BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG KARYA
Desa Lebak Jabung merupakan desa yang memiliki kekayaan alam, salah satunya pada sungai Selomalang. Kekayaan alam tersebut mengundang berbagai perusahaan seperti CV Sumber Rejeki dan CV Rizki Abadi untuk mengeruk demi keuntungan sendiri tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi (Hasil wawancara Ahmad Yani). CV Sumber Rejeki menjadi salah satu perusahaan yang diizinkan untuk melakukan aktivitas pertambangan, tetapi CV ini justru tidak melaksaakan kegiatan sesuai perjanjian yang disepakati (menambang tidak sesuai dengan koordinat). Kekayaan alam di desa Lebak Jabung dimanfaatkan dengan menggali hulu sungai yang menjadi sumber mata air Kota dan Kabupaten Mojokerto. CV sumber Rejeki melakukan pertambangan di Daerah Aliran Sungai (DAS) dan mengancam ekologis hutan lindung. Kawasan desa Lebak Jabung menjadi sangat penting bagi ekosistem di brantas. Keberadaan tambang ilegal di Lebak Jabung sangat berpengaruh terhadap keutuhan ekosistem di brantas karena ketika musim penghujan tiba, maka desa Lebak Jabung menanggung dampaknya seperti banjir bandang (Hasil wawancara Prigi Arsandi pendiri ECOTON).
Jenis hasil galian memiliki 3 jenis golongan klasifikasi, klasifikasi tersebut diantaranya golongan A, B dan C (mengacu pada UU no. 11 Tahun 1967). CV Sumber Rejeki termasuk kedalam klasifikasi golongan C yaitu tambang tanah, pasir, kerikil, marmer, kaolin, dan granit. Aktivitas dari pertambangan CV Sumber Rejeki mengakibatkan lubang-lubang besar bekas galian yang mencapai kedalaman 3 - 4 meter (Evrina, 2016). Hal tersebut diakibatkan oleh pemakaian alat berat untuk melakukan aktivitas pertambangan. Apabila bekas galian tersebut tidak segera direklamasi maka akan mengakibatkan kerusakan lingkungan hingga bencana alam seperti rusaknya bendungan/DAM, krisis air bersih, banjir bandang hingga tanah longsor.
Salah satu tokoh masyarakat setempat, Ahmad Yani mengemukakan bahwa kegiatan pertambangan awalnya dimulai pada tahun 2003. Dahulu mayoritas warga desa Lebak Jabung berprofesi sebagai petani. Masuknya CV Sumber Rejeki di desa Lebak Jabung membuat terbukanya lapangan pekerjaan baru sebagai penambang.
Mengacu pada data tahun 2017 dan 2018 pertanian sebagai mata pencaharian menduduki posisi pertama, yaitu sebanyak 111.275 (Tahun 2017) dan 104.899 (Tahun 2018). Usaha pertambangan sebagai mata pencaharian menduduki posisi kedua, yaitu sebanyak 11.310 ( Tahun 2017) dan 11.118 (Tahun 2018) (Admin Rancangan Akhir RKPD, 2019). Meningkatnya mata pencaharian pertambangan berdampak pada lingkungan, dimana hasil alamnya terus menerus dikeruk. Tahun 2004 silam, terjadi banjir bandang diakibatkan aliran sungai yang meluap karena penahan di sempadan sungai telah habis dikeruk. Hal tersebut tidak membuat pengusaha tambang berhenti beroprasi, sehingga beberapa masyarakat berinisiatif untuk melakukan aksi perlawanan dengan berusaha Menemui Presiden Joko Widodo untuk mengadukan kondisi desanya. (Hasil Wawancara Ahmad Yani)
Aksi untuk menemui presiden Joko Widodo terlaksana pada tanggal 26 Januari hingga 6 Februari 2020 oleh Ahmad Yani bersama 2 rekannya Sugiantoro dan Heru Prasetyo demi melindungi hutan lindung dan sungai brantas yang mengalami kerusakan akibat kegiatan pertambangan (Budianto, 2020).
Sebelumnya, aksi damai sudah dilakukan oleh masyarakat Lebak Jabung di depan kantor Gubernur Jawa Timur pada tanggal 7 januari 2020. Masyarakat mengajukan Press Release untuk menghentikan aktivitas pertambangan yang terjadi di hulu sungai agar kejadian 2004 silam tidak terulang kembali (banjir bandang). Pada tanggal 11 Oktober 2018 diadakan pertemuan berupa sosialisasi dan musyawarah, desa Lebak Jabung sepakat untuk menolak kegiatan pertambangan karena berpotensi merusak lingkungan dan mencemari sumber mata air. (Hasil Riset Dokumen Pihak desa Lebak Jabung). Sering terjadinya penolakan serta aksi yang
dilakukan Ahmad Yani dan rekannya memicu media-media lokal untuk membuat berita terkait isu yang terjadi di desa Lebak Jabung.
Gambar 1. 1 Grafik Pemberitaan Media Massa dan Youtube
Berdasarkan data tersebut, pemberitaan media massa dan youtube terkait pertambangan Lebak Jabung, pada bulan Februari 2020 terdapat sebanyak 11 pemberitaan. Dari hal tersebut menunjukan terdapat perhatian publik dan media massa terhadap kasus pertambangan golongan C yang illegal. Pada bulan Agustus 2020 grafik kembali naik sebanyak 5 pemberitaan. Pemberitaan tersebut terjadi karena permasalahan masih berjalan dan belum menemui titik terang. Mayoritas berita yang disajikan membahas terkait kegiatan pertambangan yang dilaksanakan di area hulu sungai oleh CV Sumber Rejeki di desa Lebak Jabung.
Berdasarkan hal yang telah dipaparkan diatas, pengkaryaan film dokumenter SAKAT menggunakan pendekatan partisipasi aktif. Pengkarya terlibat langsung dengan subjek dalam berkegiatan dan mengamati subjek untuk mendapatkan data serta membuktikan kebenaran informasi dari berita yang telah dikumpulkan. Dengan ikut terlibat langsung dengan kegiatan subjek, data yang dihasilkan akurat serta lengkap untuk mendukung proses pembuatan film dokumenter. Pada prosesnya, pengkaryaan film SAKAT melibatkan diantaranya Ahmad Yani, Prigi Arisandi, Farid, Purwanto, Slamet, Hj Tono, Rendy, Bu Naning, dan Nadya. Ahmad Yani Sebagai narasumber utama yang paling memahami terkait isu pertambangan di desa Lebak Jabung, Prigi Arisandi sebagai narasumber pendukung statement Ahmad Yani yang menjelaskan terkait potensi kerusakan
yang akan terjadi jika pertambangan terus berlangsung. Narasumber lain berperan sebagai pelengkap informasi dampak pertambangan dari berbagai sudut pandang.
Pengkaryaan film dokumenter SAKAT mengambil gaya dokumenter expository, dengan gaya tersebut, pesan yang disampaikan secara informatif dan deskriptif kepada penonton (Rikarno, 2015). Dalam pengkaryaan film dokumenter dengan gaya expository, dibutuhkan teknik dalam mengolah gambar agar sesuai dengan gaya tersebut. Salah satunya ialah penggunaan teknik editing compilation cutting. Teknik ini digunakan untuk menyambung setiap shot yang tidak berurutan dan memberikan ilustrasi gambar sesuai narasi dan wawancara dari narasumber (Hermansyah, 2009).
Dari penjelasan tersebut, teknik ini sangat cocok dipakai dalam film dokumenter untuk menyajikan narasi dengan iringan visual yang sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh narasumber. Penonton akan mendapatkan informasi yang sesuai dengan keadaan dan situasi saat itu. Dengan penggunaan teknik compilation cutting penonton diajak untuk melihat dan mendengar bagaimana kerusakan lingkungan yang terjadi akibat pertambangan galian golongan C yang ada di desa Lebak Jabung. Pesan yang disampaikan dari berbagai sudut pandang narasumber seperti Ahmad Yani, Prigi Arisandi (Ecoton), Farid (Gakopen), Haji Tono (Petani), dan narasumber lainnya.
