1 1.1 Latar Belakang
Setiap individu pada kenyataannya memiliki pendapat atau persepsi dalam memandang dan menyimpulkan suatu permasalahan. Persepsi itu sendiri dilatarbelakangi oleh kepercayaan atau pengetahuan seseorang tentang sesuatu yang didapatnya dari berbagai pandangan beberapa individu maupun berdasarkan pengalaman yang dialaminya sendiri yang pada akhirnya menjadi akar yang kuat untuk disimpulkan oleh masing-masing individu tersebut. Dalam hal inilah sebuah proses pada retrorika, pemahaman hingga pada akhirnya menjadi sebuah perubahan sikap komunikan adalah efek yang paling penting bagi seorang komunikator yang mengharapkan sebuah proses komunikasi yang efektif. Tingkat pemahaman dan perubahan sikap yang dialami oleh komunikan tersebut sangat dipengaruhi oleh materi atau topik yang disampaikan oleh komunikator. Selain itu, kredibilitas komunikator juga menjadi hal pendukung yang sama pentingnya dalam usaha untuk mencapai tujuan adanya komunikasi tersebut.
Komunikator yang kredibel akan dengan sangat mudah meyampaikan pesannya sehingga tujuan dari proses komunikasi tersebut dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan. Sebelum komunikan memutuskan untuk mengikuti sebuah proses penyampaian pesan, komunikan tersebut pastilah terlebih dahulu akan melihat siapa komunikatornya. Hal ini menunjukkan bahwa komunikan akan
langsung melihat siapa komunikatornya terlebih dahulu agar komunikan merasakan adanya kepercayaan dan kecocokan antara pesan yang akan disampaikan sebagai topik dengan keahlian dan prestasi komunikator tersebut pada bidangnya. Hal inilah yang memicu dibutuhkannya sebuah usaha untuk meningkatkan tingkat kepercayaan (kredibilitas) komunikan terhadap diri komunikator. Kredibilitas sangat erat hubungannya dengan kepercayaan, dan kepercayaan atau pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat mempengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya mempengaruhi prilaku dan tindakan mereka terhadap sesuatu.
Sulap adalah hal yang masih kontroversi di indonesia, tidak sedikit masyarakat indonesia yang masih menganggap bahwa sulap sarat dengan ilmu hitam atau dunia supranatural. Pada akhir – akhir ini sulap kembali meramaikan pertelevisian indonesia, karna ada beberapa televisi yang menayangkan ajang kompetisi orang – orang yang berbakat didunia sulap. Hal ini membuka mata masyarakat bahwa sulap memiliki berbagai macam klasifikasinya tersendiri.
Namun tidak banyak juga masyarakat yang tidak mengerti jenis – jenis atau aliran dalam sulap secara keseluruhan.
“ yang saya tau nama aliran sulap cuma mentalis kayak deddy corbuzier sama ilusionist kayak demian, selebihnya saya cuma tau mereka pesulap tapi saya tidak tau nama alirannya apa, seperti limbad, joe sandy, rommy rafael dan yg baru seperti riana dari the next mentalis. Karena saya sering menonton acara sulap seperti itu di tv jadi saya lumanya tau bahwa pesulap itu nama alirannya banyak, tapi kalo ditanya alirannya ada apa saja, saya tidak ingat namanya.”1
1 Hasil wawancara dengan seorang karyawati Tiwi, 27 Januari 2014.
Master limbad yang terkenal dari salah satu ajang kompetisi pesulap di sebuah televisi indonesiapun kembali memunculkan persepsi masyarakat bahwa aliran fakir magic atau yang lebih dikenal dengan extreme magic atau seperti debus oleh masyarakat indonesia dianggap bahwa orang – orang yang mampu melakukan sulap ini adalah orang – orang yang memiliki kekuatan supranatural, padahal jika masyarakat mengerti bahwa sesungguhnya sulap bukanlah hal yang sarat dengan hal supranatural, melainkan adalah sebuah seni pertunjukan dengan menggunakan skill yang mempuni. Persepsi debus yang sarat dengan hal supranatural yang mengakar pada masyarakat inilah yang membuat masyarakat sendiri berfikir bahwa pesulap pastilah memiliki ilmu hitam atau kekuatan supranatural sebagai hal pendukungnya dalam menjalakan pertunjukan sulapnya, seperti yang di katakan oleh rea salah satu mahasiswi unpad ini :
“ saya yakin bahwa setiap pesulap memiliki ilmu hitam yang membuat mereka bisa melakukan hal – hal yang tidak masuk diakal seperti limbad yang sulapnya mirip seperti debus, karna saya pernah melihat pertunjukan debus secara langsung dan mereka pasti melakukan ritual – ritual yang berbau spiritual tersebut sebelum melakukan pertunjukan itu, jadi saya yakin bahwa limbadpun pasti melakukan hal yang sama. Saya adalah orang yang termasuk percaya bahwa hal spiritual seperti itu adalah nyata, karna saya pernah melihatnya secara langsung.”2
Persepsi sulap adalah hal yang sarat dengan ilmu hitam, spiritual dan klenik seperti inilah yang telah mengakar pada masyarakat indonesia. Walaupun masih ada yang percaya bahwa sulap adalah suatu pertunjukan dengan trik dibelakangnya, namun tidak sedikit juga yang masih percaya bahwa sulap sangat erat kaitannya dengan ilmu spriritual seperti itu. Persepsi seperti inilah yang
2 Hasil wawancara dengan seorang mahasiswi unpad Rea, 27 januari 2014
membuat para anggota UKM The SOUM ( Society Of Upi Magicians ) merasa bertanggung jawab untuk meluruskan pandangan atau persepsi tersebut.
Meyakinkan kepada masyarakat bahwa sulap bukanlah hal yang sarat dengan ilmu supranatural seperti itu, namun lebih kepada sebuah seni pertunjukan yang menunjukan skill pesulap dalam mengemas suatu keahlian menjadi tontonan yang seru dan menyenangkan.
“ Sulap merupakan suatu seni pertunjukan yang diminati sebagian besar masyarakat di dunia, karena pada penyajiannya sulap dapat membuat heran penontonnya akan rahasia dibalik penyajiannya. Sulap adalah gabungan dari berbagai seni yang ada misalnya seni tari, seni musik, seni rupa dan juga merupakan penerapan dari gabungan berbagai disiplin ilmu yang ada disekitar kita seperti ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu psikologi dan lain – lain. ” 3
Pertunjukan sulap adalah semata – mata seni permainan kelihaian tangan, manipulasi, hasil kerja dari suatu peralatan atau bahkan efek yang timbul dari suatu reaksi kimia yang kemudian dilakukan oleh pesulap yang telah berlatih sebaik mungkin sebelum pertunjukan tersebut dilakukannya di depan orang – orang. Oleh karena itulah sulap adalah hal yang dapat dipelajari oleh semua orang, dengan catatan bahwa orang tersebut mau berlatih dengan baik hingga mampu memanipulasi pandangan orang – orang yang melihat pertunjukan tersebut dengan terkagum – kagum.
Sulap dianggap sebagai satu kekuatan supranatural karena disesatkan oleh beberapa pesulap yang hanya memikirkan popularitas dan uang saja. Pesulap yang sejati tidak akan membiarkan orang lain berfikir terlalu jauh bahwa pesulap mempunyai kekuatan sihir.
