• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERETA API PERATURAN DINAS 26 (PD 26) KESELAMATAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KERETA API PERATURAN DINAS 26 (PD 26) KESELAMATAN"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

KERETA API

PERATURAN DINAS 26

(PD 26)

KESELAMATAN

Ditetapkan dengan

Keputusan Direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Nomor :

KEP.U/KL.l04/2/KA-2017

Tanggal

17 April2017

-·--·-···---

-

--·--- ----·---·-··---

--·--

(2)

KERETA API

KEPUTUSAN DIREKSI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO) NOMOR : KEP.U/KL.104/IV/2/KA- 2017

Merrimbang

Mengingat

PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)

TENTANG

PERATURAN DINAS 26 MEN GENAl KESELAMATAN

DIREKSI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO),

a. bahwa untuk mewujudkan budaya keselamatan dan mendukung pelaksanaan sistem manajemen keselamatan perkeretaapian diperlukan peraturan dinas yang menjabarkan prinsip dan aturan umum keselamatan yang pada akhinlya menjadi induk ketentuan keselamatan bagi peraturan dinas lainnya;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a maka perlu menetapkan Keputusan Direksi tentang Peraturan Dinas 26 mengenai Keselamatan;

1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Keija (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2918);

2. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakeijaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4279);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4722);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5048) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2017 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6022);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 176, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5086~

KANTOR PUSAT-JL. Perintis Kemerdekaan No.1 Bandung 40117 Telp. (022) 4230031, 4230039, 4230054 Facs. (022) 4203342; PO BOX 1163 Bandung 40000

(3)

sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah nomor 61 tahun 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 264, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5961);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5309);

7. Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2013 tentang Investigasi Kecelakaan Transportasi (lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2013 Nomor 156);

8. Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER- 01/MBU/2011 tanggal 1 Agustus 2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-09/MBU/2012 tanggal 6 Juli 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) Pada Badan Usaha Milik Negara;

9. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 24 Tahun 2015 tentang Standar Keselamatan Perkeretaapian;

10. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 82 Tahun 2000 tanggal 5 Desember 2000 tentang Investigasi Penyebab Kecelakaan Kereta Api;

11. Anggaran Dasar PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang telah diumumkan pada Berita Negara Republik Indonesia dan perubahan terakhirnya sebagaimana dinyatakan dalam Akta Nomor 42 tanggal 23 Mei 2016, yang laporannya telah dicatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian Hukum dan Ha.k Asasi Manusia Republik Indonesia sebagaimana suratnya Nomor AHU-AH.Ol.03-0053400 tanggal 01 Juni 2016, dibuat dihadapan Surjadi Jasin S.H., Notaris di Bandung dan Perubahan Susunan Pengurus terakhir sebagaimana dinyatakan dalam Akta Nomor 4 tanggal 24 Maret 2017, yang laporan pemberitahuannya telah diterima dan tercatat dalam database Sistem Administrasi Badan Hukum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagaimana dinyatakan dalam suratnya nomor AHU-AH.Ol.03-0121391 tanggal 24 Maret 2017, dibuat dihadapan Dr. Darwin Ginting, S.H.M.H., Notaris di Kabupaten Bandung Bara}

(4)

Menetapkan

12. Keputusan Direksi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Nomor KEP.U /KS.102/VIII/ 1/KA-2016 tanggal 23 Agustus 2016 tentang Pedoman Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Keija;

13. Keputusan Direksi PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Nomor KEP.U/KS.102/X/ 1/KA-2016 tanggal 19 Oktober 2016 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian;

14. Keputusan Direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero) Nomor KEP.U/K0.101/IX/12/KA-2016 tentang Pembagian Tugas dan Wewenang Anggota Direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero);

15. Keputusan Direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero) Nomor KEP.U/K0.101/XI/1/KA-2016 tentang Tugas dan Wewenang Direksi;

MEMUTUSKAN;

KEPUTUSAN DIREKSI TENTANG PERATURAN DINAS 26 MENGENAI KESELAMATAN.

Pasa11

Menetapkan Peraturan Dinas 26 mengenai Keselamatan di lingkungan Perusahaan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan ini.