Dengan gaya penyampaian pesan seperti ini, penonton yang notabene merupakan aktivis lingkungan akan langsung dapat memahami isu yang sedang terjadi dalam film karena langsung melihat statement dari berbagai sudut pandang narasumber yang berbeda-beda.
Pada proses pembuatan film dokumenter SAKAT, peran pengkarya sebagai editor ialah sebagai penanggung jawab atas file-file yang telah dikumpulkan pada saat pra-produksi hingga proses produksi selesai. Tahap pasca produksi merupakan tahap dimana peran pengkarya sebagai editor melakukan tugasnya. Pengkarya melakukan offline editing, online editing, hingga meriview bersama tim serta melakukan evaluasi terhadap hasil editing yang telah dilakukan.
Pembuatan film fiksi maupun dokumenter tidak lepas dengan adanya permasalahan. Pengkarya sebagai editor banyak menemui kesulitan pada proses editing. Mulai dari kurangnnya footage untuk menjahit agar alur cerita menjadi lengkap, hingga file audio yang tidak bisa dipakai karena banyak noise. Hambatan lain yang dihadapi pengkarya sebagai editor ialah hasil rekaman yang berbeda akibat penggunaan device yang berbeda-beda membuat proses grading menjadi lama. Pengkarya sebagai editor harus pintar memilah banyaknya gambar-gambar yang akan dipakai dalam film. Jika melakukan kesalahan pada saat menjahit gambar, pesan dalam film akan sulit tersampaikan kepada penonton sehingga film harus dijahit kembali agar pesan pada film dapat tersampaikan dengan baik.
1.2 TUJUAN
Tujuan pengkarya pada film dokumenter SAKAT yaitu untuk menerapkan bagaimana proses editing oleh editor dengan menggunakan teknik editing non- linear.
1.3 MANFAAT
Manfaat dari pembuatan film dokumenter SAKAT khususnya bagi editor yaitu untuk mengetahui proses editing dengan teknik editing non-linear.
1.4 REVIEW KARYA SEJENIS 1.4.1 Film Sexy Killer
Gambar 1. 2 Poster Sexy Killer
Sexy Killer merupakan film dokumenter Indonesia tahun 2019 yang digarap oleh Dhandhy Dwi Laksonodan Ucok Suparta mengenai industry pertambangan batu bara yang ada di pulau Kalimantan dan keterlibatan tokoh politik Indonesia seperti Jokowi, Prabowo, Isra Noor dan lainya. Spesifiknya film ini becerita mengenai perusahaan tambang batu bara yang menjadi pembunuh senyap. Lubang-lubang galian yang terbuka sehingga memakan korban, lindasan kapal muat batu bara yang menyetrika termbu karang kepulauan Karimun Jawa, hingga penyakit kronis yang menyerang organ pernafasan masyarakat yang tinggal di sekitar PLTU. Sebuah kengerian yang digambarkan dengan jelas berdasarkan fakta. Klimaks dari film ini memperlihatkan keterlibatan tokoh-tokoh politik termasuk yang tengah berkompetisi di Pemilihan Presiden 2019 (Murfianti, 2020). Film ini dirilis tahun 2019 secara terbuka di kanal youtube Watchdoc sebagai Production House yang menggarap film dokumenter ini. Pengkarya menjadikan film ini sebagai refrensi editing pada bagian alur penataan gambar karena relevan dengan dokumenter yang sedang kami garap untuk menyajikan alur narasi yang serupa di desa Lebak Jabung dengan lingkup subjek dokumenter yaitu pertambangan galian golongan C.
Film Dokumenter SAKAT mengambil refrensi konsep editing pada film Sexy Killer mulai dari perpindahan shot, grading, hingga musik latar belakang.
• Dari segi penataan gambar dan audio, film SAKAT mengambil teknik- teknik yang digunakan dalam film Sexy killer seperti cut to cut, compilation cutting, dan transisi antar scene.
• Pada pewarnaan/grading film, film SAKAT juga berusaha membuat film look yang sedikit mirip dengan film sexy killer dimana grading pada film ini dibuat sedikit warm menyesuaikan keadaan pulai kalimantan yang panas. Begitu juga film SAKAT dengan latar tempat Mojokerto yang juga memiliki cuaca yang panas.
• Dari segi audio, film SAKAT juga menggunakan musik latar belakang dengan ritme yang mirip dengan film Sexy Killer dalam usaha membangun emosi penonton dalam scene yang disajikan. Seperti halnya film Sexy Killer, pada film SAKAT juga banyak menggunakan ambience dari latar tempat sebenarnya untuk membuat penonton merasakan suasana yang ada dalam film.
1.5 RISET ISU/TOPIK YANG DIPILIH 1.5.1 Riset Isu
Sebelum melaksanakan produksi, dilakukan tahap riset isu, riset isu dilakukan diawal untuk menentukan tema apa yang akan diangkat dalam film dokumenter yang akan dibuat. Awalnya pengkarya melakukan riset secara online untuk mengumpulkan data dan fakta-fakta. Dari proses mencari data secara online ini, terkuak fakta bahwa terdapat aktivitas pertambangan yang di curigai illegal di desa Lebak Jabung, Kabupaten Mojokerto. Di tersebut aktivitas pertambangan dilakukann oleh CV Sumber Rejeki. Persoalan dari pertambangan ini karena CV Sumber Rejeki melakukan aktivitas pertambangan di area hulu sungai. Hulu sungai menjadi area yang sensitif jika terus dilakukan aktivitas pertambangan karena bisa berpotensi merusak lingkungan dan mengakibatkan bencana untuk daerah di sekitarnya.
Masyarakat desa Lebak Jabung hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan dan merasakan dampaknya. Dari fakta yang pengkarya temukan, sempat terjadi bencana banjir bandang di Mojokerto akibat pertambangan (Avit Hidayat, 2020).
1.5.2 Riset Lapangan
Pengkarya menemui Ahmad Yani sebagai tokoh masyarakat yang peduli terhadap lingkungan guna menggali informasi sesuai dengan realitas.
Melakukan wawancara bagaimana hal ini dapat terjadi. Mendatangi area penggalian yang dirusak lalu melakukan dokumentasi situasi untuk menjadi bukti. Mendapatkan izin untuk mengakses bukti lampiran surat-surat
penentangan dan pencegahan pertambangan oleh warga setempat. Dari fakta yang pengkarya temukan di lapangan, terjadi kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan galian golongan C yang dilakukan oleh CV Sumber Rejeki seperti rusaknya bendungan/DAM, tercemarnya aliran sungai, dan rusaknya hutan akibat aktivitas pertambangan.
Hal tersebut mengakibatkan kontra diantara masyarakat (pihak mendukung dan menolak) menimbulkan perpecahan dan masalah. Dalam mengumpulkan data untuk film ini digunakan “Snowball Method”, dimana pengkarya melakukan wawancara Ahmad Yani sebagai narasumber, selanjutnya Ahmad Yani merekomendasikan narasumber lainnya yaitu Prigi Arisandi, Farid, Purwonto, Slamet, Hj Tono, Rendy dan Bu Naning. Hal ini dilakukan untuk melengkapi informasi yang dibutuhkan.
A. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian a. Subjek Penelitian
Dalam menemukan subjek penelitian yang tepat, tim Dreamerdoc telah mempersiapkan dari jauh hari berdasarkan rekomendasi dari subjek awal dengan metode Snowball. Hal ini dilakukan agar informasi yang didapat lebih akurat. Dalam menggali informasi dari subjek, pengkarya bersama tim menggunakan pendekatan partisipasi aktif yang dilakukan sejak bulan Januari hingga April 2021. Subjek pada film dokumenter SAKAT diantaranya :
• Ahmad Yani (46 Tahun)
Sebagai pendiri LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Lebak Jabung dan GAKOPEN (Gerakan Komunikas Peduli Lingkungan) serta menjadi pionir dalam aksi memperjuangkan hak rakyat Lebak Jabung atas penolakan galian golongan C yang dilakukan oleh CV Sumber Rejeki.