3 (http://id.wikipedia.org/wiki/Sulap, diakses tanggal 30 Januari 2014).
“ Saat saya pertama kali mendaftar dan masuk ke UKM The SOUM ini motivasi saya adalah saya ingin menjadi pesulap yang memiliki kekuatan super seperti david copperfield yang bisa terbang, namun setelah saya mempelajari tentang sulap lebih dalam saya mulai kecewa bahwa sulap bukanlah sesuatu yang membuat saya memiliki kekuatan super seperti yang saya bayangkan sebelumnya, namun hal positifnya dengan mempelajari sulap saya jadi banyak belajar tentang ilmu lainnya yang sebelumnya tidak pernah menarik perhatian saya, seperti ilmu psikologi, komunikasi, bahkan sampai reaksi kimia untuk membuat trik sulap saya sendiri. Dan berada diantara keluarga The SOUM ini membuat saya lebih mengenal apa sebenarnya arti pesulap dan sulap yang sebenarnya yang membuat saya dan teman – teman sepakat bahwa kami ingin dihargai bukan karna kami sakti tapi karna kami lebih memandang sesuatu selangkah lebih maju dari orang – orang pada umumnya, bahwa sulap bukan berputar pada hal supranatural dibaliknya namun lebih pada kekreatifan seni yang memiliki meaning yang diolah pesulap dalam setiap pertunjukkannya.”4
Para anggota Unit Kegiatan Mahasiswa The SOUM yang telah diresmikan pada tanggal 20 Agustus 2010 ini di UPI, merasakan segala persepsi yang ada tentang sulap yang selama ini telah mengakar dimata masyarakat adalah sebuah persepsi yang salah dan terlalu jauh melenceng, berlatar belakangkan almamater yang menjunjung pendidikan adalah hal yang patut untuk dijunjung tinggi inilah yang kemudian menjadikan landasan para anggota untuk bersama – sama mengubah persepsi masyarakat yang telah salah tersebut. Dimulai dari masyarakat kecil dan paling dekat yaitu adalah masyarakat UPI terlebih dahulu. Langkah pertama inilah yang dirasa paling tepat bagi mereka untuk menjalankan tujuan mereka untuk mengubah persepsi bahwa sulap bukanlah hal yang berhubungan dengan ilmu spiritual. Tidak disangka bahwa untuk kalangan mahasiswa yang dirasa notabene adalah orang – orang yang lebih berfikir logis dari pada masyarakat pada umumnya yang tingkat pendidikannya lebih majemuk bukanlah menjadi hal pembeda lagi, karna pada kenyataannya masih banyak terdapat
4 Hasil wawancara dengan anggota The SOUM Tommy, 1 februari 2014
mahasiswa khususnya di kawasan UPI Bandung yang menganggap bahwa sulap adalah hal yang sarat dengan ilmu spiritual atau yang berbau klenik. Hal ini jelas menjadi fokus yang tidak bisa diacuhkan begitu saja oleh para anggota The SOUM tersebut, oleh karena itu sejak The SOUM di resmikan hingga kini mereka mencetuskan sebuah proker tahunan yang wajib dilakukan oleh para anggota dan pengurus The SOUM yaitu sebuah acara pertunjukan seni sulap dari berbagai aliran dengan setiap pertunjukan sulapnya haruslah diiringi dengan sebuah retorika yang baik untuk menjelaskan dasar dari pertunjukan sulap mereka tersebut. Inti dari pertunjukan sulap itu adalah adanya hal baru, atau pembelajaran yang baru untuk para penontop tentang dunia sulap dan arti dari pertunjukan sulap mereka yang ditujukan untuk mengubah persepsi penonton bahwa sulap bukanlah lagi sesuatu yang berkaitan tentang ilmu spiritual melainkan sebuah seni pertunjukan yang lebih meaning dan sarat akan pengetahuan yang diaplikasikan dalam seni pertunjukan sulap.
Sebuah acara yang kemudian lahir dengan nama SMR yaitu Soum Magic Revolution yang diadakan sekitar 3 jam pertunjukan seni sulap dengan berbagai aliran yang ada pada dunia sulap. Acara ini terbuka untuk umum dan di adakan di gedung pertemuan UPI dengan mengusung tema yang berbeda pada setiap tahunya. Pada tahun 2013 SMR kembali membuat sebuah gebrakan yang baru dengan mengusung tema “ The Magic of Indonesian Culture ” yang terbilang cukup sukses mengundang 300 orang penonton yang memenuhi gedung pertemuan UPI tersebut. Masih tetap dengan misi The SOUM untuk mengubah persepsi masyarakat tentang dunia sulap dalam acara ini tetap dilakukan dengan
sebuah pertunjukan seni sulap lengkap dengan sebuah retorika para pesulapnya akan sebuah trik atau pertunjukan sulap yang akan dilakukannya. Inilah yang membuat atau dirasa lebih mampu untuk mengkomunikasikan tujuan mereka untuk mengubah persepsi yang negatif tentang sulap kepada para penonton yang terdiri dari mahasiswa UPI dari berbagai fakultas dan jurusan yang ada di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung tersebut.
Kebanyakan pesulap untuk aliran tertentu ada yang hanya akan melakukan sebuah pertunjukan tanpa sebuah retorika terlebih dahulu, namun tidak untuk para pesulap yang terdiri dari para anggota, pengurus dan pendiri The SOUM tersebut sebagai pengisi acara. Sebuah retorika pengetahuan akan dilemparkan kepada penonton dan akan diamplikasikan melalui sebuah seni pertunjukan sulap yang akan mereka mainkan adalah sebuah keharusan dalam acara SMR ini. Untuk pengisi acara ini pun tidak main – main telah dipersiapkan dengan matang dan melalui proses penyaringan terlebih dahulu, ini bertujuan agar hal yang ingin mereka tekankan yaitu mengubah persepsi masyarakat tentang sulap agar tersampaikan pesannya dan dapat di terima dengan baik oleh semua penonton yang akan datang ke acara SMR tersebut. Proses penyaringan tersebut dilakukan dengan melihat beberapa hal seperti : prestasi pesulap atau calon pengisi acara, materi sulap yang akan dimainkan, sampai pada komunikasi pesulap dalam beretorika kepada penonton, hal ini menjadi tolak ukur untuk para pesulap ini layak dan mampu untuk tampil atau tidak.
Dalam masa persiapan untuk melakukan SMR ini dibutuhkan 6 bulan sebelum hari H pertunjukan dilakukan. Para anggota, pengurus dan pendiri The
SOUM yang terlibat dalam proses pergelaran acara SMR ini sangat mementingkan kesiapan hingga pada akhirnya sampai pada titik kelayakan para pesulap untuk tampil di acara SMR ini. Namun apakah sebenarnya kredibilitas pesulap yang telah dibentuk sebelumnya ini adalah hal yang menjadi faktor utama para penonton akhirnya dapat mengubah persepsinya tentang dunia sulap sendiri yang disebut sarat akan ilmu spiritual dan berbau klenik ini atau tidak. Hal inilah yang menjadi fokus pada peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut akan keterkaitannya antara kedua masalah ini pada kenyataanya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian pada latar belakang masalah diatas inilah maka permasalahan yang diteliti dapat dirumuskan :
“ Bagaimana hubungan antara kredibilitas pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan persepsi mahasiswa tentang magicians/pesulap.