Pasal2

( 1) Dalam pelaksanaan Peraturan Dinas ini mewajibkan kepada Direktur Operasi, Direktur Pengelolaan Sarana, Direktur Pengelolaan Prasarana, Direktur SDM dan Umum, Direktur Keselamatan dan Keamanan, Corporate Deputy Director, Executive Vice President, dan Vice President untuk melakukan:

a. pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksaan Peraturan Dinas ini;

b. sosialisasi selama 6 (enam) bulan sejak berlakunya Peraturan Dinas ini;dan

c. evaluasi, penyesuaian, dan melengkapi atas aturan operasional yang dibutuhkan dan/ a tau aturan operasional terkait keselamatan yang telah ada. ~

(5)

(2) Evaluasi, penyesuaian, dan melengkapi atas aturan operasional yang dibutuhkan dan/ a tau aturan operasional terkait keselamatan yang telah ada sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, dilakukan dalam rentang waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak selesainya masa sosialisasi.

Pasa13

Peraturan Dinas ini berlaku sebagai induk bagi peraturan dinas yang lain terutama ketentuan mengenai keselamatan.

Pasal4

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan dalam pelaksanaanya agar tetap memperhatikan ketentuan perundang-undangan.t

Ditetapkan di : Bandung

Pada tanggal : 17 April 2017

a.n. DIREKSI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO) DIREKTUR UT AMA,

~

EDI SUKMORO NIPP. 65359

Salinan keputusan ini disampaikan kepada Yth.

1. Dewan Komisaris PT Kereta Api Indonesia (Persero);

2. Direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero);

-

3. Executive Vice President/ Corporate Deputy Director PT Kereta Api Indonesia (Persero);

4. Vice President/General Manager PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Bandun1, ...

~t.lJP!..L..~~'!:..-:: ....

Sallnan sesual denaan asllnya VP Corporate Document Mana1ement,

WB. SISWANTONO

/

NIPP 65542

(6)

KERETA API

Peraturan Dinas (PD) 26

KESELAMATAN

Edisi Januari 2017

Ditetapkan dengan Keputusan Direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero) Nomor KEP. U/KL.104/IV/2/KA-2017 Tanggal 17 April 2017

(7)

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Peraturan Dinas 26 mengenai Keselamatan telah dapat diselesaikan.

Peraturan Dinas ini disusun sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian, Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api dan Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2013 tentang lnvestigasi Kecelakaan Transportasi.

Peraturan Dinas ini harus dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran operasi, jajaran sarana, jajaran prasarana, jajaran SDM dan umum, serta jajaran keselamatan dan keamanan dalam menjalankan tugasnya guna mewujudkan keselamatan, ketepatan waktu, pelayanan, dan kenyamanan dalam pengoperasian kereta api.

M. Kuncoro Wibowo Direktur Komersial dan

Teknologi lnformasi

Aziari

Direktur Pengelolaan Sarana

Budi Novian oro Direktur Logistik dan

Pengembangan

Bandung,17 April 2017

PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Edi Sukmoro Direktur Utama

Slamet Suseno Priyanto Direktur Operasi

Candra Purnama Direktur Keselamatan dan

Keamanan

o y Budiawan tur Aset Tanah dan

Bangunan

-

Bambang Eko Martone Direktur Pengelolaan

Prasarana

Didiek Hartantyo Direktur Keuangan

(8)

TIM PENYUSUNAN

PERATURAN DINAS TENTANG KESELAMATAN

Sturman Panjaitan Anang Yoyo Junaidi Nasution Eko Purwanto Achmad Syaefudin Ahmad Najib Tawangalun Suharjono

Dicky Eka Priandana Hendra Wahyono Bambang Respationo Supriyanto

Takdir Santoso

Rangga Putra Maulana Roni Komar

Edy Setiawan ldrus Fauzi

Teguh Imam Santoso Deddy Hendrady Faizal Muhtadi Purwantoro

Sekretariat:

Sugeng Muji Wibowo lrwan Yulliar Hadiansyah Sukamto

Ari Bodro Nugroho Moch. I wan Ridwan Gendot Wihandono Mona I nsaniati

Miming Kuncoro Muhammad Arifudin Aris Suharto

PP Arghajata Deny Pribadi Reman Sulaeman Edi Santoso Karyani Sugiastuti Harry Wahyu Praptono Teguh Priyo Budiyono Rusdiyanto

lmron Badari Suroto

Didit Andi lndrayana

iii

(9)

PERUBAHAN DAN TAMBAHAN Ditetapkan dengan Surat Keputusan Berlaku

Dikerjakan

No Mulai

oleh Keterangan

Dari Nemer Tanggal Tang gal

iv

(10)