Dalam film ini Ahmad Yani menceritakan perjuangannya dalam menolak pertambangan dengan berjalan kaki bersama
2 rekannya (Sugiantoro dan Heru Prasetyo) dari Mojokerto ke Jakarta demi menemui Presiden Joko Widodo untuk menyuarakan aspirasi keresahan masyarakat Lebak Jabung yang desanya dirusak oleh pertambangan. Ahmad Yani juga membuat wisata (River Tubing dan Petilasan Majapahit) agar terbukanya lapangan pekerjaan serta berupaya dalam menghijaukan hutan kembali (reboisasi).
• Prigi Arisandi (45 Tahun) sebagai biolog dan aktivis lingkungan hidup
Sebagai pendiri ECOTON FOUNDATION (Ecological Observation and Wetlands Conservation). Prigi bertempat tinggal di Gresik, Jawa Timur. Sebagai tokoh yang peduli lingkungan, dalam film beliau mengemukakan pendapat bahwa sungai Selomalang menjadi salah satu sumber mata air utama yang penting bagi masyarakat desa, Kota dan Kabupaten Mojokerto sehingga apabila ditambang, akan menimbulkan masalah dan menyalahi aturan semestinya.
• Farid (29 Tahun) sebagai pengelola River Tubing
Sebagai ketua GAKOPEN (Gerakan Komunitas Peduli Lingkungan). Farid menjadi pemuda yang berinisiatif untuk mencintai lingkungan serta membantu mengelola wisata (River Tubing dan Petilasan Majapahit). Di dalam ini Farid memaparkan dampak pertambangan terhadap rusaknya saluran dan penampungan air bersih yang harusnya mengalir untuk kebutuhan masyarakat.
• Purwanto (47 Tahun) sebagai pengelola River Tubing Sebagai salah satu anggota GAKOPEN (Gerakan Komunitas Peduli Lingkungan. Dalam film ini Purwanto
menjelaskan adanya perpindahan aliran sungai akibat aktivitas pertambangan dan menjelaskan bahwa pasir dan batu adensit sekitar sungai bernilai tinggi.
• Slamet (35 Tahun) sebagai pekerja serabutan
Sebagai mantan penambang Slamet memberikan sudut pandang baru dalam film ini. Dalam film ini Slamet menceritakan sudut pandangnya ketika menjadi penambang dan bagaimana ia terbuka hatinya bahwa pertambangan yang pernah beliau jalani ternyata merugikan banyak pihak dan merusak lingkungan tempat dia tinggal.
• Hj Tono (… Tahun) sebagai Petani
Sebagai subjek yang mewakili keresahan petani.
Karena petani menjadi mata pencaharian utama di desa Lebak Jabung, Hj Tono mengungkapkan keresahannya akibat adanya aktivitas pertambangan di desanya yang berdampak terhadap hasil panen setiap tahunnya yang mengalami penurunan.
• Masyarakat Desa Lebak Jabung
1. Rendy (27 Tahun) sebagai pekerja serabutan.
Sebagai perwakilan masyarakat desa Lebak Jabung.
Dalam film ini Rendy memaparkan apa yang dia rasakan akibat aktivitas pertambangan yang merusak lingkungan tempat tinggal mereka.
2. Bu Naning (45 Tahun) sebagai Ibu Rumah Tangga.
Sebagai subyek yang mewakili sudut pandang ibu rumah tangga. Dalam film ini Bu Naning sebagai ibu rumah tangga menjelaskan dampak pertambangan yang berpengaruh terhadap air bersih untuk kebutuhan rumah tangga.
b. Objek Penelitian
• Kerusakan Lingkungan Desa Lebak Jabung
Berpindahnya aliran sungai menimbulkan terdapat DAM atau bendungan setinggi 15 meter yang terbengkalai.
Menurut Ahmad Yani selaku tokoh masyarakat setempat mengutarakan bahwa kondisi berpindahnya aliran sungai dan kondisi rusaknya alam diakibatkan oleh adanya aktivitas tambang CV Sumber Rejeki. Kerusakan alam lain juga terjadi karena truk yang melintasi hulu sungai terus menerus mengakibatkan jalan sekitar hulu sungai hancur dan becek sehingga air sungai menjadi sangat keruh. Hal tersebut berpengaruh kepada perairan untuk kebutuhan pertanian dan juga kebutuhan rumah tangga. Ahmad Yani juga mengatakan bahwa pernah terjadi banjir bandang pada tahun 2003 dan 2004. (Fakta di Lapangan, Hasil wawancara Ahmad Yani Inisiator Lebak Jabung).
1.6 TINJAUAN PUSTAKA 1.6.1 Kajian Seputar TA
Pengkaryaan film dokumener SAKAT pada prosesnya mengacu pada beberapa literatur. Sebagai penunjang dalam pembuatan film ini, pengkarya membahas beberapa studi diantaranya mengenai film dokumenter, gaya ekspositori, editing film, teknik-teknik editing, pertambangan, dampak pertambangan terhadap lingkungan dan terakhir mengenai sempadan sungai.
1.6.2 Konsep Dasar Film Dokumenter
Pada awalnya John Grieson menyebutkan film dokumenter sebagai film non-fiksi. John Grieson mengutarakan bahwa film non-fiksi merupakan sebuah karya audio visual yang memuat laporan yang bersifat aktual dengan sentuhan kreatif (Rachmat & Abdurahman, n.d.)(Zoebazary, 2013). Disisi lain Rabiger mengungkapkan bahwa film non-fiksi atau film dokumenter
tidak hanya menampilkan informasi saja, tetapi membuat cara pandang dari berbagai aspek (Rabiger, 2014).
Dari beberapa pandangan mengenai film non-fiksi dokumenter dapat disimpulkan bahwa film dokumenter memuat kegiatan atau kejadian nyata sesuai realita. Pada prosesnya, film dokumenter diciptakan melalui perhitungan serta pertimbangan dari segi estetika keindahan atau cinematography pada film agar terciptanya ketegangan, konflik, klimaks, karakter dan lain sebagainya dengan tujuan menarik penonton. Hal inilah yang membuat film dokumenter menjadi sebuah karya seni dan membedakan film dokumenter dengan berita atau report (Rikarno, 2015).
1.6.3 Film Dokumenter Gaya Expository
Bill Nichols dalam (Hasanah, 2018) mengutarakan bahwa film dokumenter bergaya expository ialah penggabungan antara rangkaian gambar dengan penjelasan berupa narasi, dengan tujuan agar penyampaian pesan lebih informatif dan deskriptif. Narasi dibuat sebagai pengantar informasi dari awal hingga akhir secara runtut yang mengandung fakta, argumen serta diiringi gambar. Narasi juga dibuat sebagai pendukung gambar untuk memperkuat informasi yang dipaparkan pada film.
Pengkaryaan film dokumenter SAKAT dibuat dengan gaya expository karena informasi yang banyak sehingga akan lebih mudah jika disampaikan dengan narasi dan akan lebih mudah tersampaikan pada audiens secara deskriptif dan informatif.
1.6.4 Penyuntingan (Editing) Film
Editing merupakan proses menggabungkan gambar-gambar menjadi satu kesatuan membentuk cerita utuh. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam bukunya, (KN, 2013) Editing ialah sebuah proses memotong, menyusun, dan menggabungkan kembali rekaman menjadi sebuah cerita yang lengkap dan utuh. Proses editing memiliki manfaat psikologis untuk menciptakan berbagai efek, sebagai bantuan bercerita, memprovokasi ide, perasaan, atau menarik perhatian sebagai elemen- elemen yang membentuk keindahan atau sinematik (Abdullah, 2020).
Pada proses penyuntingan, terdapat 2 teknik, yaitu teknik editing Linear dan teknik editing Non-Linear. Teknik editing Linear masih menggunakan alat perekam yang tradisional dalam prosesnya. Sedangkan teknik editing non-linear sudah menggunakan software dan program khusus seperti Final Cut Pro, Adobe Premiere, Avin dan sebagainya(Al Najar, 2018). Pada era modern seperti sekarang, menggunakan alat perekam tradisional dalam proses pembuatan film dengan teknik linear merupakan hal yang sulit dan tidak efisien. Teknik editing linear membutuhkan proses menyambung dan memotong pita kaset ke kaset lainnya. Ketika terjadi kesalahan, maka harus melakukan retake dan membutuhkan waktu yang mana prosesnya sangat tidak efisien.
