• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLAAN KERAGAMAN DAN RESOLUSI KONFLIK DI SEKOLAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGELOLAAN KERAGAMAN DAN RESOLUSI KONFLIK DI SEKOLAH"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

PENGELOLAAN KERAGAMAN

DAN RESOLUSI KONFLIK DI SEKOLAH

PENULIS: CEPRUDIN

CERITA SEKOLAH DAMAI CERITA SEKOLAH DAMAI

Kumpulan Narasi Praktik Baik, Resolusi Konflik, dan Pengelolaan Keragaman dari Lima SMA Negeri di Jawa Tengah

(2)

Judul: Cerita Sekolah Damai Penulis Narasi: Ceprudin

Kontributor: Siswanto, S.Pd., Siti Aliyah, S.Ag, M.Pd., Sagino, S.S, Ahmad Fadlol, S. Ag., M.Pd.I., Soleh Amin, S.Pd., M.Pd., Dra. Musrifah, M.Si., Drs. Supriyanto, M. Pd., Muhammad Sholeh, M. Pd., Dr. Endah Dyah Wardani, M.Pd., Rubiyatun, S.Pd.

Editor: Ahmad Aminuddin Penyelia Aksara: Siti Nur Aisyah Desain dan tata letak: Jumrotin Diterbitkan Wahid Foundation, 2021

Alamat Wahid Foundation

Jl. Taman Amir Hamzah No. 8 Jakarta 10320 Telp. 021-3928233 / 3145671

Fax. 021-3928250

E-mail: [email protected] ISBN: 978-623-338-508-4

Buku ini diproduksi dengan dukungan Pemerintah Australia melalui program Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ2). Pandangan dalam publikasi ini merupakan pandangan dari para narasumber dan penulis. AIPJ2 dan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) tidak bertanggung jawab secara hukum atas materi yang tercantum dalam buku ini.

(3)

PENULIS: CEPRUDIN

CERITA SEKOLAH DAMAI

PENGELOLAAN KERAGAMAN DAN RESOLUSI KONFLIK DI SEKOLAH

Kumpulan Narasi Praktik Baik, Resolusi Konflik, dan Pengelolaan Keragaman dari Lima SMA Negeri di Jawa Tengah

(4)

Daftar Isi Pengantar

Bagian I

Meniru Teori Marketing Rumah Makan: Cerita SMAN 1 Cepiring, Kendal Jadikan “Sekolah Damai” sebagai Visi Sekolah

Gagalkan Baiat Terselubung Alumni Rohis yang Terpapar

Kedekatan antar Guru Muslim dan Nonmuslim

Bagian II

Vokalis Rebana Nonmuslim: Cerita dari SMAN 13 Semarang Wajib Jumatan di Sekolah: Proteksi dari Paham Radikal Sekolah Damai di Sekolah Lain

Cerita Guru Agama Katolik

Mengenal Kelompok Kepercayaan

Perdebatan Nonmuslim Menjadi Ketua Osis

Bagian III

Taman Persatuan: Simbol Keharmonisan SMAN 11 Semarang Taman Persatuan

Politik Bawa-bawa Agama Adil Dulu, Baru Harmonis

Bagian IV

Rohis Legal dan Ilegal: Cerita SMAN 10 Semarang Ada Rohis Tandingan

Siswi Bercadar

Sekolah Damai dalam Misi Sekolah Komunikasi antar Guru

Bagian V

Dari Stigma Tawuran ke Perdamaian: Cerita SMAN 7 Semarang Kerja Keras Guru dan Siswa

Mulanya Kecolongan, Mapan Kemudian Menghindari Dark Joke

Catatan Kaki i

ii

1

2 5 7 9

10

14 15 16 17 18

20

21 24 26

28

29 30 31 33

34

37 39 40 42

DAFTAR ISI

(5)

Patut berbangga hati bagi tim pelaksana program Sekolah Damai, Wahid Foundation (WF), dan juga partner di daerah khususnya Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII). Bangga, karena memasuki tahun kelima ini (program yang dimulai sejak Desember 2017 hingga September 2021), telah menciptakan perubahan yang cukup signifikan di beberapa sekolah SMA Negeri di Indonesia.

Khusus di Jawa Tengah, banyak perubahan terwujud secara nyata yang mampu menggerakan elemen-elemen warga sekolah menuju kearah yang lebih toleran, terbuka (inklusif), dan lebih peka terhadap ancaman radikalisme. Di Jawa Tengah, program Sekolah Damai bermitra dengan lima sekolah, diantaranya SMAN 7 Semarang, SMAN 10 Semarang, SMAN 11 Semarang, SMAN 13 Semarang, dan SMAN 1 Cepiring, Kendal.

Aspek kebijakan, praktik toleransi-perdamaian, dan pengelolaan organisasi kesiswaan adalah tiga pilar penting sebagai tolak ukur perubahan Sekolah Damai. Berdasarkan hasil dialog dan interview mendalam pada Agustus 2021, lima sekolah sasaran program telah menunjukan perkembangan yang amat baik. Baik dari sisi kebijakan kepala sekolah, praktik toleransi antarguru dan antarsiswa maupun pengelolaan organisasi kesiswaan.

Lima sekolah sasaran juga semakin intens berkomunikasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah. Perkembangan yang lebih membanggakan adalah lima sekolah itu semakin terbuka dalam berjejaring dengan kelompok-kelompok organisasi masyarakat lintas agama dan kepercayaan di Jawa Tengah. Bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama, serta guru lintas agama dan kepercayaan, memulai berkegiatan kolaboratif dengan tema-tema toleransi, perdamaian, dan anti-radikalisme.

Setidaknya, ada lima elemen penting yang terlibat dalam pergerakan program Sekolah Damai di Jawa Tengah. Empat elemen itu meliputi siswa, guru agama (baik guru agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, juga guru mata pelajaran Kepercayaan), kepala sekolah, Pemprov Jateng (khususnya Disdikbud Jateng) , dan pegiat perdamaian lintas agama dan kepercayaan. Semua elemen itu mempunyai peran masing-masing dan sama-sama menentukan keberhasilan program Sekolah Damai.

Perkembangan yang terjadi pada lima sekolah ini patut disyukuri bersama. Selama program berjalan, banyak cerita haru, lucu, dan juga membanggakan. Tak sedikit pengorbanan tenaga dan pikiran tercurahkan; utamanya dari para guru, kepala sekolah, dan tentu pelaksana program.

Singkat kata, ada tetesan keringat semua pihak tersebut sehingga nilai-nilai Sekolah Damai akhirnya dapat terlembagakan di sekolah. Semua bergerak bersama untuk tujuan yang sama pula; sama-sama menginginkan untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang merdeka dari intoleransi. Selamat membaca!

PENGANTAR

Griya Gus Dur, 15 Oktober 2021 Wahid Foundation

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

ii

(6)

1

BAGIAN

Meniru Teori Marketing Rumah Makan:

Cerita SMAN 1 Cepiring, Kendal

(7)

“Saya mencoba meniru teori marketing. Ibarat ketika kita di jalan naik motor atau mobil, ada spanduk rumah makan hanya satu atau dua, maka tidak akan teringat oleh si pengendara. Berbeda jika sepanjang jalan, setiap satu kilometer ada spanduk warung makan yang sama, maka si pengendara akan teringat dan ingin singgah di rumah makan tersebut.”

(Siswanto, Kepala SMA Negeri 1 Cepiring Kendal).

Teori marketing rumah makan pinggir jalan, Siswanto terapkan di sekolahnya supaya tercipta “Sekolah Damai: sekolah toleran dan antiradikalisme”. Siswanto berpendapat, upaya menjadikan Sekolah Damai harus totalitas.

Caranya, memasukkan kata toleransi dan antiradikalisme dalam setiap RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Bukan satu atau dua mata pelajaran saja, tapi semua mata pelajaran termasuk fisika, kimia, dan matematika.

“Karena kalau semua guru menyampaikan (sesuai RPP) maka anak akan lebih mengena dan ingat tentang toleransi dan antiradikalisme,” sambung Siswanto.

Siswanto bercerita, mulanya ia awam terhadap nilai-nilai Sekolah Damai. Saat ia datang di SMAN 1 Cepiring pada September 2019, sekolah tersebut sudah dijadikan sebagai partner Sekolah Damai oleh Wahid Foundation (WF). Saat itu, ia mulai mencari tahu tentang Sekolah Damai.

Mulanya, ia tak paham sama sekali tentang Sekolah Damai. Namun seiring banyaknya dialog dengan guru yang lebih dulu terlibat dan menghadiri undangan acara WF di Jakarta, perlahan Siswanto mulai memahaminya. Ternyata, yang dimaksud dengan Sekolah Damai adalah sekolah toleran dan antiradikalisme.

Siswanto, yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Gemuh, itu menilai bahwa menjadi seorang kepala sekolah di Sekolah Damai adalah sebuah tanggung jawab besar. SMA 1 Cepiring sudah ditunjuk sebagai Sekolah Damai dan ia juga terpilih menjadi kepala sekolah inspiratif. Karena itu, ia harus mengemban tanggung jawab besar tersebut dan mewujudkan nilai-nilai Sekolah Damai yang toleran dan antiradikalisme .

Sebagai kepala sekolah, ketika SMAN 1 Cepiring ditunjuk sebagai Sekolah Damai, langkah yang diambil untuk mewujudkan program Sekolah Damai adalah membuat kebijakan. Ia lalu mengubah visi sekolah.

“Dulu visi SMAN 1 Cepiring hanya mencakup tentang lingkungan hidup; ‘Terwujudnya Lembaga Pendidikan yang Membekali Peserta Didik dengan Kemuliaan, Keunggulan Prestasi, dan Keterampilan Serta Lingkungan Hidup’. Akhirnya, saya menambahkan diksi ‘Berpartisipasi Aktif dalam Menerapkan Nilai-nilai Toleransi dan Perdamaian’

ditambah itu’.”

Jadikan ‘Sekolah Damai’ Visi Sekolah

2

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

1

(8)

Siswanto merasa bahwa mengubah visi sekolah adalah langkah yang cukup radikal.

Sebab, dalam upaya melakukan perubahan visi sekolah, ada proses dan mekanisme yang harus dilalui. Ketika seorang kepala sekolah hendak mengubah visi sekolah, ia tak bisa begitu saja mengubahnya. Langkah-langkah yang perlu ditempuh cukup panjang.

Salah satunya harus melalui rapat review KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).

