• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI REDAKSI HARIAN NONSTOP DALAM MENENTUKAN BERITA PADA RUBRIK PILKADA JAKARTA. (Periode Juli 2007)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STRATEGI REDAKSI HARIAN NONSTOP DALAM MENENTUKAN BERITA PADA RUBRIK PILKADA JAKARTA. (Periode Juli 2007)"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

“STRATEGI REDAKSI HARIAN NONSTOP DALAM MENENTUKAN BERITA PADA

RUBRIK “PILKADA JAKARTA”

(Periode Juli 2007)

Disusun : ULIN WULANDARI

04102-049

UNIVERSITAS MERCU BUANA FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI

JAKARTA 2008

(2)

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MERCU BUANA JURNALISTIK

ABSTRAKSI

Ulin Wulandari [04102-049]

Straregi Redaksi Nonstop Dalam Menentukan Berita Pada Rubrik Pilkada Jakarta 71 hal +10 lampiran+ 1 tabel + 1 bagan

Biliografi 21 buku (1980 s/d 2003) + 1 media + 1 website

Kehadiran media massa berperan penting dalam perkembangan komunikasi. Nonstop adalah salah satu media yang menghadirkan rubric baru dalam rangka menyambut Pilkada Jakarta dan merupakan media yang berani,jujur dan apa adanya dalam menyampaikan pesan terhadap khalayak.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi dan kebijakan dari redaki Nonstop dalam menentukan berita pada rubrik pilkada Jakarta.

Komunikasi massa merupakan milik umum. Setiap orang bisa memperoleh pesan-pesan komunikasi.massa dari media massa. Surat kabar atau Koran.adalah media komunikasi massa dimana pesan yang sampai ke khlayak bisa menimbulkan efek dalam kehidupan sehari-hari. Agar pesan media massa bisa sampai ke tujuan yang telah ditetapkan,diperlukan beberapa strategi dalam sebuah redaksi strategi redaksi adalah sarana yang digunakan oleh media untuk mercapai tujuan akhir.

Sifat penelitian yang digunakan penulis besifat dekriptif dengan pendekatan kualittif. Objek penelitian dari penulisan skripsi ini adalah Strategi Redaksi Nonstop Dalam Menetukan Berita Politik Pada Rubrik Pilkada Jakarta.

Hasil penelitian mnunjukkan bahwa Nonstop mengemas rubrik pilkada Jakarta guna menyambut hajatan politik dengan mengakomodir semua partai yang terlibat dalam Pilkada DKI.Nonstop menerapkan satu strategi yang membedakanny dengan media cetak lain, dimana Nonstop mrupakan saru-satuya media yang membuka halaman politik menjelang pilkada. Nonstop tidak hanya merekrut partai besar, isu menarik dari tingkat kecamatan pun akan diangkat menjadi sebuah pemberitaan.

(3)

FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS MERCU BUANA

JURNALISTIK

Lembar Tanda Lulus Sidang Skripsi

Nama : Ulin Wulandari

Nim : 04102-049

Jurusan : Jurnalistik

Judul Skripsi` : Strategi Redaksi Nonstop dalam menentukan berita pada rubrik “Pilkada Jakarta”

Jakarta, 28 Agustus 2008 Ketua sidang

(Heri Budianto, M.Si)

(...)

Penguji ahli (Feni Fasta, SE, M.Si)

(...)

Pembimbing 1

(Ponco Budi. S, M.Comm) (...)

Pembimbing II (Drs. Riswandi, M.Si)

(...)

(4)

DAFTAR ISI

Lembar Persetujuan Skripsi ... i

Lembar Tanda Lulus Sidang Skripsi ... ii

Lembar Pengesahan Skripsi ... iii

Abstraksi ... iv

Kata Pengantar ... v

Daftar Isi ... vii

BAB I PENDAHULUAN 1.5 Latar Belakang Masalah ... 1

1.6 Pokok Permasalahan ... 7

1.7 Tujuan Penelitian ... 8

1.8 Signifikansi Penelitian ... 8

1.8.1 Signifikansi Akademis ... 8

1.8.2 Signifikansi Praktis ... 8

BAB II KERANGKA PEMIKIRAN 2.7 Komunikasi Massa ... 9

2.7.1 Pengertian Komunikasi Massa ... 10

2.7.2 Karakteristik Komunikasi Massa ... 11

2.7.3 Fungsi Komunikasi Massa ... 13

2.7.4 Media Komunikasi Massa ... 15

2.8 Media Massa ... 16

2.8.1 Pengertian Media Massa ... 16

2.8.2 Pengertian Media Massa ... 16

2.8.3 Jenis-Jenis Media Massa ... 17

2.9 Surat Kabar Sebagai Media Massa ... 20

2.10 Manajemen Redaksional ... 22

2.11 Strategi Redaksi ... 24

2.11.1 Fungsi Strategi Redaksi ... 24

2.12 Berita ... 30

(5)

2.12.1 Nilai Berita ... 33

2.12.2 Ciri-ciri Berita ... 34

2.12.3 Sumber Berita ... 35

2.12.4 Perencanaan dan Pengelolaan Berita ... 36

BAB III METODOLOGI 3.8 Tipe Penelitian ... 37

3.9 Metode Penelitian ... 38

3.10 Teknik Pengumpulan Data ... 39

3.10.1 Data Primer ... 39

3.10.2 Data Sekunder ... 40

3.11 Nara Sumber ... 40

3.12 Definis Konsep ... 41

3.13 Fokus Penelitian ... 42

3.14 Teknik Analisa Data ... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.4 Gambaran Umum Harian Nonstop ... 44

4.5 Hasil Penelitian ... 45

4.5.1 Strategi Redaksi ... 45

4.5.1.1 Tahap Perencanaan (Planning) ... 47

4.5.1.2 Tahap Pengorganisasian ... 49

4.5.1.3 Tahap Pelaksanaan (Actuating) ... 51

4.5.1.4 Tahap Pengendalian (controlling) ... 53

4.6 Pembahasan ... 53

BAB V PENUTUP 5.3 Kesimpulan ... 60

5.4 Saran ... 62

DAFTAR PUSTAKA

(6)

1 1.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini dunia telah memasuki era globalisasi dan informasi yang sebagian besar disebabkan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan komunikasi. Seperti kita ketahui, komunikasi adalah hal mendasar yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Komunikasi muncul dan berkembang seiring bertambahnya kebutuhan manusia akan informasi. Banyak sumber-sumber informasi saat ini sebagai akibat dari perkembangan teknologi komunikasi yang modern. Tidak dipungkiri bahwa informasi telah menjadi suatu komoditi yang sangat penting mengarah kebutuhan yang harus dipenuhi.

Sesuai dengan perkembangannya, komunikasi telah menjadi suatu kebutuhan yang menjiwai seluruh kehidupan sosial dari bentuk yang sangat sederhana sampai kepada keadaan yang sangat luas dan kompleks sifatnya.

Dewasa ini komunikasi telah meningkat menjadi ilmu Cybernetics dimana komunikasi telah dilengkapi dengan data informatif melalui suatu kemajuan teknologi yang tinggi.1

Di Indonesia, informasi sudah merupakan bagian dari kebutuhan masyarakat, baik yang berada di desa maupun di perkotaan. Mereka bisa mendapatkan dengan mudah informasi yang dibutuhkan terutama di kota-kota besar. Terlebih media massa, baik itu media elektronik maupun media cetak.

1 Sumarno, Dimensi Komunikasi Politik. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Bandung. hal. 1

(7)

Komunikasi secara harfiah diartikan sebagai suatu proses berbagi (share) pesan dari suatu pihak menjadi milik bersama. Media menyampaikan pesan untuk khalayak luas.

Berelson dan Stainer (1964) bahkan memberikan definisi yang lebih kompleks pada komunikasi sebagai proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lainnya pun menggunakan simbol seperti kata-kata, gambar- gambar, angka-angka, dan lainnya.

Komunikasi adalah istilah yang begitu populer dewasa ini. Media massa, buku, kelompok diskusi, lokakarya, seminar, dan sebagainya membahas komunikasi. Manusia modern diberondong oleh pesan-pesan komunikasi dari berbagai jurusan, baik seara terang-terangan ataupun secara verbal dan non verbal.

Media dapat mengubah pola pikir dan mempengaruhi perilaku khalayak. Banyak orang menganggap bahwa komunikasi itu mudah dilakukan, semudah bernafas.

Kehadiran media massa berperan penting dalam perkembangan komunikasi.