1.3 Idetifikasi Masalah
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka permasalahan yang diteliti dapat diidentifikasikan sebagai berikut :
1. Bagaimana hubungan antara keahlian pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magician/pesulap ? 2. Bagaimana hubungan antara keahlian pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magician/pesulap ? 3. Bagaimana hubungan antara keterpercayaan pesulap SMR (Soum Magic
Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magician/pesulap ? 4. Bagaimana hubungan antara keterpercayaan pesulap SMR (Soum Magic
Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magician/pesulap ? 5. Bagaimana pandangan antara daya tarik pesulap SMR (Soum Magic
Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magicians/pesulap ? 6. Bagaimana pandangan antara daya tarik pesulap SMR (Soum Magic
Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap?
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
1. Hubungan antara keahlian pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magicians/pesulap
2. Hubungan antara keahlian pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap
3. Hubungan antara keterpercayaan pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magicians/pesulap
4. Hubungan antara keterpercayaan pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap
5. Hubungan antara daya tarik pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magicians/pesulap
6. Hubungan antara daya tarik pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap
1.5 Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut :
1.5.1 Kegunaan Teoretis
Dapat memperkaya khasanah kajian ilmiah di bidang komunikasi instruksional, khususnya yang berkaitan dengan kredibilitas pesulap dalam hubungan dengan efektivitas proses penyampaian pesan.
1.5.2 Kegunaan Praktis
Dapat dijadikanbahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan di Unit Kegiatan Mahasiswa The SOUM (Society Of UPI Magicians) UPI Bandung dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengeevaluasi program dan pembelajarannya guna lebih meningkatkan efektivitas program, terutama dalam mengembangkan kemampuan dan fungsi para komunikator pesulap dalam kegiatan rutin tahunan UKM The SOUM yang dijalankan.
1.6 Kerangka Penelitian 1.6.1 Kerangka Teoritis
Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kredibilitas sumber (source credibility) yang dikemukakan oleh Hovland, C. Janis, Kelley. H. Teori ini menyatakan bahwa orang lebih mungkin dipersuasi ketika
sumber komunikasi menunjukkan dirinya sebagai orang yang kredibel (Hovland, 1953 : 270).
Hovland juga menyatakan bahwa sumber komunikasi yang memiliki kredibilitas tinggi akan lebih efektif dalam mengubah opini seseorang dibandingkan dengan sumber komunikasi yang sumber kredibiltasnya rendah.
Hovland. Janis & Kelly (1953) menyebutkan bahwa paling tidak terdapat dua komponen kredibilitas sumber, yakni keahlian yang merupakan kesan yang dibentuk penerima tentang kemampuan sumber komunikasi persuasi berkaitan dengan topik yang dibicarakan serta dapat dipercaya yang merupakan kesan penerima tentang sumber komunikasi yang berkaitan dengan wataknya seperti kejujuran, ketulusan, bersikap adil, bersikap sopan, berperilaku etis atau sebaliknya.
Kredibilitas adalah seperangkat persepsi tentang sifat – sifat komunikator, dalam definisi ini terkandung dua hal: pertama kredibilitas merupakan persepsi khalayak, jadi tidak inhern dalam diri komunikator, kedua kredibilitas bergantung pada sifat – sifat komunikator (Rakhmat,2005:257).
Hovland menggambarkan peranan kredibilitas dalam proses penerimaan pesan dengan mengemukakan bahwa para ahli akan lebih persuasif dibandingkan orang yang bukan ahli. Suatu pesan persuasif akan lebih efektif apabila kita mengetahui bahwa penyampai pesan adalah orang yang ahli di bidangnya.
Persuasi tercapai karena karakteristik personal pembicara yang ketika menyampaikan pembicaraannya dapar kita percaya. Kita lebih penuh dan lebih cepat percaya pada orang – orang baik dari pada orang lain : ini berlaku umumnya pada masalah apa saja dan secara mutlak berlaku ketika tidak mungkin ada kepastian dan pendapat terbagi. Tidak benar anggapan sementara penulis retorika bahwa kebaikan personal yang diungkapkan pembicara tidak berpengaruh apa – apa pada kekuatan persuasinya; sebaliknya, karakternya hampir bisa disebut sebagai alat persuasi yang paling efektif yang dimilikinya. (Aristoteles dalam Rakhmat, 2005 : 255)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap penonton acara SMR ( Soum Magic Revolution) Magic of Indonesian Culture yang menyajikan pertunjukan seni sulap yang diiringi sebuah retorika tentang penerapan sebuah ilmu pengetahuan yang diaplikasikan dalam sebuah pertunjukan seni sulap dari beberapa pesulap profesional dari UKM The SOUM UPI dan persepsi penonton setelah menyaksikan acara tersebut.
Sikap positif penonton dalam acara SMR tersebut merupakan modal bagi penyelenggara yaitu UKM The SOUM agar dapat berdiri dengan baik ditengah – tengah masyarakat. Bagaimana kualitas dan citra dari UKM The SOUM itu sendiri tergantung pada bagaimana persepsi penonton setelah menyaksikan acara tersebut. Perubahan persepsi tentang “magicians/pesulap”
pada penonton dapat dilihat dari feedback yang diberikan saat proses retorika yang dilakukan oleh pesulap yang tampil, semangat serta ketertarikan mereka untuk mendengarkan dan ikut bergabung aktif dalam pastisipasi pada permainan sulap yang dimainkan oleh para pesulap The SOUM saat acara SMR.
Pada sebuah retorika, komunikan diharapkan dapat mengambil kesimpulan dari apa yang telah disampaikan oleh komunikator. SMR (Soum Magic Revolution) “ magic of Indonesian Culture” ini bertujuan untuk merubah persepsi orang tentang magicians atau pesulap yang memiliki sebuah kekuatan supranatural atau sarat dengan hal – hal berbau klenik tersebut, melainkan adalah sebuah seni permainan manipulasi yang terdapat pengetahuan yang diadopsi dari hukum fisika, reaski kimia, perhitungan matematika, ilmu psikologi hingga kecanggihan teknologi yang dijadikan menjadi sebuah bentuk seni permainan manipulasi yang kreatif. Pemberian pemahaman ini dilakukan oleh beberapa komunikator yang memiliki kredibilitas agar pesan yang ingin disampaikan maksimal.
Ketika komunikan mendapatkan pesan dari seorang komunikator yang kredibel, maka proses komunikasi akan berjalan dengan efektif. Berdasarkan pemaparan diatas, penulis menggunakan teori kredibilitas komunikator yang berasumsi bahwa efektifitas komunikasi ditentukan oleh kredibilitas komunikator yang didalamnya meliputi penilaian komunikan pada keahlian, kejujuran, dan daya tarik yang dimiliki oleh komunikator.
Sejalan dengan teori yang sudah dikemukakan di atas, dalam penelitian ini Source Credibilitty Theory digunakan untuk melihat bagaimana kredibilitas pembicara (komunikator) kegiatan SMR ( Soum Magic Revolution) dalam mengubah persepsi mahasiswa tentang “Magician/pesulap” dikalangan mahasiswa UPI Bandung.
1.6.2 Kerangka Konseptual
Penelitian ini terdiri dari dua variabel utama yakni Variabel X dan Variabel Y. Konsep pertama yaitu variabel X pada penelitian ini adalah :
Variabel X : Kredibilitas Pesulap SMR (Soum Magic Revolution)
Kredibilitas adalah kualitas, kapabilitas dan kekuatan untuk menimbulkan kepercayaan. Kredibilitas komunikator merupakan kualitas, kapabilitas, dan kekuatan orang yang akan menyampaikan pesan pada proses komunikasi untuk menghasilkan kepercayaan dimata komunikannya.