Tak berpikir panjang, Siswanto saat itu langsung mengundang Komite Sekolah, guru, karyawan, bahkan juga pengawas. Baginya, mengondisikan semua itu bukan perkara mudah, sebab ia harus memahamkan semua pihak untuk sepakat atas perubahan visi sekolah.

Setelah KTSP ditinjau ulang dan merubah visi dengan penambahan redaksi

‘Berpartisipasi dalam Toleransi dan Perdamaian’, maka guru harus menerapkan visi tersebut dalam setiap mata pelajaran.

Penerapan visi tersebut dalam mata pelajaran dilakukan dengan cara membuat silabus dan RPP yang diampu oleh masing-masing guru yang mana di dalamnya harus memuat nilai-nilai Sekolah Damai, yakni toleransi dan juga anti radikalisme.

“Bukti dari penerapan Sekolah Damai adalah berupa dokumen kebijakan saya (KTSP) di mana di dalam visinya sudah ada muatan nilai Sekolah Damai. Dalam semua pelajaran sudah dimasukkan nilai-nilai Sekolah Damai. Mulai dari Bahasa Indonesia hingga fisika atau bahkan matematika; bukan hanya di mata pelajaran sejarah, agama, ataupun PPKn saja. Di dalam ketentuan program Sekolah Damai kan yang disyaratkan penerapan nilai Sekolah Damai hanya di Bimbingan Konseling dan PPKn yang diberi beban untuk memasukkan nilai Sekolah Damai. Akan tetapi, kami tidak hanya sebatas itu, di semua mata pelajaran itu ada”.

“Pada mata pelajaran fisika dan matematika harus dimasukkan nilai Sekolah Damai.

Sebagai contoh, di dalam fisika, ada sikap-sikap toleransi dan perdamaian antarsesama yang dicontohkan dalam materi rangkaian arus listrik searah. Sampai seperti itu. Apakah ini terlalu memaksakan? Tidak. Di matematika juga ada muatan nilai toleransi dan anti radikalismenya. Ketika memberikan materi pembelajaran, di situlah para guru menyampaikan kepada murid-murid tentang toleransi serta antiradikalisme dengan cara mengontekstualisasikannya dengan materi pelajaran yang diberikan. Dari situ kita tahu ternyata di dalam mapel eksakta (nilai-nilai Sekolah Damai) juga bisa masuk,” lanjut Siswanto.

Siswanto beralasan bahwa memasukkan nilai Sekolah Damai dalam program belajar mengajar sebagai pengganti kegiatan seremonial, seperti festival atau deklarasi. Ia merasa, kegiatan yang bersifat seremonial hanya dilakukan sehari dan tidak berjalan secara berkelanjutan. Siswanto termasuk kepala sekolah yang tak begitu suka dengan gegap gempita sesaat.

Meski langkah yang diambil tak populer, namun Siswanto yakin bahwa bekerja dalam kebijakan “sepi” amat fundamental dan substansial. Suatu ketika ia pernah mengikuti kegiatan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) di Kabupaten Kendal dan hanya dia yang terpilih.

Baginya, sebuah kebijakan tak perlu ramai-ramai (seremonial); yang lebih penting dari itu adalah anak didik memahami dan menyadari tentang nilai-nilai dari sebuah program seperti yang terdapat dalam Sekolah Damai.

(9)

“Ketika nilai ini disampaikan ke anak didik, harapannya anak akan peduli dan juga mengamalkan praktik-praktik Sekolah Damai. Tapi hal tersebut memang tidak populer.”

“Di samping itu, output dari adanya Sekolah Damai ini, SMAN 1 Cepiring juga melakukan program pembuatan film dan mural yang mana itu tidak pernah kami ekspos ke wartawan atau pejabat setempat. Bagi saya, tidak terlalu penting terekspos, yang terpenting tujuan saya adalah mewujudkan tanggung jawab sebaik mungkin,”

tukas Siswanto.

Saat ditanya apakah ada guru yang kurang berkenan dengan kebijakan untuk merubah visi sekolah dengan menambahkan nilai-nilai Sekolah Damai dalam RPP, Siswanto memastikan bahwa semua guru menyepakatinya. Ia menegaskan bahwa semua guru memberikan tanggapan positif dalam merespon kebijakannya.

Itu dibuktikan dengan cepatnya respon guru dalam memasukkan kata “toleransi dan antiradikalisme” dalam rencana pembelajaran.

“Setelah saya punya ide seperti itu, dalam waktu beberapa jam guru langsung merevisi silabus dan RPP. Ketika saya memberi tahu para guru untuk memasukkan nilai Sekolah Damai dalam RPP dan silabus, maka (silabus dan RPP) langsung diubah.

Tepatnya pada 14 Juni 2021,” pungkas Siswanto.

4

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

toleransi

(10)

“Ketika sampean menempa besi untuk menjadi pisau jangan menggunakan api yang terlalu besar atau terlalu panas. Karena besi itu nanti tidak akan mejadi pisau tapi akan lumer atau rusak ndak karu-karuan,”

(Siswanto, Kepala Sekolah SMAN1 Cepiring, Kendal)

Kutipan di atas adalah pesan dari Siswanto kepada pembina Rohis (Rohani Islam) dari luar sekolah. Saat Siswanto masuk menjadi kepala sekolah di SMAN 1 Cepiring, Rohis masih dibina oleh ustaz dari luar sekolah.

Padahal, saat itu sedang heboh-hebohnya kabar bahwa Rohis adalah tempat menyemai bibit-bibit radikalisme. Saat itu pula, pembina Rohis dari luar itu langsung melakukan pendekatan kepada kepala sekolah.

“Mereka saat itu tidak tahu bagaimana maksud perkataan saya. ‘Mereka bertanya maksudnya bagaimana, Pak?’ Mereka itu akrab dengan saya sering main ke rumah saya juga. Saya jawab, maksud saya, ‘Ketika mengisi ceramah di depan anak-anak saya, tolong jangan diisi dengan ceramah yang terlalu keras (radikalisme)’.”

“Contoh, anak-anak diputarkan video soal perang Ambon dan itu yang saya takutkan bila di sini diisi seperti itu. Mereka menjawab, ‘tidak, Pak; ndak seperti itu’. Kita itu tetap Indonesia, bagus dan tidak terlalu panas,” cerita Siswanto.

Sebagai kepala sekolah, Siswanto berpikir keras supaya anak didiknya tidak terkontaminasi bibit radikalisme. Hingga akhirnya sampailah ia pada kesimpulan,

“kalau punya guru agama, kenapa yang membina bukan guru agamanya”.

“Akhirnya saya menggantikan beliau (pembina Rohis dari luar) dengan guru PAI (pendidikan agama Islam) yang ada,” tegas Siswanto.

Menyambung pembicaraan kepala sekolah, Guru Agama SMAN 1 Cepiring, Aufaa, turut bercerita tentang anggota Rohis yang hampir dibaiat secara terselubung.

Semula, kegiatan Rohis waktu itu tidak memberi tahu pihak sekolah. Undangan langsung ditujukan kepada siswa. Pihak sekolah (guru dan kepala sekolah) baru mengetahui akan ada kegiatan Rohis di luar sekolah karena diberitahu oleh beberapa siswa yang hendak mengikuti acara.

Atas dasar kehati-hatian kepala sekolah dan guru agama, akhirnya dibuatlah kebijakan yang mengharuskan kegiatan di luar sekolah (yang dibina oleh orang dari luar sekolah) harus didampingi oleh guru yang bersangkutan. Jika tidak didampingi, maka tidak diizinkan oleh kepala sekolah.

Gagalkan Baiat Terselubung

1

(11)

“Karena ada juga siswa kami yang diminta untuk ikut dalam acara pendadaran atau penerimaan anggota baru Rohis atau kemah Rohis, tapi diadakan luar sekolahan, saya meminta izin ke Pak Sis (panggilan akrab Siswanto). Beliau bilang, ‘jika didampingi oleh guru agama boleh. Kalau tidak didampingi guru, tidak boleh’,” kata Bu Aufaa, panggilan akrab guru agama di SMAN 1 Cepiring.

Saat ditanya terkait identitas dan afiliasi organisasi keislaman si pembina Rohis dari luar sekolah itu, dua guru agama SMAN 1 Cepiring, Aufaa dan Siti Aliyah, sepakat memandang bahwa dakwahnya memang kerap mengandung unsur radikalisme.

Dulu, sambung Aufaa, sekolah memakai jasa pembina Rohis tersebut karena dari sisi metode pengajaran cukup menarik dan modern. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata pembina Rohis tersebut berafiliasi dengan salah satu partai politik berhaluan agama.

“Terus orang itu ikut organisasi partai. Saya dulu ngambil dari luar karena metodenya bagus. Tapi setelah minta ada pembaiatan (untuk menjadi) ‘anggota sana’ itu, saya (akhirnya) mengurangi (intensitas pembinaan anak didik dengannya). Dan saya langsung bilang, untuk bulan depan, mohon maaf (kegiatan) anak-anak Rohis akan kami isi sendiri,” tukasnya.

Kedua guru agama Islam SMA 1 Cepiring, Aufaa dan Siti Aliyah, bercerita panjang tentang pengalamannya menghalau paham-paham intoleran agar tidak sampai masuk di sekolahnya. Menurut penuturan Aliyah, mulanya pembina Rohis itu sangat baik dan komunikatif. Suaminya adalah seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pembina Rohisnya sendiri adalah pegawai kecamatan. Aliyah dan Aufaa kebetulan juga mengetahui persis kondisi keluarga itu yang memang dari keluarga berada.

“Itu (Pembina Rohis) sudah kerja kok, Mas (bukan mahasiswa). Dia itu Islamnya kayak semacam Islam keras gitu. Orang-orang partai itu, kan Islamnya agak-agak nganu (ekstrem). Kebetulan suaminya itu kan guru PNS, dan emang agak radikal kalau menurut saya. Terus dia itu kerjanya di kecamatan. Itu suaminya juga berjenggot, berduit, besar gitu. Dulu itu baik dia, ramah. Kalau awal-awal kan ndak, (terlalu kelihatan radikalisme) biasa saja gitu,” kata Aufaa.

Lambat laun, gelagat paham radikalismenya tercium oleh pihak sekolah. Bermula dari curhatan siswa kepada guru agama, akhirnya pesan-pesan intoleran yang disampaikan oleh si Rohis mulai terbongkar.

Merasa tak yakin, akhirnya mereka berdua (Aufaa dan Alwiyah) secara diam-diam mengikuti pengajian yang diadakan di luar sekolah bersama sang Pembina Rohis tersebut. Dan betul saja, isinya mengandung paham-paham intoleran.

