• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

A. Tujuan Umum

Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu metode untuk mengembangkan keterampilan, kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi lebih baik. Menurut Undang-Undang Sisdiknas No 2 tahun 1989 bahwa Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Undang-Undang Sisdiknas No 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Peningkatan mutu pendidikan dirasakan sebagai suatu kebutuhan bangsa yang ingin maju. Dengan keyakinan bahwa pendidikan yang bermutu dapat menunjang pembangunan di segala bidang. Oleh sebab itu perlu adanya pemahaman tentang dasar dan tujuan pendidikan secara mendalam. Apabila kita telah memamahami dasar dan tujuan pendidikan, maka kita bisa memajukan pendidikan secara nasional. Dasar dan tujuan pendidikan merupakan masalah yang fundamental dalam pelaksanaan pendidikan, karena dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan isi pendidikan. Tujuan pendidikan itupun akan menentukan kearah mana anak didik akan dibawa. Untuk itu maka kita harus benar benar memahami apa saja dasar pendidikan dan tujuan yang nantinya bisa dicapai (Zain, 1997: 1).

Hasbullah (2013: 137) mengatakan bahwa persoalan dasar dan tujuan pendidikan merupakan masalah yang sangat fundamental dalam pelaksanaan pendidikan karena dasar pendidikan itu akan menentukan corak dan isi pendidikan. Pada pasal 1 ayat 2 UU Nomor 2 tahun 1989 ditegaskan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa

(2)

Indonesia. Oleh karena itu, pendidikan nasional pada hakikatnya merupakan kelanjutan dari sistem pendidikan yang telah ada sebelumnya.

Tujuan umum disebut juga tujuan sempurna, tujuan terakhir, atau tujuan bulat. Tujuan umum ialah tujuan di dalam pendidikan yang seharusnya menjadi tujuan orang tua atau pendidik lain, yang telah ditetapkan oleh pendidik dan selalu dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang terdapat pada anak didik itu sendiri dan di hubungkan dengan syarat-syarat dan alat-alat untuk mencapai tujuan umum itu.

Tujuan umum itu tidak akan dan tidak dapat selalu diingat oleh si pendidik dalam melaksanakan pendidikannya. Oleh karena itu, tujuan umum itu selalu dilaksanakan dalam bentuk-bentuk yang khusus (diperluaskan ) mengingat keadaan-keadaan dan faktor-faktor yang terdapat pada anak didik sendiri dan lingkungannya seperti:

1) Sifat pembawaan anak didik: umurnya dan jenis kelaminnya, watak dan kecerdasannya.

2) Kemungkinan-kemungkinan dan kesanggupan-kesanggupan keluarga anak didik itu, miskin atau kaya, terpelajar atau tidak dan lain-lain. Masih primitif atau sudah majukah masyarakat sekitar anak itu? Apakah adat-istiadat masyarakat disitu menghabat atau melancarkan jalannya pendidikan anak itu?

Dan sebagainya.

3) Tempat dalam masyarakat yang menjadi tujuan anak didik itu. Jabatan- jabatan, pekerjaan-pekerjaan, dan fungsi-fungsi masyarakat apakah yang diperlukan? Pertanian, perindustrian, perekonomian, pemerintahan, perdagangan, dan sebagainya adalah lapangan-lapangan kemasyarakatan yang memerlukan syarat-syarat tertentu dari tiap-tiap orang. Dengan kata lain, tidak pada semua anggota masyarakat meminta syarat-syarat yang sama.

4) Tugas badan-badan dan tempat pendidikan. Keluarga atau rumah tangga, sekolah, badan-badan keagamaan, badan-badan sosial, dan sebagainya sudah tentu mempunyai tugas yang berbeda-berbeda dalam mendidik anak-anak.

Masing-masing akan memperhatikan kepribadian anak didik dari sudutnya sendiri-sendiri.

(3)

5) Tugas negara dan masyarakat di sini dan sekarang. Tugas suatu bangsa atau umat manusia di dalam suatu negara yang dijajah atau yang sudah merdeka berlainan. Demikian pula, keadaan bangsa dan umat manusia dahulu berbeda dengan sekarang. Maka dari itu, tujuan sempurna dengan sendirinya mengalami penentuan yang berlainan pula.

