• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDAHULUAN Hubungan Antara Harga Diri Dan Konformitas Dengan Perilaku Konsumtif.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENDAHULUAN Hubungan Antara Harga Diri Dan Konformitas Dengan Perilaku Konsumtif."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kecanggihan teknologi saat ini tidak dipungkiri lagi memberikan banyak

manfaat bagi kehidupan sehari-hari bagi masyarakat. Akses media yang mudah,

membuat masyarakat menjadi lebih mudah dalam memperoleh kebutuhan. Salah

satunya dengan layanan iklan yang membuat masyarakat tidak perlu bersusah

payah mencari barang yang sedang dibutuhkan. Tetapi, iklan juga memberikan

dampak yang negatif bagi masyarakat, terutama dalam hal mengkonsumsi barang.

Hal tersebut tidak hanya mengarah pada kalangan dewasa, tetapi juga pada remaja

terutama pada remaja putri. Segut (dalam Hotpascaman, 2008) mengungkapkan

bahwa kelompok usia yang sangat konsumtif adalah kelompok remaja. Adapun

remaja putri tergolong konsumtif karena remaja adalah tahap usia yang

merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak menuju masa dewasa dengan

salah satu ciri khusus yaitu pencarian jati diri (Sarwono, 2001). Perilaku

konsumtif pada remaja juga didorong adanya perubahan trend ataupun mode yang

secara cepat diikuti remaja.

Tambunan (2001) menjelaskan bahwa bagi produsen, kelompok usia

remaja adalah salah satu pasar yang potensial. Remaja seringkali menjadi sasaran

iklan dari berbagai macam produk. Hal ini karena pada usia tersebut remaja

menyadari penampilan dirinya dan memandang bahwa penerimaan sosial

(2)

hanya untuk menunjang penampilan mereka dan menjaga gengsi mereka di

hadapan orang lain (Dala et.al, 2007). Kelompok masyarakat yang sering menjadi

korban iklan produk adalah kaum wanita. Kaum wanita secara psikis, relatif

menggunakan emosinya dalam memilih produk yang berkaitan dengan dirinya.

Perbedaan fisiologis juga akan mengakibatkan adanya perbedaan kebutuhan akan

kesehatan dan penampilan. Konsumen wanita lebih menghabiskan waktu untuk

melakukan pemilihan produk daripada konsumen laki-laki (William and David,

1996). Akses media yang mudah, baik media cetak maupun elektronik memberi

kontribusi besar dalam perkembangan perilaku konsumtif. Tidak dapat dipungkiri,

media masa menjadi media iklan yang sangat efektif. Iklan di televisi, radio dan

majalah sangat berpengaruh untuk mengarahkan perilaku konsumen untuk

membelanjakan uangnya. Selain itu, menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan,

semakin mendukung perilaku konsumtif. Semua barang mulai dari kebutuhan

primer maupun sekunder sangat mudah didapat melaui berbagai macam pusat

perbelanjaan (Dala et.al, 2007).

Banyak hal yang membuat perilaku konsumtif lebih sering terjangkit pada

remaja putri. Diantaranya karena kecenderungan seorang remaja yang ingin

tampil cantik dan ingin selalu diperhatikan. Salah satu sebabnya mereka akan

membelanjakan uangnya hanya untuk keperluan penampilan. Mulai dari fashion

sampai kosmetik. Seperti yang dikemukakan oleh seorang pegawai Distro Hitam Putih di Cantel Wetan Sragen, bahwa dalam satu hari dari ± 35 pembeli yang datang ,

(3)

berbagai aksesoris seperti gelang, gantungan kunci, kalung, dsb. Kaum remaja terutama remaja putri menjadi target utama pemasaran produk-produk mereka,

terutama dalam hal kecantikan. Dalam hal ini, peneliti mengambil subjek

penelitian pada siswi di SMA Negeri 2 Sragen, karena dari beberapa sumber yaitu

dari masyarakat sekitar dan para alumni dari SMA Negeri 2 Sragen mengatakan

bahwa para siswi di sekolah tersebut sering bergonta-ganti mode dan mengikuti

mode yang sedang berkembang, misalnya mereka sering bergonta-ganti model

rambut, dan beberapa siswi sering terlihat memakai berbagai macam aksesoris di

sekolah (kacamata,gelang,kalung,dan lain-lain). Seorang remaja yang ingin tampil

cantik, pada akhirnya membuat mereka menjadi korban iklan. Dengan kata lain,

intensitas iklan yang biasanya menjanjikan remaja untuk bisa tampil lebih cantik,

dan modern akan memicu timbulnya perilaku konsumtif (Dala et.al, 2007).