Acara SMR (Soum Magic Revolution) “ Magic of Indonesian Culture
” menghadirkan beberapa pesulap profesional dari The SOUM UPI sebagai komunikator. Acara SMR ini berisikan pertunjukan seni sulap dari beberapa pesulap profesional dari beberapa aliran yang berbeda dengan diiringi sebuah retorika terlebih dahulu terhadap ilmu pengetahuan yang akan diaplikasikan dalam sebuah seni permainan sulap dengan meminta penonton secara acak untuk ikut berpartisipasi dalam permainan sulap tersebut dan mengeti akan makna penerapan ilmu tersebut secara jelas. Para pesulap profesional dari UKM The SOUM ini terpilih melalui proses penyaringan terlebih dahulu dengan beberapa kriteria sebagai hasil akhir terpilihnya mereka untuk layak tampil sebagai pengisi acara dalam SMR ini. Kriteria pemilihan itu meliputi prestasi pesulap dalam dunia seni pertunjukan sulap selama ini, kemudian materi sulap yang akan dimainkan dan terakhir adalah kemampuan mereka beretrorika didepan khalayak dengan
baik. Kriteria ini dirasa paling tepat untuk membuat para pesulap ini layak untuk menjadi pengisi acara SMR tersebut.
Kredibilitas seorang komunikator pada sebuah acara yang mengandung unsur retorika merupakan hal yang sangat penting. Tercapainya sebuah pesan yang diharapkan oleh komunikator kepada komunikan sehingga keefektifan penyampaian pesan tersebut sampai pada komunikan sangatlah bergantung pada kredibilitas komunikator.
Seperti yang dikemukakan oleh Jalaludin Rakmat bahwa kredibilitas adalah seperangkat persepsi komunikan mengenai sifat – sifat komunikator.
Dalam defenisi ini terkandung dua hal, yakni : (1) Kredibilitas adalah persepsi komunikan, (2) Kredibilitas adalah segala sesuatu berkenaan dengan sikap komunikator, yang selanjutnya akan kita sebut sebagai komponen – komponen kredibilitas (Rakhmat, 2005 : 257).
Hovland, Jannis dan Kelly mengemukakan bahwa terdapat tiga indicator kredibilitas yaitu keahlian komunikator, keterpercayaan komunikator dan daya tarik komunikator:
a. Keahlian yaitu tingkat sejauhmana sumber dianggap mengetahui jawaban yang benar oleh audiens.
b. Keterpercayaan adalah tingkat audiens dimotivasi oleh sumber untuk mengkomunikasikan pendiriannya tanpa prasangka c. Daya tarik komunikator yang diindikasikan dari sikap yang
dimiliki komunikator ketika berdialog, apakah dengan ramah dan sopan atau tidak (Tan, 1981:85)
a. Keahlian Komunikator
Dalam penelitian ini, keahlian pesulap dalam acara SMR (Soum Magic Revolution) ini dapat diukur dari kemampuan penguasaan materi, cara beretorika yang baik dan menarik sehingga dapat dengan mudah mempengaruhi pendapat penonton, dan kemudian adalah keyakinan komunikator dalam menyampaikan informasi kepada peserta.
b. Keterpercayaan Komunikator
Keterpercayaan adalah kesan komunikan tentang komunikator yang berkaitan dengan wataknya, apakah komunikator dinilai jujur, tulus, bermoral, adil, sopan, dan etis. (Rakhmat,2005:260)
Keterpercayaan dapat diukur dengan kejujuran, etika dan pengemasan materi yang disampaikan oleh komunikator dalam memberikan materi yang sesuai dengan fakta yang ada.
c. Daya Tarik Komunikator
Faktor daya tarik (attractiveness) bayak menentukan berhasil atau tidaknya proses komunikasi. Pendengar atau pembaca bisa saja mengikuti pandangan seorang komunikator karena ia memiliki daya tarik dalam hal kesamaan (similarity), dikenal baik (familiarity), disukai (liking) dan fisiknya (physic). (Effendy,1993:44)
Daya tarik komunikator diukur meliputi hal – hal berikut ini :
Fisik (physic) :
Yaitu penampilan yang ditampilkan oleh komunikator secara fisik.
Dikenal Baik (familiarity) :
Atau keakraban, adalah sering tidaknya komunikator berinteraksi atau telah dikenal baik dengan komunikan, baik lewat media massa maupun interaksi secara langsung/tatap muka (Rakhmat, 2005:115).
Acara SMR ( Soum Magic Ravolution) ini merupakan sebuah acara pertunjukan seni sulap secara live yang non – formal, sehingga diupayakan agar terciptanya suasana yang akrab, hangat dan bersahabat.
Konsep kedua, yaitu variabel Y dalam penelitian ini adalah :
Variabel Y : Persepsi Mahasiswa Tentang Magicians/Pesulap
Setiap orang mempunyai kecendrungan dalam melihat sesuatu yang sama dengan cara yang berbeda – beda. Perbedaan tersebut bisa dipengaruhi dari banyak faktor, diantaranya adalah pengetahuan, pengalaman dan sudut pandangnya. Persepsi menurut jalaludin rakhmat adalah sebuah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). (Rakhmat, 2005:51)
Menurut mar’at dalam Aryanti (1995) mengemukakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkungannya. Mar’at mengemukakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuan terhadap objek psikologis.5
Dalam arti lain persepsi atau pandangan didapatkan dari penafsiran suatu objek, peristiwa atau informasi yang dilandasi oleh pengalaman hidup seseorang yang melakukan penafsiran itu. Dengan demikian dapat dikatakan juga bahwa persepsi adalah hasil pikiran seseorang dari memandang situasi tertentu yang diperoleh dari pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan – hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi setiap individu dapat sangat berbeda walaupun yang diamati adalah objek yang sama, karena setiap individu dalam menghayati atau mengamati suatu objek sesuai dengan berbagai faktor yang determinan yang berkaitan dengan individu tersebut.
Persepsi setiap individu terhadap suatu objek akan berbeda – beda, oleh karena itu persepsi memiliki sifat yang subjektif. Persepsi yang dibentuk oleh setiap individu dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya. Selain itu, salah satu yang perlu diperhatikan dari persepsi adalah bahwa persepsi secara subtansil bisa sangat berbeda dengan realitas. (Rakhmat, 2005: 51).
5 http://www.masbow.com/2009/08/apa-itu-persepsi.html diakses pada 27 maret 2014
Persepsi tentang “ magician/pesulap” dikalangan mahasiswa UPI Bandung tergantung pada pengetahuannya, pengalamannya dalam menafsirkan arti “magicians/pesulap” itu sendiri. Pegetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari setiap individu para mahasiswa UPI Bandung ini bisa saja dipengaruhi dari tayangan televisi, membaca baik dari buku maupun internet, diskusi dengan beberapa orang, dan bahkan pengalaman mencoba sulap sendiri atau melihat orang disekitarnya yang mempertunjukkan seni sulap kepadanya. Hasil kesimpulan dari penafsiran beberapa hal tersebutlah yang nanti akan menjadi persepsi setiap individu tersebut dalam memandang tentang “magicians/pesulap”.