6) Kemampuan-kemampuan yang ada pada pendidik sendiri. Seperti pernah diuraikan, hidup si pendidik turut menentukan arah tujuan pendidikan.

Demikian pula, kecakapan-kecakapan, kesanggupan, pengetahuan, dan kehidupan si pendidik itu. Tujuan umum ini dengan demikian harus di tentukan yang sungguh-sungguh kongkret dengan memperhitungkan dan memperhatikan segala kenyataan (Purwanto, 2011: 20-21).

Tujuan Umum ialah tujuan pendidikan yang berlaku untuk seluruh lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh suatu negara. Tujuan Umum pendidikan yang berlaku di Indonesia disebut tujuan pendidikan nasional. Tiap- tiap negara mempunyai tujuan pendidikan nasional. Untuk negara kita, tujuan pendidikan nasional seperti yang telah diuraikan dimuka tercantum di dalam UU No. 2 Tahun 1989 tentang sistem pindidikan Nasional.

Tujuan umum dan tujuan pendidikan nasional tersebut merupakan dasar dan pedoman bagi penyususn kurikulum bagi semua lembaga pendidikan yang ada di negara Indonesia, dari jenjang taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.

Berikut ini akan dikemukakan tujuan-tujuan pendidikan di Indonesia (Hasbullah, 2013: 140-144).

1. Menurut SK menteri pendidikan pengajaran dan kebudayaan No. 104/Bhg.0 tanggal 1 maret 1946. Tujuan pendidikan adalah untuk menanamkan jiwa patriotisme. Hal ini sesuai dengan semangat dan situasi Indonesia yang baru merdeka, di mana kolonial Belanda masih berusaha dan berkeinginan untuk kembali berkuasa di Indonesia.

2. Rumusan tujuan pendidikan menurut UU No. 4 tahun 1950, tecatum dalam bab II pasal 3 yang berbunyi “tujuan pendidikan dan pengajaran membentuk manusia susila yang cakap dan warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Rumusan

(4)

tujuan pendidikan ini kemudian dituangkan kembali dalam UU No. 12 tahun 1954 tentang Dasar-dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah yang sesungguhnya merupakan pemberlakuan kembali UU No. 4 tahun 1950 untuk seluruh wilayah RI. Formulasi cita-cita ini menunjukkan bahwa pendidikan ketika itu telah mengadaptasi pemikiran demokrasi yang tengah berkembang sehingga sifat-sifat ini pula yang ditanamkan kepada generasi mudanya.

3. Rumusan tujuan pendidikan menurut ketetapan MPR No. II tahun 1966 yang berbunyi tujuan pendidikan ialah mendidik anak ke arah terbentuknya manusia yang berjiwa Pancasila dan bertanggung jawab atas terselenggaranya masyarakat sosialis Indonesia yang adil dan makmur material dan spiritual.

4. Rumusan tujuan pendidikan menurut sistem pendidikan nasional Pancasila dengan penetapan Presiden no. 19 tahun 1965 yang berbunyi tujuan pendidikan nasional kita, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta, dari pendidikan prasekolah sampai pendidikan tinggi, supaya melahirkan warga negara sosialis Indonesia yang susila, yang bertaggung jawab atas terselenggaranya masyarakat sosialis Indonesia, adil dan makmur baik spiritual maupun material yang berjiwa Pancasila, yaitu: (a) ke-Tuhan-an Yang Maha Esa, (b) Perikemanusiaan yang adil dan beradab, (c) Kebangsaan, (d) Kerakyatan, (e) Keadilan Sosial, seperti dijelaskan dalam Manipol/Usdek.” Formulasi ini ternyata tidak bertahan lama karena peristiwa G 30 S/PKI tahun 1965 yang menyadarkan rakyat tentang motif politik PKI di balik cita-cita pendidikan tersebut. Selanjutnya, pada masa Orde Baru melalui Ketetapan MPRS RI No. XXVII/MPRS/1966 tentang Agama, Pendidikan dan Kebudayaan disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah:

“Membentuk manusia Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.”

5. TAP MPR Nomor 4/MPR/1973, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berPancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan

(5)

tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.

