• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabyin Jurnal Pendidikan Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Tabyin Jurnal Pendidikan Islam"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Ontologi Manajemen Pendidikan Islam dalam Konstruksi Al-Qur’an dan Al-Hadits

Muhamad Fatih Rusydi Syadzili email: [email protected]

STAI Ihyaul Ulum Gresik

Abstrak

Management is a process of utilizing all resources through the help of others and cooperating with them, so that common goals can be achieved effectively, efficiently, and productively.

The nature of Islamic management can be interpreted as a process of utilizing all available resources (Islamic Ummah, educational institutions or others) both hardware and software. Utilization is carried out through cooperation with others effectively, efficiently, and productively to achieve happiness and prosperity both in the world and the hereafter.

Kata Kunci: Manajemen Pendidikan, Al-Qur’an dan Al-Hadits, Keilmuan Pendahuluan

Manajemen sudah ada sejak manusia itu ada, keberadaan manajemen sama usianya dengan kehidupan manusia, karena pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip manajemen, baik langsung maupun tidak langsung, baik disadari ataupun tidak disadari.

Islam mengartikan manajemen atas segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif.

Sehingga dalam hal diatas, keberlangsungan manajemen tidak terlepas dari namanya pemimpin, kehadiran pemimpin bisa dikatakan berhasil jika kepemimpinannya mampu bergaya kepemimpinan yang participative management. Penekanan gaya kepemimpinan yang terdapat pada bawahan dan komunikasi, hal ini menandakan bahwasanya semua stakeholder akan saling menjalankan pola hubungan yang mendukung (supportive relationship).1

Pada dasarnya ajaran islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As- Sunnah mengajarkan tentang kehidupan yang serba terarah dan teratur merupakan contoh konkrit adanya

1 Muhamad Fatih Rusydi Syadzili, “Model Kepemimpinan dan Pengembangan Potensi Pemimpin Pendidikan Islam,” Cendekia: Jurnal Studi Keislaman 4, no. 2 (2018): 127–36.

(2)

manajemen yang mengarah kepada keteraturan. Puasa, haji dan amaliyah lainnya merupakan pelaksanaan manajemen yang monumintal. Manajemen itu telah ada paling tidak ketika Allah menciptakan alam semesta beserta isinya. Unsur-unsur manajemen dalam pembuatan alam serta makhluk- makhluknya lainnya tidak terlepas dengan manajemen langit. Ketika Nabi Adam sebagai khalifah memimpin alam raya ini telah melaksanakan unsur-unsur manajemen tersebut.

Al-Qur’an dan Al-Hadits mengandung prinsip dasar menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Penafsiran atas Al-Qur’an dan Al-Hadits perlu senantiasa dilakukan. Hal ini penting dilakukan, sebab pada satu sisi wahyu dan kenabian telah berakhir sedangkan pada sisi yang lain kondisi zaman selalu berubah seiring dengan perkembangan pemikiran manusia dan tetap mutlak diperlukannya petunjuk yang benar bagi manusia.

Manusia dikenal sebagai makhluk sosial, sehingga eksistensinya dipengaruhi oleh interaksi dengan manusia lain. Di dalam berinteraksi antar individu hingga yang lebih luas mustahil tanpa adanya kiat-kiat atau manajemen. Sudah menjadi kepastian, bahwa Al-Qur’an dan Al-Hadits menjadi referensi dan pandangan hidup dalam aspek kehidupan umat Islam seperti manajemen.

Metode

Metode dan jenis pengumpulan data yang digunakan dalam tulisan ini adalah studi pustaka (library reseach) yang proses kepenulisannya dengan menggunakan pengumpulan buku- buku, jurnal serta hasil dari beberapa penelitian terdahulu yang mendukung tema dari kepenulisan ini. Salah satu penggunaan metode kepenulisan studi pustaka dalam tulisan ini adalah penggunaan literatur tentang kepemimpinan yang keberadaannya mencakup bagaimana model kepemipinan transformasional, tahapan-tahapan kepemimpinan transformational dalam kependidikan serta kepemimpinan transformational dalam pendidikan islam. Penelitian library research berusaha melakukan intepretasi data dengan cara deskripsi analisis. Dan teknik yang terdapat dalam analisis data kepenulisan ini adalah pendekatan deskriptif analisis. Sehingga tahapan yang dilakukan dalam kepenulisan adalah pelaksanaan reduksi data dari berbagai sumber kepustakaan, kemudian melakukan pengorganisasian serta pemaparan data, penggunaan verifikasi yang kemudian diakhiri dengan penyimpulan data guna menjawab rumusan masalah. 2

2Masrukhin, Metode Penelitian Kualitatif (Kudus: Media Ilmu Press, 2015). hal. 2.

