• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KASUS KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN YANG DI PERIKSA DI RSUD LANGSA PADA TAHUN TESIS. Oleh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROFIL KASUS KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN YANG DI PERIKSA DI RSUD LANGSA PADA TAHUN TESIS. Oleh"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

1

PROFIL KASUS KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN YANG DI PERIKSA DI RSUD LANGSA PADA TAHUN 2019 - 2020

TESIS

Oleh

dr. EBEN EZER DEBORA ALADIN MEZBAH PURBA NIM: 197041166

PROGRAM STUDI MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(2)

2

PROFIL KASUS KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN YANG DI PERIKSA DI RSUD LANGSA PADA TAHUN 2019 - 2020

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Forensik dalam Program Studi Magister Kedokteran Klinik

Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Oleh

dr. EBEN EZER DEBORA ALADIN MEZBAH PURBA NIM: 197041166

PROGRAM STUDI MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2021

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

PERNYATAAN

Judul Penelitian

PROFIL KASUS KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN YANG DI PERIKSA DI RSUD LANGSA PADA TAHUN 2019 - 2020

Dengan ini penulis menyatakan, bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk mempeoleh gelar Magister Kedokteran Klinik Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Program Studi Magister Kedokteran Klinik Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.

Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, 18 Oktober 2021 Penulis,

dr. Eben Ezer Debora Aladin Mezbah Purba

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat serta karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang berjudul “Profil Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang Diperiksa Di Rsud Langsa Pada Tahun 2019 – 2020 ’’

Tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan Pendidikan Magister Kedokteran Klinik di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini, Penulis juga mengucapkan terimakasih dan penghargaan setinggi – tingginya atas segala waktu, bimbingan serta pengajaran yang saya terima dalam upaya mendukung proses penyusunan dan penyelesaian dari Tesis ini, kepada :

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, SSos; M.Si selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. dr. Aldy S.Rambe, Sp.S(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. dr. Dedy Hermansyah, Sp.B (K), Onk selaku Ketua Program Studi Magister Kedokteran Klinis Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

4. dr. Asan Petrus, M.Ked (For), Sp.F selaku Ketua Departemen Ilmu kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera.

(7)

vii

5. dr. Adriansyah Lubis, M.Kes, MKed(For), Sp.FM selaku Pelaksana Tugas Ketua Program Studi Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

6. dr. Doaris Ingrid Marbun, M.Ked (For), Sp.F selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis untuk kesempurnaan tesis ini.

7. dr. Netty Herawati, M.Ked (For), Sp.F selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis untuk kesempurnaan tesis ini.

8. dr. Adriansyah Lubis, M.Kes, MKed (For), Sp.FM selaku Dosen Penguji I yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis untuk kesempurnaan tesis ini.

9. dr. Panusunan Simatupang, M.Ked (For), Sp.FM selaku Dosen Penguji II yang telah memberi banyak arahan dan masukan kepada penulis untuk kesempurnaan tesis ini.

10. dr. Muhammad Yusuf Akbar selaku Direktur RSUD LANGSA dan Ketua Komite Penelitian serta seluruh staf yang telah membantu saya selama proses pengambilan data penelitian tesis ini.

11. Bapak/Ibu Staff Pengajar di Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

12. Kedua orangtua, alm Bapak Pdt. Rusmin Purba S.PAK dan Mama Mediana Tambun, yang telah membesarkan dan membimbing serta memberikan dukungan baik moril maupun materil.

(8)

viii

13. Suami penulis dr. Reynold Davey Manngapul Situmorang yang selalu memberikan Semangat dan memberikan dukungan baik moril maupun materil selama masa pendidikan dan menyelesaikan tesis ini.

14. Ketiga Putri penulis, anak anak yang bijak, baik dan cantik Elisa Reiora Tiarta br Situmorang, Anugerah Valerie Nauli br Situmorang dan Tamara Young Dame br Situmorang yang tak pernah lupa mendokan penulis selama masa pendidikan dan selama menyelasaikan tesis ini,

15. Kakak Jenny Monggo Purba, SE dan abang Jadi M.T Simanjutak, SE, Abang Zoe Hendry L.M Purba dan eda Rachel Maria Sitorus, SE yang juga mendoakan dan banyak mendukung penulis selama masa pendidikan dan saat menyelesaikan tesis ini.

14. Rekan-rekan PPDS Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, terkhusus kepada dr. Oktafianna Malau, Mked (For) dr. Rahmadsyah, Mked (For) dr. Adrian Rival djamil, Mked (For) serta sahabat saya dr. Jakaria Zansen, Mked (For) dan dr. Roland Sanggam Tambunan, Mked (For) dr. Binsar Lubis, Mked (For) dr. Yocky Siahaan, dr.

Said, dr. Novri Tarigan yang selalu siap membantu dan mendukung saya pada masa pendidikan dan selama menyelesaikan penelitian ini.

Penulis sangat menyadari bahwa penelitian ini masih banyak terdapat kekurangan, maka dengan segala kerendahan hati, penulis menerima segala saran serta kritik yang positif dan membangun terhadap Hasil Penelitian ini.

Harapan penulis semoga Hasil Penelitian ini dapat lebih baik lagi untuk ditindak lanjuti ke dalam proses Penelitian selanjutnya.

(9)

ix

Akhir kata penulis memohon maaf yang sebesar – besarnya kepada semua pihak, atas segala kesalahan yang mungkin pernah penulis perbuat selama berjalannya proses penyusunan tesis ini.

Semoga kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberkati kita semua. Amin.

Medan, 18 Oktober 2021 Penulis,

dr. Eben Ezer Debora Aladin Mezbah Purba

(10)

x

DAFTAR RIWAYAT HIDUP RIWAYAT PRIBADI

Nama : dr. Eben Ezer Debora Aladin Mezbah Purba T.Tanggal Lahir : Securai 24 April 1982

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : PNS Kabupaten Tapanuli Utara

Alamat : Perumahan Bella Vista C24 Jl. Tali air Medan Tuntungan Agama : Kristen Protestan

Suku Bangsa : Batak Simalungun Kewarganegaraan : Indonesia

Status : Menikah

No.HP : 081370818093

Email : [email protected]

RIWAYAT PENDIDIKAN

1998 SD Swasta Methodist-1 Medan 2001 SMP Swasta Methodist-1 Medan 2004 SMA Swasta Methodist -2 Medan

2009 S1 Kedokteran Umum Universitas Methodist Indonesia

2012 Dokter Umum di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Indonesia

RIWAYAT PEKERJAAN

2008 - 2011 Dokter Umum Di Yayasan Obor Berkat Indonesia - Medan 2011 - 2014 Dokter PTT di Kabupaten Tapanuli Utara