Seperti yang dikemukakan oleh mar’at maka persepsi setiap individu ini dapat dilihat dari :
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah informasi yang diperoleh mahasiswa UPI Bandung melalui panca indra yang terbentuk dan didapatkan dari media (seperti media cetak, televisi, radio, internet) buku, diskusi dengan orang lain, maupun pengalaman yang pernah dialami sendiri mengenai informasi tentang “magician/pesulap”.
2. Pemahaman
Pemahaman adalah indikator sikap yang dilihat dari bagaimana mahasiswa UPI Bandung memahami informasi dalam mengartikan, menerjemahkan atau menyatakan sesuatu dengan caranya sendiri tentang pengetahuan yang pernah diterimanya.
1.6.3 Operasional Variabel
Variabel X : Kredibilitas Pesulap Acara SMR (Soum Magic Revolution)
Sub Variabel X.1 : Keahlian
Indikator : 1. Kemampuan magician/pesulap menguasai materi tentang dunia seni pertunjukan sulap saat ini
2. Kemampuan magician/pesulap menguasai materi tentang sulap dalam budaya indonesia (Indonesian Culture)
Sub Variabel X.2 : Keterpercayaan
Indikator : 1.Keterbukaan Magician/Pesulap Dalam Menyampaikan Pengalaman – Pengalaman Pribadinya Mempelajari Seni Pertunjukan Sulap
2. Ketenangan dan Kesabaran Magician/Pesulap Dalam Menjawab Pertanyaan Penonton
3. Magician/Pesulap Mengenalkan Data Dirinya
Sub Variabel X.3 : Daya Tarik
Indikator : 1. Magician/Pesulap Memakai Pakaian Dan Aksesoris Berwarna Hitam Sesuai dengan Standart Berpakaian Para Pesulap yang Terkesan Misterius dan Berwibawa
2. Magician/Pesulap Selalu Bersemangat dalam Menampilkan Seni Pertunjukan Sulap
3. Trik Permainan Sulap Yang ditampilkan Magician/Pesulap Selalu Baru
Variabel Y : Persepsi Tentang “ Magicians/Pesulap ” Di kalangan Mahasiswa UPI Bandung
Sub Variabel Y.1 : Pengetahuan Tentang “ Magician/Pesulap ”
Indikator : 1.Pengetahuan Mengenai Trik Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
2. Pengetahuan Mengenai Kode Etik dan Batasan Dalam Seni Pertunjukan Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung 3. Pengetahuan Mengenai Fakta Dalam Seni Pertunjukan
Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
Sub Variabel Y.2 : Pemahaman Tentang “ Magicians/Pesulap ”
Indikator : 1.Pemahaman Mengenai Trik Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
2.Pemahaman Mengenai Kode Etik dan Batasan Dalam Seni Pertunjukan Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
3.Pemahaman Mengenai Fakta Dalam Seni Pertunjukkan Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
1.6.4 Bagan Kerangka Pemikiran 1.7
Gambar 1.1 Sumber:
Model Teori Kredibilitas Sumber (Sumber: Rakhmat, 2002; Azwar, 1995;
Hovland,Jannis dan Kelly 1981 dan modifikasi penulis)
Teori Kredibilitas Sumber (source credibility)
“ Orang lebih mungkin dipersuasi ketika sumber komunikasi menunjukkan dirinya sebagai orang yang kredibel (That People are more likely to be persuaded when the source present it self as credible) ”
(Hovland, Jannis dan Kelly: 1953)
Variabel X: Kredibilitas Komunikator Acara SMR (Soum Magic Revolution)
Sub Variabel X1: Keahlian Komunikator Indikator:
1. Kemampuan magician/pesulap menguasai materi tentang dunia seni pertunjukan sulap
2. Kemampuan magician/pesulap menguasai materi tentang sulap dalam budaya indonesia (Indonesian Culture)
Sub Variabel X2: Keterpercayaan Komunikator Indikator:
1. Keterbukaan Magician/Pesulap Dalam Menyampaikan Pengalaman – Pengalaman Pribadinya Mempelajari Seni Pertunjukan SulapEtika Magician/Pesulap Dalam Menyampaikan Materi Tentang Seni Pertunjukan Sulap
2. Ketenangan dan Kesabaran Magician/Pesulap Dalam Menjawab Pertanyaan Penonton
3. Magician/Pesulap Mengenalkan Data Dirinya
Sub Variabel X3: Daya Tarik Komunikator Indikator:
1. Magician/Pesulap Memakai Pakaian Dan Aksesoris Berwarna Hitam ( Jas, Kemeja, Dasi, Jam Tangan, dan Gelang)
2. Magician/Pesulap Selalu Bersemangat dalam Menampilkan Seni Pertunjukan Sulap 3. Trik Permainan Sulap Yang ditampilkan
Magician/Pesulap Selalu Baru
Variabel Y: Persepsi Mahasiswa Tentang “Magicians/Pesulap”
Sub Variabel Y1 : Pengetahuan Tentang “Magicians/Pesulap”
Indikator : 1. Pengetahuan Mengenai Trik Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
2. Pengetahuan Mengenai Kode Etik dan Batasan Dalam Seni Pertunjukan Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
3. Pengetahuan Mengenai Fakta Dalam Seni Pertunjukan Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
Sub Variabel Y2 : Pemahaman Tentang “Magicians/Pesulap”
Indikator : 1. Pemahaman Mengenai Trik Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
2. Pemahaman Mengenai Kode Etik dan Batasan Dalam Seni Pertunjukan Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
3. Pemahaman Mengenai Fakta Dalam Seni Pertunjukkan Sulap Pada Mahasiswa UPI Bandung
Variabel X:
Kredibilitas Pesulap SMR (Soum Magic Revolution)
Sub Variabel:
1. Keahlian Komunikator 2. Keterpercayaan Komunikator 3. Daya Tarik Komunikator
Variabel Y:
Persepsi Mahasiswa Tentang
“Magicians/Pesulap”
Sub Variabel:
1. Pengetahuan tentang
“magician/pesulap”
2. Pemahaman tentang
“magician/pesulap”
Sejauh Mana Hubungan Antara Kredibilitas Pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan Persepsi Mahasiswa tentang “ Magician/Pesulap “
Kredibilitas Pesulap SMR (Soum Magic Revolution) dengan Persepsi Mahasiswa tentang Magician/Pesulap.
Kredibilitas Pesulap Persepsi Mahasiswa
1.7 Hipotesis Penelitian
1.7.1 Hipotesis
Hipotesis dapat diartikan seagai satu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.
(Arikunto, 2002:97). Agar sebuah teori dapat diuji, maka teori tersebut harus dirinci dalam keadaan proposisi – proposisi yang disebut hipotesis.