(3)

Pembahasan

1. Manajemen Pendidikan dalam Perspektif Islam

Dalam Webster, News Collegiate Dictionary disebutkan bahwa manajemen berasal dari kata to manage berasal dari bahasa Italia “managgio” dari kata “managgiare” yang diambil dari bahasa Latin, dari kata manus yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan.

Managere diterjemahkan dalam bahasa Inggris dalam bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management dan manager untuk orang yang melakukan kegiatan manajemen.

Management diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan.

3

Dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Shadily management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan. Kata manage dalam kamus tersebut diberi arti: (1) to direct and control (membimbing dan mengawasi); (2) to treat with care (memperlakukan dengan seksama); (3) to carry on business or affair (mengurus perniagaan, atau urusan/persoalan); (4) to achieve one‟s purpose (mencapai tujuan tertentu). 4

Pengertian manajemen dalam kamus tersebut memberikan gambaran bahwa manajemen adalah suatu kemampuan a tau ketrampilan membimbing, mengawasi dan memperlakukan/mengurus sesuatu dengan seksama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Istilah manajemen sebenarnya mengacu kepada proses pelaksanaan aktifiitas yang diselesaikan secara efisien dengan dan melalui pendayagunaan orang lain.5 Terry memberikan defenisi: “management is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating and controlling, performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human beings and other resources”.

Maksudnya manajemen sebagai suatu proses yang jelas terdiri dari tindakan- tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian yang dilaksanakan untuk menentukan serta melaksanakan sasaran/tujuan yang telah ditentukan dengan menggunakan sumber daya dan sumber-sumber lainnya. Arifin Abdurrachman sebagaimana dikutip oleh M. Ngalim Purwanto, memberikan pengertian manajemen merupakan kegiatan- kegiatan untuk mencapai sasaran-sasaran dan tujuan pokok yang telah ditentukan dengan

3Husaini Usman, Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2006). hal. 3.

4 Syamsudduha, Manajemen Pesantren (Yogyakarta: Graha Guru, 2004). hal. 16..

5Mariono Dkk, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam (Bandung: PT Refika Aditama, 2008). hal.

32.

(4)

menggunakan orang-orang pelaksana.6 Sedangkan Hadari Nawawi mencoba memaparkan manajemen sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh manajer dalam memanage organisasi, lembaga, maupun perusahaan.

Beberapa pengertian manajemen di atas pada dasarnya memilki titik tolak yang sama, sehinggga dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal, yaitu:

a. Manajemen merupakan suatu usaha atau tindakan ke arah pencapain tujuan melalui suatu proses.

b. Manajemen merupakan suatu sistem kerja sama dengan pembagian peran yang jelas c. Manajemen melibatkan secara optimal kontribusi orang-orang, dana, fisik, dan sumber–

sumber lainnya secara efektif dan efisien.7

Dalam sudut pandang Islam manajemen diistilahkan dengan menggunakan kata al- tadbir (pengaturan).

َناَك ٍم أوَي ىِف ِهأيَلِإ ُج ُرأعَي َّمُث ِض أرَ ألْٱ ىَلِإ ِءآَمَّسلٱ َنِم َرأمَ ألْٱ ُرِِّبَدُي َنوُّدُعَت اَّمِِّم ٍةَنَس َفألَأ ٓۥُه ُراَدأقِم

Artinya:

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, Kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Q.S. As-Sajdah: 5)”

Dari isi kandungan ayat di atas dapatlah diketahui bahwa Allah swt adalah pengatur alam (Al-Mudabbir). Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dalam mengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah Swt telah dijadikan sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.

Manajemen secara bahasa menunjukkan arti adanya direksi, pemimpin, pengurus, dan kata yang ada diatas diambil dari kata kerja dengan asal kata manage yang menunjukkan bahwa dalam manajemen ada yang namanya mengurus, memerintah, dan mengemudikan.8 Berdasar pemaparan Hadari Nawawi, manajemen merupakan suatu kegiatan yang didalamnya ada kinerja dari seorang manajer untuk mengatur suatu perusahaan, lembaga, maupun

6Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008). hal. 17.

7Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2008). hal, 62.

8Purwadarminto Wojowarsito, Kamus Lengkap Indonesia-Inggris (Jakarta: Hasta, 1974). hal. 76.