6. TAP MPR Nomor II MPR/1988. Tujuan pendidikan adalah berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang budiman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti yang luhur, berkepribadian, berdisiplin bekerja keras, tanggung, tanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta pada tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial sejalan dengan itu dikembangkan iklim belajar mengajar yang dapat menimbulkan rasa percaya diri sendiri serta sikap dan perilaku yang inovatif dan kreatif.

7. TAP MPR Nomor 2 MPR/1993. Tujuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berbudi pekerti yang luhur, profesional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotic dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan iklim berat dan mengajar dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan budaya belajar dikalangan masyarakat terus dikembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku yang kreatif, inovatif dan keinginan untuk maju.

8. Menurut UU nomor 2 Tahun 1989 tetang sistem pendidikan nasional Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang

(6)

mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

9. Tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 berbunyi :”bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

B. Tujuan Khusus

Tujuan khusus sebagai indikasi tercapainya tujuan umum, yaitu tujuan pendidikan yang disesuaikan dengan keadaan tertentu,baik berkaitan dengan cita- cita pembangunan suatu bangsa, tugas dari suatu badan atau lembaga pendidikan, bakat kemampuan peserta didik, seperti memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik untuk bekal hidupnya setelah ia tamat, dan sekaligus merupakan dasar persiapan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya (Mujib, 2008: 76)

Tujuan institusional, tujuan instruksional dan tujuan kurikuler termasuk dalam tujuan khusus. Perumusan tujuan institusional dipengaruhi oleh tiga hal:

Tujuan Pendidikan Nasional, Kekhususan setiap lembaga dan Tingkat usia peserta didik. Tujuan institusional itu dicapai melalui pemberian berbagai pengalaman belajar kepada peserta didikanya.

Tujuan institusional adalah perumusan secara umum pola perilaku dan pola kemampuannya yang harus dimiliki oleh setiap lembaga pendidikan yang berbeda-beda sesuai dengan fungsi dan tugas yang harus dipikul oleh setiap lembaga dalam rangka menghasilkan lulusan dengan kemampuan dan keterampilan tertentu. Macam-macam tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dibedakan menurut luas dan sempetnya isi tujuan itu, atau menurut jauh-dekatnya jarak waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan institusional adalah tujuan pendidikan yang akandicapai menurut jenis dan tingkatan sekolah atau lembaga pendidikan masing-masing. Tujuan isntitusional ini tergantung di

(7)

dalam kurikulum sekolah /lembaga pendidikan yang menggemabrakan yang harus dicapai seltelah selesai belajar di sekolah itu. Dengan demikian, tujuan institusional SMA tidak sama dengan STM dan sebagainya (Purwanto, 2011: 41).

Sebagai contoh tujuan institusional SMP tercantum dalam kurikulum SMP 1975 adalah sebagai berikut: Sekolah menengah umum tingkat pertama disingkat SMP ialah lembaga pendidikan sebagai lanjutan dari sekolah dasar yang mempersiapkan siswanya untuk sekolahyang lebih tinggi serta mempunyai program pendidikan untuk siswa yang tidak melanjutkan studinya.

Contoh lain, berikut ini dikemukakan tujuan isntitusional pendidikan dasar sembilan tahun,seperti tercantum dalam peraturan Pemerintah RI Nomor 28 Tahun 1990 tentang pendidikan dasar Bab II Pasal 3 sebagai berikut:

Pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemapuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagi pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah.

Tujuan Kurikuler adalah tujuan yang dirumuskan secara formal pada kegiatan kurikuler yang ada pada lembaga-lembaga pendidikan. Tujuan kurikuler sifatnya lebih khusus jika dibandingkan dengan tujuan institusional, tetapi tidak boleh menyimpang dari tujuan institusional.Seperti misalnya, tujuan kurikulum di sekolah-sekolah ada mata pelajaran kewarganegaraan yang berbeda dibandingkan dengan SMP. Tujuan mata pelajaran untuk Kewarganegaraan di sekolah-sekolah tersebut disebut tujuan kurikuler sesuai dengan kurikulum pada masing-masing sekolah.Tujuan kurikuler merupakan penjabaran dari tujuan institusional, yang berarti lebih khusus dari pada tujuan Institusional (Idris, 1992: 32).