Sebagai seorang editor, dalam mengatur gambar-gambar harus betul-betul memahami dalam menuturkan naratif agar mempermudah penonton untuk memahami cerita dalam film. Supaya berhasil dalam membangun bagian-bagian tesebut secara efektif, editor harus melakukan fungsi-fungsi editing secara benar dan tepat. Pada buku terjemahan yang berjudul Cara Menilai sebuah Film, beberapa fungsi editing yang perlu dipahami bagi seorang editor yaitu pemilihan (selektivitas), keterpaduan serta kesinabungan atau continuity, transisi, ritme, perkembagan waktu, pemerasan waktu, dan penjajaran kreatif. (Ali, 2014)
Sebuah film dan inti dimensi penyuntingan merupakan kesinambungan yang mana gambar disambungkan dengan gambar lainnya, maka kedua gambar tersebut harus memiliki keterkaitan, baik dari segi visual, ritme, ruang, dan waktu. Secara umum film naratif (cerita) maupun film dokumenter dapat dipastikan memiliki keempat unsur/hubungan tersebut, sementara pada film abstrak atau non-figuratif (tanpa tokoh dan cerita) hanya memiliki unsur grafis dan ritme saja, seperti misalnya video klip dan iklan.(Sugihartono & Ali, 2015)
1.6.5 Continuity editing
Konsep continuity editing merupakan yang paling banyak dan sering digunakan oleh para pengkarya film. Tujuan dari konsep ini ialah
menciptakan kenyamanan bagi penonton agar tidak terganggu dengan ketidak jelasan ruang maupun waktu sehingga editing mencari kesinambungan antar gambar. Pada bukunya yang berjudul Dasar-dasar Apresiasi Film, (Sumarno, 1996) berkata bahwa gambar satu dan gambar lainnya dirangkai dengan memperhatikan unsur kesinambungan, seperti dalam ketentuan mengenai kesinambungan antara gambar dan gambar, adegan dengan adegan, serta babak dengan babak. Dalam menggunakan konsep editing continuity, cerita dan narasi dalam film akan memudahkan penonton untuk mengikuti. Gambar antar gambar pada sebuah adegan didasarkan atas kesinambungan. Dengan prinsip ini dapat menjaga hubungan kontinyuitas naratif agar tetap terjaga.(Hermansyah, 2018) 1.6.6 Alternatives To Continuity Editing
Pada konsep Alternatifes To Contunuity Editing merupakan konsep yang bertujuan sengaja mengganggu penonton dengan alasan. Dalam menggunakan konsep ini editor sengaja tidak menggunakan salah satu unsur dari konsep continuity editing. Konsep ini menurunkan 2 konsep editing yaitu, pertama memiliki posibilitas grafis dan ritmis (grapic and rhythmic posibilites). Konsep ini membebaskan penyunting untuk bermain dengan unsur grafis dan ritmis saja. Kedua, tidak berkesinambungan antar ruang dan waktu (spatian and temporal discontuinity) dimana konsep ini membebaskan penyunting bermain dengan unsur ruang dan waktu saja. Dari membuat penyambungan yang melompat ataupun memasukan adegan yang tidak memiliki hubungan secara ruang dan waktu.(Hermansyah, 2018).
1.6.7 Teknik-teknik Editing
Dalam proses editing, editor memotong dan menyambungkan shot untuk Menyusun narasi yang tepat membutuhkan teknik editing. Menurut (Hermansyah, 2018) ada berbagai jenis teknik editing yang biasa digunakan oleh seorang editor, yaitu:
a) Intercut
Teknik ini merupakan dasar pada proses editing dimana editor memodifiikasinya dan menciptakan turunan teknik lain seperti
classical cutting dan continuity cutting. Teknik ini mengambungkan gambar secara selang-seling dalam satu adegan atau peristiwa yang terjadi didalam aspek ruang dan waktu yang sama.
b) Sequence Shot
Dalam teknik ini peran editor cukup mudah karena hampir tidak ada proses memotong dan menyambungkan shot. Dalam teknik ini, pada saat mengambil gambar disebut sabagai pengambilan long take, dan kebanyakan berdurasi Panjang.
c) Cutting Continuity
Pada film dokumenter teknik ini jarang dipakai karena motivasi dari teknik ini ditujukan untuk narrative continuity belaka.
d) Classical Cutting
Teknik editing ini ialah teknik mengatur serta menyusun gambar dengan sistematis sedemikian rupa sehingga penonton di tuntun untuk dapat mengerti film sesuai dengan apa yang direncanakan pengkarya.
e) Parallel Cutting
Teknik ini menyambungkan secara selang-seling antar dua atau lebih peristiwa yang dimana tidak ada hubungan dalam aspek ruang, tetapi memberi kesan waktu yang diterima penonton merupakan waktu yang berjalan bersamaan.
f) Cross Cutting
Dengan menggunakan teknik ini editor menyambungkan peristiwa secara berselang-seling tanpa ada hubungan dalam unsur ruang dan waktu. Peristiwa tersebut terikat oleh tema. Contohnya yang paling sederhana ialah adegan ketika seseorang bermimpi. Peristiwa antara tokoh yang sedang tidur disambungkan secara selang seling dengan peristiwa yang terjadi pada mimpinya.
g) Continuity Cutting
Serupa dengan teknik Classical Cutting, hanya saja teknik ini tidak mempermasalahkan dalam urutan antar gambar. Shotnya tidak harus
berurutan satu sama lain, yang harus diperhatikan dalam teknik ini ialah kesinambungan ruang dan gerakannya.
h) Thematic Montage
Konsep dari teknik ini melakukan proses penyambungan berselang- seling antara dua sequence atau lebih yang memiliki keterkaitan tema. Biasanya pola ini sering dikenal dengan istilah multi-plot.
Dalam teknik ini dilakukan proses penyambungan selang seling antar dua sequence atau lebih dengan keterkaitan tema. Hal ini dikenal dengan istilah multi plot.
i) Dynamic Cutting
Dengan teknik ini, penyambungan dilakukan dengan sengaja untuk membuat penonton sadar dan bertujuan untuk menganggu penonton.
Dalam film naratif, motivasinya untuk membangun citra yang tidak wajar.
j) Compilation cutting
Teknik compilation cutting ini banyak ditemukan dalam film dokumenter dengan genre laporan perjalanan, sejarah, ataupun investigasi. Tipe film dokumenter yang menggunakan teknik editing ini ialah expository documentary, interactive documentary, dan performative documentary. Teknik ini digunakan dalam narasi atau wawancara dengan memberikan selingan gambar-gambar yang tidak berurutan bahkan kadang tidak berhubungan tetapi gambar- gambar tersebut sesuai dengan perkataan dalam narasi atau wawancara. Tujuan teknik ini untuk memberikan ilustrasi dari narasi ataupun wawancara.
k) Rapid Cutting
Teknik Rapid Cutting proses penyambungan di beri ritme yang cepat. Dalam kontek film dokumenter, teknik ini banyak di gunakan untuk awalan pembuka film atau disebut opening sequence. Teknik ini juga sering disebut dengan sebutan fast cut.
l) Abstract Cutting
Teknik ini biasa digunakan pada film bergenre experimental. Teknik ini tidak memperdulikan citra keindahan bagi penonton. Karena teknik ini film maker dapat semaunya melakukan oemotongan dan penyambungan di titik manapun.
m) Jump Cut
Teknik ini digunakan saat tipe shot camera angle dan mise en scene itu sama. Shot dalam teknik ini tidak melewati garis imajiner, tetapi dengan teknik ini maka hal tersebut akan terjadi lompatan ruang dan waktu. Maka dalam teknik ini penonton dapat merasakan lompatan ruang dan waktu.
n) Non-Diegetic Insert
Diegetic merupakan aspek ruang yang ada pada film. Sedangkan Insert bermakna sisipan. Maka Non-diegetic memiliki makna sisipan sebuah peristiwa tertentu didalam peristiwa yang sedang disusun.