(5)

organisasi.9 Manajemen Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai suatu aktifitas dalam pemobilisasian dan pemanduan atas segala sumber daya yang ada, dengan maksud untuk mencapai tujuan pendidikan Islam yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pemobilisasian atas sumber daya tersebut bertujuan untuk mendapatkan pencapaian tujuan sesuai dengan pendidikan, sebagaimana yang terdapat dalam 3 M (man, money, dan material), dan semua yang ingin dicapai oleh manajemen diatas tidak hanya terbatas dalam lingkup sekolah/madrasah atau pimpinan yang terdapat dalam perguruan tinggi Islam, namun kesemua bidang atau lembaga amat membutuhkannya. Kalau kita sedang melakukan komunikasi, kerja sama dengan berbagai pihak sebagaimana yang ada, baik kedalam maupun keluar, maka keberadaan pihak terkait tersebut sangat membantu dan menentukan kondisi lembaga pendidikan baik kemajuan maupun kemunduran dari lembaga yang dipimpinnya, dan kesemua itu merupakan proses dari manajemen.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh lembaga pendidikan akan keterkaitan komunikasi dengan isu penting epistemologi organisasi adalah menyelidiki;

1) Aspek-aspek kualitas dari teori organisasi yang diperkirakan dapat memperkuat praktik manajemen;

2) Sejumlah perangkat kognitif dan strategi penjelasan rasional teori tersebut sehingga dapat meligitimasi eksistensi manajemen sebagai sebuah ilmu.10

Ilmu manajemen, yang keberadaaannya melakukan suatu tindakan perhitungan akan kualitas dari suatu ilmu maka disebut dengan manajemen ilmu (knowledge management). Bidang ini bertujuan mengkaji kreativitas, inovasi dan proses bagaimana publik mengklaim keabsahan sebuah ilmu (context of justification). Oleh karena itu manajemen ilmu memerlukan ilmu tentang ilmu, agar ia memiliki sebuah keyakinan tentang ilmu yang diklaimnya. Seorang konsultan manajemen mengklaim bahwa ia telah menghadirkan kesadaran tentang chaos pada sebuah organisasi. Maka kehadirannya harus dipandang penting, misalnya, karena ia telah menstimulasi organisasi tersebut agar senantiasa mengembangkan dan mencipta ilmu baru yang berhubungan dengan tindakan mengelola organisasi yang dapat mengantisipasi perubahan zaman yang cepat, kompleks dan tidak teratur. 11

Dalam konteks filsafat sains, pernyataan di atas terdengar atraktif karena alih-alih objektif justru ilmu manajemen sepertinya dituntut untuk melibatkan emosi, perasaan, imajinasi dan persepsi atas kenyataan yang ada. Kreativitas, inovasi dan kesungguhan dalam

9Hadari Nawawi, Administrasi Pendidikan (Jakarta: Haji Masagung, 1992). hal. 78.

10Peter Koslowski, Elements of a Philosophy of Management and Organization (New York: Springer, 2010).

hal. 93.

11Koslowski. hal. 63.

(6)

mengonseptualisasi semua peristiwa yang hadir dihadapannya menjadi faktor menentukan, apakah tindakan yang dimaksud masuk ke dalam kosa kata epistemologi atau hanya mitos bahkan dogma semata.

Beberapa konsep manajerial seperti auditing, monitoring dan kualitas kinerja organisasi dapat diperiksa secara kritis dan diuji secara ilmiah agar bisa memperbaiki praktik organisasi. Ketiga istilah tersebut berhubungan dengan persoalan transparansi, integritas, keterbukaan, indikator, pengukuran dan tanggung jawab perusahaan. Ketiga istilah yang terdengar aksiologis ini sedemikian rupa harus dibawa ke ranah epistemologis agar secara teoretis mengalami pembaruan keilmuan.

Konsep ‘transparansi’ yang berhubungan dengan tata kelola, baik di dalam dunia bisnis, pemerintahan maupun pendidikan itu, biasanya dilaksanakan dalam rangka menjamin akuntabilitas, tanggung jawab dan keterbukaan finansial organisasi agar kinerjanya menjadi lebih baik. Dengan demikian, dalam arti ini, konsep ‘transparansi’ dapat bermakna;

1) literal, yakni membuat kasat mata sesuatu yang tidak terlihat (visual un-presence), bagaikan sebuah kaca yang membuat benda-benda di baliknya menjadi tembus pandang;

2) metaforis, yakni menyingkapkan sesuatu melalui sesuatu; membuat sesuatu yang mengganggu menjadi nyaman (makes an un-disturb), karena telah merepresentasikan semua hal dengan apa adanya (un-hidden presence).

Dalam konteks bisnis, kondisi finansial sebuah perusahaan dapat dikatakan telah transparan ketika segala sesuatunya dapat terlihat dari luar, sebening kristal, tidak ada rahasia (nothing remaining covert), tidak ada embel-embel apa pun dibelakangnya (nothing existing behind it) dan tidak ada manipulasi finansial apa pun (no financial manipulation). 12

Secara epistemologi ‘transparansi’ dapat bermakna bahwa semua ilmu harus jernih, jelas (muhkam/wudhūh) dan berbeda dengan yang lain (clear and distinct). Komunitas intelektual yang ideal adalah komunitas yang terbuka dan sama sekali tidak boleh memiliki sisi gelap.