Tujuan instruksional dibedakan menjadi dua, yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.Tujuan instruksional umum berisi kualifikasi yang merupakan pernyataan hasil belajar yang diharapkan dimiliki oleh si terdidik setelah mengikuti pelajaran dalam pokok bahasan tertentu.Tujuan instruksional khusus merupakan penjabaran lebih lanjut dari tujuan instruksional umum, dinyatakan dalam rumusan sekhusus-khususnya, sehingga tujuan tersebut mudah dinilai dan tidak menimbulkan salah tafsir (Suwarno, 1992:53).

(8)

Tujuan isntruksional ialah tujuan pokok bahasan atau sub pokok bahasan (topik-topik atausub topik) yang akan diajarkan oleh guru. Tujuan isntruksional dibedakan menjadi dua macam, yaitu tujuan instuksional Umum (TIU) dan tujuan instruksional Khusus (TIK). Umumnya TIU dari tiap pokok bahasan telah dirumuskan di dalam kurikulum sekolah khususnya di dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Sedangkan TIK adalah tujuan pengajaran yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa pada akhir tiap jam pelajaran. TIK dibuat /dirumuskan oleh guru sendiri dan dicantumkan di dalam program satuan pelajaran (Satpel). Perumusan TIK tidak boleh menyimpang atau bertentangan dengan TIU dari pokok bahasan yang akan diajarkan (Purwanto, 2011: 42).

Dengan merumuskan tujuan instruksional terutama TIK sebelum melanjutkan suatu pokok bahasan, guru dapat membayangkan hasil tingkah laku (Behavioral objectives) apa yang seharusnya dicapai atau dikuasai siswa setelah mengalami proses belajar – mengajar tertentu. Di samping itu, dengam merumuskan Tik, guru dapat menetapkan/memilih materi atau bahan pelajaran, metode mengajar, kegiatan belajar, serta alat evaluasi belajar mana yang relevan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

Tujuan pendidikan harus mencerminkan kemampuan sistem pendidikan Nasional untuk mengakomodasikan berbagai tuntutan peran yang multi dimensional. Secara umum, pendidikan harus mampu menghasilkan manusia sebagai individu dan anggota masyarakat yang sehat dan cerdas dengan:

Kepribadian kuat, religius dan menjunjung tinggi budaya luhur, Kesadaran demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, Kesadaran moral hukum yang tinggi, Kehidupan yang makmur dan sejahtera.

Tujuan khusus pendidikan nasional tertuang dalam UU No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yaitu bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

(9)

C. Tujuan Antara

Tujuan sementara (antara) ini merupakan tempat-tempat perhentian sementara pada jalan yang menuju ke tujuan umum, seperti anak-anak dilatih untuk belajar keberhasilan, belajar berbicara, belajar berbelanja, dan belajar bermain-main bersama teman-temannya (Purwanto, 2013: 20).

Umpamanya, kita melatih anak belajar berbicara sampai anak itu sekarang dapat berbicara. Dalam hal ini tujuan kita telah tercapai (tujuan sementara ), yaitu anak dapat berbicara. Tetapi, tidak hanya sampai disitu tujuan kita. Anak kita ajar berbicara agar anak itu dapat berbicara dengan baik dan sopan santun terhadap sesama manusia, agar ia berbuat susila (tujuan tak lengkap), dan seterusnya.

Demikian pula melatih anak untuk belajar kebersihan, belajar berbelanja, dan sebagainnya adalah tujuan sementara.

Tujuan sementara ini merupakan tingkatan-tingkatan untuk menuju kepada tujuan umum. Untuk mencapai tujuan-tujuan sementara itu di dalam praktik harus mengingat dan memperhatikan jalannya perkembangan pada anak. Untuk ini maka perlulah psikologi perkembangan.

Tujuan ini bergantung pada tujuan-tujuan sementara. Umpamanya, tujuan sementara ialah si anak harus belajar membaca dan menulis. Setelah di tentukan untuk apa anak belajar membaca dan menulis itu,dapatlah sekarang berbagai macam kemungkinan untuk mencapainya itu dipandang sebagai tujuan perantara, seperti metode mengajar dan metode membaca.

Contoh lain, tujuan tak sempurnah ialah pembentukan kesusilaan: sebagai tujuan sementaranya dapat ditentukan pada suatu umur yang tertentu si anak belajar membeda-bedakan “kepunyaanku” dan kepunyaanmu”. Dengan memperhatikan tujuan sementara itu si anak kita beri permainannya sendiri (tujuan perantara).