“Tapi lama-lama kok menjadi seperti ini; terus ada curhatan anak-anak itu. Kan kalau (siswa) ketemu gurunya sok curhat, ‘Bu itu kemarin kok gini, kok gitu’. Tahun ajaran (baru) kaya gini, (ada siswa baru) diajak keluar; ada kegiatan apa gitu.”

“Setelah itu saya mencoba mengikuti kegiatan tersebut. Saya diam-diam ikut gitu ya.

Tapi, ternyata emang dari sisi itu ada mungkin muatan-muatan radikalisme,” katanya.

6

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

2

(12)

“Kenapa kok ndak naik mobil? (tanya gurunya). Jawabannya, ‘kalau saya naik kendaraan, kendaraan itu dibuat oleh manusia yang melibatkan tagut, orang-orang koruptor dsb. Ketika nanti saya naik bus, itu sama saja bus mengantarkan orang-orang untuk bermaksiat. Mending saya jalan kaki’.”

(Cerita Guru PAI SMA 1 Cepiring, Kendal).

Petikan kalimat di atas adalah cerita yang disampaikan oleh Aufaa dan Aliyah, dua guru agama Islam SMAN 1 Cepiring, Kendal. Kedua guru ini kompak mengisahkan mantan muridnya yang berinisial EBS yang lulus dua tahun lalu.

EBS adalah alumni yang pada waktu masih menjadi siswa aktif mengikuti kegiatan Rohis. Saat mulai duduk di kelas 12, EBS kerap datang terlambat karena enggan menggunakan kendaraan yang menurutnya dibuat oleh bangsa tagut dan korup.

“Waktu kelas 11 belum seekstrem itu, dia masih bareng sama teman-temannya. Tapi saat kelas 12, dia sudah mulai menyendiri. Dia menyendiri terus dan selalu telat kalau berangkat. Saat ditanya kenapa kamu datang terlambat, dia menjawab karena saya jalan kaki.”

“Apa tidak ada kendaraan di rumah? Dijawab, ada. kenapa kok ndak naik mobil?

Jawabannya, ‘kalau saya naik kendaraan, kendaraan itu dibuat oleh manusia yang melibatkan tagut, orang-orang koruptor’,” tutur Aliyah.

Tak sampai disitu, pandangan EBS tentang kendaraan umum juga cukup mencengangkan. Dalam pemahamannya, bus sebagai kendaraan umum adalah tempat mengantarkan orang untuk bermaksiat.

EBS juga punya alasan yang cukup aneh dengan hobinya yang menyendiri. Hemat dia, keramaian dan kerumunan adalah tempat kebohongan.

“Ketika nanti saya naik bus, itu sama saja bus mengantarkan orang-orang untuk bermaksiat. Mending jalan kaki. ‘Jalan kaki saja lewatnya pinggir Sungai Kali Bodri, nanti baru ke sini.’ Jadi, dia ndak seneng tempat di mana ada keramaian.”

“Di mana ada keramaian, menurut dia, itu semuanya adalah pembohong,” kata Aufaa, menceritakan apa yang disampaikan EBS waktu itu.

Hingga saat Ujian Nasional, EBS masih dalam penanganan sekolah. Dia masih setia dengan pandangannya bahwa menggunakan alat transportasi umum merupakan sebuah perbuatan haram.

Orang tuanya pun kewalahan menghadapi sikap dan pandangan EBS. Hingga pada akhirnya, selama Ujian Nasional, pihak sekolah mengalah dengan menyediakan tenaga ojek untuk antar-jemput.

Alumni Rohis yang Terpapar

3

(13)

“Waktu Ujian Nasional dulu, dia masih dalam penanganan sekolah. Sekolah juga akhirnya menyediakan Ojek selama empat hari ujian, untuk antar-jemput karena keluarganya sudah tidak bisa menangani.”

“Awalnya ada usulan, kalau pagi dia ditaruh di sini (sekolah) atau di rumah temannya (yang lokasinya dekat dengan sekolah) agar tidak terlambat. Tapi dia tidak mau.

Akhirnya, selama ujian, dari pihak sekolah memasang satu tenaga untuk mengantar jemput setiap pagi; jam enam sudah dijemput.”

“Ketika kelas 12, pernah ada guru yang nyambung, ada guru yang cocok yakni guru biologi dan dia mau les biologi. Katanya, dia ingin kuliah di mana gitu. Tapi setelah lulus dia daftar dimana kita ndak bisa melacak lagi. Sama bapaknya dibelikan motor baru, untuk mempermudah, tapi dianya tidak mau,” tambah Aufaa.

EBS kebetulan tinggal bersama kakeknya. Pihak sekolah juga telah berdialog dengan kakek dan keluarganya. Menurut cerita kakeknya, EBS rajin mengikuti pengajian di luar kegiatan sekolah. Dia juga tak pernah bercerita secara jelas terkait aliran dan organisasi apa yang pengajiannya ia ikuti itu.

“Dia itu, kata Mbahnya (kakeknya), ngaji dimana gitu. Dulunya dia pernah ikut Rohis,”

tambah Aufaa.

Sebagai guru PAI, Aliyah dan Aufaa merasa tetap harus kerjasama dengan pihak luar sekolah. Tenaga pendidik agama Islam yang hanya dua orang dan juga harus membina kegiatan Rohis, rasanya terlalu berat.

Pada akhirnya, SMAN 1 Cepiring, Kendal menggandeng Fatayat NU Kabupaten Kendal untuk mengisi kegiatan-kegiatan Rohis di sekolah.

“Terus, beberapa bulan setelah itu (setelah memberhentikan pembina Rohis), saya yang mengisi sendiri. Kadang tak suruh untuk tahlilan, yasinan; terus gantian dari Rohis yang suruh ngisi. Lama-lama capek juga kan, Mas. Terus, akhirnya saya menggandeng Fatayat NU dari kecamatan. Ya, sudah berjalan tiga tahun ini berarti,” kata Aufaa.

8

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

(14)

Iklim toleransi di SMAN 1 Cepiring, Kendal memang tampak sangat kental. Hubungan antara guru Muslim dan Nonmuslim menunjukkan kerjasama yang sangat apik. Dalam beberapa kegiatan bahkan mereka saling mendukung dan bergantian membantu untuk mensukseskan kegiatan.

Termasuk saat kegiatan Jumatan (salat Jumat) dan peringatan hari-hari besar seperti Idul Adha dan Natalan.

“Kalau di sini, ketika acara Isra’ Mi’raj, Bu Agnes (beragama Katolik) itu ikut acara di masjid tanpa menggunakan jilbab sudah biasa. Kami juga saling support dalam agenda sehari-hari. Bahkan, Bu Agnes juga paling getol kalau membantu saya untuk mengondisikan siswa untuk salat Jumat,” terang Aliyah.

Mengurusi lebih dari 800 siswa memang tidak mudah. Jika hanya dilakukan berdua oleh guru agama, maka kegiatan hari Jumat (jumatan) tidak akan berjalan lancar.

“Ngajak Bu Agnes akhirnya. Ngajak beliau itu enak; saya ke sana, beliau ke sini. Dulu, (guru) kesiswaan juga ikut, BK juga ikut, ngurusi anak orang banyak itu,” terang Aliyah.

Hari Jumat, memang hari yang sangat menyibukkan bagi guru agama Islam, karena siswa yang jumlahnya 800 lebih itu harus terkondisikan dengan baik. Di hari tersebut, siswa Muslim wajib mengikuti kegiatan salat Jumat; sedangkan siswi Muslim wajib mengikuti kajian di gedung olahraga. Untuk mengondisikan siswa dengan jumlah sebanyak itu, tentu dua guru agama saja tidak akan mampu menanganinya. Oleh karena itu, mereka dibantu guru seni yang beragama Katolik.

“Kalau Jumatan, itu merupakan tugas saya dan Bu Aufa yang mengopyak-ngopyak anak.

Itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Yang laki-laki disuruh ke masjid dan yang perempuan disuruh untuk berkumpul mengikuti kajian di GOR (Gedung olahraga). Itu (siswa) setelah diarahkan mereka akan lari menghindar. Dan itu, saya dibantu oleh Bu Agnes,” tutur Aliyah.

Menyambung perbincangan tentang toleransi di SMAN 1 Cepiring, guru Pendidikan Kewarganegeraan, Rulita, menyampaikan cerita senada. Tak sebatas cerita, bukan sebatas pemanis bibir, tapi iklim toleransi itu terwujud dengan sesungguhnya.

“Ya itu tadi, (kita itu) Sekolah Damai, kita ada toleransi yang sangat tinggi. Toleransi beragama, hubungan sosial, saling menghargai, juga kerukunan beragama. Dan, itu kesempatan saya dalam memberikan materi seputar budaya damai, toleransi, dan jangan ada berkelahi antarsekolah,” katanya.

Hematnya, Sekolah Damai perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti toleransi beragama sudah berjalan besama-sama.

“Kalau untuk sosialnya, ketika ada pendapat yang berbeda, ya harus dihargai dan juga dibicarakan secara baik dalam musyawarah. Kemarin pada hari kelahiran Pancasila, (SMAN 1 Cepiring) mendapatkan juara tiga. Karena kita berusaha menerapkan nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan,” pungkasnya.

Kedekatan Antarguru, Muslim dan Nonmuslim

(15)

2

BAGIAN

Vokalis Rebana Nonmuslim:

Cerita dari

SMA 13 Semarang

(16)

“Saya tanya kepada guru ‘loh, mbak’e agamane iki opo?’ ‘Nasrani’, Buk. Yang vokal, Nasrani juga, itu dia hanya kerudungan disampirkan gini. Saya mbatin, inilah peningkatan SMAN 13 dari adanya Sekolah Damai. Itu kesan yang tidak akan pernah saya lupakan.”

(Endah DW, Kepala SMAN 13 Semarang).

Cuplikan cerita unik dan membanggakkan di atas terjadi di SMA Negeri 13 Semarang.

Personel group rebana rebana di SMAN 13 memang mempunyai latar belakang yang beragam. Ada yang Muslim, Kristen dan juga Katolik. Hebatnya, grup rebana ini berhasil memenangkan lomba rebana tingkat Kota Semarang.

Kepala Sekolah SMAN 13 Semarang, Endah DW, mengaku sangat senang dengan prestasi yang diraih oleh murid-muridnya. Endah betul-betul bangga dengan anak didiknya karena mereka merupakan symbol kerukunan, keakraban, dan kekompakan meski dengan latar belakang agama yang berbeda.