2014 - 2020 Dokter PNS di Kabupaten Tapanuli Utara

RIWAYAT KELUARGA

NAMA ORANG TUA : AYAH : Pdt. Rusmin Purba, S.PAK IBU : Mediana Tambun

ALAMAT : Jl. Sagu 7 No 17 P. Simalingkar Medan

(11)

xi DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iv

SURAT PERNYATAAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... xi

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

ABSTRAK ... xvi

ABSTRACT ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 9

1.3.1 Tujuan Umum ... 9

1.3.2 Tujuan Khusus ... 9

1.4 Manfaat Penelitian ... 10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1 Defenisi ... 11

2.2 Perkosaan dari segi hokum ... 12

2.3 Dasar Hukum ... 13

2.4 Pemeriksaan Terhadap Korban Kejahatan Seksual ... 14

2.5 Undang Undang Perkawinan No. 16 Tahun 2019 ... 15

2.6 Kategori Usia Menurut Depkes RI 2009 ... 16

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 17

3.1 Jenis Penelitian... 17

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 17

3.2.1 Tempat Penelitian ... 17

3.2.2 Waktu Penelitian ... 17

3.3 Biaya Penelitian ... 18

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian ... 18

3.4.1 Populasi ... 18

3.4.2 Sampel ... 18

3.5 Teknik Pengambilan Sampel ... 18

3.6 Kriteria Penelitian ... 19

3.6.1 Kriteria Inklusi ... 19

3.6.2 Kriteria Eksklusi ... 19

3.7 Variabel Penelitian ... 20

(12)

xii

3.8 Kerangka Konsep ... 20

3.9 Defenisi Operasional ... 21

3.10 Metode Pengumpulan Data ... 22

3.11 Analisa Data ... 23

3.12 Ethical Clearance ... 23

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 24

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 24

4.1.1 Deskripsi Geografis ... 24

4.2 Hasil Penelitian ... 25

BAB V PEMBAHASAN ... 30

5.1 Jumlah Keseluruhan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Pada Tahun 2019 -2020 ... 30

5.2 Jumlah Keseluruhan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Pada Tahun 2019 -2020 Berdasarkan Usia. ... 31

5.3 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Pada Tahun 2019 -2020 Berdasarkan pekerjaan ... 33

5.4 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Pada Tahun 2019 -2020 Berdasarkan Status Perkawinan ... 34

5.5 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Pada Tahun 2019 -2020 Berdasarkan Hubungan Korban dengan Pelaku ... 34

5.6 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada tahun 2019-2020 Berdasakan Jenis Kekerasan Seksual ... 35

BAB VI PENUTUP ... 37

6.1 Kesimpulan ... 37

6.2 Saran ... 38

DAFTAR PUSTAKA ... 41 LAMPIRAN

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 3.1 Waktu penelitian ... 17 Tabel 3.2 Rincian biaya penelitian ... 18 Tabel 3.3 Defenisi Operasional ... 21 Tabel 5.1 Jumlah keseluruhan kasus kekerasan seksual terhadap

Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 2020 ... 31 Tabel 5.2 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Usia... 32 Tabel 5.3 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Pekerjaan ... 33 Tabel 5.4 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan Status Perkawinan ... 34 Tabel 5.5 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 202 Berdasarkan Hubungan korban dengan Pelaku ... 35 Tabel 5.6 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 202 Berdasarkan Jenis Kekerasan Seksual... 35

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Kerangka Konsep ... 20 Gambar 4.1 Jumlah keseluruhan kasus kekerasan seksual terhadap

perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 2020 ... 26 Gambar 4.2 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Usia ... 27 Gambar 4.3 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Pekerjaan ... 27 Gambar 4.4 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan Status Perkawinan. ... 28 Gambar 4.5 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 202 Berdasarkan Hubungan korban dengan Pelaku ... 28 Gambar 4.6 Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang

diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Jenis Kekersan Seksual ... 29

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Tabulasi Data Profil Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada Tahun 2019 - 2020

Lampiran 2 Surat Izin Pengambilan data Awal Lampiran 3 Ethical Clearance

Lampiran 4 Surat permohonan Penelitian Lampiran 5 Surat Izin Penelitian

Lampiran 6 Dokumentasi

(16)

xvi

PROFIL KASUS KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN YANG DI PERIKSA DI RSUD LANGSA PADA TAHUN 2019 – 2020

Eben Ezer Debora Aladin Mezbah Purba, Doaris Ingrid Marbun, Netty Herawaty Adriansyah Lubis, Panusunan Simatupang

Forensik Dan Medikolegal

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

E-mail : [email protected] Mobile Phone: 081370818093

ABSTRAK Latar belakang

Kekerasan seksual terhadap perempuan adalah setiap penyerangan yang bersifat seksual terhadap perempuan baik telah terjadi persetubuhan ataupun tidak, dan tanpa mempedulikan hubungan antara pelaku dan korban. Jenis kekerasan seksual yang dapat terjadi yaitu kejahatan kekerasan seksual (sexual violence) dan pelecehan seksual (sexual harassment). Secara statistik, jumlah kasus kekerasan seksual terus meningkat di dunia dan di Indonesia.

Metode

Penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yaitu seluruh data perempuan yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada Korban yang mengalami Kekerasan Seksual pada tahun 2019 - 2020 dan pada data tersebut tercantum variabel yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti berdasarkan usia, pekerjaan, status perkawinan, hubungan korban dengan pelaku dan jenis kekerasan seksual.

Hasil:

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 35 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada tahun 2019 sampai dengan 2020. Jumlah kasus ini meningkat dari tahun 2019 sebanyak 13 korban menjadi 22 korban pada tahun 2020.Jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan berdasarkan usia, tertinggi berada pada golongan usia remaja awa1 2 – 16 tahun sebanyak 20 korban dengan persentase 57,14%. Jumlah kasus terendah berada pada golongan usia

> 36 tahun (golongan usia dewasa akhir, lansia awal, lansia akhir dan golongan usia manula) sebanyak 0 korban, yang mengalami kasus kekerasan seksual berdasarkan pekerjaan, tertinggi adalah pelajar sebanyak 31 korban, dengan persentase 88,57% sedangkan Jumlah kasus terendah adalah tidak bekerja sebanyak 4 korban dengan persentase 11,43%. Jumlah perempuan yang mengalami kasus kekerasan seksual berdasarkan status perkawinan, sebanyak 35 korban yaitu dengan status perkawinan tidak kawin, dengan persentase 100%. Jumlah perempuan yang mengalami kasus kekerasan seksual berdasarkan hubungan korban dengan pelaku, tertinggi sebanyak 34 korban adalah orang yang dikenal korban dengan persentase 97,14 % , dan terendah sebanyak 1 korban adalah orang yang tida dikenal korban dengan persentase 2,86% Jumlah perempuan yang mengalami kasus kekerasan seksual berdasarkan jenis kekerasan seksual, tertinggi pada kasus pelecehan seksual sebanyak 22 korban dengan persentase 62,86% dan terendah pada kasus perkosaan sebanyak 3 korban dengan persentase 8,57%,

Kata Kunci: kekerasan sexual, pelecehan seksual, RSUD Langsa

(17)

xvii

PROFILE OF SEXUAL VIOLENCE CASE AGAINST WOMEN EXAMINED AT GENERAL HOSPITAL LANGSA IN 2019 – 2020

Eben Ezer Debora A M Purba, Doaris I Marbun, Netty Herawati, Adriansyah Lubis, Panusunan Simatupang Departemen Of Forensic and Medicolegal Faculty Of Medicine

University Of North Sumatera, Medan, Indonesia E-mail : [email protected]

Abstract

Background: Sexual violence against women is any attack of a sexual nature against women, whether sexual intercourse has occurred or not, and regardless of the relationship between the perpetrator and the victim. The types of sexual violence that can occur are sexual violence and sexual harassment. Statistically, the number of cases of sexual violence continues to increase in the world and in Indonesia.

Method: This research is a cross sectional study with total sampling method. Data collection was carried out using secondary data, namely all data on women who were examined at the Forensic and Medicolegal Installation of Langsa Hospital on Victims who experienced Sexual Violence in 2019 - 2020 and the data listedvariables that matched the variables to be studied based on age, occupation, status marriage, the relationship of the victim with the perpetrator and the type of sexual violence.