Hipotesis penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan kredibilitas komunikator SMR (Soum Magic Revolution) yang diadakan oleh The SOUM (Society Of Upi Magicians) dengan persepsi mahasiswa tentang magician/pesulap
1.7.2 Sub Hipotesis
Selanjutnya dirinci dalam sub-sub hipotesis sebagai berikut :
1. H0 : Tidak ada hubungan antara keahlian komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magicians/pesulap
H1 : Ada hubungan antara keahlian komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magians/pesulap
2. H0 : Tidak ada hubungan antara keahlian komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap
H1 : Ada hubungan antara keahlian komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap
3. H0 : Tidak ada hubungan antara kepercayaan komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magicians/pesulap
H1 : ada hubungan antara kepercayaan komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magicians/pesulap
4. H0 : Tidak ada hubungan antara kepercayaan komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap
H1 : ada hubungan antara kepercayaan komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap
5. H0 : Tidak ada hubungan antara daya tarik komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magicians/pesulap
H1 : Ada hubungan antara daya tarik komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pengetahuan mahasiswa tentang magicians/pesulap
6. H0 : Tidak ada hubungan antara daya tarik komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap
H1 : Ada hubungan antara daya tarik komunikator SMR (Soum Magic Revolution) dengan pemahaman mahasiswa tentang magicians/pesulap
1.8 Metode Penelitian & Teknik Penelitian 1.8.1 Metode Penelitian
Berdasarkan atas sifat–sifat masalah yang diangkat dalam penelitian, maka peneliti memilih untuk menggunakan metode koresional, yaitu suatu metode yang mencoba meneliti hubungan antara variabel–variabel. Metode korelasi bertujuan untuk meneliti sejauh mana variasi pada suatu faktor berkaitan dengan faktor lain.
Metode koresional adalah kelanjutan dari metode deskriptif, dimana kita menghimpun data, menyusun secara sistematis faktual dan cermat dan kemudian menjelaskan hubungan diantara variabel, menguji hipotesis dan melakukan prediksi (Isaac dan Michael dalam Rakhmat, 2002:27).
Hubungan yang muncul dalam penelitian ini menggambarkan hubungan antara variabel pengaruh dan variabel terpengaruh. Didalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode korelasi sederhana (simple correlational) karena hanya akan menghubungkan dua variabel saja.
Metode korelasional digunakan untuk : (1) mengukur diantara berbagai variabel, (2) meramalkan variabel tak bebas dari pengetahuan kita tentang variabel bebas, dan (3) meratakan jalan untuk membuat rancangan penelitian eksperimental (Rakhmat, 2002:31)
Metode penelitian yang diguakan dalam penelitian ini adalah metode koresional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel yang ada dalam penelitian, yaitu variabel X : Kredibilitas Komunikator SMR (Soum Magic Revolution) yang diadakan oleh The SOUM (Society Of Upi Magicians) dan variabel Y : Persepsi Mahasiswa Tentang Magicians/Pesulap. Hubungan yang muncul dalam penelitian ini menggambarkan hubungan antara variabel (X) dan variabel terpengaruh (Y).
1.8.2 Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan dengan berbagai cara, yaitu :
1. Observasi
Merupakan pengamatan peneliti ke lokasi penelitian untuk melihat dan mencatat berbagai aspek yang berhubungan dengan materi penelitian. Pemahaman terhadap hubungan kredibilitas komunikator
SMR (Soum Magic Revolution) The SOUM dengan persepsi mahasiswa tentang magician/pesulap
2. Angket
Yaitu merupakan pengumpulan data melalui daftar pertanyaan terstruktur, dan mencangkup pertanyaan – pertanyaan. Angket digunakan sebagai pengumpulan data primer penelitian. Angket yang berisi daftar pertanyaan yang dibuat akan disebarkan kepada mahasiswa UPI Bandung tentang pandangan atau persepsi mereka tentang magician/pesulap setelah dan sebelum datang melihat acara SMR (Soum Magic Revolution) tersebut.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada pihak – pihak terkait untuk mengumpulkan data sekunder dengan cara mengadakan diskusi yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan. Informasi yang didapat akan melengkapi data yang di peroleh melalui angket. Wawancara ini dilakukan terhadap para pendiri, pengurus, dan anggota UKM The SOUM (Society Of Upi Magicians) serta peneliti juga menambahkan terwawancara dari beberapa orang dari kalangan masyarakat dan mahasiswa UPI Bandung yang meyaksikan acara SMR dan yang tidak sebagai bahan pendukung dalam menulis penelitian ini.
4. Studi Kepustakaan
Melakukan penelusuran kepustakaan sekaligus menelaah dengan tujuan untuk mendalami prinsip – prinsip dasar, teori – teori serta
konsep yang telah dikemukakan oleh para ahli terdahulu yang mempunyai wawasan. Dalam hal ini bisa berupa buku, majalah, diklat atau sumber – sumber lainnya
5. Internet
Mencari data – data yang diperlukan untuk melengkapi data yang diperlukan oleh peneliti.
1.8.3 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif, yaitu memaparkan data-data sesuai dengan jawaban responden dan teknik analisis inferensial, yaitu teknik yang menganalisa data kuantitatif serta menarik kesimpulan tentang ciri – ciri populasi yang bersangkutan. Korelasi sperman ordinal atau tata jenjang. Biasanya data dianalisa merupakan angka yang berjenjang, misalnya 1,2,3,4, dan 5. Angka – angka tersebut sebenarnya bukan angka sebenarnya atau hanya simbol saja.
Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel yang diteliti dan melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah.
Dalam arti lain penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul.
Besarnya korelasi adalah 0 s/d 1. Korelasi dapat positif, yag artinya searah : jika variabel pertama besar, maka variabel kedua semakin besar juga.
Korelasi negatif, yang artinya berlawanan arah : jika variabel pertama besar, maka variabel kedua semakin mengecil. Berdasarkan adanya kesesuaian antara fungsi korelasi spearman dengan penelitian, maka penulis menggunakan teknik uji spearman dalam penelitian ini.
1. Teknik Analisis Deskriptif
Analisis ini dilakukan untuk memberikan gambaran – gambaran mengenai latar belakang responden dan memaparkan data – data perhitungan statistik responden berdasarkan perhitungan statistik yang telah dikelompokkan dan ditabulasikan. Teknik analisis data yang akan digunakan adalah teknik analisis data deskriptif yang berfungsi untuk menggambarkan data yang merupakan jawaban responden untuk setiap pertanyaan dalam kuesioner (angket) penelitian.
Analisis data deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai objek penelitian berdasarkan data dan variabel yang diperoleh dari kelompok subjek yang diteliti. Untuk memudahkan penulis dalam menginterpretasikan hasil penelitian dalam tabel. Maka penulis mengacu penafsiran data, sebagai berikut :
0% : tidak seorangpun dari responden 1 – 25% : sangat sedikit dari responden
26 – 49% : sebagian kecil atau hampir setengah dari responden 50% : setengah dari responden
51 – 76% : sebagian besar dari responden 77 – 99% : hampir seluruh dari responden 100% : seluruh responden
(Arikunto, 1998:246)
Jawaban responden atas sejumlah pertanyaan dan pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner akan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Perhitungan persentase dapat dilakukan dengan rumus :
Keterangan : P= Presentase f = Frekuensi n = Jumlah
2. Teknik Analisa Statistik Inferensial ( Korelasi Pangkat Spearman)
Analisis statistik inferensial ditujukan untuk mencari hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Untuk mengetahui derajat hubungan (koefisien korelasi) diantara variabel-variabel (bebas dan terikat) diperlukan sebuah prosedur statistik yang dinamakan analisis hubungan, dengan
P = f x 100%
n
menggunakan ukuran asosiasi yang disesuaikan dengan jenis (skala pengukuran) data (Rakhmat, 2001:134).