Sisipan tersebut tidak ada hubungannya dengan ruang dan waktu.
Kebanyakan untuk mengilustrasikan hal yang susah untuk digambarkan.
o) Contras Editing
Seperti halnya Cross Cutting teknik ini juga berfokus pada penyambungannya, namun yang membedakan ialah kandungan peristiwanya. Cross Cutting peristiwa-peristiwanya terikat oleh tema. Maka dalam teknik Contrass Editing peristiwanya justru kontradiktif.
p) Constructive Editing
Saat menggunakan teknik ini film maker bertujuan untuk mengkonstruksi sebuah peristiwa dengan menciptakan ruang dalam benak penonton. Contohya seperti adegan bunuh diri yang mana sang aktor tidak mungkin mau untuk bunuh diri.
q) Letimoti
Teknik ini sangat banyak pada sebuah peristiwa dalam film. Intinya film maker selalu memasukkan hal-hal yang senada dengan tema filmnya. Contohnya saja pada film religi, maka banyak unsur dalam film terdapat unsur religi.
1.6.8 Transisi
Transisi merupakan sebuah efek dalam teknik editing yang digunakan untuk mengantarkan dua footage saling bertemu tanpa tumpang tindih.
Transisi digunakan pada saat tertentu untuk menyambungkan antar scene ataupun antar dua gambar. Jika footage hanya satu maka transisi tidak bisa digunakan. Dalam (Marga H. & Ilham K., 2015) memaparkan jenis-jenis transisi yaitu :
a) Fade
Fade merupakan transisi dimana gambar secara perlahan intensitasnya menurun sehingga membuat gambar semakin lama mengikuti warna background. Jika background gelap, maka gambar lama kelamaan menggelap dan sebaliknya jika warna background terang maka gambar juga akan menerang. Dalam transisi Fade, terdapat dua jenis yaitu fade in dan fade out. Fade in digunakan untuk mebuka sebuah adegan (intensitas bertambah terang) dan fade out digunakan ketika menutup adegan (intensitas menurun).
Gambar 1. 3 Fade In
b) Disolve
Disolve merupakan transisi dimana dua footage berganti secara perlahan dan dengan sesaat dua footage tersebut bertindihan.
Dalam sesaat footage awal akan berbayang dengan footage kedua. Seperti halnya transisi fade, disolve biasa digunakan untuk perpindahan shot yang terputus secara signifikan (editing diskontinu), seperti pergantian jam atau hari.
Gambar 1. 5 Disolve
Gambar 1. 4 Fade Out
1.6.9 Musik dalam film
Menurut (Dykhoff, 2012) musik film merupakan elemen audio yang dimainkan diluar universe film tersebut (non-digetic), tujuannya untuk mempengaruhi penonton tanpa mempengaruhi tokoh dalam film. Fungsi musik fim ialah untuk mengiringi adegan-adegan dalam film dan dapat mempengaruhi emosi bagi penonton (Donald, 2014). Menurut Stein dalam (Purnomo, 2015) musik film mampu menguatkan serta mempertegas emosi dalam suatu adegan pada film. Rosar menyatakan beberapa istilah untuk musik film diantaranya film score, underscore, background music, dan musical score. Musik film dan Musik ilustrasi berbeda secara tujuannya, (Kusumawati, 2005) musik ilustrasi berguna untuk melengkapi dan mengiringi sebuah acara seperti pertunjukan drama, teater, tablo, tarian, dll.
Musik iringan bisa juga dikatakan ilustrasi, tetapi musik ilustrasi tidak selalu berupa iringan.
Menurut Iwan Darmawan dalam (Prasetyo, 2019), dalam konteks Audio Visual musik terbagi menjadi dua, yaitu musik fungsional dan musik realitas. Musik secara fungsuional digunakan dengan tujuan menambah dramatisasi dalam film, musik fungsional berasal dari luar ruang adegan cerita atau biasa disebut musik ilustrasi. Musik fungsional sumber suaranya tidak nampak pada gambar tetapi memiliki hubungan fungsional dengan gambar pada film. Contoh dari hubungan fungsional tersebut seperti musik untuk membentuk suasana, misalnya untuk menggambarkan perasaan tokoh dalam film atau untuk menandakan sesuatu akan terjadi atau prediksi seorang tokoh akan muncul (musik letimotif), musik untuk transisi, musik untuk meningkatkan adegan action.
Musik realistik atau realitas merupakan musik yang sumber suaranya terlihat dalam film atau berada pada ruang kejadian dalam film dengan tujuan sebagai penunjang menciptakan realitas. Sebagai contoh musik realitas dalam film seperti adegan band, adegan tarian yang diiringi musik hidup, dan musik yang khusus dibuat untuk film (Scoring)
1.6.10 Grading dalam film
Grading dalam film berguna untuk membuat hasil gambar terlihat alami bagi mata manusia (Horton, 2016). Langkah pertama dalam grading adalah untuk memperbaiki masalah white balance dan eksposu (koreksi warna) . Eksposur dapat memperbaiki dengan mengubah tingkat umum eksposur dengan fungsi yang tersedia dalam perangkat lunak yang digunakan, atau mengatur Initial Lift, Gain and Gamma (Inhofer, 2016).
Jika gambar diambil dengan pengatural log di kamera yang memiliki banyak informasi warna. Tetapi kontras sangat sedikit, maka dalam hal ini kontras diperluas selama proses koreksi warna. Profil Log digunakan untuk mendapatkan rentang nada paling banyak dari sensor kamera yang memberikan kualitas terbaik untuk gradasi warna (Taboada, 2012). Masalah noise juga dapat muncul karena pengaturan iso yang agresif dapat diperbaiki pada proses grading (Inhofer, 2016).
Pada bagian tersebut, metode koreksi warna yang digunakan ditunjjukan dengan contoh yang divisualisasikan. Tujuan menggunakan profil Log ialah untuk mendapatkan kualitas tebaik untuk gradasi warna dan mempelajari cara mengedit bidikan footage dengan profil log.
Pada film, grading berguna untuk melengkapi jalan cerita dengan mempengaruhi suasana hati dan mengarahkan perhatian penonton pada objek atau tindakan tertentu (Seitz, 2010).
1.7 RENCANA PRODUKS I 1.7.1 Identitas Proyek
1.7.2.1 Fact Fanding a. Politik
2 Pertambangan CV Sumber Rejeki melakukan aktivitasnya di desa Lebak Jabung yang mana potensi alam seperti pasir dan batu (adensit) yang bermanfaat untuk bahan bangunan. CV Sumber Rejeki diizinkan menambang sesuai dengan keputusan gubernur Jawa Timur Nomor P2T/74/15.02/X2019 mengenai Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi CV Sumber Rejeki. Tetapi
disangka terdapat pelanggaran oleh CV Sumber Rejeki yang mana tidak melakukan kegiatan pertambangn sesuai titik koodinat yang telah disepakati (illegal). CV Sumber Rejeki melakukan pertambangan di area hulu sungai yang merupakan area lindung dengan potensi alam batu adensit dan pasir. Dari hal tersebut, pemilik CV Sumber Rejeki inisial (PS) telah ditetapkan menjadi tersangka oleh Sat Reskin Polres Mojokerto pada Juli 2020. PS ditahan karena terbukti melanggar undang-undang mengenai eksploitasi batu alam (illegal mining) di bantaran Sungai Boro, Selomalang, desa Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto. (Anonim, 2020)
3 Ketua KOMISI III DPRD kabupaten Mojokerta berkata bahwa pihaknya telah menerima keluhan warga. Pihaknya berjanji akan memanggil 2 perusahan yang telibat yakni CV Sumber Rejeki dan CV sumber Abadi (Anas, 2020).