Misalnya, efek samping dari obat yang dijual bebas pun harus secara rinci disebutkan dalam kemasan. Berarti, dalam kuasa ilmu harus ada transparansi atau keterbukaan. Demikian pula dengan MPI, ia harus lepas dari pandangan dogmatis keagamaan Islam dan secara terbuka (Asy Syaffāfiah) masuk ke dalam khasanah keilmuan Islam (Islamic Studies) atau ilmu pendidikan Islam (Islamic Education) yang menyejarah, kritis, objektif (maudhu’i) dan kontekstual.

12Koslowski. hal. 97-100.

(7)

Untuk bisa mengolah, menghayati dan mencapai tujuan epistemik di atas, Manajemen Pendidikan Islam hendaknya;

1) Mengkaji secara serius pelbagai teori manajemen bisnis agar secara kritis bisa diterapkan di lembaga pendidikan Islam sehingga pengelolaannya lebih efektif dan efisien;

2) Menginvestigasi dan menguji sejumlah ilmu manajemen bisnis dengan pelbagai pertanyaan etis keislaman (akhlak-Islāmiyyah). Misal, dengan mengajukan pertanyaan;

Tindakan seperti apakah yang dianggap paling benar lagi mulia (akhlak al karimah) dalam mengelola manusia, sebagai makhluk dan wakil Tuhan di muka bumi ini. Salah satu jawabannya harus transparan (ijtihadiyyah) dan penuh integritas (kāffah)

3) Menguji perilaku perusahaan dan organisasi bisnis (profit) dengan pelbagai teori pedagogi Islam agar dapat menciptakan suatu nilai tambah (‘anfa’uhum li ‘n nās) baik bagi anggota organisasi maupun masyarakat sekitarnya (abundant organizations).

2. Dasar-dasar Manajemen Pendidikan Islam

Dalam manajemen pendidikan Islam terdapat dasar-dasar manajerisasi, yang mana didalamnya tersimpan dokumen-dokumen sejarah Islam yang primer dan sekunder, banyak sarjana Muslim, di Indonesia khususnya, yang belum menggali dan mengungkapnya. Bermula dari kesadaran terhadap problem tersebut, di sini akan dipaparkan dasar-dasar manajemen dalam nilai-nilai normatif dan historis Islam, yakni antara lain,

a) Pertama: Merujuk kepada literatur-literatur yang kredibel dan akurat. Dengannya akan didapatkan sebuah produk manajerial yang multidimensional dan polyinterpretabel, sehingga dapat diabstraksikan pada berbagai fragmen manajemen. Manajemen perspektif Islam senantiasa merujuk pada dokumen primer yakni Al-Qur`an dan As-Sunnah, dengan tidak mengabaikan peranan dokumen sekunder, seperti atsar, ijma’, qiyas, dan lain sebagainya yang tertera dalam buku-buku para intelektual Muslim awal (Salaf).

b) Kedua: Penanaman keikhlasan dan ketulusan dalam proses manajerial, baik kepada karyawan, pimpinan, dan seluruh bagian yang terintegrasi dan sinergis dengan institusi maupun lingkungan

c) Ketiga: Pengarahan kepada karyawan atau bawahan akan pengenalan kinerja, operasional, cara berkomunikasi, bahasa, baik bahasa lokal maupun asing, dan sebagainya, yang menjadi alat dan modal awal untuk proses menjalankan manajemen dengan baik.

Ini tampak pada aksentuasisasi yang dilakukan Rasulullah sebagai seorang manajer ketika di masa awal Islam dimana beliau melakukan tashfiyyah atau purifikasi ideologi jahiliyah

(8)

(ignorance ideology) dan materi pengarahan yang mengalami penyimpangan (deviation), yang telah mendarah daging pada mayoritas masyarakat sosial Arab kala itu. Yang pertama kali Nabi Muhammad sosialisasikan adalah materi tentang keimanan, sebab hal itulah yang paling mendasar dalam konstruksi agama Islam.

Manajerisasi seperti ini juga diterapkan oleh generasi-generasi berikutnya, seperti tersurat dalam penuturan Jundub, “Kami belajar tentang iman sebelum belajar Al-Qur`an, kemudian belajar Al-Qur`an sehingga dengannya bertambahlah iman kami.”

d) Keempat: Menjadikan tujuan manajerial terfokus pada pembentukan pribadi prestatif.

Prestatif, dalam hemat kami, adalah suatu pencapaian personal maupun komunal sehingga bawahan mampu pimpinan membawa peradaban ke arah perbaikan.

Dalam perpektif teologi Islam, Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin yang tidak banyak menyuruh dan melarang tetapi lebih banyak menerapkan model suri teladan.

Dalam QS. Al-Ahzab [33]: 21 disebutkan: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah saw itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah swt dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah swt" (Digital Qur’an Versi 3.2. Juz 21). Nabi Muhammad SAW lebih mengedepankan aksi ‘action’ daripada instruksi/perintah.