Remaja mudah untuk terbujuk dengan rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak

berfikir realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya. Remaja juga

tidak segan-segan untuk membeli barang yang menarik untuk mengikuti trend

yang sedang berkembang, meskipun harga barang tersebut mahal. Mereka

cenderung membeli barang yang mereka inginkan secara berlebihan dan tidak

wajar, sikap atau perilaku remaja yang mengkonsumsi barang secara berlebihan

dan tidak wajar inilah yang disebut dengan perilaku konsumtif.

Perilaku konsumtif merupakan keinginan untuk mengkonsumsi

barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai

kepuasan maksimal (Tambunan, 2001). Konsumtif bisa diartikan sebagai perilaku

(4)

daripada faktor kebutuhan. Singkatnya, berbelanja secara berlebihan sehingga

melampaui kebutuhan. Perilaku konsumtif tidak hanya disebabkan karena remaja

putri yang menjadi korban iklan, tetapi karena beberapa mereka telah menjadi

korban mode atau trend. Perilaku konsumtif akan timbul, ketika para korban mode

membeli barang tersebut semata-mata hanya ingin mengikuti trend yang sedang

berlangsung (Dala et.al, 2007). Remaja memiliki kecenderungan untuk mengikuti

trend dan mudah terpengaruh oleh lingkungan. Selain untuk mengikuti trend

sedang berkembang saat ini, salah satu alasan mengapa para remaja berperilaku

konsumtif karena ingin meningkatkan harga diri di hadapan teman-temannya.

Mereka akan merasa bangga dan merasa percaya diri kalau memakai

barang-barang yang bermerk terkenal. Media masa seperti majalah, televisi, film, iklan, bukan hanya menekankan bahwa harga diri perempuan harus didasarkan pada penampilan, tetapi menyajikan ideal budaya yang kuat dari kecantikan wanita yang menjadi semakin tak terjangkau (Richins, 1991; Silverstein, Perdue, Peterson, & Kelly, 1986, dalam Clay et.al, 2005). Remaja cenderung berperilaku konsumtif dimana uang yang mereka belanjakan digunakan untuk menunjang penampilan diri agar

harga diri mereka dapat di terima dan dihargai dilingkungan sosialnya. Begitu

pentingnya harga diri ini bagi perkembangan kepribadian seorang remaja,

sehingga remaja memiliki harga diri yang rendah akan menyebabkan timbulnya

berbagai masalah dalam kehidupannya.

(5)

diungkapkan dalam sikap-sikap yang dapat bersikap positif maupun negatif

(Baron dan Bryne, 2004). Remaja dengan harga diri yang tinggi menghormati

dirinya sendiri, merasa dirinya berharga dan memandang dirinya sejajar dengan

teman-temannya yang lain, remaja tidak berpura-pura menjadi orang yang

sempurna, remaja menyadari keterbatasan dan terus berusaha untuk

mengembangkan dirinya. Sedangkan remaja dengan harga diri rendah merasa

tidak puas dan menolak dirinya. Masa remaja merupakan salah satu periode

dalam hidup yang paling penting dalam hal perkembangan harga diri, tekanan

sosial mencapai puncaknya ketika perhatian remaja beralih secara mencolok dari

keluarga ke teman dan kelompoknya. Kebutuhan untuk menjadi bagian suatu

kelompok jauh lebih kuat dibandingkan pada periode lain di hidupnya, untuk itu

agar dapat diterima dalam kelompoknya remaja sering kali menunjukkan

karakteristik tertentu dan mengungkapkannya dalam cara berpakaian, berperilaku,

bahasa, keyakinan dan apa saja yang dilakukan kelompoknya (Clemes et al,

2012).

Selain untuk meningkatkan harga diri di depan teman-temannya, para

remaja cenderung berperilaku konsumtif hanya sekedar untuk ikut-ikutan dengan

teman-teman mereka. Mudah terpengaruh menjadi salah satu faktor yang

menyebabkan para remaja putri berperilaku kosumtif, rasa empati dan simpati

terhadap teman menjadi salah satu pemicu untuk para remaja putri menjadi

konform dengan teman-teman mereka untuk berperilaku konsumtif (Dala et.al,

(6)

