaking news dalam pemberitaan Covid-19
2. Untuk mengetahui redaksi Metro TV menjalankan agenda setting dalam penanganan pandemi Covid-19
1.5 Kegunaan Penelitian 1.5.1 Kegunaan Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan memberikan gambaran kepada akademisi bagaimana kebijakan redaksi dalam memproduksi Breaking News, sebagai bahan referensi, dan menjadi sumber bacaan khususnya di Fakultas Ilmu Komunikasi.
1.5.2 Kegunaan Praktis
Memberikan pengetahuan tentang pengaruh apa saja yang dapat menjadikan sebuah berita menjadi Breaking News bagi seorang jurnalis itu merupakan sebuah berita penting dan memberikan gambaran mengenai level apa saja yang dapat mempengaruhi konten media, sehingga dapat dijadikan dasar petimbangan saat hendak membuat suatu kebijakan dalam redaksi.
1.5.3 Kegunaan Sosial
Memberikan gambaran dan referensi mengenai suatu kebijakan redaksi dalam sebuah produksi berita Breaking News, sehingga bisa melanjutkan penelitian yang akan dilakukan selanjutnya.
23
Kebijakan Redaksi Metro TV dalam Memproduksi Tayangan Breaking News (Studi Kasus Pemberitaan Covid-19), Rahma Amelia Wiharti, Universitas Multimedia Nusantara
1.6 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan pada penelitian ini terletak pada waktu yang terbatas dan tidak dapat berdiskusi secara efektif seperti tatap muka dengan dosen pembimbing dan narasumber karena adanya social distancing.