DAFTARISI

KEPUTUSAN DIREKSI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO) ... ii

KATA PENGANTAR ... ii

PERUBAHAN DAN TAMBAHAN ... iv

DAFT AR lSI ... v

BAB I ISTILAH DAN DEFINISI ... 1

BAB II SISTEM KESELAMATAN ... 3

BAB III SAFETY CRITICAL TASK (SCT) ... 5

BAB IV SAFETY CRITICAL PERSONNEL (SCP) ... 7

BAB V SAFETY CRITICAL TECHNICAL SYSTEM AND OBJECT (SCTSO) ... 9

BAB VI PENGENALAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI BARU ... 10

BAB VII KOMPATIBILITAS SISTEM ... 11

BAB VIII PERENCANAAN PERAWATAN ... 12

BAB IX KESELAMATAN PRASARANA ... 13

BAB X KESELAMATAN SARAN A ... 14

BAB XI KESELAMATAN OPERASI ... 15

BAB XII KETENTUAN PENUTUP ... 16

v

(11)

BABI

ISTILAH DAN DEFINISI

Dalam peraturan dinas ini digunakan beberapa istilah berikut.

1. Perusahaan adalah PT Kereta A pi Indonesia (Persero).

2. Awak Sarana Perkeretaapian adalah orang yang ditugaskan di dalam kereta api oleh penyelenggara sarana perkeretaapian selama peijalanan kereta api.

3. Akreditasi adalah pengakuan dari instansi yang berwenang ten tang adanya wewenang seseorang untuk melaksanakan atau menjalankan tugasnya.

4. Daerah adalah satuan organisasi pada Daerah Operasi, Divisi Regional, atau Sub Divisi Regional di lingkungan Perusahaan.

5. Direksi adalah organ Perusahaan yang bertanggung jawab atas pengurusan Perusahaan untuk kepentingan dan tujuan Perusahaan serta mewakili Perusahaan baik di dalam maupun di luar pengadilan.

6. Jalan rel adalah satu kesatuan konstruksi yang terbuat dari baja, beton, atau konstruksi lain yang terletak di permukaan, di bawah, dan di atas tanah atau bergantung beserta perangkatnya yang mengarahkan jalannya kereta a pi.

7. Jalur kereta a pi adalah jalur yang terdiri atas rangkaian petak jalan rel yang meliputi ruang manfaat jalur kereta api, ruang milik jalur kereta api, dan ruang pengawasan jalur kereta api, termasuk bagian atas dan bawahnya yang diperuntukkan bagi lalu lintas kereta api.

8. Kepala Unit Pelaksana Teknis, yang selanjutnya disingkat KUPT adalah pejabat yang memimpin satuan organisasi setingkat unit pelaksana teknis tertentu.

9. Kereta a pi adalah sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak, baik beijalan sendiri maupun dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel yang terkait dengan peijalanan kereta api.

10. Keselamatan adalah kondisi selamat yang diupayakan dengan sengaja untuk menekan resiko kecelakaan seminimal mungkin, meliputi keselamatan kereta api dan kesehatan keija.

11. Masinis adalah awak sarana perkeretaapian yang bertugas mengoperasikan kereta api serta bertanggung jawab sebagai pimpinan peijalanan kereta api.

12. Perkeretaapian adalah satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana, dan sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk penyelenggaraan transportasi kereta a pi.

(12)

13. Petugas adalah seseorang yang memenuhi kualifikasi dan kompetensi dan ditugasi oleh Perusahaan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu, baik pekerja tetap maupun kontrak.

14. Pimpinan Daerah adalah Pejabat yang memimpin suatu satuan organisasi Perusahaan di tingkat Daerah.

15. Safety Critical Task (SCT) adalah pekerjaan yang berdampak langsung pada keselamatan operasional, keselamatan kerja, dan lingkungan.

16. Safety Critical Personnel (SCP) adalah semua petugas yang secara langsung terlibat dalam safety critical task.

17. Safety Critical Technical System and Object (SCTSO) adalah semua sistem, sumber produksi, alat kerja dan material yang berdampak pada keselamatan perjalanan kereta api, keselamatan kesehatan kerja dan lingkungan.

