1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Disleksia mengacu pada orang yang mendapatkan kesulitan mengenali huruf dan kata yang kemudian mempengaruhi kemampuan membaca dan mengeja, serta secara tidak langsung mempengaruhi kemampuan mereka dalam menuliskan buah pikirannya di atas kertas. Disleksia bukan disebabkan oleh keterbelakangan intelektual, kerusakan indra, faktor emosional, atau kecemasan, juga bukan karena faktor eksternal, misalnya sakit, cara mengajar yang salah, atau pertengkaran keluarga. Secara umum, disleksia dipahami sebagai akibat neurologis di mana beberapa bagian dari otak tidak bekerja secara efisien untuk memproses bahasa yang tertulis (Petersen 83). Mereka tetap dapat belajar, tetapi membutuhkan metode dan waktu yang lebih ekstra, serta intensif. Mereka juga dapat hidup normal dan bahagia, serta masa depan mereka masih cerah (Wood 18). Disleksia sebagai ketidakmampuan belajar khusus (Specific Learning Disability) ini biasanya baru terdeteksi setelah anak memasuki dunia sekolah
sehingga orang tua tergopoh-gopoh. Padahal hal ini bisa dideteksi dan diatasi semenjak usia prasekolah (“Intervensi Dini” 28).
Kondisi seperti ini sudah dikenal luas di negara-negara maju, seperti Jerman, Amerika, dan sebagainya. Menurut Haris dan Sipay, sebuah riset di Amerika menemukan 10%-15% dari anak di sebuah sekolah mengalami kesulitan membaca (dalam Royanto 20). Sedangkan, di Indonesia masih belum ada riset khusus mengenai masalah ini dan kurang populer di kalangan masyarakat. Akan tetapi, menurut Saputro (2004), perkiraan anak berkesulitan belajar mencapai 5%- 7% dari populasi anak usia sekolah dan 10%-20% dari populasi anak di sekolah dasar (dalam Salman 11). Beberapa orang terkenal yang menghadapi masalah disleksia diantaranya adalah Tom Cruise, Keanu Reeves, Whoopi Goldberg, Walt Disney, Henry Ford, Pablo Picasso, dan lain-lain (Weinstein 357).
Berdasarkan data–data di atas, diketahui bahwa disleksia dialami oleh banyak anak–anak di seluruh dunia. Akan tetapi, kurangnya pengetahuan di Indonesia menyebabkan kondisi ini tidak terdeteksi. Memang mengenali
ketidakmampuan belajar khusus ini tidak mudah. Dari luar, anak-anak kelihatan normal dan kecerdasannya pun tidak diragukan. Orang tua terkaget-kaget, saat anak mulai masuk sekolah. Anak yang begitu cerdas terseok-seok saat menghadapi aktivitas akademik, nilai kurang, atau seolah anak tidak bersungguh- sungguh untuk mencapai yang terbaik (Rachmani 58). Menurut dr. Nining Febriyana, SpKj, karena orang tua tidak tahu anaknya mengalami disleksia, mereka seringkali memarahinya. Anak dianggap malas belajar, nakal, dan sebagainya yang berdampak pada anak menjadi frustasi dan semakin enggan belajar (dalam “Bisa Belajar di Sekolah Umum”, par.2). Menurut Mercer, kesulitan ini merupakan penyebab kegagalan terbesar di sekolah karena anak dengan kesulitan membaca memiliki pandangan diri yang negatif dan akan merasa kurang kompeten. Selanjutnya, hal ini akan menyebabkan masalah kecemasan dan perilaku yang tidak jarang kemudian diikuti kurangnya motivasi (dalam Royanto 20). Padahal anak disleksia memiliki IQ rata-rata dan ada juga yang diatas rata- rata. Karena itu, hal ini penting untuk diperkenalkan kepada masyarakat, terutama para orang tua untuk mengetahui kondisi anak. Dengan begitu, anak-anak dapat segera memperoleh penanganan. Penanganan sejak dini diharapkan mampu memperbaiki kekurangan, serta masalah yang ada (“Intervensi Dini” 28).
Disleksia perlu diperkenalkan kepada masyarakat sejak dini. Salah satunya ialah melalui media iklan. Iklan Layanan Masyarakat dirasa sesuai, dan efektif untuk menyampaikan pesan ini karena Iklan Layanan Masyarakat tidak bersifat komersil, untuk kepentingan umum, dan dapat menjangkau seluruh masyarakat. Iklan Layanan Masyarakat diharapkan dapat menarik perhatian orang tua dan pihak-pihak lain yang berkaitan terhadap ketidakmampuan belajar khusus, khususnya disleksia.
1.2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana cara menyampaikan pesan yang efektif dan komunikatif untuk mengenalkan dan mengetahui disleksia yang terjadi pada anak usia 3-9 tahun kepada masyarakat melalui Iklan Layanan Masyarakat ? b. Apa saja media Iklan Layanan Masyarakat yang tepat untuk
menyampaikan pesan mengenai disleksia pada anak berusia 3-9 tahun ?
1.3. Batasan Masalah
Permasalahan akan dibatasi hanya untuk memberikan informasi secara mengenai disleksia yang dialami oleh anak–anak. Dalam memperkenalkannya, cara yang digunakan dibatasi melalui iklan layanan masyarakat dengan target market dan audience. Batasan target market yang dituju adalah sebagai berikut :
- Demografis: orang tua yang memiliki anak berusia sekitar 3-9 tahun.