Komunikasi melalui media massa ditujukan ke khayalak yang luas, heterogen, anonim, tersebar, serta tidak mengenal batas geografis sosial. Wilbur Schram dalam teori peluru, menjelaskan bahwa media bekerja seperti peluru yang dibidikkan ke arah sasaran. Jika senapan diisi dengan benar dan dibidikkan secara akurat, peluru akan menembus sasaran.2 Menurut pandangan ini, khalayak seperti sasaran tembak, bersikap pasif dan tidak menunjukkan penolakan.

2 Joseph A. Devito, Komunikasi Antar Manusia. Professional Books. hal 521.

(8)

Media membentuk pandangan orang mengenai masalah-masalah utama yang dimasyarakat dan bahwa masalah-masalah yang ditekankan di dalam media mungkin bukan masalah-masalah yang dominan dalam realitas.

Proses pencapaian pesan melalui media terhadap khalayak, dipengaruhi oleh strategi keredaksian sebuah media. Dalam hal ini tim redaksi membuat kebijakan- kebijakan dalam menentukan berita yang akan ditampilkan pada surat kabar.

Menurut D. Hans, surat kabar merupakan kebutuhan bersama manusia karena perannya sebagai penghubung batin yang sukar ditinggalkan.3 Artinya surat kabar dibutuhkan oleh setiap golongan manapun.

Media massa memaksakan perhatian pada isu-isu tertentu. Media massa membangun citra publik tentang figur-figur politik. Media massa secara konstan menghadirkan objek-objek yang menunjukkan apa yang hendaknya dipertimbangkan, diketahui, dan dirasakan individu-individu dalam masyarakat.

Surat kabar tidak membeda-bedakan golongan atau kebangsaan. Surat kabar mempunyai pengaruh besar terhadap para pembacanya, dan karena itu surat kabar mirip dengan “warung pengetahuan”. Surat kabar adalah media yang terbit setiap hari dan berkala. Di dalamnya terdapat rubrik, seperti: kriminal, politik, hiburan, olahraga dan lain-lain. Surat kabat bukan hanya sebagai penghubung tetapi juga sebagai alat pendidikan. Di samping itu, dapat merupakan alat kontrol spesial.

Surat kabar menggambarkan segala sesuatu yang berlangsung di sekitarnya.4 Dengan demikian akan memberikan informasi kepada para pembacanya tentang peristiwa yang sedang berlangsung. Setiap surat kabar mempunyai tujuan yang

3 Teguh Meinanda, Pengantar Ilmu Komunikasi. Penerbit CV Armico. Bandung. hal 43.

4 Ibid

(9)

sama, yakni ingin dibaca oleh khalayak sebanyak mungkin. Oleh karena itu sangat berperan dalam menentukan baik atau tidaknya tampilan berita di surat kabar.

Harian Nonstop memberikan berbagai perkembangan dan isu yang menyangkut Pilkada DKI 2007. Proses penyampaian berbagai informasi tersebut tentu saja dibarengi dengan kinerja jajaran pers.

Kegiatan jurnalistik tidak dapat dipisahkan dari peran pers. Demikian halnya dengan surat kabar atau koran. Proses terbentuknya berita berawal dari kinerja pers. Secara harfiah pers berarti cetak dan secara maknawiah berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi secara dicetak. Pers dalam pengertian sempit hanya terbatas pada media massa cetak, yakni surat kabar, majalah, dan bulletin kantor berita. Nonstop termasuk salah satu media yang disebut di atas. Pers berperan dalam menentukan opini yang terbentuk di masyarakat. Pers mengelola sebuah berita berdasarkan fakta atau situasi politik saat ini. Tidak jarang juga pers membuat berita yang kerap menimbulkan konflik. Pers dapat membentuk image yang baik maupun yang buruk sebuah partai yang ikut pilkada. Pers juga memperkenalkan sebuah partai agar lebih dikenal oleh khalayak.

Nonstop kian menampilkan pemberitaan yang sesuai dengan fakta di lapangan. Tidak melebih-lebihkan atau memihak kesalah satu partai peserta Pilkada. Secara umum Nonstop terus mengupdate perkembangan Pilkada Jakarta.

Misalnya yang menyangkut kinerja partai, alokasi dana, visi misi tiap-tiap cagub dan lain sebagainya.

Harian umum Nonstop merupakan salah satu media yang berani, jujur dan apa adanya dalam menyampaikan berita. Sebelum dikenal dengan nama Nonstop,

(10)

awalnya harian ini dikenal dengan “Hallo Sayang”, berdiri tanggal 23 September 2002. Tidak lama kemudian namanya diganti lagi menjadi Koran Artis, rubrik- rubrik yang diangkat adalah mengenai kehidupan artis-artis ibukota. Dengan berbagai pertimbangan dan adanya sengketa dengan artis Sarah Azhari, maka tanggal 23 April 2003 Koran Artis diubah namanya menjadi Nonstop. Pada prinsipnya harian yang beralamat di Gedung Graha Pena lantai 8-9 Jl. Kebayoran Lama No. 12 Jakarta Selatan 12210 ini adalah harian yang menitikberatkan pada berita-berita unik, kriminal, politik, olahraga, dan hiburan.

Profil Pembaca 1. Jenis Kelamin

Pria : 67%

Wanita : 33%

2. Usia

15-20 : 8%

21-30 : 35%

31-40 : 23,5%

40 th keatas : 32%

3. Pendidikan SD : 4%

SLTP : 8%

SLTA : 35%

Perguruan Tinggi : 53%

(11)

Penulis akan meneliti berita yang dikemas harian Nonstop, sebagai koran baru yang cukup diminati khalayak saat ini, penulis tertarik untuk meneliti strategi keredaksian di harian Nonstop. Alasan penulis mengangkat berita pada rubric Pilkada Jakarta sebagai penelitian adalah karena halaman rubrik tersebut adalah rubrik yang paling baru. di koran ini, dimana halaman sebelumnya adalah halaman bisnis. Untuk itu penulis tertarik untuk mengetahui kebijakan-kebijakan redaksi dalam menentukan berita-berita di halaman Pilkada Jakarta. Alasan lain, karena waktu diterbitkan halaman ini bersamaan dengan waktu menjelang Pilkada 2007. Alasan penulis meneliti Nonstop adalah karena selain koran ini termasuk koran baru dan cukup diminati khalayak jika dilihat dari oplah per harinya sebesar 50.000 eksemplar. Nonstop juga merupakan koran yang pertama kali menerbitkan rubrik Pilkada Jakarta menjelang pilkada DKI 2007. Penulis memilih periode Juli karena periode tersebut menjelang Pilkada DKI 2007. Rubrik ini dibentuk untuk mengakomodir suara parpol yang ada di Jakarta. Beberapa partai politik yang terlibat dalam pilkada 2007 menggunakan Nonstop sebagai mediator untuk kepentingan partai mereka sekaligus memberikan informasi kepada khalayak.

Partai tersebut antara lain, PKS, PDI, Golkar, PAN, PDS, Demokrat dan lain-lain.

Salah satu yang menjadi pertimbangan penulis dalam menjadikan Nonstop sebagai objek penelitian karena Nonstop menghadirkan informasi yang dibutuhkan masyarakat mengenai calon Gubernur DKI yang akan memimpin Jakarta. Kemajuan DKI Jakarta dipercayakan kepada gubernur terpilih.

Peristiwa politik selalu menarik perhatian media massa sebagai bahan liputan. Hal ini terjadi karena dua faktor yang saling berkaitan. Pertama, dewasa

(12)

ini politik berada di era mediasi, sehingga hampir mustahil kehidupan politik dipisahkan dari media massa. Bahkan para aktor politik senantiasa berusaha menarik perhatian wartawan agar aktifitas politiknya memperoleh liputan dari media. Kedua, peristiwa politik dalam bentuk tingkah laku dan pernyataan para aktor politik lazimnya selalu mempunyai nilai berita sekalipun peristiwa politik itu bersifat rutin belaka. Misalnya rapat partai atau pertemuan seorang tokoh politik dengan para pendukungnya.5

Dalam rangka pembentukan opini publik, media massa umumnya melakukan tiga kegiatan sekaligus. Pertama, menggunakan simbol-simbol poitik.

Kedua, melaksanakan strategi pengemasan pesan. Ketiga, melakukan fungsi agenda media.6 Tatkala melakukan tiga hal itu, boleh jadi sebuah media dipengaruhi oleh berbagai faktor internal berupa kebijakan redaksional tertentu mengenai suatu kekuatan politik.

