• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia juga berada di garis khatulistiwa yang posisinya berada di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia juga berada di garis khatulistiwa yang posisinya berada di"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI merupakan negara yang berbentuk kepulauan, serta memiliki luas wilayah yang besar. Negara Kesatuan Republik Indonesia juga berada di garis khatulistiwa yang posisinya berada di antara dua benua yakni Benua Asia dan Benua Australia serta dua samudera yakni Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dengan kondisi geografis tersebut Indonesia memiliki iklim tropis dan kekayaan alam yang beraneka ragam. Akan tetapi, dengan kondisi alam tersebut membuat posisi Indonesia berada dalam region yang memiliki tingkat kerentanan terhadap bencana alam dengan intensitas yang cukup tinggi, sehingga dalam penanganannya memerlukan Langkah atau cara yang terstruktur, sistematis, dan inovatif.

Bencana alam tanah longsor memiliki intensitas yang cukup sering terjadi apalagi Ketika La Nina atau musim penghujan tiba di wilayah Indonesia, hal ini terjadi karena adanya kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia. Tidak hanya karena aktivitas manusia saja bencana tanah longsor juga dapat disebabkan oleh faktor alam berupa curah hujan yang sangat tinggi, serta tanah dengan kondisi labil dan berada di wilayah perbukitan.

Berdasarkan Undang-undang No 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana terdapat 3(tiga) jenis bencana yang diklasifikasikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, yaitu bencana alam atau natural disasters, bencana

(2)

2 non alam atau non-natural disasters, serta bencana sosial atau social disasters.

Bencana alam dapat berupa tanah longsor, kebakaran hutan, tsunami, gempa bumi, kekeringan, gunung meletus, angin puting beliung , banjir bandang, badai tropis, hama pertanian, pandemi, kejadian luar biasa dan kejadian alam yang terjadi di luar angkasa. Sementara bencana non alam antara lain seperti kebakaran hutan/lahan yang disebabkan oleh ulah manusia, bencana nuklir, kecelakaan transportasi, kegagalan teknologi, dampak dari industry, serta pencemaran lingkungan. Terakhir bencana sosial antara berupa kerusakan dalam konflik sosial.

Hal ini memperlihatkan bahwa Sebagian besar masyarakat di Indonesia masih berpegang pada paradigma konvensional. Masyarakat masih meyakini bahwa bencana itu terjadi karena karma dari perbuatan dan dosa yang telah mereka lakukan, sehingga Langkah-langkah pencegahan atau penanganannya tidak perlu lagi untuk dilakukan.selain itu terdapat anggapan bahwa bencana adalah sebuah peristiwa yang tak dapat di elakkan dan pertolongan harus sesegera mungkin diberikan pada korban yang terdampak bencana, hal ini membuat fokus penanganan bencana lebih bersifat pada bantuan dan kedaruratan.

Menurut kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, bencana alam memiliki dampak terhadap bidang ekonomi, sosial dan lingkungan dalam bidang ekonomi seperti rusaknya infrastruktur untuk aktivitas ekonomi, kemudian hilangnya mata pencaharian warga masyarakat terdampak bencana dan lain sebagainya. Dampak bencana alam dalam bidang sosial seperti hilangnya harta benda dan tempat tinggal, angka kematian yang tinggi, munculnya kesenjangan sosial yang bisa berujung pada kriminalitas, terisolasinya warga terdampak bencana karena akses penghubung lokasi bencana yang terputus serta jauh, menurunnya

(3)

3 kualitas Kesehatan akibat munculnya berbagai macam jenis penyakit dari bencana alam, ketertinggalan dalam bidang pendidikan dan teknologi, kondisi psikologi yang trauma akibat bencana dan lain sebagainya. Dampak bencana dibidang lingkungan adalah rusaknya ekosistem.

Pemerintah Indonesia tentu sangat peduli terhadap upaya penanganan bencana dimana Pemerintah Indonesia menerbitkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana dan ditetapkan pada tanggal 26 April 2007. Isi dari Undang-undang tersebut membahas tentang kesiapsiagaan yang dilakukan oleh Badan/Satuan/Unit penanggulangan bencana yang ada di seluruh wilayah Indonesia, yaitu pada pasal 45 yang disebutkan bahwa kesiapsiagaan dilaksanakan melalui kegiatan penyusunan dan ujicoba rencana penanggulangan kedaruratan bencana, pengorganisasian pemasangan dan pengujian sistem peringatan dini.