18. Sistem Keselamatan adalah semua sistem manajemen yang mendukung peningkatan keselamatan.

19. Sistem Manajemen Keselamatan atau Safety Management System yang selanjutnya disebut SMS adalah suatu pendekatan sistematis untuk mengelola keselamatan, termasuk struktur organisasi yang diperlukan, kewajiban, kebijakan dan prosedur.

20. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yang selanjutnya disebut SMK3 adalah suatu pendekatan sistematis untuk mengelola keselamatan kesehatan kerja, termasuk struktur organisasi yang diperlukan, kewajiban, kebijakan dan prosedur.

2

(13)

BAB II

SISTEM KESELAMATAN

2.1. Manajemen Risiko Keselamatan

2.1.1. Semua Pejabat mulai dari Kepala Unit Pelaksana Teknis danjatau Manager/Senior Manager di Daerah maupun Kantor Pusat harus mengenali, mendokumentasikan dan melaporkan bahaya dan risiko keselamatan di wilayah keijanya.

2.1.2. Semua bahaya dan risiko keselamatan harus didokumentasikan dalam Daftar Risiko dan Profil Risiko.

2.1.3. Daftar Risiko dan Prom Risiko harus digunakan sebagai salah satu dasar penyusunan rencana keija.

2.1.4. Daftar dan Profil Risiko harus diupdate secara berkala minimal satu bulan sekali sesuai dengan perubahan kondisi dan basil pelaksanaan pekerjaan.

2.1.5. Penyusunan Rencana Keija dan Anggaran (RKA) harus didasarkan pada Prom Risiko.

2.1.6. Pelaksanaan Manajemen Risiko Keselamatan mengacu pada Standar Manajemen Risiko.

2.2. Manajemen Perubahan.

2.2.1. Semua perubahan yang akan mempengaruhi keselamatan harus diidentiiikasi.

2.2.2. Perubahan yang akan mempengaruhi keselamatan harus dilakukan sesuai Standar Manajemen Perubahan.

2.3. Tanggap Darurat.

2.3.1. Setiap pekeija berkewajiban segera melaporkan kondisi darurat yang teijadi di wilayah keijanya Kepada atasan langsung atau pejabat yang terkait.

2.3.2. Setiap Unit Keija (dari UPT hingga kantor pusat) harus memiliki Dokumen Rencana Tanggap Darurat termasuk rencana hubungan dengan pihak kepolisian, pemadam kebakaran, bantuan medis, SAR dan institusi lain yang terkait.

2.3.3. Rencana Tanggap Darurat disusun dengan mengacu pada Standar Manajemen Tanggap Darurat.

2.3.4. Melakukan pengujian, pengesahan dan pelatihan Rencana Tanggap Darurat yang spesiflk untuk wilayah kerjanya minimal 1 tahun sekali.

2.3.5. Menangani Setiap Keadaan Darurat sesuai dengan Rencana dan Prosedur Tanggap Darurat yang telah disahkan.

(14)

2.4. Pengawasan Keselamatan.

2.4.1. Semua potensi risiko keselamatan yang signifikan harus dilakukan inspeksi dan audit secara berkala.

2.4.2. Semua kecelakaan (kecelakaan KA, kecelakaan kerja dan lingkungan) harus diinvestigasi dengan tingkat investigasi dan pelaporan yang sesuai dengan tingkat kecelakaan. Investigasi kecelakaan yang besar harus dilakukan oleh investigator yang terlatih.

4

(15)

BABIII

SAFETY CRITICAL TASK (SCT)

3.1. Safety Critical Task (SCT) meliputi pekerjaan yang berdampak langsung pada keselamatan, antara lain:

3.1.1. Mengoperasikan, menggerakkan, atau pekerjaan lain yang dapat menyebabkan bergeraknya sarana perkeretaapian.

3.1.2. Pengaturan dan Pengendalian perjalanan kereta api.

3.1.3. Pengoperasian persinyalan dan telekomunikasi.

3.1.4. Pengoperasian peralatan perlintasan.

3.1.5. Menerima danjatau meneruskan komunikasi/informasijwarta atau kegiatan lain yang berdampak pada pergerakan kereta.

3.1.6. Menyambung dan melepas sarana.

3.1. 7. Pemasangan dan instalasi komponen sarana.

3.1.8. Perawatan/Pemeliharaan sarana.

3.1.9. Pemeriksaan sarana.

3.1.10. Perawatan peralatan sinyal, teiekomunikasi, dan listrik.

3.1.11. Instalasi dan perawatan jalan rel dan jembatan.

3.1.12. lnspeksi prasaranajalan rel, jembatan dan infrastruktur lain.