Karena pada batasan usia tersebut, anak-anak mulai bisa diatasi dan dideteksi ketidakmampuan belajar khususnya, seperti disleksia. Para orang tua yang dimaksud berusia sekitar 26–45 tahun. Jenis kelamin lebih diutamakan pada kaum wanita/ibu karena lebih banyak mengurus pendidikan anak, tetapi tidak menutup kemungkinan kaum ayah untuk ikut berpartisipasi. Untuk awal, kelas sosial yang dipilih adalah menengah ke atas karena penanganan anak disleksia tidak murah, serta berpendidikan (min. SMU).
- Psikografis: hidup di kota besar yang bergerak cepat, serba baru, modern, individualisme, tekanan dan tuntutan yang cukup tinggi
- Behavioural: berpendidikan, sibuk, tertutup, cuek, kurang ada waktu dan perhatian untuk anak, sayang, peduli pendidikan dan masa depan anak, menuntut dan menginginkan yang terbaik untuk anak.
- Geografis: Indonesia (secara umum), beberapa kota besar, daerah perkotaan. Secara khusus, di kota Surabaya (karena keterbatasan waktu dan tempat penulis, wilayah Isample dibatasi di Surabaya)
Selain itu, target audience ialah masyarakat umum yang berkaitan dengan masalah ini, seperti masyarakat yang berprofesi di bidang kedokteran, pendidikan, guru, serta orang lain yang memiliki saudara, keponakan, dan sebagainya yang mengalami disleksia sehingga dapat mengetahui hal ini dan memberikan bantuan, serta penanganan yang tepat. Lokasi penelitian sample dibatasi pada wilayah Surabaya di tahun 2009 karena keterbatasan waktu dan tempat penulis.
1.4. Tujuan Perancangan
Menyampaikan pesan yang efektif dan komunikatif untuk mengenalkan dan mengetahui disleksia yang terjadi pada anak usia 3-9 tahun kepada masyarakat melalui Iklan Layanan Masyarakat. Pemilihan media Iklan Layanan Masyarakat yang tepat untuk menyampaikan pesan mengenai disleksia pada anak berusia 3-9 tahun.
1.5. Manfaat Perancangan 1.5.1.Bagi Yayasan
a. Membantu dalam menyebarluaskan dan mengkomunikasikan mengenai masalah yang diangkat kepada masyarakat.
1.5.2. Bagi Penulis dan Rekan-Rekan Seprofesi
a. Menambah wawasan penulis mengenai masalah yang diangkat, serta aplikasi untuk menyelesaikan masalah tersebut
b. Menambah wawasan penulis mengenai perancangan iklan layanan masyarakat yang efektif dan komunikatif melalui cara dan pemilihan berbagai media yang tepat
c. Sebagai referensi mahasiswa DKV dalam membuat perancangan Iklan Layanan Masyarakat lainnya
1.5.3.Bagi masyarakat
a. Mengetahui dan memahami mengenai apa yang sedang terjadi, mengenali kondisi yang diderita anak sehingga dapat diatasi dan ditangani sedini mungkin
b. Menambah wawasan mengenai suatu hal yang terjadi di lingkup masyarakat, namun sering tidak disadari karena masyarakat tidak mengenal dan mengetahuinya.
1.6. Metode Perancangan 1.6.1.Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan data yang diperoleh secara langsung dari objek penelitian, perorangan, organisasi (data primer) atau secara tidak langsung dari buku, internet, dan sebagainya (data Sekunder).
1.6.1.1. Data Primer
a. Sumber data diperoleh melalui psikolog, terapis, guru, orang tua, dan penderita yang berkaitan dengan masalah yang diangkat.
b. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara kepada sumber daya manusia (psikolog, terapis, guru, orang tua, dan penderita)
1.6.1.2. Data Sekunder
a. Data-data yang diperoleh melalui berbagai sumber media cetak, seperti buku, koran, majalah, jurnal, skripsi, dan sebagainya
b. Data-data yang diperoleh melalui berbagai sumber internet
1.6.2.Metode Analisa Data
a. Metode kualitatif merupakan metode yang bermaksud meneliti mengenai suatu masalah dengan penilaian, dan sudut pandang yang diperoleh dari segi kualitas/bernilai (misal: wawancara dengan ahli, dan lain-lain).
b. Metode kuantitatif merupakan metode yang bermaksud meneliti suatu masalah yang diperoleh berdasarkan kuantitasnya (misal kuisioner).
1.7. Konsep Perancangan
Perancangan ILM ini bertujuan untuk mengkomunikasikan, dan mengenalkan kesulitan anak disleksia kepada para orang tua. Pesan didasarkan pada data-data kualitatif dari para ahli. Kemudian, diolah menjadi strategi yang didasarkan pada data kualitatif dan kuantitatif yang diperoleh dari audience.
Harapannya pesan tersampaikan dan audience dapat menyadari keadaan anak sejak dini, serta memberikan bantuan penanganan. Dengan demikian, anak disleksia dapat diajari membaca dan menulis sebelum terlanjur dicap malas, bodoh, frustasi, kehilangan kepercayaan diri, dan semangat untuk belajar.
1.8. Skematika Perancangan
Tabel 1.1. Skematika Perancangan
Latar Belakang Masalah Batasan Masalah Rumusan Masalah Tujuan Perancangan Manfaat Perancangan
Identifikasi Data Analisis Data
Konsep Perancangan
Konsep Kreatif Konsep Media
Program Perancangan
Layout Pengembangan
Thumbnail Desain
Tightissue Desain
Final Desain