Suplai dan penyiapan barang kebutuhan pokok dan pemenuhan dasar, manajemen organisasi, sosialisasi dan gladi tentang mekanisme tanggap darurat, penyediaan lokasi dan jalur evakuasi, penyusunan informasi dan data yang akurat serta melakukan pemutakhiran atau update prosedur tetap tanggap darurat bencana, penyediaan dan penyiapan bahan, barang serta peralatan untuk pemenuhan pemulihan infrastruktur.

Poin-poin tersebut di atas perlu dicermati, terutama poin penting yang terdapat di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dalam Alinea ke IV yang mengamanatkan bahwa Pemerintah Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

(4)

4 Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Kota Batu merupakan salah satu daerah yang terletak didataran tinggi dan memiliki karakteristik udara sejuk, dikelilingi oleh lereng arjuno-welirang di sisi bagian utara dan lereng panderman disisi selatan serta lereng-lereng perbukitan kecil disisi barat. Karakteristik dari Kota Batu yang sebagian besar berupa perbukitan dan dataran tinggi inilah yang membuat potensi bencana alam berupa tanah longsor cukup mengkhawatirkan ketika musim penghujan datang. Salah satu titik yang rawan terjadi longsor berada di Dusun Brau Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji, Dusun Brau secara geografis merupakan wilayah perbukitan dan rawan terjadi longsor Ketika musim penghujan.

Berdasarkan pada keterangan resmi dari Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Komunikasi dan informatika dan BPBD Kota Batu (2/2/2021) bahwa bencana tanah longsor di Dusun Brau terjadi sejak selasa tanggal 2 februari 2021, dimana longsoran pertama terjadi pukul 19.10 WIB dengan dimensi Panjang 6 meter dan tinggi 3 meter. Material longsor menutup jalan Brau bawah yang menghubungkan ke Dusun Jantur, selanjutnya terjadi longsoran susulan pada pukul 19.15 WIB dengan dimensi 5 meter dan tinggi 12 meter dan lebar 4 meter.

Selanjutnya terjadi lagi longsoran susulan pada pukul 21.15 WIB dengan dimesi Panjang 10 meter tinggi 12 meter dan lebar 3 meter dimana pada longsoran kali ini menimpa rumah warga yakni bapak rohman. Material Longsor menimpa kamar tidur dan menyebabkan dinding jebol dan merusak perabot rumah tangga. Bencana Tanah longsor dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti kondisi tanah yang tidak

(5)

5 stabil serta lahan resapan air yang kemungkinan besar kurang. Bencana longsor tersebut tentu sangat merugikan baik secara materi maupun non materi seperti rusaknya beberapa rumah dan beberapa kendang ternak milik masyarakat, terhambatnya akases logistic dan jalur perekonomian masyarakat karena lokasi Dusun sendiri cukup jauh dari wilayah perkotaan.

Berdasarkan amanat Undang-undang Republik Indonesia Tahun 2007 implementasi dari amanat tersebut diwujudkan dengan pembangunan nasional yang memiliki tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang adil, Makmur, dan sejahtera yang selalu memperhatikan ha katas penghidupan dan perlindungan bagi setiap warga negaranya dalam wujud Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Potensi dan bahaya bencana tanah longsor yang ada Di Dusun Brau Desa Gunungsari sendiri terjadi saat musim penghujan tiba yakni berada pada bulan oktober sampai bulan februari, karena pada bulan-bulan tersebut intensitas curah hujan mengalami peningkatan. Di musim panas atau kemarau penguapan air sendiri cukup besar karena kebanyakan lahan-lahan digunakan untuk menanam rumput sebagai pakan ternak. Ketika bencana alam tanah longsor terjadi dampaknya tentu sangat besar bagi warga Brau karena dampak bencana tanah longsor tersebut sampai mengenai beberapa rumah warga, tidak hanya rumah warga saja yang terkena dampak tanah longsor beberapa kandang ternak warga juga tidak luput dari runtuhan tanah longsor selain itu tanah longsor juga mengancam akses jalan warga karena Sebagian jalan penghubung telah mengalami longsoran di beberapa titik.