1.2 Pokok Permasalahan

Berdasarkan permasalahan di atas maka permasalahan yang akan diteliti, adalah: Bagaimana strategi redaksi Nonstop dalam menentukan berita pada rubrik

“Pilakada Jakarta” pada Pilkada DKI periode Juli 2007.

5 Ibnu Hamad, Komunikasi Realitas Politik Media Massa. Granit. hal. 1

6 Op. hal. 2.

(13)

1.3 Tujuan Penelitian

Dari pokok masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah: Untuk mengetahui strategi atau kebijakan redaksi yang diterapkan Nonstop dalam menentukan berita pada rubrik “Pilkada Jakarta”.

1.4 Signifikansi Penelitian 1.4.1 Signifikansi Akademis

Penelitian ini diharapkan memberikan sumbangan referensi juga bahan masukan bagi mahasiswa lainnya dalam melakukan penelitian.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data empiris kepada ilmu komunikasi, khususnya di bidang jurnalistik mengenai penulisan isi pemberitaan yang dilakukan pers di media cetak.

1.4.2 Signifikansi Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyusunan kebijakan dan memberi masukan yang bermanfaat bagi media cetak khususnya harian Nonstop dalam menyajikan informasi dan berita politik.

(14)

BAB II

KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Komunikasi Massa

Dalam perkembangan ilmu komunikasi selanjutnya adalah ilmu komunikasi yang menggunakan media disebut dengan komunikasi massa. Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komonikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau media elektronik.

Sehinga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.7

Komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat

mekanik yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi. Pada dekade sebelum abad ke-20, alat-alat mekanik yang menyertai lahirnya publisistik atau komunikasi massa adalah alat-alat percetakan (press printed) yang menghasilkan surat kabar, buku, majalah, brosur, dan media cetak lain. Gejala ini makin luas pada dasawarsa pertama abad ke-20, ketika film dan radio mulai digunakan secara luas. Kemudian disusul televisi pada dekade berikutnya. Kini kita sudah memasuki era telekomunikasi dengan digunakannya sistem satelit ruang angkasa dan jaringan computer.8

Komunikasi massa merupakan milik umum. Setiap orang dapat mengetahui pesan-pesan komunikasi massa di media massa. Tidak seperti percakapan di bar atau kuliah di kelas, komunikasi massa dapat didengar atau dilihat setiap orang.

7 Anwar Arifi, Op.Cit, hal. 26

8 Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, Grasindo, Jakarta 2000. hal. 1.

(15)

Ada dua proses dalam komunikasi massa. Pertama, proses mengalirnya pesan yang pada dasarnya merupakan proses satu arah. Kedua, proses seleksi, proses dua arah.

Komunikasi massa pada dasarnya merupakan proses satu arah. Komunikasi ini berjalan dari sumber ke penerima. Komunikasi massa juga merupakan proses dua arah. Baik media maupun khalayak melakukan seleksi. Pertama, media menyeleksi dari total populasi yang akan mereka raih. Selanjutnya, pemirsa atau pembaca atau pendengar menyeleksi, dari semua media yang ada, pesan tertentu yang akan mereka ikuti.

2.1.1 Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim dan heterogen.

Komunikasi massa kita adopsi dari istilah bahasa Inggris, mass communication, kependekan dari mass media communication (komunikasi media

massa). Artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang “mass mediated”.

Pool (1973) mendefinisikan komunikasi massa sebagai “komunikasi yang berlangsung dalam situasi interposed ketika antara sumber dan penerima tidak terjadi kontak secara langsung, pesan-pesan komunikasi mengalir kepada melalui

(16)

saluran-saluran media massa, seperti surat kabar, majalah, radio, film atau televisi.9

2.1.2 Karakteristik Komunikasi Massa

Beberapa karakteristik komunikasi massa adalah adanya suatu organisasi yang kompleks dan formal dalam tugas operasional pengiriman pesan:

1. Adanya khalayak luas dan heterogen.

2. Isi pesan harus bersifat umum tidak dapat besifat rahasia.

3. Komunikasi dilakukan dengan massa yang sangat heterogen dalam tingkat pendidikan, keadaan sosial, dan ekonomi maupun keadaan budayanya.

4. Setiap pesan mengalami kontrol sosial dalam arti murni, yaitu dinilai oleh banyak orang dengan berbagai latar belakang dan taraf pendidikan maupun daya cernanya.

5. Walaupun reaksi pada pihak khalayak akan berbeda-beda, tetapi pesan yang keluar dari peralatan komunikasi difokuskan.

6. Pada perhatian yang sama, seakan-akan khalayak yang heterogen tersebut akan memberikan reaksi yang sama pula.10

Ciri-ciri komunikasi massa:

1. Umumnya komunikasi berlangsung searah atau one way traffic communication.

9 Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, Grasindo, Jakarta 2000. hal. 3.

10 Komunikasi Massa Dalam Masyarakat. PT: Citra Aditya Bakti.

(17)

2. Dilihat dari sasarannya bersifat massal, anonim, (tidak saling kenal) dan heterogen (berbeda-beda latar belakang).

3. Penyajian materi/ isi pesan beragam dan khalayaknya juga memiliki banyak pilihan.

4. Karena komunikasi dengan menggunakan media massa memiliki khayalak yang beragam dan tersebar, maka jumlah media lebih sedikit daripada khalayaknya.

5. Semakin jelas kecenderungan informasi yang disampaikan melalui media massa menjadi komoditi.

6. Karena sifatnya untuk menarik perhatian massa yang luas dan besar, maka media harus dapat mencapai tingkat pengetahuan rata-rata masyarakat (umum). Mulai dari pekerja pabrik sampai menteri, dari buruh harian sampai konglomerat.

7. Media massa selalu terorganisir secara modern, dan melembaga.11

Komunikasi massa mengandung anggapan tersirat akan adanya alat-alat khusus untuk menyampaikan pesan agar komunikasi dapat di saat yang sama dan pada semua orang yang mewakili berbagai lapisan masyarakat. Dari proses komunikasi surat kabar atau koran merupakan suatu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan dari sumber dari sumber kepada penerima karena koran termasuk media yang digunakan dalam proses komunikasi massa, maka disini dapat dikatakan sebagai salah satu media massa.

11 Sedia Willing Barus, Petunjuk Praktis Menulis Berita, CV. Mini Jaya Abadi, 1996, hal. 8.

(18)

2.1.3 Fungsi Komunikasi Massa Fungsi komunikasi massa:

1. Menghibur, media mendesain program-program mereka untuk menghibur. Mereka memberikan hiburan untuk mendapatkan perhatian dari khalayak, dalam masyarakat dimana negara membantu kehidupan mereka.

2. Meyakinkan, meskipun fungsi media yang paling jelas adalah menghibur, fungsi yang terpenting adalah meyakinkan (to persuade).

Persuasi dapat datang dalam banyak bentuk: mengukuhkan, memperkuat sikap, kepercayaan atau nilai seseorang, mengubah sikap, menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu, memperkenalkan etika, atau menawarkan sistem nilai tertentu. Berita politik Nonstop dapat meyakinkan khalayak dan mempengaruhi khalayak sehingga terbentuk opini tentang partai dan cagub yang mereka pilih.

3. Mengukuhkan, media dengan semua sumberdaya dan kekuatan yang ada pada mereka lebih sering mengukuhkan atau membuat kepercayaan, sikap, nilai, dan opini kita menjadi lebih kuat.

4. Mengubah, media akan mengubah sementara orang yang tidak memihak dalam suatu masalah tertentu.

5. Menginformasikan, sebagian besar informasi kita dapatkan bukan dari sekolah, melainkan dari media.

6. Membius, salah satu fungsi media yang paling menarik dan paling dilupakan adalah fungsi membiusnya (narcotizing). Ini berarti bahwa

(19)

media menyajikan informasi tentang sesuatu, penerima percaya bahwa tindakan tertentu telah diambil. Sebagai akibatnya, pemirsa ke dalam keadaan tidak aktif seakan-akan berada dalam pengaruh narkotik.12

Menurut Wright (1986) bahwa komunikasi massa tidak didefinisikan berdasarkan pencapaian teknologi: bukanlah perangkat media massa yang membedakannya komunikasi massa, komunikasi massa adalah jenis khusus komunikasi sosial yang melibatkan karakteristik khalayak yang khas, pengalaman komunikasi, dan komunikator.13

Seorang ahli sosiologis, Charles R. Wright, menambahkan fungsi keempat, yaitu entertainment dan ia memberikan penjelasan keempat fungsi itu sebagai berikut:

1. Surveillance. Menujukkan pada fungsi pengumpulan dan penyebaran informasi mengenai kejadian-kejadian dalam lingkungan, baik di luar maupun di dalam masyarakat. Fungsi ini berhubungan dengan apa yang disebut handling of news.