Nabi Muhammad SAW menghindari menggunakan metode nasihat karena banyak nasihat itu tidak disukai Allah SWT (QS. Ash-Shaffat [61]: 2-3; dalam digital Qur’an Versi 3.2. Juz 28).

Rasulullah SAW adalah pemimpin yang holistic, accepted dan proven. Kepemimpinan beliau melingkupi bidang: bisnis, rumah tangga, masyarakat, politik, pendidikan, hukum, pertahanan dan negara. Kepemimpinan Beliau pun accepted ‘diterima’ karena diakui lebih dari 1,3 milyar manusia dan proven (terbukti) karena lebih dari 15 abad masih relevan untuk diterapkan. Antonio membandingkan kepemimpinan Muhammad Characteristic of Values-Based Leaders dari Bennis dan ternyata menempati semua kriteria yang digagas oleh Bennis.

Muhammad adalah seorang yang visioner, berkemauan kuat, memiliki integritas, amanah, serba ingin tahu, dan berani. Dalam Mega skills of Leadership dari Nanus, Muhammad pun merupakan pimpinan yang berpandangan jauh ke depan, menguasai perubahan, mampu mendesain organisasi, seorang pembelajar yang antisipatoris, berinisiatif tinggi, terampil menginterdependensi, dan memiliki standar integritas yang tinggi.

Hasil-hasil penelitian dan teori-teori dibangun oleh ilmuan yang berkaitan dengan objek kajian dan metodologi yang jelas dapat terlaksana dengan baik yang terdeklarasikan sebagai disiplin keilmuan baru dalam ilmu Islam dan memperoleh pengakuan dari ilmuan pada umumnya. Padahal masing-masing ilmuan memiliki hak untuk membangun suatu

(9)

disiplin ilmunya yang baru sepanjang dapat dipertanggungjawabkan secara filosofis dan ilmiyah.

Sehingga dengan demikian, dalam manajemen pendidikan Islam dibutuhkan suatu komitmen yang didalamnya terdapat konsep manajemen yang menempatkan sumber daya manusia sebagai figur sentral dalam organisasi usaha. Dengan adanya komitmen, pemimpin akan mampu menciptakan suatu harapan atas partisipasi aktif dari karyawannya yang ada.

Komitmen yang diwujudkan ini bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja, akan tetapi komitmen harus dilahirkan dan dibangun.13

3. Fungsi Manajemen Pendidikan Islam

Fungsi manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriawan Prancis, dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemen itu adalah merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang.

Sementara Mahdi bin Ibrahim menyatakan bahwa fungsi manajemen atau tugas kepemimpinan dalam pelaksanaannya meliputi berbagai hal, yaitu: Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.14 Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan Islam, dapat diuraikan fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada dengan Mahdi bin Ibrahim yaitu: Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.

a) Planning (Perencanaan)

Menurut F. E. Kast dan Jim Rosenzweig, perencanaan adalah suatu kegiatan yang terintegrasi yang bertujuan untuk memaksimalkan efektifitas keseluruhan usaha-usaha, sebagai suatu sistem sesuai dengan tujuan organisasi yang bersangkutan. Fungsi perencanaan antara lain untuk menetapkan arah dan setrategi serta titik awal kegiatan agar dapat membimbing serta memperoleh ukuran yang dipergunakan dalam pengawasan untuk mencegah pemborosan waktu dan faktor produksi lainnya. 15

Perencanaan (Planning) adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Keberadaan perencanaan merupakan bagian

13 Muhamad Fatih Rusydi Syadzili, “Polarisasi Tahapan Kepemimpinan Transformatif Pendidikan Islam,”

Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 3, no. 1 (2019): 55–81.

14 Mahdi bin Ibrahim, Amanah dalam Manajemen (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997). hal. 61

15 Syafi’ie, Al-Qur’an dan Ilmu Adinistrasi (Jakarta: Rineka Cipta, 2002). hal. 36

(10)

terpenting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan sebuah perencanaan yang terdapat dalam lembaga, organisasi maupun perusahaan akan berakibat sangat fatal bagi keberlangsungan suatu organisasi.