Tujuan tak sempurna ini bergantung kepada tujuan umum dan tidak dapat terlepas dari tujuan umum itu. Memisahkan tujuan tak lengkap menjadi tujuan sendiri sehingga merupakan tujuan terakhir atau tujuan umum dari pendidikan, menjadi berat sebelah, dan berarti tidak mengakui kepribadian manusia sebulat- bulatnya. Ingatlah: pendidikan hendaklah harmonis. Yang dimaksud dengan

(10)

tujuan tak sempurna atau tak lengkap ini ialah tujuan-tujuan mengenai segi-segi kepribadian manusia yang tertentu yang hendak dicapai dengan pendidikan itu, yaitu segi-segi yang berhubungan dengan nilai-nilai hidup yang tertentu, seperti krindahan, kesusilaan, keagamaan, kemasyarakatan, dan seksual. Oleh karena itu, kita dapat juga mengatakan, pendidikan keindahan, pendidikan kesusilaan, pendidikan kemasyarakatan, pendidikan intelektual, dan lain-lain yang masing- masing dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang terkandung di dalam masing- masing seginya (Purwanto, 2013: 22).

Tujuan Insidental ini hanya sebagai kejadian-kejadian yang merupakan saat-saat yang terlepas pada jalan yang menuju kepada tujuan umum. Contoh, seorang ayah memanggil anaknya supaya masuk ke dalam rumah, agar mereka tidak menjadi terlalu lelah, atau untuk makan bersama-sama; ayah itu menuntut supya perintahnya itu ditaati. Tetapi, dalam situasi yang lain mungkin si ayah itu akan mengurangi tuntutan ketaatan itu dan hanya bersikap netral saja.

Nyatalah bahwa di dalam tiap-tiap situasi ada tujuan-tujuan terpisah yang kita laksanakan, meskipun tujuan-tujuan itu masih ada hubungannya dengan tujuan umum. Tetapi, jika yang dimaksud oleh si ayah tadi ialah agar anaknya mempunyai kebiasaan-kebiasaan tetap untuk makan bersama-sama keluarganya sehingga dengan demikian bermaksud pula untuk memperkuat rasa sama-sama terikat dalam iktan keluarga, maka hal itu dapatlah dipandang sebagai tujuan perantara.

Macam-macam “tujuan” tersebut di atas (tujuan tak sempurna, sempurna, tujuan sementara, tujuan perantara, dan tujuan insidental) dapat dicapai dengan nyata. Adapun bagaimana menetapkan tujuan-tujuan itu dan bagaimana cara melaksanakannya adalah tugas pedagogik praktis.

Dengan memperhatikan tujuan-tujuan di atas dan hubungan-hubungannya satu sama lain, mempermudah usaha kita hendak mengerti pekerjaan mendidik dan memungkingkan kita meninjau apa yang dianjurkan oleh aliran-aliran modern atau aliran-aliran kuno dalam pendidikan. Sedengkan tujuan umum itu bermuara dalam pandangan hidup yang mendukung sebagai batu dasarnya. (Purwanto, 2011 : 23).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penenelitian yang telah dilakukan dengan taraf signifikansi

Di dalama suatu keluarga setiap anak perempuan mempunyai jumlah saudara laki laki yang sama dengan jumlah saudara perempuan dan setiap anak laki laki mempunyai dua kali lebih

Gedung H, Kampus Sekaran-Gunungpati, Semarang 50229 Telepon: (024)

Masalah yang sering terjadi adalah banyaknya hotel bintang lima di kota Medan dengan berbagai fasilitas dan keunggulannya masing-masing, membuat wisatawan bingung

Menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 16 ayat (2) yang diambil dari Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi Guru PNSD Melalui Mekanisme Transfer

Pengendalian internal yang memadai yaitu didalamnya terdapt unsur-unsur pengendalian yang diharapkan dapat menjamin kelancaraan proses pemberian kredit dan dapt melindungi hak

Faktor Gender memiliki pengaruh terhadap gaya hidup seseorang. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak hanya dapat dilihat dari segi penampilan.. saja, melainkan juga dari