2. Correlation. Meliputi fungsi interpretasi pesan yang menyangkut

lingkungan dan tingkah laku tertentu dalam interaksi kejadian-kejadian.

3. Transmission. Menunjukkan pada fungsi mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai dan norma-norma sosial budaya dari satu generasi ke generasi lain atau dari anggota-anggota suatu masyarakat kepada pendatang baru.

Fungsi ini diidentifikasikan sebagai fungsi pendidikan.

12 Komunikasi Antar Manusia. Joseph A. Devito, hal. 515.

13 Human Communication (Kontaks-konteks Komunikasi) PT. Rosda. Hal. 198.

(20)

4. Entertainment. Menunjukkan pada kegiatan-kegiatan komunikasi yang

dimaksudkan untuk memberikan hiburan tanpa mengharapkan efek-efek tertentu. Nonstop mengkomunikasikan informasi berdasarkan pengumpulan data di lapangan menyangkut lingkungan dan pelaku politik.

2.1.4 Media Komunikasi Massa

Terdiri dari media cetak dan media elektronik.

1. Media cetak, antara lain:

* Buku atau surat kabar

Buku termasuk dalam media komunikasi massa karena buku mempunyai fungsi informasi. Buku yang dimaksud bukan sekadar buku fiksi, tetapi buku yang ditulis berdasarkan fakta-fakta. Sebab, informasi yang dimaksud di sini adalah informasi yang berdasarkan fakta. Informasi yang tidak berdasarkan fakta sama dengan isu, kabar bohong atau desas-desus.

2. Media Elektronik, antara lain:

* Film atau televisi

Film termasuk media komunikasi massa. Sebagai contoh film-film sejarah. Film sejarah dikatakan sebagai media komunikasi massa sebab film tersebut mengandung fakta, hanya proses pembuatannya dilakukan dengan prinsip-prinsip yang berlaku dalam pembuatan film.

(21)

2.2 Media Massa

2.2.1 Pengertian Media Massa

Media artinya alat komunikasi, sedangkan massa adalah masyarakat atau khalayak. Media massa berarti alat komunikasi yang digunakan semua orang yang membutuhkan informasi.

Media massa yaitu sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas. Secara umum media massa berbeda dengan institusi pengetahuan lainnya (misalnya seni, ilmu pengetahuan, pendidikan dan lainnya)14

2.2.2 Pengertian Media Massa

1. Media massa memiliki fungsi pengantar (pembawa) bagi pengetahuan.

2. Media massa menyelenggarakan kegiatannya dalam lingkungan publik, pada dasarnya media massa dapat dijangkau oleh segenap anggota masyarakat secara bebas, sukarela, umum, dan murah. Media massa memberi informasi dan membantu masyarakat untuk mengetahui secara jelas dan ikhwal tentang dunia sekelilingnya kemudian menyimpannya dalam ingatan masyarakat. Media massa berguna sebagai pengawas masyarakat untuk mengajukan perbandingan dari apa yang kita lihat, dengar, tentang dunia yang lain di luar lingkungan masyarakat hidup.

Media massa sejak awal sebenarnya melakukan tugas kemudian membagi informasi yang diinginkan khalayak.

14 Op Cit. Psikologi Komunikasi

(22)

Manfaat media massa adalah:

1. Menjangkau suatu khalayak yang kuat dan cepat.

2. Menciptakan pengetahun dan informasi.

3. Mengarahkan pada sikap yang dianut.15

Menurut Onong Uchjana Effendy dalam bukunya Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, mengatakan: “Media massa memiliki kemampuan yang efektif untuk menyebarkan informasi karena dapat diterima oleh komunikan dalam jumlah yang relatif banyak”.16 Koran atau surat kabar sebagai media massa mempunyai kemampuan untuk menyebarkan informasi kepada komunikan dalam jumlah relatif banyak. Dalam hal ini surat kabar menyebarkan informasi tentang berbagai peristiwa politik yang sedang terjadi.

2.2.3 Jenis-Jenis Media Massa 1. Media Cetak

Ada tiga jenis media cetak: yaitu surat kabar (koran), majalah, dan buku.

Sejak masa awal pertumbuhan hingga saat ini, ketiga jenis media cetak itu telah mengalami berbagai perubahan yang amat besar, dari segi penampilannya, bahasanya, kualitas pesan-pesannya dan lain sebagainya. Semuanya telah berubah sejalan dengan perubahan masyarakat dan kemampuan teknologi.

Media cetak memiliki pendekatan yang berbeda dengan media elektronik.

Perbedaan itu dapat dilihat pada strategi penyusunan pesan yang akan disampaikan kepada khalayak, masing-masing media mengembangkan pola

15 Zulkarnaen Nasution, Komunikasi Inovatif, Universitas Terbuka, 1985, hal. 33.

16 Onong U. Effendy, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, PT. Rosdakarya, Bandung, 1992.

(23)

perumusan pesan sesuai dengan situasi yang diterima khalayak dapat dikaji ulang dan dipelajari serta disimpan untuk dibaca kembali pada setiap kesempatan.

Media cetak adalah sarana yang diarahkan untuk produksi dan penyebaran pesan-pesan komunikasi ke khalayak umum, yang diperbanyak dengan cara mencetak. Komposisi dalam media cetak meliputi empat prinsip utama dalam desain, yaitu:

1. Keseimbangan (balance); diperlukan dalam sebuah komposisi halaman, di mana ia menguasai ruang halaman secara imbang, tidak berat ke kanan atau ke kiri, tidak terlampau ke atas dan ke bawah.

2. Kontras (contrast); dapat memperkuat, mengekspresikan sebuah gagasan.

3. Keselarasan (harmony & unity); pada desain harus bisa menciptakan kesinambungan pola yang ada sebelumnya.

4. Warna; nilai/value berhubungan dengan tingkat kecerahan atau gelapnya sebuah objek.

2. Media elektronik

Salah satu media elektronik adalah televisi. Televisi merupakan gabungan dari media dengar dan gambar yang bersifat politis, informatif, hiburan dan pendidikan. Program berita menjadi identitas khusus atau identitas lokal yang dimiliki suatu stasiun TV. Station TV tanpa program berita akan menjadi stasiun tanpa identitas setempat.

(24)

2.3 Surat Kabar Sebagai Media Massa

Surat kabar adalah kumpulan berita, artikel, iklan, cerita dan sebagaiya yang dicetak dalam lembaran kertas ukuran plano, terbit secara teratur bisa setiap hari atau seminggu dua kali.

Surat kabar adalah sebuah media yang terbit setiap hari dan berkala. Di dalamnya terdapat berbagai rubrik berita, seperti: kriminal, politik, olahraga, hiburan dan lain sebagainya. Surat kabar mempunyai dua fungsi umum. Pertama mereka merupakan sumber informasi tentang apa yang sedang terjadi di dunia dan di daerah setempat. Orang yang lebih tua dan lebih terdidik membaca surat kabar untuk fungsi ini. Bagian dari berita-berita yang disajikan untuk meyakinkan kita akan pandangan atau pendapat tertentu.

Fungsi penting kedua adalah untuk menghibur, dan untuk fungsi inilah kaum muda dan kaum yang kurang terdidik membaca surat kabar, baik dalam rubrik seni, olahraga, atau komik. Banyak surat kabar sekarang ini menghadapi penurunan jumlah pembaca. Bila jumlah pembaca menurun, pengiklan enggan memasang iklan di surat kabar ini.17 Oleh karena itu, surat kabar berlomba-lomba untuk menyajikan berita. Agar dapat menarik perhatian khalayak.

Pembaca surat kabar dapat diklasifikasikan ke dalam:

1. Golongan pembaca yang sudah mempunyai pandangan, namun masih mencari-cari pendapat pihak lain untuk mengetahui pandangannya sebagai perbandingan.

17 Komunikasi Antar Manusia, Joseph A. Devito, hal. 511.

(25)

2. Golongan pembaca yang masih meragukan pandangannya sama sekali, sehingga jiwanya masih kosong.

3. Golongan pembaca yang belum mempunyai pandangan sama sekali, sehingga jiwanya masih kosong.

Terdapat pembagian dalam sebuah keorganisasian, yaitu:

1. Bagian yang tidak langsung menulis surat kabar (non writing members of the staff).

2. Jabatan yang mengisi, menulis, mengolah isi surat kabar secara actual (the writing of the staff).

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori agenda setting.