Hiks dan Guelt menyatakan bahwa perencanaan berhubungan dengan : 1) Penentuan dan maksud - maksud organisasi

2) Perkiraan - perkiraan ligkungan di mana tujuan hendak dicapai

3) Penentuan pendekatan dimana tujuan dan maksud organisasi hendak dicapai. 16 Dalam setiap perencanaan selalu terdapat tiga kegiatan yang meskipun dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya dalam proses perencanaan. Ketiga kegiatan itu adalah:

a. Perumusan tujuan yang ingin dicapai

b. Pemilihan program untuk mencapai tujuan itu

c. Identifikasi dan pengarahan sumber yang jumlahnya selalu terbatas. 17

Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari. Allah berfirman:

َتۡل َو َ ہاللّٰ اوُقَّتا اوُنَمٰا َنۡيِذَّلا اَہُّيَاٰٰۤي ا َو ۚ ٍدَغِل ۡتَمَّدَق اَّم ٌسۡفَن ۡرُظۡن

ؕ َہاللّٰوُقَّت

َن ۡوُلَمۡعَت اَمِب ٌٌۢرۡيِبَخ َ ہاللّٰ َّنِا

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al- Hasyr: 18)”

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa dalam manajeman, perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal.

Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang memuaskan.

16 Dkk, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. hal. 3

17 Nanang Fatah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008). hal. 46

(11)

b) Organizing (Pengorganisasian)

Pengorganisasian adalah proses mengatur, mengalokasiakan dan mendistribusiakan pekerjaan, wewenang dan sumber daya diantara anggota organisasi. Stoner menyatakan bahwa mengorganisasikan adalah proses mempekerjakan dua orang atau lebih untuk bekerja sama dalam cara terstruktur guna mencapai sasaran spesifik atau beberapa sasaran. 18

Menurut Terry pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen yang dilaksanakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.19 Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. 20

Setelah dibuat perencanaan sesuai dengan ketentuan di atas, maka langkah selanjutnya adalah pengorganisasian (organizing). Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi. Sebagaimana firman Allah SWT:

أيِبَس أيِف َن أوُلِتاَقُي َنأيِذَّلا ُّب ِحُي َ ہاللّٰ َّن ا اَيأنُب أمُهَّنَاَك اًّفَص ٖهِل

ُص أرَّم ٌن ٌص أو

Artinya:

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash-Shof: 4)”

Dalam ayat ini menyatakan bahwasanya pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen yang dilaksanakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.

Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan. Pengorganisasian merupakan proses penentuan struktur,

18 Aan Komariah Engkoswara, Administrasi Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2012). hal. 95

19 George R Terry, Prinsip-prinsip Manajemen (Jakarta: Bumi Aksara, 2006). hal. 73

20 Hendri Tanjung Didin Hafidudin, Manajemen Syariah dalam Praktik (Jakarta: Gema Insani, 2003). hal.

101

(12)

aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas.

Dalam kaitannya dengan pengorganisasian, Rasulullah SAW telah mencontohkan ketika memimpin perang uhud. Ketika pasukan Islam pimpinan Nabi Muhammad SAW berhadapan dengan angkatan perang kafir Quraish di dekat gunung Uhud. Nabi SAW mengatur strategi peperangan dengan sempurna dalam hal penempatan pasukan.

Beberapa orang pemanah ditempatkan pada suatu bukit kecil untuk menghalang majunya musuh. Pada saat perang berkecamuk, awalnya musuh menderita kekalahan.

Mengetahui musuh kocar-kacir, para pemanah muslim meninggalkan pos-pos mereka di bukit untuk mengumpulkan barang rampasan. Pada sisi lain, musuh mengambil kesempatan ini dan menyerang angkatan perang muslim dari arah bukit ini. Banyak dari kaum Muslim yang mati syahid dan bahkan Nabi SAW mengalami luka yang sangat parah.

Orang kafir merusak mayat-mayat kaum Muslim dan menuju Makkah dengan merasa suatu kesuksesan.

Dari uraian di atas dapat difahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja.

Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.

c) Actuating (Pelaksanaan)

Pelaksanaan kerja merupakan aspek terpenting dalam fungsi manajemen karena merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri, agar semua anggota kelompok mulai dari tingkat teratas sampai terbawah berusaha mencapai sasaran organisasi sesuai dengan rencana yang ditetapkan semula, dengan cara yang baik dan benar. Adapun istilah yang dapat dikelompokkan kedalam fungsi pelaksanaan ini adalah directing commanding, leading dan coornairing. 21

Pelaksanaan kerja sudah barang tentu yang paling penting dalam fungsi manajemen pendidikan karena merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan kepedidikan itu sendiri, agar semua dewan sekolah mulai dari tingkat tingkat teratas sampai terbawah

21 Jawahir Tantowi, Unsur-Unsur Manajemen menurut Ajaran Al-Qur’an (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1983).

hal. 67

(13)

berusaha mencapai sasaran organisasi sesuai rencana yang telah ditetapkan semula, dengan cara terbaik dan benar.

Untuk melaksanakan perencanaan yang telah diorganisir tersebut juga perlu diberikan actuating, dalam bahasa Indonesia artinya adalah menggerakkan. Maksudnya, suatu tindakan untuk mengupayakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan tujuan organisasi. Jadi, actuating bertujuan untuk menggerakkan orang agar mau bekerja dengan sendirinya dan penuh dengan kesadaran secara bersama- sama untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.