“Ini berkat program Sekolah Damai, Wahid Foundation,” tukas Endah di sela wawancara di ruangannya (Kamis, 4/8/2021).

Kebahagiaan Endah bukan tanpa sebab. Kondisi kerukunan yang sangat lekat di SMAN 13 ini merupakan perkembangan yang sangat baik di sekolahnya. Semula, siswa yang berbeda latar belakang agama itu belum seakrab saat ini.

Namun, karena seringnya mereka bertemu dan berkegiatan bersama, akhirnya mereka menjadi semakin dekat, bahkan bisa bekerjasama hingga mampu menjadi juara pada perlombaan rebana.

“(Sekolah) kita kan ada di pinggiran (wilayah Kota Semarang); pasti orang tahu bahwa di sekolah pinggiran Mijen mayoritas Muslim. Awalnya, siswa Muslim dan siswa Nasrani memang tidak ada masalah. Tapi kan saling cuek; acuh tak acuh, gitu.”

“Setelah kami mencanangkan Sekolah Damai, siswa dapat workshop (keberagaman) itu ada perubahan. Bahwa, hubungan siswa Muslim dan Nonmuslim itu bagus,”

sambung Endah.

Kesan paling menarik bagi Endah sebagai kepala sekolah adalah ketika menghadiri perayaan Natal. Saat itu, meski acaranya sederhana namun diisi dengan berbagai pentas hiburan. Siswa yang beragama Kristen pun turut berpartisipasi mengisi

‘panggung hiburan’ melalui penampilan grup musik dengan menjadi vokalis dan pemain gitar.

Di lain kesempatan, lanjut Endah, saat ada peringatan Maulid Nabi saw., ia melihat beberapa anak didiknya memainkan musik rebana. Ketika perayaan Natal, siswa yang sama itu pula yang mengisi hiburan perayaan Natal.

Vokalis Rebana Nonmuslim;

Cerita dari SMA 13 Semarang

4

(17)

Cerita yang membanggakan Endah bukan itu saja. Setelah Muslim dan Nonmuslim berkolaborasi dalam perayaan hari besar, cerita lainnya terjadi ketika mereka melakukan berkunjung ke rumah ibadah lintas agama dan kepercayaan. Endah merasa senang, karena selama ini, kegiatan kunjungan rumah ibadah yang diadakan oleh pihak sekolah hanya sebatas ke Masjid Agung Semarang. Yang lebih menarik lagi baginya adalah persiapan acara wisata lintas agama dan kepercayaan ini diprakarsai oleh siswa lintas agama sebagai panitianya.

“Suatu ketika ada beberapa siswa yang datang kepada saya membawa proposal.

Anak-anak bilang, ‘kita mau piknik tipis-tipis, mengadakan kunjungan ke tempat-tempat ibadah sekitar Semarang saja kok, Bu. Ada kunjungan ke Masjid Agung, Gereja, ke Vihara dan nanti kami juga ke rumah ibadah penganut aliran Kepercayaan. Kami lintas agama mau mengadakan kunjungan bersama agar kami tahu gereja itu seperti apa’.”

Saat disodorkan rencana itu, Endah langsung acungkan dua jempol tangannya kepada panitia. Dia sangat setuju dan merasa itulah keistimewaan SMAN 13 Semarang dibanding sekolah lain di Semarang. Ia merasa penanaman karakter pada anak didik sangat penting, namun menanamkan nilai-nilai toleransi juga tidak kalah penting.

Endah bahkan bergumam dalam hati, “Anak-anakku tidak memiliki prestasi yo ora masalah; pelan-pelan akan tercapai juga. Tapi penanaman karakter, dan nilai toleransi beragama ini yang paling penting.”

Endah kemudian menuturkan saat anak didiknya bercerita kepadanya tentang pengalamannya saat berkunjung ke rumah ibadah Aliran Kepercayaan.

“Bu, tadi saat salat itu pas tidak di masjid lho”, kata salah satu siswa SMAN 13 Semarang.

“Lah dimana?” tanya Endah.

“Di tempat aliran kepercayaan, Bu.”

“Lah terus boleh?”

“Boleh, Bu. Tempat salatnya disiapkan dan tempatnya bersih kok, Bu.”

Endah sangat senang melihat anak didiknya mendapatkan pengalaman keberagaman yang sangat luar biasa tesebut. Ia mengatakan, “Luar biasa, itulah anak-anak saya SMAN 13 Semarang sebagai Sekolah Damai saya support. seandainya saya nanti ada di sekolah lain, saya ingin masuk juga sebagai (bagian dari) Sekolah Damai juga. Saya ingin membawa anak-anak juga di tempat kerja saya yang baru sebagai komunitas Sekolah Damai,” lanjut Endah.

Keakraban siswa antara Muslim dan Nonmuslim di SMAN 13 bukan sebatas kata-kata.

Dalam pemilihan OSIS, terbukti yang terpilih adalah siswa Nonmuslim. Hal itu menurutnya adalah sebuah kemajuan yang sangat pesat mengingat sebelumnya, jangankan untuk menjadi ketua OSIS, untuk sebatas menjadi ketua kelas, sudah ada perdebatan serius di kalangan anak-anak.

“Lare-lare niku sak niki (anak-anak itu sekarang) rukun-rukun. Kalau dulu itu, bermusuhan sih memang ndak, tapi cuek. (Tapi dulu sempet) Wong waktu mau pemilihan ketua kelas, sing Nonmuslim itu sudah tidak setuju. Lah sekarang itu kita ketua OSIS-nya Nonmuslim. (Dia terpilih) Karena apa, ya karena dia dalam kegiatan sehari-hari, dalam peringatan-peringatan agama, selalu terlibat. Idul Adha dia juga terlibat; repot banget terlibatnya. Mau peringatan Maulid Nabi, dia juga menyiap-nyiapkan tempat juga di situ.”

“Saya malah nggak tahu kalau dia Nonmuslim, tapi ternyata dia Nonmuslim dan ketika peringatan Natal, dia juga orang pertama yang terlibat karena memang agamanya,”

kata Endah.

12

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

(18)

Faktanya memang begitu. Sebelum ada program Sekolah Damai sekadar memilih ketua kelas Nonmuslim saja harus berpikir ulang. Apalagi untuk memilih ketua OSIS atau bahkan pemilihan jabatan-jabatan seperti wakil kepala sekolah.

Pada akhir sesi wawancara, Endah sempat mengungkap fakta menarik di kalangan internal sekolah. Ada cerita yang tak pernah terungkap di media, yakni pemilihan jabatan wakil kepala sekolah selalu menjadi kasak-kusuk hangat di kalangan guru.

Saking hangatnya, saat ada bursa wakil kepala sekolah selalu muncul isu agama untuk memenangkannya.

“Dulu teman-teman itu mau ada pemilihan (wakil kepala sekolah). saat itu saya juga masih jadi Waka. Ada calon Waka yang Nonmuslim; Nonmuslim iku ngene-ngene (Nonmuslim itu begini-begini), kasak-kusuk.”

“Saya ndak setuju dengan hal seperti itu. Itu ketika saya belum menjadi kepala sekolah, (masih bertugas) di tempat saya yang lama. (Terus saya bilang) Halah, zaman merdeka masih gituan. Dan itu di SMAN 13 tidak saya jumpai lagi,” tukas Endah.

(19)

Endah melanjutkan, SMAN 13 saat ini selalu berupaya melindungi siswanya dari pengaruh paham-paham intoleran dan radikal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mewajibkan anak-anak salat Jumat di masjid sekolah.

Endah bercerita, di sekolahnya ada seorang guru dan beberapa siswa yang ikut suatu organisasi masyarakat Islam. Suatu ketika, gurunya meminta untuk mengajak anak-anak yang mengikuti ormas itu untuk salat Jumat di luar sekolah. Namun, pihaknya tidak memperbolehkannya karena sudah menjadi komiten sekolah.

“Guru itu meminta izin; kalau diperbolehkan, setiap Jumat akan membawa siswa keluar untuk Jumatan di masjid mereka. Kelihatannya, ormasnya apa begitu, atau apa gitu. Jadi, ada siswanya lima anak kelihatannya. Tapi saya tidak mengizinkan. Saya bilang ‘Oh… ndak boleh, Bapak;’ gitu.”

“Saya kepala sekolah, anak-anak di sini tanggung jawab saya. Kalau di sini ada Jumatan biarlah anak-anak Jumatan di sini. Kalau Bapak mau Jumatan di luar, monggo. Saya anggap Bapak sedang makan siang di luar. Jadi mohon maaf, Pak; saya tidak bisa melepas seperti ini.”

“Tapi bapak gurunya tidak terus marah. Saya menjawab dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya, kalau anak-anak biar Jumatan di sini. Kalau mereka sudah menjadi mahasiswa mereka akan tanggung jawab dengan diri sendiri, tapi kalau sekarang kan masih tanggung jawab saya. Saya bilang gitu dan gurunya memahami,” sambungnya.

Sejak kejadian-kejadian itu, SMAN 13 Semarang memang selalu berhati-hati ketika mengirimkan siswanya untuk mengikuti kegiatan di luar sekolah.

Pernah suatu ketika, kata Endah, ada kegiatan Rohis yang kurang jelas penyelenggaraanya. Akhirnya, pihak SMAN 13 Semarang membatalkan mengirimkan peserta. Lalu terbukti, kegiatan Rohis itu akhirnya dibubarkan oleh pihak yang berwenang.

“Ndak di sini (acara rohis terselubung tersebut). Saya sudah di sini (menjadi Kepala SMAN 13 Semarang), terus akhirnya dibubarkan to katanya di SMAN lain. Saya ndak boleh anak saya datang, rausah.”

“Itu (kegiatan tingkat) Jawa Tengah. Tapi Bu Endah nggak boleh Rohis (SMAN 13 Semarang) datang. Tempatnya masih di Semarang sini. Ya itulah itu biar saja. Jadi kalau kita ini mendeklairkan sebagai Sekolah Damai, anak-anak harus dapat pengalaman, cerita-cerita, pengertian baru tentang kerukunan,” tegasnya.

Wajib Jumatan di Sekolah;

Proteksi dari Paham Radikal

14

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

(20)

Ketika dimintai pendapat tentang keberlanjutan program Sekolah Damai, Endah menjawab dengan tegas bahwa Sekolah Damai harus merambah ke sekolah lain. Dia mengaku sangat senang dengan kondisi sekolah yang sudah menerapkan prinsip Sekolah Damai.

Endah pun dengan tegas mengatakan, ketika dirinya suatu ketika pindah sekolah, maka ia akan menerapkan prinsip Sekolah Damai di tempat yang baru.