Penanggulanagan bencana berbasis komunitas dan masyarakat merupakan upaya reorganize dimana kegiatan penanggulangan bencana yang dilakukan oleh

(6)

6 massyarakat di awali dari sebelum bencana terjadi, pada saat/Ketika bencana terjadi, dan sesudah/pasca bencana terjadi dengan cara melakukan pemanfaatan sumber lokal baik bentuk sumberdaya manusia yang terlatih, kondisi alam dan sarana prasarana yang ada pada masyarakat tersebut dengan harapan meminimalisir risiko/dampak yang dapat ditimbulkan karena bencana.

Bencana tanah logsor yang terjadi di Dusun Brau pada tanggal 2 februari 2021 telah memberikan pemahaman pada masyarakat terhadap ancaman terjadinya bencana tanah longsor, dimana saat bencana terjadi para warga telah melakukan evakuasi ketempat yang lebih aman, selain itu para personel BPBD Kota Batu sudah melakukan kaji cepat penangan darurat dengan kerja bakti pembersihan material tanah longsor dan melakukan koordinasi dengan pihak terkait serta memasang terpal pada tebing bekas longsor. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam penanggulangan bencana adalah BPBD Kota Batu, TAGANA, Dinas PUPR, Personel TNI, Personel Polri, Pemerintah Daerah, para relawan dan warga setempat. Adapun Langkah evakuasi yang memungkinkan untuk segera dilaksanakan adalah membangun plengsengan di tebing bekas longsor, kemudian melakukan evakuasi dan relokasi warga terdampak longsor ketempat yang lebih aman serta memberikan bantuan logistic kepada para warga terdampak longsor.Dengan adanya bencana longsor yang terjadi Di Dusun Brau tentu membuat pemerintah daerah dan warga masyarakat selalu waspada dan selalu siap melakukan penanggulangan bencana, serta peran dan kesadaran warga masyarakat juga sangat penting dalam upaya mencegah serta menanggulangi.

Berdasarkan dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk meneliti dan mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana Tindakan penanggulangan bencana

(7)

7 tanah longsor di Dusun Brau Desa Gunungsari. Dengan judul penelitian “Tindakan Penanggulangan Bencana Pada Korban Tanah Longsor Di Dusun Brau Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji Kota Batu”.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah bagaimana Tindakan Penanggulangan Bencana Pada Korban Tanah Longsor di Dusun Brau Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji Kota Batu ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian berdasarkan uraian dan latar belakang permasalahan di atas, maka terdapat tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui Tindakan Penanggulangan Bencana Pada Korban Tanah Longsor di Dusun Brau Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan selain menambah wawasan serta pengalaman peneliti di lapangan, peneitian ini juga dapat memberikan manfaat bagi pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan khususnya Sosiologi yang berkonsentrasi pada bidang kebencanaan di masa depan.

(8)

8 1.4.2 Manfaat Praktis

a. Bagi Pemerintah

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan kepada Pemerintah Daerah khususnya Pemerintah Desa terkait Tindakan Penanggulangan Bencana khususnya bencana tanah longsor.

b. Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bahan bacaan dan mampu menambah wawasan keilmuan terkait sosiologi kebencanaan bagi pembaca dan peneliti lain mengenai Tindakan Penanggulangan Bencana khususnya bencana tanah longsor.

1.5. Definisi Konsep

1.5.1 Tindakan Sosial

Tindakan Sosial menurut Max Weber adalah suatu Tindakan individu

sepanjang Tindakan itu mempunyai makna atau arti subjektif bagi dirinya dan diarahkan kepada Tindakan orang lain. Suatu Tindakan individu yang diarahkan kepada benda mati tidak termasuk dalam kategori Tindakan sosial, suatu Tindakan akan dikatakan sebagai Tindakan sosial ketika tindakan tersebut benar-benar diarahkan kepada orang lain. Meski tidak jarang Tindakan sosial dapat berupa tindakan yang bersifat membatin atau bersifat subjektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Bahkan dalam konsep tindakan dapat berulang kembali dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa atau berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu (I.B Wirawan, 2012).