Conclusion: The results showed that there were 35 cases of sexual violence against women examined at Langsa Hospital in 2019 to 2020. This number of cases increased from 2019 as many as 13 victims to 22 victims in 2020. The number of cases of sexual violence against women by age, the highest were in the adolescent age group awa1 2-16 years as many as 20 victims with a percentage of 57.14%. The lowest number of cases was in the age group > 36 years (late adult age, early elderly, late elderly and elderly age group) as many as 0 victims, who experienced cases of sexual violence based on work, the highest was students with 31 victims, with a percentage of 88.57 % while the lowest number of cases was not working as many as 4 victims with a percentage of 11.43%. The number of women who experienced cases of sexual violence based on marital status, as many as 35 victims, namely with unmarried marital status, with a percentage of 100%.

The number of women who experienced cases of sexual violence based on the relationship between the victim and the perpetrator, the highest as many as 34 victims were people who were known to the victim with a percentage of 97.14%, and the

lowest as many as 1 victim was a person who was not known to the victim with a percentage of 2.86%. cases of sexual violence based on the type of sexual violence, the highest was in cases of sexual harassment as many as 22 victims with a percentage of 62.86% and the lowest was incases of rape as many as 3 victims with a percentage of 8.57%,

Keywords: sexual violence; sexual harassment; General Hospital Langsa

(18)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kekerasan atau violence diartikan sebagai suatu serangan atau invasi (assault) terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang.3 Bentuk kekerasan terhadap perempuan meliputi kekerasan fisik, seksual, ekonomi, secara politik, dan psikologis yang dapat dilakukan baik oleh individu, komunitas, maupun negara. 2

Kekerasan Seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan/atau perbuatan lainnya terhadap tubuh, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan.1

Kekerasan seksual terhadap perempuan adalah setiap penyerangan yang bersifat seksual terhadap perempuan baik telah terjadi persetubuhan ataupun tidak, dan tanpa mempedulikan hubungan antara pelaku dan korban. Jenis kekerasan seksual yang dapat terjadi yaitu kejahatan kekerasan seksual (sexual violence) dan pelecehan seksual (sexual harrassment).1 Kekerasan seksual juga sangat bervariasi berupa percobaan perkosaan, perkosaan, sadisme dalam hubungan seksual, pemaksaan aktivitas-aktivitas seksual lain yang tidak disukai, merendahkan, menyakiti atau melukai korban.1

Kekerasan terhadap perempuan memiliki ciri penting bahwa tindakan tersebut dapat berupa tindakan fisik, seksual, maupun nonfisik (psikis), dapat dilakukan secara aktif maupun pasif (tidak berbuat), dikehendaki atau diniati oleh pelaku, dan menimbulkan akibat yang merugikan korban (fisik, seksual, maupun psikis) yang tidak dikehendaki oleh korban.2 Secara statistik, jumlah kasus

(19)

2

pemerkosaan di dunia cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari data di Amerika Serikat yang melaporkan bahwa 75.000 kasus pemerkosaan terjadi tiap tahunnya, sembilan puluh persen diantaranya dialami oleh perempuan yang memiliki kesamaan ras dengan pelakunya dimana 76% adalah orang yang dikenal oleh korban dan bahkan merupakan anggota keluarga korban.2,4 The International Rescue Committee melakukan survei pada tahun 2015 yang menunjukkan bahwa 40% dari 190 perempuan dan anak perempuan di Dara’a dan Quneitra telah mengalami kekerasan seksual dari para personil Organisasi Internasional saat mengakses layanan bantuan kemanusiaan. Kekerasan seksual yang terjadi di Suriah adalah tindak kekerasan seksual dengan penyalahgunaan kekuasaan, atau penyalahgunaan kepercayaan, untuk tujuan kepuasan seksual, maupun untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk uang, sosial, politik dan lain sebagainya.12

Berdasarkan Pasal 7 Ayat (1) Rome Statute of The International Criminal Court, kekerasan seksual adalah tindak kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity) yang masuk dalam kategori The most Serious Crime, sehingga

Hukum Internasional punya peran dalam hal ini.12 Dalam studi multi-negara WHO, setelah usia 15 tahun 0,3-12% wanita melaporkan telah dipaksa untuk melakukan hubungan seksual atau melakukan hubungan seksual oleh orang lain selain pasangan intim. Prevalensi seumur hidup kekerasan pasangan seksual yang dilaporkan oleh wanita, berusia 15 tahun hingga 49 tahun, dalam studi multi- negara WHO berkisar antara 6% di Jepang hingga 59% di Ethiopia, dengan tingkat di sebagian besar pengaturan jatuh antara 10% dan 50%. Sebuah analisis komparatif survei dari Amerika Latin dan Karibia menemukan bahwa tingkat kekerasan pasangan seksual berkisar antara 5 hingga 15%.14

(20)

3

Perkosaan dan kekerasan seksual terhadap perempuan kerap terjadi di berbagai konflik. Kompleks Olah Raga Partizan di Foca di Negara Yogoslavia yang pada tahun 1992 dijadikan tempat tahanan, merupakan saksi bisu berlangsungnya perkosaan dan perbudakan seksual secara sistimatis yang berlangsung setiap malam. Perkosaan dilakukan oleh orang-orang Serbia Bosnia dan Croatia Bosnia dan tentara Yugoslavia terhadap perempuan Muslim Bosnia dan Croatia Bosnia.

Luka-luka korban akibat perkosaan dan pemukulan yang diderita korban dibiarkan tanpa perawatan medis. Di Sierra Leone penculikan dan perkosaan dan perbudakan seksual di lakukan secara sistimatis. Kekerasan terhadap perempuan dalam situasi konflik bersenjata umumnya didasarkan kepada pandangan tradisional bahwa perempuan merupakan hak milik (property), dan seringkali dianggap sebagai objek seksual.13 Sebagaimana pada kasus Foca di atas atau di Rwanda yang bernuansa konlik etnis, perkosaan digunakan sebagai alat pembersihan etnis (ethnic cleansing) yang merupakan kejahatan genosida, dimana perempuan jadi sasaran kekerasan seksual karena merupakan kelompok dari kelompok etnis tertentu, kebangsaan tertentu atau karena mereka pemeluk agama tertentu. Perkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya juga di gunakan sebagai bentuk penyebaran teror kepada penduduk, dan kerap merupakan perbuatan yang mendahului pembunuhan. Penelitian yang dilakukan oleh Butar butar (2012) menyimpulkan bahwa terdapat 120 kasus kekerasan seksual yang diperiksa di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru selama tahun 2011. Penelitian yang dilakukan Mohammad Tegar Indrayana di Rumah Sakit Bhayangkara Dumai yang dilaksanakan pada tahun (2016) menyimpulkan bahwa terdapat 120 kasus kekerasan seksual, sebanya 119 korban diantaranya berjenis kelamin

(21)