“Nah saya berharap itu, Sekolah Damai memang harus merambah ke sekolah lain.

Kalau saya sih dimanapun saya berada, saya ingin anak-anak itu guyub rukun. Jadi kalau Sekolah Damai itu bisa merambah ke sekolah yang lain, saya senang.”

“Saya akan mendukung, saya akan mendukung penuh apalagi pengalaman-pengalaman (sangat membanggakan) yang saya dapatkan di sini.”

“Mungkin sekolah kami bukan sekolah yang nomor wahid di Semarang. Tapi untuk pembinaan karakter, pengembangan karakter kami berusaha untuk menjadi yang terbaik.”

“Jadi pesan saya, ya memang (program) Sekolah Damai ini perlu dikembangkan ke sekolah-sekolah yang lain. Ya memang bagus untuk anak-anak menghindari paham-paham baru, paham yang tidak bertanggung jawab,” tegas Endah.

Kondisi damai di SMAN 13 Semarang saat ini membuat suasana nyaman baik bagi guru maupun murid-muridnya. Endah pun berulang kali menekankan ketika rapat sekolah, bahwa di sekolahnya ada perubahan yang harus didukung penuh.

Jadi siapapun pimpinan di SMAN 13 Semarang nanti, ia harus tetap mendukung kondisi damai seperti sekarang ini. Secara singkat, ia menegaskan bahwa bapak/ibu guru senang dengan keadaan seperti sekarang ini.

Sejalan dengan pendapat kepala sekolah, Astanara (guru agama Katolik) mengaku amat senang dengan adanya program Sekolah Damai. Dia merasa sangat terbantu, khususnya dalam mewujudkan kondisi saling memahami antarsiswa yang berbeda agama di sekolah.

Bukan hanya guru, siswa yang beragama Katolik di sekolahnya pun jadi merasa lebih nyaman dan bersahabat dengan teman di bangku sekolah.

“Anak (murid Katolik) saya itu seneng banget. Semua agama itu bisa ikut bersama.

Mereka (dalam setiap kegiatan) mendengarkan dengan seksama, dan saya pun melihat persaudaraan mereka itu sangat kental banget; tidak ada membedakan dari agama ini, dia agama Islam, dia Kristen, atau dia Hindu.”

“Kebetulan di sini lumayan (beragam muridnya), ada empat agama. Jadi, melihat itu, terus terang saya mendukung program Sekolah Damai. Saya bangga, perkembangan anak dalam persaudaraan di sekolah jadi lebih erat.”

Sekolah Damai di Sekolah Lain

(21)

“Jadi tidak ada gap istilahnya, tidak ada jarak ya. Jadi menganggap teman lain yang beda agama itu seperti saudara sendiri ya. Itu yang saya lihat di sana apalagi saat itu (kegiatan wisata lintas agama) juga kita diberi masukan-masukan pendampingan, setiap rumah ibadah diterangkan oleh yang berkompeten. Itu anak-anak seneng banget sungguh menikmati ya. Jadi saya merasa kok itu bisa top gitu,”

(Astanara, Guru Agama Katolik SMAN 13 Semarang).

Asta sangat berharap, kegiatan-kegiatan bersifat penanaman nilai toleransi dan perdamaian terus dilakukan. Ia juga berharap besar supaya program Sekolah Damai dari WF terus berlanjut.

Pascaprogram Sekolah Damai, hemat Asta, penghargaan terhadap guru maupun murid yang Nonmuslim lebih baik. Terutama ketika kegiatan-kegiatan; pasti diikutsertakan.

Asta berpesan bahwa pendampingan untuk penanaman karakter toleransi pada siswa harus semakin efektif. Salah satu cara paling baik, menurutnya, adalah melibatkan siswa dengan latar belakang yang berbeda itu dalam kegiatan-kegiatan secara secara langsung.

Supaya tidak ada prasangka, maka siswa harus terjun langsung atau, istilahnya, studi lapangan. Itu yang bisa memberikan pemahaman yang baik bagi siswa tentang agama lain.

Kegiatan paling tepat, menurut Asta, adalah ‘wisata lintas agama’ yang sudah pernah dilaksanakan di SMAN 13 Semarang. Ketika berkunjung ke rumah-rumah ibadah, mereka diterangkan dengan jelas tentang sudut pandang dan nilai-nilai kebaikan dari setiap agama, sehingga siswa-siswa tersebut kemudian mempunyai pemahaman yang baik terkait tiap-tiap agama.

“Hampir semua (dijelaskan dengan baik); ya di Gereja Katedral, juga di Vihara, dan juga di tempat Aliran Kepercayaan, di padepokan. Jadi bagus banget ya. Itu pesan kalau memang toleransi beragama ini kuat.”

“Setiap pribadi anak harus diperkenalkan lebih dalam dengan sumber yang benar. Jadi tidak hanya katanya-katanya. Jadi kalau dari mereka (pemuka agama secara langsung) yang ngomong, baru jelas”.

“Seperti yang dari Islam juga, ya kalau diterangkan hampir semua agama itu mengajarkan kebaikan. Jadi kalau ada program persemester katakanlah, sekali-kali ke tempat sana (ke rumah-rumah ibadah) lagi (khusus) bagi siswa baru misalnya. Supaya tidak dangkal pengetahuannya, karena kedangkalan pengetahuan itu yang membuat orang tidak toleran,” sambung Asta.

Cerita Guru Agama Katolik

16

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

5

(22)

“Kan dulu (sebelum ada kegiatan wisata lintas agama) enggak tahu kalau ada Kepercayaan (Kepada tetap Yang Maha Tetap gitu kan. Setelah itu jadi tahu.

Namanya itu Sapta Darma, nah tetap baru tau karena acara itu,”

(Fatimatuz Zahra, Siswa SMAN 13 Semarang).

Fatimatuz Zahra dan Kholifatun Nisya adalah dua dari 30 siswa SMAN 13 Semarang yang mengikuti kegiatan wisata religi lintas agama. keduanya merasa sangat senang karena banyak ilmu serta wawasan baru yang didapatkan setelah mengikuti kegiatan itu.

Bagi Fatimah, khususnya, pengetahuan yang betul-betul baru adalah tentang kelompok penganut Kepercayaan yang tetap beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dia dan 30 temannya, sebelumnya tak tahu tentang kelompok penganut Kepercayaan.

“Waktu Rohis mengadakan acara wisata lintas agama itu (rasanya) seneng banget, karena bisa bareng-bareng mengunjungi tempat ibadah. Sama teman-teman yang berbagai agama dulu, ada juga kakak kelas yang beragama Hindu, terus sama Nasrani juga.”

“Terus juga kan dulu nggak tahu kalau tetap Kepercayaan gitu kan. Namanya itu Sapta Dharma; nah itu baru tahu, karena acara itu,” kata siswi yang duduk di bangku kelas 12 ini.

Sama dengan Fatimah, Kholifatun Nisya juga baru mengetahui tentang kelompok penganut Kepercayaan karena mengikuti kegiatan itu. Dia mengaku, selama ini mendapat informasi tentang agama di Indonesia yang hanya ada enam saja.

Sejauh yang ia tahu sebelumnya, baik dari ceramah guru maupun dari buku pelajaran, semuanya menjelaskan bahwa di Indonesia hanya ada enam agama.

“Kita dari kecil, dari SD ditanamin dari buku-buku (palajaran) kalau agama yang ada di Indonesia kata pemerintah itu (hanya) ada enam. Ternyata kan ada kepercayaan-kepercayaan lain yang kita nggak tahu. Sebenarnya kalau kita tahu kan enggak apa-apa. Cuma sekedar tahu gitu kan, itu kan pengalaman baru, menambah ilmu wawasan,” jelas Nisya.

Selain soal Kepercayaan, pengalaman baru dari kegiatan itu lebih mengenal fungsi-fungsi rumah ibadah. Mereka merasa lebih mengerti dan paham dengan keyakinan agama lain. Saat mengunjungi tempat-tempat ibadah, mereka mendapat penjelasan yang lebih lengkap.

“Jadi kita tahu; kita ngobrol sama teman-teman yang Nasrani, dia ibadah di mananya, ibadah ini dimana. Jadi enggak sekadar tahu luarnya doang tapi dalamnya itu kayak ruangan-ruangannya tahu terus fungsi-fungsinya juga tahu. Jadi itu seru sekali, apalagi pertama kalinya, amazing gitu. Terus, walau berbeda-beda agama tapi kan tetep masih bisa toleransi kalau dalam urusan tolong-menolong atau yang lainnya, seperti itu,” katanya.

Mengenal Kelompok Kepercayaan

6

(23)

“Dek, kamu kan pintar mengaji. Sudah tahu kan hadisnya ketika mayoritas Muslim di pimpin oleh Nonmuslim. Selagi dia untuk memimpin SMAN 13, ‘why not?’ Dalam perjalanan pengurus OSIS dikawal oleh saya (sebagai Pembina OSIS),”

(Rubiyatun, Guru SMAN 13 Semarang)

Keraguan kepada pemimpin dari agama minoritas tak sekadar dimiliki oleh elit politik.

Perilaku itu juga menembus relung tenaga pengajar di dunia pendidikan. Tanpa tedeng aling-aling (menutup-nutupi), pernyataan kekhawatiran tentang dakwah agama berkaitan setelah pemilihan ketua OSIS yang dimenangkan oleh seorang siswa Nonmuslim terlontar dari salah satu guru di sana.

Rubiyatun dengan sabar meyakinkan kerisauan guru tersebut atas kemenangan pasangan Ivan dan Nisa di gelaran Pemilihan OSIS (Pemilos) periode 2019/2020. Ivan yang merupakan siswa beragama Kristen dan Nisa beragama Islam berhasil mengalahkan kandidat lain di pesta demokrasi tahunan SMAN 13 Kota Semarang.

Saat kami temui, Rubiyatun menceritakan pembicaraannya dengan guru lain yang khawatir jika OSIS di pimpin oleh siswa Nonmuslim.

“Dek, kamu kan pintar mengaji. Sudah tahu kan hadisnya ketika mayoritas Muslim di pimpin oleh Nonmuslim.” Tanya guru lain pada Rubiyatun. Lalu Rubiyatun menjawabnya dengan tegas, “Selagi dia untuk memimpin SMA 13, ‘why not?’. Dalam perjalanan pengurus OSIS dikawal oleh saya (sebagai Pembina OSIS).”