Sebagaimana firman Allah SWT:

أفَت َلَ اَم ۟اوُلوُقَت نَأ ِ َّللَّٱ َدنِع اًتأقَم َرُبَك َنوُلَع

Artinya:

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash-Shof: 3)”

Dalam ayat ini menyatakan bahwa actuating merupakan upaya untuk merealisasikan suatu rencana. Dengan berbagai arahan dengan memotivasi setiap karyawan untuk melaksanakan kegiatan dalam organisasi, yang sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawab. Maka dari itu, actuating tidak lepas dari peranan kemampuan leadership.

d) Controlling (Pengawasan)

Pengawasan adalah salah satu fungsi dalam manajemen untuk menjamin agar pelaksanaan kerja berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Pengawasan/ pengendalian adalah proses untuk memastikan bahwa aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan. Proses pengendalian dapat melibatkan beberapa elemen yaitu:

1) Menerapkan standar kinerja.

2) Mengukur kinerja.

3) Membandingkan unjuk kerja dengan standar yang ditetapkan.

4) Mengambil tindakan korektifsaat terdeteksi penyimpangan. 22

Dalam al Quran pengawasan bersifat transendental, jadi dengan begitu akan muncul inner dicipline (tertib diri dari dalam). Itulah sebabnya di zaman generasi Islam

22 Engkoswara, Administrasi Pendidikan. hal. 96

(14)

pertama, motivasi kerja mereka hanyalah Allah kendatipun dalam hal-hal keduniawian yang saat ini dinilai cenderung sekuler sekalipun. 23

Untuk mencapai suatu keberhasilan dalam pengawasan (Controlling) maka diperlukan suatu upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya.

Sebagaimana firman Allah SWT:

َني ِظِفاَحَل أمُكأيَلَع َّنِإ َو

﴿ ١٠

َنيِبِتاَك اًما َرِك ﴾

﴿ ١١

َنوُلَعأفَت اَم َنوُمَلأعَي ﴾

﴿ ١٢

ٍميِعَن يِفَل َرا َرأبَ ألْا َّنِإ ﴾

﴿ ١٣

Artinya:

“Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (Malaikat-malaikat) yang Mengawasi (pekerjaanmu), Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan. (QS.Al-Infithor; 10-13)”

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Islam berpandangan mengenai pengawasan dalam pelaksanaan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui.

Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.

Sehingga Praktik manajemen pendidikan Islam fokus pada tindakan tata kelola yang dipandang belum sepenuhnya dijalankan oleh lembaga pendidikan Islam, misalnya konsep transparansi dan integritas. Secara teoretis, pembahasannya bisa di geser ke ilmu pendidikan Islam (Islamic Education) dan atau ke ilmu keislaman (Islamic Studies) bukan langsung ke ayat-ayat suci yang dapat bersifat dogmatis. Hasilnya dapat disusun menjadi teori manajemen pendidikan Islam tentang transparansi (Asy Syaffāfiah) dan (Kāffah). 24

Menghadapi kenyataan ini, mulai terbuka peluang dalam menjalankan pendekatan pemetaan ulang keilmuan Islam yang hasilnya berupa suatu sistem klasifikasi yang memenuhi berbagai keperluan dan terutama sesuai untuk keadaan Indonesia.Pasalnya, pada sistem yang dikembangkan UNESCO dan kemudian dianut oleh LIPI secara

23 Syafi’ie, Al-Qur’an dan Ilmu Adinistrasi. hal. 66

24 Muhamad Fatih Rusydi Syadzili, “Eksistensi dan Paradigma Keilmuan Manajemen Pendidikan Islam,”

Tasyri’: Jurnal Tarbiyah Syari’ah Islamiyah 26, no. 1 (2019): 49–59.

(15)

sepintas terlihat bahwa agama sebagai ilmu hanya diperlakukan sebagai sebuah disiplin yang merupakan salah satu unsur dari antropologi budaya.

Metode penelitian yang terdapat dalam Manajemen Pendidikan Islam memiliki konsistensi dalam penggunaan metode riset terhadap representasi kondisi objektif, yang didalam objek materialnya yakni berupa lembaga pendidikan Islam. Artinya secara generatif nilai manajemen yang berorientasi pada keuntungan semata (profit oriented) harus tunduk pada nilai pedagogi-Islam yaitu memanusiakan manusia (to humanize of human beings) berdasarkan nilai-nilai universal agama Islam. Praksis bidang manajemen pendidikan Islam dapat pula menerapkan pelbagai teori manajemen yang relevan dengan perilaku penyelenggaraan pendidikan Islam. Misalnya, dorongan etika sosial yang diterapkan pada perusahaan melalui CSR dapat diterapkan di madrasah, seperti nampak dalam penelitian Ahmad Juhaidi. Pola kepemimpinan perusahaan pun dapat diadopsi oleh lembaga pendidikan, seperti yang dicontohkan dalam riset Adri Efferi.