4

perempuan dengan kelompok usia tertinggi berada pada usia 0-18 tahun sebanyak 114 (95%) korban, dan jumlah korban hidup kasus kekerasan seksual yang tertinggi berada pada kelompok usia 0-18 tahun yaitu sebanyak 115 (95,83%), dari gambaran pekerjaan korban hidup kasus kekerasan seksual yang tertinggi adalah pelajar sebanyak 71 (59,17%) korban sedangkan yang terendah adalah wiraswasta sebanyak 5 atau 4,17%, dari gambaran jenis kasus korban hidup kasus kekerasan seksual yang tertinggi yaitu kasus pencabulan sebanyak 115 (95,83%) korban sedangkan yang terendah adalah perzinahan dan pelecehan seksual masing-masing sebanyak 1 (0,83%) korban), jenis kekerasanyang paling banyak ditemukan pada VeR kejahatan seksual di RS adalah kekerasan tumpul yang berjumlah 119 (99,16%) kasus, sedangkan 1 (0,83%) korban lainnya mendapatkan jenis kekerasan tajam dan tumpul.2

Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang diterima oleh berbagai lembaga masyarakat maupun institusi pemerintah yang tersebar di hampir semua Provinsi di Indonesia, dalam kurun waktu dua tahun ke belakang, pada Tahun 2019 menunjukkan laporan kekerasan di ranah privat/personal yang diterima mitra pengadalayanan, terdapat angka kekerasan dalam pacaran yang meningkat dan cukup besar yaitu sebanyak 2.073 kasus. Sementara angka kekerasan terhadap istri tetap menempati peringkat pertama yakni 5.114 kasus, dan kemudian kekerasan terhadap anak perempuan merupakan angka ketiga terbanyak setelah kekerasan dalam pacaran yaitu 1.417 kasus dan persentase tertinggi adalah kekerasan fisik 41% (3.951 kasus), diikuti kekerasan seksual 31% (2.988 kasus), kekerasan psikis 17% (1.638

(22)

5

kasus) dan kekerasan ekonomi 11% (1.060 kasus). Hal yang sama untuk kekerasan seksual di ranah privat/ personal tahun ini, incest (pelaku orang terdekat yang masih memiliki hubungan keluarga) merupakan kasus yang paling banyak dilaporkan yakni sebanyak 1.071 kasus, kedua adalah kasus perkosaan sebanyak 818 kasus, kemudian pencabulan sebanyak 321 kasus. CATAHU juga menemukan bahwa pelaku kekerasan seksual tertinggi di ranah privat/ personal adalah pacar sebanyak 1.670 orang, diikuti ayah kandung sebanyak 365 orang, kemudian di peringkat ketiga adalah paman sebanyak 306 orang. Banyaknya pelaku ayah kandung dan paman selaras dengan meningkatnya kasus incest. 10

Pada ranah Publik/ Komunitas kekerasan di ranah publik mencapai angka 3.915 kasus (28%), di mana kekerasan seksual menempati peringkat pertama sebanyak 2.521 kasus (64%), diikuti berturut-turut: kekerasan fisik 883 kasus (23%), kekerasan psikis 212 kasus (5%), dan kategori khusus yakni trafiking 158 kasus (4%), dan kasus pekerja migran 141 kasus (4%). Tiga Jenis kekerasan yang paling banyak pada kekerasan seksual di ranah komunitas adalah pencabulan (1.136 kasus), perkosaan (762 kasus), dan pelecehan seksual (394 kasus).10

Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Tahun 2020 Komnas perempuan terdapat jumlah kasus KTP sepanjang tahun 2020 sebesar 299.911 kasus. Data ini dihimpun dari 3 sumber yakni; [1] Dari PN/Pengadilan Agama sejumlah 291.677 kasus. [2] dari Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sejumlah 8.234 kasus; [3] dari Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR), satu unit yang sengaja dibentuk oleh Komnas Perempuan, untuk menerima pengaduan langsung korban, sebanyak 2.389 kasus, dengan catatan 2.134 kasus merupakan kasus

(23)

6

berbasis gender dan 255 kasus di antaranya adalah kasus tidak berbasis gender atau memberikan informasi. Berdasarkan data-data yang terkumpul dari Lembaga layanan/formulir pendataan Komnas Perempuan sebanyak 8.234 kasus tersebut, jenis kekerasan terhadap perempuan yang paling menonjol adalah di ranah pribadi atau privat, yaitu KDRT dan Relasi Personal, yaitu sebanyak 79% (6.480 kasus).

Diantaranya terdapat kekerasan terhadap istri (KTI) menempati peringkat pertama 3.221 kasus (49%), disusul kekerasan dalam pacaran 1.309 kasus (20%) yang menempati posisi kedua, dan pada posisi ketiga adalah kekerasan terhadap anak perempuan sebanyak 954 kasus (14%), sisanya adalah kekerasan oleh mantan suami, mantan pacar, serta kekerasan terhadap pekerja rumah tangga. Kekerasan di ranah pribadi ini mengalami pola yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.11

Kekerasan terhadap perempuan (KtP) berikutnya adalah di ranah komunitas/publik sebesar 21 % (1.731 kasus) dengan kasus paling menonjol adalah kekerasan seksual sebesar 962 kasus (55%) yang terdiri dari dari pencabulan (166 kasus), perkosaan (229 kasus), pelecehan seksual (181 kasus), persetubuhan sebanyak 5 kasus, dan sisanya adalah percobaan perkosaan dan kekerasan seksual lain. Istilah pencabulan masih digunakan oleh Kepolisian dan Pengadilan karena merupakan dasar hukum pasal-pasal dalam KUHP untuk menjerat pelaku.11

Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Tahun 2020 menggambarkan kasus di tahun 2019, naik sebesar 64.211 kasus di tahun 2020.

Demikian pula angka kasus kekerasan berbasis gender siber (ruang online/daring) atau disingkat KBGS yang dilaporkan langsung ke Komnas Perempuan yiatu dari

(24)

7

241 kasus pada tahun 2019 naik menjadi 940 kasus di tahun 2020. Hal yang sama dari laporan Lembaga Layanan, pada tahun 2019 terdapat 126 kasus, di tahun 2020 naik menjadi 510 kasus sehingga dengan meningkatnya angka kasus kekerasan berbasis gender di ruang online/daring (KBGO) sepatutnya menjadi perhatian serius semua pihak.11 Namun ada hal yang berbeda dengan kasus inses.

Meskipun jauh menurun di tahun 2020 yaitu sebesar 215 kasus, (tahun lalu 822 kasus), tetap perlu menjadi perhatian besar karena secara berturut-turut muncul sejak tahun 2016 (sebelumnya tidak ada). Perhatian tersebut diperlukan melihat pelaku inses terbesar adalah ayah kandung sebesar 165 orang. Kasus inses adalah kekerasan seksual yang berat, di mana korban akan mengalami ketidakberdayaan karena harus berhadapan dengan ayah atau keluarga sendiri, kekhawatiran menyebabkan perpecahan perkawinan/konflik, sehingga umumnya baru diketahui setelah inses berlangsung lama atau terjadi kehamilan yang tidak dikehendaki.

Kerentanan perempuan menjadi korban inses, akan semakin berlapis ketika mereka berusia anak atau penyandang disabilitas yang memiliki hambatan untuk mengkomunikasikan apa yang telah terjadi terhadapnya.11 Demikian pula dengan marital rape sebesar 57 kasus yang menurun dibanding tahun lalu yang mencapai

100 kasus. Kondisi ini boleh jadi disebabkan oleh pandemik Corona-19, dimana korban dalam lingkungan keluarga sulit melaporkan dikarenakan kebijakan pembatasan sosial berskala besar menyebabkan korban dan pelaku sama-sama berada di rumah, dan kesulitan melakukan pengaduan dan mengakses layanan.