Menaggapi pertanyaan dan respon guru tersebut pasca-Pemilihan Ketua OSIS, Rubiyatun tak mau ambil pusing dengan keraguan guru tersebut pada pilihannya yang tidak mempermasalahkan kemenangan siswa Nonmuslim sebagai Ketua OSIS. Bukan tanpa sebab ia membuang rasa itu jauh-jauh. Di matanya, Ivan telah berproses di organisasi berwarna dasar kuning itu sejak duduk di bangku kelas sepuluh.

Kontribusinya di beberapa kegiatan tak sebatas pada acara nonkeagamaan. Ia menyaksikan Ivan membantu pembagian daging kurban di hari raya Idul Adha yang notabene merupakan hari besar umat Islam.

Kesaksian tentang kiprah dan kontribusi Ivan dalam berbagai kegiatan di sekolah juga diakui oleh Kepala Sekolah SMAN 13 Semarang, Endah Dyah Wardani. Meski awalnya tidak tahu agama orang nomor satu di OSIS itu, Keterampilan dan kemampuannya dalam mengemban tugas menjadi panitia untuk acara keagamaan dan nonkeagamaan sangat jelas terasa. Justru, dirinya baru tahu bahwa Ivan adalah siswa Nonmuslim saat perayaan Natal, hari raya agama yang ia peluk di Sekolah.

Perdebatan NonMuslim Menjadi Ketua OSIS

18

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

7

(24)

Kemampuan manajerial seorang Ivan saat menjadi Ketua OSIS diakui oleh banyak pihak, termasuk oleh Ibu kepala sekolah, Endah Dyah Wardani. Tak heran jika setelah lulus, ia bisa lolos tes di dua universitas ternama; ITB lewat jalur seleksi ketua OSIS dan UNDIP melalui tes Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Namun, Ivan akhirnya lebih memilih melanjutkan studi di Universitas Diponegoro.

Menariknya, bukan sekali ini saja, sebenarnya organisasi intra sekolah SMAN 13 Semarang yang terletak di Kecamatan Mijen ini dipimpin oleh figur beragama minoritas. Riski Wayan yang beragama Hindu tercatat pernah menjadi Pradana Pramuka Gugus Depan 13.083-13.084 yang berpangkalan di SMAN 13 Semarang.

“Kapasitas menjadi seorang pemimpin yang menentukan bukan agamanya,” tegas Rubiyatun.

(25)

BAGIAN

3

Taman Persatuan:

Simbol Keharmonisan

SMAN 11 Semarang

(26)

“Beberapa teman saya ngobrol di sana (di taman persatuan) sambil ngopi; ada yang Islam dan Non-Islam, PNS dan Non-PNS ngobrol di taman pemersatu.

Maka, kami namakan taman persatuan,”

(Supriyanto, Kepala SMA 11 Semarang).

Halaman yang luas SMAN 11 Semarang tampak asri nan sejuk. Gemericik air dan tanam-tanaman turut melengkapi kenyamanan sekolah. Di bagian depan taman tersebut, tampak jelas tulisan “Taman Pemersatu” yang tak lain merupakan nama yang disematkan pada taman sekolah SMAN 11 Semarang tersebut.

Taman persatuan merupakan simbol SMAN 11 Semarang yang selalu menjaga persatuan di atas perbedaan keyakinan dan di atas semua golongan, sehingga SMAN 11 Semarang mampu meraih berbagai prestasi khususnya dalam bidang olahraga.

Label sebagai ‘Sekolah Atlet’ merupakan julukan yang melekat pada SMAN 11 Semarang. Nama-nama beken sekaliber Ernando Ari Sutaryadi, Kartika Vedhayanto, dan Ricky Fajrin dan karateka Wahyu Mukti pernah bernah menimba ilmu di sini.

Kepala Sekolah SMAN 11 Semarang, Supriyanto, bercerita bahwa ia membuat taman persatuan karena terinspirasi dari pengalamannya yang telah memimpin di beberapa sekolah sebelumnya.

Dia merasa, di sekolah di mana ia pernah mengabdi selalu ada intrik-intrik kepentingan yang membawa embel-embel agama. Karena itu, saat menjabat sebagai Kepala Sekolah SMAN 11 Semarang, ia berkomitmen untuk mewujudkan sekolah damai, harmoni, sekolah tanpa perbedaan.

“Dari pengalaman-pengalaman itu, (sejak) saya jadi wakil, jadi kepala sekolah, saya komitmen tidak ada (perlakuan) perbedaan. Di sini pun (SMAN 11) kalau temen-temen kita perlu ada ruangan untuk gereja; buka aja.”

“Silahkan cari tempat, tak gawekne. Saya cari tempat yang kosong. Kalau ada acara besar (hari raya) pakai di (gedung) Serba Guna dulu; saya dukung,” kata pria kelahiran Mranggen, Demak ini.

Supriyanto menilai benturan kepentingan antarguru kerap kali membawa-bawa agama. Sebagai kepala sekolah, hematnya, ketika ada masalah muncul harus pandai-pandai melihat duduk perkara yang sesungguhnya.

Supaya meminimalisir konflik, ia berupaya untuk tidak fanatik. Dia berupaya saat ada kegiatan untuk merayakan hari besar non-Islam, dia menyambut dengan gembira. Dia berusaha menunjukkan keberimbangan sebagai cermin tak ada diskriminasi.

“Saya senang sekali, saya pernah jadi wakil dua orang kepala sekolah non-Islam, dan bisa diterima. Tentu, tanpa ada suara-suara yang ekstrem, karena saya sudah terbiasa mengendalikan orang-orang diskriminatif tadi. Namanya Sekolah Damai, sekolah yang nyaman dengan penataan lingkungan dan seni taman itu menjadikannya nyaman.”

Taman Persatuan

8

(27)

“Saya tanya kepada guru di samping saya. ‘Loh, mbak agamane iki opo? Nasrani, Buk. Itu yang nggitar itu juga Kristen’ dan dia malah pakai peci. Kalau yang vokal itu dia hanya kerudungan disampirkan ala Muslimah zaman dulu. Saya mbatin saja, inilah peningkatan SMAN 13 dari adanya Sekolah Damai. Itu kesan pertama yang tidak akan pernah saya lupakan. Setelah itu (selesai acara) saya tanya sama anaknya, ‘Dik, kamu nyanyi kasidah gitu nggak apa-apa? (Dia jawab) nggak apa-apa, Buk’. Awalnya dia ikut lomba itu, lalu ikut tampil,” sambung Endah.

“Jadi tidak ada istilah kalau orang masuk di SMAN 11 itu tidak kerasan. Apakah mau (agamanya) Tiong Hoa, juga ada guru dari Tiong Hoa, ada guru dari non-Islam, dan Islam, semuanya baik. Tidak ada perbedaan.”

“Di banding sekolah saya dulu, waktu jadi wakil kepala, itu Islamnya ada beberapa varian. Islam saya kan Islam nasionalis ya; Islam nusantara ya. Wah itu waktu itu (pernah kejadian) ada kiaine itu gembor-gembor saya diserang, lalu tak panggil saya bilang sing tanggung jawab aku kabeh (yang tanggung jawab saya semua),” tuturnya.

Supriyanto menambahkan bahwa untuk mendamaikan kedua belah pihak yang berkonflik karena perbedaan keyakinan harus dengan kepala dingin. Jika yang berkonflik sesama agama Islam, dia selalu menekankan pentingnya implementasi Islam Nusantara.

Pernah suatu ketika, ada seorang guru yang ceramahnya cenderung mengarah pada ekstrimisme. Namun, akhirnya ia melunak setelah diberikan pengertian.

Hematnya, tak baik jika konflik keyakinan dibiarkan terlalu lama di sekolah. Ada sindir-menyindir, kasak-kusuk, dan bahkan saling mencela secara terbuka. Kondisi ini tentu tidak baik bagi siswa dan lingkungan sekolah.

“Wis aku Islamku, Islam koyo ngene; ora usah nganggo varian lain. Islamku, Islam Nusantara, saya bilang gitu (sudah Islamku Islam seperti ini, Islam Nusantara). Akhirnya (kedua belah pihak) damai.”

“Dulu ada (guru) yang terlalu menonjolkan (identitas kelompoknya), sejak dulu kalau memberi sambutan kan agak keras itu. Kalau saya sendiri kan ndak enak; kalau saya sih gurung (belum) bisa untuk istilahnya ‘menyodok’ orang. Tapi orang itu tidak sadar kalau kita sodok.”

“Kadang ada yang langsung nyodok, padahal di situ banyak komunitas. la kalau ditembak langsung, memberontak. Caranya saya panggil satu-satu ke ruang kepala sekolah; tak goleki kabeh (saya cari semua). Saya tidak ingin gara-gara soal ini sekolah menjadi ‘segala macem’. Mari kita pikir (urusan) yang lebih utama,” sambung Supriyanto.

Saat ditanya tentang label sebagai sekolah para atlet, Supriyanto tampak menjelaskannya dengan penuh semangat. Dia mengatakan di SMAN 11 Semarang, para atlet beragam agamanya. Ada yang Islam dan ada pula yang Nonmuslim.

Sekolah selalu berupaya untuk memberikan perlakuan yang sama kepada para siswa supaya tidak ada diskriminasi. Hematnya, untuk mewujudkan kondisi harmoni, perlu adanya sebuah keseimbangan.Ada yang bagian dari komunitas besar (Islam), ada juga yang bagian dari komunitas kecil (Nonmuslim). Semua harus bisa bertemu pada sebuah titik keseimbangan.

22

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

(28)

Di SMAN 11 terdapat berbagai latar belakang agama, baik dari guru maupun siswa.

Namun, yang paling utama dan menjadi kepentingan bersama adalah menyiapkan generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang.

“Ya, karena saya guru fisika; Apa to yang disebut harmonis damai? Harmonis kan gerak bolak-balik yang melewati titik keseimbangan. Kalau kita bisa bolak-balik melalui titik keseimbangan itu, kan kita akan damai. Kalau ada macam-macam (latar belakang) kita itu (harus ingat bahwa, kita ini) satu sekolah, SMAN 11.”

“Mari kita wujudkan anak bangsa ini, kita siapkan menjadi pemimpin ke depan. Jangan (hanya karena) masalah kiri, atau kanan, atau gerakan radikal; ini yang akhirnya terjadi benturan. Tapi kita kembalikan di titik keseimbangan itu.”

“Nah inilah Sekolah Damai. Itulah yang mengantarkan sekolah kita bisa harmonis. Kita menyeimbangkan; menanggulangi radikal, ekstrem dan sebagainya. Kita ndak bisa damai jika isinya mung (cuma) curiga-curiganan, intik-intikan (saling memata-matai).