4 DPRD Kabupaten Mojokerto menggelar Rapat Penyusunan Laporan Hasil Panitia Khusus Komisi I, II, III dan IV bersama OPD terkait keberadaan tambang galian C di desa Lebak Jabung. Sayangnya rapat tersebut tidak dihadiri pelaku usaha tambang galian golongan C, jadi belum ada solusi dari permasalahan tersebut. Ketidak hadiran tersebut tanpa alasan mengapa tidak datang saat rapat, terkait tuntutan masyarakat Komisi III akan melakukan langkah-langkah taktik dan penalahaan terkait ijin (Anonim, 2020).
5 Dalam menyatakan visi misinya Arif Rahman sebagai kepala desa bahwa menolak adanya aktivitas pertambangan galian golongan C di desa Lebak Jabung.
(Hasil wawancara Ahmad Yani Inisiator Lebak Jabung)
6 Pada bulan April tahun 2021 terlihat pemilik CV Sumber Rejeki (PS) sudah berkeliaran dan sering mengunjungi lokasi CV Sumber Rejeki. Hal tersebut menjadi pertanyaan bagi masyarakat setempat mengenai status tersangka pemilik CV Sumber Rejeki. (Fakta di Lapangan)
7 Dibulan April 2021 juga terjadi Kembali kegiatan pertambangan oleh CV Sumber Rejeki dengan masuknya 4 eskavator dan terdapat Aparat Negara (TNI) yang mengawasi pertambangan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai apa kepentingan Aparat Negara (TNI) disana. (Fakta di Lapangan)
b. Ekonomi
• Penghaslian masyarakat Lebak Jabung awalnya bergantung pada hasil pertanian dan mencuri kayu.
Namun seiring berjalannya waktu pekerjaan menambang menjadi pekerjaan yang lebih diminati masyarakat Lebak jabung karna dianggap lebih menguntungkan. (Hasil wawancara Ahmad Yani Inisiator Lebak Jabung)
• Pertanian menjadi mata pencaharian terbanyak di daerah Mojokerto dengan jumlah 103.899 di tahun 2018 dan 111.275 tahun 2017 (Admin Rancangan Akhir RKPD, 2019).
• Mata pencaharian posisi nomer 2 terbanyak di daerah Mojokerto ialah pertambangan dengan jumlah sebanyak 11.118 pada tahun 2018 dan sebanyak 11.310 pada tahun 2017 (Admin Rancangan Akhir RKPD, 2019).
• GAKOPEN (Gerakan Komunitas Peduli Lingkungan) didirikan oleh masyarakat Lebak Jabung. Tujuan dari komunitas ini untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa dengan membuat wisara alam (River
Tubing dan mengelola petilasan Gajah mada). (Hasil wawancara Ahmad Yani Inisiator Lebak Jabung)
c. Sosial
• Aksi warga Mojokerto menuju Jakarta (Istana Negara) dengan berjalan kaki untuk menentang aktivitas pertambangan pasir dan batu agar di tutup. Demi bertemu presiden Joko Widodo agar dapat mengadukan aktivitas pertambangan galian C yang illegal. Mengadukan keputusan pemerintah daerah yang diduga tumpang tindih menimbulkan masyarakat pro dan kontra. Aktivitas pertambangan menimbulkan kerusakan lingkungan dengan potensi bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor. (Anonim, 2020)
• Staff presiden telah menerima laporan dari Ahmad Yani dan 2 rekannya. Mereka mengadu terkait permasalahan tambang serta ancaman dari sejumlah preman tambang.
Aspirasi telah diterima dan pihaknya akan melanjutkan keluhan terkait masalah tambang pasir dan batu adensit yang mengganggu warga setempat. (Norhadini, 2020b).
• Terjadi demo di depan Kantor Kejaksaan Negri Kabupaten Mojokerto oleh masyarakat desa Lebak Jabung guna menolak aktivitas pertambangan yang berada di desa mereka. Masyarakat menuntut 5 hal, diantaranya: Mencabut izin oprasional CV Sumber Rejeki di Desa lebak Jabung, perjelas proses hukum tertutup Gusion Cloyal di Selomalang di Polres Mojokerto, kembalikan Arif Rahman sebagai Kades Lebak Jabung, periksa lebih lanjut pelapor yang dianggap telah ingkar terhadap hasil musyawarah pada tahun 2014 tentang Normalisasi Tanah Cianjur dan tetapkan Kawasan Selomalang sebagai Wilayah Konservasi lingkungan dan
menjadikan Desa Lebak Jabung sebagai Desa Wisara.
(Rido A, 2020)
• Preman dari perusahaan mendatangi rumah-rumah warga dan mengancam agar tidak melakukan protes ke pertambangan yang terjadi Desa Lebak Jabung (Anonim, 2020).
• Masyarakat Lebak Jabung resah dengan keberadaan tambang di desanya, yang mana berlokasi bersebelahan dengan kawasan hutan lindung, cagar budaya, situs religi makam kyai Ageng Ulama Pendakwah Islam pada masa Kerajaan Majapahit dan masuk kedalam area pertanian dan sungai. Masyarakat kontra karena berusaha menjaga ekosistem alam dan pengembangan desa wisata serta peninggalan sejarah. (Hasil wawancara Rendy (Masyarakat Desa)
• Tanggal 16 Maret 2021 terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa akibat bekas pertambangan yang dibiarkan begitu saja. Kronologi kejadiannya yaitu korban sedang memancing di bekas galian tambang, kail pancingnya tersangkut sehingga ia terperosok. Jasadnya ditemukan setelah 3 hari pencarian oleh tim SAR.
(Informasi Facebook grup Kabar Wong Jatirejo) d. Hukum
• Undang-Undang Pertambangan Nomor 37 Tahun 1960 serta pada Undang-Undang Pokok Pertambangan Nomor 11 Tahun 1967 pasal 3 Bahan galian golongan C (tidak termasuk strategis dan vital) menjadi bahan galian yang bisa digunakan sebagai usaha oleh rakyat ataupun Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) seperti kerikil, batu kali, gamping, marmer, batu sabak, pasir dan pasir urug.
• Dari Peraturan Bupati (PERBUP) Pasal 11 ayat (1) Nomor 6 Tahun 2012 mengenai Pengelolaan Pertambangan Mineral Bukan Logam dan Batuan, untuk memperoleh Izin Usaha Pertambangan (WIUP) harus memenuhi kriteria diantaranya letak geografis, kaidah konsevasi, daya dukung lingkungan, optimalisasi sumber daua mineral dan/atau batu bara dan tingkat kepadatan penduduk (Peraturan Bupati (PERBUP), 2014).
• Dalam Peraturan Bupati (PERBUP) Pasal 64 ayat 2 mengenai sanksi administratif mencakup peringatan tertulis, penghentian sementara kegiatan dan/atau pencabutan IUP.
e. Lingkungan
• Semenjak adanya aktivitas pertambangan di Desa Lebak Jabung terdapat puluhan bekas galian. Bahkan aliran sungai menjadi bergeser (telah berpindah tempat) akibat galia di hulu sungai. Akibat galian golongan C yang cukup dalam dan meninggalkan bekas sehingga bendungan/DAM rusak dan menggantung setinggi 15 meter. Dulunya bendungan/DAM ini mejadi salah satu wadah aliran sungai yang menjadi sumber mata air masyarakat. Aktivitas pertambangan ini juga berdampak pada irigasi sawah menjadi terhambat di daerah tersebut.
Selain itu akibat aktivitas pertambangan juga membuat masyarakat Lebak Jabung mengalami krisis air bersih, banjir bandang dan tanah longsor (Fakta di Lapangan, Hasil wawancara Ahmad Yani Inisiator Lebak Jabung dan Hasil wawancara Hj Tono Petani Lebak Jabung)
• Gubernur Jawa Timur dituntut oleh masyarakat Lebak Jabung untuk mencabut izin usaha tambang milik CV Sumber Rejeki. Masyarakat mendesak agar segera
menghentikan aktivitas pertambangan dan menindak tegas kegiatan pertambangan karena berpotensi merusak lingkungan. Aktivitas pertambangan merusak stabilitas tebing sungai, penurunan debit air, berkurangnya mata air, air sungai menjadi keruh, serta hilangnya ekosistem sungai yang berpengaruh pada Kesehatan aliran air sungai (Anonim, 2020)
• Sebelum tahun 2003 lalu, di sungai Selomalang terdapat 1.000 lebih mata air, namun semenjak adanya aktivitas pertambangan mata air berkurang menjadi sekitar 100 mata air saja. Menurut Ahmad Yani salah satu warga Lebak Jabung, sungai Selomalang merupakan kawasan mata air yang menyuplai kebutuhan air masyarakat di bawahnya. Semenjang adanya aktivitas pertambangan, ribuan sumber mata air banyak yang hilang (Norhadini, 2020).