(9)

9 Tindakan sosial dapat dibedakan dari sudut waktu sehingga ada Tindakan yang diarahkan pada waktu sekarang, waktu lalu, atau waktu yang akan datang. Di lihat dari segi sasaranya, maka pihak yang menjadi sasaran Tindakan sosial si pelaku dapat berupa seorang individu atau sekelompok orang. Dengan membatasi suatu perbuatan sebagai suatu Tindakan sosial, maka perbuatan-perbuatan lainnya tidak termasuk kedalam objek penyelidikan sosiologi. Tindakan nyata tidak termasuk dalam Tindakan sosial jika di arahkan kepada objek mati. Maka dari itu Max Weber mengemukakan beberapa tipe interaksi sosial dari teori aksinya.

Berikut beberapa pendapat fundamental teori aksi (I.B Wirawan, 2012):

1. Tindakan manusia muncul dari kesadaran sendiri sebagai subjek dan dari situasi eksternal dalam posisinya sebagai objek.

2. Sebagai subjek manusia bertindak atau berperilaku unuk mencapai tujuan- tujuan tertentu.

3. Dalam bertindak manusia menggunakan cara Teknik prosedur, metode serta perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut.

4. Kelangsungan Tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi yang tak dapat diubah dengan sendirinya.

5. Manusia memilih, menilai, dan mengevaluasi terhadap Tindakan yang sedang terjadi dan yang akan dilakukan.

6. Ukuran-ukuran, aturan-aturan atau prinsip-prinsip moral diharapkan timbul pada saat pengambilan keputusan.

7. Studi mengenai latar hubungan sosial memerlukan pemakaian Teknik penemuan yang bersifat subjektif.

(10)

10 Tindakan Sosial oleh Max Weber diklasifikasikan menjadi 4 (empat) tipe atau jenis yakni, Tindakan Rational Instrumental (zwerk rational), selanjutnya Tindakan Rasional Nilai (werkrational action), kemudian Tindakan Afektif (affectual action), dan yang terakhir adalah Tindakan Tradisional (traditional action) (Ritzer, 2001).

Berdasarkan pada deskripsi tentang tindakan sosial yang dikemukakan oleh Max Weber, tindakan penanggulangan bencana dapat dikatakan termasuk dalam Tindakan sosial karena tindakan penanggulanagan bencana memiliki ciri-ciri dari Tindakan sosial sebagaimana yang dijelaskan oleh Max Weber.

1.5.2 Penanggulangan Bencana

Pengertian penanggulangan bencana menurut Kementerian Pekerjaan

Umum dan Perumahan Rakyat dalam Modul 3 tentang Konsep dan Karakteristik Bencana tahun 2017 yakni Penanggulangan bencana merupakan segala upaya atau kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat dan pemulihan berkaitan dengan bencana yang dilakukan pada tahapan sebelum, saat dan setelah bencana. Manajemen penanggulangan bencana merupakan suatu proses yang dinamis, yang dikembangkan dari fungsi manajemen klasik yang meliputi perencaaan, pengorganisasian, pembagian tugas, pengendalian dan pengawasan dalam penanggulangan bencana.

1.5.3 Masyarakat

Masyarakat berasal dari istilah bahasa arab, yakni berakar pada kata

“syaraka” yang bermakna “ikut serta, berpartisipasi”. Sedangkan istilah masyarakat

(11)

11 menurut bahasa inggris adalah “society” yang berasal dari bahasa latin “socius”

yang berarti “kawan”. Menurut Paul B. Horton dan Chester L.Hunt masyarakat adalah kumpulan manusia yang relative mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan Sebagian besar kegiatan di dalam kelompok tersebut (Gunsu Nurmansyah dkk, 2019: 45-46).