(umpamanya) Ada yang upload foto di internet, woh ini ada aliran sesat. Kan ini yang (menjadikan) ndak bisa harmonis, tidak bisa damai.”

“Alhamdulillah dengan filosofi damai menurut yang kami lakukan, kita bisa on the track.

Walaupun mungkin tidak seperti yang dilakukan sekolah-sekolah lain. Pada prinsipnya perdamaian itu kami wujudkan,” tukas Supriyanto.

Di SMAN 11 Semarang, warga sekolah memang terdiri dari berbagai latar belakang agama. Karena itu, sekolah selalu memberikan perlindungan kepada setiap murid dan gurunya tanpa memandang perbedaan tersebut, sehingga semua mereka semua bisa merasa nyaman.

“Yang Nonnuslim, yes; yang Tiong Hoa ada juga sebagian, di sini bisa yes. Jadi ndak ada masalah. Kalau mereka mau sekolah di sini itu ndak berpikir ‘wo di sana Islam kabeh;

ndak begitu’. (Sekolah) Betul-betul memberikan pengayoman. Itu gambaran SMAN 11 Semarang,” katanya.

(29)

Supriyanto merasa sangat bersyukur dengan kondisi SMAN 11 Semarang yang sudah sangat damai dan harmoni. Terlebih lagi ketika ia mengingat pengalaman-pengalamannya sebelum menjadi kepala sekolah dan saat masih ditugaskan dari sekolah satu ke sekolah lainnya.

Pernah di suatu sekolah, iklim yang tercipta sebenarnya sudah sangat tidak kondusif.

Namun, dalam beberapa hal, kepentingan-kepentingan kelompok, khususnya terkait identitas agama, masih saja dibawa-bawa.

“Banyak pengalaman sebenarnya; saya sudah pindah keempat sekolah. Memang ada beberapa sekolah yang ‘keras’. Di sebuah SMAN Negeri di Semarang, waktu itu ada gap; ya mungkin sekitar tahun 1997 atau 1998.”

“Betul-betul mau masuk jadi staf Waka itu sudah ada skenario antara Muslim dan Nonmuslim betul. Saling intai, kalau ada kader Nonmuslim yang menonjol ini selalu ditekan agar tidak bisa berkembang dan tidak masuk di staf pimpinan. Begitu juga sebaliknya, ya sama-sama kerasnya,” ungkap Supriyanto.

Lebih lanjut, Supriyanto mengungkapkan bahwa ia mempunyai seorang teman yang juga seorang gusu PNS yang telah dipromosikan untuk mejadi kepala sekolah di sebuah SMA Negeri di Semarang. Ternyata, dalam perkembangannya, ada sebuah rencana “penjegalan” dan penolakan dari guru-guru di SMA Negeri tersebut supaya temannya ini tidak diangkat menjadi kepala sekolah di sana karena ia seorang Nonmuslim.

Salah satu guru di sana mengatakan kepada Supriyanto, “saya ndak terima kalau di SMAN 5 ini (dipimpin oleh Kepsek) non-Islam”. Bahkan, sang guru ini mengaku akan membuat surat dan mengadu ke pimpinan pusat berdasarkan mosi tidak percaya;

calon kepala sekolah Nonmuslim ini menurutnya harus ditolak.

“Waktu itu guru-guru Muslim mau demo. Saya satu-satunya yang membela (kepala sekolah Nonmuslim). Saya sampaikan kepada teman-teman guru, ‘apakah jenengan rela seperti yang sudah terjadi, ketika (yang) Islam jadi kepala sekolah; tidak bisa membawa kemajuan sekolah? Ini (temannya, calon kepala sekolah Nonmuslim), saya berani jamin (bisa membawa perubahan)’.”

“Saya sempat bersitegang. Akhirnya setelah dia jadi kepala sekolah di SMAN itu, dia kepala sekolah yang terbaik. Saya tunjukkan testimoni saya ke temen-temen. Saya berani menjamin bahwa dia adalah orang baik; kita tidak usah terpengaruh Islam dan yang tidak Islam itu.”

“Tapi kalau di sini (SMAN 11 Semarang) ndak ada. Nyuwun sewu, ini Pak Afan (wakil kepala sekolah) ibarate (sekarang masih) junior, tapi sudah jadi wakil. Kan ndak ada diskriminasi,” kata Supriyanto.

Politik Bawa-bawa Agama

“Saya tanya kepada guru di samping saya. ‘Loh, mbak agamane iki opo? Nasrani, Buk. Itu yang nggitar itu juga Kristen’ dan dia malah pakai peci. Kalau yang vokal itu dia hanya kerudungan disampirkan ala Muslimah zaman dulu. Saya mbatin saja, inilah peningkatan SMAN 13 dari adanya Sekolah Damai. Itu kesan pertama yang tidak akan pernah saya lupakan. Setelah itu (selesai acara) saya tanya sama anaknya, ‘Dik, kamu nyanyi kasidah gitu nggak apa-apa? (Dia jawab) nggak apa-apa, Buk’. Awalnya dia ikut lomba itu, lalu ikut tampil,” sambung Endah.

“Jadi tidak ada istilah kalau orang masuk di SMAN 11 itu tidak kerasan. Apakah mau (agamanya) Tiong Hoa, juga ada guru dari Tiong Hoa, ada guru dari non-Islam, dan Islam, semuanya baik. Tidak ada perbedaan.”

“Di banding sekolah saya dulu, waktu jadi wakil kepala, itu Islamnya ada beberapa varian. Islam saya kan Islam nasionalis ya; Islam nusantara ya. Wah itu waktu itu (pernah kejadian) ada kiaine itu gembor-gembor saya diserang, lalu tak panggil saya bilang sing tanggung jawab aku kabeh (yang tanggung jawab saya semua),” tuturnya.

Supriyanto menambahkan bahwa untuk mendamaikan kedua belah pihak yang berkonflik karena perbedaan keyakinan harus dengan kepala dingin. Jika yang berkonflik sesama agama Islam, dia selalu menekankan pentingnya implementasi Islam Nusantara.

Pernah suatu ketika, ada seorang guru yang ceramahnya cenderung mengarah pada ekstrimisme. Namun, akhirnya ia melunak setelah diberikan pengertian.

Hematnya, tak baik jika konflik keyakinan dibiarkan terlalu lama di sekolah. Ada sindir-menyindir, kasak-kusuk, dan bahkan saling mencela secara terbuka. Kondisi ini tentu tidak baik bagi siswa dan lingkungan sekolah.

“Wis aku Islamku, Islam koyo ngene; ora usah nganggo varian lain. Islamku, Islam Nusantara, saya bilang gitu (sudah Islamku Islam seperti ini, Islam Nusantara). Akhirnya (kedua belah pihak) damai.”

“Dulu ada (guru) yang terlalu menonjolkan (identitas kelompoknya), sejak dulu kalau memberi sambutan kan agak keras itu. Kalau saya sendiri kan ndak enak; kalau saya sih gurung (belum) bisa untuk istilahnya ‘menyodok’ orang. Tapi orang itu tidak sadar kalau kita sodok.”

“Kadang ada yang langsung nyodok, padahal di situ banyak komunitas. la kalau ditembak langsung, memberontak. Caranya saya panggil satu-satu ke ruang kepala sekolah; tak goleki kabeh (saya cari semua). Saya tidak ingin gara-gara soal ini sekolah menjadi ‘segala macem’. Mari kita pikir (urusan) yang lebih utama,” sambung Supriyanto.

Saat ditanya tentang label sebagai sekolah para atlet, Supriyanto tampak menjelaskannya dengan penuh semangat. Dia mengatakan di SMAN 11 Semarang, para atlet beragam agamanya. Ada yang Islam dan ada pula yang Nonmuslim.

Sekolah selalu berupaya untuk memberikan perlakuan yang sama kepada para siswa supaya tidak ada diskriminasi. Hematnya, untuk mewujudkan kondisi harmoni, perlu adanya sebuah keseimbangan.Ada yang bagian dari komunitas besar (Islam), ada juga yang bagian dari komunitas kecil (Nonmuslim). Semua harus bisa bertemu pada sebuah titik keseimbangan.

24

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

(30)

Supriyanto melanjutkan cerita, pada masa itu seorang guru dengan kemampuan yang mumpuni dan sudah terbukti tidak bisa begitu saja menduduki sebuah jabatan.

Masing-masing kelompok sudah menyiapkan kadernya untuk menduduki posisi strategis di sekolah.

Ketika lowongan dibuka, di situlah genderang konflik dimulai. Saling berebut jabatan dengan “bawa-bawa” agama untuk memenangkannya. Kondisi demikian membuat Supriyanto prihatin karena secara tidak langsung menjadikan kondisi sekolah menjadi sangat tidak sehat.

“Dikira SMA mu kene (yang seperti ini) hebat. Ketoke wong njobo, ki kene favorit (keliatannya dari luar SMA ini favorit), (padahal kayak) ondel-ondel; gedhe tapi njerone keropos (besar tapi dalamnya keropos). Banyak diskriminasi; diskriminasi rejeki.”

“Staf juga begitu, dan intik-intikan (intai mengintai) kegiatan juga gitu; dan itu tidak ikhlas itu. Akhirnya yang Islam membuat agar mereka tidak bisa berkegiatan begitu juga sebaliknya”.

“Angger esuk-esuk ning pojok kono genjrengan ‘Haleluya’, banter-banteran. Sing kene Islam (sama saja). Tapi itu tidak berdasarkan program; memang persaingan emosional. (Sebetulnya) Kalau di program sekolah, kan bagus. Tapi itu ndak,”

tukasnya.

Supriyanto menilai antara agama dan kepentingan mempunyai peran masing-masing dalam menciptakan kondisi demikian di sekolah karena diakui atau tidak, ada dalil tentang kepimpinan Nonmuslim dalam Islam. Sayangnya, dalil tersebut sering disalahpahami bahkan dijadikan sebagai dasar untuk kepentingan sesaat, persaingan prestasi yang kurang sehat.

Hal itu terjadi karena dulu, saat sekolah masih bebas melakukan pungutan seperti SPP SBI dan belum ada Ombudsman dan Espektorat, wakil kepala sekolah saja bisa menjadi ‘raja kecil’. Jangankan wakil kepala sekolah, lanjut Supriyanto, seorang yang menduduki jabatan staf saja sudah bisa menghasilkan uang. Sehingga, persaingan posisi jabatan di sekolah menjadi rebutan.