terdiri dari 4-5 orang membeli barang yang sama yaitu berupa gelang, kalung,

gantungan kunci dan berbagai aksesoris lainnya untuk dijadikan simbol

persahabatan. Hotpascaman (2010) menyatakan kelompok referensi sangat kuat

dalam mempengaruhi individu, hal ini terkait adanya pengakuan dari kelompok

tersebut terhadap individu yang ada di dalamnya. Schiffman dan Kanuk (2004)

memperjelas bahwa kelompok referensi memiliki pengaruh kuat, dikarenakan

kelompok referensi ini merupakan tempat bagi individu untuk melakukan

perbandingan, memberikan nilai, informasi dan menyediakan suatu bimbingan

atau petunjuk melakukan konsumsi. Konformitas kelompok menjadi salah satu

faktor pemicu para remja untuk berperilaku konsumtif. Santrock (2003)

menegaskan bahwa konformitas teman sebaya akan muncul ketika individu

meniru sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang nyata

maupun yang dibayangkan oleh individu. Jika remaja ingin diakui eksistensinya

dalam kelompok, remaja harus berusaha untuk menjadi bagian dari kelompoknya

dengan jalan mengikuti peraturan yang ada dalam kelompok.

Konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang

lain dikarenkan tekanan yang nyata maupun tekanan yang dibayangkan oleh

mereka. Para remaja membutuhkan banyak kesempatan untuk berbicara dengan

teman sebaya dan orang dewasa tentang dunia sosial mereka dan tekanan-tekanan

yang ada. Perubahan perkembangan yang terjadi pada remaja kadang membawa

rasa tidak aman. Para remaja muda sangat mudah terganggu karena rasa tidak

aman tersebut dan banyaknya perubahan perkembangan yang terjadi dalam

(7)

komunikasi dengan rekan-rekan mempengaruhi motivasi sosial remaja untuk

konsumsif, nilai-nilai materialistis, dan kecenderungan untuk menggunakan

preferensi rekan dalam menentukan produk pilihan (Robert & Pirog, dalam

Louisiana & Laird, 2004). Konformitas banyak dilakukan oleh remaja putri

dibanding dengan remaja putra. Kebutuhan untuk diterima dan menjadi sama

dengan orang lain yang menyebabkan remaja berusaha mengikuti atribut yang

sedang menjadi model (Tambunan, 2001). Maka dari itu remaja cenderung

berperilaku konsumtif hanya untuk konform dengan teman satu kelompoknya.

Beberapa tujuan yang ingin dicapai ketika mereka melakukan konformitas,

diantaranya mereka ingin meningkatkan harga diri atau diakui eksistensinya oleh

kelompok, menghindari hukuman atau sanksi dari kelompok, dan menjaga

solidaritas dengan teman. Oleh karena itu, harga diri dan konformitas menjadi

salah satu faktor pemicu bagi para remaja, khususnya remaja putri untuk

cenderung berperilaku konsumtif pada berbagai barang yang kurang bermanfaat.

Mereka lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan untuk mengkonsumsi

suatu barang tertentu.

Maka dari itu berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengambil

perumusan masalah “Apakah terdapat Hubungan antara Harga Diri dan

Konformitas dengan Perilaku Konsumtif ?”. Untuk itu penulis mengambil judul

(8)

B. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, adalah :

1. Mengetahui hubungan antara harga diri dan konformitas dengan perilaku

konsumtif, dan mengetahui peran variabel harga diri dan konformitas

terhadap variabel perilaku konsumtif.

2. Mengetahui hubungan antara harga diri dengan perilaku konsumtif.

3. Mengetahui hubungan antara konformitas dengan perilaku konsumtif.

4. Mengetahui tingkat harga diri.

5. Mengetahui tingkat konformitas.

6. Mengetahui tingkat perilaku konsumtif.

C. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah :

1. Diharapkan penelitian ini dapat digunakan oleh para ilmuwan untuk

mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang psikologi sosial

yang berkaitan dengan Hubungan antara harga diri dan konformitas dengan

perilaku konsumtif.

2. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan informasi pada masyarakat,

khususnya para orang tua yang memiliki anak remaja untuk mendidik dan

mengawasi anak agar tidak mudah terpengaruh oleh orang lain untuk

berperilaku negatif, terutama dalam kajian ini adalah perilaku konsumtif.

3. Manfaat untuk para produsen untuk mengetahui atau melihat sejauh mana

(9)

barang, sehingga mempermudah produsen untuk mencapai target pasar yang

diinginkan

D. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang konformitas, harga diri dan perilaku konsumtif telah

banyak dilakukan di Indonesia diantaranya adalah Parma (2007) dengan judul

hubungan antara konsep diri dengan perilaku konsumtif remaja putri dalam

pembelian kosmetik melalui katalog di SMA Negeri 1 Semarang, dan diperoleh

hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dan perilaku

konsumtif pada remaja putri dalam pembelian kosmetik melalui katalog di SMA

Negeri 1 Semarang.