Secara singkat teori penyusunan ini mengatakan media (khususnya media berita) tidak selalu berhasil memberitahu kita berfikir tentang apa. Media selalu mengarahkan pada kita apa yang harus kita lakukan. Model agenda setting mengasumsikan adanya hubungan positif antara penelitian yang diberikan khalayak dengan apa yang dianggap penting dan tidak penting dalam media pada persoalan itu. Apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Apa yang dilupakan media, akan luput juga dari perhatian masyarakat. Media memberikan agenda-agenda dalam pemberitaannya, sedangkan masyarakat akan mengikutinya. Media punya kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat gagasan atau peristiwa tertentu. Media mengatakan pada kita apa yang penting dan apa yang tidak penting. Media pun mengatur apa yang harus kita lihat tokoh siapa yang harus kita

(26)

dukung. Pemberitaan politik di harian Nonstop dapat mempengaruhi khalayak untuk menentukan tokoh dan partai politik yang akan mereka dukung pada Pilkada DKI 2007.

Fungsi penentuan agenda (agenda-setting function) media mengacu pada kemampuan media, dengan liputan berita yang diulang-ulang, untuk mengangkat pentingnya sebuah isu dalam benak publik.

Dalam beberapa hal, surat kabar adalah penggerak utama dalam menentukan agenda daerah. Surat kabar memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dibahas oleh sebagian besar orang tentang fakta yang ada, dan apa yang dianggap sebagian orang sebagai cara untuk menangani masalah.

Menurut pendapat Chaffe dan Berger (1997) ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan untuk memperjelas teori ini:

1. Teori ini mempunyai penjelas untuk menerangkan mengapa orang-orang yang sama menganggap penting suatu isu. Menampilkan isu yang sedang berkembang di kancah politik merupakan salah satu strategi Nonstop dalam menampilkan berita pada rubrik “Politik Jakarta”. Hal ini dilakukan agar khalayak dapat mengetahui konflik eksternal maupun internal cagub dan partai politik. Sehingga dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan oleh masyarakat dalam menentukan cagub pilihannya.

2. Teori itu mempunyai kekuatan memprediksikan bahwa jika orang-orang mengekspos pada satu media yang sama, mereka akan merasa isu yang sama tersebut penting.

(27)

3. Teori itu dapat dibuktikan salah jika orang-orang tidak mengekspos media yang sama. Mereka tidak akan punya kesamaan bahwa isu media itu penting.

2.4 Manajemen Redaksional

Saat ini persaingan antar media sangatlah ketat. Oleh karena itu dalam sebuah keredaksian diperlukan ketelitian dari seorang pemimpin surat kabar dalam mengelola surat kabar yang dipimpinnya. Hal ini dapat dilihat dari kemampuannya membuat kebijakan-kebijakan dalam mengkoordinasi wartawan di masing-masing bidang liputannya. Untuk mencapai keunggulan radaksional tersebut seorang pemimpin redaksi dalam mengelola manajemen redaksinya pada hakikatnya tidak jauh berbeda manajemen umum. Salah satu definisi manajemen yang cukup menarik dan banyak dianut oleh banyak orang adalah definisi dari Henry Fayol yang berbunyi:

“Manajemen adalah proses menginterpretasikan, mengkoordinasikan sumber daya, sumber dana dan sumber-sumber lainnya untuk mencapai tujuan dan sasaran melalui tindakan-tindakan (planning), pengorganisasian (organizing), pergerakan (actuating), dan pengendalian (controling). Atau kalau disingkat menjadi PAOC yang menyangkut koordinasi antara manusia dan fungsi-fungsi dalam manajemen redaksional”. 18

Dalam PAOC tersebut untuk mencapai hasil maksimal tidak terlepas pada kebutuhan performa struktur organisasi yang mampu menjalankan fungsi-fungsi manajemen sebaik mungkin. Sebagai struktur ia mempunyai arah yang jelas dan

18 Lawrence R. Jauch dan William F. Gluek, Manajemen Strategi dan Kebijakan Perusahaan, Erlangga, 1996, hal. 12.

(28)

sifat yang baku serta mencakup bentuk komunikasi dan saluran komunikasi yang bisa digunakan antara atasan dan bawahan.

Perencanaan (planning), dalam rapat pra produksi, redaksi memberikan sasaran bagi organisasi dan menetapkan prosedur terbaik untuk mencapai sasaran.

Dengan cara menetapkan tujuan, aturan, menyusun rencana dan sebagainya. Tim redaksi harus mempertimbangkan dengan baik kebijakan yang ditetapkan dengan khalayak sebagai sasaran dan memberikan pertimbanganan dalam menentukan berita dan nara sumber.

Pengorganisasian (organizing) meliputi proses pengaturan dan perngalokasian kerja, wewenang, dan sumber daya di kalangan anggota organisasi sehingga mereka dapat mencapai tujuan organisasi secara efisien. Lokasi kerja dan sumber daya manusia yang pintar dapat menentukan nilai baik dan buruknya sebuah berita.

Penggerakan (actuating) mencakup hal mengarahkan, mempengaruhi, memotifasi karyawan untuk menjalankan tugas-tugas pokok. Dengan menciptakan suasana yang tepat, para manajer membantu karyawan mereka dengan menjalankan tugasnya dengan baik. Dibandingkan perencanaan dan pengorganisasian yang berhubungan dengan aspek-aspek yang lebih abstrak.

Kegiatan kepemimpinan sangat kongkrit karena berkaitan langsung dengan orang.

Dalam proses pengawasan (contolling), manager harus bisa meninjau dan memastikan bahwa setiap langkah atau tindakan yang dilakukan anggota

(29)

organisasi benar-benar membawa perusahaan ke arah tujuan yang dari awal telah ditetapkan.

Manajemen dibutuhkan oleh semua organisasi, karena tanpa manajemen, semua usaha akan sia-sia dan pencapaian tujuan akan lebih sulit. Ada tiga alasan utama diperlukannya manajemen:19

1. Untuk mencapai tujuan

Manajemen dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi-organisasi dan pribadi.

2. Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan.

Manajemen dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara tujuan- tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi.

3. Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas

Suatu kerja organisasi dapat diukur dengan banyak cara yang berbeda.

Salah satu yang umum adalah efisiensi dan efektifitas.

2.5 Strategi Redaksi

2.5.1 Fungsi Strategi Redaksi

Strategi adalah rencana yang disatukan secara menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan keunggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan dan

19 Ibid. hal. 45

(30)

yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh perusahaan.

Strategi redaksi adalah sarana yang digunakan suatu media untuk mencapai tujuan akhir (sasaran). Strategi yang dijalankan sebuah redaksi merupakan rencana yang disatukan, mengikat semua bagian perusahaan menjadi satu, bersifat menyeluruh, meliputi semua aspek penting perusahaan dan semua bagian rencana serasi satu sama lain bersesuaian. Pada umumnya para perencana/ pembuat strategi mereka yang mempunyai kedudukan paling tinggi dalam perusahaan.

Karena mereka lebih menitikberatkan keterampilan konseptual, dari pada keterampilan teknis.20

Pelaksanaan Kepemimpinan Yang Efektif

20 Michael A. HITT, Manajemen Strategi, hal. 12.

Kepemimpinan Strategi yang Efektif

Menentukan Arah Strategis

Membangun SDM

Membangun kontrol perusahaan yang

seimbang

Mempertahankan budaya perusahaan yang efektif

Menekankan Praktek Etis

Mendayakagunakan dan pertahankan kompetensi inti

(31)

Strategi hakikatnya adalah perencanaan (Planning) dan manajemen (Management) untuk mencapai tujuan. Akan tetapi, untuk mencapai tujuan tersebut, strategi tidak sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, melainkan harus mampu menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya. Strategi komunikasi ini harus mampu menunjukkan bagaimana operasionalnya secara praktis harus dilakukan, dalam arti kata bahwa pendekatan (approach) berbeda- beda sewaktu-waktu bergantung pada situasi dan kondisi. Menurut R. Wayne Pace, Brent D. Peterson dalam bukunya, Technique for Effective Communication, menyatakan bahwa tujuan sentral kegiatan komunikasi terdiri dari tiga tujuan utama, yaitu:

1. To secure understanding, 2. To establish acceptance, 3. To motivate action.

To secure understanding, memastikan bahwa komunikan mengerti dan menerima, maka penerimaannya itu harus dibina (to establish acceptance). Pada akhirnya kegiatan dimotivasikan (to establish action).