Dalam penelitian ini memiliki skala pengukuran ordinal. Untuk mengetahui derajat hubungan antara variabel bebas dan terkait digunakan tes uji koefisien korelasi Rank Spearman (rs) dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
rs = Koefisien korelasi rank spearman
di2 = Jumlah hasil pengurangan antara rangking yang terdapat pada variabel X dan Y melalui pengkuadratan
n = Jumlah sampel dalam penelitian (Siegel, 1997:253)
Sedangkan untuk data yang dianalisis memiliki rank kembar yang cukup banyak (lebih dari 20%), maka digunakan rumus sebagai berikut :
r
s=
√
Keteragan :
rs = koefisien korelasi rank spearman
∑x2 = jumlah rangking yang sama pada variabel X
∑y2 = jumlah rangking yang sama pada variabel Y
∑di2 = jumlah hasil pengurangan antara rangking yang terdapat pada variabel X dan variabel Y melalui pengkuadratan (Siegel, 1997:253-252)
Pada penelitian ini variabel yang akan dianalisis yaitu Hubungan Antara Kredibilitas SMR (Soum Magic Revolution) yang diadakan oleh The SOUM (Society Of Upi Magicians) (variabel X) dengan Persepsi
“Magicians/Pesulap” di kalangan Mahasiswa UPI Bandung (variabel Y).
Pengujian signifikasi dari koefisien korelasi menggunakan statistik uji t dengan rumus :
Dimana : db = n - 2 Hipotesis pengujian:
H0 : ρ = 0 (tidak ada korelasi) H1 : ρ # 0 (ada korelasi)
Untuk penelitian ini tingkat signifikansi (α ) ditetapkan sebesar 0,05 pada tes dua sisi (two-tailed test). Kriteria pengujian:
- Jika t hitung ≥ t tabel ; maka H0 ditolak, H1 diterima yang berarti ada hubungan antara variabel yang diteliti.
- Jika t hitung < t tabel ; maka H0 diterima, H1 ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara variabel yang diteliti.
Untuk mengetahui seberapa besar hubugan variabel X dan Y, digunakan kriteria Guilford (Rakhmat, 2001:29) sebagai berikut :
Besarnya nilai Kategori
≤ 0,20
> 0,20 – 0,40
> 0,40 – 0,70
> 0,70 – 0,90
>0,90
Hubungan rendah sekali Hubungan rendah tapi pasti Hubungan yang cukup berarti Hubungan yang kuat
Hubungan yang sangat tinggi
1.9 Populasi dan Sampel 1.9.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yag terdiri atas : objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009:80).
Seperti yang dikutip Arikunto (2002:108-109), bahwa apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi. Objek pada populasi diteliti, hasilnya dianalisis, disimpulkan dan kesimpulan itu berlaku untuk seluruh populasi.
Populasi dari penelitian ini adalah peserta yang hadir pada acara SMR (Soum Magic Revolution) yang bertema “ Magic of Indonesian Culture ” pada juli 2013 lalu yang berjumlah 300 orang. Peserta yang hadir adalah mahasiswa UPI yang datang dari berbagai falkutas dan jurusan yang ada di UPI Bandung. Peserta adalah mereka yang mendapatkan efek secara langsung dari komunikasi yang terjadi pada acara ini. Selain itu, peserta merupakan komunikan pada acara ini dimana pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator tentu saja ditujukan untuk komunikan.
1.9.2 Sampel
Sampel adalah sebagaian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Yang dimaksud dengan menggeneralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi (Arikunto, 2002:131-132).
Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampling acak sederhana William G.Cochran dalam bukunya Sampling Techniques mengatakan sebagai berikut :
“ sampling acak sederhana adalah sebuah metode seleksi terhadap unit-unit populasi, unit-unit tersebut harus diacak seluruhnya.
Masing – masing unit atau unit satu dengan unit lainnya memiliki peluang yang sama untuk dipilih. Pemilihan dilakukan dengan table angka random atau menggunakan program komputer ” (Prijana, 2005:7).
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik pengambilan sampel secara acak (Simple Random Sampling) kepada mahasiswa UPI Bandung. Dalam Teknik Simple Random Sampling ini dimaksudkan bahwa teknik pengambilan anggota sampel atau populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu dimana setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai sampel.
Menentukan ukuran sampling acak sederhana perlu mempertimbangkan parameter ukurnya. Umumnya dalam penelitian sosial menggunakan parameter untuk taksir proporsi (%). Cara penggunaan metode ini, jika jumlah satuan – satuan elementer dalam populasi adalah N dan besar sampel yang akan diambil n, maka hasil bagi itu dinamakan interval sampel biasanya diberi kode I. Unsur pertama dalam sampel dipilih secara acak (undian) diantara satuan elementer bernomor urut 1 dan satuan bernomor urut I dari populasi.
Andaikan yang terpilih itu adalah satuan elementer bernomor urut s maka unsur – unsur selanjutnya dalam sampel dapat ditentukan sebagai berikut :
Unsur pertama : s Unsur kedua : s + I
Unsur ketiga : s + 2I, dan seterusnya.
Penentuan jumlah sampel yang pertama menggunakan rumus sebagai berikut :
[ ]
Dimana
Keterangan :
n : sampel (size of sample) : sampel asumsi
t : Koefisien Kepercayaan 90% (1,64) d : Sampling eror 10%
p & q : parameter proporsi binominal
N : Populasi (50% : 50%) (Prijana, 2005:8)
Catatan :
“ Sampel asumsi dapat diperoleh dari penelitian orang lain yang serupa. Jika tidak sampel asumsi dapat diperoleh sendiri oleh peneliti dengan ketentuan sebagai berikut : Peneliti diperbolehkan memberikan asumsi terhadap proporsi binomial pada penelitiannya sendiri, jika tidak dapat maka gunakan saja (50%:50%) untuk p & q. Jika sampling eror dari penelitian orang lain tidak didapatkan maka peneliti diperbolehkan memberikan asumsi terhadap sampling eror. Disini peneliti tidak dibenarkan untuk secara langsung memberikan ukuran asumsi ” (Prijana, 2005:9).
Dari hasil penelitian didapat : t : 1,64 (90%)
p&q : 50%:50%
0% (didapat dari asumsi)
d : 0,1 (dari hasil penelitian sebelumnya) N : 300
= 67,24 ≈ 67
Dari hasil perolehan sampel asumsi diatas dilakukan perhitungan untuk unit sampel, yang mana unit sampel inilah yang akan digunakan sebagai sampel penelitian. Adapun rumus perhitungannya sebagai berikut :
[ ]
[ ] = 54,91 dibulatkan menjadi 55
Berdasarkan hasil hitung tersebut, maka peneliti mengambil sample sebanyak 55 sampel yang akan diteliti.
Jadi ukuran sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 55 orang dari populasi 55 orang. Cara mengambil sampel 55 orang ini menggunakan sistem kocok arisan, dimana populasi yang berjumlah sebanyak 300 orang dikocok hingga keluar sebanyak 55 nomor. Dengan menggunakan cara ini maka dari 55 nomor yang keluar, yang akan dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah nomor : 118, 39, 1, 50, 126, 119, 23, 53, 2, 12, 76, 220, 85, 15, 10, 210, 17, 63, 88, 130, 145, 54, 69, 36, 258, 43, 150, 121, 178, 21, 11, 167, 9, 77, 32, 105, 24, 22, 6, 197, 26, 3, 125, 262, 45, 129, 289, 90, 5, 44, 8, 133, 48, 213, 79.