1.5.4 Bencana

Pengertian bencana Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dalam pasal 1 yaitu Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian dari peristiwa yang mengancam dan menggagu kehidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh alam, non-alam maupun manusia yang dapat mengakibatkan munculnya korban jiwa , lingkungan hilangnya harta benda dan trauma psikologis. Pada umumnya, bencana merefleksikan karakteristik tentang gangguan pada pola hidup manusia, dampak bencana pada manusia, dampak terhadap struktur sosial, kerusakan pada aspek sistem pemerintahan, bangunan dan lain-lain serta masyarakat yang disebabkaoleh bencana.beberapa konsep masyarakat.

1.5.5 Tanah Longsor

Tanah Longsor merupakan sebuah peristiwa geologi yang disebabkan oleh perpindahan material pembentukan lereng seperti batuan, bahan rombakan, tanah, atau dapat juga berupa material campuran tersebut, gerakanya ke bawah dan keluar lereng serta dapat mnyebabkan jatuhnya korban jiwa manusia, kerusakan pada

(12)

12 lingkungan, kerugian harta benda serta trauma psikologis. (Agus Muntohar, 2012:11 ).

1.6 Metode Penelitian

1.6.1 Pendekatan Penelitian

Dalam melaksanakan penelitian ini peneliti menggunakan sebuah pendekatan yang dikenal dengan pendekatan kualitatif. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode peneltian naturalistic karena penelitiannya dilakukan dalam kondisi yang alamiah (Sugiono 2014:8). Menurut Linconh dan Guba menjelaskan bahwa pendekatan kualitatif disebut juga case study atau bisa juga disebut dengan qualitative, yaitu merupakan penelitian yang mendalam dan sangat tentang segala

sesuatu yang berhubungan dengan subyek-subyek penelitian tersebut (Pujosuwarno, 1992:34). Bogdan dan Taylor mengatakan “metode kualitatif”

sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptifberupa kata yang tertulis dari orang dan perilaku yang diamati (Moleong, 200:3). Pendekatan ini diarahkan pada latar individu (peneliti) dengan latar (fokus penelitiannya) tidak diisolasi kedalam bentuk variable atau hipotesis, karena antara peneliti dengan tempat penelitiannya merupakan satu kesatuan yang utuh.

Pendekatan kualitatif ini sesuai untuk menggambarkan serta mendeskripsikan secara utuh penelitian yang mengangkat permasalahan mengenai Tindakan Penanggulangan Bencana Terhadap Korban Tanah Longsor di Dusun Brau Desa Gunungsari Kecamatan Bumiaji Kota Batu.

(13)

13 1.6.2 Jenis Peneltian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang mengarah pada jenis penelitian deskriptif, karena penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan fenomena sosial tertentu secara terperinci. Tujuan penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi yang secara sistematis, faktual atau akurat, dan juga mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diselidiki (Nazir, 2015:63). Penelitian deskriptif adalah suatu model penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada dan juga yang berlangsung pada saat ini atau pada saat lampau (Fuchan, 2004:54).

1.6.3 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana peneliti melaksanakan penelitiannya dan mencari data yang sebenarnya dari subyek yang akan diteliti.

Penelitian tentang Tindakan Penanggulangan Bencana Terhadap Korban Tanah Longsor di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Terdapat dua faktor yang menjadi pertimbangan peneliti memilih lokasi ini, yakni:

1). Desa Gunungsari merupakan kampung halaman dari peneliti dan hal tersebut tentu akan memudahkan peneliti mencari data dilapangan, 2). Desa Gunungsari merupakan salah satu wilayah di Kota Batu yang memiliki potensi bencana tanah longsor yang cukup mengkhawatirkan dan ketika memasuki musim penghujan ancaman longsor semakin besar.

1.6.4 Teknik Penentuan Subjek Penelitian

Dalam menentukan subjek penelitian, Peneliti menggunakan Teknik purposive sampling karena penentuan subjek penelitian menjadi salah satu hal yang

(14)

14 penting, selain itu penentuan subjek penelitian yang tepat memungkinkan didapatkannya data serta informasi yang valid dan akurat dikarenakan subjek penelitian merupakan salah satu sumber data dalam penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono purposive merupakan Teknik untuk menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang diperoleh nantinya dapat lebih representative. Pertimbangan tertentu ini misal seperti narasumber tersebut dianggap mampu memberikan informasi yang jelas, akurat dan terlibat langsung dalam fokus masalah yang diambil (Sugiyono, 2010:122).