Catatan lainnya berdasarkan inovasi penambahan pertanyaan kuesioner, kasus- kasus dalam ranah pribadi maupun komunitas yang berkaitan dengan kekerasan terhadap perempuan masih banyak yang diselesaikan dengan jalur non hukum,

(25)

8

termasuk oleh Lembaga layanan pendampingan hukum. Kedua, dalam hal sistem rujukan yang diterapkan Komnas Perempuan, permintaan terbanyak dari korban adalah pentingnya bantuan hukum, bantuan psikis, medis dan rumah aman.

Ketiga, sumberdaya terendah di lembaga layanan adalah psikolog, dan tenaga medis serta polisi perempuan. Ketiganya menjadi hal yang sangat penting bagi proses penanganan korban, yang ditemukan jumlahnya sangatlah kurang.

Sementara dalam hal fasilitas, paling minim adalah ruang khusus pemeriksaan serta rumah aman. Keduanya sangat dibutuhkan korban yang membutuhkan privasi dan penyelamatan diri dalam proses penanganan korban.11

Komnas Perempuan justru menerima kenaikan pengaduan langsung yaitu sebesar 2.389 kasus dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 1.419 kasus. Sehingga dapat dikatakan terdapat peningkatan pengaduan 970 kasus di tahun 2020. Arus pengaduan melalui aplikasi form online ini menjadi pengalaman pertama Komnas Perempuan di tahun 2020 di masa pandemik.11

Indonesia sendiri tidak luput dari hal ini yang dapat dilihat dari tren kekerasan pada wanita yang terus meningkat dari tahun ke tahun.2 Kekerasan seksual dapat menyebabkan berbagai permasalahan kesehatan bagi korban, seperti cedera atau trauma fisik, kehamilan yang tidak direncanakan, induced abortion, masalah-masalah ginekologis, dan infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV.

Jika kekerasan seksual dilakukan pada wanita yang sedang hamil dapat meningkatkan kemungkinan abortus, janin lahir mati, kelahiran preterm, dan berat bayi lahir rendah (BBLR). Selain itu kekerasan ini juga dapat berujung pada gangguan psikis seperti depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD) dan gangguan kecemasan lain, gangguan tidur, gangguan makan, dan percobaan

(26)

9

bunuh diri.1 Berdasarkan tingginya prevalensi kekerasan seksual pada wanita dan dampaknya terhadap kesehatan korban maka peneliti tertarik melakukan penelitian tentang kasus kekerasan seksual pada perempuan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah mengetahui profil kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada tahun 2019 – 2020.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum

Mengetahui profil kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019 – 2020

1.3.2 Tujuan khusus

1. Untuk mengetahui profil kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada tahun 2019 – 2020 berdasarkan usia.

2. Untuk mengetahui profil kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada tahun 2019 – 2020 berdasarkan pekerjaan.

3. Untuk mengetahui profil kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada tahun 2019 - 2020 berdasarkan status perkawinan.

4. Untuk mengetahui profil kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada tahun 2019 - 2020 berdasarkan hubungan korban dengan pelaku.

(27)

10

5. Untuk mengetahui profil kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa pada tahun 2019 - 2020 berdasarkan jenis kasus kekerasan seksual.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Untuk memberikan kontribusi data pada pimpinan RSUD Langsa terhadap hasil pemeriksaan korban yang dikeluarkan selama ini.

2. Untuk menjadi pedoman membuat suatu kebijakan dalam upaya pembuatan SOP (Standar Operasional Pelayanan) di RSUD Langsa.

3. Untuk memberikan kontribusi data pada Kepala Dinas terkait di Kota Langsa terhadap data korban yang diperiksa selama ini.

4. Sebagai salah satu referensi untuk penelitian selanjutnya.

5. Memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar Magister Kedokteran Forensik.

(28)

11 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Kekerasan seksual adalah setiap penyerangan yang bersifat seksual terhadap perempuan, baik telah terjadi persetubuhan ataupun tidak, dan tanpa mempedulikan hubungan antara pelaku dan korban. Jenis kekerasan seksual yang dapat terjadi yaitu kejahatan kekerasan seksual (sexual violence) dan pelecehan seksual (sexual harrassment).1 Kekerasan seksual juga sangat bervariasi berupa percobaan perkosaan, perkosaan, sadisme dalam hubungan seksual, pemaksaan aktivitas-aktivitas seksual lain yang tidak disukai, merendahkan, menyakiti atau melukai korban.1 Korban Pelecehan seksual memiliki rentang yang sangat luas, mulai dari ungkapan verbal (komentar, gurauan dan sebagainya) yang jorok/tidak senonoh, perilkau tidak senonoh (mencolek, meraba, mengeus, memeluk dan sebagainya), mempertunjukkan gambar porno/jorok, serangan dan paksaan yang tidak senonoh seperti memaksa untuk mencium atau memeluk, mengancam akan menyulitkan si perempuan bila menolak.22

Kekerasan terhadap perempuan memiliki ciri penting bahwa tindakan tersebut dapat berupa tindakan fisik, seksual, maupun nonfisik (psikis), dapat dilakukan secara aktif maupun pasif (tidak berbuat), dikehendaki atau diniati oleh pelaku, dan menimbulkan akibat yang merugikan korban (fisik, seksual, maupun psikis) yang tidak dikehendaki oleh korban.2

Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana alat kelamin laki- laki masuk ke dalam alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya, dengan atau tanpa

(29)

12

terjadinya pancaran air mani.15 Senggama yang legal (tidak melanggar hukum) adalah yang dilakukan dengan prinsip- prinsip sebagai berikut:

1. Wanita tersebut adalah isteri sah (sesusai UU NO 1 tahun 1974 tentang perkawinan) da nada ijin dari (consent) dari wanita yang disetubuhi.

2. Wanita tersebut sudah cukup umur, sehat akalnya, tidak sedang dalam keadaan terikat perkawinan dengan laki- laki lain dan bukan anggota keluarga dekat.24

Perkosaan adalah tindakan persetubuhan (bersenggama) yang melanggar hukum dengan jalan memaksa atau menipu dan tanpa persetujuan. Definisi ini dapat diperluas dengan “berbagai lubang” dengan tujuan untuk mencakup penetrasi paksaan terhadap mulut atau anus. Korban perkosaan menjadi trauma oleh kejahatan seksual dan kekerasan.16

Pencabulan adalah semua perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan seksual sekaligus mengganggu kehormatan kesusilaan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti keji dan kotor, tidak senonoh (Melanggar kesopanan, kesusilaan).24 Mencakup banyak hal yang berbeda, dari menyentuh korban secara seksual, memaksa korban menyentuh pelaku secara seksual, hingga memaksa korban melihat organ tubuh seksual atau kegiatan seksual.23

2.2 Perkosaan Dari Segi Hukum15

1. Perkosaan bukan berarti harus terjadi penetrasi alat kelamin pria ke dalam alat kelamin wanita, tetapi usaha untuk melakukan tindakan tersebut saja sudah dianggap perkosaan. Dengan demikian maka pada beberapa kasus mungkin tidak ditemukan adanya cedera pada alat kelamin wanita ataupun bercak

(30)

13

cairan sperma, tetapi tindakan kekerasan yang dilakukan sudah dapat dianggap sebagai perkosaan.

2. Jika situasi di tempat kejadian memungkinkan untuk memberi perlawanan, penting sekali diketahui bahwa wanita tersebut ada melakukan tanda-tanda perlawanan.