Di dalam strategi komunikasi, penentuan tujuan memiliki peran yang penting. Sebab, hal itu tersebut menyangkut khalayak sasaran (target audience) yang dalam strategi komunikasi dibagi menjadi dua kelompok sasaran (target groups). Penentuan target audience dan target groups berkaitan dengan aspek psikologis, sosiologis, dan antropologis, mungkin pula politis dan ekonomis.

(32)

Berdasarkan target audience dan target groups inilah formulasi pesan harus dilakukan, karena formula untuk target group tertentu akan berbeda formulasinya dengan target group lainnya walaupun dalam satu target audience. Dengan kata lain, kata-kata atau kalimat yang lebih abstrask bagi target audience diubah menjadi hal-hal yang konkret bagi target group yang menyentuh kebutuhan dan keinginan pribadi.

Dengan demikian, pihak yang menyampaikan pesan, yaitu komunikator ikut menentukan berhasilnya proses komunikasi. Di bidang media massa khususnya cetak. Tujuan setiap pesan komunikasi merupakan misi dari media yang menyiarkannya dan ini jelas harus sejalan dengan tujuan komunikator kepada komunikan sebagai sasarannya. Peristiwa komunikasi melibatkan komunikator dengan segala kemampuannya dan komunikan dengan segala ciri dan sifatnya.

Manusia yang harus paling banyak diperhitungkan dalam menyusun strategi komunikasi.

Sementara itu, Ricky W. Griffin mendefinisikan strategi sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal……footnote (goegle/manajemen keredaskian)

(33)

Tingkatan Manajemen Keredaksian

1. Pimpinan Redaksi

Merupakan manajemen tingkat atas. Bertugas merencanakan kegiatan dan strategi keredaksian secara umum dan mengarahkan jalannya proses redaksi.

Bagian Redaksi dikepalai oleh seorang Pemimpin Redaksi. Di bawah Pemred biasanya ada Wakil Pemred yang bertugas sebagai pelaksana tugas dan penanggungjawab sehari-hari di bagian redaksi.

Pemred/Wapemred membawahi seorang atau lebih Redaktur Pelaksana yang mengkoordinasi para Redaktur (Editor), Koordinator Reporter atau Koordinator Liputan (jika diperlukan), para Reporter dan Fotografer, Koresponden, dan Kontributor. Termasuk Kontributor adalah para penulis lepas (artikel) dan kolumnis.

Di Bagian Redaksi ada pula yang disebut Dewan Redaksi atau Penasihat Redaksi.

Biasanya terdiri dari Pemred, Wapemred, Redpel, Pemimpin Usaha, dan orang- orang yang dipilih menjadi penasihat bidang keredaksian.

Ada pula yang disebut Staf Ahli atau Redaktur Ahli, yakni orang-orang yang memiliki keahlian di bidang keilmuwan tertentu yang sewaktu-waktu masukan atau pendapatnya sangat dibutuhkan redaksi untuk kepentingan pemberitaan atau analisis berita.

Bagian lain yang terkait dengan bidang keredaksian adalah Redaktur Pracetak yang membidangi tugas Desain Grafis (Setting, Lay Out, dan Artistik) serta Perpustakaan dan Dokumentasi. Dalam hal tertentu, bagian Penelitian dan Pengembangan (Litbang) dapat masuk ke bagian Redaksi.

Tugas

1. Pemimpin Umum (General Manager)

Ia bertanggung jawab atas keseluruhan jalannya penerbitan pers, baik ke dalam maupun ke luar. Ia dapat melimpahkan pertanggungjawabannya terhadap hukum kepada Pemimpin Redaksi sepanjang menyangkut isi penerbitan (redaksional) dan kepada Pemimpin Usaha sepanjang menyangkut pengusahaan penerbitan.

2. Pemimpin Redaksi

Pemimpin Redaksi (Editor in Chief) bertanggung jawab terhadap mekanisme dan aktivitas kerja keredaksian sehari-hari. Ia harus mengawasi isi seluruh rubrik media massa yang dipimpinnya. Di suratkabar mana pun, Pemimpin Redaksi menetapkan kebijakan dan mengawasi seluruh kegiatan redaksional. Ia bertindak sebagai jenderal atau komandan yang perintah atau kebijakannya harus dipatuhi bawahannya.

Pemimpin Redaksi juga bertanggung jawab atas penulisan dan isi Tajuk rencana yang merupakan opini redaksi. Jika Pemred berhalangan menulisnya, lazim pula tajuk dibuat oleh Redaktur Pelaksana, salah seorang anggota Dewan Redaksi, salah seorang Redaktur, bahkan seorang Reporter atau siapa pun dengan seizin dan sepengetahuan Pemimpin Redaksi yang mampu menulisnya dengan

menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual.

3. Dewan Redaksi

(34)

Dewan Redaksi biasanya beranggotakan Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan Wakilnya, Redaktur Pelaksana, dan orang-orang yang dipandang kompeten menjadi penasihat bagian redaksi. Dewan Redaksi bertugas memberi masukan kepada jajaran redaksi dalam melaksanakan pekerjaan redaksional. Dewan Redaksi pula yang mengatasi permasalahan penting redaksional, misalnya menyangkut berita yang sangat sensitif atau sesuai-tidaknya berita yang dibuat tersebut dengan visi dan misi penerbitan yang sudah disepakati.

4. Redaktur Pelaksana

Di bawah Pemred biasanya ada Redaktur Pelaksana (Managing Editor). Tanggung jawabnya hampir sama dengan Pemred/Wapemred, namun lebih bersifat teknis.

Dialah yang memimpin langsung aktivitas peliputan dan pembuatan berita oleh para reporter dan editor.

5. Redaktur

Redaktur (editor) sebuah penerbitan pers biasanya lebih dari satu. Tugas utamanya adalah melakukan editing atau penyuntingan, yakni aktivitas penyeleksian dan perbaikan naskah yang akan dimuat atau disiarkan. Di internal redaksi, mereka disebut Redaktur Desk (Desk Editor), Redaktur Bidang, atau Redaktur Halaman karena bertanggung jawab penuh atas isi rubrik tertentu dan editingnya. Seorang redaktur biasanya menangani satu rubrik, misalnya rubrik ekonomi, luar negeri, olahraga, dsb.

6. Redaktur Pracetak

Setingkat dengan Redaktur/Editor adalah Redaktur Pracetak atau Redaktur Artistik.

Ia bertanggung jawab menangani? Naskah Siap Cetak? (All In Hand/All Up) dari para redaktur, yaitu semua naskah berita yang sudah diturunkan ke percetakan dan sudah diset bersih, desain cover dan perwajahan (tataletak, lay out, artistik), dan hal-ihwal sebelum koran dicetak.

Bagian lain di yang berada di bawah koordinasi Redaktur Pracetak adalah Setter atau juruketik naskah. Ia bertugas mengetik naskah yang akan dimuat. Ada pula Korektor yang bertugas mengoreksi (membetulkan) kesalahan ketik pada naskah yang siap cetak.

7. Reporter

Di bawah para editor adalah para Reporter. Mereka merupakan? prajurit? di bagian redaksi. Mencari berita lalu membuat atau menyusunnya, merupakan tugas

pokoknya.

Strategi redaksi Nonstop dalam menentukan berita menjelang pilkada antara lain:

1. Menampilkan tema berita yang berhubungan dengan perkembangan dini partai-partai yang ikut pilkada, dengan terus mengikuti itu dan perkembangan partai baik secara eksternal maupun internal.

(35)

2. Memberikan informasi secara rinci mengenai cagub dan cawagub yang nantinya akan dipilih masyarakat.

3. Secara tulisan, karakter Nonstop harus mudah dipahami oleh khalayak dan bisa mengembangkan isu yang sedang berlangsung.

2.6 Berita

Berita bukan fakta, berita itu laporan tentang fakta. Suatu peristiwa menjadi berita hanya pabila ditemukan dan dilaporkan oleh wartawan atau membuat berita masuk kepada kesadaran publik dan dengan demikian menjadi pengetahuan publik secara aktual.

Berita dapat didefinisikan sebagai suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta-fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian para pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut.

Menurut Djaffar H. Assegaf, berita adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa, yang dipilih oleh staf redaksi suatu harian untuk disiarkan yang dapat menarik perhatian pembaca, yang isinya luar biasa, penting, dan mencakup segi-segi human interest seperi humor, emosi, dan ketegangan.