3.1.13. Alat yang digunakan untuk instalasi dan perawatan jalan rel yang berada di atas rel.

3.1.14. Disain/Rekayasa Teknik, meliputi sarana, jalan rei, struktur, earth work, drainase, bangunan dan fasilitas, sistem persinyalan dan telekomunikasi, sistem kelistrikan dan semua peralatan yang digunakan dan dioperasikan di jalur kereta api.

3.1.15. Perencanaan perjalanan kereta api.

3.1.16. Instalasi dan perawatan gardu traksi dan jaringan katenari/third rail.

3.1.17. Pengendalian suplai listrik aliran atasjthird rail jarak jauh.

3.1.18. lnstalasi dan perawatan pintu perlintasan.

3.1.19. Pengamanan orang di jalan rei atau sekitar jalan rel.

3.1.20. Praktik training di Iapangan.

3.1.21. Penanganan barang berbahaya dan penanganan limbah.

3.1.22. Pemeriksaan kesehatan petugas awak sarana perkeretaapian sebeium dinas.

3.2. Standar, perancanaan, spesifikasi, prosedur, instruksi, panduan dan formulir harus tersedia untuk setiap SCT.

(16)

3.3. Semua petugas (pekerja maupun outsource) harus mematuhi standar, perencanaan, spesifi.kasi, prosedur, instruksi, panduan yang telah ditetapkan dan berkompeten untuk melakukan SCT.

3.4. Bekerja danjatau berada dijalan rel atau sekitar jalan rel

3.4.1. Semua petugas yang bekeija atau berada di jalan rel atau sekitar jalan rel harus mendapat akreditasi dan/ a tau pendampingan petugas dari pihak yang berwenang.

3.4.2. Akreditasi terhadap petugas yang bekeija atau berada di jalan rel atau sekitar jalan rel harus diberikan berdasarkan Standar Keselamatan di Jalan Rel.

6

(17)

BABIV

SAFETY CRITICAL PERSONNEL (SCP)

4.1. Safety Critical Personnel (SCP) adalah semua petugas yang secara langsung terlibat dalam Safety Critical Task (SCT), antara lain:

4.1.1. Awak Sarana Kereta Api: Masinis, Asisten Masinis, Kondektur, Teknisi Kereta Api.

4.1.2. PPKP (Pengendali Peijalanan Kereta Api Terpusat).

4.1.3. PPKA (Pengatur Peljalanan Kereta Api).

4.1.4. PAP (Pengawas Peron). 4.1.5. Penjaga Perlintasan.

4.1.6. Penjaga Terowongan.

4.1.7. Petugas Pemeriksa dan Perawatan Sarana.

4 .1. 8. Petugas Pemeriksa dan Perawatan Prasarana.

4 .1. 9. Petugas Langsir.

4.1.10. Petugas Rumah Sinyal.

4. 1.11. Petugas Desain/ Rekayasa Teknik.

4.1.12. Petugas Penyusun Rencana Operasi KA.

4.1.13. Petugas Pemeriksa Kesehatan Sebelum Dinasan.

4.1.14. Petugas Penanganan Barang Berbahaya dan Pengolahan Lim bah.

4.2. Semua Safety Critical Personnel (SCP) harus memenuhi kualifikasi dan kompetensi dalam melakukan Safety Critical Task (SCT).

4.3. Pimpinan Daerah harus memastikan:

4.3.1. Hanya petugas yang kompeten dan memenuhi kualifikasi dapat melakukan Safety Critical Task (SCT).

4.3.2. Pada saat bertugas semua Safety Critical Personnel (SCP) harus dalam kondisi siap bertugas.

4. 3. 3. Ketersediaan dan penggunaan alat keij a dan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai.

4.3.4. Terdapat Refresher Training tentang keselamatan dan keterampilan kerja yang spesifik.

4.4. Pejabat Kantor Pusat harus memastikan:

4.4.1. Kebutuhan petugas Safety Critical Personnel (SCP) terpenuhi.

4.4.2. Setiap posisi yang terlibat dalam Safety Critical Task (SCT) dievaluasi/ dinilai dan dipastikan terdapat persyaratan kualifikasi dan kompetensi yang memadai untuk posisi terse but.