3. Persetujuan dianggap sah jika diberikan oleh seorang wanita tanpa ancaman dan usianya lebih dari 16 tahun.

4. Pada umumnya seorang suami tidak bisa dituntut melakukan perkosaan atas istrinya yang usianya sudah di atas 15 tahun, karena dianggap persetujuan untuk melakukan hubungan seksual sudah diberikan pada saat pernikahan dan wanita tersebut tidak bisa menarik persetujuan tersebut.

5. Hukuman atas perkosaaan bisa berupa hukuman penjara sampai seumur hidup atau hukuman penjara 10 tahun beserta hukuman denda.

6. Pada kasus dimana perkosaan belum bisa dibuktikan secara hukum, maka tindakan tersebut bisa dianggap sebagai tindakan pelanggaran terhadap kehormatan seorang wanita.

7. Seorang wanita tidak bisa dituntut melakukan perkosaan terhadap pria. Wanita hanya bisa dituntut melakukan tindakan melanggar kesopanan terhadap seorang pria.

(31)

14

2.3 Dasar Hukum17 Pasal 285 KUHP

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pasal 286 KUHP

Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan, padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 287 KUHP

1. Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk kawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

2. Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.

2.4. Pemeriksaan Terhadap Korban Kejahatan Seksual :5 1. Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan

Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana alat kelamin laki- laki masuk ke dalam alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya, dengan atau tanpa terjadinya pancaran air mani. Kesimpulan yang diambil adalah ditemukanya sperma dalam vagina korban berarti telah terjadi persetubuhan

(32)

15

akan tetapi apabila tidak didapatkan sperma, hal ini tidak boleh diartikan bahwa pada korban tidak terjadi persetubuhan.

2. Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan

Adanya luka berarti ada kekerasan, akan tetapi tidak ditemukan luka bukan berarti bahwa pada korban tidak ada kekerasan. Demikian pula halnya dengan hasil pemeriksaan racun/ obat bius pada korban. Faktor waktu amat berperan, dengan berlalunya waktu luka dapat menyembuh atau tidak dapat ditemukan, racun atau obat bius telah dikeluarkan dari tubuh. Faktor waktu sangat penting dalam pemeriksaan untuk menemukan sperma atau air mani.

3. Memperkirakan umur

Perkiraan umur diperlukan pada kasus kasus dimana pasal 287 KUHP dapat dikenakan pada pelaku kejahatan kekerasan seksual.

4. Menentukan pantas tidaknya korban buat kawin

Bila dilihat pada UU perkawinan, yaitu pada Bab II (syarat –syarat perkawinan) pada pasal 7 ayat 1 berbunyi : Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.

2.5 Undang Undang Perkawinan No. 16 Tahun 2019 pasal 7 25

Undang-undang Republik Indonesia nomor 16 tahun 2019 tentang perubahan atas undang-undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan , ketentuan Pasal 7 ayat 1 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

1. Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.

(33)

16

2. Dalam hal terjadi penyimpangan terhadap ketentuan umur sebagaimana dimaksud pada ayat (1), orang tua pihak pria dan/atau orang tua pihak wanita dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup.

3. Pemberian dispensasi oleh Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mendengarkan pendapat kedua belah calon mempelai yang akan melangsungkan perkawinan.

4. Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan seorang atau kedua orang tua calon mempelai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) dan ayat (4) berlaku juga ketentuan mengenai permintaan dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).

2.6 Kategori Usia Menurut DepkeS RI 2009 20

Usia (skala interval), dikategorikan menurut Depkes RI (2009):

1) Masa balita : 0 – 5 tahun 2) Masa kanak-kanak : 5 – 11 tahun 3) Masa remaja awal : 12 – 16 tahun 4) Masa remaja akhir : 17 – 25 tahun 5) Masa dewasa awal : 26 – 35 tahun 6) Masa dewasa akhir : 36 – 45 tahun 7) Masa lansia awal : 46 – 55 tahun 8) Masa lansia akhir : 56 – 65 tahun 9) Masa manula : > 65 tahun

(34)

17 BAB III

METODE PENELTIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui Profil Kasus Kekerasan Seksual

Terhadap Perempuan Yang Diperiksa Di RSUD Langsa Pada Tahun 2019 - 2020 dimana setiap sampel hanya diamati satu kali pada satu waktu.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUD Langsa

Tabel 3.1 Waktu penelitian

KEGIATAN

WAKTU PELAKSANAAN Agustus

2021 September 2021 Oktober 2021 Mg

3 M g 4

M g1

M g2

M g 3

M g 4

Mg 1

Mg 2

Mg 3 Pengajuan judul

Studi kepustakaan Pembacaan proposal

Pengumpulan dan pengolahan data

Laporan hasil penelitian

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan sejak bulan Agustus 2021 sampai dengan Oktober 2021 yang meliputi pengajuan judul, studi kepustakaan, pembacaan proposal, pengumpulan dan pengolahan data serta penulisan dan pelaporan hasil penelitian.

(35)

18

3.3 Biaya Penelitian

Tabel 3.2 Rincian Biaya Penelitian

No Jenis Pengeluaran Biaya yang diusulkan (Rp)

1 Bahan habis pakai /ATK 5.200.000

2 Copy Material 1.000.000

3 Referensi 1.000.000

4 Seminar proposal 1.000.000

2 Perjalanan 1.500.000

3 Seminar Laporan Akhir Penelitian 2. 000.000

Jumlah 11.700.000

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian 3.4.1 Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh data yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada tahun 2019 sampai dengan 2020.

3.4.2 Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah seluruh data perempuan kasus-kasus kekerasan seksual yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD

Langsa pada tahun 2019 sampai dengan 2020.

3.5 Teknik Pengambilan Sampel

Sampel penelitian diperoleh dari seluruh data yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Kota Langsa Pada Tahun 2019 sampai dengan 2020 dengan metode total sampling.

(36)

19

3.6 Kriteria Penelitian 3.6.1 Kriteria Inklusi

1. Data yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Kota Langsa Pada Tahun 2019 sampai dengan 2020 yang mencakup usia.

2. Data yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Kota Langsa Pada Tahun 2019 sampai dengan 2020 yang mencakup pekerjaan.

3. Data yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Kota Langsa Pada Tahun 2019 sampai dengan 2020 yang mencakup status perkawinan.

4. Data yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Kota Langsa Pada Tahun 2019 sampai dengan 2020 yang mencakup Hubungan korban dengan pelaku.

5. Data yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan di Kota Langsa Pada Tahun 2019 sampai dengan 2020 yang mencakup jenis kekerasan seksual.

3.6.2 Kriteria Ekslusi

1. Data korban kasus penganiayaan/keracunan di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada tahun 2019 sampai dengan 2020.

2. Data korban kasus kekerasan seksual pada laki-laki di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada tahun 2019 sampai dengan 2020.