Teknik penentuan subyek penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah teknik purposive dikarenakan peneliti memiliki pertimbangan tertentu dalam memilih sumber-sumber data yang sesuai dengan tujuan dari peneliti, dalam penelitian ini peneliti melakukan pemilihan narasumber yang dianggap mengetahui informasi dari permasalahan yang akan diteliti secara mendalam serta dijadikan sebagai sumber data yang tepat.

Berdasarkan Teknik tersebut, peneliti telah menentukan subyek penelitiannya antara lain :

1. Warga RT 02 RW 10 yang terdampak bencana tanah longsor 2. Tokoh masyarakat Dusun Brau

3. BPBD Kota Batu

4. Pemerintah Desa Gunungsari 1.6.5 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi dua yakni :

(15)

15 a. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh peneliti secara langsung dari lapangan. Dta primer diperoleh dengan menggunakan Teknik pengumpulan data yang sebelumnya telah ditentukan oleh peneliti. Data primer yang diperoleh peneliti dalam penelitian ini didapatkan melalui observasi atau pengamatan langsung serta wawancara terhadap masyarakat Di Dusun Brau, Desa Gunungsari.

b. Data Sekunder

data sekunder merupakan sumber data yang didapatkan untuk melengkapi data primer. Data sekunder sendiri dapat diperoleh dari penelitian terdahulu, media, dokumen-dokumen resmi dari pemerintahan ataupun pribadi yang sesuai dan relevan dengan judul dari penelitian ini.

1.6.6 Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi

observasi merupakan pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala-gejala yang tampak dalam obyek penelitian. Observasi menjadi salah satu teknis pengumpulan data apabila sesuai dengan tujuan penelitian, direncanakan dan dicatat secara sistematis. Observasi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (Nurul Zuriah, 2009:173).

Observasi merupakan pengamatan yang dilaksanakan peneliti dimana peneliti langsung terjun ke lapangan untuk melihat dan menulis semua situasi yang terjadi Di Dusun Brau Desa Gunungsari. Selain itu, peneliti juga mengamati

(16)

16 berbagai infrastruktur serta lokasi yang terdampak bencana tanah longsor yang ada Di Dusun ini.

b. Wawancara

Wawancara adalah metode pengumpulan data dan informasi yang didapatkan langsung dari narasumber, wawancara memiliki tujuan untuk menggali sebanyak mungkin informasi secara lengkap dan mendalam tentang apa yang sedang diteliti. Secara garis besar wawancara terbagi menjadi dua yakni wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur. Pada tahap ini dilakukan wawancara terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian ini seperti Pemerintah Desa selaku otoritas yang berwenang, BPBD selaku badan yang bertugas dalam penanggulangan bencana, tokoh masyarakat Dusun Brau dan masyarakat RT 02 RW 10 yang terdampak bencana tanah longsor.

c. Dokumentasi

Dokumentasi meupakan metode pendukung dalam proses pengumpulan data yaitu dengan mengambil dokumen-dokumen atau arsip seperti foto atau berkas penelitian lain yang mendukung penelitian ini.Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data langsung dilokasi penelitian. Dokumen-dokumen ini dapat mengungkapkan bagaimana subyek mendefinisikan dirinya sendiri, lingkungan, dan situasi, yang dihadapinya suatu saat, bagaimana kaitan antara definisi diri tersebut dalam hubungan dengan orang-orang disekelilingnya dengan Tindakan- tindakannya (Mulyana.2010:195).

(17)

17 1.6.7 Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses pengorganisasian dan pengurutan data kedalam pola, kategori dan satuan uraian data. Penelitian ini menggunakan Teknik Analisa data dengan model interaktif. Model interaktif terdiri dari tiga hal utama yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Ketiga hal tersebut merupakan kegiatan yang saling jalin-menjalin pada saat sebelum, selama dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk yang sejajar untuk membangun wawasan umum yag disebut analisis (Miles & Huberman, 2019).

a. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabsahan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan yang ada di lapangan. Reduksi data juga merupakan suatu bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasi data dengan cara sedemikian rupa hingga kesimpulan finalnya dapat ditarik dan diverivikasi.