• Sebelum pertambangan masuk ke desa Lebak Jabung, hasil pertanian bisa mencapai 3 kali panen dalam setahun, tetapi setelah adanya pertambangan, hasil panen turun menjadi 2 kali pertahun. Hal ini terjadi akibat aktivitas pertambangan mempengaruhi aliran irigasi yang disalurkan untuk kebutuhan pertanian (Hasil wawancara Hj Tono Petani Lebak Jabung)
• Desa lebak Jabung merupakan Kawasan yang sangat penting bagi pendukung ekosistem di brantas. Dengan adanya pertambangan illegal di Desa Lebak Jabung sangat berpengaruh bagi keutuhan ekosistem di brantas. Ketika musim penghujan tiba maka Desa Lebak Jabung mengalami dampaknya seperti banjir bandang. (Hasil wawancara Prigi Arsandi pendiri ECOTON)
• Aktivitas pertambangan yang dilakukan CV Sumber Rejeki berdekatan dengan Hutan Lindung. Aktivitas pertambangan membuat Hutan Lindung menjadi gundul.
Sejatinya hutan harus dilindungi karena hutan berperan sebagai paru-paru dunia dan pengendali bencana. Apabila hutan telah dirusak maka dampak yang akan terjadi ialah rusaknya lingkungan seperti tanah longsor dan banjir.
(Hasil wawancara Ahmad Yani Inisiator Lebak Jabung) B. Problem Statement
Kerusakan lingkungan di desa Lebak Jabung terjadi akibat dari adanya aktivitas pertambangan galian golongan C yang dilakukan oleh CV Sumber Rejeki. CV tersebut menggali tidak sesuai dengan koordinat yang disepakati, yaitu dengan melakukannya di hulu sungai.
Sungai Selomalang merupakan salah satu sumber mata air masyarakat desa Lebak Jabung untuk keperluan sektor pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga . Meskipun pertambangan tersebut mengantongi izin, namun menimbulkan persoalan pada masyarakat. Masyarakat terpecah menjadi dua, yaitu masyarakat kontra dan masyarakat pro. Masyarakat kontra yaitu masyarakat yang terdampak dari adanya pertambangan tersebut dan masyarakat pro yaitu masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai penambang. Pertambangan di desa Lebak Jabung sempat mendapat perhatian dari pemerintah daerah Kabupaten Mojokerto dan hasil dari perhatian tersebut pemilik CV Sumber Rejeki berinisial PS mendapatkan hukuman berupa status tahanan. Tetapi masyarakat masih dibuat resah, hingga Agustus 2021 pertambangan masih beroperasi.
Dampak yang dihasilkan dari aktivitas pertambangan menimbulkan bekas galian yang berakibat pada kerusakan lingkungan dan bencana alam.
1.7.2 Target Audience
• Geografi: Nasional
• Demografi o Usia: 30 – 45 o SES: B
• Profesi: Dosen, Pengusaha dan Aktivis Lingkungan
• Psikografis: Minimalist, Membaca, Menulis, Konsumtif, Wawasan Luas, Disiplin, Kreatif, Rasa Sosial Tinggi Behavioral: Antusias dengan Isu Lingkungan
Untuk film bertemakan lingkungan apalagi dalam konteks dokumenter, usia dan profesi tersebut merupakan kelompok usia yang bisa menerima dan bisa mempertanggungjawabkan informasi yang di peroleh dari isu film seperti ini, sebagaimana dalam California Longitudinal Study disebutkan bahwa pada rentang usia tersebut merupakan kelompok usia yang paling sehat, paling tenang, paling bisa mengontrol diri, dan paling bertanggung jawab (Murfianti, 2020).
1.7.3 Timeline
Tabel 1. 1 Timeline Kegiatan
No. Kegiatan Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep 1 Menentukan
Judul 2 Riset 3 Asistensi 4 Seminar
Proposal 5 Shooting 6 Wawancara 7 Editing
8 Laporan Akhir 9 Sidang
1.7.4 Budgeting
Tabel 1. 2 Budgeting Kegiatan
NO. ITEM QTY DAY PRICE TOTAL
KAMERA
1. Kamera Sony A7 + Kit Sony 28-70 1 8 Rp. 200.000 Rp. 1.600.000
2. Kamera Sony A6300 + Kit Sony 28-70 1 8 Rp. 180.000 Rp. 1.440.000
3. DJI MAVIC PRO 1 5 Rp. 250.000 Rp. 1.250.000
4. Iphone 7 1 8 - -
LENSA
5. Fix Sony 35 mm 1 3 Rp. 60.000 Rp. 180.000
SOUND
6. MIC FIFINE 1 8 Rp. 30.000 Rp. 240.000
LAIN-LAIN
7. Tripod Takara Eco 1 8 Rp. 20.000 Rp. 160.000
8. Zhiyun Crane 2 1 3 Rp. 150.000 Rp. 450.000
TRANSPORT
9. Kendaraan Pribadi 2 8 Rp. 30.000 Rp. 480.000
LAIN-LAIN
10. Pengisi Suara (VO) 1 1 1 Rp. 150.000 Rp. 150.000 11. Pengisi Suara (VO) 2 1 1 Rp. 100.000 Rp. 100.000
TOTAL Rp. 6.050.000
1.7.5 Film Statement
Film Statement digunakan sebagai perencanaan ide cerita film terhadap isu yang akan diangkat. Film Statement berupa tulisan dalam bentuk paragraf yang berisi cerita film secara singkat, padat, dan jelas.
Film Statement Dokumenter SAKAT
Pada tahun 2003 warga desa Lebak Jabung merasakan krisis air bersih setelah aktivitas pertambangan masuk ke desa mereka. Terjadinya krisis air bersih di desa Lebak Jabung diakibatkan pertambangan besar-besaran dan terus-menerus yang berlokasi di hulu sungai oleh CV Sumber Rejeki. Karena merasakan dampak buruk dari pertambangan, Ahmad Yani bersama warga melakukan aksi unjukrasa di depan Kantor Kejari Kabupaten Mojokerto.
Karena merasa belum menemukan titik terang, Ahmad Yani bersama 2 rekannya bertekad menemui presiden Joko Widodo dengan berjalan kaki dari Mojokerto ke Jakarta yang berjarak kurang lebih 730 km guna mengadukan keluhan aktivitas tambang yang terjadi di desanya. Hal tersebut menarik perhatian banyak masyarakat, akhirnya pihak berwajib melakukan penyelidikan kepada CV Sumber Rejeki dan berujung pada Agustus 2020 pemilik pertambangan (PS) ditetapkan sebagai tersangka. Dari hasil pennyelidikan yang dilakukan, CV Sumber Rejeki melakukan aktivitas pertambangan tidak sesuai dengan koordinat yang disepakati. Meski aktivitas pertambangan sempat terhenti, namun pada Maret 2021 pertambangan aktif kembali, dan tidak ada tindak lanjut hukum bagi pemilik pertambangan.
1.7.6 Treatment editor
Film treatment dibuat untuk mengetahui tujuan dari konsepsi film, mise end scene, sinematografi dan penataan suara (Hermansyah, 2009). Dengan adanya film treatment dapat memudahkan crew yang bertugas karena memiliki acuan dalam mengerjakan tugas masing-masing jobdesk seperti apa konsep yang akan dibuat pada film tersebut.
LOGO, MEMPERSEMBAHKAN.