3. Data korban meninggal yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada tahun 2019 sampai dengan 2020.

(37)

20

3.7 Variabel Penelitian

Variabel yang diteliti adalah:

1. Usia 2. Pekerjaan

3. Status perkawinan

4. Hubungan korban dengan pelaku.

5. Jenis kekerasan seksual

3.8 Kerangka konsep

Gambar 3.1 Kerangka Konsep

1. Usia 2. Pekerjaan

3. Status Perkawinan 4. Hubungan korban dengan pelaku 5. Jenis Kekerasan seksual

Karakteristik Data yang diperiksa

di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa

(38)

21

3.9 Defenisi Operasional

Tabel. 3.3 Defenisi operasional No Variabel Defenisi

Operasional

Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur

1 Usia Lama waktu

hidup atau ada (sejak dilahirkan)

Rekam medik

1. Balita : 0 – 5 tahun 2. Kanak- kanak : 6 –

11 tahun

3. Remaja awal : 12 – 16 tahun

4. Remaja akhir : 17 – 25 tahun

5. Dewasa awal : 26 – 35 tahun

6. Dewasa akhir : 36 – 45 tahun

7. Lansia awal : 46 – 55 tahun

8. Lansia akhir : 56 – 65 tahun 9. Manula : > 65

tahun

Interval

2 Pekerjaan Kegiatan yang dilakukan perempuan baik di rumah maupun diluar rumah dengan Tujuan untuk

menghasilkan uang ataupun barang untuk pemenuhan kebutuhan sehari hari

Rekam medik

1. Pelajar 2. Tidak bekerja 3. PNS

4. Karyawan Swasta 5. Wiraswasta

Ordinal

3 Status Perkawinan

Keadaan atau kedudukan hubungan perihal urusan pernikahan

Rekam medik

1. Kawin 2. Tidak kawin

Ordinal

4 Hubungan Korban dengan pelaku

Hubungan ikatan /pertalian antara korban dengan Pelaku

Rekam medik

1. Orang Yang

Dikenal Korban 2. Orang Yang Tidak

Dikenal Korban

Ordinal

5 Jenis kekerasan seksual

Penggolongan kekerasan seksual

Rekam medik

1.Perkosaan 2.Pencabulan 3.Pelecehan seksual

Ordinal

(39)

22

3.10 Metode pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder yaitu seluruh data perempuan yang diperiksa di Instalasi Forensik dan Medikolegal RSUD Langsa pada Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan pada tahun 2019 sampai dengan 2020 dan pada data tersebut tercantum variabel-variabel yang akan diteliti sesuai dengan tujuan khusus pada penelitian ini. Data dikumpulkan dan dilakukan pencatatan serta tabulasi dengan jenis variabel yang akan diteliti berdasarkan usia, pekerjaan, status perkawinan, hubungan korban dengan pelaku dan jenis kekerasan seksual.

3.11 Analisa Data

Data yang diperoleh peneliti kemudian akan diolah dengan menggunakan statistik deskriptif dan dilaporkan dalam tabel.

3.12 Ethical Clearance

Penelitian ini dilakukan dengan persetujuan dari Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara Medan NO : 1095/ KEP/ USU/ 2021

(40)

23 BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian 4.1.1 Deskripsi Geografis

Rumah Sakit Umum Daerah Langsa didirikan pada tahun 1915 oleh Pemerintah Kolonial Belanda diatas areal tanah seluas ± 35.800M2 sebagai Balai pengobatan serdadu Belanda, Pemerintah Kolonial Belanda mulai melakukan pengembangan dari segi fisik bangunan, peralatan kesehatan dan tenaga medis, akibat agresi militer di Aceh banyak serdadu Belanda yang tewas dan luka.

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia membuat Pemerintah Kolonial Belanda harus hengkang dari Bumi Rencong Aceh sehingga meninggalkan bangunan fisik dan membuat masyarakat pribumi mulai menggunakannya sebagai balai pengobatan kesehatan. Rumah Sakit Umum Daerah Langsa merupakan Rumah Sakit Rujukan atas mata rantai Sistem Kesehatan di wilayah Pemerintah Kota Langsa dan sekitar.21

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

51/Men.Kes/SK/II/1979 tanggal 22 Februari 1979 diberikan status menjadi Rumah Sakit dalam klasifikasi type C, Kemudian pada tahun 1997 ditingkatkan klasifikasinya menjadi Rumah Sakit type B Non Pendidikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 479/Men.Kes/SKV/1997 tanggal 20 Mei 1997. Kemudian berdasarkan Keputusan Presiden No. 40 tahun 2001 berubah status menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Langsa dan telah juga ditetapkan dengan Qanun Pemerintah Kota Langsa No. 5 Tahun 2005, dan Qanun

(41)

24

Pemerintah Kota Langsa No. 10 Tahun 2009 tentang rincian pokok dan fungsi pemangku jabatan struktural dilingkungan Rumah Sakit Umum Daerah Langsa.21

4.2 Hasil Penelitian

Berdasarkan penelitian pada tanggal 8 Oktober – 15 Oktober 2021 yang dilakukan di RSUD Langsa, diperoleh jumlah keseluruhan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan pada tahun 2019 – 2020 sebanyak 35 korban dengan rincian kasus kekerasan seksual terhadap perempuan bulan Januari 2019 sebanyak 1 korban. Pada bulan Februari 2019 sebanyak 1 korban. Pada bulan Maret 2019 sebanyak 1 korban. Pada bulan April 2019 sebanyak 4 korban. Pada bulan Juni 2019 sebanyak 3 korban. Pada bulan September 2019 sebanyak 1 korban. Pada bulan November 2019 sebanyak 2 korban. Pada bulan Januari 2020 jumlah Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan sebanyak 4 korban, pada bulan Februari 2020 sebanyak 3 korban. Pada bulan Maret 2020 sebanyak 2 korban. Pada bulan April 2020 sebanyak 1 korban. Pada bulan Mei 2020 sebanyak 2 korban. Pada bulan Juni 2020 sebanyak 1 korban. Pada bulan Juli 2020 sebanyak 1 korban.

Pada bulan Agustus 2020 sebanyak 3 korban. Pada bulan September 2020 sebanyak 1 korban. Pada bulan Oktober sebanyak 1 kasus dan Pada bulan Desember 2020 sebanyak 2 korban.

Peningkatan korban kekerasan seksual terhadap perempuan terjadi peningkatan yaitu dari tahun 2019 sebanyak 13 korban kekerasan seksual terhadap perempuan meningkat menjadi 22 korban kasus kekerasan seksual pada tahun 2020. Hal ini dapat dipengaruhi oleh pandemik Corona-19, bahwa pada masa pandemik saat ini kekerasan berbasis gender online telah meningkat hampir

(42)

25

300%, meskipun ruang lingkup interaksi dimasa pandemik terbatas secara ruang, tetapi bentuk kekerasan seksual tetap terjadi dalam bentuk online, yaitu Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), hal ini difasilitasi oleh canggihnya teknologi

saat ini untuk mengakses atau menggunakan teknologi untuk melakukan kekersan seksual terhadap perempuan.

4.2.1 Jumlah Keseluruhan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa Di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 disajikan Dalam Bentuk Diagram

Gambar 4.1 Jumlah keseluruhan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020

13 Korban

22 Korban

Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019 - 2020

Tahun2019 Tahun2020

(43)

26

4.2.2 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa Di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Usia disajikan Dalam Bentuk Diagram.

Gambar 4.2 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Yang Diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan usia 4.2.3 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa

di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Pekerjaan disajikan Dalam Bentuk Diagram.

Gambar 4.3 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan Pekerjaan.

Pelajar 31 Korban Tidak bekerja 4

Korban 0

Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019 - 2020 Berdasarkan Pekerjaan

Pelajar Tidak bekerja PNS

Karyawan swasta Wiraswasta

(44)

27

4.2.4 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Status Perkawinan disajikan Dalam Bentuk Diagram

Gambar 4.4 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan

Perkawinan.

4.2.5 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Hubungan Korban dengan Pelaku disajikan Dalam Bentuk Diagram.