“Sekarang wajar-wajar saja. Bahkan, kalau sekarang dijadikan wakil banyak yang ndak mau. Dulu ada yang menjabat lima tahun berturut-turut. Alasannya, masih layak dan mampu. Saya sampai ketika punya alternatif pindah sekolah karena sudah buruknya managemen,” pungkasnya.”

(31)

“Pokoknya prisnsipnya, berkeadilan menjadi tonggak utama. Ketika hari-hari besar Islam difasilitasi oleh sekolah lewat Rohis. Hal yang sama harus didapatkan oleh CSF dan FKPK,”

ungkap Sholeh.

“Kondisi harmonis hampir tak akan terjadi tanpa keadilan”. Berpijak pada prinsip itulah tampaknya SMAN 11 Semarang membangun kerukunan antar dan inter warga sekolah.

Kondisi ini ibarat sebuah gambaran yang dilukis sastrawan tersohor Pramoedya Anantatoer.

“Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Itulah memang arti terpelajar sebagaimana dalam potongan dialog antara Jean Marais dengan Minke di Novel Bumi Manusia, karangan Pramoedya Anantatoer. Minke yang tampak ragu-ragu dan mudah putus asa setelah berdialog dengan Marais perlahan tak mudah goyah dalam pendirian dan pikiran.

Rasanya, sosok Sholeh Amin tak perlu dibisiki oleh Jean Marais untuk menjadi pendidik yang terpelajar dan mengerti akan konsep keadilan. Pasalnya, ia telah berusaha sebaik mungkin untu mengimplementasikan kedua konsep tersebut yang salah satunya melalui kegiatan ekstrakulikuler keagamaan.

Di SMAN 11 Semarang, ada tiga organisasi ekstrakulikuler keagamaan yaitu, Rohani Islam (Rohis) untuk Muslim, Christian Student Fellowship (CSF) untuk Kristen, dan Forum Komunikasi Pelajar Katolik (FKPK) untuk Katolik.

Ketiga organisasi itu masing-masing mendapatkan jatah untuk mengadakan kegiatan perayaan hari besar agama. Prinsip ini dipegang teguh oleh pihak SMAN 11 Semarang sebagai bentuk pelayanan terhadap siswa tanpa melihat perbedaan agama minoritas maupun mayoritas.

“Pokoknya, prinsipnya berkeadilan menjadi tonggak utama. Ketika hari-hari besar Islam difasilitasi oleh sekolah lewat Rohis. Hal yang sama harus didapatkan oleh CSF dan FKPK,” ungkap Sholeh.

Rohis pernah mengundang Habib Syech ke sekolah saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Porsi yang sama juga didapatkan oleh CSF dan FKPK untuk merayakan Natal bersama tenaga pengajar. Kehadiran guru saat kegiatan kerohaniaan Kristen juga menjadi sebuah motivasi bagi mereka.

Keadilan bisa menjadi awal penghormatan terhadap keragaman. Tak sekadar adil dalam pembagian kegiatan untuk organisasi ekstrakulikuler.

Dalam proses belajar pun nilai keadilan diterapkan. Penilaian terhadap siswa yang sedang menjalani pemusatan pelatihan tidak bisa disamakan dengan peserta didik lainnya.

Adil Dulu, Baru Harmonis

26

Cerita Baik Pengelolaan Keragaman dan Resolusi Konflik

9

(32)

“Idealis wajar, tapi atlet sering tidak bisa mengikuti pelajaran. (Dia) membawa nama baik provinsi dan nasional. (Sekolah) bisa memberi pengertian selama tidak masuk karena tugas negara,” ungkap Supriyanto.

Keragamanan yang dimiliki SMAN 11 Semarang tak bakal pudar begitu saja. Subarwati merasa nyaman dalam menyikapi perbedaan. Ia tak menampik warna-warni agama dapat menimbulkan konflik.

“Ada, tapi ndak sampai menimbulkan gap. Kita juga tetep sahabatan,” tutur perempuan asal Pati.

Selama mengajar, Subarwati mengaku selalu mengucapkan hari raya kepada penganut agama lain dan dirinya juga membalas jika diberi ucapan saat Natal.

Meskipun terdapat beberapa tenaga pendidik yang memiliki pandangan tidak boleh mengucapkan hari raya di luar agamanya.

Dalam rangka menyemai toleransi antarsiswa telah disediakan acara pengajian sabtu pagi bersama. Konten yang diberikan kepada siswa pun beragam. Mulai dari motivasi hingga informasi seputar pengembangan prestasi. Tujuan dari kegiatan ini tidak lain adalah untuk merekatkan hubungan antarsiswa SMAN 11 Semarang.

Hanbal, anggota Rohis, mengaku belum memiliki kesempatan sama sekali untuk mencicipi forum luring. Pengalaman interaksi dengan kegiatan sekolah hanya melalui daring. Berbeda dengan kakak tingkatnya, Theresia dan Damara yang pernah mencicipi kuliah luring.

Damara, anggota FKPK, yang kini duduk di kelas XII menuturkan kisah perjumpaannya dengan siswa Muslim saat mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Dalam kegiatan tersebut, saat sesi istirahat, salat, dan makan (ISHOMA) hampir usai, siswa beragama Kristen memberikan ruang agar siswa Muslim dapat melaksanakan salat tepat waktu. Sebaliknya, saat siswa Kristen dan Katolik melakukan ibadah, siswa Muslim mau menunggu hingga ibadah usai.

“Pengalaman terkenang sekali. Enggak tahu bisa di ulang lagi apa engga pas pandemi kaya gini,” katan Damara.

Lain halnya dengan pengalaman Theresia, teman satu angkata Damara. Ia beruntung mengalami perjumpaan di gereja tempat ia beribadah. Saat ada perkumpulan lintas iman untuk melaksanakan kegiatan doa bersama, para pemuka agama secara bergantian memimpin doa bersama. hal itulah yang menurut Theresia membuat peserta kegiatan tersebut menjadi nyaman. “Aku lihatnya adem banget, beruntung bisa jadi bagian dari panitia,” tukasnya.

Taman Bhineka yang dibangun sekolah tak sekadar simbol semata. Warga sekolah butuh nilai-nilainya untuk menjadi pegangan dalam keseharian. Perdamaian berkelindan dengan pengalaman, pemenuhan serta pengakuan dalam satu bingkai kehidupan.

10

(33)

4

BAGIAN

Rohis Legal dan Ilegal:

Cerita SMA 10 Semarang

(34)

“Mereka (kelompok Rohis) legalitasnya ndak ada, ndak ada Surat Keputusannya (SK) baik dari Dinas Pendidikan atau dari Kementerian Agama. Walaupun mereka sudah ke sana (Diknas dan Kemenag) untuk meminta SK, tapi belum ada. Mereka dibina oleh orang dari luar, kebanyakan bukan guru agama,” (Ahmad Fadhol, Guru PAI SMAN 10 Semarang).

Di wilayah Jawa Tengah, sebagaimana yang disampaikan oleh Ahmad Fadhol, guru PAI SMAN 10 Semarang, ada dua kelompok organisasi Rohis yang selama ini melakukan aktif menjalakan kegiatannya.

Kelompok pertama (legal) adalah lazimnya Rohis yang selama ini dikenal, yakni yang secara legal berada dalam naungan dan pembinaan sekolah, serta mendapat SK (Surat Keputusan) dari Diknas dan Kementerian Agama.

Kelompok kedua (ilegal), yang oleh Pak Fadhol ini disebut Rohis outsider, merupakan kelompok Rohis yang tidak berada dalam naungan dan pembinaan sekolah. Kelompok ini di bawah pembinaan guru-guru umum (bukan guru agama) dan tidak mempunyai hubungan resmi secara kelembagaan dengan sekolah. Kelompok yang kedua ini juga tidak mendapatkan SK, baik dari Diknas maupun dari Kementerian Agama.

Dalam perkembangannya, dua kelompok Rohis tersebut saling berkontestasi di ruang-ruang publik, seperti di tingkat kabupaten/kota masing-masing.

“Mereka legalitasnya ndak ada. SK, baik dari Dinas Pendidikan atau dari Kemenag, juga tidak punya. Walaupun mereka,selama ini sudah ke sana untuk meminta SK, tapi belum ada. Nah, kelompok Rohis kedua ini yang mungkin kalau di survei hasilnya masuk kategori intoleran,” kata Fadhol.

Ketika ditanya mengenai pola rekrutmen anggota Rohis, Fadhol menjelaskan perbedaan Rohis legal dan yang ilegal dalam merekrut anggota baru antara anggota Rohis yang di bawah binaan sekolah, rekrutmennya lebih jelas dan terbuka melalui mekanisme pendaftaran di sekolah. Sedangkan, kelompok Rohis ilegal merekrut anggotanya dari luar sekolah dan melalui jaringan alumni.

“Kelompok Rohis ini rekrutmennya melalui jaringan alumni dan juga keluarga mungkin ya. Anak Rohis kami (di bawah binaan sekolah) pernah suatu kali di undang oleh kelompok ini. Dan mereka melaporkan; ya memang ada muatan-muatan intoleran dalam materinya.”

“Saya kalau ngirim peserta untuk ikut acara Rohis di luar, pasti (memastikan bahwa acara tersebut diadakan oleh Rohis) yang keyakinan keagamaan dan pemahaman toleransinya sudah bagus. Jadi tidak terpengaruh,” ungkap Fadhol.

Ada Rohis Tandingan

11

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Hal ini dilihat dari meskipun tingkat kebutuhan wanita karir akan adanya ruang laktasi dan tingkat pengetahuan pemimpin BUMN atau orang yang ditunjuk mengenai PP RI

Untuk menjawab beberapa pertanyaan ini, dilakukan penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian field research (penelitian

Berdasarkan Berita Acara Penetapan Peringkat Teknis Nomor BPBD01.13/POKJA~KONSULTAN/IX/2012, tanggal 14 September 2012 untuk Paket Pekerjaaan Jasa Konsultansi

Metode penelitian yang dipilih peneliti didasarkan pada tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui hubungan locus of control dengan performa atlet pada

Tujuan dari implementasi e-learning pada lingkungan sekolah adalah selain dari memperkenalkan internet, hal ini dapat juga menjadi gaya baru dalam proses belajar mengajar

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh citra destinasi dan fasilitas wisata terhadap niat berperilaku melalui kepuasan pada Museum

Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolic yang berlangsung kronik dimana penderita diabetes tidak bias memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup atau tubuh

Untuk memenuhi kondisi ideal dengan mengoptimalkan sumber daya manusia yang ada di STIKOM Surabaya agar sesuai dengan regulasi, maka perlu adanya aplikasi pelayanan