OPENING
1. TEKNIK MONTASE:
Cuplikan dokumentasi rangkaian penambangan yang ada di Sungai Selomalang Desa Lebak Jabung Kabupaten Mojokerto dari mulai truk datang, penggalian menggunakan alat berat hingga proses pemuatan batu dan pasir.
2. VOX-POP:
Cuplikan Statement masyarakat demo tentang tidak setujunya adanya pertambangan di sungai selomalang karena dampak lingkungan yang cukup besar. Pada scene ini digunakan editing perpotongan dengan tempo cepat dan diberi effect video jadul sehingga memberi kesan kehebohan di awal film sebelum masuk ke cerita.
JUDUL – SAKAT
3. EXT. GAPURA PINTU MASUK DESA LEBAK JABUNG – PAGI Memunculkan nama Desa Lebak Jabung Dari Gapura yang ada pada pintu masuk desa tersebut. Menggunakan transisi dip to black pada awalan untuk memberi kesan permulaan
4. EXT. SUASANA DESA LEBAK JABUNG – PAGI
Suasana jalanan yang dilewati oleh truk secara bergantian dengan suara yang bergemuruh dan debu yang dibawa oleh truk tersebut. Pada scene ini digunakan teknik intercut untuk membuat melihatkan suasana dari berbagai angle dengan potongan-potongan footage.
5. TEKNIK MONTASE:
Menampilkan data pertambangan yang ada di Kabupaten Mojokerto serta jumlah pertambangan aktif yang berizin serta tidak berizin. Pada scene ini dimasukan teks pada footage berisi data dan mengikuti sesuai voice over narasi.
6. EXT. AREA PERTAMBANGAN CV. SUMBER REJEKI – SIANG Memperlihatkan suasana pertambangan CV Sumber Rejeki yang dilakukan di tepat di hulu sungai.
7. EXT. WAWANCARA DENGAN FOUNDER ECOTON – SIANG Menjelaskan tentang sungai yang ada di desa Lebak Jabung Kabupaten Mojokerto karena merupakan DAS Berantas yang keberadaannya sangat penting. Dan jika ditambang maka akan menghancurkan benteng pertahanan dari sungai tersebut. Pada scene ini digunakan teknik editing compilation cutting pada wawancara untuk menunjukan footage ilustrasi mengikuti perkataan narasumber.
8. TEKNIK MONTASE :
Memperlihatkan peraturan tentang lebar sempadan sebagai kawasan lindung & memperlihatkan CV Sumber Rejeki mendapatkan perizinan untuk melakukan galian. Dengan teknik montase untuk menata footage- footage kawasan hutan lindung dan memperlihatkan plang perizinan pertambangan dan diberi transisi fade to black di akhir
9. EXT. WAWANCARA DENGAN PAK YANI – PAGI
Menjelaskan tentang bagaimana awal mula bisa adanya tambang di sini berawal dari tambang yang diinisiasi oleh warga hingga sekarang perusahaan besar yang menggunakan alat berat. Pada scene ini digunakan juga teknik editing compilation cutting untuk memperlihatkan footage-footage ilustrasi mengikuti perkataan narasumber.
10. EXT. WAWANCARA DENGAN PAK PUR – SIANG
Menjelaskan perpindahan aliran sungai dikarenakan aktivitas tambang yang dilakukan di sungai tersebut. Pada scene ini digunakan juga teknik editing compilation cutting untuk memperlihatkan footage-footage ilustrasi mengikuti perkataan narasumber.
11. EXT. WAWANCARA DENGAN WARGA XXX – SIANG
Memperlihatkan warga yang memberikan opininya, menurut beliau perindahan aliran sungai terjadi bukan karena disebabkan oleh tambang, melainkan karena intensitas air yang meningkat. Pada scene ini digunakan juga teknik editing compilation cutting untuk
memperlihatkan footage-footage ilustrasi mengikuti perkataan narasumber.
12. EXT. DEMO DEPAN KABUPATEN – SIANG
Demo yang dilakukan warga di depan kabupaten untuk menolak pertambangan namun belum menemukan titik terang. Pada scene ini digunakan teknik intercut untuk memberikan potongan-potingan footage demo. Pada scene ini music latar belakang menggunakan music yang mulai mencekam.
13. EXT. AHMAD YANI – SIANG
Pak Yani menjelaskan tentang aksi jalan kaki yang dilakukan karena tidak kunjung mendapatkan solusi dari pemerintah. Pada scene ini digunakan juga teknik editing compilation cutting untuk memperlihatkan footage-footage ilustrasi mengikuti perkataan narasumber.
14. EXT. AHMAD YANI DAN 3 REKANNYA – SIANG
memperlihatkan aksi jalan kaki ke Istana Negara menuntut keadilan kepada warga yang terdampak karena pertambangan. Digunakan teknik montase untuk merangkum footage-footage aksi demo dengan perpotongan tempo sedang. Dalam scene ini juga diberi voice over penjelasan tujuan melaksanakan aksi tersebut.
15. INT. Pendapat Komisi 3 DPRD – SIANG
Menurutnya banyak tempat tambang yang melanggar kedalaman membuat tambang sangat sulit untuk di reklamasi.
16. MONTASE:
Memperlihatkan adanya korban jiwa warga yang tenggelam di bekas galian tambang. Diiringi voice over dan music yang mulai tegang untuk memberi kesan tegang bagi penonton.
17. MONTASE:
Memperlihatkan usaha menghubungi instansi untuk ditanyakan tanggapannya dan disertai voice over yang menjelaskan keadaan.
18. MONTASE:
Memperlihatkan batu-batuan yang tela ditambang di pinggiran sungai desertai voice over yang menjelaskan potensi alam yang ada di desa Lebak Jabung dengan diiringi music yang semakin tegang
19. EXT. WAWANCARA HJ TONO – SIANG
Menjelaskan pertambangan membuat penanaman yang seharusnya bisa dilakukan 3 kali dalam setahun menjadi hanya 2 kali dalam setahun.
Pada scene ini digunakan juga teknik editing compilation cutting untuk memperlihatkan footage-footage ilustrasi mengikuti perkataan narasumber.
20. EXT. IBU NANING – SIANG
Menjelaskan susahnya mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari hari karena dampak dari pertambangan menjadi air keruh. Pada scene ini digunakan juga teknik editing compilation cutting untuk memperlihatkan footage-footage ilustrasi mengikuti perkataan narasumber.
21. EXT. RENDY – SIANG
Salah satu warga yang marah karena pertambangan membuat aliran air bersih mati dan aliran sungai menjadi berpindah. Pada scene ini digunakan juga teknik editing compilation cutting untuk memperlihatkan footage-footage ilustrasi mengikuti perkataan narasumber.
22. EXT. AHMAD YANI – SIANG
menunjukan kemarahan Ahmad Yani akibat pertambangan. Pada scene ini digunakan juga teknik editing compilation cutting untuk memperlihatkan footage-footage ilustrasi mengikuti perkataan narasumber.
23. POTONGAN EMOSI WARGA
Dengan teknik interacut merangkum semua amarah warga menjadi potongan-potongan yang cepat sebagai klimaks dari film ini dengan
iringan musik latar belakang yang dramatisdan diakhiri dengan transisi fade to black
CREDIT TITTLE DAN LOGO
Menunjukan ekspresi anak yang melukis alam yang indah disertai musik yang santai dan puisi tentang alam sebagai closing.
1.7.7 Target Eksibisi
1. Asosiasi Pemerintah Daerah Kepulauan dan Pesisir Seluruh Indonesia (ASPEKSINDO)
• Batas Pendaftaran 17 Juli 2021
• Batas Pengiriman 27 Juli 2021
2. Film Festival Dokumenter (FFD) Creative Documentary Storytellig Workshop ASIADOC 2021 berskala internasional https://ffd.or.id/asiadoc-2021/
• Batas pendaftaran 10 Juli 2021
1. Film Festival Dokumenter (FFD) berskala nasional https://ffd.or.id/ffd-2021
• Batas Pendaftaran 5 Agustus 2021