Kesimpulan

Allah SWT telah memberi akal pada manusia untuk berpikir. Segala sesuatu yang ada di dunia merupakan “ayat kauniyah” yang menimbulkan penyadaran bagi manusia yang mau berpikir. Segala sesuatu di alam yang tercipta seimbang mengilhami manusia untuk mencontohnya demi kemaslahatan hidupnya seperti memanaj sesuatu.

Allah yang Maha Rahman tidak melepaskan manusia begitu saja dengan pikirannya tanpa petunjuk pasti, tetapi Allah selalu memberi bimbingan melalui para Rasul-Nya untuk suatu kaum agar mendapat kemaslahatan dalam hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Proses manajemen sebenarnya telah dicontohkan di dalam Al-Qur’an dan diaplikasikan langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Memang, Al-Qur’an dan Al-Hadits Nabi tidak menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan manajemen secara rinci. Tetapi bagaimana kita menggali dan menafsirkannya, karena sesungguhnya manajemen telah ada dan tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber pokok ajaran Islam seperti fungsi-fungsi manajemen (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan Pengawasan) bahkan Alqur‟an dan Hadits memberikan arahan tentang keterampilan kepemimpinan dan kompetensi apa saja yang harus dimiliki seorang pemimpin.

Daftar Pustaka

Didin Hafidudin, Hendri Tanjung. Manajemen Syariah dalam Praktik. Jakarta: Gema Insani, 2003.

Dkk, Mariono. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: PT Refika Aditama, 2008.

Engkoswara, Aan Komariah. Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2012.

(16)

Fatah, Nanang. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008.

Ibrahim, Mahdi bin. Amanah dalam Manajemen. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1997.

Koslowski, Peter. Elements of a Philosophy of Management and Organization. New York: Springer, 2010.

Masrukhin. Metode Penelitian Kualitatif. Kudus: Media Ilmu Press, 2015.

Nawawi, Hadari. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Haji Masagung, 1992.

Purwanto, Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008.

Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2008.

Syadzili, Muhamad Fatih Rusydi. “Eksistensi dan Paradigma Keilmuan Manajemen Pendidikan Islam.” Tasyri’: Jurnal Tarbiyah Syari’ah Islamiyah 26, no. 1 (2019): 49–59.

———. “Model Kepemimpinan dan Pengembangan Potensi Pemimpin Pendidikan Islam.”

Cendekia: Jurnal Studi Keislaman 4, no. 2 (2018): 127–36.

———. “Polarisasi Tahapan Kepemimpinan Transformatif Pendidikan Islam.” Al-Tanzim: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 3, no. 1 (2019): 55–81.

Syafi’ie. Al-Qur’an dan Ilmu Adinistrasi. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Syamsudduha. Manajemen Pesantren. Yogyakarta: Graha Guru, 2004.

Tantowi, Jawahir. Unsur-Unsur Manajemen menurut Ajaran Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1983.

Terry, George R. Prinsip-prinsip Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Usman, Husaini. Manajemen Teori, Praktik dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 2006.

Wojowarsito, Purwadarminto. Kamus Lengkap Indonesia-Inggris. Jakarta: Hasta, 1974.

Referensi

Dokumen terkait

Lampiran B.1 Menu Awal.Java import android.content.Intent; import android.support.v7.app.AppCompatActivity; import android.os.Bundle; import android.view.View; import

Literatur yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah ketiga mengenai Keraton Surakarta pasca konflik juga menggunakan sumber dari media masaa yaitu diantaranya

Rendemenserbuk pewarna alami daun sirsak hasil interaksi penambahan maltodekstrin dan lama waktu perebusan sebesar 95,88 ± 2,67 gram dihasilkan pada lama waktu

Pada penelitian yang akan peneliti kerjakan kali ini, akan lebih banyak membahas terkait korelasi antara dukungan sosial keluarga dengan prestasi belajar di SMA

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung kebutuhan energi pada alat pengering vakum menggunakan uap air sebagai sumber panas dan mempelajari distribusi suhu dalam ruang

• Meletakkan lokasi baru pada daerah terdekat dengan biaya paling minimal (feasible near optimal location). • Metode ini membentuk area geografis yang dibentuk oleh garis

Pekerja bebas di pertanian atau non pertanian, pendapatan yang ditanyakan adalah pendapatan sebulan yang lalu, bisa saja dalam sebulan hanya bekerja selama seminggu atau beberapa

Bagaimana tanggapan dan respon petani terhadap batasan luas penanaman sehubungan dengan produksi yang disesuaikan dengan permintaan tembakau oleh pabrik rokok di