Ada banyak cara untuk menyiapkan informasi tentang organisasi kepada pers. Tetapi cara yang paling biasa dan sering dilakukan adalah melalui siaran pers atau juga siaran berita. Berita juga dapat dikatakan sebagai informasi yang belum diketahui oleh pihak penerimanya.

Berita adalah sekumpulan informasi yang belum diketahui dan disebarkan kepada khalayak.

(36)

Beberapa unsur berita:

1. Berita bertujuan memberikan informasi, di samping juga untuk mendidik, membimbing, meyakinkan, dan membantu perkembangan perekonomian.

2. Memberi tahu tentang peristiwa, gagasan dan masalah-masalah yang bersifat umum. Pemberitahuan ini tidak selalu harus berkembang kepada sikap atau pendapat yang baik terhadap apa yang disampaikan, bahkan dapat pula terjadi sebaliknya.

3. Berita melaporkan fakta sebagaimana adanya.21

Definisi berita menurut Gerald W. Johnson adalah apa yang dimuat oleh editor bepengalaman di dalam surat kabar/ majalah. Dengan kata lain, lihatlah apa yang termuat di surat kabar atau majalah, maka itulah berita.22

Berita ialah apa saja yang menarik hati orang dan berita yang terbaik ialah yang dapat menarik hati orang sebanyak-banyaknya (Curtis Mac Daugall), guru besar ilmu jurnalistik di Northwestern University, New York dalam bukunya

“Interpretative Reporting”.

Dari apa yang telah peneliti lakukan dalam meneliti isi pemberitaan, maka peneliti dalam hal ini mengkategorikan isi pemberitaan ke dalam 2 katergori:

1. Isi pemberitaan yang memenuhi persyaratan 5w + 1 H rumusan yang harus dipenuhi dalam penulisan suatu berita dimana terjawab apa, dimana, bilamana, lazim disebut rumus 3A, 3M (apa, siapa, kenapa,

21 Aly Bachtiar, Op Cit, 283-284.

22 Ina Ratna Mariani, Teknik Mencar dan Menulis Berita, Universitas terbuka, hal. 31-32.

(37)

dimana, bilamana, dan bagaimana) jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia.

a. Who: Berita harus mempunyai sumber daya yang jelas. Suatu berita yang tidak jelas diragukan kebenarannya.

b. What: Berita harus mengandung unsur “apa”. Apa topik beritanya.

Kalau dia berupa kejadian atau peristiwa maka kejadian apakah itu.

c. Where: Berita harus mengandung unsur “dimana” terjadinya peristiwa kejadian, fakta yang diberitakan. Di sini unsur jauh dekatnya tempat kejadian harus dipertimbangkan.

d. When: Kapan terjadinya peristiwa yang diberitakan (aktualisasi dan waktu).

e. Why: Kelengkapan suatu berita ditentukan oleh penjelasan tentang

“Mengapa” kejadiannya itu berlangsung.

f. How: Bagaimana terjadinya suatu peristiwa masyarakat perlu mengetahuinya.

2. Disusun secara Piramida Terbalik

Suatu bentuk penulisan yang memprioritaskan pemuatan informasi yang penting di depan, yang agak penting kemudian dan terakhir kurang penting. Dan beberapa tujuan dari penulisan piramida terbalik, terutama ialah agar memudahkan pembaca mengetahui isi atau pokok berita dalam situasi yang terburu-buru atau cepat. Dengan membaca hanya bagian depan orang dapat mengetahui apa yang terjadi, apa yang

(38)

diberitakan. Susunan berita pada umumnya mengikuti struktur segitiga atau piramida terbalik.

2.6.1 Nilai Berita

Nilai berita merupakan jumlah atau syarat apakah sebuah berita layak untuk diliput dan disebarkan. Beberapa pakar menyebutkan berbagai syarat atau kriteria sebuah berita:

1. Timelines (Kebaruan, aktualitas)

Harus merupakan kejadian baru, pekerjaan membuat berita sangat terikat waktu, sebab jika terlambat bisa membuat beritanya basi.

2. Proximity (Kedekatan, jarak)

Faktor jauh dekatnya suatu peristiwa dari sasaran pembaca juga mempengaruhi nilai sebua berita. Peristiwa di Surabaya langsung menarik perhatian orang-orang Surabaya atau orang yang berasal dari Surabaya.

3. Prominenece (cuatan)

Di sini berlaku “Name makes news”, nama yang membuat berita, popularitas seseorang di tengah masyarakatnya sering menjadi bahan berita.

4. Human Interest (daya tarik kemanusiaan)

Berita harus memiliki daya tarik kemanusiaan yang dapat menggugah, sesuatu yang sangat menyentuh perasaan.

(39)

5. Consequence (konsekwensi atau dampak yang ditimbulkannya)

Nilai suatu berita yang ditentukan oleh pengaruh yang mungkin akan ditimbulkannya. Dampaknya bagi kehidupan politik, sosial dan kebudayaan merupakan syarat yang harus diperhitungkan tiap wartawan dalam memperoleh sebuah berita.

2.6.2 Ciri-ciri Berita

Kriteria atau ciri penanda kejadian yang dapat dinilai sebagai berita adalah sebagai berikut:

1. Kejadian itu merupakan suatu fakta; artinya, berita tidaklah sebuah karya fisik yang berlandaskan imajinasi penulis, melainkan fakta yang sebenarnya.

2. Kejadian itu baru; artinya, suatu peristiwa yang terjadi bulan yang lalu tidak mempunyai nilai lagi sebagai sebuah berita yang layak disiarkan.

3. Luar biasa; artinya, peristiwa atau kejadian yang jarang terjadi dan mengherankan merupakan bahan berita yang baik.

4. Penting dan ternama; artinya, peristiwa melibatkan orang penting, ternama, dikenal secara luas, politikus dan lain-lain.

5. Skandal dan persengketaan; artinya, persengketaan antara dua partai politik sangat menarik untuk dijadikan berita.23

Berita harus mengandung segi-segi sebagai berikut:

* Suatu kejadian, persitiwa, gagasan, fakta yang aktual.

23 M. Atas Semi, Teknik Penulisan Berita, Feature dan Artikel, Mugantara, Bandung, 1995, hal.

13-14

(40)

* Menarik perhatian umum.

* Penting diketahui umum.

* Dilaporkan, diumumkan atau dimuat menjadi kesadaran umum dan dengan demikian menjadi diketahui umum.

2.6.3 Sumber Berita

Berita tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus dicari. Wartawan atau pemberita harus memburu berita sampai ke tempat kejadian yang diduga dapat dijadikan bahan berita. Dari mana berita itu diperoleh? Apakah sumber berita yang dapat dihubungi atau tanpa dihubungi senantiasa mengirimkan berita?

Sumber berita yang dikenal umum terutama oleh orang pers adalah pusat kegiatan pemerintahan, seperti kantor DPR, Walikota, Gubernur dan lain-lain. Pada tempat-tempat ini selalu ditempatkan tenaga wartawan yang bertugas memburu berita. Sebagian besar waktu yang dihabiskan para wartawan adalah mengikuti atau mendekati para pejabat sumber berita. Sumber berita semacam ini disebut sumber resmi. Sumber resmi ini memang banyak menghasilkan berita, tatapi kalau terlalu mengandalkan sumber resmi ini biasanya akan dirasakan monoton.

Sumber berita lain yang disebut dengan sumber tidak resmi, yaitu berita yang diperoleh dari anggota masyarakat atau tokoh masyarakat.

Seperti dikatakan oleh Chilton R. Bush dalam bukunya “News Paper Reporting of Public Affairs” ada beberapa hal mengenai keahlian dan sikap yang perlu dikembangkan seorang wartawan pada dirinya.

(41)

1. Wartawan harus dapat mengembangkan dirinya sebaik mungkin sebagaimana sumber-sumber beritanya. Seorang wartawan harus pandai bergaul dengan siapa saja agar dia dapat mengenal betul sumber-sumber beritanya itu.

2. Selalu harus ingin tahu.

3. Wartawan harus memiliki suatu rasa kritis terhadap tiap informasi.

Semua informasi dinilai secara kritis, serta harus diteliti kebenarannya dan harus diperiksa kembali keabsahannya.

4. Harus respek terhadap kepercayaan yang diberikan sumber beritanya.

Seorang wartawan haruslah dapat melindungi sumber beritanya jika sumber tersebut tidak mau disebut namanya.