Orang yang dikenal 34 Korban

Orang yang tidak dikenal

1Korban

Jumlah Kasus Kekerasan Seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019 - 2020 Berdasarkan

Hubungan Korban Dengan Pelaku

Orang yang dikenal korban Orang yang tidak dikenal korban

Gambar 4.5 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Hubungan

Korban Dengan Pelaku

Kawin 0 Korban

Tidak kawin 35 Korban

Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019 - 2020 Berdasarkan Status Perkawinan

Tidak kawin

(45)

28

4.2.6 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Jenis Kekerasan seksual disajikan Dalam Bentuk Diagram.

Pemerkosaan 3 Korban

Pencabulan 10 Korban

Pelecehan seksual 22 korban

Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019 - 2020 Berdasarkan Jenis Kekerasan

Seksual

Perkosaan

Pencabulan

Pelecehan seksual

Gambar 4.6 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Jenis

Kekerasan Seksual.

(46)

29 BAB V PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian pada tanggal 8 Oktober – 15 Oktober 2021 yang dilakukan di RSUD Langsa, diperoleh jumlah keseluruhan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan pada tahun 2019 – 2020 sebanyak 35 korban dengan rincian kasus kekerasan seksual terhadap perempuan bulan Januari 2019 sebanyak 1 korban . Pada bulan Februari 2019 sebanyak 1 korban. Pada bulan Maret 2019 sebanyak 1 korban. Pada bulan April 2019 sebanyak 4 korban. Pada bulan Juni 2019 sebanyak 3 korban. Pada bulan September 2019 sebanyak 1 korban. Pada bulan November 2019 sebanyak 2 korban. Pada bulan Januari 2020 jumlah Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan sebanyak 4 korban, pada bulan Februari 2020 sebanyak 3 korban. Pada bulan Maret 2020 sebanyak 2 korban. Pada bulan April 2020 sebanyak 1 korban. Pada bulan Mei 2020 sebanyak 2 korban. Pada bulan Juni 2020 sebanyak 1 korban. Pada bulan Juli 2020 sebanyak 1 korban.

Pada bulan Agustus 2020 sebanyak 3 korban. Pada bulan September 2020 sebanyak 1 korban. Pada bulan Oktober sebanyak 1 kasus dan Pada bulan Desember 2020 sebanyak 2 korban.

5.1 Jumlah keseluruhan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Yang Diperiksa Di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020

Jumlah keseluruhan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Yang Diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 disajikan dalam bentuk tabel.

(47)

30

Tabel 5.1 Jumlah keseluruhan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020.

Tahun Total

Jumlah Persentase

Tahun 2019 13 37,14 %

Tahun 2020 22 62,86%

Total 35 100%

Berdasarkan hasil penelitian ini yang dilakukan terhadap Rekam Medis Pada Instalasi Forensik RSUD Langsa kota Langsa pada tanggal 08 oktober 2021 sampai dengan tanggal 13 Oktober 2021, didapatkan jumlah keseluruhan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan sebanyak 35 korban.

Dilihat dari keseluruhan data, jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa kota Langsa mengalami peningkatan kasus pada tahun 2019 sebanyak 13 korban ( 37,14%) meningkat menjadi 22 korban (62,86%) pada tahun 2020.

5.2. Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan usia Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Yang Diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan usia disajikan dalam bentuk tabel.

(48)

31

Tabel 5.2 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan usia

Usia Jumlah Persentase

0-5 Tahun 2 5,71%

6-11 Tahun 6 17,14%

12-16 Tahun 20 57,15%

17-25 Tahun 6 17,14%

26-35 Tahun 1 2,86%

36-45 Tahun 0 0%

46-55 Tahun 0 0%

56- 65 Tahun 0 0%

>65 Tahun 0 0%

Total 35 100%

Berdasarkan hasil penelitian ini yang dilakukan terhadap Rekam Medis Pada Instalasi Forensik RSUD Langsa kota Langsa pada tanggal 08 oktober 2021 sampai dengan tanggal 13 Oktober 2021, berdasarkan usia jumlah keseluruhan kasus kekerasan seksual terhadap perempuan sebanyak 35 korban. Pada usia balita 0-5 Tahun berjumlah 2 korban (5,71%). Pada usia kanak kanak 6-11 Tahun berjumlah 6 korban (17,14%). Pada usia remaja awal 12-16 tahun berjumlah 20 korban (57,14%). Pada usia remaja akhir 17-25 Tahun berjumlah 6 korban (17,14%).

Dilihat dari keseluruhan data, jumlah kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa kota Langsa tertinggi pada usia remaja akhir 12-16 Tahun sebanyak 20 korban ( 57,14%) dan terendah pada golongan usia

>36 tahun yaitu mulai dari usia dewasa akhir sampai usia manula sebanyak 0 korban.

(49)

32

5.3. Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa Di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan Pekerjaan.

Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Yang Diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan pekerjaan disajikan dalam bentuk tabel.

Tabel 5.3 Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yangd diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan Total

Jumlah Persentase

Pelajar 31 88,57%

Tidak bekerja PNS Pegawai swasta

Wiraswasta

4 0 0 0

11,43%

0%

0%

0%

Total 35 100%

Berdasarkan hasil penelitian ini yang dilakukan terhadap Rekam Medis Pada Instalasi Forensik RSUD Langsa kota Langsa pada tanggal 08 oktober 2021 sampai dengan tanggal 13 Oktober 2021 berdasarkan pekerjaan didapatkan jumlah korban kekerasan seksual terhadap perempuan tertinggi pada pelajar sebanyak 31 korban (88,57%) dan terendah pada korban yang tidak bekerja sebanyak 4 korban ( 11,43%).

5.4. Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 Berdasarkan Status Perkawinan.

Jumlah Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan Yang Diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020 berdasarkan status perkawinan disajikan dalam bentuk tabel.

Gambar

Tabel 3.1 Waktu penelitian
Tabel 3.2 Rincian Biaya Penelitian
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Gambar 4.1 Jumlah keseluruhan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap  Perempuan yang diperiksa di RSUD Langsa Pada Tahun 2019- 2020
+5

Referensi

Dokumen terkait

Hasil: Dari 97 orang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sesuai dengan visum et repertum psychiatricum tahun 2007-2011 di RSUD Dr.. Pirngadi Medan,

Fokus penelitian ini adalah Kinerja Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdyaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Dalam Penanganan Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di

Tesis yang berjudul “ Studi Kasus Tentang Dampak Biopsikososial terhadap Perilaku untuk Mengatasi Kekerasan Seksual Perempuan di Kabupaten.. Sukoharjo ” ini adalah

Populasi penelitian ini adalah semua pasien yang telah didiagnosa preeklampsia yang dirawat di RSUD Dr.. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari rekam

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang berupa kajian kepustakaan ( library research ) tentang kesaksian perempuan dalam perceraian. Untuk pengumpulan data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner.Hasil penelitian menunjukan bahwa harapan pasien BPJS terhadap pelayanan obat di Depo Farmasi BLUD RSUD

A dan An.F dengan GEA dehidrasi sedang di Ruang Seruni RSUD Jombang tahun 2016 menggunakan 7 langkah varney mulai dari pengumpulan data sampai dengan evaluasi maka

A dan An.F dengan GEA dehidrasi sedang di Ruang Seruni RSUD Jombang tahun 2016 menggunakan 7 langkah varney mulai dari pengumpulan data sampai dengan evaluasi maka