1.10 Uji Validitas dan Reabilitas
Ketepatan pengujian suatu hipotesa tentang hubungan variabel penelitian sangat tergantung pada kualitas data yang dipakai dalam pengujian tersebut. Data penelitian tersebut tidak akan tepat mengenai sasaran penelitian apabila alat pengukur yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian tersebut tidak memiliki validitas dan reabilitas yang tinggi.
Validitas menunjukkan sejauh mana relevansi pertanyaan terhadap apa yang ditanyakan atau apa yang ingin diukur dalam penelitian. Tingkat
validitas kuesioner diukur berdasarkan koefisien validitas yang dalam hal ini menggunakan koefisien korelasi item total yang dikoreksi.
Untuk memperoleh data yang tepat dari seluruh proses pengumpulan data, maka perlu adanya ketepatan dan alat ukur dengan memperhatikan 3 aspek vital dari suatu alat ukur yaitu : kemantapan, ketepatan, dan homogenitas dari pertanyaan – pertanyaan yang akan diajukan. Peneliti melakukan uji validitas dan reliabilitas suatu hasil penelitian sosial sangat ditentukan oleh alat ukur yang digunakan, apabila alat ukur yang dipakai tidak valid atau tidak dapat dipercaya, maka hasil penelitian yang diperoleh tidak akan menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Untuk mengatasi hal ini diperlukan dua macam pengujian yaitu : test of validity (uji kesahihan) and test of reability (uji keandalan) guna untuk mengetahui kesungguhan jawaban responden.
1. Test of Validity
Uji validitas adalah keabsahan atau akurasi suatu alat ukur. Uji validitas ini diperlukan untuk menunjukkan sejauhmana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur. Sekiranya peneliti menggunakan kuesioner di dalam pengumpulan data penelitian, maka kuesioner yang disusunnya harus mengukur apa yang ingin diukurnya. Setelah kuesioner tersebut tersusun dan teruji validitasnya, dalam praktek belum tentu data yang terlampirkan adalah data yang valid (Singarimbun, 2006:124).
Uji validitas yang digunakan adalah kolerasi product moment, yang dasar pengambilan keputusan : jika r positif, serta r ≥ 0.30 maka item peryataan tersebut valid, namun jika r tidak positif, serta r ≤ 0.30 maka item peryataan tersebut tidak valid.
Untuk pengujian validitas instrumen penelitian yang berupa skor yang memiliki tingkatan (interval), rumus yang digunakan korelasi product moment, yaitu :
(Djarwanto,1996:172)
Keterangan :
rxy : Korelasi antara instrumen pertanyaan secara keseluruhan Sx : Varians jawaban responden untuk instrumen ke i
Sy : Varians jawaban responden keseluruhan instrumen
: Jumlah jawaban responden untuk keseluruhan instrumen yang dikuadratkan.
x2: Jumlah jawaban responden untuk instrumen ke – i yang dikuadratkan
2. Test of Reliability
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukan sejauhmana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Uji reliabilitas diperlukan untuk mengetahui ketetapan atau tingkat presisi suatu ukuran atau alat ukur. Suatu alat ukur mempunyai tingkat reliabilitas yang tinggi bila alat ukur
y2
tersebut diandalkan dalam arti pengukurannya dan dapat diandalkan karena penggunaan alat ukur tersebut berkali – kali akan memberikan hasil yang serupa.
Untuk menguji reliabilitas dalam penelitian ini, penulis menggunakan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach, yaitu :
(Azwar, 1995:184)
Keterangan :
: Koefisien reliabilitas Alpha k : Banyaknya Belahan
: Jumlah varians dari tiap Instrumen : Varians Keseluruhan Instrumen
Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Instrumen yang valid dan reliabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel (Sugiyono, 2009:122).
Dikatakan reliabel jika nilai koefisien reliabilitas ≥ 0,7
Jika peneliti menggunakan angket dalam pengumpulan data penelitian, maka item – item yang disusun pada angket tersebut merupakan alat test yang harus mengukur apa yang menjadi tujuan penelitian. Validitas yang
2 2
1 1 x
i
S S k
k
Si2
2
Sx
dilakukan adalah menguji sejauh mana pertanyaan – pertanyaan dalam angket penelitian mengenai hubungan antara kredibilitas komunikator SMR (Soum Magic Revolution) yang diadakan oleh The SOUM (Society of Upi Magicians) dengan persepsi tentang “magicians/pesulap” dikalangan mahasiswa UPI Bandung.
Penentuan valid atau tidaknya item pertanyaan-pertanyaan menggunakan batas koefisien korelasi terkecil sebesar 0.300 sehingga item yang memiliki koefisien korelasi kurang dari 0,300 dinyatakan gugur. Sedangkan pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan bantuan software SPSS yaitu dengan mencari nilai Split Half dari masing – masing instrumen. Jika nilai Split Half lebih besar dari 0,700 maka dapat disimpulkan bahwa pertanyaan – pertanyaan dalam instrumen tersebut reliabel atau memiliki keterpercayaan, keterandalan dan konsistensi sebagai suatu alat ukur (instrumen). Kuisioner untuk melakukan uji validitas dan realiabilitas disebarkan ke 30 responden (Sugiyono,2009:141)
Berikut merupakan hasil dari perhitungan uji validitas dan reliabilitas :
“ Hubungan Antara Kredibilitas Komunikator SMR Dengan Persepsi Tentang Magician/Pesulap Di Kalangan Mahasiswa UPI Bandung ”
N = 10
Tabel 1.1
Hasil Uji Validitas dan Realibilitas Variabel X dan Y
Variabel Pernyataan R Hitung Titik Kritis Keterangan
X1 : Keahlian
5 0.535 0.3 Valid
6 0.410 0.3 Valid
7 0.603 0.3 Valid
8 0.869 0.3 Valid
9 0.869 0.3 Valid
10 0.571 0.3 Valid
X2 : Keterpercayaan
11 0.869 0.3 Valid
12 0.683 0.3 Valid
13 0.571 0.3 Valid
14 0.869 0.3 Valid
X3 : Daya Tarik
15 0.683 0.3 Valid
16 0.869 0.3 Valid
17 0.869 0.3 Valid
Y1 : Pengetahuan
18 0.869 0.3 Valid
19 0.840 0.3 Valid
20 0.603 0.3 Valid
Y2 : Pemahaman 21 0.790 0.3 Valid
22 0.366 0.3 Valid
23 0.545 0.3 Valid
Tabel 1.2 Reliability Statistics Cronbach's
Alpha Cronbach's Alpha Based on
Standardized Items N of Items
0.952 0.952 19
Berdasarkan tabel diatas, diperoleh informasi bahwa seluruh instrumen pertanyaan yang digunakan dalam penelitian memiliki nilai koefisien validitas > titik kritis (0,300) sehingga seluruh instrumen pernyataan tersebut dinyatakan Valid. Untuk pengujian reliabilitas, diperoleh nilai Alpha Cronbach sebesar 0,899 dan 0,809 > 0,700 dan dinyatakan Reliabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seluruh instrumen pernyataan yang digunakan, sudah mampu
mengukur apa yang seharusnya diukur dan sudah teruji kesahihan atau keabsahannya, sehingga seluruh instrumen pernyataan tersebut layak digunakan dalam penelitian.
1.11 Waktu dan Tempat Penelitian
Lokasi penelitian adalah diwiliyah Bandung, yaitu bertempat di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jln. Dr.Setiabudi No 229 Bandung 40154.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari 2014 – Juli 2014.