5. Resourceful, ini artinya bila ada suatu informasi menyangkal yang sangat jelas dia akan mencoba menemukan sumber lain.24

2.6.4 Perencanaan dan Pengelolaan Berita

Sebelum menulis berita diperlukan penetapan tujuan. Dengan penetapan tujuan akan membantu penulis menyelesaikan tulisannya dengan lebih terarah, dengan menetapkan tujuan, berarti menetapkan apa yang hendak dicapai dari tulisan yang akan ditulis.

24 Sedia Willing Barus, Petunjuk Praktis Menulis Berita, CV. Mini Jaya Abadi, 1996, hal. 35.

(42)

BAB III METODOLOGI

3.1 Tipe Penelitian

Sifat penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif, yaitu memberikan gambaran atau penjabaran tentang kondisi empiris objek penelitian berdasarkan karakteristik yang dimiliki, dan memaparkan dan menjelaskan masalah terhadap objek yang akan diteliti untuk mengetahui bagaimana strategi redaksi Harian Nonstop dalam penentuan berita di halaman Politik Jakarta periode Juli 2007.

Menurut Muhammad Nazir metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun kelas peristiwa pada masa sekarang.25 Penelitian ini berangkat dari suatu ide untuk mencermati sebuah fenomena sosial, kemudian mencoba mengembangkan konsep dan menghimpun fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis.

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan apa, siapa, dimana, kapan dan bagaimana suatu gejala terjadi atau gambaran keseluruhan tentang tujuan penelitian.

Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian penelitian. Data tersebut berasal dari naskah

25 Nazir, Moh, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983, hal. 63.

(43)

wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan atau memo, dan dokumen resmi lainnya.

Penelitian deskriptif bertujuan untuk:

1. Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada.

2. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku.

3. Membuat perbandingan atau evaluasi.

4. Menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.26

3.2 Metode penelitian

Penelitian ini menggunakan metode studi kasus karena mencoba menggambarkan dan memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian secara holistik dan dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.

Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu sosial yang secara fundamental bergabung pada pengamatan pada manusia dan kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.

26 Jalaludin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1998, hal. 22

(44)

Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara empiris dari objek penelitian berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh media dan data yang diperoleh dari wawancara mendalam maupun informasi pendukung mengenai informasi secara tekstual pada strategi dalam penentuan berita di halaman “Politik Jakarta” di harian Nonstop.

Pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dengan perilaku yang diamati, menurut mereka pendekatan ini diarahkan tersebut escara holistik utuh.

Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu sosial yang secara fundamental bergabung pada pengamatan pada manusia dan kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu:

3.3.1 Data Primer

Didapat langsung oleh penulis sumber data. Dalam penelitian ini sumber data yang dijadikan data primer adalah hasil in-depth interview penulis dengan pihak yang terkait dari Nonstop yang secara langsung bertanggung jawab dalam halaman ini. Data yang dikumpulkan adalah bagaimana strategi redaksi Nonstop dalam penentuan halaman politik di Nonstop.

(45)

3.3.2 Data Sekunder

Peneliti juga memperoleh data penelitian melalui pengumpulan data-data tertulis dari data-data berupa, struktur organisasi perusahaan, berbagai buku, karya tulis dan bentuk tulisan lain yang memungkinkan untuk melengkapi data-data untuk penulisan dalam penelitian ini. Data sekunder penulis dapat sebagai pelengkap kelancaran penelitian. Data tersebut didapat dari studi literatur untuk mempetajam teori sampai dengan data-data yang berhubungan dengan proses produksi berita yang didapat baik dari dalam maupun luar Nonstop.

3.4 Nara Sumber

Menurut Lexy J. Moleong, “Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberi informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian”.27 Key informant adalah orang yang paling tepat dan mampu memberi berbagai informasi

yang berhubungan dengan penelitian. Nara sumber yang tepat dalam penelitian ini adalah:

1. Achmad Yuslizar adalah sebagai pemimpin redaksi harian Nonstop yang secara penuh bertanggung jawab dalam penentuan berita.

2. Dodi Adinono adalah wakil pemimpin redaksi harian Nonstop.

3. Ahmad Yani adalah redaktur rubrik “Pilkada Jakarta”. Betugas sebagai editing berita politik Jakarta dan bertanggung jawab terhadap pemberitaan yang dimuat.

27 Lexi J. Moleong, Metode Penelitian Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1990, hal. 90

(46)

4. Klutuk adalah koordinator liputan surat kabar Nonstop. Bertugas mengawasi dan membimbing reporter dalam menentukan berita politik.

5. Agus Supriyanto adalah reporter “Pilkada Jakarta”. Betugas mencari berita, wawancara sumber dan membuat berita politik dan mengembangkannya menjadi isu yang hangat dan menarik.

3.5 Definis Konsep

Guna memberikan gambaran menyeluruh atas pemakaian istilah-istilah dan konsep kunci dalam penelitian ini, maka istilah berikut ini dipandang perlu untuk didefinisikan:

1. Strategi redaksi adalah penetapan tujuan jangka panjang yang dasar dari suatu organisasi, dan pemilihan alternatif tindakan dan alokasi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

2. Berita adalah uraian tentang peristiwa atau fakta dan atau pendapat, yang mengandung nilai berita, dan yang sudah disajikan melalui media massa periodik.

3. Rubrik “Politik Jakarta” merupakan halaman yang setiap harinya menyajikan perkembangan berita politik di Jakarta.

4. Harian Nonstop merupakan koran pertama yang menerbitkan halaman

“Pilkada Jakarta” menjelang Pilkada 2007 dan menjadi mediator bagi partai-partai peserta Pilkada, yang akan diteliti oleh penulis yang redaksinya terletak di Jl. Kebayoran Lama No. 12 Jakarta Selatan.

(47)

3.6 Fokus Penelitian

Fokus penelitian dari studi ini adalah harian Nonstop yang menyajikan berita politik di pubrik politik Jakarta dalam rangka menjelang Pilkada DKI 2007.

penelitian ini hanya meneliti bagaimana strategi redaksi Nonstop pada rubrik Politik Jakarta.

Adapun faktor penelitian adalah sebagai berikut:

a. Tahap Perencanaan (planning),

1. Penyampaian ide yang dilakukan oleh anggota rapat redaksi dalam menentukan berita.

2. Menetapkan tujuan diterbitkannya halaman “Pilkada Jakarta”.

3. Menentukan nara sumber terkait.

b. Tahap Pengorganisasian (organizing)

Penugasan kerja untuk proses kerja pada halaman Pilkada Jakarta 1. Pemimpin redaksi sebagai pengambil keputusan

2. Redaktur sebagai editor berita politik.

3. Reporter yang bertugas mencari berita politik untuk wilayah Jakarta.

4. Marketing untuk hasil penjualan.

c. Tahap Penggerakan (actuating)

1. Penugasan redaktur untuk mencari berita terkait Pilkada Jakarta sesuai dengan nara sumber yang telah ditentukan.

2. Merupakan teknis redaktur untuk mengedit semua berita politik, redaktur yang menentukan jenis berita yang layak tampil.

Referensi

Dokumen terkait

Keterbatasan dari penelitian ini yaitu adanya perbedaan yang berrmakna pada usia subjek penelitian, secara spesifik perbedaan yang bermakna terletak pada atlet

Dasar hukum pelayanan lansia meliputi UU Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia, Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004 tentang Upaya Peningkatan

Karena kegiatan yang dilakukan Pramuka itu berhubungan langsung dengan masyarakat dan merupakan salah satu contoh dari pendidikan dibidang sosial, maka sangat bagus untuk

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka saran yang dapat disampaikan peneliti yaitu dengan mengetahui letak kesalahan penggunaan struktur kalimat yang dilakukan

Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Hujr] telah menceritakan kepada kami [Isa bin Yunus] dari [Hisyam bin Hasan] dari [Muhammad bin Sirin] dari [Abu Hurairah] bahwasanya

Walau bagaimanapun, jika seseorang tertuduh semasa berada di dalam siasatan telah menyatakan sesuatu yang terjumlah kepada satu penafian terhadap pertuduhan sebelum amaran di

keluarga berlainan satu sama lain, ada keluarga yang meneangah ke atas, ada keluarga menengah ke bawah, ada keluarga besar (banyak anggota keluarganya) dan ada pula

Salah satu penyebab kesulitan siswa dalam pemecahan masalah matematika adalah pendekatan yang digunakan oleh guru bidang studi ( teacher centered ), masih didominasi oleh