Selain itu Hotpascaman (2009) juga meneliti tentang hubungan antara

perilaku konsumtif dengan konformitas kelompok pada remaja. Penelitian ini

menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara perilaku konsumtif

dengan konformitas yang didasarkan pada pengaruh normatif dan informatif.

Sehingga semakin rendah konformitas yang didasarkan pada pengaruh normatif

dan informatif , maka perilaku konsumtif pada remaja akan semakin tinggi.

Sriatminik (2009) menemukan bahwa sangat banyak siswa di SMA Negeri

se-Kota Malang (90,61%) menyatakan bahwa mereka berperilaku konsumtif yang

berlebihan yaitu membeli barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan

secara berlebihan. Banyak siswa di SMAN se-Kota Malang menyatakan bahwa

faktor yang mempengaruhi mereka untuk berperilaku konsumtif diantaranya

adalah lingkungan (88,57%), perbedaan individu (85,57%), pilihan penyalur

(10)

(57,14%), efisiensi dalam berperilaku konsumtif (71,43%). Sedangkan cukup

banyak siswa di SMAN se-Kota Malang juga meyatakan bahwa pilihan produk

(54,28%), pilihan merek (57,96%), jumlah pembelian (43,68%) kurang

mempengaruhi perilaku konsumtif mereka. Banyak siswa di SMAN se-Kota

Malang (79,60%) menyatakan melakukan tindakan- tindakan yang negatif seperti

meminjam uang, mencuri, memalak, menipu, berbohong, bahkan melakukan

tindak kekerasan terhadap orang lain hanya untuk memenuhi hasrat

berbelanjanya.

Penelitian harga diri dengan perilaku konsumtif juga pernah dilakukan

oleh Setyawati (2010), penelitian ini dilakukan pada mahasiswi fakultas psikologi,

ekonomi, hukum, farmasi, geografi, KIP, komunikasi dan kedokteran UMS yang

berjumlah 120 orang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan

negatif yang sangat signifikan antara harga diri dengan perilaku konsumtif pada

remaja. Sehingga, semakin tinggi harga diri maka semakin tinggi pula perilaku

konsumtif pada remaja, namun generalisasi dari hasil-hasil penelitian ini terbatas

pada populasi tempat.

Melihat penelitian-penelitian terdahulu seperti yang sudah dikemukakan

tampaknya belum ada peneliti yang mencoba untuk meneliti tentang perilaku

konsumif yang berkaitan dengan harga diri dan konformitas pada remaja putri.

Untuk itu peneliti ingin meneliti apakah konformitas dan harga diri menjadi faktor

yang mendorong para remaja yang notabenya masih berstatus pelajar untuk

berperilaku konsumtif. Dengan demikian peneliti menjamin keaslian penelitian ini

Referensi

Dokumen terkait

Kepemimpinan dalam lembaga pendidikan islam mencakup kepala madrasah dan guru yang mempunyai peran yang sangat urgen dalam memberdayakan ummat. Tujuannya adalah untuk

nilai tertentu yang berbeda dari plaintext dan berguna untuk menghasilkan ciphertext yang berbeda-beda jika nilai yang menjadi kunci tersebut juga berbeda-beda untuk algoritma

Pilar utama dari Superleadership adalah melakukan dialog setiap hari untuk meningkatkan rasa percaya diri pengikutnya dan merangsang mereka untuk mempraktekan “self leadership”

[r]

Untuk menganalisis signifikansi pengaruh faktor yang terdiri dari harga, merk, kualitas, dan promosi secara parsial terhadap perilaku konsumen dalam dalam melakukan penjualan

Sebagai Ibukota Provinsi Kota Jayapura dengan panjang jalan 458,24 Km yang terdiri dari.. bermacam jenis jalan yaitu primer berfungsi sebagai jalan regional sekunder

Kisaran jumlah jenis lumut epifit per plot maupun per pohon menunjukkan bahwa hutan primer di Mandalawangi dan Gunung Bunder memiliki kekayaan jenis yang lebih tinggi

Data yang digunakan dalam penelitian berupa kata, frasa, paragraf, dan kalimat yang mengandung aspek religius dalam novel Mahabbah Rindu karya Abidah El Khalieqy. Sumber data