(18)

4.4.3. Persyaratan dan kebutuhan training untuk semua peke:rjaan Safety Critical Task (SCT ) dievaluasi/ dinilai dan dipastikan terdapat program training, penilaian kompetensi dan sertifikasi.

4.4.4. Terdapat fasilitas dan alat pendukung training yang sesuai dengan kebutuhan setiap Daerah.

4.4.5. Semua training harus sesuai dengan standar kualitas training yang diakui.

8

(19)

BABV

SAFETY CRITICAL TECHNICAL SYSTEM AND OBJECT (SCTSO) 5.1. Safety Critical Technical System And Object (SCTSO) adalah semua

sistem, sumber produksi, alat keija dan material yang berdampak pada keselamatan peijalanan kereta api, keselamatan kesehatan keija dan lingkungan.

5.2. Semua Safety Critical Technical System And Object (SCTSO) harus memenuhi standar dan spesiflkasi yang ditetapkan oleh Perusahaan.

5.3. Setiap Corporate Deputy Director/Executive Vice President/Vice President/ General Manager harus mengidentiflkasi kebutuhan pengadaan Safety Critical Technical System And Object (SCTSO) di setiap Anggaran Tahunan (RKA) berdasarkan prom resiko yang telah dibuat daerah masing-masing. Kebutuhan tersebut harus dibuat di dalam jadwal sebagai bagian dari Rencana Anggaran dan ditandai sebagai kebutuhan prioritas untuk mendukung keselamatan.

5.4. Direksi harus memastikan terdapat anggaran yang memadai untuk pengadaan Safety Critical Technical System And Object (SCTSO) di dalam setiap Anggaran Tahunan (RKA).

5.5. Jika anggaran untuk Safety Critical Technical System And Object (SCTSO) tidak memadai untuk menjamin keselamatan, penilaian risiko keselamatan harus dilakukan oleh Direksi dan menetapkan kontrol keselamatan yang memadai.

5.6. Semua Safety Critical Technical System And Object (SCTSO) yang telah ditetapkan dalam anggaran harus menjadi prioritas dalam realisasi anggaran dan proses pengadaan.

(20)

BABVI

PENERAPAN TEKNOLOGI BARU

6.1. Penerapan teknologi baru yang belum pemah ada di Perusahaan harus mengikuti persyaratan standar proses atau metodologi untuk membantu mencegah te:rjadinya kesalahan dalam perencanaan pengembangan dan pemakaian produk baru berdasarkan kehandalan, ketersediaan, perawatan dan keselamatan dalam perkeretaapian (CENELEC 50126).

10

(21)

BAB VII

KOMPATIBILITAS SISTEM

7 .1. Standar, Perencanaan, Spesiflkasi, Prosedur, Instruksi, Panduan, dan Formulir harus diveriflkasi untuk memastikan kompatibilitas dari hubungan antara Sarana, Prasarana, Persinyalan dan Sistem Operasi serta Lingkungan untuk memastikan keselamatan peijalanan kereta api, keselamatan kesehatan keija dan lingkungan.

7.2. Setiap penerapan teknologi baru harus dipastikan kompatibel dengan teknologi yang sudah digunakan.

(22)

BAB VIII

PERENCANAANPERAWATAN

8.1. Rencana dan jadwal perawatan harus disusun untuk seluruh Safety Critical Technical System And Object (SCTSO) sesuai tingkat prioritas profll resiko yang ada.

8.2. Rencana perawatan harus disusun untuk periode tertentu dan dilakukan secara bergulir.

8.3. Rencana perawatan bergulir harus digunakan sebagai dasar perencanaan kegiatan dan anggaran.

8.4. Setiap usulan perubahan pada operasi atau perubahan kondisi Safety Critical Technical System And Object (SCTSO) yang diidentiflkasi selama inspeksi atau audit yang mempengaruhi kebutuhan perawatan harus dikaji kembali untuk melihat pengaruhnya terhadap profll risiko.

8.5. Saat perubahan pada profll risiko mengindikasikan kebutuhan akan perawatan tambahan, rencana perawatan dan kegiatan harus disesuaikan dan disetujui untuk memastikan ketersediaan sumber day a.