Bagi peneliti kualitatif, kegiatan reduksi data menjadi sangat penting karena yang bersangkutan dapat memulai memilah dan memilih data mana dan data dari siapa saja yang perlu lebih dipertajam. Selanjutnya data tersebut data tersebut dapat dimasukkan dalam kelompok tertentu sehingga menjadi jembatan bagi dirinya untuk membuat tema-tema dalam laporan penelitiannya (Idrus,2009:150-151).

b. Penyajian Data

Penyajian data merupakan tahapan selanjutnya dalam analisis data.

Penyajian data merupakan sekumpulan informasi tersusun yang memberi

(18)

18 kemungkinan adanya penarikan kesimpulan. Penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Tujuan dari penyajian data agar peneliti dapat memahami apa yang terjadi dan merencanakan tindakkan selanjutnya yang akan dilakukan.

c. Verifikasi

Tahapan selanjutnya adalah verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat guna mendukung pada tahap pengumpulan berikutnya. Kesimpulan pada penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan(Sugiyono,2015:252).

d. Keabsahan Data

keabsahan data dilakukan untuk membuktikan apakah penelitian yang dilakukan benar-benar merupakan penelitian ilmiah sekaligus untuk menguji data yang telah diperoleh. Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji, credibility, transferability, dependability, confirmability (Sugiyono,2007:270).

1.6.8 Teknik Validitas Data

Teknik validitas data yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah menggunakan Teknik/metode triangulasi sumberdata dimana peneliti menggunakan Teknik pemeriksaan keabsahan data yang menggunakan data lain sebagai perbandingan terhadap data yang telah diperoleh oleh peneliti. Triangulasi

(19)

19 sumber data merupakan Teknik pemeriksaan sumber data yang memanfaatkan sesuatu selain keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data itu Triangulasi sumberdata digunakan dalam metode keabsahan data karena untuk memastikan bahwa data yang didapatkan atau dikumpulkan telah memenuhi berbagai syarat dari fokus penelitian. Adapun cara untuk melakukan triangulasi data antara lain : 1). Membandingkan hasil pengamatan dengan hasil dari wawancara, 2).Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan dengan secara pribadi, 3). Membandingkan apa yang dikatakan oleh orang orang tentang situasi penelitian denga napa yang dikatakannya sepanjang waktu, 4). Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat, 5). Membandingkan hasil wawancara dengan dokumen yang berkaitan (Moleong, 2010:330-331).

Referensi

Dokumen terkait

DML merupakan bagian dari SQL yang memungkinkan pengguna untuk melakukan suatu proses atau manipulasi suatu basis data seperti melakukan query. INSERT, UPDATE

Upacara pelet kandhungan ini biasanya dilakukan dari pihak keluarga perempuan atau wanita yang sedang hamil, akan tetapi ada pula yang dilaksanakan oleh pihak mertua, orang

Hal tersebut didukung oleh hasil uji beda statistik yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan secara nyata antara petani yang menggunakan benih sertifikat dengan

37 Tingginya persentase serangan di dataran rendah maupun tinggi diduga karena letak galur G4 di dataran rendah dan G7 di dataran tinggi berada di bagian tepi pada

Tumbuhan asing yang ditemukan di kawasan hutan TNGGP juga berasal dari kawasan yang berbatasan atau berdekatan dengan kawasan ini, namun diduga ada beberapa spesies yang berasal

Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan representasi teks dalam wacana tajuk rencana pada surat kabar Kompas dan Suara Merdeka terkait rencana revisi UU KPK dan

turun dari jumlah penjualan tertentu dimana CV. Randu Sari Satu belum mengalami rugi atau dalam keadaan break even. Dapat dikatakan, angka margin of safety memberikan

Pada Gambar 2.18(b) merupakan penggambaran gelombang getaran dari pergerakan bandul, seperti halnya pada Gambar 2.18 (a) gerak masa dari posisi netralnya disebabkan oleh