12

(23)

BABIX

KESELAMATAN PRASARANA

9.1. Seluruh prasarana harus dirancang, dibangun, dioperasikan, dan dirawat untuk memastikan keselamatan.

9.2. Standar, Perencanaan, Spesifikasi, Prosedur, Instruksi, Panduan, dan Formulir yang harus digunakan dalam perancangan, konstruksi dan perawatan prasarana dimuat dalam Peraturan Perusahaan terkait Prasarana.

9.3. Direktur Pengelolaan Prasarana memastikan bahwa Peraturan Perusahaan terkait Prasarana berisi seluruh persyaratan untuk memastikan keselamatan operasi kereta api dan meninjau Peraturan Perusahaan secara tahunan untuk memastikan bahwa Standar, Perencanaan, Spesifikasi, Prosedur, Instruksi, Panduan, dan Formulir memenuhi persyaratan pengelolaan risiko keselamatan.

13

(24)

BABX

KESELAMATAN SARANA

lO.l.Seluruh sarana harus dirancang, dibangun, dioperasikan, diperiksa, dan dilakukan perawatan untuk memastikan keselamatan.

10.2.Standar, Perencanaan, Spesifikasi, Prosedur, Instruksi, Panduan, dan Formulir yang harus digunakan dalam perancangan dan perawatan sarana dimuat dalam Peraturan Perusahaan terkait Sarana.

10.3.Direktur Pengelolaan Sarana memastikan bahwa Peraturan Perusahaan terkait Sarana berisi seluruh persyaratan yang memastikan keselamatan dan meninjau Peraturan Perusahaan secara tahunan untuk memastikan Standar, Perencanaan, Spesifikasi, Prosedur, Instruksi, Panduan, dan Formulir memenuhi persyaratan pengelolaan risiko keselamatan.

14

(25)

BABXI

KESELAMATAN OPERAS!

11.1. Seluruh perjalanan kereta a pi harus diotorisasi untuk memastikan keselamatan.

11.2. Otorisasi perjalanan kereta a pi harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan dan aturan pada Peraturan Perusahaan terkait Operasi Kereta Api.

11. 3. Direktur Operasi memastikan bahwa Peraturan Perusahaan terkait Operasi Kereta Api memuat seluruh persyaratan keselamatan perjalanan kereta api dan langsiran serta meninjau pedoman secara tahunan untuk memastikan Standar, Perencanaan, Spesifikasi, Prosedur, Instruksi, Panduan, dan Formulir memenuhi persyaratan pengelolaan risiko keselamatan.

15

(26)

BAB XII

KETENTUAN PENUTUP

12.1. Peraturan Dinas 26 mengenai Keselamatan mengatur prinsip dan aturan umum keselamatan sebagai induk peraturan dinas lain yang terkait dengan keselamatan.

12.2.Peraturan-peraturan lainnya yang belum termasuk dan tidak bertentangan dengan surat keputusan ini masih tetap berlaku{

DITETAPKAN DI : BANDUNG PADA TANGGAL : 17 April 2017

a.n DIREKSI PT KERETA API INDONESIA (PERSERO)

DIREKTUR UT AMA,

EDI SUKMORO NIPP. 65359

16

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu, terdapat variabel delay ( ) yang merupakan lama waktu penundaan dari suatu perjalanan kereta api i di stasiun s untuk menghindari konflik. Waktu tiba kereta

Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang, dan untuk mengetahui pengaruh antara kesehatan dan keselamatan kerja terhadap kinerja karyawan di bagian UPT

Kereta Api Indonesia (Persero) DAOP 5 Purwokerto mengoperasikan Kereta Api Kamandaka dengan rute perjalanan Purwokerto – Semarang sejak bulan Februari 2015. Penambahan

Rencana pemerintah dalam meningkatkan pelayanan keselamatan transportasi kereta api berujung pada penutupan secara permanen perlintasan kereta api termasuk

mendukung kelancaran perjalanan kereta api dibutuhkan sistem telekomunikasi yang andal antara Pusat Kendali (PK) perkeretaapian dan stasiun kereta maupun

Mengetahui perjalanan kereta api rute Tanjung Karang – Kertapati Palembang dari satu tempat pemberhentian terhadap tempat pemberhentian yang lain?. Mengetahui waktu berhenti perjalanan

Dokumen ini mengandungi peraturan-peraturan berkaitan dengan lalu lintas kereta api dan perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan

Pertumbuhan penduduk di Kota Surabaya yang pesat menyebabkan masyarakat membangun rumah di pinggiran jalur rel kereta api yang berdampak pada kebisingan suara kereta